Kupas-Hoax: Isu Tsunami Kebumen 18 Desember 2018 dan Tiada Kuasa Ramalan Gempa

Dalam dua bulan terakhir beredar isu lokal yang meresahkan penduduk pesisir di Kabupaten Kebumen. Isu tersebut mengklaim bakal terjadinya bencana gempa bumi besar disertai tsunami pada Selasa 18 Desember 2018 TU. Dengan membaca semesta yang menjadi bagian ayat–ayat-Nya melalui perkembangan ilmu pengetahuan terkait, isu tersebut dapat dipastikan merupakan hoaks. Atau kabar–bohong yang tak punya dasar.

Kabar bakal terjadinya gempa bumi besar disertai tsunami yang bakal melimbur pesisir Kabupaten Kebumen merebak pasca peristiwa bencana Gempa Donggala–Palu 28 September 2018 (magnitudo 7,5) silam. Bencana yang meluluhlantakkan Kota Palu itu mengejutkan publik Indonesia. Walaupun catatan sejarah menunjukkan sesungguhnya negeri ini mengalami kejadian tsunami merusak yang merenggut korban jiwa setiap tujuh tahun sekali (rata–rata).

Gempa Donggala–Palu 2018 menewaskan tak kurang dari 5.000 orang. Seperlima diantara korban jiwa tersebut meregang nyawa seiring terjangan tsunami lokal unik ke pesisir kota Palu yang berpenduduk padat. Tsunami Palu bersifat lokal, karena hanya signifikan di dalam lingkungan Teluk Palu semata dan melemah saat memasuki perairan Selat Makassar. Riset pascabencana memperlihatkan tsunami ini unik karena diproduksi beraneka titik longsor dasar laut dan disokong juga oleh terjadinya amblesan (deformasi) sebagian dasar Teluk Palu.

Gambar 1. Suasana rapat koordinasi rencana kontijensi tsunami yang diselenggarakan BPBD Kebumen pada 16 Oktober 2018 TU. Sumber: BPBD Kebumen, 2018.

Bencana tsunami Palu menyentak kesadaran banyak pihak, baik lembaga–lembaga terkait penanggulangan bencana hingga pegiat alam bebas. Termasuk di Kabupaten Kebumen. Maka pada Selasa 16 Oktober 2018 TU lalu BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kebumen menggelar Rapat Koordinasi Rencana Kontijensi Tsunami. Rapat digelar di Hotel Candisari Karanganyar Kebumen, yang melibatkan para pihak terkait. Selain me–review bencana tsunami Palu secara umum, rapat juga juga mengingatkan kembali akan langkah–langkah mitigasi bencana tsunami yang telah disusun bagi Kabupaten Kebumen.

Namun jagatmaya, melalui aneka media sosialnya, justru beredar klaim tak berkeruncingan yang menyatakan rapat koordinasi itu ‘meramalkan’ bakal terjadi sesuatu pada 18 Desember 2018 TU. Laksana menuangkan bensin ke bara, klaim sesat ini pun menyebar kemana–mana dan meresahkan banyak pihak. Meskipun BPBD Kebumen dan juga BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) belakangan menegaskan bahwa klaim itu tidaklah benar dan terkategori hoaks.

Dimana Sesar Lasem?

Mengapa terkategori hoaks alias kabar-bohong? Ada sejumlah alasan.

Pertama, hoaks itu mencatut nama sesar (patahan) Lasem. Padahal apabila mengacu buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 hasil jerih payah Pusgen (Pusat Studi Gempabumi Nasional) Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sesar Lasem adalah nama bagi sebuah sesar aktif di kawasan Semenanjung Muria di pesisir utara Jawa Tengah. Sesar aktif sepanjang sepanjang 70 kilometer ini membentang mulai dari sisi selatan kota Demak hingga kota Rembang. Sesar aktif ini yang juga dinamakan sesar Pati ini bersifat sesar geser (strike-slip) dengan kecepatan pergeseran 0,1 mm/tahun.

Gambar 2. Hoaks yang beredar.

Jadi sesar Lasem tidak bertempat di Jawa Tengah bagian selatan. Sehingga mustahil mengaitkannya dengan dinamika seismik di Kabupaten Kebumen. Dan yang terpenting, sebaggai sesar darat (yakni sesar aktif yang berada di daratan) adalah mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi tsunami pada saat ia meletupkan gempa bumi. Ilmu kegempaan (seismologi) mengajarkan, tsunami hanya bisa terjadi manakala sumber sebuah gempa tektonik ada di laut / perairan besar, baik sebagian besar maupun seluruhnya. Luasan sumber itu sendiri harus cukup luas sehingga mampu mengangkat / mengambleskan bagian dasar laut / perairan besar yang persis ada diatasnya dalam derajat kenaikan / pengamblesan yang signifikan.

