Membaca Ujicoba Senjata Nuklir Korea Utara

Sebuah gempa meletup dari kawasan Pegunungan Sungjibaegam (Korea Utara) pada Jumat pagi 9 September 2016 Tarikh Umum (TU) pukul 07:30 WIB. Magnitudonya 5,3 dalam bentuk body-wave magnitude (mb). Kedalaman sumbernya? Badan geologi Amerika Serikat atau USGS (United States Geological Survey)  menempatkannya pada nol km (!). Sementara badan lain semisal pusat penelitian geofisika Jerman atau GFZ (Geo Forschungs Zentrum) menyebut hiposentrumnya sangat dangkal, yakni pada kedalaman hanya 1 km. Demikian halnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Indonesia, yang juga menempatkan hiposentrumnya pada kedalaman 1 km.

Episentrum gempa yang aneh ini terletak di dekat Punggye-ri, nama legendaris jika berbicara tentang Korea Utara masakini. Punggye-ri adalah fasilitas ujicoba nuklir bawah tanah yang dikelola oleh militer Korea Utara di kawasan Pegunungan Sungjibaegam, yang telah aktif selama sedikitnya 10 tahun terakhir. Kawasan Pegunungan Sungjibaegam bukanlah kawasan yang tergolong zona sumber gempa tektonik potensial, fakta yang menambah aneh gempa ini. Pola gelombang dari gempa yang aneh itupun tak kalah anehnya. Amplitudo gelombang P (primer) yang dirambatkannya lebih besar ketimbang amplitudo gelombang S (sekunder) dengan impuls pertama menunjukkan gerakan kompresi (tekanan) ke segala arah. Pola semacam itu merupakan ciri khas getaran seismik produk ledakan, bukan getaran khas gempa tektonik seperti umumnya.

Gambar 1. Getaran seismik produk ujicoba nuklir Korea Utara 9 September 2016 TU seperti yang terekam dari stasiun Baumata, Nusa Tenggara Timur (BATI). BMKG menyimpulkan getaran seismik ini memiliki magnitudo 5,3 dengan kedalaman sumber hanya 1 km. Sumber: BMKG, 2016.

Gambar 1. Getaran seismik produk ujicoba nuklir Korea Utara 9 September 2016 TU seperti yang terekam dari stasiun Baumata, Nusa Tenggara Timur (BATI). BMKG menyimpulkan getaran seismik ini memiliki magnitudo 5,3 dengan kedalaman sumber hanya 1 km. Sumber: BMKG, 2016.

Apa yang sedang terjadi di Pegunungan Sungjibaegam? Kini dapat dipastikan bahwa salah satu negara termiskin di dunia itu kembali melaksanakan ujicoba detonasi (peledakan) senjata nuklir di bawah tanah di lokasi tersebut. Secara formal inilah ujicoba nuklir kelima yang diselenggarakan Korea Utara dalam kurun satu dasawarsa terakhir. Pertama kali mereka meledakkan senjata nuklirnya di bawah tanah (sebagai ujicoba nuklir) pada 9 Oktober 2006 TU. Ujicoba itu tak sukses, sebab energi ledakan (yield)-nya hanya 0,48 kiloton TNT. Ujicoba kedua berlangsung tiga tahun kemudian, tepatnya pada 25 Mei 2009. Kali ini hasilnya lebih bagus, dengan energi ledakan sebesar 7 kiloton TNT.

Ujicoba ketiga terlaksana empat tahun kemudian, setelah tampuk pimpinan negeri berganti dari tangan Kim Jong-il (wafat 17 Desember 2011 TU) ke Kim Jong-un. Ujicoba ketiga berlangsung pada 12 Februari 2013 TU dengan hasil lebih baik ketimbang sebelumnya, yakni energi ledakan mencapai 12 kiloton TNT. Dan ujicoba keempat dilaksanakan pada 6 Januari 2016 TU, yang diklaim sebagai ujicoba pertama bom Hidrogen (tahap lebih lanjut pengembangan senjata nuklir). Klaim ini meragukan, sebab energi ledakannya hanya berkisar 10 kiloton TNT. Selain keempat ujicoba tersebut, juga terdapat satu ujicoba lainnya yang nampaknya tak dipublikasikan secara formal mengingat hasilnya jelek. Yakni ujioba pada 12 Mei 2010 TU dengan pelepasan energi ‘hanya’ 0,0029 kiloton TNT.

