Bulan, Bulan Seolah-olah dan Bulan Sementara

Bersiaplah menatap langit kala Matahari telah merembang di waktu petang dan malam datang. Bila udara tak berawan dan posisi astronomisnya memungkinkan kita akan menyaksikannya bertahta di langit. Dari waktu ke waktu wajahnya selalu berubah-ubah. Suatu saat ia nampak bundar penuh sebagai purnama. Di saat yang lain dia nampak mirip lengkungan sabit. Di waktu yang lain lagi ia memperlihatkan diri separuh bundaran. Dan di momen yang lain lagi ia bahkan terlihat mirip lingkaran yang benjol pada salah satu sisinya. Itulah Bulan atau Rembulan, sang benda langit pengiring setia Bumi kita. Inilah satu-satunya benda langit yang memang benar-benar mengelilingi Bumi kita, bukan sekedar terkesan. Dengan posisinya yang demikian dekat, tak heran Bulan menjadi benda langit yang telah dikenal manusia semenjak awal peradaban. Tak hanya itu, ia pun mempengaruhi dinamika peradaban manusia. Mulai dari urusan sistem penanggalan (kalender) hingga ke ranah politis: balapan mendaratkan manusia pertama di Bulan.

Di antara satelit-satelit alamiah yang dimiliki planet-planet dalam tata surya kita, Bulan tergolong berukuran besar. Ia memang bukanlah satelit alamiah terbesar seantero tata surya kita. Dengan diameter 3.475 kilometer, Bulan masih kalah besar dibandingkan Io (diameter 3.644 kilometer), Callisto (diameter 4.820 kilometer), Titan (diameter 5.150 kilometer) maupun Ganymede (diameter 5.268 kilometer). Namun demikian dalam hal rasio dimensinya, maka dimensi Bulan relatif terhadap Bumi sebagai planet induknya adalah yang terbesar di antara planet-planet lainnya. Io, Callisto dan Ganymede boleh saja lebih besar dari Bulan. Namun bila dibandingkan dengan Jupiter (diameter 143.000 kilometer) sebagai planet induknya ketiga satelit alamiah itu ibarat kelereng bersanding dengan gajah karena rasionya sangat kecil (masing-masing 2,5 %; 3,4 % dan 3,7 %). Pun demikian halnya bilamana Titan disandingkan dengan planet Saturnus (diameter 120.500 kilometer), rasionya hanya 4,3 %.

Gambar 1. Bulan dalam wajah separuh saat berkonjungsi dengan Saturnus pada 4 Agustus 2014 TU silam, diabadikan dengan teleskop 70 mm yang dirangkai dengan kamera DSLR Nikon D60. Sampai saat ini Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi. Meskipun demikian pada saat-saat tertentu Bulan memiliki teman baru, satelit alamiah tangkapan sementara Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Bulan dalam wajah separuh saat berkonjungsi dengan Saturnus pada 4 Agustus 2014 TU silam, diabadikan dengan teleskop 70 mm yang dirangkai dengan kamera DSLR Nikon D60. Sampai saat ini Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi. Meskipun demikian pada saat-saat tertentu Bulan memiliki teman baru, satelit alamiah tangkapan sementara Bumi. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebaliknya rasio ukuran Bulan terhadap Bumi adalah 27 %, sehingga ukuran relatif Bulan adalah hampir sepertiga Bumi. Dengan ukurannya yang besar, tak heran bila sistem Bumi-Bulan kadang dianggap sebagai sistem planet kembar ketimbang sistem planet dan satelit alamiahnya. Namun anggapan ini lemah. Sebab meski ukuran relatif Bulan memang besar sehingga Bulan tidaklah mengelilingi pusat Bumi melainkan mengitari titik barisenter (titik pusat massa bersama) Bumi-Bulan, namun titik itu hanya sejarak 4.670 kilometer dari pusat Bumi. Maka titik barisenter tersebut sepenuhnya berada dalam tubuh Bumi. Ini berbeda bila dibandingkan sistem Pluto-Charon. Dengan rasio dimensi Charon sebesar 52 % relatif terhadap Pluto, titik barisenter keduanya terletak sejarak 2.110 kilometer dari pusat Pluto. Dengan diameter Pluto 2.250 kilometer maka praktis titik barisenter itu sepenuhnya berada di luar tubuh Pluto. Sehingga jika dilihat tepat di atas bidang edar Charon, Pluto akan nampak bergoyang selagi Charon mengelilinginya.

