Menyongsong Gerhana Matahari 29 April 2014

Hanya berselang 14 hari setelah peristiwa Gerhana Bulan Total 15 April 2014 yang ternyata sempat pula diamati dari Indonesia khususnya dari kota Jayapura (Papua) meski hanya sebagai gerhana sebagian, kita akan menyongong peristiwa Gerhana Matahari pada Selasa 29 April 2014 mendatang. Gerhana Bulan yang disusul dengan Gerhana Matahari ataupun sebaliknya (Gerhana Matahari yang disusul Gerhana Bulan) merupakan sunnatullah. Sebab tatkala Bulan menempati sebuah titik nodal pada saat fase oposisi/purnama (sehingga terjadi Gerhana Bulan), maka dalam 14 hari kemudian Bulan pun akan menempati titik nodal yang lainnya dalam fase konjungsi/Bulan baru (sehingga terjadi Gerhana Matahari). Titik nodal merupakan titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari). Demikian pula sebaliknya. Setiap beberapa tahun sekali dapat pula terjadi Bulan secara berturut-turut menempati titik-titik nodalnya di saat purnama, Bulan baru dan purnama berikutnya. Sehingga terjadi tiga gerhana secara berturut-turut dalam tempo hanya 28 hari, fenomena yang secara tak resmi penulis sebut sebagai parade gerhana.

Gambar 1. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014 non sentral dalam lingkup global. Wilayah gerhana ditandai dengan garis putih tak terputus dan putus-putus. Angka-angka menunjukkan waktu puncak gerhana dalam UTC (GMT). Peta diproses dengan software Solar Eclipse Viewer 1.0 karya Andrzej Okrasinki (Polandia). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014 non sentral dalam lingkup global. Wilayah gerhana ditandai dengan garis putih tak terputus dan putus-putus. Angka-angka menunjukkan waktu puncak gerhana dalam UTC (GMT). Peta diproses dengan software Solar Eclipse Viewer 1.0 karya Andrzej Okrasinki (Polandia). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gerhana Matahari 29 April 2014 merupakan Gerhana Matahari Cincin. Secara sederhana gerhana ini terjadi kala Bumi, Bulan dan Matahari benar-benar berjajar dalam satu garis lurus ditinjau dari segenap perspektif dengan Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Sebagai akibatnya maka pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bumi sedikit terblokir oleh Bulan. Maka dari itu gerhana Matahari selalu terjadi di kala siang jari. Karena ukuran Bulan jauh lebih ketimbang Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak merata di sekujur bagian permukaan Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari pada saat itu (atau dalam kondisi siang), melainkan hanya di sektor-sektor tertentu bergantung pada geometri orbit Bulan saat itu. Dan pemblokiran tersebut tak berlangsung efektif sehingga Bulan seakan-akan nampak kekecilan di kala puncak gerhana. Maka saat puncak gerhana terjadi, Bumi masih akan menyaksikan secuil cakram Matahari menyembul di sekeliling bundaran Bulan yang gelap yang mengesankan sebagai lingkaran bercahaya mirip cincin. Karena itu gerhana Matahari ini disebut sebagai Gerhana Matahari Cincin (anular).

Gerhana Matahari Cincin 29 April 2014 unik, karena tak seperti umumnya gerhana sejenis, ia bersifat non-sentral. Sehingga tidak terdapat zona (lintasan) umbra yang terlukis di permukaan Bumi. Bentuk cincin tersebut hanya akan bisa disaksikan di satu titik, yakni di daratan kutub selatan (Antartika) di sekitar koordinat 70,7 LS 131,15 BT. Di titik tersebut Gerhana Matahari Cincin akan mencapai puncaknya pada pukul 13:03 WIB dengan magnitudo gerhana (yakni luas bagian Matahari yang tertutupi cakram Bulan dibandingkan dengan luas bundaran Matahari keseluruhan) secara teoritis mencapai 98,68 %. Sehingga hanya 1,32 % bagian Matahari yang masih terlihat. Situasi ini akan menyebabkan kecerlangan Matahari menurun hingga 4,7 magnitudo, dari yang semula memiliki magnitudo semu -26,7 menjadi -22 di kala puncak gerhana. Dalam bahasa yang lebih sederhana, pada saat puncak gerhana Matahari terjadi di koordinat 70,7 LS 131,15 BT maka Matahari akan 77 kali lebih redup dibanding normal. Meski harus digarisbawahi bahwa peredupan ini hanya berlangsung untuk sesaat.

