Menyaksikan Letusan Plinian Gunung Kelud dari Keluasan Langit

Gunung Kelud (Jawa Timur) akhirnya meletus. Setelah ditingkatkan dari status Aktif Normal (level I) menjadi Waspada (Level II) sejak 2 Februari 2014 seiring migrasi magma segar ke tubuh gunung yang membuat kegempaan vulkaniknya meningkat di atas normal dan lantas diikuti status Siaga (Level III) pada 10 Februari 2014 menyusul injeksi magma segar ke kantung magma dangkal dan tubuh gunung sehingga kegempaan vulkaniknya kian riuh dan bahkan tubuh Gunung Kelud mulai menggelembung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akhirnya menetapkan Gunung Kelud dalam status Awas (Level IV) pada 13 Februari 2014 pukul 21:15 WIB. Dan hanya berselang 95 menit kemudian Gunung Kelud pun memuntahkan magma segarnya sebagai letusan yang bergelora menjelang tengah malam. Gemuruh suara letusan terdengar hingga pelosok Jawa Tengah seperti di Kebumen dan Purbalingga, meski berjarak ratusan kilometer dari Gunung Kelud. Debu vulkaniknya pun melumuri sebagian besar pulau Jawa hingga sempat menghentikan aktivitas sehari-hari sebagian besar penduduk pulau terpadat di Indonesia ini. Delapan bandara pun turut ditutup sementara, mulai dari Juanda (Sidoarjo) di sisi timur hingga Husein Sastranegara (Bandung) di sisi barat. Sebagai imbasnya ratusan penerbangan domestik dan internasional pun dibatalkan. Angka kerugian masih dihitung, namun diduga mencapai trilyunan rupiah.

PVMBG mencatat letusan Gunung Kelud kali ini menghamburkan paling tidak 120 juta meter kubik rempah vulkanik atau hampir sama dengan apa yang disemburkan Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY) dalam letusan 2010-nya. Bedanya durasi letusan Gunung Kelud sangat singkat, yakni hanya beberapa jam saja, dibandingkan Merapi yang selama 1,5 bulan. Perbedaan tajam ini menunjukkan kecepatan pengeluaran rempah vulkanik Kelud jauh lebih besar. Singkatnya durasi letusan juga memperlihatkan bahwa gunung berapi yang galak ini kembali ke tabiatnya semula yang sudah dikenal sepanjang abad ke-20. Tabiat itu berupa cepatnya migrasi magma segar yang ditandai oleh cepatnya perubahan status aktivitasnya, durasi letusan cukup singkat sebagai indikasi dari kecilnya volume kantung magma dangkalnya (sehingga cepat terkuras habis) dan letusannya langsung besar atau besar sekali. Hanya satu sifat yang tak muncul, yakni lahar letusan yang umumnya terjadi kala magma segar yang dimuntahkan langsung bercampur dengan air danau kawah yang volumenya bisa puluhan juta meter kubik jika tak dikontrol. Danau kawah Kelud sendiri menghilang pasca November 2007 kala aktivitas gunung berapi ini di luar dugaan justru demikian kalem dan hanya berakhir dengan gundukan lava yang disebut kubah lava 2007. Kubah lava ini mengambil bentuk kerucut yang tingginya 215 meter dengan dasar selebar 470 meter dan bervolume 16 juta meter kubik.

Gambar 1.  Perkembangan awan debu vulkanik Kelud (panah kuning) dalam empat jam pertama letusannya seperti diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah. Terlihat pada jam 00:00 WIB (sejam setelah mulai meletus), awan debunya masih kecil, sferis dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak awan debu semakin meluas dan kian melonjong mengikuti hembusan angin. Sumber: JMA, 2014.

Gambar 1. Perkembangan awan debu vulkanik Kelud (panah kuning) dalam empat jam pertama letusannya seperti diabadikan satelit MTSAT-2 dalam kanal inframerah. Terlihat pada jam 00:00 WIB (sejam setelah mulai meletus), awan debunya masih kecil, sferis dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak awan debu semakin meluas dan kian melonjong mengikuti hembusan angin. Sumber: JMA, 2014.

Awan Debu

Letusan Gunung Kelud terjadi di tengah malam waktu Indonesia. Kecuali daerah sekitar gunung yang bisa melihat langsung kolom debu vulkanik pekat yang menjulang vertikal menembus awan disertai kilat yang menyambar-nyambar dalam menit-menit pertama letusan, daerah lain yang lebih jauh tak bisa melihatnya dengan leluasa seiring gelapnya malam. Sehingga bagaimana sifat-sifat letusan sulit untuk diketahui secara kasat mata, termasuk tipe letusan.

Beruntung, keterbatasan mata manusia dalam gelapnya malam bisa digantikan oleh ketersediaan mata tajam di langit, dalam rupa armada satelit cuaca dan observasi Bumi. Keberadaan satelit-satelit ini menyajikan keuntungan tersendiri dalam mengamati letusan gunung berapi, sebab berada pada ketinggian cukup besar sehingga jauh lebih aman terhadap dampak langsung maupun tak langsung dari letusan tersebut. Posisi di ketinggian juga memungkinkan satelit memiliki cakupan area yang cukup luas sehingga mampu memantau dinamika awan debu letusan yang menjauh dari sumbernya hingga jarak ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Dan mata tajam satelit memungkinkan kita mengamati kawah gunung berapi yang sedang meletus dalam resolusi yang cukup tinggi, bahkan kala gunung berapi tersebut masih cukup berbahaya untuk bisa didekati manusia.

Debu vulkanik Kelud pertama kali terdeteksi lewat satelit MTSAT-2 (Multifunctional Transport Satellite-2) atau yang dikenal juga sebagai satelit Himawari-7 (Jepang). Satelit yang berfungsi ganda guna kepentingan komunikasi dan pemantauan cuaca ini bertempat di obit geostasioner pada garis bujur 145 BT sehingga mampu memantau Asia timur, Asia tenggara, Australia dan Samudera Pasifik dengan leluasa dan menerus. Debu vulkanik Kelud pertama kali terdeteksi pada pukul 23:09 WIB, hanya 20 menit setelah letusan dimulai, melalui instrumen pencitra pada kanal inframerah yang memiliki resolusi spasial 5 km. Awan debu Kelud semula berukuran kecil dan bergeometri sferis. Namun seiring perjalanan waktu, ukurannya membesar hingga bergaris tengah lebih dari 100 km dengan bentuk sedikit lonjong, sebelum kemudian kian memanjang seiring hembusan angin. Pengukuran suhu awan debu ini menunjukkan bagian inti awan sedikit lebih hangat dibanding bagian tepinya, namun secara keseluruhan temperatur awan debu jauh di bawah titik nol derajat Celcius. Ini menjadi indikasi bahwa awan debu Kelud telah membumbung sedemikian tinggi sehingga memasuki lapisan stratosfer.

