Bencana Ganda Penerbangan Antariksa, Meledaknya Roket Antares dan Pesawat Ulang-Alik SpaceShipTwo

Penghujung Oktober 2014 Tarikh Umum (TU) bakal selalu dikenang sebagai salah satu periode tergelap dalam era penerbangan antariksa inovatif. Inilah saat-saat dimana dua penerbangan antariksa komersial yang diselenggarakan korporasi swasta berakhir dalam bencana, hanya berselisih tiga hari. Keduanya meledak di udara dan hancur berkeping-keping begitu menghunjam Bumi dengan derasnya. Seorang meninggal dunia sementara seorang lagi masih berjuang mengatasi masa kritisnya di ruang perawatan intensif rumah sakit. Ratusan juta dollar, setara trilyunan rupiah di Indonesia, pun musnah bersamanya. Bencana ganda ini pun mengingatkan kita kembali betapa penerbangan antariksa apapun, baik berawak maupun takberawak, bukanlah rutinitas biasa meski seakan telah menjadi hal yang umum dalam tiga dasawarsa terakhir. Penerbangan antariksa memungkinkan umat manusia melaju ke perbatasan terakhir: ruang angkasa. Namun hal itu hanya bisa ditempuh dengan memacu kemampuan kita ke tingkat tertinggi, dengan bahaya yang selalu mengintai.

Gambar 1. Kiri: roket Antares dengan wahana Cygnus Orb-3 (Deke Slayton) di hidungnya berdiri tegak di landaspacu 0A di samping menara air kompleks MARS, pulau Wallops, Virginia (Amerika Serikat) di bawah bayang-bayang Matahari senja, dua hari sebelum bencana. Kanan: pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) melaju cepat dengan mesin RocketMotorTwo menyala dan berfungsi normal pada uji terbang perdana penyalaan roketnya, satu setengah tahun sebelum bencana. Sumber: NASA, 2014; Virgin Galactic, 2013.

Gambar 1. Kiri: roket Antares dengan wahana Cygnus Orb-3 (Deke Slayton) di hidungnya berdiri tegak di landaspacu 0A di samping menara air kompleks MARS, pulau Wallops, Virginia (Amerika Serikat) di bawah bayang-bayang Matahari senja, dua hari sebelum bencana. Kanan: pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) melaju cepat dengan mesin RocketMotorTwo menyala dan berfungsi normal pada uji terbang perdana penyalaan roketnya, satu setengah tahun sebelum bencana. Sumber: NASA, 2014; Virgin Galactic, 2013.

Antares

Bencana ganda tersebut diawali oleh meledak dahsyatnya roket Antares selagi mencoba mengangkasa dari landaspacu 0A di kompleks MARS (Mid-Atlantic Regional Spaceport) di fasilitas badan antariksa Amerika Serikat (NASA) pulau Wallops, Virginia (Amerika Serikat) pada Selasa 28 Oktober 2014 TU petang hari pukul 18:22 setempat, atau dinihari Rabu 29 Oktober 2014 TU pukul 05:22 WIB. Roket takberawak setinggi 42,5 meter yang berdiameter 3,9 meter dan berbobot 296 ton milik perusahaan Orbital Sciences Corporation itu ditenagai oleh Kerosin (sejenis minyak tanah) dan Oksigen cair. Ia mendadak berhenti dan memijar terang hanya dalam 20 detik setelah melejit dari landaspacu. Tak pelak seluruh tubuh roket pun segera jatuh ke landaspacunya meski pengendali misi, sesuai prosedur kedaruratan, telah mencoba menghancurkan roket yang terbakar kala masih melayang di udara.

Gambar 2. Bola api ledakan (fireball) memijar terang bersama gumpalan asap pekat saat roket Antares meledak di detik-detik awal bencana, diabadikan di tengah-tengah kepanikan di pusat media yang berjarak hampir 2 kilometer dari landaspacu. Di latar belakang nampak menara air kompleks MARS, sementara di latar depan adalah jembatan gantung yang menghubungkan pulau Wallops dengan daratan Amerika Serikat. Sumber: Eduardo Encina, 2014.

