Beberapa Catatan Terkait Gempa Kebumen 25 Januari 2014

Sebuah gempa tektonik kuat terjadi di Samudera Hindia lepas pantai selatan Jawa Tengah pada Sabtu 25 Januari 2014 pukul 12:14 WIB. Berdasarkan rilis pendahuluan National Earthquake Information United States Geological Survey (USGS, semacam BMKG-nya AS), episentrum gempa berada di koordinat 8,004 LS 109,238 BT dengan kedalaman 83 km dari dasar laut dan magnitudo (mb) 6,1 skala Richter. Sementara rilis pendahuluan Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam rilis awalnya menyatakan koordinat episentrum adalah 8,48 LS 109,17 BT dengan kedalaman 48 km dari dasar laut dan magnitudo (mb) 6,5 skala Richter.

Rilis pendahuluan tersebut sifatnya hanya sementara, sebab dalam beberapa waktu kemudian terjadi pembaharuan. Dalam versi USGS, koordinat episentrum adalah 7,976 LS 109,246 BT dengan kedalaman 89 km dengan magnitudo tetap 6,1 skala Richter. Sementara versi pembaharuan BMKG menempatkan episentrum di koordinat 8,22 LS 109,22 BT dengan kedalaman 79 km dan magnitudo sedikit berubah, yakni 6,2 skala Richter.

Gambar 1. Rekaman getaran gempa utama dalam Gempa Kebumen 25 Januari 2014 yang tercatat dalam stasiun seismometer di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 1. Rekaman getaran gempa utama dalam Gempa Kebumen 25 Januari 2014 yang tercatat dalam stasiun seismometer di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Secara geografis sumber gempa ada di dasar Samudera Hindia lepas pantai Jawa Tengah bagian selatan tepatnya di perbatasan Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Posisi episentrum gempa berdasarkan versi pembaharuan USGS dan BMKG sejatinya lebih dekat ke kota Cilacap dibanding dengan kota Kebumen, sebagai acuan terdekat. Namun BMKG menyebut gempa ini sebagai gempa Kebumen, lengkapnya Gempa Kebumen 25 Januari 2014.

Energi dan Susulan

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam pemberitaan gempa bumi adalah perbedaan nilai magnitudo (kekuatan) gempa antara satu sumber dengan sumber yang lainnya. Pun demikian pada gempa Kebumen 25 Januari 2014 ini (demikian menurut penamaan BMKG). Meski sudah diperbaharui seiring kian banyaknya data yang terkumpul, posisi episentrum versi BMKG dan USGS masih berselisih jarak sebesar 27 km, suatu jarak yang cukup besar untuk ukuran manusia. Nilai magnitudonya pun sedikit berbeda, antara 6,1 (USGS) dan 6,2 (BMKG). Pun demikian kedalamannya, antara 89 km (USGS) dan 79 km (BMKG). Bagaimana selisih ini bisa terjadi?

Perbedaan semacam ini sebenarnya wajar dan masih bisa diterima dalam koridor ilmiah. Mengingat masing-masing sumber mengambil data dari stasiun-stasiun seismometer (pengukur) gempa yang berbeda-beda serta menggunakan metode perhitungan yang berbeda pula. Selain itu BMKG umumnya memilih memublikasikan data sebuah gempa dengan mendasarkan jenis magnitudo mb (body-wave magnitude). Selain cukup efektif untuk mendeskripsikan gempa-gempa berkekuatan kecil, menengah hingga kuat, jenis magnitudo ini juga memenuhi harapan yang dibebankan pada BMKG agar bisa merilis data sebuah gempa dalam tempo secepat mungkin. Ini mengingat mayoritas kawasan pesisir di Indonesia merupakan kawasan rawan tsunami. Pada umumnya tsunami yang dihipotesiskan terbentuk menyertai sebuah gempa tektonik di Indonesia hanya butuh waktu setengah jam saja sebelum tiba di garis pantai terdekat. Untuk kepentingan peringatan dini, maka BMKG harus bisa memublikasikan data sebuah gempa secepat mungkin. Pada saat ini BMKG merilis data gempa hanya dalam waktu 5 menit pasca gempa bumi itu sendiri mulai terjadi.