Energi

Gambar 2. Diagram dasar efek ledakan nuklir bawah tanah sebagai panduan umum dalam pelaksanaan ujicoba nuklir bawah tanah. Saat senjata nuklir diledakkan pada titik ledak (shot point), suhu sangat tinggi yang dihasilkannya akan melelehkan apapun disekelilingnya hingga terbentuk rongga (cavity).  Rongga besar ini akan membuat lapisan-lapisan tanah diatasnya ambles hingga menutupinya. Akibatnya seluruh sampah nuklir praktis tersekap di bekas rongga ini. Sebagai imbasnya di permukaan tanah terbentuk cekungan kawah. Sumber: Glasstone & Dolan, 1977.

Gambar 2. Diagram dasar efek ledakan nuklir bawah tanah sebagai panduan umum dalam pelaksanaan ujicoba nuklir bawah tanah. Saat senjata nuklir diledakkan pada titik ledak (shot point), suhu sangat tinggi yang dihasilkannya akan melelehkan apapun disekelilingnya hingga terbentuk rongga (cavity). Rongga besar ini akan membuat lapisan-lapisan tanah diatasnya ambles hingga menutupinya. Akibatnya seluruh sampah nuklir praktis tersekap di bekas rongga ini. Sebagai imbasnya di permukaan tanah terbentuk cekungan kawah. Sumber: Glasstone & Dolan, 1977.

Seberapa kuat energi ledakan nuklir dari ujicoba terakhir Korea Utara ini? Kita bisa memprakirakannya dari getaran seismik yang dihasilkannya. Ada dua cara untuk itu. Pertama, secara umum ada  hubungan matematis sederhana antara energi ledakan sebuah senjata nuklir yang diledakkan di bawah tanah dengan magnitudo gempa yang ditimbulkannya dalam bentuk :

korea-rumus_1Dalam persamaan tersebut, C merupakan konstanta empirik yang bergantung kepada karakter geologi lokasi ujicoba nuklir. Untuk Pegunungan Sungjibaegam, dengan mengacu pada ujicoba nulir pada tahun 2006 TU dan 2009 TU, maka C bernilai antara 3,9 hingga 4,2. Jika diterapkan, maka kita akan mendapatkan energi senjata nuklir dari ujicoba nuklir Korea Utara kali ini berada dalam rentang antara 29 hingga 74 kiloton TNT. Angka 74 kiloton TNT nampaknya terlalu besar dan terdapat alasan rasional bahwa ujicoba tersebut mungkin menghasilkan ledakan berenergi di sekitar 29 kiloton TNT.

Alasan tersebut adalah bagian dari cara yang kedua. Khusus untuk kawasan ujicoba nuklir Korea Utara telah diketahui adanya hubungan antara energi ledakan nuklir bawah tanah dengan magnitudo gempa dan kedalaman titik ledakan dari paras/permukaan tanah tepat diatasnya melalui persamaan empirik berikut:

korea-rumus_2Cara yang kedua ini membutuhkan informasi terkait kedalaman titik ledak. Untuk itu digunakan pendekatan tak langsung. Tujuan ujicoba nuklir bawah tanah adalah agar bisa meledakkan senjata nuklir jenis apapun (baik bom fissi, bom fusi dan variannya) dengan aman sehingga sampah nuklir yang diproduksinya tersekap sempurna didalam tanah tanpa punya peluang untuk lolos ke paras Bumi dan tersebar melalui udara. Agar tujuan tersebut dapat dicapai, maka senjata nuklir yang akan diujicoba harus diletakkan pada kedalaman melebihi kedalaman kritis yang dinyatakan oleh persamaan empiris :

korea-rumus_3-kritisDari ujicoba nuklir Korea Utara pada tahun 2006 TU, 2009 TU dan 2013 TU dapat diketahui bahwa seluruh titik ledaknya terletak pada kedalaman yang lebih besar dibanding kedalaman kritis. Nilai kedalaman titik ledak akan sama dengan kedalaman kritis pada angka 360 meter, yang setara dengan energi ledakan 25,6 kiloton TNT. Untuk alasan keamanan, titik ledak tersebut harus lebih dalam ketimbang kedalaman kritis, sehingga cukup rasional untuk menempatkannya pada kedalaman 450 meter. Pada kedalaman tersebut, persamaan empirik memberikan nilai energi ledakan sebesar 30,5 kiloton TNT. Kedalaman 450 meter bukanlah titik terdalam bagi ujicoba nuklir Korea Utara. Sebab pada ujicoba tahun 2009 TU diprakirakan titik ledaknya lebih dalam lagi, yakni sedalam 650 meter.

