Longsor dan Banjir Alian (Kebumen) November 2014, Sepotong Kisah Bumi dari Lembah Kedungbener

Bencana itu bermula pada Minggu malam 23 November 2014 Tarikh Umum (TU). Setelah diguyur hujan deras selama berjam-jam, beberapa titik lereng terjal di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) longsor. Ada sedikitnya enam titik tanah longsor yang tersebar di tiga desa, masing-masing Desa Krakal, Kalirancang dan Kalijaya. Longsor terparah terjadi di salah satu titik Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa. Secara keseluruhan tercatat 17 rumah rusak berat terkena material longsoran sementara 7 lainnya dalam kondisi rentan terkena longsor susulan. Material longsoran dari dua titik longsor juga sempat menumpuk di jalan raya, memutus urat nadi utama penghubung kota kecamatan Alian dengan ibukota Kabupaten Kebumen.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Gambar 1. Kiri: salah satu titik longsor di Desa Krakal yang merenggut satu korban jiwa pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Kanan: genangan air di jalan raya utama yang menghubungkan kecamatan Alian dengan ibukota kabupaten tepatnya pada titik di sebelah timur pemandian air panas Krakal, seiring banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU. Sumber: twitter@LintasKebumen, 2014.

Seakan belum cukup, dua hari kemudian bencana berbeda namun disebabkan oleh hal yang sama kembali datang menerpa. Setelah kawasan hulunya diguyur hujan deras selama 2 hingga 3 jam, Sungai Kedungbener meluap hebat pada Selasa sore 25 November 2014 TU. Di sejumlah titik tanggul sungai ini jebol, melimpahkan air bah nan deras kemana-mana menciptakan genangan sedalam 1 sampai 1,5 meter di area yang luas. Tercatat delapan desa dari dua kecamatan terendam banjir mendadak ini. Kedelapan desa tersebut berada di alur lembah Kedungbener, masing-masing desa Krakal, Kalirancang, Wonokromo, Sawangan, Seliling, Surotrunan, Bojongsari (semuanya di Kecamatan Alian) dan Sumberadi (Kecamatan Kebumen). Banjir ini memang berlangsung relatif singkat. Tak lebih dari tujuh jam sejak awal mulanya air sudah menyurut, sehingga tergolong banjir kilat banjir bandang (flash flood). Namun ia mendatangkan petaka yang luar biasa. Memang tak ada korban jiwa maupun luka-luka yang ditimbulkannya, namun kerugian materialnya melangit. Tak kurang dari 1.281 buah rumah di delapan desa tersebut terendam banjir, sebagian diantaranya rusak parah. Sejumlah bangunan sekolah beserta fasilitas pendidikannya pun turut rusak berat. Angka kerugian akibat kedua bencana tersebut mencapai sedikitnya lima milyar rupiah.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir kilat Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 2. Titik-titik dimana tanah longsor (EL: earth landslide) terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU serta genangan akibat banjir bandang Selasa sore 25 November 2014 TU di dalam lembah Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Sesar Kedungbener

Bencana banjir dan tanah longsor bagi kecamatan yang memiliki lembah sempit dialiri sungai Kedungbener ini sejatinya bukan hal yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir melanda lembah ini nyaris setiap dua tahun sekali. Walaupun bencana banjir kilat banjir bandang 25 November 2014 TU ini merupakan yang terparah dibanding bencana sejenis tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian setiap bencana tersebut cenderung terbatasi di sepanjang lembah tersebut saja dan relatif tak melebar keluar darinya. Mengapa bisa seperti itu?

