Menuju Gerhana Bulan Total Rabu 8 Oktober 2014

Seperti telah diduga Umat Islam di Indonesia pun mengumandangkan takbir merayakan Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda setelah Menteri Agama Lukman Saifuddin menetapkan 1 Zulhijjah 1435 H di Indonesia bertepatan dengan Jumat 26 September 2014. Keputusan ini berdasar pada hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H di Kementerian Agama RI yang kali ini kembali bersifat tertutup untuk umum. Dengan keputusan tersebut maka Kementerian Agama RI menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Dalam konteks regional, keputusan Menteri Agama RI senada dengan keputusan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam maupun komunitas Umat Islam seperti di Singapura dan Filipina.

Namun sebagian Umat Islam Indonesia merayakannya lebih dulu pada Sabtu 4 Oktober 2014. Dasarnya adalah maklumat Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait penetapan Idul Adha 1435 H (2014). Selain itu ada pula yang mengacu keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia dimana 1 Zulhijjah 1435 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Kamis 25 September 2014, atau sehari lebih awal ketimbang keputusan Menteri Agama RI. Dan ada pula yang berpatokan pada hasil rukyatul hilaal Cakung (DKI Jakarta) sebagai kalangan pengguna sistem hisab Sullam yang dikenal bersifat taqriby (aproksimasi) sehingga akurasinya lebih rendah. Mengulangi yang sudah-sudah, pada Rabu 24 September 2014 maghrib tim Cakung melaporkan “melihat” hilaal. “Melihat” di sini dalam tanda kutip, mengingat kesaksian tersebut (dan juga kesaksian-kesaksian Cakung sebelumnya) telah lama cukup diragukan seiring tiadanya landasan ilmiah yang menopangnya, bahkan saat dilakukan observasi pembanding di lokasi yang hampir sama dengan alat bantu standar observasi hilaal.

Meski terasa tak mengenakkan, perbedaan semacam ini sejatinya bukanlah yang pertama. Empat tahun silam. Idul Adha 1431 H (2010) pun dirayakan di Indonesia dengan berbeda. Saat itu pun keputusan Menteri Agama RI juga berbeda dengan keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia. Namun waktu itu tak banyak yang meributkan. Apalagi membanding-bandingkan mana yang lebih dominan antara yang ber-Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014 dengan Minggu 5 Oktober 2014. Pembanding-bandingan itu ahistoris jika dikaitkan dengan fakta saat Ramadhan 1435 H (2014) lalu, dan juga Ramadhan 1434 H (2013). Saat itu baik Menteri Agama RI maupun pemerintah kerajaan Saudi Arabia menetapkan awal puasa Ramadhan pada hari yang sama. Dan pada kedua saat itu pun di Indonesia terdapat kalangan Umat Islam yang memulai berpuasa Ramadhan sehari lebih awal. Namun dalam kedua saat itu pun tak ada ribut-ribut.

Gambar 1. Wajah Bulan yang 'hilang' separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Gambar 1. Wajah Bulan yang ‘hilang’ separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.

Justru yang harus menjadi perhatian adalah apa yang terjadi setelah hari raya Idul Adha 1435 H. Setelah tiga hari menjalani hari tasyrik (hari Mina), dimana gema takbir senantiasa dikumandangkan pada hari-hari tersebut, kita akan bersua dengan satu peristiwa langit yang juga (dianjurkan) dirayakan kehadirannya dengan gema takbir. Inilah peristiwa Gerhana Bulan 8 Oktober 2014.

Gerhana

Gerhana Bulan 8 Oktober 2014 merupakan Gerhana Bulan Total (GBT), dimana Bulan tak terkena sinar Matahari secara langsung pada saat puncak gerhananya. Perhitungan dengan algoritma gerhana Jean Meeus memperlihatkan gerhana ini akan dimulai pada Rabu 8 Oktober 2014 pukul 15:16 WIB saat terjadi kontak awal penumbra (P1) yang memandakan awal fase penumbra. Selanjutnya disusul kontak awal umbra (U1) pada pukul 16:15 WIB sebagai awal fase parsial (sebagian). Totalitas gerhana dimulai pada pukul 17:26 WIB sebagai kontak awal totalitas (U2) dan mencapai puncaknya pada pukul 17:55 WIB. Pada saat puncak, magnitudo gerhana adalah 1,152 yang bermakna bahwa diameter sudut lingkaran umbra (bayangan inti) gerhana adalah 1,152 kali lipat lebih besar ketimbang diameter sudut Bulan. Dengan diameter lingkaran umbra gerhana sebesar itu dan lintasan Bulan pada saat itu, maka totalitas gerhana yakni durasi tatkala Bulan benar-benar tak terpapar sinar Matahari secara langsung terjadi selama 58 menit. Totalitas berakhir dengan kontak akhir totalitas (U3) pada pukul 18:24 WIB. Setelah itu Bulan kembali memasuki gerhana dalam fase parsial (sebagian) hingga pukul 19:34 WIB saat terjadi kontak akhir umbra (U4). Selepas itu Bulan tinggal menyusuri lingkaran penumbra (bayangan tambahan) gerhana sebagai fase penumbra hingga saat terjadi kontak akhir penumbra (P4) pada pukul 20:33 WIB.

Jika dihitung dari saat kontak awal penumbra (P1) hingga kontak akhir penumbra (P4), maka durasi Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah sebesar 5 jam 17 menit. Namun gerhana yang kasatmata hanya berdurasi 3 jam 19 menit, yakni semenjak awal kontak umbra (U1) hingga akhir kontak umbra (U4). Sepanjang 3 jam 19 menit itu kita akan menyaksikan Bulan mengalami fase parsial (sebagian) dan disusul totalitas dalam menjalani gerhananya. Bila durasi keseluruhan gerhana dikurangi durasi gerhana yang kasatmata, maka akan kita peroleh sisanya sebesar 1 jam 58 menit. Inilah durasi dimana Bulan berada dalam fase penumbra dalam menjalani gerhananya kali ini. Dalam fase penumnbra, secara kasat mata kita hanya akan melihatnya sebagai Bulan yang nyaris bundar utuh sebagai ciri khas Hanya dengan menggunakan alat bantu optik yang memadai (misalnya teleskop dilengkapi kamera tertentu) sajalah gerhana dalam fase penumbra bisa kita saksikan.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 secara global. Sumber: Sudibyo, 2014.

