Meletusnya Gunung Hobal, Gunung Berapi Bawahlaut Nusa Tenggara

Air dan kepulan uap mendadak menyembur dari permukaan Laut Sawu yang tenang pada sebuah titik di lepas pantai selatan pulau Lembata, Selasa pagi 20 Agustus 2013 pukul 07:14 WITA lalu. Semburan nan tebal itu membumbung hingga setinggi 2.000 meter dari paras Laut Sawu dan cenderung condong ke selatan. Sesaat kemudian air laut di sekitar titik semburan yang semula jernih membiru mulai menguning pucat. Dan setengah jam kemudian percikan-percikan pijar api mulai muncul di permukaan laut pada titik yang sama dengan semburan uap tadi. Panorama menakjubkan sekaligus menggidikkan ini dengan mudah dapat dilihat dari jauh, baik oleh para nelayan yang menghilir di sepanjang pesisir Laut Sawu maupun oleh penduduk di daratan pulau Lembata. Kabar pun menyebar, Gunung Hobal kembali meletus setelah 14 tahun tertidur.

Posisi Gunung Iliwerung dan dua gunung parasiternya (yakni Gunung Iligripe dan Gunung Hobal) di Tanjung Atadei, pulau Lembata (NTT) berdasarkan peta kontur Google Maps. Nampak Teluk Waiteba dan area yang menjadi sumber longsoran berskala raksasa yang menciptakan bencana tsunami Waiteba 1979 pada 18 Juli 1979 silam. Sumber: Google Maps, 2013.

Posisi Gunung Iliwerung dan dua gunung parasiternya (yakni Gunung Iligripe dan Gunung Hobal) di Tanjung Atadei, pulau Lembata (NTT) berdasarkan peta kontur Google Maps. Nampak Teluk Waiteba dan area yang menjadi sumber longsoran berskala raksasa yang menciptakan bencana tsunami Waiteba 1979 pada 18 Juli 1979 silam. Sumber: Google Maps, 2013.

Gunung Hobal? Ya. Inilah salah satu gunung berapi yang cukup aktif di jajaran pulau-pulau Nusa Tenggara. Namun jika anda membuka peta dan mengarahkan jemari menyusuri satu demi satu pulau di sini, takkan anda jumpai sebuah gunung pun yang menyandang nama Gunung Hobal. Sebab gunung itu tumbuh di dasar Laut Sawu dengan puncak yang tetap terendam air laut, sehingga seluruh tubuh gunung pada dasarnya tersembunyi di balik Laut Sawu. Inilah satu dari tujuh gunung berapi bawah laut yang telah diketahui di perairan Indonesia hingga sejauh ini dan menjadi gunung berapi bawah laut teraktif.

Parasiter

Gunung Hobal berada pada koordinat 8,37 LS 123,58 BT dan secara administratif terletak di kecamatan Atedai, kabupaten Lembata (NTT). Secara geografis gunung berapi ini berposisi di ujung Tanjung Atadei pada pesisir selatan pulau Lembata (Lomblen), sebuah pulau yang menjadi bagian rantai kepulauan Nusa Tenggara dan terletak di timur pulau Flores dengan diselingi pulau Adonara. Tanjung Atadei menjorok ke Laut Sawu, perairan laut yang terkenal dengan perburuan ikan pausnya. Secara geologis tanjung ini dibentuk oleh aktivitas Gunung Iliwerung, sebuah gunung berapi besar yang secara historis menjadi “induk” Gunung Hobal. Gunung berapi besar dengan puncak setinggi 1.1018 meter dpl ini tumbuh di sisi selatan Kaldera purba Lerek dan terkenal rajin meletus. Semenjak 1870 hingga sekarang Iliwerung tercatat telah 17 kali meletus, atau rata-rata terjadi sebuah letusan setiap 8 tahun.

Dari Gunung Iliwerung inilah lahir Gunung Hobal, yang dalam khasanah kegunungapian merupakan gejala gunung (berapi) parasiter. Sebuah gunung berapi umumnya menyalurkan magmanya lewat saluran utama yang berujung di kawah utama di puncak. Pada saat-saat tertentu magma bisa tak sanggup menembus sumbatan tebal di dasar kawah utama yang tersisa dari tahapan letusan sebelumnya, sehingga terpaksa bergerak menyamping dari saluran utama melalui percabangan hingga meluap keluar permukaan Bumi lewat retakan/celah samping yang terletak di salah satu bagian lereng, khususnya lereng berstabilitas rendah. Sehingga terjadilah letusan samping/letusan lereng. Bila letusan tak hanya sekali namun berulang-ulang lewat celah yang sama sembari menumpuk lava disekelilingnya hingga lama-kelamaan kian tinggi membukit, maka terbentuklah kubah lava besar yang adalah gunung parasiter atau gunung adventif atau anak gunung berapi. Gunung parasiter merupakan fenomena yang umum dijumpai di lingkungan gunung-gunung berapi Indonesia, meski tak semua gunung berapi mengandung gunung-gunung parasiter di lereng-lerengnya.

Puncak Gunung Iliwerung dengan kubah lava (warna hitam) produk Letusan 1870. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Puncak Gunung Iliwerung dengan kubah lava (warna hitam) produk Letusan 1870. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Jika pengeluaran magma melalui gunung parasiter terus berlanjut maka lama-kelamaan tubuh gunung parasiter bakal kian membesar sehingga bisa menyamai ukuran tubuh gunung berapi induknya dan menghasilkan fenomena gunung berapi kembar. Gunung Gede dan Pangrango (Jawa Barat), yang terletak tak jauh dari Jakarta, merupakan contoh terkenal gunung berapi kembar yang berkembang dari gunung parasiter. Kedua gunung berapi tersebut mendapatkan pasokan magma dari dapur magma yang sama. Namun demikian tidak setiap sepasang gunung berapi yang letaknya saling berdampingan merupakan gunung kembar yang terbentuk dari gunung parasiter. Misalnya Gunung Merapi dan Merbabu, ataupun Gunung Sumbing dan Sindoro (keduanya di Jawa tengah). Masing-masing gunung berapi itu berdiri sendiri-sendiri dan memiliki dapur magmanya sendiri-sendiri, terlepas dari letaknya yang saling berdampingan.

