Memahami Erupsi Freatik 18 November 2013 di Gunung Merapi

Mount Merapi

Gunung Merapi meletus! Begitu kabar yang berseliweran pada Senin pagi 18 November 2013 lalu. Dari arah kota Yogyakarta, pemandangan pagi hari itu memang menggidikkan. Di utara, tempat Merapi menjulang tinggi, kepulan asap hitam bergumpal-gumpal nampak menjulur menembus langit dari kawah baru Merapi, produk letusan besar 2010, yang lebar dan ‘robek’ di sisi tenggaranya. Kolom debu menyembur hingga setinggi sekitar 2.000 meter dari puncak. Debu vulkanik pun berjatuhan di sisi timur gunung dan terbawa hembusan angin hingga sejauh hampir 70 km. Debu pun menyelimuti suasana pagi kota-kota Boyolali, Kartasura, Surakarta, Karanganyar dan Sragen. Kota Boyolali direjam oleh debu yang paling pekat, yang dalam simulasi sanggup membentuk endapan setebal antara 1 hingga 10 mm. Bandara Adisumarmo pun turut dihujani debu, meski dengan ketebalan lebih tipis yakni antara 0,3 hingga 1 mm. Sehingga aktivitas penerbangan pagi itu tak terganggu.

Tak pelak kehebohan besar pun tercipta. Arus pengungsian sempat mengalir dari desa-desa yang berdekatan…

Lihat pos aslinya 2.440 kata lagi

Detik-Detik Terakhir Satelit GOCE

Satelit penyelidik medan gravitasi Bumi pada ketelitian yang belum pernah dijumpai sebelumnya yang bertajuk GOCE (Gravity-field and steady-state Ocean Circulation Explorer) akhirnya purna dari tugasnya setelah lebih dari empat tahun mengangkasa. US Strategic Command merilis GOCE memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat (atmospheric reentry) di atas Samudera Atlantik selatan di sekitar Kepulauan Falklands (Inggris) pada Senin 11 November 2013 pukul 00:16 UTC +/- 1 menit, atau pukul 07:16 waktu Indonesia (WIB) +/- 1 menit kala ketinggiannya telah menembus batas 80 kilometer dari paras air laut. Kejatuhan satelit GOCE sempat diabadikan Bill Chater di Falklands timur sekitar pukul 09:20 waktu setempat (00:20 UTC) lewat kamera dan videonya.

Gambar 1. Bangkai satelit GOCE melintas, memijar dan terpecah-belah di langit senja Kepulauan Falklands pada saat kejatuhannya, diabadikan oleh Bill Chater. Sumber: Chater, 2013.

Gambar 1. Bangkai satelit GOCE melintas, memijar dan terpecah-belah di langit senja Kepulauan Falklands pada saat kejatuhannya, diabadikan oleh Bill Chater. Sumber: Chater, 2013.

Citra hasil bidikan kamera lantas diunggahnya ke media sosial, namun tidak demikian dengan rekaman videonya seiring terbatasnya akses internet di Falklands. Dalam citra tersebut GOCE terlihat melintas dari selatan ke utara, awalnya sebagai bintik cahaya terang yang melesat cepat dan menghasilkan bentukan mirip ekor di langit senja Falklands. Tak lama berselang GOCE terpecah dalam dua bagian besar dan lalu terpecah-pecah kembali menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Bila ada bagian-bagian GOCE yang masih tersisa setelah menembus atmosfer, nampaknya semuanya jatuh tercebur ke Samudera Atlantik.