Dalam lingkup global, Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 dapat disaksikan di Australia, sebagian besar Asia serta hampir seluruh Amerika. Hanya Eropa dan Afrika serta Asia barat (timur Tengah) saja yang tak berkesempatan menikmati gerhana ini. Namun wilayah yang dapat menyaksikan gerhana ini secara penuh dalam setiap fasenya tanpa terganggu aktivitas terbit ataupun terbenamnya Bulan hanyalah Amerika Serikat bagian barat, Canada bagian barat, Australia bagian timur, Rusia bagian timur, separuh Jepang dan Papua Nugini.

Shalat Gerhana dan Observasi

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 untuk Indonesia. Garis U1 adalah garis dimana kontak awal umbra bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis U2 adalah garis saat awal totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat, garis puncak adalah garis saat kontak puncak gerhana bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat dan garis U3 adalah garis saat akhir totalitas bertepatan dengan saat Bulan terbit setempat. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seluruh Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan Total ini, meski berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Indonesia bagian timur khususnya propinsi Papua, Irian Jaya Barat, Maluku dan Maluku Utara mampu menyaksikan gerhana semenjak fase penumbra (tidak utuh) hingga usai begitu Matahari terbenam karena lokasinya berada di sisi barat garis P1. Sisanya menyaksikan gerhana hanya setelah memasuki fase parsial ataupun totalitas. Bulan terbit sebagai gerhana fase parsial dapat dinikmati di tempat-tempat yang berada di sebelah barat garis U1, meliputi pulau Sulawesi, seluruh kepulauan Nusa Tenggara dan sebagian besar pulau Kalimantan (kecuali Kalimantan Barat) serta Jawa bagian timur. Sementara Bulan terbit sebagai gerhana dalam fase totalitas dapat dilihat di hampir segenap pulau Jawa (kecuali Jawa Timur), propinsi Kalimantan Barat, propinsi Lampung dan Sumatra Selatan karena tempat-tempat ini berada di sebelah barat garis U2. Sementara sebagian besar pulau Sumatra mengalami situasi dimana Bulan terbit tepat setelah puncak gerhana (berada di sebelah barat garis puncak). Bahkan di kota Banda Aceh, garis U3 tepat melintasi kota ini sehingga di sini terjadi situasi dimana Bulan terbit bertepatan dengan berakhirnya gerhana fase totalitas. Sehingga Banda Aceh hanya menikmati gerhana fase sebagian sampai usai.

Seluruh Indonesia berada dalam kawasan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini Dan seluruhnya mampu menikmati gerhana secara kasat mata, baik fase parsial maupun totalitas. Sehingga Umat Islam di seluruh Indonesia berkesempatan menunaikan ibadah shalat gerhana bulan, tanpa terkecuali. Dan sebelum menunaikan shalat gerhana, dianjurkan untuk mengumandangkan gema takbir. Di samping itu alangkah baiknya jika turut mengamati gerhana ini, sebagai bagian dari mengagumi kebesaran Illahi dan memahami bagaimana semesta bekerja. Fase gerhana yang kasatmata berakhir pada pukul 19:34 WIB, sehingga kesempatan untuk menunaikan shalat gerhana bulan pun berakhir pada pukul 19:34 WIB, Untuk itu perlu disusun strategi kapan mengamati gerhana dan kapan melaksanakan shalat gerhana bulan. Fase totalitas adalah tahap gerhana yang paling mengesankan, maka dianjurkan meletakkan waktu observasi bersamaan dengan fase totalitas ini. Dengan demikian untuk pulau-pulau Irian, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra bagian barat dan pulau-pulau kecil disekitarnya serta kepulauan Nusa Tenggara, shalat gerhana bulan dapat dilaksanakan segera selepas usai shalat maghrib berjamaah di masjid. Sebaliknya untuk pulau Jawa dan pulau Sumatra bagian timur, shalat gerhana dapat dilaksanakan tepat setelah shalat isya berjamaah.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Posisi Bulan semenjak terbit hingga ke fase gerhana selanjutnya seperti disimulasikan untuk Kebumen (Jawa Tengah). Angka-angka di sumbu mendatar (kaki langit timur) menunjukkan azimuth, dimana azimuth 45 = titik timur laut dan azimuth 90 = titik timur. Sumber: Sudibyo, 2014.

Seiring sebagian Indonesia masih berada dalam situasi musim kemarau dengan langit malam relatif cerah, maka Gerhana Bulan Total ini relatif bisa diamati dengan mudah dimana saja, termasuk di lingkungan perkotaan sekalipun. Namun ada teknik tersendiri untuk mengabadikan peristiwa langit ini. Prinsip dasarnya, Gerhana Bulan menyebabkan adanya perubahan pencahayaan Bulan dari yang semula cukup benderang (sebagai purnama) menjadi jauh lebih redup ketimbang Bulan sabit (pada puncak gerhana). Perubahan pencahayaan ini memerlukan pengaturan khusus. Jika anda menggunakan kamera jenis DSLR (digital single lens reflex), maka atur kamera ke kondisi manual dan fokus lensa juga ke posisi manual. Pilih panjang fokus tertentu saja. Juga pilih f-ratio pada satu nilai tertentu dan demikian pula ISO-nya. Lalu arahkan ke Bulan dan atur waktu penyinarannya (exposure time) mengikut fase gerhana seperti diperlihatkan tabel di bawah ini:

