Antara Potensi dan Prediksi Tsunami, Memahami Bilangan 57 Meter yang Menghebohkan

57 meter. Itulah bilangan yang menghebohkan (sebagian) Indonesia sejak awal April 2018 TU ini. Lebih lengkapnya tentang potensi tsunami dahsyat, hingga setinggi 57 meter bagi suatu lokasi di pesisir selatan Pandeglang, pada ujung barat pulau Jawa. Pulau terpadat penduduknya di Indonesia dan bahkan juga di dunia. Heboh akan bilangan ini melengkapi kehebohan lain akan bilangan lain sebulan sebelumnya, yakni Maret 2018 TU (Tarikh Umum). Saat itu bilangan 8,7 yang bikin heboh. Lebih tepatnya tentang potensi gempa bumi tektonik yang bersumber dari zona subduksi dan berkualifikasi gempa akbar (megathrust) berkekuatan maksimum 8,7 skala Magnitudo, juga bagi ujung barat Pulau Jawa. Dua bilangan yang menghebohkan itu hadir ke panggung sejarah Indonesia kontemporer melalui dua kegiatan ilmiah berbeda mengambil lokasi yang sama, yakni kompleks BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Kemayoran (Jakarta).

Gambar 1. Saat-saat tsunami besar Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 menerjang kolam PLTU Bunton (Kabupaten Cilacap) dalam rekaman kamera sirkuit tertutup (CCTV). Riset pendahuluan termutakhir memperlihatkan zona subduksi Jawa, yang melepaskan tsunami besar ini, juga berpotensi memproduksi tsunami dahsyat. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Segera bilangan 57 meter menjadi bola liar yang menggelinding kemana-mana memantik beragam reaksi. Sebagian menganggapnya terlalu berlebihan dan malah menakut-nakuti orang. Sejumlah masyarakat Kabupaten Pandeglang, yang daerahnya disebut spesifik dalam potensi itu, mengaku tak bisa tidur dan merasa cemas. Nelayan berhenti melaut dan bahkan ada yang mulai mengungsi. Sebagian lainnya mencoba melakukan penyangkalan dengan menyebutnya sebagai kabar-bohong atau hoaks.

Wakil rakyat di Senayan turut cawe-cawe dengan memanggil BPPT (Badan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi) untuk menjelaskan masalah itu. Karena bilangan 57 meter datang dari peneliti tsunami kawakan yang bernaung di bawah BPPT. Belakangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten juga turut serta dengan rencana hendak memanggil sang peneliti BPPT tersebut dan juga BMKG sebagai penyelenggara acara. Alasannya, selain bilangan 57 meter itu telah menakut-nakuti masyarakat Pandeglang dan berpotensi menghambat laju investasi di tempat tersebut, juga sebagai bagian integral dari penyelidikan kabar-bohong atau hoaks tentang tsunami yang berkecamuk kemudian. Di kemudian hari rencana ini dibatalkan menyusul kecaman dari berbagai penjuru di bawah tajuk ancaman kriminalisasi terhadap kerja ilmiah yang dipaparkan di forum ilmiah.

Ada apa sesungguhnya? Dan bagaimana menyikapinya?

Dasawarsa Gempa Sumatra

Saat berbicara dalam seminar yang diselenggarakan Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, pak Widjo Kongko barangkali tak pernah menduga materinya bakal memantik reaksi berantai kehebohan. Pada seminar yang digelar dalam rangka memperingati Hari Meteorologi ke-68 pada Selasa 3 April 2018 TU, ia memaparkan riset pendahuluan yang dikerjakannya di bawah tajuk Potensi Tsunami di Jawa Barat. Pada dasarnya ia menindaklanjuti publikasi Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 hasil kerja Pusgen (Pusat Studi Gempa bumi Nasional) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Peta ini merupakan pemutakhiran dari peta sejenis yang dilansir tujuh tahun sebelumnya.

Berikut video tentang seminar tersebut :

Seluruh kegiatan tersebut berakar pada apa yang dialami Indonesia khususnya dalam dasawarsa pertama abad ke-21 TU. Inilah dasawarsa yang dalam ungkapan geolog legendaris pak Danny Hilman Natawidjaja, yang juga salah satu pembicara pada seminar tersebut, disebut sebagai teror gempa Sumatra. Dasawarsa gempa Sumatra adalah rentang masa tatkala gempa besar (kekuatan antara 7 hingga 8,5 skala Magntudo) hingga gempa akbar (kekuatan lebih dari 8,5 skala Magnitudo) dengan sumber di dasar laut mengguncang bumi Swarnadwipa secara berturut-turut dengan sumber sebelah-menyebelah layaknya mercon renteng. Dan semuanya melepaskan tsunami mulai dari tsunami besar hingga tsunami dahsyat.

Gambar 2. Gambaran sederhana sumber-sumber gempa besar dan akbar pada zona subduksi Sumatra. Gempa-gempa yang tercatat sejak tahun 2000 TU hingga 2010 TU merupakan bagian dari dasawarsa gempa Sumatra. Sumber: Muhammad dkk, 2016 dengan penambahan seperlunya.

Teror itu dimulai dari Gempa Enggano 4 Juni 2000 (7,9 skala Magnitudo) di ujung selatan Sumatra. Selanjutnya berpindah ke utara, dimulai dari Gempa Simeulue 2 November 2002 (7,3 skala Magnitudo) yang mengguncang daratan Pulau Simeulue. Puncaknya adalah Gempa Sumatra Andaman 26 Desember 2004 (9,3 skala Magnitudo) atau dikenal juga sebagai Gempa Aceh 2004 dengan tsunami dahsyatnya. Inilah gempa paling mematikan sekaligus bencana alam termahal sepanjang sejarah Indonesia modern. Gempa-gempa berikutnya beringsut kembali ke selatan, ditandai oleh Gempa Simeulue-Nias 28 Maret 2005 (8,6 skala Magnitudo). Gempa ini merontokkan pulau Nias dan sekitarnya. Sebagian kepulauan Mentawai pun menyusul berguncang dalam Gempa Bengkulu 12 September 2007 (8,4 skala Magnitudo). Dan yang terakhir adalah Gempa Mentawai 25 Oktober 2010 (7,8 skala Magnitudo) yang memorak-porandakan kepulauan Mentawai bagian selatan.

Selain merenggut korban jiwa yang sangat banyak, tak kurang dari 167.000 orang, dan kerugian materi luar biasa besarnya, tak kurang dari 45 trilyun rupiah, dasawarsa teror gempa Sumatra juga menggoyahkan pandangan umum tentang gempa besar dan akbar. Sebelum 2004 TU, para cendekiawan kebumian umumnya menerima pandangan bahwa peluang terjadinya gempa besar dan akbar yang memproduksi tsunami besar hingga raksasa akan lebih tinggi pada zona subduksi lebih muda. Sebab zona subduksi yang lebih tua akan lebih padat (memiliki massa jenis lebih besar) dan sudut penunjamannya lebih curam sehingga dianggap lebih stabil. Pandangan klasik ini nampaknya terbukti pada abad ke-20 TU, saat seluruh gempa akbar masa itu terjadi di bagian tepian Samudera Pasifik dengan zona subduksi berusia muda.

Gambar 3. Penampang sederhana zona subduksi Sumatra bagian utara khususnya segmen Aceh yang bersambungan dengan segmen Nicobar dan segmen Andaman. Umur subduksi segmen Aceh masih cukup muda (yakni 55 juta tahun) namun sebaliknya segmen Andaman sudah cukup tua (yakni 90 juta tahun). Ketiga segmen inilah yang secara bersama-sama menjadi sumber Gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004. Sumber: Sudibyo, 2014 berbasis peta Google Earth.

Namun Gempa Aceh 2004 mempertontonkan anomali yang menggoyahkan pandangan itu. Sisi selatan sumber gempanya, yakni di segmen Simeulue, memang relatif muda dengan umur subduksi 55 juta tahun. Akan tetapi sisi utaranya, yakni segmen Andaman, jauh lebih tua dengan umur subduksi 90 juta tahun. Dan pandangan klasik tersebut akhirnya itu berantakan seiring peristiwa Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011 (9,0 skala Magnitudo) di Jepang. Gempa akbar yang juga melepaskan tsunami dahsyat ini terjadi pada zona subduksi Jepang Timur yang berusia sangat tua, yakni 130 juta tahun. Kini pandangan baru mengemuka, dimana setiap zona subduksi dimanapun tanpa terkecuali harus dianggap memiliki peluang memproduksi gempa besar dan akbar beserta tsunaminya.

Subduksi Tua yang Tetap Berbahaya

Pandangan baru itu berimbas bagi Pulau Jawa. Subduksi di sini juga sama tuanya dengan Jepang Timur, yakni sekitar 130 juta tahun. Kecepatan subduksi lempeng Australia terhadap mikrolempeng Eurasia pada zona subduksi Jawa (yakni 70 mm/tahun) juga tidak banyak berbeda dengan subduksi lempeng Pasifik terhadap mikrolempeng Okhotsk di zona subduksi Jepang Timur (yakni 80 hingga 90 mm/tahun). Keduanya tergolong lambat, khususnya dibandingkan perilaku lempeng Pasifik umumnya.

Perbandingan dengan subduksi Jepang Timur menyajikan kesan bahwa subduksi Jawa pun bisa berperilaku demikian. Dengan kata lain subduksi Jawa memiliki kemampuan untuk memproduksi gempa akbar beserta tsunami dahsyatnya. Bukan hanya berkemampuan memproduksi tsunami besar, seperti yang diperlihatkannya dalam Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (7,7 skala Magnitudo) dan Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 (7,8 skala Magnitudo).

Perbedaan di antara keduanya adalah riwayat gempa akbar subduksi Jepang Timur lebih diketahui. Selama 3.000 tahun terakhir subduksi tersebut telah mengalami empat peristiwa gempa akbar dengan periode ulang antara 800 hingga 1.100 tahun sekali. Gempa akbar terakhir sebelum peristiwa Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011 adalah Gempa Sanriku 9 Juli 869 (sekitar 9 skala Magnitudo). Semuanya memproduksi tsunami dahsyat. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan subduksi Jawa. Pencatatan bencana gempa bumi (dan juga tsunami) baru dimulai sekitar 300 tahun silam. Tempo yang cukup singkat untuk menyelisik riwayat gempa akbar beserta tsunami dahsyatnya yang bisa berbilang ribuan tahun.

Gambar 4. Diagram sederhana yang memperlihatkan bagaimana membengkak dan mengempisnya segmen subduksi pada gempa besar atau akbar, dalam hal ini Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004. Atas: zona kuncian terbentuk sehingga mikrolempeng Burma mulai terseret mengikuti gerakan lempeng India. Tengah: zona kuncian terus terdesak sehingga mikrolempeng Burma kian terseret dan membengkak. Dan bawah: zona kuncian patah membuat mikrolempeng Burma melenting sekaligus mengempis. Sumber: Sudibyo, 2014.

Ada berbagai cara untuk menyingkap riwayat gempa bumi sebuah zona subduksi di tengah tiadanya catatan tertulis. Disini harus digarisbawahi terlebih dahulu bahwa sumber gempa akbar di zona subduksi serupa dengan sumber gempa tektonik umumnya. Yakni sebagai area bergeometri empat persegi panjang yang akan melenting (slip) hingga jarak tertentu. Sebelum gempa terjadi, maka sumber gempa akbar akan terseret oleh gerak lempeng tektonik yang mendesaknya (fully coupling maupun partially coupling). Gerakan ini membuatnya membengkak. Sebaliknya pasca gempa, sumber gempa akbar akan bergerak berlawanan arah dengan lempeng tektonik pendesak (non coupling) sehingga membuatnya mengempis.