Pemandangan lebih menarik diperlihatkan oleh instrumen pada kanal cahaya tampak di satelit yang sama. Instrumen ini hanya berfungsi kala sinar Matahari mulai menerangi permukaan Bumi yang hendak dicitrakannya, sehingga baru bisa bekerja dalam enam jam setelah letusan dimulai. Meski telah enam jam berlalu, namun kedahsyatan letusan Kelud masih terlihat jelas. Pekat dan massifnya debu vulkanik yang disemburkan Gunung Kelud menghasilkan fenomena bow shock-wave di puncak awan debunya khususnya di sisi timur sehingga nampak bergelombang sekaligus menghalangi angin timuran untuk mengubah bentuknya. Hasil pencitraan kanal visual yang dipadukan dengan GOES-R Volcanic Ash Height menunjukkan terdapat bagian awan debu Kelud yang memasuki ketinggian 18 hingga 20 km dpl (dari permukaan laut), atau cukup jauh memasuki lapisan stratosfer.

Gambar 2. Hasil pengukuran lidar satelit CALIPSO terhadap awan debu Kelud dalam 1,5 jam sejak mulai meletus dipadukan dengan citra instrumen MODIS dari satelit Aqua dalam kanal cahaya tampak yang jelas memperlihatkan awan debu Kelud (plume) dan awan-awan disekelilingnya. Hasil pengukuran memperlihatkan sebagian besar awan debu Kelud membumbung hingga 20 km dpl, namun puncaknya menjangkau ketinggian 26 km dpl. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Hasil pengukuran lidar satelit CALIPSO terhadap awan debu Kelud dalam 1,5 jam sejak mulai meletus dipadukan dengan citra instrumen MODIS dari satelit Aqua dalam kanal cahaya tampak yang jelas memperlihatkan awan debu Kelud (plume) dan awan-awan disekelilingnya. Hasil pengukuran memperlihatkan sebagian besar awan debu Kelud membumbung hingga 20 km dpl, namun puncaknya menjangkau ketinggian 26 km dpl. Sumber: NASA, 2014.

Informasi lebih detil diperoleh satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar dan Infrared Pathfinder Satellite Observation), satelit cuaca hasil kerjasama AS dan Perancis yang ditempatkan di orbit polar setinggi 676 hingga 687 km dpl dengan inklinasi 98,2 derajat. CALIPSO bertumpu pada teknologi lidar (laser imaging detection and ranging) berbasis cahaya tampak dan inframerah terpolarisasi, masing-masing pada panjang gelombang berbeda masing-masing 5.320 dan 10.640 Angstrom. CALIPSO melintas di atas Indonesia dalam 1,5 jam setelah letusan dimulai dan berkesempatan melakukan pengukuran lidar pada awan debu Kelud. Hasilnya mengonfirmasi temuan satelit MTSAT-2, bahwa sebagian besar debu vulkanik Kelud membumbung hingga setinggi 20 km dpl. Namun puncak awan debunya lebih tinggi lagi karena menjangkau ketinggian 26 km dpl.

Plinian

Satelit hanya sanggup mencitra bagian atas dan puncak awan debu Kelud pada jam-jam pertama letusan saat memperlihatkan awan debu Kelud bergeometri sferis yang kemudian menjadi sedikit lonjong saat ukurannya meraksasa. Kita tak bisa melihat kolom debunya saat sedang menanjak di lapisan atmosfer terbawah sebelum kemudian menjadi awan debu. Namun dapat diperkirakan bahwa ukuran kolom debu letusan jauh lebih kecil ketimbang awan debunya. Sehingga secara keseluruhan semburan rempah vulkanik Kelud dalam jam-jam pertama letusan menampilkan pemandangan menyerupai payung atau jamur. Sehingga awan debu semacam ini dikenal sebagai awan jamur (mushroom clouds) yang kemudian akan berkembang menjadi awan bunga kol (cauliflower clouds) sebelum kemudian tersebar mengikuti hembusan angin. Awan jamur merupakan ciri khas pelepasan energi sangat tinggi dalam singkat, baik alamiah maupun buatan (manusia). Kita bisa melihat pola awan jamur ini misalnya dalam ledakan nuklir, khususnya dengan titik ledak di atmosfer, atau permukaan tanah, ataupun bawah tanah dangkal. Sementara secara alamiah awan jamur tercipta dalam letusan gunung berapi berskala tinggi dan tumbukan benda langit (komet/asteroid).

Gambar 3. Bentuk awan jamur dari rempah vulkanik yang disemburkan dalam jam pertama letusan bertipe plinian, dalam hal ini di Gunung Pinatubo (Filipina) pada tahun 1991. Sumber: USGS, 1991.

Gambar 3. Bentuk awan jamur dari rempah vulkanik yang disemburkan dalam jam pertama letusan bertipe plinian, dalam hal ini di Gunung Pinatubo (Filipina) pada tahun 1991. Sumber: USGS, 1991.

Terbentuknya awan jamur pada letusan Gunung Kelud dan dipadukan dengan data ketinggian puncak awan debunya berdasarkan citra satelit MTSAT-2 dan CALIPSO memastikan bahwa letusan tersebut merupakan letusan plinian. Inilah letusan yang melibatkan gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi sehingga dampaknya dirasakan dalam daerah cukup luas. Dengan rempah vulkanik yang diletuskan mencapai 120 juta meter kubik, maka amukan Gunung Kelud kali ini memiliki skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index), setara dengan skala Letusan Merapi 2010 maupun Letusan Galunggung 1982-1983. Letusan gunung berapi pada skala tersebut memang bisa bertipe vulkanian (tinggi awan debu di bawah 20 km dpl) namun bisa pula plinian. Semuanya bergantung kepada besarnya tekanan gas vulkanik dalam kantung magma gunung berapi itu tepat sebelum letusan terjadi. Menurut Walker (1980), tekanan gas vulkanik dalam kantung magma jelang letusan plinian terjadi bisa lebih besar dari 1 MPa. Sehingga begitu letusan terjadi, gas vulkanik segera berhembus kencang sembari mendorong rempah vulkanik menyembur keluar dengan kecepatan awal melebihi kecepatan suara. Besarnya tekanan gas vulkanik juga mampu memecah dan bahkan menghancurkan sumbat lava ataupun kubah lava yang semula menutupi ujung saluran magma. Hal ini pula yang terjadi pada Gunung Kelud, dimana kubah lava 2007 telah hancur lebur dan tak berbekas dalam letusan plinian ini.

Letusan plinian tergolong jarang terjadi. Dalam catatan Global Volcanism Program, secara statistik letusan tipe ini yang berskala 4 VEI terjadi rata-rata sekali setiap 10 tahun. Terakhir kali letusan tipe ini terjadi di Indonesia pada 1982 saat Gunung Galunggung (Jawa Barat) meletus. Sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara letusan ini terakhir kali terjadi pada tahun 1991 di Gunung Pinatubo (Filipina). Dengan jarangnya peristiwa ini, maka citra-citra satelit yang memonitor Gunung Kelud selama jam-jam pertama letusannya sangat membantu memahami apa letusan plinian sekaligus bagaimana persebaran debu vulkaniknya sehingga langkah antisipasi yang lebih baik bisa disiapkan lebih dini. Di samping itu, pengetahuan tentang letusan plinian juga membantu kita dalam memahami bagaimana letusan gunung berapi di planet lain atau satelit alaminya. Misalnya di Io, salah satu satelit alami Jupiter, yang kerap meletuskan gunung berapinya dan memuntahkan rempah vulkanik hingga setinggi 100km atau lebih.

