Debu Komet Halley dan Kisah Bintang Penembus

Jika anda sedang menatap langit malam pada Selasa dinihari 6 Mei 2014 dan menyaksikan kilatan demi kilatan cahaya mengerjap dalam tempo hanya beberapa detik namun berulang-ulang, jangan heran. Jangan buru-buru menyangkanya sebagai hantu atau sejenisnya. Juga jangan keliru menganggapnya sebagai pertanda keberuntungan (ndaru). Ingat musim pemilihan umum legislatif telah usai dan banyak yang sudah jatuh terpuruk menatap sedikitnya perolehan suara dibandingkan ongkos besar yang telah dihamburkan. Kilatan-kilatan cahaya tersebut adalah meteor demi meteor yang menjadi bagian dari sebuah peristiwa hujan meteor.

Hujan meteor, secara sederhana, adalah peristiwa masuknya sejumlah meteoroid ke atmosfer Bumi dengan demikian rupa sehingga kita di permukaan Bumi akan menyaksikannya seolah-olah semuanya berasal dari satu titik yang sama di langit. Titik tersebut diberi nama radian. Meteoroid-meteoroid itu senantiasa berukuran sangat kecil, hanya sebesar butir-butir debu dan pasir. Namun karena memiliki kecepatan awal sangat tinggi, yakni hingga beberapa puluh kilometer per detik (!), maka tatkala memasuki atmosfer Bumi ia akan terpanaskan hebat oleh tekanan ram yang dideritanya dari lapisan-lapisan udara yang dilintasinya. Pemanasan hebat membuatnya berpijar sebagai meteor sekaligus menjadi bersuhu sangat tinggi sehingga bakal menguap habis di ketinggian antara 60 hingga 90 km dari permukaan Bumi. Beberapa meteoroid yang lebih besar hingga seukuran kerikil akan meluncur lebih jauh dengan pancaran cahaya cukup terang, menjadikannya meteor-terang (fireball). Namun ia pun bakal menguap habis di atmosfer, umumnya di atas ketinggian 50 km.

Hujan meteor selalu mendapatkan namanya dari nama rasi bintang dimana titik radian tersebut berada, ditambahi akhiran -ids. Maka bila titik radiannya terletak di dalam gugusan bintang Pari yang gemerlap menghiasi langit selatan dan memiliki nama resmi Crux, hujan meteornya diberi nama Cruxids. Demikian pula jika berasal dari gugusan bintang Centaurus, si tetangga Pari, ia pun mendapatkan nama Centaurids.

Gambar 1. Titik radian hujan meteor eta Aquarids dilihat dari belahan Bumi selatan. Sumber : AMS, 2011.

Gambar 1. Titik radian hujan meteor eta Aquarids dilihat dari belahan Bumi selatan. Sumber : AMS, 2011.

Hampir seluruh hujan meteor yang kita kenal mendapatkan meteoroidnya dari komet periodik, yakni komet yang beredar mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk ellips dengan periode tertentu. Saat suatu komet periodik bergerak mendekati Matahari guna menuju titik perihelionnya, panas dan tekanan angin Matahari (serta kadang hempasan badai Matahari) membuat kerak nukleus (inti komet) terpanaskan dan retak-retak. Konsekuensinya bekuan gas-gas volatil (gas mudah menguap) yang selama ini aman tersembunyi di dalam kerak mendadak tersublimasi dan terhembus keluar, mirip semburan gas dalam peristiwa letusan gunung berapi di Bumi. Tak sekedar menghembus, gas-gas ini menyeret serta butir-butir debu dalam inti komet ke antariksa. Kita di Bumi akan menyaksikan hembusan itu sebagai ekor komet. Debu yang tersembur lantas terserak di sepanjang lintasan komet tersebut. Bilamana Bumi kebetulan melintas di dekat konsentrasi debu komet yang terserak di langit ini, maka sebagian diantaranya akan memasuki atmosfer Bumi sebagai hujan meteor.

