Letusan Sinabung 2013 dan Kisah Gunung Berapi Tidur yang Terbangun Kembali

Kepulan debu vulkanik pekat menyembur dari puncak Gunung Sinabung yang tingginya 2.460 meter dari paras air laut pada Minggu pagi 15 September 2013. Debu membumbung ke atas hingga setinggi sekitar 50 meter dari puncak untuk kemudian ‘hanyut’ ke timur mengikuti arus udara setempat. Semburan disusul dengan suara bergemuruh disertai hujan debu dan kerikil di kaki gunung. Tak ada keraguan kalau gunung berapi yang terletak di Kabupaten Karo propinsi Sumatra Utara itu telah meletus (kembali). Letusan terjadi hanya berselang beberapa saat setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status Gunung Sinabung dari Waspada (Tingkat 2) menjadi Siaga (Tingkat 3). Peningkatan dilakukan seiring meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik di gunung berapi ini khususnya dengan mulai terjadinya gempa tremor menerus yang dibarengi penampakan titik api di puncak.

Gambar 1. Hembusan kolom debu vulkanik Gunung Sinabung pada letusan 2013 yang dimuntahkan dari Kawah III, diabadikan pada Minggu 15 September 2013 dari kaki gunung sektor tenggara. Nampak posisi sumbat lava (SL) di puncak. Sumber: Antara, 2013.

Gambar 1. Hembusan kolom debu vulkanik Gunung Sinabung pada letusan 2013 yang dimuntahkan dari Kawah III, diabadikan pada Minggu 15 September 2013 dari kaki gunung sektor tenggara. Nampak posisi sumbat lava (SL) di puncak. Sumber: Antara, 2013.

Meski sampai saat ini terhitung lebih kecil jika dibandingkan Letusan Sinabung 2010, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Utara tak mau membuang waktu. Evakuasi penduduk di desa-desa di kawasan kaki gunung segera digelar. Hingga Senin pagi 16 September 2013 pukul 08:00 WIB jumlah pengungsi tercatat 5.956 jiwa yang tersebar di lima titik pengungsian. Sejauh ini tak ada korban jiwa atau luka-luka dan kerusakan bangunan akibat letusan Sinabung. Namun penerbangan perintis Susi Air yang melayani rute Kuala Namu-Kutacane hari ini terpaksa dibatalkan untuk menghindari kemungkinan gangguan pada pesawat akibat menghirup debu vulkanik. Dengan status Siaga (Tingkat 3), maka tak ada aktivitas manusia yang diperbolehkan hingga radius 3 kilometer dari puncak.

Letusan Sinabung kali ini merupakan yang kedua dalam tiga tahun terakhir setelah diselingi periode tenang antara 7 Oktober 2010 hingga 14 September 2013. Sebelumnya Gunung Sinabung, yang tak dipantau secara rutin karena kedudukannya sebagai gunung berapi aktif tipe B (yakni gunung berapi yang pernah meletus sebelum tahun 1600 namun tak diketahui kapan waktu kejadiannya dengan pasti), mendadak menyemburkan debu vulkanik pekatnya hingga setinggi sekitar 3.000 meter disertai suara dentuman keras pada Jumat senja 27 Agustus 2010. Tak ada tanda-tanda yang dirasakan sebelum letusan terjadi.

Letusan ini sontak mengagetkan segenap penduduk di sekujur kaki gunung, karena kejadian tersebut tak pernah mereka alami sepanjang hayatnya, bahkan bagi generasi kakek-nenek mereka sekalipun. Sehingga tak satupun yang tahu apa yang harus dilakukan. Alhasil mereka pun melewatkan malam dengan penuh rasa cemas di kediaman masing-masing di tengah guyuran hujan debu dari langit. Baru keesokan paginya pengungsian dilakukan dan ribuan orang pun dievakuasi menuju 8 titik pengungsian yang secara keseluruhan menampung sekitar 12.000 orang. PVMBG pun segera mengirim tim reaksi cepat untuk memantau gunung ini. Status Awas (Tingkat 4) pun diberlakukan dengan konsekuensi hingga radius 6 kilometer dari puncak gunung menjadi area yang terlarang untuk aktivitas manusia dalam bentuk apapun. Letusan berlanjut hingga mencapai puncaknya pada 7 September 2010 saat letusan eksplosif (ledakan) terjadi. Namun selepas itu aktivitas Sinabung berangsur-angsur menurun, sehingga status Awas pun diturunkan menjadi Siaga pada 23 September 2010 dan akhirnya diturunkan kembali Waspada semenjak 7 Oktober 2010 yang terus bertahan hingga tiga tahun kemudian.

Sinabung dan Toba

Gambar 2. Kontur Gunung Sinabung dengan posisi setiap kawah (I, II, III dan IV) serta bekas tambang Belerang di lerengnya (S). Di kaki gunung sektor utara terdapat Danau Lau Kawar. Sumber: Sudibyo, 2013 adaptasi dari Wittiri, 2009 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 2. Kontur Gunung Sinabung dengan posisi setiap kawah (I, II, III dan IV) serta bekas tambang Belerang di lerengnya (S). Di kaki gunung sektor utara terdapat Danau Lau Kawar. Sumber: Sudibyo, 2013 adaptasi dari Wittiri, 2009 dengan peta dari Google Maps.

Bagi Indonesia, letusan Sinabung pun cukup mengagetkan. Tak ada catatan letusan bagi gunung berapi ini dalam kurun 400 tahun terakhir, sehingga kadangkala ia bahkan dianggap sudah mati alias tak bisa meletus lagi. Dari endapan awan panas purba yang terserak di sekitar kampung Bekerah (kaki gunung sektor tenggara) diketahui muntahan magma Sinabung yang terakhir terjadi 1.200 tahun silam . Sebelum 27 Agustus 2010, aktivitas vulkanik gunung ini hanya berupa kepulan uap air dan gas belerang melalui titik-titik fumarol dan solfatara yang tersebar di keempat kawahnya.

Ya. Sinabung memang memiliki empat kawah, masing-masing diberi nama Kawah I, II, III dan IV. Kawah I terletak di puncak sebuah kubah lava tua dan sekaligus menjadi titik tertinggi Sinabung (2.460 meter dpl). Kawah II (2.437 meter dpl) terletak di timur Kawah I. Sementara Kawah III (2.431 meter dpl) berada di sebelah selatan Kawah II atau di sebelah tenggara Kawah I dan menjadi satu-satunya kawah Sinabung yang memiliki nama, yakni Kawah Batu Sigala. Antara Kawah II dan III terdapat sebuah sumbat lava berukuran besar yang khas dengan bentuk mirip ujung jarum jika dilihat dari kejauhan. Keberadaan sumbat lava ini memunculkan dugaan bahwa Kawah II dan III merupakan sepasang kawah kembar. Dan Kawah IV (2.453 meter dpl) terselip di antara Kawah I dan III.

Pada setiap kawah dijumpai endapan Belerang yang berwarna kekuningan dan berjumlah cukup besar sebagai produk aktivitas solfatara. Endapan Belerang juga dijumpai di lereng selatan, dalam sebuah lembah besar tempat asap Belerang sanggup menembus tubuh gunung dan mengepul. Banyaknya jumlah Belerang membuatnya sempat ditambang oleh penduduk setempat, khususnya deposit di lereng selatan yang relatif lebih mudah diakses. Namun aktivitas penambangan ini berhenti dalam satu dasawarsa silam, seiring kian menurunnya kadar Belerang yang berhasil digali dan saat itu diduga akibat kian menurunnya kegiatan vulkanik Sinabung. Sehingga Belerang yang masih ada dan terus terbentuk dianggap tak lagi menguntungkan untuk dieksploitasi.