Gambar 2. Bola api ledakan (fireball) memijar terang bersama gumpalan asap pekat saat roket Antares meledak di detik-detik awal bencana, diabadikan di tengah-tengah kepanikan di pusat media yang berjarak hampir 2 kilometer dari landaspacu. Di latar belakang nampak menara air kompleks MARS, sementara di latar depan adalah jembatan gantung yang menghubungkan pulau Wallops dengan daratan Amerika Serikat. Sumber: Eduardo Encina, 2014.

Ledakan dahsyat pun menggelegar diiringi kobaran api selama berjam-jam kemudian. Ledakannya memproduksi suara bergemuruh yang menjalar jauh. Gelombang infrasonik yang menjadi bagian dari gelombang kejut ledakan terekam jelas di radas mikrobarometer stasiun S61A milik konsorsium IRIS (Incorporated Research Institutions for Seismology) yang terletak sejauh 25 kilometer sebelah barat daya kompleks MARS. Kepulan asap pekat dari kebakaran hebat yang menyusul pun terekam jelas di radar cuaca. Seluruh landaspacu dan kawasan sekitarnya dilalap api. Bahkan panas pijaran apinya masih bisa dirasakan oleh para penonton di pusat media yang berjarak hampir 2 kilometer dari landaspacu. Segera setelah api padam, terlihat jejak-jejak hangus menghiasi hampir segenap fasilitas di landaspacu ini. Sebuah kawah sferis selebar sekitar 10 meter tercetak di tanah, jejak nyata dari ledakan dahsyat Oksigen cair dan Kerosin.

Seluruh tubuh roket komersial yang mengemban misi angkutan logistik NASA ke stasiun antariksa internasional (ISS) itu pun hancur berantakan. Termasuk wahana takberawak Cygnus Orb-3 (Deke Slayton) yang digendongnya. Kargo berbobot 2.294 kilogram milik NASA dalam wahana tersebut pun turut musnah. Kargo itu meliputi muatan ilmiah (milik Amerika Serikat dan internasional), logistik (peralatan, makanan siap saji dan buku-buku), perangkat keras (milik Amerika Serikat dan Jepang), perlengkapan spacewalk (berjalan di antariksa) untuk astronot, komputer dan kamera. Termasuk di dalam kargo tersebut adalah 27 satelit mini kubikel yang seharusnya diluncurkan dari ISS, masing-masing 26 satelit mini Flock-1d milik PlanetLabs dan 1 satelit mini Arkyd-3 milik Planetary Resources. Flock-1d merupakan bagian dari armada satelit-satelit mini observasi Bumi sementara Arkyd-3 adalah platform ujicoba untuk eksplorasi asteroid di masa depan. Total kerugian masih dihitung. Namun jika hanya memperhitungkan roket dan muatannya yang hancur berantakan serta landaspacu yang rusak, angka kerugian sementara mencapai sekitar US $ 320 juta. Itu setara dengan Rp. 3,84 trilyun uang yang terbakar percuma (pada kurs US $ 1 = Rp 12.000). Beruntung, meski menyebabkan kerugian cukup besar bencana ini tidak merenggut nyawa ataupun melukai seorang pun.

Gambar 3. Dahsyatnya bencana Antares terlihat dari bagaimana gumpalan asap pekatnya terekam dalam radar cuaca (atas) sementara gemuruh ledakannya dalam gelombang infrasonik terekam oleh radas mikrobarometer di stasiun sejauh 25 kilometer dari landaspacu (bawah). Sumber: Matt Daniel, 2014 & IRIS, 2014.

Gambar 3. Dahsyatnya bencana Antares terlihat dari bagaimana gumpalan asap pekatnya terekam dalam radar cuaca (atas) sementara gemuruh ledakannya dalam gelombang infrasonik terekam oleh radas mikrobarometer di stasiun sejauh 25 kilometer dari landaspacu (bawah). Sumber: Matt Daniel, 2014 & IRIS, 2014.

