Kumamoto dan Drama Gempa yang ‘Menyerang’ Kota

Hingga Minggu 17 April 2016 Tarikh Umum (TU) tercatat 42 orang tewas. Dan lebih dari 3.000 orang lainnya mengalami luka-luka mulai dari yang ringan hingga berat. Diantara korban luka-luka tersebut terdapat dua orang berkewarganegaraan Indonesia, yang tertimpa barang saat mencoba menyelamatkan diri kala guncangan menerjang. Angka-angka ini hanyalah sementara, sebab hingga kini masih tak kurang dari 80 orang yang menghilang, diduga terperangkap dalam reruntuhan bangunan. Selain itu tak kurang dari 91.000 orang menjadi pengungsi, dievakuasi dari kawasan yang mengalami dampak terparah. Puluhan bangunan runtuh, termasuk jembatan, bangunan bersejarah dan sebuah rumah sakit. Pipa gas terputus dimana-mana dan sempat memicu kebakaran. Demikian halnya jaringan listrik. Bahkan transportasi kereta api sempat terhenti manakala sebuah kereta cepat Shinkanshen anjlok dari relnya. Tanah longsor terjadi di sejumlah titik. Dan sebagai pemuncaknya Gunung Aso, gunung berapi aktif terbesar di Jepang yang terakhir meletus setahun silam, mendadak menyemburkan kepulan debu vulkaniknya hingga setinggi 100 meter di atas kawah dalam sebuah letusan yang lemah.

Gambar 1. Satu jembatan yang runtuh ke dalam sungai seiring longsornya tebing sungai di Minami Aso dalam Gempa Kumamoto 2016. Tanda-tanda panah menunjukkan retakan di paras Bumi, yang adalah moletrack dari zona rekahan sumber gempa. Zona rekahan ini menampakkan tanda-tanda pergeseran ke kanan (menganan) atau dekstral. Sumber: People Daily China, 2016.

Gambar 1. Satu jembatan yang runtuh ke dalam sungai seiring longsornya tebing sungai di Minami Aso dalam Gempa Kumamoto 2016. Tanda-tanda panah menunjukkan retakan di paras Bumi, yang adalah moletrack dari zona rekahan sumber gempa. Zona rekahan ini menampakkan tanda-tanda pergeseran ke kanan (menganan) atau dekstral. Sumber: People Daily China, 2016.

Semua itu adalah bait-bait yang telah terucap dari drama yang sedang melanda prefektur Kumamoto di pulau Kyushu (Jepang). Tiga guncangan kuat menggetarkan pulau besar paling selatan dari kepulauan Jepang ini dalam kurun hanya 28 jam. Dalam catatan National Earthquake Information Center United States Geological Survey (USGS), guncangan kuat pertama terjadi pada Kamis 14 April 2016 TU pukul 19:27 WIB dengan magnitudo 6,2. Berselang dua setengah jam kemudian, tepatnya pukul 22:04 WIB, guncangan kedua datang menerjang dengan magnitudo 6,0. Dan puncaknya terjadi 28 jam kemudian, tepatnya pada Jumat 15 April 2016 TU pukul 23:25 WIB, dengan magnitudo 7,0. Dinamakan Gempa Kumamoto 2016, inilah kejadian gempa bumi tektonik terbesar di daratan Jepang sejak Gempa Iwate-Miyagi 2008 (magnitudo 6,9) dan Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995 (magnitudo 6,9). Yang terakhir itu lebih populer sebagai Gempa Kobe 1995, gempa bumi yang menghasilkan kerugian material terbesar sepanjang sejarah Jepang sebelum kejadian Gempa akbar Tohoku 2011 beserta tsunaminya.

Gempa Kumamoto 2016 memperlihatkan dua hal kepada dunia, termasuk kita di Indonesia. Pertama, bagaimana sebuah gempa kuat merusak ternyata dapat menyerbu sebuah kota besar dan halaman belakangnya. Dan yang kedua, bagaimana upaya-upaya persiapan menghadapi bencana gempa ternyata membuahkan hasil yang (lumayan) manis.

Gambar 2. Hembusan debu vulkanik sering letusan Gunung Aso, yang terjadi hanya beberapa jam pasca gempa utama dalam Gempa Kumamoto 2016 terjadi. Letusan ini tergolong lemah, dengan kolom letusan hanya setinggi 100 meter di atas kawah. Sumber: Mikado Shimbun, 2016.

Gambar 2. Hembusan debu vulkanik sering letusan Gunung Aso, yang terjadi hanya beberapa jam pasca gempa utama dalam Gempa Kumamoto 2016 terjadi. Letusan ini tergolong lemah, dengan kolom letusan hanya setinggi 100 meter di atas kawah. Sumber: Mikado Shimbun, 2016.

Futagawa-Hinagu

Layaknya Indonesia, kepulauan Jepang merupakan untaian pulau-pulau yang tumbuh akibat jepitan lempeng-lempeng tektonik. Ada empat lempeng tektonik yang berperan di sini. Satu adalah lempeng tektonik utama, yakni lempeng Pasifik. Sementara tiga sisanya adalah lempeng tektonik kecil/mikrolempeng, masing-masing mikrolempeng Filipina, Amuria dan Okhotsk. Lempeng Pasifik dan mikrolempeng Filipina bersifat oseanik (lempeng samudera) yang berat jenisnya lebih besar. Sebaliknya mikrolempeng Amuria dan Okhotsk bersifat kontinental (lempeng benua) dengan berat jenis lebih kecil. Interaksi mikrolempeng Amuria dan Filipina membentuk kepulauan Jepang bagian selatan, yang mencakup pulau Kyushu dan sebagian pulau Honshu. Interaksi tersebut berupa subduksi, dengan mikrolempeng Filipina melekuk dan menyelusup ke bawah mikrolempeng Amuria menuju lapisan selubung di bawah kerak seiring berat jenisnya yang lebih besar. Salah satu gejala subduksi ini adalah terbentuknya parit Nankai. Parit adalah cekungan memanjang di dasar samudera yang mirip palung namun lebih lebar dan lebih dangkal.

Gambar 3. Rona rupabumi pulau Kyushu (Jepang). nampak sesar besar Median Tectonic Line (MTL) melintas dari timur laut (kiri atas) untuk kemudian meliuk ke selatan sebagai sesar Usuki-Yatsushiro tectonic line. Salah satu cabang sesar MTL nampak melintas lurus melewati kota Kumamoto dan sekitarnya, yang berdiri di atas graben (lembah patahan) Beppu-Shimabara. Sesar cabang inilah yang bertanggungjawab atas Gempa Kumamoto 2016. Sumber: Earthoffire, 2014.

Gambar 3. Rona rupabumi pulau Kyushu (Jepang). nampak sesar besar Median Tectonic Line (MTL) melintas dari timur laut (kiri atas) untuk kemudian meliuk ke selatan sebagai sesar Usuki-Yatsushiro tectonic line. Salah satu cabang sesar MTL nampak melintas lurus melewati kota Kumamoto dan sekitarnya, yang berdiri di atas graben (lembah patahan) Beppu-Shimabara. Sesar cabang inilah yang bertanggungjawab atas Gempa Kumamoto 2016. Sumber: Earthoffire, 2014.

Situasi kepulauan Jepang bagian selatan mirip dengan pulau Sumatra di Indonesia. Di sini arah gerak mikrolempeng Filipina pun miring (tak tegak lurus) terhadap sumbu parit Nankai. Sehingga berimplikasi pada terbentuknya sistem sesar besar di daratan Jepang, yang dinamakan Median Tectonic Line (MTL). Sesar besar MTL merupakan sesar geser menganan (right-lateral). Dalam sesar geser menganan seperti ini, apabila kita berdiri tepat di salah satu sisi sesar ini maka kita akan melihat sisi lain sesar (yang tepat berada di hadapan kita) akan bergerak ke sisi kanan kita. Sesar besar MTL bergerak dengan kecepatan antara 5 hingga 10 mm/tahun. Posisinya mengikuti jajaran gunung-gemunung berapi di kepulauan Jepang. Segmen-segmen yang terkunci dan lalu melenting mendadak di sepanjang sesar besar MTL bertanggung jawab atas sejumlah kejadian gempa bumi di Jepang. Misalnya Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995, yang terjadi pada salah satu cabang dari sistem sesar besar MTL.

Di pulau Kyushu, sesar besar MTL melintas dari timur laut dan berbelok melengkung hingga akhirnya ke selatan mengikuti jajaran gunung-gemunung berapi di sini. Sebuah sesar cabang memisah dari MTL dan menerus ke barat daya, melewati Gunung Aso. Inilah sesar Futagawa dan sesar Hinagu. Dua sesar ini secara teknis melintas tepat di sisi dan di bawah kota Kumamoto. Gempa Kumamoto 2016 bersumber dari sesar ini.

Karena magnitudonya lebih kecil, dua gempa pertama dari tiga gempa kuat dalam Gempa Kumamoto 2016 diidentifikasi sebagai gempa pendahulu (preshock). Analisis USGS memperlihatkan sumber Gempa Kumamoto 2016 adalah segmen seluas 80 x 20 kilometer persegi di sepanjang sesar Futagawa dan Hinagu. Setelah terpatahkan, ia bergerak melenting sejauh rata-rata 1 meter. Pergerakan ini tak homogen di segenap sudut segmen, karena ada bagian-bagian tertentu yang melenting hingga sejauh maksimal 4 meter. Khususnya di sekitar titik episentrum. Sumber gempanya sangat dangkal, yakni hanya 10 km di bawah paras laut rata-rata (dpl). Akibatnya pergerakan segmen yang terpatahkan ini terjadi hingga ke paras Bumi. Ia menciptakan apa yang disebut zona rekahan (rupture) dalam kelurusan tertentu. Dua sisi yang bersebelahan dalam zona rekahan ini telah bergeser horizontal sejauh 1 meter, berdasarkan jejaring radas GPS (global positioning system) dari Geospatial Information (GSI) Jepang.

