Ledakan Besar Akibat Petasan (Lagi) di Kebumen

Ledakan besar itu terjadi pada Sabtu 23 Juli 2017 TU (Tarikh Umum) sekitar pukul 21:30 WIB. Lokasinya pada suatu sudut di RT 05 RW 04 desa Krakal yang termasuk ke dalam kecamatan Alian Kab. Kebumen (Jawa Tengah). Titik pusat ledakan berada di sebuah rumah kosong yang difungsikan sebagai gudang. Gudang itu beralamatkan di jalan Pagerkemiri di sekitar koordinat 7º 36′ 31″ LS 109º 42′ 11″ BT dan secara fisik ada di sebelah barat Pasar Indrakila Alian, sejarak sekitar 250 meter. Dari lokasi mataair panas Krakal yang menjadi markah (icon) daerah ini, lokasi ledakan berjarak 1.200 meter.

Gambar 1. Lokasi di sekitar titik pusat Ledakan Krakal, sekitar 10 jam pasca kejadian. Titik pusat ledakan berada di rumah berdinding merah, yang menjadi rumah dengan kerusakan terparah. Secara keseluruhan 23 rumah mengalami kerusakan dengan 9 diantaranya berderajat rusak sedang hingga berat. Sumber: Lintas Kebumen, 2017.


Ledakan besar itu tidak melukai siapapun apalagi menelan korban jiwa. Namun terlepas dari ‘keberuntungan’ itu, ledakan menghasilkan dampak aneka kerusakan bagi rumah-rumah disekelilingnya mulai dari derajat rusak ringan hingga rusak berat. Secara keseluruhan 23 rumah mengalami kerusakan, dimana dua diantaranya rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan sisanya rusak ringan. Radius kerusakan mencapai sekitar 50 meter dari titik pusat ledakan. Namun dalam kondisi tertentu pecahnya kaca jendela masih dijumpai hingga radius 500 meter ke arah tertentu.

Tak pelak ledakan besar jelang tengah malam ini menggegerkan daerah setempat. Dentuman suara ledakan terdengar hingga ke kecamatan tetangga, yakni Karangsambung, yang berjarak tak kurang dari 4 kilometer. Dentuman menggelegar itu juga diiringi dengan getaran tanah layaknya gempa. Warga sekitar pun sempat dibikin panik.

Ini adalah ledakan besar kedua di tanah Kebumen dalam kurun sebulan terakhir, setelah peristiwa Ledakan Gemeksekti. Dan seperti halnya Ledakan Gemeksekti, peristiwa ledakan besar di Krakal ini (yang untuk selanjutnya disebut Ledakan Krakal) pun disebabkan oleh bahan petasan alias mercon. Bedanya, peristiwa Ledakan Krakal ini mendapat perhatian lebih lanjut termasuk dengan melibatkan tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah. Sebaliknya dalam kejadian Ledakan Gemeksekti, penyebab dan pelakunya telah terang benderang sedari awal.

Gambar 2. Detik-detik awal bahan petasan mengalami ledakan (deflagrasi) dalam peristiwa Ledakan Gemeksekti, sebulan sebelum kejadian Ledakan Krakal. Dua peristiwa ledakan besar di Kabupaten Kebumen itu sama-sama disebabkan oleh bahan petasan. Sumber: Kebumen Ekspres, 2017.


Petasan

Seperti halnya dalam peristiwa ledakan-ledakan besar pada umumnya, kerusakan-kerusakan dan getaran yang mengiringi Ledakan Krakal diakibatkan oleh penjalaran gelombang kejut (shockwave) ledakan. Gelombang kejut adalah tekanan tak-kasat mata yang diekspresikan oleh nilai tekanan-lebih (overpressure), yakni selisih antara tekanan gelombang kejut terhadap tekanan atmosfer standar (diidealkan pada paras laut rata-rata). Nilai overpressure itu bisa mulai dari sekecil 200 Pascal (Pa, 1 Pa = 1 Newton/meter2) dengan dampak minimal yakni hanya menggetarkan kaca jendela dan berkemungkinan meretakkan kisi-kisinya. Namun bisa juga sebesar 1 MegaPascal (1.000.000 Pa) dengan dampak sangat mematikan bagi manusia, karena mampu memutilasi tubuh manusia tanpa ampun. Parah tidaknya dampak gelombang kejut bergantung kepada jaraknya terhadap titik pusat ledakan. Sebab nilai overpressure berbanding terbalik dengan bertambahnya jarak. Dan dalam kondisi tertentu bahkan ia bisa berbanding terbalik dengan pangkat dua (kuadrat) jarak dari titik pusat ledakan.

Gambar 3. Lokasi titik pusat Ledakan Krakal dalam peta Google Maps. Secara fisis titik pusat ledakan berada di sebelah barat Pasar Indrakila, pasar sentral di kecamatan Alian, dengan jarak sekitar 200 meter. Sumber: Sudibyo, 2017.


Dua rumah yang terkategori rusak berat mengalami kaca-kaca jendela yang hancur lebur dan tembok jebol. Satu dari rumah yang rusak berat ini adalah lokasi titik pusat ledakan. Sementara tujuh rumah yang terkategori rusak sedang memiliki kaca-kaca jendela yang pecah dan pintu jebol. Sembilan rumah ini bertebaran hingga radius sekitar 50 meter dari titik pusat ledakan. Dengan anggapan ledakan terjadi di udara terbuka tanpa halangan, maka perhitungan menggunakan persamaan-persamaan gelombang kejut memprakirakan bahwa kekuatan Ledakan Krakal adalah sekitar 3 kilogram TNT.

Hasil ini relatif tak berbeda dengan temuan Polres Kebumen, yang mengindikasikan ada sedikitnya 4 kilogram bahan peledak. Bahan peledak tersebut berupa bahan petasan (mercon), yang tergolong kelompok peledak low explosives. Dalam jumlah yang sama, bahan petasan memiliki kekuatan sedikit lebih kecil dibanding bahan peledak TNT (trinitrotoluena) yang menjadi standar kekuatan ledakan. Dengan demikian cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa Ledakan Krakal disebabkan oleh deflagrasi bahan petasan yang kekuatannya setara 3 kilogram TNT.

Perhitungan lebih lanjut dengan persamaan yang sama memperlihatkan bagaimana dampak gelombang kejut dari Ledakan Krakal ini. Dalam jarak hingga 12 meter, gelombang kejutnya masih sanggup merusak dinding beton. Dalam jarak 17 meter, gelombang kejut yang sama masih cukup kuat untuk melengkungkan lembaran logam. Dalam jarak 25 meter ia juga masih cukup kuat untuk menghancurkan kaca-kaca jendela sekaligus meretakkan dinding. Angka-angka ini sekaligus menyajikan gambaran seperti apa dampaknya jika ‘bahan peledak dalam bobot kecil’ diledakkan. Aksi terorisme masakini kerap melibatkan ‘bahan peledak dalam bobot kecil’ dengan daya rusak ditingkatkan seperti tergambar dalam peledak yang lebih populer sebagai bom panci.

Gambar 4. Hasil perhitungan dampak papasan gelombang kejut dalam peristiwa Ledakan Krakal yang telah dibandingkan dengan kondisi lapangan. Dampak gelombang kejut dipilih untuk sejumlah deskripsi dampak tertentu, yang lantas diplot ke dalam peta. Sumber: Sudibyo, 2017.


Harus digarisbawahi bahwa perhitungan dampak tersebut bersandar pada kondisi ideal, yakni titik pusat ledakan di udara terbuka. Realitanya titik pusat Ledakan Krakal berada dalam sebuah rumah kosong. Sehingga banyak dari dampaknya yang teredam oleh dinding-dinding rumah tersebut. Rumah kosong tersebut juga berjendela pada sisi tertentu dan ini yang mungkin menghasilkan dampak terpolarisasi (terkutub) ke satu arah. Sehingga sebuah rumah yang berjarak 500 meter dari titik pusat ledakan pun dijumpai mengalami pecahnya kaca-kaca jendela.

Peristiwa Ledakan Krakal, seperti halnya peristiwa Ledakan Gemeksekti, sekali lagi mendemonstrasikan seperti apa dampaknya jika bahan peledak low explosive seperti petasan ditumpuk dalam jumlah besar dan kemudian meledak (lebih tepatnya ter-deflagrasi). Baik Ledakan Gemeksekti maupun Ledakan Krakal sama-sama berakar pada tradisi yang mewabah di Kebumen sepanjang Ramadhan dan terutama saat hari raya Idul Fitri. Yakni petasan. Razia yang gencar dilaksanakan Polres Kebumen di bawah tajuk Operasi Ramadniya tidak sepenuhnya berhasil mengeliminasi ‘wabah’ tersebut. Pada satu sisi, razia tersebut bahkan berbalik memukul Polres Kebumen sendiri saat pemusnahan bahan petasan telah disita tak ditangani dengan baik sehingga berujung pada peristiwa Ledakan Gemeksekti.