Jika anda sedang berada di kota Kebumen, meluncurlah ke arah timur melewati Jalan Sarbini yang ramai. Begitu tiba di pertigaan Kawedusan teruslah bergerak ke timur hingga sekitar 3 kilometer lagi, kali ini melintasi Jalan Bumidirja yang sempit meski telah beraspal cukup baik. Saat perjalanan sampai di tengah-tengah kawasan persawahan yang luas, sempatkanlah berhenti sejenak dan arahkan pandangan ke utara. Di latar belakang lahan persawahan yang luas membentang terlihat jajaran bukit-bukit yang sambung menyambung sebagai bagian dari Pegunungan Serayu Selatan. Terdapat sebuah celah yang cukup lebar di antara bukit-bukit tersebut. Celah inilah yang dikenal sebagai lembah Kedungbener. Inilah lembah dimana Sungai Kedungbener menghilir ke selatan dari mata airnya di perbukitan Karangsambung sembari mengumpulkan air dari anak-anak sungainya.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Gambar 3. Pemandangan lembah Kedungbener dari lokasi pembangunan Musholla wakaf tunai BMT Sejahtera Umat di Desa Surotrunan. Di latar belakang nampak sesar Kedungbener dengan graben dan horst-nya yang khas. SUmber: BMT Sejahtera Umat, 2014.

Lembah Kedungbener adalah sebuah lembah yang relatif lurus berarah utara-selatan sepanjang sekitar 8 kilometer yang membentang mulai dari sisi timur kota Kebumen hingga ke kawasan perbukitan di Karangsambung. Lembah ini merupakan ekspresi permukaan Bumi dari sebuah sesar (patahan/fault) yang saat ini dinamakan sesar Kedungbener atau sesar Kedungkramat. Sesar ini membentang sepanjang sekitar 12 kilometer dengan arah utara-selatan dan terbentuk tak kurang dari 2 juta tahun silam sebagai patahan turun (normal fault). Maka saat kita menyusuri lembah ini ke utara, bayangkanlah bahwa sekitar 2 juta tahun silam bagian kerak bumi di sisi kiri kita mendadak turun (ambles) menjadi lembah sesar (graben). Sebaliknya semua di sisi kanan kita tetap bertahan dan menjadi bukit sesar (horst).

Dalam geologi, sesar yang aktif merupakan zona sumber gempa yang potensial. Sebuah sesar aktif senantiasa bergerak pada kecepatan tertentu meski hanya sebesar beberapa milimeter per tahun sebagai konsekuensi dari gaya-gaya yang bekerja pada batuan di sepanjang sesar. Pada suatu titik ia dapat tertahan demikian rupa sehingga melambat atau bahkan malah tak bergerak sama sekali hingga bertahun lamanya. Namun demikian gaya-gaya tersebut tetap bekerja secara terus-menerus. Sehingga timbul akumulasi energi dan gaya. Pada suatu saat, akumulasi gaya tersebut telah demikian besarnya sehingga melampaui daya dukung maksimum batuannya. Terjadilah pematahan secara tiba-tiba di sepanjang sesar dan energi yang tersimpan pun dilepaskan seketika sebagai getaran permukaan Bumi, yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Apakah sesar Kedungbener berupa sesar aktif? Hingga saat ini kita belum mengetahuinya. Di masa silam Kebumen memang beberapa kali diguncang gempa bumi tektonik dengan intensitas getaran yang tinggi. Namun belum tentu gempa tektonik tersebut berasal dari pematahan segmen batuan di sesar Kedungbener. Terlebih Kebumen berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia (Sunda) dan Australia yang berada di lepas pantai selatan Pulau Jawa, kawasan yang penuh dengan sumber gempa tektonik dangkal dan kuat/besar. Yang jelas keberadaan sesar inilah yang membentuk lembah Kedungbener sebagai sebuah celah sempit di dalam Pegunungan Serayu Selatan.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Gambar 4. Panorama lahan sawah yang luas di lembah Kedungbener dan ekspresi sesar Kedungbener di latar belakangnya dengan graben dan horst sebagai ciri khasnya, diabadikan dari Desa Seliling. Sumber: Seliling.com, 2014.

