Noktah Biru Pucat, Bumi Dilihat dari Saturnus

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar. Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Bumi dan Bulan, diabadikan dengan kamera medan sempit instrumen ISS Cassini pada Jumat 19 Juli 2013 dari jarak 1,445 milyar kilometer, sebagai bagian dari kampanye Wave at Saturn yang digalang NASA. Jarak sudut Bumi dan Bulan adalah 0,012 derajat dengan Bumi 40 kali lebih terang dibanding Bulan. Kilatan cahaya yang memancar dari Bumi merupakan artifak, sebagai implikasi dari waktu paparan (exposure) kamera yang diatur sedikit lebih besar.
Sumber : NASA/JPL/Space Science Institue, 2013.

Dari jarak 1.445 juta kilometer Bumi kita hanya terlihat sebagai noktah redup kebiruan. Jika kita berdiri di lokasi tersebut dan menatap langit tanpa menggunakan teleskop apapun, kita hanya akan menyaksikan Bumi sebagai satu bintik kecil yang tak terbedakan dengan bintang-bintang lainnya yang terserak di langit dalam keluasan jagat raya. Sekilas pandang tak ada yang membuat bintik putih redup ini istimewa dibandingkan bintik-bintik redup lainnya. Namun inilah Bumi, satu-satunya tempat dalam tata surya kita dan bahkan mungkin dalam keluasan jagat raya yang mengandung kehidupan (hingga kini). Termasuk kehidupan kita, bagian dari 6 milyar umat manusia yang menyesaki planet ini dengan segala tingkah lakunya.

Planet Saturnus adalah salah satu permata gemerlap di langit malam. Planet ini telah dikenal umat manusia semenjak awal peradaban sebagai salah satu dari lima bintang kembara (planet) yang kasat mata sebelum hadirnya era teleskop. Keempat bintang kembara lainnya adalah Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter. Begitu teleskop ditemukan, Saturnus berulang kali menjadi obyek kekaguman, misalnya saat planet ini diketahui memiliki cincin raksasa yang melayang jauh tinggi di atas khatulistiwa’nya, seperti pertama kali disaksikan astronom Christiaan Huygens (Belanda) pada 1665. Kegemparan besar meledak setelah astronom Giovanni Domenico Cassini (Italia-Perancis) sepanjang 1671-1684 menunjukkan Saturnus dikitari oleh empat satelit alami (Bulan) yang setia, layaknya Jupiter dengan empat Bulan Galileannya sebagaimana pertama kali dilihat Galileo Galilei (Italia) pada 1610. Penemuan ini menjadikan Saturnus menempati status yang sama dengan Jupiter sebagai proyeksi tata surya dalam bentuk mini sehingga turut mengukuhkan ide heliosentrik Copernicus.

Kini kita tahu bahwa planet Saturnus memiliki sedikitnya 63 buah Bulan, catatan rekor yang hanya sanggup ditumbangkan oleh Jupiter. Salah satu Bulannya, yakni Titan, berukuran 1,5 kali lebih besar dibanding Bulan milik kita di Bumi dan bahkan masih lebih besar ketimbang planet Merkurius. Kini Saturnus pun diketahui memiliki 12 lapisan cincin yang berbeda-beda baik dalam hal ketebalan maupun karakteristiknya. Namun Saturnus bukanlah planet cincin yang sendirian lagi, sebab kini kita mengetahui bahwa ketiga planet raksasa gas lainnya (yakni Jupiter, Uranus dan Neptunus) pun dikitari oleh cincinnya masing-masing meski jauh lebih tipis dan redup ketimbang cincin-cincin Saturnus.

Wave at Saturn

Saturnus kian seksi bagi umat manusia seiring berseminya era penerbangan antariksa. Penjelajahan dua pasang wahana antariksa tak berawak milik badan antariksa AS (NASA) sepanjang dekade 1970-an dan awal 1980-an, yakni Pioneer 10 dan Pioneeer 11 serta Voyager 1 dan Voyager 2, yang terbang melintas planet ini lewat rutenya masing-masing menyuguhkan imaji baru yang menakjubkan dari planet ini. Namun semuanya hanya numpang lewat, sehingga hanya sedikit saja waktu yang dialokasikan untuk menyelidiki planet ini sepanjang perjalanannya. Atas alasan itulah maka pada 1983 silam NASA bersama badan antariksa gabungan 12 negara Eropa (ESA) meluncurkan ide pembangunan wahana antariksa tak berawak yang bakal mengorbit Saturnus sehingga berkemampuan menyelidiki planet itu dengan lebih ambisius.