Referensi:

Kinney & Graham. 1985. Explosive Shocks in the Air. Springer-Verlag, New York, 2nd edition.

Twitter Lintas Kebumen. diakses 22 Juli 2017 2017.

Iklan

Sampah Antariksa yang Jatuh di Tepi Kaldera Purba

Sebuah benda logam yang aneh dilaporkan jatuh dari langit pada Selasa 18 Juli 2017 Tarikh Umum (TU) pada satu tempat di pesisir timur Danau Maninjau. Danau Maninjau adalah kaldera purba Gunung Maninjau yang terbentuk sekitar 52.000 tahun silam dalam letusan dahsyat yang memuntahkan material letusan sebanyak 200 hingga 250 kilometer3, letusan terdahsyat kedua di tanah Sumatera sepanjang sejarahnya setelah Letusan Toba Muda74.500 tahun silam.

Gambar 1. Ketampakan benda logam aneh yang jatuh dari langit di nagari Sungai Batang, Kec. Tanjungraya Kab. Agam (Sumatra Barat) pada Selasa 18 Juli 2017 TU sekitar pukul 09:30 WIB. Terlihat ada bagian yang mirip pangkal sebuah pipa, yang mengesankan bahwa benda ini adalah sebuah tanki. Sumber: Andri Piliang, 2017.


Titik lokasi jatuhnya benda langit aneh tersebut terletak di sekitar koordinat 0º 27′ 07″ LS 100º 13′ 16″ BT. Titik ini secara fisik terletak di depan Kantor pos Jorong Kubu, yang secara administratif menjadi bagian nagari Sungai Batang, kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam (propinsi Sumatra Barat). Lokasi ini terletak tepat di jalan raya yang relatif ramai, sehingga peristiwa jatuhnya benda logam aneh tersebut sontak menggamit perhatian banyak insan. Foto-foto yang dipublikasikan di media sosial, misalnya oleh Andri Piliang (diunggah pukul 09:39 WIB) menyajikan kesan bahwa benda tersebut jatuh mencium Bumi sebelum pukul 09:30 WIB.

Benda logam aneh tersebut berbentuk sferis (membulat), atau lebih tepatnya ellipsoid (mirip telur). Sumbu panjangnya adalah 110 sentimeter sementara sumbu pendeknya 55 sentimeter. Bagian dalamnya berongga sementara di salah satu ujungnya terdapat lubang pipa, yang mengesankan bahwa benda logam ini adalah sejenis tanki. Bobotnya ringan, yakni hanya 7,4 kilogram. Saat menimpa titik jatuhnya, terbentuk sebuah cekungan kecil di tanah namun tanpa adanya bekas-bekas terbakar.

Gambar 2. Lokasi jatuhnya benda logam aneh di tepi Danau Maninjau, yakni pada pinggiran jalan beraspal di depan kantor pos Jorong Kubu, nagari Sungai Batang. Titik jatuh ditandai oleh cekungan kecil produk benturan yang memperlihatkan jejak tekanan kuat pada lapisan aspal disekelilingnya tanpa ada jejak terbakar. Sumber: Andri Piliang, 2017.


Ciri-ciri benda logam aneh tersebut tak konsisten dengan komponen pesawat terbang umumnya. Sebaliknya saat dibandingkan dengan sejumlah komponen roket, terdapat kemiripan. Sepintas lalu benda logam aneh ini menyerupai bagian roket Soyuz A-2/SL-4 milik Rusia yang jatuh sebagai sampah antariksa di Lampung pada 16 April 1988 TU silam dan kini di-display di Pusat Sains dan Teknologi Antariksa LAPAN Bandung. Dengan kemiripan ini dapat diduga bahwa benda logam aneh yang jatuh dari langit dan mendarat di tepi Danau Maninjau itu adalah sebuah sampah antariksa. Dalam kosakata resmi di Indonesia, peristiwa ini disebut sebagai kejadian benda jatuh antariksa (BJA).

Kejadian ini merupakan peristiwa BJA kedua di Indonesia dalam kurun setahun terakhir. Sebelumnya pada 26 September 2016 TU silam terjadi peristiwa BJA di Kabupaten Sumenep (propinsi Jawa Timur), tepatnya di dua pulau kecil yakni Pulau Giligenting dan Pulau Giliraja. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa BJA di Pulau Madura tersebut disebabkan oleh jatuhnya roket Falcon 9 Full Thrust, tepatnya roket tingkat teratas (upperstage), setelah sukses mengantarkan satelit komunikasi JCSAT-16 (Jepang) ke orbit geostasioner dalam Penerbangan 28 pada 14 Agustus 2016 TU.

Gambar 3. Perbandingan antara BJA (benda jatuh antariksa) komponen roket Soyuz A-2/SL-4 (Russia) di Lampung 16 April 1988 TU (kini tersimpan di Bandung) dengan benda logam aneh yang jatuh di tepi Danau Maninjau 18 Juli 2017 TU. Analisis lebih lanjut mengindikasikan benda logam aneh di tepi Danau Maninjau adalah BJA juga. Sumber: Sudibyo, 2013 & Andri Piliang, 2017.

Bagian Roket Long March-3A

Darimana asal sampah antariksa dalam kejadian BJA tepi Danau Maninjau?

Karena lokasi titik jatuh BJA dan waktu kejadian BJA telah diketahui, maka kita bisa melacak sampah antariksa mana yang bertanggung jawab atasnya. Yakni dengan melihat adakah sampah antariksa yang lewat di sekitar titik jatuh pada waktu kejadian. Pelacakan dengan menggunakan laman SatFlare menyajikan indikasi bahwa sampah antariksa tersebut adalah obyek 31116 dalam katalog NORAD (obyek 2007-011B dalam katalog internasional). Obyek ini secara fisik adalah tingkat teratas (upperstage) dari roket Long March-3A (Chang Zeng-3A) milik badan penerbangan antariksa Cina. Laman SatFlare memperlihatkan bahwa pada pukul 09:09 WIB obyek 31116 lewat di atas koordinat 0,1º LU 99,89º BT. Terhadap titik jatuh BJA di tepi Danau Maninjau, koordinat ini berjarak horizontal 148 kilometer.

Obyek 31116 ini melintas dari arah barat daya menuju ke timur laut dengan orbit ellips yang cenderung menurun dari waktu ke waktu. Dua jam sebelum jatuh, obyek 31116 masih beredar mengelilingi Bumi dengan perigee (titik terdekat ke paras Bumi) 95 kilometer dan apogee (titik terjauh dari paras Bumi) 387 kilometer pada periode orbital 89 menit. Obyek ini memang telah diprediksi akan masuk kembali ke atmosfer Bumi (reentry) dan jatuh pada sekitar tanggal 18 Juli 2017 TU. Joseph Remis misalnya, memprakirakan obyek 31116 akan jatuh pada pukul 09:40 WIB dengan prakiraan titik jatuh di lepas pantai pesisir barat Amerika Serikat. Namun seperti umumnya prediksi reentry benda langit buatan, senantiasa terdapat ketidakpastian yang cukup besar bahkan hingga jam-jam terakhir sebelum benar-benar terjadi. Dalam prediksi Remis, ketidakpastian itu bernilai 4 jam. Sehingga obyek 31116 akan jatuh kapan saja di antara pukul 05:40 hingga pukul 13:40 WIB dengan lokasi jatuh dimana saja di antara garis lintang 53º LU hingga 53º LS yang berada di bawah lintasan benda tersebut.

Gambar 4. BJA di Sumenep, pulau Madura, pada 26 September 2016 TU silam. Analisis memperlihatkan BJA ini merupakan sampah antariksa yang semula adalah tabung COPV (composite overwrapped pressure vessel), komponen upperstage roket Falcon 9 Full Thrust. Sumber: Tribunnews, 2016.


Obyek 31116 mengangkasa sejak 14 April 2007 TU silam sebagai bagian dari roket Long March-3A/Chang Zheng-3A (CZ-3A). Roket ini adalah roket angkut berat yang menjadi kuda kerja Cina sejak 1994 TU dalam mengarungi antariksa. Roket ini memiliki tiga tingkat dan secara keseluruhan menjulang setinggi 52,5 meter, berdiameter 3,4 meter dengan bobot total 241 ton. Khusus untuk upperstage-nya memiliki panjang 12,4 meter dengan diameter 3 meter dan massa total 20,9 ton.

Long March-3A membutuhkan tiga tingkat agar bisa mencapai kecepatan yang mencukupi sejak lepas landas dari paras Bumi dan terbang hingga ke ketinggian 200 hingga 300 kilometer untuk kemudian mengubah arah guna mencapai tujuan akhir sesuai dengan hukum-hukum peroketan. Baik menuju ke orbit rendah (ketinggian kurang dari 1.000 kilometer), menengah hingga geostasioner/geosinkron (ketinggian 35.780 kilometer). Roket Long March-3A memiliki kemampuan mengangkut muatan dengan bobot hingga 6.000 kilogram ke orbit rendah dan 2.650 kilogram ke orbit geostasioner/geosinkron.