Sesar Kedungbener pula yang bertanggung jawab atas mataair panas Krakal, yang muncul dalam kurun kurang dari dua abad terakhir. Mataair panas dengan luah (debit) 10 liter per menit, suhu air rata-rata 40 derajat Celcius dan tingkat keasaman (pH) 8 itu kini dikembangkan menjadi Pemandian Air Panas Krakal, salah satu obyek wisata unik andalan Kabupaten Kebumen. Air panas tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas vulkanik, namun berasal dari reservoir alamiah yang terletak di kedalaman 1,1 kilometer dari permukaan tanah sejauh sekitar 500 meter ke utara-barat laut dari lokasi Pemandian Air Panas. Ia mendapatkan panasnya dari magma yang mencoba menyelusup lewat salah satu titik di sesar Kedungbener namun terhenti di kedalaman 8 kilometer dari permukaan tanah dan membeku menjadi granit. Panas yang masih tersisa itulah yang memanaskan air di reservoir. Selain keluar di Pemandian Air Panas, diduga reservoir yang sama juga memasok air panas dengan luah rendah ke dua lokasi, masing-masing ke Plumbon (hulu sungai Kedungbener) dan bendung Kaligending. Survei geofisika pada gelombang elektromagnetik VLF (very low frequency) juga memperlihatkan reservoir yang sama pun memasok air panas ke bawah kantor kecamatan Alian. Hanya saja sampai kini di lokasi tersebut belum dijumpai jalan keluar ke permukaan tanah.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Gambar 5. Titik-titik mataair panas (warna kuning) di Krakal dan sekitarnya serta perkiraan lokasi reservoir air panasnya berdasarkan survei geofisika. Terdapat tiga titik mataair panas namun hanya satu yang memiliki luah (debit) besar dan telah dikembangkan menjadi obyek wisata pemandian air panas Krakal. Survei geofisika juga menunjukkan adanya konsentrasi air panas di bawah lokasi kantor kecamatan Alian, namun hingga kini belum menemukan jalan keluar ke permukaan tanah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps dan survei geofisika tim UGM, 2000.

Sesar Kedungbener muncul di kawasan yang secara tektonik telah demikian tercabik-cabik, sebagai bagian dari sejarah daratan Kebumen purba yang istimewa. Terbentuk jauh di kedalaman samudera di dekat palung laut, yang adalah tempat lempeng Australia purba bersubduksi dengan lempeng Eurasia purba, bebatuan Kebumen purba ditekan oleh gaya-gaya tektonik yang teramat kuat hingga tercabik-cabik begitu dahsyat. Di kemudian hari segenap bebatuan terangkat seiring dinamika pembentukan pulau Jawa dan lama kelamaan muncul ke atas permukaan laut. Pengangkatan intensif terjadi tatkala Jawa Tengah bagian selatan menjadi ajang koalisi dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus yang berarah timur laut-barat daya dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang yang berarah barat laut-tenggara. Aktivitas intensif kedua sesar besar tersebut, sebelum kemudian mati berjuta tahun silam, yang disusul dengan vulkanisme intensif yang mendongkrak bagian selatan pulau Jawa membuat bebatuan tersebut terangkat hingga lebih dari 2.000 meter dan membentuk wajah Kabupaten Kebumen seperti sekarang.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Gambar 6. Gambaran sederhana irisan kulit Bumi di lokasi mataair panas Krakal, yang keberadaannya dipengaruhi oleh sesar Kedungbener. Reservoir air panas bersuhu > 300 derajat Celcius terletak pada kedalaman 1.100 meter dari permukaan tanah. Ia mengalirkan air panasnya ke permukaan melalui kulit bumi yang lemah dan lebih mudah ditembus di lokasi sesar Kedungbener. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth; survei geofisika tim UGM, 2000 dan survei Lemigas, 1986.

