[Menyongsong Minggu Kiblat] Meluruskan Arah Kiblat Tak Harus Pada 28 Mei 2014

Rabu 28 Mei 2014, linimasa (sebagian) pengguna media sosial dipenuhi oleh informasi tentang fenomena Matahari berada di atas Ka’bah sehingga menjadi momen yang tepat untuk melakukan kalibrasi/pengukuran ulang arah kiblat dimanapun berada sepanjang masih tersinari cahaya Matahari. Pun demikian di Indonesia.

Secara teoritis posisi Matahari saat ini adalah demikian rupa, sehingga ia akan berkedudukan tepat di atas kiblat dalam lima hari berturut-turut, mulai dari Senin 26 Mei 2014 hingga Jumat 30 Mei 2014 dan masing-masing terjadi pada pukul 16:18 WIB. Puncaknya memang pada Rabu 28 Mei 2014 pukul 16:18 WIB, saat kedudukan Matahari (nyaris) tepat di atas Ka’bah. Karena terjadi selama lima hari berturut-turut, bukan tiga hari seperti yang pernah ditulis sebelumnya, maka peristiwa ini boleh disebut sebagai Minggu Kiblat.

kiblat_narasi-zenith_kiblatMengapa Minggu Kiblat bisa terjadi? Semua karena Matahari. Seiring miringnya sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat terhadap bidang tegaklurus ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari) sementara Bumi tetap menjalankan kewajibannya mengedari sang surya, maka kita yang tinggal di Bumi akan menyaksikan Matahari berpindah-pindah posisi dari utara ke selatan dan sebaliknya sepanjang tahun. Inilah gerak semu tahunan Matahari. Gerak semu tahunan itu membuat deklinasi Matahari berubah-ubah secara periodis dari -23,5 hingga +23,5 derajat dan sebaliknya. Di Bumi, perubahan deklinasi tersebut membuat Matahari nampak berpindah tempat di antara garis lintang 23,5 LS (yakni Garis Balik Selatan) hingga garis lintang 23,5 LU (yakni Garis Balik Utara). Gerak semu tahunan ini berpola khas, sehingga pada 21 Maret dan 23 September Matahari akan berposisi di atas garis khatulistiwa. Sementara pada 21 Juni akan berposisi di atas Garis Balik Utara dan pada 22 Desember akan menempatkan diri di atas Garis Balik Selatan.

Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa'. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka'bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Ilustrasi gerak semu tahunan Matahari di permukaan Bumi. Garis kuning putus-putus menandakan kedua Garis Balik, sementara garis tak terputus merupakan garis khatulistiwa’. Dan garis merah tak terputus adalah garis lintang Ka’bah. Bundaran kuning mengilustrasikan Matahari, yang nampak bergerak ke utara di antara 21 Maret hingga 21 Juni dan bergerak kembali ke selatan di antara 21 Juni hingga 22 Desember. Sumber: Sudibyo, 2014.

Kawasan yang berada di antara kedua garis balik itu disebut kawasan tropis. Mari tinjau sebuah lokasi (dimanapun berada) di sini. Tentukan arah-arah mataanginnya dan akan kita dapatkan titik utara sejati (titik U) di arah utara sejati dan sebaliknya titik selatan sejati (titik S) di arah selatan sejati. Silahkan berdiri tegak dengan sikap sempurna menghadap titik U (membelakangi titik S) dengan kedua tangan direntangkan. Maka tangan kiri kita akan menunjuk titik barat sejati (titik B) dan sebaliknya tangan kanan mengarah ke titik timur sejati (titik T). Sementara jika dari kepala kita ditarik garis vertikal imajiner sampai ketinggian tak berhingga menembus langit, maka garis tersebut akan berujung di titik zenith (titik Z). Titik zenith adalah titik puncak kubah/bola langit yang memiliki tinggi (altitud) selalu 90 derajat dihitung dari arah mataangin manapun. Nah, selanjutnya tarik garis imajiner dari titik S ke atas menyusuri kubah langit hingga tepat melintas di titik Z untuk kemudian menurun kembali hingga berujung di titik U. Inilah garis meridian (bujur) langit, yang nilainya tepat sama persis dengan garis bujur lokasi tersebut.

Matahari akan selalu melintasi garis meridian langit ini setiap harinya dalam peristiwa yang dinamakan transit Matahari (istiwa’). Saat transit Matahari terjadi, praktis bayang-bayang yang dibentuk dari benda yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi dan tersinari Matahari saat itu akan tepat berimpit dengan arah utara-selatan sejati. Saat transit Matahari ini terjadi di siang hari, maka Matahari disebut sedang berkulminasi atas entah dengan tinggi (altitud) berapapun. Nah bagi kawasan tropis, terdapat momen dimana kulminasi atas Matahari terjadi dalam kondisi Matahari tepat berada di titik Z. Di Indonesia, momen ini secara tak resmi disebut sebagai hari tanpa bayangan. Sebab kala Matahari menempati titik zenith suatu lokasi, maka setiap benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan kehilangan bayang-bayangnya. Peristiwa langka ini dapat terjadi pada lokasi manapun di kawasan tropis dan terjadi sebanyak dua kali (dalam waktu yang berbeda) dalam setiap tahun (Gregorian).

Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.

Gambar 2. Ilustrasi kubah/bola langit dengan arah-arah mataangin dan titik zenith. Saat Matahari berada tepat di titik zenith, tak satupun benda yang tersinarinya dibawahnya yang memiliki bayang-bayang. Sumber: Anonim.

Ka’bah terletak pada garis lintang 21,4167 LU sehingga masih berada di kawasan tropis meski berdekatan dengan lintasan Garis Balik Utara. Konsekuensinya Matahari pun dapat menempati titik zenith Ka’bah, yang terjadi sebanyak dua kali dalam setahun (Gregorian). Momen tersebut selalu terjadi pada akhir Mei dan pertengahan Juli. Saat hal itu terjadi, maka Ka’bah dan wilayah sekitarnya akan mengalami situasi hari tanpa bayangan. Sebaliknya wilayah-wilayah yang berjarak jauh darinya namun masih terpapar sinar Matahari akan mengalami situasi dimana bayang-bayang benda apapun yang terpasang tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi akan tepat berimpit dengan arah kiblat setempat dalam tingkat ketelitian sangat tinggi. Dengan memperhitungkan konsep kiblat dan toleransinya, yang akan dipaparkan di bagian selanjutnya dari tulisan ini, maka secara konseptual bayang-bayang tersebut tepat berimpit dengan arah kiblat setempat selama lima hari berturut-turut.

Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka'bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.

Gambar 3. Ilustrasi Matahari saat menempati titik zenith Ka’bah. Tatkala Matahari dalam posisi demikian, maka seluruh bayang-bayang benda yang terpasang tegaklurus permukaan air rata-rata akan tepat mengahadp kiblat (tepat berimpit dengan arah kiblat setempat). Sumber: Arkanuddin, 2006.

Perpindahan Kiblat

Beberapa waktu lalu kita dibikin terkesan dengan aktivitas petugas maskapai nasional (flag carrier) Indonesia, yang tetap menjalankan kewajibannya menunaikan ibadah shalat meski tengah berada di dalam pesawat yang sedang mengudara. Foto dan informasinya kemudian tersebar secara viral. Bagi sebagian kita, aktivitas tersebut tidaklah aneh mengingat ibadah shalat wajib lima waktu tetap berlaku meski sedang bepergian dan berada dalam kendaraan, terlepas dari beda pendapat tentang berkiblat ke mana dan bagaimana cara menunaikannya. Berdasar pendapat sebagian ulama, saat kita sedang bepergian dan dalam kendaraan maka terdapat keringanan dalam hal tata cara ibadah shalat dan bagaimana berkiblat.

Namun masalah berkiblat dalam shalat ini menjadi berbeda tatkala kita tak sedang berkendara. Sebagian kita mungkin memegangi pendapat bahwa berkiblat itu cukup di dalam hati.Apakah berkiblat dalam shalat cukup dilakukan di dalam hati? Dalam hal ini ada peristiwa menarik yang terjadi pada 1433 tahun Hijriyyah yang lalu. Tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 H atau 16 bulan setelah peristiwa Hijrah, kala Rasulullah Muhammad SAW beserta sejumlah sahabat bertakziyah ke kampung Bani Salamah yang terletak di pinggiran kotasuci Madinah bagian utara. Saat telah tiba waktunya, shalat dhuhur berjamaah pun ditunaikan dengan Rasulullah SAW sebagai imam. Seluruhnya berkiblat ke arah barat laut, mengarah ke Batul Maqdis di Palestina. Namun pada saat rakaat kedua telah dilalui, turunlah perintah untuk mengubah kiblat menjadi ke Baitullah di kotasuci Makkah seperti dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 144. Dari kotasuci Madinah pada umumnya, agar bisa menghadap ke Baitullah maka harus menghadap ke arah selatan. Sehingga sisa dua rakaat berikutnya ditunaikan dengan merubah arah menjadi menghadap Baitullah, tanpa membatalkan aktivitas shalat dhuhur tersebut.

Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.

Gambar 4. Citra satelit Masjid Qiblatain di kotasuci Madinah, lokasi dimana perintah pemindahan kiblat diturunkan (surat al Baqarah ayat 144). Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sebelum pemindahan kiblat, shalat menghadap ke arah barat laut. Namun begitu kiblat dipindakan, maka shalat pun beralih arah menjadi ke arah selatan. Sumber; Sudibyo, 2012 dengan peta dari Qibla Locator.

Perubahan ini dramatis untuk ukuran kita. Bayangkan, Muhammad SAW dan para sahabat kala bertakbiratul ihram masih menghadap ke barat laut. Namun begitu memasuki rakaat ketiga, semuanya berputar nyaris setengah lingkaran sehingga berubah arah menjadi menghadap ke selatan, ke arah Baitullah. Luar biasanya, ‘shalat yang berputar’ ini pun terulang lagi di kala ‘Ashar meski kali ini mengambil lokasi di Masjid Bani Haritsah, juga di pinggiran Madinah. Saat itu jamaah shalat ‘Ashar Masjid Bani Haritsah baru saja menyelesaikan dua rakaat pertama kala informasi perpindahan kiblat datang dan disuarakan. Begitu pula pada pagi berikutnya di Masjid Quba’, juga di pinggiran Madinah, kala jamaah baru menunaikan rakaat pertama dari shalat Shubuh dan informasi perpindahan kiblat disuarakan seseorang dengan lantang.

Perpindahan dramatis ini menjadi gambaran betapa saat berkiblat dalam shalat, tak hanya cukup di dalam hati saja namun juga harus mewujud dalam aksi (tindakan). Jika berkiblat cukup dalam hati, maka saat itu Muhammad SAW dan para sahabatnya tentu tak perlu melakukan ‘shalat yang berputar’ kala perintah pemindahan kiblat turun. Berkiblat dengan aksi juga tecermin dari pesan Muhammad SAW kepada Wabir ibn Yuhannas al-Khuza’i RA yang hendak berangkat ke Yaman. Yakni agar penduduk kota San’a berkiblat melalui cara menghadapkan wajah ke arah Gunung (Jabal) Dayn. Evaluasi dengan menggunakan perangkat visualisasi arah kiblat seperti program Google Earth maupun laman Qibla Locator memperlihatkan bahwa dengan menghadap (mengarah) ke Gunung Dayn maka penduduk kota San’a tepat menghadap kiblat.

Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San'a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San'a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San'a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka'bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.

Gambar 5. Citra satelit yang memperlihatkan kota San’a dan sekitarnya dengan Gunung (Jabal) Dayn berjarak sekitar 30 km dari kota ini (atas). Andaikata ditarik sebuah garis lurus imajiner dari suatu titik dalam kota San’a menuju Gunung Dayn, maka bila garis tersebut diperpanjang hingga sejauh 815 km dari kota San’a, ujung garis tersebut akan tepat berimpit dengan Ka’bah (bawah). Panduan arah, kiri atas = utara, kanan bawah = selatan. Sumber: Sudibyo, 2012 dengan peta dari Google Earth.

Persoalan bahwa ternyata arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ternyata tak tepat menuju Ka’bah, setidaknya pada bangunan yang tersisa pada saat ini seperti tecermin lewat Google Earth/Qibla Locator, adalah hal lain. Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang ma’shum dan kedua masjid bersejarah tersebut dibangun langsung lewat bimbingannya, termasuk arah kiblatnya. Maka tidak tepatnya arah Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ ke Ka’bah harus dipandang dalam perspektif lain, yakni sebagai tersedianya ruang yang memungkinkan untuk bertoleransi dalam arah kiblat. Toleransi ini memungkinkan kita mendapatkan arah kiblat di suatu tempat dimanapun di permukaan Bumi dalam ketelitian tinggi tanpa harus terjebak untuk seteliti mungkin (yang tidak praktis).

Dengan kata lain, kiblat dapat dikonsepkan sebagai area disekitar Ka’bah hingga ke radius maksimum tertentu yang tepat berimpit dengan proyeksi arah dari masjid Nabawi dan Quba’. Penulis menyebut kiblat semacam itu sebagai konsep toleransi arah kiblat (ihtiyaath al-qiblat). Dengan konsep semacam ini maka kiblat pada hakikatnya adalah kawasan berbentuk lingkaran dengan pusat di Ka’bah dan merentang hingga radius (jari-jari) 45 km dari Ka’bah. Dengan konsep ini maka pada hakikatnya kala Matahari berada di atas kiblat, yang berlangsung dalam lima hari berturut-turut (tentu saja dalam jam tertentu), maka Matahari bertempat tepat di atas sisi selatan kiblat pada hari pertama dan kedua, sementara di hari ketiga berlokasi nyaris/tepat di atas Ka’bah serta di hari keempat dan kelima bertempat di atas sisi utara kiblat.

Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka'bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Gambar 6. Citra satelit yang memperlihatkan kawasan Jazirah Arabia bagian barat di sekitar kotasuci Makkah. Nampak Ka’bah menjadi pusat dari lingkaran bergaris tengah 45 km. Seluruh bagian lingkaran ini merupakan kiblat, menurut konsep ihtiyath al-qiblat dari Sudibyo (2011). Garis putus-putus memperlihatkan lintasan gerak semu Matahari yang diproyeksikan ke dalam garis-garis lintang. Terlihat bahwa pada 26 hingga 30 Mei 2014 pergerakan semu Matahari tepat melintas di kiblat. Sehingga kala Matahari berkulminasi atas di sana, yang terjadi pada pukul 16:18 WIB, pada hakikatnya Matahari sedang tepat berada di atas kiblat. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan peta dari Google Maps.

Kalkulator

Kala Matahari berkedudukan di atas kiblat, maka kita cukup memasang benda apapun yang asal bisa berposisi tegaklurus permukaan air tenang rata-rata di Bumi. Paling disarankan adalah bandul (lot) yang digantung dengan tali yang kuat pada statif tertentu dan distabilkan sehingga tidak bergerak sama-sekali. Juga dibutuhkan petunjuk waktu (jam) yang telah dikalibrasi dengan waktu referensi. Kalibrasi bisa dilakukan misalnya dengan men-dial (menghubungi) nomor 103 lewat telpon tertentu. Saat waktu tepat menunjukkan jam 16:18 WIB pada salah satu dari kelima hari dalam Minggu Kiblat, maka tandai bayang-bayang tali di lantai/tanah pada dua titik berbeda. Lantas tarik garis lurus melalui kedua titik tersebut. Inilah garis arah kiblat yang tepat.

Bagaimana jika pada hari-hari Minggu Kiblat itu kita justru berhadapan dengan langit berawan/mendung sehingga Matahari tidak nampak? Pengukuran arah kiblat yang akurat dengan menggunakan bayang-bayang Matahari sejatinya dapat dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Jadi tanpa harus menunggu momen Minggu Kiblat yang hanya terjadi dua kali dalam setahun. Tata cara pengukurannya pun serupa. Bedanya, pengukuran semacam ini bertumpu pada prinsip azimuth (arah) Matahari tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Untuk Indonesia, momen tersebut dapat terjadi di pagi hari hingga jelang siang (yakni antara bulan Oktober hingga bulan Maret tahun berikutnya) ataupun siang hingga sore hari (yakni antara bulan Maret hingga bulan Oktober di tahun yang sama). Sehingga waktu persisnya (jam dan menit) selalu berubah-ubah dari hari ke hari. Kapan hal itu terjadi? Kita bisa melakukan perhitungan terperinci untuknya. Namun bisa juga kita memanfaatkan program yang telah baku seperti spreadsheet Kalkulator Qiblat 1.2.

Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 7. Contoh tampilan keluaran (output) program jadwal shalat, disini menggunakan spreadsheet Jadwal Shalat Hijriyyah versi 1.4 yang belum dipublikasikan. Selain pencantuman lima waktu shalat utama, juga disertakan waktu-waktu penting lainnya seperti waktu terbit, waktu dhuha dan waktu rasydul qiblat. Waktu rasydul qiblat (kotak merah) merupakan waktu saat posisi Matahari tepat berimpitan dengan garis arah kiblat setempat, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk mengkalibrasi arah kiblat untuk bangunan yang dibutuhkan di sekitar tempat tersebut. Dalam contoh ini, waktu rasydul qiblat terjadi di pagi hari. Sumber: Sudibyo, 2014.

Mengapa fenomena Minggu Kiblat dan persoalan pengukuran arah kiblat yang akurat senantiasa diangkat dari tahun ke tahun? Sederhana saja. Pada 2010 silam masalah arah kiblat pernah menjadi kehebohan bertingkat nasional seiring besarnya persentase masjid di Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat, berdasar pengukuran di sejumlah daerah. Kini kehebohan itu telah usai, berganti dengan hiruk-pikuk pemilu. Namun masalahnya sejatinya belum terselesaikan dengan sesungguhnya. Dalam catatan Kementerian Agama RI, terdapat sekitar 700.000 buah masjid yang terdaftar di Indonesia. Jika 60 hingga 80 % diantaranya tidak tepat menghadap kiblat, maka terdapat lebih dari 420.000 hingga lebih dari 560.000 buah masjid Indonesia yang tak tepat menghadap kiblat.

Itu baru berdasarkan jumlah masjid yang terdaftar. Yang terdaftar masih banyak dan memiliki problem yang sama. Belum lagi jika kita memperhitungkan musala, baik musala publik (untuk kepentingan umum) maupun musala pribadi (untuk kepentingan keluarga di kediaman masing-masing). Di sisi lain, satu-satunya cara untuk mengurangi proporsi tersebut adalah dengan melakukan pengukuran arah kiblat di masing-masing masjid/musala sekaligus menera garis shaff (garis tegak lurus garis arah kiblat setempat) guna mengompensasinya.

Referensi:

Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Catatan :
Kalkulator Qiblat 1.2 dapat diunduh di sini (versi 1997-2003) atau di sini (versi 2007). Program ini belum sepenuhnya sempurna sehingga mungkin menjumpai masalah tertentu bila dijalankan pada komputer meja/jinjing (laptop) tertentu ataupun dijalankan pada sistem operasi non-Windows.

Mi’raj, Multijagat dan Semesta (Sebesar) Ketupat

Rajab sekitar 1437 tahun silam, setahun sebelum peristiwa Hijrah. Di tengah rasa duka yang meraja setelah istri tercinta dan sang pamanda dipanggil ke hadirat-Nya, Muhammad SAW mengalami perjalanan suci tiada tara dalam mengarungi semesta yang tak seorang pun pernah mengulanginya, baik di masa kini apalagi di masa silam. Usai menunaikan shalat isya’ di kediaman Ummi Hani’ binti Abi Thalib RA, keponakannya, Allah SWT memperkenankan seorang Muhammad SAW menjalani perjalanan suci. Di malam itulah beliau ber-isra dari kotasuci Makkah menuju Masjid al-Aqsha yang menjadi episentrum kawasan al-Haram asy-Syarif di Yerusalem. Isra tersebut menempuh ribuan kilometer, namun direngkuh dalam waktu singkat. Dan dari al-Aqsha, beliau bermi’raj ke kawasan antah berantah di tengah-tengah keluasan langit yang disebut Sidratil Muntaha.

Gambar 1. Tapak kediaman Ummi Hani binti Abi Thalib RA, kini berada di sisi pintu (Bab) Abdul Aziz di kompleks Masjidil Haram, kotasuci Makkah al-Mukarramah. Dari sinilah perjalanan suci dalam peristiwa isra dan mi'raj bermula. Sumber: R. Chohan, dalam IslamicLandmarks, 2014.

Gambar 1. Tapak kediaman Ummi Hani binti Abi Thalib RA, kini berada di sisi pintu (Bab) Abdul Aziz di kompleks Masjidil Haram, kotasuci Makkah al-Mukarramah. Dari sinilah perjalanan suci dalam peristiwa isra dan mi’raj bermula. Sumber: R. Chohan, dalam IslamicLandmarks, 2014.

Selain bersua dengan Allah SWT dan menerima perintah ibadah shalat wajib lima waktu, Muhammad SAW juga berkesempatan menjelajahi keluasan langit, menyaksikan panorama menakjubkan di surga dan sebaliknya juga berkesempatan melongok pemandangan mengerikan dalam neraka. Dalam kata-kata seorang Allama Muhammad Iqbal, cendekia Muslim legendaris di awal abad ke-20 sekaligus salah satu bapak bangsa Pakistan,”seandainya aku yang mengalami perjalanan suci semacam ini, niscaya aku takkan kembali ke Bumi.

Namun Muhammad SAW kembali ke Bumi. Di pundaknyalah tugas kenabian dan kerasulan terakhir ditunaikan hingga usai. Di pundaknya pulalah sebuah peradaban yang berbeda siap dibentuk, yakni peradaban yang berharkat, bermartabat, bermoral dan menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesetaraan. Beliau kembali lagi ke kotasuci Makkah, ke kediaman Ummi Hani’, tepat sebelum fajar menyingsing. Keesokan paginya kotasuci Makkah dibikin gempar oleh beredarnya kisah menakjubkan tersebut. Ceritera yang tak masuk akal bagi ukuran ruang dan waktu peradaban mereka. Dalam kegemparan inilah sosok sahabat yang lahir dan besar di sudut kotasuci Makkah yang berbeda tampil membela dan memberikan jaminan atas kebenaran perjalanan suci Muhammad SAW. Mulai saat itulah sang sahabat dikenal dengan nama barunya, yakni Abu Bakar Ashshiddiq RA.

Gambar 2. Masjid Kubah Batu (Sakhrah), yang menaungi tempat tersuci di kompleks Masjid al-Aqsha dalam akwasan al-Haram asy-Syarief, Yerusalem. Di sinilah mi'raj bermula. Sumber: R. Chohan, dalam IslamicLandmarks, 2014.

Gambar 2. Masjid Kubah Batu (Sakhrah), yang menaungi tempat tersuci di kompleks Masjid al-Aqsha dalam kawasan al-Haram asy-Syarief, Yerusalem. Di sinilah mi’raj bermula. Sumber: R. Chohan, dalam IslamicLandmarks, 2014.

Perjalanan suci Muhammad SAW berpuncak di Sidratil Muntaha, sebuah kawasan yang dalam pengetahuan populer berada di ‘langit ketujuh.’ Di manakah itu? Seperempat abad silam, kala penulis masih menempub bangku sekolah dasar dan kebetulan berkesempatan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat Agama Islam se-kecamatan, buku pendidikan Agama Islam saat itu menekankan Sidratil Muntaha berada di (orbit) planet Pluto. Argumennya sederhana, ‘langit ketujuh’ ditafsirkan secara harfiah sebagai ‘langit tingkat/lapis ketujuh dari Bumi.’ Selanjutnya angkasa yang merentang di antara orbit Bumi dan Mars dianggap sebagai langit (tingkat) pertama, sementara antariksa di antara orbit Mars dan Jupiter diasumsikan sebagai langit (tingkat) kedua dan demikian seterusnya. Sehingga dengan argumen tersebut, langit (tingkat) ketujuh dimulai dari orbit Pluto.

Di masa kini, kita mungkin akan tersenyum simpul kala membaca pendapat tersebut. Sebuah pendapat yang mewakili era di mana (sebagian besar) kita memahami tata surya sebagai bagian besar dari jagat raya yang kecil. Perkembangan ilmu pengetahuan terkini telah menggeser pandangan demikian secara dramatis. Kini tata surya kita dipahami hanyalah bagian kecil (bahkan sangat kecil) di tengah-tengah jagat raya yang besar. Untuk ukuran pengetahuan terkini, jarak Bumi-Pluto itu terlalu dekat bila dibandingkan terhadap jarak ke bintang-gemintang di galaksi lain. Apalagi dibandingkan dengan galaksi tertua yang usianya 13,3 milyar tahun.

Sumur Tanpa Dasar

Hingga abad ke-20 pun umat manusia masih berkutat dengan pertanyaan mengenai asal-usul jagat raya. Pertanyaan yang sama sejatinya telah bergaung sejak beratus-ratus tahun silam. Namun kini pertanyaan tersebut memasuki babak yang sama sekali baru, yang menegaskan bagaimana jagat raya bermula sekaligus beberapa fenomena unik didalamnya yang sekilas tak masuk akal.

Sampai perempat pertama abad ke-20, jagat raya masih dipandang sebagai semesta yang stabil dan statis (tidak bergerak), yang tak pernah dilahirkan dan juga takkan mati di kelak kemudian hari. Pandangan tersebut tetap dominan meski pada 1915 seorang Albert Einstein menelurkan gagasan revolusionernya yang kini menjadi salah satu batubata dasar ilmu pengetahuan modern, yakni relativitas umum. Relativitas umum memberikan pengertian baru tentang ruang, waktu, massa, energi dan (gaya) gravitasi. Relativitas umum menyodorkan hal-hal yang aneh dan terasa tak masuk akal tentang semesta kita. Misalnya, tentang seberkas cahaya yang akan sedikit berbelok kala melintas di dekat Matahari kita. Atau tentang gerak aneh yang diderita Merkurius, planet terdekat ke Matahari dalam tata surya kita.

Gambar 3. Poster yang dibuat astronom Eddington dan rekan-rekannya (Inggris) menjelang Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919. Terlihat berkas cahaya bintang menempuh lintasan yang melengkung kala lewat di dekat Matahari. Sehingga posisi bintang-bintang jauh tersebut seakan-akan bergeser dibanding posisi sesungguhnya. Eddington menjadi bagian dari tim astronom yang membuktikan bahwa melengkungnya lintasan cahaya tersebut memang benar-benar terjadi. Sumber: Morison, 2008.

Gambar 3. Poster yang dibuat astronom Eddington dan rekan-rekannya (Inggris) menjelang Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919. Terlihat berkas cahaya bintang menempuh lintasan yang melengkung kala lewat di dekat Matahari. Sehingga posisi bintang-bintang jauh tersebut seakan-akan bergeser dibanding posisi sesungguhnya. Eddington menjadi bagian dari tim astronom yang membuktikan bahwa melengkungnya lintasan cahaya tersebut memang benar-benar terjadi. Sumber: Morison, 2008.