Berbeda dengan tingkat pertama dan kedua yang mesin-mesin roketnya ditenagai oleh bahan bakar Hidrazin (N2H4) dengan pengoksid Nitrogen Tetroksida (N2O4), tingkat ketiga yang juga tingkat teratas (upperstage) roket Long March-3A mengonsumsi bahan bakar Hidrogen cair (LH2) dengan pengoksid Oksigen cair (LO2). Sepasang mesin roket kriogenik terpasang rapi di pantatnya dengan daya dorong total sebesar 16 ton dalam ruang hampa dan memiliki kemampuan untuk dimatikan dan dinyalakan kembali sesuai kebutuhan. Selain sepasang mesin roket utamanya, tingkat ketiga juga dilengkapi dengan sistem kemudi arah dan sikap yang bertumpu pada mesin-mesin roket kecil. Mesin-mesin roket kemudi tersebut bertumpu pada bahan bakar tunggal Hidrazin yang tersimpan dalam dua tanki kecil sferis bertekanan tinggi.

Gambar 5. Lintasan obyek 31116 pada jam-jam terakhirnya di antariksa beserta prakiraan lokasi dan waktu jatuhnya menurut Joseph Remis. Lokasi jatuh aktual ditambahkan kemudian. Sumber: Remis, 2017.


Beidou

Misi antariksa yang diemban oleh roket Long March-3A dalam peluncuran 13 April 2007 TU itu adalah mengorbitkan satelit Compass-M1 atau dikenal juga sebagai satelit Beidou-M1. Satelit ini adalah satelit eksperimental, bagian dari rencana ambisius Cina untuk mengembangkan sistem navigasi tersendiri yang dinamakan Beidou. Sistem navigasi berbasis satelit ini seperti halnya sistem GPS (Amerika Serikat) maupun GLONASS (Russia) yang mendunia, namun murni milik bangsa Cina sendiri. Berbeda dengan GPS dan GLONASS, konfigurasi satelit-satelit Beidou menggunakan baik orbit geostasioner, orbit geosinkron dengan inklinasi 55º dan orbit menengah.

Jika di awal mula hanya ada 3 satelit dalam sistem Beidou dan lebih ditujukan untuk kepentingan bangsa Cina sendiri, maka kini telah terdapat 10 satelit aktif dalam sistem Beidou dan bisa digunakan untuk kepentingan navigasi di segenap penjuru manapun. Cina telah menargetkan hingga tahun 2020 TU mendatang konstelasi satelit-satelit Beidou terdiri dari 5 satelit di orbit geostasioner, 3 satelit di orbit geosinkron berinklinasi 55º dan 27 satelit di orbit menengah. Untuk kepentingan sipil, Beidou menyajikan akurasi hingga 10 meter. Sebaliknya untuk kepentingan militer Cina, Beidou memberikan akurasi sampai 10 sentimeter.

Satelit Compass-M1 merupakan bagian dari sistem awal Beidou dan menjadi satelit orbit menengah pertama yang diluncurkan untuk sistem tersebut. Satelit ini memiliki massa 2.200 kilogram yang dilengkapi sepasang panel surya mirip sepasang sayap sebagai pemasok tenaga. Badan satelitnya berbentuk kubus dengan panjang 2,25 meter, lebar 1 meter dan tinggi 2,2 meter. Roket Long March-3A beserta Compass-M1 mengangkasa dari landasan peluncuran Xichang di propinsi Sichuan, Cina barat daya, pada 14 April 2007 TU dinihari waktu Cina (pukul 03:11 WIB). Kombinasi kinerja roket tingkat pertama dan kedua mendorong tingkat ketiga dan muatan satelitnya hingga ke ketinggian 200 kilometer.

Gambar 6. Struktur roket Long March-3A (Chang Zheng-3A) yang telah disederhanakan beserta bagian-bagian pentingnya. Roket ini adalah roket bertingkat tiga. BJA di tepi Danau Maninjau merupakan komponen dari tingkat ketiga/upperstage roket tersebut. Sumber: Spaceflight101, 2017.


Dari ketinggian ini pekerjaan diambil alih upperstage, setelah tingkat pertama dan kedua masing-masing dilepaskan secara berturut-turut untuk menjaga rasio massa bahan bakar dan massa total roket tetap mematuhi hukum-hukum peroketan.Upperstage Long March-3A kemudian dinyalakan hingga membentuk orbit sangat lonjong dengan perigee 200 kilometer dan apogee 21.500 kilometer. Begitu tiba di titik apogeenya, satelit Compass-M1 memisahkan diri dan menyalakan pendorong internalnya untuk memasuki orbitnya sendiri (perigee 21.519 kilometer, apogee 21.545 kilometer dan inklinasi 55,3º). Saat proses ini terjadi maka praktis upperstage Long March-3A itu tidak dibutuhkan lagi dan berubah peran menjadi sampah antariksa nomor 31116 menurut kataog NORAD.

Pada awal mulanya, sampah antariksa ini menempati orbit sangat lonjong. Data posisi pada 14 April 2007 TU pukul 14:00 WIB menunjukkan obyek 31116 ini berada pada orbit dengan perigee 245 kilometer, apogee 21.459 kilometer, inklinasi 54,9º dan periode orbital 375 menit (6 jam 15 menit). Namun orbit ini sangat takstabil, terutama karena sebagian diantaranya (yakni yang berada di sekitar titik perigee) sejatinya berada di lapisan atmosfer bagian atas. Sehingga obyek 31116 senantiasa bergesekan dengan molekul-molekul udara saat melintas dengan kecepatan 7,76 km/detik di titik perigee-nya. Pergesekan ini lambat laun menurunkan kecepatan obyek 31116, sehingga berimplikasi pada berubahnya orbit menjadi cenderung lebih sirkular dengan ketinggian kian menurun. Hal ini berlangsung terus-menerus, sehingga lebih dari sepuluh tahun kemudian tepatnya pada 12 Juli 2017 TU pukul 22:00 WIB, orbitnya telah berubah total dengan perigee 110 kilometer, apogee 2.607 kilometer, inklinasi 54,7º dan periode orbital 113 menit (1 jam 53 menit).

Gambar 7. Saat-saat roket Long March-3A yang mengangkut satelit Compass-M1 untuk sistem navigasi Beidou mengangkasa dari landasan peluncuran Xichang pada 14 April 2007 TU fajar waktu Cina (pukul 03:11 WIB). Nampak upperstage, yang di kemudian hari mengalami reentry di atas Indonesia bagian barat. Sumber: Cina Satellite Navigation Office, 2010.


Reentry

Seperti halnya yang dialami sampah-sampah antariksa sebelumnya, obyek 31116 juga menjalani proses reentry serupa. Begitu mulai menyentuh ketinggian 104 kilometer, reentry pun terjadilah. Sampah antariksa itu sontak mengalami deselerasi (perlambatan) yang besar sehingga ketinggiannya kian menurun. Pada saat yang sama besarnya deselerasi, yang bisa mencapai 20G, membuat struktur obyek 31116 pun hancur berantakan. Komponen-komponennya terlepas dan melejit sendiri-sendiri.

Pada saat yang sama, masih tingginya kecepatan obyek 31116 menghasilkan tekanan ram yang sangat kuat, persis seperti halnya yang diciptakan bongkahan pecahan asteroid maupun remah-remah komet. Komponen yang lemah dihancurkan oleh besarnya tekanan ram dan dipaksa mengalami sublimasi hingga berubah menjadi uap. Sementara komponen yang lebih kuat lebih mampu bertahan. Inilah yang mendarat di paras Bumi sebagai BJA di tepi Danau Maninjau. Perbandingan dengan komponen upperstage Long March-3A mengindikasikan bahwa BJA ini merupakan tanki Hidrazin. Tanki ini memasok bahan untuk sistem kemudi arah dan sikap.

Upperstage Long March-3A memiliki massa kosong (tanpa bahan bakar) 2.740 kilogram. Pada umumnya 10 % dari massa sebuah sampah antariksa akan bertahan selama melewati proses reentry dan mendarat di paras Bumi. Dengan demikian terdapat setidaknya 20 kilogram massa yang selamat dari jatuhnya obyek 31116. BJA di tepi Danau Maninjau memiliki massa 7,4 kilogram, angka yang cukup dekat dengan perkiraan tersebut. Pada umumnya sisa-sisa sampah antariksa yang jatuh ke paras Bumi menempati sebuah daerah sempit sangat lonjong yang bentuknya mirip cerutu dengan panjang 200 hingga 250 kilometer. Dengan demikian komponen-komponen obyek 31116 mungkin berjatuhan ke arah timur laut dari Danau Maninjau, yakni hingga ke sebelah utara kota Pekanbaru (propinsi Riau).

