Karangbolong, Jejak Gunung Berapi Purba di Pesisir Kebumen

Gudangnya pantai eksotis! Barangkali kata itu yang bakal terucap kala kita menyusuri pesisir Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Betapa tidak. Banyak pantai indah yang bisa dijumpai di kabupaten yang memiliki garis pantai sepanjang 58 kilometer itu. Jika kita mulai dari sebelah timur sembari menyusuri jalur jalan raya lintas selatan yang masih dalam pembangunan dan lebih populer dengan akronim jalur JSS, kita akan bersirobok dengan pantai Lembupurwo yang berlaguna dan datar. Beringsut sedikit ke barat akan dijumpai pantai Bocor nan datar yang berbenteng bukit-bukit pasir. Di sini terdapat kolam-kolam renang air tawar semi permanen yang sengaja dibuat dengan airnya berasal dari sumur-sumur dangkal yang dibor persis di bibir pantai. Bergeser lagi ke barat akan dijumpai pantai Tegalretno, pantai perawan yang juga datar dan berlaguna. Melipir ke barat lagi kita akan bertemu dengan pantai Karanggadung (Petanahan) yang sudah lebih dulu ngetop. Pantai ini juga merupakan pantai datar yang berhias bukit-bukit pasir. Bukit-bukit pasir tersebut terus merentang hingga ke barat hingga mendekati pantai Suwuk.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Gambar 1. Pantai berlaguna Lembupurwo (atas) dan pantai berbukit pasir Karanggadung/Petanahan (bawah). Dua pantai tersebut merepresentasikan pantai dataran rendah di Kabupaten Kebumen. Sumber: LintasKebumen, 2014 & Sudibyo, 2006.

Karst Karangbolong

Namun pantai-pantai yang lebih eksotis baru bisa dijumpai saat kita tiba di Tanjung Karangbolong, kawasan berbukit-bukit kapur yang menjuntai hingga bibir pantai dan menyajikan bentanglahan berpanorama demikian indah. Di tubir tanjung sebelah timur terdapat pantai Suwuk, tempat dimana sejumlah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit. Dari pantai yang sudah tertata rapi ini beringsutlah ke barat dengan menyeberangi sungai Telomoyo yang besar. Atau jalankan kendaraan anda menyusuri jalus JSS dan maksimalkan tenaga kendaraan karena kita akan melewati jalan menanjak berkelak-kelok di antara bukit-bukit. Di perhentian pertama terdapat pantai Karangbolong. Pantai ini bertebing terjal dan populer dengan goa-goa tepi lautnya yang menjadi tempat ribuan burung walet bersarang. Burung-burung itu menjadi ikon Kabupaten Kebumen dan di masa lalu sarang-sarang burungnya (yang berprotein sangat tinggi) diunduh secara periodik dan dipasarkan dengan nilai yang sangat mahal, sehingga menjadi salah satu komponen pendapatan daerah. Salah satu goa di sini berbentuk terowongan pendek yang mengesankan sebagai batu karang berlubang besar. Dari sinilah nama Karangbolong konon berasal (karang = batu karang, bolong = lubang). Bergeser lagi ke barat, kita akan bertemu dengan pantai Pasir yang menempati sebuah ceruk kecil berhias lengkung jembatan alamiah tepat di tubir laut lepas.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 2. Pantai Suwuk pasca bencana tsunami 2006, sebelum dikembangkan lebih lanjut menjadi obyek wisata unggulan (atas) dan jembatan lengkung alamiah tepat di tubir laut lepas di pantai Pasir (bawah). Kedua pantai ini terletak di Tanjung Karangbolong, dimana pantai Suwuk merupakan pantai bermuara tepat di batas timur tanjung dan menjadi kawasan transisi daratan rendah ke tinggian berbukit-bukit. Sebaliknya pantai Pasir terletak di tengah-tengah tanjung Karangbolong sehingga berbataskan tebing curam di belakangnya. Sumber: Sudibyo, 2006.