Ferrari

Jatuhnya GOCE memang kian menambah panjang daftar benda-benda angkasa buatan manusia yang berjatuhan tanpa terkontrol (uncontrolled reentry). Beberapa diantaranya sempat menimbulkan ancaman terhadap kualitas kehidupan manusia. Misalnya jatuhnya bangkai satelit mata-mata Kosmos 954 (Uni Soviet) di Canada pada 21 Januari 1978 yang menghamburkan bahan radioaktif Uranium-235 dari reaktornya dan mencemari lintasan sepanjang sekitar 600 kilometer. Pun jatuhnya bangkai stasiun antariksa Skylab (AS) pada 11 Juli 1979 di sekitar kota Esperance, Balladonia dan Rawlina (Australia). Demikian pula jatuhnya bangkai stasiun antariksa Salyut 7 (Uni Soviet) di kota kecil Capitan Bermudez, 400 kilometer dari Buenos Aires (Argentina) pada 7 Februari 1991. Namun begitu tulisan ini tak bertujuan untuk mengupas dampak sampah antariksa yang berjatuhan ke Bumi, melainkan pada bagaimana proses tersebut terjadi. Dan proses jatuhnya GOCE memberikan kesempatan unik yang menambah pengetahuan kita tentang bagaimana proses jatuhnya sebuah sampah antariksa yang dikendalikan.

Gambar 2. Salah satu frame video rekaman jatuhnya bangkai satelit GOCE, diabadikan oleh Bill Chater. Nampak jejak asap mirip jejak kondensasi (contrail) di sepanjang lintasan GOCE. Sumber: Chater, 2013.

Gambar 2. Salah satu frame video rekaman jatuhnya bangkai satelit GOCE, diabadikan oleh Bill Chater. Nampak jejak asap mirip jejak kondensasi (contrail) di sepanjang lintasan GOCE. Sumber: Chater, 2013.

GOCE adalah satelit unik. Agar bisa memetakan medan gravitasi Bumi dalam resolusi yang dikehendaki (yakni kurang dari 100 kilometer), maka satelit ini harus mengorbit Bumi pada ketinggian kurang dari 270 kilometer terhadap paras air laut rata-rata. Dengan begitu orbit GOCE jauh lebih rendah dibanding satelit-satelit orbit rendah pada umumnya. Di sisi lain, pembatasan tersebut membuat satelit GOCE bakal mengalami gaya hambat lebih besar karena berada di lingkungan yang molekul-molekul udaranya lebih padat dibanding orbit lebih tinggi. Pada saat yang sama ketinggian satelit GOCE bakal berfluktuasi sedikit mengikuti dinamika konsentrasi massa di bagian Bumi yang sedang dilintasinya. Kedua tantangan berbeda itu membuat badan antariksa Eropa (ESA) merancang satelit GOCE dengan struktur yang aerodinamis, sehingga berbentuk panjang, ramping, bersayap (panel surya) dengan tonjolan permukaan yang minimal. Struktur aerodinamis ini membuat gaya gesek molekul-molekul udara yang dialami GOCE pun minim. Sedangkan untuk mengompensasi penurunan ketinggian (akibat penurunan kecepatan oleh gaya gesek molekul-molekul udara) dan fluktuasi ketinggian akibat distribusi konsentrasi massa bagian Bumi yang tak merata, maka satelit GOCE dilengkapi mesin ion dengan Xenon sebagai bahan bakarnya. Untuk itu satelit GOCE membawa hingga 40 kilogram Xenon yang dikenal ramah lingkungan. Desain yang futuristik dengan bahan bakar yang tak kalah futuristiknya membuat satelit GOCE pun dijuluki ‘satelit Ferrari’.

Gambar 3. Gambaran artis tentang dimensi satelit GOCE saat masih bekerja di orbit operasionalnya dan sedang menyalakan salah satu dari sepasang mesin ion-nya. Struktur dan bahan bakar satelit yang futuristis membuat GOCE dijuluki satelit Ferrari. Sumber: ESA, 2013.

Gambar 3. Gambaran artis tentang dimensi satelit GOCE saat masih bekerja di orbit operasionalnya dan sedang menyalakan salah satu dari sepasang mesin ion-nya. Struktur dan bahan bakar satelit yang futuristis membuat GOCE dijuluki satelit Ferrari. Sumber: ESA, 2013.

