Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III)

Hanya dalam tempo kurang dari 12 jam, dua gunung berapi di propinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan status kegiatan (aktivitas) setingkat lebih tinggi dibanding semula. Masing-masing adalah Gunung Merapi yang terletak perbatasan Jawa Tengah dan DIY serta Gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah bagian barat.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memutuskan menaikkan status Gunung Merapi dari yang semula Aktif Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) mulai Selasa 29 April 2014 pukul 23:50 WIB. Alasannya adalah meningkatnya jumlah kegempaan Gunung Merapi terhitung semenjak 20 April 2014 atau sejak terjadinya erupsi freatik Merapi yang terakhir. Dalam kurun waktu 20 hingga 29 April 2014 telah terjadi 37 kali gempa guguran, 13 kali gempa fase banyak (multiphase), 4 kali gempa hembusan dan 29 kali gempa LF (low frequency).

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gambar 1. Hembusan di Gunung Merapi pada Jumat pagi 25 April 2014, diabadikan dari Observatorium as-Salam, kompleks pondok pesantren modern as-Salam, Pabelan, Surakarta (Jawa Tengah). Sumber: AR Sugeng Riyadi, 2014.

Gempa guguran adalah getaran yang terjadi kala bongkahan-bongkahan batuan berukuran besar terlepas dari kubah lava Merapi dan jatuh menggelinding menuruni lereng hingga jarak tertentu. Sementara gempa fase banyak merupakan getaran yang terkait dengan aktivitas internal kubah lava. Sedangkan gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Dan gempa low frequency merupakan getaran yang terkait dengan peningkatan jumlah fluida dalam tubuh gunung, yang dalam hal ini adalah gas vulkanik.

Peningkatan status Gunung Merapi terutama didasarkan pada melonjaknya jumlah gempa low frequency yang dramatis. Sebelumnya sejak 1 Januari 2012 hingga 27 April 2014 tidak terjadi gempa low frequency sekali pun. Namun mulai 28 April 2014 gempa ini mulai terjadi dan terus meningkat. Uniknya, lonjakan gempa low frequency ternyata tidak dibarengi munculnya gempa vulkanik ataupun deformasi tubuh gunung. Gempa vulkanik adalah getaran yang terjadi seiring pergerakan fluida di kedalaman tertentu di bawah gunung, dalam hal ini adalah magma segar. Nihilnya gempa vulkanik Merapi khususnya gempa vulkanik dalam (VTA) menunjukkan tak adanya aliran magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman menuju kantung magma dangkal di internal tubuh gunung. Dalam aras yang sama, nihilnya gempa vulkanik khususnya dalam bentuk gempa vulkanik dangkal (VTB) memperlihatkan pada saat ini tak adanya tanda-tanda mulai terisinya kantung magma dangkal Merapi oleh magma segar dan tiadanya aliran magma segar dari kantung magma dangkal menuju puncak.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Gambar 2. Kegempaan Gunung Merapi semenjak 1 Januari 2012 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa low frequency (LF), nomor dua dari atas, yang melonjak tajam mulai 28 April 2014. Sumber: BPPTKG, 2014.

Selain diperlihatkan oleh nihilnya gempa-gempa vulkanik, ketiadaan aliran magma segar di perutbumi Merapi juga ditunjang dengan nihilnya deformasi tubuh gunung khususnya penggelembungan (inflasi). Saat magma segar memasuki tubuh gunung khususnya kantung magma dangkal (yang masih terisi magma sisa periode letusan sebelumnya), magma segar mendorong tubuh gunung sedemikian rupa sehingga tubuh gunung akan membengkak/menggelembung. Peristiwa ini bisa diibaratkan dengan balon yang membesar kala ditiup. Pembengkakan tubuh gunung ini tak kasat mata, namun bisa diukur dengan sejumlah instrumen deformasi seperti tiltmeter (pengukur kemiringan lereng) maupun EDM (pengukur jarak tunjam antara titik referensi dengan titik-titik di puncak). Pengukuran tiltmeter maupun EDM menunjukkan Gunung Merapi pada saat ini tidak mengalami inflasi.

Dengan demikian peningkatan status Gunung Merapi pada saat ini lebih didasari oleh meningkatnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Selain tercermin melalui gempa low frequency, peningkatan gas vulkanik nampaknya juga terindikasi lewat terjadinya dentuman yang berulang-ulang di Gunung Merapi, tanpa disertai semburan material vulkanik. Suara dentuman tersebut terdengar dari pos-pos pengamatan Gunung Merapi hingga jarak 8 km dari puncak.

