Bom, Ledakan dan Dampak Gelombang Kejutnya

Sebuah peledak rakitan dalam rupa bom pressure cooker atau lebih populer dengan nama bom panci ditemukan polisi dalam penggerebekan di Bekasi (propinsi Jawa Barat) pada Sabtu 10 Desember 2016 Tarikh Umum (TU) lalu. Peledak atau bom rakitan tersebut mendapat nama demikian karena desain dasarnya menggunakan panci tekan (pressure cooker) sebagai wadah untuk muatan primer dan muatan sekundernya. Muatan primernya disebut-sebut sebagai bahan peledak TATP (tri aseton tri peroksida) dengan berat 3 kilogram. Sementara muatan sekundernya disebut-sebut berupa paku dan bola-bola kecil (gotri).

Hanya muatan primer yang telah dipasang dalam wadahnya. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya ledakan yang tak terduga saat barang-barang bukti ini diangkut dari lokasi penemuan, maka tim penjinak bahan peledak memutuskan untuk memusnahkan muatan primer dengan meledakkannya melalui teknik tertentu. Sehingga dampak ledakannya disebu-sebut tinggal seperlima dari normal.  Begitupun penduduk di sekitar lokasi hingga radius 500 meter dari titik pemusnahan harus dievakuasi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Polisi menyebut peledak rakitan ini bisa berdampak hingga radius 300 meter dari titik ledak.

Gambar 1. Penampakan bom pressure cooker yang disita polisi dalam penggerebekan di Bekasi. Nampak panci tekan yang akan menjadi wadah. Nampak juga muatan primer berupa TATP seberat 3 kg (warna merah bata) yang telah dipasangi detonator (terlihat dari kabel yang menjulur). Sumber: Detikcom, 2016.

Gambar 1. Penampakan bom pressure cooker yang disita polisi dalam penggerebekan di Bekasi. Nampak panci tekan yang akan menjadi wadah. Nampak juga muatan primer berupa TATP seberat 3 kg (warna merah bata) yang telah dipasangi detonator (terlihat dari kabel yang menjulur). Sumber: Detikcom, 2016.

Benarkah demikian ?

Low Explosive dan High Explosive

Pada dasarnya ledakan adalah peristiwa pelepasan energi dalam jumlah cukup besar pada volume ruang yang sempit dalam tempo singkat. Energi tersebut bisa berupa energi kimia, energi gas yang tertekan atau bahkan energi nuklir. Ledakan bisa disebabkan oleh pembakaran bahan peledak ataupun bahan mudah meledak, baik secara sengaja maupun tidak. Salah satu dampak dari ledakan adalah penjalaran gelombang kejut (shockwave), yakni tekanan kuat tak-kasat mata yang melebihi tekanan atmosfer setempat sebagai hasil dorongan amat sangat kuat gas-gas maupun plasma produk ledakan ke udara sekitar. Namun sebelum mengupas lebih lanjut perihal gelombang kejut, mari kita tinjau dulu klasifikasi bahan peledak.

Berdasarkan kecepatan awal pelepasan gelombang kejutnya, atau disebut sebagai kecepatan peledakan, maka dikenal ada dua kelompok bahan peledak. Kelompok pertama adalah kelompok bahan peledak berdaya tinggi atau high explosive. Ia mendapatkan namanya karena memiliki kecepatan peledakan yang lebih besar ketimbang kecepatan suara di udara. TATP tergolong kelompok ini karena kecepatan peledakannya sebesar 5,3 km/detik atau setara 19.000 km/jam. Segolongan dengannya adalah TNT (trinitrotoluena) yang legendaris. Selain menjadi standar untuk mendeskripsikan energi ledakan, TNT juga digunakan sebagai bahan racikan campuran untuk membentuk bahan-bahan peledak berdaya tinggi lainnya (misalnya Composition B, Composition H6, Amatol dan lain-lain). TNT memiliki kecepatan peledakan 6,9 km/detik atau setara 24.800 km/jam. Sebagai pembanding, kecepatan suara di paras Bumi pada suhu dan tekanan standar adalah ‘hanya’ 340 meter/detik atau setara 1.200 km/jam. Peristiwa ledakan yang disebabkan oleh kelompok bahan peledak ini memiliki nama khas sendiri: detonasi.

Kelompok kedua adalah kelompok bahan peledak berdaya rendah atau low explosive. Dinamakan demikian karena memiliki kecepatan peledakan yang lebih kecil ketimbang kecepatan suara. Kelompok bahan peledak ini memiliki kecepatan peledakan mulai dari hanya beberapa sentimeter per detik hingga maksimum 400 meter/detik. Bubuk petasan/mercon dan juga kembang api tergolong ke dalam kelompok ini. Seperti halnya detonasi, peristiwa ledakan yang disebabkan kelompok bahan peledak ini pun memiliki nama tersendiri: deflagrasi.

Ledakan melepaskan energi yang secara praktis disebut energi ledakan. Ia dinyatakan dalam TNT dengan standar 1 kilogram TNT = 4,18 Mega Joule (MJ). Jika energinya sangat besar, ia bisa juga dinyatakan dalam ton TNT (1 ton TNT = 1.000 kilogram TNT), kiloton TNT (1 kiloton TNT = 1.000 ton TNT) atau bahkan megaton TNT (1 megaton TNT = 1.000.000 ton TNT). Ledakan terbesar yang pernah diproduksi umat manusia hingga saat ini adalah yang dilakukan eks-Uni Soviet dalam ujicoba nuklir Tsar Bomba (RDS-220) pada 30 Oktober 1961 TU. Ujicoba bom hidrogen yang diledakkan di ketinggian 4.000 meter dpl (dari paras air laut rata-rata) itu melepaskan energi 50 megaton TNT. Atau 2.500 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima.

Gambar 2. Panorama pasca ledakan Oklahoma (Amerika Serikat) 19 April 1995 TU. Nampak kawah yang tercipta saat peledak rakitan berbasis pupuk dan minyak dengan kandungan energi setara 1,8 ton TNT didetonasikan. Hempasan gelombang kejut membuat sebagian gedung federal ambruk dan menelan banyak korban jiwa. Sumber: Associated Press, 1995.

Gambar 2. Panorama pasca ledakan Oklahoma (Amerika Serikat) 19 April 1995 TU. Nampak kawah yang tercipta saat peledak rakitan berbasis pupuk dan minyak dengan kandungan energi setara 1,8 ton TNT didetonasikan. Hempasan gelombang kejut membuat sebagian gedung federal ambruk dan menelan banyak korban jiwa. Sumber: Associated Press, 1995.

