Inti Komet yang Mirip Bebek

Seperti (mainan) bebek (yang terbuat dari) karet. Begitu kesan pertama yang membersit saat menyaksikan citra bidikan terkini dari wahana antariksa takberawak Rosetta. Betapa tidak? Saat Rosetta secara perlahan namun pasti kian mendekati benda langit tersebut, kameranya pun kian tajam mengabadikannya. Apa yang semula hanya nampak sebagai titik cahaya kecil mirip bintang, lama kelamaan kian membesar dan menampakkan bentuk lonjong berotasi. Hingga akhirnya bentuk lonjong itu pun kian membesar dan mengungkapkan raut mengejutkannya, mirip bebek.

Gambar 1. Inti komet Churyumov-Gerasimenko yang diabadikan Rosetta dari jarak 10.000 km (kiri), berbanding dengan mainan bebek karet milik Fira (kanan). Sumber: ESA, 2014 & Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Inti komet Churyumov-Gerasimenko yang diabadikan Rosetta dari jarak 10.000 km (kiri), berbanding dengan mainan bebek karet milik Fira (kanan). Sumber: ESA, 2014 & Sudibyo, 2014.

“Bebek” Rosetta ini sesungguhnya adalah inti komet Churyumov-Gerasimenko, benda langit yang menjadi sasaran utama Rosetta semenjak misi antariksa diluncurkan lebih dari 10 tahun silam. Badan antariksa negara-negara Eropa (ESA) membangun Rosetta sebagai sebuah misi antariksa tak berawak ambisius sehingga tak hanya terbang dalam jarak dekat seperti prestasi yang dicetak Giotto terhadap komet Halley (1986), salah satu momen terpenting sepanjang sejarah ESA sekaligus tonggak bersejarah dalam era eksplorasi antariksa. Namun lebih dari itu, Rosetta dibebani target ambisius untuk mengorbit (mengelilingi) sebuah inti komet dan kemudian mendarat di permukaannya.

Namanya diambil dari nama Batu Rosetta, yakni lempengan prasasti yang diungkap pasukan Napoleon di kota kuno Philae (Mesir) dan lantas menjadi kunci pengungkapan rahasia sistem penulisan hiroglif Mesir setelah diangkut dan diteliti tanpa kenal lelah ke Paris (Perancis). Seperti halnya Batu Rosetta, misi antariksa Rosetta pun diharapkan mampu mengungkap sesuatu yang baru. Dalam hal ini adalah rahasia komet, sebagai salah satu anggota tata surya kita yang paling eksotik namun sekaligus juga paling misterius. Umat manusia masakini telah menempatkan komet sebagai salah satu relik yang masih tersisa dari ganasnya tata surya kita dikala usianya masih sangat muda.

Teori yang saat ini diterima menempatkan komet sebagai relik dari planetisimal, yakni kumpulan debu primitif dalam ukuran kecil yang kemudian ‘membeku’ terhadap waktu dan melanglang buana di dinginnya tata surya. Hanya sesekali saja ia terhangatkan sinar Matahari (hingga memuntahkan uap airnya) kala berada di titik terdekatnya terhadap sang surya (perihelion). Di bawah pengaruh gravitasi, mayoritas kometisimal/planetisimal berkembang lebih lanjut menjadi gumpalan-gumpalan lebih besar yang disebut protoplanet. Protoplanet pun lama-kelamaan membesar dan mulai mengalami diferensiasi kimiawi hingga akhirnya membentuk bakal inti dan bakal selubung, ciri khas sebuah planet. Planet-planet dan planet kerdil dalam tata surya beserta sebagian besar satelit alaminya diyakini terbentuk dengan cara tersebut. Diferensiasi kimiawi menyebabkan upaya kita untuk memahami substansi material primitif tata surya kala masih berusia sangat muda menjadi mustahil. Alhasil satu-satunya cara guna memperoleh material primitif tersebut hanyalah dengan menerbangkan wahana antariksa takberawak terhadap relik tata surya saat masih sangat muda, yakni komet dan asteroid.

