[Menyongsong Minggu Kiblat] Kiblat dan Kisah Para Sahabat

Mei selalu menjadi salah satu bulan kalender yang istimewa bagi ilmu falak. Sebab pada bulan inilah sebuah momen langka sudah menunggu, yakni kala Matahari memiliki kedudukan demikian rupa sehingga tepat berada di atas kiblat. Di tahun 2014 ini, salah satu momen tersebut bakal terjadi pada hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 pukul 16:18 WIB. Sementara momen berikutnya bakal terjadi di pertengahan Juli mendatang. Ilmu falak menyebut momen istimewa ini sebagai peristiwa Istiwa’ Azzam. Jika ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia, maka istilahnya adalah Transit Utama. Sementara hari terjadinya peristiwa tersebut, secara informal, dinamakan Hari Kiblat. Namun peristiwa Istiwa Utama sejatinya tak hanya terjadi di hari itu saja, melainkan juga terjadi sehari sebelum dan sesudahnya selama tiga hari berturut-turut pada jam yang sama (16:18 WIB), yakni pada hari Selasa 27 Mei 2014, Rabu 28 Mei 2014 dan Kamis 29 Mei 2014. Karena itu menurut penulis, istilah yang lebih tepat barangkali adalah Minggu Kiblat.

Gambar 1. Citra satelit Ka'bah dan Masjidil Haram masa kini beserta titik-titik fenomena langit yang berhadapan langsung dengan masing-masing dinding Ka'bah. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Citra satelit Ka’bah dan Masjidil Haram masa kini beserta titik-titik fenomena langit yang berhadapan langsung dengan masing-masing dinding Ka’bah. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam Minggu Kiblat, setiap benda apa saja yang didirikan/tergantung tepat tegaklurus permukaan air tenang di Bumi dan tersinari Matahari pada saat jam yang terkalibrasi menunjukkan pukul 16:18 WIB tersebut, maka bayang-bayangnya tepat akan berimpit dengan arah kiblat setempat. Sehingga momen ini banyak dinanti sebagai salah satu kesempatan untuk meluruskan kembali atau mengkalibrasi ulang arah kiblat di suatu tempat baik di bangunan ibadah (masjid/musala) maupun bangunan lainnya, dengan instrumen dan metode yang sederhana, namun memiliki tingkat ketelitian sangat tinggi. Pada umumnya hanya dibutuhkan tali kokoh dengan pemberat diujungnya yang digantung stabil dan jam jenis apapun yang telah dikalibrasi.

Kini peristiwa Minggu Kiblat telah menjadi pengetahuan umum. Namun tidak demikian halnya dengan 14 abad silam. Kala Rasulullah SAW telah wafat dan khalif Abu Bakar RA mencanangkan perluasan dakwah Islam ke segala penjuru yang berepisentrum di kotasuci Madinah, permasalahan baru menggayuti para sahabat yang turut berpartisipasi. Yakni bagaimana caranya menghadap ke kiblat di wilayah yang baru, yang berjarak sangat jauh dari kotasuci Makkah dan Madinah? Padahal menghadap ke kiblat menjadi bagian dari syarat sahnya shalat. Arah kiblat juga menjadi hal yang esensial pada saat berdo’a, berzikir dan memakamkan jenazah. Di sisi lain, Rasulullah SAW sendiri tidak menekankan bagaimana caranya. Lewat dua sabdanya beliau hanya menunjukkan arah kiblat bagi kotasuci Madinah dan arah kiblat bagi penduduk kota San’a (Yaman).

Jadi bagaimana caranya? Menggunakan kompas magnetik jelas tak mungkin, karena instrumen ini baru dikenal dalam peradaban Islam sejak tahun 1232 berdasarkan catatan dari Persia (kini Iran). Sementara implementasinya guna pengukuran arah kiblat baru terjadi hampir seabad kemudian, dipelopori oleh ibn Sim’un dari Mesir. Ilmu falak pada saat itu pun belum berkembang sehingga metode, prosedur dan tatacara pengukuran arah kiblat pun belum dibakukan. Apa yang harus dilakukan?

Kreatif

Gambar 2. Citra satelit Timur Tengah masa kini dalam proyeksi Mercator beserta lokasi Ka'bah (Makkah), Fusthat (Kairo), Baghdad dan Wasith. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Citra satelit Timur Tengah masa kini dalam proyeksi Mercator beserta lokasi Ka’bah (Makkah), Fusthat (Kairo), Baghdad dan Wasith. Citra bersumber dari Google Maps classic mode satellite. Sumber: Sudibyo, 2014.