Setelah mengangkasa semenjak 17 Maret 2009, satelit GOCE kehabisan bahan bakar Xenon-nya pada 18 Oktober 2013 lalu sehingga dalam tiga hari kemudian ESA mendeklarasikan berakhirnya misi GOCE. Praktis setelah itu satelit GOCE pun menyandang status sampah antariksa. Namun satelit GOCE masih tetap aktif hingga saat-saat terakhir kehidupannya, berbeda dengan satelit-satelit lainnya yang pernah berstatus serupa dan telah mati jauh hari sebelumnya. Maka peluang unik pun tercipta dalam memahami lebih lanjut proses jatuhnya sampah antariksa yang tak terkontrol.

Unik

Pada saat diluncurkan, awalnya satelit GOCE berada di orbit setinggi 280 kilometer untuk kemudian berangsur-angsur diturunkan ke orbit operasional di ketinggian 260 kilometer yang bertahan hingga hampir tiga tahun kemudian. Pertengahan 2012, untuk mengantisipasi habisnya bahan bakar, satelit GOCE pun diturunkan lagi secara gradual hingga akhirnya berada di ketinggian 223 kilometer yang terus bertahan hingga 18 Oktober 2013. Meski menderita gaya gesek lebih besar, yakni hingga mendekati 8 mN (miliNewton) ketimbang saat berada di orbit 260 kilometer yang lebih kecil yakni antara 2 hingga 4 mN, namun pada orbit 223 kilometer ini seluruh instrumen GOCE masih tetap bekerja normal.

Begitu satelit GOCE kehabisan bahan bakarnya, ketinggiannya pun menurun drastis meski semua instrumennya tetap bekerja normal. Observasi awal menunjukkan meskipun ketinggiannya mulai menurun, namun dengan bentuknya yang aerodinamis maka GOCE tetap stabil dalam sikapnya. Sehingga komunikasi dan telemetri data tetap berlangsung dengan baik. Situasi berubah semenjak 9 November 2013, saat gaya gesek yang diderita satelit ini telah melampaui 90 mN. Gaya gesek yang kian meninggi membuat akselerometer GOCE tersaturasi yang membuat kinerja Electrostatic Gravity Gradiometer terganggu. Maka instrumen utama GOCE ini pun dimatikan sejak 10 November 2013. Saat itu satelit GOCE telah kian menurun dengan ketinggian tinggal 133 kilometer (pukul 15:30 UTC) dengan orbit telah berubah menjadi 131 x 142 kilometer. GOCE mengalami penurunan ketinggian hingga 1,5 kilometer/jam namun dengan sikap (attitude) yang stabil sehingga instrumen GPS-nya tetap berfungsi dengan baik.

Gambar 4. Satelit GOCE diabadikan dari muka Bumi oleh Ralf Vandebergh (Belanda) dengan teleskop dan kamera khusus pada 22 September 2013, sebulan sebelum misinya dinyatakan berakhir (atas dan bawah), dibandingkan dengan gambaran artis ESA mengenai satelit tersebut (tengah). Garis kuning menunjukkan posisi sayap GOCE.Sumber: Vandebergh, 2013.

Gambar 4. Satelit GOCE diabadikan dari muka Bumi oleh Ralf Vandebergh (Belanda) dengan teleskop dan kamera khusus pada 22 September 2013, sebulan sebelum misinya dinyatakan berakhir (atas dan bawah), dibandingkan dengan gambaran artis ESA mengenai satelit tersebut (tengah). Garis kuning menunjukkan posisi sayap GOCE.Sumber: Vandebergh, 2013.

