Robohnya Observatorium Kita, Catatan Idul Adha 1436 H yang Berbeda di Indonesia

Bagian keempat dari lima tulisan

Konjungsi geosentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa saat titik pusat cakram Bulan dan titik pusat cakram Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dipandang pusat Bumi, terjadi pada Minggu 13 September 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 13:41 WIB. Sementara konjungsi toposentris Bulan-Matahari, yakni peristiwa sejenis namun dipandang dari salah satu titik di permukaan globe Bumi, justru terjadi lebih kemudian. Untuk Indonesia, konjungsi toposentrik tersebut berlangsung antara pukul 14:45 WIB (Medan, propinsi Sumatra Utara) hingga 15:32 WIB (Biak, propinsi Papua). Konjungsi toposentrik sejatinya lebih realistis, karena segenap manusia hidup di permukaan Bumi. Namun dalam praktiknya kalah populer dibanding konjungsi geosentrik.

Konjungsi geosentrik Bulan-Matahari menjadi patokan bagi elemen umur Bulan geosentrik. Yakni selang waktu antara saat konjungsi (geosentrik) hingga saat Matahari terbenam di sebuah titik. Umur Bulan bernilai positif jika konjungsi geosentris Bulan-Matahari telah terjadi. Jika sebaliknya maka bernilai negatif. Bagi Indonesia, pada Minggu 13 September 2015 TU senja umur Bulan geosentrik bervariasi antara +1,9 jam (Jayapura, propinsi Papua) hingga +4,9 jam (Lhoknga, propinsi Aceh). Selain umur Bulan geosentrik terdapat pula sejumlah elemen penting lainnya. Yang pertama adalah tinggi Bulan, yakni busur vertikal yang ditarik dari garis cakrawala (horizon) hingga berujung titik pusat cakram Bulan pada saat Matahari terbenam. Seperti halnya umur Bulan, tinggi Bulan pun mengenal nilai positif dan negatif. Tinggi Bulan bernilai positif jika Bulan masih berada di atas cakrawala saat Matahari terbenam. Sebaliknya jika Bulan terbenam lebih dulu ketimbang Matahari, maka tinggi Bulan bernilai negatif. Di Indonesia, pada saat itu tinggi Bulan bervariasi antara -1,3 derajat (Jayapura, propinsi Papua) hingga +0,3 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh).

Elemen selanjutnya adalah elongasi Bulan, yakni jarak sudut antara titik pusat cakram Bulan dan Matahari pada saat Matahari terbenam. Elongasi Bulan selalu bernilai positif. Pada Minggu 13 September 2015 TU senja, elongasi Bulan di Indonesia bernilai antara 1,1 derajat (Merauke, propinsi Papua) hingga 1,9 derajat (Lhoknga, propinsi Aceh). Dan elemen yang terakhir adalah selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari. Yakni selisih waktu antara saat Bulan terbenam dibanding dengan saat Matahari terbenam. Selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari bernilai positif jika Bulan terbenam lebih kemudian dibanding Matahari. Jika yang terjadi sebaliknya, maka selisih waktu terbenamnya Bulan-Matahari akan bernilai negatif. Di Indonesia pada saat itu nilai waktu terbenamnya Bulan-Matahari bervariasi antara -1 menit 50 detik (Jayapura, propinsi Papua) hingga +3 menit 5 detik (Nias, propinsi Sumatra Utara).

Harap digarisbawahi bahwa semua angka di atas merupakan hasil komputasi berdasar sistem perhitungan (hisab) ELP 2000-82. Kondisi dalam perhitungannya pun diidealkan. Misalnya elevasi (ketinggian) setiap titik di Indonesia dianggap sama dengan paras (permukaan) air laut rata-rata.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 1. Peta garis-garis tinggi Bulan di Indonesia pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU dalam penentuan 1 Zulhijjah 1436 H. Nampak bahwa Indonesia dibelah oleh garis nol (garis yang menunjukkan tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Sumber: Sudibyo, 2015.

Minggu 13 September 2015 TU bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1436 H di Indonesia. Setiap takwim (kalender) di Indonesia menunjukkan tanggal yang sama. Baik dalam takwim resmi pemerintah Republik Indonesia (yang bernama takwim standar Indonesia), maupun dalam kalender ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdatul ‘Ulama (NU). Maka 13 September 2015 TU menjadi saat yang krusial, karena menjadi momen untuk menentukan kapan 1 Zulhijjah 1436 H. Yang berhubungan erat dengan kapan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H ditetapkan di negeri ini. Dan sayangnya, 29 Zulqaidah 1436 H terjadi bersamaan waktunya dalam segenap kalender di Indonesia, namun Indonesia kembali berbeda dalam merayakan Idul Adha.

Mengapa? Seperti dijelaskan sebelumnya, khasanah perbedaan dalam berpuasa Ramadhan serta berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia sangat dipengaruhi sikap dua ormas Islam terbesar. Yakni NU di satu sisi dan Muhammadiyah di sisi yang lain. Bagi NU, penentuan tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara rukyat hilaal. Ormas ini tetap menggunakan hisab (perhitungan ilmu falak), namun hisab lebih diposisikan sebagai advisory (pendukung pelaksanaan rukyat). Hasil rukyat hilaal yang bisa diterima di lingkungan NU adalah hasil rukyat yang hisabnya melampaui batas “kriteria” Imkan rukyat. “Kriteria” Imkan rukyat adalah “kriteria” yang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI dengan tujuan untuk menjembatani kubu hisab dan rukyat. Pada posisi tersebut NU bersikap untuk menunggu hasil-hasil rukyat sekaligus memaparkannya di sidang itsbat penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya yang diselenggarakan Kementerian Agama RI.


Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu tak satupun titik di Indonesia yang memenuhi “kriteria” Imkan rukyat. Sehingga dalam pemaparannya di sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, NU menyatakan tak satupun pos rukyat hilaal di bawah jejaring NU yang melaporkan keterdeteksian hilaal. Sehingga bulan kalender Zulqaidah 1436 H pun digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 Zulhijjah 1436 H bertepatan dengan Selasa 15 September 2015 TU.

Keputusan NU ternyata senada dengan keputusan sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H Kementerian Agama RI. Hingga saat ini mayoritas ormas Islam di Indonesia dalam forum sidang itsbat telah menyepakati implementasi “kriteria” Imkan rukyat. Khususnya dalam bentuk revisinya semenjak 1432 H (2011 TU). Ormas Islam yang belum menyepakati “kriteria” tersebut, misalnya Persatuan Islam (Persis) yang memilih mengadopsi “kriteria” LAPAN 2009 untuk kalendernya, pada praktiknya selalu senada dengan keputusan sidang itsbat. Atas dasar demi persatuan Umat Islam di Indonesia.

Sebaliknya Muhammadiyah tidak menunggu hasil rukyat hilaal. Muhammadiyah berpedoman pada hisab dengan “kriteria”-nya sendiri, yakni “kriteria” wujudul hilaal. Muhammadiyah tidak menempatkan rukyat hilaal sebagai, katakanlah, advisory bagi hisab. Dengan posisi demikian Muhammadiyah juga berpedoman untuk tidak berpatokan pada hasil sidang itsbat dalam menetapkan hari Raya Idul Adha 1436 H.

