Surut Laut di Karangantu (Serang) Bukan Tsunami

Selama seminggu terakhir terjadi fenomena aneh di pesisir Karangantu, Kabupaten Serang (Banten). Fenomena aneh itu adalah surutnya permukaan air Laut Jawa yang cukup ekstrim hingga garis batas air-daratan pun bergeser hingga sejauh sekitar 1 km dari semula. Sebagai akibatnya nelayan setempat pun kesulitan untuk melaut karena kapal-kapal mereka terdampar di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu. Hanya di malam hari saja, yakni kala air laut kembali naik, kapal-kapal tersebut bisa mengangkat sauh menuju laut. Selain itu fenomena tersebut juga memunculkan daratan tambahan yang menjadi jalan berliku penghubung pantai dengan pulau-pulau kecil di perairan itu. Surutnya laut pun membuat banyak ikan bermatian, menggelepar di dasar yang kini tak berair.

Gambar 1. Pesisir Karangantu yang mengalami surut laut di siang hari dan menjadi tontotan masyarakat setempat. Sumber: Banten News, 2014.

Gambar 1. Pesisir Karangantu yang mengalami surut laut di siang hari dan menjadi tontotan masyarakat setempat. Sumber: Banten News, 2014.

Peristiwa yang tak biasa itu membuat banyak orang berspekulasi. Banyak yang menduga hal itu terkait aktivitas Gunung Krakatau di Selat Sunda. Beberapa juga menyebutnya sebagai pertanda awal tsunami, merujuk pada kejadian tsunami 2004 di ujung utara pulau Sumatra yang juga diawali dengan surut laut yang sangat ekstrim. Tsunami menjadi kosakata yang selalu disebut-sebut setelah sebagian besar pulau Jawa bergetar dalam Gempa Kebumen 25 Januari 2014. Di Jawa Tengah bagian selatan khususnya di Kabupaten Cilacap dan Kebumen, isu tsunami yang tak berkeruncingan terus saja merebak, khususnya melalui pesan (SMS) berantai. Isu-isu tersebut selalu menyebut sedang terjadinya peristiwa surut laut di Samudera Hindia.

Maka, sesungguhnya fenomena apa yang sedang terjadi di pesisir Karangantu dan sekitarnya?

Bukan Tsunami

Kata kunci untuk menelaah apa kemungkinan penyebab peristiwa surut laut di pesisir Karangantu dan sekitarnya ada pada durasinya. Jika dicermati lebih lanjut, surut laut itu terjadi selama seminggu terakhir. Surut laut juga hanya terjadi di waktu siang sehingga kapal-kapal nelayan tak bisa menjangkau laut. Begitu malam hari, surut laut ini menghilang karena kapal-kapal nelayan kembali bisa berlayar. Sehingga peristiwa surut lautnya mengandung pola berulang-ulang (siklik). Ciri seperti ini jelas bukan ciri-ciri tsunami.

Gambar 2. Lokasi pesisir Karangantu, Kabupaten Serang (Banten) dalam citra Google Maps. Nampak pesisir berada dalam sebuah teluk dangkal dengan pulau Panjang dan tebaran pulau-pulau kecil dihadapannya. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 2. Lokasi pesisir Karangantu, Kabupaten Serang (Banten) dalam citra Google Maps. Nampak pesisir berada dalam sebuah teluk dangkal dengan pulau Panjang dan tebaran pulau-pulau kecil dihadapannya. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Tsunami adalah gelombang transversal yang menjalar di laut/samudera sebagai gelombang dangkal, yakni gelombang yang panjang gelombangnya jauh lebih besar dibanding kedalaman perairan yang dilintasinya. Sementara kecepatannya berbanding lurus dengan kedalaman lokasi terbentuknya. Makin dalam laut/samudera di tempat tsunami terbentuk, makin tinggi kecepatannya. Sebagai konsekuensi dari panjang gelombang yang besar dan kecepatan yang tinggi, maka tsunami memiliki periode yang cukup besar. Jika gelombang laut biasa pada umumnya memiliki periode 10 hingga 20 detik, maka tsunami memiliki periode jauh lebih besar yakni antara 5 menit hingga 20 menit. Saat tsunami mulai mendekati garis pantai, kecepatannya memang menurun drastis sebagai akibat dari kian mendangkalnya dasar laut. Penurunan kecepatan berimbas pada pemendekan panjang gelombang sekaligus bertambahnya amplitudo gelombang seiring penumpukan massa air laut. Sehingga tinggi tsunami kala mendekati garis pantai jauh berkali-kali lipat lebih besar dibanding saat masih di tengah-tengah laut/samudera. Namun meski kecepatannya menurun, mengecilnya panjang gelombang membuat periode tsunami relatif tak berubah banyak dibanding semula.

