Idul Fitri 1435 H di Indonesia yang (Kemungkinan Besar) Bersamaan

Bagian kedua dari lima tulisan

Bulan suci Ramadhan 1435 H telah memasuki persepuluhan harinya yang terakhir. Aroma lebaran telah mengambang pekat di udara. Seluruh moda transportasi telah disesaki segenap insan yang berarak ke segenap tujuan. Kemacetan pun tak terhindarkan di jalan-jalan raya, demikian panjang membentang. Wajah-wajah kuyu, lelah dan pasrah bertebaran di setiap sudut. Namun tidak ada yang menyesali mengikuti tradisi mudik dalam rangka bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman meski harus melalui ‘siksaan’ di jalan raya. Pasar-pasar tradisional dan modern kian penuh sesak saja dengan aliran pengunjung terus mengalir dan berjubel, menggerakkan roda perekonomian lokal. Namun juga sukses membuat banyak orang pingsan, terhimpit dan berdesak-desakan. Semua ini dalam rangka menyambut satu hari istimewa: hari raya Idul Fitri 1435 H.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Bulan sabit selepas senja tiga hari setelah konjungsi. Nampak ia berbentuk busur setengah lingkaran dengan bagian tengahnya yang tebal. Jika bagian tengahnya berada dalam kondisi paling tipis, Bulan sabit seperti ini akan bersalin nama sebagai hilaal, benda langit yang menjadi penentu Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1435 H. Sumber: Sudibyo, 2014.

Ya. Di Indonesia, hari raya Idul Fitri bukanlah sekedar hari raya yang bernafaskan religi. Lebih dari itu, ia juga menjadi peristiwa sosial dan budaya dalam skala yang amat massif. Mari cermati sejarah kontemporer negeri ini, adakah peristiwa lain yang mampu memindahkan manusia dalam skala luar biasa besar selain hari raya Idul Fitri? Di tahun 1435 H (2014) ini saja, diperkirakan 27 juta orang menjadi bagian dalam tradisi mudik. 27 juta orang itu setara dengan 11,25 % penduduk Indonesia saat ini. Dengan kata lain, 1 dari 10 orang Indonesia saat ini terlibat dalam pergerakan mudik. Pergerakan manusia dalam jumlah itu tentu membawa amat banyak implikasi, baik dari sisi positif maupun negatif. Yang jelas, pergerakan ini menunjukkan betapa posisi hari raya Idul Fitri di Indonesia demikian penting bagi segenap rakyat banyak.

Atas dasar itu pula, urusan penetapan hari raya Idul Fitri menjadi hal yang krusial di tingkat akar rumput, termasuk di tahun 1435 H. dan layaknya tahun silam, potensi (kembali) bersamanya Umat Islam Indonesia dalam merayakan Idul Fitri 1435 H pun sangat terbuka.

Di satu sisi, PP Muhammadiyah telah jauh-jauh hari memaklumatkan bahwa bagi mereka 1 Syawwal 1435 H bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Dasarnya, pada Minggu 27 Juli 2014 seluruh Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal tanpa terkecuali. Di sisi yang lain, meski masih tetap menantikan hasil sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1435 H yang salah satunya mengagendakan mendengar dan menerima/menolak laporan-laporan observasi hilaal dari seluruh penjuru Indonesia (yang mencakup 111 titik rukyat), namun kemungkinan besar Menteri Agama bakal memutuskan 1 Syawwal 1435 H juga bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014 bila mengacu kesepakatan selama ini. Sebab pada Minggu 27 Juli 2014 itu hampir seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat.

Sisi Hisab

Bagaimana sesungguhnya posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014 sehingga hari raya Idul Fitri 1435 H bakal berpotensi besar berlangsung bersamaan di Indonesia ?

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di Indonesia pada Minggu senja 27 Juli 2014. Tinggi terkecil ada di pulau Miangas (Sulawesi Utara) sementara tinggi terbesar di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Sumber: BMKG, 2014.

