Menebak Hujan Meteor dan Aurora dari Komet Siding-Spring di Mars

Inilah peristiwa langit terbesar di tahun 2014. Sekaligus yang terlangka. Ia disebut-sebut takkan bakal terulang lagi hingga berpuluh tahun ke depan. Bahkan hingga beratus tahun kemudian. Atau bahkan sampai beribu tahun mendatang. Inilah sebuah keajaiban kosmik, kala dua benda langit yang sifat-sifatnya demikian bertolak-belakang ibarat Bumi dan langit kini demikian saling berdekatan. Sehingga laksana sedang berduet, meski hanya untuk sesaat. Inilah peristiwa tatkala komet Siding-Spring (C/2013 A1) bakal melintas-dekat planet Mars dalam jarak yang sangat, untuk ukuran astronomi. Peristiwa langka itu bakal terjadi pada Minggu 19 Oktober 2014 pukul 18:29 UTC, atau Senin dinihari 20 Oktober 2014 pukul 01:29 WIB. Saat peristiwa langka itu terjadi, komet Siding-Spring melejit secepat 56 km/detik pada ketinggian 131.800 kilometer dari paras (permukaan rata-rata) planet merah itu.

Gambar 1. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) nampak berdampingan dengan Mars pada jarak sudut hanya 1,5 derajat. Diabadikan oleh Kevin Parker (Australia) dengan teleskop ED80 dengan f/4,4 dan kamera Pentak-K5. Citra ini terdiri dari 10 citra terpisah masing-masing dibuat dengan waktu penyinaran 60 detik yang lantas digabungkan menjadi satu lewat proses stacking. Diabadikan pada Jumat 17 Oktober 2014 pukul 10:00 UTC. Sumber: Parker, 2014.

Gambar 1. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) nampak berdampingan dengan Mars pada jarak sudut hanya 1,5 derajat. Diabadikan oleh Kevin Parker (Australia) dengan teleskop ED80 dengan f/4,4 dan kamera Pentak-K5. Citra ini terdiri dari 10 citra terpisah masing-masing dibuat dengan waktu penyinaran 60 detik yang lantas digabungkan menjadi satu lewat proses stacking. Diabadikan pada Jumat 17 Oktober 2014 pukul 10:00 UTC. Sumber: Parker, 2014.

Komet Siding-Spring adalah komet yang pertama ditemukan pada tahun 2013 lewat mata tajam Robert McNaught, orang dibalik sistem penyigi langit Siding Spring Survey bersenjatakan teleskop reflektor Uppsala Southern Schmidt 50 cm di Observatorium Siding-Spring (Australia). Sesuai aturan tatanama komet baru, nama sistem penyigi langit ini pun tersemat sebagai nama komet tersebut. Sedari awal mula komet Siding-Spring sudah membikin gempar. Awalnya ia terindikasi berpotensi menubruk planet Mars. Awalnya pula ia diduga memiliki inti komet cukup besar, hingga diameter 50 km. Andai tumbukan benar-benar terjadi, dampaknya bagi planet Mars tentu luar biasa dahsyat mengingat komet ini melejit pada kecepatan 56 km/detik relatif terhadap sang planet merah. Simulasi daring dengan laman Crater milik Lunar Planetary Laboratory University of Arizona memperlihatkan dengan diameter dan kecepatan tersebut, permukaan Mars akan berlubang besar hingga selebar 600 kilometer. Energi tumbukan yang bakal terlepas pun sangat besar, mencapai 24 milyar megaton TNT atau setara dengan 1,2 trilyun bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak !

Tetapi potensi tumbukan ke Mars dan segala implikasi mengerikan yang menyertainya telah dicoret dengan pasti semenjak 8 April 2013, kala observasi demi observasi dari berbagai penjuru menghasilkan segudang data yang memungkinkan orbit komet Siding-Spring dihitung kembali dengan tingkat ketelitian lebih tinggi. Kini kita tahu bahwa komet yang nampaknya baru kali ini melata di zona planet-planet dalam tata surya kita hanya akan lewat sejarak 131.800 kilometer saja dari paras planet Mars. Peluang terjadinya tumbukan adalah nihil. Dalam perspektif Mars, ketinggian komet ini masih lebih jauh dibanding ketinggian dua satelit alamiahnya, masing-masing Phobos (tinggi rata-rata 6.000 kilometer dari paras planet) dan Deimos (tinggi rata-rata 20.000 kilometer dari paras planet). Namun dalam 100 menit pasca inti komet Siding-Spring menempati posisi terdekatnya dengan planet Mars, Mars akan mencapai titik dimana ia memiliki jarak terpendek terhadap orbit komet itu. Yakni sejarak ‘hanya’ 23.500 kilometer dari paras planet. Jarak yang cukup dekat terhadap benda langit yang dikenal senantiasa menyemburkan debu, pasir dan kerikil laksana gunung berapi itu tentu bakal berimplikasi tersendiri.

Gambar 2. Gambaran artis saat inti komet Siding-Spring (latar depan) berada pada titik terdekatnya dengan planet Mars. Inilah peristiwa langit yang langka dan belum tentu bakal terulang kembali dalam berpuluh atau malah bahkan hingga beratus tahun lagi. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 2. Gambaran artis saat inti komet Siding-Spring (latar depan) berada pada titik terdekatnya dengan planet Mars. Inilah peristiwa langit yang langka dan belum tentu bakal terulang kembali dalam berpuluh atau malah bahkan hingga beratus tahun lagi. Sumber: NASA, 2014.

Bukan Topan Meteor

Lewat sejumlah observasi termasuk dengan teleskop antariksa Spitzer, kini diketahui bahwa inti komet Siding-Spring tidaklah sebesar 50 kilometer melainkan hanya berdiameter 700 meter saja. Ia juga tergolong cukup aktif. Per 28 Januari 2014 diketahui inti komet Siding-Spring menyemburkan sedikitnya 100 kilogram debu dalam setiap detiknya. Pada hari-hari selanjutnya produksi debu ini diduga menguat, seiring kian memendeknya jarak antara inti komet dengan Matahari sehingga intensitas sinar Matahari yang diterima permukaan inti komet pun kian bertambah. Sehingga kian banyak pula butir-butir es dan bekuan senyawa volatil (mudah menguap) yang tersublimasi. Gas-gas yang terproduksi awalnya terakumulasi dalam cebakan-cebakan bawah permukaan, untuk kemudian tersembur keluar ke lingkungan sekitar begitu tekanannya mencukupi. Semburan gas dari inti komet juga mengangkut partikel-partikel material mulai dari seukuran debu hingga sebesar bongkah.

