Ada Gempa, Namun Gunung Merbabu Tidak Meletus

Sebuah getaran mengagetkan penduduk yang berdiam di kaki Gunung Merbabu (Jawa Tengah) bagian utara pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB. Getaran berlangsung hanya dalam beberapa detik namun sempat juga dirasakan oleh sebagian warga kota Salatiga. Getaran terkeras dirasakan warga Dusun Wiji, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan (Kabupaten Semarang). Sehingga di sini sedikitnya 46 rumah mengalami kerusakan ringan. Publik pun resah, apalagi bersamaan dengan getaran tersebut terdengar suara dentuman dan ada pula yang mengaku menyaksikan kilatan cahaya dari arah puncak Gunung Merbabu. Baru beberapa hari yang lalu Gunung Kelud meletus besar, menyemburkan debu vulkanik bergulung-gulung ke langit yang diiringi dengan sambaran kilat. Sebagian besar pulau Jawa pun terkena dampaknya, dengan Jawa Tengah menjadi salah satu kawasan terparah yang dihujani debu vulkanik Gunung Kelud.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Gambar 1. Posisi Gunung Merbabu, desa Sumogawe, kota Salatiga dan gunung-gemunung disekitarnya dalam peta topografi. Di kaki Gunung Merbabu bagian utara inilah terjadi getaran pada Senin 17 Februari 2014 lalu, yang menyebabkan sejumlah rumah di desa Sumogawe mengalami kerusakan ringan. Nampak posisi episentrum gempa menurut BMKG. Garis putus-putus bersaput merah merupakan batas geografis Kabupaten Semarang. Sumber: Google Maps, 2014.

Apakah getaran itu terkait dengan kelakuan Gunung Merbabu? Apakah Gunung Merbabu mulai menggeliat lagi? Apakah ia mulai meletus? Akankah letusannya sama dahsyatnya dengan Gunung Kelud?

Tak Meletus

Gunung Merbabu merupakan gunung berapi setinggi 3.145 meter dari permukaan laut (dpl) yang berdiri di tengah-tengah Jawa Tengah tepat di sebelah utara Gunung Merapi. Ia masih tetap digolongkan sebagai gunung berapi aktif tipe B oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Nama “Merbabu” baru melekat di gunung berapi ini pada masa Hindia Belanda dan sesudahnya. Sebelumnya gunung ini lebih dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamrihan (Pamarihan). Posisinya demikian rupa sehingga Gunung Merapi dan Merbabu kerap disebut sebagai gunung kembar. Meski tepat bersebelahan dengan Merapi, namun tubuh dan polah-tingkah Merbabu sungguh bertolak belakang. Jika kita melihat Gunung Merbabu dalam citra satelit khususnya citra topografinya, terlihat jelas betapa gunung berapi ini dipenuhi oleh rekahan-rekahan besar. Salah satu rekahan muncul dari kaki gunung bagian utara-timur laut dan melintas memotong puncak hingga kemudian berakhir di kaki gunung bagian selatan-tenggara. Lewat rekahan inilah khususnya di bagian puncak gunung, aktivitas Gunung Merbabu berpusat.

Dalam catatan Global Volcanism Program Simthsonian Institution, aktivitas terakhir Gunung Merbabu terjadi lebih dari dua abad silam, tepatnya pada tahun 1797. Saat itu Gunung Merbabu meletus dengan skala 2 VEI (Volcanic Explosivity Index), dengan memuntahkan rempah letusan sebanyak kurang dari 1 juta meter kubik. Magmanya menyeruak sebagai lava yang kemudian mengalir menyusuri rekahan besar menuju utara-timur laut sebagai aliran lava Kopeng dan ke selatan-tenggara sebagai aliran lava Kajor. Letusan sebelumnya terjadi pada tahun 1560 namun dengan skala letusan yang tak diketahui. Untuk ukuran sebuah gunung berapi, Letusan Merbabu 1797 tergolong kecil. Bandingkan misalnya dengan Gunung Merapi, yang dalam letusan-letusannya di abad ke-20 dan 21 (kecuali letusan 1930 dan letusan 2010) biasa mengeluarkan lebih dari 5 juta meter kubik rempah letusan. Apalagi jika dibandingkan Letusan Merapi 2010 yang volume rempah letusannya sampai sebesar 150 juta meter kubik.