SpaceShipTwo

Berselisih tiga hari kemudian, terjadilah bencana penerbangan antariksa yang kedua. Petaka menimpa pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo milik korporasi Virgin Galactic pada Jumat 31 Oktober 2014 TU pukul 10:04 setempat, atau Sabtu dinihari 1 November 2014 TU pukul 00:04 WIB. Pesawat yang diberi nama VSS Enterprise itu hancur berkeping-keping hanya dalam beberapa detik setelah roket pendorongnya dinyalakan pada ketinggian 15 kilometer dari paras laut rata-rata (dpl) dalam ujicoba penerbangan ke-55 untuk meningkatkan kualitas pesawat antariksa tersebut sebelum memasuki penerbangan komersial. Seluruh kepingannya berjatuhan ke Gurun Mojave, California (Amerika Serikat) dan terserak dalam area sepanjang 8 kilometer. Seorang pilot uji yang bertindak sebagai co-pilot (first officer) tewas terjebak dalam kabin yang hancur. Sementara satu pilot uji lainnya ditemukan masih bernafas di luar kabin, berhasil melejitkan kursi lontarnya namun kini terus berjuang mengatasi masa kritisnya di rumah sakit. Nama-nama kedua pilot uji awalnya tidak dipublikasikan. Namun sehari kemudian diinformasikan bahwa keduanya adalah Michael Alsbury (tewas) dan Peter Siebold (luka berat).

Gambar 4. Detik-detik bencana SpaceShipTwo. Kiri: pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) mulai menyalakan mesin roketnya setelah melepaskan diri dari pesawat induk WhiteKnightTwo (VSS Eve). Tengah: Mesin roket mulai tersendat dan mati. Kanan: ledakan yang menghancurkan VSS Enterprise di udara setelah mesin roket dinyalakan ulang kembali. Sumber: Leila Pontes, 2014.

Gambar 4. Detik-detik bencana SpaceShipTwo. Kiri: pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) mulai menyalakan mesin roketnya setelah melepaskan diri dari pesawat induk WhiteKnightTwo (VSS Eve). Tengah: Mesin roket mulai tersendat dan mati. Kanan: ledakan yang menghancurkan VSS Enterprise di udara setelah mesin roket dinyalakan ulang kembali. Sumber: Leila Pontes, 2014.

SpaceShipTwo merupakan pesawat eksperimental yang bertujuan menggapai batas antariksa dengan biaya terjangkau dalam era baru penerbangan antariksa. Pesawat inovatif ini merupakan turunan langsung dari SpaceShipOne, pesawat bersejarah yang berhasil mendemonstrasikan kemungkinan mencapai batas antariksa (ketinggian 100 kilometer dpl atau lebih sedikit) dan merasakan sensasi tanpa bobot selama kurang lebih 3 menit dalam lintasan penerbangan parabolik (sub-orbital). SpaceShipOne dibangun oleh perancang pesawat-pesawat inovatif Burt Rutan melalui korporasi Scaled Composite-nya atas pembiayaan milyarder Paul Allen, salah satu pendiri raksasa komputer Microsoft. SpaceShipOne mendemonstrasikan penerbangan bersejarah tepat satu dekade silam, yakni pada 29 September dan 4 Oktober 2004 TU, saat secara berturut-turut terbang melampaui ketinggian 100 kilometer dpl, masing-masing selama 24 menit, dengan puncak kecepatannya nyaris menjangkau 3 kali lipat laju suara.

Sukses ini membuat SpaceShipOne meraih penghargaan Ansari X Prize dan membuatnya diabadikan dalam galeri utama Museum Udara dan Antariksa Nasional Amerika Serikat di Smithsonian Institution, berdampingan dengan pelaku sejarah seperti pesawat Spirit of St. Louis (penerbangan lintas Atlantik pertama), pesawat Bell-X1 (penerbangan supersonik pertama) dan kapsul Columbia Apollo 11 (penerbangan pendaratan manusia pertama ke Bulan). Sukses SpaceShipOne juga menggamit minat milyarder penerbangan Richard Branson untuk membangun pesawat sejenis yang lebih besar sehingga mampu melayani penerbangan komersial sub-orbital dalam rangka turisme antariksa. Turisme jenis baru ini akan melayani hasrat orang-orang yang memenuhi syarat untuk menggapai tepi langit menjadi turis antariksa, merasakan sensasi tanpa bobot selama kurang lebih 4 menit dan mendarat kembali ke Bumi dengan selamat sebagai astronot komersial. Untuk itu setiap orang yang berminat dipersilahkan membeli tiket dengan harga 100 kali lipat lebih rendah dibanding biaya penerbangan astronot komersial dengan wahana Soyuz yang beberapa kali pernah dilakukan dengan tujuan stasiun antariksa ISS.