Tatkala gempa meletup, maka terjadi pula pengangkatan dasar laut sebagai komponen vertikal dari lentingan. Pengangkatan ini mendorong kolom air laut dalam luasan sangat besar tepat di atas sumber gempa akbar sehingga bergolak dan menyebar secara horisontal ke segala arah sebagai tsunami dahsyat. Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami mengaduk-aduk air laut hingga ke dasar. Membuat sedimen dan aneka karang di dasar laut dicabik-cabik dan turut terangkut bersama air hingga akhirnya terhempas dan terendapkan di daratan.

Di sebelah barat pulau Sumatra teruntai pulau-pulau kecil berbaris sebagai busur luar Sumatra, mulai dari pulau Simeulue di utara hingga pulau Enggano di selatan. Jajaran pulau-pulau ini menyajikan kesempatan unik guna memahami zona subduksi Sumatra, mulai dari segmentasi (pembagian) hingga membengkak-mengempisnya setiap segmen. Pesisir pulau-pulau kecil itu ditumbuhi beragam karang. Dan karang tertentu membentuk pola mikroatol (atol/cincin kecil), yang menumbuhkan lembaran demi lembaran baru setiap tahunnya menyerupai lingkaran tahun pada tumbuhan berkayu. Tatkala paras air laut turun maka bagian mikroatol yang terekspos di atas paras air laut dan mati sehingga lembaran baru karang berikutnya akan tumbuh menyamping. Sebaliknya saat paras air laut naik maka lembaran baru karang berikutnya akan tumbuh di atas mikroatol lama.

Gambar 5. Lapisan-lapisan endapan tsunami di pulau Phra Thong (Thailand) dan karang mikroatol yang terangkat di pesisir pulau Simeulue (Indonesia). Kedua fenomena alam ini merupakan kunci untuk mengetahui riwayat gempa besar/akbar dan tsunami besar/dahsyatnya hingga beratus dan bahkan beribu tahun ke belakang. Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Natawidjaja, 2007.

Manakala sebuah segmen zona subduksi membengkak, pulau-pulau kecil diatasnya perlahan-lahan terbenam (submergence), membuat lembaran baru karang mikroatol tumbuh ke atas. Sementara saat segmen yang sama mengempis, pulau-pulau yang sama mendadak terangkat (uplift) sehingga lembaran baru karang mikroatol tumbuh menyamping. Dengan menandai lembaran-lembaran dimana mikroatol tumbuh ke atas atau tumbuh menyamping dan menghitung jumlah total lembaran karangnya (sekaligus menentukan umur absolutnya melalui penarikhan radioaktif), maka bagaimana riwayat gempa akbar di segmen zona subduksi tersebut hingga ratusan atau bahkan ribuan tahun ke belakang dapat diketahui.

Lewat cara inilah, yang dikombinasikan dengan penanaman sejumlah radas (instrumen) geodesi tektonik berbasis satelit (GPS) berketelitian sangat tinggi seperti misalnya dalam jejaring SuGAr (Sumatran GPS Array), maka segmen-segmen subduksi Sumatra dan riwayat kegempaannya masing-masing telah banyak diketahui. Dari utara ke selatan, subduksi Sumatra terbagi atas segmen Aceh (sumber gempa akbar 2004), Simeulue-Nias (sumber gempa akbar 2005), segmen Batu (sumber gempa besar 1935), segmen Siberut (sumber gempa akbar 1833), segmen Pagai (sumber gempa akbar 1833, gempa besar 2007 dan gempa besar 2010) dan segmen Enggano (sumber gempa besar 2000). Kecuali segmen Siberut dan sebagian segmen Pagai, seluruh segmen itu telah mengempis.

Jawa, Tenang Sebelum Badai?

Sebaliknya subduksi Jawa tidaklah demikian, busur luar Jawa tidak membentuk rantai pulau-pulau kecil. Sehingga mikroatol tidak dijumpai di sini. Maka selain menanami radas GPS, strategi menyingkap riwayat gempa akbar pada subduksi Jawa bergantung pada pelacakan endapan-endapan tsunami khususnya di pesisir selatan Jawa. Endapan tsunami ini mengandung ciri khas tertentu, umumnya berupa mikrobiota seperti molusca, diatom dan foraminifera. Semuanya bisa diukur umur absolutnya, juga lewat penarikhan radioaktif. Perburuan ini, khususnya untuk endapan produk tsunami besar dan tsunami dahsyat, menjadi fokus sejumlah lembaga riset di Indonesia.

Gambar 6. Dua contoh endapan tsunami masa silam (paleotsunami) pada dua tempat yang berbeda. Masing-masing endapan di tepi sungai Cikembulan, Pangandaran (Kabupaten Ciamis) produk tsunami dahsyat empat abad silam (kiri) dan endapan tsunami di pesisir Teluk Penyu (Kabupaten Cilacap) sekitar 1 kilometer dari garis pantai, jejak tsunami besar tahun 1883 TU (kanan). Sumber: Yulianto dkk, 2010 & Daryono, 2015.

Sejauh ini sepanjang garis pantai di antara Lebak (propinsi Banten) hingga Trenggalek (propinsi Jawa Timur) telah ditemukan sejumlah endapan tsunami yang terkubur cukup dalam. Endapan-endapan tersebut baik di Lebak, Pangandaran (Jawa Barat), Widarapayung (propinsi Jawa Tengah), Kulonprogo dan Gunungkidul (propinsi DIY) hingga Trenggalek memperlihatkan ada kandidat tsunami dahsyat pada sekitar 400 tahun silam. Juga terdeteksi kandidat tsunami dahsyat lainnya masing-masing pada sekitar 1.000 tahun dan 1.800 tahun silam. Jejak-jejak ini jelas menunjukkan bahwa subduksi Jawa mirip dengan Jepang Timur sekaligus mengukuhkan pandangan baru. Subduksi Jawa tidaklah sekalem yang selama ini diduga.

Sementara dari radas GPS diketahui bahwa subduksi Jawa bisa dibagi ke dalam sedikitnya tiga segmen. Masing-masing segmen Selat Sunda, segmen Jawa Barat dan segmen Jawa Tengah-Timur. Ada catatan sejarah tertulis tentang sejumlah gempa besar yang bersumber dari segmen-segmen subduksi tersebut. Misalnya Gempa 1780 (8,5 skala Magnitudo) dari segmen Selat Sunda. Lalu Gempa 1903 (8,1 skala Magnitudo) dan Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 dari segmen Jawa Barat. Juga Gempa 1916 (7,2 skala Magnitudo) dan Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994dari segmen Jawa Tengah-Timur. Gempa-gempa tersebut menghasilkan tsunami kecil hingga besar dengan dampak merusaknya bersifat lokal. Sebaliknya meskipun sejumlah endapan tsunami dahsyat sudah ditemukan, bagaimana riwayat gempa akbar dan perulangannya di subduksi Jawa masih terus diteliti.

Khusus pada segmen subduksi Selat Sunda, survei GPS selama tiga tahun penuh (2008 hingga 2010 TU) oleh Rahma Hanifa dkk (2014) dengan memanfaatkan 14 stasiun GPS yang tersebar di daratan Jawa Barat dan Banten menghasilkan temuan mencengangkan. Kecuali di area sumber Gempa Pangandaran 17 Juli 2006, segmen subduksi Selat Sunda terdeteksi dalam kondisi membengkak. Disimpulkan tiadanya peristiwa gempa akbar pada segmen ini sepanjang 300 tahun terakhir membuat sisi barat segmen (yakni di antara lepas pantai Ujung Kulo hingga Pelabuhan Ratu) kini berkemampuan membangkitkan gempa akbar berkekuatan minimal 8,7 skala Magnitudo. Sementara sisi timurnya, yakni di antara lepas pantai Pelabuhan Ratu hingga Pangandaran juga memiliki kemampuan memproduksi gempa besar dengan kekuatan minimal 8,3 skala Magnitudo. Jelas sudah bahwa kalemnya subduksi Jawa dalam gempa-gempa besar dan akbar adalah ibarat masa tenang sebelum badai menerjang.

Gambar 7. Distribusi keterseretan segmen Selat Sunda pada zona subduksi Jawa seiring interaksinya dengan lempeng Australia berdasarkan penelitian Hanifa dkk (2014). Merah menunjukkan derajat keterseretan tertinggi (fully coupling) sementara biru adalah sebaliknya. Warna merah-kuning adalah kandidat sumber gempa besar atau gempa akbar masa depan. Dari distribusi ini diketahui sisi barat dan timur segmen Selat Sunda masing-masing berpotensi menjadi sumber gempa berkekuatan 8,7 dan 8,3 skala Magnitudo. Sumber: Hanifa dkk, 2014 dalam Pusgen, 2017.

Dengan basis survei GPS serupa tim Pusgen mengungkap karakteristik setiap segmen subduksi Jawa. Segmen Selat Sunda memiliki kecepatan (sliprate) 40 mm/tahun sehingga secara keseluruhan memiliki kemampuan membangkitkan gempa akbar berkekuatan hingga 8,8 skala Magnitudo. Sementara segmen Jawa Barat memiliki sliprate 40 mm/tahun, maka berkemampuan memproduksi gempa akbar berkekuatan maksimum 8,8 skala Magnitudo. Dan segmen Jawa Tengah-Timur memiliki sliprate juga 40 mm/tahun, sehingga berkemampuan memproduksi gempa akbar berkekuatan hingga 8,9 skala Magnitudo. Inilah yang kemudian termaktub dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017.

Segmentasi inilah yang lantas dikembangkan lebih lanjut guna membentuk beragam skenario gempa akbar dan produksi tsunaminya. Pak Widjo Kongko menggunakan enam skenario sumber gempa berbeda dari tiga segmen subduksi berbeda yang saling bersebelahan. Skenario pertama berbasis segmen Enggano yang memiilki panjang 250 kilometer dan lebar 130 kilometer sebagai sumber gempa yang mampu menghasilkan gempa besar berkekuatan maksimum 8,4 skala Magnitudo. Skenario kedua mengasumsikan segmen Selat Sunda dengan panjang 390 kilometer dan lebar 130 kilometer sebagai sumber gempa yang mampumemproduksi gempa akbar berkekuatan maksimum 8,7 skala Magnitudo. Dan skenario ketiga beranggapan segmen Jawa Barat yang panjangnya 390 kilometer dan lebarnya 130 kilometer sebagai sumber gempa yang mampu menghasilkan gempa akbar berkekuatan maksimum 8,7 skala Magnitudo.

Skenario keempat hingga keenam merupakan gabungan atas segmen-segmen tersebut. Misalnya skenario keempat, membayangkan segmen Enggano dan segmen Selat Sunda bersama-sama sebagai sumber gempa, dengan panjang total 640 kilometer, lebar 130 kilometer dan mampu memproduksi gempa akbar berkekuatan maksimum 8,8 skala Magnitudo. Skenario kelima berasumsi segmen Selat Sunda dan segmen Jawa Barat bersama-sama sebagai sumber gempa, dengan panjang total 780 kilometer, lebar 130 kilometer dan mampu menghasilkan gempa akbar berkekuatan maksimum 8,9 skala Magnitudo. Dan skenario keenam beranggapan seluruh segmen secara bersama-sama sebagai sumber gempa, dengan panjang total 1.040 kilometer, lebar 130 kilometer dan mampu menghasilkan gempa akbar berkekuatan maksimum 9,0 skala Magnitudo.