Gunung Sinabung merupakan satu gunung berapi penghias sebentuk dataran tinggi yang membentang dari sisi timur lembah Wampu hingga Berastagi. Dataran tinggi ini memiliki puncak-puncak yang menjulang di atas ketinggian 1.500 meter dpl. Namun puncak Sinabung-lah yang tertinggi di sini, melampaui ketinggian puncak gunung berapi lainnya didekatnya yakni Gunung Sibayak yang ‘hanya’ 2.212 meter dpl. Secara geologis gunung berapi ini terbentuk melalui proses yang serupa dengan pembentuk gunung-gunung berapi lainnya di sekujur pulau Sumatra, termasuk Danau Toba (Gunung Toba) yang terkenal itu. Yakni dari interaksi lempeng India dan Australia yang mendesak ke utara terhadap lempeng Sunda (Eurasia) dan mikrolempeng Burma yang mengalasi pulau Sumatra dan bergerak lebih lambat ke timur. Sebagai lempeng samudera yang massa jenisnya lebih berat, lempeng India dan Australia melekuk (menyubduksi) ke bawah lempeng Sunda dan Burma yang sifatnya kontinental. Selain membentuk palung laut memanjang yang menghiasi lepas pantai barat Sumatera, subduksi yang bersifat miring ini juga menjadi penyebab terbentuknya Pegunungan Bukit Barisan yang adalah kenampakan di muka Bumi dari sistem patahan besar Sumatra, sumber gempa darat utama di pulau itu.

Gambar 3. Sepasang kolom debu vulkanik dan uap air yang menjulur dari puncak Gunung Sinabung yang ikonik dalam letusan 2010 silam. Masing-masing kolom debu dimuntahkan dari Kawah II dan III, sementara kolom uap air dari Kawah IV. I menunjukkan posisi Kawah I yang tidak memuntahkan material letusan sama sekali, sementara SL adalah lokasi sumbat lava. Sumber: Badan Geologi, 2010.

Gambar 3. Sepasang kolom debu vulkanik dan uap air yang menjulur dari puncak Gunung Sinabung yang ikonik dalam letusan 2010 silam. Masing-masing kolom debu dimuntahkan dari Kawah II dan III, sementara kolom uap air dari Kawah IV. I menunjukkan posisi Kawah I yang tidak memuntahkan material letusan sama sekali, sementara SL adalah lokasi sumbat lava. Sumber: Badan Geologi, 2010.

Selain membentuk sumber-sumber gempa, pergesekan antar lempeng-lempeng tersebut juga memproduksi magma di kedalaman yang lantas mengumpul dalam dapur-dapur magma. Melalui jalur-jalur lemah dalam lempeng Eurasia, magma pun mengalir ke atas dan akhirnya keluar di muka Bumi membentuk gunung-gunung berapi Sumatra. Namun meski terbentuk oleh mekanisme yang sama, tiap dapur magma memiliki volume dan ciri khasnya sendiri-sendiri sehingga masing-masing gunung berapinya pun memiliki karakternya sendiri-sendiri. Karena itu meski Gunung Sinabung berdiri berdampingan dengan Danau Toba (Gunung Toba), karakteristik magma Sinabung menjadikannya relatif kalem dan tak seganas Gunung Toba.

Dengan karakteristik Sumatra sedemikian rupa, nampaknya ada sebuah hubungan antara aktivitas kegempaan tektonik yang dibangkitkan sistem patahan besar Sumatra dengan aktivitas gunung-gunung berapinya terkait pelepasan energi akibat subduksi lempeng India dan Australia terhadap lempeng Sunda dan mikrolempeng Burma. Saat intensitas gempa-gempa tektonik Sumatra demikian riuh seperti saat ini, maka aktivitas gunung-gunung berapinya tergolong rendah. Dalam seabad terakhir pulau Sumatra hanya mengalami tiga letusan gunung berapi, masing-masing Letusan Peuet Sago 1988 (Aceh), Letusan Talang 2005 (Sumatra Barat) dan Letusan Sinabung 2010 (Sumatra Utara). Namun saat intensitas gempa-gempa tektonik cukup rendah, seperti pernah terjadi di masa silam, maka giliran aktivitas kegunungapiannya yang cukup tinggi. Letusan Toba 75.000 tahun silam, yang adalah letusan terdahsyat di muka Bumi dalam kurun 26 juta tahun terakhir, menjadi contohnya bersama dengan Letusan Maninjau 60.000 tahun silam.

Gunung Tidur

Gambar 4. Saat-saat awal kelahiran Gunung Anak Ranakah di dekat kota Ruteng (NTT) pada akhir Desember 1987. Nampak kolom debu vulkanik menyembur ke arah timur. Tanda panah menunjukkan lokasi bukit Ranakah dengan menara telekomunikasi Perumtel (kini PT Telkom) di puncaknya. Sumber: Rohi, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Gambar 4. Saat-saat awal kelahiran Gunung Anak Ranakah di dekat kota Ruteng (NTT) pada akhir Desember 1987. Nampak kolom debu vulkanik menyembur ke arah timur. Tanda panah menunjukkan lokasi bukit Ranakah dengan menara telekomunikasi Perumtel (kini PT Telkom) di puncaknya. Sumber: Rohi, 1988 dalam Wahyudin, 2012.

Letusan Sinabung 2010 tergolong erupsi freatik, yakni letusan gunung berapi yang terjadi saat magma yang sedang menanjak naik menuju tubuh gunung mulai memanaskan air bawah tanah. Air pun berubah menjadi uap dan terjebak di bawah sana sembari terkumpul sedikit demi sedikit, sehingga pada akhirnya berjumlah sangat banyak dan memiliki tekanan sangat besar hingga melampaui dayatahan batuan penyumbat saluran magma Gunung Sinabung. Maka menyemburlah uap air keluar melalui titik terlemah yang umumnya adalah dasar kawah sebuah gunung berapi. Sembari menyembur keluar, uap air juga menyeret kerikil, pasir dan debu bersamanya. Sehingga letusan ini tidak disertai muntahan magma dalam segala rupanya, baik sebagai leleran lava melalui lereng-lerengnya ataupun tumpukan magma segar di puncak sebagai kubah lava baru yang lantas longsor menjadi awan panas. Bukti terjadinya erupsi freatik diperoleh dari endapan batu dan pasir produk letusan, yang absen dari tanda-tanda kehadiran magma segar.

Meski sanggup memproduksi erupsi freatik, tekanan uap masih jauh dari cukup untuk mampu mendobrak kubah lava tua yang ada di puncak Sinabung. Sebagai akibatnya arus uap pun tidak menyembur lewat Kawah I di puncak, melainkan terpaksa berbelok ke samping sehingga keluar dari Kawah II dan III secara bersamaan. Inilah yang menimbulkan kepulan debu vulkanik kembar dan menjadi ikon Letusan Sinabung 2010. Letusan-letusan Sinabung periode berikutnya diperkirakan akan terjadi lewat jalur yang sama. Terbukti dalam Letusan Sinabung 2013 ini, debu vulkanik pun menyembur terutama melalui Kawah III. Tiadanya jejak-jejak magma terutama berupa luncuran lava hingga saat ini menunjukkan Letusan Sinabung 2013 pun masih berupa erupsi freatik.

Bagaimana Gunung Sinabung bisa meletus kembali setelah 1.200 tahun terlewat? Bagi sebagian besar kita, fakta ini memang mencengangkan. Indonesia amat akrab dengan sejumlah gunung berapi yang demikian rajin meletus dalam waktu-waktu tertentu. Sebut saja Gunung Anak Krakatau (Lampung) di Selat Sunda, yang hampir setiap tahun selalu menyemburkan debu dan magma. Atau Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) yang meletus setiap antara 2 hingga 5 tahun sekali. Demikian pula Gunung Lokon-Empun dan Karangetang (keduanya di Sulawesi Utara). Maka bagaimana sebuah gunung berapi bisa terdiam selama 1.200 tahun untuk kemudian meletus kembali sepintas cukup mengejutkan. Namun dalam khasanah kegunungapian, hal ini sebenarnya tidaklah unik baik dalam lingkup Indonesia maupun global. Dalam seperempat abad terakhir Indonesia telah menyaksikan tiga buah gunung berapi yang bangun kembali dari tidur panjangnya.

