Mentari Menjadi Sabit Tebal, Gerhana Matahari 29 Rabiul Akhir 1441 H/26 Desember 2019

Kamis 29 Rabiul Akhir 1441 H atau 26 Desember 2019 TU (Tarikh Umum) akan terjadi peristiwa langit yang jarang terjadi. Gerhana Matahari Cincin atau Gerhana Matahari Annular namanya. Di puncak gerhana, Matahari akan terlihat menyerupai cincin bercahaya kuning-jingga di langit khususnya jika disaksikan dari Zona Antumbra dalam wilayah gerhana. Sedangkan wilayah gerhana lainnya, yakni Zona Penumbra, hanya akan menyaksikan sebagian wajah Matahari tertutupi oleh bundaran Bulan yang gelap di puncak gerhana dengan besarnya penutupan tergantung pada letak setiap tempat.

Kabar baiknya, segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah gerhana Matahari Cincin ini. Bahkan Zona Umbra melintasi sejumlah kabupaten/kota di tujuh propinsi.

Konfigurasi Gerhana

Gambar 1. Wajah Matahari yang nampak sebagian ditutupi bundaran Bulan sepanjang peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 silam. Diabadikan di Kebumen, yang nampak sebagai gerhana sebagian. Sumber: Sudibyo, 2016.

Peristiwa Gerhana Matahari terjadi saat Bumi, Bulan dan Matahari benar–benar sejajar pada satu garis lurus dalam perspektif tiga–dimensi dimana Bulan menyelisip di tengah-tengah Bumi dan Matahari. Kesejajaran ini disebut syzygy. Dalam ilmu falak, Gerhana Matahari terjadi pada saat yang sama dengan peristiwa konjungsi Bulan–Matahari (ijtima’), yakni saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama di langit. Yang membedakan, Bulan dalam peristiwa Gerhana Matahari juga sedang menempati salah satu di antara dua titik nodal dalam orbitnya. Titik nodal adalah titik potong khayali antara orbit Bulan tepat dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari).

Maka meski dalam setiap tahun Hijriyyah terjadi 12 kali peristiwa konjungsi Bulan-Matahari, tidak setiap konjungsi tersebut menghasilkan Gerhana Matahari. Karena tidak setiap saat konjungsi Bulan-Matahari berlangsung bersamaan dengan Bulan sedang di dekat atau bahkan berada di salah satu titik nodalnya. Dalam setahun Hijriyyah umumnya hanya terjadi minimal 2 dan maksimal 4 peristiwa Gerhana Matahari.

Akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar Matahari yang mengarah ke Bumi bakal diblokir sedikit oleh bundaran Bulan. Menjadikan peristiwa Gerhana Matahari selalu berlangsung di siang hari. Karena ukuran Bulan lebih kecil dibandingkan Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak terjadi secara tidak merata di sekujur paras Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari saat itu. Melainkan hanya di sektor–sektor tertentu saja bergantung pada geometri orbit Bulan kala kesejajaran tersebut terjadi.

Gambar 2. Konfigurasi posisi Matahari, Bumi dan Bulan yang melahirkan peristiwa Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Cincin (tanpa skala jarak antar benda langit). Sumber: Sudibyo, 2019.

Ada tiga jenis Gerhana Matahari. Yang pertama adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Terjadi saat Bulan menempati titik nodal kala konjungsi Bulan-Matahari dan jaraknya relatif dekat ke Bumi, yakni menempati atau berdekatan dengan titik perigee (titik terdekat orbit Bulan ke Bumi). Sehingga ukuran–tampak Bulan relatif sama atau sedikit lebih besar ketimbang Matahari, yakni 0º 30’. Maka cakram Bulan sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana dan terbentuk dua bayangan, yaitu umbra (bayangan inti total) dan penumbra (bayangan tambahan). Lokasi yang dilintasi umbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Total sementara lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana sebagian.

