Tsunami Way Ela, 20 Kali Lebih Besar Ketimbang Situ Gintung

Foto udara situasi genangan air di danau dadakan, lokasi titik longsor dan dam alamiahnya di lembah Way Ela. Diambil dari hulu dengan arah pandang ke utara. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Foto udara situasi genangan air di danau dadakan, lokasi titik longsor dan dam alamiahnya di lembah Way Ela. Diambil dari hulu dengan arah pandang ke utara. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Air bah itu datang tiba-tiba tatkala dam alamiah Way Ela jebol pada Kamis 25 Juli 2013 sekitar pukul 10:30 WIT lalu. Sekitar 40 juta meter kubik air tumpah ruah ke lembah dan lantas menerjang desa Negeri Lima yang berjarak tak lebih dari 2,5 km dan terletak tepat di bibir pantai. Akibatnya seluruh desa tersapu banjir bandang nan dahsyat laksana diterjang tsunami, hingga menyeret 470 rumah yang ada menuju Laut Banda. Namun korban yang jatuh amat minimal, yakni 3 orang hilang dan 3 lainnya luka ringan, sebagai berkah dari sosialisasi intensif dan gladi (latihan) nan rutin yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPD) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku. Bencana Way Ela menjadi satu kisah sukses bagaimana korban manusia bisa diminimalisir hingga maksimal dari sebuah bencana mengerikan, kala publik menyadari situasinya.

Dam Alamiah

Foto udara danau dadakan dan dam alamiahnya di lembah Way Ela dengan desa Negeri Lima di latar depan. Diambil dari hilir dengan arah pandang ke selatan. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Foto udara danau dadakan dan dam alamiahnya di lembah Way Ela dengan desa Negeri Lima di latar depan. Diambil dari hilir dengan arah pandang ke selatan. Sumber: BNPB, Oktober 2012.

Way Ela adalah sebuah sungai kecil dan pendek yang mengalir ke utara melalui lembah-lembah nan curam pada pegunungan di Jazirah Leihitu, pulau Ambon, propinsi Maluku. Sungai itu bermuara di Laut Banda dan membentuk sebuah delta kecil nan subur sehingga menjadi tempat hunian manusia yang secara administratif kemudian berkembang menjadi desa Negeri Lima yang menjadi bagian dari kecamatan Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Hingga bulan Juli 2012 terdapat 4.777 jiwa dengan 895 kepala keluarga (KK) yang menghuni desa kecil nan tenang dan permai ini.

Segalanya sontak berubah 180 derajat pada Juli 2012 silam, kala pulau Ambon dan sekitarnya diguyur hujan deras berhari-hari lamanya. Banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana, termasuk di dekat desa Negeri Lima. Dengan suara bergemuruh yang menakutkan, salah satu puncak terjal di lembah curam yang dialiri sungai Way Ela tepatnya di sekitar koordinat 3,64 LS 127,98 BT itu mendadak longsor pada 13 Juli 2012. Sebagian besar material longsoran menimbun lembah sebagai tanggul setinggi kurang lebih 200 meter dan melintang sepanjang sekitar 300 meter, sementara sisa material lainnya mengalir ke hilir hingga membentang sepanjang sekitar 1.000 meter. Volume longsoran tidak bisa dipastikan, namun jelas mencapai jutaan meter kubik. Inilah salah satu peristiwa tanah longsor terbesar sepanjang sejarah di pulau Ambon.

Tanah longsor Negeri Lima membawa implikasi serius, karena material longsoran sontak menimbun dan menghalangi aliran sungai Way Ela, sehingga genangan pun mulai terbentuk. Tanpa adanya jalan keluar maka paras air genangan pun kian meninggi dan area yang tergenang pun kian meluas. Terlebih hujan deras terus saja mengguyur. Pada puncaknya terbentuklah danau dadakan dengan volume 87 juta meter kubik dengan panjang genangan hingga 1.000 meter ke arah hulu dan kedalaman air maksimum 20 meter. Dengan dam alamiah tersusun dari material tanah longsor yang rapuh dan rawan bocor, keberadaan danau dadakan ini sangat riskan. Gangguan eksternal seperti hujan deras dengan mudah mampu menghanyutkan sebagian material dam alamiah ini. Demikian pula gangguan internal dalam wujud terus naiknya muka air danau akibat hujan terus menerus, sehingga muncul kekhawatiran air bakal melimpas melampaui bibir mercu dam alamiah, yang mengerus dan melemahkan tubuh dam alamiah itu. Maka sehingga potensi dadalnya danau dadakan sangat besar. Dengan volume airnya yang setara 41 kali lipat volume air Situ Gintung di Ciputat, Tangerang (Banten), jebolnya danau dadakan Negeri Lima bakal menghasilkan banjir bandang laksana tsunami dahsyat yang jauh lebih besar ketimbang bencana Situ Gintung di tahun 2009 silam. Simulasi memperlihatkan hanya dalam 5 menit saja air danau dadakan itu akan sanggup mencapai desa Negeri Lima dan menenggelamkan semuanya tanpa sisa.