Nah, apakah Gunung Merbabu sedang mulai menggeliat lagi setelah sekian lama tertidur lelap?

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Gelombang seismik dari Gempa Sumogawe yang terekam di stasiun seismik Karangkates, Malang (atas) dan Sawahan, Nganjuk (bawah) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Gelombang seismik ini mengandung ciri khas gempa tektonik. Sumber: BMKG, 2014.

Sampai saat ini Gunung Merbabu masih dinyatakan sebagai gunung berapi aktif tipe B sehingga tak dipantau secara khusus seperti halnya gunung-gemunung berapi tipe A. Namun karena persis berdampingan dengan Gunung Merapi, maka Gunung Merbabu bisa dipantau melalui pos-pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) yang berada di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang berada di bawah naungan PVMBG.

Menarik bahwa pada Senin pagi 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu stasiun-stasiun seismik pemantau Merapi di Pusunglondon, Deles dan Plawangan sama sekali tak merekam adanya gempa vulkanik yang berasal dari Gunung Merbabu, baik vulkanik dalam maupun dangkal. Sebaliknya justru terekam adanya gelombang gempa tektonik yang bersifat lokal dengan durasi dan amplitudo gelombang yang kecil. Sensitivitas alat sudah teruji dalam Letusan Kelud 2014 kemarin, kala gempa-gempa yang mengiringi meletusnya Gunung Kelud dalam sejam pertamanya, yakni kala kubah lava 2007 mulai dihancurkan, terekam jelas di stasiun-stasiun seismik ini. Ketiadaan gempa vulkanik dalam dan dangkal dari Gunung Merbabu juga ditunjang oleh pengamatan visual dari pos PGM Selo, pos terdekat dengan Gunung Merbabu. Pos PGM Selo tak mendeteksi adanya kepulan asap yang tak biasa ataupun suara dentuman dari arah Gunung Merbabu. Maka jelas bahwa Gunung Merbabu sama sekali tidak mengalami lonjakan aktivitas sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan pada saat ini.

Tektonik

Lalu, apa penyebab getaran di kaki Gunung Merbabu bagian utara itu? Apa pula yang menyebabkan terdengarnya suara dentuman? Mengapa rumah-rumah penduduk Sumogawe mengalami kerusakan?

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JSView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Posisi episentrum dan parameter Gempa Sumogawe berdasarkan rekaman stasiun-stasiun seismik Wanagama (UGM), Semarang (SMRI), Tegal (CTJI), Karangpucung (KPJI), Pacitan (PCJI) dan Sawahan (SWJI) melalui JISView yang dikembangkan Januar Arifin di BMKG. Nampak episentrum gempa berlokasi di kawasan Gunung Merbabu. Sumber: BMKG, 2014.

Cukup menarik pula bahwa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ternyata merekam adanya gelombang seismik pada Senin 17 Februari 2014 pukul 06:01 WIB itu. Gelombang tersebut terekam di berbagai stasiun BMKG di pulau Jawa, termasuk stasiun Sawahan (Nganjuk) dan stasiun Karangkates (Malang), keduanya di Jawa Timur. Gelombang seismik ini menunjukkan pola khas gempa tektonik. Analisis yang dilakukan rekan-rekan dalam Sistem Monitoring Gempabumi BMKG menunjukkan gempa tektonik tersebut berkekuatan 2,5 skala Richter dengan episentrum di lereng utara Gunung Merbabu. Jarak antara episentrum terhadap desa Sumogawe berkisar 6 km, sementara terhadap kota Salatiga berkisar 10 km. Namun jika galat pengukuran magnitudo dan koordinat episentrum dimasukkan, nyatalah bahwa desa Sumogawe masih berada dalam radius galat penentuan epiusentrum ini.

