Malaysia Airlines Penerbangan MH17 Ditembak Jatuh di Ukraina

Sampai saat ini, 298 orang dipastikan tewas dalam tragedi jatuhnya pesawat Boeing 777-200ER bernomor 9M-MRD milik maskapai Malaysia Airlines. Jumbo jet dengan dengan nomor penerbangan MH17 yang sedang menjalani rute transkontinental dari bandara Schiphol Amsterdam (Belanda) dengan tujuan bandara internasional Kuala Lumpur (Malaysia) ini menghilang dari radar pada Kamis 17 Juli 2014 pukul 16:15 waktu Ukraina (13:15 waktu universal/UTC) saat melintas di ruang udara Ukraina bagian timur. belakangan diketahui jumbo jet itu jatuh di sekitar desa Hrabove, kawasan Donetsk Oblast di Ukraina timur, tak jauh dari tapalbatas Ukraina dan Rusia. Boeing 777-200ER ini remuk tak berbentuk. Kepingan-kepingannya, yang sebagian menghitam terbakar, terserak dalam area yang cukup luas hingga mencapai beberapa kilometer persegi.

Dari seluruh penumpang dan kru yang tewas, untuk saat ini 12 diantaranya dipastikan merupakan warga negara Indonesia dengan 11 orang dewasa dan 1 bayi. Angka ini diduga bakal bertambah, karena hingga saat ini masih ada 41 korban yang belum teridentifikasi kewarganegaraannya. Warganegara Belanda menduduki porsi terbesar dari korban, yakni mencapai 154 orang. Berikutnya giliran warganegara Malaysia (45 orang termasuk 2 bayi), Australia (27 orang) dan Indonesia. Di antara korban tewas, 6 orang diantaranya dipastikan merupakan anggota delegasi KTT AIDS Internasional 2014 di Melbourne (Australia). Termasuk diantaranya Joseph Lange, presiden International AIDS Society periode 2002-2004. International AIDS Society adalah perhimpunan nirlaba global yang mengorganisir pertemuan-pertemuan bertaraf internasional terkait seluk beluk penyakit AIDS, termasuk KTT 2014 ini.

Gambar 1. Boeing 777-200ER nomor 9M-MRD milik Malaysia Airlines sedang melaju di landasan. Warna cat tubuhnya merupakan cat yang berlaku pada 2005 hingga 2008. Inilah pesawat dalam penerbangan MH17 yang jatuh di Ukraina timur pada kamis 17 Juli 2014. Sumber: Airpicfreak, dalam Flightradar24, 2014.

Gambar 1. Boeing 777-200ER nomor 9M-MRD milik Malaysia Airlines sedang melaju di landasan. Warna cat tubuhnya merupakan cat yang berlaku pada 2005 hingga 2008. Inilah pesawat dalam penerbangan MH17 yang jatuh di Ukraina timur pada kamis 17 Juli 2014. Sumber: Airpicfreak, dalam Flightradar24, 2014.

Secara teknis Boeing 777-200ER ini tergolong sehat bagi pesawat terbang ukurannya. Ia selesai dibangun pada Juli 1997, sehingga telah melayani Malaysia Airlines selama 17 tahun. Selama waktu itu 75.322 jam terbang dengan 11.434 siklus. Jumbo jet bermesin kembar Rolls Royce Trent 800 ini baru saja menjalani pengecekan rutin pada 11 Juli 2014 lalu dan akan menjalaninya kembali pada 27 Agustus 2014 mendatang, jika sesuai jadwal. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh sistem dan subsistem Boeing 777-200ER dan semuanya dalam kondisi bagus, termasuk sistem komunikasinya. Dalam menit-menit terakhir penerbangannya kala berada di atas Ukraina pada ketinggian 33.000 kaki (10.000 meter) dari permukaan laut, hingga sejauh ini pun tak terdeteksi masalah internal serius, baik yang dinyatakan pilot secara verbal (mayday) maupun secara elektronis (lewat kode squawk tertentu pada transpondernya).