Namun observasi astronomi berketelitian tinggi memastikan Einstein memang benar. Kampanya observasi Gerhana Matahari Total 29 Mei 1919 membuktikan lintasan cahaya memang sedikit melengkung kala lewat di dekat Matahari. Massa Matahari yang demikian besar menghasilkan gravitasi yang tak kalah besarnya hingga membengkokkan ruang-waktu disekitarnya sedemikian rupa. Obyek apapun, bahkan seberkas cahaya sekalipun (yang adalah obyek dengan kecepatan tertinggi di jagat raya) tak punya pilihan lain kecuali menyusuri lengkungan tersebut kala melintas dekat Matahari. Inilah konsep revolusioner tentang gravitasi. Jika di masa sebelumnya kita memahami Bumi beredar mengelilingi Matahari akibat terjadinya kesetimbangan antara gaya gravitasi (yang menarik Bumi ke arah Matahari) dengan gaya sentrifugal (yang melontarkan Bumi menjauhi Matahari), maka menurut relativitas umum Bumi mengelilingi Matahari karena Matahari melengkungkan ruang-waktu disekelilingnya demikian rupa sehingga Bumi tak punya pilihan lain selain menyusuri lengkungan tersebut.

Ada dua implikasi serius relativitas umum yang semula diabaikan bahkan oleh seorang Einstein. Yang pertama, saat persamaan-persamaan relativitas umum yang memusingkan itu diterapkan dalam ranah kosmologi, terlihat jagat raya tidaklah statis namun sedang mengembang (meluas). Namun Einstein yang sejatinya terkenal intuitif dan visioner itu rupanya meyakini benar sifat jagat raya yang statis. Sehingga ia menganggap (dan menambahkan) adanya tetapan kosmologis (tetapan lambda) sebagai suatu sifat yang terjalin dalam ruang-waktu guna mengerem pengembangan tersebut, sehingga resultannya akan menghasilkan jagat raya statis seperti yang diyakininya. Sejarah akhirnya membuktikan bahwa hanya dalam beberapa tahun kemudian anggapan ini berantakan setelah Edwin Hubble, petinju yang lantas menjadi astrofisikawan, menyampaikan hasil kerja-kerasnya dalam mendaftar posisi dan jarak galaksi-galaksi selain Bima Sakti. Ternyata galaksi-galaksi tersebut sedang bergerak menjauh dan terus menjauh, tepat sesuai ramalan relativitas umum sebelum ide tetapan kosmologis muncul. Kelak saat mengunjungi Hubble di Observatorium Gunung Wilson, California (AS), Einstein mengakui bahwa tetapan kosmologis adalah “kesalahan terbesar yang pernah saya buat.

Gambar 4. Atas: ilustrasi bagaimana massa bintang yang cukup membesar membuat ruang-waktu disekelilingnya (digambarkan sebagai jalinan garis-garis mirip jaring-jaring) melengkung. Pada Matahari, derajat pelengkungannya tergolong kecil. Sebaliknya pada bintang neutron, yakni bintang eksotik dengan massa minimal 1,4 Matahari namun jari-jarinya hanya 10 km, derajat pelengkungan ruang waktunya sangat besar. Dan pada lubang hitam, derajat penegkungannya demikian besar sehingga membentuk asimtot ruang-waktu, atau sumur tanpa dasar. Bawah: Galaksi Centaurus A (12 juta tahun cahaya dari Bumi), diabadikan dalam spektrum sinar-X dan gelombang mikro. Galaksi berbentuk cakram ini terlihat menghasilkan semburan dari pusatnya, yang menyembur ke dua arah berbeda masing-masing kiri atas dan kanan bawah citra. Semburan dahsyat ini merupakan aksi lubang hitam raksasa yang ada di pusat galaksi. Sumber: NASA, 2014; ESA, 2014.

Gambar 4. Atas: ilustrasi bagaimana massa bintang yang cukup membesar membuat ruang-waktu disekelilingnya (digambarkan sebagai jalinan garis-garis mirip jaring-jaring) melengkung. Pada Matahari, derajat pelengkungannya tergolong kecil. Sebaliknya pada bintang neutron, yakni bintang eksotik dengan massa minimal 1,4 Matahari namun jari-jarinya hanya 10 km, derajat pelengkungan ruang waktunya sangat besar. Dan pada lubang hitam, derajat penegkungannya demikian besar sehingga membentuk asimtot ruang-waktu, atau sumur tanpa dasar. Bawah: Galaksi Centaurus A (12 juta tahun cahaya dari Bumi), diabadikan dalam spektrum sinar-X dan gelombang mikro. Galaksi berbentuk cakram ini terlihat menghasilkan semburan dari pusatnya, yang menyembur ke dua arah berbeda masing-masing kiri atas dan kanan bawah citra. Semburan dahsyat ini merupakan aksi lubang hitam raksasa yang ada di pusat galaksi. Sumber: NASA, 2014; ESA, 2014.

Jika saat ini jagat raya sedang mengembang, maka jelas di masa silam seluruh isi jagat raya pernah berkumpul di satu titik yang sama. Inilah saat kelahiran jagat raya, yang di kemudian hari ngetop dengan nama peristiwa dentuman besar alias Big Bang. Dentuman besar mendapatkan namanya karena pada saat itulah seluruh materi jagat raya, yang termampatkan sangat padat dalam satu titik, mendadak mengembang sangat cepat sekaligus mulai membentuk partikel-partikel elementer yang kemudian bergabung lagi antar sesamanya hingga membentuk proton, neutron dan elektron yang menjadi batubata dasar seluruh materi. Jejak dentuman besar terekam pertama kali pada 1963 sebagai guyuran gelombang radio pengganggu (noise) dalam spektrum gelombang mikro yang muncul terus-menerus dalam teleskop radio yang dioperasikan astronom Penzias dan Wilson, tak peduli kemanapun teleskop tersebut diarahkan. Inilah radiasi latar belakang kosmik (cosmic microwave background/CMB) yang juga adalah jejak cahaya tertua dalam jagat raya, karena terbentuk hanya dalam waktu sekitar 380.000 tahun pasca dentuman besar. Kini kita mengetahui, lewat eksplorasi lebih lanjut radiasi latar belakang kosmik, bahwa jagat raya kita ini terbentuk pada 13,8 milyar tahun silam dan kini telah mengembang demikian luas sehingga diameternya sebesar 94 milyar tahun cahaya (1 tahun cahaya = 63.240 satuan astronomi = 9,46 trilyun kilometer).

Implikasi serius kedua dari relativitas umum adalah pada munculnya benda langit eksotik. Berkas cahaya sedikit melengkung kala melintas di dekat Matahari, dengan magnitud lengkungan bergantung pada besarnya massa Matahari dan jarak perlintasannya terhadap pusat massa Matahari. Jika Matahari kita gantikan dengan bintang lain, maka dengan mudah akan terlihat bahwa semakin besar massanya maka semakin besar pula derajat pelengkungan lintasan cahayanya. Fenomena serupa juga akan dijumpai jika jarak perlintasannya semakin dekat. Kombinasi kedua hal tersebut menghasilkan situasi ekstrim, dimana saat bintang memiliki massa sangat besar dan sebaliknya berdimensi (diameter) jauh lebih kecil dibanding Matahari. Bintang semacam itu dimungkinkan terbentuk sebagai produk akhir evolusi kehidupan bintang massif seperti diperlihatkan oleh mekanika kuantum, batubata dasar yang lain dalam ilmu pengetahuan modern. Bintang eksotik semacam ini memiliki kerapatan (massa jenis) amat sangat besar sehingga gravitasinya tak hanya membengkokkan ruang-waktu disekitarnya secara dramatis, namun bahkan menjulurkannya demikian rupa menjadi ‘sumur tanpa dasar’ sebagai asimtot ruang-waktu. Cahaya bintang eksotik ini bakal memasuki sumur tanpa dasar tersebut dan takkan pernah keluar darinya, demikian pula berkas cahaya yang berasal dari luar dan kebetulan melintas didekatnya hingga ke jarak perlintasan tertentu yang disebut ufuk peristiwa (event horizon).

Kini kita mengenal bintang eksotik seperti itu sebagai lubang hitam (black hole). Dan keberadaannya melimpah dalam jagat raya kita, baik sebagai bagian dari bintang kembar ataupun sebagai penghuni inti galaksi. Secara teoritis setiap bintang dengan massa 3 kali lipat massa Matahari kita bakal menjadi lubang hitam di ujung kehidupannya. Seperti namanya, tak ada seberkas cahaya pun yang terpancar dari lubang hitam sehingga tak seorang pun yang bisa melihatnya. Lubang hitam dideteksi berdasarkan interaksi gravitasinya terhadap lingkungannya. Juga bagaimana ia menghisap materi disekelilingnya, untuk kemudian mencabik-cabiknya, melumatnya dan memencarkannya ke arah-arah tertentu dengan pola khas yang hanya dapat dilihat dalam spektrum sinar ultraungu maupun sinar-X. Teleskop VLT di Observatorium Paranal (Chile) memperlihatkan bagaimana sebuah bintang yang melintas hanya dalam jarak 122 satuan astronomi (3 kali lipat jarak Matahari ke Pluto) dari pusat galaksi Bima Sakti mengalami gangguan berat oleh gravitasi dahsyat. Dari gangguan tersebut diketahui bahwa di pusat Bima Sakti kita tersembunyi sebuah lubang hitam raksasa dengan massa antara 3,2 hingga 4 juta kali lipat Matahari kita. Massa sebesar itu termampatkan dalam ruang seukuran 1.500 hingga 1.880 kali lipat ukuran Bumi kita. Tak heran jika gravitasinya demikian besar sehingga keseluruhan penjuru Bima Sakti, termasuk tata surya kita, merasakannya dan dipaksa tunduk di bawah pengaruhnya.

Sebesar Ketupat

Lantas kemana sumur tanpa dasar di lubang hitam itu berujung?

Gambar 5. Ilustrasi bagaimana jagat raya kita berkembang dari dentuman besar hingga ke usia mudanya (4 milyar tahun pasca dentuman besar) lengkap dengan skala waktunya. Nampak bagaimana tahap inflasioner membuat dimensi jagat raya membengkak hebat dibanding semula. Pasca inflasioner, barulah proton terbentuk diikuti terbentuknya inti-inti atom deuterium, helium dan litium. Materi inilah yang kemudian menghasilkan bintang pertama dan lantas berlanjut pada terbentuknya galaksi pertama. Sumber: NASA, 2014; National Geographic, 2014.

Gambar 5. Ilustrasi bagaimana jagat raya kita berkembang dari dentuman besar hingga ke usia mudanya (4 milyar tahun pasca dentuman besar) lengkap dengan skala waktunya. Nampak bagaimana tahap inflasioner membuat dimensi jagat raya membengkak hebat dibanding semula. Pasca inflasioner, barulah proton terbentuk diikuti terbentuknya inti-inti atom deuterium, helium dan litium. Materi inilah yang kemudian menghasilkan bintang pertama dan lantas berlanjut pada terbentuknya galaksi pertama. Sumber: NASA, 2014; National Geographic, 2014.

Sebuah sejarah baru tercipta pada 17 Maret 2014 lalu, tatkala tim BICEP2 (Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization 2) mengumumkan hasil risetnya yang telah berjalan 9 tahun. Pengumuman ini menguak salah satu penemuan terpenting bagi dunia ilmu pengetahuan abad ke-21, yang bisa disejajarkan bersama pentingnya penemuan boson Higgs. Saat itu tim BICEP2 di bawah pimpinan John Kovac, astrofisikawan dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (AS), mengumumkan ditemukannya bukti langsung tak terbantahkan tentang gagasan inflasioner (penggelembungan sangat cepat) dalam dentuman besar.

Gagasan inflasioner muncul lebih dari 3 dasawarsa silam guna menjawab beberapa masalah yang menggayuti teori dentuman besar. Gagasan ini membuat kita lebih memahami mengapa jagat raya kita cenderung datar dan homogen (sama rata) dalam skala makroskopik. Dalam gagasan ini, saat bayi jagat raya masih berusia amat sangat muda, yakni hanya 0,000000000000000000000000000000000001 detik (atau 10 pangkat minus 36 detik) pasca dentuman besar, terjadi pengembangan/penggelembungan sangat cepat sehingga dimensi (diameter) bayi jagat raya melonjak dramatis berkali-kali lipat. Inflasioner berlangsung sangat singkat dan terhenti pada saat 0,00000000000000000000000000000001 detik (10 pangkat minus 32 detik) pasca dentuman besar. Namun dalam tempo yang amat sangat singkat itu dimensi jagat raya membengkak hebat hingga 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 kali lipat (10 pangkat 60 kali lipat) dari semula. Sehingga bila awalnya bayi jagat raya hanyalah sebuah titik yang jauh lebih kecil ketimbang proton, maka pasca inflasioner usai ukurannya telah menjadi sebesar ketupat.

Setelah inflasioner usai, sebagai reaksinya terlepaslah gelombang gravitasi yang kemudian mengisi bayi jagat raya (yang kini telah sebesar ketupat). Dan 380.000 tahun kemudian, tatkala atom-atom Hidrogen netral mulai sepenuhnya terbentuk tanpa terionisasi kembali, terbentuklah cahaya tertua yang lantas berinteraksi dengan gelombang gravitasi pasca inflasioner hingga terbentuk pola-pola tertentu didalamnya. Pola-pola itu tetap terbawa dalam cahaya tersebut meski jagat raya kemudian makin dewasa dan menua dengan mengembang kian luas sehingga panjang gelombang cahaya tertua tersebut terus membesar sampai akhirnya keluar dari spektrum cahaya tampak maupun inframerah dan kini berada di dalam spektrum gelombang mikro. Inilah radiasi latar belakang kosmik.