Gambar 5. Reruntuhan badan pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) di lantai Gurun Mojave, California (Amerika Serikat) dalam kondisi hancur dan terbalik. Reruntuhan pesawat eksperimental ini terserak di area sepanjang 8 kilometer. Sumber: Shuttle Almanac, 2014.

Gambar 5. Reruntuhan badan pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipTwo (VSS Enterprise) di lantai Gurun Mojave, California (Amerika Serikat) dalam kondisi hancur dan terbalik. Reruntuhan pesawat eksperimental ini terserak di area sepanjang 8 kilometer. Sumber: Shuttle Almanac, 2014.

Seperti pendahulunya, SpaceShipTwo bertumpu pada prinsip air-launch (peluncuran di udara) sehingga mesin roketnya tidaklah dinyalakan selagi pesawat masih di darat. Maka ia harus digendong dulu oleh sebuah pesawat induk WhiteKnightTwo hingga ketinggian tertentu untuk kemudian dilepaskan, barulah mesin roketnya dinyalakan. Meski ribet, langkah ini amat menghemat jumlah bahan bakar roket yang harus diangkut. Sebab jika sebuah roket diluncurkan dari darat, bagian terbesar dari bahan bakarnya digunakan untuk memaksa roket melayang di udara dan melawan gaya hambat/gesek lapisan udara yang lebih padat di dekat paras Bumi. Atas dasar inilah SpaceShipTwo diterbangkan oleh pesawat induk WhiteKnightTwo hingga ke batas lapisan troposfer-stratosfer di ketinggian 15 kilometer dpl. Sebagai pendorongnya, SpaceShipTwo menggunakan mesin roket hibrida yang memanfaatkan bahan bakar padat dan cair sekaligus. Mesin roket bakal dinyalakan selama 1 menit untuk melajukan pesawat pada percepatan maksimum 3G (3 kali percepatan gravitasi Bumi) dengan kecepatan maksimum 3 kali lipat laju suara. Saat tiba di puncak ketinggiannya, sayapnya akan ditekuk ke atas sehingga kala ia turun kembali memasuki lapisan termosfer dan stratosfer perilakunya mirip kapsul Apollo maupun Soyuz. Barulah setelah tiba di lapisan troposfer, sayapnya kembali diluruskan dan bakal mendarat kembali seperti pesawat biasa.

Bencana 31 Oktober 2014 TU merupakan uji terbang ke-55. Dari 54 uji terbang sebelumnya yang sukses, 20 penerbangan adalah bersama-sama WhiteKnightTwo (tanpa dilepas), 31 penerbangan melayang (tanpa dorongan mesin) dan hanya 3 penerbangan dengan mesin roket dinyalakan. Semula jika uji terbang ini sukses, Virgin Galactic bakal menggelar penerbangan komersial dengan pesawat sepanjang 18,3 meter dengan rentang sayap 8,2 meter, tinggi (ekor) 4,6 meter dan bobot 10 ton yang berpenumpang 8 orang (2 pilot dan 6 turis) ini pada 2015 TU mendatang. Sejauh ini sudah 700 orang yang siap diterbangkan setelah lolos kualifikasi (khususnya uji percepatan 6 hingga 8G) dan membayar tiket US $ 200.000 (Rp 2,4 milyar).

