Meteor (Camelopardalids) Akan Menubruk Bulan

Pada Sabtu 24 Mei 2014 besok, sebuah hujan meteor yang tak biasa akan mencapai puncaknya dalam menyapa kita semua di Bumi. Inilah hujan meteor Camelopardalids, yang berkemungkinan mengguyurkan meteor sebanyak antara 100 hingga 400 buah per jamnya. Dengan telah berlalunya Bulan fase purnama, sejatinya langit malam berada dalam kondisi ideal untuk menyaksikan fenomena langka ini, tentu saja sepanjang cuaca cerah dan kita jauh dari pusat-pusat polusi cahaya seperti perkotaan.

Namun kita di Indonesia terpaksa harus gigit jari, karena puncak dan sebagian besar durasi hujan meteor Camelopardalids ini terjadi pada saat siang dan sore hari waktu Indonesia. Hujan meteor ini boleh dikata hanya bisa dinikmati secara penuh oleh mereka yang tinggal atau sedang bertempat di kawasan Amerika bagian utara. Lokasi yang sempurna adalah di sebagian Amerika Serikat dan sebagian Canada.

Gambar 1. Lokasi terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Camelopardalids, dengan asumsi puncaknya pada pukul 14:30 WIB. Garis nautical merupakan garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi Matahari minus 12 derajat (nautical twilight). Sementara garis 35 adalah garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi radian hujan meteor Camelopardalids sebesar 35 derajat dari horizon utara. Sumber: IMCEE, 2014.

Gambar 1. Lokasi terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Camelopardalids, dengan asumsi puncaknya pada pukul 14:30 WIB. Garis nautical merupakan garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi Matahari minus 12 derajat (nautical twilight). Sementara garis 35 adalah garis yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang mengalami tinggi radian hujan meteor Camelopardalids sebesar 35 derajat dari horizon utara. Sumber: IMCEE, 2014.

Bulan

Selain berpotongan dengan orbit Bumi, meteoroid-meteoroid yang merupakan remah-remah komet 209 P/LINEAR itu juga akan menghampiri benda langit anggota tata surya yang juga menjadi pengiring setia Bumi, yakni Bulan. Dan berbeda dengan di Bumi, meteoroid-meteoroid yang berwujud butir-butir debu dan pasir dan melesat secepat 19 km/detik atau 68.400 km/jam itu akan tiba di permukaan Bulan tanpa hambatan sama sekali. Hal ini disebabkan oleh sangat jarangnya molekul-molekul udara di Bulan, sehingga praktis Bulan tidak memiliki atmosfer. Maka tanpa sempat berubah menjadi meteor, maka meteoroid-meteoroid tersebut akan langsung membentur Bulan dengan kecepatan tetap setinggi 68.400 km/jam. Yang menyenangkan, saat benturan itu terjadi kita bisa menyaksikannya dari Bumi, jika berada di tempat dan waktu yang tepat.

Dalam prakiraan astronom Jeremie Vaubaillon (Perancis), tumbukan meteoroid-meteoroid Camelopardalids dengan Bulan akan mencapai puncaknya pada Sabtu 24 Mei 2014 sekitar pukul 08:30 hingga 12:30 WIB. Selang waktu ini memang mendahului puncak hujan meteor Camelopardalids di Bumi. Dan sedikit berbeda dengan meteoroid Camelopardalids yang memasuki atmosfer Bumi, meteoroid Camelopardalids yang berjatuhan di Bulan merupakan remah-remah komet yang terserak dari pergerakan komet 209 P/LINEAR dalam orbnitnya semenjak tahun 1703 hingga 1919. Dalam prakiraan William Cooke, astrofisikawan NASA Meteoroid Environment Office, pada saat puncak hujan meteoroid Camelopardalids di Bulan, hantaman meteoroid-meteoroid Camelopardalids di Bulan dapat disaksikan oleh mereka yang tinggal di Eropa dan Amerika Serikat dengan lokasi ideal observasi di pantai timur Amerika Serikat.

Gambar 2. Salah satu contoh rekaman kilatan cahaya yang diproduksi sebuah meteoroid saat menghantam permukaan Bulan dan terpantau dari Bumi (dalam kotak). Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Salah satu contoh rekaman kilatan cahaya yang diproduksi sebuah meteoroid saat menghantam permukaan Bulan dan terpantau dari Bumi (dalam kotak). Sumber: NASA, 2014.

Namun jangan berharap bahwa saat meteoroid-meteoroid itu menghantam Bulan, kita akan disuguhi dengan kilatan demi kilatan cahaya yang langsung bisa disaksikan secara kasat mata tanpa alat bantu apapun. Butuh teleskop dengan lensa/cermin obyektif berdiameter minimal 100 mm (10 cm) dan memiliki perbesaran di antara 40 hingga 100 kali guna mengamatinya. Sebab saat meteoroid-meteoroid tersebut membentur permukaan Bulan sebagai meteorit, kilatan-kilatan cahaya yang terbentuk akan cukup redup dengan perkiraan magnitudo semu sekitar +8 hingga +9.