Sementara USGS umumnya lebih memilih jenis magnitudo lainnya yakni Mw (moment-magnitude). Jenis magnitudo ini adalah jawaban untuk mengatasi problema alamiah yang sering dihadapi jenis magnitudo mb, yakni tersaturasi (terjenuhkan) kala merekam gempa-gempa besar. Akibat saturasi, sebuah gempa besar mungkin hanya akan terekam sebagai gempa dengan magnitudo mb 6,4 skala Richter saja seperti dalam kasus gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam (gempa Aceh). Padahal jika menurut jenis magnitudo Mw gempa tersebut memiliki kekuatan hingga 9,0 (dan kemudian direvisi menjadi 9,2). Karena itu jenis magnitudo Mw cukup efektif dalam mendeskripsikan gempa-gempa besar. Kelemahannya, jenis magnitudo Mw secara alamiah membutuhkan waktu lebih lama untuk ditentukan ketimbang jenis magnitudo mb. Sehingga untuk ukuran Indonesia, jenis magnitudo Mw kurang layak untuk dimasukkan sebagai bagian sistem peringatan dini tsunami.

Gempa Kebumen 25 Januari 2014 ditentukan sebagai gempa dengan magnitudo mb 6,1 skala Richter (USGS) atau 6,2 skala Richter (BMKG) dalam versi pembaharuannya. Selisih antara keduanya terhitung kecil, yakni hanya 0,1 magnitudo dan secara umum bisa diterima. Pun demikian ukuran kedalaman sumbernya, secara umum juga relatif bisa diterima karena selisihnya terhitung kecil jika dibandingkan dengan ketebalan lapisan kerak bumi dan asthenosfer. Demikian pula selisih dalam koordinat episentrumnya. Sumber perbedaan antara data BMKG dengan USGS mungkin terletak pada stasiun-stasiun seismometer yang digunakan. BMKG menggunakan stasiun-stasiun seismometer di Indonesia, yang jaraknya jauh lebih dekat dengan sumber gempa sehingga menyajikan bacaan yang lebih teliti. Sementara mayoritas stasiun seismometer yang digunakan USGS tidak berada di Indonesia, sehingga pembacaannya tidak seteliti stasiun yang berlokasi di Indonesia.

Gambar 2. Rekaman salah satu gempa susulan dalam Gempa Kebumen 25 Januari 2014 yang tercatat dalam stasiun seismometer broadband di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Rekaman salah satu gempa susulan dalam Gempa Kebumen 25 Januari 2014 yang tercatat dalam stasiun seismometer broadband di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG, 2014.

Magnitudo gempa sejatinya merefleksikan energi yang dilepaskan sebuah gempa dalam bentuk energi seismik, yakni energi yang dihantarkan sebagai gelombang-gelombang gempa. Dengan magnitudo 6,1 hingga 6,2 skala Richter, maka Gempa Kebumen melepaskan energi sebesar 21 hingga 30 kiloton TNT. Sebagai pembanding, kekuatan bom nuklir yang diledakkan di atas Hiroshima pada akhir Perang Dunia 2 adalah 20 kiloton TNT. Sehingga energi seismik yang terlibat dalam Gempa Kebumen setara dengan 1 hingga 1,5 kali lipat kekuatan bom nuklir Hiroshima !

Untuk ukuran manusia, energi seismik tersebut tergolong besar dan menakutkan. Namun energi seismik ini sejatinya hanyalah bagian sangat kecil dari keseluruhan energi yang terlibat dalam sebuah gempa tektonik, yang bisa kita sebut sebagai energi total. Energi total sebuah gempa tektonik bergantung kepada momen seismiknya. Dan momen seismik bergantung kepada magnitudo Mw-nya. Sejauh ini belum ada publikasi mengenai nilai magnitudo Mw Gempa Kebumen. Namun jika kita menganggapnya sama nilainya dengan magnitudo mb, yakni 6,1 hingga 6,2 maka energi total Gempa Kebumen mencapai 425.000 hingga 600.000 kiloton TNT alias setara 21.240 hingga 30.000 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serentak! Jadi apa yang kita rasakan dalam Gempa Kebumen sejatinya merupakan pucuk dari sebuah “gunung es” energi yang demikian besar. Untungnya mayoritas energi ini memang tak dirambatkan ke permukaan Bumi sehingga tidak menjadi masalah berarti bagi manusia.