Seperti halnya gelombang elektromagnetik pada umumnya, radiasi latar belakang kosmik pun dapat terkutubkan (terpolarisasi). Fakta ini dijumpai semenjak 2002. Berbekal penemuan ini maka tim BICEP2 mulai mencoba menelaah sifat polarisasi radiasi latar belakang kosmik lebih lanjut dengan membangun fasilitas teleskop Antartika atau SPT (South Pole Telescope) yang bekerja pada panjang gelombang dalam orde milimeter/submilimeter. Penelitian ini sangat sulit. Sebab untuk mendeteksi polarisasi pada radiasi latar belakang kosmik, tim BICEP harus membangun instrumen dengan sensitivitas sangat tinggi sehingga fluktuasi kecil dalam radiasi latar belakang kosmik, yang berkorespondensi pada fluktuasi suhu hanya 0,1 mikroKelvin (0,1 mikroCelcius). Namun kerja keras semenjak 2005 akhirnya terbayar juga kala tim BICEP2 memastikan adanya polarisasi moda-B dalam radiasi latar belakang kosmik, jejak yang hanya bisa dihasilkan dari tahap inflasioner dalam dentuman besar.

Multijagat

Gambar 6. Ilustrasi beberapa jagat raya (masing-masing digambarkan sebagai gelembung) dalam konstelasi multijagat. Nampak jagat raya kita yang masih terus mengembang, sementara jagat raya lain ada yang juga terus mengembang, namun ada juga yang sedang mulai menyusut/mengecil kembali. Seluruh jagat raya ini lahir dari fluktuasi kuantum. Sumber: National Geographic, 2014.

Gambar 6. Ilustrasi beberapa jagat raya (masing-masing digambarkan sebagai gelembung) dalam konstelasi multijagat. Nampak jagat raya kita yang masih terus mengembang, sementara jagat raya lain ada yang juga terus mengembang, namun ada juga yang sedang mulai menyusut/mengecil kembali. Seluruh jagat raya ini lahir dari fluktuasi kuantum. Sumber: National Geographic, 2014.

Ditemukannya bukti langsung tahap inflasioner membawa kita pada implikasi lain yang lebih serius. Menurut mekanika kuantum, inflasioner merupakan imbas dari fluktuasi kuantum. Fluktuasi yang sama juga akan menghasilkan dentuman-dentuman besar yang lain hingga memunculkan ruang-ruang waktu yang lain pula. Dengan kata lain, proses yang membentuk jagat raya kita lewat dentuman besar dengan tahap inflasioner didalamnya pun dapat pula membentuk jagat-jagat raya yang lain. Dengan kata lain, jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya yang ada, namun tumbuh dan berkembang bersama dengan jagat-jagat raya yang lain dalam konstelasi multijagat! Tentu, ini masih sebatas anggapan.

Seberapa banyak jagat-jagat raya lainnya yang ada di luar jagat raya kita? Di atas kertas cukup banyak, meski mustahil untuk bisa membuktikan keberadaannya (pada saat ini). Sebab eksistensi multijagat itu hanya mengemuka dalam imajinasi kita. Namun jika jagat-jagat raya lain itu benar-benar ada, maka eksistensinya mungkin menjadi salah satu faktor krusial yang menopang jagat raya kita, khususnya bagaimana jagat raya kita seisinya memiliki parameter-parameter yang pas (fine-tuned) baik dalam skala makro maupun mikro sehingga dapat kita amati. Dengan kata lain, keberadaan multijagat mungkin menjadi jawaban bagaimana jagat raya kita ini demikian pas sehingga memungkinkan kita umat manusia untuk hidup didalamnya, meski hanya sebatas di pojokan kecil yang bernama planet Bumi. Salah satu perhitungan memperlihatkan bahwa agar jagat raya kita ini ada dan mampu menopang kehidupan umat manusia, dibutuhkan setidaknya 10 pangkat 400 jagat-jagat raya yang lain!

Jagat-jagat raya lain, jika ada, mungkin juga akan memberikan jawaban dimana sumur tanpa dasar lubang hitam bermuara. Di atas kertas, sumur tanpa dasar itu sejatinya terowongan tak kasat mata, yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya dalam jagat raya kita. Dapat pula sumur tanpa dasar itu merupakan terowongan yang menghubungkan satu titik dalam jagat raya kita dengan titik lain di jagat raya lain. Inilah konsep lubang cacing (wormhole). Meski sangat sulit dibuktikan secara ilmiah, konsep lubang cacing amat populer dalam kisah-kisah fiksi sebagai jalan pintas untuk sampai ke lokasi yang sejatinya sangat jauh dalam tempo sangat singkat. Normalnya perjalanan Jakarta-Surabaya harus ditempuh dalam waktu minimal sejam dengan menggunakan pesawat terbang. Namun bila perjalanan berlangsung dengan terowongan ruang-waktu dalam konsep lubang cacing, maka Jakarta-Surabaya dapat ditempuh hanya dalam beberapa menit (bahkan dalam beberapa detik saja !) dengan berjalan kaki, asal tahu caranya. Sebab ilmu pengetahuan telah memperingatkan bahwa lubang cacing ini, jika benar-benar ada, adalah sangat takstabil sehingga keburu lenyap dalam sekejap bahkan saat kita baru menjejakkan ujung jari kaki kita kedalamnya. Hanya jika kita mempunyai materi eksotik dengan massa negatif saja (sehingga memiliki energi negatif) maka lubang cacing dapat distabilkan dan dimungkinkan dilalui.

Gambar 7. Ilustrasi bagaimana melakukan perjalanan antar jagat raya dengan memanfaatkan terowongan ruang-waktu berupa lubang cacing yang telah terbuka dan stabil. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 7. Ilustrasi bagaimana melakukan perjalanan antar jagat raya dengan memanfaatkan terowongan ruang-waktu berupa lubang cacing yang telah terbuka dan stabil. Sumber: NASA, 2014.

Cukup menarik untuk mencermati bagaimana pengembangan jagat raya, lubang hitam, sumur tanpa dasar, inflasioner, multijagat hingga lubang cacing membawa implikasi baru dalam memahami dan menafsirkan peristiwa mi’raj Rasulullah Muhammad SAW yang menakjubkan. Kata “tujuh” dalam bahasa Arab dapat memiliki arti jamak (banyak), sehingga “langit ketujuh” bisa diterjemahkan menjadi “langit (yang) banyak.” Jika kata-kata “langit” dianggap sebagai “jagat raya”, maka “langit ketujuh” dapat dianggap setara dengan kata-kata “jagat raya (yang) banyak” atau “jagat-jagat raya”. Dengan demikian mi’raj menuju Sidratil Muntaha di langit ketujuh dapat dianggap bisa dibahasakan ulang menjadi perjalanan luar biasa menuju Sidratil Muntaha yang terletak di jagat-jagat raya lain. Jalan pintas untuk perjalanan menakjubkan menembus ruang-waktu semacam ini bisa dengan melalui lubang cacing, dengan mulut terowongan pada saat itu menjulur hingga pelataran Masjid al-Aqsha. Agar perjalanan bisa dilakukan, maka lubang cacing perlu distabilkan oleh materi eksotik bermassa negatif (sehingga berenergi negatif). Materi tersebut mungkin tak pernah ada dalam jagat raya kita masa kini, namun mungkin berlimpah di jagat-jagat raya yang lain. Sehingga perjalanan menuju ke jagat-jagat raya lain tersebut hanya bisa berlangsung tatkala penghuninya berkehendak untuk itu. Dan begitu mi’raj usai, maka materi eksotik tersebut pun ditarik kembali sehingga lubang cacing pun tertutup dan menghilang sepenuhnya dari pelataran Masjid al-Aqsha.

Benarkah demikian? Wallahua’lam. Bagaimana dengan surga dan neraka, apakah mereka juga berada dalam salah satu dari jagat-jagat raya lain tersebut? Wallahua’lam. Yang jelas ilmu pengetahuan masakini baru saja membuktikan bahwa inflasioner memang benar, memang pernah terjadi di awal jagat raya kita. Dan faktor yang memicu inflasioner dapat saja menghasilkan jagat-jagat raya yang lain. Jagat raya yang mungkin sama dengan jagat raya kita dan dikendalikan oleh hukum-hukum alam yang sama pula. Namun dapat pula jagat raya yang berbeda dengan hukum-hukum alam yang sama sekali berbeda dengan jagat raya kita. Namun sekalipun berbeda, jagat-jagat raya lain tersebut tetap terhubung dengan jagat raya kita melalui terowongan ruang-waktu yang disebut lubang cacing. Barangkali hanya sosok agung yang dipilih sendiri oleh-Nya yang sanggup melintasi terowongan ini dan mengadakan perjalanan antar jagat raya kala hayat masih dikandung raga.

Referensi :

Slepian. 2014. BICEP2 results: Inflation and the Tensor Modes. Astrobites, 17 Maret 2014.

Chisari. 2013. Lensing B-modes in the Cosmic Microwave Background Polarization. Astrobites, 24 Juli 2013.

Morison. 2008. Introduction to Astronomy and Cosmology. West Sussex (UK) : John Wiley & Sons, cetakan pertama.

Chelyabinsk Mars, Kala Asteroid 100 Ton Jatuh di Planet Merah

Jika bentuknya dianggap sebagai bola sempurna, bongkahan batu padat yang semula melayang-layang di antariksa dan kita kenal sebagai asteroid itu memiliki dimensi sekitar 400 cm. Dengan demikian ia sebanding dengan ukuran sebuah truk sedang yang kita kendarai sehari-hari di Bumi. Jika massa jenisnya 3 gram dalam setiap sentimeter kubiknya, maka massa asteroid itu adalah 100 ton. Semula bongkahan batu ini beredar mengelilingi Matahari sebagaimana halnya anggota tata surya kita lainnya. Namun sebagai asteroid, orbitnya cukup lonjong dan miring (terhadap ekliptika) dibanding planet-planet, sehingga relatif takstabil. Ia mudah diganggu oleh gravitasi planet-planet yang berada di dekat lintasannya. Sehingga perlahan namun pasti orbitnya mulai berubah sehingga ia menempuh lintasan yang berbeda dibanding sebelumnya.

Pada suatu masa, perubahan orbit itu memaksanya menempuh lintasan yang langsung berpotongan dengan orbit planet Mars. Dan pada saat yang sama baik si asteroid maupun sang planet itu sedang berada di titik potong orbit tersebut. Tanpa bisa ditolak lagi, bongkahan batu jumbo untuk ukuran kita ini pun melesat ke arah planet tetangga dekat Bumi itu dengan kecepatan lumayan tinggi, sekitar 7 km/detik alias 25.200 km/jam. Dengan begitu si asteroid yang kemudian menjadi meteoroid ini melesat secepat lebih dari 20 kali kecepatan suara. Lapisan-lapisan udara Mars yang tipis tak sanggup menahan meteoroid ini meskipun sudah berusaha habis-habisan menggerus dan menguapkannya.

Gambar 1. Kawah bergaris tengah 48,5 meter di Mars yang terbentuk akibat hantaman meteoroid antara 27 hingga 28 Maret 2012, diabadikan oleh instrumen HiRISE wahana MRO. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Di sebelah selatan kawah ini nampak kawah yang lebih kecil namun terbentuk pada saat yang sama. Terlihat pula adanya pencaran material produk tumbukan ke arah utara-timur laut. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 1. Kawah bergaris tengah 48,5 meter di Mars yang terbentuk akibat hantaman meteoroid antara 27 hingga 28 Maret 2012, diabadikan oleh instrumen HiRISE wahana MRO. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Di sebelah selatan kawah ini nampak kawah yang lebih kecil namun terbentuk pada saat yang sama. Terlihat pula adanya pencaran material produk tumbukan ke arah utara-timur laut. Sumber: NASA, 2014.

Hingga akhirnya meteoroid (yang kini telah menjadi meteor) pun terpecah-belah dan sangat terhambat kala masih di ketinggian udara Mars. Maka sebagian energi kinetiknya pun terlepas dalam tempo singkat, mengesankan sebagai ledakan di udara (airburst). Ini mirip yang terjadi di atas kawasan Chelyabinsk (Rusia) pada 15 Februari 2013 silam. Bedanya, energi ledakan di udara Mars ini lebih kecil. Begitupun masih tersisa beragam bongkahan, yang terbesar seukuran sekitar 150 cm. Dengan kecepatan tinggi bongkahan terbesar ini pun akhirnya jatuh mencium tanah berpasir di planet merah dengan kerasnya. Sebuah cekungan (kawah) berdiameter 48,5 meter segera terbentuk, diiringi dengan pelepasan energi lebih dari 140 GigaJoule atau setara kekuatan ledakan sebuah bom jumbo dengan kandungan bahan peledak tingkat tinggi trinitrotolena (TNT) sebesar lebih dari 30 ton. Sementara bongkahan terbesar melubangi tanah Mars, kekuatan ledakan di udara Mars menghempaskan gelombang kejut (shockwave) yang menghantam dan mengubah permukaan tanah Mars hingga radius 8 kilometer dari ground zero (proyeksi titik ledakan di daratan Mars).

Gambar 2. Lokasi kawah bergaris tengah 48,5 meter dalam peta global Mars, dilabeli dengan 27-Mar-12. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan citra Mars dari NASA, 2006.

Gambar 2. Lokasi kawah bergaris tengah 48,5 meter dalam peta global Mars, dilabeli dengan 27-Mar-12. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan citra Mars dari NASA, 2006.