Gambar 5. Magma segar yang mulai menumpuk membentuk kubah lava baru di dasar kawah Gunung Ibu yang telah menjadi hutan belantara pada Januari 1999, sebagai pertanda bangunnya gunung berapi ini dari tidur panjangnya selama 15.000 tahun. Sumber; Wittiri, 2009.

Gambar 5. Magma segar yang mulai menumpuk membentuk kubah lava baru di dasar kawah Gunung Ibu yang telah menjadi hutan belantara pada Januari 1999, sebagai pertanda bangunnya gunung berapi ini dari tidur panjangnya selama 15.000 tahun. Sumber; Wittiri, 2009.

Selain Gunung Sinabung, dua lainnya adalah Gunung Anak Ranakah (NTT) dan Gunung Ibu (Maluku Utara). Gunung Anak Ranakah tumbuh dari tepian kaldera Poco Leok yang tua. Kemunculannya pada akhir 1987 menggemparkan Indonesia dan dunia, sebab inilah untuk pertama kalinya manusia modern menyaksikan langsung detik-detik kelahiran sebuah gunung berapi dalam setengah abad terakhir, setelah peristiwa kelahiran Gunung Paricutin (Meksiko) pada 1943. Pada 28 Desember 1987 sebuah ledakan dan kepulan debu vulkanik mendadak terjadi di kaki bukit Ranakah sektor timur laut tak jauh dari kota Ruteng. Titik ledakan terus memuntahkan magma hingga berbulan-bulan kemudian hingga membentuk gundukan yang terus membumbung tinggi hingga seukuran bukit (kubah lava) yang kemudian diberi nama Gunung Anak Ranakah. Demikian pula Gunung Ibu di pulau Halmahera bagian utara, yang juga tak menunjukkan aktivitas muntahan magma dalam kurun cukup lama. Sehingga sekujur tubuh gunung hingga ke puncak, bahkan hingga ke dalam kawahnya yang berdiameter 1 kilometer itu dipenuhi dengan tetumbuhan lebat. Siapa sangka gunung berapi ini mendadak meletus pada Desember 1998 yang berujung dengan terbentuknya kubah lava baru di dasar kawah semenjak 20 Januari 1999. Berbeda dengan Gunung Sinabung yang ‘hanya’ terdiam selama 1.200 tahun, kawasan di kompleks kaldera Poco Leok maupun Gunung Ibu tak menunjukkan jejak aktivitas vulkanik muntahan magma dalam kurun 15.000 tahun terakhir. Ini jauh melampaui batasan standar dunung berapi aktif terketat yang dilansir Global Volcanism Program Smithsonian, yakni maksimum 10.000 tahun terakhir. Dengan demikian baik kaldera Poco Leok maupun Gunung Ibu bisa dikatakan sebagai gunung berapi tak aktif sebelum masing-masing terbangun kembali.

Satu hal yang mengkhawatirkan dari gunung-gunung berapi yang meletus kembali setelah sekian lama adalah potensi terjadinya letusan dahsyat yang katastrofik, atau bahkan kolosal. Pada dasarnya kian lama sebuah gunung berapi terdiam, kian banyak gas-gas vulkanik yang tersekap di dalam dapur dan kantung magmanya sehingga kian besar energinya. Maka tatkala meletus, terjadilah pelepasan energi dalam jumlah besar yang sanggup menghancurkan puncak gunung atau bahkan hampir keseluruhan tubuh gunung hingga membentuk kawah raksasa (kaldera) dengan dampak letusan bersifat regional. Meletus dahsyatnya Gunung Pinatubo (Filipina) pada 1991 menjadi contoh terkini, dimana gunung berapi tersebut terbangun kembali setelah lebih dari 600 tahun.

Kabar baiknya, tak setiap gunung berapi yang lama tertidur kemudian meletus dahsyat tatkala terbangun. Gunung Sinabung menjadi salah satu contohnya. Meski harus digarisbawahi bahwa bagaimana karakter letusan gunung berapi ini ke depan masih menjadi tanda tanya seiring belum terjadinya erupsi magmatik (letusan yang memuntahkan magma).

Rujukan :

Sutawidjaja dkk. 2013. The August 2010 Phreatic Eruption of Mount Sinabung, North Sumatra. Jurnal Geologi Indonesia vol. 8 no. 1 (Maret 2013) hal. 55-61.

Hendrasto dkk. 2012. Evaluation of Volcanic Activity at Sinabung Volcano, After More Than 400 Years of Quiet. Journal of Disaster Research vol. 7 no. 1 (2012).

Wahyudin, 2012. Vulkanisme dan Prakiraan Bahaya Gunung Api Anak Ranakah, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi vol. 3 no. 2 (Agustus 2012) hal. 89-108.

Wittiri. 2009. Indikasi Munculnya Kubah Lava Berdasarkan Rekaman Seismik. Jurnal Geologi Indonesia vol. 4 no. 2 (Juni 2009) hal. 93-101.

Wittiri. 2010. Gunung Sinabung Naik Kelas. Majalah Warta Geologi vol. 5 no. 3 (September 2010) hal. 36-39.

Semburan Lumpur Butuh Purworejo (Jawa Tengah), Sebuah Pendahuluan

Air bercampur lumpur hitam mendadak menyembur di kebun pak Ponco Sumarno (52 tahun), warga RT 02 RW 01 dusun Jogomudo desa Lubang Kidul, kecamatan Butuh, kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) semenjak Kamis sore 5 September 2013. Semburan terjadi dari sebuah lubang sumur bor yang sedang dibuat pemilik kebun dengan tujuan untuk mengairi kolam ikan guramenya yang kekurangan air. Pekerjaan pembuatan sumur bor dilakukan oleh Eko Siswanto (37 tahun), warga desa Boto Daleman kecamatan Bayan (dari kabupaten yang sama), sebagai tukang pembuat sumur bersama tiga orang pekerjanya. Saat pengeboran mencapai kedalaman 8 meter, mendadak air mulai mengalir keluar dari lubang bor. Salah seorang pekerja sempat mencoba merasainya dan air dingin ini ternyata berasa asin layaknya air laut. Pada saat yang sama pula terasa ada tekanan kuat dari dalam lubang bor, sehingga pengeboran disepakati dihentikan dengan anggapan sumber air sudah ditemukan.

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 1. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala siang, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak semburan masih setinggi pohon pisang. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Namun dengan tujuan memperbanyak jumlah cadangan air, Eko berinisiatif menambah kedalaman sumur sepanjang satu pipa lagi. Dan pak Ponco pun menyetujuinya. Begitu pengeboran dilanjutkan, tekanan dari dalam lubang bor jutru terasa kian menguat. Dan saat pengeboran mencapai kedalaman 15 meter, air bercampur lumpur hitam pun mulai mengalir dan akhirnya menyembur. Di awal mula semburan lumpur yang laksana air mancur mencapai ketinggian 6 meter, namun berselang beberapa saat kemudian merosot menjadi tinggal 3-4 meter. Di malam hari bahkan terlihat api menyala-nyala dari lubang bor, sehingga suasana jadi mencekam.

