Memahami ‘Batuk’ Merapi 22 Juli 2013

Mount Merapi

Suara gemuruh mirip letusan terdengar dari arah Gunung Merapi pada Senin dinihari 22 Juli 2013 pukul 04:15 WIB. Suara menakutkan itu bisa didengar siapapun yang berada di sekujur lereng dan kaki gunung berapi aktif pembatas alamiah propinsi Jawa Tengah dan DIY itu hingga radius 6 sampai 7 km dari puncak. Gemuruh lantas disusul guyuran debu dan pasir yang berkibar ke kawasan kaki dan lereng gunung, terutama sektor selatan, barat dan timur. Bersamaan dengan terbitnya sang mentari, kolom debu bersalut warna kemerah-merahan nampak mengepul dari puncak Merapi dan membumbung tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak seperti teramati dari pos pemantauan Selo, Babadan, Jrakah dan Ngepos. Selama 35 menit kemudian tepatnya hingga pukul 04:48 WIB, badai kegempaan melanda seluruh seismometer pada semua pos pemantauan Gunung Merapi, hingga jarum-jarumnya sibuk membentuk pola berliku-liku yang khas gempa vulkanik. Pada saat yang sama pula badai kegempaan ini sempat dirasakan penduduk di lereng dan…

Lihat pos aslinya 1.898 kata lagi

Tsunami Way Ela, 20 Kali Lebih Besar Ketimbang Situ Gintung

Foto udara situasi genangan air di danau dadakan, lokasi titik longsor dan dam alamiahnya di lembah Way Ela. Diambil dari hulu dengan arah pandang ke utara. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Foto udara situasi genangan air di danau dadakan, lokasi titik longsor dan dam alamiahnya di lembah Way Ela. Diambil dari hulu dengan arah pandang ke utara. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Air bah itu datang tiba-tiba tatkala dam alamiah Way Ela jebol pada Kamis 25 Juli 2013 sekitar pukul 10:30 WIT lalu. Sekitar 40 juta meter kubik air tumpah ruah ke lembah dan lantas menerjang desa Negeri Lima yang berjarak tak lebih dari 2,5 km dan terletak tepat di bibir pantai. Akibatnya seluruh desa tersapu banjir bandang nan dahsyat laksana diterjang tsunami, hingga menyeret 470 rumah yang ada menuju Laut Banda. Namun korban yang jatuh amat minimal, yakni 3 orang hilang dan 3 lainnya luka ringan, sebagai berkah dari sosialisasi intensif dan gladi (latihan) nan rutin yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPD) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku. Bencana Way Ela menjadi satu kisah sukses bagaimana korban manusia bisa diminimalisir hingga maksimal dari sebuah bencana mengerikan, kala publik menyadari situasinya.

Dam Alamiah

Foto udara danau dadakan dan dam alamiahnya di lembah Way Ela dengan desa Negeri Lima di latar depan. Diambil dari hilir dengan arah pandang ke selatan. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Foto udara danau dadakan dan dam alamiahnya di lembah Way Ela dengan desa Negeri Lima di latar depan. Diambil dari hilir dengan arah pandang ke selatan. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Way Ela adalah sebuah sungai kecil dan pendek yang mengalir ke utara melalui lembah-lembah nan curam pada pegunungan di Jazirah Leihitu, pulau Ambon, propinsi Maluku. Sungai itu bermuara di Laut Banda dan membentuk sebuah delta kecil nan subur sehingga menjadi tempat hunian manusia yang secara administratif kemudian berkembang menjadi desa Negeri Lima yang menjadi bagian dari kecamatan Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Hingga bulan Juli 2012 terdapat 4.777 jiwa dengan 895 kepala keluarga (KK) yang menghuni desa kecil nan tenang dan permai ini.

Segalanya sontak berubah 180 derajat pada Juli 2012 silam, kala pulau Ambon dan sekitarnya diguyur hujan deras berhari-hari lamanya. Banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana, termasuk di dekat desa Negeri Lima. Dengan suara bergemuruh yang menakutkan, salah satu puncak terjal di lembah curam yang dialiri sungai Way Ela tepatnya di sekitar koordinat 3,64 LS 127,98 BT itu mendadak longsor pada 13 Juli 2012. Sebagian besar material longsoran menimbun lembah sebagai tanggul setinggi kurang lebih 200 meter dan melintang sepanjang sekitar 300 meter, sementara sisa material lainnya mengalir ke hilir hingga membentang sepanjang sekitar 1.000 meter. Volume longsoran tidak bisa dipastikan, namun jelas mencapai jutaan meter kubik. Inilah salah satu peristiwa tanah longsor terbesar sepanjang sejarah di pulau Ambon.