Merayap lagi ke barat, kita akan bertemu dengan dua pantai berceruk lainnya, yakni pantai Pecaron (Srati) dan pantai Karangbata. Kedua pantai dipagari oleh tebing-tebing terjal, namun bila pantai Pecaron beralaskan pasir halus dengan bongkah-bongkah karang beraneka ukuran terserak disana-sini, maka pantai Karangbata melulu berlandaskan bongkahan-bongkahan batu hitam seukuran batubata. Tepat di sebelah barat pantai Karangbata akan kita jumpai pantai Menganti, sang obyek wisata primadona baru yang kini sedang menjadi buah bibir dimana-mana. Berbeda dengan pantai-pantai yang sudah tersebut tadi, pantai Menganti beralaskan pasir putih. Antara pantai Karangbata dan Menganti hanya berbataskan sebuah tanjung kecil yang disebut tanjung Karangbata. Jika kendaraan kita terus pacu ke barat menyusuri jalan yang naik-turun, sebuah pantai berceruk lagi akan kita jumpai, yakni pantai Pedalen. Dari sini kencangkan rem kendaraan anda, karena jalan ke arah barat terus menurun hingga akhirnya berujung tubir barat Tanjung Karangbolong, ke sebuah obyek wisata yang tertata dan cukup populer: pantai Logending. Seperti halnya pantai Suwuk, pantai Logending merupakan tempat sebuah sungai bermuara dengan bentanglahan bertransisi dari pedataran menjadi tinggian berbukit-bukit.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 3. Ombak memecah jelang tiba di pantai Menganti, diabadikan dari pucuk tebing terjal di belakang pantai (atas) dan wajah sebagian kecil pantai Logending di sekitar muara sungainya diabadikan dari lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Logending pasca bencana tsunami 2006 (bawah). Sumber: Sudibyo, 2006.

Segenap pantai indah yang membentang di antara pantai Suwuk dan Logending tersebut berada di kawasan Tanjung Karangbolong, yang adalah kawasan kars Karangbolong atau kars Gombong selatan. Kars merupakan kawasan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut (dalam hal ini batu kapur/gamping) dan memiliki porositas sekunder yang berkembang dengan baik. Sebagai akibatnya sebuah kawasan kars memiliki beberapa ciri khas. Diantaranya adalah mempunyai cekungan tertutup/lembah kering dalam beragam ukuran, sangat jarang memiliki sungai di permukaan tanah dan sebaliknya memiliki drainase (sungai) bawah tanah dan goa yang melimpah. Seluruh ciri tersebut ada di kars Karangbolong. Tingginya curah hujan dan banyaknya retakan-retakan yang memotong batu gamping membuat kars Karangbolong diwarnai bukit-bukit mirip kerucut yang saling sambung-menyambung dengan sela-sela diantaranya berupa cekungan mirip bintang, sebuah ciri khas kegelkarst. Terdapat sedikitnya 69 buah goa kapur di kawasan ini dengan dua diantaranya cukup populer dan menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Kebumen, yakni goa Jatijajar dan goa Petruk. Itu belum termasuk goa-goa di pantai Karangbolong, yang bukanlah goa kapur. Sejumlah goa tersebut juga dialiri sungai bawah tanah nan deras dan beberapa diantaranya menjadi air terjun dalam goa. Di sejumlah titik, sungai-sungai bawah tanah itu menyeruak keluar dari dalam tanah menjadi sungai permukaan. Bahkan di goa Surupan yang terletak di sebelah barat pantai Menganti, aliran air sungai bawah tanah yang baru saja keluar dari goa langsung bertemu tebing terjal di bibir pantai, menjadi air terjun Sawangan yang unik. Semuanya sungguh panorama alam yang luar biasa, anugerah terberi dari Illahi.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gambar 4. Dua sisi yang memperlihatkan keunikan sungai bawah tanah di kars Karangbolong. Sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa Surupan keluar menjadi air terjun Sawangan dan kembali menjadi sungai permukaan tanah meski hanya mengalir sejauh 150 meter sebelum bertemu laut (atas). Salah satu titik keluarnya sungai bawah tanah menjadi sungai permukaan di Kalikarag, yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk pemandian. Sumber: Arif, dalam Lintas Kebumen, 2014 & Supriatna, t.t.