Kemungkinan Penyebab

Dua bencana ini menjadi tamparan keras bagi industri penerbangan antariksa komersial di Amerika Serikat. Betapa tidak, selama ini Amerika Serikat memiliki catatan keamanan yang relatif lebih baik dibanding para kompetitornya khususnya Rusia. Dalam empat tahun terakhir Rusia terus berkutat dengan aneka masalah pada roket-roketnya yang berujung pada sejumlah kegagalan khususnya di roket tingkat tiga (upperstage). Sejumlah satelit telah menjadi korbannya, nyasar ke orbit yang tak dikehendaki dan tak berguna. Salah satunya adalah satelit Telkom-3 milik Indonesia, yang rencananya bakal dioperasikan PT Telkom sebagai bagian tulangpunggung komunikasi nasional bersama satelit Telkom-1 dan Telkom-2, namun hilang di langit setelah diluncurkan pada 6 Agustus 2012 TU.

Penyelidikan terhadap dua bencana penerbangan antariksa ini dilaksanakan oleh tim yang berbeda. Dalam bencana Antares, penyelidikan diselenggarakan oleh AIB (Accident Investigation Board) yang telah dibentuk dan melibatkan NASA, NTSB (KNKT-nya Amerika Serikat) dan FAA (otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat). Sedangkan bencana SpaceShipTwo ditangani sepenuhnya oleh NTSB. Meski demikian dalam kedua kasus tersebut, layaknya penyelidikan kecelakaan pesawat terbang pada umumnya, penyelidik harus mencermati keping demi keping reruntuhan roket/pesawat yang tersisa sekaligus mencermati setiap rekaman baik visual maupun audio yang ada. Maka untuk mengetahui penyebab kedua bencana tersebut secara komprehensif bisa memakan waktu berbulan-bulan ke depan lamanya.

Gambar 6. Sepasang mesin roket AJ-26, rekondisi dari mesin roket NK-33 di yang menjadi bagian program roket Bulan era eks-Uni Soviet, saat dirakit bersama dengan tubuh tingkat satu roket Antares di fasilitas perakitan Orbital Sciences. Rekaman video peluncuran Antares dan wahana Cygnus Orb-3 mengindikasikan bencana bermula dari salah satu atau kedua mesin roket ini. Sumber: Orbital, 2014.

Gambar 6. Sepasang mesin roket AJ-26, rekondisi dari mesin roket NK-33 di yang menjadi bagian program roket Bulan era eks-Uni Soviet, saat dirakit bersama dengan tubuh tingkat satu roket Antares di fasilitas perakitan Orbital Sciences. Rekaman video peluncuran Antares dan wahana Cygnus Orb-3 mengindikasikan bencana bermula dari salah satu atau kedua mesin roket ini. Sumber: Orbital, 2014.

Maka pada saat ini masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang memicu dan menyebabkan kedua bencana ini. Namun beberapa petunjuk sudah menyeruak. Dalam bencana Antares, rekaman NASA TV yang menyiarkan detik-detik peluncuran roket ini secara langsung memberikan petunjuk berharga akan masalah pada mesin roketnya. Analisis Patrik Blau (SpaceFlight101.com) menunjukkan awalnya semua terlihat berjalan mulus kala sepasang mesin AJ-26 dinyalakan hampir berurutan dan menghasilkan daya dorong 332 ton. Pada T + 9,1 (9,1 detik pasca mulai mengangkasa), Antares terlihat masih beroperasi normal dan tepat telah meninggalkan penopang TEL (Transporter, Erector and Launch). Perubahan mulai terlihat pada T + 14,7 saat secara mendadak warna gasbuang Antares berubah dari semula putih menjadi kuning pekat. Perubahan ini menandakan salah satu atau bahkan mungkin kedua mesin roketnya mendadak kehilangan pasokan Oksigen cair. Sehingga ruang pembakaran dibanjiri Kerosin (sejenis minyak tanah) yang kala terbakar memang menghasilkan warna kuning pekat.

Setengah detik kemudian (T + 15,2) terlihat semburan jet kegelapan mengalir sangat cepat ke arah bawah. Semburan ini nampaknya berasal dari unit pembangkitan gas dalam mesin, mengindikasikan mungkin mulai terjadi kerusakan. Sececah kemudian (T + 15,5 atau kurang) bagian bawah Antares mulai terlihat bertambah benderang di tengah asap pekat yang menggumpal. Ini indikasi salah satu mesin sudah hancur sehingga terjadi kegagalan mesin. Karena kedua mesin berdampingan, hancurnya salah satu mesin bakal berimbas pada kegagalan pasangannya. Pada titik ini tak ada lagi daya yang mendorong Antares sehingga tubuh roket pun mulai jatuh. Ledakan dahsyat terjadi pada T + 22 saat roket telah jatuh menghantam landaspacunya dengan telak.