Keajaiban

Gunung Iliwerung tergolong rajin menumbuhkan gunung parasiter. Semula aktivitas gunung berapi ini terpusat di puncak Iliwerung yang terdiri dari dua kawah utama, yakni kawah Iliwerung dan kawah Adowajo. Muntahan magma yang menumpuk menjadi lava membukit membentuk kubah lava di puncak ini pada letusan 1870. Namun semenjak 1948 pusat aktivitas pindah ke lereng sektor timur-tenggara, sekitar 3 kilometer dari puncak, dengan terbentuknya kubah lava yang kemudian terus berkembang menjadi gunung parasiter yang bernama Gunung Iligripe. Gunung parasiter ini mulai muncul pada 9 Mei 1948 dan cepat sekali bertumbuh. Dalam dua hari saja tingginya telah 50 meter dari dasar. Dan kini gunung parasiter itu telah setinggi 190 meter.

Pada 5 Desember 1973 bentuk baru aktivitas vulkanik di kawasan ini mengemuka saat para nelayan menyaksikan semburan air dan uap dari perairan Laut Sawu yang menutupi lereng sektor tenggara Gunung Iliwerung, sejauh sekitar 3 kilometer di sebelah selatan Gunung Iligripe. Semburan demi semburan terus berlangsung hingga delapan bulan berikutnya dan lama-kelamaan memunculkan tiga buah pulau baru yang berasap dan membara dengan puncak setinggi antara 20 hingga 60 meter dpl. Tak ada keraguan bahwa sebuah gunung parasiter baru telah terbentuk. Masyarakat suku Atedei yang tinggal didekatnya menamakan pulau-pulau ini sebagai Hobal (yang berarti “timbul” dalam bahasa Atedei), yang kemudian menjadi nama gunung parasiter baru tersebut. Oleh strukturnya yang rapuh serta ditunjang gempuran ombak Laut Sawu yang tiada ampun, ketiga puncak Gunung Hobal yang semula menyembul di atas paras air Laut Sawu itu menghilang di balik birunya air laut hanya berselang beberapa minggu setelah aktivitas letusannya berakhir.

Gunung Iligripe, salah satu gunung parasiter di Gunung Iliwerung, diabadikan pada 1979. Gunung parasiter ini terbentuk dalam letusan 1948 yang dramatis. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Gunung Iligripe, salah satu gunung parasiter di Gunung Iliwerung, diabadikan pada 1979. Gunung parasiter ini terbentuk dalam letusan 1948 yang dramatis. Sumber: Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.

Aktivitas Gunung Hobal berlanjut pada 8 Maret 1976 saat letusan kembali terjadi dan memunculkan 7 pulau baru yang seakan berjajar menuju ke pantai. Namun hanya berselang sebulan kemudian ketujuh pulau baru, yang adalah puncak-puncak Gunung Hobal, ini kembali menghilang seiring guncangan gempa tektonik dan terjangan ombak. Letusan berikutnya kembali terjadi pada 17-18 Agustus 1983 namun tanpa disertai munculnya pulau baru. Letusan sejenis yang lebih kecil terjadi pada 16 September 1993. Letusan serupa juga terjadi kembali pada Mei 1995 dan kemudian pada 22 Mei 1999, dimana muntahan magma Letusan 1999 sedikit lebih besar dibanding Letusan 1995. Namun lagi-lagi keduanya tanpa disertai pembentukan pulau baru. Dengan demikian Gunung Hobal tetap merupakan gunung berapi bawah laut.

Lahirnya Gunung Hobal menjadikan Indonesia memiliki tujuh gunung berapi bawah laut. Enam lainnya adalah Gunung Banua Wuhu /Mahangetang, Submarin 1922 dan Kawio Barat (ketiganya di perairan Sangihe, Sulawesi Utara) serta Gunung Yersey, Emperor of China dan Nieuwerkerk (ketiganya di perairan Laut Banda, Maluku). Dari ketujuh gunung berapi bawah laut tersebut hanya Gunung Hobal-lah yang paling aktif. Kelahiran gunung parasiter ini juga merupakan penanda keajaiban vulkanik di tanah Nusa Tenggara seiring uniknya posisi geologisnya. Peristiwa ini bukanlah monopoli Hobal semata. Berselang 15 tahun pasca kelahiran Gunung Hobal, sebuah keajaiban serupa muncul di tengah dataran pulau Flores, tepatnya di dekat kota Ruteng. Semenjak 28 Desember 1987 dunia menyaksikan lahirnya gunung berapi baru, yang kini dinamakan Gunung Anak Ranakah, di kawasan vulkanis yang telah 15.000 tahun lamanya tak pernah memuntahkan magmanya.

Peringatan

Siluet tubuh Gunung Iliwerung dan kepulan asap Gunung Hobal, diabadikan pada Mei 1999 saat aktivitas Gunung Hobal menanjak. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Siluet tubuh Gunung Iliwerung dan kepulan asap Gunung Hobal, diabadikan pada Mei 1999 saat aktivitas Gunung Hobal menanjak. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Di balik keajaiban vulkanis tersebut, tersembunyi masalah pelik yakni bagaimana mengantisipasi dampak letusan di sekujur tubuh Gunung Iliwerung terhadap perikehidupan masyarakat setempat. Potensi bahaya letusan Gunung Iliwerung maupun gunung-gunung parasiternya tidaklah main-main. Pada saat Letusan 1948, 4 juta meter kubik material vulkanik dimuntahkan dengan sebagian diantaranya menjadi awan panas. Terjangan awan panas memanggang habis 300 ekor ternak dan menghancurkan 100 petak lahan pertanian di lereng timur. Tsunami pun berkali-kali terjadi semenjak lahirnya Gunung Hobal seiring aktivitasnya, meski sejauh ini tidak menyebabkan masalah serius karena terjangan maksimum gelombangnya ke daratan hanya sejauh 30 meter dari bibir pantai. Letusan Hobal 1976 misalnya, menghasilkan tsunami yang cukup besar. Namun karena terjadi di siang hari, maka warga dapat menyelamatkan diri sehingga korban jiwa pun tak berjatuhan. Tsunami akibat letusan terulang kembali pada Letusan Hobal 1995, saat air Laut Sawu bergolak dan memproduksi gelombang setinggi 5 meter. Namun demikian saat tiba di bibir pantai, ketinggiannya telah sangat menyusut sehingga tak ada kerusakan berarti yang ditimbulkannya.

