Super-Nagasaki di Laut Mati, Tumbukan Komet di Zaman Nabi?

Sebuah peristiwa kosmik yang menggidikkan terjadi di sisi utara Laut Mati pada 37 abad silam. Itu adalah masa yang sama dengan kenabian Ibrahim AS dan Luth AS. dalam peristiwa tersebut, sebuah benda langit berupa komet telah menerobos atmosfer Bumi dan melepaskan energinya yang luar biasa besar pada ketinggian rendah. Dampak yang ditimbulkannya menyebabkan kawasan itu hancur total dan tercemar berat hingga tak dihuni manusia sampai enam abad berikutnya.

Gelombang Kejut dan Sinar Panas

Gambar 1. Sebuah ilustrasi artistik akan tumbukan komet yang berujung pada peristiwa airburst di atas gurun pasir, mirip dengan kejadian 37 abad silam di sisi utara Laut Mati. Sumber: Terry Baker, dalam Universetoday.com, 2019.

Laut Mati adalah tengara topografis paling menonjol bagi sekeping daratan di sisi timur Laut Tengah (Levantine). Walau tersemat nama laut sejatinya ia adalah danau besar yang bertempat pada salah satu lembah terpanjang di Bumi. Yakni Lembah Retakan Besar (the Great Rift Valley) yang panjangnya 4.000 kilometer. Bagian dari lembah tersebut yang melintas di tanah Levantine merupakan ekspresi parasbumi dari sesar Laut Mati nan legendaris, sesar transformasi yang menjadi batas lempeng Arabia di sisi timur dengan lempeng Afrika di sisi barat. Danau Laut Mati bertempat di bagian tengah sesar legendaris itu. Ia mendapatkan airnya dari Sungai Yordan, sungai besar yang menghilir dari utara dan tidak memiliki saluran pengeluaran, sehingga hanya memanfaatkan penguapan oleh sinar Matahari guna menjaga ketinggian permukaan danau.

Kawasan Levantine adalah salah satu buaian peradaban umat manusia. Agama-agama samawi lahir dan atau mempunyai kaitan terhadap kawasan ini. Sekitar 37 abad silam, di sinilah Nabi Ibrahim AS dan saudaranya Nabi Luth AS berdakwah dengan mengambil lokasi sedikit berbeda yang saling berdekatan. Nabi Luth AS berdakwah di kawasan Laut Mati, kawasan yang akhirnya masyhur dengan kisah hancurnya kota Sadum (Sodom) dan Amurrah (Gomorah) beserta lima kota lainnya. Pada masa itu pula sebuah peristiwa kosmik terjadi di sisi utara kawasan Laut Mati.

Kita dapat berimajinasi, pada suatu hari di masa itu seberkas cahaya sangat terang melintas cepat laksana membelah langit. Di puncak kecerlangannya, terangnya cahaya tersebut sampai berpuluh kali lipat lebih terang ketimbang Matahari. Berselang beberapa menit kemudian suara sangat keras menggelegar laksana petir mengaum garang, menggetarkan jantung siapapun yang mendengar. Tanah juga bergetar seiring menjalarnya gelombang seismik yang khas gempa bumi.

Di pesisir utara Laut Mati, kilatan cahaya sangat terang itu mencapai puncak perjalanannya dan juga kecerlangannya. Energi sangat besar, diperkirakan mencapai 10 megaton TNT atau setara 500 kali lipat kekuatan bom nuklir Nagasaki, terlepas di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas paras tanah (600 meter dpl). Energi itu menjalar ke lingkungan sekitar dalam dua bentuk, awalnya sebagai sinar panas (thermal rays) yang khas. Lalu disusul hempasan gelombang kejut (shockwave) yang sangat kuat. Segera keduanya memapar hebat daratan yang ada di bawahnya, termasuk kota dan desa yang ada disekelilingnya.

Gambar 2. Ilustrasi sebuah peristiwa airburst yang memvisualisasikan dengan jelas lintasan benda langit (kiri atas citra) hingga bola api airburst (tengah dan kanan citra) serta hempasan gelombang kejut dan sinar panas airburst ke paras Bumi yang berupa daratan berhutan belantara (bagian bawah citra). Petaka di sisi utara Laut Mati 37 abad silam pada dasarnya seperti ini, hanya saja terjadi di atas lautan pada ketinggian yang cukup besar. Sumber: atas perkenan Don Davis, tanpa tahun.

Sinar panas adalah gabungan dari pancaran cahaya tampak, inframerah dan ultraungu dengan intensitas sangat besar. Paparan sinar panas menyebabkan suhu permukaan obyek yang terkena akan melonjak dramatis hingga ribuan derajat Celcius meski hanya untuk sesaat. Di sisi utara Laut Mati itu, selain membakar bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu dan melelehkan sebagian permukaan keramik/gerabah, paparan sinar panas juga menyebabkan luka bakar dalam beragam tingkatan bagi manusia dan hewan. Sementara gelombang kejut adalah alunan tekanan udara yang sangat kuat diiringi oleh hembusan angin kencang sekuat badai. Paparan gelombang kejut di sisi utara Laut Mati tersebut menyebabkan bangunan-bangunan berdinding batubata ambruk ke arah tertentu saja.

Bukti-bukti terjadinya peristiwa kosmik yang mencengangkan tersebut diungkap oleh sebuah tim peneliti gabungan dari North Arizona University, DePaul University, Elizabeth City State University, New Mexico Tech dan Comet Research Group yang dipimpin Phillip Silvia. Temuan itu dipaparkan dalam pertemuan ilmiah tahunan American Schools of Oriental Research 2018 yang berlangsung pada 14-17 November 2018 TU (Tarikh Umum) di Denver (Amerika Serikat), yang sontak menarik perhatian.

Tall el-Hammam

Tim menemukan bencana itu melanda kawasan seluas 500 kilometer persegi, menghancurkan segenap pemukiman yang ada. Tak hanya pemukiman yang hancur, lahan pertanian yang semula subur pun berubah tandus seiring kontaminasi partikulat garam anhidrat. Kontaminasi tersebut membuat kawasan ini tak lagi dihuni manusia hingga setidaknya enam abad kemudian.

Gambar 3. Kawasan Levantine dengan batas-batas negara masakini dalam peta sederhana. Tall el-Hammam terletak di pesisir utara Laut Mati, sebuah danau air asin yang menjadi muara dari Sungai Yordan. Di Tall el-Hammam dan sekitarnyalah (yang disebut area Kikkar dalam peta ini) jejak-jejak peristiwa kosmik 37 abad silam mulai terungkap. Sumber: UN Map, dalam Universetoday.com, 2019.

Salah satu dari kota yang hancur pada masa itu adalah Tall el-Hammam (elevasi minus 305 mdpl) di Yordania, sebuah kota kuno seluas 36 hektar yang dibentengi dinding kota. Ini bukan kota biasa. Tall el-Hammam sudah dihuni manusia selama 2.500 tahun. Tepatnya sejak akhir zaman neolitikum, atau sejak masa 4300 – 3600 STU (Sebelum Tarikh Umum). Hunian tersebut berlanjut dan berkembang lebih kompleks hingga ke zaman perunggu, tepatnya zaman perunggu awal dan zaman perunggu pertengahan. Pada masa itu Tall el-Hammam menjadi salah satu pusat kebudayaan dan metropolitan nan ramai di kawasan Levantine. Arsitektur kota terbagi menjadi dua: kota-bawah di sisi selatan dan kota-atas di sisi utara.

Reruntuhan Tall el-Hammam unik, karena ditemukan banyak pondasi bangunan namun tidak dengan sisa-sisa dindingnya. Kecuali dinding kota, yang ditemukan baik pondasi maupun sisa-sisa reruntuhannya. Dari pondasi dan sisa-sisa dinding kota diketahui tebal dinding kota itu mencapai 30 meter, dengan panjang 2.500 meter dan tingginya mencapai 15 meter. Sebagai lapisan pertahanan, dinding ini dilengkapi sejumlah gerbang dan menara-menara pengintai, layaknya kota-kota kuno di Timur Tengah. Uniknya sisa-sisa dinding kota terserak ke arah timur laut dari kedudukan pondasinya, mengesankan dorongan kuat yang mengambrukannya berasal dari arah barat daya (arah Laut Mati). Dorongan itu demikian kuat sehingga mampu mematahkan dinding kota dari pondasinya. Ini konsisten dengan terjadinya hempasan gelombang kejut berkekuatan tinggi.

Gambar 4. Situs Tall el-Hammam, kota benteng kuno yang adalah metropolitan dan pusat kebudayaan yang ramai pada 37 abad silam. Di situs ini dijumpai artefak-artefak arkeologis jejak hantaman gelombang kejut dan paparan sinar panas yang terjadi pada 37 abad silam. Sumber: Silvia dkk, 2018.

Selain sisa pondasi dan dinding, tim juga menemukan pecahan-pecahan keramik dalam jumlah berlimpah hingga puluhan ribu keping. Uniknya, mayoritas pecahan tersebut dapat direkonstruksi menjadi kemarik-keramik utuh dengan ditunjang pecahan-pecahan lain yang tersebar disekelilingnya. Hal itu menunjukkan keramik-keramik tersebut pecah di tempat oleh suatu sebab, dalam hal ini gelombang kejut, lalu lambat laun terkubur di bawah lapisan sedimen. Pertanggalan radioaktif menunjukkan pecahan-pecahan keramik tersebut berasal dari masa 1700 ± 50 STU (Sebelum Tarikh Umum).