Kegagalan mesin pula yang nampaknya terlibat dalam bencana SpaceShipTwo. Tim penyelidik menemukan reruntuhan pesawat ini terserak sepanjang 8 kilometer dari timur laut ke barat daya, sebuah indikasi kuat bahwa pesawat terfragmentasi (terpecah-belah) jauh tinggi di udara. Wawancara dengan sejumlah saksi mata yang diperkuat dengan bukti-bukti fotografis memperlihatkan bahwa setelah dilepaskan dari pesawat induk WhiteKnightTwo (yang diberi nama VSS Eve), VSS Enterprise terlihat kesulitan dalam menyalakan mesin roketnya. Setelah sempat menyala sebentar, mesin mati lalu menyala lagi dan kemudian terlihat meledak diikuti dengan berkepingnya pesawat. Pesawat berkeping di udara dalam tempo sekitar 2 menit setelah dilepaskan dari VSS Eve.

Gambar 7. Mesin roket hibrida bersejarah yang pernah digunakan untuk menerbangkan pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipOne ke batas langit satu dekade silam, kini tersimpan di bengkel Scaled Composite. SpaceShipTwo juga menggunakan mesin roket sejenis yang berbahan bakar campuran butir-butir karet dan cairan nitrogen oksidul. Namun karena kurang efisien dan cenderung kurang stabil, maka campuran tersebut diganti dengan butir-butir plastik dan cairan nitrogen oksidul. Bencana terjadi saat mesin baru dengan campuran baru ini diujicoba untuk pertama kalinya. Sumber: Scaled Composite, 2004.

Gambar 7. Mesin roket hibrida bersejarah yang pernah digunakan untuk menerbangkan pesawat ulang-alik sub-orbital SpaceShipOne ke batas langit satu dekade silam, kini tersimpan di bengkel Scaled Composite. SpaceShipTwo juga menggunakan mesin roket sejenis yang berbahan bakar campuran butir-butir karet dan cairan nitrogen oksidul. Namun karena kurang efisien dan cenderung kurang stabil, maka campuran tersebut diganti dengan butir-butir plastik dan cairan nitrogen oksidul. Bencana terjadi saat mesin baru dengan campuran baru ini diujicoba untuk pertama kalinya. Sumber: Scaled Composite, 2004.

Apa penyebab kegagalan mesin dalam dua bencana tersebut?

Sangat banyak kemungkinan penyebabnya. Dalam bencana Antares, kemungkinan itu mulai dari adanya benda asing dalam saluran bahan bakar (yang terhisap masuk ke ruang pembakaran), putusnya saluran bahan bakar, bolongnya tanki bahan bakar, hilangnya tekanan mesin dan sebagainya. Cukup menarik bahwa mesin roket AJ-26 ini tak dibangun Orbital Sciences sendiri, melainkan diimpor dari Rusia pada dekade 1990-an. Mesin hasil rancangan biro desain Kuznetsov di akhir dekade 1960-an semula merupakan mesin NK-33 bagi program roket Bulan eks-Uni Soviet yang ambisius, yakni roket jumbo N-1. Uni Soviet lempar handuk setelah menyaksikan sukses demi sukses Amerika Serikat mendaratkan 12 astronot di Bulan lewat Apollo 11 hingga Apollo 17 (kecuali Apollo 13). Sementara sebaliknya seluruh keempat penerbangan roket N-1 berujung kegagalan. Program roket Bulan Uni Soviet pun dibatalkan. Seluruh perangkat keras bagi roket N-1 pun diperintahkan dihancurkan, termasuk ratusan mesin NK-33. Namun seorang birokrat berinisiatif menyimpan seluruh mesin itu di sebuah gudang secara diam-diam dan menyembunyikan keberadaannya otoritas keantariksaan eks-Uni Soviet. Bertahun kemudian, tepatnya pasca bubarnya Uni Soviet, 150 mesin itu ditemukan. Kabar pun menyebar ke daratan Amerika Serikat. Setelah lolos dalam ujicoba penyalaan, korporasi Aerojet General mengimpor 36 mesin NK-33 sekaligus membeli lisensinya dari Rusia dalam transaksi saling menguntungkan pada pertengahan 1990-an. Lewat transaksi ini Rusia mendapatkan dana segar minimal US $ 40 juta dollar, yang sangat berarti bagi negeri yang saat itu nyaris bangkrut. Sementara Amerika Serikat (melalui Aerojet) memperoleh mesin roket siap pakai yang tinggal direkondisi menjadi AJ-26.

