Gempa Luwuk 12 April 2019, Gempa Bumi Laut Tanpa Tsunami

Gambar 1. Beberapa dari sesar aktif di daratan pulau Sulawesi yang telah diidentifikasi dalam Peta Sesar Aktif Indonesia 2017. Nampak posisi sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 dan sesar Peleng. Sumber: Kemen PUPR, 2017.


Sebuah gempa tektonik kuat kembali mengguncang pulau Sulawesi pada Jumat 12 April 2019 ini. Gempa meletup pada di dasar Laut Banda di sisi selatan Pulau Peleng pada pukul 19:40 WITA. Rilis pendahuluan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mencatat gempa ini merupakan gempa kuat (magnitudo 6,9) dengan sumber sangat dangkal (kedalaman sumber 10 km). Karena kota Luwuk menjadi kota terdekat dengan sumber gempa, maka gempa ini dinamakan Gempa Luwuk 12 April 2019.

Besarnya magnitudo gempa dan demikian dangkal sumbernya menyebabkan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) segera aktif. Maka status Waspada (kode kuning) pun terbit untuk sebagian pesisir timur pulau Sulawesi yang menghadap Laut Banda, khususnya yang bertatapan langsung dengan sumber gempa. Dalam status Waspada semacam ini pemodelan matematis InaTEWS memperlihatkan gempa bumi tersebut berpotensi menghasilkan tsunami kecil setinggi maksimum 50 cm.

Status Waspada dicabut sejam pascagempa, setelah pemantauan paras air laut berdasarkan marigram dari stasiun-stasiun pasangsurut BIG (Badan Informasi Geospasial) di pelabuhan-pelabuhan terdekat dengan sumber gempa seperti Luwuk dan Kendari. Marigram itu tidak memperlihatkan tanda-tanda khas tsunami. Tiadanya tsunami dari gempa bumi ini juga ditunjang hasil analisis mekanisme fokus sumber gempanya. Mekanisme fokus sangat penting guna menentukan apakah sebuah gempa bumi tektonik dengan sumber di dasar laut bisa menghasilkan tsunami ataukah tidak.

Mekanisme fokus Gempa Luwuk 12 April 2019 merupakan produk pematahan mendatar (strike-slip) ke arah timur laut. Sebaliknya tsunami hanya bisa terjadi apabila sumber gempa dasar lautnya merupakan pematahan naik (thrust) maupun turun (normal). Disini harus digarisbawahi bahwa produk mekanisme fokus sebuah gempa bumi hanya bisa diperoleh dalam beberapa belas menit pascagempa. Yakni kala data dari beragam seismometer pada berbagai jejaring mulai masuk dan dianalisis. Disisi lain, apabila gempa ini betul-betul memproduksi tsunami, maka waktu yang tersedia bagi penduduk pesisir timur pulau Sulawesi hanya beberapa belas menit sebelum gelombang pertama datang menerjang.

Ketimbang potensi tsunaminya, sesungguhnya potensi dampak yang lebih besar dari gempa bumi ini terletak pada getaran tanah yang diakibatkannya. Badan Geologi Amerika Serikat atau USGS (United States Geological Survey) memiliki program evaluasi cepat dampak getaran gempa bumi global yang disebut PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquake for Response). PAGER dirancang untuk membantu para pengambil keputusan penanganan pasca bencana agar bisa menentukan tingkat keparahan yang berkemungkinan terjadi akibat guncangan gempa dengan mengacu pada besarnya intensitas getaran tanah pada kawasan tertentu.

Menurut rilis pendahuluan USGS PAGER, getaran Gempa Luwuk 12 April 2019 dirasakan oleh 17,4 juta jiwa penduduk pulau Sulawesi. Dari jumlah tersebut sebanyak 17,1 juta jiwa merasakan getaran yang lemah (dengan intensitas hingga 4 MMI). Sementara 230 ribu jiwa lainnya merasakan getaran sedang (intensitas 5 MMI). Dan 140 ribu jiwa menderita getaran kuat (intensitas 6 MMI). USGS PAGER juga memprakirakan terdapat korban jiwa akibat guncangan gempa ini, yakni di antara 1 – 10 orang (pada probabilitas 95 %). Sedangkan potensi kerugian material diperkirakan berada pada angka 1 hingga 10 juta dollar (probabilitas 95 %).

Jika mengacu pada peta sesar aktif Indonesia 2017, sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 berasal dari lokasi dengan sesar yang belum terpetakan. Namun di sisi utara sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 ini, tepatnya di daratan Pulau Peleng, terdapat sejumlah sesar darat yang aktif dan telah teridentifikasi. Salah satu diantaranya adalah sesar Peleng, sesar sepanjang 44 km dengan orientasi baratdaya – timurlaut dan merupakan sesar mendatar. Andaikata sesar ini diperpanjang ke selatan menyusuri dasar laut, maka posisi sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 akan tepat berimpit dengannya.

Sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 dan sesar Peleng merupakan satu dari sekian banyak torehan sesar aktif pada kerak bumi pulau Sulawesi. Mereka terpahat sebagai akibat dari proses pembentukan pulau Sulawesi yang unik dan sangat kompleks. Pulau besar yang bentuknya menyerupai huruf K ini dibentuk oleh desak-mendesak antara empat lempeng tektonik sekaligus. Masing-masing mikrolempeng Sunda (bagian dari lempeng Eurasia yang besar), mikrolempeng Maluku, mikrolempeng Laut Banda dan mikrolempeng Kepala Burung Irian. Interaksi mereka menyebabkan pulau Sulawesi sangat menarik dan sangat kaya akan mineral bahan tambang. Namun di sisi lain pulau ini juga dianugerahi oleh sesar-sesar aktif sumber potensial gempa bumi tektonik. Baik di darat maupun di dasar laut. Potensi ini tak perlu ditakuti. Sebaliknya kita umat manusia yang harus mempelajarinya dan menyesuaikan diri dengannya. Menyesuaikan diri dengan alam yang terus berproses selama jutaan tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s