Gambar 4. Episentrum gempa utama (M7,0) dan dua gempa pendahulu (M6,2 dan M6,0) dalam Gempa Kumamoto 2016. Nampak sesar Futagawa dan Hinagu, yang bertanggung jawab dalam gempa ini. Pola-pola warna pelangi menunjukkan pergeseran tanah Kumamoto dan sekitarnya akibat gempa ini berdasarkan citra radar satelit Palsar-2 yang diolah dengan teknik interferometri SAR (synthethic apperture radar). Sumber: GIS Japan, 2016.

Gambar 4. Episentrum gempa utama (M7,0) dan dua gempa pendahulu (M6,2 dan M6,0) dalam Gempa Kumamoto 2016. Nampak sesar Futagawa dan Hinagu, yang bertanggung jawab dalam gempa ini. Pola-pola warna pelangi menunjukkan pergeseran tanah Kumamoto dan sekitarnya akibat gempa ini berdasarkan citra radar satelit Palsar-2 yang diolah dengan teknik interferometri SAR (synthethic apperture radar). Sumber: GIS Japan, 2016.

Segmen yang cukup luas dan kedalaman sumber gempa yang sangat dangkal berimplikasi buruk terhadap kota Kumamoto dan halaman belakangnya. Sekujur kota terguncang sangat keras dengan intensitas getaran hingga 9 MMI (modified mercalli intensity). Praktis dalam guncangan sebesar ini hanya bangunan-bangunan yang memang dirancang tahan gempa sajalah yang masih sanggup bertahan. Guncangan yang sangat keras juga menyebabkan tebing-tebing yang relatif curam mengalami kegagalan. Massa tanah dan batuan di tebing-tebing tersebut pun bergerak melongsor, yang terjadi dimana-mana. Secara akumulatif 716 ribu jiwa tinggal di kawasan yang mengalami guncangan hingga sebesar 9 MMI. Sementara 391 ribu jiwa dan 551 ribu jiwa lainnya tinggal di kawasan yang masing-masing tergetarkan hingga 8 dan 7 MMI.

Gempa utama (magnitudo 7,0) dari pematahan ini melepaskan energi hingga 560 kiloton TNT. Ini hampir menyamai energi Peristiwa Chelyabinsk 2013 di Russia tiga tahun silam. Sementara dua gempa pendahulu dengan masing-masing magnitudo 6,2 dan 6,0 melepaskan energi 35 dan 18 kiloton TNT. Layaknya kejadian gempa bumi tektonik umumnya, Gempa Kumamoto 2016 juga diikuti dengan gempa-gempa susulan (aftershock). Ini merupakan rangkaian pelepasan energi tambahan sebagai bagian dari upaya segmen yang telah terpatahkan untuk menyetabilkan dirinya dan membentuk keseimbangan baru dengan lingkungannya. Hingga kini telah terjadi ratusan gempa susulan. Secara akumulatif, energi yang terlepaskan dan merambat dari tiga gempa kuat yang mengguncang Kumamoto dan ratusan gempa-gempa susulannya mungkin sudah melebihi 700 kiloton TNT. Sebagai pembanding, letusan bom nuklir Hiroshima melepaskan energi 20 kiloton TNT. Sehingga secara akumulatif energi yang terlepaskan dan merambat sebagai gelombang gempa dalam kejadian Gempa Kumamoto 2016 telah 35 kali lipat lebih besar dari bom nuklir Hiroshima.

Gambar 5. Kawasan yang mengalami getaran sangat kuat dengan intensitas mulai dari intensitas getaran 7 MMI hingga 9 MMI dalam Gempa Kumamoto 2016. Nampak hampir seluruh kota Kumamoto tercakup ke dalam kawasan dengan getaran hingga 9 MMI. Sumber: USGS, 2016.

Gambar 5. Kawasan yang mengalami getaran sangat kuat dengan intensitas mulai dari intensitas getaran 7 MMI hingga 9 MMI dalam Gempa Kumamoto 2016. Nampak hampir seluruh kota Kumamoto tercakup ke dalam kawasan dengan getaran hingga 9 MMI. Sumber: USGS, 2016.

Indonesia

Gempa Kumamoto 2016 memberikan gambaran yang menggelisahkan kepada dunia, tentang bagaimana gempa bumi tektonik ‘menyerang’ dan meluluhlantakkan sebuah kota. Kumamoto sejatinya bukanlah kota pertama di dunia yang mendapat serangan semacam ini. Jepang sendiri memiliki pengalaman buruk serupa, yang terakhir di Kobe dalam bencana Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995. Di Indonesia, kita juga mengenal peristiwa Gempa Yogyakarta 2006 sebagai serangan yang hampir sama. Dan dalam lingkup global, kengerian yang dihadirkan oleh Gempa Haiti 2010, yang menyerang ibukota Port au Prince dan halaman belakangnya, masih sangat berbekas.

Gempa-gempa yang menyerang kota dalam sejarahnya tak perlu tergolong gempa besar. Dalam tiga kejadian tersebut, magnitudonya bahkan tak ada yang lebih besar dari 7,0. Namun kombinasi sumber gempa yang di dekat/tepat di bawah kota dengan kedalaman sumber yang sangat dangkal di satu sisi serta padatnya penduduk dan bangunan-bangunan yang bermutu buruk menyebabkan korban manusia dan kerugian material yang direnggutnya bisa melangit.

Jepang pernah merasakan pengalaman buruk sebelumnya di kota Kobe. Sebelum 1995 TU, Jepang tak menyangka bahwa Kobe bakal digempur gempa kuat. Kota ini relatif jauh dari lintasan sesar besar MTL. Baru di kemudian hari ketahuan bahwa salah satu cabang sesar besar MTL melintas di halaman belakang Kobe. Di lepas pantainya terdapat sebuah pulau Awaji yang kecil, dipisahkan oleh selat Akashi dengan daratan Kobe. Siapa sangka, dari pulau inilah bencana melanda. Sesar Nojima yang menyembul di sisi barat pulau mendadak terpatahkan pada Senin 17 Januari 1995 TU. Pematahan ini bahkan menjalar hingga ke sesar Suma, Suwayama dan Gosukebashi yang ada di daratan Kobe. Secara keseluruhan pematahan itu terjadi dalam segmen sepanjang lebih dari 50 km pada empat sesar tersebut, dengan lentingan mendatar menganan hingga sejauh 1,5 meter. Gempa dengan magnitudo 6,9 pun meletup, yang kemudian dikenal sebagai bencana Gempa Hanshin-Agung Awaji 1995. Inilah bencana gempa bumi tektonik termahal dalam sejarah Jepang sebelum 2011 TU. Selain merenggut nyawa lebih dari 6.000 orang, Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995 juga meruntuhkan ribuan bangunan dan merusak banyak sarana infrastruktur dengan total kerugian hingga lebih dari US $ 200 milyar.

Gambar 6. Peta kota Kobe dan sekitarnya beserta sumber Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995 yang meremukkan kota dan menjadikannya bencana alam termahal sepanjang sejarah Jepang sebelum 2011 TU. Nampak sesar Nojima (A) serta sesar Suma, Suwayama dan Gosukebashi (ketiganya di B). Jalinan sesar Nojima dengan sesar-sesar lainnya inilah yang membuat gelombang gempa memperoleh jalan tol-nya langsung ke kota Kobe. Sumber: Koketsu dkk, 1998.

Gambar 6. Peta kota Kobe dan sekitarnya beserta sumber Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995 yang meremukkan kota dan menjadikannya bencana alam termahal sepanjang sejarah Jepang sebelum 2011 TU. Nampak sesar Nojima (A) serta sesar Suma, Suwayama dan Gosukebashi (ketiganya di B). Jalinan sesar Nojima dengan sesar-sesar lainnya inilah yang membuat gelombang gempa memperoleh jalan tol-nya langsung ke kota Kobe. Sumber: Koketsu dkk, 1998.

Indonesia juga punya pengalaman serupa yang mengambil tempat di Yogyakarta, di sisi selatan dan timur Gunung Merapi. Sebelum 2006 TU, di kawasan ini telah dikenal adanya sesar Opak meski aktif tidaknya masih menjadi perdebatan. Namun Indonesia tak pernah mengira bahwa sekira 10 km di sebelah timurnya dan sejajar dengan sesar Opak ada sesar lain yang siap terpatahkan. Inilah sesar Oya, yang mengukir paras Bumi diatasnya sebagai lembah yang dialiri Sungai Oya (anak Sungai Opak) di lingkup Pegunungan Seribu. Siapa sangka, Sabtu pagi 27 Mei 2006 TU segmen sepanjang 20 km dalam sesar ini terpatahkan. Meletuplah Gempa Yogyakarta 2006 yang bermagnitudo 6,4. Jalinan antar sesar yang rumit di kawasan ini, mulai dari sesar Oya, Siluk, Opak, Progo, Dengkeng dan lain-lain membuat gelombang gempa seakan menemui jalan bebas hambatan untuk merambat kemana-mana. Tak sekedar itu, getaran keras yang ditimbulkannya mengguncang dataran Bantul dan Prambanan-Klaten yang relatif lunak dan belum terpadatkan. Di sini gelombang gempa menjadi terkuatkan (teramplifikasi), hingga memproduksi getaran berintensitas 8 MMI. Akibatnya dataran Bantul dan Prambanan-Klaten pun hancur lebur. Puluhan ribu bangunan bermutu rendah dan medium ambruk, dengan lebih dari 5.000 jiwa terenggut.

Kasus paling ekstrim dari gempa bumi yang menyerang kota adalah Gempa Haiti 2010. Buruknya mutu bangunan di kawasan ibukota Port au Prince dan halaman belakangnya menghasilkan malapetaka luar biasa kala gempa bermagnitudo 7,0 menerjang pada Selasa sore 12 Januari 2010 TU. Sumbernya adalah sebuah sesar tak dikenal yang berhubungan dengan sistem sesar Enriquillo-Plantain Garden. Seperti halnya kejadian Gempa Yogyakarta 2006, pematahan yang terjadi pada sumber Gempa Haiti 2010 tak muncul ke paras Bumi. Namun dampaknya sangat menghancurkan. Port au Prince diporak-porandakan oleh getaran sangat keras, dengan intensitas hingga 9 MMI. Ratusan ribu bangunan ambruk. Korban jiwa tak dapat diketahui sepenuhnya seiring buruknya administrasi pemerintah Haiti, namun diperkirakan mencapai 160.000 orang. Pemerintah Haiti sendiri menyatakan korban jiwanya mencapai 316.000 orang, jumlah yang dianggap terlalu dibesar-besarkan oleh sejumlah kalangan.

