Kala Asteroid Sebesar Rumah Lewat di Atas Indonesia

Bagaimana perasaan anda jika mengetahui sebongkah batu besar, sebesar sebuah rumah kecil, melejit cepat laksana kilat dalam senyap di atas Indonesia dalam malam gelap gulita? Takjub? Terkaget-kaget? Atau malah menggigil ketakutan dan membayangkan bakal terjadi apa yang digambarkan Hollywood dalam film “Deep Impact” ?

Gambar 1. Asteroid 2014 UF56 (bintik redup di titik potong garis kuning horizontal dan vertikal), diabadikan pada 25 Oktober 2014 TU dengan teleskop reflektor 43 cm VirtualTelescope di Italia. Dua hari kemudian asteroid ini lewat dalam jarak yang cukup dekat dengan Bumi kita, dalam skala astronomi. Sumber: Gianluca Masi, 2014.

Gambar 1. Asteroid 2014 UF56 (bintik redup di titik potong garis kuning horizontal dan vertikal), diabadikan pada 25 Oktober 2014 TU dengan teleskop reflektor 43 cm VirtualTelescope di Italia. Dua hari kemudian asteroid ini lewat dalam jarak yang cukup dekat dengan Bumi kita, dalam skala astronomi. Sumber: Gianluca Masi, 2014.

Peristiwa tersebut benar-benar terjadi pada Senin 27 Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) lalu, tepatnya di malam hari waktu Indonesia. Bongkahan batu besar itu adalah sebuah asteroid tanpa-nama yang diberi kode 2014 UF56. Diameternya 14 meter, dengan massa diperkirakan antara 2.900 hingga 5.800 ton. Ia baru ditemukan dua hari sebelumnya, tepatnya Sabtu 25 Oktober 2014 TU, lewat teleskop reflektor 180 cm (f-ratio 2,7) di Observatorium Kitt Peak, Arizona (Amerika Serikat) selagi menyisir langit dalam program penyigian Spacewatch. Segera diketahui asteroid 2014 UF56 ini adalah bagian dari asteroid yang gemar berdekat-dekat ke Bumi dalam skala astronomi, tepatnya asteroid dekat Bumi (ADB) kelas Apollo. Orbitnya melonjong dan melambung di antara orbit Venus hingga kawasan sabuk asteroid. Tepatnya dengan perihelion 0,87 SA (satuan astronomi) atau 130 juta kilometer dari Matahari dan aphelion 3,38 SA atau 506 juta kilometer dari Matahari. Ia membutuhkan waktu hingga 3,1 tahun lamanya guna mengelilingi Matahari sekali putaran.

Konfigurasi orbitnya demikian rupa sehingga pada Selasa 28 Oktober 2014 TU dinihari, tepatnya pada pukul 04:22 WIB, sang asteroid akan menempati titik terdekatnya ke Bumi dengan jarak ‘hanya’ 158.000 kilometer. Maka pada saat itu asteroid 2014 UF56 adalah 2,3 kali lipat lebih dekat ketimbang Bulan kita. Kala menempati titik terdekatnya ke Bumi, saat itu asteroid 2014 UF56 berada di atas Samudera Pasifik lepas pantai Peru, Amerika Selatan. Antara 9 hingga 7 jam sebelumnya, tepatnya pada Senin 27 Oktober 2014 TU pukul 19:00 hingga 21:00 WIB, asteroid 2014 UF56 praktis melayang di atas Indonesia. Saat itu ia melejit pada ketinggian mulai 457.000 hingga 382.000 kilometer di atas paras laut Indonesia, atau masih lebih jauh ketimbang Bulan. Ia melintas mulai dari di atas pulau Halmahera, pulau Sulawesi bagian utara, pulau Kalimantan hingga akhirnya keluar dari Indonesia setelah lewat di atas pulau Sumatra. Asteroid ini praktis lewat tepat di atas kepala penduduk kota Gorontalo dan Pontianak. Sejam setelah meninggalkan kepulauan Nusantara, barulah bongkahan asteroid ini mulai menempuh lintasan yang menjadikannya lebih dekat ke Bumi dibanding Bulan dan bertahan hingga berjam-jam kemudian.

Gambar 2. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 di Indonesia pada 27 Oktober 2014 mulai pukul 19:00 WIB. Asteroid bergerak ke arah barat. Garis putus-putus menunjukkan proyeksi lintasan yang diestimasikan. Nampak asteroid melintas di atas pulau Halmahera, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 di Indonesia pada 27 Oktober 2014 mulai pukul 19:00 WIB. Asteroid bergerak ke arah barat. Garis putus-putus menunjukkan proyeksi lintasan yang diestimasikan. Nampak asteroid melintas di atas pulau Halmahera, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dimensi asteroid 2014 UF56 ini sekitar satu setengah kali lebih besar dibanding asteroid-tanpa-nama yang memasuki atmosfer Bumi dalam Peristiwa Bone (8 Oktober 2009 TU) di atas Sulawesi Selatan (Indonesia). Sebaliknya ukurannya pun satu setengah kali lebih kecil ketimbang asteroid-tanpa-nama lainnya yang juga menerobos atmosfer, kali ini dalam Peristiwa Chelyabinsk (13 Februari 2013 TU) di Siberia (Russia). Namun berbeda dengan keduanya, asteroid 2014 UF56 tidak memiliki potensi untuk jatuh ke Bumi setidaknya hingga 100 tahun mendatang. Ketiadaan potensi inilah yang membuat asteroid 2014 UF56 tak pernah tercantum dalam Sentry Risk Table NASA, sebuah tabel yang memeringkatkan seluruh asteroid-asteroid dekat Bumi yang sudah teramati berdasarkan peluang tumbukan, skala Palermo dan skala Torino-nya. Karena itu meski ia lewat pada jarak yang relatif cukup dekat ke Bumi kita, khususnya dalam skala astronomi, ia tidak mendatangkan petaka.

Apa yang akan terjadi jika asteroid 2014 UF56 mengalami nasib sebaliknya, yakni benar-benar jatuh ke Bumi?

