Ramadhan: Gempa Madiun Utara, Cerita 4,2 skala Richter dari Klangon

Peristiwanya terjadi jelang akhir Juni kemarin, tepatnya pada Kamis 25 Juni 2015 Tarikh Umum (TU) bertepatan dengan 8 Ramadhan 1436 H. Menjelang tengah hari, tepatnya pukul 10:35 WIB, sebuah getaran lumayan mengguncang sebagian utara Kabupaten Madiun (propinsi Jawa Timur), tepatnya di kecamatan Saradan. Di desa Klangon, yang terletak di lereng selatan Gunung Pandan dan berdekatan dengan tapalbatas Madiun-Bojonegoro, getaran tersebut bahkan dirasakan cukup keras. Sehingga 58 unit rumah di dusun Pohulung di sisi barat desa Klangon dibikin retak-retak pada dinding dan lantainya. Retakan juga terlihat di beberapa bagian jalan raya di desa bersahaja tersebut. Tak pelak penduduk pun dibikin heboh, berlarian keluar dari kediaman masing-masing. Patut disyukuri bahwa meskipun gempa itu memproduksi sejumlah kerusakan ringan, namun belum sanggup merobohkan bangunan. Sehingga tak ada penduduk Klangon yang terluka. Getaran serupa dilaporkan juga dirasakan penduduk desa Klumutan, masih di kecamatan Saradan.

Gambar 1. Peta daratan Madiun bagian timur yang diapit oleh Gunung Wilis di selatan dan Gunung Pandan di utara. Epic_awal merupakan posisi episentrum gempa 25 Juni 2015 TU berdasarkan publikasi awal BMKG. Sedangkan epic_JISView adalah posisi episentrum hasil analisis lanjutan BMKG yang bertumpu pada perangkat lunak JISView. Desa Klangon dan Klumutan nampak cukup dekat dengan posisi episentrum hasil analisis lanjutan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data BMKG.

Gambar 1. Peta daratan Madiun bagian timur yang diapit oleh Gunung Wilis di selatan dan Gunung Pandan di utara. Epic_awal merupakan posisi episentrum gempa 25 Juni 2015 TU berdasarkan publikasi awal BMKG. Sedangkan epic_JISView adalah posisi episentrum hasil analisis lanjutan BMKG yang bertumpu pada perangkat lunak JISView. Desa Klangon dan Klumutan nampak cukup dekat dengan posisi episentrum hasil analisis lanjutan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data BMKG.

Sedikit kebingungan sempat menyeruak di jam-jam pertama pasca gempa. Publikasi awal Pusat Gempa Nasional (PGN) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan gempa tersebut memiliki magnitudo 4,2 skala Richter dengan episentrum terletak pada koordinat 7,73° LS 111,69° BT dan kedalaman sumber gempa 10 kilometer di bawah paras Bumi. Secara geografis episentrum tersebut terletak di kawasan Gunung Wilis, sebuah gunung berapi tua yang membayangi Kabupaten Madiun di sisi timur. Secara teoritis gempa tersebut menghasilkan getaran berintensitas 4 MMI (modified mercalli intensity) di sekujur Gunung Wilis dan dataran rendah sebelah utaranya. Serta getaran 2 hingga 3 MMI yang melampar hingga sejauh kawasan Gunung Lawu di sebelah barat, kawasan Gunung Kelud di sebelah timur, pesisir Samudera Indonesia (Hindia) di sebelah selatan dan daratan Bojonegoro di sebelah utara. Getaran 4 MMI tergolong getaran ringan, terasa oleh segenap orang yang ada dalam rumah baik dalam keadaan duduk maupun berdiri. Getaran yang sama juga bisa dirasakan oleh sejumlah orang (tidak semua) yang sedang beraktivitas di luar rumah. Sedangkan getaran 3 MMI tergolong lemah, hanya dirasakan sejumlah orang (tidak semua) di dalam rumah. Getarannya mirip dengan getaran yang diakibatkan melintasnya sebuah truk kala kita berdiri di pinggir jalan.