Gambar 7. Jalinan rumit antar sesar di Pegunungan Seribu dan dataran Yogyakarta-Bantul (tidak semuanya diperlihatkan). Nampak sumber Gempa Yogyakarta 2006 di sesar Oya (lembah sungai Oya). Meski sumber gempa terletak di daerah yang batuannya relatif keras, namun jalinan sesar-sesar yang rumit membuat gelombang gempa melesat di jalan tol-nya menuju ke dataran Bantul dan Prambanan-Klaten yang lunak. Mayoritas korban gempa berjatuhan di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 dan digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Gambar 7. Jalinan rumit antar sesar di Pegunungan Seribu dan dataran Yogyakarta-Bantul (tidak semuanya diperlihatkan). Nampak sumber Gempa Yogyakarta 2006 di sesar Oya (lembah sungai Oya). Meski sumber gempa terletak di daerah yang batuannya relatif keras, namun jalinan sesar-sesar yang rumit membuat gelombang gempa melesat di jalan tol-nya menuju ke dataran Bantul dan Prambanan-Klaten yang lunak. Mayoritas korban gempa berjatuhan di sini. Sumber: Tsuji dkk, 2009 dan digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Dibanding negara-negara lainnya yang berdiri di atas zona rawan gempa, Jepang relatif beruntung. Pengalaman buruk Gempa Hanshin Agung-Awaji 1995 dan gempa-gempa merusak mematikan sebelumnya sepanjang sejarah serta kemajuan ekonomi negeri sakura itu membuat mereka berani berinvestasi mahal dalam upaya mitigasi gempa bumi. Terutama terkait perangkat keras. Mayoritas bangunan modern di Jepang telah dirancang tahan gempa. Demikian halnya infrastruktur. Di sisi lain, perangkat lunak mitigasi seperti halnya sosialisasi penyelamatan diri saat bencana gempa menerjang pun telah menjadi bagian dari pendidikan sekolah.

Segala ketekunan dan kesabaran ini nampaknya terbayar pasca 1995 TU. Dalam kejadian Gempa akbar Tohoku 2011 (magnitudo 9,0), tak kurang dari 18.000 jiwa tewas atau hilang. Seluruhnya disebabkan oleh hantaman tsunami besar produk gempa ini, bukan akibat getarannya. Sebagai pembanding, bencana Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (magnitudo 9,3) merenggut tak kurang dari 270.000 jiwa (tewas atau hilang) dengan tak kurang dari 207.000 jiwa diantaranya adalah warganegara Indonesia.

Indonesia memang bukan Jepang. Kondisi finansial negeri ini tak memungkinkan untuk menyelenggarakan mitigasi bencana gempa bumi secara massif dalam hal perangkat kerasnya. Namun tidak dengan perangkat lunaknya. Apa yang menggelisahkan dari fenomena gempa yang ‘menyerang’ kota adalah ternyata cukup banyak kota di Indonesia yang berdiri di atas atau di dekat sebuah sesar. Bahkan disebut-sebut tak kurang dari 60 % kota di Indonesia yang demikian. Memang belum tentu sesar yang ada di bawah atau di dekat sebuah kota tergolong aktif. Namun juga banyak yang belum diketahui apakah pernah memproduksi gempa tektonik di masa silam ataukah tidak. Padahal bila sesar tersebut aktif dan melepaskan energinya, dampak yang ditimbulkannya pada kota tersebut akan cukup besar.Siapkah kita?

Referensi :

United States Geological Survey. 2016. M7.0 – 1 km West of Kumamoto-shi, Japan.

Koketsu dkk. 1998. A Fault Model of the 1995 Kobe Earthquake Derived from the GPS Data on the Akashi Kaikyo Bridge and Other Datasets. Earth Planets Space, vol 50 (1998), pp. 803–811.

Tsuji dkk. 2009. Earthquake Fault of the 26 May 2006 Yogyakarta Earthquake Observed by SAR Interferometry. Earth Planets Space, vol 61 (2009), pp. e29-e32.

Iklan

Bila Jupiter Dihantam Komet dan Asteroid

Gerrit Kernbauer mengira ia akan menjalani Rabu 16 Maret 2016 Tarikh Umum (TU) malam seperti halnya malam-malam sebelumnya. Kala itu ia telah menyiapkan kembali senjata utamanya, teleskop reflektor (pemantul) becermin obyektif 20 sentimeter dan telah dirangkai kamera CCD (charged couple device). Sasarannya mengamati langit malam kala kondisi memungkinkan. Rutinitas semacam ini sudah dijalani teknisi CAD (computer aided design) di industri logam Austria dengan penuh semangat dalam 17 tahun terakhir. Di sisi bayang-bayang Pegunungan Alpin di kota kecil Modling, pinggiran metropolitan Wina, Kernbauer menggelar teleskopnya di halaman belakang kediamannya. Sepanjang malam itu teleskopnya mengarah ke beragam sudut langit. Terutama ke Jupiter, salah satu permata di langit malam yang juga planet terbesar se-tata surya kita. Teleskopnya bekerja secara otomatis. Sementara kameranya langsung terhubung dengan komputer jinjing (laptop), memungkinkan merekam dan menyimpan hasilnya dalam format video secara otomatis pula.

Gambar 1. Jupiter, diabadikan pada 27 Oktober 2014 TU dinihari. Nampak dua garis kehitaman di cakram planet ini, yang adalah pita ekuatorial sisi utara (kiri bawah) dan pita ekuatorial sisi selatan (kanan atas).Lewat teleskop dan wantariksa, umat manusia telah mengungkap sedikitnya tujuh peristiwa tumbukan komet / asteroid di Jupiter, hingga 2016 TU ini. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Jupiter, diabadikan pada 27 Oktober 2014 TU dinihari. Nampak dua garis kehitaman di cakram planet ini, yang adalah pita ekuatorial sisi utara (kiri bawah) dan pita ekuatorial sisi selatan (kanan atas).Lewat teleskop dan wantariksa, umat manusia telah mengungkap sedikitnya tujuh peristiwa tumbukan komet / asteroid di Jupiter, hingga 2016 TU ini. Sumber: Sudibyo, 2014.

Kernbauer sama sekali tak pernah menduga bahwa malam itu berbeda. Malam yang akan membuatnya dikenal seantero dunia. Semula ia sedikit kecewa kala mengecek hasil rekamannya dan mendapati kualitasnya tidaklah sebagus harapannya. Hari-hari pun berlalu sebelum Kernbauer memutuskan mulai menganalisis, lebih dari seminggu kemudian. Didapati bahwa pada 17 Maret 2016 TU pukul 07:18:33 WIB teleskopnya merekam hal yang nampaknya tak biasa di Jupiter. Ada kelipan cahaya sangat singkat yang menyeruak di pinggir timur cakram planet itu. Singkat, hanya 2 hingga 3 detik saja, namun sudah cukup membuatnya terhenyak. Sontak ingatannya terbayang pada peristiwa menggemparkan di pertengahan 1994 TU, yakni saat Jupiter dihantam oleh keping-keping komet Shoemaker-Levy 9.

Namun sebelumnya Kernbauer harus memastikan lebih dahulu bahwa kelipan cahaya yang direkamnya benar-benar berasal dari Jupiter. Bukan akibat fenomena di udara di atas Modling, ataupun gangguan pada teleskop/kamera Kernbauer sendiri. Segera ia memublikasikan video rekamannya ke media sosial. Gayung bersambut. Tak butuh waktu lama sebelum rekaman sejenis mengapung ke jagat maya. Adalah John McKeon, astronom amatir dari Swords di pinggiran metropolitan Dublin (Irlandia) yang juga mengamati Jupiter pada saat yang sama, yang mendukung Kernbauer. Lewat teleskop 28 sentimeter-nya, McKeon merekam kelipan yang sama pula. Dengan dua pengamat berbeda, yang terpisahkan oleh jarak lebih dari 1.600 kilometer satu dengan yang lain, maka jelas sudah kelipan tersebut adalah fenomena yang benar-benar terjadi di Jupiter. Mengacu pada enam fenomena sejenis yang pernah terjadi (dan dianalisis) sebelumnya, dapat dipastikan pula bahwa kelipan cahaya tersebut diakibatkan oleh kepingan asteroid/komet yang jatuh menghantam Jupiter!

Gambar 2. Kelipan cahaya dari tumbukan 17 Maret 2016 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Gerrit Kernbauer (Austria) dan John McKeon (Irlandia) pada saat yang sama. Kedua citra telah menjalani pemrosesan citra yang cukup hati-hati untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Sky & Telescope, 2016.

Gambar 2. Kelipan cahaya dari tumbukan 17 Maret 2016 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Gerrit Kernbauer (Austria) dan John McKeon (Irlandia) pada saat yang sama. Kedua citra telah menjalani pemrosesan citra yang cukup hati-hati untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Sky & Telescope, 2016.

