Meteor Pasuruan, Antara Video Hoax dan Asal Usul

Tepat kala shalat tarawih hari pertama Ramadhan 1440 H di Indonesia dilaksanakan, sesuatu mengerjap di langit kota Pasuruan (Jawa Timur). Sebuah benda langit yang sangat terang melintas cepat dari arah selatan menuju utara, yang meberi kesan sebagai bintang jatuh atau meteor. Citra (foto) dan video tentangnya pun segera menyebar kemana-mana sebagai bagian kekuatan media sosial. Sebagian beranggapan benda langit tersebut adalah meteor yang menjadi bagian hujan meteor periodik eta Aquarids yang adalah remah-remah komet Halley nan legendaris.

Video Hoax

Saya menerima video fenomena langit Pasuruan berselang sehari kemudian dan segera menyadari itu bukanlah rekaman fenomena meteor yang melintas di langit kota Pasuruan.

Video berdurasi singkat dan nampaknya direkam lewat telepon seluler itu memang menampakkan sebuah benda langit kehijauan yang sangat terang, seakan berekor dan melintas cepat. Itu memberikan kesan sebuah meteor terang (fireball). Akan tetapi di awal dan akhir video tersebut terlihat sumber cahaya lain tak kalah terangnya. Sumber cahaya di awal video dapat diidentifikasi sebagai lampu jalan yang memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Sementara sumber cahaya di akhir video memberikan kesan memancarkan cahaya putih, serupa dengan cahaya sang meteor yang melintas di atas tutupan awan. Kesan ini mengindikasikan sumber cahaya putih tersebut juga cukup tinggi, jauh melampaui ketinggian awan dan besar kemungkinannya berasal dari benda langit. Berdasarkan pengalaman, hanya ada satu benda langit yang cukup terang di langit malam yang menyajikan kesan seperti jika direkam dengan telepon seluler, yakni Bulan.

Disinilah persoalannya. Fenomena di langit Pasuruan terjadi pada Minggu malam 5 Mei 2019 TU (Tarikh Umum). Di sore harinya, Indonesia menggelar rukyatul hilaal guna menentukan 1 Ramadhan 1440 H. Perhitungan astronomi menunjukkan bagi kawasan pulau Jawa, pada saat itu Bulan sudah terbenam dalam tempo 25 menit pasca terbenamnya Matahari. Sebaliknya video menunjukkan Bulan dalam kedudukan cukup tinggi. Sehingga mustahil video tersebut direkam pada 5 Mei 2019 TU malam.

Berikutnya, kesan lain dari ketampakan Bulan dalam video tersebut adalah cahayanya cukup terang. Ini menandakan pada saat meteor terang itu melintas, Bulan sedang memiliki fase cukup besar. Lebih spesifik lagi, fase Bulan yang terekam dalam video ini berada di antara kuartir pertama hingga kuartir ketiga, termasuk didalamnya fase Bulan purnama. Jika dikorelasikan ke dalam kalender Hijriyyah, maka rentang waktu tersebut terjadi di antara tanggal 8 hingga 22 bulan Hijriyyah. Sementara fenomena di langit Pasuruan terjadi pada tanggal 1 Ramadhan 1440 H. Jelas tidak pas.

Gambar 1. Hasil análisis yang menunjukkan video rekaman fenomena di langit Pasuruan adalah kabar-bohong (hoaks). Nampak lintasan meteor terang (ditandai panah) dalam dua frame berbeda beserta sumber cahaya lampu (L) dan Bulan (B). Dari analisis ini diketahui rekaman tidak dibuat pada 5 Mei 2019 TU dan tak mungkin berasal dari Pasuruan. Sumber: Sudibyo, 2019.

Yang terakhir, kedudukan Bulan yang relatif rendah dalam rekaman video mengesankan Bulan ada di langit barat (menjelang terbenam) atau di langit timur (baru terbit). Lintasan meteor terang itu ada di sebelah kanan kedudukan Bulan. Sehingga menyajikan imaji bahwa meteor terang tersebut melintas dari tenggara menuju ke barat laut (jika Bulan menjelang terbenam), atau sebaliknya dari barat laut ke tenggara (jika Bulan baru saja terbit). Lintasan ini bertolak belakang dibandingkan laporan saksi mata yang menyatakan fenomena di langit Pasuruan melintas dari selatan menuju utara.

Lewat alasan-alasan tersebut, maka saya menyimpulkan video rekaman fenomena di langit Pasuruan tergolong video kabar-bohong (hoax).