Dengan kilatan cahaya produk hantaman meteorit yang seredup itu, maka bagian permukaan Bulan yang ideal untuk dijadikan target observasi hanyalah wajah Bulan yang tak tersinari cahaya Matahari namun tetap berada dalam arah pandang kita di Bumi. Cukup menarik bahwa pada 24 Mei 2014 itu Bulan sedang berada dalam fase Bulan sabit tua sehingga ada bagian wajahnya yang gelap dan memungkinkan untuk observasi kilatan cahaya produk hunjaman Camelopardalids di permukaannya.

Gambar 3. Simulasi software Starry Night Backyard v3.0 tentang wajah Bulan yang terlihat dari Bumi, khususnya dari kawasan khatulistiwa, pada Sabtu 24 Mei 2014. Titik-titik putih menunjukkan area dimana meteoroid-meteoroid Camelopardalids bakal menghantam Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Gambar 3. Simulasi software Starry Night Backyard v3.0 tentang wajah Bulan yang terlihat dari Bumi, khususnya dari kawasan khatulistiwa, pada Sabtu 24 Mei 2014. Titik-titik putih menunjukkan area dimana meteoroid-meteoroid Camelopardalids bakal menghantam Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari NASA.

Hujan meteor di Bulan dan bisa diamati dari Bumi bukanlah peristiwa yang aneh, meski tergolong langka. Fenomena sejenis tercatat telah mulai diamati sejak tahun 1999 kala satelit alami Bumi itu diguyur hujan meteor Leonids berintensitas sangat
tinggi dan pada saat yang sama Bumi sedang gegap gempita menyaksikan badai meteor Leonids. Tumbukan meteoroid Camelopardalids tak membawa dampak signifikan di permukaan Bulan. Sebab dengan metetoroid seukuran butiran debu hingga pasir, praktis hanya cekungan (lubang) sangat kecil yang akan terbentuk di tanah Bulan yang dihantamnya. Jika meteoroidnya seukuran kerikil, maka barulah lubang yang dibentuknya relatif besar untuk ukuran manusia. Sebagai contoh, jika meteoroidnya berdiameter 1 cm dan massa jenisnya setara dnegan air murni, maka lubang yang dibentuknya pada tanah berpasir Bulan akan berdiameter 80 cm. sementara bila meteoroidnya 3 cm maka lubangnya bakal bergaris tengah 200 cm.

Referensi :

AstroBob. 2014. Camelopardalid meteor shower targets the moon too – watch for impact flashes.

 

Camelopardalids Itu Hujan Meteor yang Tak Biasa

Sabtu, 24 Mei 2014. Inilah saat langit seakan runtuh dengan titik-titik cahaya yang mengesankan sebagai bintang-bintang berjatuhan ke bawah menuju ke Bumi. Namun jangan buru-buru cemas. Tak ada langit runtuh yang sesungguhnya pada saat itu. Adapun yang kelihatan laksana bintang-bintang berjatuhan sesungguhnya adalah meteor. Meteor-meteor itu berasal dari remah-remah sebuah komet redup, meski inti kometnya relatif cukup besar di antara sesamanya. Komet tersebut baru ditemukan umat manusia dalam kurun satu dasawarsa terakhir, namun diduga telah melanglang buana dalam lingkungan tata surya di antara orbit Bumi hingga Jupiter sepanjang ratusan hingga ribuan tahun terakhir. Remah-remah komet itu bakal memasuki atmosfer Bumi di antara pukul 13:00 hingga 15:00 WIB. Kita yang beruntung akan menyaksikan ratusan buah meteor melejit di langit malam dalam setiap jamnya. Bahkan ada potensi angkanya melonjak dramatis hingga mencapai ribuan meteor per jamnya.

Gambar 1. Sebuah hujan meteor berintensitas tinggi yang sedang terjadi, dalam hal ini Leonids di tahun 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia). Selempang galaksi Bima Sakti nampak terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan semacam ini bakal terlihat kala hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya 24 Mei 2014 besok. Sumber: NASA, 1998.

Gambar 1. Sebuah hujan meteor berintensitas tinggi yang sedang terjadi, dalam hal ini Leonids di tahun 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia). Selempang galaksi Bima Sakti nampak terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan semacam ini bakal terlihat kala hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya 24 Mei 2014 besok. Sumber: NASA, 1998.

