Mitigasi Tsunami Kabupaten Kebumen, Mengelola Ancaman dari balik Pegunungan yang Tenggelam

Bagian kedua dari dua tulisan

Kabupaten Kebumen adalah sebuah wilayah administratif yang terletak di propinsi Jawa Tengah bagian selatan. Uratnadi utama pulau Jawa bagian selatan, baik jalur jalan raya nasional maupun jalan kereta api, melintas di dalam kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Cilacap di sisi barat serta Kabupaten Purworejo di sebelah timur ini. Di selatannya membentang luas perairan Samudera Indonesia (Hindia). Dalam perspektif ilmu kebumian Kabupaten Kebumen merupakan ‘surga’. Sebab pada sebuah zona sempit di dalam kawasan Pegunungan Serayu Selatan yang membentang di sisi utara kabupaten inilah, yang melingkupi wilayah kecamatan Karanggayam, Karangsambung dan Sadang, tersingkap bebatuan yang demikian penting artinya dalam ilmu kebumian. Berbagai batuan sedimen (endapan) dengan lapisan-lapisan yang kadang nyaris vertikal berjejeran dengan batuan malihan (metamorf) dan bongkahan-bongkahan batuan beku yang terlampar dalam wilayah tak terlalu luas. Normalnya pemandangan seperti ini hampir mustahil dijumpai.

Keunikan itu telah memukau cendekiawan sekelas Junghunn sejak satu setengah abad silam. Namun barulah mulai setengah abad lalu penyebabnya ditemukan, lewat kerja keras seorang Sukendar Asikin. Bebatuan campur aduk di Kebumen utara ternyata adalah bukti langsung dari teori tektonik lempeng. Inilah teori ‘aneh’ yang dikembangkan dari gagasan seorang Alfred Wegener sejak menjelang Perang Dunia pertama, namun baru menjumpai bukti-bukti penyokongnya berpuluh tahun kemudian. Bebatuan campur aduk itu seharusnya hanya bisa dijumpai di palung laut, salah satu ekspresi permukaan dari subduksi lempeng oseanik yang berberat jenis lebih tinggi dengan lempeng kontinental yang berat jenisnya lebih rendah. Maka jelas, Kebumen utara dulu-dulunya pernah merupakan palung laut purba.

Palung laut purba di Kebumen utara terbentuk setidaknya semenjak 120 juta tahun silam seiring subduksi lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Eurasia yang stabil. Subduksi purba ini aktif setidaknya hingga 65 juta tahun yang lalu. Sebelum kemudian bergeser tigaratusan kilometer lebih ke selatan, ke lokasi yang sekarang. Semenjak itu lambat laun kawasan ini mulai terangkat. Dari yang semula berada di dasar palung kemudian menjadi bagian dasar samudera nan dalam. Lantas terus terangkat menjadi bagian laut dangkal. Dan akhirnya tersembullah seluruhnya ke atas permukaan samudera bersamaan dengan terdongkraknya pulau Jawa hingga seperti sekarang. Aktivitas inilah yang membentuk bentanglahan Kebumen masakini dengan segala eksotikanya. Inilah yang menjadikan Kebumen sebagai laboratorium alam dan pusat pendidikan calon-calon ahli kebumian se-Indonesia bahkan se-Asia tenggara.

Palung laut lokasi subduksi modern yang aktif pada saat ini merentang sepanjang lepas pantai selatan Pulau Jawa sebagai kelanjutan dari palung laut sejenis di lepas pantai barat Pulau Sumatra. Dari pesisir selatan Kebumen, bentangan palung laut itu berjarak sekitar 250 kilometer. Nyaris tak ada penghalang alamiah apapun antara palung laut dengan daratan Kebumen, baik berupa jajaran pegunungan maupun perbukitan. Faktor inilah yang membuat Kabupaten Kebumen rentan terhadap bencana tsunami. Termasuk ancaman tsunami dahsyat produk gempa akbar (megathrust) yang bisa dibangkitkan zona subduksi Jawa. Dalam catatan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Kabupaten Kebumen merupakan wilayah administratif terentan kedua terhadap bencana tsunami di antara 19 kabupaten/kota di seantero pesisir selatan pulau Jawa setelah kota Cilacap. Terdapat 220.800 jiwa penduduk Kebumen khususnya di 8 kecamatan yang beresiko terpapar tsunami. Dari barat ke timur, kedelapan kecamatan tersebut masing-masing adalah kecamatan Ayah, Buayan, Puring, Petanahan, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Inilah yang membuat pengenalan akan peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen serta langkah-langkah evakuasinya menjadi penting.