Cara Mengamati

Yang muncul Selasa dinihari 6 Mei 2014 itu adalah remah-remah dari komet Halley. Ia memasuki atmosfer Bumi dengan titik radian di dalam rasi Aquarius, sehingga mendapatkan nama Aquarids. Lengkapnyan hujan meteor eta Aquarids. Karena konsentrasi debu komet Halley ini merentang dalam lintasan cukup lebar, maka hujan meteor eta Aquarids sejatinya terjadi dalam waktu agak lama. Yakni sekitar 3 minggu, mulai dari 21 April hingga 12 Mei di setiap tahunnya. Namun puncak hujan meteornya hanya terjadi dalam sesaat saja, yakni antara 5 atau 6 Mei setiap tahun.

Catatan sejarah menunjukkan hujan meteor eta Aquarids ini kemungkinan telah teramati semenjak 16 abad silam. Tetapi secara formal hujan meteor eta Aquarids baru dianggap ditemukan pada tahun 1870, saat Letkol G.L. Tupman melaporkan terlihatnya sejumlah meteor pada 30 April dan 2 Mei malam kala pelaut itu sedang melayari Laut Tengah. Laporannya dilengkapi dengan plot lintasan meteor demi meteor yang berhasil disaksikannya. Selama setengah abad berikutnya laporan demi laporan terus berdatangan. Maka diketahui bahwa hujan meteor ini ternyata lebih mudah untuk disaksikan dari belahan langit selatan dan kawasan khatulistiwa ketimbang belahan langit utara. Analisis orbit setiap meteor dengan cepat memperlihatkan bahwa mereka hampir identik dengan orbit komet Halley, secara garis besar.

Gambar 2. Komet Halley yang terlihat cemerlang dengan menggunakan teleskop, diabadikan pada April 1986 setelah komet melintasi titik perihelionnya. Di latar belakang nampak populasi bintang yang berjejal-jejalan di sepanjang selempang galaksi Bima Sakti. Sumber: Anonim, 1986.

Gambar 2. Komet Halley yang terlihat cemerlang dengan menggunakan teleskop, diabadikan pada April 1986 setelah komet melintasi titik perihelionnya. Di latar belakang nampak populasi bintang yang berjejal-jejalan di sepanjang selempang galaksi Bima Sakti. Sumber: Anonim, 1986.

Puncak hujan meteor ini, yakni pada awal Mei, bertepatan dengan jarak terdekat antara orbit rata-rata komet Halley terhadap Bumi. Jarak terdekat tersebut bernilai 0,065 SA (satuan astronomi), atau sama dengan 9,7 juta kilometer, atau setara 25 kali jarak rata-rata Bumi-Bulan. Cukup mengagumkan bahwa terdapat dua kesempatan orbit rata-rata komet Halley berjarak cukup dekat dengan Bumi, masing-masing pada bulan mei dan Oktober setiap tahunnya. Karena itu hujan meteor eta Aquarids pun memiliki pasangan, yakni hujan meteor Orionids yang titik radiannya berasal dari rasi Orion atau di Indonesia dikenal sebagai rasi Waluku.

Mengamati sebuah hujan meteor tidak membutuhkan instrumen yang rumit. Justru alat optik yang paling diandalkan adalah mata kita yang tak dilekati alat bantu apapun sehingga memiliki medan pandang cukup lebar yang dibutuhkan untuk mengamati meteor. Namun pengamatan hujan meteor membutuhkan kesabaran, karena kita harus menengadahkan kepala mengamati langit untuk kurun waktu tertentu. Sangat dianjurkan bagi pengamat untuk duduk di kursi sedemikian rupa sehingga ia bisa menatap langit dengan mudah dan rileks. Syarat lainnya adalah lingkungan yang gelap dan jauh dari polusi cahaya. Dan syarat mutlaknya adalah tidak ngantuk. Sebab dengan posisi duduk yang rileks, apalagi berada di lingkungan yang gelap (dan jelas sepi), resiko tertidur pulas di tengah-tengah gemerlapnya langit kala hujan meteor terjadi adalah sangat besar.

Dari Indonesia, titik radian hujan meteor eta Aquarids baru akan terbit dari horizon timur sekitar pukul 01:30 WIB. Sebaliknya pada saat fajar menyingsing, hujan meteor ini bakal sangat sulit diamati karena kalah cemerlang dibanding cahaya fajar. Karena itu kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor eta Aquarids pada dasarnya hanya terjadi dalam waktu sekitar 3 jam saja.