Sehingga ujicoba nuklir Korea Utara kali ini mungkin melepaskan energi 30 kiloton TNT. Ini menjadikannya ujicoba nuklir paling bertenaga sepanjang sejarah Korea Utara. Sebagai pembanding, energi bom nuklir yang meremukkan Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia 2 masing-masing adalah sebesar 15 dan 20 kiloton TNT. Sehingga dapat dikatakan bahwa senjata nuklir yang diujicobakan Korea Utara kali ini telah berkualifikasi sebagai senjata nuklir taktis kelas penghancur sebuah kota.

Gambar 3. Lokasi ujicoba nuklir Korea Utara terbaru dalam tanda bintang (*) warna merah, bersama dengan titik-titik lokasi ujicoba nuklir sebelumnya di medan percobaan nuklir Punggye-ri, kawasan Pegunungan Sungjibaegam (Korea Utara). Terlihat juga lokasi ujicoba nuklir yang dianggap gagal dan tidak dipublikasikan secara formal, yakni ujicoba 12 Mei 2010 TU (tanda segitiga). Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps dan Zhang & Wen, 2014.

Gambar 3. Lokasi ujicoba nuklir Korea Utara terbaru dalam tanda bintang (*) warna merah, bersama dengan titik-titik lokasi ujicoba nuklir sebelumnya di medan percobaan nuklir Punggye-ri, kawasan Pegunungan Sungjibaegam (Korea Utara). Terlihat juga lokasi ujicoba nuklir yang dianggap gagal dan tidak dipublikasikan secara formal, yakni ujicoba 12 Mei 2010 TU (tanda segitiga). Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps dan Zhang & Wen, 2014.

Booster

Tiap kali Korea Utara mengujicoba senjata nuklirnya selalu muncul pertanyaan apakah gagal atau tidak. Ujicoba nuklir tahun 2006 TU tergolong gagal karena energinya terlalu kecil. Kegagalan ini mengesankan adanya salah desain atau salah perhitungan dalam pembangunan senjata nuklir. Demikian halnya ujicoba nuklir Januari 2016 TU, yang diklaim sebagai ujicoba bom Hidrogen namun juga dianggap gagal karena energinya terlalu kecil, bertolak-belakang dengan energi bom Hidrogen yang telah dikenal dalam sejarah.

Apakah ujicoba nuklir Korea Utara kali ini sukses? Tergantung sudut pandang yang kita gunakan untuk melihatnya dalam konteks fisika energi tinggi. Jika sudut pandangnya adalah sudut pandang primitif, maka ujicoba nuklir Korea Utara bisa dikatakan sukses. Karena toh mereka berhasil membangun dan sukses meledakkan senjata nuklir.  Upaya tersebut tidaklah mudah, sebab Korea Utara harus mengumpulkan isotop Plutonium239 hingga mencapai kuantitas tertentu. Untuk sebuah senjata nuklir, secara umum dibutuhkan Plutonium239 hingga sebanyak 10 kilogram agar tercapai massa kritis, yakni massa minimum yang dibutuhkan agar terjadi reaksi fissi nuklir (pembelahan inti-inti atom berat) secara berantai. Jika yang digunakan adalah isotop Uranium235, maka secara umum massa kritisnya jauh lebih besar yakni mencapai 52 kilogram.

Baik menggunakan Uranium235 maupun Plutonium239, membangun senjata nuklir menjadi pekerjaan yang berat. Hanya terdapat 0,7 % isotop Uranium235 dalam mineral Uranium di alam, sehingga harus dilakukan pemurnian baik dengan cara teknik difusi gas maupun pemisahan elektromagnetis. Sementara Plutonium239 tak hadir di alam sehingga harus diciptakan terlebih dahulu dalam tungku reaktor nuklir, melalui penembakan logam Uranium dengan guyuran partikel neutron secara terus-menerus. Sehingga terjadi transformasi dari Uranium238 (yang kadarnya 99,3 % di alam) menjadi Uranium239 yang kemudian meluruh ke Neptunium239 hingga akhirnya meluruh lagi menjadi Plutonium239. Baik Uranium235 maupun Plutonium239 lantas harus dibuat ke dalam bentuk bola berongga, yang diselubungi oleh lapisan bahan peledak konvensional di segala arah. Di pusat bola juga harus ditempatkan inisiator neutron untuk memulai reaksi fissi nuklir kala senjata nuklir ini sudah diaktifkan.