Gambar 8. Kiri: prakiraan lintasan sampah antariksa obyek 31116 dalam jam-jam terakhirnya menurut data posisi terakhir sebelum mengalami reentry (garis putus-putus). Bandingkan dengan lintasan aktualnya (garis takputus berpanah) hingga jatuh di tepi Danau Maninjau (tanda bintang). Kurva ellips putus-putus menunjukkan prakiraan area tempat sisa-sisa obyek 31116 kemungkinan jatuh, khususnya bagian-bagian yang lebih ringan. Kanan: titik jatuh tanki Hidrazin bagian dari obyek 31116. Diolah berdasarkan data SatFlare. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth dan Google Maps.


Sampah antariksa merupakan efek samping yang belum bisa dielakkan dari teknologi eksplorasi dan eksploitasi antariksa. Dan khusus untuk Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan khatulistiwa’, resiko dijatuhi sampah antariksa relatif tinggi. Sebab lebih banyak satelit yang ditempatkan di orbit geostasioner dibanding orbit yang lain. Sementara orbit ini terletak tepat di atas garis khatulistiwa’. Hingga umat manusia bisa menemukan cara untuk mereduksi jumlah sampah antariksa tanpa harus mengurangi intensitas eksplorasi dan eksploitasi antariksa, maka problem semacam ini akan selalu menghantui Indonesia.

Referensi :

Pribadi dkk. 2007. Mekanisme Erupsi Ignimbrit Kaldera Maninjau. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 2 no. 1 Maret 2007, hal. 31-41.

Facebook Andri Piliang, diakses 18 Juli 2017.

Joseph Remis. 2017. Update: object 31116 BEIDOU M1 CZ-3A R/B Decay Prediction: July 18, 2017 UTC 02h40mn ± 4h. Twitter, diakses 17 Juli 2017.

Cina Satellite Navigation Office. 2010. Beidou (Compass) Navigation Satellite System Development. Munich Satellite Navigation Summit 2010, March 9th – 10 th, 2010.

Spaceflight101. Long March 3A Launch Vehicle, diakses 18 Juli 2017.

Gunter. 2017. BD-2M (Beidou-2M) / BD-2I (Beidou-2I). Gunter SpacePage, diakses 18 Juli 2017.

Satflare. 2017. CZ-3A R/B – NORAD 31116.

Dieng, Desa yang Hilang dan Elegi Api di Atas Awan

Terbanglah di atas Dataran Tinggi Dieng, daerah yang secara administratif dimiliki oleh dua kabupaten yakni Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo di propinsi Jawa Tengah. Kita bisa terbang secara fisik, entah secara langsung menggunakan pesawat ultralight maupun secara tak langsung dengan PUNA (pesawat udara nir awak) atau lebih dikenal sebagai dron (drone). Tetapi bisa juga kita terbang secara non-fisik, dengan menggunakan program komputer (software) atau aplikasi pemetaan populer seperti Google Earth maupun Google Maps. Tetapkan koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT (-7,2; 109,85) sebagai titik awal. Lalu bergeraklah perlahan ke barat.

Jika dilakukan dengan benar maka panorama memukau Dataran Tinggi Dieng bagian barat pun tersajilah. Tepatnya panorama di sekitar kota Batur (Kabupaten Banjarnegara). Kita akan menyaksikan bentang lahan berbukit-bukit yang terbagi-bagi ke dalam bidang-bidang lahan tertentu berpola geometris khas. Lahan-lahan pertanian mudah dikenali sebagai kotak persegi empat mengikuti kontur tanah. Di lereng yang curam, kotak-kotak itu ramping dan membentuk sistem undak-undakan (terasering). Sebaliknya di lereng landai, kotak-kotak tersebut nampak lebih lebar.

Gambar 1. Panorama sebagian Dataran Tinggi Dieng barat di sekitar koordinat 7º 12′ LS 109º 51′ BT. Nampak Desa Pesurenan dan bekas Desa Kepucukan. Desa Kepucukan adalah desa yang hilang pasca tragedi seiring meletusnya Telaga Sinila (Kawah Sinila) di tahun 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Sekitar setengah kilometer ke barat daya dari titik awal penerbangan kita, tersaji panorama berbeda. Tempat ini juga lahan pertanian, namun pola geometrisnya berbeda. Ukuran kotak-kotak di sini lebih kecil dibanding lahan pertanian disekelilingnya. Mereka juga cenderung menampakkan geometri mendekati bujursangkar, bukan persegi empat. Saat dibandingkan dengan geometri lahan pemukiman, misalnya di kota Batur (sebelah barat) maupun desa Pesurenan (sebelah timur), terlihat geometri lahan di tempat itu relatif serupa dengan lahan pemukiman. Inilah lokasi dari sebuah desa yang hilang. Sebelum tahun 1979 Tarikh Umum (TU), tempat ini bernama Desa Kepucukan, bagian dari kecamatan Batur (Kabupaten Banjarnegara).

Kepucukan

Kita mungkin pernah mendengar tentang desa yang hilang di Dataran Tinggi Dieng. Namun hampir semuanya selalu merujuk ke dusun Legetang, bagian dari Desa Kepakisan (juga di kecamatan Batur). Dusun yang makmur itu lenyap dalam semalam dan terhapus dari peta setelah bencana tanah longsor dahsyat menimbuni sepenuhnya pada tengah malam 16 April 1955 TU. Kecuali jasad kepala dusun, segenap 350 orang penduduk dan tamu yang berkunjung ke dusun tersebut pada malam naas itu tertimbun di bawah berton-ton material tebal produk longsoran lereng sektor tenggara Gunung Pangamun-amun.

Gambar 2. Pintu masuk ke bekas desa Kepucukan dengan gapura yang masih berdiri tegak. Desa Kepucukan dinyatakan dihapus secara administratif pasca Tragedi Sinila 1979 dan dinyatakan sebagai kawasan terlarang. Meski demikian pelanggaran sering terjadi. Sumber: BanyumasNews/Nanang, 2014.


Tetapi sesungguhnya ada beberapa desa yang hilang di Dieng. Salah satunya adalah desa Kepucukan. Berbeda dengan ketampakan bekas dusun Legetang yang kini hanya berupa bukit kecil sebagai kuburan massal bagi ratusan penduduknya, bekas desa Kepucukan masih mudah dikenali baik dalam citra satelit maupun foto udara. Desa Kepucukan hilang setelah dinyatakan dihapus pemerintah Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1979 TU, menyusul malapetaka memilukan Tragedi Sinila. Tragedi itu merenggut nyawa 149 orang dan memaksa tak kurang dari 15.000 orang lainnya di kawasan Dataran Tinggi Dieng bagian barat untuk mengungsi. Tragedi ini sekaligus menyajikan gambaran nyata bagi dunia, betapa sebuah gunung berapi yang bererupsi dalam skala kecil bisa berujung pada malapetaka berskala besar dalam situasi khusus.

Tragedi Sinila terjadi pada Selasa 20 Februari 1979 TU. Petaka diawali oleh rentetan tiga gempa dangkal berturut-turut. Gempa pertama terjadi pada pukul 01:55 WIB. Getarannya cukup keras dengan skala intensitas mungkin mencapai 4 hingga 5 MMI (Modified Mercalli Intensity) sehingga cukup kuat untuk membangunkan orang-orang yang terlelap di kota Batur. Gempa kedua menyusul terjadi pada pukul 02:40 WIB, getarannya juga cukup kuat pula hingga dirasakan warga desa Pesurenan. Dan gempa terakhir mengguncang pada pukul 04:00 WIB.

Gambar 3. Panorama Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dua kawah yang berperan besar Tragedi Sinila 1979. Kawah Sinila tergenangi air sebagai telaga, sementara Kawah Sigludug tetap kering. Kawah Sigludug baru muncul pada 20 Februari 1979 TU. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Tanpa disadari penduduk yang tinggal diatasnya, rentetan gempa menyebabkan kesetimbangan rapuh dalam perut bumi Dataran Tinggi Dieng bagian barat terganggu berat. Retakan-retakan timbul dan menyebar dalam tanah yang sejatinya sudah rapuh karena dibelah oleh aneka sesar dan diperlemah oleh alterasi hidrotermal khas vulkanisme. Retakan-retakan itu juga menembus cebakan-cebakan (reservoir) gas vulkanik yang ada di kedalaman sekitar 1 hingga 2 kilometer. Akibatnya isi cebakan berupa gas karbondioksida (CO2) dan uap air bertekanan tinggi pun segera meraih jalan keluarnya.