Komet Halley

Induk hujan meteor eta Aquarids adalah komet Halley, komet legendaris yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi. Inilah satu dari dua komet yang tak diberi nama sesuai nama orang yang pertama kali mengamati dan melaporkannya secara formal. Inilah benda langit non planet pertama (beserta satelitnya) yang menjadi ajang pembuktian hukum gravitasi Newton. Adalah Edmund Halley, astronom besar Inggris yang pertama kali menyadari bahwa tiga komet yang masing-masing terlihat pada tahun 1531 (oleh Apianus), di tahun 1607 (oleh Kepler) dan di tahun 1682 sejatinya merupakan komet yang sama. Kesimpulan itu diperolehnya berdasarkan perhitungan-perhitungan menggunakan hukum baru yang dicetuskan sahabatnya, Isaac Newton, yakni hukum gravitasi.

Gambar 3. Sebagian dari tim pengamat komet Halley di Indonesia dalam kesempatan observasi yang dilangsungkan di bumi perkemahan Cibubur (Jakarta) pada 12 April 1986 pukul 02:00 WIB. Dari kiri ke kanan: ibu Tien Soeharto, pak Harto (saat itu Presiden RI) serta pak Cecep Nurwendaya dan pak Rofiq (keduanya dari Planetarium dan Observatorium Jakarta). Di latar belakang terlihat memegang peta bintang adalah pak Benny Moerdani (saat itu Menhankam/Pangab). Sumber: Nurwendaya, 1986.

Gambar 3. Sebagian dari tim pengamat komet Halley di Indonesia dalam kesempatan observasi yang dilangsungkan di bumi perkemahan Cibubur (Jakarta) pada 12 April 1986 pukul 02:00 WIB. Dari kiri ke kanan: ibu Tien Soeharto, pak Harto (saat itu Presiden RI) serta pak Cecep Nurwendaya dan pak Rofiq (keduanya dari Planetarium dan Observatorium Jakarta). Di latar belakang terlihat memegang peta bintang adalah pak Benny Moerdani (saat itu Menhankam/Pangab). Sumber: Nurwendaya, 1986.

Halley benar-benar terpukau dengan sejumlah gagasan sahabatnya, sehingga rela merogoh koceknya sendiri guna mengongkosi penerbitan buku tentang itu setelah Newton ditolak oleh Royal Society (perhimpunan ilmuwan kerajaan Inggris Raya). Kelak buku tersebut, yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, menjadi opus magnum Newton sekaligus salah satu buku paling berpengaruh sepanjang peradaban manusia modern.

Dengan basis hukum gravitasi Newton dan pengetahuan orbit ellips, pada tahun 1705 Halley menyimpulkan komet tersebut secara rutin kembali terlihat setiap 76 tahun sekali. Maka ia pun memprediksi komet yang sama akan muncul kembali pada tahun 1758. Prediksinya ternyata menjadi kenyataan, meski Halley sama sekali tak berkesempatan menyaksikannya secara langsung karena keburu wafat 16 tahun sebelumnya. Sukses ini menggemparkan jagat ilmu pengetahuan masa itu sekaligus mempertontonkan kedahsyatan mekanika Newton. Untuk mengenang jasanya, komet itu pun kemudian diberi nama komet Halley. Secara resmi kini ia ditulis sebagai komet 1 P/ Halley, dimana 1 menunjukkan kedudukan komet pada nomor teratas dalam katalog komet dan P simbol untuk komet periodik.

Kini kita tahu periode komet Halley berubah-ubah di antara 69 hingga 79 tahun, sebagai akibat berubah-ubahnya orbit komet oleh pengaruh gravitasi planet-planet raksasa seperti Jupiter dan Saturnus. Perubahan orbit ini adalah wajar untuk benda-benda langit seperti komet dan asteroid, karena mereka pada umumnya beredar mengelilingi Matahari dalam orbit yang takstabil dicirikan oleh besarnya inklinasi dan eksentrisitas. Inklinasi adalah sudut yang dibentuk bidang orbit komet dan ekliptika, sementara eksentrisitas adalah parameter kelonjongan orbit yang bernilai di antara 0 dan 1 dimana semakin mendekati 1 maka semakin eksentrik (lonjong). Bandingkan dengan orbit planet-planet, yang memiliki inklinasi sangat kecil sehingga hampir sejajar dengan ekliptika. Planet-planet juga memiliki eksentrisitas sangat kecil (mendekati 0) sehingga orbitnya mendekati bentuk lingkaran sempurna.