Pegunungan yang Tenggelam

Mengapa Kabupaten Kebumen demikian beresiko terhadap bencana tsunami?

Saat membuka peta pulau Jawa layangkan jemari anda di sepanjang pesisir selatan. Akan lebih baik jika peta tersebut adalah peta geografis atau peta rupabumi. Akan kita jumpai jajaran pegunungan yang membentang di mayoritas pesisir selatan pulau Jawa mulai dari Pelabuhan Ratu di sebelah barat hingga Semenanjung Blambangan di sebelah timur. Inilah jajaran Pegunungan Selatan, atau yang di Jawa bagian tengah dikenal pula sebagai Pegunungan Sewu. Kaki selatan pegunungan ini langsung menjadi garis pantai selatan pulau Jawa. Namun tidak dengan bentangan antara pantai Pangandaran di sebelah barat hingga pantai Parangtritis di sebelah timur. Di sini Pegunungan Selatan menghilang. Kecuali di Tanjung Karangbolong dan Pegunungan Menoreh (Kulonprogo) segenap bentangan ini merupakan dataran rendah luas yang cukup lebar. Dataran rendah semacam ini sangat jarang dijumpai di pulau Jawa bagian selatan. Inilah dataran rendah tempat berdirinya Kabupaten Kebumen, Cilacap, Purworejo, Kulonprogo, Bantul dan Kota Cilacap. Kenapa bisa demikian?

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Gambar 1. Rona keseluruhan pulau Jawa seperti terlihat dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan laman GoogleMaps. Garis putus-putus menunjukkan bila pesisir utara maupun selatan Jawa Barat (kecuali area Banten) diproyeksikan hingga Jawa Timur (kecuali area tapal kuda). Terlihat jelas betapa pesisir utara Jawa Tengah menjorok ke selatan dari garis proyeksi. Sebaliknya pesisir selatan Jawa Tengah menjorok ke utara dan Pegunungan Selatan menghilang, berganti dataran rendah Cilacap-Kebumen-Purworejo-Kulonprogo. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan basis GoogleMaps.

Di lain kesempatan, layangkan jemari anda menyusuri pesisir selatan pulau Jawa di tempat yang sama. Akan kita jumpai garis pantai yang membentang di antara pantai Pangandaran hingga pantai Parangtritis cukup ‘aneh.’ Sebab mereka melekuk/menjorok lebih ke utara ketimbang garis pantai selatan pulau Jawa sebelah-menyebelahnya. Lalu layangkan lagi jemari anda, kali ini susuri pesisir utara pulau Jawa mulai dari Jakarta hingga Surabaya. Lagi-lagi akan kita jumpai keanehan serupa di antara pantai Cirebon hingga pantai Semarang. Berkebalikan terhadap garis pantai di pesisir selatan kawasan yang sama, garis pantai pesisir utara di sini menjorok jauh ke selatan. Bila semenanjung Muria kita pisahkan dari konteks pembahasan pesisir utara pulau Jawa mengingat kedudukannya sebagai pulau vulkanis tersendiri yang awalnya terpisah dari daratan utama Jawa, maka keanehan itu akan kita jumpai mulai dari pantai Cirebon hingga pantai (purba) Rembang. Dengan mengecualikan kawasan Banten dan tapal kuda Jawa Timur, sepasang keanehan itu membuat bagian tengah pulau Jawa lebih ramping ketimbang tetangga sebelah barat maupun timurnya. Ada apa ini?

Sekarang mari bayangkan kita menyelami Samudera Indonesia di sebelah selatan Jawa Tengah. Bayangkan penyelaman dilakukan hingga ke dasar laut, hingga sejauh 50 km dari garis pantai. Akan kita dapati dasar laut di kawasan ini lebih dalam jika dibandingkan lepas pantai selatan Jawa Barat maupun Jawa Timur untuk jarak yang sama. Namun tidak seluruhnya dalam. Ada bagian yang lebih dangkal yang berbentuk segitiga dengan puncak segitiga tepat ujung Tanjung Karangbolong. Tepat di sisi barat segitiga ini merupakan dasar laut lebih dalam yang dinamakan Dalaman Barat (western deep), yang meliputi lepas pantai Cilacap hingga Pangandaran. Sebaliknya tepat di sisi timur segitiga itu terdapat Dalaman Timur (eastern deep), yang mencakup lepas pantai Kebumen hingga Bantul. Mengapa bisa seperti ini?