Gerakan gas dan uap itu memilih jalan termudah yang sudah ada, yakni titik lemah yang berujung di Kawah Sinila. Penduduk Dieng sudah lama mengenal kawah ini. Ia adalah cekungan bergaris tengah sekitar 50 meter yang terisi air sehingga menjadi sebuah telaga (danau kecil) yang diberi nama Telaga Nila atau Telaga Sinila. Kawah yang ini kurang populer dibandingkan dengan kawah-kawah tetangganya seperti Kawah Candradimuka, Telaga Dringo dan Sumur (kawah) Jalatunda. Penduduk juga mengenalnya sebagai kawah yang kalem, tak seperti Kawah Timbang yang juga tetangganya namun lasak. Akan tetapi kesan kalem itu akan segera terhapus pada petaka Selasa pagi itu.

Erupsi freatik pun terjadilah, yang dimulai sejak pukul 05:04 WIB. Dorongan sangat kuat dari gas dan uap bertekanan tinggi membobol dasar Kawah Sinila diiringi dentuman menggelegar. Material letusan pun menyembur tinggi hingga beberapa ratus meter, membentuk kolom coklat gelap meraksasa yang mendirikan bulu roma. Bongkahan-bongkahan tanah dan bebatuan hingga seukuran 40 sentimeter mulai terlontar hingga sejarak 150 meter dari kawah. Bersamaan dengannya uap pekat pun terus mengepul. Tanah bergetar. Sekitar pukul 06:00 WIB terjadilah semburan kedua. Horor kian mencekam saat tanah sejarak 250 meter di sebelah barat-baratdaya kawah Sinila mendadak berlubang pada pukul 06:50 WIB. Kawah baru ini sontak menyemburkan material letusan dan kepulan uap pekat. Ia rajin mengirimkan suara gemuruh susul menyusul mirip petir. Dalam istilah setempat petir memiliki nama gluduk atau gludug. Sehingga kawah baru itupun mendapatkan nama Kawah Sigludug.

Gambar 4. Rekonstruksi aliran lahar dari Kawah Sinila dan Kawah Sigludug dalam peristiwa erupsi 1979 yang berujung pada Tragedi Sinila. Nampak aliran lahar mengepung Desa Kepucukan dari arah utara dan timur sehingga hanya menyisakan arah ke barat sebagai pilihan untuk menyelamatkan diri, yang berujung pada tragedi. Digambar ulang dari Guern dkk (1982). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Pada pukul 06:00 WIB itu kawah Sinila mulai melelehkan lahar. Lahar bergerak mengikuti alur batang sungai kecil didekatnya. Sekitar pukul 07:00 WIB, kawah Sinila kembali memuntahkan laharnya. Lahar mengalir hingga sejauh kurang lebih 4 kilometer, memotong jalan raya utama Dieng dan hampir menjangkau jalan lintas selatan di dekat desa Kaliputih. Kawah Sigludug pun turut memuntahkan lahar, namun dengan volume lebih sedikit. Lahar Sigludug hanya mengalir sejauh sekitar 1 kilometer saja mengikuti alur batang kali Tempurung untuk kemudian berhenti sebelum gerbang desa Kepucukan.

Kejadian ini sontak menggemparkan penduduk Dataran Tinggi Dieng bagian barat. Warga enam desa yang mengitari kawah Sinila dan kawah Sigludug pun mengungsi. Termasuk desa Kepucukan. Namun tanpa disadari penduduk Kepucukan, takdir kebumian menempatkan mereka dalam simalakama. Desa ini dijepit dua lembah sungai, baik di sisi timur maupun barat. Terdapat tiga jalur untuk keluar masuk desa, masing-masing ke utara menuju jalur raya utama Dieng. Lalu ke timur menuju desa Pesurenan dan yang terakhir ke barat menuju kota Batur. Sebagian jalur ke barat adalah jalan setapak yang menyeberangi kali Tempurung dan berujung di jalur jalan raya lintas utara Dieng sejarak 1,5 kilometer sebelah timur kota Batur. Di sini berdiri bangunan SD (sekolah dasar) Inpres Kepucukan.

Liang Maut

Pada horor Selasa pagi itu penduduk Kepucukan tak mungkin mengungsi ke utara. Itu sama saja menuju marabahaya, karena disanalah Kawah Sinila dan Kawah Sigludug berada. Mereka juga tak mungkin ke timur, sebab lahar Sinila telah memutus jalur tersebut. Maka pilihan rasional yang tersedia adalah ke barat. Akan tetapi tak satupun menyadari bahwa jalur barat yang dikira aman sesungguhnya adalah jalur maut.

Gambar 5. Lokasi jalur maut Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Guern dkk (1982) Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak pula posisi liang-liang maut penyembur gas karbondioksida, yang turut berkontribusi pada jatuhnya korban terutama di sekitar SD Inpres Kepucukan. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Earth.


Rentetan gempa disusul erupsi kawah Sinila dan kawah Sigludug membuat tanah yang sudah rapuh itu kian retak-retak di banyak tempat. Beberapa dari retakannya menjulur hingga muncul di paras bumi, sebagai rekahan atau liang kecil. Seperti halnya di Kawah Sinila dan Kawah Sigludug, dari liang-liang kecil ini tersembur gas CO2. Dua liang muncul di sekitar Kawah Timbang. Kawah Timbang sendiri juga turut menyemburkan gas yang sama. Densitas (massa jenis) gas CO2 lebih berat dibanding udara, sehingga selalu menempel ke paras tanah. Keterikatan gas CO2 dengan uap air seperti yang umum dijumpai di Dieng membuat densitasnya menjadi lebih besar. Sehingga ia menjadi laksana air mengalir, bergerak dari tempat yang tinggi ke rendah dengan dikendalikan gravitasi Bumi.

Kombinasi semburan gas CO2 dari dua liang dan Kawah Timbang mengalir jauh ke selatan-baratdaya, menyusuri lembah sungai kecil. Sejarak 800 meter dari kawah Timbang, aliran maut ini bersua dengan barisan pengungsi Kepucukan yang sedang menyusuri jalan raya utama Dieng menjelang kompleks makam (bong) Cina, sekitar 1 kilometer dari kota Batur. Tak terelakkan lagi dalam tempo singkat barisan ini bertumbangan di tempatnya masing-masing. Pingsan lalu meregang nyawa. Sisanya, yang melihat barisan bagian depan gugur, sontak berbalik arah kembali ke Kepucukan. Tanpa disadari, liang-liang kecil yang sama juga bermunculan di sekitar SD Inpres Kepucukan. Bahkan ada empat liang disini, satu diantaranya persis di pinggir jalan setapak. Tak pelak, CO2 pun menyambar-nyambar. Sebanyak 145 orang meregang nyawa di jalan raya.

Gambar 6. Daerah bahaya dalam Tragedi Sinila 1979, digambar ulang dari Direktorat Vulkanologi (1979). Nampak segenap Desa Kepucukan tercakup ke dalam daerah bahaya, sehingga desa ini terlalu rawan untuk dihuni kembali. Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Mulai pukul 11:00 WIB aktivitas di kawah Sinila dan Sigludug cenderung mereda. Letusan benar-benar berhenti pada keesokan harinya. Secara keseluruhan erupsi Sinila dan Siglugug memiliki skala 1 VEI (Volcanic Explosivity Index), karena muntahan material letusannya kurang dari sejuta meter kubik. Kawah Sinila sendiri hanya memuntahkan 15.000 meter3 lahar dengan komponen lava didalamnya adalah lava tua (berasal dari magma tua, tanpa keterlibatan magma segar).

Kaldera

Banjarnegara pun gempar kala menyaksikan ratusan penduduk Kepucukan telah bergelimpangan tanpa nyawa. Upaya evakuasi intensif terutama mulai Rabu pagi (21 Februari 1979 TU) juga diiringi jatuhnya lagi 4 korban jiwa dari relawan. Butuh waktu tiga hari untuk mengevakuasi seluruh jasad korban. Seluruh jasad disemayamkan secara terpisah di tiga lokasi dalam kota Batur, yakni di kantor Koramil, Masjid Batur dan kantor kecamatan. Mereka semua lantas dimakamkan pada sebuah pemakaman massal di tengah-tengah ladang kentang tak jauh dari kota Batur. Sebuah tugu peringatan didirikan di sini.

Indonesia dan juga dunia dibuat terpana menatap korban-korban tragedi Sinila. Tragedi letusan gunung berapi yang aneh, karena jasad para korban nampak relatif bersih tanpa diselimuti debu vulkanik. Perhatian besar pun tertuju ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ebiet G Ade mengabadikan tragedi ini dengan apik dalam lagunya Berita kepada Kawan di album Camelia III.