Maka, tanpa mendahului penyelidikan formal kecelakaan pesawat udara yang bakal dilaksanakan oleh otoritas penerbangan Ukraina, jatuhnya Malaysia Airlines penerbangan MH17 ini lebih mungkin akibat faktor eksternal. Bila dikaitkan dengan situasi kawasan, maka ini menyingkap dugaan mengerikan bahwa Boeing 777-200ER penerbangan MH17 nampaknya terhantam rudal (peluru kendali) antipesawat, entah disengaja maupun tidak, oleh salah satu pihak yang terlibat dalam krisis Ukraina. Krisis Ukraina membuat kawasan ini membara dan mewujud sebagai perlawanan bersenjata kaum separatis pro-Rusia melawan pemerintahan baru Ukraina (yang relatif condong ke AS dan Uni Eropa) seiring tumbangnya presiden terdahulu. Kebetulan Donetsk Oblast menjadi salah satu kawasan di bawah kontrol separatis pro-Rusia. Di sisi lain, Rusia pun telah menyiagakan pasukannya di sepanjang perbatasan Rusia-Ukraina sebagai respon atas krisis Ukraina sekaligus dukungan terhadap kaum separatis.

Terpecah di Udara

Gambar 2. Rute yang ditempuh Boeing 777-200ER nomor 9M-MRD dalam perjalanan terakhirnya sebagai penerbangan MH17 pada Kamis 17 Juli 2014 lalu (garis kuning), dengan keberangkatan dari Amsterdam (AMS) dan bertujuan di Kuala Lumpur (KUL). Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari FlightAware, 2014.

Gambar 2. Rute yang ditempuh Boeing 777-200ER nomor 9M-MRD dalam perjalanan terakhirnya sebagai penerbangan MH17 pada Kamis 17 Juli 2014 lalu (garis kuning), dengan keberangkatan dari Amsterdam (AMS) dan bertujuan di Kuala Lumpur (KUL). Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari FlightAware, 2014.

Baik pemerintah Ukraina maupun Rusia seakan sepakat kalau jumbo jet itu jatuh akibat tembakan rudal antipesawat, namun mereka saling tuding tentang siapa pelakunya. Awalnya muncul tuduhan pesawat itu jatuh akibat sergapan jet tempur Sukhoi-25. Belakangan hal itu terbantahkan dengan sendirinya karena Sukhoi-25 hanya efektif hingga ketinggian 5.000 meter dpl, sementara Boeing 777-200ER penerbangan MH17 ini terbang pada ketinggian 10.000 meter dpl. Rudal antipesawat yang diluncurkan dari jet tempur (alias rudal udara-ke-udara) umumnya berjangkauan pendek sehingga akan lebih efektif jika ditembakkan pada ketinggian yang sama dengan targetnya. Artileri antipesawat yang berpangkalan di darat juga takkan mampu menjangkau target yang ada di ketinggian 10.000 meter dpl karena berada di luar jangkauannya, pun demikian rudal antipesawat berjenis rudal permukaan-ke-udara yang berukuran kecil (rudal panggul).

Maka satu-satunya senjata yang mampu menjatuhkan Boeing 777-200ER penerbangan MH17, sejauh ini, hanyalah rudal permukaan-ke-udara berjangkauan jauh. Dan di kawasan tersebut memang terdapat rudal semacam itu, salah satunya sistem rudal antipesawat Buk. Rudal warisan eks-Uni Soviet ini berkemampuan menyasar target setinggi hingga 14.000 meter dpl (vertikal) dengan jangkauan maksimum 20 km. Dilengkapi hululedak high explosives seberat 70 kg, rudal yang mampu melesat hingga 3 kali lipat kecepatan suara ini dipandu oleh sistem radar semi-aktif. Dengan demikian ia berbeda terhadap rudal-rudal antipesawat umumnya, yang galibnya berpandu sistem penjejak panas guna menyasar mesin pesawat. Dengan panduan radar, maka rudal Buk mampu menyasar bagian apapun dari pesawat yang menjadi targetnya tanpa harus membatasi diri pada mesinnya saja. Kemampuan ini masih dilengkapi dengan sumbu berjenis proximity fuze, sehingga tanpa harus menumbuk sasarannya secara langsung, hululedak rudal Buk sudah akan meledak meskipun ia masih berjarak tertentu terhadap targetnya dengan jarak tertentu (misalnya di bawah 5 meter). Hempasan gelombang kejut produk ledakan disertai puing-puing material rudal sudah cukup mampu untuk merusak struktur bagian pesawat yang berdekatan dengannya sehingga gagal berfungsi dan akhirnya pun jatuh.