Gambar 3. Kiri : posisi episentrum Gempa Kebumen 25 Januari 2014 berdasarkan data BMKG setelah diperbaharui lewat perhitungan Dimas Salomo Sianipar. Tanda bintang menunjukkan posisi episentrum, yang menurut hasil perhitungan ada di kedalaman 89 km sementara panah menunjukkan arah gerakan lempeng Australia. Kanan: diagram melintang penampang interaksi lempeng Australia dan Eurasia yang membentuk pulau Jawa. Tanda bintang menunjukkan sumber Gempa Kebumen 25 Januari 2014. Sumber: Sianipar, 2014 dan Natawidjaja, 2007 dengan adaptasi seperlunya.

Gambar 3. Kiri : posisi episentrum Gempa Kebumen 25 Januari 2014 berdasarkan data BMKG setelah diperbaharui lewat perhitungan Dimas Salomo Sianipar. Tanda bintang menunjukkan posisi episentrum, yang menurut hasil perhitungan ada di kedalaman 89 km sementara panah menunjukkan arah gerakan lempeng Australia. Kanan: diagram melintang penampang interaksi lempeng Australia dan Eurasia yang membentuk pulau Jawa. Tanda bintang menunjukkan sumber Gempa Kebumen 25 Januari 2014. Sumber: Sianipar, 2014 dan Natawidjaja, 2007 dengan adaptasi seperlunya.

Gempa bumi tektonik secara alamiah tak pernah berdiri sendiri. Setelah gempa pertama, yang disebut gempa utama (mainshock), maka akan terjadi gempa-gempa susulan (aftershock). Gempa-gempa susulan tetap bersumber dari area yang sama dengan gempa utamanya dan sejatinya menjadi bagian dari upaya segmen batuan yang terpatahkan dalam sumber gempa untuk menemukan titik keseimbangan baru pasca pelepasan energinya. Secara umum Gempa Kebumen terbentuk saat sebuah segmen batuan seluas sekitar 20 x 10 kilometer persegi mendadak terpatahkan dan bergeser hingga hampir setengah meter. Dalam area seluas 20 x 10 kilometer persegi ini pulalah gempa-gempa susulannya bersumber. Pada umumnya untuk magnitudo 6 skala Richter, gempa-gempa susulan akan terus terjadi hingga seminggu pasca gempa utama. Untungnya, magnitudo gempa susulan selalu lebih rendah dibandingkan dengan gempa utama dan terus-menerus menjadi lebih rendah seiring berjalannya waktu. Hingga 24 jam pasca gempa utama meletup, telah terjadi 23 kali gempa susulan. Beberapa diantaranya ada yang dirasakan oleh manusia, namun mayoritas hanya bisa dideteksi oleh instrumen seismometer.

Area Terdampak

Magnitudo gempa Kebumen masih berada di bawah nilai ambang batas 7,0 skala Richter sehingga tidak memicu aktifnya sistem peringatan dini tsunami. Secara teori gempa ini hanya menghasilkan gelombang setinggi 5 cm saja di pantai terdekat (yakni pantai Logending, Kabupaten Kebumen) sehingga terlalu kecil untuk bisa menghasilkan efek merusak. Di sisi lain, Gempa Kebumen secara teoritis akan menyebabkan tanah bergetar selama 10 detik saja. Namun dalam praktiknya durasi getaran tanah di suatu tempat sangat bergantung kepada karakteristik lapisan-lapisan batuan penyusunnya. Semakin lemah batuannya, atau semakin muda usianya (secara geologis), maka getarannya akan semakin lama dibanding waktu getaran teoritisnya sekaligus semakin besar pula daya amplifikasinya (faktor penguat gelombang gempa). Karena itu tidak mengherankan jika di dataran rendah alluvial seperti beberapa bagian Kabupaten Kebumen, gempa ini menggetarkan tanah hingga lebih dari 20 detik. Pun di kota Purwokerto, yang meskipun berada di dataran tinggi (elevasi 75 meter dpl) namun tersusun oleh endapan lahar berusia muda dari Gunung Slamet, maka getaran di sini berlangsung selama 60 detik.