Salah satu parameter penting bagi penentuan awal bulan kalender Hijriyyah adalah konjungsi Bulan-Matahari (ijtima’). Peristiwa konjungsi Bulan dan Matahari pada hakikatnya adalah peristiwa dimana pusat cakram Matahari tepat berada dalam satu garis bujur ekliptika yang sama dengan pusat cakram Bulan ditinjau dari titik referensi tertentu. Dalam peristiwa ini Bulan bisa saja seakan-akan ‘menindih’ Matahari dalam situasi khusus yang kita kenal sebagai Gerhana Matahari. Namun yang sering dijumpai adalah Bulan berjarak terhadap Matahari sehingga antara Matahari dan Bulan hanyalah berada dalam satu garis lurus. Garis lurus ini tidak harus mendatar (horizontal) ataupun tegak (vertikal). Di Indonesia, konjungsi Bulan dan Matahari lebih sering terjadi saat kedua raksasa langit tersebut terletak pada satu garis lurus yang relatif miring terhadap cakrawala (horizon).

Dengan menggunakan sistem perhitungan (sistem hisab) ELP 2000-82 diketahui bahwa jika ditinjau dari titik pusat Bumi (geosentrik), konjungsi Bulan dan Matahari akan terjadi pada Minggu 27 Juli 2014 pukul 05:42 WIB. Sebaliknya bila ditinjau dari titik-titik di permukaan Bumi (toposentrik), konjungsi justru terjadi lebih dulu yakni dalam rentang waktu antara pukul 03:47 WIB (bagi kota Manado dan Biak) hingga pukul 04:03 WIB (bagi kota Medan). Meski konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, mengingat segenap umat manusia hidup di permukaan Bumi, namun dalam praktiknya ia kalah populer dibanding konjungsi geosentrik. Sehingga yang dijadikan patokan dalam perhitungan ilmu falak adalah konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menentukan elemen umur Bulan, yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) terjadi hingga saat Matahari terbenam di masing-masing titik pada satu wilayah negeri tertentu. Bagi Indonesia pada 27 Juli 2014 senja umur Bulan bervariasi antara +9,91 jam yang terjadi di Jayapura (Papua) hingga +13,25 jam di Lhoknga (Aceh). Selain umur Bulan, terdapat parameter signifikan lainnya yang disebut tinggi Bulan, yakni tinggi pusat cakram Bulan terhadap garis cakrawala (horizon) pada saat Matahari terbenam. Di Indonesia, pada saat yang sama tinggi Bulan bervariasi antara +1,74 derajat di pulau Miangas (Sulawesi Utara) hingga +3,47 derajat di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Dan parameter berikutnya yang juga menentukan adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Pada saat tersebut, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 6,08 derajat di Merauke (Papua) hingga 7,26 derajat di pulau Sabang (Aceh). Harus digarisbawahi bahwa semua ini merupakan perhitungan yang didasarkan pada kondisi ideal, dimana elevasi (ketinggian) setiap titik dianggap sama dengan rata-rata permukaan air laut.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Gambar 3. Peta tinggi Bulan di lingkup global pada Minggu senja 27 Juli 2014. Perhatikan, meski kotasuci Makkah terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia, faktanya tinggi Bulan di Makkah sama dengan tinggi Bulan di Indonesia (tepatnya di pulau Morotai, Maluku Utara). Sumber: BMKG, 2014.