Skenario film terbaru? Bukan. Ini kisah nyata. Asteroid tersebut memang benar-benar menjatuhi Mars pada 2 tahun silam, tepatnya antara tanggal 26 dan 27 Maret 2012. Ia jatuh di sisi selatan-barat daya dari kaki Gunung Olympus, gunung berapi raksasa yang puncaknya menjulang setinggi 24 kilometer dari garis dasar hingga menjadikannya gunung terjangkung di seantero tata surya. Namun peristiwa itu baru kita ketahui pada bulan Maret 2013 lalu melalui mata tajam instrumen MRO (Mars Reconaissance Orbiter), wahana penyelidik Mars milik NASA (AS) yang mulai bertugas semenjak Maret 2006 di planet merah itu.

Jejak ledakan di udara dan tumbukan asteroid tersebut pertama kali terlihat lewat citra instrumen MARCI (Mars Color Imager). MARCI merupakan instrumen yang dirancang guna mengidentifikasi cuaca Mars dan perubahannya dari hari ke hari. Ini adalah informasi yang krusial bagi operasi robot-robot penjelajah Mars yang masih aktif seperti Opportunity (Mars Exploration Rover-B) dan Curiosity (Mars Science Laboratory). Saat menganalisis citra MARCI, astronom Bruce Cantor yang juga salah satu pakar cuaca Mars menemukan bintik hitam dengan beberapa alur pencar yang berlokasi di dekat garis khatulistiwa Mars, di sisi selatan kawasan Nix Olympica yang menjadi tempat bersemayamnya gunung berapi raksasa Olympus. Bintik itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan sejumlah titik di permukaan Mars yang baru-baru ini kejatuhan asteroid sehingga terbentuk kawah.

Gambar 3. Perbandingan citra MARCI wahana MRO per 27 dan 28 Maret 2012 yang mengungkap terbentuknya kawah 48,5 meter di sisi selatan Gunung Olympus disertai dengan kejadian ledakan di udara mirip peristiwa Chelyabinsk (Rusia) 15 Februari 2013 silam. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Nampak bintik hitam dengan 3 alur pencaran tanah yang merentang hingga radius 8 km dari pusat bintik. Di pusat bintik inilah terdapat kawah 48,5 meter. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 3. Perbandingan citra MARCI wahana MRO per 27 dan 28 Maret 2012 yang mengungkap terbentuknya kawah 48,5 meter di sisi selatan Gunung Olympus disertai dengan kejadian ledakan di udara mirip peristiwa Chelyabinsk (Rusia) 15 Februari 2013 silam. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Nampak bintik hitam dengan 3 alur pencaran tanah yang merentang hingga radius 8 km dari pusat bintik. Di pusat bintik inilah terdapat kawah 48,5 meter. Sumber: NASA, 2014.

Analisis terhadap arsip citra MARCI menunjukkan bintik itu telah ada lebih dari setahun terakhir, namun belum terbentuk pada 5 tahun lalu. Dengan menggunakan 40 citra yang berbeda, Bruce Cantor akhirnya berhasil melokalisir waktu terbentuknya bintik hitam itu, yakni antara tanggal 27 hingga 18 Maret 2012. Perbandingan dengan menggunakan citra-citra Mars yang juga diproduksi wahana MRO namun menggunakan instrumen lain, yakni CTX (Camera Context), pun menghasilkan kesimpulan serupa. Berbekal data ini maka mata tertajam wahana MRO, yakni instrumen HiRISE (High Resolution Imaging Science Experiment) pun diarahkan untuk mengabadikannya. Dan terkuaklah fakta: di pusat bintik hitam itu terdapat dua kawah baru yang tak pernah ada sebelum 27 Maret 2012. Kawah yang terbesar berdiameter 48,5 meter. Ini sekaligus menjadi kawah kontemporer terbesar yang pernah dijumpai di Mars.

Bumi

Gambar 4. Perbandingan citra CTX antara sebelum dan sesudah 28 Maret 2012. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Nampak kawah 48,5 meter (dalam kotak putih) dengan kawah lain yang lebih kecil tepat di sisi selatannya. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 4. Perbandingan citra CTX antara sebelum dan sesudah 28 Maret 2012. Panduan arah, atas = utara, kanan = timur. Nampak kawah 48,5 meter (dalam kotak putih) dengan kawah lain yang lebih kecil tepat di sisi selatannya. Sumber: NASA, 2014.

Meski tak pernah benar-benar menyaksikan secara langsung detik-detik jatuhnya meteoroid di Mars, karena memang tak dirancang untuk itu, namun wahana MRO telah menguak banyak jejak yang ditinggalkan peristiwa tersebut pada era kontemporer, lebih tepatnya semenjak 2006 hingga sekarang. Sepanjang masa itu MRO telah menemukan setidaknya 400 kawah tumbukan terbaru, atau rata-rata ditemukan 11 kawah baru dalam setiap 2 bulan operasi MRO.

Penemuan kawah-kawah Mars memiliki banyak manfaat. Salah satunya guna menguak rahasia di balik tanah Mars, misalnya ketebalan es abadi (permafrost). Juga untuk mengetahui seberapa sering Mars kejatuhan meteoroid. Informasi tersebut penting artinya saat kita berencana untuk mendarat sekaligus membangun koloni manusia di sana. Dengan atmosfer yang lebih tipis, meteoroid di Mars tidak mengalami hambatan sebesar meteoroid di Bumi sehingga potensi sampai di permukaan Mars jauh lebih besar. Maka potensi bahayanya terhadap manusia pun lebih tinggi ketimbang di Bumi.

Bagaimana jika asteroid seperti itu jatuh ke Bumi? Mari kita simulasikan. Kecepatan rata-rata tumbukan asteroid ke Bumi adalah lebih tinggi, yakni 20 km/detik (relatif terhadap Bumi) atau lebih dari 73.000 km/jam. Namun dengan lapisan udara lebih tebal dan lebih pekat, maka kala sebuah meteoroid dengan massa 100 ton mencoba menembus atmosfer Bumi kita, ia akan terpanaskan lebih hebat hingga tergerus dan teruapkan sedikit demi sedikit. Tekanan yang diberikan atmosfer pun kian besar seiring kian jauhnya meteoroid memasuki atmosfer. Di ketinggian 57 km dpl (dari paras air laut rata-rata), tekanan yang sangat besar mulai memecah-belah meter menjadi bongkahan dan kepingan beraneka ragam ukuran. Dan pada ketinggian sekitar 40 km dpl, terjadi ledakan di udara (airburst) yang melepaskan hampir seluruh energi kinetiknya yang sebesar 5 kiloton TNT alias setara seperempat kekuatan bom nuklir yang diledakkan di atas kota Hiroshima pada akhir Perang Dunia 2.

Pasca ledakan di udara itu, massa meteor yang masih tersisa pada umumnya tinggal 1 % dari massa awal, atau setara 1 ton. Namun itu tidak berupa bongkahan utuh, melainkan terdistribusi dalam ribuan hingga puluhan ribu keping dengan perilaku yang sepenuhnya dikendalikan oleh gravitasi Bumi. Sehingga kala mereka berjatuhan mengguyur permukaan Bumi di titik targetnya, potensi kerusakan yang ditimbulkannya telah jauh lebih kecil.

Referensi :

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Webster & Brown. 2014. NASA Mars Weathercam Helps Find Big New Crater. NASA Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, California.

Melosh & Beyer. 2002. Crater Calculator. Lunar Planetary Laboratory, University of Arizona.

Meteor (Camelopardalids) Akan Menubruk Bulan

Pada Sabtu 24 Mei 2014 besok, sebuah hujan meteor yang tak biasa akan mencapai puncaknya dalam menyapa kita semua di Bumi. Inilah hujan meteor Camelopardalids, yang berkemungkinan mengguyurkan meteor sebanyak antara 100 hingga 400 buah per jamnya. Dengan telah berlalunya Bulan fase purnama, sejatinya langit malam berada dalam kondisi ideal untuk menyaksikan fenomena langka ini, tentu saja sepanjang cuaca cerah dan kita jauh dari pusat-pusat polusi cahaya seperti perkotaan.

Namun kita di Indonesia terpaksa harus gigit jari, karena puncak dan sebagian besar durasi hujan meteor Camelopardalids ini terjadi pada saat siang dan sore hari waktu Indonesia. Hujan meteor ini boleh dikata hanya bisa dinikmati secara penuh oleh mereka yang tinggal atau sedang bertempat di kawasan Amerika bagian utara. Lokasi yang sempurna adalah di sebagian Amerika Serikat dan sebagian Canada.

Gambar 1. Lokasi terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Camelopardalids, dengan asumsi puncaknya pada pukul 14:30 WIB. Garis nautical merupakan garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi Matahari minus 12 derajat (nautical twilight). Sementara garis 35 adalah garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi radian hujan meteor Camelopardalids sebesar 35 derajat dari horizon utara. Sumber: IMCEE, 2014.

Gambar 1. Lokasi terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Camelopardalids, dengan asumsi puncaknya pada pukul 14:30 WIB. Garis nautical merupakan garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi Matahari minus 12 derajat (nautical twilight). Sementara garis 35 adalah garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi radian hujan meteor Camelopardalids sebesar 35 derajat dari horizon utara. Sumber: IMCEE, 2014.

Bulan

Selain berpotongan dengan orbit Bumi, meteoroid-meteoroid yang merupakan remah-remah komet 209 P/LINEAR itu juga akan menghampiri benda langit anggota tata surya yang juga menjadi pengiring setia Bumi, yakni Bulan. Dan berbeda dengan di Bumi, meteoroid-meteoroid yang berwujud butir-butir debu dan pasir dan melesat secepat 19 km/detik atau 68.400 km/jam itu akan tiba di permukaan Bulan tanpa hambatan sama sekali. Hal ini disebabkan oleh sangat jarangnya molekul-molekul udara di Bulan, sehingga praktis Bulan tidak memiliki atmosfer. Maka tanpa sempat berubah menjadi meteor, maka meteoroid-meteoroid tersebut akan langsung membentur Bulan dengan kecepatan tetap setinggi 68.400 km/jam. Yang menyenangkan, saat benturan itu terjadi kita bisa menyaksikannya dari Bumi, jika berada di tempat dan waktu yang tepat.

Dalam prakiraan astronom Jeremie Vaubaillon (Perancis), tumbukan meteoroid-meteoroid Camelopardalids dengan Bulan akan mencapai puncaknya pada Sabtu 24 Mei 2014 sekitar pukul 08:30 hingga 12:30 WIB. Selang waktu ini memang mendahului puncak hujan meteor Camelopardalids di Bumi. Dan sedikit berbeda dengan meteoroid Camelopardalids yang memasuki atmosfer Bumi, meteoroid Camelopardalids yang berjatuhan di Bulan merupakan remah-remah komet yang terserak dari pergerakan komet 209 P/LINEAR dalam orbnitnya semenjak tahun 1703 hingga 1919. Dalam prakiraan William Cooke, astrofisikawan NASA Meteoroid Environment Office, pada saat puncak hujan meteoroid Camelopardalids di Bulan, hantaman meteoroid-meteoroid Camelopardalids di Bulan dapat disaksikan oleh mereka yang tinggal di Eropa dan Amerika Serikat dengan lokasi ideal observasi di pantai timur Amerika Serikat.

Gambar 2. Salah satu contoh rekaman kilatan cahaya yang diproduksi sebuah meteoroid saat menghantam permukaan Bulan dan terpantau dari Bumi (dalam kotak). Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Salah satu contoh rekaman kilatan cahaya yang diproduksi sebuah meteoroid saat menghantam permukaan Bulan dan terpantau dari Bumi (dalam kotak). Sumber: NASA, 2014.

Namun jangan berharap bahwa saat meteoroid-meteoroid itu menghantam Bulan, kita akan disuguhi dengan kilatan demi kilatan cahaya yang langsung bisa disaksikan secara kasat mata tanpa alat bantu apapun. Butuh teleskop dengan lensa/cermin obyektif berdiameter minimal 100 mm (10 cm) dan memiliki perbesaran di antara 40 hingga 100 kali guna mengamatinya. Sebab saat meteoroid-meteoroid tersebut membentur permukaan Bulan sebagai meteorit, kilatan-kilatan cahaya yang terbentuk akan cukup redup dengan perkiraan magnitudo semu sekitar +8 hingga +9.

Dengan kilatan cahaya produk hantaman meteorit yang seredup itu, maka bagian permukaan Bulan yang ideal untuk dijadikan target observasi hanyalah wajah Bulan yang tak tersinari cahaya Matahari namun tetap berada dalam arah pandang kita di Bumi. Cukup menarik bahwa pada 24 Mei 2014 itu Bulan sedang berada dalam fase Bulan sabit tua sehingga ada bagian wajahnya yang gelap dan memungkinkan untuk observasi kilatan cahaya produk hunjaman Camelopardalids di permukaannya.

Gambar 3. Simulasi software Starry Night Backyard v3.0 tentang wajah Bulan yang terlihat dari Bumi, khususnya dari kawasan khatulistiwa, pada Sabtu 24 Mei 2014. Titik-titik putih menunjukkan area dimana meteoroid-meteoroid Camelopardalids bakal menghantam Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Gambar 3. Simulasi software Starry Night Backyard v3.0 tentang wajah Bulan yang terlihat dari Bumi, khususnya dari kawasan khatulistiwa, pada Sabtu 24 Mei 2014. Titik-titik putih menunjukkan area dimana meteoroid-meteoroid Camelopardalids bakal menghantam Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Hujan meteor di Bulan dan bisa diamati dari Bumi bukanlah peristiwa yang aneh, meski tergolong langka. Fenomena sejenis tercatat telah mulai diamati sejak tahun 1999 kala satelit alami Bumi itu diguyur hujan meteor Leonids berintensitas sangat
tinggi dan pada saat yang sama Bumi sedang gegap gempita menyaksikan badai meteor Leonids. Tumbukan meteoroid Camelopardalids tak membawa dampak signifikan di permukaan Bulan. Sebab dengan metetoroid seukuran butiran debu hingga pasir, praktis hanya cekungan (lubang) sangat kecil yang akan terbentuk di tanah Bulan yang dihantamnya. Jika meteoroidnya seukuran kerikil, maka barulah lubang yang dibentuknya relatif besar untuk ukuran manusia. Sebagai contoh, jika meteoroidnya berdiameter 1 cm dan massa jenisnya setara dnegan air murni, maka lubang yang dibentuknya pada tanah berpasir Bulan akan berdiameter 80 cm. sementara bila meteoroidnya 3 cm maka lubangnya bakal bergaris tengah 200 cm.