Tsunami terparah, yang justru tak terkait langsung dengan letusan gunung berapi, terjadi pada 18 Juli 1979. Saat itu lereng sektor timur laut yang berbatasan dengan Teluk Waiteba rontok dalam jumlah amat besar hingga sepertiganya tercebur ke laut. Bagian lereng yang runtuh sebagai longsoran besar memiliki panjang sekitar 3 kilometer dan lebar sekitar 300 meter dengan volume sekitar 50 juta meter kubik. Masuknya massa tanah dalam jumlah sangat besar ke Laut Sawu di Teluk Waiteba menghasilkan tsunami yang bersifat lokal namun konsekuensinya tinggi gelombangnya cukup besar hingga mencapai 7 meter atau lebih. Akibatnya sekujur pesisir Teluk Waiteba diterjang tsunami yang menyebabkan 539 orang tewas dan 364 orang lainnya dinyatakan hilang. Bencana tsunami Waiteba 1979 merupakan tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20 sebelum tsunami Flores 1992 (juga di Nusa Tenggara Timur) melampauinya pada 12 Desember 1992 dengan lebih dari 2.000 orang tewas.

Semburan air dan uap panas dari lokasi Gunung Hobal saat Letusan 1999, diabadikan dari lereng Gunung Iliwerung. Nampak air laut di sekeliling pusat semburan berwarna lebih pucat ketimbang air laut pada umumnya. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Semburan air dan uap panas dari lokasi Gunung Hobal saat Letusan 1999, diabadikan dari lereng Gunung Iliwerung. Nampak air laut di sekeliling pusat semburan berwarna lebih pucat ketimbang air laut pada umumnya. Sumber: Warta Geologi, 2010.

Geliat Gunung Hobal di ini telah terekam semenjak awal Agustus 2013 seiring peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkalnya, yang menandakan terjadinya gerakan fluida (magma) menuju permukaan. Jumlah gempa vulkanik dangkal mencapai puncaknya pada 19 Agustus 2013, sehari sebelum letusan, yang mencapai 173 kali hanya dalam sehari. Dengan karakteristik letusannya yang sanggup memproduksi tsunami, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan pelarangan aktivitas wisata dan pelayaran dalam radius 2 kilometer dari Gunung Hobal. Warga pesisir selatan pulau Lembata juga diminta untuk tetap menjaga jarak dengan bibir pantai minimal sejauh 30 meter. Perhatian khusus ditujukan kepada warga Desa Dulir yang hanya berjarak 2 kilometer dari Gunung Hobal. Warga desa diminta tetap waspada namun tak mudah terpancing kabar burung yang berkeriungan soal Gunung Hobal dan Iliwerung. Ya. pada saat aktivitas Gunung Hobal telah memasuki fase letusan sehingga PVMBG menaikkan statusnya dari Aktif Normal (tingkat 1) menjadi Waspada (tingkat 2) mulai 20 Agustus 2013, maka hal serupa pun terjadi di Gunung Iliwerung yang menjadi “induk” Hobal. Meski masih sebatas pada peningkatan jumlah gempa vulkanik dangkal, PVMBG tak mau berspekulasi dan memutuskan untuk menaikkan status Gunung Iliwerung juga ke Waspada (tingkat 2) mulai 19 Agustus 2013.

Sumber : PVMBG, 2013. Warta Geologi, 2010. Smithsonian Institution, 2013.

Ledakan Bintang dalam Peringatan Kemerdekaan Indonesia

Hanya berselang dua hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-68, sebuah kilatan cahaya yang dihasilkan sebuah peristiwa ledakan bintang (nova) muncul di langit malam. Dan hanya berselang dua hari kemudian, kilatan cahaya tersebut telah demikian terang sehingga mudah dideteksi dan diabadikan umat manusia khususnya dengan perlengkapan fotografis memadai. Pada tingkat terang +4,3 di puncak kecemerlangannya, ledakan bintang ini menjadi salah satu dari 35 nova paling terang yang pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia sekaligus nova paling terang yang pernah kita saksikan dalam enam tahun terakhir. Bagi Indonesia, nova ini ibarat kembang api langit yang menerangi saat-saat peringatan kemerdekaan Indonesia.

Nova Delphini 2013 diabadikan penulis pada 16 Agustus 2013 dengan kamera. Delphinus, Vulpecula dan Sagitta merupakan nama-nama rasi bintang, sementara alfa dan gamma adalah nama-nama bintang dalam rasi yang terkait. Sumber: Sudibyo, 2013.

Nova Delphini 2013 diabadikan penulis pada 16 Agustus 2013 dengan kamera. Delphinus, Vulpecula dan Sagitta merupakan nama-nama rasi bintang, sementara alfa dan gamma adalah nama-nama bintang dalam rasi yang terkait. Sumber: Sudibyo, 2013.