Sesar Kedungbener mengiris bebatuan tercabik-cabik itu, yang secara umum terbagi ke dalam satuan batuan sedimen formasi Waturanda (utara) dan Penosogan (selatan). Formasi Waturanda berumur 26 hingga 20 juta tahun silam, terdiri atas batu pasir vulkanik dan breksi vulkanik yang diendapkan di lingkungan laut dalam. Bebatuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat kasar. Sementara formasi Penosogan yang berumur 20 hingga 12 juta tahun silam tersusun oleh batu pasir, batu lempung, tuff, napal dan gamping kalkarenit setebal sekitar 1.000 meter yang diendapkan di lingkungan laut dangkal. Batuan dalam formasi ini secara kasat mata terlihat lebih halus. Meski telah membatu, namun cabikan-cabikan tektonik masa silam membuat bebatuan di sini relatif lebih lemah. Di formasi Penosogan, itu membuatnya mudah melapuk dan terburai kembali menjadi butir-butir pasir dan lempung. Hampir segenap kecamatan Alian ditutupi oleh sedimen formasi Waturanda yang permukaannya sudah melapuk membentuk tanah pelapukan setebal hingga 2 meter atau lebih. Keberadaan sesar kedungbener membuat bebatuan yang lapuk ini menjadi lebih riskan, karena sesar membuat bentang alam setempat menjadi berhias lereng-lereng dengan kondisi setengah terjal hingga terjal.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 7. Peta zona kerentanan gerakan tanah untuk Kecamatan Alian dan sekitarnya, yang didominasi oleh zona rentan gerakan tanah menengah (warna kuning). Lingkaran-lingkaran hitam menunjukkan titik-titik tanah longsor pada Minggu malam 23 November 2014 TU. Sumber: PVMBG, 2014.

Tak heran jika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkedudukan di Bandung menempatkan mayoritas wilayah Kecamatan Alian ke dalam zona rentan gerakan tanah menengah. Dengan demikian gerakan tanah, baik berupa tanah longsor maupun tanah merayap (soil creep), berpeluang terjadi di lembah sungai, tebing curam tepi jalan maupun gawir saat hujan lebat. Itulah yang terjadi pada Minggu malam 23 November 2014 TU kemarin

Lingga dan Yoni Sumberadi

Selain potensi bencana gerakan tanah, lembah Kedungbener juga memiliki potensi bencana lainnya yang relatif permanen, yakni banjir. Banjir tersebut baik berupa banjir kilat banjir bandang singkat maupun banjir yang genangannya hingga berhari-hari lamanya. Sebagai lembah sempit yang dipagari bukit-bukit di kanan-kirinya dan dialiri sungai Kedungbener beserta sejumlah anak sungainya, praktis air bah akan terkurung di dalam lembah ini semata begitu sungai Kedungbener meluap hebat, entah akibat faktor apapun. Tetapi sejak kapan lembah ini menjadi daerah langganan banjir? Salah satu jawabannya mungkin dapat ditemukan di peninggalan bersejarah di ujung selatan lembah ini.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Gambar 8. Batuan sedimen formasi Waturanda yang terlihat kasar berdampingan dengan batuan formasi Penosogan yang terlihat lebih halus, dalam bidang kontak yang salah satunya bisa dilihat di tepi sungai Karanggayam. Seluruh titik tanah longsor dalam bencana Minggu malam 23 November 2014 TU di Kecamatan Alian tersusun dari batuan sedimen formasi Penosogan dengan tanah pelapukan yang tebal. Sumber: Satyana, 2013.

Datanglah ke gerbang timur kota Kebumen. Dari gerbang berwarna hitam ini, beringsutlah sedikit ke barat hingga bertemu pertigaan jalan yang diatur lampu lalu lintas (traffic light). Inilah lokasi ujung timur jalur lingkar selatan kota Kebumen , salah satu urat nadi utama lalu lintas jalur selatan pulau Jawa. Dari pertigaan ini sejatinya terdapat satu jalan kecil beraspal yang menjulur ke utara, namun bukan bagian dari jalur lalu lintas utama di kota Kebumen. Bila anda hendak menyusuri jalan kecil ini, hati-hati tatkala menemui perlintasan kereta api karena menanjak tinggi, tak berpalang pintu dan sudah beberapa kali menelan korban jiwa. Dari perlintasan horor ini, teruskan perjalanan anda ke utara melewati kawasan persawahan yang luas dengan sungai Kedungbener membujur di sisi timur jalan. Setelah melewati sejumlah pertigaan, anda akan tiba di pertigaan yang salah satu jalannya berarah ke timur. Inilah jalan masuk ke desa Sumberadi, atau dikenal juga sebagai Somalangu, yang tergolong kawasan kota Kebumen bagian timur. Di sinilah berdiri pondok pesantren tertua seantero Kebumen, yakni pesantren al-Kahfi. Tempat ini jugalah episentrum gerakan Angkatan Oemat Islam (AOI), badan kelasykaran terbesar seantero Jawa Tengah bagian selatan di masa perang kemerdekaan namun berubah menjadi buruan militer pasca pengakuan kedaulatan seiring kesalahpahaman.

