Semburan Lumpur Pati dan Selat Muria yang Telah Mati

Warga RT 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) barangkali tak pernah menyangka upaya mereka untuk mendapatkan air bersih berlimpah guna mengatasi kekeringan akibat kemarau berkepanjangan ternyata berujung peristiwa menghebohkan Sabtu 1 November 2014 Tarikh Umum (TU) lalu. Tak hanya membikin gempar penduduk sedesa, bahkan hingga sekecamatan dan sekabupaten sekaligus. Semenjak dua minggu sebelumnya mereka telah berusaha mengebor sumur dalam, sebagai upaya menawarkah dahaga warga dari 110 KK (kepala keluarga) setelah sumur-sumur dangkal mereka mengering dan berubah menjadi kumpulan air keruh. Pengeboran pertama bersua dengan air asin, sementara pengeboran kedua yang mengambil lokasi berbeda hanya menghasilkan air berlumpur. Dan saat pengeboran ketiga dilakukan di halaman rumah pak Sabar, lumpur kembali ditemukan dan kali ini justru menyembur sangat tinggi.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Gambar 1. Saat air dan lumpur menyembur dari sumur hasil pengeboran yang sedang dikerjakan warga 01 RW 11 Dukuh Sarimulyo Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dalam kejadian yang dinamakan Semburan lumpur Pati. Semburan berlangsung selama 28 jam kemudian dan mengeluarkan gas yang didominasi metana. Sumber: Tribun Jogja, 2014.

Semburan terjadi mulai pukul 15:15 WIB kala pengeboran telah mencapai kedalaman 140 meter. Di hari pertama air bercampur lumpur menyembur setinggi sekitar 20 hingga 25 meter bersamaan dengan bau gas menyengat yang menyergap. Di hari kedua, tinggi semburan menurun menjadi sekitar 15 meter dengan air yang lebih jernih. Semburan akhirnya berhenti dengan sendirinya di kala petang hari kedua, yakni pada Minggu 2 November 2014 TU pukul 19:00 WIB. Selepas itu air tinggal mengalir saja tanpa menyembur. Meski demikian semburan air bercampur lumpur ini telah berdampak pada rumah-rumah penduduk yang berjarak hingga 20 meter dari titik semburan. Rumah-rumah itu sempat berhias timbunan lumpur setebal hingga 20 sentimeter. Tak pelak penduduk pun segera mengungsi semenjak hari pertama. terlebih setelah terdengarnya suara gemuruh dan desisan menyerupai kembang api yang dinyalakan.

Tanpa bisa dicegah, kegemparan pun merebak. Kekhawatiran pun terbit. Sebagian mengira peristiwa ini akan kian masif dan meluas seperti halnya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo) yang muncul semenjak 2006 TU silam dan tak menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti hingga kini. Kosakata semburan lumpur Pati pun bermunculan di laman-laman media massa maupun media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Metana

Tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI telah melakukan pengukuran lapangan sehari pasca semburan berhenti. Dalam penuturan pak Surono, Kepala Badai Geologi, air yang keluar dari sumur bor cenderung bersifat basa dengan pH 8,4 dan bersuhu rendah (yakni 31,1 derajat Celcius). Pengukuran komposisi gas dengan menggunakan radas Draeger memperlihatkan dominannya kadar gas metana, yakni maksimum 76 % LEL (low explosive level) dan rata-rata 35 % LEL. Gas-gas lain seperti karbondioksida, sulfurdioksida dan hidrogen sulfida absen/tak terdeteksi. Meski semburan sudah berhenti, namun tim menemukan di lokasi masih terjadi gelembung-gelembung gas berintensitas rendah.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Gambar 2. Api yang menyala dari mulut sumur hasil pengeboran di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo (juga di Jawa Tengah) yang terjadi pada 5 September 2013 TU silam. Semburan lumpur Pati pada dasarnya sama dengan semburan lumpur Butuh. Bedanya, gas yang menyembur di Butuh memang sengaja dibakar. Sumber: Urip Widodo, 2013.