Kontan peristiwa ini segera menghebohkan masyarakat Butuh. Kabar pun terus meluas ke segenap penjuru dan masyarakat pun mulai datang berbondong-bondong ke lokasi. Muncul kekhawatiran bahwa semburan lumpur Butuh ini (demikian saja kita namakan) akan membesar dan meluas hingga menjadi petaka yang tak kalah besarnya dengan kasus semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur) yang masih terus berlangsung hingga kini meski telah berjalan lebih dari 7 tahun. Apalagi lokasi semburan lumpur Butuh tepat di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Kebumen Low

Lokasi semburan lumpur Butuh terletak di dataran rendah sejauh sekitar setengah kilometer di sebelah timur aliran sungai Butuh atau sekitar 9 kilometer di sebelah utara pesisir Samudera Hindia. Dari jalur jalan raya utama yang menjadi poros selatan Jawa Tengah khususnya dari Pasar Butuh yang terkenal dengan kuliner dawetnya, lokasi semburan lumpur masih berjarak sekitar 1 kilometer ke selatan.

Apa yang sebenarnya menyebabkan semburan lumpur Butuh masih harus menanti hasil analisis kandungan gas-gas dan cairan yang dikeluarkan. Namun meninjau geologi setempat, apa penyebab peristiwa ini bisa diperkirakan. Mengutip penjelasan pak Awang Harun Satyana, geolog senior yang kini bertugas di SKK Migas, yang di-cross-check-an dengan sumber-sumber lain diketahui bahwa dataran rendah yang membentang di Kabupaten Kebumen dan Purworejo secara geologis dikenal sebagai Rendahan Kebumen (Kebumen Low). Dataran rendah ini berbataskan pada Tinggian/Pegunungan karst Karangbolong di barat, Pegunungan Serayu Selatan di utara dan Tinggian/Pegunungan Menoreh di timur. Pegunungan karst Karangbolong merupakan tinggian yang terbentuk sebagai hasil aktifnya sistem patahan besar yang membentang dari Kebumen hingga ke Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan) bersama dengan sistem patahan yang membentang dari Cilacap hingga Lematang (Sumatra Selatan). Kedua patahan besar ini aktif di zaman purba (yakni sekitar 65 juta tahun silam) dan kini telah mati, namun jejak aktivitasnya masih membekas dalam banyak hal, salah satunya adalah terangkatnya daerah Gombong selatan hingga Karangbolong sampai setinggi 2.000 meter lebih, meski kini telah tererosi berat dan tinggal setinggi 600-an meter. Sementara Pegunungan Menoreh dibentuk oleh aktivitas vulkanik jutaan tahun silam yang memunculkan tiga gunung berapi tua yang kini telah padam/mati dan kini hanya menyisakan fosilnya semata.

Rendahan Kebumen di masa silam dalam era sejarah merupakan perairan laut pedalaman. Apa yang kini menjadi lokasi kota Kebumen di masa silam merupakan muara sungai Lukulo purba. Intensifnya sungai Lukulo purba mengalirkan sedimen yang dikikis dari Pegunungan Serayu Selatan menyebabkan terbentuknya delta di muaranya. Kini bekas delta tersebut menjadi kawasan dengan kandungan tanah liat bermutu tinggi yang menghidupi industri genteng, sehingga hanya terbatasi mulai dari sisi timur kota Kebumen (Tanahsari) hingga sisi barat (Soka). Sungai-sungai besar lainnya pun demikian. Laut pedalaman ini pun mungkin mendapatkan materi sedimen tambahan dari sungai Progo purba, yang menghanyutkan material vulkanik produk letusan Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing. Konsekuensinya laut pedalaman itu kian mendangkal dan lama-kelamaan berubah menjadi daratan dengan rawa-rawa di sana-sini. Rawa-rawa itu menghidupi banyak tumbuhan, yang lantas membentuk lapisan tanah gambut. Saat pemadatan dan pengendapan terus-menerus terjadi, tanah gambut yang berlapis-lapis tertimbun sehingga menjadi sumber zat-zat organik tempat bakteri tumbuh subur. Aktivitas bakteri menyebabkan zat-zat organik terurai menjadi beraneka-ragam gas, terutama metana.

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Gambar 2. Semburan lumpur Butuh Purworejo di kala malam, hanya beberapa jam setelah berawal. Nampak lidah api menyala-nyala tepat dari lubang semburan. Sumber: Wewed Urip Widodo, 2013

Produksi metana yang terus-menerus membuat gas ini kian banyak sehingga lama-kelamaan membentuk sejenis reservoar atau kantung gas bawahtanah, dalam berbagai ukuran dan bertekanan tinggi. Sepanjang tak ada jalan yang menghubungkan kantung gas ini dengan udara luar, metana bakal seterusnya terjebak didalamnya. Namun begitu kantung gas ini tertembus lubang sumur maupun penyebab alamiah seperti misalnya terobekkan oleh reaktivasi patahan (dalam gempa bumi), maka jadilah metana menemukan jalan tol-nya ke permukaan. Semburan gas metana bertekanan tinggi pun akan terjadi, yang sanggup mendorong air dan segala partikulat sedimen yang dilaluinya sehingga membentuk pancuran lumpur. Keberadaan metana pun ditunjang secara kasat mata dengan adanya nyala api yang terlihat dari semburan tersebut.

Berbeda

Dengan kondisi geologi semacam itu maka semburan lumpur Butuh jauh berbeda dibandingkan yang terjadi pada kasus Lapindo Sidoarjo (Jawa Timur). Meski terdapat dua kubu yang berbeda pandangan tentang penyebabnya yakni antara pengeboran eksplorasi migas yang tak taat prosedur di satu sisi dan bencana gempa Yogya 2006 di sisi lain, namun kedua kubu mengamini bahwa air yang terlibat dalam kasus Sidoarjo berasal dari kedalaman berkilo-kilometer di bawah tanah. Air tersebut terdorong ke permukaan Bumi bukan oleh tekanan gas metana, melainkan oleh aksi vulkanik terutama lewat pemanasan magma dari Gunung Penanggungan di dekatnya. Maka bila kasus Sidoarjo merupakan fenomena gunung lumpur (mud volcano) yang tetap bertahan hingga sekarang meski telah berlangsung lebih dari 7 tahun sebagai akibat ketersediaan lapisan sedimen sumber lumpur yang mampu menjaga pasokan tetap stabil serta stabilnya sumber tenaga penggeraknya di bawah Gunung Penanggungan, maka semburan lumpur Butuh hanya ditenagai dorongan gas metana yang jumlahnya terbatas.

Karena itu seiring berjalannya waktu, aliran gas metana di semburan lumpur Butuh bakal kian mengecil sehingga tekanannya pun kian rendahnya. Dan pada akhirnya semburan bakal berhenti dengan sendirinya, mungkin dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Semburan semacam ini sebenarnya bukan yang aneh untuk kawasan Rendahan Kebumen. Pada tahun 1996 silam, sebuah sumur bor yang sedang digali di dekat Kantor Pos Kutowinangun (Kebumen) mendadak juga menyemburkan air setelah mencapai kedalaman tertentu. Namun berselang beberapa hari kemudian semburan pun berhenti.

Air produk semburan yang terasa asin menjadi indikasi bahwa daerah Butuh sebagai bagian dari Rendahan Kebumen dulunya memang laut. Mengingat intrusi air laut tak terjadi di sini, setidaknya berdasarkan ketiadaan gejala-gejala yang nampak di permukaan tanah, maka air asin tersebut mungkin merupakan air laut purba (connate water) yang terjebak saat Rendahan Kebumen masih berupa laut.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang 'dipagari' Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 3. Peta topografi Rendahan Kebumen (Kebumen Low) yang ‘dipagari’ Pegunungan Karangbolong (barat), Serayu Selatan (utara) dan Menoreh (timur). Lokasi semburan lumpur Butuh ditandia dengan anak panah. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Mengingat semburan berkemungkinan besar bakal berhenti dengan sendirinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan di Butuh, Purworejo. Namun sebagai upaya pengamanan, pihak berwenang dapat memasang pipa penyalur vertikal langsung dari lubang semburan, sehingga gas metana langsung terbuang ke udara hingga ketinggian tertentu tanpa sempat menyebar horizontal dan terkonsentrasi. Mengingat gas ini dapat terbakar pada situasi tertentu. Pipa penyalur juga bermanfaat untuk menghembuskan gas-gas lain (seandainya) ada ke ketinggian, misalnya Hidrogen Sulfida yang berbau busuk dan beracun pada kadar tertentu.