Shoemaker-Levy 9

Sebagai planet terbesar dan termassif se-tata surya kita, Jupiter memiliki wajah ganda dalam hal perilakunya terhadap benda-benda langit mini anggota tata surya yang dikenal sebagai komet dan asteroid. Di satu sisi ia berperan menjadi penggembala kawanan asteroid atau komet, yang membuat mereka stabil di kawasannya masing-masing. Inilah yang membentuk Sabuk Asteroid Utama di antara orbit Mars-Jupiter dan Kelompok Asteroid Trojan Jupiter yang berbagi orbit dengan planet raksasa tersebut. Namun di sisi lain, Jupiter juga kerap iseng mengganggu orbit-orbit komet dan asteroid. Astronomi telah lama mengenal kelompok komet keluarga Jupiter, yakni komet-komet periodik dengan periode pendek (kurang dari 20 tahun). Ciri khasnya adalah senantiasa berada di bawah telapak kaki penjajahan gravitasi Jupiter sepanjang hayatnya. Terhadap komet-komet ini, Jupiter akan mengubah orbitnya secara perlahan-lahan hingga mereka mati akibat kehabisan substansi mudah menguap di parasnya, atau lenyap keluar dari tata surya kita atau bahkan lenyap dari tata surya akibat bertumbukan dengan Jupiter maupun planet lain. Hal yang sama juga berlaku untuk asteroid yang diganggu Jupiter, minus kehilangan substansi mudah menguapnya (yang tak dimiliki asteroid).

Peristiwa tumbukan yang paling terkenal sekaligus melegenda di masa astronomi modern adalah tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 (D/1993 F2) dengan Jupiter. Peristiwa tersebut berlangsung pada 16 hingga 22 Juli 1994 TU. Komet ini ditemukan pada 23 Maret 1993 TU malam oleh pasangan suami-istri Eugene Shoemaker dan Carolyn Shoemaker serta koleganya David Levy di Observatorium Gunung Palomar, sehingga mendapatkan namanya sebagai komet Shoemaker-Levy 9. Sedari awal komet ini telah memperlihatkan pemandangan, berbentuk untaian mirip mutiara.

Gambar 3. Jupiter dan keping-keping inti komet Shoemaker-Levy 9, dua bulan sebelum tumbukan terjadi berdasarkan bidikan teleskop antariksa Hubble. Jupiter diabadikan pada 18 Mei 1994 TU sementara komet Shoemaker-Levy 9 sehari sebelumnya. Hasil kedua bidikan yang berbeda lantas digabung menjadi satu untuk keperluan ilustrasi. Sumber; NASA, 1994.

Gambar 3. Jupiter dan keping-keping inti komet Shoemaker-Levy 9, dua bulan sebelum tumbukan terjadi berdasarkan bidikan teleskop antariksa Hubble. Jupiter diabadikan pada 18 Mei 1994 TU sementara komet Shoemaker-Levy 9 sehari sebelumnya. Hasil kedua bidikan yang berbeda lantas digabung menjadi satu untuk keperluan ilustrasi. Sumber; NASA, 1994.

Observasi lebih lanjut dan analisisnya menghasilkan kesimpulan mengejutkan. Komet Shoemaker-Levy 9 menampakkan bentuk mirip mutiaranya karena inti kometnya telah terpecah-belah menjadi sedikitnya 21 kepingan besar. Lebih mengejutkan lagi, komet Shoemaker-Levy 9 tidaklah mengedari Matahari layaknya komet-komet lainnya, melainkan mengelilingi Jupiter hingga berperan sebagai satelit alaminya. Ia beredar mengelilingi Jupiter dengan periode 2 tahun dalam orbit sangat lonjong. Titik apojove-nya, yakni titik terjauh dari pusat Jupiter, adalah 49 juta kilometer atau masih lebih jauh ketimbang satelit alamiah terjauh Jupiter yakni S/2000 J2 yang memiliki apojove 37 juta kilometer. Sebaliknya titik perijove-nya, yakni titik terdekat dari pusat Jupiter, hanya sebesar 45.000 kilometer saja atau jauh lebih kecil ketimbang jari-jari Jupiter (yakni 70.000 kilometer). Dengan orbit seperti ini kesimpulan mengejutkan berikutnya pun muncul: komet Shoemaker-Levy 9 akan menumbuk Jupiter kala hendak menjangkau titik perijove orbitnya.

Analisis memperlihatkan bahwa 21 kepingan inti komet Shoemaker-Levy 9, yang dimensinya bervariasi antara sekecil 45 meter hingga sebesar 1.270 meter, sebelumnya telah melintas di titik perijove-nya yang sejarak hanya 110.000 kilometer dari pusat Jupiter atau hanya 40.000 kilometer dari parasnya. Momen itu terjadi pada 7 Juli 1992 TU. Dengan jarak sedekat itu, gaya tidal Jupiter berdampak menghancurkan sehingga inti komet pun terpecah-belah ke dalam 21 keping besar. Analisis lebih lanjut juga memperlihatkan komet Shoemaker-Levy 9 mungkin telah mengedari Jupiter sejak 1970 TU. Yakni tatkala ia terperangkap gravitasi Jupiter akibat melintas terlalu dekat hingga dipaksa untuk berubah total menjadi mengedari Jupiter. Semula komet ini mengelilingi Matahari sebagai komet keluarga Jupiter. Sejak 1970 TU itu komet Shoemaker-Levy 9 telah menyelesaikan 9 putaran mengelilingi Jupiter dalam orbit yang ganjil, yakni sangat lonjong, berinklinasi sangat besar dan sangat takstabil. Sebelum terpecah-belah, inti komet Shoemaker-Levy 9 mungkin berdiameter 1,4 kilometer.

Gambar 4. Saat-saat salah satu keping inti komet Shoemaker-Levy 9 menumbuk Jupiter, menghasilkan bola api tumbukan yang sangat terang dalam spektrum cahaya inframerah (kiri). Titik terang di di sisi kanan cakram Jupiter adalah Io, salah satu satelit alamiahnya. Sumber; Max Planck Instutite for Astronomy, 1994.

Gambar 4. Saat-saat salah satu keping inti komet Shoemaker-Levy 9 menumbuk Jupiter, menghasilkan bola api tumbukan yang sangat terang dalam spektrum cahaya inframerah (kiri). Titik terang di di sisi kanan cakram Jupiter adalah Io, salah satu satelit alamiahnya. Sumber; Max Planck Instutite for Astronomy, 1994.

Tumbukan akhirnya terjadi pula sesuai dengan yang diprakirakan sebelumnya, yakni pada 16 hingga 22 Juli 1994 TU. Peristiwa ini menyedot perhatian yang teramat besar. Inilah untuk pertama kalinya umat manusia menyaksikan langsung kedahsyatan tubrukan kosmik kala benda langit mini (dalam hal ini komet) menumbuk sebuah planet dengan kedahsyatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bumi mengalami kejadian serupa 65 juta tahun silam, yang melumat habis kehidupan kawanan dinosaurus hingga punah beserta 75 % kelimpahan makhluk hidup lainnya dalam momen yang dikenal sebagai Peristiwa Kapur-Tersier. Keping-keping komet Shoemaker-Levy 9 berjatuhan ke Jupiter dengan kecepatan 60 km/detik (216.000 km/jam). Total energi kinetik yang dilepaskannya mencapai 300 ribu megaton TNT, atau setara dengan kedahsyatan Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam. Tumbukan menghasilkan bercak-bercak hitam mirip mata bengkak, terbesar selebar 12.000 kilometer atau seukuran Bumi kita! Bercak-bercak ini bertahan hingga berbulan-bulan kemudian. Sementara efek dari tumbukan itu sendiri bahkan masih bisa diamati dari Bumi hingga 15 tahun kemudian dalam bentuk melimpahnya kadar air di atmosfer belahan Jupiter bagian selatan.

Gambar 5. Jejak tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 di Jupiter. Kiri: bercak-bercak hitam jejak tumbukan sejumlah kepingan inti komet (dilabeli dengan huruf-huruf tertentu) di hemisfer selatan Jupiter. Diabadikan teleskop antariksa Hubble dalam spektrum sinar ultraungu (panjang gelombang 2.550 Angstrom) pada 21 Juli 1994 TU. Kanan: distribusi kerapatan molekul air (per sentimeter persegi) di Jupiter pada 2009 TU, diabadikan dengan teleskop antariksa Herschel. Nampak konsentrasi molekul air di hemisfer selatan Jupiter, jejak yang masih tersisa dari peristiwa tumbukan dahsyat 15 tahun sebelumnya. Sumber: NASA, 1994 & ESA, 2009.

Gambar 5. Jejak tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 di Jupiter. Kiri: bercak-bercak hitam jejak tumbukan sejumlah kepingan inti komet (dilabeli dengan huruf-huruf tertentu) di hemisfer selatan Jupiter. Diabadikan teleskop antariksa Hubble dalam spektrum sinar ultraungu (panjang gelombang 2.550 Angstrom) pada 21 Juli 1994 TU. Kanan: distribusi kerapatan molekul air (per sentimeter persegi) di Jupiter pada 2009 TU, diabadikan dengan teleskop antariksa Herschel. Nampak konsentrasi molekul air di hemisfer selatan Jupiter, jejak yang masih tersisa dari peristiwa tumbukan dahsyat 15 tahun sebelumnya. Sumber: NASA, 1994 & ESA, 2009.

Asteroid

Selain tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 pada 1994 TU, Jupiter sesungguhnya telah teramati mengalami peristiwa tumbukan dengan benda langit mini hingga sedikitnya enam kali (terhitung sebelum 2016 TU). Peristiwa tumbukan pertama terjadi pada 5 Maret 1981 TU. Peristiwa itu sempat diindra wantariksa (wahana antariksa) Voyager 2 pasca melintas dekat Jupiter dalam perjalanannya mengarungi tata surya kita. Voyager 2 merekam kelipan redup, yang kemudian diidentifikasi sebagai meteor di Jupiter. Analisis memperlihatkan meteor tersebut semula adalah meteoroid yang mungkin berasal dari kepingan asteroid ataupun komet mati. Meteoroid ini kecil saja, diameternya hanya 44 sentimeter (apabila dari komet mati) dengan massa hanya 11 kilogram. Saat memasuki atmosfer Jupiter, ia melepaskan energi kinetik 5.000 kilogram TNT atau setara bom konvensional di Bumi.

Gambar 6. Dinamisnya bercak hitam jejak Tumbukan Wesley dalam 10 hari pertama, diabadikan teleskop IRTF NASA di Hawaii (Amerika Serikat) dan teleskop Carlos Sanchez di Canary (Spanyol) secara terpisah pada spektrum sinar inframerah dekat. Nampak perubahan bentuk bercak dari hari ke hari yang disebabkan oleh sirkulasi dalam atmosfer Jupiter. Sumber: Sanchez-Lavega dkk, 2011.