Itulah hujan meteor Camelopardalids. Ia mendapatkan namanya yang megah karena titik sumbernya (radian), yakni titik koordinat dimana seluruh meteor tersebut seakan-akan berasal, terletak dalam konstelasi bintang Camelopardalis (Jerapah). Sebagian kita mungkin jarang mendengar nama rasi bintang yang tergolong besar namun beranggotakan bintang-bintang redup ini. Camelopardalis mengambil posisi di belahan langit bagian utara, berbatasan dengan dua rasi lainnya yang jauh lebih populer yakni Biduk atau Beruang besar (Ursa Mayor) dan Perseus. Sebagai tetangga dekat rasi Ursa Mayor, maka rasi Camelopardalis selalu berada di dekat horizon utara bila disaksikan dari Indonesia.

Hujan meteor Camelopardalids merupakan hujan meteor yang tak biasa. Sebelum tahun 2014 ini ia belum pernah terjadi. Dan selepas 2014 pun ia juga (mungkin) takkan terulang lagi secara periodik. Sehingga berbeda dengan sejumlah hujan meteor periodik yang rutin menyambangi langit malam kita pada waktu-waktu tertentu, misalnya hujan meteor eta Aquarids, maka Camelopardalids tak demikian. Ia hanya akan muncul di tahun ini saja.

Gambar 2. Komet 209 P/LINEAR, sang induk hujan meteor Camelopardalids, diabadikan pada 17 Mei 2014 oleh Gianluca Masi. Saat itu komet cukup redup, hanya seterang Pluto, sehingga harus dilakukan pencitraan/pemotretan dengan eksposur 180 detik sebanyak 5 kali yang kemudian digabungkan menjadi satu melalui teknik stacking. Sumber: Virtual Telescope Project, 2014.

Gambar 2. Komet 209 P/LINEAR, sang induk hujan meteor Camelopardalids, diabadikan pada 17 Mei 2014 oleh Gianluca Masi. Saat itu komet cukup redup, hanya seterang Pluto, sehingga harus dilakukan pencitraan/pemotretan dengan eksposur 180 detik sebanyak 5 kali yang kemudian digabungkan menjadi satu melalui teknik stacking. Sumber: Virtual Telescope Project, 2014.

Namun meski tak biasa, hujan meteor Camelopardalids langsung melejitkan sensasi. Sebab intensitasnya, yakni jumlah meteor per jam yang berkemungkinan teramati, tergolong cukup besar yakni diprediksikan antara 100 meteor/jam hingga 400 meteor/jam. Angka ini melebihi apa yang bisa dicapai trio hujan meteor periodik terbesar, yakni Quadrantids (120 meteor/jam), Lyrids (100 meteor/jam) dan Geminids (120 meteor/jam). Bahkan ada peluang, meski kecil, kalau intensitas hujan meteor Camelopardalids ini akan melampaui 1.000 meteor/jam. Jika itu terjadi, hujan meteor ini pun bakal menyandang status baru sebagai badai meteor.

Komet

Bagaimana hujan meteor Camelopardalids bisa terjadi?

Seperti halnya seluruh hujan meteor periodik yang telah dikenal, meteoroid Camelopardalids pun berasal dari remah-remah komet dalam bentuk debu dan pasir. Mereka dilejitkan dari komet 209 P/LINEAR, yakni komet berperiode pendek yang baru kita kenal dalam satu dasawarsa terakhir. Ia pertama kali terlihat pada 3 Februari 2004 silam oleh sistem LINEAR (Lincoln Near-Earth Asteroid Research), yakni salah satu sistem penyigi langit paling ambisius yang bertujuan memburu dan menemukan komet dan asteroid baru yang tak pernah dikenal sebelumnya serta mengevaluasi potensi ancamannya terhadap Bumi kita.

Pada awalnya sistem LINEAR, yang bersenjatakan teleskop pemantul dengan cermin obyektif bergaris tengah 100 cm, mendeteksi komet ini sebagai benda langit mirip asteroid yang dikodekan sebagai 2004 CB. Namun berselang sebulan kemudian, observasi astronom Robert McNaught (Australia) per 30 Maret 2004 memperlihatkan benda langit ini ternyata memiliki ekor, yang memastikan statusnya sebagai komet yang kemudian disebut sebagai komet 209 P/LINEAR.

Gambar 3. Kiri: lintasan komet 209 P/LINEAR pada tahun 1903, dengan remah-remah komet terserak sepanjang lintasannya, dalam bentuk lonjong. Lingkaran kecil merupakan orbit Bumi, sementara lingkaran lebih besar adalah orbit Jupiter. Kanan : lokasi mayoritas meteoroid produk lintasan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924. Garis merah menunjukkan orbit Bumi dan titik-titik merah dengan tanggal tertentu menunjukkan kapan Bumi menempati posisi titik tersebut. Nampak bahwa di antara 24 Mei 2014 pukul 00:00 UTC (GMT) hingga 25 Mei 2014 pukul 00:00 UT, Bumi melintas di populasi terpadat meteoroid tersebut. Sumber: IMCEE, 2014.