Dalam persepsi umum, bahan peledak berdaya tinggi memiliki komposisi rahasia dan hanya digunakan di kalangan militer. Itu tidak sepenuhnya benar. Banyak bahan peledak berdaya tinggi yang bisa dirakit sendiri di luar kalangan militer. Dalam aksi pengeboman gedung federal Oklahoma (Amerika Serikat) pada 19 April 1995 TU, dua tersangka yakni Timothy McVeigh dan Terry Nichols menggunakan bahan yang umum dijumpai di lingkungan pertanian: pupuk dan minyak. Peledak rakitan berdaya ledak tinggi seberat 2,2 ton yang ditaruh pada truk sewaan itu sungguh dahsyat sehingga tatkala diledakkan melepaskan energi setara 1,8 ton TNT. Ledakan dahsyat itu menewaskan 169 orang dan melukai lebih dari 680 orang. Ia juga memproduksi kawah selebar 8 meter dengan kedalaman 2 meter di titik ledakan, sementara gelombang kejutnya merusak segala bangunan hingga radius 500 meter dari titik ledakan.

Dampak Gelombang Kejut

Bagaimana jika sebuah peledak berdaya tinggi didetonasikan di udara bebas?

Gambar 3. Berbagai dampak hempasan gelombang kejut dari Peristiwa Chelyabinsk 2013 di kota Yemanzhelinsk (Russia). Mulai dari kaca-kaca jendela yang pecah dan jendela yang rusak (A, B, D, E, F, H), kerangka jendela yang terdorong masuk (C ) hingga eternit yang jebol (G). Semua kerusakan ini disebabkan oleh pelepasan energi tinggi mirip-ledakan dari sebutir asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi menjadi boloid. Sumber: Popova dkk, 2013.

Gambar 3. Berbagai dampak hempasan gelombang kejut dari Peristiwa Chelyabinsk 2013 di kota Yemanzhelinsk (Russia). Mulai dari kaca-kaca jendela yang pecah dan jendela yang rusak (A, B, D, E, F, H), kerangka jendela yang terdorong masuk (C ) hingga eternit yang jebol (G). Semua kerusakan ini disebabkan oleh pelepasan energi tinggi mirip-ledakan dari sebutir asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi menjadi boloid. Sumber: Popova dkk, 2013.

Gelombang kejut adalah dampak yang paling dominan. Gelombang kejut senantiasa terbentuk saat bahan peledak apapun, baik berdaa rendah apalagi berdaya tinggi, diledakkan. Gelombang kejut juga senantiasa terbentuk dalam peristiwa mirip-ledakan. Baik mulai dari kecelakaan industri seperti misalnya dalam peristiwa ledakan kompleks pelabuhan Tianjin (Cina) pada 12 Agustus 2015 TU hingga letusan eksplosif gunung berapi seperti misalnya Letusan Merapi 2010. Bahkan peristiwa langit pun kerap melepaskan gelombang kejut, misalnya saat jatuhnya meteor di Chelyabinsk (Russia) pada 13 Februari 2013 TU.  Dalam kejadian yang disebut Peristiwa Chelyabinsk 2013 itu sebanyak 7.320 bangunan pecah kaca-kaca jendelanya akibat hempasan gelombang kejut. Pecahan kaca-kaca jendela itu beterbangan dan melukai orang-orang didekatnya. Akibatnya 1.613 orang terpaksa mendatangi rumah sakit dan klinik terdekat dengan luka-luka iris akibat hantaman pecahan kaca.

Gelombang kejut merupakan tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih atau overpressure, yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras air laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh kita tanpa ampun. Bahkan jika overpressure-nya mencapai 2,5 MegaPascal, dampaknya sanggup melubangi tanah dan menciptakan cekungan kawah yang khas. Semua bergantung kepada jarak terhadap titik ledakan. Karena overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak dan dalam kondisi tertentu dapat berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari titik ledakan.

Menjalarnya gelombang kejut menyebabkan titik-titik yang dilintasinya memiliki tekanan udara lebih besar dibanding lingkungan sekitar untuk sesaat. Dan perbedaan tekanan udara menyebabkan berhembusnya angin. Maka penjalaran gelombang kejut pun diikuti dengan hembusan angin dri arah titik ledakan menuju keluar. Kuat lemahnya hembusan angin akibat ledakan bergantung kepada besar kecilnya overpressure yang terjadi. Maka ia bisa berhembus dengan kecepatan hanya 13 km/jam (pada overpressure 200 Pascal). Namun bisa juga secepat lebih dari 2.200 km/jam (pada overpressure 1 MegaPascal).

Gambar 4. Contoh dampak gelombang kejut pada medium dari dua peristiwa berbeda, yakni ujicoba detonasi 500 kilogram TNT Angkatan Laut AS dalam Operation Sailor Hat 1965 di pulau Kahoolawe, Hawaii (AS) dan bencana industrial terbakarnya pabrik amonium perklorat PEPCON di Nevada (AS) pada 4 Mei 1988 TU yang menghasilkan peristiwa mirip-ledakan dengan energi 1 kiloton TNT. TL = titik ledak, 1 = medium (air atau tanah) yang tepat dilintasi gelombang kejut, 3 = medium yang belum terlintasi gelombang kejut. Perhatikan perubahan fisis pada medium sebelum dan saat terlintasi gelombang kejut. Sumber: AL AS, 1965 & Discovery Channel, 2010.

Gambar 4. Contoh dampak gelombang kejut pada medium dari dua peristiwa berbeda, yakni ujicoba detonasi 500 kilogram TNT Angkatan Laut AS dalam Operation Sailor Hat 1965 di pulau Kahoolawe, Hawaii (AS) dan bencana industrial terbakarnya pabrik amonium perklorat PEPCON di Nevada (AS) pada 4 Mei 1988 TU yang menghasilkan peristiwa mirip-ledakan dengan energi 1 kiloton TNT. TL = titik ledak, 1 = medium (air atau tanah) yang tepat dilintasi gelombang kejut, 3 = medium yang belum terlintasi gelombang kejut. Perhatikan perubahan fisis pada medium sebelum dan saat terlintasi gelombang kejut. Sumber: AL AS, 1965 & Discovery Channel, 2010.

Bagaimana dampak ledakan bom panci dengan muatan primer TATP 3 kilogram?

Mari kita simulasikan. Beberapa referensi menyebut kandungan energi TATP setara dengan 80 hingga 90 % TNT. Artinya TATP 3 kilogram sama dahsyatnya dengan TNT 2,4 hingga 2,7 kilogram. Mari keluarkan TATP dari wadahnya (panci) dan singkirkan muatan sekundernya (paku dan bola-bola besi), lalu detonasikan di udara terbuka. Penjalaran gelombang kejutnya dan dampaknya (dalam hal overpressure) dapat ditelaah melalui persamaan-persamaan simultan yang disajikan Kinney & Graham dalam buku  “Explosive Shocks in Air”  (1985). Persamaan-persamaan yang sama banyak diterapkan dalam mengevaluasi dampak gelombang kejut dari peristiwa ledakan entah dari peledak konvensional berdaya tinggi bahkan hingga peledak nuklir. Disini diasumsikan bahwa energi ledakan TATP tersebut setara dengan 3 kg TNT. Asumsi lainnya, tinggi titik ledakan adalah 1 meter dari permukaan tanah, atau sesuai dengan ketinggian pinggang rata-rata manusia dewasa saat berdiri.

