Kala Asteroid Sebesar Rumah Lewat di Atas Indonesia

Bagaimana perasaan anda jika mengetahui sebongkah batu besar, sebesar sebuah rumah kecil, melejit cepat laksana kilat dalam senyap di atas Indonesia dalam malam gelap gulita? Takjub? Terkaget-kaget? Atau malah menggigil ketakutan dan membayangkan bakal terjadi apa yang digambarkan Hollywood dalam film “Deep Impact” ?

Gambar 1. Asteroid 2014 UF56 (bintik redup di titik potong garis kuning horizontal dan vertikal), diabadikan pada 25 Oktober 2014 TU dengan teleskop reflektor 43 cm VirtualTelescope di Italia. Dua hari kemudian asteroid ini lewat dalam jarak yang cukup dekat dengan Bumi kita, dalam skala astronomi. Sumber: Gianluca Masi, 2014.

Gambar 1. Asteroid 2014 UF56 (bintik redup di titik potong garis kuning horizontal dan vertikal), diabadikan pada 25 Oktober 2014 TU dengan teleskop reflektor 43 cm VirtualTelescope di Italia. Dua hari kemudian asteroid ini lewat dalam jarak yang cukup dekat dengan Bumi kita, dalam skala astronomi. Sumber: Gianluca Masi, 2014.

Peristiwa tersebut benar-benar terjadi pada Senin 27 Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) lalu, tepatnya di malam hari waktu Indonesia. Bongkahan batu besar itu adalah sebuah asteroid tanpa-nama yang diberi kode 2014 UF56. Diameternya 14 meter, dengan massa diperkirakan antara 2.900 hingga 5.800 ton. Ia baru ditemukan dua hari sebelumnya, tepatnya Sabtu 25 Oktober 2014 TU, lewat teleskop reflektor 180 cm (f-ratio 2,7) di Observatorium Kitt Peak, Arizona (Amerika Serikat) selagi menyisir langit dalam program penyigian Spacewatch. Segera diketahui asteroid 2014 UF56 ini adalah bagian dari asteroid yang gemar berdekat-dekat ke Bumi dalam skala astronomi, tepatnya asteroid dekat Bumi (ADB) kelas Apollo. Orbitnya melonjong dan melambung di antara orbit Venus hingga kawasan sabuk asteroid. Tepatnya dengan perihelion 0,87 SA (satuan astronomi) atau 130 juta kilometer dari Matahari dan aphelion 3,38 SA atau 506 juta kilometer dari Matahari. Ia membutuhkan waktu hingga 3,1 tahun lamanya guna mengelilingi Matahari sekali putaran.

Konfigurasi orbitnya demikian rupa sehingga pada Selasa 28 Oktober 2014 TU dinihari, tepatnya pada pukul 04:22 WIB, sang asteroid akan menempati titik terdekatnya ke Bumi dengan jarak ‘hanya’ 158.000 kilometer. Maka pada saat itu asteroid 2014 UF56 adalah 2,3 kali lipat lebih dekat ketimbang Bulan kita. Kala menempati titik terdekatnya ke Bumi, saat itu asteroid 2014 UF56 berada di atas Samudera Pasifik lepas pantai Peru, Amerika Selatan. Antara 9 hingga 7 jam sebelumnya, tepatnya pada Senin 27 Oktober 2014 TU pukul 19:00 hingga 21:00 WIB, asteroid 2014 UF56 praktis melayang di atas Indonesia. Saat itu ia melejit pada ketinggian mulai 457.000 hingga 382.000 kilometer di atas paras laut Indonesia, atau masih lebih jauh ketimbang Bulan. Ia melintas mulai dari di atas pulau Halmahera, pulau Sulawesi bagian utara, pulau Kalimantan hingga akhirnya keluar dari Indonesia setelah lewat di atas pulau Sumatra. Asteroid ini praktis lewat tepat di atas kepala penduduk kota Gorontalo dan Pontianak. Sejam setelah meninggalkan kepulauan Nusantara, barulah bongkahan asteroid ini mulai menempuh lintasan yang menjadikannya lebih dekat ke Bumi dibanding Bulan dan bertahan hingga berjam-jam kemudian.

Gambar 2. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 di Indonesia pada 27 Oktober 2014 mulai pukul 19:00 WIB. Asteroid bergerak ke arah barat. Garis putus-putus menunjukkan proyeksi lintasan yang diestimasikan. Nampak asteroid melintas di atas pulau Halmahera, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 di Indonesia pada 27 Oktober 2014 mulai pukul 19:00 WIB. Asteroid bergerak ke arah barat. Garis putus-putus menunjukkan proyeksi lintasan yang diestimasikan. Nampak asteroid melintas di atas pulau Halmahera, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dimensi asteroid 2014 UF56 ini sekitar satu setengah kali lebih besar dibanding asteroid-tanpa-nama yang memasuki atmosfer Bumi dalam Peristiwa Bone (8 Oktober 2009 TU) di atas Sulawesi Selatan (Indonesia). Sebaliknya ukurannya pun satu setengah kali lebih kecil ketimbang asteroid-tanpa-nama lainnya yang juga menerobos atmosfer, kali ini dalam Peristiwa Chelyabinsk (13 Februari 2013 TU) di Siberia (Russia). Namun berbeda dengan keduanya, asteroid 2014 UF56 tidak memiliki potensi untuk jatuh ke Bumi setidaknya hingga 100 tahun mendatang. Ketiadaan potensi inilah yang membuat asteroid 2014 UF56 tak pernah tercantum dalam Sentry Risk Table NASA, sebuah tabel yang memeringkatkan seluruh asteroid-asteroid dekat Bumi yang sudah teramati berdasarkan peluang tumbukan, skala Palermo dan skala Torino-nya. Karena itu meski ia lewat pada jarak yang relatif cukup dekat ke Bumi kita, khususnya dalam skala astronomi, ia tidak mendatangkan petaka.