Baik getaran 4 MMI maupun 3 MMI tidak berpotensi merusak bangunan, meski dalam bentuk kerusakan ringan sekalipun. Inilah yang membingungkan. Desa Klangon berjarak sekitar 30 kilometer ke utara dari titik episentrum dan secara teoritis berada kawasan yang tergetarkan dengan skala 3 MMI. Seharusnya getaran tersebut tidak sampai merusak bangunan. Namun mengapa di dusun Pohulung terjadi kerusakan? Dan apa yang bisa Indonesia pelajari dari hal ini?

klangon-gempa_lantai-pvmbg-atas

Gambar 2. Retakan yang sangat kentara di lantai teras salah satu unit rumah yang terkena dampak gempa di dusun Pohulung, Klangon (atas). Retakan sejenis, namun membelah jalan beraspal secara diagonal di depan stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Di tepi jalan sisi kanan nampak dinding pondasi pagar kompleks stasiun transmisi tersebut. Sumber: PVMBG, 2015.

Gambar 2. Retakan yang sangat kentara di lantai teras salah satu unit rumah yang terkena dampak gempa di dusun Pohulung, Klangon (atas). Retakan sejenis, namun membelah jalan beraspal secara diagonal di depan stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Di tepi jalan sisi kanan nampak dinding pondasi pagar kompleks stasiun transmisi tersebut. Sumber: PVMBG, 2015.

Dua tim tanggap darurat bencana gempa bumi dari dua institusi yang berbeda, masing-masing dari BMKG serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), segera bergerak untuk menyelidiki. Dari kedua tim tersebutlah terkuak, gempa bumi itu sesungguhnya ber-episentrum tepat di desa Klangon.

Pematahan

Pasca publikasi awalnya, BMKG melanjutkan analisisnya akan gempa tersebut. Ini adalah prosedur standar yang dijalankan oleh lembaga-lembaga geofisika sejenis manapun di seluruh dunia. Analisis lanjutan bertujuan untuk mempertajam hasil analisis sebelumnya dengan melibatkan lebih banyak data yang disumbangkan jaringan seismometer. Dalam gempa yang merusak desa Klangon, analisis lanjutan dilaksanakan dengan berbasis perangkat lunak JISView dan data dari 12 stasiun geofisika di sekujur pulau Jawa bagian tengah dan timur serta pulau Madura. Hasilnya, magnitudo gempa relatif serupa dibanding publikasi awal (yakni 4,16 skala Richter). Namun posisi episentrumnya mengalami relokasi (pemindahan) menjadi ke koordinat 7,49° LS 111,736° BT. Kedalaman sumber gempanya juga mengalami relokasi, yakni hanya sedalam 1 kilometer dari paras Bumi. Secara geografis koordinat episentrum yang telah direlokasi itu kini berjarak hanya sekitar 7 kilometer dari desa Klangon.

Kedekatan ini mencurigakan. Apalagi jika memperhitungkan zona ketidakpastiannya, desa Klangon ternyata tercakup pula ke dalam kawasan episentrum. Mengingat terjadi kerusakan pada sejumlah rumah di dusun Pohulung, maka tim tanggap darurat BMKG dan PVMBG segera berkunjung ke sana untuk melakukan penyelidikan lapangan. Dijumpai temuan yang menarik. Selain di rumah-rumah penduduk, retakan-retakan juga nampak terlihat di halaman dan jalan. Retakan paling menonjol adalah yang melintang jalan demikian rupa di dekat stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Bahkan pagar kompleks stasiun tersebut pun retak-retak. Menariknya lagi, kala titik-titik rumah yang rusak serta retakan-retakan di halaman dan jalan itu diplot ke dalam peta, semuanya berada dalam satu garis lurus. Garis tersebut berorientasi dari timur laut ke barat daya.

Gambar 3. Desa Klangon dari udara, dilihat dari selatan dengan arah pandang miring. Garis kuning takterputus menghubungkan unit-unit rumah yang retak-retak akibat gempa. Sementara garis titik-titik menandai estimasi lokasi zona rekahan sumber Gempa Klangon, dihitung dari posisi stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data PVMBG.

Gambar 3. Desa Klangon dari udara, dilihat dari selatan dengan arah pandang miring. Garis kuning takterputus menghubungkan unit-unit rumah yang retak-retak akibat gempa. Sementara garis titik-titik menandai estimasi lokasi zona rekahan sumber Gempa Klangon, dihitung dari posisi stasiun transmisi TVRI Gunung Pandan. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Earth dan data PVMBG.