Sebagai gelombang transversal, tsunami terdiri dari bukit gelombang dan lembah gelombang. Periode tsunami adalah selang waktu yang diperlukan untuk menempuh satu panjang gelombang yang mencakup gabungan sebuah bukit gelombang dan sebuah lembah gelombang. Di Indonesia, hampir seluruh tsunami yang pernah terjadi bersumber dari gempa tektonik berkekuatan besar dengan sumber di dasar laut. Karakteristik sumber gempa membuat tsunami yang menjalar menuju pantai terdekat di Indonesia selalu didului oleh lembah gelombang, baru kemudian diikuti bukit gelombang. Karena itu tatkala tsunami bersiap tiba di pantai selalu didului peristiwa laut surut karena lembah gelombang yang lebih dulu datang. Sehingga surut laut yang mendului sebuah peristiwa tsunami secara umum terjadi dalam waktu setengah periode sebelum gelombang yang tinggi datang. Dengan periode tsunami antara 5 hingga 20 menit, peristiwa surut laut yang mendahului tsunami secara teoritis hanya terjadi dalam waktu 2,5 hingga 10 menit sebelum tsunami datang menerjang. Sifat ini tidak cocok dengan karakteristik peristiwa surut laut di pesisir Karangantu.

Gambar 3: Gelombang transversal seperti halnya gelombang tsunami, dalam bentuk idealnya. Waktu untuk menempuh satu panjang gelombang disebut periode. Jika tsunami datang ke pesisir sebagai lembah gelombangnya terlebih dahulu, maka dibutuhkan waktu setengah periode saja sebelum bukit gelombang menerjang. Dengan periode tsunami berkisar 5 hingga 20 menit, maka terjangan bukit gelombang akan datang dalam tempo 2,5 hingga 10 menit pasca surutnya permukaan air laut. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3: Gelombang transversal seperti halnya gelombang tsunami, dalam bentuk idealnya. Waktu untuk menempuh satu panjang gelombang disebut periode. Jika tsunami datang ke pesisir sebagai lembah gelombangnya terlebih dahulu, maka dibutuhkan waktu setengah periode saja sebelum bukit gelombang menerjang. Dengan periode tsunami berkisar 5 hingga 20 menit, maka terjangan bukit gelombang akan datang dalam tempo 2,5 hingga 10 menit pasca surutnya permukaan air laut. Sumber: Sudibyo, 2014.

Pasang Surut

Lantas apa penyebabnya?