Gambar 3. Kiri: lintasan komet 209 P/LINEAR pada tahun 1903, dengan remah-remah komet terserak sepanjang lintasannya, dalam bentuk lonjong. Lingkaran kecil merupakan orbit Bumi, sementara lingkaran lebih besar adalah orbit Jupiter. Kanan : lokasi mayoritas meteoroid produk lintasan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924. Garis merah menunjukkan orbit Bumi dan titik-titik merah dengan tanggal tertentu menunjukkan kapan Bumi menempati posisi titik tersebut. Nampak bahwa di antara 24 Mei 2014 pukul 00:00 UTC (GMT) hingga 25 Mei 2014 pukul 00:00 UT, Bumi melintas di populasi terpadat meteoroid tersebut. Sumber: IMCEE, 2014.

Observasi demi observasi dari berbagai penjuru Bumi pada akhirnya memastikan bahwa benda langit tersebut adalah komet dan tergolong komet berperiode pendek. ia beredar mengelilingi Matahari dalam sebentuk orbit lonjong dengan perihelion 0,97 SA (satuan astronomi) dan aphelion 4,95 SA yang ditempuhnya sekali dalam tiap 5,09 tahun. Dengan kata lain, orbit komet ini merentang di antara orbit Bumi hingga ke dekat orbit Jupiter. Karena aphelionnya berdekatan dengan orbit Jupiter, maka konsekuensinya komet ini mengalami gangguan gravitasi dari planet raksasa gas tersebut secara periodik. Akibatnya orbit yang ditempuh komet ini sejatinya selalu berubah-ubah secara gradual. Sehingga orbit yang dilaluinya (misalnya) pada tahun ini adalah sedikit berbeda dibanding lintasannya pada 5 tahun silam, juga sedikit berbeda lagi dibanding lintasan 10 tahun silam. Orbit yang takstabil adalah fenomena yang umum bagi anggota tata surya berukuran mini seperti halnya komet maupun asteroid.

Komet 209 P/LINEAR ini memiliki inti komet yang tergolong besar dibanding sesama komet lainnya. Observasi astronom Carl Hergenrother (AS) dengan memanfaatkan teleskop radio Arecibo, yang adalah teleskop radio dengan piringan terbesar di dunia hingga saat ini (garis tengah piringan 304 meter), memperlihatkan inti komet 209 P/LINEAR bergaris tengah antara 1,9 km hingga 4 km dengan permukaan yang nyaris sama gelapnya dengan aspal ataupun batubara. Ia berotasi dengan periode rotasi 22 jam, yang tergolong lambat ukuran komet. Namun belum diketahui seberapa luas permukaan aktifnya, yakni bagian permukaan inti komet yang menyemburkan gas-gas volatil (mudah menguap) disertai debu dan pasir.

Dengan konfigurasi orbitnya, maka pada 6 Mei 2014 kemarin komet ini telah berada di titik perihelionnya dan kini mulai bergerak menjauhi Matahari kembali. Dan pada Kamis 29 Mei 2014 kelak, komet 209 P/LINEAR akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni sejauh 8,29 juta kilometer dari permukaan planet biru ini. Untuk ukuran astronomi, jarak tersebut terhitung sangat dekat. Dalam khasanah komet, jarak perlintasan itu menjadikan komet 209 P/LINEAR mencetak rekor sebagai komet terdekat kesembilan dari Bumi. Namun untuk ukuran manusia, komet tersebut akan melintas sangat jauh dari Bumi kita yakni 21,6 kali lipat lebih jauh ketimbang Bulan. Namun tak ada yang perlu dikhawatirkan karena potensi komet ini untuk bertubrukan dengan Bumi adalah nol.

Prospek

Gambar 4. Langit malam bagian utara pada saat puncak hujan meteor Camelopardalids, disimulasikan dari kawasan subtropis utara. Sumber: Sky & Telescope, 2014.

Gambar 4. Langit malam bagian utara pada saat puncak hujan meteor Camelopardalids, disimulasikan dari kawasan subtropis utara. Sumber: Sky & Telescope, 2014.

Kala berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, komet 209 P/LINEAR ini tetap akan terlihat sebagai benda langit yang cukup redup. Magnitudonya diperkirakan hanya sebesar +11 saja sehingga dibutuhkan teleskop dengan diameter lensa/cermin obyektif minimal 100 mm (10 cm). Di sisi lain, sangat dekatnya jarak perlintasan komet 209 P/LINEAR ini dengan Bumi beserta terjadinya perubahan orbitnya secara gradual dari waktu ke mengundang pertanyaan tentang bagaimana dengan ‘nasib’ remah-remah yang ditinggalkan di sepanjang lintasannya?