Pada Minggu 13 September 2015 TU senja itu sebagian titik di Indonesia telah memenuhi “kriteria” wujudul hilaal. Khususnya Indonesia bagian barat. Dengan menerapkan prinsip naklul wujud, yang telah diadopsi Muhammadiyah semenjak 1433 H (2012 TU), maka meski bagian timur Indonesia belum memenuhi syarat “kriteria” wujudul hilaal namun tetap menjadi satu kesatuan dengan bagian barat Indonesia. Sehingga Muhammadiyah menetapkan bulan kalender Zulqaidah 1436 H hanya berumur 29 hari dan 1 Zulhijjah 1436 H ditetapkannya jatuh pada Senin 14 September 2015 TU.

Dengan situasi demikian dan ditunjang dengan keputusan Menteri Agama RI yang didasari sidang itsbat penetapan awal Zulhijjah 1436 H, maka nampak jelas bahwa hampir semua ormas Islam akan menetapkan hari raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Hal ini juga yang naga-naganya bakal diputuskan Menteri Agama RI. Sebaliknya Muhammadiyah telah jauh-jauh hari menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Rabu 23 September 2015 TU.

Dalam situasi seperti ini patut diperhatikan pula bahwa Saudi Arabia menetapkan Idul Adha 1436 H bertepatan dengan Kamis 24 September 2015 TU. Harus digarisbawahi bahwa hari Kamis itu akan bertepatan dengan tanggal 11 Zulhijjah 1436 H dalam kalender Ummul Qura yang digunakan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sebagai kalender sipil. Mengingat dengan basis “kriteria” Ummul Qura (yang mirip-mirip dengan “kriteria” wujudul hilaal), sejatinya 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan Senin 14 September 2015 TU. Namun penentuan awal Ramadhan serta dua hari raya di Saudi Arabia tidak berdasarkan atas hisab, melainkan rukyat. Dan jika hasil rukyatnya tidak mendukung, bagi pemerintah Kerajaan Saudi Arabia tidak menjadi persoalan bilamana puasa Ramadhan dimulai pada 2 Ramadhan, atau hari raya Idul Fitri dilaksanakan pada 2 Syawwal, ataupun hari raya Idul Adha bertepatan dengan 11 Zulhijjah.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Gambar 2. Peta tinggi Bulan di segenap permukaan Bumi pada saat Matahari terbenam Minggu 13 September 2015 TU. Garis kuning menunjukkan garis nol (garis dimana tinggi Bulan sama dengan nol derajat). Di sebelah barat garis nol ini semua lokasi memiliki tinggi Bulan positif (+), sementara di timurnya memiliki tinggi Bulan negatif (-). Nampak bahwa seluruh Saudi Arabia berada di kawasan yang memiliki tinggi Bulan positif. Sehingga dalam kalender Ummul Qura dinyatakan bahwa 1 Zulhijjah 1436 H di Saudi Arabia bertepatan dengan 14 September 2015 TU. Namun karena rukyat hilaal di Saudi Arabia gagal mendeteksi hilaal (terutama akibat tutupan badai pasir), maka Idul Adha di Saudi Arabia jatuh pada Kamis 24 September 2015 TU yang bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1436 H. Sumber: Sudibyo, 2015.

Inilah perbedaan tersebut. Khasanah perbedaan ini memang telah klasik, telah terjadi sejak berpuluh tahun silam di Indonesia. Pokok permasalahannya juga berkutat pada hal yang itu-itu saja. Dalam kala termutakhir masalah ini menjadi lebih menarik lagi saat diperbandingkan dengan dua cerita yang berasal dua masa berbeda dari satu tempat yang sama. Yakni Istanbul.

Observatorium

Istanbul adalah kota kuna yang berdiri di tubir dua benua. Sisi barat kota ini tumbuh di atas tanah benua Eropa sementara sisi timurnya mengembang di tepian benua Asia. Selat Bosporus yang tepat berada di tengah-tengah kota ini merupakan jalan air alamiah penghubung Laut Hitam dan Laut Marmara yang juga batas alamiah Asia dan Eropa. Istanbul juga sekaligus kota yang dianggap sebagai ibukota negara besar Islam terakhir: imperium Turki Utsmani. Jejak kebesaran tersebut masih terserak dimana-mana. Salah satunya di sisi barat kota, tempat berdirinya istana Topkapi sebagai salah satu istana utama Turki Utsmani pada masa kejayaannya. Dari istana ini beringsutlah ke utara menyusuri jalan raya hingga tiba di distrik Kasimpassa. Akan dijumpai sebuah stadion besar yang baru saja direnovasi dan kini menyandang nama presiden Turki petahana (incumbent), yakni Stadion Recep Tayyip Erdogan. Inilah markas klub Kasimpassa, klub sepakbola lokal yang bila saja dikembangkan dengan baik bukan tak mungkin dapat menjadi pesaing kuat klub raksasa sekotanya: Galatasaray.

Dari tempat parkir nan luas di sebelah timur stadion Erdogan, berjalanlah ke timur menyusuri jalan Kallavi nan sempit. Teruslah melangkah hingga anda sampai di persimpangannya dengan jalan Istiklal yang besar. Berhentilah di perempatan ini. Layangkan pandangan ke sekelilingnya secara seksama. Di tengah-tengah hutan beton yang mencirikan kota besar peradaban manusia masakini, anda akan menemukan sebuah plakat unik menempel di salah satu dinding gedung di pinggir jalan. Berbentuk persegi, namun didalamnya terdapat bentuk geometris mirip busur derajat yang sering kita gunakan kala masih duduk di bangku sekolah. Di tengah-tengahnya terdapat tali busur dengan pemberat di ujungnya. Plakat tersebut belum lama dipasang. Adalah Turkish Astronomical Society bekerja sama dengan Komisi Nasional UNESCO untuk Turki dan Universitas Koc yang punya gawe memasangnya, dalam rangka Tahun Astronomi Internasional 2009. Plakat inilah satu-satunya jejak modern yang menandakan bahwa di tempat ini dulu pernah berdiri sebuah Observatorium Istanbul.

Pada masanya, Observatorium Istanbul adalah observatorium terbesar sedunia. Itu adalah masa kala dunia sedang gencar-gencarnya menyelenggarakan penjelajahan samudera. Kapal-kapal layar besar mengarung samudera kemana-mana, menuju ke bagian dunia yang (dianggap) belum dikenal. Pembangunan dan pengoperasian armada kapal-kapal layar besar masa itu dapat disetarakan dengan peluncuran pesawat antariksa ulang-alik masa kini. Maka tak berlebihan bila magnitud Observatorium Istanbul pun bisa disetarakan dengan teleskop antariksa Hubble saat ini. Inilah salah satu bangunan monumental di masa keemasan dunia Islam. Gagasan pembangunan Observatorium Istanbul ditelurkan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf, astronom yang dekat dengan sang putra mahkota Syahzada Murad. Kala putra mahkota naik tahta sebagai Sultan Murad III pada 1574 TU, Taqi al-Din pun ngompori sahabatnya itu agar berkenan membangun observatorium besar. Taqi al-Din sering membandingkan Turki Utsmani dengan Timurid, negeri kecil di Asia tengah yang kerap dikoyak peperangan. Namun begitu Timurid pernah memiliki sebuah observatorium besar, lengkap dengan madrasahnya. Yakni Observatorium Samarkand atau lebih populer dengan nama Observatorium UlughBeg. Observatorium Samarkand beroperasi hingga hampir seabad lamanya. Sebaliknya Turki Utsmani yang jauh lebih besar dan lebih gilang gemilang tidaklah demikian.