Yang kedua adalah Gerhana Matahari Cincin (GMC). Konfigurasinya mirip dengan GMT hanya bedanya Bulan berjarak relatif jauh dari Bumi, yakni berdekatan atau bahkan menempati titik apogee (titik terjauh orbit Bulan ke Bumi). Imbasnya ukuran–tampak Bulan lebih kecil ketimbang Matahari, membuat cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana. Pada konfigurasi ini juga terbentuk dua bayangan, yaitu antumbra (bayangan inti cincin) dan penumbra. Lokasi yang dilintasi antumbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin sedangkan lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana

Dan yang ketiga, Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Berbeda halnya dengan GMT dan GMC, GMS terjadi saat Bulan hanya berdekatan saja dengan salah satu titik nodalnya di saat konjungsi Bulan-Matahari. Sehingga cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari pada puncak gerhana. Dalam konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir Bulan hanya akan membentuk satu bayangan, yaitu penumbra. Karenanya dimanapun berada di lokasi penumbra, hanya akan terlihat gerhana sebagian.

Data Perhitungan Gerhana

Perhitungan astronomi menunjukkan wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H akan meingkupi hampir seluruh benua Asia, sebagian kecil benua Afrika dan sebagian besar benua Australia. Zona antumbranya melintasi daratan Arab Saudi di barat melintasi Qatar, Uni Emirat Arab, India, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Indonesia menjadi negara sentral dalam Gerhana Matahari ini karena ditempati titik greatest eclipse, titik yang memiliki durasi anularitas (durasi Matahari nampak sebagai cincin bercahaya) terpanjang. Titik tersebut terletak di Kab. Siak (propinsi Riau) dengan durasi annularitas 3 menit 40 detik.

Gambar 3. Wilayah Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Perhatikan zona antumbra yang disebut Zona Cincin. Sisa wilayah Indonesia yang ada di luar Zona Cincin adalah zona penumbra dan mengalami gerhana sebagian. Garis-garis menunjukkan titik-titik yang mengalami magnitudo gerhana yang sama (dinyatakan dalam persen). Sumber: Sudibyo, 2019.

Selain Kab. Siak, zona umbra Gerhana Matahari ini melintasi sejumlah ibukota kabupaten/kota di Indonesia yang tersebar ke dalam tujuh propinsi. Di propinsi Aceh, zona umbra melewati kota Sinabang (Kab. Simeulue) dan Singkil (Kab. Aceh Singkil). Di propinsi Sumatra Utara, zona umbra melintasi Kota Sibolga, Pandan (Kab. Tapanuli Tengah), Tarutung (Kab. Tapanuli Utara), Sipirok (Kab. Tapanuli Selatan), Panyambungan (Kab. Mandailing Natal),Kota Pinang (Kab. Labuhanbatu Selatan) dan Kota Padang Sidempuan. Di propinsi Riau, selain Siak Sri Indrapura (Kab. Siak) zona umbra juga melewati Pasir Pengaraian (Kab. Rokan Hulu), sebagian Kota Dumai dan sebagian Kota Pekanbaru. Bagi propinsi Kepulauan Riau, zona umbra melewati Kota Batam, Kota Kijang (Kab. Bintan), Tanjung Balai Karimun (Kab. Karimun) dan Kota Tanjung Pinang (ibukota propinsi).

Untuk propinsi Kalimantan Barat, zona umbra melintasi Kota Singkawang, Bengkayang (Kab. Bengkayang), Mempawah (Kab. Mempawah) dan Sambas (Kab. Sambas). Sedangkan di propinsi Kalimantan Timur, zona umbra melewati Berau (Kab. Berau). Dan di propinsi Kalimantan Utara zona umbra melintasi Kota Tanjung Selor (ibukota propinsi). Sisa wilayah Indonesia lainnya tercakup ke dalam Zona Penumbra sehingga hanya akan menyaksikan gerhana sebagian dengan magnitudo gerhana bergantung kepada lokasi masing–masing.