Pertanyaan tersebut dielaborasi lebih lanjut oleh astronom Esko Lyytinen (Finlandia) beserta Peter Jenniskens (AS). Dan 8 tahun silam mereka berdua memaparkan bahwa pada 24 Mei 2014 terjadi fenomena istimewa terkait dengan remah-remah komet 209 P/LINEAR. Pada tanggal itu, mayoritas remah komet yang ada pada lintasan yang ditinggalkan komet 209 P/LINEAR sejak tahun 1803 hingga 1924 akan berpotongan dengan orbit Bumi. Hal ini akan menghasilkan hujan meteor yang tak biasa, dengan intensitas yang besar. Analisis lain oleh astronom Maslov (2013), Vaubaillon (2012) dan Paul Wiegert (2013) secara terpisah juga menyimpulkan hal senada. Radian hujan meteor ini diprediksikan terletak pada koordinat deklinasi 79 derajat dan right ascension 124 derajat (atau 8 jam 16 menit) yang terletak di dalam rasi Camelopardalis berdekatan dengan perbatasan rasi Lynx dan Ursa Mayor.

Gambar 5. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari kota San Fransisco (AS), baik pada lingkungan tengah kota, pinggiran, pedesaan maupun puncak pegunungan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Lingkungan berpolusi cahaya mempengaruhi prediksi intensitas meteor yang mungkin teramati per jamnya. Namun secara umum hujan meteor Camelopardalids dapat disaksikan dari kawasan kota ini. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Gambar 5. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari kota San Fransisco (AS), baik pada lingkungan tengah kota, pinggiran, pedesaan maupun puncak pegunungan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Lingkungan berpolusi cahaya mempengaruhi prediksi intensitas meteor yang mungkin teramati per jamnya. Namun secara umum hujan meteor Camelopardalids dapat disaksikan dari kawasan kota ini. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Seiring belum diketahuinya kuantitas produksi debu komet 209 P/LINEAR dan tak teramatinya komet ini sebelum 2004, maka seberapa besar intensitas hujan meteor Camelopardalids sulit diketahui. Sejauh ini hanya bisa dikatakan bahwa
hujan meteor ini akan berintensitas antara 100 meteor/jam hingga 400 meteor/jam. Namun intensitas yang lebih besar lagi pun tetap berpeluang terjadi. Juga intensitas meteor yang lebih kecil dari 100 meteor/jam tetap berpeluang. Demikian halnya durasinya. Menurut Jenniskens dan Lyytinen, hujan meteor Camelopardalids akan berlangsung dalam waktu setidaknya 2 jam penuh. Namun dengan tak diketahuinya kuantitas produksi debu komet ini, maka bisa saja durasinya jauh lebih singkat (jika ternyata produksi debunya kecil) atau bahkan mungkin mencapai 15 jam (jika produksi debunya besar) seperti pendapat Paul Wiegert. Yang jelas semua sepakat bahwa puncak hujan meteor ini akan terjadi di sekitar pukul 14:00 WIB.

Indonesia

Sebuah hujan meteor bisa disaksikan dengan leluasa kala malam telah datang, dengan ketinggian Matahari minimal 12 derajat di bawah horizon sehingga langit telah betul-betul gelap tanpa terganggu oleh fajar/senja kelautan (nautical twilight). Hujan meteor juga lebih mudah disaksikan jika malam tak terganggu cahaya Bulan yang benderang di kala Bulan berada di sekitar fase purnamanya. Potensi terlihatnya sebuah peristiwa hujan meteor juga lebih besar jika radiannya berkedudukan cukup tinggi di langit.

Pada saat hujan meteor Camelopardalids terjadi, Bulan sudah jauh melewati fase purnamanya dan kini sedang menyandang status Bulan tua menuju ke konjungsi Bulan-Matahari yang baru berikutnya. Sehingga gangguan akibat cahaya Bulan di sekitar fase purnamanya dapat ditepis. Namun bila faktor fajar/senja kelautan dan ketinggian radian yang besar diperhitungkan, maka sejatinya hanya kawasan Amerika bagian utara saja yang berpotensi besar menyaksikan hujan meteor ini. Sementara bagian dunia lainnya tidak seberuntung itu.

Gambar 6. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, dalam hal ini dari Kebumen (Jawa Tengah) yang mewakili daerah lintang selatan dan Banda Aceh (Aceh) mewakili daerah lintang utara, untuk lingkungan pedesaan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Nampak di daerah lintang selatan tak memperlihatkan adanya meteor Camelopardalids, sementara di daerah lintang utara ada meski sedikit. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Gambar 6. Prediksi Fluxtimator untuk hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, dalam hal ini dari Kebumen (Jawa Tengah) yang mewakili daerah lintang selatan dan Banda Aceh (Aceh) mewakili daerah lintang utara, untuk lingkungan pedesaan. Kurva biru menunjukkan intensitas meteor yang berkemungkinan teramati. Nampak di daerah lintang selatan tak memperlihatkan adanya meteor Camelopardalids, sementara di daerah lintang utara ada meski sedikit. Sumber: Fluxtimator, 2014.