Bulan menjadi satu-satunya benda langit selain Bumi yang pernah disinggahi manusia, meskipun kunjungan terakhir ke Bulan telah berlalu 43 tahun silam. Misi-misi antariksa ke Bulan, baik yang berawak (menyertakan manusia) maupun tak berawak, telah menghasilkan timbunan data akan seluk-beluk Bulan. Darinya astronomi modern mendeduksi bahwa Bulan lahir melalui peristiwa kosmik yang amat dramatis di awal masa tata surya. Setelahnya Bulan menjadi pengawal Bumi yang setia, menjaga stabilitas poros rotasi Bumi pada kemiringannya. Sehingga iklim di Bumi dapat bergulir stabil, yang memungkinkan terjaganya siklus air, oksigen dan karbon secara berkesinambungan. Sehingga kehidupan dapat tumbuh dan berkembang.

Namun jika sepintas kita bandingkan Bumi dengan planet-planet lainnya dalam tata surya kita, sebersit rasa cemburu mungkin menyapa. Betapa tidak. Planet biru yang kita huni dan cintai ini, yang menjadi satu-satunya tempat dimana kehidupan berjalan secara berkesinambungan, ternyata hanya mempunyai Bulan sebagai satu-satunya satelit alamiahnya. Mars saja, yang ukurannya separuh Bumi, punya dua satelit alamiah: Phobos dan Deimos. Bahkan jika planet-kerdil Pluto diperhitungkan, Bumi kita kalah jauh. Planet-kerdil yang besarnya hanya dua pertiga Bulan itu ternyata dikitari oleh paling sedikit lima buah satelit alamiah. Jangan bandingkan dengan para jumbo seperti Jupiter yang memiliki 67 satelit alamiah maupun Saturnus yang mengoleksi 62 satelit alamiah. Dalam bahasa populer masakini, itu hanya akan membuat kita merasa sedih. Meski di sisi lain kita juga bisa sedikit menghela nafas lega saat membandingkan Bumi dengan Merkurius maupun Venus. Dua planet yang lebih dekat ke Matahari itu sama sekali tak memiliki satelit alamiah barang sebiji pun.

Tapalkuda

Apakah Bumi hanya memiliki Bulan sebagai satu-satunya pengiring setianya?

Pada 10 Oktober 1986 Tarikh Umum (TU) astronom Duncan Waldron menemukan sebuah asteroid dekat-Bumi baru melalui fasilitas teleskop UK Schmidt di kompleks observatorium Siding Spring (Australia). Observatorium ini dikenal akan program pelacakan benda-benda langit mini dalam tata surya kita seperti asteroid dan komet. Salah satu satunya misalnya penemuan komet Siding-Spring yang menggemparkan karena lewat sangat dekat dengan planet Mars di tahun silam. International Astronomical Union (IAU) memberi nama asteroid temuan Waldron ini sebagai asteroid 3753 Cruithne. Semula asteroid yang berdiameter 5 kilometer ini hanya dianggap sebagai asteroid dekat-Bumi yang biasa saja. Ia juga cukup redup, magnitudo semu maksimumnya hanyalah +15,8 atau 6 kali lebih redup ketimbang planet-kerdil Pluto, sehingga tak mudah untuk mengamatinya. dibutuhkan teleskop reflektor yang cermin obyektifnya bergaris tengah minimal 100 cm untuk bisa mengamatinya.

Gambar 2. Asteroid Cruithne (diantara dua garis lurus datar), diabadikan dari Observatorium Powell, Kansas (Amerika Serikat). Asteroid ini adalah asteroid pertama yang diketahui memiliki periode revolusi tepat sama dengan Bumi, sehingga hakikatnya berbagi orbit dengan Bumi. Oleh posisi uniknya, asteroid Cruithne terlihat mengelilingi satu titik dalam orbit Bumi lewat orbit-tampak mirip kacang, jika diamati dari Bumi. Sumber: Observatorium Powell, 2001.

Gambar 2. Asteroid Cruithne (diantara dua garis lurus datar), diabadikan dari Observatorium Powell, Kansas (Amerika Serikat). Asteroid ini adalah asteroid pertama yang diketahui memiliki periode revolusi tepat sama dengan Bumi, sehingga hakikatnya berbagi orbit dengan Bumi. Oleh posisi uniknya, asteroid Cruithne terlihat mengelilingi satu titik dalam orbit Bumi lewat orbit-tampak mirip kacang, jika diamati dari Bumi. Sumber: Observatorium Powell, 2001.