Gambar 8. Segmen-segmen subduksi yang digunakan dalam riset pendahuluan potensi tsunami dahsyat Jawa Barat dan Banten beserta keenam skenario sumber gempanya dengan karakternya masing-masing. Bersumber dari video seminar BMKG menyambut hari Meteorologi ke-68, 3 April 2018 TU. Sumber: BMKG, 2018.

Skenario keenam mengingatkan pada peristiwa Gempa Aceh 2004. Gempa akbar fenomenal itu berasal dari tiga segmen sekaligus, satu fenomena yang jarang terjadi. Yakni segmen Nicobar di utara, segmen Andaman di tengah dan segmen Aceh di selatan. Sehingga sumber Gempa Aceh 2004 secara keseluruhan memiliki panjang 1.600 kilometer dengan lebar 200 kilometer. Dengan basis sumber tersebut, beragam simulasi tsunami yang dikerjakan oleh sejumlah cendekiawan dari berbagai lembaga menyajikan hasil yang cocok dengan kenyataan lapangan. Termasuk bagaimana tsunami dahsyat produk Gempa Aceh 2004 itu bisa memorak-porandakan pesisir India, Sri Lanka dan bahkan berdampak hingga pesisir timur benua Afrika. Juga mampu menjawab tinggi tsunami terbesar dalam kejadian tersebut yang mencapai 50 meter di Lhoknga (sebelah barat kota Banda Aceh).

Berikut adalah peta sumber gempa bagi skenario kedua (hanya segmen Selat Sunda) pada Google Maps berdasarkan publikasi Pusgen :

Dan berikut peta serupa namun bagi sumber gempa untuk skenario keenam (gabungan segmen Enggano, segmen Selat Sunda dan segmen Jawa Barat) :

Potensi vs Prediksi

Keenam skenario itu menjadi bahan masukan simulasi/perhitungan tsunami dengan memanfaatkan perangkat lunak TUNAMI-N3 yang dikembangkan University of Tohoku (Jepang). Selain skenario sumber gempa, TUNAMI-N3 juga membutuhkan masukan lain berupa kontur kedalaman dasar laut. Untuk itu digunakan basis data GEBCO (General Bathymetric Chart of the Oceans) yang memiliki resolusi 30 detik busur (900 meter) dan basisdata Angkatan Laut dengan resolusi 3 detik busur (90 meter). Simulasi dipusatkan di pulau Jawa bagian barat (mencakup Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta) mencakup 11 kabupaten dan 2 kota yang semuanya berbatasan dengan laut. Tinggi tsunami di pantai dihitung untuk setiap interval jarak 500 meter sepanjang pesisir. Rentang waktu simulasi adalah sejak skenario gempa akbar terjadi hingga 9 jam kemudian.

Gambar 9. Hasil simulasi gelombang awal (sesaat setelah gempa) dari masing-masing enam skenario sumber gempa untuk riset pendahuluan potensi tsunami dahsyat Jawa Barat dan Banten. Diadaptasi dari video seminar BMKG menyambut hari Meteorologi ke-68, 3 April 2018 TU. Sumber: BMKG, 2018.

Simulasi tsunami dengan langkah-langkah seperti itu merupakan standar bagi cendekiawan tsunami dimanapun berada. Jadi dasar ilmiahnya cukup kuat. Dengan demikian hasil simulasi ini juga bukanlah kabar-bohong atau hoaks.

Dari hasil simulasi TUNAMI-N3 untuk pulau Jawa bagian barat ini diperoleh dua keluaran. Pertama adalah tinggi tsunami, sebagai tinggi dari keenam hasil skenario sumber gempa di suatu pesisir. Dan yang kedua yaitu waktu tiba minimal tsunami dari sumber tsunami ke pesisir tersebut. Di sinilah diperoleh bilangan 57 meter untuk tinggi tsunami bagi satu titik pesisir Kabupaten Pandeglang, tepatnya lokasi pantai Cibitung. Selengkapnya tentang tinggi tsunami dan waktu tiba minimal tsunami untuk 13 titik di Jawa Barat dan Banten dapat dilihat dalam tabel berikut :

Harus digarisbawahi sungguh-sungguh bahwa hasil simulasi itu masih berada dalam ranah potensi tsunami. Bukan prediksi tsunami. Yang dimaksud dengan potensi tsunami adalah daya atau kemampuan yang tersimpan pada sebuah kandidat sumber gempa dasar laut untuk memproduksi tsunami tanpa menyinggung aspek waktu. Jadi tidak mengupas, misalnya, kapan peristiwa itu akan terjadi. Sebaliknya prediksi tsunami adalah ramalan atau prakiraan kapan sebuah tsunami akan terjadi di masa depan. Atau singkatnya, prediksi tsunami adalah potensi tsunami yang telah ditambah dengan prakiraan waktunya.

Ilmu pengetahuan kebumian hingga saat ini memang belum bisa memprakirakan kapan persisnya sebuah gempa bumi tektonik akan terjadi, terutama dengan tingkat ketelitian setinggi prakiraan cuaca. Sehingga apabila ada yang menyebutkan akan terjadi peristiwa gempa tektonik pada hari dan tanggal tertentu, atau bahkan pada lebih teliti lagi pada jam tertentu, maka hal itu adalah kabar-bohong dan bukanlah prediksi yang mempunyai latar belakang ilmiah kebumian.

Gambar 10. Distribusi tinggi tsunami di sepanjang pesisir Jawa Barat dan Banten (dengan tambahan DKI Jakarta) hasil simulasi untuk seluruh skenario sumber gempa, sebagai produk riset pendahuluan potensi tsunami dahsyat di Jawa Barat dan Banten. Diadaptasi dari video seminar BMKG menyambut hari Meteorologi ke-68, 3 April 2018 TU. Sumber: BMKG, 2018.

Namun ilmu pengetahuan yang sama pada saat ini telah bisa menyimpulkan apakah suatu daerah berpotensi mengalami gempa bumi tektonik dan berpotensi terlanda tsunami. Terutama karena tsunami hanya bisa dihasilkan oleh gempa besar/akbar (dengan mengecualikan potensi longsor dasar laut yang juga menjadi penyebab tsunami) dan kandidat sumber gempa semacam ini selalu berada di zona subduksi. Dan ilmu pengetahuan yang sama telah mampu menguak bahwa gempa-gempa besar dan akbar selalu berulang pada sebuah segmen subduksi yang sama, dengan periode perulangan yang khas. Di Indonesia perilaku tersebut dapat dilihat misalnya pada segmen Simeulue-Nias dengan Gempa Nias 16 Februari 1861 (8,6 skala Magnitudo) dan 154 tahun kemudian berulang lagi dengan Gempa Simeulue-Nias 28 Maret 2005.

Bisakah ilmu pengetahuan yang sama memprediksi tsunami? Dalam kata-kata pak Danny Hilman: bisa, sepanjang riwayat kegempaan pada suatu segmen zona subduksi bisa diketahui hingga ribuan tahun ke belakang. Dan hasil prediksinya adalah sebuah peluang (probabilitas) pada suatu rentang waktu. Bukan waktu spesifik seperti halnya hasil prakiraan cuaca saat ini. Disamping itu prediksi tsunami juga tetap memiliki peluang terlampaui, dimana dalam kejadian tsunami sesungguhnya bisa lebih besar ketimbang prediksi.

Gambar 11. Distribusi waktu tiba tsunami di sepanjang pesisir Jawa Barat dan Banten (dengan tambahan DKI Jakarta) hasil simulasi untuk seluruh skenario sumber gempa, sebagai produk riset pendahuluan potensi tsunami dahsyat di Jawa Barat dan Banten. Diadaptasi dari video seminar BMKG menyambut hari Meteorologi ke-68, 3 April 2018 TU. Sumber: BMKG, 2018.

Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011 mempertontonkan bagaimana prediksi tsunami terlampaui dalam realitasnya. Sudah lama Jepang mengetahui segmen subduksi Jepang Timur adalah zona subduksi yang siap mengalami gempa besar. Prediksinya hingga 30 tahun ke depan, sejak 2007 TU, segmen subduksi Jepang Timur berpeluang hingga 99 % menjadi sumber gempa besar berkekuatan 8,1 hingga 8,3 skala Magnitudo. Sejak 2001 TU juga sudah dipahami periode perulangan gempa akbar di sini (yakni maksimum 1.100 tahun sejak peristiwa Gempa Sanriku 9 Juli 869) sudah terlampaui,. Langkah-langkah untuk mengantisipasinya juga sudah digelar, baik dalam bentuk mirigasi fisik maupun non fisik. Yang paling spektakuler adalah pembangunan tanggul laut setinggi 7,2 meter sepanjang 400 kilometer garis pantai, lengkap dengan pintu-pintu air yang dapat ditutup bila dibutuhkan.

Begitu Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011 meletup, kekuatannya ternyata melampaui prediksi. Demikian halnya tsunaminya. Di kota Miyako, prefektur Iwate, tsunami dahsyat menggempur pantai dengan tinggi gelombang maksimum 39 meter. Ini jauh melampaui tinggi tanggul laut. Sehingga tsunami dengan mudah tumpah ruah dari mercu tanggul dan menerjang hingga berkilo-kilometer jauhnya ke daratan. Walaupun begitu, meski realitasnya tsunami melampaui prediksinya, langkah-langkah mitigasi fisik dan non fisik yang Jepang lakukan berhasil mereduksi jumlah korban. Tsunami produk Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011 merenggut korban jiwa sekitar 18.500 orang. Itu empatbelas kali lipat lebih kecil dibanding korban jiwa akibat tsunami produk Gempa Sumatra-Andaman 26 Desember 2004, yang menerjang negara-negara yang sama sekali tak siap.

Gambar 12. Saat-saat airbah tsunami beserta reruntuhan yang diangkutnya mulai tumpah dari mercu tanggul laut pada menit awal terjangan di kota kecil Miyako, prefektur Iwate (Jepang) dalam kejadian Gempa Tohoku-Oki 11 Maret 2011. Dirancang setinggi 7,2 sesuai prediksi tsunami besar gempa berkekuatan maksimum 8,3 skala Magnitudo, dalam realitasnya kekuatan gempanya jauh lebih besar sehingga tsunami dahsyat yang menerjang Miyako berketinggian 39 meter. Sumber: Jiji Press/AFP/Getty Images, 2011.

Hambatan Politis

Indonesia belum mempunyai contoh prediksi tsunami seteliti Jepang. Dengan beragam keterbatasan yang ada, sejauh ini kemampuan kita di Indonesia masih sebatas pada eksplorasi potensi tsunami.

Contoh penyelidikan potensi tsunami terbaik ada di subduksi Sumatra. Penyelidikan riwayat kegempaan berbasis analisis mikroatol yang dikombinasikan dengan survei GPS memperlihatkan gabungan segmen Siberut dan Pagai dalam kondisi membengkak dan sudah berada di ujung periode perulangannya. Penyelidikan menyimpulkan periode perulangan gempa akbar di segmen ini antara 200 hingga 250 tahun. Di masa silam gabungan dua segmen tersebut (panjang total 600 kilometer) menghasilkan Gempa Mentawai 10 Februari 1797 (8,7 skala Magnitudo). Gabungan segmen yang sama juga memproduksi Gempa Mentawai 25 November 1833 (8,9 skala Magnitudo). Keduanya sama-sama memproduksi tsunami dahsyat yang cukup merusak.