gbt081014_fotografi_dslr

Salah satu kelebihan kamera DSLR adalah dapat dihubungkan ke teleskop dengan penambahan adapter dan t-ring yang tepat sehingga menghasilkan teknik fotografi fokus prima. Namun bila disambungkan dengan teleskop, maka nilai f-ratio dan panjang fokusnya menjadi tetap seperti apa yang dimiliki oleh teleskop tersebut tanpa bisa diubah-ubah. Jika kamera DSLR ini disambungkan ke teleskop menghasilkan teknik fokus prima, maka nilai waktu penyinarannya (exposure time) bergantung pada ISO yang dipilih. Misalkan teleskop yang digunakan adalah teleskop pembias 70 mm dengan panjang fokus 900 mm, maka nilai ISO dan waktu penyinarannya mengikuti fase gerhana diperlihatkan tabel berikut :

gbt081014_fotografi_teleskop

Bagaimana jika anda tak memiliki kamera DSLR dan juga tak mempunyai teleskop? Jangan khawatir, Gerhana Bulan Total ini tetap dapat diabadikan meski dengan kamera digital sederhana atau bahkan kamera ponsel/ponsel pintar sekalipun. Kuncinya adalah mengeset kamera dengan nilai ISO yang besar (bila memungkinkan). Juga mengatur nilai EV ke yang terbesar (bila memungkinkan). Jika pilihan-pilihan tersebut tak tersedia, masih terbuka jalan untuk mengabadikannya dengan mengeset pencahayaan kamera lewat daylight atau sejenisnya saat fase penumbra dan fase parsial serta mengeset ke night atau sejenisnya saat fase totalitas gerhana.

Bulan Merah Darah dan Bonus Uranus

Satu hal yang akan diuji dalam Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini adalah kualitas udara global. Jika udara relatif bersih (maksudnya bebas dari partikulat dan aerosol pengotor hingga kadar tertentu), maka tatkala Gerhana Bulan Total terjadi sinar Matahari yang sempat menerobos atmosfer Bumi (bersinggungan dengan tepi cakram Bumi) akan dibiaskan demikian rupa. Sehingga saat berkas cahaya (khususnya cahaya dengan komponen kemerah-merahan) ini keluar dari atmosfer, lintasannya telah berbelok demikian rupa sehingga akan jatuh ke permukaan Bulan. Maka Bulan akan terlihat berwana kemerah-merahan yang redup mirip warna darah bahkan tatkala puncak gerhana sekalipun. Lain persoalannya jika udara Bumi dalam keadaan relatif kotor, membuat cahaya yang masuk ke atmosfer mengalami penyerapan dan hamburan demikian rupa oleh partikulat dan aerosol pengotor. Akibatnya jumlah cahaya terbiaskan yang jatuh ke permukaan Bulan sangat sedikit sehingga Bulan bakal terlihat betul-betul gelap di saat puncak gerhana. Pengotoran atmosfer Bumi dalam jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah tampilan Bulan saat puncak gerhana bisa diakibatkan oleh letusan dahsyat gunung berapi, atau tumbukan benda langit (komet/asteroid) berdiameter besar (minimal 500 meter).

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan wajah Bulan yang terabadikan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Januari 1972 kala atmosfer relatif bersih (kiri) dengan saat puncak Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 pasca letusan el-Chichon (kanan). Kedua citra diambil dengan menggunakan teleskop, kamera, film dan waktu penyinaran (exposure time) yang sama. Citra Bulan sebelah kiri adalah 400 kali lebih benderang (6,5 magnitudo lebih cerlang) dibanding citra Bulan sebelah kanan. Sumber: Keen, 2008.

Bagaimana dengan Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 ini? Pada saat ini kita pun sedang mengalami letusan gunung berapi, yang terbesar adalah letusan Holuhraun di Islandia. Dimulai semenjak 29 Agustus 2014, hingga 1 Oktober 2014 letusan ini sudah memuntahkan tak kurang dari 650 juta meter kubik magma atau lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Namun tak ada partikulat debu vulkanik dalam jumlah signifikan yang tersembur ke ketinggian atmosfer dalam letusan ini, mengingat sifat letusannya yang efusif (leleran). Letusan Holuhraun juga menyemburkan gas belerang namun dalam jumlah 30.000 ton per hari, angka yang terhitung relatif kecil untuk letusan gunung berapi. Maka pengotoran atmosfer dalam jumlah signifikan pada saat ini nampaknya tak terjadi. Sehingga Bulan pada saat puncak Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014 diprakirakan tetap akan berwarna kemerah-merahan redup menyerupai darah.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 6. Bulan dan lingkungan sekitarnya tepat setelah akhir totalitas gerhana, disimulasikan dengan Starry Night Backyard v 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Planet Uranus nampak di sisi kanan atas Bulan. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gerhana Bulan kali ini pun bakal berbonus peluang langka, yakni kesempatan untuk mengamati planet Uranus. Planet ketujuh di lingkungan tata surya kita dan planet pertama yang ditemukan manusia sepanjang sejarah lewat teleskop ini akan berbinar di sudut kanan atas Bulan selama fase gerhana. Dengan magnitudo semu +5,7 maka planet ini bahkan berkemungkinan terlihat mata manusia tanpa alat bantu, asalkan berada di lingkungan yang betul-betul gelap dan langit dalam kondisi sempurna.

1256: Bumi Merekah, Magma Melimpah dan Nyaris Mengubur Madinah

Solah tingkah gunung berapi telah mengharu biru Indonesia sepanjang 2014 ini. Akhir-akhir ini Gunung Slamet menyedot perhatian besar khususnya bagi yang bertempat tinggal di pulau Jawa seiring ulahnya. Meski letusannya tergolong kecil dan terlokalisir di seputar puncak saja sehingga kawasan terlarang pun ditetapkan hanya sejarak 4 kilometer dari kawah aktif, banyak orang dibikin cemas. Apalagi isu tak berkeruncingan bertaburan dimana-mana. Sementara di luar pulau Jawa tepatnya di pulau Sumatra, Gunung Sinabung masih terus saja bergemuruh. Meski statusnya telah diturunkan menjadi Siaga (Level III), atau sejajar status Gunung Slamet, namun Sinabung terlihat lebih aktif. Gunung berapi yang lama tertidur tersebut kini terus saja membangun lidah lava. Ia menjulur kian panjang ke arah tenggara dan kian tebal. Berulangkali awan panas (piroklastika) guguran masih terjadi tatkala bagian-bagian tertentu lidah lava rontok seiring labilnya strukturnya dan oleh pengaruh gravitasi. Di pulau Sulawesi, dua gunung berapi lasak dengan status Siaga (Level III) yang sama pun masih rajin memuntahkan magmanya meski relatif sepi dari perhatian. Masing-masing adalah Gunung Lokon-Empung dan Gunung Karangetang (keduanya di propinsi Sulawesi utara).