Sekitar 200 meter di sebelah barat pesantren tua inilah tergeletak peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu dalam rupa lingga dan yoni, yang kini ditempatkan di dalam kompleks TK (taman kanak-kanak) Sumber Hikmah Sumberadi. Terdapat dua buah yoni berukuran besar yang terbuat dari batu andesit. Sebuah diantaranya memiliki cerat (ujung saluran air) yang ditopang arca kepala ular dan kura-kura, menyerupai yoni di candi utama kompleks percandian Gunung Wukir (Canggal), Kabupaten Magelang. Sementara cerat yoni satunya lagi polos tanpa topangan apapun. Di sekitar kedua yoni terdapat enam patok batu yang adalah lingga, dengan dasar balok, bagian tengah berbentuk segi delapan dan bagian atas membulat seperti tabung. Seperti halnya yoni, lingga-lingga tersebut pun terbuat dari batu andesit. Selain lingga dan yoni, hingga dua dasawarsa silam masih terdapat pecahan-pecahan batubata berukuran besar mirip dengan batubata pada candi-candi langgam Jawa Timuran.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Gambar 9. Sepasang benda peninggalan sejarah berupa yoni yang terdapat di situs arkeologis Desa Sumberadi. Di situs yang sama juga dijumpai enam buah lingga dan batubata khas candi langgam Jawa Timuran. Ini indikasi bahwa kawasan ini telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU. Sumber: Hindarto, 2013.

Apa makna peninggalan bersejarah ini dalam upaya kita memahami banjir di lembah Kedungbener?

Baik yoni maupun lingga merupakan peninggalan bersejarah bernafaskan Hindu. Sebuah lingga dibuat sebagai penghormatan atas Dewa Syiwa, salah satu trimurti dalam Hindu. Sementara yoni dibuat guna menghormati Dewi Parwati, istri Syiwa. Lingga yang disatukan dengan yoni, dimana bagian bawah lingga dapat dimasukkan dengan pas dalam lubang yoni, menjadi artefak pemujaan yang melambangkan kesuburan. Lingga dan yoni pun kerap dijumpai di situs-situs arkeologis bangunan pemujaan yang kita kenal sebagai candi. Menarik sekali bahwa tepat di sebelah utara desa Sumberadi terdapat dua desa yang sama-sama berawalan “candi”, yakni desa Candimulyo dan desa Candiwulan. Awalan “candi” di kedua desa mungkin merupakan toponimi yang merujuk ke bangunan pemujaan tersebut, meski sejauh ini belum sebutir batu candinya yang telah ditemukan. Walaupun didirikan dengan tujuan berbeda, namun sebuah candi selalu dijumpai berdiri di atas lahan yang sangat subur. Baik lingga dan yoni maupun candi di satu lokasi menandakan telah adanya masyarakat yang terorganisir yang tak hanya sanggup membangun benda/bangunan tersebut namun juga memelihara/mengelolanya sepanjang mereka masih bermukim disana.