Referensi :

AstroBob. 2014. Camelopardalid meteor shower targets the moon too – watch for impact flashes.

 

Camelopardalids Itu Hujan Meteor yang Tak Biasa

Sabtu, 24 Mei 2014. Inilah saat langit seakan runtuh dengan titik-titik cahaya yang mengesankan sebagai bintang-bintang berjatuhan ke bawah menuju ke Bumi. Namun jangan buru-buru cemas. Tak ada langit runtuh yang sesungguhnya pada saat itu. Adapun yang kelihatan laksana bintang-bintang berjatuhan sesungguhnya adalah meteor. Meteor-meteor itu berasal dari remah-remah sebuah komet redup, meski inti kometnya relatif cukup besar di antara sesamanya. Komet tersebut baru ditemukan umat manusia dalam kurun satu dasawarsa terakhir, namun diduga telah melanglang buana dalam lingkungan tata surya di antara orbit Bumi hingga Jupiter sepanjang ratusan hingga ribuan tahun terakhir. Remah-remah komet itu bakal memasuki atmosfer Bumi di antara pukul 13:00 hingga 15:00 WIB. Kita yang beruntung akan menyaksikan ratusan buah meteor melejit di langit malam dalam setiap jamnya. Bahkan ada potensi angkanya melonjak dramatis hingga mencapai ribuan meteor per jamnya.

Gambar 1. Sebuah hujan meteor berintensitas tinggi yang sedang terjadi, dalam hal ini Leonids di tahun 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia). Selempang galaksi Bima Sakti nampak terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan semacam ini bakal terlihat kala hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya 24 Mei 2014 besok. Sumber: NASA, 1998.

Gambar 1. Sebuah hujan meteor berintensitas tinggi yang sedang terjadi, dalam hal ini Leonids di tahun 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia). Selempang galaksi Bima Sakti nampak terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan semacam ini bakal terlihat kala hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya 24 Mei 2014 besok. Sumber: NASA, 1998.

Itulah hujan meteor Camelopardalids. Ia mendapatkan namanya yang megah karena titik sumbernya (radian), yakni titik koordinat dimana seluruh meteor tersebut seakan-akan berasal, terletak dalam konstelasi bintang Camelopardalis (Jerapah). Sebagian kita mungkin jarang mendengar nama rasi bintang yang tergolong besar namun beranggotakan bintang-bintang redup ini. Camelopardalis mengambil posisi di belahan langit bagian utara, berbatasan dengan dua rasi lainnya yang jauh lebih populer yakni Biduk atau Beruang besar (Ursa Mayor) dan Perseus. Sebagai tetangga dekat rasi Ursa Mayor, maka rasi Camelopardalis selalu berada di dekat horizon utara bila disaksikan dari Indonesia.

Hujan meteor Camelopardalids merupakan hujan meteor yang tak biasa. Sebelum tahun 2014 ini ia belum pernah terjadi. Dan selepas 2014 pun ia juga (mungkin) takkan terulang lagi secara periodik. Sehingga berbeda dengan sejumlah hujan meteor periodik yang rutin menyambangi langit malam kita pada waktu-waktu tertentu, misalnya hujan meteor eta Aquarids, maka Camelopardalids tak demikian. Ia hanya akan muncul di tahun ini saja.

Gambar 2. Komet 209 P/LINEAR, sang induk hujan meteor Camelopardalids, diabadikan pada 17 Mei 2014 oleh Gianluca Masi. Saat itu komet cukup redup, hanya seterang Pluto, sehingga harus dilakukan pencitraan/pemotretan dengan eksposur 180 detik sebanyak 5 kali yang kemudian digabungkan menjadi satu melalui teknik stacking. Sumber: Virtual Telescope Project, 2014.

Gambar 2. Komet 209 P/LINEAR, sang induk hujan meteor Camelopardalids, diabadikan pada 17 Mei 2014 oleh Gianluca Masi. Saat itu komet cukup redup, hanya seterang Pluto, sehingga harus dilakukan pencitraan/pemotretan dengan eksposur 180 detik sebanyak 5 kali yang kemudian digabungkan menjadi satu melalui teknik stacking. Sumber: Virtual Telescope Project, 2014.

Namun meski tak biasa, hujan meteor Camelopardalids langsung melejitkan sensasi. Sebab intensitasnya, yakni jumlah meteor per jam yang berkemungkinan teramati, tergolong cukup besar yakni diprediksikan antara 100 meteor/jam hingga 400 meteor/jam. Angka ini melebihi apa yang bisa dicapai trio hujan meteor periodik terbesar, yakni Quadrantids (120 meteor/jam), Lyrids (100 meteor/jam) dan Geminids (120 meteor/jam). Bahkan ada peluang, meski kecil, kalau intensitas hujan meteor Camelopardalids ini akan melampaui 1.000 meteor/jam. Jika itu terjadi, hujan meteor ini pun bakal menyandang status baru sebagai badai meteor.

Komet

Bagaimana hujan meteor Camelopardalids bisa terjadi?

Seperti halnya seluruh hujan meteor periodik yang telah dikenal, meteoroid Camelopardalids pun berasal dari remah-remah komet dalam bentuk debu dan pasir. Mereka dilejitkan dari komet 209 P/LINEAR, yakni komet berperiode pendek yang baru kita kenal dalam satu dasawarsa terakhir. Ia pertama kali terlihat pada 3 Februari 2004 silam oleh sistem LINEAR (Lincoln Near-Earth Asteroid Research), yakni salah satu sistem penyigi langit paling ambisius yang bertujuan memburu dan menemukan komet dan asteroid baru yang tak pernah dikenal sebelumnya serta mengevaluasi potensi ancamannya terhadap Bumi kita.

Pada awalnya sistem LINEAR, yang bersenjatakan teleskop pemantul dengan cermin obyektif bergaris tengah 100 cm, mendeteksi komet ini sebagai benda langit mirip asteroid yang dikodekan sebagai 2004 CB. Namun berselang sebulan kemudian, observasi astronom Robert McNaught (Australia) per 30 Maret 2004 memperlihatkan benda langit ini ternyata memiliki ekor, yang memastikan statusnya sebagai komet yang kemudian disebut sebagai komet 209 P/LINEAR.

Gambar 3. Kiri: lintasan komet 209 P/LINEAR pada tahun 1903, dengan remah-remah komet terserak sepanjang lintasannya, dalam bentuk lonjong. Lingkaran kecil merupakan orbit Bumi, sementara lingkaran lebih besar adalah orbit Jupiter. Kanan : lokasi mayoritas meteoroid produk lintasan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924. Garis merah menunjukkan orbit Bumi dan titik-titik merah dengan tanggal tertentu menunjukkan kapan Bumi menempati posisi titik tersebut. Nampak bahwa di antara 24 Mei 2014 pukul 00:00 UTC (GMT) hingga 25 Mei 2014 pukul 00:00 UT, Bumi melintas di populasi terpadat meteoroid tersebut. Sumber: IMCEE, 2014.

Gambar 3. Kiri: lintasan komet 209 P/LINEAR pada tahun 1903, dengan remah-remah komet terserak sepanjang lintasannya, dalam bentuk lonjong. Lingkaran kecil merupakan orbit Bumi, sementara lingkaran lebih besar adalah orbit Jupiter. Kanan : lokasi mayoritas meteoroid produk lintasan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924. Garis merah menunjukkan orbit Bumi dan titik-titik merah dengan tanggal tertentu menunjukkan kapan Bumi menempati posisi titik tersebut. Nampak bahwa di antara 24 Mei 2014 pukul 00:00 UTC (GMT) hingga 25 Mei 2014 pukul 00:00 UT, Bumi melintas di populasi terpadat meteoroid tersebut. Sumber: IMCEE, 2014.

Observasi demi observasi dari berbagai penjuru Bumi pada akhirnya memastikan bahwa benda langit tersebut adalah komet dan tergolong komet berperiode pendek. ia beredar mengelilingi Matahari dalam sebentuk orbit lonjong dengan perihelion 0,97 SA (satuan astronomi) dan aphelion 4,95 SA yang ditempuhnya sekali dalam tiap 5,09 tahun. Dengan kata lain, orbit komet ini merentang di antara orbit Bumi hingga ke dekat orbit Jupiter. Karena aphelionnya berdekatan dengan orbit Jupiter, maka konsekuensinya komet ini mengalami gangguan gravitasi dari planet raksasa gas tersebut secara periodik. Akibatnya orbit yang ditempuh komet ini sejatinya selalu berubah-ubah secara gradual. Sehingga orbit yang dilaluinya (misalnya) pada tahun ini adalah sedikit berbeda dibanding lintasannya pada 5 tahun silam, juga sedikit berbeda lagi dibanding lintasan 10 tahun silam. Orbit yang takstabil adalah fenomena yang umum bagi anggota tata surya berukuran mini seperti halnya komet maupun asteroid.

Komet 209 P/LINEAR ini memiliki inti komet yang tergolong besar dibanding sesama komet lainnya. Observasi astronom Carl Hergenrother (AS) dengan memanfaatkan teleskop radio Arecibo, yang adalah teleskop radio dengan piringan terbesar di dunia hingga saat ini (garis tengah piringan 304 meter), memperlihatkan inti komet 209 P/LINEAR bergaris tengah antara 1,9 km hingga 4 km dengan permukaan yang nyaris sama gelapnya dengan aspal ataupun batubara. Ia berotasi dengan periode rotasi 22 jam, yang tergolong lambat ukuran komet. Namun belum diketahui seberapa luas permukaan aktifnya, yakni bagian permukaan inti komet yang menyemburkan gas-gas volatil (mudah menguap) disertai debu dan pasir.

Dengan konfigurasi orbitnya, maka pada 6 Mei 2014 kemarin komet ini telah berada di titik perihelionnya dan kini mulai bergerak menjauhi Matahari kembali. Dan pada Kamis 29 Mei 2014 kelak, komet 209 P/LINEAR akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni sejauh 8,29 juta kilometer dari permukaan planet biru ini. Untuk ukuran astronomi, jarak tersebut terhitung sangat dekat. Dalam khasanah komet, jarak perlintasan itu menjadikan komet 209 P/LINEAR mencetak rekor sebagai komet terdekat kesembilan dari Bumi. Namun untuk ukuran manusia, komet tersebut akan melintas sangat jauh dari Bumi kita yakni 21,6 kali lipat lebih jauh ketimbang Bulan. Namun tak ada yang perlu dikhawatirkan karena potensi komet ini untuk bertubrukan dengan Bumi adalah nol.

Prospek

Gambar 4. Langit malam bagian utara pada saat puncak hujan meteor Camelopardalids, disimulasikan dari kawasan subtropis utara. Sumber: Sky & Telescope, 2014.

Gambar 4. Langit malam bagian utara pada saat puncak hujan meteor Camelopardalids, disimulasikan dari kawasan subtropis utara. Sumber: Sky & Telescope, 2014.

Kala berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, komet 209 P/LINEAR ini tetap akan terlihat sebagai benda langit yang cukup redup. Magnitudonya diperkirakan hanya sebesar +11 saja sehingga dibutuhkan teleskop dengan diameter lensa/cermin obyektif minimal 100 mm (10 cm). Di sisi lain, sangat dekatnya jarak perlintasan komet 209 P/LINEAR ini dengan Bumi beserta terjadinya perubahan orbitnya secara gradual dari waktu ke mengundang pertanyaan tentang bagaimana dengan ‘nasib’ remah-remah yang ditinggalkan di sepanjang lintasannya?

Pertanyaan tersebut dielaborasi lebih lanjut oleh astronom Esko Lyytinen (Finlandia) beserta Peter Jenniskens (AS). Dan 8 tahun silam mereka berdua memaparkan bahwa pada 24 Mei 2014 terjadi fenomena istimewa terkait dengan remah-remah komet 209 P/LINEAR. Pada tanggal itu, mayoritas remah komet yang ada pada lintasan yang ditinggalkan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924 akan berpotongan dengan orbit Bumi. Hal ini akan menghasilkan hujan meteor yang tak biasa, dengan intensitas yang besar. Analisis lain oleh astronom Maslov (2013), Vaubaillon (2012) dan Paul Wiegert (2013) secara terpisah juga menyimpulkan hal senada. Radian hujan meteor ini diprediksikan terletak pada koordinat deklinasi 79 derajat dan right ascension 124 derajat (atau 8 jam 16 menit) yang terletak di dalam rasi Camelopardalis berdekatan dengan perbatasan rasi Lynx dan Ursa Mayor.