Dari semua tempat tersebut, durasi Gerhana Matahari terpanjang terletak pada kota yang berdekatan dengan titik greatest eclipse, yakni 3 jam 52 menit di Kota Tanjung Pinang dan Siak Sri Indrapura. Sedangkan durasi Gerhana Matahari terpendek terjadi di tempat yang memiliki magnitudo gerhana terkecil, yakni di Merauke (Kab. Merauke propinsi Papua) yang lamanya hanya 2 jam 12 menit. Bagi pulau Jawa, magnitudo gerhana bervariasi mulai dari 68,8 % (durasi 3 jam 24 menit) di Blambangan hingga 79,4 % (durasi 3 jam 41 menit) di Merak (propinsi Banten).

Melihat Gerhana

Dibanding peristiwa Gerhana Bulan, kesempatan mengalami Gerhana Matahari cukup langka. Gerhana Matahari Cincin terakhir dengan zona umbra yang melintasi sebagian besar Indonesia terjadi pada Gerhana Matahari Cincin 29 Januari 2009. Dan setelah itu Gerhana Matahari Cincin serupa baru akan terjadi lagi dalam Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 2031 yang akan datang. Kejarangan ini cukup berbeda dibanding peristiwa Gerhana Bulan Total yang lebih sering terjadi.

Beberapa Gerhana Matahari yang nampak sebagai gerhana sebagian memang singgah di Indonesia di antara tahun 2009 hingga 2019 TU ini. Namun tak semuanya memiliki konfigurasi menguntungkan guna diamati. Misalnya Gerhana Matahari Cincin 15 Januari 2010, tak satupun Indonesia yang berada pada zona umbra sementara zona penumbra hanya meliputi pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa (sebagian) dan Sulawesi (sebagian). Berikutnya Gerhana Matahari Cincin 10 Mei 2013 yang juga tak menyertakan satupun bagian Indonesia dalam zona umbranya, meski hampir seluruh Indonesia berkesempatan dalam zona penumbra. Namun dengan gerhana terjadi tepat pada saat Matahari terbit, maka upaya mengamatinya juga sulit. Demikian halnya Gerhana Matahari Sebagian 29 April 2014, meski terjadi di tengah hari namun magnitudo gerhananya di Indonesia sangat kecil. Hanya sebagian pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara saja yang masuk ke dalam zona penumbra.

Sah–sah saja bila ingin berpartisipasi langsung dalam gerhana dan mengabadikannya dengan kamera. Namun beberapa hal yang harus digarisbawahi. Pada dasarnya kita dilarang menatap langsung ke Matahari, juga mengarahkan kamera secara langsung. Selain intensitas sinarnya begitu besar hingga terlalu benderang menyilaukan, salah satu gelombang elektromagnetik berenergi tinggi yang dipancarkan adalah berkas sinar ultraungu. Dengan tingginya energinya, sinar ultraungu bisa menyebabkan perubahan kimia pada sel–sel retina apabila terpapar terlalu lama. Pada dasarnya menatap Matahari terlalu lama sama merusaknya dengan melihat pengelasan las listrik tanpa pelindung mata sama sekali. Gangguan penglihatan bisa terjadi.

Dalam situasi normal, mata kita memiliki respon spontan untuk menyipit dan mengerjap saat menatap Matahari. Inilah alarm kewaspadaan sekaligus pengaman mata kita. Namun pada saat Gerhana Matahari, khususnya dengan persentase penutupan Matahari yang besar, situasi unik terjadi. Meredupnya Matahari sepanjang durasi gerhana akan membuat langit lebih temaram. Alarm kewaspadaan tubuh pun mengendor. Kini Matahari jadi lebih enak dipandang tanpa harus banyak menyipitkan mata. Pada saat yang sama, temaramnya langit juga membuat mata kita meresponnya dengan membuka pupil lebih lebar untuk memungkinkan lebih banyak sinar yang masuk. Sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga. Kombinasi dua hal ini berpotensi membuat lebih banyak sinar ultraungu Matahari yang masuk ke bola mata dibanding normal. Disinilah bahaya itu muncul.

