Menyambut Ramadhan 1435 H dengan Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0

Bulan Ramadhan 1435 H tinggal menghitung hari. Bagi kita di Indonesia, hadirnya bulan suci ini juga ditandai meroketnya pamor astronomi dan ilmu falak ke panggung tertinggi. Apa lagi yang menjadi pendorong utamanya selain diskursus bagaimana cara menentukan awal bulan kalender Hijriyyah? Lebih khususnya bagaimana awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri ditentukan. Topik ini klasik, namun tetap menarik (perhatian) dan belakangan bahkan dipandang sebagian kalangan dengan penuh selidik. Apa lagi musababnya kalau bukan soal perbedaan cara penentuan dan alasan (astronomis/ilmu falak) yang mendasarinya. Dalam pertemuan ilmiah dua tahunan Himpunan Astronomi Indonesia (HAI) di Observatorium Bosscha, Lembang (Kabupaten Bandung Barat) tahun 2013 lalu sempat diulas betapa lalu lintas diskusi terkait topik-topik astronomi di media-media sosial melonjak hebat di sepanjang bulan suci Ramadhan dengan kosakata hilaal menjadi hal yang paling banyak diperbincangkan.

Kosakata hilaal boleh menjadi pemuncak dalam diskusi publik di setiap bulan suci Ramadhan. Namun selain hilaal dan problematika penentuan awal bulan kalender Hijriyyah, sejatinya astronomi/ilmu falak juga membawa serta problem lainnya yang tak kalah pentingnya meski ironisnya sungguh kalah populer. Salah satu problematika ini bahkan harus kita hadapi setiap harinya, karena berkaitan dengan dimulainya dan diakhirinya ibadah puasa setiap hari. Problematika tersebut mengejawantah dalam wujud yang kita kenal dengan jadwal imsakiyah Ramadhan.

Ada apa dengan jadwal imsakiyah Ramadhan ?

Koreksi Waktu

Jadwal imsakiyah adalah tabel waktu yang wajib dicermati setiap insan Muslim siapapun di bulan suci Ramadhan, kecuali yang sedang mendapatkan halangan untuk turut berpuasa. Ia mendapatkan namanya karena ada penekanan terhadap awal waktu Imsak didalamnya. Awal waktu Imsak adalah waktu yang berlangsung beberapa saat sebelum awal waktu Shubuh tiba. Karena berpuasa dimulai pada saat awal waktu Shubuh tiba, maka waktu Imsak dijadikan sebagai penanda bahwa puasa di hari itu sebentar lagi dimulai. Maka kegiatan makan dan minum sebaiknya segera dituntaskan. Karena puasa di suatu hari berakhir pada awal waktu Maghrib, maka sebagian kalangan ada yang berpendapat bahwa tabel waktu tersebut sebaiknya diberi nama Jadwal Imsakiyah-Maghribiyah Ramadhan. Namun pendapat ini tak populer. Maka, di luar eksistensi waktu Imsak, jadwal imsakiyah ini sejatinya sama dengan jadwal shalat wajib di hari-hari biasanya. maka ia pun masih menyertakan awal waktu Dhuhur, ‘Ashar, Isya’ dan tentu saja Maghrib.

Secara fisis awal waktu Shubuh ditandai oleh terjadinya semburat cahaya fajar (fajar shadiq) yang tepat merembang di kaki langit timur. Sementara awal waktu Maghrib ditandai dengan tepat terbenamnya Matahari di kaki langit barat. Sebaliknya tak ada penanda alami demikian bagi waktu Imsak. Yang ada hanyalah kesepakatan. Di Indonesia, Kementerian Agama RI dan organisasi-organisasi kemasyarakatan Islam secara umum menyepakati awal waktu Imsak adalah 10 menit sebelum awal waktu Shubuh terjadi.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan dalam bentuk klasiknya memang sungguh populer. Di bulan suci tersebut, lembaran-lembaran jadwal imsakiyah entah yang dikeluarkan oleh institusi seperti Kementerian Agama setempat (bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia dan/atau Badan Hisab Rukyat Daerah setempat) ataupun yang dikeluarkan berbagai pihak, baik institusi maupun perorangan, mudah dijumpai. Semua menyajikan angkanya masing-masing dan sebaliknya jarang yang menyajikan alasan di balik munculnya angka-angka tersebut. Di tahun 2014 ini, yang sudah ditabalkan sebagai tahun politik, jadwal imsakiyah nampaknya akan kian populer saja. Apalagi pemilihan presiden akan dilaksanakan pada 9 Juli 2014 mendatang, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1435 H. Jangan heran jika kita akan menjumpai poster-poster peraga kampanye yang juga menyertakan jadwal imsakiyah Ramadhan.

Lantas apa masalahnya?