Karena pola surut lautnya bersifat berulang-ulang, maka peristiwa ini jelas dipicu oleh penyebab konstan (selalu ada). Dan salah satu kemungkinannya adalah peristiwa pasang surut air laut. Pasang surut merupakan peristiwa naik dan turunnya permukaan air laut/samudera yang disebabkan oleh dinamika benda-benda langit dalam rupa tarikan gravitasi Bulan dan Matahari serta rotasi Bumi. Meski berhadapan dengan Bulan dan Matahari yang sama, namun setiap titik di pesisir laut/samudera di Bumi memiliki pola pasang surutnya masing-masing yang dipengaruhi oleh kekhasan samudera dihadapannya maupun oleh bentuk garis pantai dan kedalaman dasar laut di dekat garis pantai. Maka pola pasang surut di sebuah pantai adalah khas, ada yang mengikuti siklus diurnal dimana dalam sehari semalam (24 jam) hanya ada satu kali kejadian pasang dan juga satu kali kejadian surut. Namun ada juga yang mengikuti siklus semi-diurnal, dimana dalam sehari semalam masing-masding terjadi dua kali pasang dan sua kali surut. Selisih antara satu peristiwa pasang dengan pasang berikutnya yang berurutan adalah lebih dari 12 jam, tepatnya 12 jam 25 menit, yang disebabkan oleh selisih waktu suatu peristiwa terbitnya Bulan dengan peristiwa terbit Bulan berikutnya yang berurutan.

Sebagai kawasan pesisir, Karangantu dan sekitarnya pun mengalami fenomena pasang surut. Dan karena secara geografis ia berada di dalam sebuah teluk berukuran cukup besar yang dangkal yang di mukanya terdapat sebuah pulau cukup besar (yakni pulau Panjang) dan tebaran pulau-pulau kecil lainnya, maka pola pasang surut di Karangantu tentu berbeda dengan pola pasang surut di Teluk Jakarta, misalnya di Tanjung Priok. Meskipun kedua lokasi tersebut sama-sama berada di pesisir Laut Jawa dan relatif berdekatan.

Gambar 4. Grafik prediksi selisih elevasi air laut di Karangantu antara pasang tertinggi dan surut terendah sepanjang 22 Januari 2014 hingga 4 Februari 2014 berdasarkan data prediksi dari P3SDLP. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data P3SDLP.

Gambar 4. Grafik prediksi selisih elevasi air laut di Karangantu antara pasang tertinggi dan surut terendah sepanjang 22 Januari 2014 hingga 4 Februari 2014 berdasarkan data prediksi dari P3SDLP. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data P3SDLP.

Pesisir Karangantu memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai yang tergolong ramai. Maka tempat ini menjadi salah satu titik yang diprediksikan sifat pasang surutnya dari hari ke hari oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Prediksi ini tentu tidak sama persis dengan situasi sesungguhnya, karena harus dikoreksi dengan faktor koreksi pasut (pasang surut) yang bisa diperoleh dari hasil pengamatan PPP Karangantu khususnya dengan menggunakan instrumen pengukur pasang surut (tide gauge). Namun selisih antara prediksi pasang surut dengan kenyataan umumnya tidak besar, sehingga prediksinya bisa dijadikan pegangan.

Pasang surut air Laut Jawa di pesisir Karangantu ternyata mengikuti siklus semi-diurnal. Sehingga dalam sehari terjadi dua kali peristiwa pasang dan dua kali peristiwa surut. Dalam setiap harinya pun terdapat pasang tertinggi dan surut terendah. Selisih elevasi permukaan laut di antara pasang tertinggi dan surut terendah bervariasi dari hari ke hari. Namun berdasarkan data prediksi P3SDLP semenjak 22 Januari 2014 hingga 4 Februari 2014, selisih elevasi yang tergolong tinggi (yakni melebihi 60 cm) terjadi secara berturut-turut pada 1, 2, 3 dan 4 Februari 2014. Pada hari-hari tersebut pasang tertinggi terjadi pagi hari yakni pada jam 09:00-10:00 WIB sementara surut terendah terjadi 6 jam kemudian di sore hari. Pada saat yang sama perairan ini juga memiliki surut terendah yang terhitung besar ( lebih besar dari 35 cm di bawah muka air laut rata-rata) terhitung semenjak 2 Februari 2014. Selisih elevasi yang cukup tinggi dan surut terendah yang besar inilah nampaknya menjadi penyebab pada peristiwa surut laut yang berulang-ulang di siang hari pada pesisir Karangantu dan sebaliknya di malam hari situasi kembali ‘normal’. Dengan dasar teluk yang relatif dangkal, maka saat surut terendah terjadi permukaan air laut akan berkesan turun cukup drastis

Gambar 5. Grafik prediksi elevasi air laut saat surut terendah di Karangantu sepanjang 22 Januari 2014 hingga 4 Februari 2014 berdasarkan data prediksi dari P3SDLP. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data P3SDLP.