Dalam perjalannya ide ini terantuk-antuk sejumlah badai teknis dan politis, mulai dari pemotongan brutal terhadap anggaran NASA oleh Kongres AS, berubahnya lansekap program antariksa AS secara dramatis seiring tragedi Challenger, perlawanan pegiat lingkungan hidup seiring dibawanya 33 kg bahan radioaktif Plutonium-238 (sebagai sumber listrik melalui mekanisme transfer panas) hingga turbulensi politik yang melanda Eropa dan AS menjelang kejatuhan Uni Soviet dan ambruknya blok Timur. Pada akhirnya semua dapat dilewati sehingga wahana Cassini-Huygens, sebagai penghormatan atas pencapaian Giovanni Domenico Cassini dan Christiaan Huygens, berhasil terbang ke langit pada 15 Oktober 1997 dengan dorongan roket Titan IV B ditambah booster Centaur. Setelah melewati lintasan yang rumit dan berliku-liku, wahana antariksa seberat 5.600 kg dengan kabel-kabel di badannya bisa merentang sepanjang 14 km ini akhirnya tiba di lingkungan Saturnus pada 1 Juli 2004 dan terus aktif menyelidiki planet dan lingkungannya yang dingin membekukan namun menakjubkan, hingga kini.

Pada Jumat 19 Juli 2013 wahana Cassini mencetak sejarah baru dengan mengabadikan Bumi. Ini langkah sulit sebab jika dilihat dari Saturnus, Bumi berkedudukan sangat dekat dengan Matahari sehingga amat menyulitkan kamera-kamera Cassini dalam mengabadikannya seiring benderangnya mentari. Salah-salah kamera-kamera Cassini justru bakal rusak, sama seperti rusaknya mata kita bila terlalu lama menatap Matahari. Namun pada saat-saat tertentu terjadi situasi dimana bundaran Matahari sepenuhnya tergerhanai Saturnus sementara Bumi tetap berada di medan pandang Cassini. Kesempatan serupa telah berkali-kali datang sebelumnya, misalnya pada 2006 silam saat Cassini mengabadikan seluruh lapisan cincin Saturnus. Namun baru kali ini kamera Cassini sengaja diarahkan ke Bumi, bersamaan dengan kampanye Wave at Saturn yang digelar NASA. Inilah kampanye untuk bersama-sama menyaksikan Saturnus yang dikaitkan dengan aktivitas keseharian kita di Bumi. Wave at Saturn mendapat sambutan meriah dan mewujud dalam beragam cara, mulai dari pantauan teleskop live Slooh yang terhubung dunia maya lewat lamannya, observasi Saturnus oleh klub-klub dan komunitas astronomi di berbagai penjuru, flashmob di jalanan Columbus New York (AS) hingga menerbangkan balon helium untuk mengangkut muatan tertentu ke batas atmosfer Bumi.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.  Sumber : NASA/JPL, 2006.

Bumi sebagai bintik kecil redup dibalik lapisan G cincin Saturnus saat diabadikan dari wahana Cassini pada 2006 silam tatkala Saturnus menggerhanai Matahari dilihat dari titik Cassini berada dalam orbitnya.
Sumber : NASA/JPL, 2006.

Carl Sagan

Cassini akhirnya benar-benar mengabadikan Bumi dari jarak 1.445.851.000 km pada Jumat 19 Juli 2013 menggunakan kamera medan pandang sempit instrumen ISS (Imaging Science Subsystem)-nya. Serangkaian foto Bumi pun diperoleh namun hasilnya baru kita ketahui sehari kemudian setelah komputer pengendali Cassini mengirimkannya sebagai berkas gelombang elektromagnetik yang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit 22 detik untuk tiba di Bumi.

