Hiroshima, Nagasaki dan Indonesia Merdeka

Pertanyaan ini menggelitik: andaikata kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang tidak dibom nuklir, akankah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 Tarikh Umum (TU)?

Duo proklamator kita Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada waktu yang sungguh langka dan tepat. Indonesia secara faktual sedang mengalami kekosongan kekuasaan pada saat itu. Tatanan geopolitik regional sedang berubah dramatis akibat pemboman nuklir Hiroshima (6 Agustus 1945 TU) dan Nagasaki (9 Agustus 1945 TU) yang dibarengi invasi Uni Soviet ke pendudukan Jepang di Mansyuria (sejak 9 Agustus 1945 TU). Tiga peristiwa beruntun itu memaksa kaisar Hirohito mengambil langkah tak terduga, berpidato untuk pertama kalinya di radio nasional Jepang. Hirohito memaklumatkan kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, tepatnya kepada Amerika Serikat. Penyerahan diri tersebut efektif per 15 Agustus 1945 TU. Meski secara formal penyerahan diri Jepang baru terlaksana setengah bulan lebih kemudian. Tepatnya pada 2 September 1945 TU dalam sebuah upacara di geladak kapal perang USS Missouri milik Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di Teluk Tokyo.

Menyusul penyerahan diri di Teluk Tokyo, pemerintahan pendudukan Jepang di Asia Tenggara pun menyerahkan diri pada 12 September 1945 TU lewat upacara di Singapura. Pasukan Sekutu baru mulai mendarat di Indonesia per 29 September 1945 TU sebagai AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang terdiri dari tentara Inggris dan Australia. Belakangan ketahuan tentara Belanda pun membonceng AFNEI secara diam-diam. Praktis sepanjang periode 15 Agustus hingga 29 September 1945 TU terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia. Ya, secara formal negeri ini saat itu masih berada di bawah cengkeraman pemerintahan pendudukan Jepang. Namun dengan moral prajurit yang ambrol cukup dalam dan hancur lebur akibat kalah perang yang memalukan dan menyesakkan seiring penyerahan diri tanpa syarat, pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia tak bisa berbuat banyak. Sehingga secara faktual Indonesia berada dalam periode kekosongan kekuasaan. Ini yang menjadikan kemerdekaan Indonesia berbeda dibanding negara-negara lain yang memproklamasikan kemerdekaannya pada saat yang hampir sama.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Gambar 1. Awan cendawan raksasa khas ledakan nuklir sedang mengembang di atas udara Nagasaki, hanya beberapa detik setelah bom nuklir berkode Fatman diledakkan di atas kota ini pada 9 Agustus 1945 Tu pukul 11:02 setempat. Sumber: Nagasaki Atomic Bomb Museum.

Bagaimana jika Hiroshima dan Nagasaki tidak dibom nuklir?

Usai kemenangan di teater peperangan Eropa dengan bertekuk lututnya Jerman tanpa syarat di hadapan Sekutu lewat upacara di Rheims (Perancis) pada 8 Mei 1945 TU, Amerika Serikat bersiap menghabisi Jepang dengan cara apapun. Meski Amerika merasa berat melakukannya karena harus bertempur sendirian di teater peperangan Pasifik. Beruntung Uni Soviet kemudian menawarkan bantuan, siap bersama-sama memerangi kekaisaran Jepang. Meski tawaran bantuan ini kemudian dipandang dengan penuh curiga dan dianggap memiliki maksud terselubung. Tidak seperti Soviet, Amerika tidak tertarik menguasai tanah-tanah pendudukan Jepang terlebih dahulu sebelum menyerang negeri induknya. Termasuk Indonesia. Jenderal Douglas McArthur pernah mengusulkan menyerbu pulau Jawa di tahun 1944-1945 TU sebagai bagian dari taktik lompatan kataknya. Namun usulan ini ditolak presiden Roosevelt. Sehingga balatentara Amerika hanya melipir di pinggiran saja dengan menguasai pulau Irian dan Kepulauan Halmahera sebagai pangkalan untuk menyerbu pendudukan Jepang di Filipina.