Gambar 2. Sekuens citra (foto) inti komet Churyumov-Gerasimenko yang diabadikan Rosetta pada 14 Juli 2014 silam dari jarak 10.000 km. Nampak terlihat ia berotasi dengan periode rotasi 12-an jam. Sumber: ESA, 2014.

Gambar 2. Sekuens citra (foto) inti komet Churyumov-Gerasimenko yang diabadikan Rosetta pada 14 Juli 2014 silam dari jarak 10.000 km. Nampak terlihat ia berotasi dengan periode rotasi 12-an jam. Sumber: ESA, 2014.

Beberapa misi antariksa pendahulu telah menyajikan temuan mengejutkan. Giotto misalnya, yang diterbangkan ESA melintas dekat komet Halley, menunjukkan inti komet Halley berbentuk irregular (tak beraturan) dengan diameter efektif 18 km. Permukaannya demikian gelap hingga bisa disebandingkan dengan gelapnya batubara/aspal. Giotto juga memperlihatkan bahwa inti komet Halley relatif ringan sehingga massa jenisnya bahkan lebih kecil dibanding air, membuatnya akan mengapung apabila diletakkan dengan hati-hati di Samudera Indonesia (Samudera Hindia). Hal serupa juga dijumpai Deep Space 1 yang diterbangkan Amerika Serikat (melalui NASA) ke inti komet Borrely pada 2001. Temuan lebih mencengangkan diperoleh misi Deep Impact (juga diterbangkan NASA), yang dihantamkan langsung ke inti komet Tempel-1 pada 2005 dengan kecepatan 10,5 km/detik. Hantaman itu menggerus permukaan inti komet Tempel-1 yang ditabraknya dan memastikan bahwa inti komet itu memang dibentuk oleh kumpulan debu, hanya saja ukurannya sehalus bedak. Dan terakhir ada misi Stardust (juga dari NASA), yang sengaja lewat menembus ekor komet Wild 2 dan menyedotnya dalam sebuah kontainer kecil khusus untuk kemudian dipak dan dikirim kembali ke Bumi. Analisis terhadap debu-debu yang berhasil disekap Stardust menunjukkan betapa kacau balaunya tata surya kita kala masih sangat muda, yang ditandai eksisnya substansi yang seharusnya hanya bisa terbentuk dalam lingkungan sangat panas (yakni yang jauh lebih dekat ke Matahari ketimbang planet Merkurius), namun kini justru bersemayam di dalam salah satu benda langit terdingin pada tata surya kita (yakni komet).

Diluncurkan pada 2 Maret 2004 silam oleh roket jumbo Ariane 5G dari bandar antariksa Kourou, Guyana Perancis (Amerika selatan), Rosetta dijadwalkan akan mengorbit komet Churyumov-Gerasimenko pada 6 Agustus 2014 besok. Komet Churyumov-Gerasimenko adalah sebuah komet periodik dengan periode pendek, yakni hanya 6,45 tahun. Ia pertama kali dilihat oleh sepasang astronom eks-Uni Soviet, yakni Svetlana Ivanova Gerasimenko dan Klim Ivanovych Churyumov pada 11 September 1969. Karena itulah nama Churyumov dan Gerasimenko lantas ditabalkan pada komet ini. Komet ini mengorbit Matahari dalam lintasan yang cukup lonjong, sehingga pada suatu waktu ia bisa saja hanya berjarak 185 juta kilometer dari sang surya. Namun di waktu yangh lain ia bisa melipir demikian jauh hingga sejauh 850 juta kilometer dari Matahari, atau sedikit lebih jauh dibanding orbit planet gas raksasa Jupiter. Seperti halnya komet-komet berperiode pendek lainnya, komet Churyumov-Gerasimenko pun demikian menderita di bawah ‘penjajahan’ gravitasi Jupiter. Pada 1959 komet ini melintas dalam jarak relatif dekat dengan Jupiter, membuat planet gas raksasa itu berkemampuan mengubah orbit sang komet secara dramatis. Akibatnya jarak terdekat komet ke Matahari pun memendek, dari yang semula diperkirakan sejauh 400 juta kilometer (2,7 satuan astronomi) menjadi hanya 185 juta kilometer (1,2 satuan astronomi) saja. Perubahan tersebut bertahan hingga hari ini.