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Gambar 1. Semburan magma basaltik hingga setinggi sekitar 100 meter menyeruak dari retakan di padang Holuhraun, sebagai perwujudan dari erupsi efusif Gunung Bardarbunga di Islandia. Letusan tidak menyemburkan debu vulkanik pekat ke langit, namun melelerkan lava panas membara yang mengukir permukaan tanah layaknya sungai api. Diabadikan oleh tim Reykjavik Helicopters pada awal September 2014. Sumber: Reykjavik Helicopters, 5 September 2014.

Jangan lupakan letusan besar Gunung Kelud (propinsi Jawa Timur) pada 13 Februari 2014 lalu yang demikian menggetarkan. Amukannya sempat melumpuhkan sebagian pulau Jawa. Menyusul letusan besar Gunung Sangeang Api (propinsi Nusa Tenggara Barat) pada 30 Mei 2014. Meski tak sepopuler dan tak sebesar letusan Kelud, namun muntahan debu vulkaniknya sempat melumpuhkan lalu lintas udara negeri tetangga: Australia. Syukurlah dua letusan besar tersebut tak banyak menelan korban jiwa, meski angka kerugian material yang diakibatkannya mencapai ratusan milyar rupiah. Di antara kedua letusan besar tersebut, patut dicatat pula aksi Gunung Merapi (propinsi Jawa Tengah dan DIY) yang telah berulangkali menghembuskan debu vulkaniknya dalam kejadian erupsi freatik yang demikian sekonyong-konyong dan nyaris tak didului tanda-tanda umum. Meski tak menyebabkan korban jiwa maupun luka, tetap saja rasa cemas sempat membara.

Holuhraun

Di mancanegara, sejumlah gunung berapi pun unjuk gigi. Satu yang menyedot perhatian adalah letusan unik Gunung Bardarbunga di Islandia. Islandia sendiri sudah merupakan keajaiban. Secara geologis inilah pulau yang berdiri tepat di atas punggungan tengah Samudera Atlantik, jalur rekahan memanjang yang menjadi tempat menyeruaknya magma dari perutbumi. Tak sekedar membentuk pegunungan memanjang yang hampir seluruhnya berada di dasar samudera, magma ini juga mendorong lempeng-lempeng tektonik yang mengapitnya ke dua arah berlawanan. Masing-masing lempeng Amerika Utara ke barat dan lempeng Eurasia ke timur. Sementara secara geografis, Islandia terletak di dalam lingkar kutub utara sehingga memiliki iklim kutub. Bahkan Islandia menjadi satu dari dua daratan besar dalam lingkar kutub utara yang selalu berselimutkan es, selain pulau Greenland. Maka Islandia lah tempat merah (baca: magma) dan putih (baca: es) bertemu, tempat di mana panas (magma) dan dingin (es) bersua.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Gambar 2. Islandia dalam peta sederhana, yang menunjukkan posisinya persis di punggungan tengah Samudera Atlantik. Sumber: USGS, 2014.

Magma yang menyuplai gunung-gemunung berapi Islandia sangat berbeda dibanding Indonesia. Di Islandia magmanya berasal dari lokasi yang jauh lebih dalam. Yakni dari selubung (mantel) Bumi, lapisan plastis sangat tebal dan panas yang terletak tepat di bawah kerak bumi mulai kedalaman 40 kilometer. Magma Islandia adalah magma basaltik sehingga lebih encer, lebih banyak mengandung mineral-mineral logam, miskin gas vulkanik dan bersuhu lebih tinggi. Karena encernya, pucuk gunung-gemunung berapi Islandia cenderung berketinggian rendah dengan lereng relatif lebih landai. Saat meletus, magma basaltik cenderung keluar dari lubang letusan sebagai lava cair encer yang meleleh kemana-mana laksana lilin cair dalam erupsi tipe efusif. Sangat jarang terjadi letusan yang menyemburkan berjuta-juta meter kubik debu vulkanik ke langit. Perkecualian adalah Gunung Eyjafjallajokul dalam letusan 2010-nya. Saat itu letusan menyemburkan sekitar 100 juta meter kubik debu vulkanik pekat hingga setinggi 8 kilometer. Hembusan angin mendorong debu vulkanik menutupi ruang udara Eropa bagian utara. Akibatnya parah. 107.000 penerbangan terpaksa dibatalkan dalam 8 hari berturut-turut, angka yang setara 48 % total penerbangan global. Total kerugian yang ditimbulkannya melampaui angka Rp 16 trilyun.