Melintas-dekatnya komet Siding-Spring dengan planet Mars bakal membuat partikel-partikel material inti komet khususnya yang berukuran debu mikroskopis melaju ke arah planet merah itu pada kecepatan 56 km/detik sebagai meteoroid. Hujan meteor pun tak terhindarkan. Namun terungkapnya fakta ukuran inti komet Siding-Spring mengubah prakiraan besarnya jumlah meteor yang memasuki atmosfer Mars setiap jamnya secara dramatis. Kala ukuran inti komet masih dianggap sebesar 50 kilometer, Vaubaillon dkk meramalkan Mars akan diguyur hujan meteor Siding-Spring teramat deras. Intensitasnya, yakni nilai ZHR (zenith hourly rate), diperkirakan bakal sebesar 195 hingga 4.750 juta meteor per jam! Sebagai pembanding, hujan meteor terbesar di Bumi pun (yakni Leonid 1966) memiliki intensitas ‘hanya’ sejuta meteor dalam setiap jamnya. Dengan prediksi tersebut, tak heran jika Vaubaillon mengapungkan istilah ‘topan meteor’ bagi duet Mars dan Siding-Spring itu.

Gambar 3. Contoh hujan meteor berintensitas tinggi, dalam hal ini Leonids 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia) pada 1998. Selempang galaksi Bima Sakti terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan yang mirip bakal terlihat di Mars kala hujan meteor Siding-Spring mengguyur pada 20 Oktober 2014. Sumber: NASA, 1998.

Gambar 3. Contoh hujan meteor berintensitas tinggi, dalam hal ini Leonids 1998, seperti diamati dari Bratislava (Slowakia) pada 1998. Selempang galaksi Bima Sakti terlihat jelas di latar belakang. Pemandangan yang mirip bakal terlihat di Mars kala hujan meteor Siding-Spring mengguyur pada 20 Oktober 2014. Sumber: NASA, 1998.

Namun pasca observasi Spitzer, prediksi ‘topan meteor’ itu pun luruh dengan sendirinya. Dengan dimensi inti komet hanya seukuran 700 meter, hujan meteor yang bakal menerpa planet Mars diprediksikan berintensitas jauh lebih kecil pula. Yakni sekitar 1.500 meteor per jam seperti disimulasikan oleh Peterson. Dengan begitu hujan meteor Siding-Spring di Mars masih lebih deras ketimbang, katakanlah, hujan meteor Perseids maupun Geminids di Bumi kita (100-an meteor per jam). Hanya badai meteor Leonids 1999 saja yang mengunggulinya. Karena melebihi ambang batas 1.000 meteor per jamnya, maka hujan meteor Siding-Spring di Mars ini bolehlah disebut sebagai ‘badai meteor.’

Gambar 4. Salah satu hasil kajian NASA tentang potensi hujan meteor di Mars seiring mendekatnya komet Siding-Spring. Kiri: planet Mars tersapu debu mikroskopis komet Siding-Spring meski tidak dalam intensitas terbesar. Kanan: prakiraan jumlah hujan meteor Siding-Spring (CSS) di Mars (ellips merah), dibandingkan dengan beberapa hujan meteor di Bumi seperti Perseids (ellips hitam). Hujan meteor Perseids berintensitas sekitar 100 meteor/jam, sementara hujan meteor Siding-Spring diprakirakan bakal mencapai 1.500 meteor/jam. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 4. Salah satu hasil kajian NASA tentang potensi hujan meteor di Mars seiring mendekatnya komet Siding-Spring. Kiri: planet Mars tersapu debu mikroskopis komet Siding-Spring meski tidak dalam intensitas terbesar. Kanan: prakiraan jumlah hujan meteor Siding-Spring (CSS) di Mars (ellips merah), dibandingkan dengan beberapa hujan meteor di Bumi seperti Perseids (ellips hitam). Hujan meteor Perseids berintensitas sekitar 100 meteor/jam, sementara hujan meteor Siding-Spring diprakirakan bakal mencapai 1.500 meteor/jam. Sumber: NASA, 2014.

Aurora

Imbas menarik lainnya yang bakal dialami planet Mars adalah ketampakan aurora di langit Mars untuk waktu tertentu. Aurora di Mars sejatinya bukan hal yang baru. Ia sudah terdeteksi semenjak 2005 melalui wahana antariksa Mars Express yang dioperasikan European Space Agency (ESA). Seperti halnya di Bumi, aurora di Mars merupakan efek dari tersekapnya partikel-partikel bermuatan listrik dari antariksa, khususnya proton dan elektron dari Matahari, oleh medan magnet Mars. Selagi ion dan elektron diarahkan garis-garis gaya magnet ke tubuh planet Mars, mereka bakal berbenturan dengan atom-atom dalam atmosfer atas Mars. Sehingga terjadi emisi foton cahaya tertentu yang terlihat sebagai aurora.

Salah satu kekhasan Mars terletak pada geometri medan magnetnya yang unik. Tak seperti di Bumi yang garis-garis gaya magnetnya bersumber dari kutub-kutub geomagnet dan membentuk magnetosfer, medan magnet Mars amat sangat lemah. Magnetosfer Mars sudah lama lenyap, kemungkinan semenjak bermilyar tahun silam. Kini yang masih tersisa hanyalah titik-titik tertentu di kerak Mars yang memancarkan garis-garis gaya magnetnya sendiri-sendiri dengan geometri mirip payung. Ada ratusan titik seperti itu di planet merah ini.