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya, kali ini kita tak beruntung. Saat hujan meteor Camelopardalids mencapai puncaknya, Indonesia masih mengalami situasi siang hari sehingga nyaris tak mungkin untuk melakukan pengamatan, terkecuali menggunakan radar khusus ataupun menantikan adanya meteor-terang (fireball) yang lebih benderang ketimbang Venus. Situasi diperparah oleh fakta bahwa radian Camelopardalids berketinggian cukup rendah di langit utara dan sudah terbenam sekitar sejam setelah terbenamnya Matahari. Sebuah hujan meteor memang masih bisa terlihat kala radiannya sudah terbenam, namun intensitasnya melorot drastis. Sehingga kala Amerika bagian utara berpesta-pora dengan hujan meteor Camelopardalids, mayoritas kita di Indonesia terpaksa harus gigit jari. Terkecuali di bagian Indonesia yang berada di daerah lintang utara, misalnya ujung utara pulau Sumatra. Di sini hujan meteor Camelopardalids berkemungkinan teramati, meski intensitasnya lebih kecil.

Jenniskens dan partnernya astronom Dave Nugent telah membangun aplikasi berbasis Java untuk memprediksi berapa intensitas sebuah hujan meteor yang bisa disaksikan dari titik manapun di permukaan Bumi dengan berbagai variasi polusi cahaya langit malam, mulai dari kawasan tengah kota (dengan polusi cahaya terparah), suburban/pinggiran kota, pedesaan hingga ke pegunungan (dengan polusi cahaya terminimal). Aplikasi tersebut dinamakan Fluxtimator. Kala Fluxtimator diterapkan dalam kasus hujan meteor Camelopardalids, nyatalah bahwa di Indonesia dalam selang waktu antara pukul 21:00 hingga pukul 07:00 keesokan paginya, tak ada satupun lokasi yang berkesempatan menikmati hujan meteor Camelopardalids. Di Asia Tenggara, hanya kawasan seperti Bangkok (Thailand) dan sekitarnya yang berkesempatan menikmati hujan meteor ini pada rentang waktu tersebut, itupun dengan intensitas sangat kecil. Secara umum Fluxtimator memprediksikan kawasan Asia pada umumnya kurang begitu beruntung dalam mengamati hujan meteor Camelopardalids ini. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan Amerika Utara, misalnya di kota San Fransisco (AS) dan sekitarnya.

Gambar 7. Sebuah meteor Camelopardalids, terekam pada 13 Juni 2012 dari Amerika Utara. Dalam puncak hujan meteor Camelopardalids 2014 ini, meteor sejenis dan yang lebih terang akan lebih banyak terlihat. Sumber: Jenniskens, 2014.

Gambar 7. Sebuah meteor Camelopardalids, terekam pada 13 Juni 2012 dari Amerika Utara. Dalam puncak hujan meteor Camelopardalids 2014 ini, meteor sejenis dan yang lebih terang akan lebih banyak terlihat. Sumber: Jenniskens, 2014.

Namun jangan khawatir! Masih terbuka kemungkinan untuk mengamati hujan meteor Camelopardalids dari Indonesia, meski kecil. Salah satunya dengan mengandalkan adanya kemungkinan meteor-terang (fireball) dalam hujan meteor ini. Laporan-laporan memperlihatkan bahwa hingga 2 minggu menjelang puncak hujan meteor Camelopardalids, telah terdeteksi sejumlah meteor-terang yang berasal dari radian ini dan dipastikan merupakan bagian dari hujan meteor Camelopardalids. Beberapa meteor-terangnya bahkan cukup terang, melebihi benderangnya Venus, sehingga berkemungkinan terlihat di siang hari. Inilah salah satu kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor yang tak biasa tersebut.

Referensi:

Beatty. 2014. Ready for May’s Surprise Meteor Shower? Sky & Telescope Online.

Phillips. 2014. A New Meteor Shower in May? NASA Science News, 6 Mei 2014.

Maslov. 2014. 209P-ids, 2014, Prediction of Activity.

IMCEE. 2014. The Next Big Meteor Shower.