Di antara pecahan-pecahan keramik itu ada beberapa pecahan lebih unik. Karena mengalami vitrifikasi. Pecahan-pecahan yang tervitirfikasi tersebut itu memiliki tebal rata-rata 5 mm. Pada satu sisi dijumpai lelehan lempung yang membeku kembali sebagai kaca setebal 1 mm, sehingga terlihat mengkilap. Di bawahnya, hingga setebal 2 mm, dijumpai lempung yang menghitam sebagai pertanda jejak paparan panas. Sedangkan di bawahnya lagi tidak demikian. Praktis pecahan-pecahan keramik tersebut seakan hanya dipanasi pada satu sisi dan tidak pada sisi yang lainnya, menandakan sumber panas hanya berasal dari satu arah.

Vitrifikasi terjadi saat lempung mengalami paparan suhu cukup tinggi sehingga butir-butir Silikat (SiO2) dalam tanah liat yang menjadi bahan pecahan keramik itu berubah menjadi gelas. Paparan panas yang menerpa pecahan-pecahan keramik tersebut demikian tinggi, mencapai minimal 4.000º Celcius. Sehingga menyebabkan butir-butir Zirkonium di sisi yang terpapar menghilang karena menguap. Namun paparan suhu tinggi tersebut berlangsung sangat singkat, terbukti dari tak terpanasinya sisi lain dari pecahan keramik tersebut. Sehingga butir-butir Zirkonium di sisi yang lain masih tetap ada. Panas yang tinggi namun singkat adalah konsisten dengan ciri-ciri paparan sinar panas.

Tumbukan Komet

Gambar 5. Contoh salah satu keping keramik yang terdeteksi mengalami vitrifikasi sebagian di situs Tall el-Hammam. Sisi atas mengkilap seperti kaca karena pelelehan butir-butir Silikat yang membeku kembali. Bagian tengahnya (sebagian) menghitam, jejak pemanasan berlebihan. Namun sisi bawahnya tidak mengalami apa-apa. Keping ini adalah salah satu jejak terjadinya paparan sinar panas pada peristiwa 37 abad silam. Sumber: Silvia dkk, 2018.

Secara alamiah paparan sinar panas dan hempasan gelombang kejut hanya bisa disebabkan oleh peristiwa tumbukan benda langit, yakni jatuhnya komet atau asteroid ke Bumi. Dalam akhir perjalanannya saat hendak mencapai atau bahkan sudah menyentuh paras Bumi, komet atau asteroid tersebut akan melepaskan energi luar biasa besar dalam tempo yang sangat singkat seiring tingginya kecepatannya. Pelepasan energi seperti itu menyerupai peristiwa ledakan nuklir atmosferik.

Dengan tiadanya jejak kawah tumbukan berusia sangat muda di lokasi tersebut dan tiadanya jejak-jejak meteorit hingga sejauh ini, tim mengambil kesimpulan bahwa benda langit yang jatuh di sisi utara Laut Mati pada 3.700 tahun silam adalah komet. Saat memasuki atmosfer Bumi, komet tersebut menjadi meteor-sangat terang (superfirebal) atau bahkan boloid untuk kemudian mengalami peristiwa ledakan-di-udara (airburst) di akhir perjalanannya. Tim memperhitungkan, berdasarkan jejak-jejak hempasan gelombang kejut dan sinar panas, maka titik terjadinya airburst adalah setinggi 1.000 meter dari paras Laut Mati sisi utara. Atau setara 600 meter dpl. Energi yang dilepaskan sungguh besar, diperkirakan mencapai 10 megaton TNT atau setara dengan 500 butir bon nuklir Nagasaki yang diledakkan serempak.

Dari angka-angka tersebut, perhitungan saya dengan mengacu pada Collins dkk (2005) dan asumsi kecepatan komet 30 km/detik, maka komet itu bergaris tengah 250 meter dan massanya 10,6 juta ton. Dipandang dari sisi utara Laut Mati, komet itu berasal dari altitud 20º. Saat mulai memasuki atmosfer Bumi, komet berubah menjadi meteor-superterang dan mulai terpecah-belah di ketinggian 86 kmdpl. Pemecah-belahan terjadi seiring tekanan ram dari atmosfer mulai melampaui ambang batas dayatahan struktur komet. Pemecah-belahan terus berlangsung bersamaan dengan kian melambatnya kecepatan keping-keping komet. Hingga akhirnya pada ketinggian 600 meter dpl, seluruh pecahan mendadak sangat melambat, sehingga seluruh energi kinetiknya terlepas ke lingkungan dalam tempo singkat. Terjadi peristiwa airburst, yang melepaskan energi 10 megaton TNT.

Perhitungan lebih lanjut dengan memanfaatkan simulasi dampak ledakan senjata nuklir Nukemap memperlihatkan, airburst itu melepaskan gelombang kejut yang bakal meratakan seluruh bangunan pada di seluas 200 kilometer persegi oleh overpressure 5 psi. Airburst juga melepaskan sinar panas, yang menghajar kawasan lebih luas yakni 500 kilometer persegi. Manusia yang bertempat dalam area seluas ini akan mengalami luka bakar tingkat satu hingga tingkat tiga. Pada manusia, luka bakar tingkat satu bisa sembuh namun luka bakar tingkat dua dan tiga bisa berakibat fatal.

Karena danau Laut Mati menempati sebuah cekungan besar memanjang, maka dampak hempasan gelombang kejut dan paparan sinar panas terkonsentrasi hanya di tepian danau dan kawasan sekitarnya. Tidak di seluruh area. Pola kerusakan seperti ini dikenal sebagai pola Nagasaki. Dalam kejadian pengeboman nuklir di kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945 TU silam, bom meledak di atas lembah sehingga pola kerusakannya terkonsentrasi hanya di lembah-lembah yang saling terhubung. Tidak di seluruh bagian kota sebagaimana halnya yang terjadi di kota Hiroshima. Tapi yang jelas, dalam kerusakan yang terkonsentrasi sekalipun, dampak hempasan gelombang kejut dan luka-luka bakar akibat paparan sinar panas akan berakibat fatal bagi penduduk kawasan tersebut.

Gambar 6. Dampak paparan sinar panas yang menyebabkan luka bakar tingkat 1 hingga 3 (warna kuning) dan hempasan gelombang kejut dengan overpressure minimal 5 psi (abu-abu) dalam peristiwa airburst di sisi utara Laut Mati berdasarkan simulasi Nukemap. Titik airburst pada ketinggian 600 mdpl dengan energi 10 megaton TNT. Nampak pesisir utara Laut Mati terkena hempasan gelombang kejut kuat dan paparan sinar panas yang telak. Sumber: Nukemap/Alex Wellerstein, 2019.

Hal menarik berikutnya yang diungkap tim adalah adanya lapisan debu yang menyelubungi puing-puing berumur 3.700 tahun itu. Lapisan debu tersebut cukup kaya akan garam (kadar 6 %) dan sulfat, pertanda terjadinya kontaminasi tanah setempat. Kontaminasi tersebut demikian merusak lahan pertanian yang menjadi tulang punggung kehidupan kota-kota masa itu. Sehingga Tall el-Hammam tidak dihuni manusia lagi hingga enam atau tujuh abad kemudian.

Kontaminasi ini terkait karakter danau Laut Mati sebagai perairan paling asin di Bumi, dengan kadar garam 24 % (air laut = 3,5 %). Peristiwa airburst di sisi utara Laut Mati nampaknya menyebabkan perairan itu turut bergolak dan mengirimkan airnya hingga sejauh Tall el-Hammam. Dua mekanisme yang memungkinkan untuk itu adalah tsunami dan gelombang pasang. Jika terjadi tsunami, maka harus ada bagian komet yang tersisa dan tercebur ke perairan Laut Mati pada kecepatan cukup tinggi agar bisa memproduksi tsunami. Dengan elevasi Tall el-Hammam 100 meter lebih tinggi dibanding paras air danau dan 8 km jauhnya dari pesisir danau, tsunami tersebut harus berkualifikasi megatsunami dan cukup terarah sehingga dampak terparahnya lebih dirasakan tepi utara danau. Sedangkan jika berupa gelombang pasang, maka airburst yang terjadi harus mampu membentuk padang barometrik bertekanan udara rendah pada ruang udara Laut Mati sisi utara dengan selisih tekanan barometrik cukup besar dibanding lingkungan sekitar. Sehingga gelombang pasang yang dipengaruhi perbedaan tekanan udara dan sangat besar, tinggi minimal 100 meter dan jangkauan minimal 8 km, dapat terbentuk.

Petaka Kaum Luth AS?

Tumbukan komet yang menghancurkan sisi utara Laut Mati pada 37 abad silam dapat disetarakan dengan Peristiwa Chelyabinsk 13 Februari 2013, saat asteroid mengalami airburst di atas kawasan Pegunungan Kaukasus bagian barat (Russia) dan melepaskan energi 600 kiloton TNT yang menyebabkan kerusakan berskala luas. Hanya saja apa yang terjadi di sisi utara Laut Mati adalah 20 kali lipat lebih dahsyat, sehingga dampaknya pun lebih parah ketimbang yang dialami Chelyabinsk.

Satu pertanyaan tersisa yang menggoda adalah, apakah peristiwa tersebut yang dinisbatkan sebagai petaka bagi kaum Nabi Luth AS? Sebab secara temporal (aspek waktu), tumbukan komet tersebut terjadi pada masa yang sama dengan kenabian Luth AS. Sementara dari sisi spasial (aspek keruangan), tumbukan komet itu terjadi di kawasan Laut Mati, kawasan yang juga merupakan medan dakwah Nabi Luth AS. Beberapa ciri dari petaka yang menimpa kaum Nabi Luth AS, mulai dari guyuran batu / sijjil dan getaran tanah juga merupakan ciri khas tumbukan benda langit. Kala mencoba menganalisis peristiwa tentara bergajah pada saat kelahiran Nabi Muhammad SAW, saya berpendapat kata sijjil mencerminkan dampak tumbukan benda langit khususnya dalam bentuk airburst. Akankah tumbukan komet yang menghancurkan sisi utara Laut Mati 37 abad silam merupakan bagian dari petaka yang menimpa kaum Nabi Luth AS? Wallahua’lam.