Operasi Downfall pun dirancang. Inilah serbuan langsung ke pulau-pulau utama Jepang bergaya perang amfibi. Ia mencoba meniru sukses Operasi Overlord di teater Eropa. Overlord adalah pendaratan pasukan Sekutu secara besar-besaran di pesisir Normandia (Perancis) semenjak 6 Juni 1944 TU yang berlanjut dengan serangan darat ke posisi-posisi Jerman di Perancis, Belanda dan Belgia. Serangan darat tersebut akhirnya berujung pada serbuan langsung ke Jerman terutama ke jantungnya: Berlin. Kemenangan pun diraih lebih cepat setelah Uni Soviet menyerbu ke barat, sehingga Jerman dijepit baik dari timur maupun barat. Nah, Downfall bakal mencoba mereplikasinya. Downfall terdiri dari dua bagian. Pertama, invasi Olympic guna menundukkan pulau Kyushu, yang bakal dilaksanakan 1 November 1945 TU. Dan yang kedua invasi Coronet, yang bakal dieksekusi 1 Maret 1946 TU dengan tujuan menaklukkan pulau Honshu sekaligus menguasai Tokyo. Jika semua berlangsung sesuai rencana, Jepang akan dipaksa menyerah sekitar Mei/Juni 1946 TU.

Amerika membutuhkan kemenangan cepat. Untuk itu Operasi Downfall bakal dilaksanakan dengan balatentara yang berlimpah-limpah, hingga tak kurang dari 39 divisi. Tetapi prakiraan korban yang bakal berjatuhan membikin ngeri. Seperti halnya Jerman dalam menghadapi Overlord, Jepang pun telah lama menanti-nantikan kehadiran Downfall. Namun skala pertempurannya diyakini bakal lebih sengit. Jika Jerman mendirikan tembok Atlantik yang kukuh namun bersiap setengah hati namun cenderung meremehkan kemampuan lawannya, maka Jepang jauh lebih siap dengan merancang pertahanan lewat Operasi Ketsugo. Pertempuran Okinawa memperlihatkan betapa Amerika harus membayar mahal setiap jengkal tanah Jepang yang direbutnya. Dalam pertempuran paling berdarah di teater Pasifik itu Amerika harus kehilangan 20.000 prajuritnya dari total 541.000 tentara yang diterjunkan merebut Okinawa. Selain itu masih ada 55.000 orang yang terluka. Bila hasil ini diekstrapolasikan ke dalam Operasi Downfall, korban jiwa akan mencapai hampir setengah juta orang dan sejuta lainnya luka-luka. Prediksi ini tentu tak menyenangkan jenderal-jenderal Amerika. Termasuk McArthur.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Gambar 2. Bayangan manusia di anak tangga. Saat bom nuklir bertajuk Little Boy meledak di ketinggian udara Hiroshima, sosok paruh baya bertongkat ini sedang berdiri di tepi jalan, di ujung anak tangga sebuah bangunan. Ia terlalu dekat dengan ground zero (episentrum titik ledakan), sehingga menderita paparan panas yang sangat tinggi dan sangat kuat. Demikian kuatnya sehingga bayangannya pun tercetak di anak tangga. Sosok ini menjadi salah satu korban tewas akibat paparan panas berlebihan, yang membuat tubuhnya sontak menjadi arang atau bahkan menjadi abu. Sumber: Hiroshima Atomic Bomb Museum.

Di kala para jenderal itu dibikin puyeng dengan upaya persiapan Operasi Downfall sekaligus mereduksi sedikit mungkin korban, solusi tak terduga (dan menggembirakan) datang dari jenderal Leslie R. Grooves. Inilah pucuk pimpinan Proyek Manhattan yang super-rahasia di daratan Amerika, yang telah berlangsung sejak 1942 TU. Kerja keras mereka telah berbuah, Amerika berhasil membangun senjata jenis baru yang bernama bom nuklir. Sebuah pengujian telah dilakukan di Alomogordo (New Mexico) pada 16 Juli 1945 TU dinihari. Bom nuklir berkode Trinity yang terbuat dari 6,5 kilogram Plutonium dan dipermak dalam bentuk bola sempurna diledakkan. Hasilnya memuaskan, sekaligus menggidikkan. Trinity melepaskan energi tak kurang dari 20 kiloton TNT, atau setara dengan 20.000 ton batang dinamit. Kemampuan nan dahsyat ini membuka peluang Amerika untuk menghancurkan infrastruktur dan moral bangsa Jepang tanpa harus melaksanakan Operasi Downfall.