Cruithne baru menyedot perhatian besar mulai 1997 TU kala trio astronom Finlandia dan Kanada, yakni Paul Wiegert, Kimmo Innanen dan Seppo Mikkola memperlihatkan uniknya asteroid ini. Asteroid Cruithne memiliki orbit sangat lonjong, jauh berbeda dibanding orbit Bumi. Orbit Cruithne memiliki perihelion (titik terdekat ke Matahari) sejarak 72 juta kilometer atau berdekatan dengan orbit Merkurius dan aphelion (titik terjauh ke Matahari) 226 juta kilometer atau berdekatan dengan orbit Mars. Sehingga orbit Cruithne memotong orbit Venus, Bumi dan Mars. Namun asteroid ini membutuhkan waktu hampir sama dengan Bumi dalam mengelilingi Matahari, karena periode revolusinya 364 hari (periode revolusi Bumi 365,25 hari). Dalam astronomi, kesamaan nilai periode revolusi ini membuat asteroid Cruithne dikatakan mengalami resonansi orbital dengan Bumi. Tepatnya resonansi orbital 1:1.

Sepasang benda langit yang mengalami resonansi orbital 1:1 bermakna bahwa kedua berbagi orbit yang sama. Resonansi orbital 1:1 istimewa karena tidak stabil. Bila massa kedua benda langit yang beresonansi itu tidak berbeda jauh, maka yang lebih kecil akan diusir keluar oleh yang lebih besar. Bumi kita pernah mengalami situasi seperti ini di awal masa tata surya. Saat itu proto-Bumi harus berbagi orbit bersama dengan proto-Theia, protoplanet seukuran Mars masakini. Proto-Bumi mendepak proto-Theia dari orbitnya, namun sebagai akibatnya proto-Theia justru berbenturan dengan proto-Bumi. Peristiwa itulah yang membentuk Bulan. Tapi karena massa Cruithne amat sangat kecil dibandingkan Bumi, maka depak-mendepak semacam itu tidak terjadi. Sebaliknya justru gerak-gerik Cruithne menyajikan pemandangan yang mengesankan.

Orbits_of_Cruithne_and_Earth Horseshoe_orbit_of_Cruithne_from_the_perspective_of_Earth
Gambar 3. Atas: simulasi yang memperlihatkan bagaimana gerak Bumi dan Cruithne saat dilihat tinggi di atas kutub utara/selatan Matahari (kiri) dengan program Celestia. Keduanya nampak bergerak berlawanan arah dengan jarum jam di orbitnya masing-masing. Bila dilihat dari Bumi, yakni kala Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari (kanan), maka dalam setahun Cruithne terlihat menyusuri orbit-tampak mirip kacang dengan Cruithne seolah bergerak searah dengan jarum jam. Bawah: simulasi gerak asteroid 2002 AA29 selama seabad penuh dengan Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari. Nampak 2002 AA29 bergerak di sekitar orbit Bumi dan membentuk orbit-tampak tapalkuda. Sumber: Jecowa, 2007 & NASA, 2002.

Gambar 3. Atas: simulasi yang memperlihatkan bagaimana gerak Bumi dan Cruithne saat dilihat tinggi di atas kutub utara/selatan Matahari (kiri) dengan program Celestia. Keduanya nampak bergerak berlawanan arah dengan jarum jam di orbitnya masing-masing. Bila dilihat dari Bumi, yakni kala Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari (kanan), maka dalam setahun Cruithne terlihat menyusuri orbit-tampak mirip kacang dengan Cruithne seolah bergerak searah dengan jarum jam. Bawah: simulasi gerak asteroid 2002 AA29 selama seabad penuh dengan Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari. Nampak 2002 AA29 bergerak di sekitar orbit Bumi dan membentuk orbit-tampak tapalkuda. Sumber: Jecowa, 2007 & NASA, 2002.

Bila dilihat pada titik yang nun tinggi di atas kutub utara/selatan Bumi dalam jangka waktu sangat lama hingga lebih dari 100 tahun, asteroid Cruithne terlihat menyusuri angkasa di sekitar orbit Bumi secara teratur melalui orbit-tampak yang mirip tapalkuda/ladam. Sementara jika hanya dilihat dalam setahun, Cruithne terlihat menyusuri orbit-tampak mirip kacang. Titik pusat orbit-tampak mirip kacang ini tepat berimpit dengan salah satu titik dalam orbit Bumi. Keunikan ini terlihat lebih jelas lagi dalam simulator. Bila kita memosisikan Bumi diam seperti halnya Matahari, maka Cruithne akan terlihat bergerak secara teratur menyusuri orbit-tampak tapalkuda-nya untuk ‘menjauhi’ Bumi dan kemudian ‘mendekati’ Bumi dari sisi yang lain. Analisis lebih lanjut memperlihatkan orbit-tampak tapalkuda Cruithne bukanlah sirkuit tertutup, melainkan berbentuk spiral yang secara perlahan kian menjauhi posisi Bumi dan kemudian bergerak mendekati Bumi dari sisi yang lain.