Referensi :

Silvia dkk. 2019. The 3.7kaBP Middle Ghor Event, Catastrophic Termination of a Bronze Age Civilization. Annual Meeting of the American Schools of Oriental Research (ASOR), Denver, Colorado, USA, 14-17 November 2018.

Collins dkk. 2005. Earth Impact Effects Program : A Web–based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth. Meteoritics & Planetary Science 40, no. 6 (2005), 817–840.

Gough. 2018. A Meteor may have Exploded in the Air 3,700 Years Ago, Obliterating Communities Near the Dead Sea. Universetoday.com, 4 December 2018. Diakses 12 Desember 2018.

Mengenal Gerhana Bulan, Melihat Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H

Akan terjadi sebuah peristiwa Gerhana Bulan (al-kusuf al-qamar) pada Rabu dinihari 14 Zulqaidah 1440 H yang bertepatan dengan 17 Juli 2019 TU (Tarikh Umum). Gerhana Bulan ini merupakan Gerhana Bulan Sebagian, yang mendapatkan namanya karena pada saat puncak gerhana tercapai hanya sebagian dari cakram Bulan yang tergelapkan oleh gerhana. Dalam Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan hanya 65 % cakram Bulan yang akan berubah menjadi gelap. Sehingga Bulan purnama sempurna pada saat itu akan berubah menjadi laksana Bulan sabit tebal.

Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Periode Bulan

Gerhana Bulan adalah sebuah peristiwa langit dimana Bumi, Bulan dan Matahari menempati sebuah garis lurus dalam perspektif tiga dimensi (syzygy) sehingga berkas cahaya Matahari yang seharusnya jatuh di paras Bulan sebagai Bulan purnama menjadi terhalangi. Dalam Gerhana Bulan, Bumi berkedudukan di tengah diapit oleh Bulan dan Matahari. Gerhana Bulan adalah implikasi dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi kita. Dimensinya cukup besar, yakni seperempat ukuran Bumi dan tergolong cukup besar diantara satelit-satelit alamiah lainnya di seantero tata surya. Di antara benda-benda langit yang berstatus satelit alamiah planet dalam tata surya, Bulan adalah yang terbesar kelima setelah Ganymede (satelit alamiah Jupiter), Titan (satelit alamiah Saturnus), Callisto dan Io (keduanya satelit alamiah Jupiter).

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana penumbral. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/500 detik. Nampak bagian Bulan yang sedikit gelap sebagai pengaruh penumbra. Sumber: Sudibyo, 2018.

Sebagai satu-satunya satelit alamiah di satu-satunya planet yang dihuni umat manusia, maka Bulan sudah dikenal sejak awal peradaban. Termasuk siklus fasenya mulai dari berbentuk sabit, sabit tebal, separo, perbani (benjol) hingga purnama dan seterusnya. Dari perubahan demi perubahan fase Bulan ini yang diamati dalam jangka panjang, umat manusia mengetahui fase-fase Bulan memiliki siklus sepanjang 29,5 hari (rata-rata). Ini disebut periode sinodis (al-fatrah as-sayanudsi), yang merupakan selang waktu diantara dua kejadian berkumpulnya Matahari dan Bulan (konjungsi atau ijtima’) yang berurutan (sinodis : berkumpul). Periode sinodis Bulan berperan penting dalam aneka peradaban, sebab menjadi dasar bagi sistem penanggalan. Baik yang berupa kalender lunar murni (setahun terdiri atas 12 bulan kalender) maupun kalender luni-solar (setahun biasa terdiri atas 12 bulan kalender dan setahun kabisat terdiri atas 13 bulan kalender).

Di sisi lain, besaran periode sinodis Bulan sempat menimbulkan masalah tersendiri pada abad ke-16 TU. Kala Isaac Newton merumuskan hukum gravitasiya yang kesohor dan menerapkannya pada pergerakan benda-benda langit, ia sempat dibuat pusing oleh tidak konsistennya hukum tersebut terhadap Bulan. Dengan memasukkan periode sinodis Bulan ke dalam hukum gravitasi dan berdasar pengetahuan massa Bumi yang diketahui pada zamannya (yakni sepertiga lebih rendah ketimbang nilai sesungguhnya), diperoleh nilai jarak rata-rata Bumi Bulan hanyalah 359.000 km. Padahal hasil pengukuran astronomi berdasarkan fenomena Gerhana Bulan yang telah dilakukan berulang-ulang semenjak zaman Ptolomeus menunjukkan jarak terjauh Bumi Bulan adalah 410.000 km.

Masalah ini terselesaikan detelah disadari bahwa terdapat dua macam periode revolusi benda langit, yakni periode sinodis dan periode sideris. Periode revolusi benda langit yang sesungguhnya adalah periode sideris (al-fatrah al-falakiy), yakni yang mengacu kepada posisi bintang-bintang sangat jauh (sidereal : bintang). Terdapat hubungan antara periode sideris dengan periode sinodis sebagai berikut :

Dalam hal Bulan, maka P1 adalah periode sideris Bulan yang dicari dan P2 adalah periode revolusi Bumi yang besarnya 365,25 hari. Diperoleh besarnya periode sideris Bulan adalah 27,3 hari. Massa Bumi yang lebih akurat baru diketahui satu setengah abad pasca Newton lewat eksperimen Cavendish dan kala hasilnya dimasukkan ke dalam hukum gravitasi beserta dengan nilai periode sideris Bulan, diketahui bahwa jarak rata-rata Bumi Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Pengukuran modern berdasarkan femomena kulminasi atas Bulan oleh Crommelin (1905-1910 TU) disusul okultasi Bulan oleh O’Keefe (1952 TU) dan radar oleh Laboratorium Angkatan Laut AS (1957 TU) serta laser selama misi penerbangan antariksa Apollo (1969 TU hingga sekarang) mengesahkan nilai jarak rata-rata Bumi Bulan tersebut.

Gambar 3. Panorama klasik Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/100 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan betul-betul berwarna gelap seiring teknik pemotretan standar untuk observasi gerhana. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana

Hanya periode sinodis Bulan saja yang berperan dalam peristiwa Gerhana Bulan. Secara umum pada setiap pertengahan bulan Hijriyyah, yakni saat Bulan purnama, sejatinya Bulan berkedudukan di antara Bumi dan Matahari. Akan tetapi tidak pada setiap saat tersebut terjadi Gerhana Bulan. Sebab lintasan (orbit) Bulan dalam mengelilingi Bumi tidak sama dengan bidang orbit Bumi dalam mengelilingi Matahari yang disebut ekliptika (masar al-syams). Melainkan membentuk sudut 5 derajat. Hanya pada saat Bulan purnama berkedudukan di ekliptikalah maka Gerhana Bulan bisa terjadi. Sehingga dalam setahun Hijriyyah hanya berkemungkinan terjadi dua hingga tiga peristiwa Gerhana Bulan saja.

Gerhana Bulan terjadi manakala cahaya Matahari yang seharusnya tiba di permukaan cakram Bulan terhalangi Bumi akibat konfigurasi syzygy. Penghalangan Bumi menciptakan dua jenis bayangan, yaitu bayangan inti atau umbra dan bayangan tambahan atau penumbra. Umbra dan penumbra terjadi akibat ukuran Matahari yang jauh lebih besar ketimbang Bumi. Saat Bulan melintasi umbra, secara teoritik takkan ada berkas cahaya Matahari yang bisa jatuh ke permukaan Bulan. Itulah yang menjadikan Bulan gelap sepenuhnya di puncak Gerhana Bulan Total, atau gelap sebagian di puncak Gerhana Bulan Sebagian.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebaliknya bilamana Bulan hanya melintasi penumbra, masih cukup banyak berkas cahaya Matahari yang tiba di permukaan Bulan. Maka dalam peristiwa Gerhana Bulan unik yang disebut Gerhana Bulan Penumbral (Samar), Bulan akan nampak seperti biasa saja laksana purnama sempurna meski sedang terjadi gerhana. Hanya perukyat yang berpengalaman, atau bilamana pengamatan Gerhana Bulan dilaksanakan dengan menggunakan teleskop atau kamera tertentu sajalah maka gerhana dapat diidentifikasi.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan akan dimulai pada Rabu dinihari pukul 01:44 WIB. Pada saat itu Bulan tepat mulai bersentuhan dengan penumbra lewat peristiwa kontak awal penumbra (P1). Di menit-menit berikutnya Bulan kian jauh memasuki penumbra, namun secara sangat sulit untuk diidentifikasi. Barulah pada pukul 03:02 WIB berdasarkan hasil perhitungan, Bulan akan tepat bersentuhan dengan umbra lewat peristiwa kontak awal umbra (U1). Mulai saat itulah Gerhana Bulan menjadi kasatmata, ditandai dengan mulai menggelapnya bagian cakram Bulan yang lama kelamaan kian meluas.

Puncak gerhana diperhitungkan akan tercapai pada pukul 04:31 WIB. Pada saat puncak gerhana terjadi, diperhitungkan 65 % cakram Bulan akan menjadi gelap. Begitu puncak gerhana telah berlalu maka luas bagian gelap di cakram Bulan secara berangsur-angsur mulai berkurang dan diperhitungkan akan menghilang sepenuhnya pada pukul 06:00 WIB saat kotak akhir umbra (U4) terjadi. Selanjutnya Bulan kembali memasuki penumbra hingga tepat meninggalkan penumbra dalam kontak akhir penumbra (P4) yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 07:18 WIB.