Dari Cassini, Bumi hanya terlihat sebagai noktah kebiruan selebar beberapa piksel saja dalam bidang foto Cassini. Dan noktah kebiruan itu redup, dengan tingkat terang (magnitudo) hanya +2. Sementara Bulan sang pengiring setia bahkan lebih redup lagi, yakni pada magnitudo +6 atau 40 kali lebih redup dari Bumi. Saat itu Bumi berjarak sudut (berelongasi) hanya 5 derajat terhadap Matahari, sementara jarak sudut Bumi-Bulan bahkan jauh lebih kecil lagi, yakni hanya 44 detik busur (0,012 derajat). Hanya ketajaman mata Cassini-lah yang membuat Baik Bumi maupun Bulan dapat diabadikan dengan baik dari lingkungan Saturnus. Pencapaian ini melengkapi apa yang telah dilakukan Voyager 1 berbelas tahun silam, tepatnya antara 14 Februari hingga 6 Juni 1990, saat penjelajah antarplanet ini mengabadikan Bumi dari posisinya saat itu yang berjarak lebih jauh lagi, yakni antara 6.055 hingga 6.086 juta kilometer dari Bumi. Dalam foto Voyager, Bumi bahkan nampak lebih redup lagi dan hanya selebar kurang dari 1 piksel saja (tepatnya 0,12 piksel) dalam bidang foto Voyager-1.

Foto-foto Cassini dan juga Voyager-1 tak hanya penting secara teknis sebagai bagian untuk menguji kemampuan instrumen pencitranya, namun juga memiliki arti lebih mendalam seiring kedudukan manusia dalam jagat raya. Dari jarak 1,445 milyar kilometer itu Bumi hanya terlihat sebagai sebuah bintik cahaya redup saja. Apalagi dari jarak 6 milyar kilometer, ia nampak jauh lebih redup lagi. Dari jarak pandang ini tak ada yang membuat Bumi terlihat istimewa di tengah-tengah kekosongan langit tata surya kita. Apalagi di tengah-tengah jagat raya yang mahaluas, Bumi tak lebih dari setitik debu. Namun bagi kita, umat manusia, pandangan itu sangat kontras.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Bumi sebagai bintik sangat kecil dan amat redup, diabadikan oleh instrumen pencitra Voyager-1 dari jarak 6 milyar kilometer. Sumber : NASA, 1990.

Mengutip kata-kata astronom legendaris (mendiang) Carl Sagan, Bumi adalah tempat tinggal kita. Inilah tempat siapapun yang kita cintai, siapapun yang kita benci, siapapun pernah kita ketahui hingga siapapun yang pernah kita dengar tinggal dan menjalani tahapan kehidupannya. Inilah tempat dimana canda bahagia dan lara duka bercampur aduk menjadi satu, pun demikian beragam ideologi, doktrin, kepercayaan, agama, pahlawan dan penghianat, pembangun dan penghancur peradaban, raja dan rakyat hingga orang-orang hebat dan orang-orang bejat. Semua tinggal pada tempat yang hanya setitik debu yang mengapung-apung di gelimang sinar mentari.

Inilah Bumi kita, satu-satunya lokasi dalam tata surya dan bahkan mungkin satu-satunya titik di jagat raya (hingga) kini yang menjadi tempat manusia hidup dan berkembang biak, yang kini telah mencapai populasi 6 milyar orang. Inilah anugerah terberi dari Illahi yang Maha Tinggi, yang jarang sekali dipahami. Kita bisa saja berangan-angan untuk pergi berkunjung ke Bulan, ataupun ke Mars, ataupun ke asteroid, dalam waktu dekat. Ya. Namun cuma berkunjung. Tidak untuk bertempat tinggal. Hanya Bumi-lah yang bisa mendukung kehidupan, sebagai kombinasi unik akan posisinya di lingkup tata surya dan jagat raya, yang membuatnya tidak terlalu dingin namun juga tak terlalu panas, tidak terlalu banyak menerima radiasi kosmik galaktik namun juga tak kekurangan radiasi. Inilah Bumi kita, tempat yang sedari awal tercipta untuk manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s