Yang kedua, hoaks itu mengklaim gempa bermagnitudo 8,2 bakal meletup dari sesar Lasem. Padahal dengan panjang ‘hanya’ 70 km, sesar Lasem hanya bisa berpotensi membangkitkan gempa bumi tektonik masa depan pada magnitudo maksimum 6,5 saja. Karena besarnya magnitudo gempa berbanding lurus dengan panjang sesar sumber gempanya. Sehingga mustahil bagi sesar Lasem untuk bisa memproduksi gempa bumi dengan tingkat energi 54 kali lipat lebih tinggi ketimbang yang bisa dihasilkannya dengan mengacu pada panjang sesar. Angka magnitudo 8,2 tersebut, jika dikaji lebih lanjut, sejatinya merupakan angka maksimum bagi gempa bumi hipotetik di zona subduksi lepas pantai selatan Jawa Tengah yang diajukan Widjo Kongko (2010) guna mengevaluasi resiko tsunami di pesisir Kabupaten Cilacap.

Tidak ada Ramalan Gempa

Dan yang ketiga, hoaks itu meramal kejadian gempa bumi pada waktu yang sangat spesifik. Sementara seismologi modern, seperti berulang-ulang dijelaskan BMKG pada hoaks yang mirip, menjelaskan setiap bentuk kuasa ramalan bakal terjadinya peristiwa gempa bumi di satu lokasi pada tanggal tertentu adalah hoaks. Sebab seismologi sejauh ini belum mencapai taraf setingkat itu.

Gambar 3. Peta sebagian sesar darat aktif di Pulau Jawa khususnya di pantura Jawa Tengah. Hampir seluruhnya merupakan bagian dari zona sesar Baribis-Kendeng, sesar aktif yang baru diidentifikasi pada 2016 TU silam.. Sesar Lasem ditandai dengan huruf L. Sesar Lasem (sesar Pati) bukanlah bagian zona sesar Baribis-Kendeng. Sumber: Pusgen, 2017 dengan penambahan seperlunya.

Secara ilmiah prakiraan gempa bumi baru bisa diterima apabila ketiga komponen berikut terpenuhi semua :

  • telah diketahui lokasi gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui besarnya magnitudo gempa bumi yang bakal terjadi,
  • telah diketahui kapan gempa bumi yang bakal terjadi.

Seismologi modern sudan sanggup memenuhi dua dari tiga komponen tersebut. Misalnya di Indonesia, dengan melihat sejarah kegempaan dan memetakan pergerakan titik-titik kerak bumi di negeri ini lewat radas (instrumen) GPS khusus, maka lokasi mana yang berpotensi mengalami gempa bumi di masa depan dan besarnya magnitudo maksimum gempa tersebut dapat diketahui.

Misalnya dalam kasus sesar Lasem di atas. Dengan radas-radas GPS dapat diketahui sesar tersebut adalah sesar aktif sehingga bisa memproduksi gempa bumi tektonik di masa yang akan datang. Dan dengan mengombinasikan kecepatan pergerakan 0,1 mm / tahun serta panjang sesar, dapat diketahui sesar Lasem berkemampuan memproduksi gempa bumi dengan magnitudo maksimum 6,5. Namun kapan sesar Lasem benar-benar akan meletupkan gempa bumi tersebut, belum diketahui secara spesifik. Seismologi modern memang pernah berupaya mengetahui hal ini. Akan tetapi ternyata terlalu kompleks sehingga mayoritas ahli kegempaan kini telah meninggalkan upaya-upaya peramalan waktu kejadian gempa. Hanya China yang masih mencoba bertahan mencari jawab tentangnya.

Sepanjang sejarah seismologi hanya ada satu cerita sukses terkait peramalan gempa bumi, yakni dalam kejadian Gempa Haicheng 4 Februari 1975 (magnitudo 7,5) di kota Haicheng, propinsi Liaoning, China. Peramalan gempa dalam kasus ini dianggap sukses karena sejutan orang berhasil dievakuasi dari kota pada waktu yang tepat. Sehingga kala gempa besar mengguncang dan meremukkan 27.000 bangunan, korban jiwa yang berjatuhan ‘hanya’ 2.000 orang. Jika evakuasi tak dilakukan, korban jiwa diprakirakan bisa mencapai angka 150.000 orang.

Namun begitu setahun kemudian China dibuat tak berdaya dalam peristiwa Gempa ganda Tangshan 28 Juli 1976 (magnitudo 7,6 dan 7,0) di propinsi Hebei. Hanya berjarak 400 km dari Haicheng, gempa mengguncang kota Tangshan di sisi timur ibukota Beijing tanpa peringatan apapun. Sebanyak 85 % bangunan di kota tersebut hancur lebur dan rusak berat, tidak bisa digunakan lagi. Korban jiwa yang jatuh mencapai hampir 700.000 orang. Menjadikannya salah satu bencana gempa bumi yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

Jadi, hingga saat ini belum ada kisah sukses peramalan gempa bumi kecuali dalam kejadian Haicheng. Maka pola umumnya belum ada. Sehingga segala bentuk klaim ramalan gempa terkategori sebagai hoaks.

Referensi:

PusGen. 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kongko & Schlurmann. 2010. The Java Tsunami Model: Using highly-resolved data to model the past event and to estimate the future hazard. Coastal engineering proceedings, January 2010.

3 respons untuk ‘Kupas-Hoax: Isu Tsunami Kebumen 18 Desember 2018 dan Tiada Kuasa Ramalan Gempa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s