Penyelidikan memperlihatkan korban-korban berjatuhan akibat paparan gas CO2 dalam konsentrasi tinggi. Selain di sekitar kawah Timbang dan SD Inpres Kepucukan, liang-liang gas itu juga muncul di sejumlah titik. Sebagian diantaranya terkonsentrasi di tepi barat Kali Tempurung. Sebagian diantaranya juga sudah diketahui sebelum tahun 1979 TU. Konsentrasi gas CO2 demikian pekat hingga mencapai 40 kali lipat ambang batas aman. Eksistensi liang-liang tersebut dan hasil pengukuran gas vulkanik di berbagai titik menjadi alasan Direktorat Vulkanologi (kini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG) untuk membentuk Daerah Bahaya Dieng. Zona tersebut terbagi ke dalam dua zona, yakni zona tertutup total dan tertutup sebagian. Tidak boleh ada orang yang masuk dan beraktivitas di zona tertutup total, apapun alasannya. Sementara pada zona tertutup sebagian boleh dimasuki dan ada aktivitas manusia meski terbatas hanya di siang hari dan hanya pada saat angin berhembus.

Segenap desa Kepucukan dan desa Simbar tercakup ke dalam Daerah Bahaya Dieng ini. Beberapa bulan kemudian pemerintah kabupaten Banjarnegara mengambil keputusan menghapus desa Kepucukan dan desa Simbar secara administratif. Sebagian dari penyintas (survivor) di kedua desa diikutsertakan program transmigrasi ke pulau Sumatra. Sebagian lainnya berpindah tempat tinggal ke desa-desa tetangga. Seluruh bangunan di bekas kedua desa pun dibongkar. Namun lahan tempat bangunan-bangunan itu semula berdiri tetap dibiarkan apa adanya. Inilah yang membuat bekas desa Kepucukan mudah dikenali dari udara.

Gambar 7. Struktur kompleks vulkanik Dieng, yang terdiri dari kaldera (garis merah) di sisi timur dan graben/cekungan Batur (garis hitam) di sisi barat. Nampak sejumlah kerucut vulkanis yang tumbuh dalam kompleks vulkanik ini. Digambar ulang dari Sukhyar (1994). Sumber: Sudibyo, 2017 dengan basis Google Maps.


Tragedi Sinila menampakkan salah satu wajah Dieng, yakni wajah ancaman. Wajah yang merugikan bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Di sisi lain Dataran Tinggi Dieng juga memiliki wajah yang ramah, yakni wajah keindahan. Ancaman dan keindahan memang berbaur menjadi satu bagi tanah yang adalah dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Dataran Tinggi Tibet.

Secara geologis Dataran Tinggi Dieng adalah kaldera, atau cekungan (depresi) vulkano-tektonik. Jadi ia adalah produk dari letusan dahsyat sebuah gunung berapi, yang di kemudian hari nampaknya diikuti oleh pergerakan tektonik khususnya pematahan (pensesaran). Dalam hal ini Dataran Tinggi Dieng memiliki kemiripan dengan Danau Toba, meski tentu saja dari segi ukurannya jauh lebih kecil. Karena aktivitas vulkaniknya maka dataran tinggi ini disebut juga Kompleks Vulkanik Dieng.

Kompleks vulkanik Dieng mencakup area sepanjang 14 kilometer (arah barat-timur) dan lebar 6 kilometer (arah utara-selatan). Antara setengah hingga satu juta tahun silam, sebagian kompleks vulkanik ini adalah bagian barat dari Gunung Prahu tua. Suatu letusan dahsyat dialami Gunung Prahu tua pada masa akhir hidupnya, menghasilkan kaldera yang memiliki diameter 7 kilometer. Sisa tubuhnya (tinggal setinggi 2.566 meter dpl) menjadi Gunung Prahu muda yang juga adalah batas sisi timur kaldera. Batas sisi barat dan selatannya masing-masing diduduki Gunung Nagasari (2.365 meter dpl) dan Gunung Bisma (2.365 meter dpl), dua kerucut vulkanik yang lahir dalam aktivitas pascakaldera.

Aktivitas pascakaldera juga membentuk Gunung Seroja (2.275 meter dpl), yang di kemudian hari mengalami erupsi parasitik di kakinya dan membentuk kawah 800 meter yang lantas terisi air sebagai Telaga Menjer. Lalu terbentuk pula Gunung Merdada dan Gunung Pangonan (2.308 meter dpl). Puncak keduanya juga berhias kawah, namun hanya kawah Merdada saja yang tergenangi air sebagian menjadi Telaga Merdada. Di sekitar jajaran Gunung Pangonan dan Merdada inilah kemudian lahir Gunung Pagerkandang/Sipandu (2.241 meter dpl) dan Igir Binem. Gunung Pagerkandang memiliki kawah kering, namun di kakinya tumbuh kawah parasiter yang tergenangi air menjadi telaga Sileri. Sementara Igir Binem memiliki dua kawah berisi air yang saling berdampingan, masing-masing Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Kerucut-kerucut vulkanis ini mulai tumbuh sekitar 17.000 tahun silam. Sementara leleran lava termuda dalam kaldera berumur 8.500 tahun, yakni aliran lava Sikunang. Setelah itu masih lahir lagi sejumlah kerucut vulkanik seluruhnya terkonsentrasi di dekat batas selatan kaldera. Misalnya Gunung Sidede (2.231 meter dpl), Gunung Pakuwaja (2.395 meter dpl), Gunung Sikunir (2.463 meter dpl), Gunung Sikendil (2.340 meter dpl), Gunung Prambanan dan Gunung Watusumbul (2.154 meter dpl).

Setelah kaldera Dieng terbentuk dan aktivitas pascakaldera mulai tumbuh, ketidakstabilan masih berlangsung di sisi barat. Hingga terjadilah pensesaran turun atau pengamblesan (subsidence) yang membentuk graben Batur. Segera sesar-sesar di graben menjadi jalur-jalur lemah yang dilalui magma dari dapur magma di bawah kaldera. Sehingga sejumlah kerucut vulkanis pun lahir. Misalnya Gunung Dringo dan Gunung Petarangan (2.135 meter dpl). Keduanya muncul pada masa yang sama dengan lahirnya Gunung Pangonan dan Gunung Merdada. Lalu Gunung Legetang, yang lahir tepat di sisi timur graben Batur. Baik di dalam kaldera maupun graben Batur, kerucut-kerucut vulkanik tersebut menjulang mulai dari setinggi 100 hingga 300 meter dari paras dataran Dieng.

Gambar 8. Diagram skematik sederhana tentang sistem sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan Cilacap-Pamanukan-Lematang di Jawa Tengah. Aktivitas sistem sesar besar ini diduga menjadi penyebab kompleks vulkanik Dieng “terdorong” ke utara dari lokasi seharusnya. Digambar ulang dari Satyana dan Purwaningsih (2002) Sumber: Sudibyo, 2015.


Dibanding jajaran gunung berapi aktif di tanah Jawa yang bergabung dalam jalur vulkanik Jawa muda, kompleks vulkanik Dieng terletak terlalu ke utara. Selain Dieng, hanya ada tiga gunung berapi muda Jawa yang juga berposisi demikian. Masing-masing Gunung Ciremai, Gunung Ungaran dan Gunung Muria. Keempat gunung berapi tersebut bisa menyebal keluar dari jalur vulkanik Jawa muda akibat aktifnya dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang. Selain menjadi penyebab keluarnya kompleks vulkanik Dieng dari jalur vulkanik Jawa muda, dua sesar besar tersebut juga bertanggung jawab atas lebih sempitnya lebar pulau Jawa di bagian tengah ketimbang di bagian barat maupun timur.

Api di Atas Awan

Kompleks vulkanik Dieng adalah satu-satunya gunung berapi berkaldera yang ada di Jawa Tengah. Aktivitas pascakaldera disini dalam kurun 17.000 tahun terakhir telah membentuk tak kurang dari 100 kawah. Sebagian besar diantaranya, yakni sekitar 70 kawah, terkonsentrasi dalam kaldera. Sementara sisanya, yakni sekitar 30 kawah, mengambil tempat dalam graben Batur.

Gambar 9. Kawah Timbang, diabadikan dari sisi utara. Kawah kering ini dikenal rajin menyemburkan gas karbondioksida yang terikat uap air. Gas tersebut akan mengalir menuruni lembah di latar belakang. Sebagian korban Tragedi Sinila menghirup gas beracun dari kawah Timbang ini. Sumber: Aldhila Gusta, 2014.


Dengan lokasinya yang menjulang di ketinggian dan dipahat secara simultan oleh panas magma dan air hujan selama beribu-ribu tahun, tak heran bila kompleks vulkanik Dieng menjadi tempat yang eksotis. Eksotisme yang telah dikenal sejak beratus-ratus tahun silam. Peradaban Jawa masa kuna bahkan menempatkannya dalam posisi tempat suci sesuai dengan kosmologi yang diyakini. Candi-candi Hindu tertua di Jawa pun berdiri di sini, yang dibangun di masa Kerajaan Medang. Dua pusat kerajaan Medang pada zamannya, yakni Mamrati dan Poh Pitu, pun (diduga) terletak tak jauh dari Dieng yakni di sebelah timur Gunung Sindoro. Candi-candi tersebut kini menjadi tempat kunjungan wisatawan yang ramai.