Gambar 5. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana total. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H akan memiliki durasi gerhana 5 jam 34 menit, dihitung dari saat kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra. Sementara durasi kasatmatanya hanya 2 jam 58 menit, yakni dihitung dari saat kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra. Selain durasi gerhana dan durasi kasatmata, ilmu falak juga mengenal adanya istilah durasi nampak gerhana, yang hanya terjadi bilamana Bulan dalam kondisi terbit atau terbenam manakala gerhana terjadi. Durasi nampak akan selalu lebih kecil ketimbang durasi kasatmata.

Hal tersebut akan teramati pada Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H. Gerhana bisa disaksikan dari Asia, Afrika dan Eropa. Di Indonesia juga bisa disaksikan namun dalam kondisi yang tak sempurna. Sebab di Indonesia gerhana berlangsung saat Matahari dalam proses terbit. Bagi Jakarta yang akan mengalami kondisi Matahari terbit pada pukul 06:05 WIB, maka berkesempatan menikmati gerhana kasatmata dengan durasi kasatmata-nya. Namun tidak dengan wilayah-wilayah di sebelah timurnya. Di kota Makassar misalnya, dengan Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 06:10 WITA (05:10 WIB) maka mengalami gerhana dengan durasi nampak 2 jam 8 menit. Di kota Jayapura, dimana Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 05:41 WIT (03:41 WIB) maka durasi nampak gerhana hanyalah 39 menit.

Menuju Satu Idul Fitri 1440 H di Indonesia

Syawwal secara literal memiliki beragam makna mulai dari ‘ringan’ hingga ‘mengandung’. Ini merupakan jejak dari era belasan abad silam kala masih berlaku sistem penanggalan lunisolar, dimana bulan kalender ini berlangsung usai puncak musim panas di Semenanjung Hijaz (Saudi Arabia). Dengan suhu udara yang mulai menurun maka kehidupan menjadi lebih ringan, tanpa didera sengatan tajam sinar mentari. Suhu udara yang mulai menurun juga diikuti mulai mengandungnya unta-unta betina seiring datangnya musim kawin mereka.

Namun di masa kini, manakala sistem penanggalan telah bertransformasi menjadi lunar murni, peranan Syawwal bertitik berat pada aspek religius. Inilah bulan kalender Hijriyyah yang mengikuti pada bulan Ramadhan. Tanggal 1 Syawwal menandakan berakhirnya puasa Ramadhan dan diperingati sebagai hari raya Idul Fitri. Di Indonesia dan negara-negara Asia Selatan / Asia Tenggara, perayaan Idul Fitri juga memiliki dimensi ekonomis dan sosio-kultural. Aktivitas konsumsi publik meningkat sepanjang masa libur Idul Fitri, jutaan manusia bermigrasi untuk sementara ke tanah kelahirannya dan tempat-tempat wisata yang eksotis pun dijubeli pengunjung.

Hilaal

Seperti halnya bulan Ramadhan, bulan Syawwal merupakan bagian kalender Hijriyyah yang gayut (bergantung) pada periode sinodis Bulan sebagai rentang waktu antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Pengamatan menunjukkan nilai periode sinodis Bulan sesungguhnya bervariasi di antara 29 hari 8 jam hingga 29 hari 16 jam. Namun jika pengamatan dilakukan dalam jangka panjang dan hasilnya dirata-ratakan, maka diperoleh nilai periode sinodis Bulan rata-rata adalah 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik. Inilah yang digunakan sebagai landasan untuk enetapkan panjang hari bulan Hijriyyah sebagai 29 hari atau 30 hari.

Gambar 1. Hilaal sebagai lengkungan sabit tertipis (tanda panah) dari Bulan yang teramati pasca Matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi Bulan – Matahari. Hilaal ini diabadikan dari Pos Observasi bulan Pedalen Kebumen (jawa Tengah) pada Minggu 5 Mei 2019 TU oleh tim observasi BMKG dengan menggunakan teleskop Celestron NextStar 5E 125 mm yang dirangkai kamera Canon EOS 70D. Sumber: BMKG, 2019.

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilaal, lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Idul Fitri pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara penentuan Idul Fitri. Yang pertama adalah rukyat hilaal (observasi hilaal), yakni mencoba mengamati hilaal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syariat. Akan tetapi di sisi lain cara ini butuh waktu hingga last minute guna memperoleh hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif sejak jauh hari sebelumnya namun di sisi lain memiliki anggitan minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat, atau disebut pula kriteria MABIMS karena menjadi acuan bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasi tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Gambar 2. Posisi Bulan dan Matahari pada saat terbenamnya Matahari di Senin 3 Juni 2019 TU sebagai dasar pelaksanaan rukyat hilaal penentuan Idul Fitri 1440 H. Sumber: Sudibyo, 2019.

Indonesia

Bagaimana dengan Idul Fitri 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Ramadhan 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Senin 3 Juni 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah Idul Fitri 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Senin 3 Juni 2019 TU pukul 17:02WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil -1,6 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +1,8 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu lokal terbenamnya Matahari. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil -0º 57’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +0º 22’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +3º 00’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat) hingga +3º 12’ (di Jayapura, propinsi Papua).

Gambar 3. peta tinggi Bulan di Indonesia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer ELP 2000-82. Sumber: Sudibyo, 2019.

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat tidak terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Senin senja 3 Juni 2019 TU, namun dengan Bulan terbenam lebih dulu dibanding Matahari pada saat ghurub (kecuali di sebagian Jawa dan sebagian Sumatra), maka mustahil hilaal bisa dilihat. Pada sebagian pulau Jawa dan pulau Sumatra pun, meski Bulan terbenam terlambat dibanding Matahari, namun selisih waktu antara terbenamnya Matahari dan terbenamnya Bulan sangat singkat. Kurang dari 5 menit. Dalam situasi seperti ini juga mustahil hilaal bisa dilihat. Dengan situasi demikian maka Idul Fitri 1440 H di Indonesia berpeluang sangat besar akan bertepatan dengan Rabu 5 Juni 2019 TU yang dimulai dari malam Rabu.

Bagaimana dengan belahan dunia lainnya?

Ada dua negara yang patut mendapat perhatian. Yang pertama adalah Saudi Arabia, negara yang membawahi dua tanah suci Umat Islam sedunia sehingga kerap dianggap sebagai kiblat dalam beragam aspek ibadah yang terkait dimensi spasial dan temporal. Termasuk dalam hal penentuan Idul Fitri. Arab Saudi bertumpu pada rukyat dalam menentukan 1 Syawwal 1440 H, namun bagaimana hasil rukyat di negara tersebut akan disikapi dapat dilihat dari sisi hisab.

Gambar 4. peta tinggi Bulan di seluruh dunia pada 3 Juni 2019 TU waktu maghrib setempat berdasarkan sistem hisab kontemporer. Sumber: BMKG, 2019.

Berbeda dengan Indonesia, segenap wilayah Saudi Arabia telah memiliki tinggi Bulan yang positif manakala Matahari terbenam pada Senin 3 Juni 2019 TU waktu setempat. Meski rentang tinggi Bulan di sana relatif kecil, yakni kurang dari 1º. Dengan tinggi Bulan yang sudah positif, bilamana apabila terdapat laporan hilaal berhasil dilihat maka laporan tersebut berkemungkinan untuk diterima. Sehingga terbuka kemungkinan Saudi Arabia akan ber-Idul Fitri pada Selasa 4 Juni 2019 TU.

Negara yang kedua yang patut menjadi perhatian adalah Turki, tempat berlangsungnya Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyyah Internasional 2016 sekaligus sebagai satu-satunya negara yang hingga saat ini telah meratifikasi Resolusi Istanbul. Resolusi Istanbul menyebutkan awal bulan Hijriyyah telah terjadi apabila tinggi Bulan minimal 5º dan elongasi Bulan – Matahari minimal 8º dimanapun di daratan pada Bumi ini, sepanjang di negara paling timur (yakni Selandia Baru) belum terbit fajar.

Berdasarkan data hisab, maka pada daratan paling barat (yakni wilayah benua Amerika bagian selatan) telah terjadi tinggi Bulan lebih dari 5º pada saat Matahari terbenam 3 Juni 2019 TU. Namun elongasinya masih kurang dari 8º dan demikian pula pada saat Matahari terbenam di Amerika selatan ternyata di Selandia Baru sudah terjadi terbitnya Matahari. Dengan semua kondisi tersebut, Turki telah memutuskan jauh hari sebelumnya bahwa Idul Fitri 1440 H di Turki bertepatan dengan Selasa 4 Juni 2019 TU.

Bulan untuk Awal Ramadhan 1440 H

Gambar 1. Posisi Bulan dan Matahari saat Matahari terbenam Minggu 5 Mei 2019 TU di Pos Observasi Bulan Pedalen Kebumen (Jawa Tengah).

Ramadhan. Makna literalnya adalah ‘yang panas membakar,’ satu jejak dari masa berbelas abad silam dimana bulan kalender ini bersamaan dengan puncak musim panas di Semenanjung Hijaz, kini bagian dari Saudi Arabia. Namun dalam konteks religius, Ramadhan menjadi salah satu bulan kalender terpenting di dunia. Mengingat satu dari tujuh orang manusia masakini di Bumi ini memeluk agama Islam. Inilah bulan kalender yang suci, rentang waktu dimana Umat Islam diwajibkan berpuasa dan dilebur doa-dosanya.