Pada pukul 17:30 UTC satelit GOCE masih tetap menjalin komunikasi dengan stasiun bumi Kiruna meskipun ketinggiannya kian merosot dan sudah menembus batas 130 kilometer. Imbas dari lapisan udara yang lebih padat mulai dirasakan dengan naiknya suhu komputer dan baterei menjadi 45 derajat Celcius. Pukul 19:50 UTC satelit GOCE kembali menjalin komunikasi, kali ini dengan stasiun bumi Troll (Antartika) dan melaporkan ketinggiannya tinggal 126 kilometer dan kian memanas sehingga suhu baterei dan komputernya melonjak ke 54 derajat Celcius. Komunikasi dengan Troll kembali berulang pada pukul 21:26 UTC, saat satelit GOCE tinggal setinggi 122 kilometer dengan suhu baterei dan komputernya terus meningkat hingga 64 sebesar derajat Celcius. Komunikasi terakhir berlangsung pukul 22:42 UTC saat satelit telah menempati orbit baru 118 x 127 kilometer dengan suhu komputer setinggi 80 derajat Celcius sementara suhu batereinya 84 derajat Celcius.

Pasca komunikasi terakhir ini satelit masih beredar mengelilingi Bumi sekali lagi dengan orbit kian menurun, kini tinggal 109 x 121 kilometer. Lintasan terakhir ini melewati Indonesia dari arah timur-timur laut menuju barat-barat daya, tepatnya melintas di atas Selat Makassar berdekatan dengan garis pantai pulau Kalimantan, Laut Flores dan pulau Lombok. Sempat muncul dugaan ia akan jatuh di wilayah Indonesia, mengingat ESA sempat memprediksi titik kejatuhan satelit ini di selatan pulau Lombok. Namun rupanya satelit GOCE masih tetap melaju tanpa terganggu dan lantas menyusuri Samudera Hindia sebelah barat Australia hingga Antartika. Pantauan radar US Strategic Command menunjukkan akhirnya satelit GOCE benar-benar jatuh pada pukul 00:16 UTC dengan mengambil lokasi di dekat Kepulauan Falklands, ujung selatan benua Amerika. Pada saat itu ketinggiannya telah merosot jauh hingga tinggal 80 kilometer, yang membuatnya tak sanggup bertahan lagi.

Pelajaran

Jatuhnya bangkai satelit buatan yang tak terkontrol telah dikenal semenjak fajar abad antariksa, tepatnya semenjak satelit buatan pertama yakni Sputnik-1 jatuh dalam waktu tiga bulan setelah mengangkasa. Namun sayangnya bagaimana kejadiannya dan faktor-faktor yang mengontrolnya masih belum bisa diketahui dengan pasti. Pada dasarnya kita baru bisa mengetahui dimana lokasi jatuhnya sebuah satelit buatan yang tak terkontrol hanya dalam menit-menit terakhir. Dengan kian meningkatnya aktivitas pengiriman armada satelit-satelit buatan ke orbit Bumi yang berujung pada kian membengkaknya jumlah sampah antariksa yang bertebaran di atas sana, situasinya pun kian mengkhawatirkan mengingat pada umumnya tak seluruh bagian satelit buatan tersebut yang hancur menguap di atmosfer. Bagian-bagian yang tahan panas umumnya akan bertahan dan jatuh mencium paras Bumi dengan kecepatan tertentu. Selain potensi kerusakan bangunan/benda yang dikenai tumbukannya, potensi cemaran lingkungan akibat eksistensi bahan toksik (seperti hidrazin) ataupun bahan radioaktif tertentu pun terbuka. Belum lagi bagaimana interaksi keping-keping satelit buatan yang jatuh dengan penerbangan komersial seperti diperlihatkan kasus Airbus A340 LAN Airlines (Chile) berpenumpang 270 orang yang hampir bertabrakan dengan keping-keping satelit mata-mata Russia di atas Samudera Pasifik pada 27 Maret 2007 saat menerbangi rute Santiago (Chile) – Auckland (Selandia Baru).

