Menjejak Banjir Makkah dari Langit

Sebuah peristiwa banjir yang datang secara tiba-tiba merendam sudut-sudut kotasuci Makkah dan sekitarnya di propinsi Makkah, Saudi Arabia bagian barat, pada Kamis malam 8 Mei 2014 lalu. Banjir spontan Banjir bandang singkat ini dipicu hujan sangat deras yang mengguyur propinsi Makkah dengan curah hujan sedemikian tingginya, yakni mencapai sekitar 70 mm/jam yang berlangsung selama 2 jam penuh.

Gambar 1. Bangunan suci Ka'bah dengan kiswah (kelambu) yang basah kuyup diterpa hujan deras sementara mizab (pancuran emas) di dinding barat laut terlihat memancurkan air. Pemandangan langka ini terjadi pada saat puncak hujan deras yang mengguyur kotasuci Makkah pada Kamis malam 8 Mei 2014. Meski diterpa hujan deras, namun aktivitas thawaf dan ibadah lainnya di lingkungan Masjidil Haram tidaklah menyurut. Sumber : Saudi Press Agency, 2014.

Gambar 1. Bangunan suci Ka’bah dengan kiswah (kelambu) yang basah kuyup diterpa hujan deras sementara mizab (pancuran emas) di dinding barat laut terlihat memancurkan air. Pemandangan langka ini terjadi pada saat puncak hujan deras yang mengguyur kotasuci Makkah pada Kamis malam 8 Mei 2014. Meski diterpa hujan deras, namun aktivitas thawaf dan ibadah lainnya di lingkungan Masjidil Haram tidaklah menyurut. Sumber : Saudi Press Agency, 2014.

Sampai saat ini tercatat 2 orang tewas, sementara 1.356 titik di dalam dan di sekitar kotasuci Makkah mengalami kerusakan parah. Dramatisasi banjir ini terlihat dari hanyutnya sejumlah kendaraan seiring genangan air yang cukup dalam dan arus air yang kencang. Ini mengingatkan kita akan kenangan pahit peristiwa tsunami akbar seperti dialami Indonesia (2004) maupun Jepang (2011). Derasnya air juga sempat memutus jaringan listrik di berbagai tempat. Belum ada pernyataan soal total kerugian yang diderita propinsi Makkah, namun diperkirakan angkanya melangit hingga trilyunan riyal. Kabar baiknya, meski tepat berada di pusat cekungan yang juga menjadi pusat kotasuci Makkah, kawasan Masjidil Haram (termasuk Ka’bah didalamnya) tidak tergenangi air.

Cumulonimbus

Propinsi Makkah yang menjadi tempat dimana kotasuci Makkah berada merupakan kawasan beriklim gurun, sehingga relatif kering dengan kelembaban relatif udara rata-rata antara 33 hingga 58 % dan terik dengan suhu udara rata-rata antara 24 hingga 36 derajat Celcius namun suhu tertinggi di siang hari bisa hampir 50 derajat Celcius. Sebagai daerah beriklim gurun, kotasuci Makkah sedikit mendapat hujan. Curah hujan tahunan rata-ratanya tercatat antara 80 mm/tahun hingga 100 mm/tahun. Sehingga hujan yang mengguyur di Kamis malam 8 Mei 2014 itu jauh lebih banyak ketimbang curah hujan rata-rata tahunan yang biasa diterima kotasuci Makkah. Akibatnya banjir pun spontan tak terelakkan.

Cukup menarik bahwa pertanda kedatangan banjir ini sebenarnya telah terdeteksi dari langit, misalnya melalui satelit cuaca Meteosat yang dioperasikan Eumetsat, institusi meteorologis antar-pemerintah negara-negara Eropa yang hingga kini telah beranggotakan 30 negara. Semenjak awal Mei 2014 hingga 5 hari kemudian tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan pada atmosfer di atas kotasuci Makkah. Citra Meteosat pada kanal inframerah tak menunjukkan adanya pembentukan awan yang intensif di atas kota suci Makkah dan sekitarnya.

Gambar 2. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 1 Mei 2014. Nampak semenanjung Arabia relatif bersih dari tutupan awan. Sebaliknya sisi selatan gurun sahara dipenuhi awan sebagai penanda lokasi ICTZ. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 2. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 1 Mei 2014. Nampak semenanjung Arabia relatif bersih dari tutupan awan. Sebaliknya sisi selatan gurun sahara dipenuhi awan sebagai penanda lokasi ICTZ. Sumber: SAT24, 2014.