Gagasan Taqi al-Din memikat sultan. Dan mulailah megaproyek pembangunan Observatorium Istanbul bergulir. Butuh waktu tiga tahun sebelum seluruh bangunan observatorium benar-benar berhasil diselesaikan. Termasuk perpustakaan dan perumahan untuk para staf. Dengan fasilitas ini, Taqi al-Din tak sekedar ingin melampaui pencapaian Observatorium Samarkand, namun juga berambisi menciptakan tabel astronomis terbaru dan terlengkap bagi Matahari, Bulan serta planet-planet. Untuk itu Observatorium Istanbul dilengkapi dengan sejumlah radas (instrumen) tercanggih untuk ukuran zamannya. Seperti bola armillari raksasa, jam astronomis berketelitian tinggi, rubu’ (sextant) raksasa dan sebagainya. Di sisi lain, kompleks Observatorium Istanbul segera menyedot perhatian besar di daratan Eropa. Astronom Tycho Brahe (Denmark) demikian terpesona dengannya. Sehingga kala Brahe memutuskan membangun kompleks Observatorium Uraniborg (atas dukungan raja Denmark) hanya berselang beberapa tahun kemudian, sebagian desain dan radasnya mengacu Observatorium Istanbul.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Gambar 3. Plakat memorial Observatorium Istanbul yang ditempel di bangunan pada salah satu sudut perempatan jalan Kallavi dan Istiklal di Istanbul (Turki). Inilah satu-satunya penanda modern bahwa di sini dulu pernah berdiri observatorium terbesar di dunia pada masanya, Observatorium Istanbul. Sumber: WayMarking.com, 2014.

Apa lacur, impian Taqi al-Din ibarat pungguk merindukan Jupiter. Segera intrik dan konlik meletup dengan para mufti (ulama). Selain merasa dianaktirikan, para mufti berang dengan sosok Taqi al-Din yang gemar menyerempet dunia astrologi, wilayah yang diharamkan dalam Islam. Puncaknya adalah tatkala sebuah komet sangat terang menampakkan diri di langit Istanbul. Komet tersebut, kini dikenal sebagai Komet Terang 1577 atau komet C/1577 V1, berbinar demikian terang hingga melebihi terangnya Venus. Komet itu nampak di langit Istanbul semenjak November 1577 dan terus bertahan hingga tahun itu berakhir. Sultan Murad III segera memerintahkan Taqi al-Din dan para stafnya untuk mengamati komet C/1577 V1 terus-menerus. Baik siang maupun malam. Sekaligus menafsiri apa pengaruhnya bagi manusia khususnya untuk sultan dan kerajaannya. Setelah beberapa lama mengamati, Taqi al-Din menyajikan laporan berbau astrologi yang berbunga-bunga pada sultan. Intinya komet tersebut adalah pertanda baik. Pertanda Turki Utsmani akan terus berjaya. Pertanda Turki Utsmani akan terus bertambah besar. Bahkan laporannya menyebut bahwa komet inilah pertanda kemenangan Turki Utsmani atas Persia, jikalau sultan berkehendak melancarkan invasi ke sana.

Tragisnya, hanya beberapa waktu pasca laporan tersebut wabah penyakit justru berkecamuk hebat. Sebagian Turki Utsmani tergerogoti. Beberapa tokoh penting negeri turut berkalang tanah, menjadi korban. Maka jangankan menginvasi Persia, Turki Utsmani justru sibuk sendiri mencoba mengatasi wabah. Mulai saat itu perhatian sultan terhadap Taqi al-Din sontak memudar. Kini giliran para mufti yang mengambil hati sang sultan. Sebagai kulminasinya, pada 1580 TU mufti kepala Syaikh Qazidada mengajukan saran agar Taqi al-Din disingkirkan sepenuhnya dari istana dan observatoriumnya dibongkar. Gayung bersambut. Sultan Murad III menyetujui sepenuhnya. Maka palu godam pun berayun-ayun, merobohkan Observatorium Istanbul hingga tak berbekas.

Observatorium yang (di)-roboh-(kan) sejatinya bukan hanya monopoli Istanbul. Hal serupa juga dialami Observatorium Uraniborg dalam satu dasawarsa kemudian. Begitu dukungan kerajaan menyurut seiring mangkatnya raja tua dan bertahtanya raja baru yang tak peduli ilmu, Tycho Brahe pun menyingkir. Ia pindah ke Praha (Ceko) dan meneruskan kerja astronominya dengan mendirikan observatorium baru. Disinilah Johannes Kepler datang mengabdi sebagai asisten yang produktif dan kreatif. Kelak berbekal data-data observasi Brahe inilah Kepler menelurkan ketiga hukum pergerakan planetnya yang legendaris sepeninggal Brahe. Uraniborg yang terlantar akhirnya benar-benar dirobohkan (hingga tinggal pondasinya) begitu Brahe wafat. Namun sebaliknya astronomi justru bersemi di tanah Eropa. Fajar astronomi modern akhirnya benar-benar menyembul tatkala hanya dalam beberapa dekade kemudian Galileo Galilei memperkenalkan radas teropong (teleskop) untuk observasi benda-benda langit.

Tidak demikian dengan dunia Islam. Imperium Turki Utsmani masih tetap berdiri hingga tiga setengah abad kemudian meski kian tertatih-tatih. Ia baru benar-benar lenyap dari panggung sejarah pada 1922 TU. Namun sepanjang masa tersebut tak pernah lagi berdiri kompleks observatorium besar nan monumental, yang dioperasikan dengan tekun oleh astronom-astronom Muslim yang disegani. Entah di wilayah Turki Utsmani, maupun di negara-negara Islam lainnya yang semasa seperti Mughal (India) maupun Qajar (Persia). Produk-produk observasi dalam wujud tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang dengan tingkat akurasi yang lebih baik seiring perkembangan zaman pun tak pernah lahir. Pun turunan monumentalnya, seperti misalnya garis meridian acuan. Tak mengherankan bila dalam momen sepenting Konferensi Meridian Internasional 1884 yang digelar guna menentukan garis meridian utama yang menjadi acuan titik koordinat dan jam sejagat, Turki Utsmani (sebagai satu-satunya representasi dunia Islam saat itu) justru memberikan suaranya kepada meridian Greenwich dari Inggris. Padahal meridian Greenwich harus bersaing ketat dengan meridian Washington dari Amerika Serikat dan meridian Paris dari Perancis.