Gambar 5. Titik jatuhnya satelit GOCE di dekat Kepulauan Falklands (kiri) dan lintasan terakhirnya di atas Indonesia berdasarkan data TLE (two-line element) GOCE epoch 10 November 2013 23:03 UTC (kanan). Sumber; Sudibyo, 2013 berdasarkan data USSTRATCOM dan ESA, 2013.

Gambar 5. Titik jatuhnya satelit GOCE di dekat Kepulauan Falklands (kiri) dan lintasan terakhirnya di atas Indonesia berdasarkan data TLE (two-line element) GOCE epoch 10 November 2013 23:03 UTC (kanan). Sumber; Sudibyo, 2013 berdasarkan data USSTRATCOM dan ESA, 2013.

Jatuhnya satelit GOCE membuat kita selangkah lebih maju dalam memahami proses tersebut. Kini kita tahu pemanasan akibat gaya gesek satelit dengan udara mulai dirasakan pada ketinggian sekitar 130 kilometer. Kini kita pun tahu bahwa jika satelit memiliki bentuk yang aerodinamik, maka sikapnya akan tetap stabil sehingga telemetri data bisa terus berlangsung. Dan kini kita pun tahu bahwa satelit yang aerodinamik masih tetap bertahan meskipun telah menembus batas ketinggian 122 kilometer, batas yang selama ini diyakini sebagai titik awal proses jatuhnya satelit buatan.

Catatan: juga ditulis di langitselatan.

Lintasan Bangkai Satelit GOCE di atas Indonesia pada 10-11 November 2013

Seperti diketahui, satelit penyelidik Bumi bernama GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) telah berakhir masa tugasnya dan berubah menjadi bangkai satelit mulai 21 Oktober 2013 lalu seiring habisnya bahan bakar Xenon-nya. Semenjak itu orbit bangsa satelit ini mulai berubah secara gradual dan terus menurun dari hari ke hari sehingga bakal segera jatuh ke paras Bumi dalam waktu dekat. Karena tak dirancang untuk menjalani penjatuhan terkendali, maka kapan dan dimana bangkai satelit ini bakal jatuh menjadi sangat sulit diprediksi. Paling tidak baru dalam 24 jam sebelum kejadiannya, barulah titik kejatuhannya bisa diprediksi dengan lebih baik.

Gambar 1. Sebuah bangkai satelit dalam tahap awal kejatuhannya, nampak pijaran api terang menyala laksana meteor. Sumber: NASA/ESA, 2013.

Gambar 1. Sebuah bangkai satelit dalam tahap awal kejatuhannya, nampak pijaran api terang menyala laksana meteor. Sumber: NASA/ESA, 2013.

Sebuah satelit buatan yang mengorbit Bumi senantiasa memiliki mesin roket internal untuk beragam keperluan, mulai dari kendali sikap hingga menjaga ketinggian orbitnya tetap stabil. Pada umumnya mesin roket tersebut merupakan mesin konvensional dengan bahan bakar hidrazin yang dikenal sangat beracun dan bisa menyebabkan kematian bila seseorang terpapar, meski dalam jumlah kecil. Hidrazin inilah yang membuat peristiwa jatuhnya sebuah bangkai satelit menjadi cukup berbahaya bagi manusia, terutama bila ada bagian yang masih tersisa dan menumbuk paras Bumi setelah menembus atmosfer sehingga potensi kontaminasi lingkungan oleh hidrazin terbuka lebar. Untungnya bangkai satelit GOCE tidak demikian. Ia menggunakan mesin roket futuristis yakni mesin ion yang ditenagai bahan bakar eksotik yang tak kalah futuristis-nya, yakni Xenon. Dan tak seperti hidrazin, Xenon tidak bersifat racun. Sebagai unsur anggota golongan gas mulia, Xenon dikenal sangat sulit bereaksi dengan substansi lain terkecuali dalam kondisi khusus yang sangat sulit terjadi secara alamiah. Karena itu tak ada bahaya peracunan dari bangkai GOCE.