Tanah longsor Negeri Lima membawa implikasi serius, karena material longsoran sontak menimbun dan menghalangi aliran sungai Way Ela, sehingga genangan pun mulai terbentuk. Tanpa adanya jalan keluar maka paras air genangan pun kian meninggi dan area yang tergenang pun kian meluas. Terlebih hujan deras terus saja mengguyur. Pada puncaknya terbentuklah danau dadakan dengan volume 87 juta meter kubik dengan panjang genangan hingga 1.000 meter ke arah hulu dan kedalaman air maksimum 20 meter. Dengan dam alamiah tersusun dari material tanah longsor yang rapuh dan rawan bocor, keberadaan danau dadakan ini sangat riskan. Gangguan eksternal seperti hujan deras dengan mudah mampu menghanyutkan sebagian material dam alamiah ini. Demikian pula gangguan internal dalam wujud terus naiknya muka air danau akibat hujan terus menerus, sehingga muncul kekhawatiran air bakal melimpas melampaui bibir mercu dam alamiah, yang mengerus dan melemahkan tubuh dam alamiah itu. Maka sehingga potensi dadalnya danau dadakan sangat besar. Dengan volume airnya yang setara 41 kali lipat volume air Situ Gintung di Ciputat, Tangerang (Banten), jebolnya danau dadakan Negeri Lima bakal menghasilkan banjir bandang laksana tsunami dahsyat yang jauh lebih besar ketimbang bencana Situ Gintung di tahun 2009 silam. Simulasi memperlihatkan hanya dalam 5 menit saja air danau dadakan itu akan sanggup mencapai desa Negeri Lima dan menenggelamkan semuanya tanpa sisa.

Peta kontur desa Negeri Lima dan kawasan sekitarnya. Tanda panah merah menunjukkan lokasi longsoran besar yang akhirnya membentuk dam alamiah sehingga timbul genangan air di bawah level elevasi 200 meter dpl. Sumber: Google Maps, 2012.

Peta kontur desa Negeri Lima dan kawasan sekitarnya. Tanda panah merah menunjukkan lokasi longsoran besar yang akhirnya membentuk dam alamiah sehingga timbul genangan air di bawah level elevasi 200 meter dpl. Sumber: Google Maps, 2012.

Menyadari gentingnya situasi desa Negeri Lima maka BNPB pun turun tangan ke lapangan bersama dengan Pemprov Maluku, Pemkab Maluklu tengah, BPBD Maluku, BPBD Maluku Tengah, TNI dan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Status siaga darurat pun diberlakukan bagi desa kecil ini. Komando tanggap darurat dibentuk. Aktivitas pemantauan tubuh dam alamiah diselenggarakan secara kontinu tanpa terputus. Pemantauan meliputi upaya deteksi situasi lereng dam alamiah (munculnya retakan, guguran batu dan perubahan lereng lainnya), peningkatan kebocoran yang dramatis (volume, warna, kepekatan lumpur dan perubahan lainnya), penomoran setiap titik kebocoran dan pemetaan lokasinya serta pengukuran praktis luah (debit) kebocoran air pada titik-titik kebocoran utama. Karena dam alamiah tidak memiliki saluran keluaran air (outlet) maka dilakukan upaya pengeluaran air secara kontinu menggunakan pompa.

Jebol

Saat danau dadakan Way Ela mulai jebol pada Kamis 25 Juli 2013 pukul 10:30 WIT. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Saat danau dadakan Way Ela mulai jebol pada Kamis 25 Juli 2013 pukul 10:30 WIT. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Dengan potensi dadalnya danau dadakan cukup besar dan dapat terjadi kapan saja, maka sosialisasi intensif pun digelar bagi penduduk desa Negeri Lima. Warga diajak meninjau danau dadakan dan menyadari potensi bahaya besar dibaliknya. Gladi (latihan) pun digelar bagi segenap warga sehingga apa yang harus dilakukan dan kemana harus mengungsi pada saat bencana terjadi bisa dipahami dan dilakukan oleh setiap orang.