Bagaimana respon medan magnet Mars yang unik tersebut terhadap mendekatnya komet Siding-Spring? Semburan gas beserta partikel material inti komet menyusun sejenis atmosfer temporer menyelubungi inti komet yang dikenal sebagai kepala komet (coma). Penyinaran Matahari dan faktor-faktor lain membuat sebagian atom dalam coma terlucuti elektronnya. Sehingga terbentuklah plasma, campuran antara ion-ion dan elektron-elektron bebas, dalam coma. Per 28 Januari 2014, observasi menunjukkan dimensi coma Siding-Spring adalah 19.300 kilometer. Namun seiring kian intensifnya semburan gas dan debu kala komet kian mendekat ke Matahari, ukuran coma Siding-Spring pun turut membesar. Saat tiba di titik terdekatnya dengan Mars, dimensi coma Siding-Spring diperkirakan telah meraksasa hingga sepuluh kali lipat diameter planet Mars, atau hingga sebesar 70.000 kilometer. Praktis kala komet berada di titik terdekatnya ke Mars, segenap tubuh planet merah itu akan ‘tercelup’ ke dalam coma Siding-Spring hingga berjam-jam lamanya.

Gambar 5. Gambaran artis aurora yang bakal terbentuk di Mars seiring mendekatnya komet Siding-Spring. Kiri; dilihat dari langit. Kanan: dilihat dari permukaan Mars. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 5. Gambaran artis aurora yang bakal terbentuk di Mars seiring mendekatnya komet Siding-Spring. Kiri; dilihat dari langit. Kanan: dilihat dari permukaan Mars. Sumber: NASA, 2014.

Pada situasi itu, plasma dalam coma Siding-Spring berpotensi berinteraksi dengan atmosfer dan medan magnet unik Mars. Banjir ion dan elektron dari coma Siding-Spring ke titik-titik pemancar medan magnet di Mars diprediksi bakal menghasilkan fenomena aurora yang spektakuler. Seberapa besar auroranya? Hal itulah yang ingin kita ketahui.

Referensi :

Zurek. 2014. Comet C/2013 A1 Siding-Spring, Comet Environment Modeling. NASA Jet Propulsion Laboratory, 6 Juni 2014.

Vaubaillon dkk. 2014. Meteor hurricane at Mars on 2014 October 19 from comet C/2013 A1. MNRAS 439, (2014), pp. 3294–3299.

Bagaimana Mengamati Duet Mars dan Komet Siding-Spring?

Seperti diketahui sebuah peristiwa langka bakal tersaji di langit malam kita sebentar lagi. Melintas-dekatnya komet Siding-Spring (C/2013 A1) ke planet Mars pada Senin dinihari 20 Oktober 2014 pukul 01:29 WIB membuat sang planet merah akan terlihat berjarak sudut (berelongasi) cukup kecil terhadap sang komet kala disaksikan dari Bumi kita. Maka pada saat itu kita akan menyaksikan Mars nampak berduet dengan komet Siding-Spring. Duet dua benda langit yang sangat berbeda ini, yang satu planet dan satunya lagi komet, adalah pemandangan langit yang sangat jarang terjadi.

Karena langkanya, tak heran jika para astronom dan ilmuwan keplanetan beserta institusi ilmiah sejagat sudah bersiap-siap berpesta-pora menyambutnya. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun tak mau kalah. Tidak tanggung-tanggung, NASA mengerahkan sepasukan armadanya di langit untuk memelototi “duet maut” Mars dan Siding-Spring. Tak kurang dari sebelas wahana antariksa aktif telah disiapkan, baik yang berada di Bumi maupun Mars. Pasukan di orbit Bumi meliputi korps teleskop antariksa yang mencakup teleskop legendaris Hubble, teleskop pemburu eksoplanet Kepler, teleskop inframerah Spitzer, teleskop sinar roentgen (sinar-X) Chandra, teleskop sinar gamma Swift, teleskop pemburu asteroid NeoWISE serta sepasang teleskop pemantau Matahari yakni STEREO dan SOHO. Sementara pasukan di Mars terbagi ke dalam dua kelompok, yakni yang berada di orbit dan di daratan. Pasukan di orbit Mars antara lain adalah wahana Mars Odyssey, Mars Reconaissance Orbiter dan Mars Atmosphere and Volatile Evolution Mission yang baru saja datang. Sementara pasukan di daratan Mars meliputi dua robot penjelajah aktif, yakni si veteran Opportunity (Mars Exploration Rover) dan si gendut Curiosity (Mars Science Laboratory).

Gambar 1. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) pada 16 Oktober 2014, diabadikan oleh astronom amatir Damian Peach (Amerika Serikat) dengan latar belakang adalah bintang-gemintang penghuni selempang galaksi Bima Sakti yang fenomenal. Komet nampak diselimuti cahaya kehijauan sebagai representasi atom-atom CN (sianida) dalam atmosfer/kepala komet. Perhatikan perbedaan mendasar ketampakan komet dengan bintang 3 Sagittarii (magnitudo semu +4,5) dimana jarak sudut (elongasi) mereka berdua adalah 2 derajat. Sumber: Damian Peach, 2014.

Gambar 1. Komet Siding-Spring (C/2013 A1) pada 16 Oktober 2014, diabadikan oleh astronom amatir Damian Peach (Amerika Serikat) dengan latar belakang adalah bintang-gemintang penghuni selempang galaksi Bima Sakti yang fenomenal. Komet nampak diselimuti cahaya kehijauan sebagai representasi atom-atom CN (sianida) dalam atmosfer/kepala komet. Perhatikan perbedaan mendasar ketampakan komet dengan bintang 3 Sagittarii (magnitudo semu +4,5) dimana jarak sudut (elongasi) mereka berdua adalah 2 derajat. Sumber: Damian Peach, 2014.

Institusi lain di luar daratan Amerika Serikat pun enggan melepaskan kesempatan ini. Antara lain gabungan negara-negara Eropa melalui badan antariksanya (ESA). Selain berkolaborasi bersama NASA lewat teleskop antariksa pengamat Matahari SOHO, ESA juga berupaya memaksimalkan kinerja wahana penyelidik Mars miliknya, yakni Mars Express. Demikian pula India, pemain baru dalam era eksplorasi Mars sekaligus negara Asia pertama yang sukses mengirim wahana penyelidik ke planet merah dengan selamat. Melalui wahana antariksa murah meriah Manglayaan/Mars Orbiter Mission (MOM) yang baru tiba di orbit planet merah ini per September 2014 TU (Tarikh Umum) lalu, India akan turut mencoba mengamati duet maut ini. Di luar ketiga negara/gabungan negara-negara tersebut, tak terhitung banyaknya observatorium maupun titik-titik pengamatan yang bakal mengerahkan segenap sumberdaya teleskopnya ke langit.