Dalam ilmu kegempaan, retakan-retakan di tanah (halaman dan jalan) yang berada dalam satu garis lurus merupakan ekspresi dari zona rekahan atau zona-pecah (rupture zone) dalam gempa bumi tektonik. Dan zona pecah tak lain merupakan ekspresi di paras bumi dari patahan sumber gempa. Gempa bumi tektonik memang disebabkan oleh terpatahkannya segmen kerak bumi dengan luasan tertentu di sepanjang garis sesar pada kedalaman tertentu. Pematahan tersebut menyebabkan lapisan-lapisan bebatuan dalam segmen tersebut saling bergeser atau melenting (slip), dengan orientasi pergeseran bergantung pada sifat pematahannya. Pada dasarnya semakin luas area yang terpatahkan, maka semakin besar pergeseran yang ditimbulkannya dan semakin besar pula magnitudo gempa tektoniknya. Pada umumnya gempa tektonik dengan magnitud antara 6 hingga 7 menyebabkan pergeseran hingga 1 meter. Sementara pada magnitudo 7 hingga 8 pergeserannya hingga 10 meter atau lebih. Zona rekahan umum dijumpai dalam gempa dangkal (gempa dengan kedalaman sumber kurang dari 60 kilometer), meski tak setiap gempa dangkal selalu memproduksi zona rekahan di paras Bumi diatasnya.

Retakan-retakan yang membentuk garis lurus kadang disebut pula sebagai moletrack. Sebab bentuknya menyerupai gundukan memanjang layaknya yang dihasilkan dari aktivitas tikus tanah atau hewan sejenis. Moletrack bisa berbentuk seperti itu apabila dalam orientasi pergeserannya terdapat komponen pergeseran naik (thrust) maupun turun (normal). Di Indonesia, contoh moletrack semacam ini dapat dijumpai misalnya dalam gempa ganda 6 Maret 2007 TU di propinsi Sumatra Barat. Dalam kasus Klangon, zona rekahannya tidak terlihat sebagai moletrack. Ia hanya berupa retakan saja. Sehingga tak ada dominasi komponen pergeseran naik maupun turun. Dan bisa dipastikan bahwa pergerakan zona rekahan tersebut didominasi sepenuhnya oleh komponen mendatar (strike-slip) yang bersifat mengiri (sinistral). Karena kedua sisi tanah di sepanjang zona rekahan ini bergerak mendatar dengan arah yang berlawanan, maka wajar bila bangunan yang berdiri tepat diatasnya akan retak-retak dindingnya. Fakta ini ditunjang pula oleh hasil analisis lanjutan BMKG, yang juga menyimpulkan bahwa gempa tersebut disebabkan oleh pematahan mendatar.

Gambar 4. Moletrack (panah putih) di sepanjang sesar besar Sumatra segmen Sumani yang terdeteksi di Kasiak (propinsi Sumatra Barat) dalam Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 TU. Dua panah hitam menunjukkan arah pergeseran masing-masing segmen permukaan kerak bumi sebelah menyebelah moletrack. Dari moletrack ini diketahui bahwa di lokasi tersebut telah terjadi pergeseran mendatar sebesar 30 cm dan penurunan (di latar depan) sebesar 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Gambar 4. Moletrack (panah putih) di sepanjang sesar besar Sumatra segmen Sumani yang terdeteksi di Kasiak (propinsi Sumatra Barat) dalam Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 TU. Dua panah hitam menunjukkan arah pergeseran masing-masing segmen permukaan kerak bumi sebelah menyebelah moletrack. Dari moletrack ini diketahui bahwa di lokasi tersebut telah terjadi pergeseran mendatar sebesar 30 cm dan penurunan (di latar depan) sebesar 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Di sisi lain, dengan eksistensi zona rekahan di dusun Pohulung desa Klangon, maka dapat dipastikan bahwa sumber gempa yang menggetarkan Kabupaten Madiun bagian utara tersebut berada di desa Klangon. Maka tak berlebihan jika gempa bumi tektonik itu disebut sebagai Gempa Klangon.

Bukan Vulkanik

Gempa Klangon tergolong unik. Jika hanya berdasar magnitudonya, gempa ini merupakan gempa yang kecil dan seharusnya tak menimbulkan kerusakan. Bahkan tepat di paras Bumi di atas sumber gempa sekalipun. Perhitungan menunjukkan getaran maksimum yang terjadi hanyalah berskala 5 MMI pada titik yang berada tepat di atas sumber gempa. Itu getaran yang cukup keras dan bisa dirasakan siapapun, namun belum sanggup untuk menghasilkan kerusakan ringan pada bangunan. Apalagi memproduksi retakan-retakan di jalan. Kerusakan yang terjadi lebih disebabkan karena adanya zona rekahan.