Indonesia

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin non sentral 29 April 2014 dalam lingkup Indonesia. Di Indonesia gerhana Matahari ini akan berbentuk Gerhana Matahari Sebagian, dengan wilayah gerhana ditandai oleh daerah yang berarsir. Angka persentase (misalnya 0 %) menunjukkan magnitudo gerhana. Sementara angka waktu (misalnya 14:00) menunjukkan waktu puncak gerhana dalam WIB. Angka persentase dan waktu bersumber dari software Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako (Jepang). Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin non sentral 29 April 2014 dalam lingkup Indonesia. Di Indonesia gerhana Matahari ini akan berbentuk Gerhana Matahari Sebagian, dengan wilayah gerhana ditandai oleh daerah yang berarsir. Angka persentase (misalnya 0 %) menunjukkan magnitudo gerhana. Sementara angka waktu (misalnya 14:00) menunjukkan waktu puncak gerhana dalam WIB. Angka persentase dan waktu bersumber dari software Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako (Jepang). Sumber: Sudibyo, 2014.

Di luar titik koordinat 70,7 LS 131,15 BT, Gerhana Matahari ini hanya akan nampak sebagai gerhana sebagian. Wilayah gerhana meliputi perairan Samudera Atlantik bagian selatan dan Samudera Hindia sebelah selatan serta seluruh daratan Australia dan (sebagian kecil) daratan Indonesia.

Daratan Indonesia yang tercakup ke dalam wilayah gerhana hanyalah (sebagian) pulau Jawa, Bali dan (sebagian besar) kepulauan Nusa Tenggara. Secara administratif terdapat 62 kabupaten/kota yang berada dalam wilayah gerhana ini, yang tersebar di enam propinsi masing-masing Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Magnitudo gerhana di Indonesia bervariasi mulai dari yang terkecil bernilai mendekati 0 % di Pasuruan (Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur) hingga yang terbesar bernilai 7,6 % di Baa (Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur). Durasi gerhana pun bervariasi mulai dari sependek 5 menit (di Pasuruan) hingga sepanjang 64 menit (di Baa).

Berikut adalah tabel waktu, durasi dan magnitudo gerhana di masing-masing dari 62 kabupaten/kota tersebut. Dengan catatan :

  1. Tabel disusun lewat perhitungan yang dibantu software Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako.
  2. Perhitungan dilakukan hanya di ibukota kabupaten/kota tersebut dan tidak mencakup titik-titik lain dalam kabupaten/kota itu.
  3. Perhitungan dilakukan di elevasi 0 meter dpl (dari paras laut rata-rata). Dalam realitasnya akan ada sedikit perbedaan bila ibukota kabupaten/kota tersebut memiliki elevasi cukup tinggi.
  4. Untuk kabupaten yang ibukotanya memiliki magnitudo kurang dari 0,5 % maka dimungkinkan terjadi adanya titik-titik dalam kabupaten tersebut yang tak tercakup dalam wilayah gerhana.

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

GMSapr14_jateng-diy

Jawa Timur

GMSapr14_jatim

Bali

GMSapr14_bali

Nusa Tenggara Barat

GMSapr14_NTB

Nusa Tenggara Timur

GMSapr14_NTT

Iklan

7 thoughts on “Menyongsong Gerhana Matahari 29 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s