Lingga dan yoni Sumberadi nampaknya dibangun oleh masyarakat setempat yang telah terorganisir pada masanya sebagai persembahan mereka atas anugerah kesuburan daerah ini. Perikehidupan mereka nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, dengan sawah/ladang yang subur. Kesuburan ini ditunjang oleh lokasinya di lembah Kedungbener. Pada umumnya kawasan lembah sungai terkenal subur karena selalu memperoleh pasokan tanah pucuk (topsoil) secara rutin. Tanah pucuk itu yang diendapkan ke kawasan ini dari hutan-hutan di hulu sungai setiap kali sungai Kedungbener banjir. Banjir hanya berlangsung beberapa saat saja. Setelah surut, tanah yang diendapkannya dapat segera diolah untuk tanaman pertanian tadah hujan berumur pendek. Panen pun dapat dipetik sebelum banjir berikutnya (yang membawa tanah pucuk baru) datang menerjang.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan "candi" dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Posisi situs arkeologis Sumberadi yang mengandung peninggalan bersejarah dalam bentuk lingga dan yoni beserta dua desa didekatnya yang berawalan “candi” dalam lingkup lembah Kedungbener. Peninggalan bersejarah tersebut mengindikasikan dataran rendah di ujung selatan lembah Kedungbener telah dihuni masyarakat yang terorganisir setidaknya semenjak abad ke-8 atau ke-10 TU yang nampaknya bertumpu pada dunia pertanian, memanfaatkan kesuburan tanah lembah. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Walaupun tidak sama persis, namun kemiripan yoni Sumberadi dengan yoni di candi utama Gunung Wukir memberi indikasi yoni Sumberadi mungkin juga berasal dari abad ke-8 Tarikh Umum (TU). Meski tidak menutup kemungkinan ia berasal dari masa yang lebih muda, misalnya dari langgam Jawa Timuran (abad ke-11 TU atau lebih). Cukup menarik bahwa kala pesantren al-Kahfi didirikan sekitar tahun 1475 TU (berdasarkan prasasti yang masih tersisa), pendirinya (Syaikh Abdul Kahfi Awwal) masih berjumpa dengan masyarakat setempat pemeluk Hindu. Legenda lokal menyebutkan Syaikh Abdul Kahfi berjumpa dengan dua pemimpin masyarakat setempat, yakni Resi Candra Tirto dan resi Dhanu Tirto. Syaikh berhasil menundukkan keduanya hingga memungkinkan berdirinya pesantren al-Kahfi.

Bila legenda tersebut benar, nampaknya ujung selatan lembah Kedungbener terus dihuni masyarakat terorganisir pemeluk Hindu hingga abad ke-15 TU, sebelum kemudian bertransformasi menjadi masyarakat pemeluk Islam sampai sekarang. Maka, lembah Kedungbener (khususnya ujung selatannya) nampaknya telah dimukimi manusia paling tidak semenjak abad ke-8 TU hingga sekarang, atau sudah 13 abad lamanya. Sepanjang waktu itu mereka bertumpu pada dunia pertanian tadah hujan dan baru mengenal irigasi teknis belakangan saja, seperti halnya dunia pertanian di Pulau Jawa pada umumnya. Nampaknya, meski hanya berupa pertanian tadah hujan, namun kesuburan lahan setempat seiring mengendapnya tanah pucuk lewat banjir sungai Kedungbener membuat produksinya mampu menopang perikehidupan secara berulang-ulang hingga merentang masa. Jika memang demikian adanya, maka sebelum abad ke-20 TU banjir sungai Kedungbener justru menjadi berkah bagi manusia yang tinggal di lembahnya.

Reboisasi

Namun selepas abad ke-20 TU, peristiwa yang sama menjadi musibah bagi penduduk. Termasuk pada 25 November 2014 TU kemarin. Banjir kilat banjir bandang singkat itu mengejutkan mengingat hujan deras yang memicunya berlangsung relatif singkat dan hanya terjadi di kawasan yang relatif sempit di hulu sungai Kedungbener, yakni mencakup Kecamatan Alian dan Kecamatan Karangsambung. Citra satelit cuaca MTSAT kanal inframerah hari itu memperlihatkan curah hujan di Jawa Tengah bagian selatan pada pukul 19:00 WIB sekitar 10 mm/jam, yang masih tergolong curah hujan normal. Sementara saksi mata menyebut hujan yang cukup deras berlangsung tak lebih dari 3 jam di sore harinya. Sungai Kedungbener merupakan anak sungai terbesar dari Sungai Lukulo, sungai utama di Kabupaten Kebumen. Sebagai anak sungai terbesar, Sungai Kedungbener memiliki sub daerah aliran sungai (sub-DAS) tersendiri, yang luasnya 22.812 hektar. Jika dianggap hujan terjadi selama 5 jam berturut-turut saja dengan curah hujan rata-rata dianggap 10 mm/jam dan menerpa sepertiga luas sub-DAS Kedungbener (setara 6.843 hektar) khususnya di hulunya, maka air yang tercurah mencapai lebih dari 3 milyar liter. Bila daya serap tanah di hulu rendah, entah oleh faktor apapun, tak heran jika air sebanyak itu justru lari ke Sungai Kedungbener dan anak-anak sungainya. Banjir kilat banjir bandang singkat pun tak terelakkan.