Meski terkesan tak segalak gunung-gemunung berapi Indonesia, namun aktivitas gunung berapi Islandia jauh lebih intensif. Sepanjang 500 tahun terakhir volume lava akumulatif yang dihasilkannya setara sepertiga total volume lava di Bumi. Episode letusan terdahsyat terjadi pada 1783-1784 di Gunung Laki. Tak ada semburan debu vulkanik tebal yang membumbung tinggi hingga berkilo-kilometer ke langit menciptakan suasana horor. Namun Laki memuntahkan 14.000 juta meter kubik lava basaltik lewat 130 lubang letusan selama delapan bulan berturut-turut. Bersamanya tersembur pula gas-gas vulkanik, termasuk 8 juta ton gas asam fluorida dan 120 juta ton gas belerang (sulfurdioksida). Udara Islandia pun tercemar berat sehingga 80 % domba, 50 % sapi dan 50 % kuda mati perlahan-lahan setelah gigi-geliginya rontok akibat paparan gas asam fluorida berlebihan. Matinya hewan-hewan ternak itu membuat segenap Islandia dilanda bencana kelaparan tiada tara. Pada puncaknya sebanyak 20 hingga 25 % populasi penduduknya tewas berkalang tanah.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Gambar 3. Plot episentrum gempa-gempa vulkanik di sekitar Gunung Bardarbunga beserta kedalamannya dalam periode antara 16 hingga 24 Agustus 2014. Nampak episentrum berkerumun di sebuah garis irregular sepanjang sekitar 40 kilometer yang menjulur ke timur laut dari Gunung Bardarbunga. Inilah pertanda terbentuknya pematang instrusi magmatik sebagai tempat dimana amagma berakumulasi tepat sebelum keluar ke permukaan Bumi. Tanda bintang (*) adalah tempat terbentuknya retakan yang selanjutnya menjadi pusat letusan Holuhraun mulai 29 Agustus 2014. Sumber: Icelandic Meteorological Office, 2014.

Islandia kembali mengeliat pada 2014 ini lewat Gunung Bardarbunga. Awalnya adalah krisis seismik selama sebulan penuh ditandai terjadinya gempa demi gempa kecil yang datang beruntun. Bersamaan dengannya bagian kerak bumi di sektor timurlaut gunung juga mulai menggelembung. Keduanya adalah pertanda bahwa magma segar dalam jumlah cukup signifikan sedang menanjak naik dari perut Gunung Bardarbunga hendak mencari jalan keluar. Krisis seismik juga memperlihatkan magma segar telah berkumpul demikian rupa hingga menghasilkan pematang intrusi magmatik sepanjang sekitar 40 kilometer pada segmen kerak bumi yang membentang di antara Gunung Bardarbunga dan padang Holuhraun. Di Holuhraun inilah, tepatnya di sekitar ujung pematang intrusi magmatik, tanah merekah sepanjang 2 kilometer pada 29 Agustus 2014 dinihari. Darinya magma basaltik tumpah keluar, beberapa sebagai pancuran lava yang menyembur hingga setinggi lebih dari 100 meter. Bersamaan dengan itu tubuh Gunung Bardarbunga kontan mengempis, terjadi penurunan pada lantai kaldera Bardarbunga hingga 15 meter dari semula.

Lava basaltik yang encer membanjir ke timur laut, laksana sungai api, dalam volume teramat besar. Hingga 1 Oktober 2014 lava telah menutupi area seluas 48 kilometer persegi dengan ketebalan rata-rata 14 meter, setinggi gedung berlantai tiga. Dengan demikian volume lava pada saat itu mencapai sekitar 650 juta meter kubik, lima kali lipat volume Letusan Kelud 2014. Sehingga sejauh ini letusan Holuhraun adalah letusan dengan material vulkanik terbesar di Bumi sepanjang 2014. Maka setiap detiknya letusan Holuhraun melepaskan 290 meter kubik lava. Dengan kata lain setiap detiknya retakan Holuharun memuntahkan lava dalam jumlah yang setara muatan 12 truk tanki pengangkut BBM berkapasitas 24.000 liter. Total energinya pun sangat besar. Jika suhu magmanya dianggap 900 derajat Celcius, maka energi termal yang dihasilkan letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014 mencapai 117 megaton TNT. Ini setara energi yang dilepaskan 5.850 butir bom nuklir Hiroshima.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 4. Sebaran lava basaltik letusan Holuhraun hingga 1 Oktober 2014. Lava telah menutupi area seluas 48,2 kilometer persegi dengan panjang sekitar 16 kilometer. Volume magma yang diletuskan hingga 1 Oktober 2014 telah sekitar 650 juta meter kubik. Tak ada tanda-tanda aktivitas letusan mulai menyurut. Sumber: University of Iceland, 2014.

Sejauh ini tak ada korban jiwa maupun luka-luka akibat letusan Holuhraun. Kerugian material juga relatif tidak ada, seiring tidak terganggunya lalu lintas penerbangan sipil setempat maupun regional (Eropa) dan tidak adanya infrastruktur yang dilalap sang lava. Namun letusan ini mengirimkan pesan sangat jelas pada segenap manusia, bahwa vulkanisme di Bumi tak hanya menghasilkan gunung-gemunung berapi yang tinggi mengerucut dengan erupsi sentral di kawah utamanya seperti umum dijumpai di Indonesia. Namun juga sanggup menghasilkan gunung-gemunung berapi ‘aneh’ berbentuk retakan panjang yang sanggup membanjirkan lava basalt dalam erupsi retakan. Erupsi retakan seperti letusan Holuhraun memang jarang dijumpai di Bumi. Hanya di tempat-tempat dimana terjadi aktivitas vulkanisme titik-panas (hotspot) sajalah letusan sejenis terjadi. Dan Islandia adalah salah satu tempat tersebut.

Di luar Islandia pun masih ada sejumlah tempat yang menjadi panggung vulkanisme titik-panas. Salah satunya sangat dikenal Umat Islam sedunia mengingat kedudukannya demikian dekat dengan satu dari dua kotasuci, yakni Madinah. Dan 7,5 abad silam, gunung berapi dengan retakan panjang yang tak begitu kita kenal ini meletus dengan skala kedahsyatan menyerupai letusan Holuhraun. Banjir lava panas membaranya demikian mencekam, hingga hampir mengubur kotasuci Madinah dalam lautan bara. Inilah Letusan Madinah.

