Gugur Lumpur Brebes, Bencana Longsor Pasirpanjang 22 Februari 2018

Lumpurnya sangat tebal, hingga selutut bahkan sepaha orang dewasa. Ia melampar menutupi lahan persawahan cukup luas serta sepenggal jalan desa. Medan berlumpur itulah yang harus dihadapi para relawan kala mengevakuasi para korban bencana longsor di desa Pasirpanjang, Kec. Salem Kab. Brebes (Jawa Tengah). Meski tak sebesar skala longsor Jemblung Banjarnegara pada 12 Desember 2014 TU (Tarikh Umum) silam, bencana longsor Pasirpanjang ini menorehkan catatan tersendiri seiring beratnya medan.

Gambar 1. Sudut desa Pasirpanjang yang terlanda bencana tanah longsor 22 Februari 2018 TU. Nampak longsor mulai melebar kala melintasi area persawahan berterasering. Diabadikan hanya dalam 2 jam pasca bencana terjadi oleh BPBD Kabupaten Brebes. Sumber: BPBD Brebes, 2018 dalam PVMBG, 2018.

Hingga evakuasi dihentikan pada tujuh pascabencana, jumlah korban jiwa tercatat 11 orang, 10 orang ditemukan dalam timbunan lumpur dan seorang lagi meninggal dalam perawatan karena luka-lukanya. Sementara 7 orang masih dinyatakan hilang dibalik tebalnya timbunan lumpur. Sehingga jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 18 orang. Sedangkan 4 orang masih dirawat di rumah sakit dari jumlah korban luka-luka 14 orang. Kerugian materi masih dihitung. Namun secara kasat mata, tak kurang dari 8,5 hektar lahan persawahan hilang tertimbun lumpur. Penggal jalan beraspal sepanjang 507 meter, bagian dari jalan raya propinsi yang menghubungkan Kec. Salem dengan Kec. Banjarharjo di utara, menghilang. Demikian halnya penggal jalan desa Pasirpanjang sepanjang 225 meter. Selain itu dua buah jembatan pun hilang terbawa aliran lumpur.

Bencana longsor Pasirpanjang terjadi pada Rabu 22 Februari 2018 TU sekitar pukul 08:45 WIB. Longsor datang dari lereng Bukit Tamiang, area yang sesungguhnya tertutupi rimba belantara berkualitas baik dan tidak mengalami pembalakan. Longsor terjadi di pagi hari yang terang tanpa ada hujan. Akan tetapi sehari sebelumnya hujan deras mengguyur seharian. Guyuran hujan deras juga terjadi di sore hari pascalongsor. Kombinasi hujan ini menginisiasi banjir besar di bagian dataran rendah Brebes sejak 23 Februari 2018 TU. Guyuran hujan deras juga terjadi pada beberapa hari sebelumnya, juga memproduksi airbah yang menenggelamkan bagian dataran rendah Brebes mulai 12 Februari 2018 TU.

Peta lokasi longsor:

Permukaan Bukit Tamiang dan Bukit Lio di sebelah timurnya tersusun oleh tanah hasil pelapukan berupa lempung berpasir. Tanah ini bersifat sarang (porous) sehingga sangat mudah menyerap air. Ia cukup tebal hingga mencapai 5 meter. Di bawahnya terdapat batuan sedimen napal, yakni batu lempung yang mengandung karbonat cukup banyak. Berbeda dengan tanah permukaan, batuan napal ini bersifat kedap air. Bukit-bukit tersebut juga dikenal berlereng curam. Sisi Bukit Tamiang yang mengalami longsor memiliki kemiringan mulai 35º di bagian bawah hingga lebih dari 45º di bagian atas. Lereng curam dengan tanah permukaan yang sarang dan batuan kedap air dibawanya inilah yang menjadi faktor-faktor penyebab longsor.