Hasilnya menakjubkan. Dalam jarak 18 meter, gelombang kejut ledakan TATP 3 kilogram menghasilkan overpressure sebesar 8.500 Pascal yang dampaknya sanggup menjatuhkan orang yang sedang berdiri tegak. Tentu saja orang tersebut akan jatuh berdebam dengan keras sehingga diikuti patah tulang di berbagai tempat dan kemungkinan gegar otak. Dalam jarak 25 meter, overpressure-nya masih sebesar 5.500 Pascal sehingga kaca jendela masih bisa dibikin remuk. Yang lebih mengerikan, pecahan-pecahan kaca jendela ini lantas akan dilesatkan dengan kecepatan tinggi laksana peluru hingga jarak 54 meter. Orang yang berada dalam rentang jarak ini bisa mengalami luka tembus laksana diberondong peluru. Hingga jarak 82 meter, kaca jendela masih bisa dibikin pecah sebagian akibat overpressure sebesar 1.200 Pascal. Orang yang kebetulan berada didekatnya bisa mengalami luka iris. Bahkan hingga jarak 432 meter, tepi kaca jendela masih bisa dibikin retak akibat overpressure sebesar 200 Pascal.

Bagaimana dampak bagi manusia? Uraian di atas memperlihatkan bahwa jika anda berdiri hingga jarak 25 meter dari titik ledak, maka anda kemungkinan besar akan tewas. Baik akibat terjatuh sangat keras (terlebih bila tak segera ditangani) maupun dihujani remukan kaca dalam jumlah tak kepalang banyaknya yang melesat secepat peluru, bak tembakan mitraliur. Jika anda berdiri pada jarak 50 meter, anda masih akan terluka (sedang hingga berat) akibat semburan puing-puing. Dan di jarak 82 meter, anda masih akan terluka (ringan) khususnya jika berada di dekat jendela.

Gambar 5. Dampak gelombang kejut ledakan TATP 3 kg yang dipilih untuk lima overpressure dengan dampak tertentu. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di satu titik di sebelah utara landasan pacu FASI di kawasan pantai Parangtritis, Bantul (DI Yogyakarta). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Dampak gelombang kejut ledakan TATP 3 kg yang dipilih untuk lima overpressure dengan dampak tertentu. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di satu titik di sebelah utara landasan pacu FASI di kawasan pantai Parangtritis, Bantul (DI Yogyakarta). Sumber: Sudibyo, 2016.

Harus digarisbawahi bahwa perhitungan ini dikerjakan dalam kondisi ideal dengan titik ledak di udara terbuka tanpa muatan sekunder. Jika paku dan bola-bola besi turut disertakan, maka saat TATP meledak gelombang kejutnya akan mendorong paku dan bola-bola besi tersebut melesat dengan kecepatan tinggi seperti peluru. Mereka bisa melesat hingga sejauh 100 meter dari titik ledak. Jelas bahwa jika ada seseorang yang berdiri dalam jarak kurang dari 100 meter dari titik ledak. ia bisa mengalami luka tembus dan luka tusuk layaknya terkena peluru senapan. Tingkat keparahan luka jenis ini lebih tinggi ketimbang luka akibat tembusan atau irisan pecahan kaca. Maka dapat dikatakan bahwa penambahan muatan sekunder membuat daya hancur bom ini lebih besar.

Muatan sekunder dalam bentuk potongan-potongan logam acap dijumpai dalam persenjataan militer. Misalnya dalam sistem rudal antipesawat udara, yang memandaatkan potongan-potongan logam dengan geometri tertentu untuk bisa menembus badan pesawat. Sehingga pesawat sasaran akan tetap rusak berat dan rontok dibobol oleh potongan-potongan logam berkecapatn tinggi meskipun rudal meledak dalam jarak tertentu, katakanlah 10 meter, dari pesawat tersebut. Jenis rudal seperti inilah yang tempo hari menjatuhkan pesawat Boeing-777 Malaysia Airlines penerbangan MH17 di Ukraina timur.

Dapat dilihat bahwa dengan hasil perhitungan dampak gelombang kejut, pernyataan polisi bahwa peledak rakitan berbasis TATP 3 kilogram itu bisa berdampak hingga radius 300 meter dari titik ledak tidaklah berlebihan. Jadi bom pressure cooker itu  bukan bom mainan, bukan mercon. Dampaknya bisa mengerikan. Apalagi jika muatan sekundernya, seperti paku maupun gotri, turut dipasang. Sebab saat detonasi terjadi, muatan sekunder itu akan melejit secepat peluru. Jarak 150 meter dari titik ledak pun belum tentu aman.

Perbandingan

Sebagian kita ada yang mencoba membandingkan kemampuan TATP 3 kilogram ini dengan bom kelas berat seperti MOAB dan FOAB. Tujuannya untuk mendiskreditkan temuan peledak rakitan di Bekasi. Disebut bahwa dampak ledakan bom MOAB adalah 150 meter sementara dampak ledakan FOAB mencapai 300 meter. Sementara peledak rakitan Bekasi juga bisa berdampak 300 meter, padahal bobotnya jauh lebih kecil ketimbang MOAB (11 ton TNT) maupun FOAB (44 ton TNT). Satu hal yang mustahil, begitu kesimpulan mereka.

Bagaimana perbandingan yang sebenarnya?

Bom MOAB (Mother of All Bombs) memiliki nama resmi GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast. Ini adalah jenis bom pintar atau bom yang dipandu untuk menuju ke sasaran tertentu tanpa penggerak aktif (GBU = guided bomb unit) yang juga berfungsi sebagai bom psikologis, senjata untuk meratakan lahan berhutan dan bom pemusnah ladang ranjau. Amerika Serikat (AS) mengembangkan bom kelas berat berbobot 10.300 kilogram dengan bahan peledak Composition H6 seberat 8.500 kilogram ini pada 2003 TU sebagai pengganti dari bom sejenis (yang lebih ringan) yakni BLU-82 Daisy Cutter. Saat ini dalam gudang senjata militer AS hanya tersedia 15 unit bom MOAB .

Dengan kandungan energi 11 ton TNT, bom MOAB memiliki blast radius 150 meter. Blast radius adalah radius dimana kerusakan berat dan kerusakan total akibat hempasan gelombang kejut ledakan terjadi. Dalam blast radius inilah pepohonan di hutan akan tumbang, dan ranjau-ranjau yang ditanam pada ladang ranjau akan meledak akibat overpressure hebat (sebesar 21.700 Pascal).