Keunikan ini telah menggayuti benak para ahli kebumian sejak lebih dari setengah abad silam, tepatnya sejak era van Bemmelen di tahun 1949 Tarikh Umum (TU). Namun baru di awal abad ke-21 TU ini jawabannya terkuak lewat kerja keras Awang Harun Satyana. Keunikan tersebut ternyata ditatah oleh aktivitas tektonik masa silam. Yakni lewat aktifnya sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Patahan besar Kebumen-Muria-Meratus membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. Ia bermula dari Tanjung Karangbolong masakini dan menerus ke arah timur laut melewati Semenanjung Muria dan dasar Laut Jawa hingga akhirnya berujung di Pegunungan Meratus (Kalimantan Selatan). Patahan besar ini bersifat geser kiri (left lateral). Artinya bila kita berdiri tepat di satu sisinya, maka sisi yang berseberangan dengan kita akan terlihat bergerak ke kiri. Seperti halnya semua patahan maupun patahan besar modern, gerakan ini senilai beberapa milimeter saja setahunnya. Namun dalam jangka waktu geologi, yakni jutaan tahun, nilai pergerakan itu akan menghasilkan pergeseran hingga puluhan atau bahkan ratusan kilometer.

Sementara sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang pun membentang hingga lebih dari 1.000 kilometer. Dimulai pulau Nusakambangan masa kini dan merentang ke arah barat laut melewati Pamanukan (Jawa Barat), dasar Laut Jawa, sisi utara Kepulauan Seribu dan berujung di Lematang (Sumatra Selatan). Berbeda dengan patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang ini bersifat geser kanan (right lateral). Beberapa bagian dari sistem patahan besar ini mungkin masih aktif di masakini, misalnya sesar Kroya (Cilacap) maupun sesar Baribis (Subang). Hal tersebut berbeda dengan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus, yang aktif mulai sekitar 65 juta tahun silam sehingga kini sudah sangat tua dan sepenuhnya mati.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Gambar 2. Diagram skematik sederhana yang memperlihatkan keberadaan sistem patahan besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang. Berpuluh juta tahun silam saat keduanya itu masih aktif sepenuhnya dengan arah gerak ditunjukkan oleh tanda panah kuning, gabungan aktivitas keduanya membuat sebagian pesisir selatan Jawa Tengah terangkat hingga 2.000 meter lalu terkunci (panah hitam). Sebagian zona pengangkatan kini tersisa sebagai karst Tanjung Karangbolong. Sementara sisi timur dan baratnya terbenam ke dasar laut. Sebaliknya pesisir utara Jawa Tengah juga turut terbenam, sebagai kompensasi isostatik. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Satyana & Purwaningsih, 2002.

Mari bayangkan kita kembali ke masa berjuta tahun silam, tatkala kedua sistem patahan besar yang berbeda itu masih aktif sepenuhnya. Kedua sistem patahan besar itu seakan membentuk sisi-sisi segitiga raksasa. Segitiga tersebut meliputi mayoritas daratan Jawa Tengah dan sisi timur daratan Jawa Barat. Seluruh segitiga ini didorong oleh kedua sistem patahan besar itu ke arah selatan. Akibatnya puncak segitiga raksasa itu, yang terletak di Tanjung Karangbolong masakini, pun didesak perlahan hingga membumbung naik sampai terkunci. Terjadilah pengangkatan hingga setinggi 2.000 meter dari posisinya semula. Sebagai konsekuensinya maka alas segitiga, yakni bentangan pesisir utara Jawa Tengah, terkena kompensasi isostatik yang membuatnya secara perlahan-lahan terbenam hingga di bawah paras Laut Jawa. Inilah yang menyebabkan garis pantai utara Jawa Tengah menjorok ke selatan.

Erosi selama berjuta tahun lantas memahat dan mengikis kawasan puncak segitiga raksasa ini. Namun saat ini pun kita masih bisa melihat sisa-sisanya sebagai karst Tanjung Karangbolong dengan puncak tertingginya 600 meter dpl (dari paras air laut). Dorongan yang sama juga yang membuat bebatuan campur aduk jejak palung purba terangkat dan tersingkap di Karangsambung-Karanggayam-Sadang. Lebih ke selatan lagi, aktivitas kedua sistem patahan besar itu membuat Pegunungan Selatan di bentangan Pangandaran-Parangtritis pun merosot jauh secara perlahan-lahan hingga akhirnya tenggelam di bawah paras air laut.