Demikian halnya di Indonesia. Tak hanya dalam aspek religius, Ramadhan memiliki kedudukan penting dalam ranah ekonomis, sosio-kultural hingga ketatanegaraan. Kehidupan ekonomi terasa lebih menggeliat sepanjang bulan kalender ini. Puncaknya menjelang dan selama perayaan Idul Fitri kelak, dimana jutaan manusia bermigrasi untuk sementara. Pulang kembali ke tanah kelahirannya, merajut silaturahmi dan bertegur sapa dengan sesama.

Bulan Ramadhan merupakan bagian dari kalender Hijriyyah, sebuah sistem penanggalan yang gayut (bergantung) kepada peredaran Bulan murni. Tepatnya pada periode sinodis Bulan, yakni rentang waktu di antara dua peristiwa konjungsi Bulan-Matahari yang berurutan. Konjungsi Bulan-Matahari sendiri adalah peristiwa saat Bulan dan Matahari menempati satu garis bujur ekliptika yang sama dalam tata koordinat langit. Periode sinodis Bulan memiliki nilai rata-rata jangka panjang 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik, dengan variasi nilai berayun di antara minimum 29 hari 8 jam hingga maksimum 29 hari 16 jam.

Penentu pergantian bulan kalender Hijriyyah adalah hilaal, yakni lengkungan sabit Bulan tertipis / termuda yang bisa dideteksi dengan mata baik menggunakan instrumen maupun tidak. Bulan Ramadhan pun ditentukan dengan cara demikian. Secara umum di Indonesia terdapat dua cara untuk menentukan awal Ramadhan. Yang pertama adalah rukyat hilaal (observasi hilaal), yakni mencoba mengamati hilaal dengan acuan setelah Matahari terbenam. Di satu sisi ini adalah cara penentuan dengan anggitan (rujukan) terbanyak dalam perspektif syaruat. Akan tetapi di sisi lain cara ini membutuhkan waktu hingga last minute untuk mendapatkan hasilnya. Sedangkan yang kedua adalah hisab (perhitungan astronomi), yakni mencoba memperhitungkan elemen-elemen posisional Bulan dan Matahari untuk kemudian diperbandingkan dengan persamaan batas (threshold) tertentu yang disebut kriteria. Di satu sisi hisab menyediakan aplikasi prediktif namun di sisi lain memiliki anggitan yang minimal. Pada dasarnya secara astronomi kedua cara tersebut berterima, sepanjang syarat dan ketentuan yang melekat pada masing-masing cara dipatuhi.

Indonesia memiliki sebuah kriteria untuk menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, yang disebut kriteria Imkan Rukyat. Kadangkala disebut pula kriteria MABIMS, karena menjadi acuan juga bagi Umat Islam di Asia Tenggara. Kriteria tersebut memiliki narasai bahwa tinggi Bulan toposentrik minimal adalah 2º yang dilengkapi dengan syarat tambahan. Yakni umur Bulan minimal 8 jam atau elongasi Bulan – Matahari minimal 3º. Kriteria ini dipergunakan baik dari sisi hisab, maupun dari sisi rukyat. Dari sisi hisab, maka apabila posisi Bulan sudah melebihi nilai kriteria ini awal bulan Hijriyyah yang baru sudah terjadi kala Matahari terbenam saat itu. Sementara dari sisi rukyat, kriteria ini juga menjadi alat untuk menerima atau menolak sebuah laporan hasil rukyat. Terutama jika laporan tersebut berdasarkan pada observasi mata telanjang saja, tanpa didukung alat bantu apapun dan tanpa citra/foto yang menjadi bukti.

Bagaimana dengan awal Ramadhan 1440 H di Indonesia?

Tanggal 29 Sya’ban 1440 H dalam Takwim Standar Indonesia bertepatan dengan Minggu 5 Mei 2019 TU (Tarikh Umum). Pada tanggal inilah awal Ramadhan 1440 H akan ditentukan, baik dengan cara hisab maupun rukyat. Pada almanak sejumlah ormas Islam seperti misalnya Nahdlatul ‘Ulama dan Persis, tanggal 29 Sya’ban juga bertepatan pada hari yang sama. Hanya almanak Muhammadiyah yang menempatkan tanggal 29 Sya’ban sehari lebih dini.

Konjungsi geosentris Bulan dan Matahari terjadi pada hari Minggu 5 Mei 2019 TU pukul 05:45 WIB. Di seluruh Indonesia pada saat Matahari terbenam maka umur Bulan bervariasi mulai dari yang terkecil +9,7 jam (di Merauke, propinsi Papua) hingga yang terbesar +13,0 jam (di Banda Aceh, propinsi Aceh). Umur Bulan adalah selisih waktu di antara saat konjungsi geosentris Bulan dan Matahari dengan waktu terbenamnya Matahari secara lokal. Sementara tinggi toposentrik Bulan juga bervariasi dari yang terkecil +5º 20’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga yang terbesar +6º 30’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat). Demikian halnya elongasi Bulan bervariasi dari yang terkecil +6º 34’ (di Jayapura, propinsi Papua) hingga +7º 50’ (di Pelabuhan Ratu, propinsi Jawa Barat).

Dengan data-data tersebut, maka kriteria Imkan Rukyat sudah terpenuhi dari sisi hisab. Sementara dari sisi rukyat, masih harus menunggu hingga Matahari terbenam pada Minggu senja 5 Mei 2019 TU. Apabila cuaca cerah, maka laporan rukyat hilaal yang masuk akan diterima. Sehingga 1 Ramadhan 1440 H di Indonesia berpeluang besar akan bertepatan dengan senin 6 Mi 2019 TU yang dimulai dari malam Senin.

Bagaimana secara astronomi?

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) telah melaksanakan kampanye observasi hilaal secara komprehensif dalam rentang waktu 2007 hingga 2010 TU menghasilkan serangkaian data yang cukup bernilai. Dari sana diketahui berbagai hubungan antara ketampakan / keterlihatan hilaal dengan sejumlah elemen posisional Bulan terhadap Matahari. Mari ambil contoh perhitungan yang dilakukan di lokasi Pos Observasi Bulan (POB) Pedalen, Kab. Kebumen (Jawa Tengah).

Gambar 2. Prakiraan bentuk dan panjang sabit hilaal pada saat Matahari terbenam Minggu 5 Mei 2019 TU di Pos Observasi Bulan Pedalen Kebumen (Jawa Tengah).

Di lokasi ini, aplikasi data-data RHI menunjukkan saat Matahari terbenam maka lengkungan hilaal akan sepanjang 23º. Dan secara empirik hilaal akan terlihat dengan teleskop hanya dalam 5 menit pasca terbenamnya Matahari apabila langit dalam kondisi sempurna (sangat cerah). Dalam kondisi yang sama pula, secara empirik hilaal baru akan terlihat dengan mata telanjang pada 23 menit pasca terbenamnya Matahari. Sementara Bulan akan terbenam dalam 27 menit pasca terbenamnya Matahari. Dari perspektif ini, maka peluang terlihatnya hilaal penentu awal Ramadhan 1440 H adalah lebih besar dengan menggunakan teleskop.

Beda Idul Adha 1439 H, Semata Perspektif atau Realita?

Seperti diketahui, Indonesia merayakan Idul Adha 1439 H pada saat yang berbeda dengan Saudi Arabia. Di Indonesia, Idul Adha 10 Zulhijjah 1439 H bertepatan dengan 22 Agustus 2018 TU (Tarikh Umum), sementara di Saudi Arabia bertepatan dengan 21 Agustus 2018 TU.

Banyak argumen fikih yang telah dikemukakan untuk menjelaskan situasi tersebut. Baik dalam sudut pandang mendukung keputusan Indonesia. Ataupun menyanggah (dan mencela dalam sisi tertentu, terlebih ini tahun politik). Namun jarang sekali argumen astronomi atau ilmu falak komprehensif yang muncul dalam situasi ini.

Saya hadir dalam Sidang Itsbat Penetapan 1 Zulhijjah 1439 H yang diselenggarakan Kementerian Agama RI di Jakarta pada Sabtu 11 Agustus 2018 TU, dalam kapasitas sebagai salah satu anggota Badan Hisab dan Rukyat Nasional Republik Indonesia. Sidang berlangsung cepat, hanya mendengarkan laporan-laporan pelaksanaan rukyatul hilaal dari seluruh Indonesia pada saat senja itu dan ditingkahi dengan tanggapan-tanggapan sebelum kemudian mengambil keputusan. Tidak ada satu titik pun yang berhasil mendeteksi hilaal. Sehingga diputuskan bulan Zulqaidah 1439 H diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari. Dan 1 Zulhijjah 1439 H bertepatan dengan Senin 13 Agustus 2018 TU.

Hanya ada dua tanggapan dalam sidang, masing-masing dari utusan PP Muhammadiyah dan PBNU. Utusan PP Muhammadiyah menyatakan keputusan tersebut sesuai dengan hasil hisab yang dipedomani ormasnya, sembari menyampaikan usulan pribadi tentang bagaimana jika dikaji penggunaan waktu ijtima’ (konjungsi Bulan-Matahari) saja sebagai parameter penentuan awal bulan Hijriyyah, dengan menafikan tinggi Bulan dan parameter-parameter lain. Di persidangan-persidangan sebelumnya, usulan semacam ini sebenarnya disepakati untuk tidak dibahas di forum Sidang Itsbat. Karena posisi sidang hanyalah untuk menyatakan Ya atau Tidak terhadap hasil hisab dan hasil rukyat. Tetapi namanya forum yang cair, tetap saja terbentuk kesempatan untuk menyampaikan usulan semacam ini.