Gambar 4. Perbandingan gelombang seismik dari kelima ujicoba nuklir Korea Utara sejak 2006 TU seperti yang terekam dalam stasiun seismik Hedmark (Norwegia) yang berjarak 7.360 kilometer dari lokasi ujicoba, diplot dalam skala yang sama. Nampak amplitudo dan magnitudo gelombang seismik produk ujicoba 9 September 2016 TU adalah yang terbesar dibanding yang lain. Sumber: NORSAR, 2016.

Gambar 4. Perbandingan gelombang seismik dari kelima ujicoba nuklir Korea Utara sejak 2006 TU seperti yang terekam dalam stasiun seismik Hedmark (Norwegia) yang berjarak 7.360 kilometer dari lokasi ujicoba, diplot dalam skala yang sama. Nampak amplitudo dan magnitudo gelombang seismik produk ujicoba 9 September 2016 TU adalah yang terbesar dibanding yang lain. Sumber: NORSAR, 2016.

Namun dari sudut pandang modern, ujicoba tersebut mungkin (sekali lagi) mendemonstrasikan kegagalan Korea Utara. Karena sudut pandang modern menekankan pada efisiensi senjata nuklir. Senjata nuklir paling awal, meski terkesan dahsyat, dikenal tak efisien sehingga membutuhkan bobot yang sangat besar. Bom Little Boy yang meremukkan Hiroshima memiliki massa total 4,4 ton. Sementara bom Fat Man yang menghancurkan Nagasaki massanya sedikit lebih besar, yakni 4,6 ton. Pada Little Boy, hanya 1,4 % saja dari 64 kilogram Uranium235 yang mengalami reaksi fissi nuklir dan melepaskan energi, atau setara dengan hanya 880 gram Uranium235. Pada Fat Man sedikit lebih baik karena 13 % dari 6,2 kilogram Plutonium239 yang mengalami reaksi fissi nuklir, setara dengan 810 gram Plutonium239. Sisanya terbuang percuma sebagai sampah nuklir.

Dalam sudut pandang modern, efisiensi ini harus ditingkatkan hingga 20 % atau lebih. Sehingga kita tak lagi harus menyaksikan senjata nuklir berukuran dan berbobot jumbo yang hanya bisa diangkut dengan armada pesawat pengebom terberat. Namun cukup hanya dengan pesawat yang lebih ringan atau bahkan dengan sistem persenjataan non pesawat seperti rudal jelajah atau rudal balistik. Sebab dalam sudut pandang modern, massa senjata nuklir bisa direduksi menjadi di bawah 1.000 kilogram atau bahkan dibawah 500 kilogram. Sementara kandungan energinya tetap setara atau bahkan beberapa kali lipat lebih besar ketimbang bom Little Boy maupun Fat Man.

Peningkatan efisiensi reaksi fissi nuklir tersebut umumnya dilakukan dengan pendorong (booster). Pada dasarnya sebuah senjata nuklir dalam rupa bom fissi nuklir hanya bisa bekerja jika didalamnya terjadi banjir partikel neutron. Partikel inilah yang akan membelah isotop Uranium235 atau Plutonium239 sehingga menjadi isotop-isotop yang lebih ringan sembari melepaskan 2 atau 3 neutron baru dan energi besar. Dalam sudut pandang primitif, banjir neutronnya dikategorikan sedikit karena hanya berasal dari reaksi fissi itu sendiri. Agar efisiensi fissi nuklir meningkat, maka kuantitas banjir neutron didalamnya pun harus berlipat ganda. Untuk itu dibutuhkan sumber eksternal yang sanggup menghasilkan banjir neutron dalam jumlah besar, yakni reaksi fusi nuklir. Fusi nuklir adalah penggabungan inti-inti atom ringan (umumnya Hidrogen dan isotopnya) pada suhu yang teramat tinggi hingga menghasilkan inti yang lebih berat (umumnya Helium) disertai pelepasan neutron dan energi. Dalam kondisi tertentu, kuantitas banjir neutron produk reaksi fusi nuklir bisa mencapai 8 kali lipat produk reaksi fissi nuklir.