Dari pemaparan data tersebut terlihat, bahwa parameter tinggi Bulan ternyata tidaklah mengikuti bentuk geografis Indonesia. Sehingga posisi Bulan dan Matahari saat ini menjadikan titik Lhoknga (Aceh), yang menjadi titik terbarat Indonesia, tidak memiliki tinggi Bulan terbesar bagi seluruh negeri. Sebaliknya geometri posisi Bulan dan Matahari adalah demikian rupa sehingga justru di titik Pelabuhan Ratu-lah tinggi Bulan mencapai nilai maksimumnya bagi segenap Indonesia. Hal ini pun berlaku dalam lingkup global. Kita bisa melihat misalnya di Saudi Arabia, negeri yang secara teknis terletak jauh lebih ke barat dibanding Indonesia. Namun pada Minggu senja 27 Juli 2014, tinggi Bulan di sekitar kotasuci Makkah adalah sama dengan tinggi Bulan di pulau Morotai, Halmahera bagian utara (Maluku Utara). Yakni sama-sama 2 derajat.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas "kriteria" Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Simulasi posisi Bulan di Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Garis tak putus-putus menunjukkan cakrawala, tepatnya cakrawala semu (horizon semu). Sementara garis putus-putus menunjukkan ambang batas “kriteria” Imkan Rukyat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Bagaimana cara membaca data-data ini sehingga kita bisa mengetahui bahwa secara teknis Idul Fitri 1435 H di Indonesia berkemungkinan besar jatuh pada saat yang sama ?

Seperti telah tertuang dalam tulisan yang lalu, khasanah perbedaan atau persamaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri di Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana sikap dua ormas Islam terbesar, masing-masing NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Dan keduanya memiliki cara berbeda guna menentukan awal Ramadhan maupun hari raya Idul Fitri. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal dengan hisab (perhitungan ilmu falak) sebagai sebagai faktor pendukung pelaksanaan rukyat. Semenjak beberapa tahun belakangan NU telah mulai konsisten melakukan rukyat hilaal bagi penentuan setiap awal bulan kalender Hijriyyah. Seiring beragamnya sistem hisab di lingkungan NU yang hasilnya pun sangat bervariasi, ormas ini memiliki parameter sendiri untuk menentukan apakah hasil rukyat hilaal bisa diterima ataukah tidak. Parameter tersebut mengacu pada “kriteria” Imkan Rukyat yang diformulasikan Kementerian Agama RI, khususnya pada faktor tinggi Bulan minimal dalam sistem hisab kontemporer.

rmd1435_IRSebaliknya bagi Muhammadiyah, awal bulan kalender Hijriyyah cukup ditentukan dengan cara hisab tanpa perlu melaksanakan rukyat hilaal. Kriteria yang digunakan adalah “kriteria” wujudul hilaal, yang pada saat ini memiliki formulasi sebagai berikut :

rmd1435_WHDengan membandingkan dua “kriteria” tersebut terhadap realitas perhitungan posisi Bulan pada Minggu senja 27 Juli 2014, maka dengan mudah dapat dilihat seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal karena seluruh titik memiliki tinggi Bulan positif (lebih besar dari nol) tanpa terkecuali. Sementara jika dipandang dari “kriteria” Imkan Rukyat, hampir seluruh Indonesia telah memenuhi syarat karena memiliki tinggi Bulan lebih dari atau sama dengan +2 derajat (terkecuali Kepulauan Sangir-Talaud di Sulawesi Utara). Dengan menerapkan prinsip wilayatul hukmi, maka konstelasi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat. Sehingga 1 Syawwal 1435 H bakal bertepatan dengan Senin 28 Juli 2014. Inilah potensi persamaan itu.

Sisi Rukyat

Uraian tersebut di atas berdasarkan pada perspektif hisab. Namun bagaimana jika berdasarkan perspektif rukyat itu sendiri?