Sementara utusan PBNU menanggapi dengan menyatakan dalam almanak NU yang telah dikonfirmasi oleh hasil rukyat, pelaksanaan rukyat hilaal penentuan 1 Zulhijjah 1439 H di Indonesia seharusnya tidak pada 11 Agustus 2018 TU senja itu. Karena bulan Syawwal 1439 H telah diistikmalkan seiring tidak terdeteksinya hilaal saat rukyat hilaal dilakukan pada 13 Juli 2018 TU. Sehingga 11 Agustus 2018 TU masih bertepatan dengan 28 Zulqaidah. Tidak ada rukyat hilaal yang diselenggarakan pada tanggal 28 Hijriyyah. Di sisi lain, hasil hisab NU sendiri, yang disebut hisab haqiqy tadzkiky ashri kontemporer atau singkatnya hisab jama’i, memperlihatkan pada 12 Agustus 2018 TU senja tinggi Bulan di Indonesia sudah cukup besar. Berkisar 12º hingga 13º di seluruh Indonesia. Sehingga potensi untuk terdeteksi sangat besar. Dan itulah yang terjadi. Sehingga dalam almanak NU pun 1 Zulhijjah 1439 H bertepatan dengan 13 Agustus 2018 TU.

Bahwa dalam beberapa jam pasca sidang tersebut kemudian muncul laporan terdeteksinya hilaal dari tanah Saudi Arabia, hal itu juga sesungguhnya sudah diperkirakan. Data hisab menunjukkan tinggi Bulan di kotasuci Makkah sedikit lebih besar dari 2º. Sehingga ada potensi terdeteksinya hilaal oleh para perukyat di sana, terlepas dari bagaimana kualitas rukyat hilaal di Saudi Arabia (yang dalam dunia ilmu falak masih dipandang memprihatinkan). Maka muncullah keputusan Saudi Arabia, 1 Zulhijjah bertepatan dengan 12 Agustus 2018 TU.

Bagaimana ilmu falak memandang hal itu?

Mari kita lihat peta di bawah ini :

Ini adalah peta standar proyeksi Mercator, yang menggelar bentuk Bumi tiga dimensi yang bulat menjadi selembar peta datar dua dimensi. Batas sisi utara adalah garis lintang 60º LU sementara sisi selatan garis lintang 60º LS. Batas sisi barat adalah garis bujur 180º BB dan batas sisi timur adalah garis bujur 180º BT. Baik garis bujur 180º BB maupun 180º BT sejatinya berimpit di satu tempat yang sama, Ini adalah garis bujur yang secara tradisional dinyatakan sebagai Garis Batas Penanggalan Internasional untuk kalender Tarikh Umum, atau populer dengan IDL (International Date Line). Meskipun sejatinya Garis Batas Penanggalan Internasional yang sesungguhnya meluk-liuk di sekeliling garis bujur 180º ini mengikuti batas-batas negara yang dilintasinya.

Dan garis merah melengkung adalah garis yang diusulkan sebagai Garis Batas Penanggalan Hijriyyah Internasional atau ILDL (International Lunar Date Line). Para ahli falak kontemporer masih bersilang pendapat soal posisi sesungguhnya dari garis ILDL ini. Disini saya menggunakan salah satu pendapat saja, yang populer di Indonesia, yakni sebagai garis berimpit dengan titik-titik dimana tinggi Bulan tepat 2º pada saat terbenamnya Matahari. Garis ini melintas di dekat kotasuci Makkah. Dan dalam peta ini kotasuci Makkah berkedudukan seakan-akan di tengah peta.

Dengan melihat peta tersebut, yang adalah peta dalam perspektif penangggalan Tarikh Umum pada tanggal 11 Agustus 2018 TU maghrib, terlihat jelas dunia seakan-akan dibelah oleh garis merah ILDL. Sebelah barat garis sudah memasuki tanggal 1 Zulhijjah 1439 H. Sementara sisi timur garis masih melanjutkan bulan Zulqaidah menjadi 30 Zulqaidah 1439 H.

Namun ini hanyalah seakan-akan. Lebih jelasnya mari kita lihat peta berikut :

Ini peta dunia yang sama. Hanya saja batas barat dan timur diubah menjadi mengikuti ILDL. Bukan lagi pada garis bujur 180º. Dalam peta ini kedudukan kotasuci Makkah menjadi berada di ujung paling timur. Dan tampak jelas bahwa seluruh dunia senyatanya berada pada tanggal 1 Zulhijjah 1439 H yang sama. Perbedaannya saat konversi ke kalender Tarikh Umum, sisi timur garis bujur 180º telah memasuki bulan Zulhijjah pada 11 Agustus 2018 TU maghrib. Termasuk Saudi Arabia. Sementara sisi barat dari garis bujur 180º baru memasukinya pada 12 Agustus 2018 TU maghrib. Termasuk Indonesia.

Jadi dengan mengubah perspektif semata, dari yang semula perspektif kalender Tarikh Umum menjadi sudut pandang kalender Hijriyyah, kita sudah mendapati bahwa keputusan Indonesia dan Saudi Arabia sebenarnya senada. Sama-sama menempati tanggal 1 Zulhijjah 1439 H pada saat yang sama. Dengan demikian Idul Adha 1439 H di Indonesia sejatinya juga bersamaan dengan Saudi Arabia. Bahwa jika dilihat dalam tanggal Tarikh Umum terkesan berbeda, sekali lagi itu semata soal perspektif. Bukan realita.

Gerhana Bulan Total Terlama Abad Ini dan Mars Terdekat ke Bumi

Bagaimana jika dua peristiwa langit yang berbeda terjadi pada waktu yang hampir sama? Inilah yang akan kita jumpai pada akhir Juli 2018 TU (Tarikh Umum). Yakni peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dan Mars terdekat ke Bumi 31 Juli 2018.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud Gerhana Bulan Total terlama abad ini adalah dalam durasi totalitasnya. Yakni rentang waktu manakala Bulan sepenuhnya berada dalam umbra (bayangan inti) Bumi sehingga sepenuhnya terblokir dari paparan langsung cahaya Matahari. Peristiwa Gerhana Bulan Total telah diperhitungkan akan terjadi pada Sabtu 28 Juli 2018 TU, bertepatan dengan 15 Zulqaidah 1439 H jika berdasarkan takwim standar Kementerian Agama RI atau 14 Zulqaidah 1439 H merujuk kalender Nahdlatul ‘Ulama yang telah dikomparasikan dengan hasil rukyat hilaal. Dan dalam peristiwa ini, durasi totalitasnya adalah sebesar 103 menit atau 1 jam 43 menit. Panjangnya durasi totalitas ini menjadikan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Gerhana Bulan Total (berdurasi totalitas) terlama bagi abad ke-21 TU.

Gambar 1. Bulan dalam tahap parsial saat Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 silam. Diabadikan dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra di cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan ini mengurung narasi yang hampir serupa dengan peristiwa sejenis sebelumnya. Yakni terjadi manakala Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus ditinjau dari segala arah (syzygy) dengan Bulan berada di tengah-tengah. Pada saat itu Bulan memiliki fase purnama. Dan pada saat yang sama pula Bulan berkedudukan dekat atau bahkan tepat menempati salah satu dari dua titik nodal dalam orbitnya, yakni titik potong antara orbit Bulandengan dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari). Sebagai akibatnya pancaran sinar Matahari ke arah Bulan akan terhalangi oleh bundaran Bumi. Bergantung pada besar kecilnya derajat penghalangan cahaya Matahari oleh Bumi, maka terdapat tiga macam Gerhana Bulan. Masing-masing Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Gerhana Bulan Parsial dan Gerhana Bulan Penumbral(GBP) atau Gerhana Bulan Samar.

Gerhana Bulan Apogean

Gerhana Bulan 28 Juli 2018 merupakan peristiwa Gerhana Bulan Total. Terjadi karena Bulan tepat sepenuhnya melintasi umbra Bumi di kala puncak gerhana terjadi. Perhitungan menunjukkan awal gerhana akan terjadi pada pukul 00:15 WIB, yang ditandai dengan kontak awal penumbra (P1) yang juga pertanda dimulainya tahap penumbral. Dalam kondisi tersebut, meski gerhana telah dimulai namun masih sangat sulit untuk membedakannya dengan Bulan purnama biasa. Kecuali oleh pengamat yang berpengalaman, atau pengamatan dilakukan dengan menggunakan teleskop / binokular.

Gambar 2. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan diperhitungkan baru akan nampak secara kasat mata pada pukul 01:24 WIB. Yakni pada saat kontak awal umbra (U1) dimulai yang juga menandakan dimulainya tahap parsial. Pada yakni pada saat umbra tepat mulai bersentuhan dengan cakram Bulan. Mulai saat itu cakram Bulan akan berangsur-angsur menggelap dari sisi timur. Tahap berikutnya, yakni tahap total, diperhitungkan akan terjadi mulai terjadi pada pukul 02:30 WIB dengan terjadinya kontak awal total (U2). Puncak gerhana diperhitungkan terjadi pada pukul 03:22 WIB.

Tahap total ini diperhitungkan akan berakhir pada pukul 04:13 WIB seiring terjadinya kontak akhir total (U3). Secara kasat mata gerhana diperhitungkan akan berakhir pada pukul 05:19 WIB seiring cakram Bulan tepat meninggalkan umbra sebagai pertanda terjadinya kontak akhir umbra (U4). Tahap parsial pun berakhir pada saat itu. Dan akhir gerhana diperhitungkan bakal terjadi pada pukul 06:28 WIB dengan terjadinya kontak akhir penumbra (P4) sekaligus akhir tahap penumbral.

Dari angka-angka tersebut kita bisa mengetahui durasi gerhana ini. Durasi gerhana secara keseluruhan, dimulai dari kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra, diperhitungkan sebesar 6 jam 14 menit. Namun durasi gerhana kasat mata, yakni sejak kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra, diperhitungkan sebesar 3 jam 55 menit. Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit.

Durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 cukup panjang. Karena gerhana terjadi pada waktu berdekatan dengan apogee Bulan. Yakni saat Bulan berkedudukan di titik apogee (titik terjauh dalam orbitnya terhadap Bumi). Karena itu merupakan Gerhana Bulan Apogean. Saat puncak gerhana terjadi pada 28 Juli 2018 TU pukul 03:22 WIB, jarak Bumi – Bulan diperhitungkan adalah sebesar 406.100 kilometer (yakni dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sementara apogee Bulan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:45 WIB, atau hanya 14 jam sebelum puncak gerhana. Apogee Bulan saat itu diperhitungkan memiliki jarak 406.220 kilometer.

Jarak rata-rata Bumi – Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Jika jarak Bumi – Bulan untuk satu saat lebih besar dari nilai tersebut, maka ukuran tampak (apparent) cakram Bulan akan terlihat lebih kecil kala disaksikan dari Bumi. Fenomena ini akan cukup jelas pada saat terjadinya Bulan purnama. Dalam astronomi, Bulan purnama yang terjadi dalam waktu berdekatan dengan apogee Bulan disebut sebagai Bulan purnama apogean. Namun bagi khalayak ramai lebih populer dengan istilah Minimoon, sebuah lawan-kata dari istilah Supermoon. Sejak awal abad ke-21 hingga beberapa tahun ke depan, Minimoon selalu terjadi di setiap bulan Juli hingga Agustus, sementara Supermoon di setiap bulan Desember hingga Januari.

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (Supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Kecepatan gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi tergantung pada posisinya. Saat berada di perigee (titik terdekat ke Bumi), Bulan bergerak paling cepat. Sebaliknya pada saat berada di apogee ia menjadi yang paling lambat. Maka saat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 terjadi, gerak Bulan sedang dalam keadaan paling lambat. Inilah yang menjadikan durasi totalitasnya cukup besar, selain bahwa pada saat gerhana terjadi lintasan pergerakan Bulan tepat hampir menyentuh pusat bundaran umbra. Kombinasi dua hal tersebut menjadikan durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah yang terpanjang bagi abad ke-21 TU.

Keterlihatan Gerhana Bulan

Salah satu aspek istimewa dalam peristiwa Gerhana Bulan adalah tahap-tahap gerhananya terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan, maka perbedaan tahap-tahap gerhana antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama.

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 memiliki wilayah gerhana cukup luas mencakup lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Yakni melingkupi seluruh benua Eropa, Afrika, Australia serta hampir seluruh Asia (kecuali sudut timur laut Russia) dan sebagian Amerika (khususnya Amerika selatan). Luasan wilayah gerhana terbagi menjadi dua, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh dan wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit).

Gambar 4. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 secara global. Perhatikan bahwa hampir segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara tidak utuh. Yakni Gerhana Bulan terjadi di Indonesia saat Bulan sedang dalam proses terbenam. Sehingga tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Hampir segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah yang mengalami gerhana meski secara tak utuh. Karena Gerhana Bulan terjadi di Indonesia manakala Bulan sedang dalam proses terbenam. Jadi tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan mengingat Bulan sudah keburu terbenam (dan sebaliknya sudah Matahari terbit). Karena itulah maka propinsi Papua hanya bisa menikmati Gerhana Bulan ini sebelum akhir tahap total (U3) saja. Sementara segenap daerah yang ada di antara pulau Sulawesi hingga sisi barat pulau Irian (yakni propinsi Irian Jaya Barat) beserta sebagian propinsi Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Utara hanya sanggup mengalami gerhana sebelum akhir tahap parsial (U4). Sisanya, kecuali sebagian pulau Sumatra, masih lebih beruntung karena mengalami Gerhana Bulan hingga sebelum tahap akhir gerhana (P4). Hanya propinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau saja yang berkesempatan menyaksikan gerhana secara utuh.

Gerhana Bulan Total merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :


Mars Terdekat ke Bumi

Selain Gerhana Bulan Total, Juli 2018 TU juga ditandai dengan peristiwa langka, yakni saat Mars berkedudukan terdekat dengan Bumi. Terdekat dalam arti yang sesungguhnya, yakni dalam hal jarak. Pada Selasa 31 Juli 2018 TU pukul 14:51 WIB yang bertepatan dengan 18 Zulqaidah 1439 H (dalam takwim Kementerian Agama RI) atau 17 Zulqaidah 1439 H (dalam kalender Nahdlatul ‘Ulama) Mars diperhitungkan akan berjarak 57,59 juta kilometer dari Bumi kita, dihitung dari pusat Bumi ke pusat Mars. Terakhir kali Mars berada pada posisi yang lebih dekat ke Bumi ketimbang saat ini adalah pada 15 silam. Tepatnya pada 27 Agustus 2003 TU dimana saat itu Bumi dan Mars hanya terpisahkan jarak sebesar 55,7 juta kilometer saja.

Gambar 5. Simulasi panorama langit malam pada saat puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dilihat dari Jakarta, Indonesia. Atas = utara, kanan = barat. Nampak Bulan sangat berdekatan dengan Mars, dengan jarak sudut (elongasi) hanya sekitar 10º. Sumber: SkyMapOnline, 2018.

Karena berkedudukan cukup dekat dengan Bumi dibanding biasanya, maka Mars akan bertambah terang. Pada 31 Juli 2018 TU itu Mars bakal menjadi benda langit alami terterang nomor tiga di langit malam setelah Bulan dan Venus. Diperhitungkan Mars akan memiliki magnitudo semu hingga -3, atau 10 kali lebih benderang dibandingkan kondisi biasanya. Perubahan kecemerlangan ini akan mudah dideteksi bahkan tanpa menggunakan alat bantu optik apapun.

Baik Mars maupun Bumi adalah planet-planet yang beredar mengelilingi Matahari dalam lintasannya masing-masing. Mars tergolong dalam kelompok planet superior, yakni planet-planet yang orbitnya lebih jauh terhadap Matahari dibandingkan orbit Bumi. Maka dalam sudut pandang kita di Bumi, ada dua peristiwa unik yang terkait erat dengan posisi Bumi dan Mars dalam orbitnya masing-masing terhadap Matahari. Yakni peristiwa konjungsi (ijtima’) dan oposisi (istikbal).

Konjungsi Mars – Matahari terjadi saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Matahari di tengah-tengah. Sehingga Mars akan terlihat sangat berdekatan atau bahkan menghilang di balik Matahari saat dilihat dari Bumi. Dalam peristiwa ini maka Matahari dan Mars akan terbit dan terbenam pada saat yang hampir sama dilihat dari Bumi. Saat itu terjadi maka Mars akan memiliki jarak terpanjangnya terhadap Bumi, yakni mencapai 400 juta kilometer. Pada saat konjungsi Mars – Matahari terjadi, Mars berada dalam kondisi paling redup dengan magnitudo semu +1,6.

Sedangkan oposisi Mars – Matahari adalah sebaliknya, yakni saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Bumi di tengah-tengah. Sehingga Mars akan bertolak belakang terhadap kedudukan Matahari. Dengan kata lain, pada saat oposisi Mars terjadi maka planet itu tepat akan terbit kala Matahari tepat terbenam. Dan demikian pula sebaliknya. Saat oposisi Mars terjadi maka ia akan berada pada kondisi paling terang dan jaraknya ke Bumi pun adalah yang terpendek.

Gambar 6. Ilustrasi perubahan diameter tampak (apparent) Mars dari waktu ke waktu antara sebelum oposisi, pada saat oposisi 2018 dan setelah oposisi. Sumber: ALPO, 2018.

Mars memiliki orbit yang berjarak rata-rata 1,524 SA (satuan astronomi) terhadap Matahari sehingga mempunyai periode revolusi sideris 1,88 tahun. Namun demikian konjungsi maupun oposisi Mars – Matahari tidak terjadi setiap 1,88 tahun sekali. Dengan mempertimbangkan periode revolusi Bumi, maka Mars memiliki periode revolusi sinodis sebesar 2,135 tahun atau setara dengan 780 hari. Maka setiap 2,135 tahun inilah konjungsi Mars – Matahari terjadi. Demikian halnya oposisi Mars – Matahari.

Oposisi Mars 2018 sejatinya akan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:07 WIB, atau hanya 15 jam sebelum puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sementara jarak terdekat Mars ke Bumi dicapai dalam empat hari kemudian, yang terjadi karena Mars mengalami dua kondisi sekaligus. Yakni oposisi Mars itu sendiri dan Mars yang sedang bergerak menuju titik perihelionnya (akan dicapai pada 15 September 2018 TU mendatang. Kombinasi dua hal ini sering disebut sebagai oposisi perihelion, umumnya terjadi setiap 15 hingga 17 tahun sekali.

Referensi :

SkyMapOnline, 2018.

Beish. 2018. The 2018 Perihelic Apparition of Mars. The Association of Lunar and Planetary Observers (ALPO), diakses 25 Juli 2018 TU.

Espenak & Meeus. 2009. Five Millennium Canon of Lunar Eclipse, – 1999 to +3000 (2000 BCE to 3000 CE). NASA Tech.Pub. 2008-214173, NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Maryland.

Biru Gerhana Bulan Perigean 31 Januari 2018

Dua fenomena alam yang berbeda akan terjadi pada saat yang hampir bersamaan pada Rabu 31 Januari 2018 TU (Tarikh Umum). Yang pertama adalah Gerhana Bulan yang selalu mempesona. Dan yang kedua adalah Bulan purnama perigean atau dkenal juga dengan nama supermoon. Ini melahirkan sebuah istilah baru, Gerhana Bulan Total Perigean.