Dan gempa terakhir dari gabungan dua segmen tersebut terjadi hampir 200 tahun silam, sehingga ada cukup alasan untuk mengatakan gabungan segmen ini akan menghasilkan gempa akbar dalam waktu antara saat ini hingga beberapa puluh tahun ke depan. Potensi inilah yang kemudian ditindaklanjuti dengan upaya-upaya mitigasi terutama mitigasi non-fisik yang melibatkan banyak komponen masyarakat. Terdapat Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) di sini, yang aktif menyebarluaskan informasi terkait potensi tsunami di pesisir Sumatra Barat sekaligus sosialisasi jalur-jalur evakuasi, titik-titik evakuasi, prosedur evakuasi dan pembinaan terhadap sekolah-sekolah. Latihan bersama evakuasi tsunami (tsunami drill) pertama di Indonesia pun digelar di sini, tepatnya di Padang (Sumatra Barat) pada 26 Desember 2005 TU.

Penyelidikan potensi tsunami dahsyat di Jawa Barat dan Banten belumlah sejauh pencapaian di Sumatra Barat itu. Penyelidikan untuk Jawa Barat dan Banten barulah awal. Meskipun langkah-langkahnya berterima secara ilmiah, akan tetapi pilihan skenario sumber gempanya masih diperdebatkan. Pak Irwan Meilano, cendekiawan kebumian yang juga menjadi pembicara lainnya dalam seminar yang sama, berpandangan skenario keenam, yakni skenario yang berpotensi memproduksi gempa akbar berkekuatan hingga 9,0 skala Magnitudo, kecil kemungkinannya terjadi pada subduksi Jawa. Baginya lebih mungkin skenario yang melibatkan dua segmen bersamaan, dengan konsekuensi kekuatan gempa akbarnya sedikit lebih rendah (yakni 8,7 hingga 8,8 skala Magnitudo).

Jelas, sebagai penelitian awal, penyelidikan potensi tsunami Jawa Barat dan Banten ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian berikutnya. Misalnya dilengkapi dengan riwayat kegempaan besar maupun akbar di kawasan ini, yang sedang giat-giatnya dilakukan dengan perburuan endapan-endapan tsunami. Dari riwayat tersebut juga perlu dilanjutkan penelitian guna mengetahui periode perulangan gempa akbar di kawasan ini. Serta seberapa besar kekuatan maksimum gempa akbar yang terekam dalam endapan-endapan tsunami tersebut. Dari penelitian-penelitian lanjutan itu barulah bisa diketahui seberapa valid skenario sumber-sumber gempa akbar yang digunakan untuk mendeskripsikan potensi tsunami dahsyat di Jawa Barat dan Banten.

Gambar 13. Jejak tsunami dahsyat masa silam di tanah Jawa? Kiri: sisa-sisa karang bercabang ditutupi endapan pasir tebal di rawa Sukamanah, Malingping (Kabupaten Lebak). Hanya tsunami dahsyat, sekitar 400 tahun silam, yang bisa membawa karang hingga sejauh 1 kilometer dari garis pantai ini. Kanan: lapisan endapan tsunami dari masa sekitar 1.800 tahun silam (tanda panah) pada pesisir Sindutan, Temon (Kabupaten Kulonprogo). Sumber: Yulianto dkk, 2017.

Jika hal-hal tersebut sudah dilakukan, barulah langkah-langkah mitigasi bisa lebih konkrit. Misalnya seperti memperbaharui peta resiko tsunami untuk kabupaten/kota di Jawa Barat dan Banten yang berbatasan dengan laut (baik Samudera Indonesia maupun Selat Sunda dan Laut Jawa bagian barat), menyiapkan skenario penyelamatan, menyiapkan titik-titik evakuasi beserta peta evakuasinya, memasang rambu-rambu petunjuk arah evakuasi, melakukan tsunami drill secara rutin, memasukkan pertimbangan potensi tsunami ke dalam penyusunan tata ruang kabupaten/kota setempat, memasukkan pendidikan kebencanaan dalam muatan lokal kurikulum sekolah dan sebagainya.

Jadi langkahnya masih panjang. Dan tidak elok jika penelitian awal potensi tsunami Jawa Barat dan Banten malah dibelokkan ke ranah lain seperti ranah politis maupun penyelidikan kriminal. Cendekiawan tsunami adalah hal yang jarang di Indonesia, sementara negeri ini bejibun dengan kawasan rawan tsunami dan hingga saat ini banyak yang belum diteliti lebih lanjut. Bila politisasi dan kriminalisasi dilakukan, selain berpotensi mematikan kebebasan akademis dan meredupkan gairah meneliti potensi bencana, juga akan membuat Indonesia mengikuti jejak konyol a la Italia. Pada 2009 TU Italia memenjarakan tujuh ahli gempanya pasca peristiwa Gempa L’Aquila 6 April 2009 (6,3 skala Magnitudo). Gempa L’Aquila menewaskan 309 orang, semuanya akibat tertimbun bangunan yang runtuh seiring buruknya mutu bangunan di kota L’Aquila.

Meski tak sekonyol Italia, Indonesia juga pernah merasakan dampaknya saat riset potensi gempa dan tsunami menubruk dinding politis. Manakala mulai menyelusuri zona subduksi Sumatra di akhir dasawarsa 1990-an TU, riset pendahuluan pak Danny dan rekan-rekannya menemukan besarnya potensi gempa akbar dan tsunami dahsyatnya untuk kawasan tengah. Temuan ini membuat mereka beranggapan kawasan ujung utara mungkin juga berpotensi serupa, terutama karena subduksi di sini dikenal kalem. Namun mereka tak bisa menguji kebenaran anggapan itu dengan penelitian langsung di lapangan. Sebab pada waktu yang sama ujung utara pulau Sumatra sedang bergolak. Merebaknya perlawanan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadikan kawasan itu ditetapkan sebagai DOM (Daerah Operasi Militer) pada periode 1990-1998 TU yang berlanjut dengan pemberlakuan status darurat militer mulai pertengahan 2003 TU.

Gambar 14. Dua lapis endapan tsunami masa silam (paleotsunami) yang berhasil dikuak dari pantai Lamreh, kota Banda Aceh. Lapisan paleotsunami 1450 lebih tebal dan hanya bisa diendapkan oleh peristiwa tsunami dahsyat yang sama besarnya atau bahkan lebih besar dari tsunami dahsyat produk Gempa Aceh 2004. Sementara lapisan paleostsunami 1390 lebih tipis, merupakan hasil pengendapan peristiwa tsunami besar. Sumber: Natawidjaja, 2015.

Meski sasaran para peneliti adalah pulau-pulau kecil di lepas pantai barat seperti pulau Simeulue dan sekitarnya, bukannya daratan utama Aceh, mereka tetap tidak diperkenankan masuk. Akibatnya semua menjadi ‘buta informasi’ akan gambaran potensi gempa akbar dan tsunami dahsyat di Aceh. Hingga saat meletupnya Gempa Sumatra Andaman 26 Desember 2004 yang fenomenal itu. Ironisnya hambatan serupa masih dialami dalam hari-hari pascagempa, saat para cendekia ingin mengetahui apa yang terjadi pada segmen Aceh.

Untungnya larangan masuk itu dijawab dengan solusi cerdas. Menggunakan helikopter sewaan, para cendekiawan itu berhasil mendeduksi bahwa pulau-pulau kecil di sebelah barat daratan Aceh memang terdongkrak naik. Mereka mendapati garis pantai setiap pulau bertambah ke arah laut, menyingkap daratan baru yang lebih segar penuh karang, hingga mudah diidentifikasi dari langit. Langkah serupa diulangi dengan melibatkan pencitraan satelit sehingga ruang lingkup amatan menjadi lebih luas. Maka gambaran lebih besar pun diperoleh. Setiap pulau kecil dalam rentang sepanjang 1.600 kilometer dari pulau Simeulue di selatan hingga pulau Preparis di utara terbukti terangkat. Jelas sudah Gempa Aceh 2004 itu melibatkan tiga segmen sekaligus: Aceh, Nicobar dan Andaman.

Memang ada pertanyaan, jika potensi gempa akbar dan tsunami di Aceh sudah diketahui beberapa tahun sebelumnya (katakanlah sejak lima tahun sebelumnya), akankah informasi itu akan mengubah permainan? Ya. Mitigasi fisik memang tak mungkin dilakukan. Namun mitigasi non fisik, dalam wujud sosialisasi potensi tsunami, sosialisasi daerah rawan, sosialisasi peta evakuasi beserta jalur-jalur evakuasi dan titik-titik evakuasi, dapat dilaksanakan hingga tahap tertentu. Sehingga publik terpapar informasi dan tidak buta sama sekali akan potensi tsunami. Dan kala bencana benar-benar datang menerjang, publik (setidaknya sebagian diantaranya) tahu apa yang harus dilakukan.

Gambar 15. Perbandingan data mikroatol di pesisir utara pulau Simeulue dengan irisan kronologi sejarah Aceh. Mikroatol mengalami kenaikan (uplift) saat segmen Aceh mengempis dalam tempo singkat pasca gempa akbar. Sebaliknya mengalami penurunan (submergence) saat segmen yang sama perlahan-lahan membengkak dalam tempo 600 tahun hingga terjadinya gempa akbar. Nampak jejak gempa akbar terakhir (1450 TU) bertepatan dengan memudarnya pengaruh kerajaan Samudera Pasai. Sumber: Natawidjaja, 2015.

Kita berharap hambatan politis sejenis dalam bentuk lain, seperti klaim menakut-nakuti publik atau menghambat investasi, tidak lagi dimunculkan dalam penyelidikan potensi tsunami dahsyat di Jawa Barat dan Banten. Betul, di satu sisi prediksi semacam itu bisa membuat bulu kuduk berdiri. Gambaran visual seperti yang terjadi di pesisir Aceh pada 2004 TU silam dan (mungkin) bisa terjadi pula di pesisir-pesisir Jawa Barat dan Banten tentu bisa membuat cemas dan menggelisahkan sebagian kita. Itu manusiawi. Namun mitigasi bencana geologi tak hanya berhenti di titik itu. Kita bisa bertindak lebih lanjut dengan memahami sampai sejauh mana tsunami dahsyat itu bisa menerjang ke daratan, apakah ratusan meter atau beberapa kilometer. Area yang berpotensi terendam tsunami itu menjadi daerah rawan tsunami.

Contoh peta kawasan rawan tsunami dapat dilihat berikut ini, dalam hal ini untuk Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) :

Dari daerah rawan ini kita bisa membentuk jalur-jalur evakuasi yang dilengkapi dengan titik-titik evakuasi. Sehingga kemana hendak melakukan evakuasi bila bencana terjadi dapat diketahui. Langkah semacam ini telah sukses diterapkan dalam mitigasi bencana geologi yang lain, yakni letusan gunung berapi. Dalam beberapa kejadian letusan gunung berapi mutakhir di Indonesia seperti Letusan Gunung Sinabung, Letusan Gunung Kelud, Letusan Gunung Sangeang Api hingga Letusan Gunung Agung, jumlah korban bisa ditekan seminimal mungkin. Kisah sukses mitigasi bencana letusan gunung berapi itu bisa juga diterapkan dalam mitigasi bencana tsunami dengan tiga hal mutlak yang harus terus dilakukan: sosialisasi, sosialisasi dan sosialisasi.