Mesin rekondisi inilah tulangpunggung roket Antares (Taurus 2), yang sukses menjalani terbang perdananya pada 21 April 2013 TU silam dalam tajuk Antares A-ONE. Roket tiga tingkat ini sengaja dibangun Orbital Sciences guna melayani kebutuhan NASA akan penerbangan logistik takberawak ke stasiun ISS pasca dipensiunkannya seluruh armada pesawat ulang-alik NASA pada 2011 TU silam. Orbital Sciences telah mengikat kontrak senilai US $ 1,9 milyar dengan NASA guna menerbangkan minimal 8 kargo ke stasiun ISS mulai 2012 hingga 2016 TU. Sejauh ini telah tiga kargo diluncurkan ke stasiun ISS dengan selamat, masing-masing Orb-D1 (18 September 2013 TU), CRS Orb-1 (9 Januari 2014 TU) dan CRS Orb-2 (13 Juli 2014 TU). Namun pada uji penyalaan 26 Mei 2014 TU silam, salah satu mesin (yang ditujukan untuk peluncuran Antares di tahun 2015 TU kelak) meledak dan rusak berat. Akibatnya penyalaan mesin terpaksa dihentikan dalam 30 detik dari rencana semula 54 detik. Apa penyebabnya belum dipublikasikan. Kegagalan serupa juga pernah terjadi 2011 TU silam, kala mesin terbakar akibat Kerosin bocor lewat karat kecil di sistem tekanan tingginya. Masalah mesin dan tingkat satu dari roket ini yang hendak dicermati AIA guna menguak penyebab bencana Antares.

Sementara dalam bencana SpaceShipTwo, sedari awal mesin roket hibrida memang menjadi pilihan. Roket ini dipilih karena relatif lebih mudah ditangani, sederhana, bisa dinyalakan dan dimatikan sesuai keinginan pilot (layaknya mesin roket berbahan bakar cair) dan bisa cepat diganti untuk penerbangan berikutnya. Awalnya digunakan mesin RocketMotorTwo yang dibangun Sierra Nevada Corporation (SNC), sub-kontraktor Scaled Composite, yang menggunakan bahan bakar campuran butir-butir karet padat (tepatnya HTPB/hydroxy terminated poly butadiene) dengan Nitrogen Oksidul (dinitrogen monoksida atau gas tawa) cair. Campuran ini pula yang digunakan dalam penerbangan SpaceShipOne yang merengkuh sukses. Dalam uji terbang penyalaan roket perdana VSS Enterprise pada 29 April 2013 TU silam, RocketMotorTwo berfungsi dengan baik. Namun dalam dua uji terbang berikutnya disadari bahwa performa mesin roket ini dibawah harapan. Kinerjanya tak stabil dan relatif sulit dikontrol, yang berujung pada sulit (atau bahkan hampir mustahil) bagi VSS Enterprise untuk mencapai ketinggian 100 kilometer dpl.