Letusan Madinah

Bandar udara internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz adalah pintu gerbang utama kotasuci Madinah al-Munawwarah. Ia juga menjadi satu dari dua pintu masuk utama ke dua kotasuci bagi Umat Islam selain bandar udara internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Bandar udara ini terletak di pinggiran utara kotasuci Madinah, tak seberapa jauh dari Gunung Uhud yang bersejarah. Jika kita melayangkan pandangan mata dari sini, Gunung Uhud yang tandus dengan hiasan warna coklat tanah kemerah-merahan nampak memanjakan mata di arah barat daya. Lansekap sewarna juga dijumpai di arah barat, utara dan timur. Namun tidak dengan arah selatan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit tandus kehitaman, dengan bongkahan bebatuan penyusunnya yang jauh lebih kasar ketimbang bebatuan Gunung Uhud. Sangat sedikit informasi yang tersedia tentang bukit-bukit kehitaman ini. Namun siapa sangka, di balik minimnya informasi, bukit-bukit kehitaman ini sejatinya adalah jejak kasat mata dari salah satu periode paling mencekam sepanjang sejarah kotasuci Madinah. Inilah endapan lava basaltik dari Letusan Madinah, letusan besar yang hampir saja memanggang Madinah.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 5. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk kotasuci Madinah dan sekitarnya. Nampak hampir seluruh permukaan tanah di sekitar kota ini didominasi warna coklat kemerah-merahan. Terkecuali di sisi tenggara kota yang permukaan tanahnya bewarna hitam/gelap. Inilah endapan lava jejak Letusan Madinah 1256. Sumber: Google Earth, 2014.

Kalender menunjukkan hari Senin 1 Jumadil Akhir 654 Hijriyyah kala sebuah getaran mulai mengguncang kotasuci Madinah. Para pedagang, peziarah tanah suci, penduduk dan segenap manusia lainnya yang sedang berada maupun tinggal di kotasuci itu merasakannya. Semuanya berharap getaran tadi hanyalah getaran tanah biasa yang akan berhenti dengan segera secepat kedatangannya. Namun harapan itu sirna laksana uap menghilang di udara. Betapa tidak, dalam empat hari kemudian secara beruntun getaran demi getaran tanah justru terus saja terjadi berulang-ulang. Kekerapannya kian mengencang dan sering. Di Jumat pagi, sedikitnya 18 getaran keras mengguncang hanya dalam waktu singkat. Dan siang harinya, kala orang-orang sedang berkumpul di Masjid Nabawi menanti waktu shalat Jumat, sebuah getaran keras, terkeras di antara semua getaran sebelumnya, mengagetkan semuanya. Tak pelak semua itu mengundang tanya di hati setiap orang. Rasa cemas pun mulai membersit. Apalagi getaran demi getaran terus saja terjadi selepas shalat Jumat, meski tak sekeras sebelumnya.

Drama mencapai klimaksnya pada Sabtu pagi usai shalat Shubuh, bertepatan dengan 1 Juli 1256. Secara mendadak ketenangan dan keheningan pagi dibuyarkan suara bergemuruh susul-menyusul yang datang dari arah al-Hijaz di tenggara. Bersamanya muncul pancuran bola-bola api merah kebiruan ke langit dalam jumlah besar. Demikian banyaknya bola-bola api yang mirip kembang api ini sehingga cahayanya benderang menyinari cakrawala laksana tersorot Matahari. Selama berhari-hari kemudian pancuran api terus berlangsung tanpa henti dan bahkan kian bertambah banyak saja. Kini malam-malam di kotasuci Madinah pun berubah dramatis menjadi seterang siang hari. Demikian terangnya malam-malam itu sehingga bagian Raudhah dan makam Nabi SAW yang ada di dalam kompleks Masjid Nabawi bagaikan tersorot cahaya Matahari secara terus-menerus. Cahaya terang itu bahkan bisa disaksikan dengan jelas dari Tayma’ dan kotasuci Makkah al-Mukarramah, padahal keduanya berjarak 300 kilometer dari sumber bola-bola api ini.

Sejarawan al-Qastalani menulis, orang-orang Badui pemberani yang mencoba mendekati titik sumber lontaran api tercengang menyaksikan pemandangan menggidikkan. Cairan panas kental mirip bubur yang sangat encer berwarna merah-kebiruan dengan beberapa bagiannya telah menghitam nampak menggelegak. Di latar belakangnya terlihat enam titik pancuran bola-bola api membara yang terus-menerus muncrat ke langit. Seluruh cairan tersebut bergerak mengalir perlahan laksana sungai sembari menyeret batu, pohon, tanah dan apa saja yang dilaluinya. Suara bergemuruh mirip petir yang sambung-menyambung terus saja terdengar. Asap pekat beraroma belerang terus mengepul, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Demikian pekat asapnya sehingga udara laksana berkabut terus-menerus. Akibatnya Matahari pun hanya terlihat sebagai bundaran kemerah-merahan saja, hatta telah berkedudukan cukup tinggi di langit. Udara di dekat cairan kental nan aneh ini demikian panasnya, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya lebih dekat dari dua lontaran anak panah (+/- 200 m).

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Gambar 6. Citra satelit Landsat dalam warna nyata untuk salah satu lokasi retakan yang menjadi sumber Letusan Madinah 1256. Nampak sejumlah kerucu skoria (cinder cone) yang dikelilingi bebatuan berwarna gelap (yang adalah endapan lava basaltik). Sumber: Google Earth, 2014.

Di masa kini kita mengetahui apa yang dihadapi orang-orang Madinah saat itu adalah lava panas produk letusan gunung berapi. Dengan teknologi terkini, relatif lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi dengan menerbangkan radas (instrumen) dalam kedudukan cukup tinggi di atas lava panas membara itu, baik di dalam pesawat udara nir-awak maupun via satelit penginderaan jauh. Layaknya letusan Holuhraun, Letusan Madinah bersumber pada sebuah retakan di segmen kerak bumi berbelas kilometer sebelah tenggara kotasuci Madinah. Entah seberapa panjangnya retakan itu, namun darinya magma basaltik membanjir keluar sembari muncrat hingga puluhan meter ke udara. Sejumlah gundukan mengerucut yang membukit pun terbentuk di sepanjang retakan ini, yang disebut kerucut skoria (cinder cone). Magma encer itu lantas mengalir sebagai lava menyusuri kontur rupabumi setempat menuju tempat-tempat yang lebih rendah. Pada puncaknya lava panas ini pun terkumpul demikian rupa hingga laksana sejenis danau lava berkedalaman 3 meter yang membentang sepanjang 23 kilometer.