Gambar 1. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, yang berjenis Gerhana Bulan Sebagian. Panorama semacam ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Konfigurasi

Pada dasarnya Gerhana Bulan terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus, konfigurasi yang normalnya menghasilkan fase Bulan purnama. Namun kali ini konfigurasi tersebut bersifat syzygy, yakni segaris lurus ditinjau dari segenap arah tiga dimensi. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut bertenggerlah Bumi. Sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal, yakni titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan menjadi terhalangi Bumi.

Mengingat diameter Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi kita, yakni 109 kali lipat lebih besar, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sehingga terbentuk umbra dan penumbra. Umbra adalah kerucut bayangan inti, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi yang sepenuhnya tak mendapat pencahayaan Matahari. Sedangkan penumbra adalah kerucut bayangan samar/tambahan, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi kita yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang umbra dan masih mendapatkan cukup banyak pencahayaan Matahari.

Gambar 2. Bulan dalam fase umbra Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra pada cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Dalam Gerhana Bulan Total, cakram Bulan sepenuhnya berada dalam lingkup umbra Bumi. Namun bukan berarti ia sepenuhnya menghilang. Ia masih ada meski kehilangan pancaran sinar Matahari yang menuju padanya. Ia tidak ‘menghilang’ di gelap malam, melainkan nampak nampak kemerah-merahan (merah darah). Sebab meskipun tak terpapar cahaya Matahari secara langsung, sepanjang saat puncak gerhana terjadi Bulan tetap menerima pencahayaan tak langsung dari sinar Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Khususnya cahaya dalam spektrum warna merah atau inframerah.

Sementara Bulan purnama perigean adalah peristiwa dimana fase Bulan purnama terjadi berdekatan dengan saat Bulan menempati titik perigee, yakni titik terdekat ke Bumi dalam orbit Bulan yang ellips. Bulan purnama perigeaan merupakan fenomena tahunan, yang selalu terjadi dalam dua atau tiga purnama di setiap akhir tahun dan berlanjut pada awal tahun Tarikh Umum. Bupan purnama perigeaan kali ini terjadi karena Bulan berada di titik perigee pada Selasa 30 Januari 2018 TU pukul 16:55 WIB, yakni dengan jarak 358.995 kilometer (dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sebaliknya fase Bulan purnama terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 TU pukul 20:30 WIB, atau berselang 27 jam kemudian. Fenomena ini merupakan penutup dari trio Bulan purnama perigeaan yang telah bermula sejak awal Desember 2017 TU lalu.

Musim Gerhana 2018

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Tidak setiap kejadian Bulan purnama bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti bersamaan waktunya dengan Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari, melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik (ascending) dan titik nodal turun (descending). Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Bagaimana Bulan berperilaku terhadap umbra dan penumbra Bumi menentukan jenis gerhananya. Ada tiga jenis Gerhana Bulan. Pertama Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala cakram Bulan sepenuhnya memasuki umbra Bumi tanpa terkecuali. Kedua Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala umbra tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya pada puncak gerhananya Bulan hanya akan lebih redup (ketimbang saat GBT) dan ‘robek’ di salah satu sisinya. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya penumbra Bumi yang menutupi cakram Bulan baik sepenuhnya maupun hanya separuhnya. Tiada umbra Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana Bulan yang terakhir ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga sekilas nampak tak berbeda dibanding Bulan purnama umumnya.

Gambar 4. Parameter dua dari lima gerhana yang menjadi bagian dari Musim Gerhana 2018.

Gerhana Bulan 31 Januari 2018 ini adalah peristiwa Gerhana Bulan Total. Ia menjadi babak pembuka dari musim gerhana tahun 2018 TU ini. Musim Gerhana 2018 TU terdiri dari lima peristiwa gerhana, masing-masing tiga Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Semua peristiwa Gerhana Bulan itu dapat disaksikan dari Indonesia mengingat negeri ini berada dalam cakupan wilayah gerhana-gerhana tersebut. Kabar baiknya, kedua gerhana tersebut merupakan Gerhana Bulan Total. Sebaliknya seluruh Gerhana Matahari di musim 2018 ini tak berkesempatan disaksikan manusia Indonesia.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 merupakan Gerhana Bulan Total pertama yang menyentuh wilayah Indonesia dalam tiga tahun terakhir, pasca Gerhana Bulan Total 4 April 2015. Akan tetapi gerhana ini merupakan Gerhana Bulan Total Perigean pertama kali bagi Indonesia dalam 35 tahun terakhir. Terakhir kali peristiwa langit kombinasi semacam ini terjadi adalah pada Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 silam.

Tahap Gerhana dan Wilayah Gerhana

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 terdiri atas tujuh tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana yang berupa kontak awal penumbra (P1), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 17:51 WIB. Lalu tahap kedua adalah awal gerhana kasat mata yang berupa kontak awal umbra (U1), diperhitungkan akan terjadi pukul 18:48 WIB. Lantas tahap ketiga, yang adalah awal totalitas gerhana yang berupa kontak awal total (U2), diperhitungkan akan terjadi pukul 19:52 WIB.

Sebagai puncaknya adalah puncak gerhana, diperhitungkan akan terjadi pada pukul 20:30 WIB. Usai puncak gerhana berlangsung, maka Bulan berangsur-angsur ‘membuka’ diri dengan berakhirnya totalitas gerhana melalui tahap kelima berupa kontak akhir total (U3), yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 21:08 WIB. Berikutnya disusul dengan tahap keenam berupa akhir gerhana kasat mata, dalam bentuk kontak akhir umbra (U4) pada pukul 22:11 WIB. Dan yang terakhir adalah tahap ketujuh, berupa akhir gerhana yang berupa kontak akhir penumbra (P4), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 23:08 WIB.

Bulan Biru Toska

Satu aspek istimewa Gerhana Bulan adalah bahwa tahap-tahap gerhananya secara umum terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun yang tercakup dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama. Dengan tahap-tahap tersebut maka kita tahu bahwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 memiliki durasi gerhana 5 jam 17 menit. Dari durasi sepanjang itu, durasi kasat mata terjadi selama 3 jam 23 menit. Dan dari durasi kasat mata tersebut, durasi totalitas gerhana adalah selama 1 jam 16 menit. Durasi totalitas ini tergolong yang cukup panjang untuk abad ke-21 TU ini.

Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 melingkupi seluruh benua Asia, Australia, sebagian Amerika, sebagian kecil Afrika dan sebagian besar Eropa. Wilayah gerhana terbagi menjadi tiga, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit) dan yang terakhir wilayah yang tak mengalami gerhana sama sekali.

Gambar 5. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 dalam lingkup global. Perhatikan bahwa segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh. Sehingga seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Segenap tanah Indonesia juga tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Kabar baiknya, segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, kecuali sebagian pulau Jawa dan segeap pulau Sumatra. Di kedua tempat tersebut, gerhana (tepatnya kontak awal penumbra) telah dimulai selagi Bulan belum terbit setempat (karena Matahari belum terbenam).

Satu hal yang menjadi pembeda antara peristiwa Gerhana Bulan Total dengan Gerhana Bulan yang lainnya adalah (potensi) munculnya Bulan berwarna kebiruan. Bukan, ini bukan blue moon sebagaimana yang acap disematkan sejumlah kalangan menjelang Gerhana Bulan Total ini. Blue moon hanyalah anggapan untuk Bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan Tarikh Umum yang sama. Sementara gejala fisisnya tak ada sama sekali. Bagi Januari 2018 TU ini blue moon terjadi karena purnama pertama telah berlangsung pada 2 Januari 2018 TU pukul 09:00 WIB silam.

Namun Bulan kebiruan ini adalah fenomena fisis. Ia berpotensi terjadi beberapa saat menjelang awal totalitas, ataupun sebaliknya dalam beberapa saat setelah akhir totalitas gerhana. Warna kebiruan pada Bulan di saat itu merupakan hasil pembiasan cahaya Matahari pada lapisan Ozon, sehingga menghasilkan warna biru toska tipis yang khas.

Shalat Gerhana

Gerhana Bulan Total ini bertepatan dengan tanggal 14 Jumadal Ula 1439 H dan merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam terdapat anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Hal tersebut juga berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Total ini. Musababnya Gerhana Bulan ini dapat diindra dengan mata manusia secara langsung. Sementara dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat peristiwa tersebut dapat disaksikan (kasat mata), seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah.

Mengingat durasi gerhana yang kasatmata adalah dari tahap U1 hingga tahap U4, yakni dari pukul 18:48 WIB hingga pukul 22:11 WIB, maka shalat Gerhana Bulan seyogyanya juga diselenggarakan pada rentang waktu tersebut. Dari sudut pandang fikih, pelaksanaan shalat Gerhana Bulan hanya bisa diselenggarakan jika gerhana benar-benar bisa disaksikan secara kasat mata dari lokasi pelaksanaan shalat. Atau, apabila gerhana tak bisa disaksikan, maka terdapat kabar / informasi yang sahih dan berterima bahwa gerhana memang benar-benar disaksikan di tempat lain oleh saksi mata yang tepercaya.

Berikut adalah infografis tatacara pelaksanaan shalat gerhana

Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena baik Matahari maupun Bulan merupakan dua benda langit yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT. Dan peristiwa gerhana merupakan peristiwa langit yang menakjubkan (sekaligus menerbitkan rasa takut) bagi sebagian kalangan. Namun peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tidak terkait dengan kematian seseorang. Di sisi lain, shalat gerhana mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan-Nya. Terlebih mengingat peristiwa Gerhana pada khususnya (baik Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari) serta fase Bulan baru dan Bulan purnama pada umumnya ternyata mampu memicu salah satu gaya endogen dalam sistem kerja Bumi kita, yakni gempa bumi tektonik.