Catatan: ditulis juga di LangitSelatan.

Referensi:

Global Volcanism Program Smithsonian Institution, http://volcano.si.edu/

Walker, G.P.L. 1980 The Taupo pumice: product of the most powerful known (ultraplinian) eruption. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 8 (1980) 69-94.

Ada Gempa, Namun Gunung Merbabu Tidak Meletus

Sebuah getaran mengagetkan penduduk yang berdiam di kaki Gunung Merbabu (Jawa Tengah) bagian utara pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB. Getaran berlangsung hanya dalam beberapa detik namun sempat juga dirasakan oleh sebagian warga kota Salatiga. Getaran terkeras dirasakan warga Dusun Wiji, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan (Kabupaten Semarang). Sehingga di sini sedikitnya 46 rumah mengalami kerusakan ringan. Publik pun resah, apalagi bersamaan dengan getaran tersebut terdengar suara dentuman dan ada pula yang mengaku menyaksikan kilatan cahaya dari arah puncak Gunung Merbabu. Baru beberapa hari yang lalu Gunung Kelud meletus besar, menyemburkan debu vulkanik bergulung-gulung ke langit yang diiringi dengan sambaran kilat. Sebagian besar pulau Jawa pun terkena dampaknya, dengan Jawa Tengah menjadi salah satu kawasan terparah yang dihujani debu vulkanik Gunung Kelud.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Apakah getaran itu terkait dengan kelakuan Gunung Merbabu? Apakah Gunung Merbabu mulai menggeliat lagi? Apakah ia mulai meletus? Akankah letusannya sama dahsyatnya dengan Gunung Kelud?

Tak Meletus

Gunung Merbabu merupakan gunung berapi setinggi 3.145 meter dari permukaan laut (dpl) yang berdiri di tengah-tengah Jawa Tengah tepat di sebelah utara Gunung Merapi. Ia masih tetap digolongkan sebagai gunung berapi aktif tipe B oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Nama “Merbabu” baru melekat di gunung berapi ini pada masa Hindia Belanda dan sesudahnya. Sebelumnya gunung ini lebih dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamrihan (Pamarihan). Posisinya demikian rupa sehingga Gunung Merapi dan Merbabu kerap disebut sebagai gunung kembar. Meski tepat bersebelahan dengan Merapi, namun tubuh dan polah-tingkah Merbabu sungguh bertolak belakang. Jika kita melihat Gunung Merbabu dalam citra satelit khususnya citra topografinya, terlihat jelas betapa gunung berapi ini dipenuhi oleh rekahan-rekahan besar. Salah satu rekahan muncul dari kaki gunung bagian utara-timur laut dan melintas memotong puncak hingga kemudian berakhir di kaki gunung bagian selatan-tenggara. Lewat rekahan inilah khususnya di bagian puncak gunung, aktivitas Gunung Merbabu berpusat.

Dalam catatan Global Volcanism Program Simthsonian Institution, aktivitas terakhir Gunung Merbabu terjadi lebih dari dua abad silam, tepatnya pada tahun 1797. Saat itu Gunung Merbabu meletus dengan skala 2 VEI (Volcanic Explosivity Index), dengan memuntahkan rempah letusan sebanyak kurang dari 1 juta meter kubik. Magmanya menyeruak sebagai lava yang kemudian mengalir menyusuri rekahan besar menuju utara-timur laut sebagai aliran lava Kopeng dan ke selatan-tenggara sebagai aliran lava Kajor. Letusan sebelumnya terjadi pada tahun 1560 namun dengan skala letusan yang tak diketahui. Untuk ukuran sebuah gunung berapi, Letusan Merbabu 1797 tergolong kecil. Bandingkan misalnya dengan Gunung Merapi, yang dalam letusan-letusannya di abad ke-20 dan 21 (kecuali letusan 1930 dan letusan 2010) biasa mengeluarkan lebih dari 5 juta meter kubik rempah letusan. Apalagi jika dibandingkan Letusan Merapi 2010 yang volume rempah letusannya sampai sebesar 150 juta meter kubik.

Nah, apakah Gunung Merbabu sedang mulai menggeliat lagi setelah sekian lama tertidur lelap?

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Sampai saat ini Gunung Merbabu masih dinyatakan sebagai gunung berapi aktif tipe B sehingga tak dipantau secara khusus seperti halnya gunung-gemunung berapi tipe A. Namun karena persis berdampingan dengan Gunung Merapi, maka Gunung Merbabu bisa dipantau melalui pos-pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) yang berada di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berada di bawah naungan PVMBG.

Menarik bahwa pada Senin pagi 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu stasiun-stasiun seismik pemantau Merapi di Pusunglondon, Deles dan Plawangan sama sekali tak merekam adanya gempa vulkanik yang berasal dari Gunung Merbabu, baik vulkanik dalam maupun dangkal. Sebaliknya justru terekam adanya gelombang gempa tektonik yang bersifat lokal dengan durasi dan amplitudo gelombang yang kecil. Sensitivitas alat sudah teruji dalam Letusan Kelud 2014 kemarin, kala gempa-gempa yang mengiringi meletusnya Gunung Kelud dalam sejam pertamanya, yakni kala kubah lava 2007 mulai dihancurkan, terekam jelas di stasiun-stasiun seismik ini. Ketiadaan gempa vulkanik dalam dan dangkal dari Gunung Merbabu juga ditunjang oleh pengamatan visual dari pos PGM Selo, pos terdekat dengan Gunung Merbabu. Pos PGM Selo tak mendeteksi adanya kepulan asap yang tak biasa ataupun suara dentuman dari arah Gunung Merbabu. Maka jelas bahwa Gunung Merbabu sama sekali tidak mengalami lonjakan aktivitas sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan pada saat ini.

Tektonik

Lalu, apa penyebab getaran di kaki Gunung Merbabu bagian utara itu? Apa pula yang menyebabkan terdengarnya suara dentuman? Mengapa rumah-rumah penduduk Sumogawe mengalami kerusakan?

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Cukup menarik pula bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ternyata merekam adanya gelombang seismik pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu. Gelombang tersebut terekam di berbagai stasiun BMKG di pulau Jawa, termasuk stasiun Sawahan (Nganjuk) dan stasiun Karangkates (Malang), keduanya di Jawa Timur. Gelombang seismik ini menunjukkan pola khas gempa tektonik. Analisis yang dilakukan rekan-rekan dalam Sistem Monitoring Gempabumi BMKG menunjukkan gempa tektonik tersebut berkekuatan 2,5 skala Richter dengan episentrum di lereng utara Gunung Merbabu. Jarak antara episentrum terhadap desa Sumogawe berkisar 6 km, sementara terhadap kota Salatiga berkisar 10 km. Namun jika galat pengukuran magnitudo dan koordinat episentrum dimasukkan, nyatalah bahwa desa Sumogawe masih berada dalam radius galat penentuan epiusentrum ini.