Saya menempatkan peristiwa robohnya Observatorium Istanbul sebagai sebuah penanda penting dalam perkembangan ilmu falak. Yakni sebagai transisi dari ilmu falak era klasik ke era kegelapan yang berlanjut hingga nyaris tiga abad kemudian. Segenap kemegahan ilmu falak era klasik terjungkal hingga ke titik nadirnya begitu memasuki era kegelapan. Nyaris tak ada lagi observatorium yang disegani di dunia Islam. Apalagi observatorium yang melengkapi dirinya dengan radas teropong. Tak ada lagi aktivitas observasi benda langit yang sistematis dan berkesinambungan. Tak ada lagi perdebatan ilmiah nan riuh dari teori yang dilontarkan. Tiada lagi manuskrip yang ditulis. Era klasik mewariskan tak kurang dari 10.000 buah manuskrip yang terserak di segenap penjuru. Jumlah itu diyakini hanyalah sebagian kecil dari karya produktif astronom Muslim era klasik. Peperangan, penaklukan dan penghancuran kota-kota beserta segenap isinya yang kerap terjadi pada masa itu membuat banyak manuskrip, dari bermacam bidang ilmu pengetahuan, yang termusnahkan. Baik sengaja maupun tidak. Pemusnahan paling menonjol adalah tatkala Baghdad (ibukota imperium Abbasiyah), diserbu dan ditaklukkan pasukan Mongol. Perpustakaan Baghdad turut diserbu dan banyak manuskrip yang dibuang ke sungai Tigris, hingga air sungai menghitam sampai ke muaranya akibat tinta yang luntur.

Dan hal yang paling menonjol, adalah terceraikannya hisab dengan rukyat. Rukyat, lebih spesifiknya rukyat hilaal, menurun kualitasnya dan hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi. Tanpa pencatatan untuk kepentingan pengetahuan. Ironis memang. Apalagi di saat dunia Islam demikian terpuruk dalam era kegelapan ilmu falak, astronomi modern justru berkembang pesat di daratan Eropa (dan kemudian Amerika) dalam era pencerahan mereka. Dan astronomi modern pun seakan terlepas dari sentuhan Umat Islam khususnya cendekiawan-cendekiawannya. Meski kemudian ilmu falak era modern berkembang dalam satu setengah abad terakhir, namun dampak yang menyakitkan dari keterpurukan di era kegelapan masih kita rasakan (sebagian).

Perjanjian Internasional

Istanbul kembali mengemuka di masa berikutnya, berselang empat abad setelah robohnya Observatorium Istanbul. Pada 27 hingga 30 November 1978 TU berlangsung sebuah konferensi internasional di kota ini. Topiknya bukan main, yakni tentang kalender Hijriyyah internasional. Pesertanya pun bukan main, yakni para ahli falak utusan dari sejumlah negara Islam ataupun negara berpenduduk mayoritas Muslim. Keputusannya juga bukan main, yakni memperkenalkan sebuah “kriteria” yang menjadi dasar operasi kalender Hijriyyah dalam lingkup global. “Kriteria” tersebut bernama “kriteria” Istanbul. “Kriteria” Istanbul terdiri dari tiga syarat yang harus terpenuhi seluruhnya. Yakni beda tinggi Bulan-Matahari minimal 5 derajat (tinggi Bulan minimal 4 derajat), elongasi Bulan minimal 8 derajat dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam. “Kriteria” ini dinyatakan berlaku global. Bilamana ada satu titik saja dimanapun di globe Bumi yang terletak di antara garis bujur 180 BB di sisi barat hingga 180 BT di sisi timur yang telah memenuhi ketiga syarat “kriteria” Istanbul, maka seluruh Bumi telah memasuki tanggal 1 bulan kalender Hijriyyah yang baru, tanpa terkecuali.

Konferensi Istanbul menjadi salah satu momen penting dalam khasanah ilmu falak era modern. Inilah saat pertama kalinya kalender Hijriyyah internasional digaungkan, setelah menjadi impian seabad lebih. Tentu saja masih ada banyak keterbatasan dalam konferensi ini. Misalnya, konferensi tersebut ternyata bukanlah perjanjian internasional yang mengikat negara-negara pesertanya, seperti halnya Konferensi Meridian 1884 yang tersohor. Delegasi yang menghadirinya juga bukanlah utusan diplomatik. Dan yang lebih krusial lagi, konferensi ini tidak didului dengan rangkaian pertemuan pendahuluan (preparatory) untuk menyiapkan butir-butir masalah dan usulan yang hendak dibicarakan dalam konferensi tersebut. Namun di sisi lain, inilah untuk pertama kalinya Umat Islam sejagat boleh berharap bahwa kalender Hijriyyah internasional sudah dimiliki.

Namun harapan itu memudar seiring waktu. Dari segenap kawasan (region) Umat Islam sejagat, tak satupun yang hirau dengan konferensi Istanbul. Termasuk kawasan Timur Tengah sekalipun, yang menjadi episentrum Umat Islam masa kini. Terkecuali satu kawasan, yakni Asia Tenggara. Ya, Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai jantungnya. Selagi kawasan-kawasan yang lain tak hirau dengan hasil-hasil konferensi Istanbul, Asia Tenggara mencoba mematuhinya. Bahkan tatkala pembahasan lanjutan hasil konferensi Istanbul mengalami kemacetan seiring deraan masalah-masalah politis di kawasan Timur Tengah, misalnya Perang Iran-Irak 1980-1988 dan Perang Irak 1991 seiring invasi Irak ke Kuwait, kawasan Asia Tenggara berinisiatif melanjutkan pembahasan tersebut. Inilah yang melahirkan forum MABIMS, sebagai forum setengah resmi bagi Menteri-menteri agama/urusan agama Islam dari Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura. Inilah forum yang melahirkan “kriteria” MABIMS yang dikemudian hari dikenal pula sebagai “kriteria” Imkan rukyat. Meski mengalami modifikasi sesuai dengan lingkup Asia Tenggara, namun pada dasarnya “kriteria” Imkan rukyat adalah derivasi (turunan) dari “kriteria” Istanbul. Hal tersebut nampak dari penggunaan elemen-elemen umur Bulan geosentrik, tinggi Bulan dan elongasi Bulan.