Gambar 6. Dinamisnya bercak hitam jejak Tumbukan Wesley dalam 10 hari pertama, diabadikan teleskop IRTF NASA di Hawaii (Amerika Serikat) dan teleskop Carlos Sanchez di Canary (Spanyol) secara terpisah pada spektrum sinar inframerah dekat. Nampak perubahan bentuk bercak dari hari ke hari yang disebabkan oleh sirkulasi dalam atmosfer Jupiter. Sumber: Sanchez-Lavega dkk, 2011.

Peristiwa kedua adalah tumbukan komet Shoemaker-Levy 9. Sementara peristiwa ketiga adalah kejadian 19 Juli 2009 TU, yang tak kalah menyita perhatian. Ia dikenal sebagai Tumbukan Wesley karena pertama kali dilaporkan Anthony Wesley, pemrogram komputer yang juga astronom amatir dari Murrumbateman (Australia). Selagi mengamati Jupiter dengan teleskop refraktor (pembias) berlensa obyektif 38 sentimeter yang terhubung kamera, Wesley menyadari hadirnya bercak hitam di hemisfer selatan Jupiter pada pukul 20:30 WIB. Observasi lebih lanjut melalui Teleskop Keck dan IRTF (infra red telescope facility) NASA, keduanya bertempat di puncak Gunung Manua Kea di Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), memastikan eksistensi bercak hitam yang dilaporkan Wesley. Bercak tersebut mengandung tanda-tanda yang serupa dengan bercak-bercak produk tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 tepat 15 tahun sebelumnya. Sehingga jelas berasal dari peristiwa tumbukan.

Observasi lebih lanjut dan analisisnya memperlihatkan Tumbukan Wesley disebabkan oleh sekeping asteroid, terlihat dari jejak kaya silikat, silika dan hidrokarbon yang tertinggal dalam bercak serta minimnya karbon monoksida. Asteroid tersebut berukuran 500 meter dengan massa 65 juta ton. Ia jatuh menumbuk sisi jauh Jupiter, yakni hemisfer Jupiter yang sedang mengalami malam hari. Kejadian itu berlangsung dalam rentang waktu antara pukul 16:00 hingga 18:00 WIB. Wesley menjadi sosok pertama yang beruntung menyaksikan jejak tumbukannya. Tumbukan melepaskan energi luar biasa besar, yakni 28.000 megaton TNT atau hampir menyamai energi Letusan Tambora 1815. Tumbukan menciptakan bercak hitam seluas 190 juta kilometer persegi, atau seukuran Samudera Pasifik di Bumi. Area tersebut terpanaskan hingga 3° sampai 4° Celcius di atas suhu normalnya. Tumbukan Wesley sekaligus menjungkirbalikkan anggapan semula yang telah berakar kuat, dimana peluang guna mendeteksi peristiwa tumbukan di Jupiter berbasis teleskop kecil hingga medium (yang banyak digunakan kalangan astronom amatir) dianggap mustahil.

Wesley jugalah yang pertama kali mendeteksi adanya peristiwa tumbukan keempat. Yakni kala ia merekam kelipan cahaya singkat di dekat pinggir barat cakram Jupiter pada 4 Juni 2010 TU pukul 03:31 WIB. Wesley menggunakan radas (instrumen) yang sama persis dengan saat ia mendeteksi peristiwa tumbukan setahun sebelumnya. Namun berbeda dengan peristiwa Tumbukan Wesley, kali ini kelipan cahaya singkat itu tak diikuti munculnya fenomena bercak hitam atau sejenisnya. Mujurnya tak hanya Wesley yang merekam peristiwa ini. Seorang Christopher Go, astronom amatir dari Cebu (Filipina), pun mengamati Jupiter pada saat yang sama. Go bersenjatakan teleskop 28 sentimeter yang dilengkapi kamera. Rekamannya juga memperlihatkan kelipan cahaya singkat, pada waktu yang persis sama dengan hasil rekaman Wesley.

Gambar 7. Kelipan cahaya dari tumbukan 4 Juni 2010 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Anthony Wesley (Australia) dan Christopher Go (Filipina) pada saat yang sama. Kedua citra telah menjalani pemrosesan citra untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Gambar 7. Kelipan cahaya dari tumbukan 4 Juni 2010 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Anthony Wesley (Australia) dan Christopher Go (Filipina) pada saat yang sama. Kedua citra telah menjalani pemrosesan citra untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Berbekal dua rekaman video yang berbeda ini, maka kejadian tumbukan di Jupiter dapat dipastikan. Kelipan cahaya singkat tersebut adalah meteor-terang (fireball) di Jupiter. Semula ia merupakan meteoroid yang berasal dari kepingan asteroid ataupun komet mati. Diameter meteoroidnya adalah 18,2 meter (apabila dari komet mati), atau setara dengan meteoroid penyebab Peristiwa Chelyabinsk 2013. Dengan massa 790 ton, meteoroid ini melepaskan energi 340 kiloton TNT saat memasuki atmosfer Jupiter sebagai meteor-terang. Sukses Wesley dan Go memperlihatkan bahwa kini manusia memiliki peluang untuk mendeteksi tumbukan benda langit di Jupiter meski meteoroidnya relatif kecil.

Peristiwa tumbukan kelima juga terjadi pada 2010 TU, tepatnya pada 21 Agustus 2010 TU pukul 01:21 WIB. Kali ini giliran para astronom amatir Jepang yang tampil ke panggung. Awalnya Masayuki Takichawa dari Kumamoto yang melaporkan terdeteksinya kelipan cahaya singkat, pada posisi hampir di tengah cakram Jupiter, saat merekam planet itu dengan bersenjatakan teleskop refraktor berlensa obyektifnya 15 sentimeter dan terhubung kamera. Berjam-jam kemudian, konfirmasi datang dari dua astronom amatir berbeda, yakni dari Kazuo Aoki dari Tokyo dan Masayuki Ichimaru dari Toyama. Aoki dan Ichimaru masing-masing menggunakan teleskop refraktor berlensa obyektif berdiameter 23,5 sentimeter dan 12,5 sentimeter (!). Konfirmasi keempat datang dari Takanori Wakamatsu dari Arita. Dengan rekaman yang melimpah, kini dipahami bahwa peristiwa tersebut disebabkan oleh tumbukan meteoroid yang berasal dari kepingan asteroid ataupun komet mati. Diameternya sebesar 16,7 meter (apabila dari komet mati) dengan massa 608 ton. Saat masuk ke atmosfer Jupiter sebagai meteor-terang, ia melepaskan energi hingga 260 kiloton TNT atau 13 kali lebih dahsyat ketimbang letusan bom nuklir Hiroshima.

Gambar 8. Kelipan cahaya dari tumbukan 21 Agustus 2010 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Masayuki Takichawa, Kazuo Aoki dan Masayuki Ichimaru (ketiganya dari Jepang). Ketiga citra telah menjalani pemrosesan citra untuk meningkatkan kualitasnya. Benda langit kecil di sisi kanan bawah citra Takichawa dan Aoki adalah Ganymede, satelit alamiah terbesar Jupiter. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Gambar 8. Kelipan cahaya dari tumbukan 21 Agustus 2010 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi Masayuki Takichawa, Kazuo Aoki dan Masayuki Ichimaru (ketiganya dari Jepang). Ketiga citra telah menjalani pemrosesan citra untuk meningkatkan kualitasnya. Benda langit kecil di sisi kanan bawah citra Takichawa dan Aoki adalah Ganymede, satelit alamiah terbesar Jupiter. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Dan peristiwa yang terakhir, yakni peristiwa tumbukan keenam, terjadi pada 2012 TU. Tepatnya pada 10 September 2012 pukul 18:35 WIB. Kali ini astronom-astronom amatir Amerika Serikat yang kebagian peranan. Dan berbeda dengan lima peristiwa sebelumnya, peristiwa keenam ini menjadi momen teramatinya tumbukan di Jupiter secara langsung (lewat mata) tanpa rekaman video. Adalah Dan Peterson dari kota kecil Racine (negara bagian Wisconsin) yang berkesempatan menyaksikannya melalui teleskop reflektor becermin obyektif 25 sentimeter. Kelipan cahaya singkat itu berdurasi 2 detik dan terjadi di tepi timur cakram Jupiter. Kelipan tersebut memiliki magnitudo semu sekitar +6, hampir setara magnitudo semu Europa (salah satu satelit alamiah Jupiter) yang ada didekatnya. Berjam-jam kemudian, rekaman videonya diunggah seorang George Hall dari kota Dallas (negara bagian Texas). Dengan rekaman ini maka kejadian tersebut dapat dianalisis lebih lanjut. Peristiwa tumbukan keenam tersebut disebabkan oleh meteoroid berdiameter 19,3 meter (apabila dari komet mati) dengan massa 940 ton yang masuk ke atmosfer Jupiter. Ia melepaskan energi hingga 405 kiloton TNT atau 20 kali lebih dahsyat ketimbang letusan bom nuklir Hiroshima.

Gambar 9. Kelipan cahaya dari tumbukan 10 September 2012 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi George Hall (Amerika Serikat). Citra ini telah menjalani pemrosesan untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Gambar 9. Kelipan cahaya dari tumbukan 10 September 2012 di Jupiter dalam citra yang diekstrak dari rekaman observasi George Hall (Amerika Serikat). Citra ini telah menjalani pemrosesan untuk meningkatkan kualitasnya. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Kekerapan

Rekaman hasil observasi Kernbauer dan McKeon memang belum masuk ke meja analisis. Tetapi karena mengandung ciri-ciri yang mirip dengan sedikitnya tiga peristiwa tumbukan terakhir di Jupiter, maka diduga kuat apa yang terekam dalam observasi Kernbauer dan McKeon adalah sebuah peristiwa tumbukan. Jika benar demikian, maka inilah peristiwa tumbukan ketujuh yang pernah teramati umat manusia di Jupiter.