Gambar 3. Simulasi pendaratan Philae di permukaan inti komet Churyumov-Gerasimenko. Pendarat seberat 100 kg ini dilengkapi dengan tiga jangkar di kakinya guna menjaga agar ia tak terpental kembali ke antariksa seiring sangat kecilnya gravitasi inti komet. Dengan terungkapnya bentuk inti komet Churyumov-Gerasimenko, pendaratan Philae menjumpai tantangan baru. Sumber: ESA, 2014.

Gambar 3. Simulasi pendaratan Philae di permukaan inti komet Churyumov-Gerasimenko. Pendarat seberat 100 kg ini dilengkapi dengan tiga jangkar di kakinya guna menjaga agar ia tak terpental kembali ke antariksa seiring sangat kecilnya gravitasi inti komet. Dengan terungkapnya bentuk inti komet Churyumov-Gerasimenko, pendaratan Philae menjumpai tantangan baru. Sumber: ESA, 2014.

Saat terus melaju hingga sedekat 10.000 kilometer saja dari inti komet Churyumov-Gerasimenko dalam jarak 524 juta kilometer (3,5 satuan astronomi) dari Matahari kita, panorama “bebek” a la Rosetta pun tergelar. Dalam khasanah astronomi, benda langit dengan bentuk seperti inti komet Churyumov-Gerasimenko disebut sebagai benda langit biner kontak. Dalam bahasa yang lebih sederhana (namun tak resmi), inti komet Churyumov-Gerasimenko mengekspresikan apa yang disebut benda langit kembar dempet. Ia mendapatkan namanya karena pada awalnya benda langit ini terdiri dari dua buah benda langit yang masing-masing lebih kecil dan saling terpisah, berjalan sendiri-sendiri dalam orbitnya masing-masing. Suatu waktu di masa silam, takdir sejarah membuat orbit keduanya saling berpotongan. Dan kedua benda langit pun saling bertemu. Andaikata kecepatan relatif antar keduanya sangat kecil (yakni di bawah 3 meter/detik), maka keduanya pun akan saling bertabrakan tanpa memiliki cukup energi untuk saling menghancurkan. Kini keduanya pun saling melekat satu sama lain, membentuk kembar dempet. Pengukuran Rosetta menunjukkan inti komet kembar dempet Churyumov-Gerasimenko berukuran 4 km x 3,5 km. Massanya berkisar 3,14 milyar ton dengan massa jenis rata-rata sebesar 0,1 gram dalam tiap sentimeter kubiknya. Dengan kata lain, massa jenis inti komet ini hanya sepersepuluh air murni, menjadikannya bakal mengapung saat diletakkan dengan hati-hati di perairan dalam manapun.

Terungkapnya bentuk inti komet Churyumov-Gerasimenko membuat para perancang misi Rosetta di ESA kini pusing tujuh keliling. Betapa tidak, kini lokasi yang bisa digunakan sebagai target bagi pendarat Philae seperti rencana semula kini kian menyempit. Salah perhitungan sedikit saja, pendarat Philae mungkin takkan bisa mendarat dengan baik di permukaan inti komet Churyumov-Gerasimenko. Bahkan terbuka peluang pendarat tersebut akan terpental dari permukaan inti dan menghilang ke kegelapan antariksa. Semua harus diperhitungkan baik-baik, dicek berulang-ulang dan disimulasikan dalam berbagai kondisi. Agar pendaratan yang dijadwalkan bakal berlangsung pada November 2014 besok bisa meraih sukses.

Referensi :

Temming. 2014. Rosetta’s Comet has a Split Personality. Sky & Telescope online, 18 July 2014.

Iklan

2 thoughts on “Inti Komet yang Mirip Bebek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s