Harus digarisbawahi bahwa gas-gas vulkanik ini berasal dari kantung magma dangkal Merapi sehingga masih cukup panas. Andaikata ia bertemu dengan air bawah tanah maka gas-gas vulkanik panas ini sanggup menguapkannya lewat rangkaian proses yang bisa berujung pada terjadinya erupsi freatik. Dan dengan jumlah gas vulkanik yang lebih besar ketimbang dalam situasi normal, maka erupsi freatiknya berkemungkinan menyemburkan material vulkanik lebih tinggi dan lebih banyak ketimbang erupsi-erupsi freatik yang telah terjadi selama ini. Sehingga wajar jika BPPTKG kemudian menaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II).

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Gambar 3. Gambaran sederhana mengenai deformasi tubuh gunung berapi dalam bentuk inflasi (penggelembungan/pembengkakan) dan deflasi (pengempisan). Hingga 1 Mei 2014, Gunung Merapi tidak mengalami inflasi. Sebaliknya Gunung Slamet telah mengalami inflasi. Sumber: Suganda dkk, 2007 diadaptasi dari Abidin, 2001.

Kenaikan status ini tidak berimbas pada terbentuknya daerah terlarang. Namun pendakian Gunung Merapi untuk sementara waktu tidak direkomendasikan. Gunung ini hanya boleh didaki untuk kepentingan penelitian dan penyelidikan dalam rangka mitigasi bencana. Dalam status ini, penduduk yang tinggal di lereng dan kaki gunung diharap untuk menyiapkan barang-barang penting yang harus dibawa dalam evakuasi. Sehingga apabila di kemudian hari Gunung Merapi ditetapkan dinaikkan kembali statusnya, evakuasi sudah siap dilaksanakan.

Slamet

Berselang 10 jam dari penetapan status Waspada (Level II) di Gunung Merapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memutuskan untuk menaikkan status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III). Sebelumnya Gunung Slamet telah menyandang status Waspada (Level II) terhitung semenjak tanggal 10 Maret 2014. Berbeda dengan Gunung Merapi, peningkatan status Gunung Slamet didasari oleh gempa hembusan dan gempa letusan yang cenderung melonjak serta terjadinya deformasi.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gambar 4. Semburan material vulkanik pijar menyerupai pancuran kembang api, ciri khas erupsi strombolian, di kawah Gunung Slamet, diabadikan dari obyek wisata Baturaden. Sumber: AP, 2014.

Gempa hembusan merupakan getaran yang segera disusul dengan pelepasan uap air dan/atau gas vulkanik dari kawah yang membumbung ke udara yang nampak sebagai semburan asap berwarna cerah (putih). Sementara gempa letusan mirip gempa hembusan namun dengan jumlah uap air/gas vulkanik yang terlepas lebih banyak dan membawa material vulkanik sehingga berwarna lebih gelap/abu-abu. Di malam hari, gempa letusan diikuti dengan ketampakan semburan material pijar menyerupai pancuran kembang api dari kawah, sebagai ciri khas erupsi strombolian.

Dalam kurun waktu 8 hingga 28 Maret 2014, Gunung Slamet mengalami rata-rata 180 gempa hembusan/hari dan 47 gempa letusan/hari. Sementara dalam kurun waktu 29 Maret hingga 29 April 2014, gempa hembusannya melonjak menjadi rata-rata 334 kejadian/hari. Demikian pula gempa letusan yang melonjak ke angka rata-rata 78 kejadian/hari. Lonjakan ini menandakan meningkatnya intensitas letusan, meskipun tekanan gas vulkanik (sebagai penggerak terjadinya letusan) cenderung tetap seperti diperlihatkan dari tinggi setiap kolom asap (semburan material vulkanik letusan) yang relatif sama, yakni maksimum 1.800 meter di atas kawah. Di malam hari, letusan teramati sebagai pancuran pijar mirip kembang api yang terlontar hingga setinggi 700 meter dari kawah.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 5. Kegempaan Gunung Slamet semenjak 1 Januari 2014 hingga sekarang. Perhatikan komponen gempa letusan dan hembusan, masing-masing nomor satu dan dua dari atas, yang cenderung terus meningkat. Sumber: PVMBG, 2014.

Meningkatnya intensitas letusan Gunung Slamet juga diperlihatkan oleh lonjakan energi gempa akumulatifnya yang diperlihatkan oleh instrumen RSAM (real-time seismic amplitude measurement) yang telah dipasang di bukit Cilik, yang berlokasi 5,5 km di sebelah utara puncak Slamet. Lonjakan ini terdeteksi semenjak 17 April 2014. Pada saat yang sama terdeteksi terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet dalam wujud inflasi (penggelembungan/pembengkakan). Inflasi terdeteksi melaui instrumen EDM dengan refletor yang terpasang di bukit Cilik dan bukit Buncis (6 km sebelah barat laut puncak Slamet). Inflasi menunjukkan telah masuknya magma segar ke dalam kantung magma dangkal di dasar Gunung Slamet dan tinggal menunggu waktu untuk diletuskan.