Gambar 5. Kiri: peta topografi daratan sebelah utara kota Bandung (propinsi Jawa Barat). Panah-panah hitam menunjukkan jejak sesar Lembang yang legendaris. Sesar ini terlihat sangat jelas sebagai jajaran bukit-bukit yang hampir lurus dalam arah barat-timur. Kanan: salah satu unit rumah di kampung Muril, desa Jambudipa, yang rusak berat akibat Gempa 28 Agustus 2011 TU meski gempanya tergolong ringan (3,3 skala Richter). Lokasi kampung Muril dinyatakan dalam tanda panah merah. Sumber: Asuh Umat Foundation, 2011.

Gambar 5. Kiri: peta topografi daratan sebelah utara kota Bandung (propinsi Jawa Barat). Panah-panah hitam menunjukkan jejak sesar Lembang yang legendaris. Sesar ini terlihat sangat jelas sebagai jajaran bukit-bukit yang hampir lurus dalam arah barat-timur. Kanan: salah satu unit rumah di kampung Muril, desa Jambudipa, yang rusak berat akibat Gempa 28 Agustus 2011 TU meski gempanya tergolong ringan (3,3 skala Richter). Lokasi kampung Muril dinyatakan dalam tanda panah merah. Sumber: Asuh Umat Foundation, 2011.

Selain penemuan zona rekahan, kedua tim juga menjumpai bahwa pada saat kejadian segenap warga Klangon merasakan getaran gempa. Sebaliknya di desa Klumutan, hanya sebagian warga yang merasakannya. Sementara sebagian lainnya bahkan tidak menyadari bahwa telah terjadi gempa. Sebelum Gempa Klangon ini selama sebulan terakhir warga Klangon telah merasakan sekurangnya 8 kali getaran gempa. Seluruhnya getaran yang ringan dan tidak menakutkan. Hanya getaran Gempa Klangon saja yang paling keras. Nampaknya getaran-getaran kecil sebelum Gempa Klangon merupakan gempa pendahuluan (foreshock). Dan pasca Gempa Klangon, juga dirasakan getaran-getaran yang kecil sebagai gempa susulan (aftershock).

Gempa kecil yang berdampak pada kerusakan dalam lingkup satuan administratif tertentu seperti desa tak hanya terjadi di Klangon saja. Di akhir Agustus 2011 TU, gempa sejenis juga merusak sejumlah rumah di lembur (kampung) Muril di desa Jambudipa, Kabupaten Bandung Barat (propinsi Jawa Barat). Dalam 24 jam sejak 28 Agustus 2011 TU, tiga gempa mengguncang dan menghasilkan getaran keras. Gempa terkeras memiliki magnitudo hanya 3,3 skala Richter sehingga merupakan gempa lemah. Namun getarannya telah sanggup merusak 103 unit bangunan dengan 30 diantaranya rusak parah. Kampung ini terletak di ujung barat sesar Lembang nan legendaris. Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang membentang di sebelah utara kota Bandung. Sesar aktif yang menjuulur dari barat ke timur ini merupakan pembangkit gempa bumi tektonik potensial yang bisa dampaknya bisa terasakan sangat dalam di kota Bandung. Penelitian lebih terkait pergerakan, aktivitas, sejarah kegempaan dan potensi dampak gempa bumi mendatang dari sesar Lembang masih giat dilaksanakan.

Bagaimana dengan Gempa Klangon? Zona rekahan yang dihasilkannya merupakan penanda yang jelas bahwa gempa tersebut disebabkan oleh aktivitas pematahan pada sesar. Jadi bukan akibat aktivitas vulkanik maupun penyebab lainnya. Desa Klangon memang berada di lereng selatan Gunung Pandan. Namun status gunung tersebut adalah gunung berapi tua. Gunung berapi tua merupakan gunung berapi yang tak lagi memperlihatkan aktivitas pergerakan magmanya baik di permukaan maupun bawah permukaan. Namun begitu bentuk tubuhnya masih cukup jelas meskipun mulai dikikis erosi. Pada gunung berapi tua, magma mungkin masih ada dibawahnya. Namun ia tak sanggup lagi menerobos naik ke atas untuk menciptakan aktivitas vulkanik. Magma hanya sanggup memanaskan batuan disekelilingnya, yang lantas terhantar jauh sebagai panas bumi hingga akhirnya memanaskan air bawah tanah. Air yang terpanaskan lantas keluar dalam bentuk mata air panas/hangat sebagai salah satu gejala pasca vulkanik.