Asteroid ini akan menjadi meteroroid dan selanjutnya menjadi meteor-terang (fireball) begitu menerobos masuk ke lapisan-lapisan udara Bumi kita. Namun ia takkan sampai ke daratan, kecuali hanya sebagian sangat kecil (kurang lebih 0,1 % massa awal). Selagi melesat cepat dalam atmosfer kita, ia akan memijar hingga pada puncaknya bakal seterang hingga dua kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama. Meteor-terang ini takkan sanggup menahan tekanan besar sajian atmosfer sehingga akan terfragmentasi (terpecah-belah) pada ketinggian antara 44 hingga 65 kilometer dpl (dari paras laut rata-rata). Selanjutnya pada ketinggian antara 22 hingga 30 kilometer dpl, mayoritas fragmen meteor-terang ini akan sangat terlambatkan hingga melepaskan hampir seluruh energi kinetiknya dalam peristiwa mirip ledakan di udara (airburst). Energi yang dilepaskan berkisar antara 91 hingga 182 kiloton TNT. Ini setara dengan 5 hingga 9 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak.

Gambar 3. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 dalam lingkup global semenjak 27 Oktober 2014 pukul 19:00 WIB hingga 13 jam kemudian. Asteroid bergerak ke arah barat melintasi Indonesia, Afrika bagian tengah dan Amerika Selatan. Tanda bintang (*) adalah proyeksi dimana asteroid 2014 UF56 mencapai titik terdekatnya ke Bumi kita, yakni 'hanya' sejauh 158.000 kilometer di atas paras Samudera Pasifik. Disimulasikan dengan Starry Night Backyar 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 dalam lingkup global semenjak 27 Oktober 2014 pukul 19:00 WIB hingga 13 jam kemudian. Asteroid bergerak ke arah barat melintasi Indonesia, Afrika bagian tengah dan Amerika Selatan. Tanda bintang (*) adalah proyeksi dimana asteroid 2014 UF56 mencapai titik terdekatnya ke Bumi kita, yakni ‘hanya’ sejauh 158.000 kilometer di atas paras Samudera Pasifik. Disimulasikan dengan Starry Night Backyar 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Apa dampaknya? Pelepasan energi setinggi 91 kiloton TNT pada ketinggian 30 kilometer dpl takkan berdampak ke daratan yang tepat berada dibawahnya. Namun pelepasan energi sebesar 182 kiloton TNT pada ketinggian yang lebih rendah, yakni 22 kilometer dpl, masih sanggup membuat kaca-kaca jendela pada bangunan di daratan yang tepat ada dibawahnya bergetar atau bahkan retak akibat hempasan gelombang kejutnya. Sekilas dampak ini mirip dengan apa yang terjadi dalam Peristiwa Bone. Jika mau dibandingkan lagi, dampaknya bakal jauh lebih ringan ketimbang Peristiwa Chelyabinsk yang melukai ribuan orang dan merusak ratusan bangunan dengan total kerugian puluhan milyar rupiah itu. Jadi, andaikata asteroid 2014 UF56 benar-benar jatuh ke Bumi, dampaknya relatif minimal.

Sukses deteksi asteroid 2014 UF56 merupakan bagian dari upaya umat manusia mengenali dan memitigasi potensi bencana dari langit dalam wujud tumbukan benda langit (komet dan asteroid). Kini lewat sistem-sistem penyigi langit, baik yang masih maupun yang pernah aktif, kita telah mampu memetakan sekurang-kurangnya 90 % populasi asteroid dekat Bumi yang diameternya melebihi 1.000 meter. Asteroid seukuran ini menjadi target untuk dipetakan karena potensi bahayanya yang mengerikan, dapat menyebabkan bencana dalam lingkup global di Bumi. Setelah asteroid besar ini relatif terpetakan, target selanjutnya adalah menyisir dan memetakan asteroid-asteroid yang lebih kecil. Yakni yang berukuran antara 140 meter hingga 1.000 meter. Sebab disadari asteroid yang berukuran menengah pun masih sanggup mendatangkan bencana dalam lingkup lokal hingga regional kala menubruk Bumi. Tantangannya cukup besar dan berat, mengingat jumlah asteroid berukuran menengah ini diestimasikan mencapai jutaan hingga puluhan juta butir. Dengan terpetakannya populasi asteroid besar maupun menengah, maka potensi bahaya dari mereka relatif dapat dideteksi secara lebih dini. Sehingga langkah-langkah mitigasi pun diharapkan dapat disusun dan dilaksanakan.

Referensi :

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Bintik Matahari Terbesar dalam Seperempat Abad Terakhir

Akbar. Gergasi. Gigantis. Jumbo. Raksasa. Mungkin kata-kata itu bisa mewakili situasi di rona Matahari saat ini. Betapa tidak? Wajah Matahari yang biasanya terlihat relatif mulus, meski sesungguhnya tak demikian, kini terlihat dikotori bercak hitam takberaturan yang demikian kentara. Bercak hitam ini menyeruak di wajah Matahari kita semenjak 17 Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Hari demi hari seiring rotasi Matahari, bercak hitam ini kian menampakkan wajahnya. Pada puncaknya, ia begitu meraksasa sehingga telah lebih besar ketimbang luas permukaan planet Jupiter, planet terbesar di seantero tata surya kita. Ia sekaligus membuat Bumi kita terasa kerdil karena 16 kali lebih luas ketimbang permukaan Bumi kita. Bahkan bercak hitam ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang hampir seperempat abad terakhir. Dan hingga saat ini (Senin 27 Oktober 2014 TU), bercak hitam ini masih dapat disaksikan.

Gambar 1. Cakram Matahari, diamati pada Sabtu 25 Oktober 2014 TU menggunakan teleskop refraktor 70 mm dengan teknik proyeksi dan diabadikan dengan Nikon D60 f-ratio 5,6 ISO 200 dengan waktu penyinaran 1/160 detik untuk kemudian diolah dengan software GIMP 2. Bintik Matahari raksasa nampak terlihat jelas, dilabeli sebagai 2192. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Cakram Matahari, diamati pada Sabtu 25 Oktober 2014 TU menggunakan teleskop refraktor 70 mm dengan teknik proyeksi dan diabadikan dengan Nikon D60 f-ratio 5,6 ISO 200 dengan waktu penyinaran 1/160 detik untuk kemudian diolah dengan software GIMP 2. Bintik Matahari raksasa nampak terlihat jelas, dilabeli sebagai 2192. Sumber: Sudibyo, 2014.