Untuk mereduksi potensi bencana dadalnya danau dadakan, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum bahkan menggandeng tim ahli JICA (Jepang). Upaya mengubah dam alamiah itu menjadi bendungan permanen dengan jalan perkuatan dan penambahan saluran pelimpas (spillway) pun digagas, termasuk rencana penambahan bendungan pengelak, pembangkit listrik tenaga air dan sarana lainnya, yang secara keseluruhan diperkirakan bakal menelan biaya Rp 176 milyar. Namun situasi yang tak mendukung, khususnya cuaca sepanjang tahun 2013 yang cenderung hujan terus-menerus sebagai cerminan dari peristiwa kemarau basah akibat tetap tingginya suhu paras air laut di sekeliling Indonesia, membuat gagasan tersebut tak bisa diwujudkan. Sebaliknya muka air danau kian menanjak naik sehingga potensi bencana kian membesar.

Potensi tersebut mencapai puncaknya semenjak Kamis dinihari 25 Juli 2013. Seiring guyuran hujan deras, maka pada pukul 02:00 WIT paras air danau telah menyentuh elevasi 195,4 meter dari permukaan laut (dpl). Satu seperempat jam kemudian paras air telah membahayakan dengan mencapai elevasi 196,2 meter dpl, atau bertambah tinggi 80 cm. Petugas yang bersiaga segera mengevakuasi peralatan ke tempat yang aman. Pejabat desa Negeri Lima pun segera memerintahkan evakuasi mulai pukul 03:20 WIT, saat sebagian penduduk sudah mulai terbangun untuk bersiap santap sahur. Keadaan kian genting saat paras air tepat sama dengan mercu bendung dan air mulai meluap semenjak pukul 06:00 WIT. Saluran pelimpas darurat yang berlapis terpal tak sanggup luapan air danau dadakan. Mulailah dasar dan dinding saluran tergerus sehingga seluruh bagian saluran pun rusak hanya dalam dua jam kemudian. Dan mulai pukul 10:30 WIT jebollah dam alamiah Way Ela secara bertahap yang berlangsung selama tiga jam kemudian.

Tak ada yang tersisa. Seluruh bangunan rumah di desa Negeri Lima telah lenyap, tinggal berbekas lantai dan pondasinya saja, menyusul bencana Way Ela. Tinggi genangan air sempat mencapai 7 meter dari permukaan tanah. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Tak ada yang tersisa. Seluruh bangunan rumah di desa Negeri Lima telah lenyap, tinggal berbekas lantai dan pondasinya saja, menyusul bencana Way Ela. Tinggi genangan air sempat mencapai 7 meter dari permukaan tanah. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Secara keseluruhan sekitar 40 juta meter kubik air danau membanjir ke hilir atau 20 kali lipat lebih besar dibanding air banjir Situ Gintung. Kecepatan aliran air Way Ela sekitar 8,5 meter/detik (atau 30 km/jam). Dengan asumsi seluruh massa air bergerak pada kecepatan tersebut, maka energi yang diproduksi dari air bah ini setara dengan ledakan 350 ton bahan peledak jenis TNT (trinitrotoluena), atau setara dengan energi yang dibawa sebutir asteroid bergaris tengah hingga 5 meter yang memasuki atmosfer Bumi dan meledak di ketinggian udara. Air bah langsung menerjang desa Negeri Lima dengan derasnya laksana tsunami. Pada puncaknya desa ini terendam air deras hingga setinggi 7 meter sehingga 470 rumah yang ada pun hanyut tersapu air hingga hanya menyisakan lantai dan pondasinya saja. Kerugian material diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Namun dengan warga telah dievakuasi berjam-jam sebelumnya, maka korban manusia pun minimal. Sejauh ini 3 orang dinyatakan hilang, mungkin turut terseret derasnya air ke Laut Banda, sementara 3 orang lainnya luka ringan. BNPB dalam rilis terakhirnya menyebutkan jumlah pengungsi mencapai 5.233 jiwa yang terdiri dari 1.027 kepala keluarga. Seperempat di antaranya adalah anak-anak yang masih menempuh pendidikan mulai dari PAUD (50 orang), SD (633 orang), SMP (321 orang) dan SMA 285 orang). Pengungsi terkonsentrasi di dua titik yakni di desa Ureng dan Tanjung Tetun. Masih dibutuhkan banyak bantuan, terlebih tahun akademim 2013-2014 sudah berjalan. BNPB berencana membangun 12 sekolah darurat yang terdiri dari 1 TK, 6 SD, 3 SMP dan 2 SMA.