Dalam persepsi umum, jatuhnya sebuah bangkai satelit ke paras Bumi adalah sangat mengerikan. Namun sesungguhnya tidak demikian. Saat bangkai satelit berjuang menembus atmosfer Bumi, ia akan mengalami nasib serupa dengan meteoroid. Melejit pada kecepatan yang sangat tinggi (yakni lebih dari 8 kilometer/detik), bangkai satelit akan terpanaskan hebat dan terpecah-belah menampilkan panorama mirip meteor di langit. Namun begitu tetap tersisa bagian-bagian yang tahan panas sehingga mampu bertahan dan selanjutnya bakal mencium Bumi dengan kecepatan masih terhitung tinggi, sekitar 100 meter/detik atau lebih. Bangkai satelit GOCE pun bakal demikian. Dengan massa 1 ton lebih, diperkirakan ada sekitar 250 kilogram bagian GOCE yang tetap bertahan kala menembus atmosfer dalam wujud kepingan-kepingan sebanyak setidaknya 50 keping, sehingga setiap keping bermassa rata-rata 5 kilogram. Dengan menerapkan persamaan energi kinetik, maka kita akan mendapatkan energi tumbuk rata-rata tiap keping ke paras Bumi sebesar 25 kiloJoule. Energi ini setara dengan yang terkandung dalam 6 gram bahan peledak, sehingga cukup mampu mengagetkan manusia namun masih jauh dari cukup guna menghancurkan bangunan. Jadi hantaman tiap keping bangkai GOCE mungkin bisa disetarakan dengan ledakan sebutir petasan besar. Maka sepanjang tidak menghantam tubuh manusia secara langsung, sejatinya potensi kerusakan akibat jatuhnya keping-keping bangkai GOCE adalah kecil.

Gambar 2. Bangkai satelit saat kejatuhannya dalam tahap lebih kemudian, nampak pijaran api telah berubah menjadi hamburan keping-keping berpijar laksana semburan debu menyala-nyala. Kecuali bagian yang tahan panas, seluruh keping berpijar ini bakal musnah di atmosfer Bumi. Sumber: NASA/ESA, 2013.

Gambar 2. Bangkai satelit saat kejatuhannya dalam tahap lebih kemudian, nampak pijaran api telah berubah menjadi hamburan keping-keping berpijar laksana semburan debu menyala-nyala. Kecuali bagian yang tahan panas, seluruh keping berpijar ini bakal musnah di atmosfer Bumi. Sumber: NASA/ESA, 2013.

Indonesia

Berdasarkan data TLE (two line element) GOCE hasil observasi terhadap bangkai satelit ini hingga 8 November 2013, maka Corbellini memperkirakan bangkai GOCE bakal memasuki lapisan atmosfer pada titik setinggi 120 kilometer dari paras Bumi pada 10 November 2013 pukul 18:42 WIB, namun dengan ketidakpastian hingga 20 jam. Sehingga bangkai GOCE pada galibnya dapat memasuki titik tersebut dalam rentang waktu kapan saja di antara Sabtu 9 November 2013 pukul 22:42 WIB hingga Senin 11 November 2013 pukul 07:42 WIB. Pada 10 November 2013 pukul 18:42 WIB, bangkai GOCE akan berposisi di atas koordinat 64,4 LU 105 BT yang secara geografis terletak di pedalaman Rusia bagian tengah. Namun dengan ketidakpastian yang masih merentang hingga 20 jam, pada dasarnya bangkai GOCE dapat jatuh dimana saja di antara garis lintang 83,5 LU (dekat kutub utara) hingga 83,5 LS (dekat kutub selatan).