Sebelum 2013, paparan di atas hanya bermakna dari sisi hisab namun tidak demikian dari sisi rukyat. Di Indonesia, saat tinggi Bulan setara atau melebihi 2 derajat memang sudah mulai muncul laporan rukyatul hilaal yang menyatakan terlihatnya hilaal. Laporan ini memang dapat divalidasi di tingkat sidang itsbat karena dianggap telah memenuhi “kriteria” Imkan Rukyat, namun tidak demikian dari sisi ilmiah. Laporan-laporan tersebut selalu hanya menyatakan “hilaal terlihat” tanpa adanya parameter-parameter hasil observasi yang bisa dijadikan rujukan, apalagi menyertakan citra (foto) sebagai bukti fisik.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 5. Perbandingan visibilitas menurut kriteria Odeh dan RHI pada Rabu 7 Agustus 2013 saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. Pada kriteria Odeh, A = hilaal mudah diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, B = hilaal mudah diamati dengan binokular/teleskop dan mungkin bisa diamati dengan mata tanpa alat bantu optik, C = hilaal hanya bisa diamati hilaal dengan binokular/teleskop dan D = hilaal mustahil diamati. Sementara pada kriteria RHI, T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Perhatikan kota Makassar, Sulawesi Selatan (Indonesia) berada dalam wilayah hilaal mustahil diamati baik menurut Odeh (wilayah D) maupun RHI (wilayah TT). Namun rukyat pencitraan saat itu secara gemilang berhasil menyajikan citra hilaal. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Di sisi lain, rekapitulasi rukyat hilaal yang merentang masa baik dalam lingkup global seperti dilakukan ICOP (International Crescent Observation Project) maupun lingkup lokal Indonesia yang dihimpun RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) tidak mendukung “kriteria” Imkan Rukyat. Pekerjaan ICOP mewujud pada persamaan batas yang dikenal sebagai kriteria empirik Audah (atau kriteria Odeh). Sementara kerja keras RHI mengemuka sebagai kriteria empirik RHI (atau kriteria RHI). Baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI memiliki bentuk yang mirip (jika dibatasi pada kawasan tropis semata) dan memiliki nilai ambang batas yang lebih besar ketimbang “kriteria” Imkan Rukyat, apalagi wujudul hilaal. Harus digarisbawahi bahwa baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI dibentuk oleh laporan-laporan observasi hilaal baik dengan mata dibantu oleh alat bantu optik (teleskop/binokular) maupun tidak.

Perubahan dramatis terjadi pada 2013, tepatnya pada saat penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) melalui rukyat hilaal pada Rabu senja 7 Agustus 2013. Meski baik kriteria Odeh maupun kriteria RHI menunjukkan bahwa hilaal tidak mungkin teramati pada saat itu di segenap penjuru Indonesia, namun tim Observatorium Bosscha yang ditempatkan di Makassar (Sulawesi Selatan) secara gemilang berhasil mengobservasinya sekaligus melampirkan citra (foto) hilaal tersebut, sebagai bukti fisik. Sukses ini merupakan kulminasi dari kerja keras para perukyat hilaal kontemporer (yang mencakup observatorium Bosscha, sejumlah institusi pendidikan dan ormas terkait) untuk mencari dan mengembangkan teknik-teknik observasi yang bisa dijadikan pegangan sekaligus menyajikan bukti yang kuat semenjak 2009.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Gambar 6. Kiri: citra asli hilaal Makassar 2013 hasil rukyat pencitraan yang terdiri dari 10 citra berbeda dan kemudian ditumpuk (di-stacking) lewat software pengolah citra, hal yang telah menjadi standar dalam astronomi modern. Kanan: citra hilaal Makassar 2013 yang telah dipermak lebih lanjut dengan software pengolah citra, yang diperuntukkan bagi kalangan umum (non perukyat). Nampak jelas goresan tipis sedikit melengkung, yang adalah hilaal. Sumber: Observatorium Bosscha, 2013 dan Cecep Nurwendaya, 2013.

Sukses observasi hilaal Makassar 2013 itu merupakan buah dari penggunaan teleskop (untuk memperkuat intensitas cahaya sabit Bulan) yang ditempatkan pada dudukan (mounting) robotik (sehingga teleskop senantiasa terus mengarah ke posisi Bulan dari waktu ke waktu) disertai penggunaan filter (untuk meningkatkan kontras antara sabit Bulan dengan langit di latar belakangnya) dan kamera beresolusi tinggi (untuk merekam citra sabit Bulan sebagai data elektronis) yang disertai dengan pengolahan citra (guna mempertajam citra/foto mentah dengan teknik stacking sehingga menyajikan hasil yang ramah mata). Hilaal Makassar 2013 ini terekam pada pukul 18:11 WITA, atau 5 menit setelah Matahari terbenam di lokasi tersebut.