Nah, bagaimana dengan kita di Indonesia? Adakah kita dapat turut menyaksikan duet maut Mars dan Siding-Spring dengan radas (instrumen) yang jauh lebih sederhana dibanding mereka?

Waktu Pengamatan

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah saat duet maut Mars dan Siding-Spring itu benar-benar terjadi, Indonesia sejatinya berada di posisi yang tak demikian beruntung. Kala komet Siding-Spring mencapai jarak terdekatnya terhadap planet Mars, sang planet merah (dan juga sang komet) sudah terbenam semenjak berjam-jam sebelumnya di manapun tempatnya bagi negeri ini. Manusia Indonesia hanya berkesempatan menyaksikan momen pendahuluan dan penutupan. Yakni saat komet Siding-Spring mulai mendekat ke planet Mars dan diikuti dengan saat sang komet mulai menjauhi planet merah itu.

Gambar 2. Gambaran langit barat dan barat daya pada Senin 20 Oktober 2014 pukul 20:00 WIB, disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Beberapa bintang terang/populer masih terlihat. Planet Mars nampak seakan-akan menyatu dengan komet Siding-Spring di latar depan selempang galaksi Bima Sakti. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0.

Gambar 2. Gambaran langit barat dan barat daya pada Senin 20 Oktober 2014 pukul 20:00 WIB, disimulasikan dengan Starry Night Backyard 3.0 untuk Kebumen (Jawa Tengah). Beberapa bintang terang/populer masih terlihat. Planet Mars nampak seakan-akan menyatu dengan komet Siding-Spring di latar depan selempang galaksi Bima Sakti. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Starry Night Backyard 3.0.

Secara umum Mars terbenam di Indonesia menjelang pukul 22:00 WIB sehingga menyediakan peluang cukup lama guna mengamati planet ini dan lingkungan sekitarnya semenjak Matahari terbenam. Mars adalah benda langit yang cukup terang dan saat ini berbinar dengan magnitudo semu +0,9. Sehingga ia mudah dilihat dan telah nampak di langit dalam setengah jam atau lebih pasca terbenamnya Matahari di langit barat daya, meskipun langit masih dibaluri cahaya senja. Karena cukup terang, Mars juga mudah dideteksi dengan mata meski tak dibantu alat optik apapun. Tapi tidak demikian halnya dengan komet Siding-Spring. Komet tersebut cukup redup, dengan magnitudo semu antara +11 hingga +12. Benda langit seredup ini hanya bisa dilihat dengan teleskop yang tepat. Dan ia pun hanya akan memperlihatkan diri jika langit telah benar-benar gelap tanpa sapuan cahaya senja.

Karena itu waktu yang tepat guna mengamati duet maut Mars dan Siding-Spring adalah setelah cahaya senja benar-benar menghilang. Di Indonesia, momen itu mudah sekali dikenali karena bertepatan dengan berkumandangnya azan Isya’. Dengan memperhitungkan saat-saat dimana elongasi Mars dan Siding-Spring bernilai sangat kecil, maka momen terbaik untuk menyaksikan duet maut itu adalah pada Minggu 19 Oktober 2014 TU dan Senin 20 Oktober 2014 TU. Pada kedua saat tersebut, kita cukup mengarahkan teleskop ke Mars. Sebagai bekal observasi, berikut disajikan koordinat ekuatorial Mars (dan juga komet Siding-Spring) sepanjang Sabtu-Selasa, 18-21 Oktober 2014 untuk pukul 19:00 hingga 21:00 WIB.

ss-mars_simulasi_kebumen_waktu-amat

Teleskop

Teleskop menjadi kebutuhan mutlak dalam mengamati duet maut ini. Dan tak sembarang teleskop, karena ia harus mempunyai lensa/cermin obyektif berdiameter yang mencukupi. Sehingga berkas cahaya yang dilesatkan dari komet Siding-Spring, aslinya adalah cahaya Matahari yang dipantulkan komet itu, akan terkumpul dalam jumlah yang cukup melampaui ambang batas sehingga ia dapat terlihat. Secara umum hubungan antara diameter minimum lensa/cermin obyektif bagi sebuah teleskop dengan magnitudo semu benda langit teredup yang bisa disaksikannya dinyatakan sebagai berikut :

ss-mars_simulasi_rumus

Dengan komet Siding-Spring memiliki magnitudo semu +11 hingga +12 pada saat duet maut terjadi, maka dibutuhkan teleskop dengan lensa/cermin berdiameter minimal 16 cm untuk menyaksikannya. Meski demikian masih ada aspek lain yang harus ipertimbangkan. Komet adalah benda langit yang terlihat lebih samar (baur). Jika bintang-bintang akan nampak sebagai titik cahaya tegas kala dilihat dengan teleskop, tidak demikian dengan komet. Karena itu meski di atas kertas kita bisa memakai teleskop dengan lensa/cermin obyektif berdiameter 16 cm, dalam praktiknya dibutuhkan lensa/cermin obyektif yang lebih besar. Sehingga lebih disarankan untuk menggunakan teleskop dengan lensa/cermin obyektif berdiameter 20 cm.

Gambar 3. Simulasi posisi komet Siding-Spring pada 19 dan 20 Oktober 2014 TU diamati lewat teleskop dengan medan pandang selebar 2 derajat yang diarahkan tepat ke posisi planet Mars. Lingkaran merah menunjukkan batas area medan pandang teleskop tersebut. Nampak posisi komet berpindah relatif terhadap posisi planet Mars. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 3. Simulasi posisi komet Siding-Spring pada 19 dan 20 Oktober 2014 TU diamati lewat teleskop dengan medan pandang selebar 2 derajat yang diarahkan tepat ke posisi planet Mars. Lingkaran merah menunjukkan batas area medan pandang teleskop tersebut. Nampak posisi komet berpindah relatif terhadap posisi planet Mars. Sumber: Sudibyo, 2014.