Besarnya getaran menjadi masalah utama yang ditimbulkan Gempa Kebumen. Secara teoritis gempa ini menggetarkan permukaan Bumi hingga sejauh 800 km dari episentrum. Namun getaran yang benar-benar dirasakan oleh manusia, yakni dengan intensitas 3 MMI (Modified Mercalli Intensity) yang setara dengan getaran akibat melintasnya truk besar kala kita berdiri di pinggir jalan, terasa hingga 380 km dari sumber gempa. Karena hampir sekujur pulau Jawa merasakan getaran gempa ini, mulai dari propinsi Banten di sebelah barat hingga sebagian propinsi Jawa Timur (yakni hingga kawasan Surabaya-Malang). Dalam catatan USGS PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquake for Response, yakni sistem otomatis produk USGS yang memprakirakan dampak suatu gempa bumi terhadap populasi manusia secara geografis) sebanyak 117,3 juta penduduk pulau Jawa merasakan getaran gempa ini meski dalam intensitas yang berbeda-beda. Kian dekat ke sumber gempa, kian besar getaran yang terjadi sehingga kian besar pula intensitasnya.

Gambar 4. Peta sederhana tentang intensitas getaran teoritik yang bisa ditimbulkan oleh Gempa Kebumen 25 Januari 2014 dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Peta sederhana tentang intensitas getaran teoritik yang bisa ditimbulkan oleh Gempa Kebumen 25 Januari 2014 dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebagai kawasan terdekat dengan sumber gempa, maka Kabupaten Kebumen dan Cilacap serta kota Cilacap menjadi kawasan yang mengalami getaran terbesar dengan intensitas tertinggi. Skala intensitas yang dirasakan di sini mencapai 6 MMI, yakni getaran yang dirasakan oleh semua orang termasuk mereka yang tidur dan spontan membuat mereka keluar. Getaran 6 MMI secara umum mampu menyebabkan kerusakan ringan seperti retaknya plester di tembok maupun jatuhnya buku dari rak. Meski demikian untuk bangunan bermutu rendah ataupun yang terletak di lokasi-lokasi yang memiliki faktor amplifikasi tinggi, getaran yang dirasakan lebih besar sehingga mampu menyebabkan kerusakan bangunan dalam tingkat sedang hingga berat. Inilah yang menyebabkan ratusan rumah di Kabupaten Banyumas dan Cilacap rusak berat dan ringan. Kerusakan pun dijumpai pada beberapa rumah di Kabupaten Purworejo, bahkan juga pada beberapa rumah di Kabupaten Bantul dan Magelang yang terhitung berjarak cukup jauh dari sumber gempa. Kerugian material pun mencapai milyaran rupiah.

Di Kabupaten Kebumen sendiri, sejauh ini telah diidentifikasi ada dua rumah di kecamatan Adimulyo rusak berat sementara beberapa rumah di kecamatan Rowokele mengalami retak-retak. Intensitas getaran bahkan mampu merontokkan bongkahan-bongkahan batuan di Pegunungan karst Gombong Selatan hingga berjatuhan ke daratan dibawahnya, meski tak sampai menghasilkan longsoran berskala sedang/besar.

Kewaspadaan di Masa Depan

Namun terlepas dari kerusakan tersebut, patut disyukuri bahwa Gempa Kebumen tidak menimbulkan korban jiwa ataupun luka-luka. Kepanikan memang sempat ada, khususnya di masyarakat pesisir seiring kekhawatiran terjadinya tsunami. Namun kawasan ini telah belajar dari kejadian Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 yang tsunaminya merenggut nyawa hingga lebih dari 600 orang. Tatkala getaran keras terasa apalagi dengan durasi yang terasa cukup lama, tak ada lagi masyarakat yang mencoba mendekat ke pantai. Mungkin inilah salah satu hikmah yang bisa diambil dari kejadian Gempa Kebumen 25 Januari 2014. Kewaspadaan masyarakat sudah mulai terbentuk. Kesiapsiagaan akan tsunami sudah mulai terpupuk dalam memori publik. Jika di sana-sini masih banyak kekurangan, itu hal yang wajar dan masih bisa diperbaiki lagi di masa depan.