Bagaimana rudal Buk ini berkemungkinan merontokkan Boeing 777-200ER penerbangan MH17? Saat rudal Buk melesat menuju pesawat, nampaknya bagian yang tersasar adalah bagian moncong pesawat dan sekitarnya. Ledakan membuat moncong pesawat rusak, termasuk kokpitnya. Dengan kabin pesawat bertekanan udara normal (1 atmosfer), sementara di ketinggian 10.000 meter dpl tekanan udaranya jauh lebih kecil, maka lubang di kokpit akan memicu dekompresi seiring membanjirnya udara kabin dengan deras keluar. Aliran udara sangat kencang ini sekaligus mengawali reaksi berantai retak-retaknya badan pesawat. Pada saat yang sama, lumpuhnya kokpit membuat seluruh fungsi kendali pesawat terganggu dan pesawat mulai menukik turun. Masih dengan kecepatan tinggi, menukiknya pesawat menghasilkan percepatan hingga beberapa kali percepatan gravitasi Bumi hingga mungkin melampaui dayatahan struktur material pesawat. Retakan-retakan yang terbentuk terus berkembang demikian rupa sehingga akhirnya badan pesawat pun berkeping-keping disana-sini saat masih mengarungi udara. Bahan bakar yang masih penuh menuntaskan bencana mengerikan ini kala ia tersulut saat tiba di permukaan Bumi. Api pun mengamuk hebat, membakar sebagian reruntuhan pesawat yang berdekatan dengannya.

Gambar 3. Aktivitas lalu lintas udara di ruang udara Ukraina dan sekitarnya pada saat penerbangan MH17 jatuh tertembak. Nampak posisi terakhir penerbangan MH17 (dilabeli sebagai MAS17), dengan garis ungu sebagai lintasan yang telah ditempuhnya semenjak berangkat dari Amsterdam. Nampak pula dua pesawat sipil lainnya yang berdekatan, masing-masing pesawat Air India (dalam lingkaran kuning) dan pesawat Singapore Airlines (dalam lingkaran merah). Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Flightradar24, 2014.

Gambar 3. Aktivitas lalu lintas udara di ruang udara Ukraina dan sekitarnya pada saat penerbangan MH17 jatuh tertembak. Nampak posisi terakhir penerbangan MH17 (dilabeli sebagai MAS17), dengan garis ungu sebagai lintasan yang telah ditempuhnya semenjak berangkat dari Amsterdam. Nampak pula dua pesawat sipil lainnya yang berdekatan, masing-masing pesawat Air India (dalam lingkaran kuning) dan pesawat Singapore Airlines (dalam lingkaran merah). Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Flightradar24, 2014.

Kemungkinan ledakan di moncong pesawat dan kokpit memberikan jawaban mengapa pilot tidak menyalakan kode squawk tertentu pada transpondernya untuk menyatakan keadaan darurat. Ini juga menjadi jawaban yang sama mengapa pilot tak menyatakan keadaaan darurat secara verbal lewat mayday. Dengan kokpit hancur, baik pilot maupun ko-pilot menjadi korban tewas yang pertama sehingga tak ada yang bisa mengaktifkan kode darurat. Di sisi lain, hal ini juga membentuk situasi pesawat berjalan tanpa kendali siapapun dan kehilangan kendali otomatisnya (autopilot), sehingga praktis ia tak terkendalikan lagi. Andaikata rudal Buk itu menyasar bagian ekor pesawat, pilot mungkin masih punya waktu untuk meresponnya, setidaknya dengan menyatakan keadaan darurat. Demikian halnya andaikata rudal menyasar bagian tengah pesawat, tempat tanki bahan bakar berada, pilot pun masih berkemampuan meresponnya. Hantaman terhadap tanki bahan bakar pesawat memang akan membocorkan bahan bakar dan berujung pada terbakarnya pesawat, namun api takkan langsung berkobar ke arah kokpit.