Nova ini pertama kali dideteksi oleh Koichi Itagaki (Jepang) pada Kamis dinihari 15 Agustus 2013 (pukul 01:00 WIB) lalu. Saat itu ia menyaksikan ada sebintik cahaya tak biasa dengan tingkat terang +6,7 yang terekam lewat bidikan teleskopnya tatkala mengamati selempang galaksi Bima Sakti tepatnya di dalam rasi Delphinus, gugusan bintang yang berbentuk mirip lumba-lumba. Bintik cahaya tersebut tak ada dalam pengamatan lain di area yang sama pada sehari sebelumnya. Setelah mengeliminasi berbagai kemungkinan seperti komet/asteroid hingga satelit buatan, maka Itagaki menyimpulkan bintik cahaya tersebut mungkin adalah ledakan bintang (nova) dan lantas dikodekan sebagai PNV J20233073+2046041. Pengamatan-pengamatan dari berbagai penjuru memastikan kebenaran dugaan tersebut, baik berdasar analisis spektroskopi maupun perbandingan citra (foto) kawasan rasi Delphinus masa kini dengan citra pra-15 Agustus 2013. Sehingga nova tersebut pun dikodekan ulang sebagai Nova Delphini 2013, sesuai dengan tatanama yang berlaku sebelum General Catalog of Variable Stars memberinya nama resmi.

Bersamaan dengan pengesahannya sebagai nova, pengamatan demi pengamatan memastikan Nova Delphini 2013 kian bertambah terang saja dari ke hari. Jika semula hanya memiliki tingkat terang semu +6,7 berselang 24 jam kemudian tingkat terangnya telah meningkat jadi +5,5. Berselang sehari berikutnya Nova Delphini 2013 bahkan lebih cemerlang lagi karena tingkat terangnya telah mencapai +4,3. Dengan demikian nova ini telah melampaui ambang batas terendah kemampuan mata manusia untuk menyaksikan benda-benda langit, yakni tingkat terang +6. Sehingga ledakan bintang ini secara harfiah mulai bisa disaksikan dengan mata manusia di langit malam meski tak ditunjang alat-alat bantu optik seperti halnya teleskop maupun binokular. Namun butuh lingkungan yang cukup gelap atau pinggiran kota untuk dapat menikmatinya. Sejumlah aktivitas pengamatan pun digelar secara sporadis, termasuk dari Indonesia.

Nova Delphini 2013 (tanda panah), diabadikan oleh John Chumack pada 14 Agustus 2013 dengan mengunakan teleskop berdiameter 40 cm, hanya dalam beberapa jam setelah ditemukan. Sumber: Chumack, 2013.

Nova Delphini 2013 (tanda panah), diabadikan oleh John Chumack pada 14 Agustus 2013 dengan mengunakan teleskop berdiameter 40 cm, hanya dalam beberapa jam setelah ditemukan. Sumber: Chumack, 2013.

Nova

Apa sebenarnya nova? Ia adalah peristiwa pelepasan energi sangat besar dari sebuah bintang khususnya dari lapisan terluarnya. Akibatnya ada bagian dari lapisan terluar itu yang terlepas dan melejit menjauh dengan kecepatan tinggi sebagai representasi gelombang kejut (shockwave). Pelepasan energi tersebut berasal dari reaksi fusi termonuklir, persis seperti yang terjadi dalam teras bom hidrogen yang menjadi generasi kedua dari senjata nuklir. Sehingga jika cahaya nova diuraikan menjadi warna-warna warna cahaya visualnya lewat teknik spektroskopi, maka akan muncul garis-garis spektrum emisi Hidrogen yang lebih dikenal sebagai garis-garis Balmer.

Nova selalu terjadi pada sebuah bintang katai putih atau cebol putih (white dwarf). Bintang katai putih merupakan bintang eksotik yang menjadi muara dari tahap akhir kehidupan sebuah bintang biasa yang berbobot kurang lebih setara Matahari kita. Kita telah mengetahui sebuah bintang seperti pada umumnya dari reaksi fusi termonuklir dalam intinya, yang mengubah Hidrogen menjadi Helium dalam jumlah besar disertai pelepasan energi sangat besar dan radiasi foton gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang amat berlimpah. Pancaran foton gelombang elektromagnetik ke segala arah dari inti bintang menghasilkan apa yang disebut tekanan radiasi yang arahnya keluar, namun besarnya persis sama dengan tarikan gravitasi akibat massa bintang itu sendiri (yang mengarah ke intinya). Keseimbangan inilah yang mempertahankan eksistensi bintang tersebut. Maka kala kita merasakan hangatnya berkas sinar Matahari kita, di balik kehangatan itu tersembunyi perjuangan mati-matian sang surya dari detik ke detik dalam mempertahankan tekanan radiasinya guna menghindari kehancuran mematikan akibat tarikan gravitasinya sendiri.

Keseimbangan tersebut tak berlangsung selamanya seiring terbatasnya massa bintang, yang berarti juga terbatasnya jumlah Hidrogen yang siap ‘dibakar’ menjadi Helium. Kala Hidrogen kian menipis, Helium mulai ‘dibakar’ dalam reaksi fusi termonuklir untuk menjadi Oksigen dan Karbon sehingga tekanan radiasi yang diproduksinya pun membesar. Akibatnya dimensi bintang bakal mengembang berkali-kali lipat sebagai pertanda tahap raksasa merah (red giant). Lima milyar tahun ke depan Matahari kita bakal mengalaminya dan bakal mengembang hingga 150 kali lipat lebih besar dibanding sekarang. Maka pada saat itu Matahari bakal ‘menelan’ planet Merkurius dan Venus serta memanggang Bumi demikian rupa sehingga jauh lebih panas mendidih ketimbang hari ini.

Hasil observasi Nova Delphini 2013 dengan teleskop GAO-ITB RTS+DSS7 di Observatorium Bosscha pada 16 Agustus 2013, yang dilakukan oleh Rhisa Azalia, Gabriela K Haans, Saeful Ahyar dan Hakim L. Malasan. Nampak spektrum cahaya nova ini khususnya spektrum emisi Hidrogen dalam bentuk garis Hidrogen-alfa (merah) dan Hidrogen-beta (hijau). Sumber: Bosscha, 2013.