Baik “kriteria” Istanbul maupun turunannya dalam bentuk “kriteria” Imkan rukyat sejatinya bukanlah kriteria visibilitas yang benar-benar ilmiah murni. Keduanya hanyalah kriteria visibilitas yang dibentuk atas dasar kesepakatan terhadap usulan-usulan. Dalam kasus “kriteria” Istanbul, beberapa syaratnya memang berlatar belakang ilmiah. Yakni elongasi Bulan minimal 8 derajat, yang diturunkan langsung dari batas Danjon (Danjon limit). Batas Danjon adalah batas minimal dalam elongasi Bulan dimana lengkung sabit Bulan tertipis (baik pra atau pasca konjungsi geosentris) masih bisa teramati khususnya dengan teropong. Terminologi batas Danjon diapungkan oleh Andre Danjon, direktur Observatorium Paris, setelah penelitian ekstensif sepanjang 1932 hingga 1936 TU. Danjon menemukan bahwa panjang busur sabit Bulan sebelum terjadinya fase Bulan separuh adalah berbanding lurus dengan elongasi Bulan. Semakin kecil nilai elongasi Bulan-nya, maka semakin pendek busur sabit Bulan-nya. Dari data yang tersedia, Danjon menyimpulkan bahwa sabit Bulan akan tepat menghilang (panjang busur sabit tepat sama dengan nol) saat elongasi Bulan tepat 7 derajat. Dengan kata lain, sabit Bulan takkan pernah kasat mata saat elongasi Bulan lebih kecil dari 7 derajat, meskipun diamati dengan teropong. Syarat lainnya yang berlatar belakang ilmiah adalah beda tinggi Bulan-Matahari minimal, yang diturunkan dari kesimpulan kriteria Fotheringham 1911, sebagai satu-satunya kriteria empiris yang tersedia pada saat itu. Sebaliknya syarat umur Bulan geosentrik minimal tidak memiliki basis ilmiah yang kukuh.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Gambar 4. Relik Observatorium UlughBeg yang masih tersisa di Samarkand (Uzbekistan). Inilah observatorium terbesar di dunia pada masanya sebelum berdirinya Observatorium Istanbul. Dari tempat inilah tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang yang paling akurat sepanjang sejarah ilmu falak di dunia Islam lahir. Beberapa masih menggunakan tabel tersebut di masa kini. Sumber: Nidhal Guessom, 2013.

Hari-hari ini banyak yang mempertanyakan posisi “kriteria” Imkan rukyat. Salah satunya terkait sifat lokalitasnya yang hanya berlaku di lingkup regional. Bukan global. Sebagai antitesisnya kemudian diapungkan gagasan pembentukan kalender Hijriyyah internasional. Tanpa menyadari bahwa hal itu sudah pernah dilakukan dalam konferensi Istanbul, yang seiring aliran masa kemudian berujung pada terbentuknya “kriteria” Imkan rukyat.

Kalender Hijriyyah internasional memang menjadi impian setiap Umat Islam. Dalam fatwanya terkait penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya di Indonesia yang diletakkan di tangan pemerintah melalui Menteri Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyinggung soal kalender Hijriyyah internasional. Dalam hemat MUI, pengawasan dan operasi kalender internasional semacam itu perlu ditempatkan di sebuah entitas tersendiri, yang disebut sebagai qadi internasional. Namun hingga kini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim sejagat yang berhimpun dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) belum jua bisa membentuk entitas tersebut. Maka untuk mengisi kekosongan, peran itu sementara didelegasikan ke setiap kawasan dan di Asia Tenggara disepakati terletak di tangan forum MABIMS.

Membuka kembali perbincangan dan pembentukan kalender Hijriyyah internasional itu sah-sah saja. Apalagi memang konferensi Istanbul itu belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Permasalahannya, siapkah mengerahkan segenap tenaga untuk menuju ke sana? Sebab berkaca dari macetnya pembahasan lanjutan konferensi Istanbul dan sebaliknya suksesnya Konferensi Meridian 1884, ada banyak langkah yang perlu dilakukan. Konferensi Meridian Internasional 1884, yang menjadi landasan operasi kalender Tarikh Umum (Gregorian) hingga saat ini, tidaklah berlangsung sekonyong-konyong. Ia dilatarbelakangi oleh kebutuhan bersama untuk menetapkan garis meridian utama (bujur nol) untuk patokan awal waktu se-Bumi. Kesadaran bersama ini dituangkan dalam Konferensi Geografi Internasional 1871 di Antwerp (Belgia). Butuh dua konferensi geografi internasional lanjutan, terakhir di Venesia (Italia) pada 1881 TU, untuk menyepakati bersama bahwa penetapan garis bujur nol atau garis bujur utama (meridian utama) yang universal dan penyatuan waktu standar adalah sebuah kebutuhan mutlak. Keputusan ini lantas ditindaklanjuti dalam Konferensi Geodesi Internasional ketujuh yang diselenggarakan di Roma (Italia) pada Oktober 1883 TU, dengan membahas detail teknisnya terkait masalah tersebut lebih lanjut. Hasilnya adalah butir-butir pembahasan diplomatik bagi perjanjian internasional yang bakal dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya.

Puncaknya adalah Konferensi Meridian Internasional 1884 yang diselenggarakan di Washington (Amerika Serikat) pada Oktober 1884 TU. Konferensi pemuncak itu dihadiri oleh 41 diplomat dari 26 negara yang merepresentasikan dunia masa itu. Dunia Islam diwakili oleh imperium Turki Utsmani, satu-satunya negara Islam yang representatif saat itu. Konferensi tersebut menyepakati tujuh resolusi. Diantaranya resolusi mengenai garis bujur nol atau garis bujur utama tunggal untuk semua negara di dunia. Garis bujur nol tunggal itu ditetapkan (atas dasar voting) sebagai garis bujur yang melintasi Royal Observatory of Greenwich, London (Inggris). Juga resolusi tentang definisi hari universal, yang dimulai tepat tengah malam sebagai pukul 00:00 dan diakhiri tepat tengah malam berikutnya sebagai pukul 24:00. Hari universal berpatokan pada hari Matahari rata-rata (mean solar day). Satu hari didefinisikan berumur 24 jam dengan 1 jam berumur 60 menit dan 1 menit berumur 60 detik. Sehingga dalam sehari terdapat 86.400 detik. Entitas waktu universal pun terbentuk, saat itu disebut GMT (Greenwich Mean Time). Inilah landasan bagi kalender Tarikh Umum atau kalender Gregorian seperti kita kenal pada hari ini.

Setelah perjanjian internasional tersebut, langkah kalender Tarikh Umum pun masih panjang. Tiap-tiap negara tidak segera mengadopsinya. Butuh waktu hingga puluhan tahun lamanya sebelum resolusi-resolusi dalam konferensi ini bisa diterima oleh negara-negara di dunia. Perancis misalnya, meski menghadiri Konferensi Meridian Internasional 1884, baru mengadopsi seluruh resolusinya pasca Perang Dunia 1. Selama waktu itu Perancis tetap bersetia dengan meridian Paris-nya.

Berkaca dari pengalaman kalender Tarikh Umum, maka untuk membentuk kalender Hijriyyah internasional pun butuh langkah yang sistematis. Tak cukup hanya satu pertemuan internasional, yang bersifat ad-hoc, namun butuh rangkaian pertemuan-pertemuan internasional untuk membentuknya. Termasuk dengan rangkaian pertemuan pendahuluan. Aktor negara, dalam hal ini negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim, musti dilibatkan. Bukan sekedar delegasi biasa, namun utusan setingkat diplomat dibutuhkan dari tiap negara tersebut.