Pembaharuan: Siaran Langsung

Sejumlah kalangan baik institusi ilmiah maupun astronom amatir telah menyiapkan diri untuk menyajikan siaran langsung/hampir langsung terkait peristiwa langit yang amat langka ini. Siaran langsung/hampir langsung memungkinkan siapapun yang cukup antusias terhadap duet komet Siding-Spring dan planet Mars namun terkendala lingkungan (baik cuaca maupun waktu) dan peralatan untuk bisa menikmatinya. Hingga Sabtu 18 Oktober 2014 ini, mereka yang akan menyajikan siaran langsung/hampir langsung tersebut meliputi :

1. Virtual Telescope. Siaran langsung mulai Minggu 19 Oktober 2014 pukul 23:45 WIB dengan dipandu astronom Gianluca Masi (Italia).

2. European Space Agency (ESA). Siaran langsung mulai Senin dinihari 20 Oktober 2014 pukul 00:50 WIB dipandu oleh para astronom Eropa yang bergabung bersama ESA.

3. SLOOH. Menyelenggarakan dua siaran langsung yang berbeda. Siaran pertama mulai Senin dinihari 20 Oktober 2014 pukul 01:15 WIB. Dan siaran kedua berselang 8 jam kemudian yakni pada Senin 20 Oktober 2014 pukul 08:30 WIB. Kedua siaran langsung ini akan dipandu oleh astronom Robert Berman dan David Grinspoon secara interaktif lewat tanya-jawab melalui media sosial twitter dengan tagar (hashtag) #SloohComet.

4. Astronom amatir Peter Lake. Siaran langsung melalui media sosial Google+ mulai Minggu 19 Oktober 2014 pukul 18:00 WIB dari Observatorium iTelescope.net (Q62) di kompleks Observatorium Siding Spring (Australia), tempat komet Siding-Spring (C/2013 A1) ditemukan.

Referensi :

Lakdawalla. 2014. Watching Siding Spring’s Encounter with Mars. Planetary.org, 17 Oktober 2014.

Komet Siding-Spring, Komet Yang Bakal Nyaris Menubruk Planet Mars

Minggu 19 Oktober 2014 pukul 18:29 UTC (GMT). Atau di Indonesia Senin dinihari 20 Oktober 2014 pukul 01:29 WIB. Inilah saat-saat dimana sebutir benda langit yang tak terlalu besar, dengan dimensi sekitar 700 meter atau seukuran sebuah bukit, bakal melesat cepat dalam jarak teramat dekat untuk skala astronomi. Ia melesat pada kecepatan 56 km/detik atau 201.600 kilometer perjamnya pada jarak hanya 131.800 kilometer. Jika dibandingkan dengan jarak rata-rata Bumi-Bulan yang besarnya 384.400 kilometer, maka benda langit itu lewat dalam jarak nyaris tiga kali lipat lebih dekat dibanding Bulan. Beruntung situasi ini tidak terjadi di Bumi kita, melainkan pada planet tetangga terdekat kedua kita. Yakni si planet merah: Mars. Dan benda langit yang bakal melesat cepat sekaligus melintas-cukup dekat itu pun juga bukan benda langit biasa, yakni komet. Inilah benda langit mini dan eksotis anggota tata surya yang dikenal gemar menyemburkan debu, pasir dan bahkan kadang kerikil hingga bongkahan seukuran batu beserta gas-gas tertentu, menyerupai letusan gunung berapi kosmik di langit. Komet ini memang tak bakal bertubrukan dengan Mars. Namun debu dan pasir yang disemburkannya bakal sampai ke planet itu. Kala menembus atmosfer Mars, rombongan debu itu bakal menciptakan panorama hujan meteor yang mengagumkan. Sekaligus mengkhawatirkan.

Gambar 1. Komet Siding-Spring (titik potong garis kuning vertikal dan horizontal) pada 24 September 2014 TU lalu. Diabadikan dengan teleskop Schmidt Bimasakti di Observatorium Bosscha oleh Evan Irawan Akbar. Inilah komet yang bakal melintas-sangat dekat dengan planet Mars pada 20 Oktober 2014 dinihari waktu Indonesia kelak. Sumber: Observatorium Bosscha, 2014.

Gambar 1. Komet Siding-Spring (titik potong garis kuning vertikal dan horizontal) pada 24 September 2014 TU lalu. Diabadikan dengan teleskop Schmidt Bimasakti di Observatorium Bosscha oleh Evan Irawan Akbar. Inilah komet yang bakal melintas-sangat dekat dengan planet Mars pada 20 Oktober 2014 dinihari waktu Indonesia kelak. Sumber: Observatorium Bosscha, 2014.

Komet yang bakal mencetak sejarah itu adalah komet Siding-Spring (C/2013 A1). Semenjak ditemukan pada hari pertama tahun 2013 Tarikh Umum (TU) silam lewat mata tajam sistem penyigi langit yang bersenjatakan teleskop reflektor Uppsala Southern Schmidt 50 cm di Observatorium Siding-Spring (Australia), darinya nama komet ini berasal, komet Siding-Spring sudah menggemparkan jagat ilmu pengetahuan. Observasi awal mengindikasikan orbit komet ini berpotongan dengan orbit Mars hingga tingkat ketelitian tertentu. Dan observasi awal memprakirakan pada 20 Oktober 2014 dinihari waktu Indonesia, baik planet Mars maupun sang komet Siding-Spring akan sama-sama sedang melintasi titik perpotongan orbit tersebut, sehingga tumbukan benda langit diprakirakan tak terhindarkan.

Lebih hebohnya lagi, dengan kecepatan 56 km/detik dan ukuran inti komet berdasar observasi awal diperkirakan bergaris tengah hingga 50 kilometer, tumbukan akan berlangsung sangat dahsyat. Simulasi awal menunjukkan permukaan Mars bakal berhias sebentuk kawah raksasa bergaris tengah hingga 500 kilometer alias separuh panjang pulau Jawa! Bersamaan dengan pembentukan kawah raksasa ini akan terlepas energi hingga 24 milyar megaton TNT. Itu setara dengan 1,2 trilyun bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak, tingkat pelepasan energi yang belum pernah disaksikan umat manusia sepanjang sejarah peradabannya.