Bagaimana nasib meteoroid, baik yang berasal dari komet maupun asteroid, kala menumbuk Jupiter? Meski dimensinya jauh lebih besar ketimbang Bumi dan demikian halnya massanya, Jupiter bukanlah planet seperti Bumi. Ia tidak memiliki paras (permukaan) keras layaknya Bumi. Struktur Jupiter berlapis-lapis, terbentuk oleh gas yang sifatnya bergantung pada tekanannya. Apa yang selama ini disebut paras Jupiter sejatinya adalah titik-titik yang memiliki tekanan gas 1 bar (setara tekanan atmosfer di paras Bumi). Dari paras ini hingga ke kedalaman tertentu Jupiter masih tetap merupakan lapisan gas. Tekanan gas dalam lapisan gas ini kian membesar sering bertambahnya kedalaman. Saat tekanannya cukup besar, di bawah lapisan gas ini mulailah eksis lapisan Hidrogen cair. Lapisan ini terbentuk tatkala besarnya tekanan gas menyebabkan molekul-molekul gas dipaksa saling mendekat sangat rapat. Di bawah lapisan Hidrogen cair ini terdapat lapisan Hidrogen metalik cair. Pada lapisan ini tekanan gasnya telah demikian besar, yakni minimal 250.000 atmosfer. Tekanan sebesar itu membuat Hidrogen cair mulai menampakkan sifat-sifat ikatan logam, karena inti-inti atom Hidrogennya telah kehilangan ikatan terhadap elektron-elektronnya. Lapisan ini bersifat penghantar listrik. Barulah di bawah lapisan ini, tepatnya di pusat Jupiter, kita akan bersua dengan satu-satunya bagian Jupiter yang padat. Yakni inti Jupiter.

Gambar 10. Bagaimana nasib sebuah meteoroid kecil yang menerobos masuk ke dalam atmosfer Jupiter dalam simulasi Hueso dkk (2013). 0,1 detik setelah memasuki atmosfer, meteoroid berubah menjadi meteor-terang dengan bentuk yang masih utuh di elevasi sekitar 204 kilometer dpj sembari mulai menghamburkan sebagian massanya dan hempasan gelombang kejut ke atmosfer. 0,5 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang mulai memipih di elevasi sekitar 175 kilometer dpj. Kuantitas hamburan massa dan gelombang kejutnya kian meningkat. 0,75 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang telah terfragmentasi demikian brutal di elevasi sekitar 160 kilometer dpj. 1,25 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang telah teruapkan tak bersisa di elevasi sekitar 130 kilometer dpj. Hanya gelombang kejutnya yang masih menjalar. 1,6 detik setelah memasuki atmosfer, baik meteor-terang maupun gelombang kejutnya telah benar-benar menghilang di dalam atmosfer Jupiter. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Gambar 10. Bagaimana nasib sebuah meteoroid kecil yang menerobos masuk ke dalam atmosfer Jupiter dalam simulasi Hueso dkk (2013). 0,1 detik setelah memasuki atmosfer, meteoroid berubah menjadi meteor-terang dengan bentuk yang masih utuh di elevasi sekitar 204 kilometer dpj sembari mulai menghamburkan sebagian massanya dan hempasan gelombang kejut ke atmosfer. 0,5 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang mulai memipih di elevasi sekitar 175 kilometer dpj. Kuantitas hamburan massa dan gelombang kejutnya kian meningkat. 0,75 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang telah terfragmentasi demikian brutal di elevasi sekitar 160 kilometer dpj. 1,25 detik setelah memasuki atmosfer, meteor-terang telah teruapkan tak bersisa di elevasi sekitar 130 kilometer dpj. Hanya gelombang kejutnya yang masih menjalar. 1,6 detik setelah memasuki atmosfer, baik meteor-terang maupun gelombang kejutnya telah benar-benar menghilang di dalam atmosfer Jupiter. Sumber: Hueso dkk, 2013.

Dengan dominasi gas di parasnya, bagaimana nasib sebuah meteoroid yang jatuh menumbuk Jupiter?

Pada dasarnya mirip dengan apa yang terjadi di Bumi. Saat sebuah meteoroid kecil, yakni yang diameternya kurang dari 20 meter, menerobos masuk atmosfer Jupiter maka simulasi Hueso dkk (2013) memperlihatkan ia akan mulai terpecah-belah (terfragmentasi) sejak elevasi sekitar 160 kilometer dpj (dari paras Jupiter). Fragmentasi itu kian brutal hingga mencapai puncaknya pada elevasi sekitar 120 kilometer dpj. Setiap pecahan lantas akan teruapkan oleh tekanan ram yang terbentuk. Pecahan terakhir akan sepenuhnya menghilang dalam rentang elevasi antara 100 hingga 80 kilometer dpj. Seluruh material meteoroid kecil lantas tercampur-baur dengan gas-gas dalam Jupiter. Pada meteoroid lebih besar atau bahkan raksasa, misalnya seperti dalam tumbukan komet Shoemaker-Levy 9, meteoroid menembus jauh lebih dalam lagi. Dan bahkan bisa mencapai paras Jupiter ataupun menembus lebih dalam lagi ke dalam lapisan gas. Namun tiadanya permukaan padat membuat hantaman meteroid raksasa pun tak meninggalkan jejak kawah. Hanya material meteoroidnya yang terdispersi ke dalam atmosfer atau lapisan gas untuk kemudian tersebar seiring dinamika atmosfer Jupiter.

Seberapa sering Jupiter menghadapi tumbukan meteoroid kecil? Menurut simulasi Hueso dkk, jika ukuran meteoroidnya ada di antara 5 hingga 20 meter dan bila menggunakan radas observasi astronomi amatir seperti saat ini, maka kekerapan tumbukan di Jupiter yang berpotensi untuk diamati adalah antara 12 hingga 60 kali per tahun. Sebanyak inilah jumlah kejadian tumbukan di Jupiter yang bisa disaksikan manusia, tentunya dalam kondisi ideal. Yakni kala langit benar-benar cerah dan gangguan polusi cahaya minimal.

Referensi :

Beatty. 2016. Another Impact on Jupiter? Sky & Telescope 29 March 2016, Observing News & Celestial Events.

Hueso dkk. 2013. Impact Flux on Jupiter, from Superbolides to Large Scale Collisions. Astronomy & Astrophysics vol. 560, no. A55 (2013), 14 pp.

Crawford. 1997. Comet Shoemaker-Levy 9 Fragment Size and Mass Estimates from Light Flux Observations. 28th Lunar and Planetary Science Conference, conference paper, p.267.

Cavalie dkk. 2013. Spatial Distribution of Water in the Stratosphere of Jupiter from Herschel HIFI and PACS Observations. Astronomy & Astrophysics vol. 553, no. A21 (2013), 16 pp.

Sanchez-Lavega dkk. 2011. Longterm Evolution of the Aerosol Debris Cloud Produced by the 2009 Impact of Jupiter. Icarus, vol. 214 no. 2 (August 2011), p 462-476.

Longsor Clapar (Banjarnegara) yang Membuat Hati Bergetar

Jembatan itu pendek saja. Ia membentang di sebuah batang air kecil tak bernama yang menghilir ke tenggara hingga bermuara di Sungai Serayu. Serayu adalah sungai legendaris yang menjadi uratnadi utama Kabupaten Banjarnegara dan kabupaten/kota lainnya di propinsi Jawa Tengah bagian barat daya. Pada jembatan pendek inilah membentang sepenggal jalur jalan raya utama penghubung Kecamatan Madukara dan kecamatan-kecamatan lainnya di pinggir timur dan utara Kabupaten Banjarnegara dengan ibukotanya. Selama ini ia berdiri kokoh menjalankan tugasnya. Tak terhitung kendaraan, baik bermotor maupun tidak, dan makhluk hidup, baik manusia maupun hewan, yang pernah melintasinya sepanjang masa tugasnya. Setidaknya hingga Kamis 24 Maret 2016 Tarikh Umum (TU) lalu kala sebuah peristiwa menggetarkan terjadi: bencana tanah longsor Clapar.

Gambar 1. Jembatan kecil yang menjadi saksi bisu bencana longsor Clapar pada hari-hari awal bencana itu. Jalan yang semula melintasi jembatan ini nampak sudah mulai terputus. Di hari-hari berikutnya penggal jalan raya ini kian jauh beringsut sekaligus tertimbuni lumpur oleh longsor rayapan yang terjadi. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho/BNPB, 2016.

Gambar 1. Jembatan kecil yang menjadi saksi bisu bencana longsor Clapar pada hari-hari awal bencana itu. Jalan yang semula melintasi jembatan ini nampak sudah mulai terputus. Di hari-hari berikutnya penggal jalan raya ini kian jauh beringsut sekaligus tertimbuni lumpur oleh longsor rayapan yang terjadi. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho/BNPB, 2016.

Dan kini jembatan tak bernama itu pula yang menjadi salah satu fokus perhatian dalam bencana tanah longsor Clapar. Betapa tidak, sepenggal jalan raya yang membentang dari jembatan, yang secara administratif terletak di Rukun Warga (RW) 01 Desa Clapar Kecamatan Madukara, mendadak meliuk. Tanah yang mengalasinya secara tiba-tiba lebih lembek menjadi fluida laksana bubur. Sepenggal jalan raya itu pun menghanyut oleh aliran massa tanah dalam bencana tersebut. Tak sekedar merusak jalan raya, gerakan tanah yang sama membuat banyak rumah dibikin berantakan.

Mujurnya bencana longsor Clapar berjenis longsor rayapan (soil creep) yang secara alamiah terjadi secara perlahan-lahan. Sehingga pada satu sisi memberikan kesempatan bagi masyarakat yang bertempat tinggal di lokasi bencana dan sekitarnya untuk menyelamatkan diri. Inilah yang membedakan bencana longsor Clapar dengan bencana longsor dahsyat yang mendera Banjarnegara sepanjang sejarahnya. Mulai dari bencana longsor Legetang, Sijeruk hingga yang termutakhir Jemblung. Meski di sisi lain, perkembangan longsor rayapan dapat membuat area yang terdampak meluas, yang berimbas pada membengkaknya kerugian material dan jumlah pengungsi.

