Elegi Tebing Breksi, Letusan Sedahsyat Toba dan Gerhana Bulan Apogean

Salah satu lokasi pengamatan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Taman Tebing Breksi, yang diselenggarakan oleh Jogja Astro Club (JAC), klub astronomi tertua di kota Yogyakarta. Taman Tebing Breksi bertempat di desa Sambirejo, kec. Prambanan, Kab. Sleman (DIY). Ini adalah sebuah obyek wisata baru nan khas, bekas area penambangan bahan galian C yang ditutup pada 2014 TU (Tarikh Umum) silam. Lantas dinding-dinding batu tegak yang masih tersisa didekorasi dengan aneka pahatan berseni. Kedekatan lokasinya dengan obyek wisata yang telah lebih dulu ada dan populer seperti kompleks Candi Prambanan dan kompleks Candi Ratu Boko menjadikan Taman Tebing Breksi cepat populer. Terlebih setelah pesohor seperti mantan Presiden Barrack Obama mengunjunginya tepat setahun lalu.

Gambar 1. Panorama Taman Tebing Breksi, obyek wisata baru yang berlokasi tak jauh dari Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko yang tersohor. Meski menyandang nama breksi, sejatinya tak dijumpai batuan breksi di sini. Melainkan tuf, debu vulkanik produk letusan gunung berapi masa silam yang telah terpadatkan demikian rupa hingga mengeras dan membatu. Sumber: Detik.com/Bagus Kurniawan, 2016.

Nama Tebing Breksi yang melekat pada obyek wisata baru ini sesungguhnya tidaklah tepat menurut perspektif ilmu kebumian. Breksi adalah batuan sedimen yang mengandung fragmen/bongkah yang kasar dan sisinya relatif tajam/menyudut. Jika fragmen/bongkahnya relatif membulat, maka namanya berubah menjadi lebih megah dan populer. Yakni Konglomerat. Kata yang sering dinisbatkan kepada sosok-sosok yang dalam istilah milenial disebut horang-horang kayah rayah.

Breksi bisa dijumpai sebagai hasil aktivitas pengendapan di dasar laut. Bisa juga breksi tersebar di sekeliling sebuah gunung berapi sebagai produk aktivitasnya. Dapat pula breksi terbentuk akibat aktivitas tumbukan benda langit, yakni saat komet atau asteroid menghantam paras Bumi dengan dahsyatnya dan mengubah banyak hal pada batuan yang ditumbuknya. Breksi produk aktivitas terakhir itu dikenal sebagai suevit atau breksi tumbukan.

Namun breksi tidaklah ada di Taman Tebing Breksi, sejauh mata memandang dan sejauh tangan mampu menggali. Dinding-dinding batuan tegak yang kini berhias aneka rupa itu sejatinya dikenal sebagai Tuf. Ya tuf, tumpukan debu vulkanik yang telah membatu demikian rupa. Berbeda dengan breksi yang bisa berasal dari berbagai sumber, tuf jelas merupakan produk aktivitas gunung berapi.

Tuf yang tersingkap di Taman Tebing Breksi merupakan bagian dari apa yang dalam ilmu kebumian dikenal sebagai formasi Semilir. Ini adalah satuan batuan yang dijumpai membentang dalam area yang sangat luas di bagian selatan pulau Jawa, yakni hingga mencapai luasan 800 km2. Tuf ini tersebar mulai dari Yogyakarta di sebelah barat hingga Pacitan di sebelah timur. Dengan ketebalan antara 250 meter hingga 1.200 meter, maka volume tuf Semilir mencapai sedikitnya 480 km3.

Gambar 2. Sebaran dan ketebalan tuf Semilir di bagian selatan pulau Jawa. Tuf yang diendapkan dalam tempo singkat itu kini tersebar di tiga propinsi yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Berdasarkan ketiadaan jejak-jejak erosi dan aktivitas binatang purba didalamnya, tuf Semilir diindikasikan terbentuk oleh pengendapan material letusan gunung berapi dalam tempo cukup singkat bagi skala waktu geologi. Tidak perlu menunggu ribuan hingga berjuta-juta tahun seperti umumnya batuan endapan dalam sebuah formasi. Maka tuf Semilir merupakan produk letusan tunggal, sebuah letusan yang sangat dahsyat.

Mari bayangkan berkelana ke masa silam, anggaplah kita bisa menumpang mesin waktunya Doraemon. Putar waktu kembali ke zaman 20 juta tahun silam, kembali ke kala Oligo-Miosen dalam skala waktu geologi. Pulau Jawa sudah terbentuk meski wajahnya belumlah seperti sekarang. Jawa bagian selatan masih terbenam di bawah air laut. Di sini terdapat untaian pulau-pulau kecil berbaris, yang sejatinya adalah puncak-puncak gunung berapi aktif yang tumbuh dari dasar laut. Mereka menjadi bagian dari apa yang disebut busur vulkanik Jawa tua, yang tumbuh dan aktif sejak 45 juta tahun silam.