Teknologi di abad ke-13 memang belum memungkinkan manusia masa itu melihat keseluruhan dinamika Letusan Madinah. Apalagi memprakirakan kemana danau lava itu bakal bergerak mengalir dan menelan apa saja yang ada dihadapannya. Namun orang-orang Badui yang pemberani itu terus mengamati pergerakan cairan kental panas nan aneh (yang adalah tepi danau lava) itu dari hari ke hari. Sehingga mereka pun menyadari bahwa cairan panas menggelegak itu secara perlahan namun pasti sedang beringsut mengarah ke kotasuci Madinah yang memang berketinggian lebih rendah. Jelas sudah. Jika semua terus berlangsung seperti itu, maka segenap isi kotasuci tersebut akan tenggelam dalam lautan bara. Kini rasa cemas yang melanda penduduk Madinah pun bermetamorfosis menjadi ketakutan luar biasa. Juga kebingungan. Belum pernah mereka atau nenek moyang mereka, atau bahkan Bangsa Arab sekalipun, menghadapi peristiwa alam semacam ini. Dapat dipahami jika di tengah ketakutan dan kebingungan ini kisah-kisah akan hari akhir pun menyebar kemana-mana. Apalagi salah satu di antara tanda-tanda besar kedatangan hari akhir adalah munculnya api di tanah Hijaz. Dan kini kotasuci Madinah (yang berada di kawasan Hijaz) benar-benar berhadapan dengan api panas membara dalam ukuran yang sungguh tak pernah terbayangkan pada zaman itu.

Menyadari bahaya yang mengancam kotasuci Madinah seisinya, gubernur sigap bertindak. Seluruh penduduk maupun musafir, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimintanya untuk segera berkumpul di Masjid Nabawi khususnya di bagian Raudhah dan sekitarnya yang merupakan kawasan mustajab. Semua pun berdoa dengan sepenuh hati, bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka juga memohon agar cairan kental panas itu, yang kian mendekat saja ke kotasuci, untuk dihentikan atau dialihkan. Banyak yang mencucurkan air mata di tengah kekhusukan doanya ketika menyadari bahwa jika Allah SWT menghendaki, dengan mudah cairan kental panas itu menelan kotasuci Madinah beserta seluruh isinya dan menghapusnya dari muka bumi tanpa sisa dan tiada sesuatu pun yang dapat menghalanginya.

Dan keajaiban pun terjadilah. Seperti bernyawa, lava panas itu berhenti sebelum tapal batas kotasuci dan lantas lantas berbelok ke utara untuk kemudian melambat, berhenti dan membeku. Letusan Madinah sendiri berakhir dalam 52 hari setelah bermula. Sepanjang 52 hari tersebut 500 juta meter kubik magma dimuntahkan dari dalam perut bumi. Sehingga rata-rata Letusan Madinah memuntahkan lebih dari 100 meter kubik magma dalam setiap detiknya.

Harrat Rahat

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Gambar 7. Retakan di padang Holuhraun pada 30 Agustus 2014, sehari setelah letusan Holuhraun bermula. Nampak lava panas membara sedang meluap dan mengendap ke sekelilingnya sembari mendingin sehingga berubah warna menjadi gelap. Gas vulkanik pekat nampak terus mengepul. Panorama semacam ini pula yang dilihat orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: Dailykos, 2014.

Letusan Madinah merupakan wujud nyata eksistensi gunung berapi di semenanjung Arabia. Ya. Meski mayoritas bagiannya beriklim gurun, namun bentang lahan semenanjung terbesar di muka bumi ini tidaklah melulu berisi lautan pasir gersang. Padang pasir semacam itu hanya dijumpai di sisi selatan dan tenggara sebagai padang pasir ar-Rub’ al-Khali, yang adalah lautan pasir lepas terluas di muka bumi. Semenanjung ini juga bukan sekedar tanah tempat agama-agama samawi dilahirkan, tanah tempat para nabi dan rasul diutus serta tanah tempat berdirinya dua kotasuci Umat Islam. Namun lebih dari itu, semenanjung ini juga adalah salah satu keajaiban geologi yang sulit dicari padanannya di tempat lain. Sebagian Semenanjung Arabia khususnya daratan yang sebelah-menyebelah Laut Merah (termasuk kawasan Hijaz) adalah salah satu daratan tertua di muka bumi. Daratan ini dikenal sebagai Tameng Arabia-Nubia (Arabian-Nubian Shield). Dengan umur sedikitnya 600 juta, batuan di Tameng Arabia-Nubia sejatinya telah begitu padat sehingga jauh lebih stabil dibanding daratan lainnya yang lebih muda.

Namun di Tameng Arabia-Nubia pula kita kita bisa menyaksikan momen lahirnya kerak bumi baru dan meluasnya lempeng tektonik. Bentangan panjang Laut Merah yang menghiasi kawasan ini sejatinya adalah lembah besar yang dalam sehingga tergenangi air asin yang mengalir dari Samudera Hindia. Lembah besar ini bukanlah lembah biasa, sebab dibentuk oleh pergerakan tektonik intensif. Ia bersambung dengan lembah-lembah lurus lainnya yang menjulur dari Turki hingga ke Afrika Tengah dalam sebuah ekspresi yang disebut Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) sepanjang sekitar 4.000 kilometer. Di sejumlah bagian lembah inilah magma panas menyeruak dari lapisan selubung, terutama di sepanjang retakan kecil sumbu dasar Laut Merah, khususnya di sisi selatan. Begitu keluar, magma panas mulai mendingin dan membeku menjadi bayi lempeng tektonik oseanik. Jika pola semacam ini berlangsung secara menerus, maka dalam puluhan juta tahun ke depan Laut Merah akan demikian meluas menjadi samudera baru sementara retakan kecil sumbu dasarnya berevolusi menjadi punggungan tengah samudera seperti Islandia saat ini. Maka jangan heran jika saat ini di tengah-tengah Laut Merah dijumpai sejumlah gunung berapi. Ada yang tetap terbenam di bawah permukaan air dan ada pula yang menyembul di atas laut sebagai pulau vulkanis.