Hasil observasi Nova Delphini 2013 dengan teleskop GAO-ITB RTS+DSS7 di Observatorium Bosscha pada 16 Agustus 2013, yang dilakukan oleh Rhisa Azalia, Gabriela K Haans, Saeful Ahyar dan Hakim L. Malasan. Nampak spektrum cahaya nova ini khususnya spektrum emisi Hidrogen dalam bentuk garis Hidrogen-alfa (merah) dan Hidrogen-beta (hijau). Sumber: Bosscha, 2013.

Namun jumlah Helium pun terbatas. Sehingga begitu Helium habis, reaksi fusi termonuklir boleh dikata berhenti dan tak ada lagi tekanan radiasi sehingga tarikan gravitasi pun tak ada yang mengimbangi. Akibatnya bintang, khususnya intinya, bakal mengerut dan terus mengerut hingga mencapai satu titik dimana elektron-elektronnya, yang jarak pisah antar sesamanya kini jauh lebih kecil seiring pengerutan, mulai mengambil-alih. Dengan telah terisinya seluruh tingkat energi elektron dan berlakunya prinsip eksklusi Pauli, maka timbul tekanan yang menghentikan proses pengerutan lebih lanjut terutama bila massa inti bintang tak melampaui batas Chandrasekhar. Namun pada saat itu bintang telah demikian mengerut sehingga telah menjadi kerdil/katai. Inilah bintang katai putih yang dikenal memiliki kerapatan materi sangat tinggi. Sejumput materi bintang katai putih yang hanya seukuran kotak korek api bisa memiliki massa berton-ton! Kelak Matahari kita pun bakal mengalami nasib serupa, menjadi bintang katai putih dengan ukuran hanya sebesar Bumi saja.

Bagaimana sebuah nova bisa terbentuk, yakni saat bintang katai putih (white dwarf) dalam sistem bintang ganda mulai menyerap materi berupa gas Hidrogen dan Helium (stream of gas) dari bintang pasangannya, yang dalam skema ini berbentuk mirip Matahari (sunlike star). Aliran materi yang menuju bintang katai putih menumpuk di permukaannya dan lama-kelamaan kian memanas sehingga akhirnya menjadi nova. Sumber: astrobob.areavoices.com, 2013.

Bagaimana sebuah nova bisa terbentuk, yakni saat bintang katai putih (white dwarf) dalam sistem bintang ganda mulai menyerap materi berupa gas Hidrogen dan Helium (stream of gas) dari bintang pasangannya, yang dalam skema ini berbentuk mirip Matahari (sunlike star). Aliran materi yang menuju bintang katai putih menumpuk di permukaannya dan lama-kelamaan kian memanas sehingga akhirnya menjadi nova. Sumber: astrobob.areavoices.com, 2013.

Bintang katai putih membawa konsekuensi tersendiri terutama karena dominasi sistem bintang ganda dalam jagat raya kita. Saat sebuah bintang mengakhiri hidupnya dan berubah menjadi bintang katai putih sementara pasangannya masih tetap bertahan namun juga telah menua (sehingga mulai menjalani tahap raksasa merah), maka mulailah bintang katai putih menyedot materi pasangannya secara bertahap dan berkesinambungan. Maka permukaan bintang katai putih pun mulai menumpuk materi bintang pasangannya, yang didominasi Hidrogen dan Helium. Kian lama materi ini kian menebal dan oleh tarikan gravitasi yang sangat ekstrim lantas tertekan hebat sehingga bersuhu sangat tinggi, melampaui suhu bintang katai putih itu sendiri. Suatu saat, bilamana suhunya telah melampaui 20 juta derajat Kelvin (20 juta derajat Celcius), mulailah tumpukan Hidrogen dan Helium ini menjalani reaksi fusi termonuklir meski hanya sesaat (untuk ukuran bintang). Sebagai akibatnya terjadilah pelepasan energi sangat besar yang ditandai dengan peningkatan kecerlangan (peningkatan tingkat terang) secara mendadak. Inilah nova. Bila bintang katai putih rata-rata melepaskan energi hanya antara 0,001 hingga 0,001 energi Matahari, maka saat menjadi nova pengeluaran energinya membengkak hebat menjadi antara beberapa kali hingga ratusan ribu kali lipat Matahari.

Sebagian kita kadang keliru membedakan nova dengan supernova. Meski sama-sama pelepasan energi sangat besar dalam tempo singkat dari bintang, energi supernova jauh lebih besar ketimbang nova. Reaksi fusi termonuklir dalam supernova terjadi pada hampir segenap bagian bintang, sementara nova hanya di lapisan terluarnya saja. Dan sebagai produk akhirnya, supernova menghancurkan seluruh bagian bintang tanpa sisa ataupun membentuk bintang eksotik lainnya seperti bintang neutron maupun lubang hitam, sementara nova masih tetap menyisakan bintang katai putih-nya seperti sedia kala. Bila supernova hanya terjadi sekali saja bagi sebuah bintang, nova dapat terjadi berulang-ulang setiap beberapa tahun sekali bagi sebuah bintang katai putih sepanjang bintang pasangannya masih setia memasok materi. Dan akhirnya, bila supernova hanya dapat terjadi pada bintang yang berkali-kali lipat lebih massif ketimbang Matahari ataupun pada bintang katai putih yang menyerap materi bintang pasangannya dengan demikian rakus sehingga massanya membengkak melampaui batas Chandrasekhar, nova hanya bisa terjadi pada bintang katai putih yang massanya di bawah batas Chandrasekhar (yakni 1,4 kali lipat Massa Matahari)

Pengamatan

Pengamatan oleh observatorium dari berbagai penjuru, termasuk Observatorium Bosscha di Lembang (Jawa Barat) yang bertulangpunggung teleskop GAO-ITB, menunjukkan Nova Delphini 2013 memiliki spektrum Balmer nan kuat dalam wujud Hidrogen-alfa (warna merah) dan Hidrogen-beta (warna hijau). Selain dominasi unsur Hidrogen, cahaya yang dipancarkan Nova Delphini 2013 juga menunjukkan jejak-jejak unsur minor seperti Helium, Silikon, Magnesium, Natrium dan bahkan Besi. Namun pengamatan dengan menggunakan teleskop landas bumi (teleskop antariksa) Swift yang bekerja dalam spektrum sinar-X menunjukkan nova ini tidak melepaskan sinar-X. Dari jejak-jejak spektrum Hidrogen-nya diketahui gelombang kejut produk nova ini melejit dengan kecepatan cukup tinggi, yakni antara 2.000 hingga 2.300 km/detik atau antara 7,2 juta hingga 8,28 juta kilometer per jam!