Minimnya korban manusia dalam bencana Way Ela menjadi salah satu kisah sukses mitigasi bencana alam di Indonesia, mengingat skala bencana ini setara atau bahkan melebihi skala bencana sejenis di masa silam seperti banjir bandang Situ Gintung 2009 (Banten), banjir bandang Wasior 2010 (Irian Jaya Barat) ataupun banjir bandang Bohorok 2003 (Sumatra Utara). Di sisi lain mekanisme semua banjir bandang tersebut relatif sama, yakni terjadi tatkala aliran air tertahan oleh hambatan seperti seperti tanah longsor maupun kayu-kayu gelondongan yang bertumpuk dan tercampur tanah setelah terhanyut aliran air.

Langit masih mendung dan mencucurkan airnya di kawasan pengungsi bencana Way Ela. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Langit masih mendung dan mencucurkan airnya di kawasan pengungsi bencana Way Ela. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Noktah Biru Pucat, Bumi Dilihat dari Saturnus

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar. Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar.
Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Dari jarak 1.445 juta kilometer Bumi kita hanya terlihat sebagai noktah redup kebiruan. Jika kita berdiri di lokasi tersebut dan menatap langit tanpa menggunakan teleskop apapun, kita hanya akan menyaksikan Bumi sebagai satu bintik kecil yang tak terbedakan dengan bintang-bintang lainnya yang terserak di langit dalam keluasan jagat raya. Sekilas pandang tak ada yang membuat bintik putih redup ini istimewa dibandingkan bintik-bintik redup lainnya. Namun inilah Bumi, satu-satunya tempat dalam tata surya kita dan bahkan mungkin dalam keluasan jagat raya yang mengandung kehidupan (hingga kini). Termasuk kehidupan kita, bagian dari 6 milyar umat manusia yang menyesaki planet ini dengan segala tingkah lakunya.

Planet Saturnus adalah salah satu permata gemerlap di langit malam. Planet ini telah dikenal umat manusia semenjak awal peradaban sebagai salah satu dari lima bintang kembara (planet) yang kasat mata sebelum hadirnya era teleskop. Keempat bintang kembara lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter. Begitu teleskop ditemukan, Saturnus berulang kali menjadi obyek kekaguman, misalnya saat planet ini diketahui memiliki cincin raksasa yang melayang jauh tinggi di atas khatulistiwa’nya, seperti pertama kali disaksikan astronom Christiaan Huygens (Belanda) pada 1665. Kegemparan besar meledak setelah astronom Giovanni Domenico Cassini (Italia-Perancis) sepanjang 1671-1684 menunjukkan Saturnus dikitari oleh empat satelit alami (Bulan) yang setia, layaknya Jupiter dengan empat Bulan Galileannya sebagaimana pertama kali dilihat Galileo Galilei (Italia) pada 1610. Penemuan ini menjadikan Saturnus menempati status yang sama dengan Jupiter sebagai proyeksi tata surya dalam bentuk mini sehingga turut mengukuhkan ide heliosentrik Copernicus.

Kini kita tahu bahwa planet Saturnus memiliki sedikitnya 63 buah Bulan, catatan rekor yang hanya sanggup ditumbangkan oleh Jupiter. Salah satu Bulannya, yakni Titan, berukuran 1,5 kali lebih besar dibanding Bulan milik kita di Bumi dan bahkan masih lebih besar ketimbang planet Merkurius. Kini Saturnus pun diketahui memiliki 12 lapisan cincin yang berbeda-beda baik dalam hal ketebalan maupun karakteristiknya. Namun Saturnus bukanlah planet cincin yang sendirian lagi, sebab kini kita mengetahui bahwa ketiga planet raksasa gas lainnya (yakni Jupiter, Uranus dan Neptunus) pun dikitari oleh cincinnya masing-masing meski jauh lebih tipis dan redup ketimbang cincin-cincin Saturnus.