Bagaimana dengan Indonesia? Sepanjang rentang waktu 9 November 2013 22:42 WIB hingga 11 November 2013 07:42 WIB, bangkai GOCE akan lewat di atas Indonesia hingga tujuh kali. Setiap perlintasan hanya berlangsung dalam waktu 5-6 menit. Pada dasarnya hanya di titik-titik yang berada di dalam lintasan inilah bangkai GOCE berpeluang jatuh di Indonesia. Beberapa kota penting yang dilintasinya adalah Ambon (Maluku) pada 10 November 2013 pagi, Samarinda (Kalimantan Timur) dan Denpasar (Bali) pada 11 November 2013 pagi masing-masing hanya berselisih 2 menit, serta Gorontalo (Gorontalo) pada 10 November 2013 malam. Berikut petanya.

Gambar 4. Peta lintasan bangkai GOCE di atas Indonesia pada 10 hingga 11 November 2013 pagi berdasarkan TLE GOCE 8 November 2013. Lintasan bangkai satelit GOCE diperlihatkan oleh garis merah. Dalam tiap lintasannya, bangkai GOCE bakal bergerak cepat dari timurlaut ke barat daya. Tiap lintasan memiliki label, misalnya "10/11/2013; 5:58" berarti lintasan dimulai pada 10  November 2013 pukul 05:58 WIB di titik utara (garis lintang 10 LU) dan berakhir di titik selatan (garis lintang 12 LS) pada 5-6 menit kemudian. Sumber : Sudibyo, 2013 dengan data dari Corbellini, 2013.

Gambar 3. Peta lintasan bangkai GOCE di atas Indonesia pada 10 hingga 11 November 2013 pagi berdasarkan TLE GOCE 8 November 2013. Lintasan bangkai satelit GOCE diperlihatkan oleh garis merah. Dalam tiap lintasannya, bangkai GOCE bakal bergerak cepat dari timurlaut ke barat daya. Tiap lintasan memiliki label, misalnya “10/11/2013; 5:58” berarti lintasan dimulai pada 10 November 2013 pukul 05:58 WIB di titik utara (garis lintang 10 LU) dan berakhir di titik selatan (garis lintang 12 LS) pada 5-6 menit kemudian. Sumber : Sudibyo, 2013 dengan data dari Corbellini, 2013.

z

Gambar 5. Peta lintasan bangkai GOCE di atas Indonesia pada 10 November 2013 malam berdasarkan TLE GOCE 8 November 2013. Lintasan bangkai satelit GOCE diperlihatkan oleh garis biru. Dalam tiap lintasannya, bangkai GOCE bakal bergerak cepat dari timurlaut ke barat daya. Tiap lintasan memiliki label, misalnya "10/11/2013; 19:50" berarti lintasan dimulai pada 10  November 2013 pukul 19:50 WIB di titik selatan (garis lintang 12 LS) dan berakhir di titik utara (garis lintang 10 LU) pada 5-6 menit kemudian. Sumber : Sudibyo, 2013 dengan data dari Corbellini, 2013.

Gambar 5. Peta lintasan bangkai GOCE di atas Indonesia pada 10 November 2013 malam berdasarkan TLE GOCE 8 November 2013. Lintasan bangkai satelit GOCE diperlihatkan oleh garis biru. Dalam tiap lintasannya, bangkai GOCE bakal bergerak cepat dari timurlaut ke barat daya. Tiap lintasan memiliki label, misalnya “10/11/2013; 19:50” berarti lintasan dimulai pada 10 November 2013 pukul 19:50 WIB di titik selatan (garis lintang 12 LS) dan berakhir di titik utara (garis lintang 10 LU) pada 5-6 menit kemudian. Sumber : Sudibyo, 2013 dengan data dari Corbellini, 2013.

Catatan : peta dibuat berdasarkan data TLE (two-line element) bangkai GOCE per 8 November 2013. Seiring waktu, maka prediksi lintasan bangkai satelit GOCE dengan data TLE baru bakal bergeser sedikit di sebelah barat/timur dari prediksi lintasan yang disajikan dalam peta ini.