Gunung Slamet (Hampir) Usai Tunaikan Janji

Setelah hampir dua minggu berada dalam status Siaga (Level III) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memutuskan untuk menurunkan status Gunung Slamet (Jawa Tengah) setingkat lebih rendah menjadi Waspada (Level II), terhitung semenjak Senin 12 Mei 2014 pukul 16:00 WIB. Penurunan ini didasarkan atas cenderung meredanya aktivitas letusan Gunung Slamet pada saat ini seperti dicerminkan oleh data kegempaan dan geokimianya.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Gambar 1. Salah satu letusan Gunung Slamet yang diabadikan di kala fajar 7 Mei 2014 oleh Syamsul Rizal Wittiri, vulkanolog Indonesia. Semburan gas dan debu ini tak setinggi semburan sejenis beberapa hari sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa aktivitas Gunung Slamet mulai mereda. Sumber: Wittiri, 2014.

Kegempaan Gunung Slamet memperlihatkan adanya penurunan dalam hal gempa-gempa letusan dan hembusan. Uniknya penurunan ini justru terjadi pada saat gunung berapi itu menempati status Siaga (Level III). Berdasarkan pengukuran SSAM (Seismic Spectral Amplitude Measurement), puncak kejadian gempa letusan dan hembusan Gunung Slamet telah terjadi pada rentang waktu 16 hingga 26 April 2014. Rentang waktu tersebut bersamaan dengan meroketnya energi kegempaan Gunung Slamet.

SSAM juga memperlihatkan bahwa mayoritas gempa yang berhasil direkamnya di Gunung Slamet memiliki frekuensi rendah, yakni antara 2 hingga 5 Hertz (Hz). Gempa semacam ini merupakan jejak dari aliran fluida dari perutbumi, dalam hal ini gas vulkanik. Sebaliknya gempa dengan frekuensi lebih tinggi yang menjadi ciri khas gempa vulkanik justru nihil. Ketiadaan ini menunjukkan tidak terjadinya perekahan batuan sebagai hasil bekuan magma tua yang ada di dalam saluran magma di perutbumi Gunung Slamet. Nihilnya gempa vulkanik menunjukkan tak adanya pasokan magma segar yang baru dari dapur magma dalam Gunung Slamet menuju ke kawah di puncak.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 2. Dinamika kegempaan Gunung Slamet semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Dalam status Siaga (Level III), jumlah gempa letusan dan gempa hembusan per harinya justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Menurunnya aktivitas Gunung Slamet juga terlihat dari sisi geokimia. Suhu air panas di mata-mata air panas Pandansari, Sicaya dan Pengasihan (ketiganya terletak di sekitar Guci, kaki barat laut Gunung Slamet) relatif stabil tanpa ada pertanda peningkatan temperatur yang dramatis. Di mataair Pengasihan suhunya cenderung berfluktuasi di sekitar angka 50 derajat Celcius. Hal serupa juga dijumpai di air panas Sicaya, yang sedikit lebih panas yakni 60 derajat Celcius. Sebaliknya pada air panas Pandansari, suhunya justru cenderung menurun meski tak terlalu besar.

Selain pengukuran suhu air panas, juga telah dilakukan pengukuran kadar gas karbondioksida (CO2) yang diemisikan Gunung Slamet dan terlarut dalam air panas. Pengukuran dilangsungkan pada air panas di kolam pancuran 3 Baturaden yang terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Pengukuran pada 9 Mei 2014 memperlihatkan kadar gas CO2 ini masih setinggi hingga 88 %. Kadar tersebut lebih besar ketimbang hasil pengukuran yang sama pada 17 hingga 21 Maret 2014 sebelumnya, yang bervariasi antara 6 hingga 78 %. Masih tingginya emisi gas CO2 menunjukkan Gunung Slamet masih menghembuskan gas-gas vulkaniknya dengan intensitas cukup tinggi. Hal ini juga konsisten dengan data kegempaan khususnya data gempa letusan dan hembusan.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 3. Dinamika amplitudo spektra seismik Gunung Slamet dalam frekuensi hingga 5 Hertz semenjak awal 2014 hingga 12 Mei 2014. Nampak amplitudo rata-rata (moving average) meningkat sedikit di awal status Waspada dan meroket di akhir status Waspada (Level II). Dalam status Siaga (Level III) amplitudo tersebut justru cenderung menurun. Inilah salah satu alasan Gunung Slamet kembali diturunkan statusnya ke Waspada (Level II). Sumber : PVMBG, 2014.

Namun emisi gas-gas vulkanik ini tidak disertai dengan pasokan magma segar dari perutbumi Gunung Slamet menuju ke puncak. Maka tidak terjadi lonjakan suhu yang signifikan pada mata-mataair panas di sekujur tubuh Gunung Slamet. Tiadanya pasokan magma segar juga tercermin dari data kegempaan, khususnya nihilnya gempa-gempa vulkanik Gunung Slamet.