Cukup mengesankan, saat itu sebagian sahabat ber-ijtihad kreatif dengan mendasarkan diri pada apa yang ada di langit, yakni fenomena langit tertentu baik di saat siang maupun malam hari. Bangsa Arab termasuk suku Quraisy memang telah memiliki pengetahuan astronomi semenjak masa pra-Islam, meski sebatas pada kepentingan praktis. Dengan memahami konfigurasi benda-benda langit, suku Quraisy mampu memprakirakan kapan datangnya musim hujan. Di wilayah beriklim gurun, musim hujan berumur sangat pendek namun selalu dinanti karena membuat padang rumput bermunculan, meski hanya sebentar. Tumbuhnya rerumputan merupakan kabar bagus bagi para peternak, sehingga mereka akan mengiring hewan-hewan ternaknya ke sana.

Pengetahuan benda-benda langit khususnya rasi-rasi bintang juga sangat bermanfaat untuk memandu arah dalam perjalanan malam hari di kawasan padang pasir, seiring tiadanya tapak jalan yang jelas bagi lalu-lintas karavan. Padahal lintasan di sepanjang pesisir timur Laut Merah merupakan bagian dari jalur perdagangan global yang sibuk.

Dan seperti halnya peradaban lainnya, posisi benda-benda langit juga dimanfaatkan bangsa Arab untuk membangun sistem penanggalan (kalender). Walaupun kalender antara satu suku dengan suku lainnya dalam bangsa Arab adalah berbeda-beda. Misalnya, kalender suku Quraisy (Makkah) berbentuk lunisolar yang disebut sistem Naasi’. Kalender ini bertumpu peredaran Bulan dan Matahari sekaligus, sehingga setahun bisa terdiri dari 12 atau 13 bulan kalender, mirip dengan kalender bangsa Cina. Sementara kalender suku-suku Yastrib (Madinah) berbentuk kalender lunar, yang murni bertumpu pada peredaran Bulan saja dengan setahun terdiri dari 12 bulan kalender.

Dalam aras yang sama, sebagian sahabat khususnya yang pernah menghabiskan sebagian usianya di kotasuci Makkah juga mengetahui bahwa jika mereka berdiri di atas setiap dinding Ka’bah dan menatap kaki langit yang berhadapan dengannya, pada waktu-waktu tertentu terdapat benda-benda langit tertentu yang muncul secara teratur. Berhadapan dengan dinding tenggara Ka’bah terdapat titik terbitnya bintang Canopus, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai bintang Suhail. Bintang ini adalah bintang terterang kedua di langit malam setelah Sirius (Syi’raa). Sementara dinding timur laut berhadapan dengan titik terbitnya Matahari pada saat istimewa, yakni titik balik musim panas (summer soltice).

Sedangkan berhadapan dengan dinding barat laut ada dua fenomena sekaligus, yakni titik terbenamnya tiga bintang di lengan bajak rasi bintang Biduk/Ursa Mayor (bahasa Arab: ad-Dubb) dan titik terbenamnya Bulan sabit muda (hilaal) di saat/sekitar summer solstice. Tiga bintang Biduk itu adalah Alioth (bahasa Arab: al-Yat), Dubhe (bahasa Arab: ad-Dubb) dan Merak (bahasa Arab: al-Maraqq). Dan dinding barat daya bahkan berhadapan dengan tiga fenomena sekaligus, masing-masing titik terbenamnya Matahari saat titik balik musim dingin (winter solstice), titik terbenamnya hilaal di saat/sekitar winter solstice dan titik terbenamnya Bulan paling selatan.

Pengetahuan inilah yang kemudian diterapkan kala para sahabat berpartisipasi dalam penyiaran Islam keluar lingkungan kotasuci Makkah dan tanah Hijaz, yang pada akhirnya membentang di daerah yang sangat luas mulai dari Mesir di sebelah barat hingga Mesopotamia di timur dan dari Syria di utara hingga Yaman di selatan. Dinding-dinding masjid yang dibangun pada saat itu pun disesuaikan fenomena-fenomena langit tersebut.

Gambar 3. Diagram azimuth kiblat (Q), azimuth ke Masjidil Aqsha (J) dan arah-arah mataangin utama (N = North, E = East, S = South, W = West) untuk kota-kota Fusthat/Kairo, Wasith dan Baghdad. Tanda panah biru menunjukkan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Gambar 3. Diagram azimuth kiblat (Q), azimuth ke Masjidil Aqsha (J) dan arah-arah mataangin utama (N = North, E = East, S = South, W = West) untuk kota-kota Fusthat/Kairo, Wasith dan Baghdad. Tanda panah biru menunjukkan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Evaluasi masa kini menunjukkan, meski upaya pengukuran arah kiblat pada masa itu belum berjumpa dengan teknik dan metode pengukuran presisi, ijtihad kreatif parab sahabat ini relatif cukup baik untuk ukuran zamannya. Sehingga orientasi dari bangunan-bangunan masjid yang dibangun pada masa tersebut relatif tidak berbeda besar dibandingkan perhitungan arah kiblat di masa kini. Hal tersebut terlihat pada masjid-masjid raya yang didirikan pada masa itu Fustat (kini bagian dari Kairo, Mesir), Baghdad dan Kufah (keduanya di Irak).