Dan di atas dari semua rangkaian pertemuan yang sifatnya prosedural itu, bagaimana posisi hisab dan rukyat didudukkan dalam konteks kalender Hijriyyah pun musti jelas. Tak bisa menyusun kalender semata atas dasar rukyat. Sebaliknya juga tak bisa menyusun kalender semata atas dasar hisab saja. Baik hisab ataupun rukyat harus digunakan bersama-sama untuk mengontrol kualitas kalender. Praktik ini juga tetap dijalankan dalam kalender Tarikh Umum. Meski sekilas terlihat sebagai kalender yang semata hanya berdasar hisab dan bisa diperhitungkan di atas kertas saja, dalam praktiknya astronomi modern terlibat penuh untuk melakukan pengamatan benda-benda langit yang diperlukan guna menentukan perilaku rotasi Bumi dan detik standar (yang menjadi dasar kalender Tarikh Umum). Dipelopori oleh Danjon (1929 TU) dengan pengamatan posisi Bulan, Matahari dan planet-planet, kini pemantauan rotasi Bumi dan detik standar telah melangkah jauh dengan penggunaan radas-radas kompleks dan di luar dugaan. Misalnya penggunaan teleskop radio untuk memantau sinyal-sinyal elektromagnetik yang dipancarkan benda langit seperti quasar (yang terletak di luar galaksi Bima Sakti kita) dengan menggunakan teknik VLBI (Very Long Baseline Interferometry) secara rutin. Atau menggunakan teleskop dengan pembangkit laser untuk dibidikkan ke titik-titik di Bulan dimana cermin-cermin retroreflektor berada, juga secara rutin. Semua upaya ini yang dilakukan di bawah koordinasi organisasi transnasional bertajuk International Earth Rotation and Reference System Service (IERS).

Di sinilah tantangan terbesarnya. Pasca robohnya Observatorium Istanbul dan khususnya setelah era modern ilmu falak bermula, pertumbuhan observatorium astronomi di dunia Islam masa kini terbilang lambat. Jumlah observatorium yang dimiliki oleh negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim saat ini masih berbilang 12 buah, dari 600-an lebih observatorium astronomi aktif yang terdaftar di dunia. Padahal observatorium menjadi kunci untuk menyajikan data guna membentuk kalender. Dan observatorium yang tersebar di banyak titik di negara-negara Islam/berpenduduk mayoritas Muslim di segenap penjuru seyogyanya akan menyajikan lebih banyak data yang sangat bermanfaat dalam pembentukan kalender. Jelas, hingga saat ini dampak robohnya Observatorium Istanbul masih terasa meski telah empat abad lamanya. Dampak yang harus diatasi bilamana kalender Hijriyyah internasional memang hendak dibangun di masa kini.

Catatan: diinspirasikan dari kumpulan cerita pendek Robohnya Surau Kami dari Ali Akbar Navis.

Gedung DPR Miring Tujuh Derajat (?)

Ada obyek wisata baru di Jakarta, yakni Menara Miring Senayan. Kemiringannya diklaim sebesar 7°. Maka ia hampir dua kali lipat lebih miring ketimbang Menara Pisa (Italia) yang legendaris itu, karena Menara Pisa hanyalah semiring 4°. Bahkan dibandingkan bangunan menara klasik termiring sekalipun, yakni Menara Miring Suurhusen di Gereja Suurhusen (Jerman) yang kemiringannya 5°, Menara Miring Senayan masih lebih miring. Lokasinya pun mudah dijangkau, yakni tepat di Kompleks Parlemen atau Gedung DPR/MPR, Senayan (propinsi DKI Jakarta).

Gambar 1. Panorama Gedung Nusantara 1 di kompleks parlemen (kompleks gedung DPR/MPR) jika benar-benar miring 7 derajat. Perhatikan betapa kasat matanya kemiringan tersebut. Garis putus-putus menunjukkan orientasi sumbu vertikal (sumbu tegaklurus permukaan Bumi setempat). Citra ini bukan sesungguhnya, karena direkayasa dengan komputer dengan perangkat lunak GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan citra asli dari Cahyono/TeropongSenayan, 2014.

Gambar 1. Panorama Gedung Nusantara 1 di kompleks parlemen (kompleks gedung DPR/MPR) jika benar-benar miring 7 derajat. Perhatikan betapa kasat matanya kemiringan tersebut. Garis putus-putus menunjukkan orientasi sumbu vertikal (sumbu tegaklurus permukaan Bumi setempat). Citra ini bukan sesungguhnya, karena direkayasa dengan komputer dengan perangkat lunak GIMP 2. Sumber: Sudibyo, 2015 dengan citra asli dari Cahyono/TeropongSenayan, 2014.

Narasi di atas sarkastik. Sesungguhnya tak ada menara miring di Senayan. Bangunan berbentuk menara yang posisinya miring memang ada di Jakarta. Namun hanya bisa dijumpai di kawasan kota tua, tepatnya di kompleks pelabuhan Sunda Kelapa. Yakni Menara Syahbandar yang tingginya 12 meter dari paras tanah. Frasa Menara Miring Senayan dalam tulisan ini hanyalah tanggapan sarkastis terhadap ulah tak berkeruncingan terkini dari anggota dewan kita yang terhormat. Utamanya saat mereka mengajukan anggaran besar, sebesar tak kurang dari Rp 2,7 trilyun, guna memperbaiki dan membangun gedung baru di Kompleks Parlemen. Satu argumennya dengan bersandar pada alasan usang yang sejatinya telah terpatahkan di masa silam. Yakni miringnya salah satu gedung di kompleks parlemen.

Gedung yang dimaksud adalah Gedung Nusantara 1. Dulu (pra-1998 Tarikh Umum) gedung ini bernama Gedung Lokawirasabha Tama, sesuai kebiasaan rezim Orde Baru yang gemar memberikan nama bangunan penting dalam kata Sanskerta. Gedung yang menjulang setinggi 100 meter dan terbagi ke dalam 24 lantai adalah ruang kerja segenap anggota DPR. Dari fraksi manapun, dimana masing-masing fraksi menempati lantai tersendiri. Inilah gedung yang saat ini diklaim mengalami kemiringan (dari sumbu vertikal) sebesar 7°. Angka ini nampaknya sudah direduksi (dikurangi), sebab bertahun silam tepatnya pada 2010 TU gedung yang sama diklaim memiliki kemiringan 8°. Tak jelas benar bagaimana angka 8° itu bisa menyusut menjadi 7°. Padahal jika diimplementasikan ke situasi nyata, penyusutan sudut itu bisa berdampak signifikan. Sebuah gedung yang tak dirancang untuk berdiri miring pada dasarnya akan menjadi kian tak stabil bila sudut kemiringannya bertambah besar. Maka Gedung Nusantara 1 akan jadi lebih takstabil bila kemiringannya mencapai 8° dibandingkan dengan kemiringan ‘hanya’ 7°.

Mari terapkan prinsip-prinsip geometri. Tinggi Gedung Nusantara 1 adalah 100 meter dari paras tanah. Dengan menggunakan konsep tangensial, maka kemiringan 8° akan berimplikasi pada beringsutnya puncak bangunan sejauh 14,05 meter dari sumbu vertikalnya. Sebaliknya jika kemiringannya 7° maka puncak gedung hanya akan bergeser 12,28 meter dari sumbu vertikal. Perhatikan, selisih kemiringan 1° dalam konteks ini berkaitan dengan perbedaan sebesar 177 sentimeter. Ini panjang yang cukup signifikan dan cukup kentara bila diamati meski dari kejauhan.