Peta kontur desa Negeri Lima dan kawasan sekitarnya. Tanda panah merah menunjukkan lokasi longsoran besar yang akhirnya membentuk dam alamiah sehingga timbul genangan air di bawah level elevasi 200 meter dpl. Sumber: Google Maps, 2012.

Peta kontur desa Negeri Lima dan kawasan sekitarnya. Tanda panah merah menunjukkan lokasi longsoran besar yang akhirnya membentuk dam alamiah sehingga timbul genangan air di bawah level elevasi 200 meter dpl. Sumber: Google Maps, 2012.

Menyadari gentingnya situasi desa Negeri Lima maka BNPB pun turun tangan ke lapangan bersama dengan Pemprov Maluku, Pemkab Maluklu tengah, BPBD Maluku, BPBD Maluku Tengah, TNI dan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Status siaga darurat pun diberlakukan bagi desa kecil ini. Komando tanggap darurat dibentuk. Aktivitas pemantauan tubuh dam alamiah diselenggarakan secara kontinu tanpa terputus. Pemantauan meliputi upaya deteksi situasi lereng dam alamiah (munculnya retakan, guguran batu dan perubahan lereng lainnya), peningkatan kebocoran yang dramatis (volume, warna, kepekatan lumpur dan perubahan lainnya), penomoran setiap titik kebocoran dan pemetaan lokasinya serta pengukuran praktis luah (debit) kebocoran air pada titik-titik kebocoran utama. Karena dam alamiah tidak memiliki saluran keluaran air (outlet) maka dilakukan upaya pengeluaran air secara kontinu menggunakan pompa.

Jebol

Saat danau dadakan Way Ela mulai jebol pada Kamis 25 Juli 2013 pukul 10:30 WIT. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Saat danau dadakan Way Ela mulai jebol pada Kamis 25 Juli 2013 pukul 10:30 WIT. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Dengan potensi dadalnya danau dadakan cukup besar dan dapat terjadi kapan saja, maka sosialisasi intensif pun digelar bagi penduduk desa Negeri Lima. Warga diajak meninjau danau dadakan dan menyadari potensi bahaya besar dibaliknya. Gladi (latihan) pun digelar bagi segenap warga sehingga apa yang harus dilakukan dan kemana harus mengungsi pada saat bencana terjadi bisa dipahami dan dilakukan oleh setiap orang.

Untuk mereduksi potensi bencana dadalnya danau dadakan, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum bahkan menggandeng tim ahli JICA (Jepang). Upaya mengubah dam alamiah itu menjadi bendungan permanen dengan jalan perkuatan dan penambahan saluran pelimpas (spillway) pun digagas, termasuk rencana penambahan bendungan pengelak, pembangkit listrik tenaga air dan sarana lainnya, yang secara keseluruhan diperkirakan bakal menelan biaya Rp 176 milyar. Namun situasi yang tak mendukung, khususnya cuaca sepanjang tahun 2013 yang cenderung hujan terus-menerus sebagai cerminan dari peristiwa kemarau basah akibat tetap tingginya suhu paras air laut di sekeliling Indonesia, membuat gagasan tersebut tak bisa diwujudkan. Sebaliknya muka air danau kian menanjak naik sehingga potensi bencana kian membesar.