Gunung Berapi Purba

Namun kars Karangbolong tak hanya melulu diwarnai bebatuan gamping. Di titik-titik tertentu di tepi laut dijumpai bebatuan ‘aneh’ yang sama sekali berbeda. Bebatuan ini hitam/gelap, keras dan mirip dengan bebatuan beku yang bisa kita jumpai di kawasan gunung berapi sebagai hasil dari pembekuan lava. Selain itu di titik lainnya juga dijumpai bebatuan ‘aneh’ lainnya. Bebatuan itu terlihat sebagai batu gamping namun anehnya sangat kaya dengan silika. Bahkan dijumpai juga batu kapur yang mengandung emas. Silika dan emas pada dasarnya merupakan mineral khas yang normalnya hanya bisa dijumpai dalam batuan beku. Sementara di tengah-tengah bukit kapur, dijumpai sedikitnya tiga buah bukit ‘aneh’ yang juga tersusun oleh bebatuan beku. Maka kesimpulan berani pun menyeruak : jauh di masa silam di kawasan ini pernah berdiri tegak beberapa gunung berapi yang kini hanya ada sisa-sisanya sebagai gunung berapi purba. Inilah gunung-gunung berapi purba Karangbolong.

Apa sih gunung berapi purba itu?

Pada dasarnya gunung berapi adalah sebuah titik atau bukaan yang menjadi tempat keluarnya bubur batu panas membara (magma) beserta gas-gas vulkanik keluar permukaan Bumi dengan produk menumpuk di sekeliling titik pengeluaran tersebut membentuk gundukan baik kecil maupun besar. Titik/bukaan tempat pengeluaran itu dinamakan kawah jika berukuran kecil, atau kaldera jika berukuran sangat besar (dengan diameter melebihi 2 kilometer). Sebuah gunung berapi dapat terbentuk di tengah-tengah sebuah lempeng tektonik (intralempeng) maupun di perbatasan antar lempeng tektonik sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Dan gunung berapi dapat terbentuk baik di daratan maupun di dasar laut, dengan ciri khasnya masing-masing.

Saat sebuah gunung berapi aktif kita iris secara vertikal, akan terlihat penampangnya yang khas. Kawah/kaldera umumnya terletak di puncak, meski ada juga yang tidak, dan kerap disumbat oleh bekuan lava maupun kubah lava. Tepat di bawah kawah terdapat bentuk mirip pipa panjang yang menembus hingga ke perutbumi. Pipa ini disebut saluran magma (diatrema), yang berujung ke tempat penampungan magma tepat di dasar gunung berapi yang disebut kantung magma. Dari kantung magma terdapat lagi bentuk mirip pipa panjang yang menembus jauh ke bawah lagi hingga berujung di dapur magma. Dalam tubuh gunung berapi sendiri, pipa magma senantiasa bercabang-cabang dengan setiap cabang meliuk-liuk demikian rupa menembus lapisan-lapisan bebatuan vulkanik yang menyusun tubuh gunung berapi. Tidak semua cabangnya berujung ke permukaan tanah sebagai kawah, namun hanya berhenti sebagai intrusi magmatik baik dalam bentuk retas magmatik (dike), retas lempeng (sill), maupun kubah lava samar (cryptodome). Saluran magma tak pernah kosong, melainkan selalu terisi magma sisa letusan sebelumnya yang sudah mulai membatu sehingga membentuk leher vulkanik (volcanic neck). Persentuhan magma panas membara dengan batuan yang menyelubungi lokasi intrusi magmatik akan menghasilkan alterasi batuan yang khas. Seluruhnya disebut sebagai lingkungan CF (central facies).

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Gambar 5. Penampang melintang gunung berapi aktif dan purba (tererosi tingkat dewasa dan lanjut) beserta contohnya. Baik gunung berapi aktif maupun purba memiliki lingkungan pengendapan batuan vulkanik yang sama. Perhatikan betapa sulitnya membedakan gunung berapi purba, baik tererosi tingkat dewasa maupun lanjut, dengan bukit-bukit non vulkanik pada umumnya jika hanya dilihat sekilas. Sumber: Hartono & Bronto, 2007. Bronto, 2012.

Di luar lingkungan CF, tubuh gunung berapi juga menunjukkan ciri khas tersusun dari batuan vulkanik. Pada titik terdekat dengan lingkungan CF terdapat lingkungan PF (proximal facies), yakni struktur terdekat ke kawah/kaldera sehingga tersusun oleh endapan lava dan awan panas (piroklastika). Di luarnya lagi terdapat lingkungan MF (medial facies), yang tersusun oleh kombinasi endapan debu vulkanik (tuff), kerikil (lapili) serta breksi lahar. Dan di bagian yang paling luar terdapat lingkungan DF (distal facies), yang umumnya menyusun kaki gunung berapi atau lebih jauh lagi. Lingkungan DF umumnya merupakan kawasan dimana bebatuan vulkanik telah mengalami pengerjaan ulang, umumnya oleh erosi, sehingga menghasilkan breksi lahar, konglomerat, batupasir dan bahkan batu lempung.