Sejauh ini belum diketahui bintang katai putih mana yang mengalami ledakan hingga menjadi Nova Delphini 2013. Namun menyaksikan cepatnya nova ini bertambah kecemerlangannya (dari +6,7 menjadi +4,3 hanya dalam tempo dua hari) dan sebaliknya juga cepatnya nova ini meredup setelah mencapai puncak kecerlangannya (dari +4,3 pada 16 Agustus 2013 menjadi tinggal +5,7 pada 22 Agustus 2013) mengindikasikan bintang tersebut terletak pada jarak antara 11.400 hingga 17.900 tahun cahaya dari Bumi kita. Dengan demikian ledakan tersebut sejatinya telah terjadi pada 11.400 hingga 17.900 tahun silam. Hanya keajaiban ruang-waktu jagat raya semata, yang disebabkan oleh terbatasnya kecepatan cahaya, yang membuat kilatan peristiwa tersebut baru terdeteksi pada masakini.

Nova Delphinus 2013 diabadikan oleh Mutoha Arkanuddin pada 16 Agustus 2013 menggunakan teleskop di lingkungan kota Yogyakarta. Sumber; Arkanuddin, 2013.

Nova Delphinus 2013 diabadikan oleh Mutoha Arkanuddin pada 16 Agustus 2013 menggunakan teleskop di lingkungan kota Yogyakarta. Sumber; Arkanuddin, 2013.

Pada jarak tersebut, dengan tingkat terang +4,3 saat mencapai puncaknya yang menjadikan Nova Dephini 2013 sebagai nova paling terang dalam enam tahun terakhir dan salah satu dari 35 nova tercemerlang sepanjang sejarah astronomi modern, maka Nova Delphini 2013 melepaskan energi antara 200 ribu hingga 500 ribu kali lipat Matahari kita. Namun demikian tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dengan jarak demikian jauh, energi luar biasa besar itu telah sangat meluruh sehingga tak berimbas apapun bagi Bumi kita.

Referensi : Sky & Telescope, 2013.

Letusan Rokatenda, Sepotong Petaka Pasca Hari Raya

Kepulan debu vulkanik yang menjulang hingga setinggi 2.000 meter untuk kemudian hanyut mendatar terbawa angin masih terlihat dari Gunung Rokatenda, dua hari pasca peristiwa 10 Agustus 2013. Sumber : BNPB, 2013.

Kepulan debu vulkanik yang menjulang hingga setinggi 2.000 meter untuk kemudian hanyut mendatar terbawa angin masih terlihat dari Gunung Rokatenda, dua hari pasca peristiwa 10 Agustus 2013. Sumber : BNPB, 2013.

Dentuman sangat keras terdengar pada Sabtu pagi buta 10 Agustus 2013 dari arah Gunung Rokatenda di tengah-tengah pulau Palue (Paluweh), sebuah pulau kecil seluas 39,5 kilometer persegi di tengah-tengah Laut Flores yang termasuk bagian Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur). Dentuman itu sontak menciutkan hati segenap orang. Namun kejutan demi kejutan berikutnya segera menyusul. Sesaat setelah dentuman menggelegar, tanah mulai bergetar seiring lindu. Hampir bersamaan kemudian puncak Rokatenda mulai memuntahkan kepulan bebatuan, debu dan gas vulkanik nan membara menembus langit yang masih gulita karena Matahari baru terbit 1,5 jam lagi. Kepulan membara tersebut membumbung hingga setinggi 2.000 meter di atas puncak. Bebarengan dengannya terbentuklah awan panas, yakni kumpulan pasir, debu dan kerikil yang bercampur-baur yang demikian panas membara dengan suhu awal melebihi 600 derajat Celcius dan mengalir laksana lumpur pekat menyusuri lereng-lereng gunung. Monster panas membara menakutkan itu pun segera berkibar ke arah utara hingga 4 kilometer jauhnya, sampai-sampai memasuki perairan Laut Flores.

Letusan pagi buta itu sontak membuat panik penduduk Palue. Apalagi terjangan awan panasnya demikian mendadak dan menyebal dari kebiasaan, karena sebelumnya puncak Rokatenda lebih rajin mengirim awan panasnya ke lereng selatan. Lima orang meregang nyawa diterjang awan panas namun sejauh ini hanya tiga jasad saja yang sudah ditemukan. Ratusan orang segera dievakuasi keluar pulau. Hingga dua hari kemudian sebanyak 511 orang orang telah diungsikan ke kota Sikka menggunakan kapal, termasuk 157 anak-anak siswa SD dan SMP di seantero Palue.

Letusan Rokatenda amat mengagetkan Indonesia yang masih menikmati suasana libur Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Terjangan awan panas seakan tak kenal kompromi dengan sebuah peristiwa religius yang memiliki imbas cukup dalam pada ranah ekonomi, sosial dan budaya. Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Tsunami 1928

Posisi Gunung Rokatenda (segitiga merah) di busur Kepulauan Sunda Kecil.Nampak patahan anjak (sesar naik) Flores melintas di sisi utara gunung. Sumber : Budiono, 2009.

Posisi Gunung Rokatenda (segitiga merah) di busur Kepulauan Sunda Kecil.Nampak patahan anjak (sesar naik) Flores melintas di sisi utara gunung. Sumber : Budiono, 2009.