Sementara bom FOAB (Father of All Bombs) dikembangkan oleh militer Russia sejak 2007 TU dengan nama resmi ATBIP (Aviation Thermobaric Bomb of Increased Power). Ini juga merupakan bom pintar dan bom psikologis yang berpinsip termobarik (memanfaatkan oksigen di udara) dengan bobot 9.000 kilogram. Dengan kandungan enerfi 44 ton TNT, bom kelas berat ini memiliki blast radius 300 meter. Berbeda dengan MOAB, saat ini tersedia 100 buah bom FOAB dalam arsenal militer Russia sekaligus menjadikannya bom non nuklir terkuat yang pernah ada. Baik bom MOAB maupun FOAB memiliki kesamaan, yakni tak satupun yang pernah digunakan dalam medan pertempuran.

Gambar 6. Perbandingan dampak gelombang kejut antara ledakan TATP 3 kg, MOAB (11 ton TNT) dan FOAB (44 ton TNT). Perbandingan dibatasi pada blast radius dan dampak yang memecahkan kaca jendela. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di dalam kawasan dataran pantai Ambal, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Perbandingan dampak gelombang kejut antara ledakan TATP 3 kg, MOAB (11 ton TNT) dan FOAB (44 ton TNT). Perbandingan dibatasi pada blast radius dan dampak yang memecahkan kaca jendela. Titik ledakan hipotetik ini diasumsikan berada di dalam kawasan dataran pantai Ambal, Kebumen (Jawa Tengah). Sumber: Sudibyo, 2016.

Bagaimana dampak gelombang kejut produk ledakannya? Perhitungan pada bom MOAB dengan asumsi titik ledak setinggi 1 meter dan ledakan di udara terbuka memperlihatkan ledakan bom ini menciptakan blast radius hingga jarak 150 meter dari titik ledak. Lebih jauh lagi, ia sanggup menjatuhkan seseorang yang berdiri sejauh 276 meter dari titik ledak. Gelombang kejutnya juga masih bisa meremukkan kaca jendela pada jarak 376 meter dari titik ledak. Kian jauh lagi, gelombang kejutnya juga masih mampu menyebarkan puing-puing hingga sejauh 821 meter dari titik ledak. Bahkan gelombang kejutnya masih sanggup meretakkan kaca jendela yang terletak sejauh 6.670 meter dari titik ledak.

panci-tabelHal serupa berlaku juga pada bom FOAB. Hanya harus digarisbawahi bahwa bom termobarik memproduksi gelombang kejut dengan durasi lebih lama ketimbang bom non-termobarik. Sehingga radius dampak gelombang kejut ledakan bom termobarik akan lebih besar. Ini terlihat dari blast radius-nya. Perhitungan dampak gelombang kejut bom FOAB dengan asumsi titik ledak setinggi 1 meter dan ledakan di udara terbuka memperlihatkan blast radius-nya (yakni overpressure 21.700 Pascal) hingga sejauh 240 meter dari titik ledak. Tetapi dlam praktiknya blast radius bom FOAB adalah sebesar 300 meter. Sehingga terdapat faktor multiplikasi (pengali) sebesar 1,25. Dengan mempertimbangkan hal ini maka dapat diperhitungkan bahwa seseorang yang berdiri sejauh 548 meter dari titik ledak akan jatuh terhempas dengan keras. Gelombang kejut masih berkemampuan meremukkan kaca jendela pada jarak 745 meter dari titik ledak. Gelombang kejut juga masih mampu menyebarkan puing-puing hingga sejauh 1.629 meter dari titik ledak. Dampak terlemahnya, yakni retaknya kaca jendela akibat paparan gelombang kejut, akan terjadi hingga jarak 13.214 meter dari titik ledak.

Baik bom MOAB maupun FOAB tak pernah dipakai dalam medan pertempuran. Namun ada peledak rakitan yang hampir sama dahsyatnya yang pernah didetonasikan pada masa silam. Datanglah ke Beirut (Lebanon) pada 1983 TU, negeri indah pada masa Kahlil Gibran namun dirobek-robek kesumat nan kisut  antara tahun 1975 hingga 1990 TU. Sedemikian dalam angkara yang membara sehingga pernah pada satu masa penduduk Beirut menyimpan stok granat dalam jumlah lebih banyak ketimbang payung. Di tengah-tengah kekacauan inilah pada 23 Oktober 1983 TU pagi sebuah truk berbobot 19 ton melaju di kompleks bandara internasional Beirut. Ia bergerak ke arah Hilton Beirut, nama tak-resmi bagi markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian internasional di Lebanon. Setelah memaksa masuk ke dalam kompleks dengan menerjang kawat berduri yang mengelilingi markas, truk berhenti tepat di lobi gedung bertingkat 4 tersebut. Pengemudinya, bagian dari milisi Hezbollah, lantas menekan tombol maut.

Gambar 7. Kepulan asap tebal membumbung tinggi dari kompleks markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat sesat setelah dihantam detonasi peledak rakitan termobarik dengan energi setara 9,5 ton TNT. Secara keseluruhan 255 orang tewas akibat ledakan ini. Sumber; US Marine Corps, 1983.

Gambar 7. Kepulan asap tebal membumbung tinggi dari kompleks markas Batalyon ke-1 Marinir ke-8 Amerika Serikat sesat setelah dihantam detonasi peledak rakitan termobarik dengan energi setara 9,5 ton TNT. Secara keseluruhan 255 orang tewas akibat ledakan ini. Sumber; US Marine Corps, 1983.

Ledakannya sungguh dahsyat. Peledak rakitan termobarik itu melepaskan energi setara 9,5 ton TNT, ledakan non-nuklir terbesar sepanjang sejarah sejak berakhirnya Perang Dunia 2. Ledakan itu menciptakan kawah selebar 10 meter. Seluruh bagian truk tersebut hilang menguap tak berbekas, kecuali blok mesinnya saja. Bangunan Hilton Beirut pun dibikin remuk bertumpuk, laksana diangkat ke udara untuk kemudian dibanting sangat keras ke tanah. 242 orang didalamnya  yang terdiri dari 220 Marinir, 18 pelaut, 3 tentara dan 1 sipil sontak meregang nyawa, sementara 128 orang lainnya mengalami luka-luka berat. Di antara korban luka-luka, 13 diantaranya akhirnya tewas. Sehingga secara keseluruhan jumlah korban tewas mencapai 255 orang. Inilah korban jiwa terbesar yang dialami Marinir AS semenjak pertempuran Iwo Jima (Januari 1945 TU) dalam Perang Dunia 2. Detonasi peledak rakitan inilah faktor utama yang mendorong Ronald Reagan, Presiden AS saat itu, untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari Lebanon tanpa terkecuali.

Referensi :

Amelia. 2016. Ini Penampakan Bom Panci yang Diamankan Polisi di Bintara Bekasi. Detik.com, diakses 10 Desember 2016.

Painter. 2007. The Forensic Analysis of Triacetone Triperoxide (TATP) Precursors and Synthetic Byproducts. Tesis. Florida: Dept. of Science, College of Sciences, University of Central Orlando.