Pada akhirnya, kita juga harus melihat kembali ke dalam relung masa silam kala mencoba mengeksplorasi potensi tsunami dahsyat di suatu daerah. Dan contoh terbaik di Indonesia lagi-lagi Aceh. Jejak endapan tsunami di pesisir Aceh dan berbagai tempat memperlihatkan tsunami dahsyat sebelum 2004 TU di Aceh terjadi pada sekitar tahun 960 TU dan 1450 TU. Sehingga periode perulangannya adalah sekitar 600 tahun. Pada enam abad silam, Kerajaan Samudera Pasai tumbuh dan berkembang di ujung utara pulau Sumatra sekaligus menabalkan dirinya sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Nusantara. Namun beragam faktor, termasuk terjangan tsunami dahsyat pada tahun 1450 TU, melemahkan kerajaan tersebut yang berujung pada keruntuhan menyakitkan begitu memasuki abad ke-16 TU. Kita berharap Indonesia khususnya Jawa Barat dan Banten tak perlu mengulangi nestapa itu.

Referensi:

BMKG. 2018. Video seminar menyambut hari Meteorologi ke-68, 3 April 2018 TU.

Muhammad dkk. 2016. Tsunami Hazard Analysis of Future Megathrust Sumatra Earthquakes in Padang, Indonesia Using Stochastic Tsunami Simulation. Front. Built Environ., 23 December 2016.

Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat. 2017. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Pusat studi gempa bumi nasional, Pusat penelitian dan pengembangan perumahan dan pemukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat RI.

Yulianto dkk. 2017. Paleotsunami, Studi Interdisiplin Tsunami Raksasa Selatan Jawa. worksjop Dukungan Infrastruktur yang Handal Proyek Stratgeis Nasional di Propinsi DIY, Kementerian Koordinasi Maritim, 29-30 Agustus 2017 TU.

Natawidjaja. 2015. Siklus Mega-Tsunami di Wilayah Aceh-Andaman dalam Konteks Sejarah. jurnal Riset Geologi dan Pertambangan, vol. 25 no. 1, Juni 2015, hal. 49-62.

Iklan

Gugur Lumpur Brebes, Bencana Longsor Pasirpanjang 22 Februari 2018

Lumpurnya sangat tebal, hingga selutut bahkan sepaha orang dewasa. Ia melampar menutupi lahan persawahan cukup luas serta sepenggal jalan desa. Medan berlumpur itulah yang harus dihadapi para relawan kala mengevakuasi para korban bencana longsor di desa Pasirpanjang, Kec. Salem Kab. Brebes (Jawa Tengah). Meski tak sebesar skala longsor Jemblung Banjarnegara pada 12 Desember 2014 TU (Tarikh Umum) silam, bencana longsor Pasirpanjang ini menorehkan catatan tersendiri seiring beratnya medan.

Gambar 1. Sudut desa Pasirpanjang yang terlanda bencana tanah longsor 22 Februari 2018 TU. Nampak longsor mulai melebar kala melintasi area persawahan berterasering. Diabadikan hanya dalam 2 jam pasca bencana terjadi oleh BPBD Kabupaten Brebes. Sumber: BPBD Brebes, 2018 dalam PVMBG, 2018.

Hingga evakuasi dihentikan pada tujuh pascabencana, jumlah korban jiwa tercatat 11 orang, 10 orang ditemukan dalam timbunan lumpur dan seorang lagi meninggal dalam perawatan karena luka-lukanya. Sementara 7 orang masih dinyatakan hilang dibalik tebalnya timbunan lumpur. Sehingga jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 18 orang. Sedangkan 4 orang masih dirawat di rumah sakit dari jumlah korban luka-luka 14 orang. Kerugian materi masih dihitung. Namun secara kasat mata, tak kurang dari 8,5 hektar lahan persawahan hilang tertimbun lumpur. Penggal jalan beraspal sepanjang 507 meter, bagian dari jalan raya propinsi yang menghubungkan Kec. Salem dengan Kec. Banjarharjo di utara, menghilang. Demikian halnya penggal jalan desa Pasirpanjang sepanjang 225 meter. Selain itu dua buah jembatan pun hilang terbawa aliran lumpur.

Bencana longsor Pasirpanjang terjadi pada Rabu 22 Februari 2018 TU sekitar pukul 08:45 WIB. Longsor datang dari lereng Bukit Tamiang, area yang sesungguhnya tertutupi rimba belantara berkualitas baik dan tidak mengalami pembalakan. Longsor terjadi di pagi hari yang terang tanpa ada hujan. Akan tetapi sehari sebelumnya hujan deras mengguyur seharian. Guyuran hujan deras juga terjadi di sore hari pascalongsor. Kombinasi hujan ini menginisiasi banjir besar di bagian dataran rendah Brebes sejak 23 Februari 2018 TU. Guyuran hujan deras juga terjadi pada beberapa hari sebelumnya, juga memproduksi airbah yang menenggelamkan bagian dataran rendah Brebes mulai 12 Februari 2018 TU.

Peta lokasi longsor:

Permukaan Bukit Tamiang dan Bukit Lio di sebelah timurnya tersusun oleh tanah hasil pelapukan berupa lempung berpasir. Tanah ini bersifat sarang (porous) sehingga sangat mudah menyerap air. Ia cukup tebal hingga mencapai 5 meter. Di bawahnya terdapat batuan sedimen napal, yakni batu lempung yang mengandung karbonat cukup banyak. Berbeda dengan tanah permukaan, batuan napal ini bersifat kedap air. Bukit-bukit tersebut juga dikenal berlereng curam. Sisi Bukit Tamiang yang mengalami longsor memiliki kemiringan mulai 35º di bagian bawah hingga lebih dari 45º di bagian atas. Lereng curam dengan tanah permukaan yang sarang dan batuan kedap air dibawanya inilah yang menjadi faktor-faktor penyebab longsor.

Longsor dan Potensi Longsor

Gambar 2. Panorama mahkota longsor Pasirpanjang diabadikan dari udara dengan pesawat udara nir awak (PUNA) milik PVMBG. Nampak jelas longsr terjadi di kawasan yang masih tertutupi vegetasi baik. Terlihat pula aliran Kali Pangurudan, sungai yang berperan dalam bencana longsor ini. Sumber: PVMBG, 2018.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyimpulkan, saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan ini secara berturut-turut, tanah Bukit Tamiang menyerap air dalam jumlah cukup besar hingga jenuh. Bobot massa tanah pun bertambah. Di kaki bukit, penjenuhan menyebabkan kekuatan penahan tanah berkurang. Pada saat yang sama, air yang diserap terakumulasi cukup banyak pada kontak antara dasar tanah permukaan dengan batuan napal. Eksistensi air di sini menjadi mirip oli, melumasi bagian atas batuan napal. Bidang gelincir pun terbentuk. Maka gugur lumpur bertipe aliran pun terjadilah, diinisiasi dari melorotnya bagian kaki bukit. Begitu terjadi maka bagian atasnya pun turut tertarik. Lumpur pun mengalir menyusuri lembah Kali Pangurudan, sebelum kemudian menyebar di kaki bukit laksana kipas.

Secara keseluruhan, mulai dari mahkota longsor hingga ujung lidahnya, tanah longsor ini memiliki panjang 2,3 kilometer. Ia menutupi lahan seluas 23,6 hektar, terdiri dari aliran sungai, hutan produksi, jalan dan areal persawahan. Mahkota longsor terletak di ketinggian 660 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Sementara ujung lidah longsor pada ketinggian 350 meter dpl.

Gambar 3. Foto-foto retakan tanah (atas) dan perosotan tanah/nendatan (bawah) yang membelah jalan raya Salem-Banjarharjo di pinggang Bukit Lio, sejarak 800 meter sebelah timur mahkota longsor Pasirpanjang. Analisis PVMBG memperlihatkan area ini berpotensi berkembang menjadi mahkota longsor susulan yang tak kalah besar dibanding longsor Pasirpanjang 22 Februari 2018. Sumber: PVMBG, 2018.

Apa yang mencemaskan dari gugur lumpur Pasirpanjang ini adalah potensinya untuk terulang lagi. Tanda-tanda fisiknya sudah nampak jelas. Sejarak 800 meter di sebelah timur mahkota longsor ini, tepatnya pada penggal jalan raya Salem-Banjarharjo yang menempati pinggang Bukit Lio, dijumpai retakan-retakan tanah yang membelah aspal. Juga perosotan tanah atau nendatan (slump). Bagian ini kelak mungkin akan menjadi komponen mahkota longsor.

Analisis memperlihatkan bilamana nendatan dan retakan ini berkembang menjadi gugur lumpur, maka ia bisa mengalir sejauh tak kurang dari 2 kilometer. Aliran tersebut bakar menyusuri lembah sebuah sungai kecil, mirip dengan apa yang terjadi dalam bencana longsor Pasirpanjang kali ini. Di kaki bukit, ia pun akan meluber dengan bentangan laksana kipas. Apa yang harus dicermati dari analisis ini adalah bahwa di kaki bukit terdapat pemukiman yang membentuk kampung Jojogan. Kampung ini adalah salah satu kampung di desa Pasirpanjang.

Peta potensi longsor susulan:

Selain harus merelokasi jalan raya Salem-Banjarharjo dan jalan desa Pasirpanjang yang terputus serta lahan persawahan yang terkubur, potensi terancamnya kampung Jojogan juga perlu dicari solusinya. Opsi relokasi menjadi salah satu pilihan. Agar bilamana longsor di titik yang telah diprakirakan itu benar-benar terjadi, korban tak lagi berjatuhan.

Referensi :

PVMBG. 2018. Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 22 Februari 2018. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 22 Februari 2018. Diakses 28 Februari 2018.

PVMBG. 2018. Laporan Sementara Pemeriksaan Gerakan Tanah di Desa Pasirpanjang Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 26 Februari 2018. Diakses 28 Februari 2018.

Letusan Besar Gunung Sinabung 19 Februari 2018

Letusan Gunung Sinabung adalah rutinitas yang telah dijalani Indonesia dalam lima tahun terakhir, tepatnya semenjak 2013 TU (Tarikh Umum). Ini adalah bagian dari episode Letusan Sinabung 2013. Itu adalah letusan magmatis berkepanjangan yang masih terus berlangsung hingga kini. Letusan-letusan itu umumnya berskala kecil, diawali dengan magma segar menumpuk di puncak. Kubah lava pun terbentuk dan kian lama menggemuk. Kubah lava akhirnya longsor menjadi awan panas guguran yang meluncur ke lereng sektor tertentu. Demikian hal ini berlangsung berulang-ulang dan dalam salah satu letusannya sempat merenggut korban.

Gambar 1. Saat-saat rempah letusan dalam kolom letusan besar Sinabung membumbung tinggi mendaki ke langit. Nampak jelas adanya awan Wilson, produk kondensasi uap air di udara akibat penurunan tekanan setempat seiring melintasnya kolom letusan. Diabadikan dari lokasi SPBU Jalan Jamin Ginting kota Kabanjahe, 14 kilometer dari Gunung Sinabung. Sumber: Anonim, 2018 dalam Sutopo Purwo Nugroho, 2018.

Namun tidak demikian pada kejadian Senin pagi 19 Februari 2018 TU. Sinabung lagi-lagi meletus, akan tetapi kali ini bukan letusan biasa. Pada pukul 08:53 WIB Sinabung mendadak meraung. Dari puncaknya rempah letusan nan pekat tersembur hebat pada tekanan cukup tinggi, menghasilkan pemandangan mirip kepalan tangan raksasa yang membumbung tinggi seakan hendak meninju langit. Bersamanya terdengar pula suara gemuruh berkepanjangan yang menakutkan. Panorama menggidikkan ini mengandung hampir semua ciri khas yang hanya terjadi dalam letusan-letusan besar.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Sinabung saat itu menyemburkan kolom letusannya hingga setinggi 5.000 meter di atas puncak, atau hingga 7.500 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Ketinggian tersebut adalah sebelum kolom letusan mulai terpecah dan tersebar mengikuti arah angin. Dalam letusan-letusan sebelumnya, Gunung Sinabung tak pernah disertai suara gemuruh.