Indikasi bahwa pesawat menukik ke Bumi dan kemudian terpecah di udara juga muncul dari bentuk dan sebaran puing-puing pesawat. Tak ada puing yang berukuran besar, sehingga pesawat jelas jatuh dengan kecepatan tinggi. Dan dengan terpecahnya pesawat di udara, maka puing-puingnya pun tersebar dalam area yang cukup luas, hingga beberapa kilometer persegi. Ini mengingatkan kita pada puing-puing pesawat Boeing 747 PanAm dalam tragedi Lockerbie (1988).

Rudal

Jika Boeing 777-200ER penerbangan MH17 ini dijatuhkan oleh rudal Buk, siapa pelakunya? Baik militer Rusia maupun Ukraina memiliki sistem rudal antipesawat ini, yang kemampuannya dianggap sejajar dengan sistem rudal Patriot di AS. Selain sebagai rudal antipesawat berjangkauan jauh, rudal Buk juga bisa berfungsi sebagai rudal antirudal. Namun tiga minggu sebelum tragedi MH17, konstelasi kepemilikan rudal Buk di kawasan berubah setelah milisi separatis pro-Rusia berhasil merebut pangkalan udara A-1402. Mereka juga mengambilalih sejumlah rudal Buk. Kepemilikan rudal Buk membuat milisi separatis pro-Rusia kini berkemampuan menjatuhkan pesawat Ukraina. Misalnya pesawat angkut militer Antonov-26 dan jet tempur Sukhoi-25 Angkatan Udara Ukraina secara berturut-turut hanya dalam beberapa hari sebelum tragedi MH17 terjadi.

Meski mampu merebut sejumlah rudal Buk, namun milisi separatis nampaknya tak memiliki sistem radar pendukungnya. Mereka juga nampaknya tak memiliki teknisi yang terlatih dengan baik untuk menanganinya. Ketiadaan dua faktor tersebut nampaknya yang berperan sangat penting dalam tragedi MH17, saat pesawat sipil (jumbo jet Boeing 777-200ER) itu secara tak terduga keliru dianggap sebagai pesawat militer (Antonov-25). Maka rudal Buk yang ampuh itu pun diluncurkan dan penerbangan MH17 menjadi korbannya.

Hanya beberapa saat setelah Boeing 777-200ER penerbangan MH17 itu jatuh dan api masih berkobar mengepulkan asap hitam pekat di darat, Igor Girkin (Igor Strelkov) yang menjadi komandan milisi rakyat Donbass (bagian dari separatis pro-Rusia) menyatakan bahwa pasukannya telah berhasil menembak jatuh (lagi) sebuah Antonov-25. Keberhasilan ini sempat diulas sebuah media Rusia. Girkin bahkan mengunggah rekaman puing-puing pesawat yang masih terbakar dalam akun VKontakte-nya sebagai bukti keberhasilan itu. Belakangan, setelah dunia dihebohkan oleh tragedi MH17, postingan ini dihapus meski jejaknya masih bisa dijumpai pada Google cache.