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Gempa di Swarnadwipa bagian Utara, Bumi Tanah Rencong yang Tercabik (Tektonik)

Getaran itu datang tanpa persiapan, tanpa ada peringatan. Selagi azan Shubuh bersahut-sahutan berkumandang di bumi tanah rencong bagian timur pada Rabu pagi 7 Desember 2016 Tarikh Umum (TU), sebuah getaran sangat keras mengguncang Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya pada pukul 05:04 WIB. Getaran keras tersebut, yang berlangsung selama sekitar 20 detik, adalah getaran terkeras yang pernah dirasakan daratan ujung utara pulau Sumatra itu dalam tiga tahun terakhir. Tepatnya sejak peristiwa Gempa Aceh Tengah 2013 silam. Stasiun-stasiun pengukur gempa di sebagian besar penjuru Bumi pun dengan riuh mencatat getaran dari swarnadwipa tersebut.

Gambar 1. Lokasi episentrum Gempa Pidie Jaya 2016 menurut rilis awal BMKG serta USGS dan GFZ dalam peta struktur pulau Sumatra bagian utara. Sumber: Barber & Crow, 2005 dengan penambahan oleh Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Lokasi episentrum Gempa Pidie Jaya 2016 menurut rilis awal BMKG serta USGS dan GFZ dalam peta struktur pulau Sumatra bagian utara. Sumber: Barber & Crow, 2005 dengan penambahan oleh Sudibyo, 2016.

Berselang beberapa hari kemudian kita mencermati dengan pilu dampak Gempa Pidie Jaya 2016 ini, demikian ia bisa dinamakan. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, tercatat 101 orang tewas. Sementara korban luka-luka tercatat sebanyak 724 orang. Kerugian material tak kepalang banyaknya. Tercatat 105 buah bangunan tempat tinggal atau pertokoan yang ambruk, disamping ada 10.534 buah rumah yang rusak. Tercatat pula sebanyak 55 buah masjid ikut roboh, demikian halnya 1 unit sekolah dan 1 bangunan RSUD Pidie Jaya. Sebanyak 11.142 orang dipaksa mengungsi. Selain itu tak kurang dari 14.000 meter jalan raya dibikin rusak, disamping 50 buah jembatan juga dibikin retak-retak.

Angka-angka tersebut hanyalah sementara, tetap terbuka kemungkinan untuk meningkat lagi. Dengan angka sementara ini pun, Gempa Pidie Jaya 2016 telah menabalkan dirinya sebagai gempa paling mematikan di propinsi Aceh dalam 12 tahun terakhir, tepatnya semenjak malapetaka gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang memilukan.

Parameter

Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada awalnya menempatkan Gempa Pidie Jaya 2016 sebagai gempa kuat dengan magnitudo 6,4 dengan kedalaman sumber sangat dangkal, yakni hanya 10 kilometer. Posisi episentrumnya adalah 121 kilometer di sebelah tenggara kota Banda Aceh. Sementara lembaga sejenis di mancanegara, yakni United States Geological Survey (USGS) National Earthquake Information Center melansir gempa ini juga memiliki magnitudo 6,4  dengan sumber sedalam 17 kilometer dengan episentrum 92 kilometer sebelah tenggara Banda Aceh. Pada dasarnya setiap gempa bumi tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 30 kilometer merupakan gempa dangkal.

Belakangan baik USGS maupun BMKG merevisi besaran magnitudo dan kedalaman sumbernya. Dalam versi BMKG, Gempa Pidie Jaya 2016 memiliki magnitudo 6,5 dengan sumber sedalam 15 kilometer. Posisi episentrumnya juga direvisi menjadi 105 kilometer sebelah tenggara kota Banda Aceh. Sementara dalam versi USGS, magnitudo gempanya juga direvisi menjadi 6,5 dengan kedalaman sumber menjadi tinggal 8 kilometer. Sangat dangkal. Sebaliknya posisi episentrum versi USGS relatif tak berubah banyak.

Gambar 2. Distribusi episentrum gempa-gempa susulan dalam Gempa Pidie Jaya 2016 yang direkam stasiun pengamat gempa Indonesian Tsunami Early Warning Systems BMKG. Dalam 48 jam pasca gempa utama, telah terjadi 69 kali gempa susulan dengan kecenderungan jumlah gempa kian menurun dari hari ke hari. Sumber: BMKG/Daryono, 2016.

Gambar 2. Distribusi episentrum gempa-gempa susulan dalam Gempa Pidie Jaya 2016 yang direkam stasiun pengamat gempa Indonesian Tsunami Early Warning Systems BMKG. Dalam 48 jam pasca gempa utama, telah terjadi 69 kali gempa susulan dengan kecenderungan jumlah gempa kian menurun dari hari ke hari. Sumber: BMKG/Daryono, 2016.

Revisi parameter gempa adalah hal yang biasa dilakukan badan-badan seismologi dimanapun. Informasi awal sebuah gempa pada umumnya merupakan informasi sementara, yang didasarkan pada data terbatas dari stasiun seismometer (pengukur gempa) yang terbatas pula. Informasi awal ini ditujukan sebagai bagian dari peringatan dini, terutama jika sumber gempanya di laut sehingga memiliki potensi tsunami, serta untuk mengestimasi dampak kerusakan yang terkait dengan intensitas getarannya. Seiring waktu, dengan kian banyaknya data yang terkumpul dari stasiun-stasiun seismometer yang semula belum tercakup membuat parameter gempa bisa dipertajam lagi sehingga mengalami revisi.

Contoh revisi parameter gempa masa silam misalnya pada peristiwa Gempa Yogyakarta 2006. Rilis awal BMKG menempatkan episentrum Gempa Yogyakarta 2006 di dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean), sementara rilis awal USGS memosisikannya di pantai Parangtritis. Kedua lokasi tersebut merupakan bagian dari sesar Opak nan legendaris. Namun setelah sejumlah seismometer tambahan dipasang pascagempa di kawasan Yogyakarta-Bantul-Gunungkidul guna memonitor gempa-gempa susulan dan parameternya, diketahui bahwa episentrum Gempa Yogyakarta 2006 berada di daratan. Yakni di sisi barat Kabupaten Gunung Kidul. Survei pergeseran tanah melalui sistem pemosisian global (GPS/global positioning system) dan teknik interferometri radar berbasis satelit (InSAR/interferometry synthetic apperture radar) di kemudian hari memastikan bahwa episentrum Gempa Yogyakarta 2006 memang ada di daratan, tepatnya di sesar Oya yang paralel namun berada 10 kilometer di sisi timur sesar Opak. Berkaca pada pengalaman tersebut, maka revisi parameter Gempa Pidie Jaya 2016 sejatinya bukanlah hal yang aneh.