Demikian besar ukurannya sehingga bercak hitam ini bahkan bisa dilihat mata manusia dengan mudah tatkala menatap ke sang surya, atau tatkala tepat hendak terbenam/tepat baru saja terbit sehingga cahayanya tidak menyilaukan. Inilah bercak hitam yang secara resmi dinamakan sebagai bintik Matahari nomor AR (Active Region) 2192. Tak pelak kehadirannya membuat umat manusia di segenap penjuru dunia ramai-ramai menjatuhkan pandangannya ke arah sang mentari. Ada yang memilih menggunakan teleskop, terutama yang dilengkapi filter Matahari ataupun yang memanfaatkan teknik proyeksi citra. Ada juga yang memilih menatap langsung ke arah sang surya, tentu saja dengan menggunakan filter Matahari yang memadai sekaligus memerhatikan teknik pengamatan Matahari yang aman dan ramah bagi mata kita.

Bintik

Seperti halnya bintik Matahari (sunspot) lainnya, bintik Matahari nomor AR 2192 lahir sebagai imbas perbedaan kecepatan rotasi antar bagian permukaan Matahari. Layaknya benda langit lainnya, Matahari kita pun berputar secara teratur pada sumbunya. Namun karena Matahari hampir sepenuhnya tersusun oleh plasma (campuran ion-ion positif dan elektron-elektron bebas yang berperilaku mirip gas) yang tersekap dalam medan magnet teramat kuat, maka Matahari berputar pada sumbunya kecepatan bagian polar (kutub) lebih lambat ketimbang ekuator (khatulistiwa)-nya. Kawasan khatulistiwa Matahari hanya butuh waktu 25 hari untuk berotasi, sementara kawasan kutub harus bersabar hingga 34 hari lamanya untuk berotasi sekali putaran.

Gambar 2. Sebagian cakram Matahari lebih detil untuk memperlihatkan bintik Matahari AR 2192 lebih jelas. Nampak bintik terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian yang benar-benar gelap atau umbra dan bagian yang setengah gelap atau penumbra. Diamati pada Sabtu 25 Oktober 2014 TU menggunakan teleskop refraktor 70 mm dengan teknik proyeksi dan diabadikan dengan Nikon D60 f-ratio 5,6 ISO 200 dengan waktu penyinaran 1/160 detik untuk kemudian diolah dengan software GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Sebagian cakram Matahari lebih detil untuk memperlihatkan bintik Matahari AR 2192 lebih jelas. Nampak bintik terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian yang benar-benar gelap atau umbra dan bagian yang setengah gelap atau penumbra. Diamati pada Sabtu 25 Oktober 2014 TU menggunakan teleskop refraktor 70 mm dengan teknik proyeksi dan diabadikan dengan Nikon D60 f-ratio 5,6 ISO 200 dengan waktu penyinaran 1/160 detik untuk kemudian diolah dengan software GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2014.

Salah satu imbas dari perbedaan kecepatan rotasi Matahari adalah yang dirasakan garis-garis gaya magnet Matahari. Ia turut berotasi lebih cepat di khatulistiwa ketimbang di kutub. Konsekuensinya setelah beberapa kali putaran, garis-garis gaya magnet ini telah saling membelit, berpuntir dan berpilin demikian rupa hingga mirip kepang rambut. Di beberapa titik, pilinan ini demikian kuat hingga garis-garis gaya magnet Matahari setempat, yang seharusnya selalu terbenam di bawah permukaan sang surya, justru dipaksa menyembul ke atas permukaan membentuk lengkungan. Garis-garis gaya yang tersembul ini menciptakan gangguan aliran energi dari interior Matahari, sehingga kawasan itu pun menjadi lebih ‘dingin’ dengan suhu 1.500 hingga 3.000 derajat Celcius lebih rendah dibanding sekitarnya. Inilah yang membuatnya terlihat lebih gelap. Saat disaksikan dari Bumi, area gelap ini nampak mirip bercak/bintik dan dari sinilah nama bintik Matahari tersemat.

Gambar 3. Tahap-tahap terbentuknya bintik Matahari sebagai imbas dari perbedaan kecepatan rotasi bagian ekuator dan polar Matahari yang memilin dan memuntir garis-garis gaya magnet Matahari demikian rupa. Sumber: Nanyang University, 2014.

Gambar 3. Tahap-tahap terbentuknya bintik Matahari sebagai imbas dari perbedaan kecepatan rotasi bagian ekuator dan polar Matahari yang memilin dan memuntir garis-garis gaya magnet Matahari demikian rupa. Sumber: Nanyang University, 2014.

Jumlah bintik Matahari tiap satuan waktu tertentu merupakan petunjuk visual aktivitas Matahari. Saat jumlah bintik Matahari mencapai nilai terbesarnya, maka aktivitas Matahari mencapai maksimum sehingga dinamakan Matahari maksimum. Sebaliknya saat jumlah bintik Matahari menjangkau nilai terkecilnya, maka aktivitas Matahari mencapai minimum sehingga disebut Matahari minimum. Saat Matahari maksimum, intensitas sinar Matahari yang diterima Bumi kita sedikit lebih tinggi dibanding normalnya. Dan sebaliknya saat Matahari minimum, intensitas sinar Matahari yang kita terima pun sedikit lebih rendah. Karena itu aktivitas Matahari memiliki hubungan dengan dinamika iklim di Bumi. Oleh sebab yang belum jelas benar, aktivitas Matahari bersifat siklus dengan periode rata-rata 11 tahun. Dan setiap 22 tahun sekali, kutub-kutub magnetik Matahari kita mengalami pembalikan posisi demikian rupa. Sehingga yang semula adalah kutub utara geomagnetik akan berubah menjadi kutub selatan geomagnetik dan begitu pula sebaliknya.