Wave at Saturn

Saturnus kian seksi bagi umat manusia seiring berseminya era penerbangan antariksa. Penjelajahan dua pasang wahana antariksa tak berawak milik badan antariksa AS (NASA) sepanjang dekade 1970-an dan awal 1980-an, yakni Pioneer 10 dan Pioneeer 11 serta Voyager 1 dan Voyager 2, yang terbang melintas planet ini lewat rutenya masing-masing menyuguhkan imaji baru yang menakjubkan dari planet ini. Namun semuanya hanya numpang lewat, sehingga hanya sedikit saja waktu yang dialokasikan untuk menyelidiki planet ini sepanjang perjalanannya. Atas alasan itulah maka pada 1983 silam NASA bersama badan antariksa gabungan 12 negara Eropa (ESA) meluncurkan ide pembangunan wahana antariksa tak berawak yang bakal mengorbit Saturnus sehingga berkemampuan menyelidiki planet itu dengan lebih ambisius.

Dalam perjalannya ide ini terantuk-antuk sejumlah badai teknis dan politis, mulai dari pemotongan brutal terhadap anggaran NASA oleh Kongres AS, berubahnya lansekap program antariksa AS secara dramatis seiring tragedi Challenger, perlawanan pegiat lingkungan hidup seiring dibawanya 33 kg bahan radioaktif Plutonium-238 (sebagai sumber listrik melalui mekanisme transfer panas) hingga turbulensi politik yang melanda Eropa dan AS menjelang kejatuhan Uni Soviet dan ambruknya blok Timur. Pada akhirnya semua dapat dilewati sehingga wahana Cassini-Huygens, sebagai penghormatan atas pencapaian Giovanni Domenico Cassini dan Christiaan Huygens, berhasil terbang ke langit pada 15 Oktober 1997 dengan dorongan roket Titan IV B ditambah booster Centaur. Setelah melewati lintasan yang rumit dan berliku-liku, wahana antariksa seberat 5.600 kg dengan kabel-kabel di badannya bisa merentang sepanjang 14 km ini akhirnya tiba di lingkungan Saturnus pada 1 Juli 2004 dan terus aktif menyelidiki planet dan lingkungannya yang dingin membekukan namun menakjubkan, hingga kini.

Pada Jumat 19 Juli 2013 wahana Cassini mencetak sejarah baru dengan mengabadikan Bumi. Ini langkah sulit sebab jika dilihat dari Saturnus, Bumi berkedudukan sangat dekat dengan Matahari sehingga amat menyulitkan kamera-kamera Cassini dalam mengabadikannya seiring benderangnya mentari. Salah-salah kamera-kamera Cassini justru bakal rusak, sama seperti rusaknya mata kita bila terlalu lama menatap Matahari. Namun pada saat-saat tertentu terjadi situasi dimana bundaran Matahari sepenuhnya tergerhanai Saturnus sementara Bumi tetap berada di medan pandang Cassini. Kesempatan serupa telah berkali-kali datang sebelumnya, misalnya pada 2006 silam saat Cassini mengabadikan seluruh lapisan cincin Saturnus. Namun baru kali ini kamera Cassini sengaja diarahkan ke Bumi, bersamaan dengan kampanye Wave at Saturn yang digelar NASA. Inilah kampanye untuk bersama-sama menyaksikan Saturnus yang dikaitkan dengan aktivitas keseharian kita di Bumi. Wave at Saturn mendapat sambutan meriah dan mewujud dalam beragam cara, mulai dari pantauan teleskop live Slooh yang terhubung dunia maya lewat lamannya, observasi Saturnus oleh klub-klub dan komunitas astronomi di berbagai penjuru, flashmob di jalanan Columbus New York (AS) hingga menerbangkan balon helium untuk mengangkut muatan tertentu ke batas atmosfer Bumi.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.  Sumber : NASA/JPL, 2006.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.
Sumber : NASA/JPL, 2006.