Gambar 3. Sumber Gempa Yogyakarta 2006 di lembah sungai Oya, ekspresi paras bumi dari sesar Oya yang sebelumnya tak dikenal. Lokasi ini didasarkan atas analisis distribusi gempa-gempa susulan, pengukuran deformasi permukaan berbasis GPS dan analisis interferometri radar.  Sebelumnya rilis awal lembaga-lembaga seperti BMKG dan USGS menempatkan sumber gempa ini di sesar Opak, 10 km sebelah barat sesar Oya. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Gambar 3. Sumber Gempa Yogyakarta 2006 di lembah sungai Oya, ekspresi paras bumi dari sesar Oya yang sebelumnya tak dikenal. Lokasi ini didasarkan atas analisis distribusi gempa-gempa susulan, pengukuran deformasi permukaan berbasis GPS dan analisis interferometri radar. Sebelumnya rilis awal lembaga-lembaga seperti BMKG dan USGS menempatkan sumber gempa ini di sesar Opak, 10 km sebelah barat sesar Oya. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Gempa Pidie Jaya disebabkan oleh patahnya segmen batuan sepanjang sekitar 30 kilometer dengan lebar sekitar 15 kilometer secara mendadak. Begitu patah, ia melenting (bergeser mendadak) sejauh rata-rata 80 sentimeter. Pelentingan tersebut memiliki arah menuju ke salah satu dari dua kemungkinan: barat daya (strike menuju azimuth 243 derajat) atau tenggara (strike menuju azimuth 147 derajat). Lentingan yang melibatkan segmen batuan yang cukup luas itu menyebabkan terlepasnya energi. Yang merambat sebagai gelombang gempa bumi saja diprakirakan mencapai 85 kiloton TNT, atau 4 kali lipat lebih hebat ketimbang letusan bom nuklir Hiroshima.

Mirip Gempa Yogyakarta 2006 ?

Kombinasi sumber gempa yang sangat dangkal dan besarnya pelepasan energi membuat Gempa Pidie Jaya 2016 ini menghasilkan getaran yang sangat merusak. Getaran terkeras memiliki intensitas 8 MMI (modified mercalli intensity), tingkat getaran yang sanggup merubuhkan banyak bangunan di suatu pemukiman di Indonesia. Getaran 8 MMI terutama dirasakan di paras Bumi yang tepat berada di atas sumber gempa dan area sekitarnya. Segenap Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan kota Sigli diguncang oleh getaran berintensitas  7 MMI, yang tergolong getaran sangat keras. Getaran 7 MMI adalah jenis getaran yang sanggup meruntuhkan bangunan khususnya yang bermutu rendah. Kota Banda Aceh diguncang oleh getaran dengan intensitas 5 MMI. Ini adalah jenis getaran yang cukup kuat untuk dirasakan oleh semua orang dan sanggup membuat orang-orang yang  sedang tidur menjadi terbangun, namun belum cukup kuat untuk merusak bangunan. Sementara sisa propinsi Aceh lainnya digoyang oleh getaran berintensitas 4 MMI, yang tergolong getaran ringan.

Gambar 4. Salah satu desa yang terkena dampak Gempa Pidie Jaya 2016, yakni desa Paru Keude kec. Bandar Baru kab. Pidie Jaya. Distribusi kerusakan bangunan telah dipetakan dengan pesawat udara nir awak (PUNA/drone) hasil kerjasama BIG, BNPB dan sejumlah lembaga. Sumber: BIG/Hasanudin Z Abidin, 2016

Gambar 4. Salah satu desa yang terkena dampak Gempa Pidie Jaya 2016, yakni desa Paru Keude kec. Bandar Baru kab. Pidie Jaya. Distribusi kerusakan bangunan telah dipetakan dengan pesawat udara nir awak (PUNA/drone) hasil kerjasama BIG, BNPB dan sejumlah lembaga. Sumber: BIG/Hasanudin Z Abidin, 2016

USGS melalui PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquake for Response) memprakirakan sekitar 4,78 juta jiwa tinggal di daerah yang merasakan dampak getaran dari Gempa Pidie Jaya 2016 ini mulai dari getaran berintensitas 4 MMI ke atas. Diantara jumlah tersebut, 371 ribu jiwa diantaranya tinggal di daerah yang merasakan getaran sangat keras dengan intensitas 7 MMI. Dan pemuncaknya, 179 ribu jiwa merasakan getaran berintensitas 8 MMI yang menghancurkan. Kota-kota seperti Sigli dan Meureudu dihajar dengan getaran 7 MMI, sementara kota-kota seperti Bireun, Lhokseumawe dan Banda Aceh merasakan getaran setingkat lebih rendah yakni 6 MMI. Dengan karakteristik semacam ini maka  peluang ambruknya bangunan-bangunan yang menelan korban jiwa dan kerugian material pun terbuka lebar. USGS memprakirakan terdapat peluang 44 % jatuhnya korban jiwa hingga 10 orang dan peluang 38 % untuk jorban jiwa hingga 100 orang. Sementara untuk kerugian material, peluangnya adalah 52 % untuk kerugian hingga Rp 130 milyar.

Gambar 5. Peta intensitas guncangan dan distribusi populasi penduduk setempat (berdasar USGS Landscan 2005) serta daftar kota-kota tertentu yang mengalami getaran (pada intensitas tertent) akibat Gempa Pidie Jaya 2016. Disajikan oleh USGS PAGER. Sumber: USGS, 2016.

Gambar 5. Peta intensitas guncangan dan distribusi populasi penduduk setempat (berdasar USGS Landscan 2005) serta daftar kota-kota tertentu yang mengalami getaran (pada intensitas tertent) akibat Gempa Pidie Jaya 2016. Disajikan oleh USGS PAGER. Sumber: USGS, 2016.

Dalam beberapa hal Gempa Pidie Jaya 2016 mirip dengan peristiwa Gempa Yogyakarta 2006 silam. Diantaranya dalam hal magnitudonya, dimana Gempa Pidie Jaya 2016 memiliki magnitudo momen 6,5 atau hanya sedikit di atas Gempa Yogyakarta 2006 yang bermagnitudo momen 6,4. Juga dalam hal kedalaman sumbernya, dimana kedua gempa sama-sama merupakan gempa dangkal. Kedua gempa juga memiliki sumber yang berdekatan dengan sebuah kota.

Kemiripan lainnya mungkin dalam hal moletrack. Pada gempa bumi tektonik dengan sumber dangkal atau sangat dangkal, pelentingan yang terjadi salam sumber gempanya umumnya akan muncul di paras Bumi tepat di atas sumber gempa sebagai retakan-retakan berpola yang disebut moletrack. Moletrack menjadi indikasi dari surface rupture sebuah gempa bumi tektonik dangkal, sebagai cerminan dari sumber gempa yang ada dibawahnya. Bagaimana dengan Gempa Pidie Jaya 2016 in?  Simulasi yang dikerjakan Aditya Gusman, salah satu peneliti gempa bumi di Indonesia, menunjukkan Gempa Pidie Jaya 2016 mungkin menyebabkan pergeseran permukaan tanah sebesar maksimum 5 sentimeter secara vertikal dan juga 5 sentimeter secara horizontal. Ini pergeseran yang kecil, sehingga mungkin tidak menghasilkan moletrack. Meski untuk memastikan ada tidaknya surface rupture  Gempa Pidie Jaya 2016 masih diselidiki lewat survei lapangan.