The Burning Ash of Katimbang, Kisah Panas dalam Letusan Dahsyat Krakatau 130 Tahun Silam

Agustus selalu menjadi bulan kalender yang penuh arti bagi Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini memperingati saat-saat kelahirannya yang membahana dan pada tahun 2013 ini telah diperingati untuk ke-68 kalinya. Dan berselang sepuluh hari kemudian, negeri ini kembali “memperingati” salah satu momen tergelap sepanjang sejarahnya. Ya. Pada 27 Agustus 2013 tepat 130 tahun silam Gunung Krakatau di selat Sunda yang kini menjadi bagian administratif propinsi Lampung, mencapai puncak letusannya dalam sebuah drama letusan gunung berapi dengan kedahsyatan yang tak tertanggungkan lagi bahkan untuk ukuran manusia modern.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Ada suasana penyambutan nan jauh berbeda bagi kedua hari istimewa itu. Bila 17 Agustus menjadi momen yang senantiasa dinanti dan dirayakan dengan penuh kegembiraan baik lewat rangkaian pesta rakyat di berbagai tempat maupun upacara formal dengan petatah-petitih para pejabat, sebaliknya 27 Agustus hanya terdengar sayup-sayup dikenang segelintir kalangan. Mungkin inilah imbas gayahidup manusia modern khususnya di Indonesia yang enggan mengingat apalagi mengenang bencana menyakitkan dan peristiwa kematian. Padahal di balik bencana selalu tersembunyi sejumlah pelajaran penting yang sangat berharga bagi kualitas kehidupan manusia masa depan masa depan, khususnya tatkala berhadapan kembali dengan petaka sejenis.

Gunung Krakatau menjadi gunung berapi terpopuler bagi manusia Indonesia khususnya lewat kedahsyatan letusannya pada 1883. Dalam persepsi umum, inilah amukan gunung berapi terdahsyat dalam era sejarah, meski sejatinya tidak demikian. Hanya 68 tahun sebelum Krakatau melepaskan amarahnya, Gunung Tambora di pulau Sumbawa (kini bagian propinsi Nusa Tenggara Barat) meletus demikian dahsyatnya dengan puncaknya pada 11 April 1815. Ia memuntahkan magma panas membara dalam jumlah delapan kali lipat lebih banyak ketimbang Krakatau 1883. Energi letusannya pun demikian besar. Kumpulkan seluruh hululedak nuklir di dua negara adidaya pada puncak Perang Dingin (yakni AS dan Uni Soviet) lalu ledakkan di satu secara bersama-sama, maka energi ledakan itu masih belum melampaui kedahsyatan Letusan Tambora 1815.

Namun, mari abaikan Tambora untuk sementara dan kita fokuskan perhatian ke Krakatau. Sebelum Agustus 1883, gunung berapi ini hanyalah sebentuk pulau kecil biasa saja yang berjajar dengan sejumlah pulau-pulau lainnya di Selat Sunda seperti pulau Sertung (Verlaten), Rakata Kecil (Lang), Sebesi dan Sebuku. Pulau Krakatau berbentuk lonjong sepanjang sekitar 7 kilometer dan berhias tiga gundukan mirip bukit. Berderet dari tenggara ke baratlaut, ketiganya adalah puncak Rakata (798 meter dpl), Danan (500 meter dpl) dan Perbuwatan (130 meter dpl). Ketiga gundukan ini sejatinya merupakan gunung berapi bawah laut, yang tumbuh pasca letusan dahsyat 1200 (tahun pastinya belum diketahui) di kawasan ini. Dalam perkembangannya ketiga gunung berapi bawah laut itu kian membesar sehingga akhirnya menyembul di atas Selat Sunda dan lama-kelamaan tubuh ketiganya pun menyatu menjadi pulau Krakatau. Pulau kecil ini sempat dihuni manusia dengan kehidupan agrarisnya, lengkap dengan persawahan dan perkebunan. Angkatan Laut kolonial Hindia Belanda bahkan sempat membangun galangan kapal di sini. Namun di awal abad ke-19 saat Indonesia beralih ke penjajahan Inggris yang singkat, pulau Krakatau ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Sehingga lambat laun semuanya berubah menjadi hutan belantara yang indah dan permai laksana surga. Namun pada Agustus 1883, surga nan indah itu sontak berubah menjadi neraka panas membara saat ketiga puncak di pulau Krakatau meletus dengan dahsyatnya.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Letusan Krakatau 1883 amat populer sebagai bencana alam terdahsyat bagi Indonesia pasca Letusan Tambora 1815 dan bertahan hingga lebih dari seabad kemudian. Rekornya baru ditumbangkan pada akhir 2004 saat bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 meletup. Korban jiwa yang direnggut letusan dahsyat ini mencapai 36.417 orang, berdasarkan catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun para ilmuwan terkini memperkirakan korban sesungguhnya jauh lebih besar, mungkin bahkan mencapai angka 120.000 orang. Hampir seluruhnya meregang nyawa oleh terjangan tsunami luar biasa yang terbentuk sebagai akibat ambruknya pulau Krakatau diiringi pembentukan kaldera besar dan injeksi material vulkanik dalam jumlah sangat besar ke dasar Selat Sunda. Tetapi di antara korban-korban itu, ada sekitar 1.000 jiwa yang tewas terpapar material vulkanik muntahan Krakatau. Seluruhnya berasal dari Katimbang yang kini dikenal sebagai Katibung, berdekatan dengan Kalianda dan menjadi bagian dari propinsi Lampung. Inilah kisah panas yang memilukan, yang betul-betul panas karena melibatkan suhu yang demikian tinggi dan membakar.

Katimbang

Katimbang adalah satu kawasan pesisir Selat Sunda di kaki barat Gunung Rajabasa yang dikenal subur sehingga menjadi kawasan perkebunan produktif. Ia berjarak sekitar 37 kilometer di sebelah utara pulau Krakatau. Katimbang bukanlah pemukiman terdekat ke gunung berapi kolosal tersebut, sebab masih ada pulau Sebuku yang berpenduduk sekitar 3.000 orang dan hanya sejauh 20 kilometer dari pulau Krakatau. Perkebunan Katimbang berada di bawah kendali kontrolir Willem Beijerinck, seorang Belanda muda belia yang dibebani menangani administrasi daerah kolonial nan liar dengan gaji kecil. Meski kurang berpengalaman dan kerap dipandang sebelah mata oleh sesama kontrolir lainnya, Willem Beijerinck dan istrinya Johanna Beijerinck dikenal rajin menulis. Catatan-catatan merekalah yang menjadi saksi bisu berharga tentang apa yang terjadi di Katimbang, baik sebelum maupun selama letusan dahsyat Krakatau 1883.