Gempa tektonik ini tergolong gempa dangkal karena sumbernya hanya sedalam 10 km. Untuk ukuran gempa bumi, magnitudo 2,5 skala Richter ini tergolong gempa kecil/lemah dan selalu bersifat/dirasakan dalam lingkup lokal saja. Maka wajar tatkala getaran gempa ini hanya dirasakan di kaki Gunung Merbabu bagian utara hingga kota Salatiga. Karena kerusakan terjadi di desa Sumogawe, tak salah jika gempa ini disebut sebagai Gempa Sumogawe.

Analisis kasar yang sempat saya kerjakan menunjukkan kecilnya kekuatan Gempa Sumogawe juga berimbas pada kecilnya intensitas getaran yang dihasilkan. Radius kawasan yang mengalami getaran berintensitas 2 MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah hingga 10 km dari episentrum, sementara kawasan yang tergetarkan dengan intensitas 1 MMI adalah hingga radius 36 km dari episentrum. Getaran dengan intensitas 2 MMI ini sesungguhnya getaran yang kecil, karena hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sedang berbaring, atau sedang duduk di lantai, ataupun yang sedang berada di lantai teratas gedung bertingkat. Sementara getaran 1 MMI bahkan tak bisa dirasakan oleh manusia dalam kondisi apapun dan hanya bisa diindra oleh instrumen pegukur gempa (seismometer). Getaran berintensitas 2 MMI sejatinya bukan getaran yang merusak bangunan. Kerusakan ringan (dalam bentuk retak-retak di dinding) baru terjadi jika getaran memiliki intensitas minimal 4 MMI. Dan kerusakan parah terjadi bila gempa menghasilkan getaran berintensitas 6 MMI atau lebih, meski semuanya masih bergantung kepada mutu bangunannya. Maka Gempa Sumogawe secara teoritis seungguhnya tidak menghasilkan getaran yang bisa merusak bangunan.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Penyebab rusaknya rumah-rumah warga di dusun Wiji desa Sumogawe mungkin terkait dengan struktur tanah setempat yang lebih lunak dibanding kawasan sekelilingnya. Tanah yang lebih lunak bersifat memperkuat getaran gelombang gempa yang melintasinya sehingga intensitas getarannya menjadi lebih besar ketimbang hasil prediksi. Dapat pula yang terjadi adalah pergeseran tanah (rayapan tanah) secara mendadak sebagai imbas dari getaran gempa, khususnya jika tanah setempat berkontur miring dan jenuh dengan air Sehingga lebih berat dibanding normalnya. Indikasi terjadinya pergeseran tanah salah satunya bisa dilihat dari terdengarnya suara dentuman, yang kerap kali terjadi di awal sebuah peristiwa pergeseran atau longsoran tanah. Namun untuk memastikannya perlu dilakukan penyelidikan langsung ke desa Sumogawe.

Yang jelas, getaran yang dialami penduduk kaki Gunung Merbabu bagian utara sama sekali tak terkait dengan aktivitas Gunung Merbabu. Getaran tersebut diakibatkan oleh peristiwa tektonik, yakni pematahan batuan dalam luasan tertentu di sebuah patahah (sesar) lokal setelah tak sanggup lagi menahan tekanan yang dideritanya secara terus-menerus akibat pergerakan tektonik regional.

Catatan: terima kasih untuk mas Januar Arifin dan rekan-rekannya di BMKG yang telah berbagi data.

Kelud, Si Gunung Berapi Penyapu (Peradaban)

Hingga Jumat siang 14 Februari 2014, Gunung Kelud diperkirakan telah mengeluarkan rempah letusan hingga 120 juta meter kubik. Ini masih angka perkiraan, sebab ada kemungkinan volume rempah Letusan Kelud 2014 melebihi angka 200 juta meter kubik. Andaikata 120 juta meter kubik rempah Letusan Kelud 2014 ini dituangkan seluruhnya ke DKI Jakarta, maka propinsi itu akan terkubur di bawah endapan setebal 16 cm.

Gambar 1. Sambaran kilat dan kepulan awan panas letusan yang membara (warna kemerahan) dalam tahap awal Letusan Kelud 2014, diabadikan oleh Hilmi dari Nglegok, Blitar. Nampak pula kolom letusan telah terbentuk, yang lantas menjulang hingga setinggi 20 km. Sumber: Hilmi, 2014.

Gambar 1. Sambaran kilat dan kepulan awan panas letusan yang membara (warna kemerahan) dalam tahap awal Letusan Kelud 2014, diabadikan oleh Hilmi dari Nglegok, Blitar. Nampak pula kolom letusan telah terbentuk, yang lantas menjulang hingga setinggi 20 km. Sumber: Hilmi, 2014.

Letusan utama berlangsung selama 3 jam penuh mulai Kamis 13 Februari 2014 pukul 22:50 WIB, sementara letusan-letusan minor menyusul hingga berbelas jam kemudian. Rempah letusan disemburkan tinggi ke langit hingga menjangkau ketinggian 20 km, menandakan betapa kuatnya tekanan gas vulkanik yang menyertai letusan Gunung Kelud kali ini. Kuatnya tekanan gas serta karakteristik magma yang sebagiannya membeku menjadi partikel-partikel debu vulkanik saat menyeruak keluar dari kepundan membuat partikel-partikel debu itu melejit dengan kecepatan sangat tinggi, bahkan melebih kecepatan suara (supersonik). Tingginya kecepatan dan besarnya kepekatan debu (kerapatan partikel debu per satuan volume) membuat peluang terjadinya gesekan antar partikel debu vulkanik menjadi sangat besar. Dengan sifat debu yang kering, gesekan menghasilkan pemusatan listrik statis yang kemudian menyambar-nyambar sebagai kilat seiring membumbungnya rempah letusan menghasilkan kolom letusan tipe erupsi vulkanian, yakni tipe erupsi yang membentuk tiang asap raksasa di atas kawah hingga ketinggian berkilo-kilometer.

Sebagai pembanding, Gunung Merapi memuntahkan 150 juta meter kubik rempah letusan saat letusan 2010-nya. Namun rempah sebanyak itu dihamburkan dalam waktu 1,5 bulan mulai dari akhir Oktober hingga pertengahan Desember 2010. Sebaliknya Gunung Kelud hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam untuk memuntahkan rempah letusan dalam jumlah yang hampir sama. Bila suhu dan karakteristik magma produk Letusan Kelud 2014 ini dianggap setara dengan Letusan Merapi 2010, maka Gunung Kelud pada kali ini melepaskan energi termal 21,6 megaton TNT. Energi tersebut setara dengan 1.080 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak. Dibandingkan dengan Letusan Sinabung 2013-2014 yang masih berlangsung hingga kini, energi Letusan Kelud 2014 adalah 50 kali lipat lebih besar.