Gambar 4. Inti komet Halley seperti diabadikan wahana antariksa Giotto milik ESA (European Space Agency) dalam jarak hanya 500 km. Nampak inti komet berbentuk irregular, gelap sehitam batubara dan hanya 10 % dari permukaannya saja yang aktif menghasilkan semburan gas dan debu yang menyusun kepala komet (coma) dan ekor komet. Sumber: ESA, 1986.

Gambar 4. Inti komet Halley seperti diabadikan wahana antariksa Giotto milik ESA (European Space Agency) dalam jarak hanya 500 km. Nampak inti komet berbentuk irregular, gelap sehitam batubara dan hanya 10 % dari permukaannya saja yang aktif menghasilkan semburan gas dan debu yang menyusun kepala komet (coma) dan ekor komet. Sumber: ESA, 1986.

Dengan sifat seperti itu dan saat dibandingkan dengan catatan-catatan sejarah di Cina, Babilonia dan Eropa abad pertengahan, maka kita tahu bahwa komet Halley telah diamati manusia selama sedikitnya 22 abad terakhir. Sepanjang masa tersebut komet ini menjadi satu-satunya komet berperiode pendek yang dengan mudah bisa kita lihat tanpa dibantu oleh instrumen optik apapun. Terakhir kali komet ini mendekat ke Matahari pada 1986 silam, yang sekaligus tercatat sebagai pertemuan terburuk umat manusia dengan komet Halley. Saat itu komet hanya nampak sebagai benda langit dengan magnitudo semu +2, atau hanya setara bintang-bintang redup.

Namun perjumpaan terburuk ini sekaligus menandai sejarah baru dimana untuk pertama kalinya kita berhasil menatap wajah inti komet Halley secara langsung melalui berbagai wahana antariksa, termasuk Giotto. Wahana Giotto berhasil mendekati inti komet Halley hingga hanya sejauh 500 km. Giotto mengungkap inti komet Halley adalah gumpalan besar tak beraturan dengan panjang 15 km dan lebar 8 km yang sehitam batubara. Hanya 10 % dari permukaan inti komet Halley yang menyemburkan gas dan debu, sebuah ciri khas komet “tua.”

Perjumpaan lainnya yang patut diperhatikan adalah pada tahun 607. Saat itu komet Halley melintasi perihelionnya pada 15 Maret 607. Berselang lebih dari sebulan kemudian, yakni pada 26 April 607, komet Halley berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni sejauh 0,05 SA. Ini setara dengan jarak 7,5 juta kilometer, tergolong sangat dekat untuk ukuran astronomi. Pada saat itu komet Halley diprakirakan nampak cemerlang dengan magnitudo semu -1 atau lebih terang dibanding bintang Sirius.

Jika disimulasikan bagi kota Makkah, maka pada akhir April 607 itu komet Halley muncul di atas kota Makkah hampir di sepanjang malam dengan mengambil posisi di langit bagian selatan pada kedudukan relatif tinggi. Selain cemerlang, ketampakan komet Halley pada saat itu diperkirakan juga terlihat lengkap bersama ekornya yang panjang merentang langit hingga beberapa belas derajat. Maka secara keseluruhan komet Halley saat itu akan terlihat sebagai benda langit aneh karena berbentuk segitiga menyerupai mata tombak, ataupun mirip ujung pedang, ataupun mirip ujung jarum.

Singkatnya bentuk benda langit ini mirip dengan alat-alat penembus yang telah dikenal masa itu. Dengan iklim setempat berupa iklim gurun sehingga memiliki hari-hari berawan/mendung yang sangat sedikit namun memiliki horizon (ufuk) yang kabur akibat debu gurun yang terangkat dan terbang oleh sirkulasi angin setempat, komet Halley akan terlihat dengan jelas di langit malam tanpa gangguan.

Gambar 5. Ketampakan komet Halley dari kota Makkah pada 26 April 607, disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0. Komet berada di rasi Kalajengking (Scorpio) dengan latar belakang selempang galaksi Bima Sakti. Magnitudo semu komet adalah -1, menjadikannya benda langit terang yang jauh melampaui bintang tercemerlang sekalipun. Pada akhir April 607 ini komet Halley ada di langit Makkah di hampir sepanjang malam. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan basis Starry Night.