Gambar 5. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari kota San Fransisco (AS), baik pada lingkungan tengah kota, pinggiran, pedesaan maupun puncak pegunungan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Lingkungan berpolusi cahaya mempengaruhi prediksi intensitas meteor yang mungkin teramati per jamnya. Namun secara umum hujan meteor Camelopardalids dapat disaksikan dari kawasan kota ini. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Gambar 5. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari kota San Fransisco (AS), baik pada lingkungan tengah kota, pinggiran, pedesaan maupun puncak pegunungan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Lingkungan berpolusi cahaya mempengaruhi prediksi intensitas meteor yang mungkin teramati per jamnya. Namun secara umum hujan meteor Camelopardalids dapat disaksikan dari kawasan kota ini. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Seiring belum diketahuinya kuantitas produksi debu komet 209 P/LINEAR dan tak teramatinya komet ini sebelum 2004, maka seberapa besar intensitas hujan meteor Camelopardalids sulit diketahui. Sejauh ini hanya bisa dikatakan bahwa
hujan meteor ini akan berintensitas antara 100 meteor/jam hingga 400 meteor/jam. Namun intensitas yang lebih besar lagi pun tetap berpeluang terjadi. Juga intensitas meteor yang lebih kecil dari 100 meteor/jam tetap berpeluang. Demikian halnya durasinya. Menurut Jenniskens dan Lyytinen, hujan meteor Camelopardalids akan berlangsung dalam waktu setidaknya 2 jam penuh. Namun dengan tak diketahuinya kuantitas produksi debu komet ini, maka bisa saja durasinya jauh lebih singkat (jika ternyata produksi debunya kecil) atau bahkan mungkin mencapai 15 jam (jika produksi debunya besar) seperti pendapat Paul Wiegert. Yang jelas semua sepakat bahwa puncak hujan meteor ini akan terjadi di sekitar pukul 14:00 WIB.

Indonesia

Sebuah hujan meteor bisa disaksikan dengan leluasa kala malam telah datang, dengan ketinggian Matahari minimal 12 derajat di bawah horizon sehingga langit telah betul-betul gelap tanpa terganggu oleh fajar/senja kelautan (nautical twilight). Hujan meteor juga lebih mudah disaksikan jika malam tak terganggu cahaya Bulan yang benderang di kala Bulan berada di sekitar fase purnamanya. Potensi terlihatnya sebuah peristiwa hujan meteor juga lebih besar jika radiannya berkedudukan cukup tinggi di langit.

Pada saat hujan meteor Camelopardalids terjadi, Bulan sudah jauh melewati fase purnamanya dan kini sedang menyandang status Bulan tua menuju ke konjungsi Bulan-Matahari yang baru berikutnya. Sehingga gangguan akibat cahaya Bulan di sekitar fase purnamanya dapat ditepis. Namun bila faktor fajar/senja kelautan dan ketinggian radian yang besar diperhitungkan, maka sejatinya hanya kawasan Amerika bagian utara saja yang berpotensi besar menyaksikan hujan meteor ini. Sementara bagian dunia lainnya tidak seberuntung itu.

Gambar 6. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, dalam hal ini dari Kebumen (Jawa Tengah) yang mewakili daerah lintang selatan dan Banda Aceh (Aceh) mewakili daerah lintang utara, untuk lingkungan pedesaan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Nampak di daerah lintang selatan tak memperlihatkan adanya meteor Camelopardalids, sementara di daerah lintang utara ada meski sedikit. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Gambar 6. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, dalam hal ini dari Kebumen (Jawa Tengah) yang mewakili daerah lintang selatan dan Banda Aceh (Aceh) mewakili daerah lintang utara, untuk lingkungan pedesaan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Nampak di daerah lintang selatan tak memperlihatkan adanya meteor Camelopardalids, sementara di daerah lintang utara ada meski sedikit. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, kali ini kita tak beruntung. Saat hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya, Indonesia masih mengalami situasi siang hari sehingga nyaris tak mungkin untuk melakukan pengamatan, terkecuali menggunakan radar khusus ataupun menantikan adanya meteor-terang (fireball) yang lebih benderang ketimbang Venus. Situasi diperparah oleh fakta bahwa radian Camelopardalids berketinggian cukup rendah di langit utara dan sudah terbenam sekitar sejam setelah terbenamnya Matahari. Sebuah hujan meteor memang masih bisa terlihat kala radiannya sudah terbenam, namun intensitasnya melorot drastis. Sehingga kala Amerika bagian utara berpesta-pora dengan hujan meteor Camelopardalids, mayoritas kita di Indonesia terpaksa harus gigit jari. Terkecuali di bagian Indonesia yang berada di daerah lintang utara, misalnya ujung utara pulau Sumatra. Di sini hujan meteor Camelopardalids berkemungkinan teramati, meski intensitasnya lebih kecil.

Jenniskens dan partnernya astronom Dave Nugent telah membangun aplikasi berbasis Java untuk memprediksi berapa intensitas sebuah hujan meteor yang bisa disaksikan dari titik manapun di permukaan Bumi dengan berbagai variasi polusi cahaya langit malam, mulai dari kawasan tengah kota (dengan polusi cahaya terparah), suburban/pinggiran kota, pedesaan hingga ke pegunungan (dengan polusi cahaya terminimal). Aplikasi tersebut dinamakan Fluxtimator. Kala Fluxtimator diterapkan dalam kasus hujan meteor Camelopardalids, nyatalah bahwa di Indonesia dalam selang waktu antara pukul 21:00 hingga pukul 07:00 keesokan paginya, tak ada satupun lokasi yang berkesempatan menikmati hujan meteor Camelopardalids. Di Asia Tenggara, hanya kawasan seperti Bangkok (Thailand) dan sekitarnya yang berkesempatan menikmati hujan meteor ini pada rentang waktu tersebut, itupun dengan intensitas sangat kecil. Secara umum Fluxtimator memprediksikan kawasan Asia pada umumnya kurang begitu beruntung dalam mengamati hujan meteor Camelopardalids ini. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan Amerika Utara, misalnya di kota San Fransisco (AS) dan sekitarnya.

Gambar 7. Sebuah meteor Camelopardalids, terekam pada 13 Juni 2012 dari Amerika Utara. Dalam puncak hujan meteor Camelopardalids 2014 ini, meteor sejenis dan yang lebih terang akan lebih banyak terlihat. Sumber: Jenniskens, 2014.

Gambar 7. Sebuah meteor Camelopardalids, terekam pada 13 Juni 2012 dari Amerika Utara. Dalam puncak hujan meteor Camelopardalids 2014 ini, meteor sejenis dan yang lebih terang akan lebih banyak terlihat. Sumber: Jenniskens, 2014.

Namun jangan khawatir! Masih terbuka kemungkinan untuk mengamati hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, meski kecil. Salah satunya dengan mengandalkan adanya kemungkinan meteor-terang (fireball) dalam hujan meteor ini. Laporan-laporan memperlihatkan bahwa hingga 2 minggu menjelang puncak hujan meteor Camelopardalids, telah terdeteksi sejumlah meteor-terang yang berasal dari radian ini dan dipastikan merupakan bagian dari hujan meteor Camelopardalids. Beberapa meteor-terangnya bahkan cukup terang, melebihi benderangnya Venus, sehingga berkemungkinan terlihat di siang hari. Inilah salah satu kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor yang tak biasa tersebut.

Referensi:

Beatty. 2014. Ready for May’s Surprise Meteor Shower? Sky & Telescope Online.

Phillips. 2014. A New Meteor Shower in May? NASA Science News, 6 Mei 2014.

Maslov. 2014. 209P-ids, 2014, Prediction of Activity.

IMCEE. 2014. The Next Big Meteor Shower.

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji

Setelah hampir dua minggu berada dalam status Siaga (Level III) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memutuskan untuk menurunkan status Gunung Slamet (Jawa Tengah) setingkat lebih rendah menjadi Waspada (Level II), terhitung semenjak Senin 12 Mei 2014 pukul 16:00 WIB. Penurunan ini didasarkan atas cenderung meredanya aktivitas letusan Gunung Slamet pada saat ini seperti dicerminkan oleh data kegempaan dan geokimianya.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Kegempaan Gunung Slamet memperlihatkan adanya penurunan dalam hal gempa-gempa letusan dan hembusan. Uniknya penurunan ini justru terjadi pada saat gunung berapi itu menempati status Siaga (Level III). Berdasarkan pengukuran SSAM (Seismic Spectral Amplitude Measurement), puncak kejadian gempa letusan dan hembusan Gunung Slamet telah terjadi pada rentang waktu 16 hingga 26 April 2014. Rentang waktu tersebut bersamaan dengan meroketnya energi kegempaan Gunung Slamet.

SSAM juga memperlihatkan bahwa mayoritas gempa yang berhasil direkamnya di Gunung Slamet memiliki frekuensi rendah, yakni antara 2 hingga 5 Hertz (Hz). Gempa semacam ini merupakan jejak dari aliran fluida dari perutbumi, dalam hal ini gas vulkanik. Sebaliknya gempa dengan frekuensi lebih tinggi yang menjadi ciri khas gempa vulkanik justru nihil. Ketiadaan ini menunjukkan tidak terjadinya perekahan batuan sebagai hasil bekuan magma tua yang ada di dalam saluran magma di perutbumi Gunung Slamet. Nihilnya gempa vulkanik menunjukkan tak adanya pasokan magma segar yang baru dari dapur magma dalam Gunung Slamet menuju ke kawah di puncak.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Menurunnya aktivitas Gunung Slamet juga terlihat dari sisi geokimia. Suhu air panas di mata-mata air panas Pandansari, Sicaya dan Pengasihan (ketiganya terletak di sekitar Guci, kaki barat laut Gunung Slamet) relatif stabil tanpa ada pertanda peningkatan temperatur yang dramatis. Di mataair Pengasihan suhunya cenderung berfluktuasi di sekitar angka 50 derajat Celcius. Hal serupa juga dijumpai di air panas Sicaya, yang sedikit lebih panas yakni 60 derajat Celcius. Sebaliknya pada air panas Pandansari, suhunya justru cenderung menurun meski tak terlalu besar.

Selain pengukuran suhu air panas, juga telah dilakukan pengukuran kadar gas karbondioksida (CO2) yang diemisikan Gunung Slamet dan terlarut dalam air panas. Pengukuran dilangsungkan pada air panas di kolam pancuran 3 Baturaden yang terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Pengukuran pada 9 Mei 2014 memperlihatkan kadar gas CO2 ini masih setinggi hingga 88 %. Kadar tersebut lebih besar ketimbang hasil pengukuran yang sama pada 17 hingga 21 Maret 2014 sebelumnya, yang bervariasi antara 6 hingga 78 %. Masih tingginya emisi gas CO2 menunjukkan Gunung Slamet masih menghembuskan gas-gas vulkaniknya dengan intensitas cukup tinggi. Hal ini juga konsisten dengan data kegempaan khususnya data gempa letusan dan hembusan.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Namun emisi gas-gas vulkanik ini tidak disertai dengan pasokan magma segar dari perutbumi Gunung Slamet menuju ke puncak. Maka tidak terjadi lonjakan suhu yang signifikan pada mata-mataair panas di sekujur tubuh Gunung Slamet. Tiadanya pasokan magma segar juga tercermin dari data kegempaan, khususnya nihilnya gempa-gempa vulkanik Gunung Slamet.

Tunaikan Janji

Dalam status Siaga (Level III), ‘kekacauan’ sempat terjadi seiring terdeteksinya deformasi di sektor tenggara Gunung Slamet, seperti diperlihatkan oleh instrumen tiltmeter yang dipasang di Blambangan (4,5 km sebelah timur kawah aktif Slamet). Deformasi ini berupa inflasi (penggelembungan) dan dengan kuantitas cukup besar. Fenomena ini sempat diliput oleh sebuah media cetak nasional dan dikupas sebagai pertanda aktivitas Gunung Slamet bakal terus meningkat. Umumnya inflasi pada tubuh gunung berapi ditafsirkan sebagai telah masuknya pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung. Sehingga gunung berapi tersebut sedikit membengkak.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Namun inflasi tersebut hanya tercatat di tiltmeter Blambangan dan itu pun hanya terekam pada satu sumbu dari dua sumbu yang ada. Sementara tiltmeter Cilik (5,5 km sebelah utara kawah aktif Slamet) justru tak merekamnya. Sehingga anggapan terjadinya anomali mulai muncul khususnya terkait tidak stabilnya pondasi tiltmeter Blambangan. Bila pondasi tak stabil, maka tiltmeter akan menyalurkan sinyal keliru yang bisa ditafsirkan sebagai terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet, padahal sejatinya tak demikian. Karena itu stasiun tiltmeter Blambangan kemudian dipasang ulang dan dikalibrasi pada 10 Mei 2014.

Sejauh ini Gunung Slamet memperlihatkan bahwa letusannya pada saat ini masih memiliki pola yang sama dengan letusan-letusan Slamet dalam kurun 2 abad terakhir. Yakni letusan yang didominasi semburan gas bertekanan rendah-sedang bersama debu vulkanik, tanpa disertai muntahan lava. Semburan tersebut bermanisfestasi sebagai letusan tipe Strombolian, yang bagaikan kembang api/pancuran api menari-nari di kawah aktif Slamet kala disaksikan di malam hari. Letusan Strombolian dikenal sebagai letusan pembangun. Sebab material vulkanik yang disemburkannya akan berjatuhan kembali di sekeliling kawah aktif, membentuk tumpukan material yang mengelilingi lubang letusan. Lama kelamaan tumpukan ini kian meninggi dan bakal berimbas pada bertambah tingginya puncak gunung. Puncak Slamet saat ini, khususnya bagian yang terletak di atas batas vegetasi, diperkirakan terbentuk oleh tumpukan material vulkanik dari rentetan letusan demi letusan Strombolian dalam kurun beratus tahun terakhir.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Dengan pola seperti ini, sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Gunung Slamet. Bahkan dengan penurunan statusnya menjadi Waspada (Level II) menjadi indikasi bahwa letusan Gunung Slamet di tahun 2014 ini sudah mulai melandai dan segera menuju ke titik akhirnya. Dengan kata lain, Gunung Slamet sudah hampir usai menunaikan janjinya. Penurunan status membuat radius daerah terlarang Gunung Slamet pun dipersempit kembali menjadi hanya 2 kilometer dari kawah aktif.