Tetapi retakan tidak hanya muncul di dasar Laut Merah. Di kawasan Hijaz, sejumlah retakan yang mirip pun terbentuk dan menjadi panggung bagi vulkanisme titik-panas serupa. Di retakan-retakan inilah magma menyeruak keluar membentuk gunung berapi Hijaz yang khas. Jangan bayangkan gunung berapi Arabia berbentuk kerucut tinggi yang indah seperti halnya gunung-gunung berapi komposit (stratovulcan) di Indonesia. Vulkanisme titik-panas menghasilkan magma basaltik yang lebih encer, sehingga gunung berapi Hijaz sejatinya hanyalah tumpukan lava yang tersebar menutupi area sangat luas dengan sejumlah kerucut skoria berketinggian rendah muncul didalamnya. Dapat dikata gunung berapi Hijaz memiliki panorama yang ‘jelek.’ Namun dibalik ‘kejelekan’-nya, vulkanisme di tanah Hijaz ini sungguh luar biasa. Secara akumulatif dalam 10 juta tahun terakhir ia telah memuntahkan lava basaltik yang menutupi area seluas 180 ribu kilometer persegi, setara sepersepuluh luas Indonesia.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Gambar 8. Lava basaltik panas membara sedang merayap menyusuri tanah Islandia, diabadikan pada 15 September 2014. Pelan namun pasti lava basaltik ini terus bergerak maju menutupi wilayah lebih luas dari hari ke hari. Panorama sejenis tersebut juga disaksikan orang-orang Madinah kala terjadi Letusan Madinah 1256 pada 7,5 abad silam. Sumber: University of Iceland, 2014.

Salah satu retakan di sini adalah yang berpangkal dari sekitar kotasuci Makkah al-Mukarramah dan menerus ke utara-timur laut melintas di dekat kotasuci Madinah hingga kemudian berujung di Nafud. Karenanya retakan sepanjang sekitar 600 kilometer ini lebih dikenal sebagai retakan Makkah-Madinah-Nafud atau Makkah-Madinah-Nafud volcanic line. Lewat retakan inilah magma melimpah ke permukaan tanah dan membentuk sedikitnya empat gunung berapi Hijaz. Dari selatan ke utara, masing-masing adalah Harrat Rahat, Harrat Kurama, Harrat Khaybar dan Harrat Ithnayn. Harrat Rahat menjadi gunung berapi terbesar di jalur retakan ini, bahkan di seantero Semenanjung Arabia. Ia membentang sepanjang 310 kilometer dari Jeddah ke Madinah dengan lebar rata-rata sekitar 75 kilometer. Harrat Rahat pada dasarnya adalah tumpukan lava basaltik yang telah membeku dengan total volume sebesar 2.000 kilometer kubik. Lava sebanyak itu diletuskan secara bertahap lewat 400 saluran magma serta lebih dari 2.000 kerucut skoria sepanjang 10 juta tahun terakhir. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah sebenarnya berdiri tepat di tubir gunung berapi raksasa menggetarkan yang memiliki nama lain Harrat Bani Abdullah, atau Harrat Madinah, atau Harrat Rashid, atau Harrat Turrah, atau Harrat el-Medina, atau Harrat er-Raha, atau Jabal Ma’tan, atau Jabal Umm Ruqubah, atau Jabal al-Hurus, atau Jibal Diba’ Al Hurus ini. Dan di ujung utara gunung berapi raksasa inilah Letusan Madinah terjadi dalam 7,5 abad silam.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Gambar 9. Peta Semenanjung Arabia bagian barat khususnya kawasan Hijaz. Nampak gunung-gemunung berapi Arabia (harrat) dengan yang terbesar adalah Harrat Rahat. Praktis kotasuci Makkah dan Madinah berdiri di tubir gunung berapi raksasa ini. Tanda bintang (*) menunjukkan lokasi Letusan Madinah 1256. Aktivitas terakhir gunung-gemunung berapi ini adalah di Harrat Lunayyir, 200 kilometer barat laut kotasuci Madinah. Sumber: Zahrani dkk, 2013.

Letusan Madinah bukanlah akhir dari aktivitas gunung berapi Hijaz. Gunung-gunung berapi unik ini terus aktif bahkan hingga kini. Pada 2009 lalu terjadi lonjakan jumlah gempa vulkanik secara mendadak di Harrat Lunayyir, sebuah gunung berapi Hijaz berukuran kecil yang terletak di barat laut kotasuci Madinah. Selama bulan April hingga Juni 2009 terjadi 40.000 guncangan gempa vulkanik dengan magnitudo antara 2 hingga 5,4 skala Richter. Inilah pertanda sangat jelas bahwa magma basaltik di perutbumi kawasan Hijaz masih tetap berupaya mencari jalan keluar ke permukaan. Pertanda tersebut kian jelas lewat terbentuknya retakan sepanjang 8 kilometer selebar 45 sentimeter. Belajar dari pengalaman Letusan Madinah 7,5 abad silam, otoritas Saudi Arabia tak menyia-nyiakan waktu untuk mengevakuasi sekitar 30.000 orang di kota al-Ays yang ada dalam kompleks gunung berapi ini. Namun tak seperti Harrat Rahat, Harrat Lunayyir ternyata tak kunjung memuntahkan magmanya. Ia urung meletus. Mungkin masih menunggu kesempatan lain di masa depan.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, cetakan pertama.

Rei. 2014. Bardarbunga: Sorry, Ireland (Update 2x). DailyKos.com, 5 September 2014.

Frimann. 2014. Bardarbunga Daily Update. Iceland Geology, Volcano and Earthquake Activity in Iceland.

al-Zahrani dkk. 2013. Aftershock Sequence Analysis of 19 May, 2009 Earthquake of Lunayyir Lava Flow, Northwest Saudi Arabia. International Journal of the Physical Sciences Vol. 8(7), 23 February 2013, pp. 277-285.