Sebuah gunung berapi disebut gunung berapi aktif bilamana kantung magma dangkalnya masih dipasok magma secara rutin dari dapur magma. Magma tersebut kemudian dikeluarkan ke permukaan tanah sebagai letusan yang terjadi hanya pada saat-saat tertentu, bergantung pada periode letusan yang khas untuk setiap gunung berapi. Letusan tersebut bisa berupa letusan eksplosif (ledakan) yang menyemburkan gas dan material letusan ke udara, ataupun letusan efusif (leleran) yang hanya mengeluarkan magma dari kawah tanpa terlontar tinggi ke udara untuk kemudian mengalir sebagai lava dan akhirnya lahar. Dapat pula letusan yang terjadi adalah kombinasi antara letusan eksplosif dan efusif. Jika tidak sedang meletus, dapur magma gunung berapi aktif tetap menerima pasokan magma segar dari perutbumi, namun tidak langsung dikeluarkan jika tekanannya belum sanggup mendobrak/memecah magma sisa letusan sebelumnya yang mulai membatu di dalam saluran magma. Dalam keadaan tidak meletus, gunung berapi aktif umumnya tetap mengeluarkan gas-gas vulkanik dari kawahnya serta memanaskan air bawah tanah yang keluar sebagai mataair panas di sejumlah titik. Tubuh gunung berapi aktif umumnya berbentuk kerucut dan relatif mulus sebagai hasil keseimbangan antara penambahan material (akibat letusan) dengan erosi.

Sementara gunung berapi tidak aktif/padam adalah gunung berapi yang dapur magma dan kantung magma dangkalnya tidak lagi menerima pasokan magma dari perutbumi. Sehingga tak ada lagi aktivitas letusan maupun pengeluaran gas-gas vulkanik. Namun mataair panas masih ada, mengingat magma yang tersisa dalam dapur magma maupun kantung magma dangkal masih panas dan membutuhkan waktu sangat lama untuk mendingin dan membatu. Sepanjang waktu itu ia tetap memindahkan panasnya ke batuan disekelilingnya hingga cukup mampu untuk memanaskan atau bahkan mendidihkan air bawah tanah. Meski harus digarisbawahi bahwa mataair panas tidak selalu terkait dengan gejala pasca vulkanik, seperti diperlihatkan oleh mataair panas Krakal di kecamatan Alian, juga di Kabupaten Kebumen. Dapat dikatakan kawasan gunung berapi padam merupakan kawasan pasca vulkanik yang memiliki prospek bagus untuk pengembangan energi panas bumi. Seiring menghilangnya pasokan material vulkanik, maka erosi pun tanpa tanding dan bekerja memahat tubuh gunung demikian rupa. Sehingga puncak gunung berapi padam mulai menurun akibat terkikis erosi, sementara lereng-lerengnya berhias alur/jurang yang demikian dalam.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Gambar 6. Bebatuan beku mirip tiang-tiang batu yang saling bertumpuk di ujung tanjung Karangbata, pantai Menganti. Tiang-tiang batu tersebut merupakan balok yang adalah kekar kolom. Kekar kolom ini menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Diabadikan oleh geolog Bambang Mertani. Sumber: Mertani, 2013.

Dan gunung berapi purba adalah gunung berapi yang telah padam dalam jangka waktu sangat lama sehingga segenap magma yang masih tersisa didalamnya, baik di retas magmatik, retas lempeng, saluran magma maupun kantung magma dangkal dan dapur magma telah sepenuhnya mendingin dan membeku. Erosi berkuasa sepenuhnya atas tubuh gunung berapi purba dan menggerusnya demikian rupa sampai mayoritas tubuh gunung menghilang secara perlahan-lahan dibawa aliran air. Bagian yang masih tersisa kini berbentuk gundukan-gundukan membukit yang sepintas tak ada bedanya dengan bukit-bukit pada umumnya. Hanya jika komposisi batuannya dicermati sajalah baru terungkap bukit-bukit tersebut merupakan sisa gunung berapi purba. Erosi yang sama juga bisa memunculkan bebatuan beku yang membentuk retas magmatik, retas lempeng, leher vulkanik dan bahkan kubah lava samar.