Gambar 2. Salah satu rumah permanen yang menjadi korban bencana longsor Clapar di hari-hari awal. Nampak ia rusak parah, telah retak separuh. Pada hari-hari berikutnya rumah ini kian rusak dan akhirnya runtuh sepenuhnya seiring gerakan tanah yang terus terjadi dalam longsor rayapan ini. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho/BNPB, 2016.

Gambar 2. Salah satu rumah permanen yang menjadi korban bencana longsor Clapar di hari-hari awal. Nampak ia rusak parah, telah retak separuh. Pada hari-hari berikutnya rumah ini kian rusak dan akhirnya runtuh sepenuhnya seiring gerakan tanah yang terus terjadi dalam longsor rayapan ini. Sumber: Sutopo Purwo Nugroho/BNPB, 2016.

Saat gerakan tanah diawali pada 24 Maret 2016 TU pukul 19:00 WIB, yang disusul pada 25 Maret 2016 TU pukul 01:30 WIB dan pukul 06:00 WIB, luas area longsornya masih sebatas 5 hektar dengan keliling area 1,2 kilometer. Dampak yang diakibatkannya meliputi 9 rumah rusak berat, 3 rumah rusak sedang dan 2 rusak ringan dengan 29 rumah lain didekatnya pun dalam kondisi terancam. Jumlah pengungsi mencapai 158 orang. Tetapi berselang seminggu kemudian, yakni Kamis 31 Maret 2016 TU, gerakan tanah yang terus terjadi selama seminggu tersebut menyebabkan luas area longsor membengkak menjadi 35 hektar. Jumlah pengungsi pun melonjak menjadi 296 jiwa yang terbagi ke dalam 85 keluarga.

Gambar 3. Lokasi bencana longsor Clapar dalam citra Google Earth tiga dimensi. Area longsor ditandai dengan daerah berbayang putih, khususnya pada hari-hari pertama, yang luasnya 5,3 hektar dengan keliling 1,2 kilometer. Nampak alur jalan raya Madukara-Banjarnegara yang melintasi area longsor. Di latar belakang terlihat kota Banjarnegara. Di hari-hari berikutnya area longsor Clapar kian meluas seiring terus terjadinya gerakan tanah dalam longsor rayapan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth serta data dari Nurmansyah & Andri.

Gambar 3. Lokasi bencana longsor Clapar dalam citra Google Earth tiga dimensi. Area longsor ditandai dengan daerah berbayang putih, khususnya pada hari-hari pertama, yang luasnya 5,3 hektar dengan keliling 1,2 kilometer. Nampak alur jalan raya Madukara-Banjarnegara yang melintasi area longsor. Di latar belakang terlihat kota Banjarnegara. Di hari-hari berikutnya area longsor Clapar kian meluas seiring terus terjadinya gerakan tanah dalam longsor rayapan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth serta data dari Nurmansyah & Andri.

Mengapa bencana tanah longsor Clapar bisa terjadi?

Kemiringan dan Kondisi

Longsor rayapan di Clapar tak bisa dilepaskan dari takdir kebumian Banjarnegara dengan geologinya yang khas. Sebagai daerah yang bertempat di kawasan Pegunungan Serayu dan tepat di sisi utara daerah Karangsambung (Kebumen), Banjarnegara menderita tekanan yang kuat dari arah selatan selama berjuta-juta tahun. Akibatnya lempung dan napal yang mengalasi sebagian Banjarnegara seakan diremas-remas dengan sangat kuat, membuatnya rapuh. Tak hanya itu, tanah Banjarnegara pun dicabik-cabik oleh aktivitas tektonik. Sehingga beragam jenis sesar saling silang siur di kawasan ini. Proses serupa juga dialami Kebumen bagian utara, yang bahkan lebih kompleks sehingga membentuk daerah Karangsambung yang khas.

Desa Clapar dan sekitarnya berdiri di atas bebatuan sedimen formasi Rambatan yang terdiri atas serpih, napal dan batupasir mengandung gamping (karbonat). Dengan ketebalan sekitar 370 meter, formasi Rambatan dibentuk oleh pengendapan di lingkungan dasar laut yang terbuka. Pengendapan terjadi pada masa Miosen Awal hingga Miosen Tengah (23 hingga 16 juta tahun silam), menjadikannya satuan batuan tertua di Banjarnegara. Evaluasi oleh Fadlin, geolog Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, di lokasi bencana Clapar, menguak kekhasan lain. Batuan formasi Rambatan di Clapar telah cukup lapuk akibat dipanasi secara terus-menerus dalam periode yang cukup lama pada waktu tertentu, kemungkinan di kala Pleistosen (antara 2,5 hingga 0,1 juta tahun silam).

Gambar 4. Penampang melintang lereng bukit yang mengalami longsor rayapan dalam bencana longsor Clapar, di hari-hari pertama. Penampang melintang ini berimpit dengan sumbu area longsor yang berarah barat-barat daya ke timur-tenggara. Nampak posisi mahkota longsor dan lidah longsor serta jalan raya Madukara-Banjarnegara. Panah tebal putus-putus menunjukkan arah gerakan tanah. sementara tanda persen (%) menunjukkan persentase kemiringan lereng pada suatu titik. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth serta data dari Nurmansyah.

Gambar 4. Penampang melintang lereng bukit yang mengalami longsor rayapan dalam bencana longsor Clapar, di hari-hari pertama. Penampang melintang ini berimpit dengan sumbu area longsor yang berarah barat-barat daya ke timur-tenggara. Nampak posisi mahkota longsor dan lidah longsor serta jalan raya Madukara-Banjarnegara. Panah tebal putus-putus menunjukkan arah gerakan tanah. sementara tanda persen (%) menunjukkan persentase kemiringan lereng pada suatu titik. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Earth serta data dari Nurmansyah.

Sumber panasnya adalah magma, yang melesapkan cairan hidrotermal ke dalam lapisan batuan formasi Rambatan disekelilingnya. Sehingga terjadi proses alterasi hidrotermal yang kuat. Jejak magma tersebut masih terlihat di kecamatan Pagentan sebagai batuan beku terobosan (intrusi) sejarak 4 kilometer sebelah utara-timur laut Clapar. Batuan beku dalam intrusi tersebut merupakan diorit, terbentuk saat magma panas membeku secara berangsur-angsur jauh di dalam tanah sehingga menghasilkan bekuan gelap dengan butir-butir sedang hingga kasar. Apabila magma panas tersebut sempat keluar ke paras Bumi, maka ia akan membentuk batuan beku andesit. Intrusi diorit di Pagentan bisa saja merupakan fosil gunung berapi, yakni gunung berapi yang telah mati dan tererosi demikian brutal seiring waktu sehingga tinggal menyisakan bagian terkerasnya. Namun untuk itu dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Yang jelas saat batupasir formasi Rambatan dikukus magma panas secara terus-menerus untuk jangka waktu yang lama, ia pun melapuk. Terbentuklah butir-butir lempung yang terkenal licin sehingga berperan menjadi bidang gelincir dalam banyak bencana tanah longsor.

Selain batuan yang lapuk dan penuh lempung, kekhasan lainnya yang diduga turut berkontribusi dalam bencana Clapar adalah adanya sesar (patahan). Sebuah sesar geser dengan arah utara-selatan melintas di sini. Aktivitasnya tidak diketahui dan kemungkinan besar tak aktif di masa kini. Namun keberadaan sebuah sesar apapun senantiasa diiringi eksisnya zona hancuran. Yakni sebentuk zona selebar beberapa meter hingga beberapa kilometer yang terbentuk sebagai akibat penghancuran batuan akibat gerakan sesar hingga berkumpul di jalur tertentu tepat di mana sesar tersebut melintas. Zona hancuran senantiasa menjadi zona lemah nan rapuh di paras Bumi. Lokasi bencana longsor Clapar nampaknya terletak di sekitar zona hancuran sesar geser tersebut.

Gambar 5. Peta zona kerentanan gerakan tanah sebagian Kabupaten Banjarnegara khususnya kecamatan Madukara dan sekitarnya. Lokasi bencana longsor Clapar ditandai dengan lingkaran merah. Area bencana terletak di zona rentan menengah (untuk lereng bagian atas) dan zona rentan rendah (untuk lereng bagian bawah). Sumber: PVMBG, 2014.

Gambar 5. Peta zona kerentanan gerakan tanah sebagian Kabupaten Banjarnegara khususnya kecamatan Madukara dan sekitarnya. Lokasi bencana longsor Clapar ditandai dengan lingkaran merah. Area bencana terletak di zona rentan menengah (untuk lereng bagian atas) dan zona rentan rendah (untuk lereng bagian bawah). Sumber: PVMBG, 2014.

Dengan kekhasan tersebut, bagaimana longsor Clapar mengambil bentuk yang berbeda dibandingkan kejadian di Legetang, Sijeruk dan Jemblung?

Salah satu faktornya mungkin terletak pada kemiringan lereng di Clapar. Mahkota longsor Clapar terletak di elevasi 837 meter dpl (dari paras laut rata-rata) dengan kemiringan 23 %. Sementara ujung lidah longsor Clapar terletak pada elevasi 705 meter dpl dengan kemiringan 12%. Maka terdapat selisih elevasi 132 meter. Sebagai pembanding mari gunakan kejadian bencana longsor dahsyat Jemblung. Mahkota longsor Jemblung terletak pada elevasi 1.056 meter dpl sementara bagian terendahnya pada elevasi 931 meter dpl. Sehingga selisih elevasi longsor Jemblung adalah 125 meter, sedikit lebih kecil dibanding selisih elevasi longsor Clapar. Akan tetapi kemiringan lereng Jemblung jauh lebih besar, yakni mencapai 47 % di mahkota longsor. Sehingga kemiringan lereng Jemblung terkategori sangat curam. Sebaliknya kemiringan lereng Clapar masih dikategorikan sebagai agak curam. Perbedaan kemiringan lereng ini mungkin menjadi faktor kunci mengapa bencana longsor Clapar bersifat rayapan. Tak mengambil bentuk yang sama dengan bencana longsor Jemblung, walaupun selisih elevasi keduanya relatif mirip.