Virgin Galactic pun memutuskan mendepak SNC dan mengganti mesin VSS Enterprise dengan roket hibrida rancangan mereka sendiri. Roket ini mengganti butir-butir karet dengan butir-butir nilon termoplastik (poliamida). Ujicoba penyalaan di darat nampaknya memberikan harapan, karena mesin roket baru ini relatif lebih stabil dan lebih bertenaga dibanding RocketMotorTwo. Namun saat dipasang di VSS Enterprise untuk ujicoba penyalaan di udara, bencana pun menerpa. Faktor non teknis nampaknya juga perlu dipertimbangkan. Mengingat Virgin Galactic sudah sangat mundur dari jadwal. Awalnya mereka menyebut SpaceShipTwo bakal operasional pada 2008 TU silam dengan ongkos pembangunan sekitar US $ 107 juta. Namun hingga kini pun mereka belum juga siap, dengan ongkos pembangunan melambung tinggi hampir lima kali lipat mencapai sekitar US $ 500 juta. Virgin Galactic lantas memasang jadwal baru untuk mengoperasionalkan SpaceShipTwo pada 2015 TU. Untuk itu pada Agustus 2014 TU mereka meminta FAA untuk memulai meninjau kesiapan Virgin Galactic sebagai operator penerbangan antariksa sub-orbital selama 180 hari kemudian. Namun selama periode itu VSS Enterprise tidak kunjung memenuhi harapan. Hal-hal ini yang nampaknya akan dicermati NTSB dalam penyelidikannya guna menguak penyebab sesungguhnya.

Dampak

Bencana ganda ini berpotensi menghasilkan dampak yang berbeda. Dalam hal bencana Antares, penyelidikan mungkin akan berlangsung berbulan-bulan. Konsekuensinya penerbangan Antares berikutnya harus ditunda. Penundaan ini berpotensi mengganggu jadwal suplai logistik NASA ke stasiun ISS, apalagi jika terbukti bahwa penyebabnya adalah masalah pada mesin AJ-26 di tingkat satu roket ini. Sementara dalam bencana SpaceShipTwo, dampaknya lebih dalam. Hancurnya VSS Enterprise membuat Virgin Galactic kehilangan satu-satunya prototip pesawat sejenis. Sehingga mereka setengahnya harus mulai lagi dari awal, khususnya membangun SpaceShipTwo lagi sembari mengindahkan faktor-faktor penyebab bencana VSS Enterprise yang kelak akan dipublikasikan NTSB. Virgin Galactic juga masih harus melanjutkan uji-uji terbang yang seharusnya dijalani VSS Enterprise sebelum siap melayani penerbangan komersial. Hal ini akan berakibat mereka mundur lagi dari tenggat waktu yang telah ditetapkan untuk memulai penerbangan antariksa sub-orbital komersial. Penundaan berulang ini jelas akan mempengaruhi minat para calon penumpangnya, yang sejauh ini diklaim telah berjumlah 700 orang.

Namun di atas potensi dampak tersebut, semua yang terlibat dan bergumul dalam dunia peroketan menyadari bahwa bencana ganda ini akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk meningkatkan mutu penerbangan antariksa sejenis di masa depan. Lewat bencana inilah apa yang salah dan kurang dalam roket Antares dan pesawat ulang-alik SpaceShipTwo dapat diketahui dan diperbaiki ke depan. Bencana ganda ini sekaligus menegaskan bahwa penerbangan antariksa memang bukanlah rutinitas biasa, tidak seperti perjalanan darat maupun udara yang kita kenal pada saat ini. Ada banyak faktor yang saling mempengaruhi dan hanya memberikan toleransi yang tipis. Saat satu saja batas toleransi ini terlanggar, bencana pun datanglah. Namun sejarah menunjukkan betapa umat manusia telah belajar demikian banyak dari sejumlah bencana penerbangan antariksa untuk melangkah maju ke depan dan merengkuh sukses yang semula tak dikira siapapun. Saat Apollo 1 terbakar pada 27 Januari 1967 TU dan menewaskan ketiga astronotnya, tak satupun mengira bahwa hanya dalam 17 bulan berikutnya Apollo 11 sukses mendaratkan Neil Armstrong dan Edwin Aldrin ke Bulan.

Referensi :

Spaceflight101.com, 2014, Picking up the Pieces – Antares Failure Investigation Begins.

Spaceflight101.com, 2014, Tragic End of Powered Test Flight – Virgin Galactic’s SpaceShipTwo Crashes.

Iklan

2 thoughts on “Bencana Ganda Penerbangan Antariksa, Meledaknya Roket Antares dan Pesawat Ulang-Alik SpaceShipTwo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s