Tunaikan Janji

Dalam status Siaga (Level III), ‘kekacauan’ sempat terjadi seiring terdeteksinya deformasi di sektor tenggara Gunung Slamet, seperti diperlihatkan oleh instrumen tiltmeter yang dipasang di Blambangan (4,5 km sebelah timur kawah aktif Slamet). Deformasi ini berupa inflasi (penggelembungan) dan dengan kuantitas cukup besar. Fenomena ini sempat diliput oleh sebuah media cetak nasional dan dikupas sebagai pertanda aktivitas Gunung Slamet bakal terus meningkat. Umumnya inflasi pada tubuh gunung berapi ditafsirkan sebagai telah masuknya pasokan magma segar ke dalam tubuh gunung. Sehingga gunung berapi tersebut sedikit membengkak.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Gambar 4. Dinamika deformasi tubuh Gunung Slamet semenjak status Waspada (Level II) diberlakukan melalui tiltmeter Blambangan serta EDM (electronic distance measurement) Buncis dan Cilik. Nampak komponen tangensial (sumbu X) tiltmeter Blambangan meroket semenjak 5 Mei 2014. Namun gejala tersebut tak terlihat pada komponen radial (sumbu Y) di stasiun yang sama. Juga tak terlihat di stasiun EDM Buncis dan Cilik. Maka tiltmeter Blambangan pun diinstalasi ulang pada 10 Mei 2014. Dengan mengecualikan tiltmeter Blambangan, secara umum tak terjadi deformasi signifikan di tubuh Gunung Slamet. Sumber : PVMBG, 2014.

Namun inflasi tersebut hanya tercatat di tiltmeter Blambangan dan itu pun hanya terekam pada satu sumbu dari dua sumbu yang ada. Sementara tiltmeter Cilik (5,5 km sebelah utara kawah aktif Slamet) justru tak merekamnya. Sehingga anggapan terjadinya anomali mulai muncul khususnya terkait tidak stabilnya pondasi tiltmeter Blambangan. Bila pondasi tak stabil, maka tiltmeter akan menyalurkan sinyal keliru yang bisa ditafsirkan sebagai terjadinya deformasi tubuh Gunung Slamet, padahal sejatinya tak demikian. Karena itu stasiun tiltmeter Blambangan kemudian dipasang ulang dan dikalibrasi pada 10 Mei 2014.

Sejauh ini Gunung Slamet memperlihatkan bahwa letusannya pada saat ini masih memiliki pola yang sama dengan letusan-letusan Slamet dalam kurun 2 abad terakhir. Yakni letusan yang didominasi semburan gas bertekanan rendah-sedang bersama debu vulkanik, tanpa disertai muntahan lava. Semburan tersebut bermanisfestasi sebagai letusan tipe Strombolian, yang bagaikan kembang api/pancuran api menari-nari di kawah aktif Slamet kala disaksikan di malam hari. Letusan Strombolian dikenal sebagai letusan pembangun. Sebab material vulkanik yang disemburkannya akan berjatuhan kembali di sekeliling kawah aktif, membentuk tumpukan material yang mengelilingi lubang letusan. Lama kelamaan tumpukan ini kian meninggi dan bakal berimbas pada bertambah tingginya puncak gunung. Puncak Slamet saat ini, khususnya bagian yang terletak di atas batas vegetasi, diperkirakan terbentuk oleh tumpukan material vulkanik dari rentetan letusan demi letusan Strombolian dalam kurun beratus tahun terakhir.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Gambar 5. Petani yang tetap asyik dengan aktivitas keseharian di ladangnya meski jauh di belakangnya Gunung Slamet nampak menyemburkan asap dalam salah satu letusannya di pagi hari 7 Mei 2014. Diabadikan oleh T. Bachtiar, geografer Indonesia, bersama dengan tim redaksi majalah Geomagz. Sumber: Bachtiar, 2014.

Dengan pola seperti ini, sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Gunung Slamet. Bahkan dengan penurunan statusnya menjadi Waspada (Level II) menjadi indikasi bahwa letusan Gunung Slamet di tahun 2014 ini sudah mulai melandai dan segera menuju ke titik akhirnya. Dengan kata lain, Gunung Slamet sudah hampir usai menunaikan janjinya. Penurunan status membuat radius daerah terlarang Gunung Slamet pun dipersempit kembali menjadi hanya 2 kilometer dari kawah aktif.

Meski menunjukkan kecenderungan demikian, tak ada salahnya tetap menjaga kewaspadaan. Setiap gunung berapi memiliki perilakunya sendiri dan kadang keluar dari kebiasaan. Untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan Gunung Slamet keluar dari kebiasaan itulah maka pemantauan terus-menerus terhadap gunung berapi aktif ini tetap digelar. Sehingga apabila terdapat pertanda awal perubahan kebiasaan sang gunung, maka informasi bisa diperoleh dengan lebih rinci untuk kemudian disalurkan guna memenuhi kepentingan publik.

Referensi :

PVMBG. 2014. Penurunan Status Kegiatan G. Slamet Dari Siaga Menjadi Waspada, 12 Mei 2014.