Di sisi yang lain, berbicara soal kentara, ada yang aneh dengan klaim tersebut. Entah dengan angka 7° atau 8°, secara kasat mata ketampakan Gedung Nusantara 1 tidaklah semiring bangunan-bangunan miring aksidental yang populer. Bangunan miring aksidental adalah bangunan yang arsitekturnya tidak dirancang untuk miring, namun di kemudian hari mengalami kemiringan oleh suatu sebab. Misalnya daya dukung tanah di pondasinya yang lemah. Contoh bangunan miring semacam ini misalnya Menara Miring Pisa maupun Menara Miring Suuhursen. Dua bangunan tersebut kentara benar kemiringannya saat dipandang dari kejauhan. Sebaliknya Gedung Nusantara 1 tidak menyajikan sensasi miring yang kentara seperti halnya kedua bangunan tersebut. Ini menimbulkan pertanyaan, benarkah Gedung Nusantara 1 benar-benar miring?

Konversi

Saat Gedung Nusantara 1 diklaim miring pada 2010 TU silam, argumen yang mendasarinya adalah gedung menjadi miring sebagai dampak guncangan gempa berulangkali. Salah satunya Gempa Tasikmalaya 2 September 2009 yang menghentak dari pesisir selatan pulau Jawa. Sebagai imbas kemiringan tersebut maka diajukanlah rencana pembangunan gedung baru beserta sarana pendukungnya. Rencana tersebut secara keseluruhan menelan biaya Rp 1,8 trilyun. Namun gagasan ini ditolak rezim SBY-Boediono saat itu.

Gambar 2. Mana yang lebih miring? Gedung Nusantara 1 di Indonesia (kiri) dibandingkan dengan Menara Pisa di Italia (kanan). Semuanya tanpa rekayasa komputer. Nampak jelas Menara Pisa-lah yang jauh lebih miring. Sumber: Cahyono/TeropongSenayan, 2014 & W. Lloyd MacKenzie, tanpa tahun.

Gambar 2. Mana yang lebih miring? Gedung Nusantara 1 di Indonesia (kiri) dibandingkan dengan Menara Pisa di Italia (kanan). Semuanya tanpa rekayasa komputer. Nampak jelas Menara Pisa-lah yang jauh lebih miring. Sumber: Cahyono/TeropongSenayan, 2014 & W. Lloyd MacKenzie, tanpa tahun.

Saat itu pun sejatinya terkuak bahwa kondisi Gedung Nusantara 1 ternyata tidaklah separah klaim tersebut. Evaluasi pascagempa oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau Kemen PUPR (saat itu bernama Kementerian Pekerjaan Umum saja) memperlihatkan Gedung Nusantara 1 memang miring. Namun kemiringannya hanya 7,5 menit busur. Bukan 8 derajat. Jelas ada kekeliruan dalam membaca satuan sudut. Padahal ilmu ukur sudut merupakan salah satu aspek paling elementer dalam geometri. Dan ilmu geometri, sebagai bagian dari matematika, pada pendidikan di Indonesia sudah dipelajari sejak bangku sekolah lanjutan pertama. Dalam geometri satuan sudut suatu bangun dinyatakan dalam derajat (°). Untuk keperluan pengukuran-pengukuran yang lebih teliti, besaran derajat bisa diturunkan (diderivasikan) pula ke tingkatan-tingkatan yang lebih kecil seperti menit busur (‘) dan detik busur (“). Ketentuannya adalah 1° = 60′ dan 1’ = 60”. Dengan kata lain 1′ = 3.600″ 1° = 3.600″.

Tingkatan turunan dalam satuan sudut ini sangat mirip dengan yang kita jumpai dalam satuan waktu. Dimana juga terdapat menit dan detik. Satu-satunya perbedaan mendasar hanyalah posisi besaran sudut yang bersalin nama menjadi jam. Namun ketentuannya sama persis. Kesamaan ini terjadi karena baik satuan sudut maupun satuan waktu sama-sama berlandaskan pada sistem sexagesimal, alih-alih desimal. Sistem ini berpatokan pada angka 60, alih-alih 10 seperti dalam sistem desimal. Selain menjadi tulangpunggung entitas jam dan sudut, sistem sexagesimal juga dapat dijumpai dalam sistem koordinat. Baik koordinat geografis maupun astronomis.

Dengan patokan 1° = 60′ maka sudut sebesar 7,5′ hanyalah setara dengan 0,125°. Jelas terlihat, alih-alih miring 8°, evaluasi Kemen PUPR menunjukkan Gedung Nusantara 1 hanyalah miring 0,125°. Dengan menggunakan konsep tangensial yang sama, aplikasinya pada gedung setinggi 100 meter dengan kemiringan 0,125° membuat puncak gedung tersebut hanya bergeser sejauh 22 sentimeter saja dari sumbu vertikalnya. Angka ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan hasil klaim kemiringan 8, dimana puncak gedung (seharusnya) bergeser sejauh 14,05 meter (1.405 sentimeter). Kemiringan 0,125°jelas jauh lebih samar dan lebih tak kasat mata dibanding klaim kemiringan 8°. Di luar persoalan kasat mata, kemiringan yang jauh lebih kecil dibanding klaimnya menunjukkan secara umum Gedung Nusantara 1 itu relatif lebih stabil dibanding apa yang diklaim.

Gambar 3. Mana yang lebih miring? Gedung Nusantara 1 di Indonesia (kiri) dibandingkan dengan Menara Gereja Suuhursen di Jerman (kanan). Semuanya tanpa rekayasa komputer. Nampak jelas Menara Gereja Suuhursen-lah yang jauh lebih miring. Sumber: Cahyono/TeropongSenayan, 2014 & Heymann, 2004.

Gambar 3. Mana yang lebih miring? Gedung Nusantara 1 di Indonesia (kiri) dibandingkan dengan Menara Gereja Suuhursen di Jerman (kanan). Semuanya tanpa rekayasa komputer. Nampak jelas Menara Gereja Suuhursen-lah yang jauh lebih miring. Sumber: Cahyono/TeropongSenayan, 2014 & Heymann, 2004.

Jika evaluasi Kemen PUPR saat itu diterapkan kembali pada 2015 TU ini, hasilnya pun serupa. Dengan anggapan kemiringan Gedung Nusantara 1 saat ini masih sama dengan 2010 TU silam, maka puncak gedung hanya bergeser sejauh 22 sentimeter saja. Sebaliknya jika diterapkan pada klaim kemiringan 7°, maka puncak Gedung Nusantara 1 seharusnya telah bergeser sejauh hingga 1.228 sentimeter dari sumbu vertikal.

Jelas, kesalahannya terletak pada kekeliruan menerapkan satuan. Dari yang seharusnya menit busur menjadi derajat. Kekeliruan ini pun berujung pada hasil yang mengada-ada.

Anggota DPR kita sejatinya tak sendirian dalam hal ini. Ada banyak kasus di dunia ini dimana orang khilaf menerapkan satuan. Dan hasilnya pun tak sekedar mengada-ada, melainkan bahkan berujung tragis. Dan kehilafan seperti ini pun menjangkiti kalangan cendekiawan maupun teknisi, yang kerap dianggap sebagai insan-insan yang ‘lebih cerdas.’