Gambar 6. Gunung Pandan dari kejauhan, diabadikan dari tepi jalan raya Caruban-Ngawi. Gunung Pandan merupakan salah satu gunung berapi tua Jawa Timur yang memiliki potensi panas bumi, meski belum diselidiki lebih lanjut dari sisi geologi, geofisika dan geokimia. Sebagai gunung berapi tua, Gunung Pandan tidak memiliki tanda-tanda aktivitas vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 6. Gunung Pandan dari kejauhan, diabadikan dari tepi jalan raya Caruban-Ngawi. Gunung Pandan merupakan salah satu gunung berapi tua Jawa Timur yang memiliki potensi panas bumi, meski belum diselidiki lebih lanjut dari sisi geologi, geofisika dan geokimia. Sebagai gunung berapi tua, Gunung Pandan tidak memiliki tanda-tanda aktivitas vulkanik. Sumber: Sudibyo, 2015.

Terdapat empat mata air hangat di Gunung Pandan, dengan luah (debit) terbesar 2 liter per detik dan temperatur air permukaan tertinggi 36° Celcius (suhu udara berkisar 29 hingga 30° Celcius). Selain mata-mata air hangat, potensi panas bumi di Gunung pandan juga menyeruak dari keberadaan tanah hangat, yakni bagian tanah di permukaan yang suhunya lebih tinggi dibanding sekitarnya. Terdapat empat titik tanah hangat di Gunung Pandan. Dengan semua gejala panas bumi tersebut, perhitungan kasar memperlihatkan Gunung Pandan memiliki potensi menghasilkan energi panas bumi sebesar 50 MWe (megawatt elektrik). Namun sejauh ini belum dilakukan penyelidikan terkait lebih lanjut, khususnya dalam hal geologi, geofisika dan geokimianya.

Kembali ke Gempa Klangon, jika gempa ini disebabkan oleh pematahan pada sesar, sesar apa yang bertanggung jawab? Sejauh ini sesar tersebut belum bernama. Dalam peta geologi Gunung Pandan dan sekelilingnya memang terdapat sesar yang membujur dari timur laut ke barat daya. Sesar tersebut ada di sektor timur laut Gunung Pandan, sejarak sekitar 10 kilometer dari desa Klangon. Mungkin sesar tersebut sejatinya menerus hingga ke tanah dimana desa Klangon berdiri. Dari penuturan para sesepuh desa, getaran sekeras Gempa Klangon kali ini juga pernah mereka rasakan (di desa yang sama) antara 50 hingga 60 tahun silam. Jika getaran tersebut pun berasal dari sesar pembangkit Gempa Klangon kali ini, nampaknya sesar tersebut merupakan sesar aktif. Sehingga kelak di masa depan juga berpotensi melepaskan energinya kembali sebagai gempa tektonik.

Gambar 7. Retakan di depan stasiun transmisi Gunung Pandan. Tanda panah ditambahkan untuk menyajikan persepsi gerakan mendatar mengiri (sinistral) dalam Gempa Klangon. Sumber: Sumberharto (BMKG), 2015.

Gambar 7. Retakan di depan stasiun transmisi Gunung Pandan. Tanda panah ditambahkan untuk menyajikan persepsi gerakan mendatar mengiri (sinistral) dalam Gempa Klangon. Sumber: Sumberharto (BMKG), 2015.

Menyikapi hal tersebut, PVMBG mengeluarkan tiga rekomendasi yang ditujukan untuk penduduk desa Klangon pada khususnya dan masyarakat Kabupaten Madiun pada umumnya. Pertama, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang serta mengikuti arahan dan informasi dari Pemerintah Kabupaten Madiun dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madiun. Jangan terpancing isu yang tak bertanggung jawab. Kedua, agar masyarakat tetap waspada dengan kejadian gempa susulan. Dan yang ketiga, dengan adanya potensi kembali terjadinya gempa tektonik di desa Klangon dalam masa berpuluh tahun mendatang, maka penduduk desa Klangon diharapkan untuk mengikuti kaidah bangunan tahan gempa dalam mendirikan rumah atau bangunan lainnya.

Tambahan

Dalam catatan pak Salahuddin Husein, geolog dan staf pengajar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, sesar yang menjadi sumber Gempa Klangon mungkin berasosiasi (berhubungan) dengan sesar Pacul (Sumberejo). Sesar Pacul terpetakan di daerah Sumberejo, kecamatan Gonndang (Kabupaten Bojonegoro) di sektor timur laut Gunung Pandan oleh Evi Kurniawati (2014). Indikasi sesar Pacul dan sifat pergeserannya yang mengiri (sinistral) terlihat pada adanya bidang sesar, striasi (gores garis) dan zona breksiasi. Analisis kinematik memperlihatkan sesar Pacul nampaknya terbentuk oleh tegasan purba (paleostress) kompresif yang berarah utara-selatan.