Bila dominannya gas metana dipadukan dengan singkatnya durasi semburan (yakni hanya ~28 jam), maka jelas bahwa semburan lumpur Pati ini ditenagai oleh gas metana atau gas rawa. Sehingga kejadian ini lebih mungkin merupakan perulangan dari apa yang pernah terjadi di desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo lebih dari setahun silam, tepatnya pada 5 September 2013 TU. Nampaknya pengeboran itu menembus kantung gas metana bertekanan tinggi di dalam tanah. Sehingga gas metana pun mengalir deras ke permukaan tanah melalui lubang bor sembari membawa serta air dan butir-butir tanah yang menyertainya. Tekanan gas metana dalam semburan lumpur Pati nampaknya lebih besar dibanding dalam semburan lumpur Butuh, terlihat dari tingginya lumpur yang tersembur. Namun seperti halnya kasus Butuh, ukuran kantung gas metana ini nampaknya relatif kecil yang membuatnya cepat terkuras habis. Sehingga semburan pun berlangsung hanya dalam waktu yang relatif singkat saja. Meski demikian masih ada aliran gas metana ke permukaan, seperti terlihat dari gelembung-gelembung gas berintensitas rendah yang ditemukan tim.

Sumur sedalam sekitar 140 meter yang dibor warga Sarimulyo itu nampaknya telah menembus lapisan sedimen formasi Bulu. Formasi ini terdiri dari batu gamping berpasir dengan sisipan napal di antaranya. Formasi ini menyebar cukup luas mulai dari dataran Rembang-Pati di sebelah barat hingga Madura di sebelah timur, dengan ketebalan antara 50 hingga 200 meter. Berdasarnya kandungan fosilnya, diketahui batuan-batuan sedimen dalam formasi ini diendapkan di dataran pesisir purba (zona litoral). Hal ini diperlihatkan pula oleh sifat air semburan yang basa dan bersuhu rendah. Ini menandakan air semburan tidak berasal dari lingkungan geotermal sehingga tidak mendapatkan pengaruh gunung berapi. Sebab air yang berasal dari lingkungan geotermal umumnya bersuhu tinggi (lebih dari 40 derajat Celcius) dan cenderung asam seiring tingginya kadar silikat dan sulfat. Sedangkan air yang cenderung basa umumnya berasal dari lapisan-lapisan batuan sedimen yang dahulunya diendapkan di laut sehingga kaya akan logam khususnya Natrium.

Kawasan pesisir purba tersebut nampaknya berawa-rawa. Seiring waktu, kawasan ini berubah menjadi daratan akibat sedimentasi masif disertai gerak pengangkatan kerak bumi setempat. Sehingga tumbuh-tumbuhan yang merajai rawa-rawa tersebut perlahan-lahan tertimbun di bawah sedimen tebal. Saat membusuk, gas metana pun terlepaskan. Namun berada jauh di dalam tanah, gas-gas metana ini terperangkap tanpa tak bisa keluar menuju permukaan tanah. Terbentuklah kantung-kantung gas metana yang bercampur bersama air bawah tanah. Saat kantung semacam ini tertembus, baik oleh sebab alamiah maupun aktivitas manusia, gas pun mengalir keluar sembari menyeret air dan partikel-partikel tanah yang dilintasinya.

Meski sempat mengkhawatirkan, semburan lumpur Pati ini nampaknya membawa berkah bagi warga Sarimulyo. Sebab pengeboran tersebut nampaknya menembus akuifer air bawah tanah dalam yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk berbagai keperluan (termasuk air minum) dalam jumlah relatif besar. Penawar dahaga yang selama ini dicari-cari nampaknya sudah ditemukan. Kabar baiknya lagi, dengan gas metana sebagai pendorong utama semburan ini, maka semburan lumpur Pati takkan berkembang meluas hingga menjadi bencana layaknya semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).

Selat Muria

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada masa 1.500 tahun silam. Nampak selat ini membentang luas di antara Semarang hingga Pati, sekaligus memisahkan pulau Jawa dengan kompleks Gunung Muria (pulau Muria). Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan berada di pesisir selat ini. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Kejadian semburan lumpur Pati menjadi pengingat bagi kita untuk menguak sejarah kawasan ini hingga beribu tahun silam, khususnya dalam ranah geologi. Dahulu kawasan ini adalah rawa-rawa di pesisir purba yang menjadi bagian dari sebuah laut dangkal yang membentang dari kota Semarang sekarang di sebelah barat hingga ke kota kecil Lasem sekarang di sebelah timur. Maka jika kini kita berkendara menyusuri jalan raya utama penghubung kota-kota Semarang, Demak, Kudus, Pati hingga Rembang, bayangkanlah bahwa hingga sekitar 1.500 tahun silam daratan yang mengalasi jalan raya ini belumlah ada. Semuanya masih berupa perairan laut dangkal yang terhubung langsung dengan Laut Jawa purba. Kini kita menyebut perairan dangkal purba ini sebagai Selat Muria. Disebut selat, sebab ia memisahkan daratan utama pulau Jawa purba di sebelah selatan dengan sebuah gunung berapi laut besar yang menyembul di atas paras air laut rata-rata sebagai pulau vulkanis, sebut namanya pulau Muria. Kini pulau vulkanis itu telah menyatu dengan daratan pulau Jawa menjadi semenanjung Muria. Sebentuk bentang lahan gunung berapi padam yang telah tererosi tingkat dewasa di semenanjung ini pun dikenal sebagai Gunung Muria.