Di tempat lain, penggunaan instrumen serupa (teleskop + mounting + filter + kamera) pun berhasil merekam sabit Bulan dalam waktu berjam-jam sebelum Matahari terbenam, seperti yang dilakukan tim observatorium as-Salam, Surakarta (Jawa Tengah) dan observatorium al-Buruj, Kudus (Jawa Tengah). Kedua tim tersebut merupakan bagian dari jejaring RHI. Sukses ini menunjukkan bahwa tanpa harus mengundang pakar astrofotografi dari mancanegara, para perukyat kontemporer Indonesia telah mampu mencetak prestasi yang hampir sama. Hanya kerendahhatian mereka saja yang membuat semua terasa sunyi.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro'uf.

Gambar 7. Perbandingan visibilitas menurut kriteria RHI bagi penentuan Idul Fitri 1434 H (2013) dengan Idul Fitri 1435 H (2014) saat Matahari terbenam dalam lingkup global, dibatasi di antara garis lintang 20 LU hingga 20 LS. T = hilaal teramati dengan binokular/teleskop dan mungkin dengan mata tanpa alat bantu optik, TT = hilaal mustahil diamati. Pada 2013, wilayah T hanya menyentuh Jawa bagian selatan namun faktanya rukyat pencitraan berhasil merekam hilaal dari Makassar. Dengan menggunakan linieritas tersebut, maka pada 2014 ini wilayah Jawa bagian selatan memiliki potensi lebih besar dalam merekam hilaal melalui rukyat pencitraan, meskipun terletak di luar wilayah T. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan bantuan software Accurate Hijri Calculator 2.2 dari Abdurro’uf.

Hasil hilaal Makassar 2013 menjadikan sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1434 H (2013) mengeluarkan yurisprudensi baru, yakni menerima hasil rukyat pencitraan (yakni rukyat hilaal yang berbasis teleskop, kamera dan pengolahan citra). Ini menjadikan Indonesia sebagai negara (berpenduduk mayoritas) Muslim pertama di dunia yang mengambil langkah tersebut. Kini, bagaimana dengan penentuan Idul Fitri 1435 H (2014)? Parameter posisi Bulan dan Matahari yang diperbandingkan dengan penentuan Idul Fitri setahun silam menunjukkan adanya kemiripan. Maka potensi terekamnya hilaal lewat rukyat pencitraan pun terbuka, dengan lokasi yang berpotensi terbaik terletak di sepanjang pantai selatan pulau Jawa. Tentu, keberhasilan ini akan terjadi bilamana cuaca cerah.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 8. Estimasi bentuk hilaal (goresan merah) dalam rukyat pencitraan, disimulasikan dari Pos Observasi Logending, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) pada Minggu senja 27 Juli 2014 saat Matahari terbenam. Goresan merah tersebut sejatinya merupakan bagian dari busur lingkaran, dengan panjang busur hanya 10 derajat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Referensi :

Sudibyo. 2013. Syawwal 1435 H (2014). Kertas Kerja dalam Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat 2013. Batam (Kepulauan Riau), Juni 2013.

Nurwendaya. 2013. Sidang Itsbat Awal Zulhijjah 1434 H. Bahan Sidang Itsbat Kementerian Agama RI 5 Oktober 2013 (29 Zulqaidah 1434 H).

BMKG. 2014. Informasi Hilal Saat Matahari Terbenam Ahad 27 Juli 2014 M Penentu Awal Bulan Syawwal 1435 H.

Tulisan bagian pertama.

Iklan

3 thoughts on “Idul Fitri 1435 H di Indonesia yang (Kemungkinan Besar) Bersamaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s