Air Canada dan NASA

Misalnya di dunia penerbangan sipil, yang akrab dengan kisah The Gimli Glider. Ini adalah julukan dari pesawat jet Boeing 767-200 dengan nomor registrasi C-GAUN yang dimiliki oleh maskapai Air Canada (Canada). Saat sedang yang sedang menjalani Penerbangan 143 yang menempuh rute domestik Montreal-Edmonton pada 23 Juli 1983 TU, pesawat nyaris saja bersua malapetaka kala bahan bakarnya mendadak habis. Jet jumbo itu pun terpaksa berbelok ke sebuah landasan udara tak terpakai di kota kecil Gimli, setelah terbang melayang (gliding) sejauh 80 kilometer tanpa tenaga mesin apapun (dan otomatis kehilangan pasokan listrik). Mujur kru pesawatnya tangkas sehingga pendaratan darurat di Gimli dapat terlaksana dengan hasil hanya kerusakan menengah. Tak ada korban luka, apalagi korban jiwa. Penyelidikan menunjukkan penyebab insiden ini adalah hal ‘sepele.’ Yakni akibat petugas pengisi bahan bakar di bandara Montreal terbiasa bekerja dengan sistem British atau imperial (fps). Sementara pesawat Boeing 767-200 memperkenalkan sistem baru berupa sistem metrik (mks). Petugas yang khilaf mengisikan bahan bakar ke tanki pesawat dengan angka yang sama persis, namun belum di-metrifikasi (belum melakukan konversi dari sistem British/imperial ke sistem metrik). Sebagai akibatnya ternyata jumlah bahan bakar aktual yang diisikan hanyalah separuh dari seharusnya.

Gambar 4. Pesawat jumbo jet Boeing 767-200 Air Canada tergolek di landasan tak terpakai di kota kecil Gimli setelah pendaratan darurat dengan roda pendarat bagian hidung tidak keluar. Inilah pesawat yang dijuluki Gimli Glider, menyusul pencapaiannya terbang tanpa dorongan mesin (gliding) sejauh puluhan kilometer untuk kemudian mendarat darurat seiring habisnya bahan bakar. Gimli Glider merupakan salah satu kasus metrifikasi di dunia penerbangan. Diabadikan oleh pilot Robert Pearson, beberapa saat setelah pendaratan darurat. Sumber: Pearson, 1983.

Gambar 4. Pesawat jumbo jet Boeing 767-200 Air Canada tergolek di landasan tak terpakai di kota kecil Gimli setelah pendaratan darurat dengan roda pendarat bagian hidung tidak keluar. Inilah pesawat yang dijuluki Gimli Glider, menyusul pencapaiannya terbang tanpa dorongan mesin (gliding) sejauh puluhan kilometer untuk kemudian mendarat darurat seiring habisnya bahan bakar. Gimli Glider merupakan salah satu kasus metrifikasi di dunia penerbangan. Diabadikan oleh pilot Robert Pearson, beberapa saat setelah pendaratan darurat. Sumber: Pearson, 1983.

Keberuntungan Gimli Glider, sayangnya, tak menghinggapi para insinyur NASA (Amerika Serikat). Saat membangun wantariksa (wahana antariksa) tak-berawak Mars Climate Orbiter, insinyur sistem komputer mereka lupa mengerjakan metrifikasinya. Lagi-lagi yang harusnya dikonversi adalah sistem British/imperial menjadi sistem metrik. Di tengah puncak ketegangan jelang persiapan Mars Climate Orbiter memasuki orbit Mars di pertengahan September 1999 TU, roket retro-nya ternyata menyala lebih singkat dari yang seharusnya dibutuhkan. Akibatnya tragis. Mars Climate Orbiter tak mengalami perlambatan yang mencukupi. Sehingga ia melejit terlalu cepat dalam atmosfer planet merah. Tak pelak, ia pun hancur dan terbakar. Sehingga tak satu foton sinyal pun yang terpancar ke stasiun pengendali di Bumi. NASA pun gigit jari, terlebih berselang dua minggu berikutnya wantariksa yang lain yakni Mars Polar Lander pun membisu setelah mendarat kutub utara Mars. Dua misi antariksa berharga ratusan juta dollar lenyap di depan mata tepat pada detik-detik terakhir yang kritis. Tragedi itu sekaligus menabalkan kutukan Mars, dimana 30 % misi antariksa yang ditujukan ke planet merah berujung pada kegagalan sejak detik pertama.

Gambar 5. Wantarika Mars Climate Orbiter dalam gambaran artis komputer. Wantariksa ini ditujukan untuk mengorbit planet Mars pada ketinggian orbit yang aman. Namun kasus metrifikasi membuatnya terjerumus memasuki atmosfer Mars yang lebih rendah (dan lebih pekat udara) sehingga hancur dan terbakar. Sumber: NASA, 1999.

Gambar 5. Wantarika Mars Climate Orbiter dalam gambaran artis komputer. Wantariksa ini ditujukan untuk mengorbit planet Mars pada ketinggian orbit yang aman. Namun kasus metrifikasi membuatnya terjerumus memasuki atmosfer Mars yang lebih rendah (dan lebih pekat udara) sehingga hancur dan terbakar. Sumber: NASA, 1999.

Saat disadari telah terjadi kekhilafan dalam metrifikasi, para cendekiawan dan insinyur segera bertindak memperbaikinya. Insinyur-insinyur Air Canada segera menyusun buku panduan baru, menggelar pelatihan rutin dan melakukan sosialisasi perihal pesawat terbaru dan kebutuhan metrifikasinya. Untuk memastikan insiden nyaris celaka seperti dialami The Gimli Glider tidak lagi terjadi di masa depan. Demikian halnya NASA. Menyadari kekhilafan itu, terlebih ternyata hal ini telah diprediksi sebelumnya oleh dua navigator Mars Climate Orbiter, sistem komunikasi internal dalam organisasi NASA pun diperbaiki. Agar memungkinkan informasi mengenai cacat dan potensi cacat, sekecil apapun, tersampaikan ke pucuk pimpinan dan pemegang keputusan. Pertemuan rutin yang melibatkan insinyur sistem komputer, navigator, insinyur peroketan dan manajer pun dibentuk. Yakni setiap sebuah wantariksa NASA hendak melaksanakan manuver yang telah diprogramkan. Komunikasi NASA dengan kontraktor/subkontraktor penerbangan pun diperbaiki dan dipertegas.

Sebaliknya, anggota DPR kita terkesan enggan melakukan perbaikan sejenis. Maka tak heran bila argumen usang soal miringnya Gedung Nusantara 1 yang dilebih-lebihkan pun diangkat kembali. Hanya angkanya yang direduksi. Namun dengan anggaran yang melambung tinggi. Tak heran bila sebagian kalangan menganggap usul berbasis argumen usang yang tak terbukti itu lebih merupakan upaya anggota dewan untuk berburu rente. Melunasi utang.

Referensi:

Cahyono. 2014. Anatomi Gedung-Gedung Parlemen di Senayan (2), Gedung Nusantara I Masih Bertahan 50 Tahun Lagi. TeropongSenayan.com, 5 Desember 2014.

Williams. 2003. The 156-tonne Gimli Glider. Flight Safety Australia, July-August 2003, p.22-27.