Pembentukan awan yang intensif hanya terjadi di Afrika bagian tengah (sebelah selatan gurun Sahara), ditandai munculnya sejumlah awan cumulonimbus yang adalah sumber hujan deras. Konsentrasi awan di atas Afrika tengah ini adalah wajar, mengingat kedudukannya sebagai ITCZ (intertropical convergence zone) seiring gerak semu tahunan Matahari yang sedang mengarah ke hemisfer utara.

Gambar 3. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 5 Mei 2014. Semenanjung Arabia lagi-lagi terlihat relatif bersih dari tutupan awan. Namun kini terdapat bentangan awan memanjang di atas Mesir dan pesisir timur Laut Tengah. Sementara pada beberapa titik di sisi selatan gurun sahara terdapat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb), penyebab hujan deras dan badai petir. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 3. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 5 Mei 2014. Semenanjung Arabia lagi-lagi terlihat relatif bersih dari tutupan awan. Namun kini terdapat bentangan awan memanjang di atas Mesir dan pesisir timur Laut Tengah. Sementara pada beberapa titik di sisi selatan gurun sahara terdapat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb), penyebab hujan deras dan badai petir. Sumber: SAT24, 2014.

Namun pada Rabu 7 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah, semenanjung Arabia bagian barat terlihat mulai ditutupi awan. Gumpalan demi gumpalan awan terus terbentuk dengan pola yang mengesankan mengikuti aliran udara dari kawasan Afrika bagian tengah. Dalam 12 jam kemudian, pembentukan awan yang intensif masih terus berlangsung di atas kawasan semenanjung Arabia bagian barat ini.

Gambar 4. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 7 Mei 2014 di kala fajar (atas) dan senja (bawah). Awan kini mulai menutupi semenanjung Arabia dengan luas tutupan yang meningkat pada saat senja. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 4. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 7 Mei 2014 di kala fajar (atas) dan senja (bawah). Awan kini mulai menutupi semenanjung Arabia dengan luas tutupan yang meningkat pada saat senja. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Situasi memuncak pada 8 Mei 2014. Pada pukul 04:00 waktu Makkah, pembentukan awan yang intensif terjadi dan menutupi separuh semenanjung Arabia khususnya bagian utara hingga kawasan pesisir timur Laut Tengah. Berselang 12 jam kemudian, awan Cumulonimbus nampak terbentuk di sebelah utara kotasuci Madinah. Pada 9 Mei 2014 pukul 00:00 waktu Makkah, awan Cumulonimbus lain pun terbentuk di atas kotasuci Makkah dan pesisir Laut Merah di sebelah barat dayanya. Awan ini terus membesar dan mencapai puncaknya ukurannya dalam sejam kemudian. Inilah yang nampaknya menuangkan curah hujan sangat lebah ke kotasuci Makkah dan sekitarnya, hingga memicu air bah yang datang sekonyong-konyong.

Gambar 5. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah (atas) dan 6 jam kemudian (bawah). Awan terlihat terus tumbuh di atas sebagian semenanjung Arabia dan kini lebih tebal. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 pukul 04:00 waktu Makkah (atas) dan 6 jam kemudian (bawah). Awan terlihat terus tumbuh di atas sebagian semenanjung Arabia dan kini lebih tebal. Di beberapa titik di sisi selatan gurun sahara masih terlihat konsentrasi awan cumulonimbus (Cb). Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 saat senja dan tengah malam. Awan yang terus tumbuh dan menebal di atas sebagian semenanjung Arabia kini mulai membentuk awan cumulonimbus (Cb). Awan cumulonimbus berukuran besar terpantau berada di sebelah utara-timur laut kotasuci Madinah pada pukul 16:00 waktu Makkah. Berselang 8 hingga 9 jam kemudian, awan cumulonimbus yang lain terbentuk di atas kotasuci Makkah dan kawasan sebelah barat lautnya. Inilah yang menurunkan hujan sangat deras hingga memicu banjir spontan. Sumber: SAT24, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Meteosat kanal inframerah untuk kawasan Afrika bagian utara dan Timur Tengah pada 8 Mei 2014 saat senja dan tengah malam. Awan yang terus tumbuh dan menebal di atas sebagian semenanjung Arabia kini mulai membentuk awan cumulonimbus (Cb). Awan cumulonimbus berukuran besar terpantau berada di sebelah utara-timur laut kotasuci Madinah pada pukul 16:00 waktu Makkah. Berselang 8 hingga 9 jam kemudian, awan cumulonimbus yang lain terbentuk di atas kotasuci Makkah dan kawasan sebelah barat lautnya. Inilah yang menurunkan hujan sangat deras hingga memicu banjir bandang. Sumber: SAT24, 2014.