Gambar 5. Grafik prediksi elevasi air laut saat surut terendah di Karangantu sepanjang 22 Januari 2014 hingga 4 Februari 2014 berdasarkan data prediksi dari P3SDLP. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data P3SDLP.

Apakah prediksi pasang surut laut di pesisir Karangantu dari P3SDLP itu sesuai dengan kenyataan? Hal itu sesungguhnya bisa dicek dengan tide gauge yang ada di PPP Karangantu (jika ada) maupun pelabuhan-pelabuhan didekatnya, misalnya pelabuhan PLTU Suralaya ataupun pelabuhan penyeberangan Merak yang berada di tepi Selat Sunda. Namun sulit untuk mendapatkan data-datanya karena tide gauge-nya belum realtime. Pemantauan dinamika permukaan air laut yang terdekat dengan Karangantu dan realtime hanya dijumpai pada pelampung (buoy) nomor 56001 yang terletak di tengah-tengah Samudera Hindia sejauh sekitar 200 km di selatan pesisir Jawa Tengah. Berdasarkan grafik dinamika permukaan air laut yang direkam pelampung ini seperti diperoleh dari Pusat Data Buoy Indonesia (PDBI), maka selisih elevasi pasang tertinggi dan surut terendah di sini mencapai 2 meter, melebihi apa yang terjadi Karangantu. Sifat pasang-surut di samudera terbuka yang dalam (kedalaman di lokasi buoy ini adalah 5,6 km) jelas berbeda dibanding perairan dangkal berteluk seperti pesisir Karangantu. Namun begitu pola kenaikan dan penurunan permukaan lautnya relatif serupa.

Gambar 6. Perbandingan antara nilai prediksi elevasi air laut Karangantu (bintik hitam) dengan rekaman dinamika elevasi air laut di Samudera Hindia oleh pelampung 56001 (kurva biru-merah). Perhatikan bahwa meskipun puncak-puncak pasang di Karangantu terjadi beberapa jam lebih awal dibanding Samudera Hindia, namun pola naik-turunnya elevasi permukaan laut di kedua tempat cenderung sama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari PDBI BPPT dan P3SDLP.

Gambar 6. Perbandingan antara nilai prediksi elevasi air laut Karangantu (bintik hitam) dengan rekaman dinamika elevasi air laut di Samudera Hindia oleh pelampung 56001 (kurva biru-merah). Perhatikan bahwa meskipun puncak-puncak pasang di Karangantu terjadi beberapa jam lebih awal dibanding Samudera Hindia, namun pola naik-turunnya elevasi permukaan laut di kedua tempat cenderung sama. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari PDBI BPPT dan P3SDLP.

Dengan demikian, di atas kertas penyebab peristiwa surut laut di pesisir Karangantu dan sekitarnya lebih merupakan pasang surut biasa saja. Hanya memang kombinasi posisi Bulan, Matahari dan rotasi Bumi serta karakteristik garis pantai dan kedalaman dasar teluk di pesisir Karangantu-lah yang membuat kejadian surut terendah di awal Februari 2014 ini lebih besar ketimbang sebelumnya. Sebagai tambahan, tim BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Serang pun berpendapat bahwa penyebabnya juga pasang surut, meski ada faktor-faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami.

Referensi:

Banten News, 5 Februari 2014.

Metro TV, 5 Februari 2014.

P3SDLP. 2014. Prediksi Elevasi Air Laut, PPP Karangantu. Puslitbang Sumberdaya Laut dan pesisir, Kementerian kelautan dan Perikanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s