Selat Muria dan Gunung Muria adalah salah satu keajaiban geologis di kawasan ini. Tariklah sepasang garis imajiner yang diposisikan sejajar dengan garis pantai utara pulau Jawa dari lokasi Gunung Muria, masing-masing ke arah barat dan timur, akan kita lihat bahwa di sepanjang lintasan garis imajiner ini, tak ada satupun gunung berapi yang terlihat, entah yang sudah padam dan tererosi (baik tingkat dewasa maupun lanjut) apalagi yang masih aktif. Ya. Gunung Muria adalah gunung berapi yang menyendiri dan terletak paling utara di pulau Jawa, atau paling jauh dari zona subduksi.

Dalam penuturan pak Awang Satyana, gunung berapi ini muncul sebagai imbas dari relatif lemahnya kerak bumi di sini akibat eksistensi patahan besar Kebumen-Muria-Meratus. Patahan besar sepanjang lebih dari 1.000 kilometer yang mengambil lintasan barat daya-timur laut ini aktif sekitar 65 juta tahun silam. Ia memahat bumi Jawa Tengah demikian rupa sehingga mengangkat daratan setempat yang melahirkan Pegunungan Karangbolong dan kawasan geologi Karangsambung (keduanya di Kebumen) sekaligus menenggelamkan segmen Pegunungan Selatan di sini. Sehingga bentang lahan di antara Bantul hingga Cilacap sangat bertolak belakang dibanding kawasan pesisir selatan pulau Jawa pada umumnya, karena di sini berupa dataran rendah. Patahan besar ini telah lama mati dalam berjuta-juta tahun silam, namun jejaknya memungkinkan magma untuk menyeruak naik dan keluar di permukaan Bumi sebagai gunung berapi. Termasuk di Muria.

Pada masanya pulau Muria terdiri dari tiga buah gunung berapi masing-masing Gunung Muria yang besar beserta Gunung Genuk dan Gunung Patiayam (keduanya relatif berukuran kecil). Gunung-gunung berapi ini mulai terbentuk sekitar 2 juta tahun silam dan terus aktif memuntahkan magmanya menjadi lava dan lahar hingga masa setidaknya 320.000 tahun yang lalu. Mengikuti naik turunnya paras air laut akibat siklus glasial-interglasial dalam 650.000 tahun terakhir, Selat Muria pun telah berulang-kali mengering dan kemudian terisi air laut kembali. Sehingga pulau Muria pun telah sedikitnya 12 kali terpisah dan menyatu lagi dengan daratan utama pulau Jawa purba. Karena itu tak mengherankan bila di sini dijumpai fosil-fosil makhluk hidup masa silam. Termasuk diantaranya fosil Homo erectus yang diduga berasal dari kurun 850.000 tahun yang lalu yang dijumpai di situs Patiayam (sebelah timur laut kota Kudus sekarang).

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Gambar 4. Gambar 3. Selat Muria (warna biru muda) pada 500 tahun silam di masa kerajaan Demak. Dibanding 1.000 tahun sebelumnya, selat ini telah lebih sempit akibat sedimentasi besar-besaran. Hanya di ujung barat selat ini masih relatif luas dan nampak menyerupai corong (estuaria). Demak dan Juwana merupakan dua pelabuhan penting di selat ini. Lokasi semburan lumpur Pati di desa Wotan kini sudah berada di daratan hasil sedimentasi Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth dan data dari Noerwidi, 2002.