Bintik Matahari raksasa seperti halnya AR 2192 ini tak muncul setiap hari. Umumnya dia muncul sekali saja dalam sebuah siklus aktivitas Matahari. Sehingga bintik Matahari jumbo ini rata-rata muncul sekali setiap dekade. Bintik Matahari terbesar sebelum 2014 ini terjadi pada 2003 silam sebagai bintik Matahari 486. Dalam catatan lembaga kelautan dan atmosfer Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) yang rutin mendata bintik-bintik Matahari selama beberapa dekade terakhir, bintik Matahari AR 2192 ini adalah yang terbesar yang pernah teramati dalam kurun 24 tahun terakhir, tepatnya semenjak November 1990. Namun ia memang masih kalah besar ketimbang superjumbo yang menghiasi wajah Matahari dan mencapai puncaknya pada 3 April 1947.

sunspot_tabel_perbandingan-luas

Badai

Di satu sisi bintik Matahari raksasa seperti halnya AR 2192 ini nampak mengagumkan. Kekaguman umat manusia terhadapnya sudah mengemuka semenjak 3.200 tahun silam. Tepatnya kala bangsa Cina pada era dinasti Shang dihebohkan oleh adanya sejenis ‘burung’ di Matahari. ‘Burung’ yang ternyata bintik Matahari raksasa itu demikian besarnya sehingga mudah dilihat mata khususnya saat Matahari baru saja terbit ataupun tepat hendak terbenam. Namun di sisi lain, bintik Matahari raksasa juga mengandung potensi bahaya yang sanggup mengganggu perikehidupan manusia. Gangguan tersebut berpusat tepat berada di jantung peradaban termutakhir: jaringan listrik dan sistem komunikasi kabel/nirkabel. Musababnya bintik Matahari merupakan ‘bendungan energi’ yang menghalangi pancaran energi dari internal Matahari. Saat pilinan garis-garis gaya magnetik Matahari di lokasi bintik Matahari mencapai puncaknya, garis-garis tersebut dapat ‘putus’ sehingga aliran energi pun membanjir sebagai peristiwa yang secara visual disebut solar flare (ledakan magnetik Matahari). Jika dorongan solar flare sangat kuat, bukan tak mungkin ia mampu membobol korona Matahari yang tepat berada diatasnya sebagai peristiwa pelepasan massa korona hingga menghamburkan jutaan ton proton dan elektron bebas ke angkasa pada kecepatan tinggi. Gabungan dari solar flare dan pelepasan massa korona inilah yang populer sebagai badai Matahari.

Gambar 4. Sekuens wajah Matahari saat Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 waktu Indonesia, yang hanya bisa disaksikan dari daratan Amerika bagian utara. Bintik Matahari AR 2192 nampak jelas di tengah-tengah cakram Matahari selama gerhana. Diabadikan dengan teleskop Matahari melalui Observatorium Griffith, Los Angeles (Amerika Serikat). Sumber: Griffith Observatory, 2014.

Gambar 4. Sekuens wajah Matahari saat Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 waktu Indonesia, yang hanya bisa disaksikan dari daratan Amerika bagian utara. Bintik Matahari AR 2192 nampak jelas di tengah-tengah cakram Matahari selama gerhana. Diabadikan dengan teleskop Matahari melalui Observatorium Griffith, Los Angeles (Amerika Serikat). Sumber: Griffith Observatory, 2014.

Pada dasarnya setiap bintik Matahari berpotensi melepaskan badai Matahari. Berdasarkan puncak intensitas sinar X yang dipancarkannya (pada rentang panjang gelombang 1 hingga 8 Angstrom), solar flare dibagi ke dalam empat kelas mulai dari kelas B sebagai yang terlemah hingga kelas X sebagai yang terkuat.

sunspot_tabel_klasifikasiJika solar flare terjadi tepat saat bintik Mataharinya menghadap ke Bumi, maka pancaran sinar X nya akan tiba di Bumi dalam 8 menit kemudian dan memproduksi ionisasi sangat intensif di lapisan ionosfer. AKibatnya komunikasi radio pada frekuensi tinggi akan sangat terganggu (blackout). Dan bila solar flare itu sanggup membobol bagian korona diatasnya hingga menciptakan badai Matahari yang mengarah tepat ke Bumi, maka partikel-partikel proton dan elektron berkecepatan tinggi itu akan tiba di Bumi dalam dua hingga tiga hari kemudian sebagai partikel radiasi. Medan magnet Bumi memang akan membelokkan partikel-partikel radiasi tersebut ke kutub-kutub geomagnet untuk dinetralkan. Namun dalam perjalanannya menyusuri garis-garis gaya magnet Bumi, partikel-partikel radiasi itu akan memproduksi medan magnet pengganggu hingga menghasilkan fenomena badai geomagnetik. Makin tinggi kelas solar flare-nya, maka makin besar badai Matahari yang bisa dibentuknya dan makin kuat pula badai geomagnetik yang bisa dipicunya di Bumi.

Jika intensitas medan magnet pengganggu dalam badai geomagnetik ini sangat besar, maka muncul efek lanjutan yang merusak. Saat garis-garis gaya medan magnet pengganggu ini menyentuh konduktor panjang seperti kabel listrik ataupun pipa, baik pipa air maupun minyak, akan timbul arus listrik penganggu dalam konduktor tersebut. Kuat arusnya sangat besar, bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan ampere. Arus listrik pengganggu sebesar ini sanggup merusak transformator-transformator daya dengan mudah. Ia juga membuat pipa menjadi bermuatan listrik untuk sementara sehingga menjadi jauh lebih mudah terkorosi. Bila sebuah satelit komunikasi aktif kebetulan melintas dalam medan magnet pengganggu ini, arus listrik pengganggu yang ditimbulkannya bisa menciptakan gangguan temporer hingga permanen. Inilah musababnya mengapai badai Matahari besar, khususnya yang dipicu oleh solar flare dengan kelas X10 atau lebih, menjadi momok bagi manusia modern karena potensi gangguannya pada jantung peradaban kita masakini.

Gambar 5. Saat-saat bintik Matahari AR 2192 melepaskan solar flare ketiganya (kelas X3) pada 25 Oktober 2014 TU waktu Indonesia. Solar flare terlihat mirip kobaran api raksasa yang sedang menyembul dari permukaan Matahari. Meski melepaskan solar flare besar, namun sejauh ini tidak diikuti dengan pelucutan massa korona sehingga tidak terjadi badai Matahari. Diabadikan oleh satelit pemantau Matahari SDO (Solar Dynamics Observatory). Sumber: NASA, 2014.