Longsor dan Potensi Longsor

Gambar 2. Panorama mahkota longsor Pasirpanjang diabadikan dari udara dengan pesawat udara nir awak (PUNA) milik PVMBG. Nampak jelas longsr terjadi di kawasan yang masih tertutupi vegetasi baik. Terlihat pula aliran Kali Pangurudan, sungai yang berperan dalam bencana longsor ini. Sumber: PVMBG, 2018.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyimpulkan, saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan ini secara berturut-turut, tanah Bukit Tamiang menyerap air dalam jumlah cukup besar hingga jenuh. Bobot massa tanah pun bertambah. Di kaki bukit, penjenuhan menyebabkan kekuatan penahan tanah berkurang. Pada saat yang sama, air yang diserap terakumulasi cukup banyak pada kontak antara dasar tanah permukaan dengan batuan napal. Eksistensi air di sini menjadi mirip oli, melumasi bagian atas batuan napal. Bidang gelincir pun terbentuk. Maka gugur lumpur bertipe aliran pun terjadilah, diinisiasi dari melorotnya bagian kaki bukit. Begitu terjadi maka bagian atasnya pun turut tertarik. Lumpur pun mengalir menyusuri lembah Kali Pangurudan, sebelum kemudian menyebar di kaki bukit laksana kipas.

Secara keseluruhan, mulai dari mahkota longsor hingga ujung lidahnya, tanah longsor ini memiliki panjang 2,3 kilometer. Ia menutupi lahan seluas 23,6 hektar, terdiri dari aliran sungai, hutan produksi, jalan dan areal persawahan. Mahkota longsor terletak di ketinggian 660 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Sementara ujung lidah longsor pada ketinggian 350 meter dpl.

Gambar 3. Foto-foto retakan tanah (atas) dan perosotan tanah/nendatan (bawah) yang membelah jalan raya Salem-Banjarharjo di pinggang Bukit Lio, sejarak 800 meter sebelah timur mahkota longsor Pasirpanjang. Analisis PVMBG memperlihatkan area ini berpotensi berkembang menjadi mahkota longsor susulan yang tak kalah besar dibanding longsor Pasirpanjang 22 Februari 2018. Sumber: PVMBG, 2018.

Apa yang mencemaskan dari gugur lumpur Pasirpanjang ini adalah potensinya untuk terulang lagi. Tanda-tanda fisiknya sudah nampak jelas. Sejarak 800 meter di sebelah timur mahkota longsor ini, tepatnya pada penggal jalan raya Salem-Banjarharjo yang menempati pinggang Bukit Lio, dijumpai retakan-retakan tanah yang membelah aspal. Juga perosotan tanah atau nendatan (slump). Bagian ini kelak mungkin akan menjadi komponen mahkota longsor.

Analisis memperlihatkan bilamana nendatan dan retakan ini berkembang menjadi gugur lumpur, maka ia bisa mengalir sejauh tak kurang dari 2 kilometer. Aliran tersebut bakar menyusuri lembah sebuah sungai kecil, mirip dengan apa yang terjadi dalam bencana longsor Pasirpanjang kali ini. Di kaki bukit, ia pun akan meluber dengan bentangan laksana kipas. Apa yang harus dicermati dari analisis ini adalah bahwa di kaki bukit terdapat pemukiman yang membentuk kampung Jojogan. Kampung ini adalah salah satu kampung di desa Pasirpanjang.

Peta potensi longsor susulan:

Selain harus merelokasi jalan raya Salem-Banjarharjo dan jalan desa Pasirpanjang yang terputus serta lahan persawahan yang terkubur, potensi terancamnya kampung Jojogan juga perlu dicari solusinya. Opsi relokasi menjadi salah satu pilihan. Agar bilamana longsor di titik yang telah diprakirakan itu benar-benar terjadi, korban tak lagi berjatuhan.

Referensi :

PVMBG. 2018. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 22 Februari 2018. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 22 Februari 2018. Diakses 28 Februari 2018.

PVMBG. 2018. Laporan Sementara Pemeriksaan Gerakan Tanah di Desa Pasirpanjang Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 26 Februari 2018. Diakses 28 Februari 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s