Busur Vulkanik Jawa Tua

Jejak gunung berapi purba di Tanjung Karangbolong bisa ditemukan sedikitnya di tujuh lokasi. Lokasi pertama adalah lokasi yang paling eksotis, yakni di ujung tanjung Karangbata yang ada di sisi timur pantai Menganti. Di ujung tanjung ini tersingkap batuan beku kehitaman yang nampak retak-retak dan memperlihatkan panorama mirip “tiang-tiang batu” yang saling bertumpuk. Dari sejumlah potongan “tiang” yang terserak dihempas air laut diketahui bahwa “tiang-tiang” tersebut merupakan balok-balok batu. Secara geologis balok-balok batu kehitaman ini adalah lava yang membeku secara perlahan-lahan dan mengalami perekahan yang terus berkembang hingga menjadi batuan beku ber-kekar kolom (columnar joint). Pendinginan secara perlahan-lahan tersebut umumnya berlangsung saat magma menyelusup hingga kedalaman tertentu sebagai retas magmatik, retas lempeng maupun leher vulkanik. Lokasi kedua terdapat di pantai Karangbata, tepat di sisi timur tanjung Karangbata. Di sekujur pantai ini terserak bongkahan-bongkahan batu mirip batubata yang berwarna hitam. Melihat bentuknya dan jaraknya yang cukup dekat dengan singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, dapat diduga bahwa bongkah-bongkah tersebut berasal dari kekar kolom di ujung tanjung yang terhempas gelora. Lokasi ketiga terdapat di pantai Karangbolong dan Pasir. Di sini tersingkap batuan breksi lahar. Di pantai Karangbolong, breksi lahar bahkan mengalami pengekaran dan terus berkembang disertai runtuhan hingga membentuk goa Karangbolong. Breksi lahar ini berumur Oligo-Miosen atau secara kasar berasal dari masa 30 hingga 15 juta tahun silam.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Gambar 7. Bongkah-bongkah potongan kekar kolom seukuran batubata di pantai Karangbata. Bongkah-bongkah tersebut nampaknya dihanyutkan dari lokasi singkapan kekar kolom di ujung tanjung Karangbata, yang menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini.Sumber: Anonim, t.t.

Lokasi keempat terletak di tebing-tebing sebelah timur pantai Logending. Secara kasat mata tak terlihat adanya jejak gunung berapi purba di sini. Namun penyelidikan lebih lanjut mengungkap sejumlah titik singkapan bebatuan yang sekilas mirip batu gamping terumbu sesungguhnya telah mengalami penggantian sebagian mineral penyusunnya dari kalsium menjadi silika. Dijumpai juga mineral/batuan yang seharusnya tak ada dalam batu gamping namun umum dijumpai dalam batuan beku produk aktivitas gunung berapi, dalam rupa jasperoid, kalsedon dan kristal kuarsa. Batu gamping terumbu yang kaya silika, jasperoid serta kristal kalsedon dan kuarsa merupakan produk dari injeksi cairan hidrotermal bersuhu relatif tinggi (lebih dari 600 derajat Celcius) yang berasal dari magma ke dalam batu gamping. Masuknya cairan panas yang bersifat asam membuat kalsium dalam batu gamping melarut digantikan oleh koloid silika. Lama kelamaan koloid ini teruapkan membentuk jel dan akhirnya padatan sebagai kristal kuarsa dan kalsedon.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 8. Breksi lahar di tebing curam sisi barat pantai Pasir (tanda panah). Breksi lahar ini juga menjadi pertanda pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Sudibyo, 2006.

Lokasi kelima terletak di Bukit Poleng, satu kilometer sebelah timur pantai Logending ke arah perbukitan. Lokasi keenam ada di Bukit Gadung, sekitar dua kilometer sebelah tenggara Bukit Poleng, Dan lokasi ketujuh ada di Bukit Arjuna, sekitar tiga kilometer sebelah utara-barat laut pantai Karangbolong. Ketiga bukit tersebut disusun oleh bebatuan beku berjenis andesit, yang berasal dari masa sekitar 17 juta tahun silam. Selain tujuh lokasi tersebut, jejak-jejak aktivitas gunung berapi purba pada umumnya juga ditemukan di sebagian wilayah Tanjung Karangbolong sebagai satuan batuan sedimen formasi Gabon. Formasi ini didominasi endapan awan panas (piroklastika) yang berasal dari letusan-letusan gunung-gunung berapi purba bawah laut pada kurun sekitar 19 juta tahun silam. Material letusan gunung-gunung berapi purba tersebut mengalir menuju ke bagian parit yang dalam di laut lalu mengendap sembari ditingkahi proses-proses pelongsoran bawah laut. Di kemudian hari endapan tersebut parit yang terisi material letusan itu terangkat perlahan-lahan hingga menjadi perairan laut dangkal yang memungkinkan binatang karang tumbuh, yang menghasilkan endapan batu gamping diatasnya. Batu gamping inilah yang komponen utama di kars Karangbolong.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Gambar 9. Salah satu lokasi dimana batu gamping terumbu diubah menjadi silika, di dekat pantai Logending (atas). Selain batu gamping berisi silika dengan urat-urat kuarsa yang mengandung emas, di sini terdapat juga kalsedon dan kristal-kristal kuarsa (bawah). Semuanya merupakan petunjuk pernah ada sebuah gunung berapi purba di kawasan ini. Sumber: Suprapto, 2010.