Gambar 8. (a). Bidang sesar Pacul (garis kuning) dan zona breksiasinya seperti tersingkap dalam batu gamping lempung formasi Kalibeng di Sumberejo, sektor timur laut Gunung Pandan. Tanda (x) menunjukkan arah gerak segmen batuan di sisi bidang sesar yang tegaklurus memasuki bidang foto, sementara tanda (.) keluar dari bidang foto. (b). Striasi di dekat bidang sesar Pacul. Analisis kinematika menunjukkan gores-gores ini disebabkan oleh tegasan purba berorientasi utara-selatan. Sumber: Kurniawati, 2014 dalam Salahuddin Husein, 2015.

Gambar 8. (a). Bidang sesar Pacul (garis kuning) dan zona breksiasinya seperti tersingkap dalam batu gamping lempung formasi Kalibeng di Sumberejo, sektor timur laut Gunung Pandan. Tanda (x) menunjukkan arah gerak segmen batuan di sisi bidang sesar yang tegaklurus memasuki bidang foto, sementara tanda (.) keluar dari bidang foto. (b). Striasi di dekat bidang sesar Pacul. Analisis kinematika menunjukkan gores-gores ini disebabkan oleh tegasan purba berorientasi utara-selatan. Sumber: Kurniawati, 2014 dalam Salahuddin Husein, 2015.

Kemunculan sesar Pacul tak lepas dari gaya kompresi yang diterima pulau Jawa dari arah selatan. Gaya tersebut merupakan akibat dari desakan lempeng Australia khususnya di kala Pliosen (antara 5,3 hingga 3,6 juta tahun silam). Sesar Pacul juga tak bisa dilepaskan dari terbentuknya Gunung Pandan. Tumbuh dan berkembangnya Gunung Pandan menyebabkan daerah disekelilingnya bersifat elastis sehingga mampu meredam pergeseran blok-blok batuan di sekitar zona sesar. Akibatnya muncul deviasi lokal, yang membuat lipatan dan sesar di sekeliling Gunung Pandan meliuk-liuk memusat ke gunung. Di masa kini deviasi tersebut terlihat sangat jelas dalam rupa liukan-liukan jajaran perbukitan disekitarnya, yang membentuk struktur memusat ke arah Gunung Pandan.

Gambar 8. Peta topografi Gunung Pandan dan kawasan sekitarnya. Garis abu-abu putus-putus menunjukkan jajaran perbukitan yang seharusnya lurus, namun kemudian terbelokkan oleh tumbuh kembangnya Gunung Pandan pada masa aktifnya. Sedangkan garis merah menunjukkan posisi sesar Pacul, yang ditengarai berasosiasi dengan sesar penyebab Gempa Klangon. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Maps dan data dari Salahuddin Husein, 2015.

Gambar 8. Peta topografi Gunung Pandan dan kawasan sekitarnya. Garis abu-abu putus-putus menunjukkan jajaran perbukitan yang seharusnya lurus, namun kemudian terbelokkan oleh tumbuh kembangnya Gunung Pandan pada masa aktifnya. Sedangkan garis merah menunjukkan posisi sesar Pacul, yang ditengarai berasosiasi dengan sesar penyebab Gempa Klangon. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan peta Google Maps dan data dari Salahuddin Husein, 2015.

Magma yang terus menyeruak sepanjang masa aktifnya Gunung Pandan, yakni hingga kala Pleistosen (antara 2,5 hingga 0,12 juta tahun silam), membuat kawasan di sebelah baratnya relatif stabil. Sebaliknya kawasan di sisi timurnya tidak sehingga masih terus bereaksi terhadap gaya kompresi dari selatan. Sebagai akibatnya lipatan dan sesar yang telah ada terdorong demikian rupa ke utara. Dorongan yang sama juga menyebabkan terbentuknya sesar-sesar baru di sisi timur Gunung Pandan

Referensi :

PVMBG. 2015. Laporan Singkat Tim Tanggap Darurat Gempabumi Madiun, 25 Juni 2015. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 6 Juli 2015.

Daryono dkk. 2012. Twin Surface Ruptures of The March 2007 M>6 Earthquake Doublet on the Sumatran Fault. Bulletin of the Seismological Society of America, vol. 102 (Dec 2012) no. 6, 2356-2367.

Asah Umat Foundation. 2011. Cisarua Pasca Gempa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s