Seolah-olah dan Sementara

Karena beresonansi orbital 1:1 dengan Bumi, maka orbit asteroid Cruithne sesungguhnya tidak stabil. Terbuka kemungkinan ia bakal keluar dari orbitnya dan beralih mendekat ke Bumi hingga akhirnya bertumbukan. Dengan diameter 5 kilometer, tumbukan Cruithne dengan Bumi tentu bakal sangat dahsyat, mungkin setingkat di bawah kedahsyatan tumbukan asteroid yang memusnahkan dinosaurus. Namun analisis memperlihatkan asteroid Cruithne bakal tetap menghuni orbit ini hingga berjuta tahun mendatang. Sehingga potensi bahaya tumbukan asteroid Cruithne dengan Bumi hingga berjuta tahun ke depan dapat dikesampingkan. Belakangan ditemukan sejumlah asteroid yang mirip Cruithne. Misalnya asteroid 54509 YORP, (85770) 1998 UP1, 2002 AA29 (diameter ~100 meter), 2009 BD, 2001 GO2 dan 2010 SO16.

Ada sebuah situasi istimewa untuk asteroid-asteroid yang beresonansi orbital 1:1 dengan Bumi dan memiliki orbit-tampak tapalkuda. Yakni pada saat titik pusat orbit-tampak itu tepat berimpit dengan Bumi, bukan hanya dengan satu titik dalam orbit Bumi. Jika hal demikian terjadi, maka asteroid itu akan menjadi kuasi-satelit alamiah, atau kuasi-Bulan, atau seolah-olah Bulan. Sebab selama beberapa waktu asteroid tersebut terlihat mengelilingi Bumi di orbit tapalkudanya. Apakah asteroid yang berstatus kuasi-Bulan dapat dianggap sebagai satelit alamiah kedua Bumi atau Bulan kedua? Tidak. Sebab asteroid tersebut hanya seakan-akan saja mengedari Bumi. Tapi sesungguhnya ia tak terikat oleh gravitasi Bumi layaknya Bulan. Asteroid kuasi-Bulan sesungguhnya masih tetap beredar mengelilingi Matahari dalam orbitnya sendiri.

Gambar 4. Simulasi pergerakan asteroid 2002 AA29 saat berstatus kuasi-Bulan dalam enam abad mendatang, dengan Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari. Nampak 2002 AA29 bergerak menyusuri orbit-tampak mirip kacang dengan pusat orbit di Bumi, sehingga seolah-olah mengelilingi Bumi. Sumber: NASA, 2002.

Gambar 4. Simulasi pergerakan asteroid 2002 AA29 saat berstatus kuasi-Bulan dalam enam abad mendatang. Kiri: dilihat dari ketinggian di atas kutub utara Matahari dengan Matahari diam, nampak Bumi dan 2002 AA29 beredar mengelilingi Matahari dengan arah berlawanan terhadap jarum jam. Kanan: bila dilihat tinggi di atas kutub utara Bumi dan Bumi dianggap diam sebagaimana Matahari. Nampak 2002 AA29 bergerak menyusuri orbit-tampak mirip kacang dengan arah searah jarum jam. Pusat orbitnya ada di Bumi, sehingga seolah-olah mengelilingi Bumi. Sumber: NASA, 2002.

Asteroid 2003 YN107 (diameter ~30 meter) adalah kuasi-Bulan yang pertama ditemukan. Ia berkedudukan sebagai kuasi-Bulan semenjak tahun 1996 TU dan bertahan hingga 2006 TU. Sebelum tahun 1996 itu gerak asteroid 2003 YN107 mirip dengan perilaku Cruithne. Ia bergerak dalam orbit-tampak tapalkudanya dimana titik pusat orbitnya selalu bergeser dari waktu ke waktu. Pergeseran itu membuat titik pusat orbit-tampak tapalkuda asteroid 2003 YN107 akhirnya berimpit dengan Bumi mulai 1996 TU dan bertahan hingga sepuluh tahun kemudian. Selepas 2006 TU kembali asteroid 2003 YN107 berperilaku seperti Cruithne. Belakangan sejumlah asteroid dekat-Bumi beresonansi orbital 1:1 yang juga menjadi kuasi-Bulan ditemukan, seperti asteroid (164207) 2004 GU9,(277810), 2006 FV35 dan 2014 OL339. Analisis memperlihatkan dalam 600 tahun ke depan, asteroid 2002 AA29 juga bakal menjadi kuasi-Bulan.