Pecahan Asteroid?

Meski video rekaman fenomena di langit Pasuruan terkategori kabar-bohong (hoax), namun belum tentu dengan peristiwanya sendiri. Jika laporan para saksi mata memang benar adanya, maka memang ada sesuatu di langit Pasuruan pada saat itu. Secara astronomis ada dua kemungkinan yang bisa menyajikan panorama tersebut, yakni fenomena benda jatuh antariksa (masuknya sampah antariksa ke atmosfer Bumi/reentry) maupun meteor.

Katalog benda jatuh antariksa terkini seperti misalnya yang dihimpun JSpOC (Joint Satellite Operations Center) di Amerika Serikat tidak mencatat adanya fenonema benda jatuh antariksa pada 5 Mei 2019 TU. Apalagi dengan orbit yang polar atau orbit berinklinasi tinggi, dua jenis orbit yang memungkinkan bagi sebuah benda langit buatan untuk menempuh lintasan relatif utara – selatan atau sebaliknya. Sehingga hanya tersisa satu kemungkinkan : fenomena di langit Pasuruan adalah meteor.

Sedikitnya informasi membuat kemungkinan untuk memprakirakan asal usul meteor tersebut menjadi terbatas. Hanya diketahui meteor tersebut datang dari arah selatan (azimuth 180º) melintas ke utara. Bilamana kita menggunakan pola umum jatuhnya meteor di Bumi, yang rata-rata memiliki kecepatan awal 20 km/detik dan ketinggian (altitud) 45º di atas horizon, maka dapat diprakirakan meteor tersebut kemungkinan merupakan pecahan kecil dari suatu asteroid.

Gambar 2. Prakiraan orbit Meteor Pasuruan di antara planet-planet terrestrial dalam tata surya kita. Orbit meteor diprakirakan berdasarkan asumsi azimuth kedatangan, altitud kedatangan dan kecepatan awal untuk 5 Mei 2019 TU pukul 19:30 WIB. Sumber : Sudibyo, 2019.

Saya melakukan analisis sederhana dengan menggunakan spreadshet “Calculation of a Meteor Orbit” karya Marco Langbroek dari Dutch Meteor Society, sesama astronom amatir. Hasilnya memperlihatkan pecahan kecil asteroid itu semula mengorbit Matahari dalam sebentuk orbit sangat lonjong. Orbit itu memiliki memiliki eksentrisitas (kelonjongan orbit) 0,62 dengan perihelion 0,96 SA (satuan astronomi), aphelion 4,12 SA dan inklinasi 22º. Sebuah benda langit yang menempuh orbit ini membutuhkan waktu 4 tahun untuk mengedari Matahari sekali putaran. Posisi aphelion mengindikasikan pecahan asteroid ini semula merupakan bagian dari kelompok Asteroid Sabuk Utama yang bergerombol di antara orbit Mars dan Jupiter. Orbit demikian menempatkan pecahan asteroid ini ke dalam populasi Asteroid Dekat Bumi kelas Apollo.

Apakah ada kemungkinan meteor Pasuruan merupakan remah-remah komet, sehingga merupakan bagian dari suatu hujan meteor periodik? Sayangnya tidak. Bila dianggap kecepatan awalnya adalah 25 km/detik saja (yang tergolong lambat untuk kecepatan awal meteor dari sisa komet), maka orbit awal meteor Pasuruan akan berubah dramatis menjadi hiperbola. Ini adalah orbit yang tak mungkin bagi suatu meteor di Bumi. Padahal remah-remah komet yang menjadi meteor di Bumi memiliki rentang kecepatan mulai dari 25 km/detik hingga 72 km/detik. Meteor eta Aquarids sendiri memiliki kecepatan awal luar biasa, yakni 66 km/detik.

Ketidakmungkinan meteor Pasuruan berasal dari remah-remah komet juga membawa implikasi lain, yakni meteor tersebut tak mungkin merupakan bagian hujan meteor periodik eta Aquarids. Musababnya jika dilihat dalam tata koordinat langit, meteor Pasuruan berasal dari koordinat deklinasi -52º dan ascensio recta ~11 jam. Sebaliknya meteor-meteor Eta Aquarids berasal dari koordinat deklinasi -1º dan ascensio recta 22 jam 20 menit. Dan di seluruh paras Bumi, hujan meteor eta Aquarids hanya bisa disaksikan di kala fajar, mulai dari pukul 02:00 setempat hingga fajar merembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s