Aktivitas tektonik dan erosi terus membentuk rona rupabumi Kebumen. Erosi mengikis gunung dan pegunungan untuk kemudian menghanyutkan tanahnya ke sejumlah sungai. Saat sungai-sungai tersebut menuangkan airnya ke Samudera Indonesia, tanah pun turut terhanyut untuk kemudian mengendap sebagai massa tanah bergeometri menyerupai kipas. Sehingga dinamakan kipas endapan/kipas aluvial. Di ujung utara Tanjung Karangbolong terdapat kipas aluvial Gombong (KAG), hasil pengendapan sungai Jatinegara, Gombong, Kemit dan Kejawang (Karanganyar). Kota Gombong berdiri di atas kipas aluvial ini dengan elevasi 19 meter dpl. Di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Kebumen (KAK) yang membentang luas mulai dari Karanganyar, Buluspesantren utara hingga Kutowinangun. Kipas aluvial ini dibentuk sungai Luk Ulo. Ia tersusun dari batuan sedimen lempung berpasir (lempung pasiran) yang sangat baik untuk bahan baku batubata dan genteng. Maka tak mengherankan industri batubata dan genteng tumbuh dengan baik di sini. Kipas aluvial Kebumen juga menjadi landasan bagi berdirinya kota Kebumen, yang menempati elevasi 21 meter dpl. Dan di sebelah timurnya terdapat kipas aluvial Prembun (KAP), yang membentang hingga ke perbatasan Kebumen-Purworejo. Sungai membentuk kipas aluvial ini diantaranya adalah sungai Bedegolan dan Wawar.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Gambar 3. Rona dataran rendah Kabupaten Kebumen dalam citra satelit pada kanal cahaya tampak yang disajikan GoogleEarth. Terlihat lokasi delta purba yang kini merupakan kipas aluvial Gombong, kipas aluvial Kebumen dan kipas aluvial Prembun. Di sebelah selatan kipas-kipas aluvial ini terlihat kawasan pantai tua dan pantau muda. Kawasan rawan bencana tsunami di Kabupaten Kebumen mencakup kawasan pantai muda dan (sebagian) pantai tua ini. Sumber: Sudibyo, 2015 diadaptasi dari Ansori dkk, 2010.

Pada waktu yang sama aktivitas tektonik secara perlahan-lahan mengangkat sisi selatan pulau Jawa hingga menyembul ke atas paras air laut. Pertumbuhan kipas-kipas aluvial itu pun terhenti. Muara sungai-sungai pun bergeser lebih jauh ke selatan. Rawa-rawa sempat terbentuk di sana-sini. Namun lama kelamaan semuanya mengering dan tertimbun tanah yang terus dipasok sungai-sungai. Terbentuklah dataran rendah. Hembusan angin laut secara terus-menerus membentuk sejumlah pematang pantai, yakni bukit-bukit pasir yang merentang cukup panjang sejajar pantai. Di sela-sela pematang pantai terdapat lembah-lembah kecil. Dari garis pantai hingga 4 kilometer ke daratan merupakan kawasan pantai muda. Di sini terdapat 3 hingga 4 pematang pantai yang tingginya bervariasi antara 1 hingga 3 meter dari lembah disampingnya. Lembah-lembah tersebut umumnya menjadi kebun/sawah atau pemukiman. Namun ada pula yang dialiri sungai-sungai kecil. Seperti sungai Kejawan dan Rama di Puring yang mengalir ke kanal/sungai Telomoyo di barat. Juga sungai Aren dan Kating di Klirong yang mengalir ke timur menuju sungai Luk Ulo. Serta sungai Pucang dan Gede di Ambal dan Mirit, yang juga mengalir ke timur hingga bermuara ke sungai Wawar. Sementara antara 4 hingga 7 kilometer dari garis pantai ke daratan merupakan kawasan pantai tua. Terdapat sejumlah pematang pantai pula di sini, namun lebih landai. Di banyak tempat bahkan pematang-pematang pantainya sudah diratakan/didatarkan untuk pemukiman.

Pantai berdataran rendah inilah wajah dominan pesisir selatan Kabupaten Kebumen. Dari 58 kilometer garis pantai di kabupaten ini, 45 kilometer diantaranya merupakan pantai berdataran rendah. Inilah garis pantai yang menjadikan Kabupaten Kebumen demikian rentan akan tsunami.