Bagaimana cara melihat Gerhana Matahari yang aman? Pada dasarnya Matahari cukup aman untuk dipandang apabila intensitas sinarnya telah diperlemah hingga minimal 50.000 kali lipat dari semula sebelum memasuki mata kita. Melihat Matahari dengan pantulan sinarnya melalui permukaan air yang tenang sama sekali tak disarankan. Sebab intensitas sinar hasil pemantulan hanyalah diperlemah 50 kali dari semula. Dengan dasar tersebut maka perlu adanya filter (penapis) yang tepat di antara mata kita dan Matahari. Filter yang dianjurkan adalah yang memperlemah sinar Matahari hingga 100.000 kali dari semula (0,001 %), yang teknisnya dikenal sebagai filter ND 5 (neutral density 5). Filter semacam ini secara komersial dipasarkan sebagai kacamata Matahari.

Bagaimana jika tak ada filter ND 5? Kita pun tetap bisa mengamati Gerhana Matahari lewat filter-buatan-sendiri sendiri. Cari negatif film hitam putih yang telah ‘terbakar’ (dipapar sinar Matahari lalu dicuci di studio foto). Potong–potong menjadi 3 helai lalu rekatkan/tumpuk menjadi satu. Agar lebih mudah dipegang, tempatkanlah dalam misalnya kertas karton yang telah dilubangi demikian rupa agar mirip kacamata. Inilah filter Matahari–buatan–sendiri yang tak kalah ampuhnya dengan filter komersial. Bisa juga menggunakan kacamata las bernomor 14. Dengan piranti semacam ini maka mata (atau kamera) anda akan tetap leluasa mengamati Gerhana Matahari tanpa khawatir cedera (atau rusak).

Shalat Gerhana

Gambar 4. Kontur waktu tengah (waktu puncak) Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia. Setiap garis menghubungkan titik-titik yang mengalami puncak gerhana pada saat yang sama, dinyatakan dalam waktu Indonesia bagian barat (WIB). Sumber: Sudibyo, 2019.

Bagi Umat Islam, sangat dianjurkan menyelenggarakan shalat Gerhana Matahari tatkala peristiwa langit yang langka ini terjadi. Tulisan ini tak hendak menyentuh tata cara pelaksanaan shalat gerhana atau contoh khutbah gerhana. Namun hanya mengupas kapan waktunya.

Beberapa kalangan mempertanyakan (sekaligus mempersoalkan) mengapa peristiwa Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H disambut dengan demikian gegap gempita? Mengapa tak mendirikan shalat gerhana saja? Mengapa justru menonjolkan pengamatan?

Sejatinya tak perlu ada dikotomi seperti itu. Durasi Gerhana Matahari Cincin 29 Rabiul Akhir 1441 H di Indonesia cukup lama dengan durasi terpanjang 3 jam 52 menit dan durasi terpendek 2 jam 12 menit. Shalat Gerhana Matahari memang ditegakkan pada saat gerhana sudah terjadi. Sekarang mari kita lihat lamanya waktu yang dibutuhkan guna mendirikan shalat Gerhana Matahari. Shalat dua raka’at itu umumnya bisa dilaksanakan dalam tempo 10 menit. Kemudian khutbah gerhana sesudahnya juga seyogyanya berlaku 10 menit (tidak lebih panjang, sesuai dengan yang disunnahkan). Dengan demikian secara keseluruhan pelaksanaan shalat gerhana membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Katakanlah maksimal 30 menit.

Nah dengan waktu maksimum 30 menit maka di daerah yang memiliki durasi terpanjang gerhana masih menyisakan waktu mendekati 3,5 jam sementara di daerah dengan durasi gerhana terpendek pun masih menyisakan waktu mendekati 1,75 jam bukan? Mengapa sisa waktu tersebut tidak dimanfaatkan untuk aneka kegiatan pendukung, mulai dari kegiatan ilmiah hingga kesenian? Terlebih Gerhana Matahari adalah salah satu ayat kauniyah yang perlu diajarkan kepada anak cucu kita. Dalam perpsektif ayat qauliyah sekalipun,bukankah terdapat sekurangnya 750 ayat al–Qur’an yang membahas dan mendeskripsikan beragam fenomena dalam jagat raya seperti dipaparkan oleh Syeh Jauhari Thanthawi sekitar tujuh dasawarsa silam?

Satu respons untuk “Mentari Menjadi Sabit Tebal, Gerhana Matahari 29 Rabiul Akhir 1441 H/26 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s