Gambar 5. Diagram dasar senjata nuklir berupa bom fissi nuklir dengan pendorong. Saat diledakkan, maka lapisan bahan peledak terluar (bentuk ellipsoid, disini nampak berbentuk lonjong) akan memberikan tekanan kuat ke internal, membuat selubung bahan peledak terdalam (berbentuk bola, disini nampak sebagai lingkaran) akan terpicu dan meledak. Ledakan tersebut menghasilkan tekanan kuat menuju ke pusat bola sekaligus menekan kuat Plutonium dan campuran Tritium-Deuterium. Plutonium melampaui massa kritis, yang membuat Tritium-Deuterium mulai mengalami reaksi fusi nuklir. Banjir neutron yang dihasilkannya membelah-belah inti Plutonium dalam jumlah yang lebih besar. Selimut Berilium berfungsi sebagai pemantul neutron kembali ke internal bola. Sumber: Anonim.

Gambar 5. Diagram dasar senjata nuklir berupa bom fissi nuklir dengan pendorong. Saat diledakkan, maka lapisan bahan peledak terluar (bentuk ellipsoid, disini nampak berbentuk lonjong) akan memberikan tekanan kuat ke internal, membuat selubung bahan peledak terdalam (berbentuk bola, disini nampak sebagai lingkaran) akan terpicu dan meledak. Ledakan tersebut menghasilkan tekanan kuat menuju ke pusat bola sekaligus menekan kuat Plutonium dan campuran Tritium-Deuterium. Plutonium melampaui massa kritis, yang membuat Tritium-Deuterium mulai mengalami reaksi fusi nuklir. Banjir neutron yang dihasilkannya membelah-belah inti Plutonium dalam jumlah yang lebih besar. Selimut Berilium berfungsi sebagai pemantul neutron kembali ke internal bola. Sumber: Anonim.

Inti atom yang digunakan sebagai bahan bakar fusi nuklir adalah isotop Deuterium (Hidrogen2) dan Tritium (Hidrogen3). Fusi nuklir yang melibatkan inti Deuterium dan Tritium akan terjadi mulai suhu 10 juta Kelvin dan akan lebih efisien pada suhu 20 juta hingga 30 juta Kelvin. Suhu setinggi itu dapat dicapai pada beberapa mikrodetik pertama dalam meledaknya bom fissi nuklir. Hanya sejumput jumlah Deuterium dan Tritium yang terlibat dalam proses pendorong ini, dimana pelepasan energi reaksi fusi nuklir yang dihasilkannya hanya setara dengan 1 % energi keseluruhan senjata nuklir. Namun ia menghasilkan banjir neutron yang mencukupi untuk meningkatkan jumlah reaksi fissi nuklir. Selain meningkatkan efisiensi fissi nuklir, penggunaan teknik pendorong juga mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan lapisan pemantul neutron (tamper). Lapisan pemantul merupakan lapisan logam padat yang berfungsi untuk memantulkan balik partikel-partikel neutron yang tidak sempat bersua dengan inti Uranium235 atau Plutonium239 dan hendak lolos dari internal senjata.

Penggentar

Pada praktiknya penambahan Deuterium dan Tritium sebagai pendorong dilakukan dengan memasukkan kedua isotop tersebut (yang berwujud gas) ke dalam rongga di pusat bola massa Plutonium239 dalam bom fissi nuklir. Korea Utara mungkin telah mencoba hal ini, setidaknya seperti tecermin dalam ujicoba nuklir Januari 2016 TU.  Namun ujicoba nuklir September 2016 TU  ini di satu sisi mencerminkan mereka masih gagal. Sebab dalam desain ideal senjata nuklir, energi maksimum yang mungkin dicapai dari sebuah bom fissi nuklir berbasis Plutonium239 tanpa pendorong adalah mencapai 60 kiloton TNT. Sehingga jika desainnya sempurna dan pendorong bekerja dengan baik, kita seyogyanya akan menyaksikan ledakan bawah tanah yang melepaskan energi di atas  50 atau bahkan 100 kiloton TNT. Energi sebesar itu akan menghasilkan getaran seismik dengan magnitudo 5,7 atau lebih besar lagi.