Gambar 5. Saat-saat bintik Matahari AR 2192 melepaskan solar flare ketiganya (kelas X3) pada 25 Oktober 2014 TU waktu Indonesia. Solar flare terlihat mirip kobaran api raksasa yang sedang menyembul dari permukaan Matahari. Meski melepaskan solar flare besar, namun sejauh ini tidak diikuti dengan pelucutan massa korona sehingga tidak terjadi badai Matahari. Diabadikan oleh satelit pemantau Matahari SDO (Solar Dynamics Observatory). Sumber: NASA, 2014.

Kita bisa melihat dampak merusak itu dari catatan sejarah. Bintik Matahari 486 melepaskan dua solar flare gigantis, masing-masing per 28 Oktober 2003 (kelas X17,2) dan 4 November 2003 (kelas X28+). Peristiwa 4 November 2003 bahkan masih memegang rekor sebagai solar flare terdahsyat yang pernah tercatat semenjak abad ke-20. Keduanya pun memicu badai Matahari besar. Beruntung bahwa badai Matahari akibat solar flare terbesar itu tidak mengarah ke Bumi kita. Meski demikian badai pertama telah memicu badai geomagnetik besar di Bumi yang melumpuhkan satelit pemantau Matahari sekaligus memadamkan aliran listrik di Swedia. Jauh hari sebelumnya, bintik Matahari raksasa yang besarnya 1,3 kali lipat bintik Matahari AR 2192 melepaskan solar flare dahsyat berkelas X15 pada 6 Maret 1989. Badai Matahari yang diproduksinya memicu badai geomagnetik pada 10 Maret 1989 yang demikian besarnya hingga menimbulkan banyak kekacauan.

Jaringan listrik Hydro Quebec di sebagian Canada lumpuh total setelah trafo 100 ton di Chibougamau, Albanel dan Nemiskau (untuk tegangan ekstratinggi 735 kilovolt) meledak dan terbakar. 6 juta warga Canada pun dipaksa melewatkan 9 jam berikutnya tanpa listrik sama sekali sembari menggigil kedinginan akibat suhu udara yang mendekati titik beku air. Sejumlah satelit mendadak jadi liar, misalnya satelit cuaca GOES–7, NOAA–9 dan NOAA–10 serta satelit komunikasi TDRS–1. Peristiwa ini juga memicu meledaknya pipa usang berkarat penyalur gas di Ural (Rusia) pada Juni 1989, yang menewaskan sedikitnya 500 orang.

Kerugian akibat badai Matahari 6 Maret 1989 itu sungguh luar biasa. Perusahaan Hydro Quebec kehilangan 10 juta dollar AS dan harus mengeluarkan 2 milyar dollar AS lagi untuk perbaikan jaringan agar lebih tahan badai Matahari. Pabrik baja Quebec Steel membuang percuma sejuta dollar AS saat baja panas yang sedang dicetaknya berubah jadi rongsokan tak berharga. Unit perakitan mobil General Motors kehilangan 6,4 juta dollar AS. Secara keseluruhan industri di Canada mengalami kerugian langsung hingga puluhan juta dollar AS akibat terhentinya produksi, rusaknya barang dan menganggurnya para pekerja.

Bagaimana dengan bintik Matahari nomor AR 2192 kali ini?

Seperti halnya bintik Matahari raksasa yang mendahuluinya, AR 2192 pun sungguh produktif. Hingga saat ini (27 Oktober 2014), ia telah melepaskan delapan solar flare menengah (kelas M) dan lima solar flare besar (kelas X). Kelima solar flare besar itu masing-masing adalah :

sunspot_tabel_flare-besar

Untungnya seluruh solar flare besar itu tak ada yang membobol bagian lapisan korona diatasnya. Sehingga tak terbentuk badai Matahari besar dan sebagai konsekuensinya badai geomagnetik besar pun urung terjadi. Konsekuensi yang diterima Bumi kita hanyalah gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi selama 1 hingga 2 jam pasca setiap solar flare kelas X. Meski demikian kita belum bisa mengambil nafas lega. Hingga 29/30 Oktober 2014 mendatang, badai Matahari ini masih tetap akan menghadap ke Bumi kita seiring rotasi Matahari. Sepanjang masa itu potensi terjadinya solar flare menengah dan besar masih cukup tinggi. Barulah selepas 30 Oktober 2014, rotasi Matahari akan membuat bintik Matahari AR 2192 ini menghilang dari pandangan kita, berpindah ke sisi jauh Matahari (hemisfer Matahari yang membelakangi Bumi kita).

Gambar 6. Perbandingan ukuran bintik Matahari superjumbo 3 April 1947 dengan bintik Matahari AR 2192 (2014). Dibanding AR 2192, bintik Matahari superjumbo 1947 adalah 2,3 kali lipat lebih besar. Sumber: Spaceweather.com, 2014.

Gambar 6. Perbandingan ukuran bintik Matahari superjumbo 3 April 1947 dengan bintik Matahari AR 2192 (2014). Dibanding AR 2192, bintik Matahari superjumbo 1947 adalah 2,3 kali lipat lebih besar. Sumber: Spaceweather.com, 2014.

Referensi :

SpaceweatherLive. 2014. Gentle Giant Sunspot region 2192.

Spaceweather. 2014. The Most Powerful Solar Flares Ever Recorded.

Spaceweather. 2001. History’s Biggest Sunspots.

Menembus Batas, Mengamati Komet Siding-Spring dari Indonesia

Peristiwa langka itu pun terjadilah. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) akhirnya lewat juga di titik terdekatnya ke planet Mars pada Senin dinihari 20 Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) waktu Indonesia. Observasi dari sekujur penjuru Bumi selama hari-hari menjelang peristiwa langka ini secara substansial telah menambahkan jumlah data posisi komet. Sehingga orbit komet dapat diperhitungkan dengan tingkat ketelitian jauh lebih baik. Sebagai implikasinya waktu saat sang komet tiba di titik terdekatnya ke planet merah pun sedikit mengalami revisi dari semula pukul 01:29 WIB menjadi 01:27 WIB atau dua menit lebih awal.