Selain candi, Dieng juga banyak dikunjungi karena aktivitas pascakalderanya. Hanya di Dieng kita bisa ‘merasakan’ gelegak aktivitas vulkanik dalam jarak yang begitu dekat seperti di Kawah Sikidang. Suatu sensasi yang unik karena api (kawah) itu berada di daerah yang sesungguhnya dingin menggigil karena berlokasi di atas garis awan. Panorama di aneka telaga seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon dan Telaga Menjer pun sungguh menawan. Pada aras yang lain, kompleks vulkanik ini terkenal akan kesuburan tanahnya, salah satu ciri khas kawasan vulkanik. Dengan kesuburan lahannya dan ditunjang oleh kedudukannya di ketinggian, lahan pertanian Dieng menjadi produsen kentang terbesar se-Indonesia.

Gambar 10. Kawah Sikendang, tepat di tepi jalur lalu-lalang antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dengan konsentrasi gas CO2 yang dilepaskan kawah ini mencapai 74 % maka perlu penataan lebih lanjut agar pengunjung tidak tepat berada di bibir kawah. Sumber: Geomagz/Parpar Priatna, 2015.


Akan tetapi high risk high gain, sisi eksotika Dieng sebanding dengan sisi ancamannya. Kompleks ini adalah kompleks vulkanik yang masih aktif, sehingga gejolak magmanya kerap menghasilkan erupsi. Meski dalam tiga abad terakhir karakter letusan di Dieng berupa erupsi freatik yang kerap diikuti lontaran/semburan lumpur dengan lubang letusan yang berbeda-beda. Erupsi di Dieng memiliki skala yang kecil, hanya 1 hingga 2 VEI, terhitung sejak catatan tahun 1786 TU. Gelegak magma juga memanasi tubuh kompleks vulkanik Dieng dengan begitu intensif dan berkesinambungan sehingga laksana dikukus terus menerus. Akibatnya terjadi alterasi hidrotermal (persentuhan dengan cairan panas produk aktivitas vulkanik), yang melemahkan kekuatan batuan. Sehingga tanah Dieng menjadi lebih rapuh dan mudah longsor. Diduga pernah terjadi letusan yang cukup besar dengan segala akibatnya sehingga Dieng sempat kosong dari hunian manusia selama beberapa waktu, sebelum kemudian mulai dihuni kembali di abad ke-19 TU.

Gambar 11. Distribusi gas karbondioksida dalam tanah pada kompleks vulkanik Dieng. Nampak konsentrasi tertinggi (lebih dari 25 %) dijumpai baik dalam kaldera maupun graben Batur. Sumber: UGM/Fak. Geografi, 2014.


Namun ancaman paling menonjol di Dieng adalah gas beracunnya, dalam wujud gas CO2. Gas ini adalah gas vulkanik, berasal dari magma segar nun jauh di kedalaman Dieng. Magma segar tersebut tak bergerak, namun melepaskan cairan hidrotermal yang kaya gas CO2 secara kontinu. Berkurangnya tekanan saat bergerak ke atas membuat cairan superpanas ini mengalami pendidihan pada kedalaman sekitar 4,5 kilometer sehingga terbentuklah gas CO2 yang kaya uap air. Campuran ini terus bergerak ke atas sembari terus memperkaya konsentrasi gas CO2-nya hingga akhirnya tiba di cebakan-cebakan pada kedalaman sekitar 1 kilometer. Dari sini sebagian gas tersebut mengalir keluar terutama lewat lubang-lubang kawah. Namun sebagian lainnya tetap tersekap dalam cebakan dan dalam tanah.

Kawah Sikidang melepaskan gas CO2 dalam konsentrasi 5,7 % yang tergolong rendah. Sebaliknya Kawah Sileri, yang paling rajin meletus itu, memiliki konsentrasi gas CO2 yang cukup tinggi, yakni sebesar 56 %. Bahkan Kawah Sikendang, kawah kecil tak populer yang terletak di sisi Telaga Warna, melepaskan gas CO2 hingga 73,8 %. Pengukuran gas CO2 dalam tanah menunjukkan bahwa baik kaldera maupun graben Batur umumnya mengandung gas CO2 dalam konsentrasi lebih dari 0,5 % (angka batas aman). Sebaliknya konsentrasi gas CO2 di udara terbuka hanya berkisar 0,03 % atau setara dengan lingkungan selain Dieng. Kandungan gas CO2 yang besar di dalam tanah membawa implikasi bahwa mereka bisa terbebaskan ke udara saat terjadi gangguan besar dalam tanah Dieng, baik berupa gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Referensi:

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Priatna. 2015. Menata Eksotisme Dieng. Majalah Geomagz, vol. 5 no. 3 September 2015, hal. 35-39.

Guern dkk. 1982. An Example of Health Hazard, People Killed by Gas during a Phreatic Eruption: Dieng Plateau (Java, Indonesia), February 20th 1979. Bulletin of Volcanology, vol. 45-2 (1982), hal. 153-156.

Sukhyar dkk. 1994. Peta Geologi Komplek Gunungapi Dieng, Jawa Tengah. Direktorat Vulkanologi.

Global Volcanism Program. Dieng Volcanic Complex. Smithsonian Institution, National Museum of Natural History.

Nanang. 2014. Kompleks Sinila dan Timbang Jadi Incaran Penggarap. BanyumasNews.com, 5 April 2014.

Erupsi Freatik di Kawah Sileri

Sejauh ini 11 orang dikabarkan mengalami luka-luka akibat jatuh saat lari berhamburan dalam peristiwa letusan yang terjadi di Kawah Sileri di kompleks Dataran Tinggi Dieng. Letusan itu terjadi pada Minggu 2 Juli 2017 Tarikh Umum (TU) sekitar pukul 12:00 WIB. Letusan ditandai dengan semburan material hingga setinggi sekitar 150 meter di atas kawah, diikuti dengan kepulan uap air pekat yang membumbung tinggi. Tak pelak pengunjung kawah yang juga adalah salah satu obyek wisata di kawasan Dieng ini pun dibikin panik. Terlebih peristiwa ini terjadi pada masa libur Lebaran 2017, kala Dataran Tinggi Dieng sedang padat-padatnya oleh wisatawan.

Dan kisah muram pun bergulir kembali dalam beberapa jam kemudian, meski dalam bentuk kejadian yang sama sekali berbeda. Yakni saat helikopter Basarnas (Badan SAR Nasional) yang sedang terbang menuju lokasi letusan usai menjalankan tugas pengawasan arus mudik dan balik Lebaran di pintu tol fungsional Gringsing (Kabupaten Batang) bernasib naas. Helikopter yang mengangkut sembilan orang itu menubruk tebing Bukit Butak, Candiroto (Kabupaten Temanggung) dan jatuh terbakar. Seluruh penumpangnya dipastikan tewas.

Gambar 1. Hembusan uap air panas pekat dari Kawah Sileri, sesaat setelah erupsi freatik terjadi pada 2 Juli 2017 TU pukul 12:00 WIB. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Freatik

Kawah Sileri merupakan satu dari sekitar 100 kawah yang tersebar di sekujur Dataran Tinggi Dieng, yang dikenal juga sebagai kompleks vulkanik Dieng. Kawah ini merupakan cekungan seluas 4 hektar, menjadikannya kawah terluas di kompleks vulkanik Dieng. Kawah yang secara administratif terletak di desa Kepakisan, Batur (Kabupaten Banjarnegara) ini dalam kesehariannya digenangi air sebagai sebuah telaga. Pelepasan gas-gas vulkanik dari dasar kawah menyebabkan asap putih mirip kabut senantiasa mengepul dari paras air telaga ini. Airnya nampak berwarna putih abu-abu mirip air cucian beras, yang dalam istilah setempat disebut Leri. Karena itulah kawah ini mendapatkan namanya sebagai Kawah Sileri.

Erupsi (letusan) Sileri barusan tergolong erupsi freatik. Tanda-tandanya sangat jelas terhampar di sekeliling kawah sebagai endapan material letusan. Material tersebut merupakan lumpur bersuhu rendah yang melampar hingga sejauh 50 meter dari bibir kawah. Suhu rendah tersebut setidaknya setara dengan suhu lingkungan dan jauh lebih rendah ketimbang suhu air kawah (yang rata-rata sebesar 70º C), sehingga tidak menyebabkan luka bakar pada kulit manusia saat dipegang. Erupsi freatik diketahui menyemburkan material letusan dengan suhu yang relatif rendah (umumnya kurang dari 200º C) dibanding jenis erupsi magmatik.

Gambar 2. Citra satelit Dataran Tinggi Dieng dalam cahaya tampak, dengan sejumlah kawah ukuran besar yang tergenangi air sebagai telaga. Nampak Telaga Sileri (dimana Kawah Sileri berada), tergolong kecil dibanding telaga-telaga yang lain. Sumber: Sudibyo, 2017 berdasar peta Google Maps.