Cukup menarik bahwa setelah ditetapkan berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet justru relatif sepi dari aktivitas gempa vulkanik. Gempa vulkanik yang relatif sedikit, baik gempa vulkanik dalam maupun dangkal, mungkin menjadi indikasi bahwa pasokan magma segar dari dapur magma nun jauh di kedalaman perutbumi Gunung Slamet telah berkurang.

Sebagai implikasi dari naiknya status Gunung Slamet menjadi Siaga (Level III), maka daerah terlarang Gunung Slamet pun diperluas dari semula secara umum beradius 2 km menjadi 4 km dari kawah aktif. Daerah bahaya ini mencakup KRB (kawasan rawan bahaya) 2 Gunung Slamet. Daerah ini dinyatakan terlarang karena selalu berpotensi terkena guyuran debu vulkanik pekat disertai lapili (kerikil) dengan diameter antara 1 hingga 4 cm. Selain itu daerah ini juga berpotensi terlanda aliran awan panas maupun lava khususnya melalui lembah-lembah sungai yang mengarah ke puncak Slamet.

Kewaspadaan

Pertanyaan yang spontan terucap seiring peningkatan status Gunung Merapi dan Gunung Slamet adalah apakah keduanya akan meletus? Seberapa dahsyat letusannya? Akankah sedahsyat Gunung Kelud ?

Jawabannya tentu saja harus melihat perkembangan aktivitas kedua gunung berapi tersebut dari waktu ke waktu. Mari fokus ke Gunung Slamet. Secara teknis semenjak dinaikkan statusnya menjadi Waspada (Level II), Gunung Slamet sebenarnya telah meletus. Namun letusannya merupakan letusan-letusan kecil dengan tipe erupsi strombolian. Erupsi strombolian menyemburkan material vulkaniknya mirip pancuran kembang api hingga ketinggian tertentu. Namun hampir seluruh material vulkanik ini kemudian berjatuhan kembali ke dasar kawah. Hanya beberapa yang sempat terlontar jauh sehingga jath di luar dinding kawah dan selanjutnya menggelinding menuruni lereng, namun itupun tidak jauh. Maka ancaman terbesar erupsi strombolian Gunung Slamet sejatinya hanya di seputar kawah aktif gunung ini. Meski demikian daerah terlarang hingga 4 km dari kawah diberlakukan untuk mengantisipasi bongkah-bongkah material vulkanik yang sempat terlontar lebih jauh sehingga jatuh di luar kawah dan menuruni lereng. Daerah bahaya tersebut juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya awan panas maupun guguran lava pijar. Meski sejauh ini Gunung Slamet tidak menunjukkan tanda-tanda pembentukan awan panas maupun lava pijar.

Sampai saat ini (1 Mei 2014), kegempaan vulkanik Gunung Slamet menunjukkan kecenderungan bahwa letusan kali ini pun mirip dengan Letusan Slamet 2009. Sehingga potensi terjadinya letusan yang lebih besar adalah cukup kecil. Dengan kata lain, aktivitas Gunung Slamet kali ini nampaknya tidak akan menjangkau kawasan berpenduduk padat di kaki gunung seperti halnya kota Purwokerto maupun Purbalingga. Apalagi untuk lokasi yang lebih jauh. Sehingga untuk saat ini dapat dikatakan bahwa Gunung Slamet tidak akan seperti Gunung Kelud. Meski demikian kewaspadaan harus tetap dijaga seiring pemantauan ketat PVMBG melalui pos pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan (Pemalang). Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama.

Bagaimana dengan Gunung Merapi? Hingga saat ini (1 Mei 2014) aktivitas Gunung Merapi masih cenderung pada bertambahnya jumlah gas vulkanik dalam tubuh gunung. Belum disertai dengan pergerakan magma segar. Namun demikian kewaspadaan harus ditingkatkan mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan magma segar ke permukaan yang bakal dipungkasi dengan erupsi magmatik. Peningkatan jumlah gas vulkanik juga harus dicermati sebagai peningkatan potensi terjadinya erupsi freatik dibanding apa yang telah terjadi selama ini. Pemantauan ketat BPPTKG dilakukan melalui pos pengamatan Gunung Merapi yang ada di Kaliurang, Jrakah, Babadan, Selo dan Ngepos. Setiap rekomendasi PVMBG mengenai Gunung Slamet sebaiknya dipatuhi, demi keselamatan bersama. Terlebih setelah Letusan Merapi 2010, gunung berapi ini telah berubah. Sehingga kebiasaan (titen) yang berlaku di masa lalu mungkin sudah tak bisa diterapkan lagi pada waktu kini.

Referensi :

1. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Merapi Dari Normal (level I) Menjadi Waspada (level II), 29 April 2014.

2. PVMBG. 2014. Peningkatan Status Kegiatan G. Slamet Dari Waspada (level II) Ke Siaga (level III), 30 April 2014.

Iklan

One thought on “Gunung Merapi Berstatus Waspada (Level II), Gunung Slamet Meningkat ke Siaga (Level III)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s