Pulau Palue adalah sebuah pulau gunung berapi yang berjarak sekitar 30 kilometer di utara pulau Flores, pulau utama di propinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruh bagian pulau yang memiliki garis tengah 8 kilometer tersebut sejatinya merupakan tubuh gunung berapi Rokatenda yang menjulang dari kedalaman Laut Flores. Jika dihitung dari dasar laut, Gunung Rokatenda adalah sebuah gunung berapi besar yang menjulang hingga setinggi 3.000 meter atau tak kalah dibanding Gunung Slamet (Jawa Tengah). Namun kebesaran itu tersembunyi di balik birunya air Laut Flores dan hanya menyisakan ujung kecil mungil yang menyembul hingga setinggi 875 meter saja dari paras air laut. Sebuah kawah berdiameter 900 meter menghiasi puncaknya dan penuh berisi sejumlah kubah lava produk letusan terdahulu. Gunung ini memang satu tipe dengan Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) yang rajin membentuk gundukan kubah lava di puncaknya tatkala meletus seiring rendahnya tekanan gas vulkanik dari kantung magma tepat di bawah gunung. Kubah lava kemudian menghempas sebagian dan berkibar menjadi awan panas dalam episode letusan berikutnya, saat desakan magma ataupun faktor eksternal membuatnya kehilangan stabilitas dan gugur menuruni lereng.

Gunung Rokatenda adalah bagian dari jajaran gunung-gunung berapi yang memaku bumi Bali dan Nusa Tenggara, kepulauan yang dulu kerap disebut Kepulauan Sunda Kecil. Seperti halnya pulau Jawa dan Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara adalah hasil interaksi lempeng Sunda (Eurasia) yang stabil dan lempeng Australia yang mendesak dari selatan, dimana lempeng Australia melekuk dan menyelusup ke bawah lempeng Sunda sebagai subduksi. Di sepanjang Bali dan Nusa Tenggara, subduksi itu terjadi di sepanjang lepas pantai selatan yang secara kasat mata berupa palung laut memanjang dari barat ke timur dan sedikit berbelok di sekitar pulau Sumba dan Timor. Namun interaksi itu lebih kompleks karena, berbeda dengan pulau Jawa, di sepanjang sisi utara Bali dan Nusa Tenggara juga muncul fenomena busur belakang yang mewujud sebagai sistem patahan anjak (naik) Flores dan Wetar nan panjang. Maka Bali dan Nusa Tenggara dikepung rapat oleh dua sumber gempa utama baik di sisi selatan maupun utaranya. Jika sumber gempa sebelah selatan pernah meletup dahsyat pada 10 Agustus 1977 silam dengan kekuatan hingga 8 SM (skala magnitudo) dan menghempaskan tsunami besar yang menewaskan hampir 500 jiwa, maka sumber gempa sebelah utara tak kurang dahsyatnya. Misalnya dalam kejadian gempa 12 Desember 1992 (kekuatan 7,5 SM) yang menerbitkan tsunami besar hingga setinggi 26meter dan merenggut nyawa lebih dari 2.000 orang di kota Maumere dan pesisir utara Flores lainnya. Tsunami Maumere 1992 ini tercatat sebagai tsunami paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-20, sebelum peristiwa gempa akbar dan tsunami Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 merenggut lebih banyak korban jiwa di ujung utara pulau Sumatra.

Terkait tsunami, gunung Rokatenda pun tak kalah spektakuler khususnya saat meletus pada 4 Agustus hingga 25 September 1928 silam. Letusan dengan skala 3 VEI itu memuntahkan rempah vulkanik antara 10 hingga 100 juta meter kubik. Termasuk di antaranya adalah awan panas, yang meluncur deras hingga memasuki perairan Laut Flores dalam volume cukup besar. Interaksi awan panas yang membara dengan air laut menghasilkan tsunami yang bersifat lokal, namun sebaliknya memiliki tinggi gelombang cukup besar. Tsunami setinggi 5 hingga 7 meter menyapu pesisir pulau Palue dan menewaskan 260 orang yang hendak mengungsi keluar seiring terjadinya letusan. Tsunami bahkan masih terasakan di pesisir utara pulau Flores, yang merenggut nyawa 6 orang dan mendamparkan 6 kapal dagang. Ini merupakan perulangan dari peristiwa Letusan Krakatau 1883 dan Letusan Tambora 1815, saat interaksi awan panas dalam volume sangat besar dengan air laut pun menerbitkan tsunami perusak yang membunuh banyak manusia. Meskipun skala kedahsyatan tsunami Rokatenda jauh lebih kecil dibanding kedua peristiwa letusan gunung berapi legendaris tersebut.

Pasca letusan 1928, Gunung Rokatenda kembali meletus pada 1963-1966, 1972-1973, 1980-1981, 1984 dan 1985. Terkecuali letusan 1972-1973, semuanya memiliki skala letusan kecil yakni hanya berkisar antara 1 hingga 2 VEI. Tak ada korban jiwa yang berjatuhan dalam letusan-letusan tersebut. Letusan 1963-1966 bahkan hanya menyebabkan 3 orang luka-luka.

Semenjak 2012

Kubah lava baru di puncak Gunung Rokatenda yang terbentuk semenjak Oktober 2012 silam. Longsornya sisi selatan dan utara kubah lava ini, masing-masing pada 13 Februari dan 10 Agustus 2013, menyebabkan awan panas berkibar ke arah selatan dan tenggara. Sumber : Pos Kupang, 2013.

Kubah lava baru di puncak Gunung Rokatenda yang terbentuk semenjak Oktober 2012 silam. Longsornya sisi selatan dan utara kubah lava ini, masing-masing pada 13 Februari dan 10 Agustus 2013, menyebabkan awan panas berkibar ke arah selatan dan tenggara. Sumber : Pos Kupang, 2013.