Meletusnya Gunung Kelud ini terhitung cukup cepat mengingat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI baru menaikkan status aktivitasnya menjadi Waspada (Level 2) dari yang semula Aktif Normal (Level 1) pada 2 Februari 2014 lalu seiring melonjaknya jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal Gunung Kelud semenjak awal Januari 2014. Lonjakan ini menjadi pertanda bahwa magma segar di dalam perut bumi gunung berapi tersebut telah mulai bergerak. Hanya dalam 8 hari kemudian status Kelud kembali dinaikkan menjadi Siaga (Level 3) setelah aliran magma segar kian jelas terdeteksi lewat kian riuhnya gempa-gempa vlkanik dalam dan dangkal dengan jumlah energi seismik terus meningkat. Bahkan muncul indikasi magma segar telah mulai memasuki tubuh Gunung Kelud sehingga ia mulai membengkak/menggelembung seperti diperlihatkan oleh perubahan kemiringan lereng lewat pengukuran tiltmeter. Namun siapa sangka, hanya dalam 12 hari setelah dinyatakan Waspada, Gunung Kelud benar-benar meletus? Tetapi siapapun yang pernah mempelajari karakteristik gunung berapi yang satu ini takkan terkaget-kaget lagi melihatnya. Sebab memang seperti itulah Gunung Kelud.

Penyapu

Gambar 2. Panorama terakhir kawah Gunung Kelud dengan kubah lava 2007 (2007) yang masih berasap di latar depan dan kubah lava Kelud (Kd) di latar belakang pada Kamis 13 Februari 2014 pukul 17:55 WIB. Lima jam kemudian, kubah lava 2007 lenyap dalam Letusan Kelud 2014. Sumber: Badan Geologi, 2014.

Gambar 2. Panorama terakhir kawah Gunung Kelud dengan kubah lava 2007 (2007) yang masih berasap di latar depan dan kubah lava Kelud (Kd) di latar belakang pada Kamis 13 Februari 2014 pukul 17:55 WIB. Lima jam kemudian, kubah lava 2007 lenyap dalam Letusan Kelud 2014. Sumber: Badan Geologi, 2014.

Gunung Kelud adalah gunung berapi komposit yang menjulang di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang (Jawa Timur) dengan puncak berelevasi 1.713 meter dari permukaan laut (dpl). Untuk ukuran dengan gunung-gemunung berapi di Indonesia pada umumnya, Gunung Kelud tergolong gunung berapi yang rendah. Jika mengacu dari dataran rendah Kediri-Blitar yang dikenal sangat subur dan berpenduduk sangat padat, tinggi Gunung Kelud hanyalah sekitar 1.650 meter. Dan berbeda pula dibanding gunung-gemunung berapi pada umumnya yang berbentuk kerucut indah dengan kemiringan lereng yang berubah secara gradual dari landai (di kaki gunung) hingga curam (di puncak gunung), bentuk Gunung Kelud sangat tidak beraturan dengan tonjolan-tonjolan besar memenuhi puncaknya diselingi cekungan besar di antaranya. Tonjolan tersebut adalah kubah lava, jejak yang tersisa dari aktivitas Gunung Kelud purba. Terdapat lima kubah lava yang mengelilingi cekungan besar, yakni kubah lava Kombang (elevasi 1.514 meter dpl), Gajahmungkur (1.488 meter dpl), Lirang (1.414 meter dpl), Sumbing (1.531 meter dpl) dan kubah lava Kelud (1.731 meter dpl). Sebuah kubah lava lainnya menyembul di dalam cekungan besar khususnya pada titik pusat aktivitas Gunung Kelud masa kini, yang disebut kubah lava 2007 karena baru muncul pada 2007 silam.

Bentuk gunung yang ‘jelek’ ini merupakan imbas dari aktivitasnya selama ini, yang gemar ber-erupsi eksplosif (ledakan) sehingga merusak dirinya sendiri. Letusan yang paling merusak, sekaligus paling besar, terjadi lebih dari 100.000 tahun silam sebagai letusan lateral (terarah/mendatar) ke barat. Letusan tersebut membobol tubuh gunung bagian barat sekaligus melongsorkannya dalam volume sangat besar dan tergelincir hingga jarak cukup jauh, yakni 5 hingga 6 km dari pusat cekungan besar di puncak saat ini. Sisa-sisa letusan lateral nan dahsyat ini dapat dijumpai dalam rupa bukit-bukit kecil setinggi 300 hingga 700 meter dpl yang bertebaran di lereng barat Gunung Kelud. Letusan lateral tersebut demikian dahsyat sehingga membuat bentuk kerucut sempurna dari Gunung Kelud purba hancur sekaligus membongkarnya demikian rupa yang membuat kantung/saku magmanya pun terbuka ke udara luar dan kini menjadi cekungan besar di antara kubah-kubah lava Gunung Kelud. Di dalam cekungan besar inilah pusat aktivitas Gunung Kelud masa kini berada, yang berpindah-pindah dalam 10 kawah dengan pusat aktivitas terkini di kawah Kelud. Kawah Kelud terbentuk dalam letusan besar 2.400 tahun dengan dasar terletak pada elevasi 1.107 meter dpl dan bersifat kedap air sehingga selama itu pula sempat digenangi air dalam jumlah besar sebagai danau (telaga) kawah. Danau kawah menghilang pada 2007 silam seiring erupsi efusif (leleran) yang memunculkan kubah lava 2007.

Gambar 3. Panorama Gunung Kelud dari arah selatan, diambil dari dalam rangkaian kereta api menjelang stasiun Blitar pada 6 Agustus 2013 silam. Garis titik-titik merupakan perkiraan bentuk Gunung Kelud purba sebelum tubuhnya rusak menyusul letusan lateral lebih dari 100.000 tahun silam. Sb = kubah lava Sumbing, Kd = kubah lava Kelud. Sumber: Sudibyo, 2013.

Gambar 3. Panorama Gunung Kelud dari arah selatan, diambil dari dalam rangkaian kereta api menjelang stasiun Blitar pada 6 Agustus 2013 silam. Garis titik-titik merupakan perkiraan bentuk Gunung Kelud purba sebelum tubuhnya rusak menyusul letusan lateral lebih dari 100.000 tahun silam. Sb = kubah lava Sumbing, Kd = kubah lava Kelud. Sumber: Sudibyo, 2013.

Letusan-letusan eksplosifnya pula yang membuat gunung berapi ini menyandang nama Kelud, yang bermakna sapu. Sebab dahsyatnya letusannya telah berualng kali menyapu peradaban umat manusia yang tumbuh dan berkembang di dataran rendah Kediri-Blitar dan tercatat dalam sejarah. Di masa silam gunung berapi ini dikenal pula sebagai Gunung Kampud. Kampud memiliki arti serupa dengan Kelud, yakni sapu. Ia menyandang nama demikian karena aktivitasnya kerap ‘menyapu’ kawasan sekelilingnya tanpa ampun, termasuk menyapu peradaban manusia yang tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Dengan danau menghiasi kawahnya dan berisikan hingga puluhan juta meter kubik air, maka setiap kali Gunung Kelud meletus, magma yang dimuntahkannya sontak bercampur dengan air danau hingga meluap dan menjadi lahar letusan. Lahar letusan inilah yang menyapu kawasan sekeliling gunung dengan mengikuti aliran sungai-sungai Bladak, Konto, Ngobo, Sumberagung, Petungombo, Gedok, Abab, Semut, Putih dan Soso. Terjangan lahar letusan bisa menyapu apa saja yang dilaluinya dengan aliran cukup deras dan sanggup menjangkau radius 40 km dari danau kawah. Tak jarang derasnya aliran lahar letusan Kelud mampu menciptakan alur-alur baru sehingga sungai yang dilintasinya pun bergeser cukup jauh dari alurnya semula. Begitu lahar letusan usai melanda, sontak lansekap sekitar Gunung Kelud berubah dramatis dengan timbunan lumpur yang bisa mencapai ketebalan bermeter-meter.