Hingga setidaknya 1.500 tahun silam, Selat Muria ini masih ada dan masih cukup lebar. Di puncak kejayaan kerajaan Medang (Mataram Hindu), selat ini menempati posisi cukup penting seiring diletakkannya pelabuhan utama kerajaan di sini. Tepatnya di ujung barat, yakni di kawasan Bergota (bagian dari kota Semarang) sekarang. Namun pada masa itu pun orang-orang Medang mulai berhadapan dengan tantangan alamiah Selat Muria, berupa sedimentasi yang sangat intensif. Dengan garis pantai pulau Jawa bagian utara bergeser rata-rata 100 meter per tahun, sulit untuk mempertahankan pelabuhan Bergota bagi kapal-kapal berukuran besar. Mundurnya peran pelabuhan Bergota ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memaksa Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, di samping faktor-faktor lain. Sedimentasi yang masif pun membuat Selat Muria kian menyempit.

Hingga sekitar 500 tahun silam, tepatnya di penghujung era kerajaan Majapahit, Selat Muria masih ada namun telah demikian sempit sehingga mirip sungai besar. Atau mirip dengan terusan. Sisanya telah tertimbun baik sebagai daratan yang kering maupun lahan rawa yang setengah basah. Hanya ujung baratnya yang masih relatif lebar sehingga membentuk semacam corong (estuaria). di sisi selatan corong ini terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi tanaman gelagah beraroma wangi, membuat kawasan ini dikenal dengan nama Gelagah Wangi. Kelak di awal abad ke-16 TU pangeran Jimbun (atau Jin bun) mendirikan pemukiman yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, kerajaan Demak atau Demak Bintara. Sang pangeran pun menjadi raja pertamanya yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, yang populer dengan sebutan Raden Fatah atau Raden Patah. Sebuah pelabuhan besar pun didirikan di sini, sementara di ujung timur Selat Muria pun telah berdiri pelabuhan Juwana. Maka Selat Muria, meski sempit, kian ramai dihilir mudiki perahu-perahu yang mengangkut aneka barang dan orang. Keramaian ini terus berlangsung meski di kemudian hari kerajaan Demak hancur dan pusat kekuasaan berpindah ke Pajang, untuk kemudian ke Mataram (Islam).

Namun keramaian ini harus purna sekitar seabad setelah Demak sirna. Sedimentasi yang kian massif membuat Selat Muria akhirnya menyerah dan mati. Pada pertengahan abad ke-17 TU selat yang telah menyempit itu sudah terputus, tertutup oleh sedimen di antara Demak dan Pati sekarang. Karenanya pada tahun 1657 TU Tumenggung Pati mengumumkan rencananya untuk menggali kembali sebuah terusan yang menghubungkan Demak dan Pati, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Selat Muria dan tetap menjaga arus lalu lintas perdagangan lewat laut. Upaya ini nampaknya tak berhasil. Selat Muria tetap mati, pun demikian pelabuhan-pelabuhan di sepanjang alurnya termasuk pelabuhan Demak. Peran pelabuhan Demak kemudian diambil-alih oleh pelabuhan Jepara. Bagian Selat Muria lainnya yang masih tersisa pun lama-kelamaan tertutup juga oleh sedimentasi yang masif. Pulau Muria pun kini bersatu dengan daratan utama pulau Jawa sebagai semenanjung Muria.

Matinya Selat Muria membuat rawa-rawa yang tersebar di sepanjang pesisirnya menjadi tertimbun sedimen. Gas-gas metana yang diproduksi pun membentuk kantung-kantung gas metana dangkal di dalam tanah. Saat ia tertembus, maka gas pun mengalir keluar. Seperti dalam semburan lumpur Pati barusan.

Referensi:

Surono. 2014. komunikasi personal.

Satyana. 2009. Kerajaan Demak dan Geologi Selat Muria. Arsip Iagi.net.

Noerwidi & Susanto. 2012. Sangiran-Patiayam Perbandingan Karakter Dua Situs Plestosen di Jawa, dalam Kehidupan Purba Sangiran. Jakarta, Pusat Arkeologi Nasional.

Bronto & Mulyaningsih. 2007. Gunung Api Maar di Semenanjung Muria. Jurnal Geologi Indonesia vol. 2 no. 1 (Maret 2007), 43-54.

Adhi N. 2014. Semburan di Pati Berbeda dengan di Sidoarjo. AntaraNews.

Iklan

5 thoughts on “Semburan Lumpur Pati dan Selat Muria yang Telah Mati

  1. alhamdulillaah tdk sama dg lapindo. bgmanapun alam telah membentuk peradaban manusia ya. btw, sedimentasi yg dimaksud itu krn aktivitas manusia atau alam semata?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s