Pada Februari 1883 telah terjadi getaran demi getaran yang terasa di Katimbang. Getaran itu berintensitas kecil dan tak menyebabkan kerusakan maupun kepanikan, namun berlangsung secara kontinu dalam jangka waktu tertentu untuk kemudian berhenti. Kini ilmu kegunungapian modern mengetahui bahwa pada saat itu magma segar dalam jumlah sangat besar dan sangat kental sedang mulai mengalir dari dapur magma Krakatau nun jauh di kedalaman puluhan kilometer menuju ke kantung magma yang lokasinya tepat di bawah gunung.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran 'awan panas bawah air' (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran ‘awan panas bawah air’ (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Berselang tiga bulan kemudian, tepatnya 9 Mei 1883, Beijerinck kembali mencatat terjadinya getaran demi getaran di Katimbang, namun kali ini terasa cukup keras dan mulai menakutkan. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Tapi kini kita tahu, saat itu magma segar telah mencapai kantung magma dan sedang berjuang keras meretakkan lapisan-lapisan bebatuan yang menghalangi jalannya menuju ke puncak. Getaran demi getaran itu berpuncak pada terjadinya letusan pertama, yang menyembur dari puncak Perbuwatan pada 20 Mei 1883. Kepulan debu vulkanik pekat dan gas menyembur hingga setinggi 11 kilometer. Para nelayan di Selat Sunda, juga para penebang kayu untuk bahan pembuatan kapal di Katimbang menjadi saksinya, pun kapten Lindeman bersama awak kapal uap Loudon. Dan hanya berselang beberapa saat kemudian hempasan tekanan udara yang kuat menerjang Katimbang, tanpa dampak apapun. Hempasan serupa pun dirasakan instrumen barometer stasiun cuaca Dr. Vanderstock di Batavia, 160 kilometer dari Krakatau. Namun tak ada dampak berarti yang diderita Katimbang pasca letusan pertama ini. Pulau Krakatau kemudian terus aktif menyemburkan gas dan debu vulkaniknya selama empat bulan kemudian.

Katimbang baru benar-benar merasakan kedahsyatan letusan Krakatau pada Minggu sore 26 Agustus 1883. Pada pukul 17:07 setempat, pulau Krakatau memasuki babak sangat mematikan dimulai dengan gelegar dentuman sangat keras dari arah puncak Perbuwatan yang terdengar ke segala arah, bahkan hingga sejauh 5.000 kilometer dari gunung. Suara ini tercatat sebagai suara terkeras yang pernah terjadi di Bumi sampai sekarang. Debu vulkanik pekat dan gas disemburkan hingga setinggi 27 kilometer. Sebagian pulau Krakatau khususnya di sekitar puncak Perbuwatan hancur hingga hanya tersisa kawah raksasa bergaris tengah sekitar 1 kilometer. Gelombang tekanan udara (gelombang kejut) yang dilepaskannya yang dikombinasikan dengan rangkaian letusan demi letusan bawah laut berikutnya menghasilkan gelombang tinggi yang berderap sebagai tsunami. Maka hanya dalam sejam kemudian, kala Matahari beranjak terbenam, Katimbang menerima terjangan tsunaminya. Akibatnya rumah-rumah penduduk dan fasilitas apa saja di dekat garis pantai hancur. Mujur bahwa sebagian besar penduduk Katimbang telah mengungsi lebih dulu menuju hutan lebat di lereng bawah Gunung Rajabasa yang lokasinya lebih tinggi atas perintah Willem Beijerinck sebelum terlalap tsunami. Namun tak satupun yang tahu bahwa hanya dalam beberapa belas jam kemudian mereka bakal berhadapan dengan situasi yang paling menggidikkan dalam letusan Krakatau.

Setelah melewati malam yang riuh dan membara oleh rentetan letusan demi letusan Krakatau yang saling susul-menyusul setiap 10 menit sekali layaknya tembakan mitraliur, pada Senin 27 Agustus 1883 gunung ini mencapai puncak letusannya. Letusan teramat dahsyat, yang menghamburkan lebih dari 15 kilometer kubik rempah vulkanik yang mencakup lebih dari 75 % total magma yang dimuntahkan Letusan Krakatau 1883, terjadi pada pukul 10:02 setempat. Tsunami dahsyat pun terbentuk, dengan tinggi gelombang hingga seratusan meter di awal mulanya dan segera berderap ke segenap sisi Selat Sunda dengan kecepatan kurang dari 100 km/jam. Sembari menjalar, ia juga mengaduk-aduk isi perairan laut sempit itu hingga bongkah-bongkah karang tercabut dari akarnya. Baik pesisir Jawa maupun Sumatera segera direndam terjangan tsunami dengan ketinggian antara 15 hingga 33 meter.

Tsunami tidak berdampak bagi penduduk Katimbang yang telah mengungsi ke hutan. Air laut tak sanggup menjangkau mereka. Namun petaka dalam bentuk lain segera datang menerpa. Mendadak angin kencang menerjang diikuti hempasan debu-debu sehalus bedak yang teramat panas yang segera melumat tempat pengungsian di lereng gunung itu. Dampaknya cukup mematikan. Dari 3.000 warga Katimbang yang turut mengungsi di hutan belantara itu, sekitar 1.000 orang diantaranya langsung tewas meregang nyawa dengan tubuh terpanggang bara atau menghilang di bawah timbunan debu. Sementara sisanya tak luput dari lara, penuh dengan luka-luka bakar di sekujur tubuh dalam berbagai tingkatan. Termasuk Willem dan Johanna Beijerinck, yang beruntung sedang berada di dalam salah satu rumah pengungsian sehingga terpaan debu panas yang mengenainya relatif sedikit. Namun keduanya kehilangan salah satu bayi mereka dalam petaka tersebut.

Letusan Mendatar

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Catatan-catatan dari Willem dan Johanna Beijerinck segera diterbitkan selepas tahun 1883. Hempasan debu panas membara yang menyelimuti Katimbang pun sontak mendunia dan populer sebagai peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Peristiwa ini sempat membikin pening para ahli kebumian dan kegunungapian masa itu. Betapa tidak. Tak ada keraguan bahwa debu-debu superpanas sehalus bedak yang menerpa Katimbang merupakan bagian dari awan panas, yakni material vulkanik produk letusan dalam bentuk pasir dan debu bercampur gas vulkanik yang semuanya bersuhu tinggi. Seluruh materi tersebut meluncur bergulung-gulung hingga berbentuk mirip awan dan dari sinilah kata ‘awan panas’ itu bermula. Penyelidikan geolog RDM Verbeek dan dilanjutkan oleh geolog-geolog lainnya memperlihatkan awan panas Krakatau tak hanya menghantam Katimbang, namun bahkan meluncur hingga 10 kilometer lebih dari garis pantai. Jangkauan awan panas mencapai 48 kilometer dan sepenuhnya terpusat ke arah utara.

Apakah peristiwa ini adalah salah satu ciri khas letusan gunung berapi yang sangat dahsyat? Nampaknya tidak juga. Dalam Letusan Pinatubo 1991 (Filipina) yang memuntahkan magma hingga lebih dari separuh Letusan Krakatau 1883, awan panasnya tak sempat melampaui jarak 16 kilometer dari kawah. Jelas ada penyebab lain yang membuat awan panas Krakatau melejit demikian jauh.