Catatan kedahsyatan letusan Gunung Kelud sudah tecermin dari 12 abad silam atau tepatnya sejak era kerajaan Medang (Mataram Kuno). Hempasan dan endapan lahar letusan telah cukup menyulitkan perikehidupan masyarakat disekitarnya. Sehingga upaya mengatasinya telah dilakukan lewat pembangunan bendungan (mula dawuhan) dan saluran air (dharma kali) guna menyudet Sungai Konto ke Sungai Harinjing. Bendungan itu terletak di Desa Siman, Kecamatan Kepung (Kediri), yang dibangun pada tahun 804. Seiring kerap meletusnya Gunung Kelud, pemeliharaan saluran pun berulang–kali dilakukan dan diabadikan dalam prasasti Harinjing yang berangka tahun 921 dan dikeluarkan pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong.

Gambar 4. Peta topografi Gunung Kelud masa kini dengan posisi kawahnya, yang ditandai oleh kubah lava 2007. Lingkaran berangka 10, 12 dan 20 masing-masing adalah wilayah beradius mendatar 10 km, 12 km dan 20 km dari kubah lava 2007. Radius 10 km adalah kawasan terlarang yang dinyatakan PVMBG menyusul Letusan Kelud 2014. Radius 12 km adalah prakiraan jangkauan terjauh awan panas letusan Kelud menurut Zaenuddin (2009), dimana daerah yang kemungkinan terlanda awan panas letusan ditandai dengan warna merah. Nampak posisi Candi Penataran di sebelah utara kota Blitar. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 4. Peta topografi Gunung Kelud masa kini dengan posisi kawahnya, yang ditandai oleh kubah lava 2007. Lingkaran berangka 10, 12 dan 20 masing-masing adalah wilayah beradius mendatar 10 km, 12 km dan 20 km dari kubah lava 2007. Radius 10 km adalah kawasan terlarang yang dinyatakan PVMBG menyusul Letusan Kelud 2014. Radius 12 km adalah prakiraan jangkauan terjauh awan panas letusan Kelud menurut Zaenuddin (2009), dimana daerah yang kemungkinan terlanda awan panas letusan ditandai dengan warna merah. Nampak posisi Candi Penataran di sebelah utara kota Blitar. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Di kemudian hari, saat Mpu Sindok memutuskan untuk memindahkan ibukota kerajaan dari Medang i Bhumi Mataram (kemungkinan di sekitar Yogyakarta) dan memulai periode Jawa Timur, pada akhirnya lembah subur di dataran Kediri-Blitar pun dipilih sebagai tempat berdirinya ibukota yang baru, yang dinamakan Medang i Wwatan (kini Wotan, di sekitar Madiun). Kota ini memangs empat mengalami petaka seiring invasi besar–besaran kerajaan Lwaram (kini Ngloram, di dekat Blora, Jawa Tengah). Atas dukungan kuat imperium Sriwijaya, Lwaram menumpas habis isi istana Wwatan dan hanya menyisakan seorang Airlangga yang berhasil meloloskan diri ke Bali. Begitu situasi mereda, Airlangga kembali dan selanjutnya mendirikan kerajaan Kahuripan sebagai penerus Medang. Ibukotanya juga berpindah–pindah sebelum akhirnya kembali menempati dataran rendah Kediri-Blitar. Maka didirikanlah kota Dahanapura, yang secara harfiah berarti kota api. Nama Dahanapura (kini di sekitar Kediri) kemungkinan merujuk kepada Gunung Kelud yang memang ada di dekatnya. Dahanapura lebih dikenal dengan nama pendeknya, yakni Daha.

Raden Wijaya – Bung Karno

Dahanapura selanjutnya menjadi ibukota kerajaan Panjalu (Kadiri), yang muncul sekitar tahun 1042 dan bertahan hingga hampir dua abad kemudian sebelum pemberontakan Ken Arok menamatkannya pada 1222 lewat pertempuran Ganter (kini di dekat Pujon, Malang). Suburnya dataran Kediri–Blitar benar–benar dimanfaatkan dengan baik, sehingga Panjalu mencapai puncak kemakmurannya pada era Jayabhaya, sehingga menjadi kerajaan terkaya di Jawa. Kekayaannya sejajar dengan Abbasiyah (Arab) dan Sriwijaya (Sumatra), seperti termaktub dalam berita Ling wai tai ta (tahun 1178) dari Cina. Meski Panjalu kemudian punah, kota Dahanapura tetap bertahan berabad–abad kemudian, bahkan hingga akhir era kerajaan Majapahit. Selama waktu itu pula Gunung Kelud tetap memegang peranan penting bagi peradaban manusia masa itu. Letusan gunung berapi ini bahkan disebut-sebut sebagai salah satu peristiwa yang menandai kelahiran Dyah Wijaya (Raden Wijaya), pendiri kerajaan Majapahit. Berabad kemudian letusan Gunung Kelud pun dinisbatkan sebagai pertanda lahirnya Soekarno, yang kelak dikemudian hari menjadi presiden pertama Indonesia. Meski jika ditelaah lebih lanjut sejatinya tanggal kelahiran Bung Karno, yakni 6 Juni 1901, tidak persis benar bertepatan dengan Letusan Kelud 1901, yang hanya terjadi pada 22 hingga 23 Mei 1901.

Gambar 5. Bagaimana kolom debu Letusan Kelud 2014 menyeruak dalam citra satelit dalam empat jam pertama letusan. Kolom debu letusan Gunung Kelud ditandai dengan panah kuning. Terlihat pada jam 23:00 WIB (sejam setelah meletus), kolom debunya masih berukuran kecil, sferis (mendekati bundar) dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak kolom debu semakin meluas dan mulai melonjong mengikuti hembusan angin. Diabadikan dengan satelit MTSAT-2 pada spektrum cahaya inframerah. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 5. Bagaimana kolom debu Letusan Kelud 2014 menyeruak dalam citra satelit dalam empat jam pertama letusan. Kolom debu letusan Gunung Kelud ditandai dengan panah kuning. Terlihat pada jam 23:00 WIB (sejam setelah meletus), kolom debunya masih berukuran kecil, sferis (mendekati bundar) dan lebih padat dibanding tekstur awan disekelilingnya. Pada jam-jam berikutnya nampak kolom debu semakin meluas dan mulai melonjong mengikuti hembusan angin. Diabadikan dengan satelit MTSAT-2 pada spektrum cahaya inframerah. Sumber: NASA, 2014.