Terjadi Berkali-Kali

Banjir spontan Banjir bandang singkat yang melanda kotasuci Makkah dan sekitarnya menjadi tambahan pukulan telak bagi pemerintah Saudi Arabia yang sedang kedodoran dihantam wabah MERS (Middle East Respiratory Syndrome). Ada berbagai pihak yang menganggap peristiwa ini merupakan bagian dari tanda-tanda akhir zaman. Argumennya, salah satu pertanda akhir zaman adalah menghijaunya kotasuci Makkah dan sekitarnya oleh pepohonan yang tumbuh di sana-sini, padahal kawasan ini sejatinya merupakan kawasan beriklim gurun. Dan banjir membawa air dalam jumlah berlimpah, yang dibutuhkan oleh setiap tumbuhan.

Penulis tidak berkompeten untuk menilai anggapan tesebut. Namun jika kita merujuk catatan sejarah, hingga tahun 1965 saja telah terjadi 89 peristiwa banjir spontan banjir bandang singkat di kotasuci Makkah. Beberapa diantaranya cukup parah hingga merendam lantai Masjidil Haram dan juga merendam bagian bawah Ka’bah. Banjir terparah di abad ke-20 terjadi pada tahun 1942. Sebelum banjir 2014 ini, banjir terparah terjadi pada 25 November 2009 silam yang menghantam kota Jeddah dan sekitarnya akibat hujan lebat hingga mencapai 90 mm dalam 4 jam. 122 orang tewas dalam bencana tersebut sementara 350 orang lainnya dinyatakan hilang. Sebagian besar korban jiwa adalah mereka yang terjebak dalam mobilnya masing-masing dan kemudian terendam/terseret banjir. Kerugian mencapai trilyunan riyal, salah satunya seiring terhambatnya arus jamaah calon haji yang hendak menuju kotasuci Makkah.

Gambar 7. Tumpukan kendaraan yang terendam dan tersapu arus deras di salah satu sudut kotasuci Makkah sebagai korban dari peristiwa banjir spontan 8 Mei 2014. Sumber: Zakhir Hussain, 2014 dalam Climate & Geohazards, 2014.

Gambar 7. Tumpukan kendaraan yang terendam dan tersapu arus deras di salah satu sudut kotasuci Makkah sebagai korban dari peristiwa banjir bandang singkat 8 Mei 2014. Sumber: Zakhir Hussain, 2014 dalam Climate & Geohazards, 2014.

Setahun berikutnya, hujan lebat disertai badai petir kembali mengguyur propinsi Makkah pada November dan Desember 2010. Sambaran petir yang menyertai hujan lebat November 2010 merenggut nyawa 3 orang. Sementara hujan Desember 2010, yang sejatinya tidak begitu lebat, menggenangi kotasuci Makkah dan menewaskan 4 orang. Hanya sebluan kemudian petaka banjir kembali berulang di kota Jeddah, pada 27 Januari 2011. Hujan deras yang mengguyur selama 3 jam penuh dengan curah hujan hingga 111 mm lagi-lagi menyebabkan banjir spontan banjir bandang singkat yang menewaskan 4 orang sekaligus melumpuhkan kota terbesar kedua di Saudi Arabia itu.

Sekilas terkesan aneh bahwa sebuah kawasan yang dikenal beriklim gurun (sehingga sangat kering) ternyata dapat juga terhantam banjir spontan banjir bandang singkat secara berulang-ulang. Peristiwa banjir spontan banjir bandang singkat tersebut merupakan imbas dari cuaca ekstrim bagi kotasuci Makkah dan sekitarnya. Pemerintah Saudi Arabia sejatinya sudah memahami kejadian banjir spontan banjir bandang singkat ini. Sehingga mereka telah membangun sejumlah bendungan (dam) dan saluran/terowongan pengelak banjir untuk meminimalisir genangan di kota semaksimal mungkin. Namun infrastruktur ini tetap menghadapi kendala khususnya jika berhadapan dengan hujan yang sangat deras.

Referensi :

1. Saudi Press Agency, 2014.

2. SAT24

3. Climate & Geohazards

2 thoughts on “Menjejak Banjir Makkah dari Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s