Apa yang akan terjadi jika asteroid 2014 UF56 mengalami nasib sebaliknya, yakni benar-benar jatuh ke Bumi?

Asteroid ini akan menjadi meteroroid dan selanjutnya menjadi meteor-terang (fireball) begitu menerobos masuk ke lapisan-lapisan udara Bumi kita. Namun ia takkan sampai ke daratan, kecuali hanya sebagian sangat kecil (kurang lebih 0,1 % massa awal). Selagi melesat cepat dalam atmosfer kita, ia akan memijar hingga pada puncaknya bakal seterang hingga dua kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama. Meteor-terang ini takkan sanggup menahan tekanan besar sajian atmosfer sehingga akan terfragmentasi (terpecah-belah) pada ketinggian antara 44 hingga 65 kilometer dpl (dari paras laut rata-rata). Selanjutnya pada ketinggian antara 22 hingga 30 kilometer dpl, mayoritas fragmen meteor-terang ini akan sangat terlambatkan hingga melepaskan hampir seluruh energi kinetiknya dalam peristiwa mirip ledakan di udara (airburst). Energi yang dilepaskan berkisar antara 91 hingga 182 kiloton TNT. Ini setara dengan 5 hingga 9 butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan serempak.

Gambar 3. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 dalam lingkup global semenjak 27 Oktober 2014 pukul 19:00 WIB hingga 13 jam kemudian. Asteroid bergerak ke arah barat melintasi Indonesia, Afrika bagian tengah dan Amerika Selatan. Tanda bintang (*) adalah proyeksi dimana asteroid 2014 UF56 mencapai titik terdekatnya ke Bumi kita, yakni 'hanya' sejauh 158.000 kilometer di atas paras Samudera Pasifik. Disimulasikan dengan Starry Night Backyar 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta proyeksi lintasan asteroid 2014 UF56 dalam lingkup global semenjak 27 Oktober 2014 pukul 19:00 WIB hingga 13 jam kemudian. Asteroid bergerak ke arah barat melintasi Indonesia, Afrika bagian tengah dan Amerika Selatan. Tanda bintang (*) adalah proyeksi dimana asteroid 2014 UF56 mencapai titik terdekatnya ke Bumi kita, yakni ‘hanya’ sejauh 158.000 kilometer di atas paras Samudera Pasifik. Disimulasikan dengan Starry Night Backyar 3.0 berdasarkan data dari NASA Solar System Dynamics. Sumber: Sudibyo, 2014.

Apa dampaknya? Pelepasan energi setinggi 91 kiloton TNT pada ketinggian 30 kilometer dpl takkan berdampak ke daratan yang tepat berada dibawahnya. Namun pelepasan energi sebesar 182 kiloton TNT pada ketinggian yang lebih rendah, yakni 22 kilometer dpl, masih sanggup membuat kaca-kaca jendela pada bangunan di daratan yang tepat ada dibawahnya bergetar atau bahkan retak akibat hempasan gelombang kejutnya. Sekilas dampak ini mirip dengan apa yang terjadi dalam Peristiwa Bone. Jika mau dibandingkan lagi, dampaknya bakal jauh lebih ringan ketimbang Peristiwa Chelyabinsk yang melukai ribuan orang dan merusak ratusan bangunan dengan total kerugian puluhan milyar rupiah itu. Jadi, andaikata asteroid 2014 UF56 benar-benar jatuh ke Bumi, dampaknya relatif minimal.

Sukses deteksi asteroid 2014 UF56 merupakan bagian dari upaya umat manusia mengenali dan memitigasi potensi bencana dari langit dalam wujud tumbukan benda langit (komet dan asteroid). Kini lewat sistem-sistem penyigi langit, baik yang masih maupun yang pernah aktif, kita telah mampu memetakan sekurang-kurangnya 90 % populasi asteroid dekat Bumi yang diameternya melebihi 1.000 meter. Asteroid seukuran ini menjadi target untuk dipetakan karena potensi bahayanya yang mengerikan, dapat menyebabkan bencana dalam lingkup global di Bumi. Setelah asteroid besar ini relatif terpetakan, target selanjutnya adalah menyisir dan memetakan asteroid-asteroid yang lebih kecil. Yakni yang berukuran antara 140 meter hingga 1.000 meter. Sebab disadari asteroid yang berukuran menengah pun masih sanggup mendatangkan bencana dalam lingkup lokal hingga regional kala menubruk Bumi. Tantangannya cukup besar dan berat, mengingat jumlah asteroid berukuran menengah ini diestimasikan mencapai jutaan hingga puluhan juta butir. Dengan terpetakannya populasi asteroid besar maupun menengah, maka potensi bahaya dari mereka relatif dapat dideteksi secara lebih dini. Sehingga langkah-langkah mitigasi pun diharapkan dapat disusun dan dilaksanakan.

Referensi :

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s