Peta Bahaya dan Evakuasi

Pasca bencana tsunami 2006 yang menewaskan puluhan penduduk Kabupaten Kebumen serta menimbulkan kerugian material cukup besar, kebutuhan akan mitigasi bencana tsunami mulai mengemuka. Termasuk kebutuhan akan peta bahaya tsunami, yang hingga 2006 TU itu belum dimiliki Kabupaten Kebumen. Sebagai tindak lanjut kerjasama pemerintah Jerman (melalui Departemen Pendidikan dan Penelitian) dan Indonesia (melalui Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi) dalam payung GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System), maka dibentuklah Kelompok Kerja Kebumen untuk Pemetaan Bahaya Tsunami. Kelompok kerja tersebut bertugas pada 2009 hingga 2010 TU dengan tujuan untuk menghasilkan dua peta. Peta pertama adalah peta bahaya tsunami (PBT) multiskenario bagi Kabupaten Kebumen hingga skala 1:25.000. Sementara peta kedua adalah peta evakuasi tsunami (PET) bagi Kabupaten Kebumen.

Kedua peta tersebut disusun sebagai bagian dari kerangka sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS (Indonesia tsunami early warning system) di bawah BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Sistem peringatan dini ini mengenal tiga status. Status pertama adalah “Waspada” yang hanya berlaku untuk garis pantai dan tepi sungai. Status kedua adalah “Siaga” yang berlaku untuk kawasan zona merah. Dan status ketiga adalah “Awas” yang berlaku untuk kawasan zona kuning. Baik dalam peta bahaya tsunami maupun peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen terdapat dua zona, yang dibentuk mengikuti tingkat peringatan BMKG. Zona pertama adalah zona merah, yang berlaku untuk status “Siaga.” Sementara zona kedua adalah zona kuning, berlaku bila BMKG mengeluarkan status “Awas.” Kedua peta tersebut disusun dengan memperhitungkan sejumlah aspek (geomorfologi, elevasi dan jarak dari pantai) tanpa mempertimbangkan hasil pemodelan genangan akibat invasi tsunami ke daratan.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Gambar 4. Tingkatan status tsunami beserta kode warnanya seperti disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang berada di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sumber: BMKG, 2015.

Peta bahaya dan evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen merupakan peta multiskenario. Gempa akbar (megathrust) menjadi salah satunya lewat tiga skenario gempa besar/akbar. Masing-masing adalah gempa hipotetik berkekuatan 7,5 skala magnitudo (SM), 8 SM dan 8,5 SM. Skenario lainnya yang dimasukkan adalah potensi tsunami dari longsoran besar bawah laut, baik yang menyertai kejadian gempa besar (seperti kasus Gempa Pangandaran 2006) maupun yang tidak. Faktor lainnya yang dipertimbangkan adalah invasinya ke daratan hingga menghasilkan genangan (inundation). Melambatnya kecepatan sisi muka tsunami, sementara sisi belakangnya masih melaju lebih cepat, membuat tinggi gelombang saat tiba di garis pantai mengalami run-up hingga belasan atau bahkan puluhan kali lipat lebih tinggi dibanding semula. Tsunami yang sudah meninggi inilah yang bakal menginvasi daratan yang tepat berhadapan dengan garis pantai.

Seberapa jauh invasi ke daratan terjadi sangat dipengaruhi oleh tinggi gelombang di garis pantai, bentuk pantai, topografi daratan di belakang pantai dan rapat tidaknya vegetasi (tumbuhan) di pantai. Makin tinggi tsunami saat tiba di garis pantai, maka makin jauh invasinya ke daratan. Pantai yang berlekuk-lekuk (berteluk) akan mengalami invasi tsunami lebih besar dibanding pantai datar, karena tsunami menjadi terakumulasi (terkumpul) dalam lekuk-lekuk tersebut. Demikian halnya pantai bermuara sungai akan mengalami invasi tsunami lebih besar, apalagi sungai menjadi jalan bebas hambatan bagi tsunami untuk merangsek ke darat. Dan dua pantai dengan bentuk sama persis akan bernasib berbeda kala tsunami melanda jika terdapat perbedaan dalam kerapatan tumbuhan di pantai. Semakin rapat tumbuhannya, maka peranannya mereduksi energi tsunami kian besar sehingga invasinya kian berkurang.