Gambar 6. Contoh moletrack yang menandai surface rupture sebuah sumber gempa tektonik dangkal, dalam hal ini adalah kejadian Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 yang magnitudonya hampir sama dengan Gempa Pidie Jaya 2016. Moletrack ini terletak di lintasan sesar besar Sumatra pada segmen Sumani yang berada di Kasiak (Sumatra Barat). Dari moletrack ini diketahui bahwa lokasi di latar depan (ditandai dengan panah ke kiri) telah mengalami pergeseran mendatar 30 cm bersamaan dengan penurunan (subsidens) 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Gambar 6. Contoh moletrack yang menandai surface rupture sebuah sumber gempa tektonik dangkal, dalam hal ini adalah kejadian Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 yang magnitudonya hampir sama dengan Gempa Pidie Jaya 2016. Moletrack ini terletak di lintasan sesar besar Sumatra pada segmen Sumani yang berada di Kasiak (Sumatra Barat). Dari moletrack ini diketahui bahwa lokasi di latar depan (ditandai dengan panah ke kiri) telah mengalami pergeseran mendatar 30 cm bersamaan dengan penurunan (subsidens) 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Pertanyaan awamnya, bagaimana gempa ini bisa terjadi? Dan pelajaran apa yang bisa diambil Indonesia darinya?

Teriris

Bukalah aplikasi ataupun program komputer geografis yang populer dari apapun gawai (gadget) anda, seperti Google Maps maupun Google Earth. Bukalah peta pulau Sumatra dan perbesar di bagian ujung utara swarnadwipa ini. Pilih moda peta berupa satellite, kemudian lanjutkan dengan medan. Akan dapat kita lihat betapa kompleksnya tatanan tektonik di sini. Andaikata bumi tanah rencong dapat berkata-kata dan bermain media sosial, ia akan memasang status  “rumit.”

Gambar 7. Estimasi deformasi pada paras bumi di lokasi dan sekitar sumber Gempa Pidie Jaya 2016 secara mendatar/horizontal (kiri) maupun vertikal (kanan). Nampak jika model sumber gempanya berorientasi tenggara-barat laut, maka di kota Sigli dan sekitarnya terjadi pergeseran mendatar hingga 5 cm dan pada saat yang sama juga mengalami pengangkatan sebesar 5 cm pula. Disimulasikan oleh Aditya Gusman. Sumber: Gusman, 2016.

Gambar 7. Estimasi deformasi pada paras bumi di lokasi dan sekitar sumber Gempa Pidie Jaya 2016 secara mendatar/horizontal (kiri) maupun vertikal (kanan). Nampak jika model sumber gempanya berorientasi tenggara-barat laut, maka di kota Sigli dan sekitarnya terjadi pergeseran mendatar hingga 5 cm dan pada saat yang sama juga mengalami pengangkatan sebesar 5 cm pula. Disimulasikan oleh Aditya Gusman. Sumber: Gusman, 2016.

Ujung utara Swarnadwipa dibentuk oleh aktivitas tiga lempeng tektonik yang berbeda. Di sebelah barat ada lempeng India yang merupakan lempeng laut (oseanik) sehingga berat jenisnya lebih tinggi. Lempeng India mengalasi sebagian dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dan dulu sempat dikira sebagai satu kesatuan dengan lempeng Australia (yang mengalasi sebagian dasar Samudera Indonesia dan membentuk benua Australia). Belakangan disadari bahwa lempeng India dan lempeng Australia adalah dua lempeng yang berbeda dan saling terpisah, yang salah satunya tecermin dari peristiwa gempa ganda Samudera Indonesia 11 April 2012 (magnitudo 8,6 dan 8,2). Sementara di sisi timur bertengger lempeng Sunda, bagian dari lempeng Eurasia. Lempeng Sunda adalah lempeng yang mengalasi kepulauan Indonesia bagian barat.

Terjepit di tengah-tengah lempeng India dan lempeng Sunda di ujung swarnadwipa adalah lempeng Burma, yang mendapat popularitasnya karena bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (magnitudo 9,3) silam. Lempeng Burma  merupakan lempeng mikro karena ukurannya yang kecil, hanya mencakup segenap Kepulauan Andaman, Kepulauan Nicobar, sebagian Laut Andaman dan bagian barat propinsi Aceh. Lempeng mikro Burma semula adalah bagian dari lempeng Eurasia. Namun subduksi lempeng India terhadap lempeng Eurasia di tempat yang sekarang menjadi busur kepulauan Andaman dan Nicobar menyebabkan terbitnya salah satu gejala khas tektonik lempeng, yakni pembentukan cekungan busur belakang (back-arc). Subduksi membuat kerak bumi di bagian belakang busur kepulauan Andaman dan Nicobar, yakni di sisi timurnya, menipis sehingga membentuk cekungan yang tergenangi air laut.

Gambar 8. Peta struktur ujung utara pulau Sumatra yang kompleks, sebagai hasil interaksi nan rumit antara lempeng India, lempeng Sunda dan lempeng mikro Burma. Interaksi ini menyebabkan terbentuknya sejumlah sesar aktif di daratan, yang bakal menjai sumber gempa potensial mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2006.

Gambar 8. Peta struktur ujung utara pulau Sumatra yang kompleks, sebagai hasil interaksi nan rumit antara lempeng India, lempeng Sunda dan lempeng mikro Burma. Interaksi ini menyebabkan terbentuknya sejumlah sesar aktif di daratan, yang bakal menjai sumber gempa potensial mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2006.

Lama-kelamaan di tengah cekungan ini terbentuk sesar-sesar turun sebagai retakan panjang, tempat meluapnya cairan panas sangat kental dari lapisan selubung yang membentuk lempeng baru di kedua sisinya. Inilah pusat pemekaran lantai samudera.  Sehingga Laut Andaman pada hakikatnya adalah bayi samudera baru yang masih sangat muda, serupa dengan misalnya Laut Merah di Timur Tengah. Jika proses pemekaran ini berlanjut terus, maka dalam berjuta-juta tahun mendatang Laut Andaman akan bertransformasi menjadi samudera yang baru. Terbentuknya retakan dasar laut Andaman sekaligus memproduksi lempeng mikro Burma, yang mulai terpisah dari lempeng Eurasia sekitar 3 hingga 4 juta tahun silam.

Eksistensi ketiga lempeng tektonik tersebut membuat bumi tanah rencong tercabik-cabik, ibarat kue yang telah dibelah-belah pisau tektonik. Banyak sesar aktif berkembang di sini. Sesar utama adalah sistem sesar besar Sumatra, yang dahulu disebut sesar Semangko. Sesar besar Sumatra adalah sesar aktif sepanjang 1.900 kilometer yang membentang mulai dari kawasan Selat Sunda di selatan hingga Laut Andaman di utara, ‘membelah’ pulau Sumatra menjadi dua bagian yang asimetris. Di daratan Aceh sesar besar ini bercabang dua mulai dari satu lokasi di dekat kota Takengon. Satu cabang adalah segmen Aceh (panjang 230 kilometer) yang melintas tepat di sebelah barat kota Banda Aceh. Sementara cabang kedua adalah segmen Seulimeum (panjang 120 kilometer), yang melintas di sisi timur kota Sabang dan bertanggung jawab pada terjadinya Gempa Aceh 1964 (magnitudo 7,0). Kedua cabang ini sama-sama menerus ke barat laut untuk kemudian bergabung dengan zona retakan dasar Laut Andaman.