Dari ketujuh titik tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan central facies gunung berapi terdapat di ujung tanjung Karangbata dan pantai Karangbata (sebagai singkapan dan bongkah-bongkah batuan beku berkekar kolom) serta di Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna (sebagai intrusi magmatik). Sementara lingkungan distal facies gunung berapi tersingkap sebagai formasi Gabon yang mewarnai separuh Tanjung Karangbolong. Maka, mungkin ada sedikitnya empat gunung berapi purba di kawasan ini dengan saluran magmanya terdapat tanjung Karangbata, Bukit Poleng, Bukit Gadung dan Bukit Arjuna.

Tentu saja dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap struktur gunung-gunung berapi purba Karangbolong ini dengan lebih detil. Namun sejauh ini dapat dikatakan bahwa kedudukan mereka tak terlepas dari gunung-gemunung berapi purba yang membentang di segenap Pegunungan Selatan, seperti yang sejauh ini telah ditemukan di Bantul, Gunungkidul, Wonogiri hingga Pacitan. Pada suatu masa, gunung-gemunung berapi purba ini pernah menjadi tulang punggung vulkanisme tanah Jawa, seperti yang dilakoni oleh 45 gunung berapi modern yang membentang dari kompleks Gunung Karang-Pulosari (Banten) hingga Gunung Ijen (Jawa Timur) di masa kini. Jika ke-45 gunung berapi modern itu membentuk busur vulkanik Jawa muda yang muncul dalam waktu kurang dari 10 juta tahun terakhir, maka gunung-gemunung berapi purba di Pegunungan Selatan (termasuk gunung berapi purba Karangbolong) merupakan bagian busur vulkanik Jawa tua yang muncul semenjak 45 juta tahun silam dan bertahan hingga paling tidak 20 juta tahun silam.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Gambar 10. Lokasi dimana jejak-jejak gunung berapi purba tersingkap dalam Tanjung Karangbolong (warna hitam), di antara sejumlah pantai eksotis di kawasan ini (warna merah muda). Sumber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Maps.

Pada masanya, gunung-gemunung berapi purba itu pun membentang dari barat ke timur. Namun bedanya mereka tidaklah setinggi 45 gunung berapi modern di busur vulkanik Jawa muda sekarang. Musababnya sebagian besar gunung berapi purba tersebut adalah gunung berapi laut, yang puncaknya terendam di dalam air asin. Musabab berikutnya, hampir seluruh busur vulkanik Jawa tua ini kemudian tenggelam kembali ke dasar laut sehingga memungkinkan batu gamping khas laut dangkal mengendap diatasnya. Bila hampir seluruh gunung-gemunung berapi purba itu kini berada di daratan, hal itu akibat terangkatnya busur vulkanik Jawa tua bersamaan dengan terdongkraknya bagian selatan pulau Jawa pada masa sekitar 5 juta tahun silam. Pengangkatan itu berlangsung asimetris, sehingga sisi utara busur vulkanik Jawa tua ini lebih terangkat dibanding sisi selatannya. Akibatnya gunung-gemunung berapi purba di busur vulkanik tersebut kini dalam kondisi miring ke selatan.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Gambar 11. Gambaran sederhana rekonstruksi tiga dari sejumlah gunung berapi purba di Karangbolong, dengan anggapan bahwa setiap bukit intrusi magmatik dan kekar kolom merupakan saluran magma gunung berapi purba. Pada masanya, seluruh gunung berapi purba Karangbolong merupakan gunung berapi bawah laut. Gunung purba Menganti mungkin muncul lebih dulu (dan juga mati lebih dulu) ketimbang gunung purba lainnya. SUmber: Sudibyo, 2014 dengan basis Google Earth.