Seperti halnya jadwal shalat wajib di hari-hari biasa, jadwal imsakiyah Ramadhan pun menderita permasalahan terkait ketelitian (akurasi). Jadwal shalat sejatinya adalah hasil perhitungan (hisab) dengan serangkaian persamaan matematis yang bertumpu pada sejumlah pengandaian (asumsi). Dalam astronomi, perhitungan hanya akan bermakna jika telah dibandingkan dengan observasi astronomi terhadap benda langit yang menjadi patokan bagi waktu shalat, yakni Matahari. Akurasi akan diperoleh bilamana asumsi dikurangi hingga seminimal mungkin, salah satunya dengan melakukan perhitungan di titik yang sama dengan titik observasi.

Di sinilah masalahnya. Banyak jadwal shalat untuk suatu wilayah administratif tertentu (yakni Kabupaten atau Kota tertentu) yang justru tidak dihitung pada suatu titik acuan di wilayah tersebut, melainkan pada titik lain yang terletak jauh di luar. Umumnya digunakan kota besar terdekat. Misalnya di propinsi Jawa Tengah, jadwal shalat maupun imsakiyah Ramadhan bagi Kabupaten Kebumen dianggap bisa dihitung dengan menggunakan titik di kota Semarang atau Yogyakarta, yang lantas dipindahkan ke kabupaten tersebut melalui apa yang disebut koreksi waktu. Kita mengenal koreksi waktu sebagai berapa menit yang harus ditambahkan/dikurangkan terhadap suatu waktu shalat yang telah dihasilkan. Padahal konsep koreksi waktu sejatinya hanya bisa diterapkan pada awal waktu Dhuhur saja. Sedangkan pada waktu shalat yang lainnya tak bisa dilakukan.

Kita bisa melihatnya misalnya dalam perbandingan waktu shalat antara kota Kebumen dan kota Semarang, keduanya di propinsi Jawa Tengah. Kedua kota terpisahkan jarak sejauh 102 km, sedangkan garis bujur yang melintasi masing-masing kota berselisih jarak 83 km. Jika elevasi kedua kota dianggap nol meter dpl (dari paras air laut rata-rata), maka di sepanjang tahun 2014awal waktu Dhuhur di kota Kebumen adalah plus 3 menit dari Semarang. Namun awal waktu Shubuhnya bervariasi antara plus 1 menit 51 detik hingga plus 3 menit 53 detik. Sementara awal waktu ‘Asharnya juga bervariasi antara plus 2 menit 7 detik hingga plus 4 menit 8 detik. Pun awal waktu Maghrib, yang bervariasi antara plus 2 menit 4 detik hingga plus 3 menit 57 detik. Juga awal waktu Isya’ yang bervariasi antara plus 2 menit 7 detik hingga plus 4 menit 8 detik. Secara akumulatif kurvanya akan terlihat seperti gambar berikut ini:

imsakiyah_selisih-setahun

Jika dibatasi hanya sepanjang bulan suci Ramadhan 1435 H saja, maka awal waktu Shubuh di kota Kebumen bervariasi antara plus 3 menit 43 detik hingga plus 3 menit 52 detik (dibulatkan menjadi 4 menit) dari kota Semarang. Awal waktu ‘Asharnya bervariasi antara plus 2 menit 34 detik hingga plus 2 menit 44 detik (dibulatkan menjadi 3 menit). Awal waktu Maghribnya pun bervariasi antara plus 2 menit 4 detik hingga plus 2 menit 14 detik (dibulatkan menjadi 3 menit). Juga awal waktu Isya’ yang bervariasi antara plus 2 menit 8 detik hingga plus 2 menit 17 detik (dibulatkan menjadi 3 menit). Harus dilihat bahwa perbedaan ini pun belum memperhitungkan perbedaan karakteristik geografis antara Kabupaten Kebumen (beribukota di Kebumen) dengan kota Semarang. Jelas bahwa merata-ratakan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1435 H di Kabupaten Kebumen sebagai plus 3 menit dari Kota Semarang bakal berimplikasi serius khususnya di awal waktu berpuasa (yakni awal waktu Shubuh).

imsakiyah_selisih-sebulan-Ramadhan

Contoh di atas memperlihatkan bahkan untuk dua lokasi yang berjarak relatif dekat pun ternyata mempunyai perbedaan dalam hal jadwal imsakiyah Ramadhan, perbedaan yang tak bisa dikompensasikan meski menggunakan konsep koreksi waktu. Maka solusi terbaik adalah menghitung Jadwal Imsakiyah Ramadhan bagi sebuah wilayah administratif di dalam wilayah administratif tersebut. Untuk itulah spreadsheet Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 dibangun.

