Banjir Jakarta dan Sekitarnya lewat Mata Satelit

Jakarta dan sekitarnya digenangi banjir tepat pada saat tahun berganti dari 2019 menjadi 2020 TU (Tarikh Umum). Citra satelit radar menunjukkan luasan genangan pada kota-kota di DKI Jakarta sesungguhnya lebih kecil ketimbang luasan genangan di Kota Tangerang. Hal itu mengindikasikan bekerjanya Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur dalam menyalurkan air banjir. Namun titik-titik genangan di DKI Jakarta bertempat di kawasan pemukiman berpenduduk padat dan sejumlah pusat perekonomian. Sehingga dampaknya jelas lebih besar.

Gambar 1. Titik-titik genangan air dalam banjir Jakarta dan sekitarnya pada 2 Januari 2020 TU di wilayah DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kab. Bekasi (sebagian besar), Kab. Tangerang (sebagian), Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Depok dan Kab. Bogor (sebagian) berdasarkan analisis citra radar Sentinel-1. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

InSAR ARIA

Pada 2 Januari 2020 TU siang, manakala banjir di Jakarta dan sekitarnya masih hebat-hebatnya, satelit Sentinel-1 melintas di langit. Satelit milik badan antariksa negara-negara Eropa / ESA (European Space Agency) itu bergerak dari utara menuju ke selatan. Langit Jakarta dan sekitarnya saat itu sepenuhnya tertutupi awan. Namun satelit ini bekerja dalam segala cuaca dan kondisi siang malam tanpa terganggu seiring pemanfaatan gelombang radar, sehingga mampu menembus pekatnya awan dan mencitra apa yang ada di permukaan tanah. Terdiri atas sepasang satelit yang identik (Sentinel-1A dan Sentinel-1B) yang menempati bidang orbit tersinkron Matahari yang sama, satelit Sentinel-1 selalu melintas di atas tempat yang sama setiap 12 hari sekali.

Sifat orbit satelit Sentinel-1 dan gelombang radarnya memungkinkan para cendekiawan Earth Observatory of Singapore (EOS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura bekerja sama dengan tim ARIA (advanced rapid imaging and analysis) untuk menguak apa yang terjadi pada daratan Jakarta dan sekitarnya saat banjir melanda. ARIA adalah kolaborasi antara Jet Propulsion Laboratory NASA dengan California Institute of Technology. Tim EOS dan ARIA memanfaatkan teknik InSAR (interferometry synthetic apperture radar)

Gambar 2. Titik-titik genangan air di Kota Jakarta Barat, Jakarta Utara (sebagian) dan Jakarta Pusat pada 2 Januari 2020 TU dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Sederhananya, teknik InSAR mencoba membandingkan dua citra radar pada daerah yang sama yang diambil pada dua kesempatan berbeda. Sehingga perubahan yang terjadi pada daratan di daerah tersebut dalam skala besar, baik yang bersifat temporer maupun permanen, dapat dikuak. Teknik InSAR umum digunakan untuk mengevaluasi terjadinya deformasi daratan dalam peristiwa gempa bumi tektonik, atau letusan gunung berapi, maupun penurunan daratan (subsidence) akibat eksploitasi air bawahtanah yang berlebihan. Namun belakangan juga berkembang penggunaan teknik ini untuk memonitor bencana banjir.

Dalam menganalisis banjir Jakarta dan sekitarnya, tim EOS dan ARIA memanfaatkan dua citra radar Sentinel-1. Masing-masing citra 21 Desember 2019 TU yang ditetapkan sebagai citra pra-banjir dan citra 2 Januari 2020 TU yang dinyatakan sebagai citra saat banjir. Sebagai pembanding adalah data lapangan yang ditampilkan Peta Bencana. Resolusi citra adalah 30 meter per pixel mencakup seluruh DKI Jakarta, kota Depok, kota Tangerang Selatan, kota Tangerang dan kota Bekasi. Sementara Kab. Tangerang, Kab. Bekasi dan Kab. Bogor hanya dicitra separuhnya saja.

Seperti apa hasilnya?

Gambar 3. Titik-titik genangan air di Kota Jakarta Utara (sebagian), Jakarta Pusat dan Jakarta Timur (sebagian) pada 2 Januari 2020 TU dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Titik-titik Genangan

Secara umum banjir Jakarta dan sekitarnya memang terjadi di dataran rendah. Berdasarkan luasan daerah yang tergenang, Kab. Bekasi menduduki peringkat pertama daerah yang tergenangi banjir paling luas. Disusul kemudian Kab. Tangerang, Kota Tangerang, DKI Jakarta (khususnya Jakarta Barat dan Jakarta Timur) serta terakhir Kota Bekasi.

Banjir di dataran rendah ini konsisten dengan curah hujan 24 jam (sepanjang 31 Desember 2019 TU 07:00 WIB – 1 Januari 2020 TU 07:00 WIB), yang tergolong ekstrim bagi Kab. Bekasi dan Kota Bekasi (intensitas maksimum 151 mm/hari yang tercatat di Lemah Abang) serta sebagian DKI Jakarta (intensitas maksimum 377 mm/hari yang tercatat di Jakarta Timur). Sementara bagi Kab. Tangerang, hujan dikategorikan sangat lebat. Intensitas hujan maksimum di DKI Jakarta dinyatakan sebagai yang tertinggi sepanjang 1,5 abad terakhir. Meskipun jika dilihat dalam kacamata yang lebih lebar, selama 48 jam intensitas hujan maksimum akumulatif yang tercatat berkisar 400 mm. Ini serupa dengan intensitas hujan maksimum akumulatif pada peristiwa Banjir Kebumen 2013 (di bulan Desember 2013 TU) dan juga banjir Jakarta 2014 (di bulan Januari 2014 TU).