Gambar 4. Tabel posisi kota-kota Baghdad, Cairo dan Wasith beserta azimuth kiblat dan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota, yang rata-rata dibangun sebelum tahun 670. Azimuth Matahari terbit saat musim dingin (winter sunrise) dan terbenam juga saat musim dingin (winter sunset) pun disertakan. Kolom hijau menunjukkan selisih antara azimuth bangunan terhadap Matahari terbit/terbenam musim dingin, yang semuanya bernilai kecil menandakan bahwa fenomena terbit/terbenamnya Matahari dijadikan patokan untuk pengukuran arah kiblat masa itu. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Gambar 4. Tabel posisi kota-kota Baghdad, Cairo dan Wasith beserta azimuth kiblat dan azimuth bangunan masjid raya di masing-masing kota, yang rata-rata dibangun sebelum tahun 670. Azimuth Matahari terbit saat musim dingin (winter sunrise) dan terbenam juga saat musim dingin (winter sunset) pun disertakan. Kolom hijau menunjukkan selisih antara azimuth bangunan terhadap Matahari terbit/terbenam musim dingin, yang semuanya bernilai kecil menandakan bahwa fenomena terbit/terbenamnya Matahari dijadikan patokan untuk pengukuran arah kiblat masa itu. Sumber: Saifullah dkk, 2001.

Pemanfaatan benda-benda langit tertentu guna menentukan arah kiblat merupakan derivasi dari pengetahuan posisi benda-benda langit bagi kepentingan praktis peradaban manusia, yakni sebagai alat bantu penentuan arah mataangin dan musim. Telah diketahui bahwa rasi-rasi bintang tertentu juga berfungsi sebagai petunjuk arah. Misalnya rasi bintang Crux di langit selatan, di Indonesia lebih populer sebagai rasi Pari atau Gubug Penceng, merupakan penunjuk arah selatan. Bila kita menarik garis khayali antara bintang alpha Crucis (atas) dan gamma Crucis (bawah), maka perpanjangannya ke arah kaki langit akan tepat berimpit dengan titik selatan sejati. Demikian halnya rasi bintang Ursa Mayor di langit utara, di Indonesia lebih dikenal sebagai rasi Biduk. Rasi bintang ini dikenal sebagai penunjuk arah utara, dimana bila kita menarik garis lurus khayali antara bintang Merak (atas) dan Dubhe (bawah) hingga menembus kaki langit, maka tepat di situlah titik utara sejati berada.

Dalam hal arah kiblat, beberapa rasi bintang juga bisa digunakan sebagai patokan langsung. Misalnya rasi bintang Orion, yang di Indonesia dikenal sebagai Waluku. Fokuskan perhatian pada tiga bintang berdampingan di pinggang rasi ini, yakni Alnitak, Alnilam dan Mintaka, dan tunggu saat rasi Waluku menempati langit barat. Lantas tariklah garis khayali melintasi ketiga bintang itu dan terus menembus hingga ke kaki langit, maka di kaki langit itulah arah kiblatnya khususnya untuk Indonesia.

Namun kini pemanfaatan benda-benda langit untuk keperluan tersebut kian meluas, tak hanya sebatas pada posisi rasi-rasi bintang tertentu. Bintang-bintang terang tertentu, pun planet-planet terang tertentu dan bahkan Bulan dan Matahari pun kini dilibatkan guna pengukuran arah kiblat. Pengukuran dengan basis (bayang-bayang) Matahari kini menjadi pengukuran terpopuler karena beragam kelebihannya, seperti terlaksana di siang hari, bayang-bayang yang dibentuk sangat tajam (sepanjang langit mendukung tanpa tertutup mendung) dan relatif mudah.

Referensi :

1. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

2. Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

3. Sudibyo. 2013. Kembali ke Langit, Narasi Pengukuran Kiblat di Masa Kini. Makalah dalam Seminar Nasional Uji Kelayakan Istiwaain Sebagai Alat Bantu Menentukan Arah Kiblat yang Akurat, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, 5 Desember 2013.

4. Thaha. 1983. Astronomi dalam Islam. Jakarta: Bina Ilmu.

5. Saifullah dkk. The Qiblah of Early Mosques : Jerusalem or Makkah? Islamic Awareness, diunduh 22 Desember 2001.

Iklan

3 thoughts on “[Menyongsong Minggu Kiblat] Kiblat dan Kisah Para Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s