Gambar 2. Salah satu potret ikonis dalam peristiwa letusan besar Sinabung 19 Februari 2018. Gunung Sinabung di latar belakang sedang mementaskan drama babak utama dengan mulai runtuhnya kolom letusan ke lereng hingga menjadi awan panas letusan. Di latar depan nampak kepanikan siswa-siswi sebuah sekolah dasar di kaki gunung, di luar zona merah. Sumber: Anonim, 2018 dalam Sutopo Purwo Nugroho, 2018.

Fenomena lain yang juga tak pernah terjadi sebelumnya adalah terbentuknya awan panas letusan (APL). Saat sebagian kolom letusan mulai berjatuhan kembali ke paras Bumi seiring gravitasi, mereka menuruni lereng Gunung Sinabung sektor selatan dan timur sebagai awan panas letusan. Ke arah selatan-tenggara, awan panas letusan ini meluncur hingga sejauh 4.900 meter dalam arah mendatar dari puncak. Sementara ke arah ke arah timur-tenggara, awan panas letusan menyambar hingga sejauh 3.500 meter dari puncak, juga dalam arah mendatar.

Selain awan panas, hujan debu vulkanik pekat dan pasir mengguyur kawasan kaki Gunung Sinabung, menyelimuti sedikitnya tujuh desa di Kabupaten Karo. Selama hampir 2 jam pasca letusan, guyuran debu vulkanik menyebabkan jarak pandang di desa-desa tersebut hanya sebatas 5 hingga 7 meter saja. Suasana pun berubah gulita layaknya malam. Luncuran awan panas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dan hujan debu yang membuat gelap gulita sontak mengagetkan penduduk di sekitar kaki Gunung Sinabung khususnya yang berdekatan dengan zona merah. Kepanikan besar yang belum pernah dialami sebelumnya pun sempat terjadi. Untungnya tak ada korban yang berjatuhan, baik korban luka-luka apalagi korban jiwa.

Sementara itu sisa kolom letusan yang ringan seperti debu vulkanik terus membumbung dan kemudian menyebar ke arah baratlaut-utara dibawah pengarih hembusan angin regional. Debu vulkanik menyebar hingga ke wilayah propinsi Aceh, situasi yang juga belum pernah terjadi sebelumnya. Melimpahnya jumlah debu vulkanik di udara memaksa dibatasinya lalu lintas penerbangan yang lewat di ruang udara sekitar Gunung Sinabung. Sektor barat laut dan sektor utara dari Gunung Sinabung sempat dinyatakan terlarang untuk dilintasi pesawat terbang dalam beberapa jam. Untungnya lalu lintas pesawat terbang di kedua sektor tersebut relatif lengang, tak sepadat sektor timur. Sehingga letusan Sinabung itu tak berdampak pada penutupan bandara Kuala Namu di dekat Medan.

Gambar 3. Zona larangan lalu lintas penerbangan seiring letusan besar Sinabung 19 Februari 2018 seperti dikeluarkan oleh VAAC Darwin. Warna hitam berlaku mulai pukul 16 WIB, warna hijau mulai pukul 22:00 WIB, warna jingga mulai hari berikutnya pukul 04:00 WIB dan warna merah juga mulai hari berikutnya pukul 10:00 WIB. nampak lalu lintas penerbangan di sekitar Gunung Sinabung berdasarkan data FlightRadar24. Sumber: FlightRadar24.com, 2018.

Berubah Sifat?

Tak ada keraguan, hari itu Gunung Sinabung meletus besar. Peristiwa ini didahului rentetan gempa vulkanik sejak 2 hari sebelumnya. PVMBG mencatat jumlah gempa vulkanik Sinabung pada 17 Februari 2018 TU mencapai 17 kejadian, yang terdiri atas gempa vulkanik dalam dan dangkal. Sehari berikutnya jumlah gempa vulkaniknya meroket menjadi 49 kejadian hanya untuk gempa vulkanik dalam saja. Dan pada 19 Februari 2018 TU antara pukul 00:00 hingga 06:00 WIB saja terekam adanya 30 kejadian gempa vulkanik dalam.

Gambar 4. Gunung Sinabung dan lingkungan sekitarnya sehari pasca letusan besar, berdasarkan citra satelit penginderaan jauh Planet Dove milik PlanetLab. Nampak luasnya sebaran debu vulkanik letusan besar ini serta daerah yang terlanda awan panas. Sumber: PlanetLab, 2018.

Sebagai pembanding, sepanjang bulan Desember 2017 TU lalu PVMBG mencatat setiap harinya Gunung Sinabung mengalami gempa vulkanik sebanyak rata-rata 15 kejadian (gempa vulkanik dalam dan dangkal). Maka selama tiga hari berturut-turut menjelang letusan besarnya, gempa vulkanik Sinabung cukup intensif melampaui angka rata-ratanya. Gempa vulkanik selalu berhubungan dengan gerak fluida (magma segar dan gas vulkanik) dari perutbumi menuju kawah atau lubang letusan sebuah gunung berapi.

Intensifnya gempa vulkanik Sinabung selama tiga hari berturut-turut itu mencerminkan tingginya kuantitas fluida yang merangsek ke atas. Semua itu menyebabkan tekanan di dasar kubah lava terbaru Sinabung sangat kuat. Hingga mampu membobol dan menghancurkan kubah lava sekaligus membentuk lubang letusan yang cukup besar di puncak. Pengamatan langsung PVMBG terhadap bentuk puncak Sinabung menegaskan hal tersebut.

Gambar 5. Perubahan panorama puncak Gunung Sinabung akibat letusan besar 19 Februari 2018 TU, diabadikan PVMBG dari lokasi yang sama. Sebelum letusan besar, puncak Sinabung dihiasi kubah lava yang mengandung 1,6 juta meter3 lava segar. Pasca letusan besar, segenap kubah lava tersebut lenyap, digantikan oleh lubang letusan yang cukup besar yang masih berasap. Sumber: PVMBG, 2018.

Letusan besar Sinabung itu demikian bertenaga. Sehingga desing suara infrasonik yang diproduksinya menjalar demikian jauh sampai bisa terdeteksi dari tepian Laut Merah, yang berjarak 6.100 kilometer dari Gunung Sinabung. Tepatnya di Djibouti, pada stasiun infrasonik IS-19 yang menjadi bagian dari jejaring CTBTO (Comprehensive nuclear Test Ban Treaty Organization), lembaga pengawas penegakan larangan ujicoba nuklir global dalam segala matra yang berada di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Meski dirancang untuk mengendus gelombang infrasonik produk ledakan nuklir, namun stasiun yang sama juga bisa mendeteksi gelombang sejenis dari sumber lain, baik alamiah maupun buatan. Selain Djibouti, letusan besar Sinabung juga terdeteksi oleh stasiun infrasonik IS-52 di pulau Diego Garcia (Inggris) yang terletak di tengah-tengah Samudera Indonesia. Dan terdeteksi juga oleh stasiun infrasonik IS-6 di pulau Cocos (Australia), yang berjarak 1.600 kilometer dari Gunung Sinabung. Hasil deteksi ini memperlihatkan seperti apa besarnya letusan Sinabung.

Gambar 6. Bagaimana desing infrasonik letusan besar Sinabung 19 Februari 2018 terekam oleh tiga stasiun infrasonik CTBTO, masing-masing di pulau Cocos, pulau Diego Garcia dan yang terjauh di Djibouti. Di bawah nampak infrasonogram dari stasiun pulau Cocos. Dipublikasikan oleh CTBTO Preparatory Commission. Sumber: CTBTO, 2018.

Selain lewat gelombang infrasonik, kedahsyatan letusan besar Sinabung juga tercermin lewat sejumlah liputan satelit. Baik yang memang bertugas di kawasan Asia timur dan tenggara maupun yang kebetulan lewat. Misalnya satelit Himawari-8, satelit cuaca milik Jepang yang menetap pada orbit geostasioner di atas garis bujur 140,7º BT. Citra-citra dari satelit ini, yang diambil setiap 15 menit, memperlihatkan bagaimana debu vulkanik dalam letusan besar Sinabung itu berkembang dan meluas ke arah barat laut dan utara. Hingga menjangkau wilayah propinsi Aceh, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gambar 7. Letusan besar Sinabung seperti diabadikan pada rangkaian citra satelit Himawari-8 dalam warna nyata (true) sejak pukul 09:00 WIB hingga 12:00 WIB. Nampak debu vulkanik dengan warna kecoklatannya cukup kontras dibandingkan tebaran awan disekitarnya yang putih. Nampak pula bagaimana bentuk dan ukuran debu vulkanik Sinabung yang meluas dari waktu ke waktu. Dipublikasikan oleh Japan Meteorology Agency. Sumber: JMA, 2018.

Analisis Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, tim pakar yang bekerja di bawah badan penerbangan sipil internasional dari Perserikatan bangsa Bangsa, menyimpulkan debu vulkanik produk letusan besar ini membumbung hingga ketinggian 16.500 meter dpl. Kesimpulan yang sedikit berbeda dikemukakan tim evaluasi pasca letusan yang berbasis satelit CALIPSO (Cloud Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation). Satelit dikelola bersama oleh NASA (Amerika Serikat) dan CNES (Perancis) menunjukkan lima jam pasca letusan besar, puncak debu vulkaniknya bahkan sempat menjangkau ketinggian 18.000 meter dpl. Ketinggian sebesar ini belum pernah terjadi dalam letusan-letusan Sinabung sebelumnya.

Gambar 8. Atas = lintasan satelit Aqua di atas kawasan Gunung Sinabung dalam 5 jam pascaletusan, menyajikan citra dalam warna nyata dari radas MODIS dan hasil pengukuran kadar gas Belerang (SO2). Bawah = Bagaimana debu vulkanik dalam letusan besar Sinabung membumbung tinggi hingga 18.000 meter dpl diungkap lewat penyelidikan satelit CALIPSO yang lewat di atas Sinabung beberapa saat setelah satelit Aqua. Garis hitam menunjukkan tropopause (batas antara lapisan troposfer dan stratosfer). Sumber: Andrew Prata, 2018.

Sebelum letusan besar terjadi, kubah lava yang menduduki ujung lubang letusan Sinabung memiliki volume sedikitnya 1,6 juta meter3. Letusan besar Sinabung menghilangkan seluruhnya. Seperti terlihat pada Letusan Kelud 2014, volume letusan merupakan kombinasi dari volume kubah lava yang nampak di permukaan dengan volume magma segar yang merangsek deras dari perutbumi. Sehingga cukup beralasan untuk mengatakan letusan besar Sinabung menghamburkan setidaknya 2 juta meter3 magma segar. Penyelidikan lebih lanjut akan lebih memastikannya.

Letusan besar Sinabung mengindikasikan ada yang berubah dari gunung berapi yang tak pernah meletus lagi dalam 1.200 tahun terakhir itu. Awalnya erupsi magmatis Sinabung bersifat efusif. Ia ditandai pembentukan kubah lava yang berlanjut ke guguran lava pijar di lereng sekaligus terbentuknya awan panas guguran. Letusan semacam ini dikenal sebagai letusan tipe Merapi. Namun dalam setahun terakhir, Gunung Sinabung mulai memperlihatkan tanda-tanda erupsi eksplosif. Kolom letusan kerap terbentuk dan menyembur hingga ketinggian tertentu, yang dikenal sebagai letusan tipe vulkanian. Letusan besar Sinabung kemarin adalah pemuncak dari erupsi eksplosif tersebut, hingga saat ini. Letusan besar itu memiliki tipe plinian (subplinian).