Proyek Manhattan telah menyediakan minimal tiga bom nuklir yang siap pakai. Dua bom pertama pun dikirim ke pulau Tinian, pulau kecil di tengah-tengah Samudera Pasifik bagian barat yang berhasil direbut dan menjadi menjadi landasan utama pemboman intensif ke Jepang. Setelah dirakit dan dimuat ke perut pesawat pembom B-29 Superfortress yang disiapkan khusus, bom pertama yang bertajuk Little Boy (berat 4 ton, mengandung 64 kilogram Uranium) pun diterbangkan ke sasaran utama (kota Hiroshima) pada 6 Agustus 1945 TU pagi buta. Tiga hari kemudian giliran bom kedua yang bernama Fatman (berat 4,6 ton yang mengandung 6,5 kilogram Plutonium) yang dipersiapkan dan diterbangkan ke sasaran utama: kota Kokura. Bila pemboman pertama berlangsung mulus, tidak demikian dengan yang kedua. Kokura ternyata terselubungi awan sepenuhnya sehingga menyulitkan pengeboman. Pesawat B-29 pun beralih ke kota Nagasaki sebagai target cadangan. Awalnya Nagasaki pun tertuttupi awan, namun mendadak sebuah celah menyibak. Di celah itulah Fatman dijatuhkan, lalu meledak.

Kita tahu bagaimana akhir cerita pengeboman nuklir ini. Baik Hiroshima maupun Nagasaki luluh lantak, setelah dihempas ledakan berkekuatan masing-masing 15 kiloton TNT dan 20 kiloton TNT. Tak kurang dari 140.000 warga sipil Hiroshima menjadi korban dan demikian pula 74.000 warga sipil Nagasaki. Digabungkan dengan tak kurang dari 300.000 warga sipil di seantero Jepang yang tewas akibat kampanye pemboman strategis (dengan bom konvensional dan kemudian bom bakar/napalm), tak kurang dari setengah juta warga sipil Jepang yang meregang nyawa sebagai korban serangan udara. Baik pemboman non nuklir maupun nuklir.

Korban jiwa yang melangit tak menggoyahkan keteguhan hati tentara kekaisaran Jepang. Mereka tetap enggan menyerah. Mereka tetap patuh dan bersiap dengan Operasi Ketsugo untuk menangkis serangan amfibi dan pendaratan besar-besaran di pesisir timur. Namun tak demikian dengan kaisar Hirohito. Tergetar oleh demikian besarnya korban jiwa sipil dalam pemboman Hiroshima dan Nagasaki serta ngeri membaca propaganda Amerika yang siap melumat kota-kota Jepang lainnya dengan bom nuklir (padahal stoknya tinggal tersisa sebutir), kaisar pun bersikap. Apalagi setelah Uni Soviet pun menyatakan perang pada Jepang dan mulai menyapu kekuatan darat tentara kekaisaran Jepang di Mansyuria. Pidato radio kaisar pun memerintahkan penghentian tembak menembak dan memastikan Jepang menyerah tanpa syarat. Jenderal-jenderal Amerika pun bersuka cita, sebab Operasi Downfall praktis batal. Dan Amerika tak perlu kehilangan lebih banyak tentaranya lagi. Sementara bagi Hirohito, dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tak enak, lebih baik bila Jepang menyerah ke Amerika karena sistem kekaisaran akan tetap terjaga. Sebaliknya jika bertekuk lutut ke Uni Soviet, gaya revolusi mereka akan menghapus sistem kekaisaran sepenuhnya dari muka bumi.

Kita bisa berandai-andai. Jika bom nuklir tak pernah ada di kancah Perang Dunia 2, kekaisaran Jepang masih sangat kuat di pertengahan tahun 1945 TU itu. Operasi Downfall pun mau tak mau harus dilaksanakan, dengan segenap konsekuensinya. Jika berjalan lancar, Jepang baru dapat ditaklukkan di sekitar pertengahan 1946 TU. Rentang waktu setahun (pasca penyerahan diri Jerman) memungkinkan negara-negara Eropa memulihkan kekuatannya dan turut berpartisipasi dalam teater peperangan Pasifik. Termasuk Belanda. Bila hal itu terjadi, jalannya sejarah Indonesia akan mengambil rute yang sangat berbeda dibandingkan apa yang kita lihat pada hari ini. Singkatnya, tanpa pemboman nuklir di Perang Dunia 2, Indonesia merdeka tidak terjadi pada 17 Agustus 1945 TU.

6 thoughts on “Hiroshima, Nagasaki dan Indonesia Merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s