Banyak faktor yang membuat sebuah banjir kilat banjir bandang terjadi di sebuah lembah sungai. Kerusakan hutan di kawasan hulu menjadi salah satunya. Dan hutan di hulu sungai Kedungbener banyak yang tergolong hutan kritis atau bahkan sangat kritis. Penghutanan kembali (reboisasi) menjadi hal yang mutlak, agar sebagian air hujan yang turun di hulu sungai ini dapat terserap ke dalam tanah dan bukannya lari sebagai air permukaan yang langsung masuk ke sungai maupun anak-anak sungainya. Faktor lainnya adalah wajah sungai Kedungbener sendiri yang sudah mendangkal.

Sudah seharusnya pemerintah Kabupaten Kebumen menyelenggarakan upaya reboisasi tersebut sekaligus juga tetap menjaga upaya-upaya merawat sungai dengan mengeruk sedimen yang menumpuk di sepanjang alur sungai serta memperbaiki tanggul-tanggul yang telah menipis dan kritis. Namun pemerintah Kabupaten Kebumen tidak bisa melangkah sendirian. Partisipasi masyarakat Kabupaten Kebumen, khususnya yang bermukim di sepanjang lembah kedungbener, pun perlu digalakkan dalam rangka penyelamatan lembah tersebut bagi masa mendatang. Khususnya dalam hal reboisasi. Gerakan reboisasi lembah Kedungbener dapat diintegrasikan dengan sejumlah upaya kreatif. Misalnya di dunia pendidikan dasar/menengah, tiap tahun ajaran baru bermula para siswa (baik siswa baru maupun siswa yang naik kelas) bisa diminta menyiapkan bibit sebatang pohon berkayu guna ditanam bersama-sama sekolah (atau beberapa sekolah) di lokasi hutan kritis pada waktu tertentu yang telah ditentukan sebelumnya.

Referensi :

PVMBG. 2014. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, 25 November 2014.

Asikin. 1992. Peta Geologi Lembar Kebumen. Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM.

Ma’rufin Sudibyo & Duma Rahmat Artanto. 1995. Sumber Air Panas Krakal Bukan Gejala Pasca Vulkanik. Karya Ilmiah dalam LKIR-LIPI 1995.

Utama dkk. 2012. Green Field Geothermal System in Java, Indonesia. Proceeding 1st Geothermal Workshop, ITB, Bandung, 6-8 Maret 2012.

Hindarto. 2013. Nilai Keberadaan Lingga dan Yoni di Desa Sumberadi. History and Legacy of Kebumen, 14 Maret 2013.

3 thoughts on “Longsor dan Banjir Alian (Kebumen) November 2014, Sepotong Kisah Bumi dari Lembah Kedungbener

  1. Andri berkata:

    Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Desa Plumbon di Kecamatan Karangsambung. Kenapa disana dasar sungai nya seperti lantai dan bergaris serta berlapis, terutama di Kali Grigak. Desa Plumbon tersusun atas satuan batuan apa?

    • marufins berkata:

      Sungain yang persis di kaki bukit? Garis dan lapis2 itu batuan sedimen Penosogan yang terangkat menjadi lipatan dan kemudian ada pula yang terpatahkan. Pemandangan yang kurang lebih sama bisa dilihat di tepi sungai kedungbener tak jauh dari pasar Krakal. Lapisan2 batuan di sana hampir tegak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s