Penggunaan

Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 adalah sebuah spreadsheet (berbasis Excell 2003 dan 2007) yang dirancang untuk mempermudah perhitungan jadwal imsakiyah bagi sebuah bulan suci Ramadhan bagi 497 kabupaten/kota se-Indonesia yang mencakup 34 propinsi, termasuk propinsi terbaru (Kalimantan Utara). Titik perhitungan bagi ke-497 kabupaten/kota tersebut adalah di ibukota kabupaten/kotanya masing-masing, dengan koordinat posisi (dalam garis lintang dan bujur geografis) yang telah disurvei (melalui bantuan laman Google Maps dan Google Earth) sepanjang 2011 hingga 2012. Dengan basis data ini maka pengguna tak perlu repot-repot lagi mencari koordinat posisi ibukota kabupaten/kota yang menjadi tempat tinggalnya melalui sumber sekunder.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 memang hanya menghitung jadwal imsakiyah di ibukota sebuah kabupaten/kota, bukan pada lokasi lain yang masih terletak dalam lingkungan kabupaten/kota tersebut. Implementasinya ke segenap penjuru kabupaten/kota tersebut bisa dilakukan dengan menambahkan faktor toleransi (ihtiyaath), yang juga sudah termaktub dalam spreadsheet ini.

Setelah Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 diunduh (di-download) dan diekstrak ke sebuah folder khusus, maka pengguna harus memilih ibukota kabupaten/kota yang ada terlebih dahulu, dari 497 nama ibukota kabupaten/kota yang ada dalam basis data. Caranya, arahkan kursor mouse ke kolom kotak di samping tulisan Ibukota, lantas sorot ke bawah dan pilih sesuai dengan yang dikehendaki.

imsakiyah_ibukota

Dengan cara yang sama, pengguna juga diharapkan untuk memilih nilai elevasi (ketinggian tempat terhitung dari paras air laut rata-rata). Harus digarisbawahi bahwa elevasi suatu lokasi menentukan kapan Matahari terbenam sempurna (sebagai awal waktu Maghrib) dan kapan pula ia tepat hendak terbit (sebagai akhir waktu Shubuh).

imsakiyah_elevasi

Dengan cara yang sama, pengguna diharuskan untuk memilih tahun Hijriyyah dan kriteria awal bulan kalender Hijriyyah yang dikehendaki.

imsakiyah_tahun-kriteria

Sudut-sudut Matahari untuk setiap waktu shalat yang digunakan di Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 adalah yang dibakukan oleh Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama RI hingga 2014 ini. Meski demikian pengguna dapat pula memilih sudut-sudut Matahari versi yang lain, untuk setiap waktu shalat kecuali waktu Maghrib. Demikian pula dengan toleransi (ihtiyaath)-nya.

Jika semuanya telah dipilih, maka pada tab output Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 akan tersaji hasil perhitungan jadwal imsakiyah yang dikehendaki. Pengguna bisa langsung mencetaknya, ataupun menyalinnya (copy) untuk dipindah ke format lain.

imsakiyah_output

Catatan :

Spreadsheet Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 dapat diunduh di sini (Excell 2003) atau di sini (Excell 2007). Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0 ini belum sempurna sehingga tetap terbuka kemungkinan tak berfungsi secara sempurna.

 

Iklan

10 thoughts on “Menyambut Ramadhan 1435 H dengan Jadwal Imsakiyah Ramadhan versi 1.0

      • marufins berkata:

        Ada sebagian lokasi yang memang sudah saya patenkan elevasinya, sehingga hanya tersedia satu pilihan saja (misalnya di Kebumen, seluruh elevasinya pasti 21 semua). Situasi ini dijumpai khususnya pada kabupaten/kota yang sudah saya survei elevasinya, yang mencakup sebagian pulau Sumatra (Aceh, Sumut, Sumbar) dan seluruh Jawa. Yang lainnya belum. Jadi mungkin lokasi tersebut sudah masuk ke dalam salah satu kabupaten/kota yang ibukotanya sudah disurvei elevasinya.

        Sebagai pengaman, saya menyertakan ahtiyaath yang bisa diubah-ubah, tak hanya 2 menit. Silahkan dicoba

  1. Fadhlulloh berkata:

    Hasil HIsab akan batal demi hukum (walaupun itu sudah menggunakan HIsab Haqiqi bukan sekedar taqribi) jika bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya contoh, misal waktu maghrib di jadwal 17.30 akan tetapi dalam kenyataannya langit masih terang benderang maka jadwal maghrib batal demi hukum sebab tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

    • Memang kalau magrib kondisi masih terang, karena cahaya senja kan masih tetap ada. Kalau isya mungkin iya dia harus gelap, karena cahaya senja atau meha merah menghilang di ufuk barat.

  2. assalamualaikum wr wb
    untuk indonesia awal puasa ramadan hari senen tgl 30 juni 2014. semoga kita mendapat safaat di yaumil masar kelak amin . landasan hisab da rukyat itu tertulis di tiang aras urutan urufnya di lihat rasullulah saw di saat israk dan migrat, tentu allah sang pencipta alam yang menuliskannya ini metode yg kita pakai untuk menentukan awal puasa ramadan dan bulan hijriyah dan juga titik nol derajatnya revolusi bulan mengelilingi bumi bukan pada ijtimak (kunjungsi), lebih jelasnya baca rotasibulan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s