Meski menunjukkan kecenderungan demikian, tak ada salahnya tetap menjaga kewaspadaan. Setiap gunung berapi memiliki perilakunya sendiri dan kadang keluar dari kebiasaan. Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan Gunung Slamet keluar dari kebiasaan itulah maka pemantauan terus-menerus terhadap gunung berapi aktif ini tetap digelar. Sehingga apabila terdapat pertanda awal perubahan kebiasaan sang gunung, maka informasi bisa diperoleh dengan lebih rinci untuk kemudian disalurkan guna memenuhi kepentingan publik.

Referensi :

PVMBG. 2014. Penurunan Status Kegiatan G. Slamet Dari Siaga Menjadi Waspada, 12 Mei 2014.

Menjejak Banjir Makkah dari Langit

Sebuah peristiwa banjir yang datang secara tiba-tiba merendam sudut-sudut kotasuci Makkah dan sekitarnya di propinsi Makkah, Saudi Arabia bagian barat, pada Kamis malam 8 Mei 2014 lalu. Banjir spontan Banjir bandang singkat ini dipicu hujan sangat deras yang mengguyur propinsi Makkah dengan curah hujan sedemikian tingginya, yakni mencapai sekitar 70 mm/jam yang berlangsung selama 2 jam penuh.

Gambar 1. Bangunan suci Ka'bah dengan kiswah (kelambu) yang basah kuyup diterpa hujan deras sementara mizab (pancuran emas) di dinding barat laut terlihat memancurkan air. Pemandangan langka ini terjadi pada saat puncak hujan deras yang mengguyur kotasuci Makkah pada Kamis malam 8 Mei 2014. Meski diterpa hujan deras, namun aktivitas thawaf dan ibadah lainnya di lingkungan Masjidil Haram tidaklah menyurut. Sumber : Saudi Press Agency, 2014.

Gambar 1. Bangunan suci Ka’bah dengan kiswah (kelambu) yang basah kuyup diterpa hujan deras sementara mizab (pancuran emas) di dinding barat laut terlihat memancurkan air. Pemandangan langka ini terjadi pada saat puncak hujan deras yang mengguyur kotasuci Makkah pada Kamis malam 8 Mei 2014. Meski diterpa hujan deras, namun aktivitas thawaf dan ibadah lainnya di lingkungan Masjidil Haram tidaklah menyurut. Sumber : Saudi Press Agency, 2014.

Sampai saat ini tercatat 2 orang tewas, sementara 1.356 titik di dalam dan di sekitar kotasuci Makkah mengalami kerusakan parah. Dramatisasi banjir ini terlihat dari hanyutnya sejumlah kendaraan seiring genangan air yang cukup dalam dan arus air yang kencang. Ini mengingatkan kita akan kenangan pahit peristiwa tsunami akbar seperti dialami Indonesia (2004) maupun Jepang (2011). Derasnya air juga sempat memutus jaringan listrik di berbagai tempat. Belum ada pernyataan soal total kerugian yang diderita propinsi Makkah, namun diperkirakan angkanya melangit hingga trilyunan riyal. Kabar baiknya, meski tepat berada di pusat cekungan yang juga menjadi pusat kotasuci Makkah, kawasan Masjidil Haram (termasuk Ka’bah didalamnya) tidak tergenangi air.

Cumulonimbus

Propinsi Makkah yang menjadi tempat dimana kotasuci Makkah berada merupakan kawasan beriklim gurun, sehingga relatif kering dengan kelembaban relatif udara rata-rata antara 33 hingga 58 % dan terik dengan suhu udara rata-rata antara 24 hingga 36 derajat Celcius namun suhu tertinggi di siang hari bisa hampir 50 derajat Celcius. Sebagai daerah beriklim gurun, kotasuci Makkah sedikit mendapat hujan. Curah hujan tahunan rata-ratanya tercatat antara 80 mm/tahun hingga 100 mm/tahun. Sehingga hujan yang mengguyur di Kamis malam 8 Mei 2014 itu jauh lebih banyak ketimbang curah hujan rata-rata tahunan yang biasa diterima kotasuci Makkah. Akibatnya banjir pun spontan tak terelakkan.

Cukup menarik bahwa pertanda kedatangan banjir ini sebenarnya telah terdeteksi dari langit, misalnya melalui satelit cuaca Meteosat yang dioperasikan Eumetsat, institusi meteorologis antar-pemerintah negara-negara Eropa yang hingga kini telah beranggotakan 30 negara. Semenjak awal Mei 2014 hingga 5 hari kemudian tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan pada atmosfer di atas kotasuci Makkah. Citra Meteosat pada kanal inframerah tak menunjukkan adanya pembentukan awan yang intensif di atas kota suci Makkah dan sekitarnya.

Gambar 2. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 1 Mei 2014. Nampak semenanjung Arabia relatif bersih dari tutupan awan. Sebaliknya sisi selatan gurun sahara dipenuhi awan sebagai penanda lokasi ICTZ. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 2. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 1 Mei 2014. Nampak semenanjung Arabia relatif bersih dari tutupan awan. Sebaliknya sisi selatan gurun sahara dipenuhi awan sebagai penanda lokasi ICTZ. Sumber: SAT24, 2014.

Pembentukan awan yang intensif hanya terjadi di Afrika bagian tengah (sebelah selatan gurun Sahara), ditandai munculnya sejumlah awan cumulonimbus yang adalah sumber hujan deras. Konsentrasi awan di atas Afrika tengah ini adalah wajar, mengingat kedudukannya sebagai ITCZ (intertropical convergence zone) seiring gerak semu tahunan Matahari yang sedang mengarah ke hemisfer utara.

Gambar 3. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 5 Mei 2014. Semenanjung Arabia lagi-lagi terlihat relatif bersih dari tutupan awan. Namun kini terdapat bentangan awan memanjang di atas Mesir dan pesisir timur Laut Tengah. Sementara pada beberapa titik di sisi selatan gurun sahara terdapat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb), penyebab hujan deras dan badai petir. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 3. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 5 Mei 2014. Semenanjung Arabia lagi-lagi terlihat relatif bersih dari tutupan awan. Namun kini terdapat bentangan awan memanjang di atas Mesir dan pesisir timur Laut Tengah. Sementara pada beberapa titik di sisi selatan gurun sahara terdapat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb), penyebab hujan deras dan badai petir. Sumber: SAT24, 2014.

Namun pada Rabu 7 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah, semenanjung Arabia bagian barat terlihat mulai ditutupi awan. Gumpalan demi gumpalan awan terus terbentuk dengan pola yang mengesankan mengikuti aliran udara dari kawasan Afrika bagian tengah. Dalam 12 jam kemudian, pembentukan awan yang intensif masih terus berlangsung di atas kawasan semenanjung Arabia bagian barat ini.

Gambar 4. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 7 Mei 2014 di kala fajar (atas) dan senja (bawah). Awan kini mulai menutupi semenanjung Arabia dengan luas tutupan yang meningkat pada saat senja. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 4. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 7 Mei 2014 di kala fajar (atas) dan senja (bawah). Awan kini mulai menutupi semenanjung Arabia dengan luas tutupan yang meningkat pada saat senja. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Situasi memuncak pada 8 Mei 2014. Pada pukul 04:00 waktu Makkah, pembentukan awan yang intensif terjadi dan menutupi separuh semenanjung Arabia khususnya bagian utara hingga kawasan pesisir timur Laut Tengah. Berselang 12 jam kemudian, awan Cumulonimbus nampak terbentuk di sebelah utara kotasuci Madinah. Pada 9 Mei 2014 pukul 00:00 waktu Makkah, awan Cumulonimbus lain pun terbentuk di atas kotasuci Makkah dan pesisir Laut Merah di sebelah barat dayanya. Awan ini terus membesar dan mencapai puncaknya ukurannya dalam sejam kemudian. Inilah yang nampaknya menuangkan curah hujan sangat lebah ke kotasuci Makkah dan sekitarnya, hingga memicu air bah yang datang sekonyong-konyong.

Gambar 5. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah (atas) dan 6 jam kemudian (bawah). Awan terlihat terus tumbuh di atas sebagian semenanjung Arabia dan kini lebih tebal. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah (atas) dan 6 jam kemudian (bawah). Awan terlihat terus tumbuh di atas sebagian semenanjung Arabia dan kini lebih tebal. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 saat senja dan tengah malam. Awan yang terus tumbuh dan menebal di atas sebagian semenanjung Arabia kini mulai membentuk awan cumulonimbus (Cb). Awan cumulonimbus berukuran besar terpantau berada di sebelah utara-timur laut kotasuci Madinah pada pukul 16:00 waktu Makkah. Berselang 8 hingga 9 jam kemudian, awan cumulonimbus yang lain terbentuk di atas kotasuci Makkah dan kawasan sebelah barat lautnya. Inilah yang menurunkan hujan sangat deras hingga memicu banjir spontan. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 saat senja dan tengah malam. Awan yang terus tumbuh dan menebal di atas sebagian semenanjung Arabia kini mulai membentuk awan cumulonimbus (Cb). Awan cumulonimbus berukuran besar terpantau berada di sebelah utara-timur laut kotasuci Madinah pada pukul 16:00 waktu Makkah. Berselang 8 hingga 9 jam kemudian, awan cumulonimbus yang lain terbentuk di atas kotasuci Makkah dan kawasan sebelah barat lautnya. Inilah yang menurunkan hujan sangat deras hingga memicu banjir bandang. Sumber: SAT24, 2014.

Terjadi Berkali-Kali

Banjir spontan Banjir bandang singkat yang melanda kotasuci Makkah dan sekitarnya menjadi tambahan pukulan telak bagi pemerintah Saudi Arabia yang sedang kedodoran dihantam wabah MERS (Middle East Respiratory Syndrome). Ada berbagai pihak yang menganggap peristiwa ini merupakan bagian dari tanda-tanda akhir zaman. Argumennya, salah satu pertanda akhir zaman adalah menghijaunya kotasuci Makkah dan sekitarnya oleh pepohonan yang tumbuh di sana-sini, padahal kawasan ini sejatinya merupakan kawasan beriklim gurun. Dan banjir membawa air dalam jumlah berlimpah, yang dibutuhkan oleh setiap tumbuhan.

Penulis tidak berkompeten untuk menilai anggapan tesebut. Namun jika kita merujuk catatan sejarah, hingga tahun 1965 saja telah terjadi 89 peristiwa banjir spontan banjir bandang singkat di kotasuci Makkah. Beberapa diantaranya cukup parah hingga merendam lantai Masjidil Haram dan juga merendam bagian bawah Ka’bah. Banjir terparah di abad ke-20 terjadi pada tahun 1942. Sebelum banjir 2014 ini, banjir terparah terjadi pada 25 November 2009 silam yang menghantam kota Jeddah dan sekitarnya akibat hujan lebat hingga mencapai 90 mm dalam 4 jam. 122 orang tewas dalam bencana tersebut sementara 350 orang lainnya dinyatakan hilang. Sebagian besar korban jiwa adalah mereka yang terjebak dalam mobilnya masing-masing dan kemudian terendam/terseret banjir. Kerugian mencapai trilyunan riyal, salah satunya seiring terhambatnya arus jamaah calon haji yang hendak menuju kotasuci Makkah.

Gambar 7. Tumpukan kendaraan yang terendam dan tersapu arus deras di salah satu sudut kotasuci Makkah sebagai korban dari peristiwa banjir spontan 8 Mei 2014. Sumber: Zakhir Hussain, 2014 dalam Climate & Geohazards, 2014.

Gambar 7. Tumpukan kendaraan yang terendam dan tersapu arus deras di salah satu sudut kotasuci Makkah sebagai korban dari peristiwa banjir bandang singkat 8 Mei 2014. Sumber: Zakhir Hussain, 2014 dalam Climate & Geohazards, 2014.

Setahun berikutnya, hujan lebat disertai badai petir kembali mengguyur propinsi Makkah pada November dan Desember 2010. Sambaran petir yang menyertai hujan lebat November 2010 merenggut nyawa 3 orang. Sementara hujan Desember 2010, yang sejatinya tidak begitu lebat, menggenangi kotasuci Makkah dan menewaskan 4 orang. Hanya sebluan kemudian petaka banjir kembali berulang di kota Jeddah, pada 27 Januari 2011. Hujan deras yang mengguyur selama 3 jam penuh dengan curah hujan hingga 111 mm lagi-lagi menyebabkan banjir spontan banjir bandang singkat yang menewaskan 4 orang sekaligus melumpuhkan kota terbesar kedua di Saudi Arabia itu.

Sekilas terkesan aneh bahwa sebuah kawasan yang dikenal beriklim gurun (sehingga sangat kering) ternyata dapat juga terhantam banjir spontan banjir bandang singkat secara berulang-ulang. Peristiwa banjir spontan banjir bandang singkat tersebut merupakan imbas dari cuaca ekstrim bagi kotasuci Makkah dan sekitarnya. Pemerintah Saudi Arabia sejatinya sudah memahami kejadian banjir spontan banjir bandang singkat ini. Sehingga mereka telah membangun sejumlah bendungan (dam) dan saluran/terowongan pengelak banjir untuk meminimalisir genangan di kota semaksimal mungkin. Namun infrastruktur ini tetap menghadapi kendala khususnya jika berhadapan dengan hujan yang sangat deras.

Referensi :

1. Saudi Press Agency, 2014.

2. SAT24

3. Climate & Geohazards