Gambar 1. Duet komet Siding-Spring dan planet Mars, diabadikan dari observatorium Imah Noong, Lembang, Kab. Bandung Barat (Jawa Barat) pada dua kesempatan berbeda menggunakan radas yang sama yakni teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo 80 mm (f-ratio 6) dan kamera Nikon D5100 pada ISO 400. Inilah satu-satunya citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang diabadikan dari Indonesia, di luar Observatorium Bosscha. Sumber: Imah Noong, 2014 diabadikan oleh Muflih Arisa Adnan & dilabeli oleh Muh. Ma'rufin Sudibyo.

Gambar 1. Duet komet Siding-Spring dan planet Mars, diabadikan dari observatorium Imah Noong, Lembang, Kab. Bandung Barat (Jawa Barat) pada dua kesempatan berbeda menggunakan radas yang sama yakni teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo 80 mm (f-ratio 6) dan kamera Nikon D5100 pada ISO 400. Inilah satu-satunya citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang diabadikan dari Indonesia, di luar Observatorium Bosscha. Sumber: Imah Noong, 2014 diabadikan oleh Muflih Arisa Adnan & dilabeli oleh Muh. Ma’rufin Sudibyo.

Peristiwa langit yang disebut-sebut sebagai peristiwa teramat langka yang belum tentu terulang kembali dalam ratusan atau bahkan ribuan tahun mendatang ini pun berlangsung relatif mulus. Sejumlah wahana antariksa aktif milik NASA (Amerika Serikat) di Mars, mulai dari si veteran Mars Odyssey dan Mars Reconaissance Orbiter hingga Mars Atmosphere and Volatile Environment (MAVEN) yang baru datang dilaporkan dalam keadaan sehat. Pun demikian wahana antariksa milik ESA (gabungan negara-negara Eropa) dan India, masing-masing Mars Express dan Manglayaan/Mars Orbiter Mission. Tak satupun dari kelimanya yang mengalami gangguan oleh semburan partikel-partikel debu berkecepatan sangat tinggi dari sang komet. Rupanya strategi penyelamatan yang telah diperbincangkan selama berbulan-bulan dan mencapai kulminasinya pada workshop Juni 2014 TU silam meraih suksesnya. Kala komet Siding-Spring melintasi titik terdekatnya ke planet Mars, seluruh wahana antariksa tersebut telah bermanuver demikian rupa menggunakan cadangan bahan bakar roketnya. Sehingga mereka semua berlindung di balik tubuh planet Mars tatkala memasuki saat-saat kritis.

Sembari bermanuver melindungi diri, mereka juga sempat mengamati komet Siding-Spring dari jarak dekat. Ini adalah kesempatan teramat langka yang setaraf nilainya dengan misi-misi antariksa terdahulu yang memang khusus ditujukan ke komet. Apalagi komet Siding-Spring merupakan komet yang diindikasikan berasal dari tepi tata surya, yakni dari awan komet Opik-Oort yang demikian besar dan dipenuhi oleh bayi-bayi komet yang siap melejit. Indikasi tersebut terlihat dari orbit komet ini yang begitu lonjong, dengan jarak rata-rata ke Matahari (setengah sumbu orbit) demikian besar hingga jauh melampaui benda langit anggota tata surya lainnya (kecuali komet) yang telah kita kenal. Karena orbitnya demikian rupa maka tak mengherankan bila periodenya amat sangat panjang. Komet Siding-Spring butuh waktu berjuta-juta tahun lamanya guna mengelilingi Matahari sekali putaran. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya melata di kegelapan tepian tata surya kita yang dingin membekukan. Karena itu peristiwa duet komet Siding-Spring dan planet Mars memberikan keberuntungan kosmik yang memungkinkan manusia menyelidiki sebuah komet dari awan komet Opik-Oort secara mendetail, untuk pertama kalinya. Seluruh misi antariksa ke komet terdahulu hanyalah ditujukan ke komet-komet yang berasal dari lingkungan lebih dekat ke kawasan planet-planet, yakni dari sabuk Kuiper-Edgeworth. Komet-komet dari sabuk yang mirip sabuk asteroid ini dikenal sebagai komet berperiode pendek dan berkecepatan jauh lebih rendah sehingga lebih mudah dijangkau.

Gambar 2. Komet Siding-Spring diamati dari jarak 138.000 kilometer oleh wahana Mars Reconaissance Orbiter. Setiap piksel citra ini mewakili 138 meter. Bagian terterang yang mengindikasikan inti komet dalam citra ini hanya mencakup area tiga piksel, menandakan bahwa inti komet Siding-Spring mungkin hanya berukuran 400 meter saja atau separuh lebih kecil dari yang semula diduga. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Komet Siding-Spring diamati dari jarak 138.000 kilometer oleh wahana Mars Reconaissance Orbiter. Setiap piksel citra ini mewakili 138 meter. Bagian terterang yang mengindikasikan inti komet dalam citra ini hanya mencakup area tiga piksel, menandakan bahwa inti komet Siding-Spring mungkin hanya berukuran 400 meter saja atau separuh lebih kecil dari yang semula diduga. Sumber: NASA, 2014.

Sejauh ini baru wahana Mars Reconaissance Orbiter yang sudah melaporkan hasil observasinya. Ia mengamati komet Siding-Spring pada jarak 138.000 kilometer dan menyajikan gambaran lebih utuh akan komet itu. Jika semula kita menduga ukuran inti komet siding-Spring sekitar 700 meter, maka kini lewat Mars Reconaissance Orbiter kita tahu ukurannya lebih kecil lagi, yakni berkisar 400 meter atau kurang. Komet yang cemerlang dengan inti komet relatif kecil menunjukkan bahwa komet Siding-Spring ternyata lebih aktif dibanding yang semula diduga. Sehingga menguatkan dugaan bahwa komet ini memang baru pertama kali berkunjung tata surya bagian dalam setelah dihentakkan keluar dari kungkungan awan komet Opik-Oort dalam berjuta tahun silam. Selain wahana Mars Reconaissance Orbiter, salah satu robot penjelajah aktif di Mars juga menyajikan hasil observasi yang positif akan komet itu. Adalah Opportunity (Mars Exploration Rover-B), robot penjelajah veteran yang telah lebih dari satu dekade ‘hidup’ di Mars, yang berhasil mengamati komet Siding-Spring tinggi di langit Mars. Ia mencitra lewat radas PanCam (Panoramic Camera), sepasang lensa kamera berdiameter 2,15 mm dengan f-ratio 20 yang sejatinya tidak dirancang untuk mengamati benda langit dari permukaan Mars. Di luar dugaan, ternyata ia mampu mengabadikan komet Siding-Spring dengan baik.