Membicarakan Gempa Kebumen tak lepas dari perbincangan tentang apa yang berkemungkinan terjadi bagi kawasan ini di masa depan. Gempa ini terjadi pada kedalaman menengah sehingga sudah terlepas dari zona subduksi dimana lempeng Australia yang oseanik (lempeng samudera) saling bertemu dengan lempeng Eurasia yang bersifat kontinental (lempeng benua). Karena berat jenisnya lebih besar maka lempeng Australia melekuk/menelusup ke bawah lempeng Eurasia dan terus bergerak menuju ke dalam lapisan selubung bumi. Zona subduksi terbentuk mulai dari palung Jawa, dimana lempeng Australia mulai melekuk, hingga ke kedalaman maksimum 60 km. Dengan kedalaman sumber Gempa Kebumen sebesar 79 km (BMKG) hingga 89 km (USGS), jelas ia sudah lebih dalam dibanding zona subduksi. Sehingga penyebab gempa ini sebenarnya hanya lempeng Australia saja, khususnya bagian yang mengalami pematahan (faulting). Karena itu Gempa Kebumen tergolong sebagai gempa intralempeng (intraplate), atau sekeluarga dengan Gempa Tasikmalaya 2 September 2009 (Mw = 7,0) ataupun Gempa Padang 30 September 2009 (Mw = 7,6).

Pada titik ini kembali kita harus bersyukur. Sebab walaupun sama-sama gempa intralempeng, namun kekuatan Gempa Kebumen masih lebih kecil dibanding apa yang terjadi dalam Gempa Tasikmalaya 2009 dan gempa Padang 2009. Sebab andaikata kekuatannya setara dengan Gempa Tasikmalaya 2009 dan dengan pola penjalaran gelombang seismik menyamai Gempa Kebumen 25 Januari 2014 ini maka Kabupaten Banyumas dan Cilacap serta Kota Cilacap dan sebagian Kabupaten Kebumen akan porak-poranda akibat getaran berintensitas 7 MMI yang dialaminya, tingkat getaran yang mampu membuat bangunan rusak berat hingga rubuh. Sedangkan bila kekuatannya menyamai Gempa Padang 2009, akibatnya akan lebih parah lagi karena separuh wilayah propinsi Jawa Tengah khususnya bagian barat akan porak-poranda olehnya. Korban jiwa dan luka-luka tentu bakal tak terelakkan, disamping kerugian material yang sangat besar. Sekali lagi, kita harus bersyukur.

Gambar 5. Peta titik-titik episentrum gempa bumi tektonik di Indonesia bagian barat semenjak 1964 hingga 2007. Nampak beberapa segmen seismic gap, seperti Mentawai (M), Selat Sunda (SS), Jawa Tengah (JT 1) dan Bali (B). Nampak juga segmen seismic gap yang lebih dekat ke daratans eperti Jawa Tengah 2 (JT2) yang tepat berada di lepas pantai Kabupaten Purworejo-Kebumen-Cilacap. Angka-angka "2004", "2005" dan seterusnya menunjukkan lokasi dimana terjadi pelepasan energi dari segmen bersangkutan dalam bentuk gempa besar/akbar. Sumber: Natawidjaja, 2007 dengan adaptasi seperlunya oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 5. Peta titik-titik episentrum gempa bumi tektonik di Indonesia bagian barat semenjak 1964 hingga 2007. Nampak beberapa segmen seismic gap, seperti Mentawai (M), Selat Sunda (SS), Jawa Tengah (JT 1) dan Bali (B). Nampak juga segmen seismic gap yang lebih dekat ke daratans eperti Jawa Tengah 2 (JT2) yang tepat berada di lepas pantai Kabupaten Purworejo-Kebumen-Cilacap. Angka-angka “2004”, “2005” dan seterusnya menunjukkan lokasi dimana terjadi pelepasan energi dari segmen bersangkutan dalam bentuk gempa besar/akbar. Sumber: Natawidjaja, 2007 dengan adaptasi seperlunya oleh Sudibyo, 2014.