Setelah 27 tahun tertidur pasca aktivitas terakhirnya pada 3 Februari 1985, Gunung Rokatenda kembali menggeliat pada Juni 2012. Peningkatan aktivitas memaksa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan statusnya secara bertahap dalam tempo cukup singkat. Sehingga pada 13 Oktober 2012 Gunung Rokatenda telah berstatus Siaga (Tingkat 3), tingkatan terakhir sebelum status Awas (status tertinggi). Dalam tingkatan ini penduduk yang tinggal di sekitar gunung khususnya di dalam Kawasan Rawan Bencana 3 dan 2, yakni kawasan yang berpotensi terkena hempasan awan panas, gas beracun, leleran lava letusan dan jatuhan bebatuan pijar produk letusan, sudah harus dievakuasi. Status itu bertahan hingga kini.

Perkembangan aktivitas Gunung Rokatenda kian mengkhawatirkan pasca Oktober 2012. Pendakian dari segenap sisi gunung pada 30 November hingga 2 Desember 2012 memastikan sebuah kubah lava baru tumbuh di dalam kawah dan terus membesar hingga akhirnya setinggi 150 meter dari dasar kawah dengan lebar 200 hingga 250 meter dan volumenya sebesar 5,1 juta meter kubik . Letusan-letusan kecil berkali-kali terjadi dan membumbungkan debu vulkanik hingga setinggi sekitar 3.000 meter. Pada akhirnya apa yang dikhawatirkan pun terjadilah, yakni pada Rabu 13 Februari 2013 saat seperempat bagian sisi selatan kubah lava baru ini longsor dan berubah menjadi awan panas. Awan panas merangsek sejauh 3 kilometer ke selatan, sementara debu vulkanik yang sempat melejit hingga setinggi 4.000 meter lantas menghujani dan membedaki seluruh pulau dan kawasan sekitarnya, bahkan hingga mencapai kota Ende yang jauhnya 60 kilometer. Letusan ini tidak memakan korban jiwa maupun luka-luka, namun sudah cukup sebagai landasan untuk mengevakuasi penduduk Palue.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Rokatenda. Lingkaran merah berjari-jari 1 kilometer dari puncak, sementara tiga lingkaran kuning berikutnya berturut-turut berjari-jari 2, 3 dan 4 kilometer dari puncak. Alur kuning merupakan lembah-lembah sungai yang menjadi KRB 1 yang potensi bahayanya minimal, sementara area merah muda merupakan KRB 2 yang berpotensi bahayanya medium dan area merah merupakan KRB 3 yang potensi bahayanya paling besar terhadap kejadian letusan. Sumber : BNPB, 2013.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Rokatenda. Lingkaran merah berjari-jari 1 kilometer dari puncak, sementara tiga lingkaran kuning berikutnya berturut-turut berjari-jari 2, 3 dan 4 kilometer dari puncak. Alur kuning merupakan lembah-lembah sungai yang menjadi KRB 1 yang potensi bahayanya minimal, sementara area merah muda merupakan KRB 2 yang berpotensi bahayanya medium dan area merah merupakan KRB 3 yang potensi bahayanya paling besar terhadap kejadian letusan. Sumber : BNPB, 2013.

Evakuasi ini tidaklah gampang. Pulau Palue dihuni oleh sekitar 9.990 jiwa di delapan desa dengan 657 orang diantaranya bahkan tinggal di Kawasan Rawan Bencana 3 yang sesungguhnya kawasan terlarang. Maka problem sosial yang membelit Gunung Rokatenda pun serupa dengan Gunung Merapi, sama-sama padat oleh hunian manusia bahkan hingga mendekati puncaknya. Meski letusan Rokatenda 1963-1966 membikin trauma dan membuat segenap penduduk sempat direlokasi ke Maumere lengkap dengan hunian dan lahan persawahannya, namun perlahan namun pasti mereka akhirnya kembali lagi ke pulau Palue sebagai tanah tumpah darahnya. Faktor inilah yang membuat rekomendasi PVMBG untuk merelokasi penduduk pulau Palue sulit dilaksanakan. Padahal sebuah gunung berapi takkan pernah terus-menerus berperilaku serupa untuk jangka waktu yang lama. Letusan Kelud 2007 dan Letusan Merapi 2010 menjadi bukti terkini bagaimana karakter sebuah gunung berapi dapat berubah dramatis. Gunung Kelud (Jawa Timur), yang semula dikenal hobi menghamburkan ratusan juta meter kubik rempah vulkanik disertai aliran lahar panas dalam waktu hanya beberapa belas jam sebagai letusan dahsyat, mendadak berubah menjadi menumbuhkan kubah lava di dalam kawah pada Letusan 2007. Sebaliknya Gunung Merapi yang selama beberapa dekade terakhir dikenal rajin memproduksi kubah lava mendadak berubah dengan letusan dahsyatnya pada 2010 silam.

Pasca letusan 13 Februari 2013, aktivitas Gunung Rokatenda seakan menyurut dan tak ada perkembangan yang berarti sehingga
mereka yang sempat mengungsi pun kembali lagi ke pulau ini, meski PVMBG belum menurunkan status gunung. Siapa sangka, hanya berselang enam bulan kemudian letusan yang lebih besar dan menelan korban jiwa justru terjadi. Kali ini giliran sisi utara kubah lava baru yang berulah dan longsor hingga mengibarkan awan panas dalam volume jauh lebih besar, bahkan hingga mencapai pesisir utara. Namun begitu dengan volume awan panas yang tergolong kecil, tsunami merusak tak terjadi sehingga korban jiwa yang lebih besar dapat dihindarkan. Kini, untuk menghindari korban jiwa dan luka-luka yang lebih besar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengungsikan sebagian penduduk Palue ke Maumere. Sebagai pendukung, BNPB juga telah menyediakan 20.000 masker, 500 paket sandang, 500 paket kebutuhan keluarga, 500 paket anak-anak dan 1.000 selimut.

Sebagian pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda yang telah berada di Maumere. Sumber : BNPB, 2013.

Sebagian pengungsi korban letusan Gunung Rokatenda yang telah berada di Maumere. Sumber : BNPB, 2013.

Sumber : PVMBG, 2012. BNPB, 2013. Global Volcanism Program Smithsonian Institution, 2013.