Pencerahan pertama datang hampir seabad kemudian, yakni kala Gunung St Helena di negara bagian Washington (AS) meletus dahsyat di 18 Mei 1980 meski skala kedahsyatannya masih 20 kali lebih lemah dibanding Krakatau 1883. Yang istimewa Letusan St Helena 1980 diawali dengan runtuhnya lereng utara gunung sehingga magma yang telah tersimpan di tubuh gunung tak tersembur secara vertikal melainkan horizontal (mendatar) dan menuju ke satu sisi saja, yakni ke arah utara. Inilah fenomena letusan mendatar (lateral) yang telah diteorikan semenjak berpuluh-puluh tahun sebelumnya namun baru pada saat itulah menjumpai bukti langsungnya.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Sementara pencerahan kedua datang pada saat Gunung Soufriere Hills di pulau Montserrat (teritori Inggris seberang lautan) di perairan Karibia meletus pada 18 Juli 1995. Letusan besar tersebut cukup fenomenal karena mengubur ibukota Plymouth hingga bermeter-meter di bawah timbunan batu dan pasir vulkanik. Pulau Montserrat merupakan pulau gunung berapi dan Soufriere Hills adalah salah satu puncaknya. Sehingga tatkala meletus, Soufriere Hills pun mengalirkan awan panasnya hingga melampaui batas garis pantai. Dan tatkala hempasan awan panas Soufriere Hills memasuki Laut Karibia, terjadilah peristiwa yang tak biasa. Awan panas itu ternyata terus menjalar seakan-akan berjalan di atas permukaan air laut dan baru berhenti setelah melampaui jarak lebih dari 1 kilometer terhadap garis pantai. Pasca peristiwa ini terbentuk daratan baru yang mirip delta (sehingga disebut delta vulkanik) seluas sekitar 100 hektar.

Bagaimana awan panas bisa menjalar di permukaan air laut? Jawabannya ditemukan dalam eksperimen Armin Freundt (2001) di Geomar Research Center for Marine Geosciences di kota Kiel (Jerman). Saat awan panas yang semula menjalar di darat mulai memasuki laut, terjadilah letupan uap yang diikuti terpisahnya butir-butir pasir dan batuan (yang massa jenisnya lebih besar dibanding air) dengan butir-butir debu halus (yang massa jenisnya lebih kecil dari air). Bagian awan panas dengan massa jenis lebih besar terbenam ke dasar laut namun tetap melaju sebagai ‘awan panas bawah air’ yang kemudian berubah menjadi arus turbidit. Pergerakan ini menciptakan olakan besar pada kolom air laut di atasnya, yang kemudian menjalar sebagai tsunami. Sementara bagian awan panas yang massa jenisnya lebih kecil tetap melaju di atas permukaan air laut sampai jarak tertentu sebelum kehilangan seluruh kecepatannya dan kemudian membumbung tinggi ke udara sebagai abu vulkanik.

Pelajaran Ke Depan

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Berdasarkan pencerahan-pencerahan tersebut, kini kita bisa menyibak lebih jauh ke dalam misteri yang selama ini menyelubungi peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Rupanya kejadian tersebut merupakan hasil kombinasi letusan lateral Krakatau dengan penjalaran awan panas di permukaan Selat Sunda. Saat pulau Krakatau mulai memasuki fase penghancuran seiring letusan demi letusan teramat dahsyatnya, struktur lereng gunung kian lama kian melemah.

Pada satu titik, lereng gunung telah demikian lemahnya sehingga magma segar yang sedang mencari jalan keluar didalamnya mendadak berjumpa dengan udara segar. Terjadilah letusan lateral yang mengarah ke utara. Di awal mula kecepatan kolom gas dan material vulkanik yang dihempaskan itu mungkin melampaui kecepatan suara, namun lama kelamaan kian melambat. Setelah meluncur sejauh 15 hingga 20 kilometer dari gunung, kolom material vulkanik yang telah melambat lalu bertransformasi menjadi awan panas. Sebagian awan panas tenggelam ke dasar Selat Sunda (yang kedalamannya antara 20 hingga 60 meter) dan berubah menjadi ‘awan panas bawah air’ yang melaju sejauh beberapa kilometer kemudian. Sementara sebagian lainnya tetap mengapung di atas permukaan Selat Sunda, masih bersuhu tinggi (hingga sekitar 500 derajat Celcius) dan tetap menderu dengan kecepatan yang tergolong tinggi untuk ukuran manusia (mungkin sekitar 100 km/jam). Inilah yang melejit hingga sekitar 28 kilometer kemudian dan menciptakan neraka di Katimbang.

Satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa the Burning Ash of Katimbang adalah, jangan mengabaikan gunung berapi laut meskipun jaraknya tergolong ‘jauh’ untuk ukuran kita. Sebab tatkala meletus, apalagi jika letusannya berjenis letusan katastrofik yang menghancurkan tubuh gunung, potensi terbentuknya tsunami mematikan dan peristiwa mirip the Burning Ash of Katimbang adalah sangat besar. Inilah pelajaran berharga yang diambil dunia ilmu kegunungapian moder dari Letusan Krakatau 1883.

Sumber :

Johanna Beijerinck, 1884 dalam Discovery Channel. 2010. Krakatoa, Survivor Diary: Johanna Beijerinck,

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 4 Desember 2006 halaman 209-227.

Freundt. 2003. Entrance of Hot Pyroclastic Flows into the Sea, Experimental Observations. Bulletin of Vocanology no. 65 (2003) pp 144-164.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofik 1883. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 3 September 2006 halaman 143-153.

Cleveland, Kisah Meteor Paling Terang di Daratan AS dalam Lima Tahun Terakhir

Jarum jam masih berdetik selepas pukul 02:00 waktu setempat. Sementara kalender sudah menunjukkan hari Selasa 28 Agustus 2013. Pada pagi buta itu kota kecil Cleveland di negara bagian Tennessee (AS) masih tertidur lelap seperti pagi-pagi buta sebelumnya. Hanya segelintir orang yang masih beraktivitas, terutama mereka yang ritme kerjanya mengharuskan untuk tetap terjaga di dinihari. Dan semuanya menyangka pagi buta itu akan berjalan seperti biasanya, tanpa ada satu kejadian yang menonjol.

Detik-detik pemunculan meteor-terang Cleveland di langit seperti yang direkam salah satu kamera khusus pemantau meteor milik NASA. Di awal mula, meteor ini hanya sebintik cahaya kecil yang lebih redup dibanding Bulan. Namun berselang beberapa detik kemudian meteor mencapai puncak kecerlangannya dan demikian benderang sehingga kamera hampir tersaturasi. Sumber: NASA, 2013.

Detik-detik pemunculan meteor-terang Cleveland di langit seperti yang direkam salah satu kamera khusus pemantau meteor milik NASA. Di awal mula, meteor ini hanya sebintik cahaya kecil yang lebih redup dibanding Bulan. Namun berselang beberapa detik kemudian meteor mencapai puncak kecerlangannya dan demikian benderang sehingga kamera hampir tersaturasi. Sumber: NASA, 2013.

Namun pada pukul 02:27 setempat, mendadak sebuah peristiwa luar biasa terjadilah. Langit timur yang semula gelap meski berhias Bulan yang bentuknya tinggal separo mendadak benderang oleh melejitnya benda langit yang melesat cepat. Pada puncaknya langit dini hari kota bahkan demikian terang hingga melebihi terangnya langit malam kala Bulan purnama. Sehingga setiap benda yang tersinari cahayanya pun membekaskan bayangannya. Semua itu terjadi hanya dalam sekejap mata. Begitu langit benderang, dalam sekejap kemudian semuanya kembali gelap seperti sedia kala. Namun kota kecil Cleveland sontak gempar oleh peristiwa tersebut. Belakangan kegemparan bahkan merambat ke segenap penduduk bagian tenggara daratan AS.

Kehebohan juga melanda badan antariksa AS (NASA) khususnya unit Meteoroid Environment Office. Peristiwa di langit Cleveland itu terekam pula dalam jejaring kamera khusus pemantau meteor yang telah mereka pasang di berbagai penjuru daratan AS semenjak lima tahun silam. Kamera khusus itu mampu memantau keseluruhan bagian langit tanpa terkecuali dan tanpa terputus. Tak ada keraguan bahwa kehebohan dinihari itu dipicu oleh meteor, khususnya meteor-terang (fireball). Meteor-terang merupakan meteor yang kilatan cahayanya demikian benderang sehingga melebihi terangnya planet Venus, benda langit terterang ketiga bagi kita setelah Matahari dan Bulan. Namun berbeda dengan puluhan ribu meteor-terang lainnya yang telah terekam sebelumnya oleh kamera-kamera istimewa itu, meteor-terang Cleveland merupakan meteor-terang paling benderang sepanjang lima tahun terakhir. Demikian benderangnya sehingga pada puncaknya ia sampai 20 kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama.