Kemiringan lereng yang lebih rendah ini pula yang nampaknya mendasari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM RI menempatkan area di sekitar lokasi longsor Clapar dalam zona rentan menengah (untuk lereng bagian atas) dan zona rentan rendah (untuk lereng bagian bawah). Bagi zona rentan rendah, potensi terjadinya gerakan tanah akan timbul manakala terjadi gangguan pada lereng tersebut. Sementara bagi zona rentan menengah, potensi gerakan tanahnya adalah lebih besar dibanding zona rentan rendah. Selain gangguan pada lereng, potensi gerakan tanah di zona rentan menengah bisa terjadi pada lereng yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan maupun gawir. Terutama saat terjadi hujan deras.

Gambar 6. Peta geologi Kabupaten Banjarnegara bagian timur, yang telah dilekatkan ke citra Google Earth tiga dimensi. Nampak lokasi bencana Clapar terletak di batuan formasi Rambatan, batuan tertua di Banjarnegara. Sedikit ke utara-timur laut dalam jarak sekitar 4 kilometer terdapat intrusi diorit Pagentan, magma yang menelusup di masa silam dan kemudian membeku. Intrusi ini mungkin melesapkan cairan hidrotermal ke batuan disekelilingnya hingga menciptakan fenomena alterasi hidrotermal. Di latar belakang nampak Gunung Telagalele, lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung pada 2014 TU silam. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan peta geologi dari P3G, 1998.

Gambar 6. Peta geologi Kabupaten Banjarnegara bagian timur, yang telah dilekatkan ke citra Google Earth tiga dimensi. Nampak lokasi bencana Clapar terletak di batuan formasi Rambatan, batuan tertua di Banjarnegara. Sedikit ke utara-timur laut dalam jarak sekitar 4 kilometer terdapat intrusi diorit Pagentan, magma yang menelusup di masa silam dan kemudian membeku. Intrusi ini mungkin melesapkan cairan hidrotermal ke batuan disekelilingnya hingga menciptakan fenomena alterasi hidrotermal. Di latar belakang nampak Gunung Telagalele, lokasi bencana longsor dahsyat Jemblung pada 2014 TU silam. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan peta geologi dari P3G, 1998.

Evaluasi Fadlin memperlihatkan area lereng di sekitar mahkota longsor Clapar telah berubah menjadi kebun dengan tanaman budidaya berupa salak. Sebagai tumbuhan monokotil, salak memiliki sistem akar serabut. Ia membuat tanah tempatnya tumbuh menjadi gembur. Maka perkebunan salak yang ada pada sebuah lereng menyebabkan lereng tersebut menjadi gembur, sebuah gangguan bagi lereng tersebut. Terletak di zona rentan menengah, maka curahan hujan deras pada lereng yang telah terganggu tersebut akan meningkatkan potensi terjadinya gerakan tanah.

Faktor lainnya yang juga mungkin berperan adalah kondisi tanah. Terkait hal ini ada penelitian menarik dari Purwanto & Listyani (2008), dua geolog dari UPN Veteran dan STTNAS Yogyakarta. Di bawah tajuk tinjauan hidrogeologi dan evaluasi gerakan tanah Kabupaten Banjarnegara, Purwanto & Listyani memperlihatkan bahwa dari 18 titik di 18 desa (pada 11 kecamatan yangberbeda) di Kabupaten Banjarnegara, hampir seluruhnya terkategori sebagai daerah yang labil dan kritis dalam hal keamanan lereng. Dari ke-18 titik tersebut, tujuh diantaranya berada di sekitar Desa Clapar yakni di kecamatan Pagentan dan Wanayasa. Dan dari ketujuh titik tersebut, hanya dua desa yang lebih baik karena tergolong daerah kritis untuk keamanan lereng. Masing-masing desa Pandansari (kecamatan Wanayasa) dan desa Larangan (kecamatan Pagentan). Sisa lima desa lainnya seluruhnya tergolong daerah labil untuk keamanan lereng, sehingga lebih buruk. Yakni desa Karangnangka, Metawana, Sokaraja, Gumingsir (seluruhnya di kecamatan Pagentan) dan desa Suwidak (kecamatan Wanayasa).

Gambar 7. Distribusi rumah-rumah yang mengalami kerusakan dalam aneka tingkatan pada bencana longsor Clapar, hingga Sabtu 26 Maret 2016 TU. Sumber: JejakData.id, 2016.

Gambar 7. Distribusi rumah-rumah yang mengalami kerusakan dalam aneka tingkatan pada bencana longsor Clapar, hingga Sabtu 26 Maret 2016 TU. Sumber: JejakData.id, 2016.

Mayoritas dari ketujuh tempat tersebut memiliki sifat fisik-mekanik tanah yang dipicu oleh airtanah. Beberapa juga memiliki sifat fisik-mekanik litologi yang dapat berubah jika terkena air yang cukup banyak, membuat terjadinya penambahan kadar air yang berlebihan dan tiba-tiba di kala hujan terjadi. Seluruhnya juga memiliki pengaliran air permukaan yang kurang baik, sehingga luapan air pada saat hujan tak bisa segera dibuang. Situasi ini menjadikan tanah tersebut mudah jenuh air. Dan dengan keamanan lereng yang rendah (karena terkategori sebagai daerah kritis atau bahkan labil), potensi terjadinya bencana longsor di musim hujan menjadi sangat besar.

Catatan distribusi curah hujan sepanjang Februari 2016 TU dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang memperlihatkan Kabupaten Banjarnegara bagian timur menerima curah hujan yang tinggi, yakni antara 301 hingga 400 milimeter untuk bulan itu. Sehari sebelum bencana longsor Clapar terjadi, hujan deras pun masih mendera kawasan ini. Kombinasi lereng yang telah terganggu (akibat berkembangnya perkebunan salak), kondisi tanah yang pengaliran air permukaannya kurang baik sehingga luapan air saat hujan tak bisa segera hilang dan akumulasi hujan deras yang mungkin menjenuhkan kadar air dalam tanah nampaknya menjadi faktor-faktor yang berkontribusi dalam bencana ini.

Gambar 8. Dinamika curah hujan berdasarkan citra satelit pada Rabu 23 Maret 2016 TU antara pukul 15:00 hingga 20:00 WIB, sehari sebelum bencana longsor Clapar mulai terjadi. Dibangkitkan dengan kanal Hydro Estimator Rainfall pada laman RealEarth. Sumber: RealEarth, 2016.

Gambar 8. Dinamika curah hujan berdasarkan citra satelit pada Rabu 23 Maret 2016 TU antara pukul 15:00 hingga 20:00 WIB, sehari sebelum bencana longsor Clapar mulai terjadi. Dibangkitkan dengan kanal Hydro Estimator Rainfall pada laman RealEarth. Sumber: RealEarth, 2016.

Berbenah

Bencana Clapar memang berjenis rayapan, sehingga tak merenggut korban luka-luka atau bahkan korban jiwa. Maka ia tidaklah sedramatis bencana longsor dahsyat seperti di Jemblung pada akhir 2014 TU yang merenggut lebih dari 100 nyawa. Namun begitu ia tetap menghadirkan keperihan teramat dalam yang menggetarkan hati. Banyak penyintas (survivor) yang terguncang saat mendapati tempat tinggal mereka mendadak retak-retak parah, yang memaksanya harus mengungsi. Rasa kaget yang lebih besar terjadi di hari-hari berikutnya, saat rumah-rumah yang ditinggal mengungsi ternyata sudah lenyap dari paras Bumi, hancur porak-poranda seiring gerakan tanah yang terus terjadi.

Gambar 9. Akumulasi curah hujan di propinsi Jawa Tengah sepanjang Februari 2016 TU. Nampak lokasi bencana longsor Clap[ar berada di kawasan yang mengalami curah hujan akumulatif tinggi, yakni antara 301 hingga 400 milimeter dalam bulan itu. Sumber: BMKG, 2016.

Gambar 9. Akumulasi curah hujan di propinsi Jawa Tengah sepanjang Februari 2016 TU. Nampak lokasi bencana longsor Clap[ar berada di kawasan yang mengalami curah hujan akumulatif tinggi, yakni antara 301 hingga 400 milimeter dalam bulan itu. Sumber: BMKG, 2016.

Relokasi para korban ke tempat pemukiman yang baru menjadi kebutuhan mutlak untuk jangka pendek. Demikian halnya relokasi sepenggal jalan raya Madukara-Banjarnegara yang terputus dalam bencana ini. Dalam jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara nampaknya musti berbenah. Pemukiman-pemukiman yang terletak di area rawan musti dipetakan. Sistem peringatan dini bencana longsor sebaiknya juga dipasang di tempat-tempat rawan. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana mengupayakan rekayasa teknik untuk meminimalkan potensi gerakan tanah. Kita memang tak dapat berbuat apa-apa dengan kondisi tanah dan curah hujan. Namun pengaliran air permukaan di area yang rawan dapat diperbaiki dengan pembuatan dan pemeliharaan sistem drainase secara rutin.

Referensi :

Nurmansyah. 2016. komunikasi personal.

Andri Sulistyo. 2016. komunikasi personal.

Purwanto & Listyani. 2008. Tinjauan Hidrogeologi dan Evaluasi Gerakan Tanah di Wilayah Kabupaten Banjarnegara. Makalah dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008, Institut Sains dan Teknologi AKPRIND, Yogyakarta.

Kamtono dkk. 2005. Studi Potensi Batuan Induk pada Sub Cekungan Banyumas dan Serayu Utara. RISET – Geologi dan Pertambangan jilid 15 no. 1 Tahun 2005.

Iswinarno. 2016. Akademisi Anggap Longsor di Desa Clapar Akibat Manusia dan Alam. Reportase Merdeka.com Rabu 30 Maret 2016.