Di pekan-pekan berikutnya sang komet terus menjadi target observasi yang berlangsung dari berbagai titik di sekujur Bumi. Segudang data berharga pun diperoleh. Kini kita mengetahui bahwa komet Siding-Spring ini adalah komet dengan periode yang amat sangat panjang hingga beberapa juta tahun. Akibatnya orbitnya pun demikian lonjing hingga nyaris tak terbedakan dengan orbit parabola. Fakta ini menunjukkan bahwa komet Siding-Spring nampaknya mirip komet ISON di tahun silam, yakni sama-sama komet yang baru beranjangsana untuk pertama kalinya ke lingkungan tata surya bagian dalam setelah melejit keluar dari awan komet Opik-Oort, ‘rumah’-nya bayi-bayi komet. Dengan perihelion 1,399 SA (satuan astronomi) atau setara 209 juta kilometer dari Matahari, komet Siding-Spring takkan mendekat ke Matahari hingga melampaui orbit Bumi kita. Namun yang paling menarik perhatian adalah bagaimana komet ini akan berposisi demikian dekat dengan planet Mars.

Gambar 2. Gambaran sederhana bagaimana posisi planet Mars beserta kedua satelit alamiahnya (yakni Phobos dan Deimos) terhadap komet Siding-Spring saat komet mencapai jarak terdekatnya dengan planet itu. Sumber: Wikipedia, 2014.

Gambar 2. Gambaran sederhana bagaimana posisi planet Mars beserta kedua satelit alamiahnya (yakni Phobos dan Deimos) terhadap komet Siding-Spring saat komet mencapai jarak terdekatnya dengan planet itu. Sumber: Wikipedia, 2014.

Perhitungan dan simulasi terbaru berdasarkan segudang data observasi termutakhir memang menunjukkan bahwa prakiraan tumbukan yang mengerikan di atas ternyata tak beralasan. Orbit komet Siding-Spring ternyata tak berpotongan dengan Mars, melainkan hanya saling berjejeran cukup dekat. Hal itu terjadi pada Senin dinihari 20 Oktober 2014 waktu Indonesia. Inti komet Siding-Spring bakal lewat pada ketinggian 131.800 kilometer dari paras planet Mars. Dalam perspektif Mars, jarak perlintasan ini masih lebih jauh ketimbang ketinggian dua satelit alamiahnya, masing-masing Phobos (tinggi rata-rata 6.000 kilometer dari paras planet) dan Deimos (tinggi rata-rata 20.000 kilometer dari paras planet). Namun dalam 100 menit kemudian planet Mars akan mencapai situasi yang lebih ekstrim, yakni berjarak terdekat terhadap orbit komet Siding-Spring yakni sejarak ‘hanya’ 23.500 kilometer dari paras planet itu. Jarak yang cukup dekat ini tentu bakal menghasilkan implikasi tersendiri. Apalagi Mars adalah target paling seksi dalam misi-misi antariksa termutakhir. Kini tercatat tujuh misi antariksa aktif di Mars, 5 pengorbit dan 2 robot penjelajah, yang dikelola oleh 3 negara/gabungan negara-negara.

Mengamplas Mars

Potensi tubrukan komet Siding-Spring ke planet Mars memang telah dikesampingkan sepenuhnya semenjak 8 April 2013 TU lewat segudang data observasi terbaru. Namun melintas-dekatnya sebuah komet di dekat sebuah planet tetap akan berdampak tersendiri.

Data terbaru memperlihatkan inti komet Siding-Spring tidaklah sebesar 50 kilometer, melainkan hanya 700 meter saja. Namun saat melintas-sangat dekat dengan Mars, paparan intensitas cahaya Matahari sudah cukup tinggi karena jaraknya terhadap Matahari sudah lebih kecil dibanding ambang batas 3,5 SA (satuan astronomi). Akibatnya sudah cukup banyak butir-butir es dan bekuan senyawa volatil (mudah menguap) di dalam inti komet yang tersublimasi. Gas-gas tersebut awalnya terakumulasi dalam cebakan-cebakan di bawah permukaan inti komet, untuk kemudian tersembur keluar ke lingkungan sekitar. Semburan ini mengangkut pula partikel-partikel material penyusun inti komet mulai dari seukuran debu hingga bongkah. Gas dan partikel yang tersembur menyusun sejenis atmosfer sementara (temporer) di sekeliling inti komet, yang disebut kepala komet (coma). Tekanan angin Matahari akan membuat sebagian material penyusun kepala komet terhembus menjauhi inti komet menjadi ekor komet.

Gambar 3. Gambaran artis saat komet Siding-Spring melintas-sangat dekat dengan planet Mars dalam skala astronomi. Kombinasi unik posisi Mars dan Matahari membuat ekor gas dan ekor debu komet tidak mengarah langsung ke planet Mars. Wahana antariksa tidak digambarkan dalam ukuran sebenarnya. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 3. Gambaran artis saat komet Siding-Spring melintas-sangat dekat dengan planet Mars dalam skala astronomi. Kombinasi unik posisi Mars dan Matahari membuat ekor gas dan ekor debu komet tidak mengarah langsung ke planet Mars. Wahana antariksa tidak digambarkan dalam ukuran sebenarnya. Sumber: NASA, 2014.

Di sinilah potensi masalah muncul. Saat melintas-sangat dekat dengan planet Mars, dimensi coma Siding-Spring diperkirakan akan sepuluh kali lipat lebih besar ketimbang dimensi Mars sendiri. Sehingga praktis selama beberapa jam di Senin dinihari 20 Oktober 2014 waktu Indonesia itu, segenap planet Mars beserta satelit-satelit alamiahnya bakal tercelup ke dalam coma Siding-Spring yang penuh debu. Maka partikel-partikel debu Siding-Spring pun bakal melejit ke planet Mars pada kecepatan 56 km/detik relatif terhadap planet tersebut. Hujan meteor pun bakal terjadi saat partikel-partikel debu tersebut mencoba menembus atmosfer Mars. Ini akan menampakkan pemandangan hujan meteor nan luar bisa di planet tersebut, dengan intensitas cukup besar hingga berpotensi menjadi badai. Simulasi memperlihatkan hujan meteor Siding-Spring di Mars akan jauh lebih intensif ketimbang hujan meteor Perseids maupun Geminids di Bumi kita dengan prediksi ZHR (zenith hourly rate) mencapai sekitar 1.500 meteor/jam sehingga bisa menyandang status badai meteor. Hanya badai meteor Leonids 1999 saja yang mengungguli pesona hujan meteor Siding-Spring ini.

