Menuju Satu Idul Fitri 1440 H di Indonesia

Syawwal secara literal memiliki beragam makna mulai dari ‘ringan’ hingga ‘mengandung’. Ini merupakan jejak dari era belasan abad silam kala masih berlaku sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan kalender ini berlangsung usai puncak musim panas di Semenanjung Hijaz (Saudi Arabia). Dengan suhu udara yang mulai menurun maka kehidupan menjadi lebih ringan, tanpa didera sengatan tajam sinar mentari. Suhu udara yang mulai menurun juga diikuti mulai mengandungnya unta-unta betina seiring datangnya musim kawin mereka.

Namun di masa kini, manakala sistem penanggalan telah bertransformasi menjadi lunar murni, peranan Syawwal bertitik berat pada aspek religius. Inilah bulan kalender Hijriyyah yang mengikuti pada bulan Ramadhan. Tanggal 1 Syawwal menandakan berakhirnya puasa Ramadhan dan diperingati sebagai hari raya Idul Fitri. Di Indonesia dan negara-negara Asia Selatan / Asia Tenggara, perayaan Idul Fitri juga memiliki dimensi ekonomis dan sosio-kultural. Aktivitas konsumsi publik meningkat sepanjang masa libur Idul Fitri, jutaan manusia bermigrasi untuk sementara ke tanah kelahirannya dan tempat-tempat wisata yang eksotis pun dijubeli pengunjung.

Hilaal

Seperti halnya bulan Ramadhan, bulan Syawwal merupakan bagian kalender Hijriyyah yang gayut (bergantung) pada periode sinodis Bulan sebagai rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Pengamatan menunjukkan nilai periode sinodis Bulan sesungguhnya bervariasi di antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 16 jam. Namun jika pengamatan dilakukan dalam jangka panjang dan hasilnya dirata-ratakan, maka diperoleh nilai periode sinodis Bulan rata-rata adalah 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Inilah yang digunakan sebagai landasan untuk enetapkan panjang hari bulan Hijriyyah sebagai 29 hari atau 30 hari.

Gambar 1. Hilaal sebagai lengkungan sabit tertipis (tanda panah) dari Bulan yang teramati pasca Matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi Bulan – Matahari. Hilaal ini diabadikan dari Pos Observasi bulan Pedalen Kebumen (jawa Tengah) pada Minggu 5 Mei 2019 TU oleh tim observasi BMKG dengan menggunakan teleskop Celestron NextStar 5E 125 mm yang dirangkai kamera Canon EOS 70D. Sumber: BMKG, 2019.

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilaal, lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Idul Fitri pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara penentuan Idul Fitri. Yang pertama adalah rukyat hilaal (observasi hilaal), yakni mencoba mengamati hilaal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syariat. Akan tetapi di sisi lain cara ini butuh waktu hingga last minute guna memperoleh hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif sejak jauh hari sebelumnya namun di sisi lain memiliki anggitan minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat, atau disebut pula kriteria MABIMS karena menjadi acuan bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasi tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Gambar 2. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terbenamnya Matahari di Senin 3 Juni 2019 TU sebagai dasar pelaksanaan rukyat hilaal penentuan Idul Fitri 1440 H. Sumber: Sudibyo, 2019.

Indonesia

Bagaimana dengan Idul Fitri 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Ramadhan 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Senin 3 Juni 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah Idul Fitri 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Senin 3 Juni 2019 TU pukul 17:02WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil -1,6 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +1,8 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu lokal terbenamnya Matahari. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil -0º 57’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +0º 22’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +3º 00’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat) hingga +3º 12’ (di Jayapura, propinsi Papua).

Gambar 3. peta tinggi Bulan di Indonesia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer ELP 2000-82. Sumber: Sudibyo, 2019.

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat tidak terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Senin senja 3 Juni 2019 TU, namun dengan Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari pada saat ghurub (kecuali di sebagian Jawa dan sebagian Sumatra), maka mustahil hilaal bisa dilihat. Pada sebagian pulau Jawa dan pulau Sumatra pun, meski Bulan terbenam terlambat dibanding Matahari, namun selisih waktu antara terbenamnya Matahari dan terbenamnya Bulan sangat singkat. Kurang dari 5 menit. Dalam situasi seperti ini juga mustahil hilaal bisa dilihat. Dengan situasi demikian maka Idul Fitri 1440 H di Indonesia berpeluang sangat besar akan bertepatan dengan Rabu 5 Juni 2019 TU yang dimulai dari malam Rabu.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya?

Ada dua negara yang patut mendapat perhatian. Yang pertama adalah Saudi Arabia, negara yang membawahi dua tanah suci Umat Islam sedunia sehingga kerap dianggap sebagai kiblat dalam beragam aspek ibadah yang terkait dimensi spasial dan temporal. Termasuk dalam hal penentuan Idul Fitri. Arab Saudi bertumpu pada rukyat dalam menentukan 1 Syawwal 1440 H, namun bagaimana hasil rukyat di negara tersebut akan disikapi dapat dilihat dari sisi hisab.

Gambar 4. peta tinggi Bulan di seluruh dunia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer. Sumber: BMKG, 2019.

Berbeda dengan Indonesia, segenap wilayah Saudi Arabia telah memiliki tinggi Bulan yang positif manakala Matahari terbenam pada Senin 3 Juni 2019 TU waktu setempat. Meski rentang tinggi Bulan di sana relatif kecil, yakni kurang dari 1º. Dengan tinggi Bulan yang sudah positif, bilamana apabila terdapat laporan hilaal berhasil dilihat maka laporan tersebut berkemungkinan untuk diterima. Sehingga terbuka kemungkinan Saudi Arabia akan ber-Idul Fitri pada Selasa 4 Juni 2019 TU.

Negara yang kedua yang patut menjadi perhatian adalah Turki, tempat berlangsungnya Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyyah Internasional 2016 sekaligus sebagai satu-satunya negara yang hingga saat ini telah meratifikasi Resolusi Istanbul. Resolusi Istanbul menyebutkan awal bulan Hijriyyah telah terjadi apabila tinggi Bulan minimal 5º dan elongasi Bulan – Matahari minimal 8º dimanapun di daratan pada Bumi ini, sepanjang di negara paling timur (yakni Selandia Baru) belum terbit fajar.

Berdasarkan data hisab, maka pada daratan paling barat (yakni wilayah benua Amerika bagian selatan) telah terjadi tinggi Bulan lebih dari 5º pada saat Matahari terbenam 3 Juni 2019 TU. Namun elongasinya masih kurang dari 8º dan demikian pula pada saat Matahari terbenam di Amerika selatan ternyata di Selandia Baru sudah terjadi terbitnya Matahari. Dengan semua kondisi tersebut, Turki telah memutuskan jauh hari sebelumnya bahwa Idul Fitri 1440 H di Turki bertepatan dengan Selasa 4 Juni 2019 TU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s