Gambar 5. Ketampakan komet Halley dari kota Makkah pada 26 April 607, disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0. Komet berada di rasi Kalajengking (Scorpio) dengan latar belakang selempang galaksi Bima Sakti. Magnitudo semu komet adalah -1, menjadikannya benda langit terang yang jauh melampaui bintang tercemerlang sekalipun. Pada akhir April 607 ini komet Halley ada di langit Makkah di hampir sepanjang malam. Sumber: Sudibyo, 2013 dengan basis Starry Night.

Apakah ia memesona penduduk kota Makkah saat itu? Mungkin saja, apalagi bangsa Arab dikenal memiliki pengetahuan mencukupi dalam hal benda-sbenda langit dan konstelasinya. Dalam buku Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah, penulis berpendapat ketampakan komet Halley saat itu direkam dalam al Qur’an melalui bahasa simbolis dalam surat ath-Thaariq ayat 1 sampai 3, khususnya pada frasa an-najm ats-tsaqib (bintang yang menembus).

ETA-halley_aththariq1_3

 

 

“Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,”

Benarkah ayat ini mencerminkan komet Halley? Wallahua’lam. Yang jelas surat ath-Thaariq tergolong surat Makiyyah, yakni kelompok surat yang diturunkan selama Rasulullah SAW masih tinggal di kota Makkah. Dan beliau menerima wahyu untuk pertama kalinya pada bulan Ramadhan 13 tahun sebelum peristiwa Hijrah. Dalam perhitungan yang dikembangkan Djamaluddin (2001), saat itu bertepatan dengan bulan Agustus 609. Namun perhitungan ini sepenuhnya berbasis anggapan (asumsi) bahwa kalender Hijriyyah yang digunakan pada saat itu sama dengan pada saat ini, yakni sebagai kalender lunar murni. Kalender lunar murni adalah sistem penanggalan yang sepenuhnya berbasis peredaran Bulan tanpa dipengaruhi faktor-faktor lain. Padahal ada indikasi bahkan hingga 10 tahun pasca peristiwa Hijrah, kalender yang digunakan adalah kalender lunisolar. Yakni sistem penanggalan yang tak hanya berpatokan pada peredaran Bulan, namun juga pada peredaran (semu) Matahari.

Dalam kalender lunisolar, setahun kalender bisa mengandung 12 bulan kalender, namun juga bisa terdiri dari 13 bulan kalender (dengan 1 bulan kalender tambahan) yang tergantung pada kebutuhan. Penduduk Makkah saat itu menyebut sistem penanggalan itu sebagai Naasi’/Naasa’. Hingga kini tak ada yang mengetahui bagaimana bentuk sebenarnya dari Naasi’ ini. Tetapi bila mengacu pada kalender-kalender lunisolar lainnya, diperkirakan bulan kalender tambahan itu dimasukkan setiap 2 hingga 3 tahun sekali. Jika memang demikian, maka dalam rentang masa 33 tahun tersebut (13 tahun sebelum Hijrah hingga 10 tahun pasca Hijrah), terdapat 7 hingga 11 bulan kalender tambahan. Bila tambahan ini dimasukkan ke dalam perhitungan Djamaluddin di atas, maka wahyu pertama mungkin diturunkan pada rentang masa antara September 608 hingga Januari 609.

Apakah demikian? Wallahua’lam. Namun jika memang demikian, maka awal kenabian Muhammad SAW hanya berselang setahun lebih sedikit dari pemandangan komet Halley yang (mungkin) memukau penduduk Makkah saat itu.

Referensi :

1. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

2. Djamaluddin. 2001. Calendar Conversion Program Used to Analyze Early History of Islam.

3. Yeomans & Kiang. 1981. The Longterm Motion of Comet Halley. Monthly Noticed of Royal Astronomical Society 197 (1981), 633-646.

4. Chirikov & Vecheslavov. 1989. Chaotic Dynamics of Comet Halley. Astronomy and Astrophysics 221 (1989), 146-154.

5. Amrican Meteor Society. 2011. Eta Aquarids.

Iklan

2 thoughts on “Debu Komet Halley dan Kisah Bintang Penembus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s