Namun di tengah rasa syukur ini, mari jadikan pengalaman Gempa Kebumen sebagai bagian dari menjaga kewaspadaan. Sebab potensi gempa bumi tektonik yang bersumber dari segmen lepas pantai selatan Jawa Tengah masih tinggi. Jika kita melihat peta kegempaan tektonik di Indonesia semenjak 1964, akan kita lihat bahwa segmen lepas pantai selatan Jawa Tengah memiliki jumlah gempa tektonik yang jauh lebih sedikit dibanding segmen sebelah-menyebelahnya. Padahal seluruhnya sama-sama berada di zona subduksi yang sama, tempat lempeng Australia dan Eurasia berinteraksi secara konvergen. Jarangnya gempa di sini memang bisa saja mungkin terjadi karena segmen ini tidak seaktif segmen sebelah-menyebelahnya. Namun ada kemungkinan yang jauh lebih berpeluang, yakni jarangnya gempa karena segmen ini tergolong seismic gap, yakni segmen yang sedang mengalami kuncian dalam zona subduksinya sehingga sedang menimbun energi secara konsisten. Sebagai seismic gap, segmen ini setara dengan apa yang sedang dialami segmen Mentawai di pesisir barat Sumatra yang juga sangat jarang mengalami gempa. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa segmen Mentawai merupakan segmen yang bersiap menerbitkan gempa besar bahkan akbar dengan kekuatan bisa mencapai Mw 9,0 atau setara Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (Gempa Aceh).

Bagaimana dengan segmen lepas pantai selatan Jawa Tengah? Jika segmen ini memang seismic gap dan kita hanya berfokus hingga 50 km saja ke lepas pantai, maka potensi gempa bumi tektonik yang tersimpan di sini mungkin bisa berkekuatan Mw 7 hingga 7,5 skala Richter. Namun jika difokuskan pada segmen yang tepat berada di tepi palung Jawa, maka potensi gempanya mungkin bisa sampai berkekuatan Mw 8 skala Richter atau lebih. Segmen yang tepat berada di tepi palung Jawa ini perlu mendapat kewaspadaan lebih karena pengalaman sejarah. Tepat di sisi baratnya terdapat segmen Jawa Barat, yang telah melepaskan energinya pada Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (Mw 7,7) yang melepaskan tsunami perusak cukup dahsyat ke sekujur pesisir Jawa Barat dan Jawa Tengah, hingga menelan korban jiwa lebih dari 600 orang. Sementara segmen sebelah timurnya juga telah melepaskan energinya lebih dulu dalam Gempa Jawa Timur 2 Juni 1994 (Mw 7,6) hingga menewaskan lebih dari 200 orang. Maka patut diduga bahwa segmen Jawa Tengah, yang sampai saat ini masih kalem, kelak pun akan melepaskan energinya sembari membentuk tsunami perusak yang dahsyat.

Jadi, mari tetap waspada.

8 thoughts on “Beberapa Catatan Terkait Gempa Kebumen 25 Januari 2014

    • marufins berkata:

      Krakal – Kalirancang – Bulupitu itu persis berdiri di atas sesar (patahan) potensial sumber gempa, namanya sesar Kedungkramat (Kedungbener). Patahan inilah yang menyebabkan munculnya mata air panas di Krakal.

      • Lembah Alian berkata:

        Apakah aktif ? Memang pak rumah saya di kalirancang timur jadi antara Bukit Pagerijo dan Bukit Pagergeong/Lembah. Apakah sesar ini yang dimaksud sejarah gempa kebumen 1852 dg skala 6 – 7 MMI pak ?😐

      • marufins berkata:

        Kemungkinan aktif. Setelah gempa 1852 itu, sesar tersebut mungkin terkait juga dengan gempa 1943 (periode ulang 1 abad). Jadi mungkin bakal terulang lagi pada 2040-an mendatang. Saya pernah menuliskannya di Suara Merdeka, coba nanti tak tulis ulang di sini

      • Lembah Alian berkata:

        Matur nuwun pak Info’y. Jadi tau dan waspada. Sedikit artikel yang membahas sesar tesebut.

    • marufins berkata:

      Semoga demikian🙂. Namun jika memang kelak akan terjadi, semoga kita sudah lebih siap dalam menghadapinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s