Apakah Gunung Sinabung sedang berubah?

Referensi

PVMBG. 2018. erupsi Gunung Sinabung tanggal 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB. Pusat Vulkanologi da Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI. Diakses 21 Februari 2018 TU.

Devy Kamil Syahbana. 2018. komunikasi pribadi.

Andrew Prata. 2018. komunikasi pribadi.

Sutopo Purwo Nugroho. 2018. komunikasi pribadi.

Mengenal Erupsi Gunung Berapi: Freatik, Freatomagmatik dan Magmatik

Gunung Agung akhirnya membuktikan bahwa dirinya tak ingkar dari janjinya sebagai gunung berapi aktif. Setelah lebih dari dua bulan mencekam lewat drama krisis seismik yang ditandai lonjakan kegempaan vulkanik dan tektonik, pada Selasa 21 November 2017 TU (Tarikh Umum) Agung akhirnya meletus.

Gambar 1. Letusan awal Gunung Agung pada Minggu 21 November 2017 TU sore. Tekanan gas vulkanik di letusan ini tergolong sedang, sehingga debu hanya menyembur setinggi 700 meter di atas puncak. Semula dikira erupsi freatik, namun analisis sampel debu produk letusan ini menunjukkan saat itu Gunung Agung sudah memasuki tahap erupsi freatomagmatik. Sumber: PVMBG, 2017.

Letusan awal Agung tergolong sedang. Ia menyemburkan debu vulkanik hingga setinggi maksimal 700 meter di atas puncak, atau 4.100 meter dpl (dari paras air laut rata-rata). Letusan berlangsung singkat dan Gunung Agung kembali tenang hingga 4 hari kemudian. Namun kejadian letusan itu sendiri dipandang mengagetkan bagi sebagian kalangan. Mengingat sejak krisis seismik Gunung Agung dimulai pada 13 September 2017 TU, kegempaan harian Agung justru menunjukkan kecenderungan mulai menurun pada 37 hari kemudian.

Dengan patokan 20 Oktober 2017 TU, bila dicermati sebelum tanggal tersebut jumlah gempa vulkanik-tektonik Gunung Agung melampaui 600 kejadian per hari dan bahkan pada puncaknya sempat menyentuh lebih dari 1.000 kejadian per hari. Namun selepas tanggal itu jumlahnya anjlok secara drastis menjadi di bawah 400 kejadian per hari. Bahkan sehari sebelum letusan, jumlah gempa Gunung Agung sudah anjlok drastis di bawah angka 100 kejadian per hari. Tak heran banyak yang beranggapan Gunung Agung telah melempem, kehabisan tenaga sebelum saatnya meletus.

Gambar 2. Panorama kawah Gunung Agung dalam beberapa hari pasca letusan awal, diabadikan dengan PUNA/pesawat udara nir-awak (drone). Nampak lubang letusan awal (yang merupakan erupsi freatomagmatik) menganga di tengah dasar kawah. Sementara gas belerang nampak mengepul pada zona retakan di sisi timur laut. Sumber: PVMBG, 2017.

Setelah tenang kembali selama 4 hari, Gunung Agung kembali beraksi pada Sabtu 25 November 2017 TU. Kali ini letusannya lebih besar dan durasinya lebih lama karena berlangsung hingga berhari-hari kemudian. Awalnya kolom debu letusan disemburkan setinggi 4.600 meter dpl (lebih dari 15.000 kaki). Namun terus berlangsungnya pasokan magma segar membuat debu vulkanik membumbung kian tinggi hingga akhirnya mencapai ketinggian lebih dari 6.000 meter dpl (hampir 18.000 kaki).

Dengan ketinggian hingga 18.000 kaki itu, maka tebaran debu vulkanik Agung sudah memasuki area lalulintas penerbangan pesawat-pesawat komersial. Larangan terbang di ruang udara sekitar Gunung Agung pun ditegakkan untuk keselamatan penerbangan. Meski konsekuensinya dua bandara, masing-masing Denpasar (Bali) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat), terpaksa ditutup untuk sementara. Akibatnya ratusan penerbangan dari dan ke pulau Bali dan pulau Lombok pun terpaksa dibatalkan. Beruntung penutupan ini tidak berlangsung lama. Di sisi lain, lonjakan ini membuak status Gunung Agung kembali dinaikkan ke Awas (Level IV) mulai 27 November 2017 TU.

Kubah Lava

Gambar 3. Letusan Gunung Agung pada 29 November 2017 TU dinihari. Warna kemerahan pada satu sisi di bagian bawah kolom letusan merupakan cahaya yang dipancarkan dari magma segar yang telah keluar dan mulai mengisi dasar kawah. Inilah pertanda tak langsung letusan Gunung Agung sudah memasuki fase erupsi magmatik yang efusif. Sumber: PVMBG, 2017.

Semenjak itu Gunung Agung terus berkibar dengan aktivitasnya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) mencatat hingga akhir tahun 2017 TU, Gunung Agung telah mengalami 21 kejadian letusan dan 843 kejadian hembusan. Bila dirata-ratakan maka terjadi satu letusan setiap 2 hari dan setiap harinya terjadi 21 hembusan. Kejadian letusan adalah semburan dengan kolom berwarna abu-abu/gelap sebagai pertanda dominasi debu vulkanik. Sementara hembusan adalah semburan yang mirip namun lebih cerah atau putih, indikasi dominannya uap air.

Selain kejadian letusan dan hembusan, sejak letusan beruntun 25 November 2017 juga terdeteksi terjadinya muntahan magma segar. Awalnya berdasarkan indikasi tak langsung, dimana dasar kolom letusan nampak merah membara laksana tersinari sesuatu di malam hari. Indikasi langsungnya baru diketahui berhari-hari kemudian lewat pencitraan satelit sumberdaya Bumi (baik dalam spektrum cahaya tampak maupun radar), terutama manakala tutupan awan di atas Gunung Agung relatif jarang.

Gambar 4. Panorama kubah lava di dasar kawah Gunung Agung, diabadikan dengan PUNA PVMBG dan satelit penginderaan jauh PlanetLab masing-masing pada pertengahan dan awal Desember 2017 TU. Orientasi arah mataangin keduanya adalah sama. Nampak jelas kubah lava yang unik dengan tepian bergelombang dan lubang letusan di bagian tengah. Sumber: PVMBG, 2017 & Planet, 2017.

Magma keluar sebagai lava segar yang terakumulasi di dasar kawah sebagai kubah lava nan unik. Bentuknya melebar datar mirip telur dadar atau martabak. Terdapat pola bergelombang di tepinya, yang mengesankan terbentuk saat lava masih cukup encer dan mendadak terjadi letusan cukup kuat hingga membentuk gelombang di permukaan sebelum kemudian mulai mendingin dan membeku. Bentuknya yang melebar datar menunjukkan lava letusan Agung kali ini relatif encer, setidaknya dibanding lava letusan 1963-1964.

Secara akumulatif terdapat 20 hingga 30 juta meter3 lava di dasar kawah Agung. Volume kawah Agung sendiri adalah 60 juta meter3, sehingga jumlah lava yang keluar dalam letusan ini baru mengisi sepertiga hingga setengah kawah saja. Belum tumpah. Ini membuat fenomena khas letusan gunung berapi bagi lereng gunung seperti aliran lava pijar maupun awan panas guguran tidak terjadi.

Ada perdebatan apakah akumulasi lava Agung merupakan kubah lava atau fenomena lain, misalnya danau lava. Mengutip VolcanoDiscovery.com, sulit menyebutnya sebagai danau lava. Sebab danau lava memerlukan lava yang lebih encer lagi dan mampu mempertahankan diri untuk tetap cair (dalam waktu tertentu) sehingga proses konveksi dapat terjadi. Hal tersebut tak dijumpai pada tumpukan lava Agung saat ini. Maka fenomena dalam kawah Agung lebih merupakan kubah lava. Lavanya relatif lebih encer dibanding lava penyusun kubah-kubah lava lainnya di gunung-gemunung berapi Indonesia. Sehingga bentuknya mendatar. Kubah lava yang mirip dijumpai pula di Gunung Popocatepetl (Meksiko) saat letusan 2015-2016 lalu.

Gambar 5. Panorama kubah lava Agung dan Popocatepetl. Dua kubah lava yang berbeda ini memiliki sejumlah kemiripan, yakni bentuknya relatif datar dan memiliki pola bergelombang di tepinya. Sumber: PVMBG, 2017 & CENAPRED, 2016.

Freatik, Freatomagmatik dan Magmatik

Banyak yang menganggap (termasuk saya) letusan Gunung Agung kali ini dimulai dengan peristiwa erupsi freatik. Tepatnya pada letusan awal 21 November 2017. Namun PVMBG, melalui analisis sampel debu letusan, mementahkan anggapan itu dan menyatakan letusan awal Agung bukan lagi erupsi freatik namun sudah merupakan erupsi freatomagmatik.

Apa sih erupsi freatik dan freatomagmatik itu?

Dalam hal pergerakan magma dari sebelum hingga sesudah keluar dari lubang letusan, dikenal adanya tiga jenis erupsi. Masing-masing erupsi freatik, erupsi freatomagmatik dan erupsi magmatik. Seperti diketahui manakala sebuah gunung berapi hendak meletus maka dapur magmanya mulai mengalirkan magma segar yang telah bertekanan cukup tinggi (oleh sebab apapun) ke atas. Pergerakan ini menciptakan retakan-retakan pada bebatuan yang menyumbat saluran, batuan yang sejatinya merupakan bekuan dari magma tua (magma sisa letusan sebelumnya). Pembentukan retakan ini menghasilkan getaran yang terdeteksi sebagai gempa-gempa vulkanik.

Gambar 6. Skema sederhana erupsi freatik, freatomagmatik dan magmatik. A = Situasi menjelang erupsi freatik, dimana air bawah tanah sekitar puncak (2) terpanaskan intensif oleh magma segar yang masih jauh di kedalaman (5) sehingga membentuk uap air yang terakumulasi (4) di bawah penutup dasar kawah (3). B = saat erupsi freatik terjadi. Erupsi ini menciptakan jalan bebas hambatan bagi magma segar untuk lebih cepat naik, sehingga erupsi freatomagmatik juga berkemungkinan terjadi. C = saat erupsi magmatik terjadi, magma segar sudah keluar dari lubang letusan dan mengalir sebagai lava pijar maupun awan panas di lereng. Sumber: Sudibyo, 2014.

Saat magma segar kian dekat ke paras tanah dan siap memasuki tubuh gunung, mulailah ia berinteraksi dengan air bawah tanah. Gas-gas vulkanik panas yang dilepaskan magma segar di kedalaman bersentuhan dengan air bawah tanah sehingga penguapan terjadi, meskipun magma segar itu sendiri belum menyentuh air. Intensitas penguapan kian meningkat seiring kian naiknya magma segar. Sebagian uap bisa meloloskan diri ke udara melalui retakan-retakan yang sudah ada menuju kawah. Akan tetapi sebagian lagi tetap tersekap, berkumpul kian banyak hingga tekanannya kian meningkat. Erupsi freatik terjadi manakala akumulasi uap air ini memiliki tekanan yang cukup tinggi sehingga mampu membobol bebatuan pembekuan magma tua yang menyumbat kawah. Terciptalah jalur bebas hambatan ke udara.