Selain kuasi-Bulan, apakah Bumi benar-benar tidak memiliki satelit alamiah yang lain diluar Bulan?

Jawabannya bisa, meski mengandung syarat. Bumi dapat saja memiliki satelit alamiah lain disamping Bulan, namun sifatnya sementara. Jadi satelit alamiah yang lain itu hanya bakal ada untuk jangka waktu tertentu yang sangat singkat. Bumi kita bisa melakukannya khususnya pada asteroid-asteroid dekat-Bumi yang melintas pada kecepatan dan memasuki ruang yang tepat. Ruang tersebut dinamakan ruang Hill, merujuk nama astronom George William Hill (Amerika Serikat). Kadang dinamakan juga sebagai ruang Roche, mengabadikan nama astronom Eduoard Roche (Perancis). Baik Hill maupun Roche adalah dua sosok astronom yang pertama mengusulkan adanya sebuah ruang bervolume yang menyelubungi planet, dimana gravitasi planet tersebut mendominasi ruang itu ketimbang gravitasi planet tetangganya maupun Matahari.

Bagi Bumi, ruang Hill atau ruang Roche ini adalah kawasan yang berjarak hingga 1,5 juta kilometer dari pusat Bumi. Dalam kawasan inilah sebuah satelit alamiah selain Bulan bisa berada. Bulan menjadi satelit alamiah Bumi karena sepenuhnya ada dalam ruang Hill/Roche Bumi. Dengan radius sumbu utama orbit Bulan sebesar 384.000 kilometer dari pusat Bumi, maka radius tersebut masih lebih kecil ketimbang radius ruang Hill/Roche Bumi. Bila ada asteroid dekat-Bumi yang melaju pada kecepatan relatif cukup lambat dan melintas di dalam ruang Hill/Roche Bumi ini, gravitasi Bumi dapat menangkapnya dan memaksanya berubah haluan menjadi mengelilingi Bumi. Proses ini membuat asteroid tersebut menjadi satelit alamiah tangkapan. Satelit tangkapan banyak dijumpai di planet-planet dalam tata surya kita. Misalnya Mars, yang mendapatkan Phobos dan Deimos dari proses tangkapan.

Gambar 5. Pergerakan asteroid 2006 RH120 (di antara dua garis lurus datar) saat berstatus satelit tangkapan sementara Bumi, sebagaimana diabadikan dengan teleskop Schmidt-Cassegrain 40 cm + kamera CCD dari Observatorium Great Shefford (Inggris). Citra pergerakan ini dihasilkan dari empat citra terpisah yang masing-masing merupakan hasil stacking (penumpukan) dari 20 citra beruntun dengan penyinaran masing-masing 4 detik. teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid, sehingga bintang-bintang dilatarbelakangnya terlihat sebagai garis-garis putih. Atas adalah utara. Satelit alamiah tangkapan Bumi itu nampak bergerak dengan kecepatan 47 detik busur dalam setiap menitnya. Sumber: Observatorium Great Shefford, 2007.

Gambar 5. Pergerakan asteroid 2006 RH120 (di antara dua garis lurus datar) saat berstatus satelit tangkapan sementara Bumi, sebagaimana diabadikan dengan teleskop Schmidt-Cassegrain 40 cm + kamera CCD dari Observatorium Great Shefford (Inggris). Citra pergerakan ini dihasilkan dari empat citra terpisah yang masing-masing merupakan hasil stacking (penumpukan) dari 20 citra beruntun dengan penyinaran masing-masing 4 detik. teleskop diarahkan untuk mengikuti gerak asteroid, sehingga bintang-bintang dilatarbelakangnya terlihat sebagai garis-garis putih. Atas adalah utara. Satelit alamiah tangkapan Bumi itu nampak bergerak dengan kecepatan 47 detik busur dalam setiap menitnya. Sumber: Observatorium Great Shefford, 2007.