Dengan ukuran mikroskopisnya, tiada meteor Siding-Spring yang bakal sampai ke permukaan planet Mars. Masalahnya adalah bagaimana jika partikel-partikel meteoroid dari debu komet Siding-Spring ini berbenturan dengan wahana-wahana antariksa tak berawak aktif di orbit di Mars? Saat ini terdapat lima wahana antariksa aktif. Diurutkan dari yang paling senior masing-masing adalah Mars Odyssey (Amerika Serikat), Mars Reconaissance Orbiter/MRO (Amerika Serikat), Mars Express (gabungan negara-negara Eropa) serta dua yang baru datang pada September 2014 TU lalu yakni Mars Atmosphere and Volatile Evolution Mission/MAVEN (Amerika Serikat) dan Manglayaan/Mars Orbiter Mission (India). Seluruh wahana penyelidik ini tentu telah dirancang untuk menghadapi situasi tubrukan meteoroid, baik yang bersifat periodik maupun sporadik. Namun sanggupkah mereka bertahan kala berhadapan dengan guyuran meteoroid Siding-Spring? Akankah meteoroid-meteoroid Siding-Spring laksana mengamplas wahana-wahana antariksa antariksa tersebut?

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memandang cukup serius potensi ancaman meteoroid Siding-Spring ini. Sehingga sejumlah kajian pun dilakukan guna mengevaluasi status meteor dan mitigasinya. Sejauh ini NASA menyimpulkan, kombinasi unik posisi Mars dan Matahari membuat meteoroid Siding-Spring takkan berdampak banyak sepanjang wahana-wahana antariksa tersebut di-reorientasi sehingga tidak berhadapan langsung dengan arah kedatangan partikel-partikel meteoroid. Hal ini berlaku sepanjang partikel-partikel meteoroid tersebut adalah debu-debu mikroskopis, yang di atas kertas merupakan ukuran partikel yang paling mungkin menjangkau planet Mars. Lain halnya jika wahana-wahana antariksa tersebut ditubruk material seukuran kerikil atau malah yang lebih besar lagi, meski menurut NASA peluang kejadian ini adalah kecil.

Gambar 4. Salah satu hasil kajian NASA terkait potensi terjadinya hujan/badai meteor di Mars seiring perlintasan-sangat dekat komet Siding-Spring. Kiri: planet Mars terlihat tersapu oleh debu mikroskopis komet Siding-Spring meski tidak dalam intensitas terbesar. Kanan: prakiraan fluks hujan meteor Siding-Spring (CSS) di Mars (ellips merah), dibandingkan dengan beberapa hujan meteor di Bumi seperti Perseids (ellips hitam). Hujan meteor Perseids berintensitas sekitar 100 meteor/jam, sementara hujan meteor Siding-Spring diprakirakan bakal mencapai 1.500 meteor/jam. Hanya badai meteor Leonids 1999 (Lst) yang bisa menandinginya. Sumber: NASA, 2014.

Gambar 4. Salah satu hasil kajian NASA terkait potensi terjadinya hujan/badai meteor di Mars seiring perlintasan-sangat dekat komet Siding-Spring. Kiri: planet Mars terlihat tersapu oleh debu mikroskopis komet Siding-Spring meski tidak dalam intensitas terbesar. Kanan: prakiraan fluks hujan meteor Siding-Spring (CSS) di Mars (ellips merah), dibandingkan dengan beberapa hujan meteor di Bumi seperti Perseids (ellips hitam). Hujan meteor Perseids berintensitas sekitar 100 meteor/jam, sementara hujan meteor Siding-Spring diprakirakan bakal mencapai 1.500 meteor/jam. Hanya badai meteor Leonids 1999 (Lst) yang bisa menandinginya. Sumber: NASA, 2014.

Masalah lainnya yang juga menjadi perhatian adalah bagaimana coma Siding-Spring akan berinteraksi dengan atmosfer atas Mars selama perlintasan-terdekatnya. Diprediksikan akan terjadi kenaikan suhu bersamaan dengan meningkatnya jumlah atom Hidrogen di lapisan atmosfer atas Mars selama puluhan jam kemudian. Ini akan membuat atmosfer Mars secara umum sedikit mengembang sehingga bakal mencakup sebagian kecil orbit wahana antariksa MRO dan MAVEN. Keduanya diprediksi bakal mengalami gaya gesek atmosfer antara 2 hingga 40 kali lipat lebih besar ketimbang normal. Sehingga kecepatannya bakal menurun dan akibatnya orbitnya pun bakal kian menurun merendah terhadap paras planet ini. Masalah ini dapat diatasi dengan menyalakan mesin roket kedua wahana guna mengembalikannya ke orbit normal. Meski seberapa banyak bahan bakar yang akan dikonsumsinya belum bisa diketahui untuk saat ini.

Pelajaran

Saat komet Siding-Spring berada pada jarak terdekatnya dengan planet Mars, kedua benda langit itu sama-sama akan berjarak cukup jauh dari Bumi kita. Yakni sejauh 1,6 SA atau 240 juta kilometer. Karena itu tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bumi sama sekali tak terimbas oleh peristiwa langit yang satu ini. Apalagi komet Siding-Spring sendiri takkan mendekat ke Matahari hingga melampaui orbit Bumi.

Gambar 5. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Tumbukan bakal melepaskan energi 61.000 megaton TNT dan menghasilkan bola api ledakan bersuhu 10.000 derajat Celcius sebesar 13 km sembari membentuk kawah berdiameter 5,4 kilometer. Sumber: DowntoEarth, 2014.

Gambar 5. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Tumbukan bakal melepaskan energi 61.000 megaton TNT dan menghasilkan bola api ledakan bersuhu 10.000 derajat Celcius sebesar 13 km sembari membentuk kawah berdiameter 5,4 kilometer. Sumber: DowntoEarth, 2014.