Gempa tektonik ini tergolong gempa dangkal karena sumbernya hanya sedalam 10 km. Untuk ukuran gempa bumi, magnitudo 2,5 skala Richter ini tergolong gempa kecil/lemah dan selalu bersifat/dirasakan dalam lingkup lokal saja. Maka wajar tatkala getaran gempa ini hanya dirasakan di kaki Gunung Merbabu bagian utara hingga kota Salatiga. Karena kerusakan terjadi di desa Sumogawe, tak salah jika gempa ini disebut sebagai Gempa Sumogawe.

Analisis kasar yang sempat saya kerjakan menunjukkan kecilnya kekuatan Gempa Sumogawe juga berimbas pada kecilnya intensitas getaran yang dihasilkan. Radius kawasan yang mengalami getaran berintensitas 2 MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah hingga 10 km dari episentrum, sementara kawasan yang tergetarkan dengan intensitas 1 MMI adalah hingga radius 36 km dari episentrum. Getaran dengan intensitas 2 MMI ini sesungguhnya getaran yang kecil, karena hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sedang berbaring, atau sedang duduk di lantai, ataupun yang sedang berada di lantai teratas gedung bertingkat. Sementara getaran 1 MMI bahkan tak bisa dirasakan oleh manusia dalam kondisi apapun dan hanya bisa diindra oleh instrumen pegukur gempa (seismometer). Getaran berintensitas 2 MMI sejatinya bukan getaran yang merusak bangunan. Kerusakan ringan (dalam bentuk retak-retak di dinding) baru terjadi jika getaran memiliki intensitas minimal 4 MMI. Dan kerusakan parah terjadi bila gempa menghasilkan getaran berintensitas 6 MMI atau lebih, meski semuanya masih bergantung kepada mutu bangunannya. Maka Gempa Sumogawe secara teoritis seungguhnya tidak menghasilkan getaran yang bisa merusak bangunan.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi intensitas getaran yang dihasilkan oleh Gempa Sumogawe terhadap lingkungan sekitarnya. Angka-angka 2 dan 1 masing-masing menunjukkan radius getaran berintensitas 2 MMI dan 1 MMI terhitung dari episentrum. Secara teoritis getaran yang disebabkan oleh Gempa Sumogawe sejatinya tidak berpotensi merusak bangunan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Penyebab rusaknya rumah-rumah warga di dusun Wiji desa Sumogawe mungkin terkait dengan struktur tanah setempat yang lebih lunak dibanding kawasan sekelilingnya. Tanah yang lebih lunak bersifat memperkuat getaran gelombang gempa yang melintasinya sehingga intensitas getarannya menjadi lebih besar ketimbang hasil prediksi. Dapat pula yang terjadi adalah pergeseran tanah (rayapan tanah) secara mendadak sebagai imbas dari getaran gempa, khususnya jika tanah setempat berkontur miring dan jenuh dengan air Sehingga lebih berat dibanding normalnya. Indikasi terjadinya pergeseran tanah salah satunya bisa dilihat dari terdengarnya suara dentuman, yang kerap kali terjadi di awal sebuah peristiwa pergeseran atau longsoran tanah. Namun untuk memastikannya perlu dilakukan penyelidikan langsung ke desa Sumogawe.

Yang jelas, getaran yang dialami penduduk kaki Gunung Merbabu bagian utara sama sekali tak terkait dengan aktivitas Gunung Merbabu. Getaran tersebut diakibatkan oleh peristiwa tektonik, yakni pematahan batuan dalam luasan tertentu di sebuah patahah (sesar) lokal setelah tak sanggup lagi menahan tekanan yang dideritanya secara terus-menerus akibat pergerakan tektonik regional.

Catatan: terima kasih untuk mas Januar Arifin dan rekan-rekannya di BMKG yang telah berbagi data.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s