Salah satu pulau itu adalah, sebut saja, pulau Semilir. Pada 20 juta tahun silam itu ia meletus, mengamuk teramat dahsyat. Seberapa dahsyat? Bagi kita di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya, Letusan Merapi 2010 selalu dikenang sebagai letusan terdahsyat saat ini. Gunung Merapi memuntahkan tak kurang dari 150 juta m3 magma saat itu. Ada juga Letusan Kelud 2014 meski tingkat kedahsyatannya sedikit di bawah Gunung Merapi, yakni dengan muntahan magma segar 105 juta m3. Namun dibandingkan letusan Semilir 20 juta tahun silam, Merapi dan Kelud adalah ibarat amuba yang bersanding dengan gajah.

Gambar 3. Jam-jam pertama Letusan Toba Muda 74.000 silam, dalam sebuah ilustrasi. Gas dan debu vulkanik disemburkan dahsyat hingga menjangkau ketinggian 70 kilometer. Gambaran situasi yang mirip juga dijumpai pada Letusan Semilir 20 juta tahun silam. Sumber: Anynobody, 2009 dalam Wikipedia, 2009.

Letusan Semilir 20 juta tahun silam memuntahkan tak kurang dari 480 milyar m3 atau 480 km3 magma padat setara batuan. Jika dianggap komposisinya mirip dengan magma Tambora, kalikan angka tersebut dengan 6. Akan kita dapatkan volume magma Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu mencapai tak kurang dari 2.800 km3 magma! Bila anda pernah mendengar kisah horor dahsyatnya letusan Gunung Toba yang kini menjadi Danau Toba, ya seperti itulah gambarannya. Letusan Gunung Toba terjadi pada 74.000 tahun silam, yang disebut sebagai Letusan Toba Muda. Letusan yang menggelapkan tanah Sumatera dan Semenanjung Malaya serta mencekik dunia. Volume magma yang dierupsikan dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu 18.000 kali lipat lebih melimpah ketimbang amukan Gunung Merapi 2010 TU silam.

Seperti halnya kisah yang terjadi dalam letusan-letusan sangat besar gunung berapi, Letusan Semilir 20 juta tahun silam jelas menebarkan dampaknya ke segenap sudut paras Bumi. Tebaran debu vulkaniknya yang teramat banyak mungkin membedaki kawasan sekitarnya hingga radius 2.500 kilometer dari gunung. Namun debu vulkanik yang lebih halus tersembur tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer bersama dengan gas SO2 yang sontak bereaksi dengan uap air membentuk butir-butir sulfat (H2SO4).

Terbentuklah tabir surya vulkanis di ketinggian lapisan stratosfer, yang efektif memblokir sinar Matahari sehingga paras Bumi dibikin remang-remang. Maka reaksi berantai pun terjadilah. Tumbuh-tumbuhan tak bisa menyelenggarakan fotosintesis sehingga mulau bermatian. Hewan-hewan herbivora pun kelaparan dan bertumbangan. Disusul hewan-hewan karnivora hingga ke puncak jaring-jaring makanan. Kematian besar-besaran diduga terjadi pada saat itu, meski seberapa besar tingkatannya masih belum bisa kita ketahui.

Gambar 4. Estimasi dampak sebaran debu vulkanik dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam, dengan mengacu pada dampak Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam yang telah lebih diketahui. Bentuk kepulauan Indonesia adalah berdasarkan rekonstruksi untuk 20 juta tahun silam. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Pergerakan tektonik menyebabkan bagian selatan pulau Jawa terangkat menjadi daratan. Sementara lempeng tektonik Australia terus mendesak ke utara sembari bersubduksi. Rangkaian proses inilah yang menyebabkan formasi Semilir terbentuk lantas terangkat dan menjadi jajaran perbukitan yang sebagian diantaranya menghiasi sisi timur Yogyakarta. Ilmu kebumian menyebutnya sebagai zona Baturagung. Dimana lokasi gunung berapi purba yang meletus demikian dahsyat itu? Ada beragam pendapat, misalnya yang menyebutkan pusat letusan ada di dalam area zona Baturagung yang terletak di antara Kab. Klaten dan Kab. Gunungkidul. Ada juga yang beropini pusat letusan sangat dahsyat itu kini menjadi cekungan Baturetno, cekungan besar bekas danau purba yang sebagian digenangi air sebagai Waduk Gajahmungkur, Kab. Wonogiri.

Raungan

Untuk apa membicarakan gunung berapi pada saat Gerhana Bulan?

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 merupakan Gerhana Bulan Apogean, karena terjadi hanya berselang 14 jam setelah Bulan mencapai titik apogee-nya. Gerhana Bulan ini akan dimulai pada pukul 00:15 WIB (kontak awal penumbra atau P1) dan berakhir pada pukul 06:28 WIB (kontak akhir penumbra atau P4). Sehingga durasinya 6 jam 14 menit. Akan tetapi bagian gerhana yang kasatmata hanyalah berdurasi 3 jam 55 menit. Yakni mulai dari pukul 01:24 WIB (kontak awal umbra atau U1) hingga pukul 05:19 WIB (kontak akhir umbra atau U4).

Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit dengan puncak gerhana dicapai pada pukul 03:22 WIB. Karena Bulan baru saja meninggalkan titik apogee dengan jarak Bumi – Bulan saat itu masih sebesar 406.100 kilometer, maka kecepatan orbital Bulan masih lambat. Ditunjang dengan lintasan Bulan yang tep@at hampir bersentuhan dengan pusat lingkaran umbra, maka inilah yang menjadikan Gerhana Bulan Total ini sebagai Gerhana Bulan dengan durasi totalitas terpanjang untuk abad ke-21 TU.

Gambar 5. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Manakala gerhana Bulan terjadi, saksikanlah saat-saat sebelum umbra Bumi mulai menyelimuti paras Bulan. Nampak bundaran Bulan nan cemerlang di langit malam. Pada wajahnya ada bagian yang nampak lebih cerah, juga ada yang lebih gelap. Bagian-bagian yang gelap itu disebut mare (jamaknya maria), istilah Bahasa Latin untuk laut. Sebab para astronom jaman dulu, termasuk diantaranya Galileo Galilei, menganggap bagian itu adalah laut di paras Bulan. Namun di kemudian hari anggapan itu terbantahkan. Terlebih setelah eksplorasi Bulan menjadi salah satu bagian dalam khasanah penerbangan antariksa. Bulan ternyata kering kerontang.

Maria merupakan dataran rendah Bulan, khususnya cekungan raksasa (basin) yang terbentuk oleh sebab tertentu bermilyar tahun silam. Di kemudian hari ia digenangi oleh lava Bulan secara berangsur-angsur, produk muntahan magma gunung-gemunung berapi Bulan secara kontinu di masa silam. Magmanya relatif encer, tidak seperti magma Merapi yang lebih kental atau bahkan magma Semilir yang (mungkin) sangat kental. Gunung gemunung berapi Bulan saat itu mungkin seperti gunung berapi di Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat) atau di kawasan Hijaz (Saudi Arabia) pada masa kini. Magmanya cair encer sehingga melebar menutupi area yang sangat luas dalam letusan yang dikenal sebagai erupsi efusif (leleran). Namun tak menutup kemungkinan bahwa gunung-gemunung berapi Bulan untuk meletus eksplosif. Layaknya Letusan Merapi 2010 atau bahkan Letusan Semilir 20 juta tahun silam.

Gambar 6. Wajah Bulan dengan tebaran nama-nama mare yang bertebaran diparasnya. Awalnya dikira laut, eksplorasi Bulan memperlihatkan mare adalah cekungan besar yang terisi material vulkanik produk aktivitas gunung-gemunung berapi Bulan yang aktif jauh di masa silam, bermilyar tahun yang lalu. Sumber : Sudibyo, 2018.

Jadi, kala kita menatap wajah Bulan dari tempat seperti Taman Tebing Breksi, kita bisa belajar bahwa kekuatan yang membentuk Taman Tebing Breksi ini sejatinya juga pernah bekerja di Bulan. Dan juga bagian lain tata surya kita. Vulkanisme atau aktivitas kegunungberapian sejatinya berlandaskan pada prinsip yang sangat sederhana, yakni pelepasan panas. Tatkala kita menyeduh secangkir kopi pada saat ini, kopi perlahan-lahan akan mendingin karena melepaskan panasnya ke lingkungan sekitarnya. Termasuk ke udara. Vulkanisme pun demikian. Manakala benda langit, baik planet maupun satelit alamiahnya, memiliki kandungan panas yang cukup besar dalam interiornya, maka panas itu perlahan-lahan akan dilepaskan ke lingkungan sekitar melalui berbagai cara. Salah satunya adalah vulkanisme.

Maka tak heran jika di Bulan kita menemukan jejak-jejak aktivitas gunung berapi. Demikian halnya di planet Venus dan Mars. Meski di ketiga benda langit tersebut aktivitas vulkanisme masakini nyaris tidak ada karena proses pelepasan panas interior nampaknya sudah kurang intensif. Di lingkungan planet Jupiter, bahkan dijumpai aktivitas vulkanisme aktif yang jauh lebih ganas ketimbang yang kita alami di Bumi. Yakni di Io, salah satu satelit alamiah dari planet gas raksasa itu. Bahkan hingga ke tempat yang demikian jauh, dingin dan ganjil seperti lingkungan planet Neptunus pun dijumpai aktivitas vulkanisme. Yakni di Triton, satelit alamiah terbesar dari planet yang berjarak terjauh terhadap Matahari.

Jadi, tatkala kita berada di Taman Tebing Breksi dan menatap Rembulan, mari bayangkan bahwa raungan vulkanik yang pernah membentuk tempat ini pada 20 juta tahun silam juga pernah bergema di keluasan langit, dalam sudut-sudut tata surya kita. Mulai dari Bulan sang pengawal setia Bumi kita, lalu Venus yang udaranya panas membara hingga ke lingkungan Neptunus yang demikian mengigil membekukan.

Referensi :

Smyth dkk. 2011. A Toba-scale Eruption in the Early Miocene: The Semilir Eruption, East Java, Indonesia. Lithos no. 126(3) October 2011, halaman198-211.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s