Namun demikian ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa langit nan langka ini. Salah satunya, umat manusia dapat lebih memahami apa yang terjadi tatkala sebuah komet melintas terlalu dekat dengan sebuah planet. Sepanjang sejarah umat manusia, kita belum pernah mengalami situasi yang sama dengan planet Mars pada saat ini. Komet yang pernah melintas-terdekat ke Bumi kita masihlah berjarak 2,26 juta kilometer yakni komet Lexell (D/1770 L1) pada 1 Juli 1770 TU dan komet SOHO (P/1999 J6) yang melintas sejauh 1,79 juta kilometer pada 12 Juni 1999 TU. Tak seperti yang dialami komet Shoemaker-Levy 9 saat melintas-terlalu dekat dengan planet Jupiter pada Juli 1992 TU, jarak terdekat komet Siding-Spring ke planet Mars masih jauh lebih besar ketimbang orbit Roche Mars. Sehingga gaya pasang surut gravitasi Mars masih belum cukup mampu untuk meremukkan inti komet ini menjadi kepingan-kepingan lebih kecil. Namun gaya gravitasi tersebut bakal cukup mampu untuk menggeser orbit komet Siding-Spring. Sehingga periodenya diprediksikan bakal memendek menjadi sekitar 1 juta tahun.

Selain bagaimana partikel-partikel debu komet dan kepala komet bakal berdampak terhadap sebuah planet, peristiwa langit ini juga menyediakan kesempatan langka mempelajari komet secara langsung dari dekat seiring adanya lima wahana antariksa aktif di orbit Mars. Data-data yang bakal diperoleh akan sangat menambah pengetahuan kita tentang dunia per-komet-an. Ini melengkapi apa yang sedang diupayakan misi antariksa Rosetta di orbit inti komet Churyumov-Gerasimenko, meski dalam aspek yang sedikit berbeda.

Gambar 6. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Terbentuk kawah berdiameter 5,4 kilometer dengan kedalaman hampir 500 meter sehingga mampu menampung segenap bangunan monumental seperti Menara Eiffel dengan mudah. Sumber: DowntoEarth, 2014.

Gambar 6. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Terbentuk kawah berdiameter 5,4 kilometer dengan kedalaman hampir 500 meter sehingga mampu menampung segenap bangunan monumental seperti Menara Eiffel dengan mudah. Sumber: DowntoEarth, 2014.

Di atas semua itu, pengamatan mendetail akan peristiwa langit yang langka ini bakal turut membantu mengembangkan mitigasi menghadapi bencana kosmik tumbukan benda langit. Mari anggap terdapat sebuah komet hipotetis yang sifat-sifatnya sangat mirip dengan komet Siding-Spring ini, namun orbitnya berpotongan dengan orbit Bumi dan tepat sedang menuju ke Bumi. Jika massa jenis inti kometnya dianggap 1 gram per sentimeter kubik, maka dengan diameter 700 meter dan kecepatan 56 km/detik, tumbukan komet hipotetik ini dengan Bumi akan melubangi kerak Bumi dengan sebentuk kawah besar: diameter 5.400 meter dan kedalaman hampir 500 meter. Saat komet tepat mencium Bumi, akan terbentuk fireball (bola api tumbukan) bersuhu sangat panas (hingga 10.000 derajat Celcius) berukuran sekitar 13 kilometer. Bumi pun akan berguncang keras dengan magnitudo hingga 8 skala Richter. Energi kinetik yang terlepas dalam tumbukan ini pun sungguh luar biasa, mencapai 61.000 megaton TNT atau setara 3 juta bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak.

Gambar 7. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Atas: gelombang kejutnya sanggup berdampak hingga sejauh Bandung, sementara sinar inframerahnya menghasilkan dampak termal hingga sejauh Lampung dan Jawa Tengah. Bawah: tsunami yang akan terbentuk apabila titik tumbuk komet hipotetik ini di tengah-tengah Samudera Indonesia (Hindia). Sumber: KillerAsteroids, 2014.

Gambar 7. Hasil simulasi apabila sebuah komet hipotetik dengan sifat-sifat yang sama persis dengan komet Siding-Spring jatuh menghantam kawasan Monas (Jakarta). Atas: gelombang kejutnya sanggup berdampak hingga sejauh Bandung, sementara sinar inframerahnya menghasilkan dampak termal hingga sejauh Lampung dan Jawa Tengah. Bawah: tsunami yang akan terbentuk apabila titik tumbuk komet hipotetik ini di tengah-tengah Samudera Indonesia (Hindia). Sumber: KillerAsteroids, 2014.

Andaikata komet hipotetik ini jatuh di kawasan Monas (Jakarta), maka bola api tumbukannya akan tumbuh dan berkembang demikian rupa menjadi gelombang kejut. Kekuatan gelombang kejutnya sanggup merontokkan bangunan beton hingga sejauh Merak di sebelah barat dan Karawang-Bandung di sebelah timur. Sinar inframerah berintensitas tinggi yang dihasilkannya sanggup menghasilkan luka bakar tingkat satu hingga kawasan Jawa Tengah di sebelah timur dan Lampung di sebelah barat. Dipindah kemanapun lokasi titik tumbuknya, dampaknya akan serupa. Sebaliknya andaikata komet hipotetik ini jatuh di tengah-tengah Samudera Indonesia (Hindia), tsunami setinggi minimal 7 meter akan menerpa segenap pesisir Asia selatan dan tenggara. Korban jiwa dan kerugian material yang berjatuhan tentu bakal tak terperi. Harus dicatat, itu semua merupakan dampak tumbukan komet hipotetik berdiameter ‘hanya’ 700 meter. Komet yang lebih besar tentu akan menghasilkan dampak berlipat ganda.

Semua itu memang hanya simulasi, meski memiliki basis latar belakang ilmiah yang cukup kuat. Bagaimana melindungi umat manusia dari bencana kosmik yang mengerikan semacam itu menjadi salah satu sasaran yang ingin dicapai ilmu pengetahuan dan teknologi termutakhir. Harapannya agar umat manusia bisa melanjutkan peradabannya hingga batas kemampuannya. Dan agar kita tak senaas kawanan dinosaurus, yang punah secara besar-besaran pada 65 juta tahun silam dilumat dampak global tumbukan benda langit seukuran Gunung Everest.

Perhatian:

Pemilihan kawasan Monas (Jakarta) sebagai lokasi titik tumbuk komet hipotetik di atas hanyalah pemisalan. Ia dapat digantikan oleh tempat-tempat lainnya dimanapun di permukaan Bumi sepanjang berada di daratan.

Referensi :

Zurek. 2014. Comet C/2013 A1 Siding-Spring, Comet Environment Modeling. NASA Jet Propulsion Laboratory, 6 Juni 2014.