Potensi tersebut mencapai puncaknya semenjak Kamis dinihari 25 Juli 2013. Seiring guyuran hujan deras, maka pada pukul 02:00 WIT paras air danau telah menyentuh elevasi 195,4 meter dari permukaan laut (dpl). Satu seperempat jam kemudian paras air telah membahayakan dengan mencapai elevasi 196,2 meter dpl, atau bertambah tinggi 80 cm. Petugas yang bersiaga segera mengevakuasi peralatan ke tempat yang aman. Pejabat desa Negeri Lima pun segera memerintahkan evakuasi mulai pukul 03:20 WIT, saat sebagian penduduk sudah mulai terbangun untuk bersiap santap sahur. Keadaan kian genting saat paras air tepat sama dengan mercu bendung dan air mulai meluap semenjak pukul 06:00 WIT. Saluran pelimpas darurat yang berlapis terpal tak sanggup luapan air danau dadakan. Mulailah dasar dan dinding saluran tergerus sehingga seluruh bagian saluran pun rusak hanya dalam dua jam kemudian. Dan mulai pukul 10:30 WIT jebollah dam alamiah Way Ela secara bertahap yang berlangsung selama tiga jam kemudian.

Tak ada yang tersisa. Seluruh bangunan rumah di desa Negeri Lima telah lenyap, tinggal berbekas lantai dan pondasinya saja, menyusul bencana Way Ela. Tinggi genangan air sempat mencapai 7 meter dari permukaan tanah. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Tak ada yang tersisa. Seluruh bangunan rumah di desa Negeri Lima telah lenyap, tinggal berbekas lantai dan pondasinya saja, menyusul bencana Way Ela. Tinggi genangan air sempat mencapai 7 meter dari permukaan tanah. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Secara keseluruhan sekitar 40 juta meter kubik air danau membanjir ke hilir atau 20 kali lipat lebih besar dibanding air banjir Situ Gintung. Kecepatan aliran air Way Ela sekitar 8,5 meter/detik (atau 30 km/jam). Dengan asumsi seluruh massa air bergerak pada kecepatan tersebut, maka energi yang diproduksi dari air bah ini setara dengan ledakan 350 ton bahan peledak jenis TNT (trinitrotoluena), atau setara dengan energi yang dibawa sebutir asteroid bergaris tengah hingga 5 meter yang memasuki atmosfer Bumi dan meledak di ketinggian udara. Air bah langsung menerjang desa Negeri Lima dengan derasnya laksana tsunami. Pada puncaknya desa ini terendam air deras hingga setinggi 7 meter sehingga 470 rumah yang ada pun hanyut tersapu air hingga hanya menyisakan lantai dan pondasinya saja. Kerugian material diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Namun dengan warga telah dievakuasi berjam-jam sebelumnya, maka korban manusia pun minimal. Sejauh ini 3 orang dinyatakan hilang, mungkin turut terseret derasnya air ke Laut Banda, sementara 3 orang lainnya luka ringan. BNPB dalam rilis terakhirnya menyebutkan jumlah pengungsi mencapai 5.233 jiwa yang terdiri dari 1.027 kepala keluarga. Seperempat di antaranya adalah anak-anak yang masih menempuh pendidikan mulai dari PAUD (50 orang), SD (633 orang), SMP (321 orang) dan SMA 285 orang). Pengungsi terkonsentrasi di dua titik yakni di desa Ureng dan Tanjung Tetun. Masih dibutuhkan banyak bantuan, terlebih tahun akademim 2013-2014 sudah berjalan. BNPB berencana membangun 12 sekolah darurat yang terdiri dari 1 TK, 6 SD, 3 SMP dan 2 SMA.

Minimnya korban manusia dalam bencana Way Ela menjadi salah satu kisah sukses mitigasi bencana alam di Indonesia, mengingat skala bencana ini setara atau bahkan melebihi skala bencana sejenis di masa silam seperti banjir bandang Situ Gintung 2009 (Banten), banjir bandang Wasior 2010 (Irian Jaya Barat) ataupun banjir bandang Bohorok 2003 (Sumatra Utara). Di sisi lain mekanisme semua banjir bandang tersebut relatif sama, yakni terjadi tatkala aliran air tertahan oleh hambatan seperti seperti tanah longsor maupun kayu-kayu gelondongan yang bertumpuk dan tercampur tanah setelah terhanyut aliran air.

Langit masih mendung dan mencucurkan airnya di kawasan pengungsi bencana Way Ela. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Langit masih mendung dan mencucurkan airnya di kawasan pengungsi bencana Way Ela. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho (BNPB), 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s