Carl Sagan

Cassini akhirnya benar-benar mengabadikan Bumi dari jarak 1.445.851.000 km pada Jumat 19 Juli 2013 menggunakan kamera medan pandang sempit instrumen ISS (Imaging Science Subsystem)-nya. Serangkaian foto Bumi pun diperoleh namun hasilnya baru kita ketahui sehari kemudian setelah komputer pengendali Cassini mengirimkannya sebagai berkas gelombang elektromagnetik yang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit 22 detik untuk tiba di Bumi.

Dari Cassini, Bumi hanya terlihat sebagai noktah kebiruan selebar beberapa piksel saja dalam bidang foto Cassini. Dan noktah kebiruan itu redup, dengan tingkat terang (magnitudo) hanya +2. Sementara Bulan sang pengiring setia bahkan lebih redup lagi, yakni pada magnitudo +6 atau 40 kali lebih redup dari Bumi. Saat itu Bumi berjarak sudut (berelongasi) hanya 5 derajat terhadap Matahari, sementara jarak sudut Bumi-Bulan bahkan jauh lebih kecil lagi, yakni hanya 44 detik busur (0,012 derajat). Hanya ketajaman mata Cassini-lah yang membuat Baik Bumi maupun Bulan dapat diabadikan dengan baik dari lingkungan Saturnus. Pencapaian ini melengkapi apa yang telah dilakukan Voyager 1 berbelas tahun silam, tepatnya antara 14 Februari hingga 6 Juni 1990, saat penjelajah antarplanet ini mengabadikan Bumi dari posisinya saat itu yang berjarak lebih jauh lagi, yakni antara 6.055 hingga 6.086 juta kilometer dari Bumi. Dalam foto Voyager, Bumi bahkan nampak lebih redup lagi dan hanya selebar kurang dari 1 piksel saja (tepatnya 0,12 piksel) dalam bidang foto Voyager-1.

Foto-foto Cassini dan juga Voyager-1 tak hanya penting secara teknis sebagai bagian untuk menguji kemampuan instrumen pencitranya, namun juga memiliki arti lebih mendalam seiring kedudukan manusia dalam jagat raya. Dari jarak 1,445 milyar kilometer itu Bumi hanya terlihat sebagai sebuah bintik cahaya redup saja. Apalagi dari jarak 6 milyar kilometer, ia nampak jauh lebih redup lagi. Dari jarak pandang ini tak ada yang membuat Bumi terlihat istimewa di tengah-tengah kekosongan langit tata surya kita. Apalagi di tengah-tengah jagat raya yang mahaluas, Bumi tak lebih dari setitik debu. Namun bagi kita, umat manusia, pandangan itu sangat kontras.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Mengutip kata-kata astronom legendaris (mendiang) Carl Sagan, Bumi adalah tempat tinggal kita. Inilah tempat siapapun yang kita cintai, siapapun yang kita benci, siapapun pernah kita ketahui hingga siapapun yang pernah kita dengar tinggal dan menjalani tahapan kehidupannya. Inilah tempat dimana canda bahagia dan lara duka bercampur aduk menjadi satu, pun demikian beragam ideologi, doktrin, kepercayaan, agama, pahlawan dan penghianat, pembangun dan penghancur peradaban, raja dan rakyat hingga orang-orang hebat dan orang-orang bejat. Semua tinggal pada tempat yang hanya setitik debu yang mengapung-apung di gelimang sinar mentari.

Inilah Bumi kita, satu-satunya lokasi dalam tata surya dan bahkan mungkin satu-satunya titik di jagat raya (hingga) kini yang menjadi tempat manusia hidup dan berkembang biak, yang kini telah mencapai populasi 6 milyar orang. Inilah anugerah terberi dari Illahi yang Maha Tinggi, yang jarang sekali dipahami. Kita bisa saja berangan-angan untuk pergi berkunjung ke Bulan, ataupun ke Mars, ataupun ke asteroid, dalam waktu dekat. Ya. Namun cuma berkunjung. Tidak untuk bertempat tinggal. Hanya Bumi-lah yang bisa mendukung kehidupan, sebagai kombinasi unik akan posisinya di lingkup tata surya dan jagat raya, yang membuatnya tidak terlalu dingin namun juga tak terlalu panas, tidak terlalu banyak menerima radiasi kosmik galaktik namun juga tak kekurangan radiasi. Inilah Bumi kita, tempat yang sedari awal tercipta untuk manusia.