Kalangan separatis kemudian menyatakan bahwa Girkin sejatinya tak memiliki akun VKontakte sekaligus juga menyatakan bahwa mereka tak memiliki inventori persenjataan yang mampu menembak pesawat di ketinggian 10.000 meter dpl. Klaim ini bertentangan dengan fakta bahwa 3 minggu sebelumnya mereka telah menguasai pangkalan udara A-1402 dan sejak itu sejumlah pesawat militer Ukraina yang terbang tinggi mulai berjatuhan dari langit. Indikasi lain bahwa separatis memiliki rudal Buk muncul dari kantor berita Associated Press, dimana jurnalisnya (yang tak disebutkan namanya, untuk kepentingan keamanan) menyaksikan langsung rudal Buk beserta kendaraan peluncurnya di kota kecil Snizhne, hanya 16 kilometer dari titik pusat jatuhnya penerbangan MH17.

Jika semua ini benar, sangat mengerikan bahwa jumbo jet Boeing 777-200ER penerbangan MH17 berpenumpang 298 orang ditembak jatuh hanya karena keliru identifikasi. Namun kisah mengerikan ini bukanlah yang pertama dalam sejarah penerbangan sipil. Cerita serupa dengan skala kengerian yang setingkat pun pun pernah dialami jumbo jet Airbus A300 Iran Air penerbangan IR655 pada 3 Juli 1988. Jumbo jet ini keliru disangka jet tempur F-14 Tomcat milik Angkatan Udara Iran oleh sistem radar canggih Aegis di kapal perang USS Vicennes (milik Amerika Serikat). Kapal perang ini sedang berpatroli di Teluk Persia dalam mengamankan jalur pasokan minyak di tengah kancah perang Iran-Irak (1980-1988). Tanpa ampun, Airbus A300 itupun dihajar rudal SM-2MR hingga jatuh tercebur ke Teluk Persia dengan korban ratusan orang. Militer Ukraina sendiri juga pernah melakukan ketololan serupa, kala mereka menembakkan rudal S-200 dalam kancah latihan militer di Semenanjung Crimea. Entah bagaimana ceritanya, rudal canggih ini justru melesat ke arah jet Tupolev-154 Siberia Airlines penerbangan 1812 yang sedang lewat. Akibatnya pesawat rontok dan jatuh ke Laut Hitam. 78 orang didalamnya tewas.

Rute Ramai

Gambar 4. Aktivitas lalu lintas udara di ruang udara Ukraina dan sekitarnya sehari pasca tragedi MH17. Nampak ruang udara Ukraina timur (dalam lingkaran hitam) yang sangat sepi, hanya dilintasi satu pesawat. Situasi ini sangat kontras dibanding ruang udara negara tetangga Ukraina seperti Rumania, Bulgaria dan Polandia yang demikian padat oleh lalu lintas penerbangan. Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Flightradar24, 2014.

Gambar 4. Aktivitas lalu lintas udara di ruang udara Ukraina dan sekitarnya sehari pasca tragedi MH17. Nampak ruang udara Ukraina timur (dalam lingkaran hitam) yang sangat sepi, hanya dilintasi satu pesawat. Situasi ini sangat kontras dibanding ruang udara negara tetangga Ukraina seperti Rumania, Bulgaria dan Polandia yang demikian padat oleh lalu lintas penerbangan. Panduan arah: atas = utara, kanan = timur. Sumber: Flightradar24, 2014.

Pertanyaan lain yang sempat mengemuka adalah, mengapa Malaysia Airlines melewati kawasan panas ini? Krisis Ukraina telah meletup sejak berbulan-bulan sebelumnya dengan eskalasi yang terus meningkat. Di sisi lain, sejumlah maskapai yang juga melayani rute ini mengklaim mereka telah menghindari ruang udara Ukraina bagian timur sejak krisis memanas. Jadi mengapa Malaysia Airlines tetap melintas di sini? Apakah karena alasan ekonomis semata, mengingat rute ini adalah rute terpendek dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam, sehingga konsumsi bahan bakar pesawat di rute ini pun paling minimal? Apakah masih ada kaitannya dengan kerugian yang diderita maskapai pelat merah Malaysia ini semenjak 2011 lalu, yang memaksa mereka memperhitungkan segala aspek yang dianggap mungkin guna memperkecil pengeluaran, termasuk konsumsi bahan bakar?