Satelit alamiah tangkapan Bumi umumnya berumur singkat, bergantung pada konfigurasi orbit awalnya sebelum memasuki ruang Hill/Roche Bumi. Karenanya ia disebut satelit alamiah tangkapan sementara (STS) atau temporary satellite capture (TSC). Dan Bumi sempat memiliki satelit alamiah kedua-nya yang berupa satelit alamiah tangkapan sementara pada periode antara September 2006 hingga Juni 2007 TU. Satelit alamiah kedua itu adalah asteroid 2006 RH120 (diameter ~3 m). Asteroid ini pertama kali terlihat pada 14 September 2006 TU lewat sistem penyigian langit semi-otomatik Catalina Sky Survey sebagai benda langit yang sangat redup (magnitudo semu +19) dan bergerak cepat. Benda langit ini ditemukan kala berada pada jarak 2 kali lipat lebih jauh ketimbang Bulan. Observasi demi observasi selanjutnya memperlihatkan benda langit ini beredar mengelilingi Bumi dan sempat diduga sebagai sisa roket tingkat tiga dari era perlombaan antariksa. Namun analisis lebih lanjut mencoret kemungkinan tersebut sekaligus menempatkan benda langit ini sebagai asteroid yang juga adalah satelit alamiah kedua bagi Bumi, meski hanya sementara. Astronomi modern memperkirakan sedikitnya satu asteroid akan menjadi satelit alamiah tangkapan sementara Bumi dalam tiap dasawarsa.

Gambar 6. Orbit asteroid 2006 RH120 sepanjang 1 Desember 2006 hingga 1 Juli 2007 TU atau selagi menyandang status satelit tangkapan sementara Bumi atau Bulan sementara Bumi. Nampak asteroid mengelilingi Bumi hingga tiga kalis epanjangw aktu itu, dengan orbit yang terus berubah-ubah. Disimulasikan oleh Paul Chodas di NASA Jet Propulsion Laboratory, california (Amerika Serikat). Sumber: NASA, 2015.

Gambar 6. Orbit asteroid 2006 RH120 sepanjang 1 Desember 2006 hingga 1 Juli 2007 TU atau selagi menyandang status satelit tangkapan sementara Bumi atau Bulan sementara Bumi. Nampak asteroid mengelilingi Bumi hingga tiga kalis epanjangw aktu itu, dengan orbit yang terus berubah-ubah. Disimulasikan oleh Paul Chodas di NASA Jet Propulsion Laboratory, california (Amerika Serikat). Sumber: NASA, 2015.

Sepanjang kurun September 2006 TU hingga Juni 2007 TU asteroid 2006 RH120 mengelilingi Bumi dalam orbit lonjong dengan perigee (titik terdekat ke Bumi) 277.000 kilometer dan apogee (titik terjauh ke Bumi) 1,635 juta kilometer, terhitung dari pusat Bumi. Orbit ini ditempuhnya sekali putaran dalam waktu 108 hari. Sebelum September 2006 TU, asteroid ini masih beredar mengelilingi Matahari sebagai bagian dari keluarga asteroid Aten dengan periode 340 hari, perihelion 135 juta kilometer dan aphelion 150 juta kilometer. Pada Juni 2007 TU, selepas melewati titik perigee-nya asteroid 2006 RH120 kembali melejit keluar dari pengaruh gravitasi Bumi. Asteroid itu kemudian mengelilingi Matahari dengan orbit yang berubah dibanding sebelum September 2006 TU. Kali ini orbitnya memiliki perihelion 151 juta kilometer dan aphelion 158 juta kilometer yang ditempuh dalam waktu 383 hari. Orbit demikian menjadikan asteroid 2006 RH120 berpindah ke keluarga asteroid Apollo. Semenjak itu Bumi kita kembali kehilangan satelit alamiah tangkapan termutakhirnya.

Referensi :

Barbee. 2015. Accessible Near-Earth Objects (NEOs). Presentasi dalam 12th Meeting of the NASA Small Bodies Assessment Group (SBAG), 7 Januari 2015.

Great Shefford Observatory. 2007. 2006 RH120 ( = 6R10DB9) (A Second Moon for the Earth?)

Wiegert, Innanen, Mikkola. 2009. Quasi-satellites, a Strange Class of Solar System Object, May Exist in the Outer Reaches of Our Solar System. Western University, Canada.

Wiegert, Innanen, Mikkola. 1997. Near-Earth Asteroid 3753 Cruithne, Earth’s Curious Companion. Western University, Canada.

One thought on “Bulan, Bulan Seolah-olah dan Bulan Sementara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s