Selama era Panjalu, Gunung Kelud dianggap sebagai gunung suci dan menjadi bagian dari Gunung Meru dalam perspektif Hindu dan Buddha. Kepercayaan lokal juga meyakini puncak Gunung Kelud merupakan tempat hunian dewa lokal. Untuk menghormatinya dibangun tempat pemujaan disekitar Gunung Kelud dalam rupa Candi Penataran (Palah), Wringinbranjang dan Gambarwetan. Selain sebagai tempat pemujaan, candi-candi tersebut khususnya Candi Penataran juga ditujukan untuk mitigasi bencana letusan secara religius–magis, yakni untuk meredam murka penguasa gunung. Pentingnya posisi Candi Penataran diperlihatkan prasasti Palah (berangka tahun 1197) dari era Kertajaya, yang menetapkan Desa Palah sebagai sima dengan kewajiban memelihara bangunan suci Candi Palah untuk pemujaan batara. Candi ini masih berfungsi hingga masa Majapahit, seperti diperlihatkan dalam kitab Nagarakertagama (Desawarnana) saat Hayam Wuruk mengunjungi candi ini dalam rangkaian perjalanan panjangnya ke pelosok-pelosok wilayah kerajaan.

Namun aktivitas Gunung Kelud pulalah yang menjadi salah satu faktor geologis penentu kejatuhan Majapahit. Tiap kali meletus, Gunung Kelud memencarkan lahar letusannya ke sungai-sungai yang seluruhnya bermuara ke sungai Brantas. Sehingga sebagian rempah letusan pun lambat laun akan memasuki aliran sungai Brantas, khususnya saat musim hujan sebagai lahar hujan (lahar dingin). Persoalan besar pun muncul karena di muara sungai ini berdiri pelabuhan Canggu (kini di utara Mojokerto), yang adalah pelabuhan utama Majapahit. Pelan namun pasti rempah letusan Kelud pun mendangkalkan muara sungai Brantas sekaligus membentuk daratan baru sebagai delta Brantas. Akibatnya pelabuhan Canggu pun kian menjorok ke daratan dan kian dangkal sehingga tak bisa lagi disinggahi kapal-kapal besar. Terbentuknya delta Brantas membuat Surabaya, yang semula adalah laut dangkal berhias pulau-pulau kecil, pun berubah menjadi daratan.

Letusan 2014

Gambar 6. Pesawat yang terpapar debu tergolek di landasan yang dipenuhi debu vulkanik Letusan Kelud 2014 di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, pada Jumat 14 Februari 2014. Sumber: Tempo, 2014.

Gambar 6. Pesawat yang terpapar debu tergolek di landasan yang dipenuhi debu vulkanik Letusan Kelud 2014 di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, pada Jumat 14 Februari 2014. Sumber: Tempo, 2014.

Sepanjang abad ke-20, Gunung Kelud telah meletus lima kali masing-masing pada 1901, 1919, 1951, 1966 dan 1990. Setiap letusan memuntahkan rempah letusan yang cukup banyak, namun berlangsung dengan durasi singkat (tak sampai 24 jam). Dari sifat inilah kini kita mengetahui bahwa kantung magma Kelud, yakni tempat penampungan (reservoir) magma yang tepat berada di bawah gunung berapi itu, berukuran kecil sehingga cepat terkuras habis kala meletus. Dalam setiap letusan, volume air danau kawah berbeda-beda. Semakin besar volume airnya, semakin besar pula jangkauan lahar letusannya dan semakin besar pula korban jiwa yang direnggutnya. Letusan Kelud 1919 terjadi kala danau kawah berisi 40 juta meter kubik air, sehingga lahar letusannya meluncur hingga sejauh 37,5 km dari danau kawah. Bersama lahar letusan meluncur pula awan panas letusan, yang menjalar hingga sejauh 10 km dari danau kawah. Sebagai akibatnya 5.110 orang meregang nyawa.

Letusan Kelud 1919 memberi pelajaran berharga bagi pemerintahan saat itu untuk mulai membentuk lembaga khusus pemantau gunung berapi. Dinas penjagaan gunung berapi (vulkaanbewakingdienst) pun dibentuk di bawah Dinas Pertambangan Hindia Belanda. Di kemudian hari setelah Indonesia merdeka, institusi ini berevolusi menjadi Direktorat Vulkanologi di bawah Departemen Pertambangan dan Energi dan kini menjadi PVMBG. Letusan itu sekaligus mengajarkan bahwa hanya dengan mengontrol volume air danau kawah Kelud sajalah marabahaya lebih besar bisa diminimalkan saat Gunung Kelud meletus. Maka terowongan pengontrol pun dibangun. Sehingga saat Gunung Kelud kembali meletus pada 1951, volume air danau kawah hanya sebesar 1,8 juta meter kubik dan langsung menguap tatkala bersentuhan dengan magma segar. Sehingga tak ada lahar letusan yang terbentuk. Pun pada Letusan Kelud 1990, dimana volume air danau kawah hanya sebesar 2,5 juta meter kubik dan juga langsung habis menguap tanpa sempat tumpah menjadi lahar letusan.

Gambar 7. Masjid Agung Kebumen yang berselimut debu vulkanik pekat pada Jumat 14 Februari 2014. Ketebalan debu mencapai 2 cm atau lebih, padahal lokasi ini terletak 300 km di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Gambar 7. Masjid Agung Kebumen yang berselimut debu vulkanik pekat pada Jumat 14 Februari 2014. Ketebalan debu mencapai 2 cm atau lebih, padahal lokasi ini terletak 300 km di sebelah barat Gunung Kelud. Sumber: Warta Kebumen, 2014.

Bagaimana dengan Letusan Kelud 2014 ?

Pada Oktober-November 2007 silam, Gunung Kelud pun sebenarnya meletus. Namun berbeda dengan hampir sebagian besar letusannya sepanjang sejarah, letusan tersebut lebih bersifat efusif dan hanya memunculkan tumpukan magma segar yang membukit sebagai kubah lava. Saat itu diperkirakan Gunung Kelud siap memuntahkan 50 juta meter kubik magma dengan 16 juta meter kubik diantaranya menyembul sebagai kubah lava, yang disebut kubah lava 2007. Kubah lava ini berbentuk kerucut raksasa setinggi 215 meter dari dasar dengan lebar 470 meter. Terbentuknya kubah lava 2007 mengandung sejumlah implikasi. Salah satunya, letusan Gunung Kelud berikutnya akan cukup dahsyat karena butuh energi sangat besar untuk bisa menghancurkan kubah lava 2007 yang menjadi sumbat penutup mulut saluran magma. Sebab hanya dengan penghancuran sumbat itulah maka magma segar bisa muncul ke permukaan.

Penghancuran kubah lava 2007 inilah yang akhirnya benar-benar terjadi pada 13 Februari 2014 malam. Dengan volume kubah lava dan akarnya demikian besar, tentu butuh energi sangat besar yang dimanifestasikan oleh tekanan gas sangat kuat agar kubah lava 2007 bisa jebol. Inilah pula yang menyebabkan gemuruh suara letusan terdengar hingga jarak cukup jauh, bahkan hingga ke Kebumen-Purbalingga di Jawa Tengah yang secara geografis berjarak 300 km dari Gunung Kelud. Gemuruh suara letusan serta gempa-gempa yang menyertai jebolnya kubah lava 2007 bahkan terekam jelas di pos-pos pengamatan Gunung Merapi. Segera setelah kubah lava 2007 jebol dan hancur, magma segar menyeruak membentuk kolom letusan hingga setinggi 20 km untuk kemudian terbang ke barat-barat daya seiring hembusan angin. Bagian yang lebih berat yakni kerikil (lapili), bongkahan bebatuan (bom vulkanik) dan pasir berjatuhan di sekitar tubuh dan kaki gunung. Namun bagian yang lebih kecil, yakni debu, terbang terhanyut bersama angin dan menyebar ke area sangat luas hingga sejauh lebih dari 1.000 km. Hampir seluruh Jawa Timur dan Jawa Tengah serta sebagian Jawa Barat merasakan terpaan debu vulkanik Letusan Kelud 2014 ini. Hujan debu yang mengguyur kota-kota seperti Yogyakarta dan Kebumen bahkan dirasa lebih parah ketimbang peristiwa sejenis kala Letusan Merapi 2010 silam. Akibatnya sebagian pulau Jawa nyaris seperti kota mati saat hujan debu menerpa pada Jumat 14 Februari 2014.