Dalam pernyataan resminya sehari setelah tragedi MH17, Malaysia Airlines menjawab bahwa rute penerbangan MH17 telah disetujui oleh ICAO (International Civil Aviation Organization), badan PBB yang berfokus pada tata kelola penerbangan sipil global. Rute itu juga sudah disetujui otoritas penerbangan Ukraina. Seiring kian memanasnya krisis Ukraina, otoritas setempat memang telah menerapkan zona larangan terbang di Ukraina timur per 1 Juli 2014, namun hanya hingga ketinggian maksimum 26.000 kaki (7.900 meter) dpl. Pada 14 Juli 2014 zona larangan terbang ini diperluas menjadi hingga ketinggian maksimum 32.000 kaki (9.800 meter) dpl. Penerapan dan pengembangan zona larangan terbang ini telah dikomunikasikan secara formal kepada para pihak terkait melalui notam (notification to airmen). Sehingga rute ini bukanlah rute yang sepenuhnya terlarang.

Terungkap juga bahwa pada saat kejadian, pilot penerbangan MH17 juga telah meminta izin pengatur lalu lintas udara Ukraina untuk menanjak ke ketinggian 35.000 kaki (10.700 meter) dpl, yang adalah ketinggian optimum bagi Boeing 777-200ER. Permintaan ini ditolak dan pilot diminta tetap bertahan pada ketinggian 10.000 meter dpl, atau di atas zona larangan terbang yang setinggi 9.800 meter dpl.

Aplikasi Flightradar24 memperlihatkan bahwa ruang udara Ukraina pun masih dilintasi aneka pesawat sipil untuk berbagai tujuan sebelum tragedi terjadi, bertentangan dengan klaim sejumlah maskapai yang menyatakan tak pernah lagi lewat di atas Ukraina dalam berbulan-bulan terakhir. Tepat pada saat kejadian, di dekat Boeing 777-200ER penerbangan MH17 itu juga ada dua pesawat sipil lainnya. Masing-masing Boeing 777-200ERER penerbangan SQ351 milik Singapore Airlines (Singapura) dan Boeing 787-8 penerbangan AI113 milik Air India (India). Keduanya bahkan melintas hanya dalam jarak 25 km saja dari penerbangan MH 17 pada saat tragedi. Basis data Flightradar24 pun memperlihatkan bahwa banyak pesawat sipil milik maskapai-maskapai yang mengklaim tak lagi lewat di atas Ukraina sejak berbulan-bulan silam ternyata sejatinya masih melintas di sana. Di Asia saja, 15 dari 16 maskapai anggota Association of Asia Pacific Airlines masih tetap menerbangkan pesawatnya di atas Ukraina. Maka rute ini memang bukan rute yang sepenuhnya tertutup. Situasi memang berubah drastis pasca tragedi MH17. Seluruh ruang udara Ukraina dinyatakan tertutup untuk penerbangan sipil hingga ketinggian berapapun. Sehingga pesawat-pesawat yang semula melintas di sini harus mengambil rute memutar, umumnya melipir ke selatan melewati ruang udara Turki.

Bagaimanapun, jika benar Boeing 777-200ER penerbangan MH17 jatuh akibat dihajar rudal Buk, maka hal ini menjadi sebuah kejahatan kemanusiaan. Apapun alasannya dan bahkan dalam kondisi peperangan sekalipun, tak ada alasan untuk menjatuhkan sebuah penerbangan sipil. Jika berkaca pada kasus Iran Air penerbangan IR655, pemerintah Amerika Serikat dipaksa membayar puluhan juta dollar biaya ganti rugi dan kompensasi bagi para korban, setelah pemerintah Iran menyeretnya ke hadapan Mahkamah Internasional.

Referensi:

Statement Malaysia Airlines MH17, 2014.

Associated Press, 2014.

Jane Defense Weekly, 2014.

Flightradar24, 2014.

Iklan

2 thoughts on “Malaysia Airlines Penerbangan MH17 Ditembak Jatuh di Ukraina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s