Gambar 3. Komet Siding-Spring diamati dari permukaan planet Mars oleh radas PanCam pada robot penjelajah Opportunity dengan waktu penyinaran 50 detik. Citra ini dibuat dalam 2,5 jam sebelum sang komet mencapai titik terdekatnya ke planet merah itu. Komet nampak cemerlang dibanding beberapa bintang terang yang ada dilatarbelakangnya. Inilah untuk pertama kalinya sebuah komet berhasil diamati dari permukaan planet lain. Sumber: NASA, 2014 dilabeli oleh Muh. Ma'rufin Sudibyo.

Gambar 3. Komet Siding-Spring diamati dari permukaan planet Mars oleh radas PanCam pada robot penjelajah Opportunity dengan waktu penyinaran 50 detik. Citra ini dibuat dalam 2,5 jam sebelum sang komet mencapai titik terdekatnya ke planet merah itu. Komet nampak cemerlang dibanding beberapa bintang terang yang ada dilatarbelakangnya. Inilah untuk pertama kalinya sebuah komet berhasil diamati dari permukaan planet lain. Sumber: NASA, 2014 dilabeli oleh Muh. Ma’rufin Sudibyo.

Selain dari wahana dan robot penjelajah di Mars, citra-citra duet komet Siding-Spring dan planet Mars dari berbagai observatorium atau titik pengamatan di sekujur penjuru Bumi pun membanjiri linimasa media sosial. Nah adakah yang berasal dari Indonesia?

Menembus Batas

Beberapa titik pengamatan di Indonesia telah menyiapkan diri dalam menyambut duet komet Siding-Spring dan planet Mars yang langka ini. Antara lain Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Barat (Jawa Barat), observatorium pribadi Imah Noong di Kampung wisata Areng (juga di Lembang) dan observatorium pribadi Jogja Astro Club di Yogyakarta (DIY).

Persiapan pengamatan duet komet Siding-Spring dan planet Mars di observatorium Imah Noong telah dikerjakan semenjak beberapa waktu sebelumnya oleh astronom amatir Muflih Arisa Adnan. Imah Noong adalah observatorium pribadi yang berlokasi di kediaman Hendro Setyanto, astronom yang pernah bertugas di Observatorium Bosscha. Ia terletak di kampung wisata Areng, desa Wangunsari, Lembang, Kab, Bandung Barat (Jawa Barat). Radas yang disiapkan untuk mengamati duet komet Siding-Spring dan planet Mars adalah teleskop refraktor Explore Scientific Triplet Apo dengan lensa obyektif berdiameter 80 mm (8 cm). Teleskop ini memiliki dudukan (mounting) GOTO sehingga dapat mengikuti gerak benda langit yang disasarnya secara otomatis seiring waktu, sepanjang benda langit tersebut ada dalam basisdatanya. Teleskop kemudian dirangkai dengan radas kamera Nikon D5100 dengan teknik fokus prima yang disetel pada ISO 400 dan waktu penyinaran 15 detik.

Sedangkan penulis bertugas membantu identifikasi sang komet. Radas yang digunakan adalah komputer jinjing (laptop) yang terkoneksi ke internet. Laman Astrometry menjadi salah satu rujukan untuk mengidentifikasi posisi benda langit yang menjadi target, pun demikian laman-laman institusi/pribadi yang sedari awal sudah memproklamirkan akan menggelar siaran langsung observasi duet komet Siding-Spring dan planet Mars.

Teleskop berlensa 80 mm secara teoritis tak memungkinkan untuk mengidentifikasi komet Siding-Spring. Saat mencapai titik terdekatnya ke Mars, konsorsium Coordinated Investigations of Comets (CIOC) memprediksi magnitudo semunya berkisar +11 hingga +12. Sebaliknya teleskop 80 mm, di atas kertas, hanya akan sanggup menyasar benda langit seredup +10,5 saja. Sehingga masih ada defisit minimal +0,5 magnitudo. Namun di sisi lain penggunaan kamera yang disetel untuk waktu penyinaran cukup lama, setidaknya dibandingkan selang waktu kedipan mata manusia pada umumnya, mungkin mampu mengatasi defisit tersebut. Apalagi sensor kamera digital masakini bersifat mengumpulkan cahaya, sehingga obyek yang semula redup bakal terkesan menjadi lebih terang. Sifat ini berbeda dengan syaraf-syaraf penglihatan manusia, yang tak bersifat mengumpulkan cahaya, sehingga benda langit redup pun akan tetap terlihat redup meski telah kita tatap selam berjam-jam. Maka dapat dikatakan upaya mengamati komet Siding-Spring dengan radas-radas tersebut merupakan percobaan untuk menembus batas.

Gambar 4. Proses identifikasi komet Siding-Spring dengan membandingkan citra hasil observasi Peter Lake (kiri) dan Imah Noong (kanan). Keduanya berselisih waktu 3 jam saat pemotretan. Label HD 159865 dan HD 159845 adalah untuk dua bintang yang tercantum dalam katalog bintang. Sementara label A, B, C, D, E dan F adalah versi penulis untuk bintang-bintang yang tak tercantum dalam katalog. Bila antara bintang HD 159865, HD 159845 dan B ditarik garis lurus khayali (digambarkan sebagai garis putus-putus), maka komet berada di sekitar pertengahan garis ini. Komet ditandai dengan panah merah. SUmber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Proses identifikasi komet Siding-Spring dengan membandingkan citra hasil observasi Peter Lake (kiri) dan Imah Noong (kanan). Keduanya berselisih waktu 3 jam saat pemotretan. Label HD 159865 dan HD 159845 adalah untuk dua bintang yang tercantum dalam katalog bintang. Sementara label A, B, C, D, E dan F adalah versi penulis untuk bintang-bintang yang tak tercantum dalam katalog. Bila antara bintang HD 159865, HD 159845 dan B ditarik garis lurus khayali (digambarkan sebagai garis putus-putus), maka komet berada di sekitar pertengahan garis ini. Komet ditandai dengan panah merah. SUmber: Sudibyo, 2014.