Pada masanya, aktivitas gunung-gemunung berapi purba ini secara akumulatif membentuk bagian selatan pulau Jawa dengan demikian intensif. Kini sedimen vulkanik mewarnai kawasan ini dari ujung barat Banten hingga ujung timur Jawa Timur dengan lebar sekitar 50 kilometer (dari selatan ke utara) dan ketebalan rata-rata 2.500 meter. Aktivitas vulkanik di busur vulkanik Jawa tua dipuncaki oleh gunung berapi super Semilir dengan letusannya yang amat sangat dahsyat pada masa sekitar 36 hingga 30 juta tahun silam. Kedahsyatan letusan tersebut hanya dapat disandingkan dengan amukan mahadahsyat Gunung Toba pada Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam, yang memuntahkan tak kurang dari 2.800 kilometer kubik material letusan. Oleh sebab-sebab yang belum jelas benar, seluruh gunung berapi di busur vulkanik tua padam dan mati pada sekitar 20 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik kemudian bergeser ke utara, ke tengah-tengah pulau Jawa, yang dimulai dalam kurun 10 juta tahun silam hingga sekarang. Terbentuklah busur vulkanik Jawa muda dengan 45 buah gunung berapinya yang sebagian besar masih aktif.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Gambar 12. Topografi sebagian pulau Jawa dengan DEM (digital elevation model) dengan lokasi busur vulkanik Jawa tua (garis merah putus-putus) dan busur vulkanik Jawa muda (garis kuning putus-putus). Lingkaran-lingkaran merah menunjukkan lokasi gunung-gemunung berapi purba yang sudah diidentifikasi di sepanjang busur vulkanik Jawa tua. Pada masanya, gunung-gunung ini rajin meletus hingga paling tidak 20 juta tahun silam. Setelah itu aktivitas vulkanik pulau Jawa bergeser ke utara (ditunjukkan dengan tanda panah), membentuk busur vulkanik Jawa muda semenjak 10 juta tahun silam hingga sekarang. Sumber: Hall & Smyth, 2008 dalam Satyana, 2014.

Selain memenuhi rasa keingintahuan kita, mengetahui keberadaan gunung berapi purba seperti halnya gunung berapi purba Karangbolong pun memiliki manfaat praktis ekonomis. Lingkungan central facies sebuah gunung berapi purba merupakan sumber bagi mineral logam dasar bernilai tinggi seperti halnya emas, tembaga dan sebagainya. Deposit emas Cikotok di Banten, yang telah lama ditambang dan kini telah ditutup, terbentuk di lingkungan seperti ini. Di sejumlah titik Tanjung Karangbolong pun telah dijumpai singkapan batuan yang mengandung emas. Menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk memetakan kawasan ini secara lebih teliti, memilah-milah kandungan logam berharganya dan menilai kelayakan ekonomisnya untuk ditambang. Selain itu, keberadaan gunung-gunung berapi purba Karangbolong jika dikelola dengan layak dapat menjadi faktor penambah daya tarik obyek-obyek wisata di sini.

Bahan acuan :

Hartono & Bronto. 2007. Asal-usul Pembentukan Gunung Batur di Daerah Wediombo, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 3 September 2007, hal. 143-158.

Bronto. 2012. Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api. Makalah dalam Rembug Nasional Gunung Padang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapto. 2010. Batu Gamping Berubah Menjadi Bijih Emas. Majalah Warta Geologi, vol. 5 no. 4 Desember 2010, hal. 17-21

Maskuri. 2003. Studi Alterasi Hidrotermal Daerah Karangbolong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. JIK TekMin, vol. 16 no. 2 Juli-Desember 2003, hal. 68-73.

Supriatna. t.t. Bentukan-Bentukan Karst. UPI Bandung.

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana. 2014. Jawa: Jalur Gunungapi Tua & Jalur Gunungapi Modern.

Lintas Kebumen.

Iklan

5 thoughts on “Karangbolong, Jejak Gunung Berapi Purba di Pesisir Kebumen

    • marufins berkata:

      G. Padang aslinya kekar kolom, kemudian dibentuk menjadi situs arkeologis. Soal piramid atau bukan, itu masih jadi bahan perdebatan karena bukti2nya tak banyak mendukung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s