Berdasarkan tenaga penggeraknya, secara umum dikenal tiga jenis erupsi vulkanik. Yakni erupsi magmatik, erupsi freatik dan erupsi freatomagmatik. Erupsi magmatik adalah erupsi yang ditenagai oleh magma segar dengan kandungan gas-gas vulkaniknya yang besar. Magma segar ini menyeruak dari dapur magma di kedalaman. Inilah erupsi yang umumnya dikenal khalayak. Karena bertumpu pada magma segar, maka saat keluar dari lubang letusan dan bertransformasi menjadi material letusan (misalnya lava atau awan panas), suhunya masih sangat tinggi (lebih dari 700º C).

Sementara erupsi freatik ditenagai oleh uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring pemanasan air bawah tanah oleh sumber panas, yang bisa berasal dari magma segar maupun magma tua. Magma tua adalah magma yang tersisa dari episode letusan sebelumnya dan tetap berada di dalam saluran magma (diatrema). Karena sifatnya sebagai penghantar panas yang buruk, maka magma tua tetap memiliki suhu cukup tinggi yang mampu memanaskan air bawah tanah hingga menjadi uap. Bila tekanannya sudah sangat tinggi maka sumbat batuan yang selama ini menyekap uap air tersebut dalam reservoirnya pun dapat bobol. Sepanjang perjalanannya ke atas, uap air bertekanan tinggi ini menyeret pula bagian-bagian sumbat batuan maupun magma tua, menjadikannya material letusan. Maka material letusan freatik berciri khas suhu relatif lebih rendah dan diiringi dengan adanya fragmen-fragmen batuan tua dalam beragam ukuran yang mulai memperlihatkan tanda-tanda melapuk.

Sedangkan erupsi freatomagmatik terjadi tatkala magma segar langsung bersentuhan dengan air bawah tanah. Akibatnya terjadi pendinginan cepat di ‘kulit’ (permukaan) tubuh magma segar itu, sehingga membentuk batu-batuan seukuran kerikil. Uap air bertekanan tinggi pun sontak terbentuk. Sehingga material letusannya terdiri dari batuan segar dan uap air dengan suhu relatif tinggi.

Dengan karakter demikian maka erupsi freatik bisa menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunung berapi. Misalnya pada Gunung Sinabung dalam Letusan Sinabung 2010 dan awal-awal Letusan Sinabung 2013 – sekarang. Dalam hal ini maka durasi erupsinya dapat cukup panjang, mulai dari beberapa hari hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Di sini erupsi freatik menjadi pendahulu dari erupsi magmatik. Sebaliknya erupsi freatik pun dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Misalnya pada Gunung Merapi, terutama dalam aktivitas 2012-2014-nya. Erupsi freatik yang berdiri sendiri umumnya berdurasi sangat singkat, tak sampai sejam.

Erupsi Freatik Dieng

Erupsi freatik merupakan ciri khas dari aktivitas vulkanik di Dataran Tinggi Dieng. Selama 200 tahun terakhir terjadi setidaknya 10 kejadian erupsi freatik, atau rata-rata sekali erupsi per 20 tahun. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang bernaung di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral membagi erupsi freatik di Dieng ke dalam dua kategori. Yang pertama adalah erupsi freatik tanpa tanda awal seismik. terjadi karena terjadi sumbatan mendadak pada fumarol (sumber uap air) atau solfatara (sumber gas SO2).

Gambar 3. Material letusan berupa lumpur dingin yang melampar hingga 50 meter dari bibir kawah Sileri. Lokasi Kawah Sileri adalah di sisi kanan dari foto. Bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Sementara yang kedua adalah erupsi freatik dengan tanda awal seismik, baik berupa gempa tektonik lokal maupun regional. Termasuk ke dalam kategori kedua adalah erupsi freatik yang muncul dari retakan di paras Bumi dimana tidak ada indikasi panasbumi (dalam bentuk kawah maupun alterasi batuan) disitu. Kategori kedua ini lebih sering terjadi di kompleks vulkanik Dieng bagian barat. Yakni di kawasan yang dikenal sebagai graben Batur.

Erupsi Sileri barusan nampaknya lebih condong ke kategori pertama. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan tidak ada tanda-tanda awal seismik yang terekam pada seismometer di stasiun-stasiun geofisika yang berdekatan dengan kompleks vulkanik Dieng. Baik pada stasiun yang relatif jauh seperti stasiun Yogyakarta (YOGI), Semarang (SMRI) dan Karangpucung (KPJI). Maupun pada stasiun yang relatif dekat seperti Slawi (CTJI) dan Banjarnegara (BJI), dimana stasiun Banjarnegara sedang diluar jaringan (offline).

Bila Erupsi Sileri barusan merupakan erupsi freatik kategori pertama, maka curah hujan yang tinggi yang mengguyur sebagian kawasan Jawa Tengah sepanjang Juni 2017 TU lalu mungkin menjadi salah satu faktor yang berperan penting. Hujan deras mungkin menyebabkan ada bagian lereng kawah yang longsor hingga menimbuni fumarol atau solfatara di dasar Kawah Sileri. Hujan juga memberi pasokan air yang berlimpah ke kawah, menjadikan cukup banyak air yang bisa meresap menjadi air bawah tanah dan dididihkan oleh magma tua di bawah Kawah Sileri. Begitu fumarol tersumbat, maka uap air tak menemukan jalan keluarnya sehingga tekanannya pun meningkat. Dan pada akhirnya erupsi pun terjadilah.

Menurut catatan PVMBG, sepanjang 2017 TU ini Kawah Sileri ternyata sudah tiga kali mengalami erupsi freatik. Kejadian pertama adalah pada 3 April 2017 TU silam. Yang disusul dengan kejadian kedua pada 24 April 2017 TU. Sementara kejadian ketiga, pada 2 Juli 2017 TU, adalah yang terbesar. Baik pada erupsi freatik yang pertama maupun yang kedua juga tidak diikuti dengan tanda-tanda awal seismik. Atas dua kejadian erupsi tersebut PVMBG merekomendasikan agar pengelola obyek wisata Dieng membatasi jangkauan pengunjung hingga radius 100 meter dari kawah. Rupanya rekomendasi tersebut tak dijalankan. Pada saat Erupsi Sileri barusan terjadi, pengunjung bahkan mendekat hingga hanya 15 meter dari bibir kawah.

Gambar 4. Tampak dekat lumpur yang disemburkan dan diendapkan di sekitar Kawah Sileri. Karakteristik lumpur ini membuktikan bahwa Erupsi Sileri adalah erupsi freatik. Foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Mujur bahwa Erupsi Sileri kali ini tidak diikuti dengan pelepasan gas CO2 dalam jumlah besar dengan konsentrasi pekat. Sehingga bencana memilukan seperti Tragedi Sinila 1979 yang menewaskan 149 orang dapat dihindari. Namun Kawah Sileri juga bukannya kawah yang anteng. Sepanjang delapan dasawarsa terakhir, Kawah Sileri menjadi kawah yang paling aktif di kompleks vulkanik Dieng. Ia telah delapan kali meletus, atau rata-rata meletus setiap 10 tahun sekali. Letusan 1944 tercatat apik dalam sejarah karena menewaskan tak kurang dari 144 orang. Aktivitas berikutnya adalah Letusan 1964 yang berupa erupsi freatik disertai semburan lumpur. Demikian halnya Letusan 1984 dan Letusan 1986. Sebaliknya Letusan 2003, Letusan 2006 dan Letusan 2009 merupakan erupsi freatik tanpa semburan lumpur yang signifikan.

Dan akhirnya, Erupsi Sileri mempertontonkan dengan telanjang satu dari dua sisi Dataran Tinggi Dieng. Yakni sisi ancaman. Sementara sisi yang berseberangan adalah sisi keindahan, yang telah banyak menggamit hati para insan dan menjadikan mereka berduyun-duyun mendatangi tanah di atas awan ini. Mengutip kata-kata seorang geografer legendaris T Bachtiar, Dataran Tinggi Dieng adalah sekolah tentang semesta. Inilah tempat belajar tentang keindahan, kehidupan dan kewaspadaan. Di sini, antara pesona dan keberkahan berhimpitan dengan ancaman, layaknya dua sisi dari sebuah mata pisau.

Referensi :

IAVCEI. 2000. Crater Lakes of Java: Dieng, Kelud and Ijen, Excursion Guidebook. International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior, 2000 General Assembly. Bali: Denpasar.

Rizal. 2014. Kajian Sebaran dan Karakteristik Kawah di Gunungapi Dieng. Kuliah Kerja Lapangan 3, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Tempo.co. 2017. PVMBG Sudah Ingatkan Pengelola Dieng Soal Letusan Kawah Sileri. Tempo.co Minggu 2 Juli 2017.

Daryono Sutopawiro. 2017. komunikasi personal.

Andri Sulistyo. 2017. komunikasi personal.