Percobaan pertama berlangsung pada Minggu 19 Oktober 2014 TU pukul 19:00 WIB, bertepatan dengan saat momen pra perlintasan-dekat komet Siding-Spring ke Mars. Seperti halnya langit bagian barat pulau Jawa pada umumnya, langit Lembang pun bertaburan awan yang berarak-arak. Namun masih tersisa celah-celah sempit diantaranya, sehingga Mars masih bisa dilihat meski hanya untuk selang waktu pendek. Pada salah satu momen teleskop berhasil menjejak Mars untuk waktu yang relatif lumayan sehingga kamera bisa merekam Mars dan lingkungannya dalam 8 frame secara berturut-turut, setara dengan waktu penyinaran (exposure time) 90 detik. Kedelapan citra yang didapat lantas digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking.

Awalnya cukup sulit untuk mengidentifikasi komet Siding-Spring di percobaan pertama ini. Namun beruntung terdapat hasil observasi di mancanegara yang membantu mempercepat identifikasi. Berselang 3 jam sebelum observasi percobaan pertama di Imah Noong, astronom amatir Peter Lake juga mengamati duet komet Siding-Spring dan planet Mars dengan mengambil lokasi di observatorium iTelescope.net (Q62) dalam kompleks Observatorium Siding Spring (Australia), tempat sang komet terlihat manusia untuk pertama kalinya secara resmi. Peter Lake bersenjatakan teleskop Planewave dengan cermin obyektif berdiameter 50 cm yang secara teoritis mampu menyasar benda langit hingga seredup magnitudo +14,5 sehingga cukup mudah mendeteksi komet Siding-Spring. Ia membagikan hasil observasinya lewat Google+ dalam sebuah siaran langsung. Setelah dibandingkan dengan citra Peter Lake, kejutan pun terkuak. Komet Siding-Spring ternyata terekam dalam citra percobaan pertama tersebut! Komet terlihat sangat redup, ada di sebelah kiri (selatan) dari Mars dan nyaris tak terbedakan dibanding bintang-bintang disekelilingnya. Baru setelah dicermati lebih lanjut terlihat bahwa titik cahaya komet Siding-Spring tidaklah setegas bintang-bintang pada umumnya dan terkesan berkabut.

Gambar 5. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan pertama, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 5. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan pertama, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Sukses dengan percobaan pertama, percobaan kedua pun digelar pada Senin 20 Oktober 2014 TU, juga pada pukul 19:00 WIB. Momen observasi kali ini merupakan momen pasca perlintasan-dekat komet Siding-Spring dengan planet Mars. Kali ini observatorium pribadi Imah Noong ‘ditemani’ Observatorium Bosscha, yang juga mengarahkan teleskop reflektor Schmidt Bimasakti (diameter cermin 71 cm), meski masing-masing tetap bekerja sendiri-sendiri. Kali ini juga langit Lembang jauh lebih baik ketimbang sehari sebelumnya. Teleskop pun menjejak dan merekam Mars beserta lingkungannya dalam 9 frame berturut-turut, yang setara dengan waktu penyinaran 105 detik. Sama seperti sehari sebelumnya, kesembilan citra ini pun langsung digabungkan menjadi satu lewat teknik stacking.

Gambar 6. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan kedua, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 6. Komet Siding-Spring dan planet Mars sebagai hasil observasi percobaan kedua, disajikan dalam warna nyata. Sumber: Imah Noong, 2014.

Langit yang jauh lebih bagus kali ini membuat kualitas citra hasil percobaan kedua pun lebih baik ketimbang sebelumnya. Bintang-gemintang yang padat sebagai bagian dari selempang Bima Sakti pun terlihat jelas di latar belakang. Komet pun jauh lebih mudah diidentifikasi. Komet Siding-Spring teramati berada di sebelah kanan (utara) dari planet Mars. Sama seperti sebelumnya, komet juga tetap terlihat sebagai titik cahaya taktegas yang terkesan berkabut. Namun kali ini ekor komet bisa diidentifikasi. Pun demikian dengan warna kehijauan yang menyelubungi komet. Cahaya kehijauan ini diemisikan oleh senyawa karbon diatom (C2) dan sianogen (CN) yang berada dalam atmosfer temporer (coma) sang komet.

Gambar 7. Dua wajah berbeda komet Siding-Spring kala diabadikan dari observatorium Imah Noong saat langit kurang mendukung (kiri) dan saat relatif lebih mendukung (kanan). Kala langit lebih mendukung, komet nampak jelas berwarna kehijauan, sebagai hasil emisi senyawa-senyawa karbon diatom dan sianogen. KOmet juga mudah dibedakan dari bintang dilatarbelakangnya (misalnya HD 159746). Bintang terlihats ebagai titik cahaya tegas, sementara komet lebih samar dan seakan berkabut. Sumber: Imah Noong, 2014.

Gambar 7. Dua wajah berbeda komet Siding-Spring kala diabadikan dari observatorium Imah Noong saat langit kurang mendukung (kiri) dan saat relatif lebih mendukung (kanan). Kala langit lebih mendukung, komet nampak jelas berwarna kehijauan, sebagai hasil emisi senyawa-senyawa karbon diatom dan sianogen. Komet juga mudah dibedakan dari bintang dilatarbelakangnya (misalnya HD 159746). Bintang terlihats ebagai titik cahaya tegas, sementara komet lebih samar dan seakan berkabut. Sumber: Imah Noong, 2014.

Selain turut berpartisipasi dalam pengamatan duet komet Siding-Spring dan planet Mars, yang hasilnya pun telah dipublikasikan di laman konsorsium Coordinated Investigations of Comets dan mendapat sambutan cukup baik, pengamatan ini juga menunjukkan suksesnya upaya menembus batas. Dengan menggunakan radas yang lebih sederhana, yang secara teoritis takkan sanggup mendeteksi komet Siding-Spring saat itu, ternyata sang komet bisa diamati.