Gambar 8. Sebaran debu vulkanik (plume) produk Letusan Kelud 2014 berdasarkan observasi instrumen MODIS pada satelit Aqua milik NASA hingga 14 Februari 2014. Nampak debu vulkanik lebih dominan menyebar ke arah barat daya menuju ke Samudera Hindia. Sumber: NASA, 2014 dengan garis putus-putus ditambahkan oleh Sudibyo, 2014.

Gambar 8. Sebaran debu vulkanik (plume) produk Letusan Kelud 2014 berdasarkan observasi instrumen MODIS pada satelit Aqua milik NASA hingga 14 Februari 2014. Nampak debu vulkanik lebih dominan menyebar ke arah barat daya menuju ke Samudera Hindia. Sumber: NASA, 2014 dengan garis putus-putus ditambahkan oleh Sudibyo, 2014.

Jika Letusan Kelud 2014 ini memuntahkan 120 juta meter kubik rempah vulkanik, maka letusan Gunung Kelud kali ini masih tetap bertengger di skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index) alias serupa dengan seluruh letusan di abad ke-20 kecuali Letusan Kelud 1966. Letusan berskala 4 VEI terjadi jika volume rempah letusan melebihi 100 juta meter kubik namun kurang dari 1 milyar meter kubik. Dengan demikian Letusan Kelud 2014 sekelas dengan Letusan Merapi 2010. Secara teoritis Letusan Kelud 2014 memuntahkan lebih dari 700 ribu ton gas belerang (SO2) yang bakal beraksi dengan uap air di udara membentuk 1,4 juta ton aerosol. Jumlah ini masih 20 kali lipat lebih rendah dibanding ambang batas jumlah aerosol vulkanik untuk memicu gangguan iklim global, yakni 30 juta ton. Dengan demikian Letusan Kelud 2014 masih belum cukup untuk memicu penurunan suhu global yang berakibat pada kekacauan iklim, sebagaimana yang dilakukan Letusan Krakatau 1883 dan Letusan Tambora 1815. Sekalipun tak berdampak global, namun dampak regionalnya cukup parah. Sejauh ini tujuh bandar udara telah ditutup akibat terpaan debu vulkanik, sehingga ratusan penerbangan terpaksa dibatalkan. Transportasi darat pun banyak yang tak beroperasi, baik dalam propinsi maupun antar propinsi. Jumlah pemukiman dan infrastruktur yang rusak masih belum diketahui, namun dengan dahsyatnya letusan maka jelas angkanya cukup besar khususnya untuk kawasan yang berjarak hingga 10 km dari kawah Gunung Kelud.

Namun begitu di balik semua dampak bencana Letusan Kelud 2014, patut disyukuri bahwa amukan Gunung Kelud kali ini tidak merenggut banyak korban. Hingga sejauh ini tercatat 12 orang meninggal sementara jumlah pengungsi secara akumulatif mencapai 76.388 jiwa yang berasal dari kawasan terdampak di lima kabupaten/kota. Patut disyukuri pula bahwa saat Gunung Kelud meletus, hembusan angin mengarah ke barat-barat daya. Sehingga debu vulkanik Kelud pun terhanyut ke sana. Tak terbayang jika saat itu hembusan angin mengarah ke barat laut. Sebab jika demikian maka debu vulkanik kelud akan menghujani pusat-pusat perekonomian utama di pulau Jawa dan Sumatra dengan potensi kerugian jauh lebih besar lagi.

Gambar 9. Distribusi gas belerang (SO2) produk Letusan Kelud 2014 seperti direkam oleh satelit MetOp-A dan MetOp-B milik ESA (European Space Agency) hingga 14 Februari 2014. Seperti halnya distribusi debu vulkaniknya, gas belerang pun lebih dominan mengarah ke barat daya, menjauhi daratan pulau Jawa. Sumber: ESA, 2014.

Gambar 9. Distribusi gas belerang (SO2) produk Letusan Kelud 2014 seperti direkam oleh satelit MetOp-A dan MetOp-B milik ESA (European Space Agency) hingga 14 Februari 2014. Seperti halnya distribusi debu vulkaniknya, gas belerang pun lebih dominan mengarah ke barat daya, menjauhi daratan pulau Jawa. Sumber: ESA, 2014.

Hingga Sabtu 15 Februari 2014, secara teknis Letusan Kelud 2014 sudah hampir usai. Seluruh magma segarnya sudah dimuntahkan khususnya tempo hanya sekitar 3 jam sejak letusan dimulai. Tidak ada lagi pasokan magma segar menuju kawah sebagaimana diperlihatkan oleh minimnya gempa-gempa vulkanik dangkal dan dalam. Yang masih tersisa tinggal erupsi minor, yakni semburan gas-gas vulkanik yang turut menyeret partikel-partikel debu/lebih besar sehingga nampak sebagai kepulan asap berwarna kehitaman. Kepulan debu dalam erupsi minor mungkin akan setinggi 1 hingga 3 km dari kawah, namun tak setinggi kolom erupsi utama yang sempat menembus ketinggian 20 km itu. Meski demikian PVMBG tetap bersikap menunggu dinamika sinyal-sinyal yang dipancarkan Gunung Kelud hingga beberapa hari ke depan sebelum mengevaluasi status Awas (Level 4). Sebab gunung berapi memang punya iramanya masing-masing. Maka kala aktivitasnya mulai menurun seperti saat ini, belum tentu dalam beberapa hari ke depan ia akan tetap bersikap sama.

Referensi :

Zaenuddin. 2009. Prakiraan Bahaya Erupsi Gunung Kelud. Buletin Vulkanologi dan Bencana Geologi vol 4 no 2 (Agustus 2009), 1-17.

Zaenuddin. 2008. Kubah Lava Sebagai Salah Satu Ciri Hasil Letusan Gunung Kelud. Buletin Vulkanologi dan Bencana Geologi vol 3 no 2 (Agustus 2008), 19-29.

Hidayati dkk. 2009. Emergence of Lava Dome from the Crater Lake of Kelud Volcano, East Java. Jurnal Geologi Indonesia vol 4 no 4 (Desember 2009), 229-238.

Haerani dkk. 2010. Deformasi Gunung Kelud Pascapembentukan Kubah Lava November 2007. Jurnal Geologi Indonesia vol 5 no 1 (Maret 2010), 13-30.

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia vol 1 no 4 (Desember 2006), 209-227.