Namun di sisi lain, ujicoba nuklir September 2016 TU dapat pula mengesankan sukses Korea Utara. Apalagi jika tujuannya adalah miniaturisasi senjata nuklir dengan sedikit mengorbankan kandungan energinya. Dengan miniaturisasi, maka senjata nuklir akan memiliki massa dan dimensi yang lebih kecil. Sehingga dapat digendong dalam sistem rudal jelajah maupun rudal balistik. Apa yang mengkhawatirkan dari sisi ini adalah bahwa pada saat yang sama Korea Utara cukup berhasil dalam mengembangkan sistem rudal balistik. Pada 22 Juni 2016 TU mereka berhasil meluncurkan rudal balistik berjangkauan menengah berbasis darat dengan nama Musudan-1. Rudal tersebut dirancang untuk menghantam sasaran sejauh 4.000 kilometer, meski pada peluncuran tersebut hanya ditembakkan sejauh 400 kilometer (konsekuensinya ketinggian maksimum  rudal pun meningkat menjadi 1.413 kilometer). Selanjutnya pada 24 Agustus 2016 TU giliran rudal balistik Pukkusong-1 ditembakkan dari kapal selam. Jangkauan maksimumnya diperkirakan setara dengan Musudan-1, meski pada saat itu hanya ditembakkan sejauh 500 kilometer. Dan hanya beberapa hari sebelum ujicoba nuklir terakhirnya, Korea Utara menembakkan tiga rudal Rodong-1 sekaligus dengan akurasi tinggi. Rodong-1 mampu menjangkau sasaran sejauh 1.000 kilometer. Baik Musudan-1, Pukkusong-1 maupun Rodong-1 dapat dimuati dengan hululedak nuklir da dapat menjangkau negara-negara yang bermusuhan di Asia timur jauh (seperti Korea Selatan dan Jepang) dengan mudah.

Gambar 6. Bagaimana pengaruh penggunaan teknologi pendorong pada bom fissi nuklir diperlihatkan dalam gambar perbandingan ini. Kiri: bom Fat Man, senjata nuklir generasi pertama tanpa pendorong dengan kandungan energi 20 kiloton TNT memiliki diameter maksimum 150 cm dan massa total 4,6 ton. Fat Man hanya bisa diangkut dengan pesawat pengebom terberat. Kanan: bom W54, senjata nuklir dengan teknologi pendorong, yang massanya  hanya 23 kilogram dan diameter maksimum hanya 27 cm. Meski sangat kecil, namun kandungan energinya mencapai 6 kiloton TNT atau sepertiga Fat Man. Sumber:  Glasstone & Dolan, 1977.

Gambar 6. Bagaimana pengaruh penggunaan teknologi pendorong pada bom fissi nuklir diperlihatkan dalam gambar perbandingan ini. Kiri: bom Fat Man, senjata nuklir generasi pertama tanpa pendorong dengan kandungan energi 20 kiloton TNT memiliki diameter maksimum 150 cm dan massa total 4,6 ton. Fat Man hanya bisa diangkut dengan pesawat pengebom terberat. Kanan: bom W54, senjata nuklir dengan teknologi pendorong, yang massanya hanya 23 kilogram dan diameter maksimum hanya 27 cm. Meski sangat kecil, namun kandungan energinya mencapai 6 kiloton TNT atau sepertiga Fat Man. Sumber: Glasstone & Dolan, 1977.

Maka dari sisi geopolitik, kombinasi ujicoba nuklir terkini dan peluncuran rudal-rudal balistik membuat Korea Utara boleh dikata berhasil mencapai tujuannya. Senjata nuklir dikombinasikan dengan rudal balistik adalah faktor penggentar (deterrent) bagi negara tetangga, bahkan bagi adidaya seperti Amerika Serikat sekalipun. Kepemilikan senjata nuklir ditambah dengan rudal balistik membuat  Korea Utara memiliki daya tawar yang lebih baik ketika berhadapan dengan kepentingan-kepentingan internasional yang sering dipaksakan. Terlebih negeri itu secara teknis masih dalam kondisi berperang sejak 1950 TU, kala Perang Korea meletus. Perang tersebut hanya berakhir secara teknis dengan sebuah perjanjian gencatan senjata, bukan berakhir permanen dalam bentuk perundingan perdamaian.

Referensi :

BMKG. 2016. Laporan Gempa Bumi akibat Ledakan Nuklir Korea Utara, 9 September 2016. 

NORSAR. 2016. North Korean Undergorund Nuclear Test Larger than Previous Tests, Pers Release.

Glasstone & Dolan. 1977. The Effects of Nuclear Weapons. Washington DC, US Department of Defense.

Zhang & Wen. 2014. Seismological Evidence for a Low-yield Nuclear Test on 12 May 2010 in North Korea. Seismological Research Letter, vol. 86 (January/February 2016), no. 1.

One thought on “Membaca Ujicoba Senjata Nuklir Korea Utara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s