Zonasi

Peta bahaya tsunami dan peta evakuasi Kabupaten Kebumen telah memasukkan faktor-faktor tersebut. Saat diterapkan ke segenap garis pantai Kabupaten Kebumen, dijumpai tiga kawasan. Kawasan pertama adalah Tanjung Karangbolong. Di sini zona merah dan zona kuning hanya mencakup area sempit selebar garis pantai. Bila terjadi tsunami dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka siapa saja yang sedang berada di pantai-pantai Pedalen, Menganti, Karangbata, Pecaron (Srati) dan Pasir bisa langsung mengevakuasi diri ke bukit-bukit yang ada di belakang setiap pantai tersebut. Jarak yang harus ditempuh pun tak jauh.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 5. Pantai Petanahan (Karanggadung), contoh pantai datar di Kabupaten Kebumen. Di sebelah kiri nampak bukit-bukit pasir yang membentuk pematang pantai, sementara di sebelah kanan terlihat perairan Samudera Indonesia. Tanda panah menunjukkan invasi maksimum/genangan terjauh akibat bencana tsunami 2006, yang mencapai 60 meter dari garis pantai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Sementara kawasan kedua adalah kawasan pantai datar yang ada di dua tempat. Tempat pertama ada di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo. Di sini zona merah mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning mencakup area hingga selebar 1.000 meter dari garis pantai. Maka baik zona merah ataupun zona kuning berada di kawasan pantai muda. Zona merah dan kuning di sini meliputi kecamatan Puring, Petanahan dan Klirong. Desa-desa yang tercakup adalah Surorejan, Puring, Sidoharjo, Karangrejo, Karanggadung dan Tegalretno. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Petanahan (Karanggadung). Tidak ada bukit di kawasan ini. Sehingga kala BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Sementara pantai datar yang kedua ada di antara muara sungai Luk Ulo dan Wawar. Berbeda dengan pantai datar di antara muara sungai Telomoyo dan Luk Ulo, di sini situasinya lebih kompleks seiring adanya sungai Pucang dan Gede yang cukup panjang dan mengalir ke timur hingga bermuara di sungai Wawar. Zona merah memang tetap mencakup area selebar hingga 300 meter dari garis pantai. Namun zona kuning-nya jauh lebih lebar, yakni mencakup area hingga selebar 4.000 meter dari garis pantai. Meski demikian harus dicatat bahwa zona kuning selebar 4.000 meter ini hanya berlaku dalam skenario terburuk, yakni bila terjadi gempa akbar yang setara gempa-akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (berkekuatan 9,3 SM). Di luar skenario terburuk, zona kuning tetap selebar 1.000 meter dari garis pantai.

Zona merah maupun zona kuning (baik dalam skenario terburuk maupun bukan) merupakan kawasan pantai muda yang meliputi kecamatan Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Desa-desa yang tercakup diantaranya Setrojenar, Brecong, Entak, Ambalresmi, Petangkuran, Miritpetikusan dan Tlogodepok. Obyek wisata yang tercakup meliputi pantai Bocor (Setrojenar). Di kawasan ini pun tidak ada bukit. Sehingga bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, evakuasi hanya bisa dilakukan ke arah utara hingga sejauh minimal 200 meter. Sementara saat statusnya “Awas”, evakuasi pun ke arah utara namun hingga sejauh minimal 1.000 meter.

Dan kawasan yang ketiga atau yang terakhir adalah pantai bermuara sungai. Terdapat empat lokasi demikian, masing-masing adalah muara sungai Bodo, Telomoyo, Luk Ulo dan Wawar. Muara sungai Bodo terletak di kecamatan Ayah sekaligus menjadi tapalbatas antara Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Di sini terdapat pantai Logending atau pantai Ayah yang demikian populer. Zona merah di sini merentang hingga sejauh 1.700 meter dari muara, atau hingga 2.600 meter dari muara untuk di tepi sungai. Sementara zona kuning merentang hingga sejauh 6.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Ayah dan Candirenggo. Prinsip utama evakuasi di kawasan muara sungai adalah sebisa mungkin menghindar dari tepi sungai hingga sejarak minimal 500 meter dan tidak boleh melewati jembatan yang melintas di sungai tersebut. Karena muara sungai Bodo terletak tepat di sisi barat Tanjung Karangbolong, maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami baik dengan status “Siaga” maupun “Awas”, maka penduduk atau pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur menuju bukit-bukit gamping Tanjung Karangbolong. Karena cukup dekat, maka jarak evakuasinya relatif pendek.

Situasi yang mirip juga dijumpai di lokasi kedua, yakni muara sungai Telomoyo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian dari kecamatan Buayan sekaligus sisi timur Tanjung Karangbolong. Zona merah di sini merentang hingga 900 meter dari muara. Sementara zona kuning menjulur hingga 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Karangbolong, Jladri dan Adiwarno. Saat terjadi tsunami baik dalam status “Siaga” atau “Awas”, maka evakuasi ke bukit-bukit Tanjung Karangbolong adalah pilihan terbaik dengan jarak evakuasi yang relatif pendek.