Di luar dua cabang utama itu, dari dekat kota Takengon pula berkembang sesar lain yang berbelok ke arah utara sebagai lengkungan mirip sabit. Di sekitar kota Takengon ia dikenal sebagai sesar Takengon yang bersifat sesar naik (thrust). Sementara bagian utaranya dinamakan sesar Samalanga-Sipopok yang pergerakannya bersifat mendatar (strike slip). Lebih jauh ke selatan di sekitar kota Kutacane berkembang pula sesar yang menerus ke arah kota Lhokseumawe. Di bagian selatan sesar ini dikenal sebagai sesar Lokop-Kutacane. Dan di bagian utara dinamakan sesar Lhokseumawe.  Baik sesar Samalanga-Sipopok maupun sesar Lhokseumawe sama-sama menerus ke dasar Laut Andaman dan bergabung dengan sejumlah sesar aktif disana.  Selain sesar-sesar yang tergolong panjang tersebut, bumi tanah rencong juga masih memiliki sejumlah sesar lainnya yang relatif pendek.

Gambar 9. Citra pendahuluan interferometri radar (inSAR) Gempa Pidie Jaya 2016 dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B lewat radas ARIA automatic interferogram. Meski resolusi citranya jelek karena koherensinya sangat rendah (sehingga pola-pola interferensinya tidak terlalu jelas), namun terkesan bahwa deformasi terbesar akibat gempa ini berada di sekitar lintasan sesar Samalanga-Sipopok di dekat kota Meureudu. Sumber: Fielding, 2016.

Gambar 9. Citra pendahuluan interferometri radar (inSAR) Gempa Pidie Jaya 2016 dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B lewat radas ARIA automatic interferogram. Meski resolusi citranya jelek karena koherensinya sangat rendah (sehingga pola-pola interferensinya tidak terlalu jelas), namun terkesan bahwa deformasi terbesar akibat gempa ini berada di sekitar lintasan sesar Samalanga-Sipopok di dekat kota Meureudu. Sumber: Fielding, 2016.

Dengan bumi yang tercabik-cabik tektonik demikian rupa, maka dapat dikatakan bahwa segenap penjuru daratan tanah rencong merupakan kawasan rawan gempa. Baik pesisir barat maupun pesisir timur.  Inilah yang membedakan Aceh dengan bagian pulau Sumatra lainnya dimana kawasan rawan gempa terlokalisir hanya di pesisir barat dan di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan tempat lintasan sesar besar Sumatra.

Pelajaran

Sumber Gempa Pidie Jaya 2016 berada di dekat lintasan sesar Samalanga-Sipopok, sehingga sejumlah pihak menduga bahwa sesar itulah yang bertanggung jawab atas peristiwa gempa tersebut. Meskipun revisi parameter gempa baik oleh BMKG maupun USGS tidak lagi menempatkan episentrumnya persis di atas lintasan sesar Samalanga-Sipopok. Analisis interferometri radar berbasis citra radar dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B yang dikerjakan Eric Fielding, cendekiawan kebumian dari California Institute of Technology (Amerika Serikat) mengindikasikan bahwa lokasi sumber gempa memang berhubungan dengan sesar Samalanga-Sipopok. Namun ini pun masih sementara. Butuh survei lapangan untuk memastikan hal tersebut. Misalnya dengan mengukur pergerakan titik-titik tertentu melalui sistem pemosisian global (GPS).

Gambar 10. Lokasi stasiun-stasiun pemantau GPS dalam jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System). Profile A dan profile B menunjukkan dua baris kelurusan yang sengaja ditentukan dalam pemasangan stasiun pantau tersebut. Lewat pergerakan yang direkam jejaring ini diketahui masih ada potensi gempa besar di daratan propinsi Aceh bagian selatan. Sumber: Ito dkk, 2012.

Gambar 10. Lokasi stasiun-stasiun pemantau GPS dalam jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System). Profile A dan profile B menunjukkan dua baris kelurusan yang sengaja ditentukan dalam pemasangan stasiun pantau tersebut. Lewat pergerakan yang direkam jejaring ini diketahui masih ada potensi gempa besar di daratan propinsi Aceh bagian selatan. Sumber: Ito dkk, 2012.

Pasca 2004 TU, muncul pertanyaan besar di kalangan cendekiawan kebumian tentang apakah tekanan sangat besar yang ditimbulkan peristiwa gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 terhantar ke daratan dan memberikan beban tambahan tekanan kepada sesar-sesar aktif di ujung utara pulau Sumatra ataukah tidak. Untuk menjawabnya maka telah digelar jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System) sejak 2005 TU. Jejaring ini ‘menanam’ 7 stasiun pengamatan GPS kontinu dan 20 stasiun pengamatan episodik. ‘Penanaman’ stasiun-stasiun pemantauan yang rapat membuat pergerakan yang disebabkan oleh Gempa Pidie Jaya 2016 bisa diukur dan dianalisis, meski butuh waktu.

Ada dua pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa memilukan ini. Yang pertama, bagi tanah rencong Gempa Pidie Jaya 2016 bukanlah peristiwa terakhir. Potensi gempa tektonik di daratan Aceh masih tetap terbuka. Jejaring AGNeSS menunjukkan bahwa sesar besar Sumatra di bagian selatan propinsi Aceh menunjukkan tanda-tanda potensi untuk memproduksi gempa besar (magnitudo ~7) di masa depan. Belum sesar-sesar yang lain. Sementara bagi Indonesia, gempa ini kembali menjadi pengingat bahwa banyak kawasan yang rawan gempa di negeri ini. Sekurangnya 60 % kota di Indonesia didirikan di atas sesar, sehingga kemungkinan terjadinya peristiwa gempa bumi yang menyerang kota masih tetap terbuka. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap perlu dipertahankan.

Referensi :

Barber & Crow. 2005. Sumatra, Geology Resources and Tectonic Evolution, in Chapter 4: Pre-Tertiary Stratigraphy. Geological Society, London, Memoirs, 31 pp 24-53.

USGS. 2016. M6.5 – 19 km SE of Sigli, Indonesia. USGS National Earthquake Information Center

Ito dkk. 2012. Isolating Along-strike Variations in the Depth Extent of Shallow Creep and Fault Locking on the Northern Great Sumatran Fault. Journal of the Geophysical Research, vol. 117 B06409.

Daryono, 2016, komunikasi pribadi.

Aditya Gusman, 2016, komunikasi pribadi.

Eric Fielding, 2016, komunikasi pribadi.