Pecahan Asteroid

Kemunculan sebuah meteor-terang di langit malam sejatinya merupakan rutinitas semesta dengan perulangan waktu yang relatif jelas. Meski demikian dengan mayoritas permukaan Bumi adalah lautan sementara mayoritas daratannya pun tak berpenghuni, maka hanya sebagian kecil saja diantaranya yang dapat disaksikan manusia. Sehingga kehadirannya kerap memberikan sensasi menakjubkan dan mengundang banyak tafsiran. Dengan kemunculan yang berlangsung sangat cepat, yakni hanya berbilang beberapa detik hingga beberapa puluh detik saja, maka di masa silam sangat sulit untuk melacak asal-usul meteor-terang sehingga hanya dugaan-dugaan saja yang bermunculan. Namun kini, seiring tersedianya jejaring kamera khusus pemantau meteor khususnya di daratan AS dan Eropa, maka asal-usul setiap meteor-terang yang muncul di langit malam dapat ditentukan dengan cukup akurat sehingga cukup membantu memahami dinamika benda-benda langit sumber meteor yang menghujani Bumi dan bagaimana Bumi melewati semua itu.

Peta topografi kota kecil Cleveland (Tennessee) dan area sekitarnya. Garis panah putus-putus menunjukkan posisi lintasan meteor-terang Cleveland semenjak awal hingga akhir berdasarkan analisis rekaman kamera-kamera khusus pemantau meteor NASA. Tanda panah menunjukkan arah gerakan. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Peta topografi kota kecil Cleveland (Tennessee) dan area sekitarnya. Garis panah putus-putus menunjukkan posisi lintasan meteor-terang Cleveland semenjak awal hingga akhir berdasarkan analisis rekaman kamera-kamera khusus pemantau meteor NASA. Tanda panah menunjukkan arah gerakan. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan peta dari Google Maps.

Pun demikian bagi meteor-terang Cleveland. Kini diketahui meteor-terang tersebut mulai terlihat kamera semenjak ketinggian 97 kilometer dari muka Bumi dan mulai menghilang pada ketinggian 38 kilometer dari muka Bumi. Ia melejit dari arah barat daya (tepatnya azimuth 237) menuju ke timur laut (tepatnya azimuth 57) dengan membentuk sudut 50 derajat terhadap muka Bumi. Meteor melejit dengan kecepatan awal cukup tinggi, yakni 26 km/detik atau lebih dari 94.300 km/jam. Dengan karakter demikian maka dapat diketahui bahwa sebelum memasuki atmosfer Bumi, meteor tersebut adalah meteoroid yang beredar mengelilingi Matahari pada sebentuk orbit lonjong dengan titik terdekat ke Matahari (perihelion) sebesar 0,6 SA sementara titik terjauhnya ke Matahari (aphelion) bernilai 2,6 SA (SA = satuan astronomi, 1 SA = 150 juta kilometer). Dengan demikian meteoroid ini menyapu kawasan mulai dari antara di dekat orbit Venus hingga bagian dalam Sabuk Asteroid yang terletak di antara orbit Mars dan Jupiter.

Orbit meteor-terang Cleveland di antara orbit planet-planet dalam tata surya kita, dilihat dari ketinggian 750 juta kilometer di atas kutub utara Matahari. Nampak orbit Merkurius (Me), Venus (V), Bumi (B) dan Mars (M). Bintik-bintik cahaya di dekat Bumi adalah galaksi Awan Magellan Besar sementara pola mirip awan di sebelah kanan adalah selempang galaksi Bima Sakti. Keduanya berada jauh di latar belakang. Sumber; Sudibyo, 2013 dengan peta dari Starry Night Backyard.

Orbit meteor-terang Cleveland di antara orbit planet-planet dalam tata surya kita, dilihat dari ketinggian 750 juta kilometer di atas kutub utara Matahari. Nampak orbit Merkurius (Me), Venus (V), Bumi (B) dan Mars (M). Bintik-bintik cahaya di dekat Bumi adalah galaksi Awan Magellan Besar sementara pola mirip awan di sebelah kanan adalah selempang galaksi Bima Sakti. Keduanya berada jauh di latar belakang. Sumber; Sudibyo, 2013 dengan peta dari Starry Night Backyard.

Dengan aphelion di dalam Sabuk Asteroid, jelas bahwa meteoroid ini merupakan pecahan asteroid. Ia terhempas dari induknya mungkin akibat benturan dengan sesama asteroid lainnya. Ia kemudian melanglang buana mengarungi keluasan tata surya dalam orbitnya yang khas. Menyelesaikan sekali putaran dalam orbitnya setiap 2 tahun sekali, periode revolusi meteoroid ini ternyata tepat seperenam dari periode revolusi Jupiter. Maka terjadilah resonansi orbital dengan sang raksasa tata surya kita dan akibatnya Jupiter pun secara teratur mengubah orbit meteoroid ini. Sehingga pada suatu saat orbitnya pun berpotongan dengan orbit Bumi pada dua titik yang disebut titik nodal. Dan pada 28 Agustus 2013 itu meteoroid dan Bumi sama-sama menempati salah satu titik nodal tersebut. Tak dapat dielakkan lagi, meteoroid pun memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor dan tepat di langit Cleveland.

Berbahaya ?

Dengan puncak kecerlangan hingga 20 kali lipat lebih besar ketimbang benderangnya Bulan purnama, perhitungan menunjukkan meteoroid Cleveland berbobot minimal 110 kilogram. Sehingga ia memiliki energi kinetik sekitar 40 Giga Joule atau 10 ton TNT, yang setara dengan 10 buah bom konvensional berdaya ledak tinggi. Kepadatan lapisan-lapisan atmosfer Bumi yang kian meninggi seiring kian mendekat ke muka Bumi menyebabkan gaya hambat udara kian membesar sehingga tekanan yang diderita meteor kian meninggi. Sebagai akibatnya suhu pun kian meninggi sehingga meteor kian berpijar membara. Pada satu titik, tekanan tersebut tak tertahankan lagi sehingga meteor pun terpecah-belah mulai ketinggian sekitar 80 kilometer. Karena kecerlangannya yang demikian besar, meteor-terang Cleveland berpotensi memproduksi meteorit kecil. Secara statistik rata-rata 90 % massa meteor-terang habis tergerus di atmosfer sehingga total massa meteorit yang bisa diproduksi dari peristiwa di Tennessee mungkin hanya sekitar 10-an kilogram saja.

Secara statistik pula meteor-terang layaknya kejadian di Cleveland terjadi rata-rata 5 hari sekali, sehingga peristiwa semacam ini tidaklah jarang. Dan dengan massa minimal 110 kilogram, yang setara dengan batu berongga bergaris tengah sekitar 1 meter, meteor-terang ini takkan sanggup mengatasi atmosfer Bumi. Maka meskipun mencatatkan diri sebagai meteor-terang paling benderang di daratan AS sepanjang lima tahun terakhir, meteor-terang Cleveland bukanlah jenis meteor yang berbahaya, yang sanggup menciptakan kerusakan signifikan di sekitar titik tumbuk/titik ledaknya. Inilah yang membedakan peristiwa Cleveland dengan Chelyabinsk (Rusia) pada 15 Februari 2013 atau setengah tahun sebelumnya. Karena, meski sama-sama berasal dari pecahan asteroid, ukuran meteoroid Cleveland terlalu kecil bila dibandingkan dengan meteoroid Chelyabinsk.