Namun tidak demikian dengan sisi timurnya. Bentang lahan di sini tergolong dataran rendah, sementara guna menuju bukit-bukit di Tanjung Karangbolong mau tak mau harus melewati jembatan (yang terlarang dalam evakuasi tsunami). Zona merah dan kuning di sini masing-masing merentang 900 dan 5.000 meter dari muara. Desa-desa yang tercakup adalah Tambakmulyo dan Weton Kulon, yang menjadi bagian kecamatan Puring. Sebuah obyek wisata yang baru tumbuh dan populer ada pula di sini, yakni pantai Suwuk. Prinsip evakuasi tsunami di sini tetap adalah menjauhi pantai dan tepi sungai. Maka bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga” penduduk dan pengunjung harus mengevakuasi diri ke arah timur untuk kemudian ke utara menuju perbatasan desa Tambakmulyo dan Weton Kulon. Sedangkan jika tsunami berstatus “Awas”, maka evakuasi harus dilakukan hingga mencapai desa Kedaleman Wetan.

Hal serupa juga berlaku di lokasi ketiga, yakni muara sungai Luk Ulo. Sisi barat muara sungai ini merupakan bagian kecamatan Klirong sementara sisi timurnya masuk kecamatan Buluspesantren. Desa-desa yang tercakup adalah Tanggulangin, Pandan Lor dan Ayamputih. Karena sungai Luk Ulo berbelok ke barat sebelum bermuara, maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya merentang hingga sejauh 1.000 meter dari garis pantai. Sementara zona kuning menjulur hingga 4.200 meter dari garis pantai, atau hingga ke sekitar titik pertemuan sungai Luk Ulo dengan sungai Kedungbener.

Prinsip evakuasi tsunaminya tetap sama, yakni menjauhi pantai dan tepi sungai. Saat BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, penduduk Tanggulangin harus mengevakuasi diri ke arah utara menuju desa Tambakprogaten. Sementara bila tsunami berstatus “Awas”, evakuasi penduduk Tanggulangin dan Pandan Lor diarahkan menuju ke desa Tambakprogaten atau ke sebelah baratnya lagi. Di sisi timur muara sungai Luk Ulo, penduduk Ayamputih diarahkan mengevakuasi diri ke utara kemudian ke timur menuju desa Setrojenar bagian utara baik pada saat status “Siaga” maupun “Awas.”

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Gambar 6. Pantai Suwuk, contoh pantai bermuara di Kabupaten Kebumen. Di latar belakang nampak bukit-bukit yang menjadi bagian pantai Karangbolong. Sementara di latar depan aliran sungai Telomoyo sedang mengalir menuju Samudera Indonesia. Dalam bencana tsunami 2006, invasi maksimumnya mencapai 300 meter terhitung dari muara sungai. Sumber: Sudibyo, 2006.

Dan hal yang sama pun diterapkan di lokasi keempat. Yakni muara sungai Wawar, yang juga tapalbatas Kabupaten Kebumen dengan Purworejo. Seperti halnya sungai Luk Ulo, sungai Wawar pun berbelok ke barats ebelum bermuara. Dan bahkan di dekat muaranya terdapat laguna, yang kini menjadi bagian dari tempat wisata baru bernama pantai Lembupurwo. Maka patokan jarak untuk zona merah dan kuning adalah garis pantai yang lurus dengan tepi sungai. Zona merahnya menjulur hingga 1.500 meter dari garis pantai. Sementara zona kuningnya hingga 4.500 meter dari garis pantai. Seluruhnya merupakan bagian dari kecamatan Mirit, yang mencakup desa-desa Mirit, Tlogopragoto, Lembupurwo, Wiromartan dan Rowo.

Bila BMKG menyatakan terjadi tsunami dengan status “Siaga”, maka penduduk desa Tlogopragoto, Lembupurwo dan Wiromartan serta pengunjung pantai Lembupurwo harus mengevakuasi diri ke utara lalu ke barat hingga desa Wergonayan. Langkah serupa juga berlaku pada saat statusnya “Awas”, hanya saja kini melibatkan pula desa Mirit dan Rowo.

Penutup

Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen sejatinya telah cukup lengkap. Selain membagi kawasan pesisir Kabupaten Kebumen ke dalam dua zona sesuai dengan tingkatan status yang bisa disajikan sistem peringatan dini tsunami Indonesia di bawah BMKG, jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi (titik kumpul) juga sudah ditetapkan.

