Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji

Setelah hampir dua minggu berada dalam status Siaga (Level III) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memutuskan untuk menurunkan status Gunung Slamet (Jawa Tengah) setingkat lebih rendah menjadi Waspada (Level II), terhitung semenjak Senin 12 Mei 2014 pukul 16:00 WIB. Penurunan ini didasarkan atas cenderung meredanya aktivitas letusan Gunung Slamet pada saat ini seperti dicerminkan oleh data kegempaan dan geokimianya.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Kegempaan Gunung Slamet memperlihatkan adanya penurunan dalam hal gempa-gempa letusan dan hembusan. Uniknya penurunan ini justru terjadi pada saat gunung berapi itu menempati status Siaga (Level III). Berdasarkan pengukuran SSAM (Seismic Spectral Amplitude Measurement), puncak kejadian gempa letusan dan hembusan Gunung Slamet telah terjadi pada rentang waktu 16 hingga 26 April 2014. Rentang waktu tersebut bersamaan dengan meroketnya energi kegempaan Gunung Slamet.

SSAM juga memperlihatkan bahwa mayoritas gempa yang berhasil direkamnya di Gunung Slamet memiliki frekuensi rendah, yakni antara 2 hingga 5 Hertz (Hz). Gempa semacam ini merupakan jejak dari aliran fluida dari perutbumi, dalam hal ini gas vulkanik. Sebaliknya gempa dengan frekuensi lebih tinggi yang menjadi ciri khas gempa vulkanik justru nihil. Ketiadaan ini menunjukkan tidak terjadinya perekahan batuan sebagai hasil bekuan magma tua yang ada di dalam saluran magma di perutbumi Gunung Slamet. Nihilnya gempa vulkanik menunjukkan tak adanya pasokan magma segar yang baru dari dapur magma dalam Gunung Slamet menuju ke kawah di puncak.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Menurunnya aktivitas Gunung Slamet juga terlihat dari sisi geokimia. Suhu air panas di mata-mata air panas Pandansari, Sicaya dan Pengasihan (ketiganya terletak di sekitar Guci, kaki barat laut Gunung Slamet) relatif stabil tanpa ada pertanda peningkatan temperatur yang dramatis. Di mataair Pengasihan suhunya cenderung berfluktuasi di sekitar angka 50 derajat Celcius. Hal serupa juga dijumpai di air panas Sicaya, yang sedikit lebih panas yakni 60 derajat Celcius. Sebaliknya pada air panas Pandansari, suhunya justru cenderung menurun meski tak terlalu besar.

Selain pengukuran suhu air panas, juga telah dilakukan pengukuran kadar gas karbondioksida (CO2) yang diemisikan Gunung Slamet dan terlarut dalam air panas. Pengukuran dilangsungkan pada air panas di kolam pancuran 3 Baturaden yang terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Pengukuran pada 9 Mei 2014 memperlihatkan kadar gas CO2 ini masih setinggi hingga 88 %. Kadar tersebut lebih besar ketimbang hasil pengukuran yang sama pada 17 hingga 21 Maret 2014 sebelumnya, yang bervariasi antara 6 hingga 78 %. Masih tingginya emisi gas CO2 menunjukkan Gunung Slamet masih menghembuskan gas-gas vulkaniknya dengan intensitas cukup tinggi. Hal ini juga konsisten dengan data kegempaan khususnya data gempa letusan dan hembusan.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Namun emisi gas-gas vulkanik ini tidak disertai dengan pasokan magma segar dari perutbumi Gunung Slamet menuju ke puncak. Maka tidak terjadi lonjakan suhu yang signifikan pada mata-mataair panas di sekujur tubuh Gunung Slamet. Tiadanya pasokan magma segar juga tercermin dari data kegempaan, khususnya nihilnya gempa-gempa vulkanik Gunung Slamet.

Tunaikan Janji

Dalam status Siaga (Level III), ‘kekacauan’ sempat terjadi seiring terdeteksinya deformasi di sektor tenggara Gunung Slamet, seperti diperlihatkan oleh instrumen tiltmeter yang dipasang di Blambangan (4,5 km sebelah timur kawah aktif Slamet). Deformasi ini berupa inflasi (penggelembungan) dan dengan kuantitas cukup besar. Fenomena ini sempat diliput oleh sebuah media cetak nasional dan dikupas sebagai pertanda aktivitas Gunung Slamet bakal terus meningkat. Umumnya inflasi pada tubuh gunung berapi ditafsirkan sebagai telah masuknya pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung. Sehingga gunung berapi tersebut sedikit membengkak.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Namun inflasi tersebut hanya tercatat di tiltmeter Blambangan dan itu pun hanya terekam pada satu sumbu dari dua sumbu yang ada. Sementara tiltmeter Cilik (5,5 km sebelah utara kawah aktif Slamet) justru tak merekamnya. Sehingga anggapan terjadinya anomali mulai muncul khususnya terkait tidak stabilnya pondasi tiltmeter Blambangan. Bila pondasi tak stabil, maka tiltmeter akan menyalurkan sinyal keliru yang bisa ditafsirkan sebagai terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet, padahal sejatinya tak demikian. Karena itu stasiun tiltmeter Blambangan kemudian dipasang ulang dan dikalibrasi pada 10 Mei 2014.

Sejauh ini Gunung Slamet memperlihatkan bahwa letusannya pada saat ini masih memiliki pola yang sama dengan letusan-letusan Slamet dalam kurun 2 abad terakhir. Yakni letusan yang didominasi semburan gas bertekanan rendah-sedang bersama debu vulkanik, tanpa disertai muntahan lava. Semburan tersebut bermanisfestasi sebagai letusan tipe Strombolian, yang bagaikan kembang api/pancuran api menari-nari di kawah aktif Slamet kala disaksikan di malam hari. Letusan Strombolian dikenal sebagai letusan pembangun. Sebab material vulkanik yang disemburkannya akan berjatuhan kembali di sekeliling kawah aktif, membentuk tumpukan material yang mengelilingi lubang letusan. Lama kelamaan tumpukan ini kian meninggi dan bakal berimbas pada bertambah tingginya puncak gunung. Puncak Slamet saat ini, khususnya bagian yang terletak di atas batas vegetasi, diperkirakan terbentuk oleh tumpukan material vulkanik dari rentetan letusan demi letusan Strombolian dalam kurun beratus tahun terakhir.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Dengan pola seperti ini, sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Gunung Slamet. Bahkan dengan penurunan statusnya menjadi Waspada (Level II) menjadi indikasi bahwa letusan Gunung Slamet di tahun 2014 ini sudah mulai melandai dan segera menuju ke titik akhirnya. Dengan kata lain, Gunung Slamet sudah hampir usai menunaikan janjinya. Penurunan status membuat radius daerah terlarang Gunung Slamet pun dipersempit kembali menjadi hanya 2 kilometer dari kawah aktif.

Meski menunjukkan kecenderungan demikian, tak ada salahnya tetap menjaga kewaspadaan. Setiap gunung berapi memiliki perilakunya sendiri dan kadang keluar dari kebiasaan. Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan Gunung Slamet keluar dari kebiasaan itulah maka pemantauan terus-menerus terhadap gunung berapi aktif ini tetap digelar. Sehingga apabila terdapat pertanda awal perubahan kebiasaan sang gunung, maka informasi bisa diperoleh dengan lebih rinci untuk kemudian disalurkan guna memenuhi kepentingan publik.

Referensi :

PVMBG. 2014. Penurunan Status Kegiatan G. Slamet Dari Siaga Menjadi Waspada, 12 Mei 2014.

Iklan

2 thoughts on “Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s