Gambar 4. Titik-titik genangan air di Kota Jakarta Timur dan Bekasi (sebagian) pada 2 Januari 2020 TU dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Di kota Jakarta Barat, titik genangan luas menempati sebelah-menyebelah Jl. Daan Mogot hingga mendekati perbatasan Kota Tangerang. Ke arah utara, titik-titik genangan menyebar hingga ke bagian kota Jakarta Utara. Uniknya titik-titik genangan tersebut adalah berada di sebelah barat dari alur Kanal Banjir Barat dan tidak banyak dijumpai di sisi timur kanal.

Selain di sisi barat Kanal Banjir Barat, titik-titik genangan di kota Jakarta Utara dapat dijumpai di dua pelabuhan : Sunda Kelapa dan Tanjung Priok. Namun yang paling menyolok adalah di bagian timur, yakni di Rorotan. Lagi-lagi genangan luas di sini berimpit dengan kanal banjir, yakni di sisi barat Kanal Banjir Timur. Meski genangan di Rorotan tak separah di Tarumajaya (Kab. Bekasi) yang berada di sebelah timur kanal.

Gambar 5. Titik-titik genangan air di Kota Jakarta Selatan pada 2 Januari 2020 TU dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Kota Jakarta Pusat tak separah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Meski terdapat pula titik-titik genangan, namun tidak banyak yang menonjol. Salah satunya di Gunung Sahari, yang menggenangi baik jalan raya maupun rel KA. Juga di Karet Tengsin, tepat di sisi Kanal Banjir Barat. Sebaliknya kota Jakarta Selatan, meski secara geografis lebih tinggi ketimbang Jakarta Barat – Jakarta Pusat – Jakarta Utara, namun ternyata memiliki titik-titik genangan yang cukup banyak dan tersebar acak dengan masing-masing berukuran relatif kecil. Dua lokasi yang menonjol adalah Kemang dan bantaran barat Sungai Ciliwung.

Dan kota Jakarta Timur pun demikian. Titik-titik genangan juga cukup banyak dan tersebar acak. Titik paling ikonis adalah Bandara Halim Perdanakusuma, sehingga sempat melumpuhkan penerbangan dari dan ke bandara ini. Sejumlah titik di bantaran timur Sungai Ciliwung juga digenangi air. Mayoritas titik genangan di Jakarta Timur berada di sisi selatan Kanal Banjir Timur. Di sisi utaranya hanya dijumpai sedikit.

Gambar 6. Titik-titik genangan air di Kota Tangerang dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Selain DKI Jakarta, genangan banjir juga dijumpai di Kota Tangerang. Bandara Soekarno-Hatta juga tergenangi air di sejumlah titik, namun tidak sempat melumpuhkan operasi bandara ini sebagaimana yang terjadi di Bandara Halim. Titik genangan yang cukup luas dijumpai di Cipondoh di pusat kota. Berikutnya di Panunggangan, di bagian selatan kota. Genangan di Panunggangan berhubungan dengan aliran Sungai Cisadane yang melintas di sini dan meluap. Luapan Sungai Cisadane juga menggenangi bantaran timur di Kota Tangerang Selatan. Selebihnya titik-titik genangan di Tangerang Selatan berukuran kecil-kecil dan tersebar secara acak hingga Bintaro.

Di Kota Bekasi, titik-titik genangan juga tersebar acak. Namun genangan yang luas hanya dijumpai di sisi utara jalan tol Jakarta – Cikampek. Tepatnya di Bekasi Timur dan di pusat kota. Genangan di pusat kota mengesankan berhubungan dengan aliran Sungai Bekasi yang meluap. Dan di Kota Depok, titik-titik genangan relatif sedikit dibandingkan kota-kota lainnya yang telah disebutkan. Selain sedikit, ukurannya juga kecil-kecil. Konsentrasi titik-titik genangan itu terutama di sepanjang alur Jalan Jalan raya Jakarta – Bogor.

Gambar 7. Titik-titik genangan air di Kota Tangerang Selatan dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Sumber Air?

Tujuan EOS dan ARIA menyajikan analisis citra satelit radar ini adalah untuk menunjang respon penanganan dampak bencana banjir di lapangan. Meski demikian secara kasar dapat pula dikatakan bahwa analisis ini cukup membantu dalam memetakan sumber air banjir Jakarta dan sekitarnya. Sungai-sungai besar seperti Sungai Cisadane, Sungai Ciliwung, Sungai Bekasi dan dua kanal banjir (Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur) yang meluap merupakan salah satu sumber air banjir. Akan tetapi terdapat cukup banyak titik-titik genangan yang cukup berjarak terhadap sungai manapun. Yang menyajikan kesan bahwa genangan tersebut terjadi akibat situasi yang bersifat lokal.

Gambar 8. Titik-titik genangan air di Kota Bekasi dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.


Gambar 9. Titik-titik genangan air di Kota Depok dengan penanda lokasi tertentu. Sumber: EOS & ARIA, 2020.

Jika dibandingkan, secara kasar dapat dikatakan bahwa peringkat pertama luasan genangan dalam banjir Jakarta dan sekitarnya diduduki oleh Kota Tangerang. Menyusul kemudian kota Jakarta Utara dan Jakarta Barat di peringkat kedua. Selanjutnya kota Bekasi di peringkat ketiga. Relatif keringnya kota-kota Jakarta Timur dan Jakarta Pusat mengindikasikan bekerjanya Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Namun titik-titik genangan di DKI Jakarta terjadi pada pemukiman padat penduduk dan pusat-pusat perekonomian sehingga dampaknya lebih besar.

Referensi :

Kasha Patel. 2020. Torrential Rains Flood Indonesia. NASA Earth Observatory, 2 Januari 2020 diakses 5 Januari 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s