Masalah utama tinggal bagaimana penerapannya? Khususnya bagi 220.800 penduduk yang tinggal di kawasan pesisir Kebumen. Bagaimana agar penduduk yang berpotensi terdampak bisa memahami dan mengimplementasikan apa yang telah disusun dalam kedua peta tersebut? Hanya ada tiga jalan, yakni sosialisasi, latihan dan pendidikan. Peta bahaya dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen takkan bermanfaat bila tak disosialisasikan ke masyarakat. Langkah sosialisasi memang sudah dilakukan, misalnya oleh BPBD Kabupaten Kebumen dan PMI Cabang Kebumen. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala menyertakan media, khususnya media sosial yang penetrasinya lebih jauh ke publik. Sementara jalan kedua adalah latihan. Sosialisasi akan lebih bagus lagi tatkala masyarakat di kawasan pesisir juga diajak berlatih simulasi tsunami. Sehingga jalur-jalur evakuasi dan titik-titik penerimaan pengungsi bisa lebih melekat dalam benak setiap insan. Sementara jalan yang ketiga adalah lewat pendidikan, khususnya bagi generasi muda. Pendidikan tentang bencana alam khususnya tsunami sekaligus pengenalan peta bahaya dan peta evakuasi serta simulasinya seyogyanya bisa dilakukan pada siswa-siswi di sekolah-sekolah yang ada di kawasan pesisir Kebumen. Sebab mitigasi terbaik dalam menghadapi tsunami adalah apa yang telah tertanam dalam benak tiap insan.

Akhir kata, tak satupun insan yang berharap bahwa zona subduksi di Samudera Indonesia lepas pantai selatan Jawa Tengah akan melepaskan energinya. Prinsip utama mitigasi adalah selalu berharap yang terbaik. Namun di saat yang sama, bersiaplah untuk hal-hal yang terburuk. Andaikata pelepasan itu kelak terjadi dalam wujud gempa besar/akbar beserta tsunaminya, Kabupaten Kebumen seyogyanya bisa mengantisipasi efek terburuk yang datang sebagai gelora tsunami.

Seperti apa peta bahaya tsunami dan peta evakuasi tsunami Kabupaten Kebumen dalam format yang lengkap? Silahkan lihat di sini.

Referensi :

Ansori dkk. 2010. Evaluasi Potensi dan Konservasi Kawasan Tambang Pasir Besi pada Jalur Pantai Selatan Di Kabupaten Purworejo-Kebumen, Jawa Tengah. UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI.

Satyana & Purwaningsih. 2002. Lekukan Struktur Jawa Tengah, Suatu Segmentasi Sesar Mendatar. Makalah Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Yogyakarta-Central Java Section, Basement Tectonics of Central Java, Maret 2002.

Raditya dkk. 2010. Catatan Proses Pemetaan Bahaya Tsunami Kabupaten Purworejo. Kerjasama Pemkab Purworejo dan GITEWS (German-Indonesia Tsunami Early Warning System).

Iklan

7 thoughts on “Mitigasi Tsunami Kabupaten Kebumen, Mengelola Ancaman dari balik Pegunungan yang Tenggelam

  1. informasinya ini penting banget, pak. khususnya buat warga kebumen di pesisir selatan. saya sendiri yang tinggal di ds. sawangan,.kec.kuwarasan takut akan bahaya gempa yang dapat berakibat tsunami. apaka. ketinggian daerah tempat saya bisa terkena secara langsung.
    apa bisa pak untuk informasi tambahan di sertakan ketinggian masing-masing kecamatan/wilayah dari level air laut.
    ijin share tulisannya pak di jejaring sosial, untuk khususnya buat warga kebumen.

    • marufins berkata:

      Monggo kalo mau dishare mas.

      Ada peta kawasan bahaya tsunami Kabupaten Kebumen di sini (https://ekliptika.wordpress.com/peta-bahaya-tsunami-kebumen/). Sudah cukup lengkap karena sudah memperhitungakn ketinggian dari paras laut dan faktor-faktor lain. Nah tinggal dilihat petanya dan dibandingkan dengan desa panjenengan.

      Setahuku Sawangan Kuwarasan (deket pasar Karanganyar khan) masih cukup jauh dari kawasan bahaya tsunami Kebumen. Kalo ditarik lurus ke selatan dari Sawangan, kawasan bahaya tsunaminya hanya meliputi sebagian kecamatan Petanahan.

      • amin berkata:

        matur suwun info n peta nya mas…sangat membantu krna srmua kluarga saya ada di daerah kawasan pantai selatan puring…

      • marufins berkata:

        Sami2 mas. Mugi2 manpangat. Yang terpenting kenali titik-titik pengungsian sementara (TPS) dan titik pengungsian akhir (TPA) serta jalan2 menuju ke sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s