Karena itu material vulkanik yang disemburkan oleh erupsi freatik lebih didominasi uap air bercampur gas-gas vulkanik lainnya. Sementara debu, pasir hingga kerikil produk pembobolan magma tua merupakan komponen sekunder. Produk letusannya pun relatif dingin. Saat baru keluar dari lubang letusan, material vulkaniknya memiliki suhu kurang dari 200º C dan saat tiba di kaki gunung sudah setara suhu lingkungan. Erupsi freatik sama sekali tidak memuntahkan magma segar. Intensitas erupsinya juga umumnya kecil. Namun ia menghasilkan jalan bebas hambatan yang membuat jenis-jenis erupsi berikutnya menjadi lebih mudah terjadi.

Gambar 7. Suasana panik sesaat setelah erupsi freatik di Kawah Sileri, kompleks vulkanik Dieng, Banjarnegara (Jawa Tengah) pada 2 Juli 2017 TU silam. Uap air nampak mengepul dari kawah, salah satu ciri khas erupsi freatik. Sumber: BNPB/Sutopo Purwo Nugroho, 2017.

Pada letusan Agung kali ini tidak terdeteksi terjadinya erupsi freatik. Erupsi freatik kadangkala menjadi babak pembuka sebuah episode letusan gunung berapi. Misalnya seperti pada Letusan Sinabung 2010. Namun juga dapat berdiri sendiri, yakni langsung berhenti tanpa diikuti jenis letusan yang lain. Misalnya seperti peristiwa Letusan Kawah Sileri 2017.

Jenis erupsi berikutnya adalah erupsi freatomagmatik. Umumnya erupsi ini terjadi setelah erupsi freatik berlalu. Erupsi freatomagmatik terjadi manakala magma segar, yang kian naik saja ke dalam tubuh gunung namun belum mencapai lubang letusan, mulai bersentuhan langsung dengan air bawah tanah. Persentuhan dengan air yang lebih dingin membuat permukaan magma segar sontak mendingin cepat, membentuk butiran-butiran pasir hingga kerikil dengan komposisi khas. Sebaliknya air bawah tanah langsung menguap secara brutal.

Gambar 8. Foto langka yang menunjukkan tahap awal Letusan Krakatau 1883, yakni saat puncak Perbuwatan menyemburkan debu vulkaniknya pada Mei 1883 TU. Letusan ini merupakan erupsi freatomagmatik. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Produksi uap air yang berlebihan berujung pada letusan. Selain menyemburkan uap air dan gas-gas vulkanik lainnya, erupsi freatomagmatik pun menyemburkan debu, pasir hingga kerikil. Namun kali ini mayoritas berasal dari magma segar yang membeku cepat. Intensitas erupsinya akan lebih besar dari erupsi freatik dan material vulkanik yang dimuntahkannya pun lebih panas. Letusan Agung 21 November 2017 adalah erupsi jenis ini. Demikian halnya erupsi-erupsi awal dari episode Letusan Krakatau 1883.

Gambar 9. Menit-menit awal Letusan Sangeang Api 2014 seperti diabadikan fotografer Sofyan Efendi. Letusan pada 30 Mei 2014 TU ini merupakan contoh erupsi magmatik yang eksplosif. Saat itu Gunung Sangeang Api menyemburkan debu vulkaniknya hingga setinggi sekitar 20.000 meter dpl. Sumber: Effendi, 2014 dalam Mail Online, 2014.

Dan jenis erupsi yang terakhir adalah erupsi magmatik. Erupsi ini adalah pemuncak dari episode letusan gunung berapi, dengan magma segar sudah keluar dari lubang letusan. Erupsi magmatik secara umum terbagi menjadi dua: eksplosif (ledakan) dan efusif (leleran). Erupsi magmatik eksplosif umumnya melibatkan magma segar yang bersifat asam karena banyak mengandung silikat (SiO2). Sehingga ia lebih kental dan lebih banyak menyekap gas-gas vulkanik. Saat hendak keluar atau tepat keluar dari lubang letusan, gas-gas vulkanik ini terbebaskan sehingga menciptakan kolom letusan cukup besar dan menyembur tinggi. Manakala kekuatan semburan gas tak lagi mampu mempertahankan material vulkanik ini di udara maka ia akan berjatuhan kembali ke Bumi. Mayoritas diantaranya (yakni fraksi yang lebih berat) jatuh kembali ke tubuh gunung dan mengalir menuruni lereng sebagai Awan Panas Letusan (APL). Hal ini misalnya bisa disaksikan dalam kejadian Letusan Merapi 2010, Letusan Kelud 2014 dan Letusan Sangeang Api 2014.

Gambar 10. Letusan Sinabung pada 9 Februari 2015 TU, diabadikan fotografer Hendi Syarifuddin. Letusan ini merupakan contoh erupsi magmatik yang efusif, dimana terbentuk awan panas guguran yang mengalir ke lereng. Sumber: Syarifuddin, 2015 dalam geomagz, Maret 2015.

Sebaliknya erupsi magmatik yang efusif terjadi karena magma segar yang lebih bersifat basa (basaltik). Maka ia lebih encer dan kurang mengandung gas. Kurangnya gas vulkanik membuat magma segar cenderung menumpuk disekeliling lubang letusan saat keluar. Membentuk kubah lava. Pasokan magma segar yang berkesinambungan membuat kubah lava kian membesar dan kian takstabil, sehingga bisa longsor sebagian. Longsoran ini menghasilkan Awan Panas Guguran (APG) dan leleran lava pijar. Keduanya bergerak menuruni lereng hingga jarak tertentu. Hal ini misalnya bisa disaksikan pada Letusan Sinabung 2013 yang masih berlangsung hingga kini.

Referensi :

Martanto. 2017. Letusan Gunung Agung 21 November 2017 pukul 17:05 WITA. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, diakses 22 November 2017 TU.

Kasbani. 2017. Perkembangan Terkini Aktivitas Gunung Agung (1 Desember 2017 21:00 WITA). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, diakses 3 Desember 2017 TU.

VolcanoDiscovery. 2017. Gunung Agung volcano (Bali, Indonesia): Flat Lava Dome Occupying Summit Crater. Publikasi 13 Desember 2017 TU, diakses 30 Desember 2017 TU.

VolcanoDiscovery. 2017. Popocatépetl volcano (Mexico): Growing Lava Dome has Filled Inner Crater. Publikasi 29 Januari 2016 TU, diakses 30 Desember 2017 TU.

Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 dan Narasi Gempa Intralempeng Merentang Masa

Gempa (nyaris) besar itu meletup tatkala hari Jumat 15 Desember 2017 TU (Tarikh Umum) hampir menutup. Getaran utamanya terjadi pada pukul 23:48 WIB pada suatu titik di pesisir Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat). Rilis awal BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menempatkan magnitudonya 7,3 yang kemudian diperbaiki lewat rilis pembaharuan menjadi magnitudo 6,9. Pembaharuan magnitudo sebuah gempa adalah hal wajar, biasa dilakukan oleh institusi-institusi geofisika dimanapun. Gempa dengan magnitudo 7 atau lebih tergolong gempa besar, sehingga Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 (begitu mudahnya kita namakan) tergolong gempa (nyaris) besar. Dibandingkan Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 (magnitudo 6,4) maka gempa ini 6 kali lebih energetik.

Gambar 1. Peta intensitas getaran akibat Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017. Angka II, III dan seterusnya menunjukkan intensitas getaran (masing-masing 2 MMI, 3 MMI dan seterusnya). Tanda bintang menunjukkan episentrum gempa sekaligus lokasi intensitas maksimum (6 MMI). Sumber: USGS/PAGER, 2017.

Sumber gempa terletak pada kedalaman sekitar 100 kilometer. Sehingga wajar ia menggetarkan lebih dari separuh pulau Jawa, mengejutkan penduduk setempat yang sebagian besar sudah terlelap. Dalam catatan sistem otomatis PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquakes for Response) dari USGS (BMKG-nya Amerika Serikat), getaran gempa ini membangunkan setidaknya 63 juta jiwa dari tidur lelapnya dengan getaran keras mulai dari intensitas 4 MMI (Modified Mercalli Intensity). Getaran 4 MMI adalah getaran yang setara dengan getaran yang kita rasakan saat berada di pinggir jalan dan sebuah truk tronton yang melintas mendadak menubruk bangunan di seberang. Jumlah 63 juta jiwa itu setara dengan lebih dari seperempat penduduk Indonesia. Di antara jumlah itu sekitar 580 ribu diantaranya merasakan getaran terkeras, yakni 6 MMI, yang bisa berdampak pada kerusakan ringan dan jatuhnya benda-benda yang digantung.

Nir-tsunami

Meski secara umum getaran maksimum akibat gempa ini adalah 6 MMI, namun rupanya gempa ini tetap berdampak jatuhnya korban dan kerusakan. Rilis BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyebutkan hingga dua hari pasca gempa tercatat 1.905 rumah rusak ringan dan 579 rumah rusak sedang. Terdapat pula 451 rumah yang rusak berat, meliputi ambruk sebagian maupun keseluruhan. Selain kerusakan bangunan juga terdapat korban manusia, meliputi 4 orang tewas, 11 orang luka berat dan 25 orang luka ringan. Salah satu korban tewas bahkan tinggal di kota Pekalongan yang berjarak 150 kilometer lebih dari episentrum. Kerusakan-kerusakan ini bisa berarti dua hal: terjadi penguatan getaran (amplifikasi) akibat kondisi tanah lokal, atau bangunan-bangunan tersebut memang bermutu buruk sehingga getaran sedikit saja sudah merusaknya.

Gambar 2. Prakiraan sumber Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 berdasarkan analisis back-projection pada frekuensi antara 0,05 Hertz hingga 0,25 Hertz dari stasiun-stasiun seismometer di seluruh penjuru dalam jaringan IRIS. Nampak sumber gempa cenderung mngarah ke timurlaut. Sumber: IRIS, 2017.

Karena dalam rilis awalnya magnitudo gempa ini adalah 7,3 maka sistem peringatan dini tsunami BMKG di bawah payung InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) pun teraktifkan. Melalui pemodelan matematis semi-otomatis yang berbasis masukan parameter gempa (magnitudo, koordinat episentrum, kedalaman sumber, jenis pematahan sumber gempa), maka sistem InaTEWS menerbitkan peringatan dini bagi sebagian pesisir selatan pulau Jawa, mulai dari Kab. Sukabumi di ujung barat hingga Kab. Bantul di ujung timur.

Dari garis pantai sepanjang itu sebagian besar diantaranya berstatus Waspada (zona kuning) karena memiliki perkiraan tinggi tsunami maksimal 0,5 meter. Status waspada ini meliputi pesisir Kab . Kulonprogo, Kab. Purworejo, Kab. Kebumen, Kab. Cilacap, Kota. Cilacap dan Kab. Garut. Sementara sebagian kecil diantaranya berstatus Siaga (zona jingga) dengan perkiraan tinggi tsunami antara 0,5 hingga 3 meter. Status siaga ini meliputi pesisir Kab. Ciamis dan Kab. Tasikmalaya.

Gambar 3. Atas: rekaman paras air laut pada stasiun pasang surut di pulau Christmas (Australia) pada hari terjadinya Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 (magnitudo 6,9). Bawah: rekaman serupa di stasiun pasang surut pada pelabuhan Padang (Sumatra Barat) pada hari terjadi Gempa Padang 30 September 2009 (magnitudo 7,6). Garis hitam vertikal menunjukkan waktu kejadian gempa bumi di lokasi masing-masing. Perhatikan dinamika paras air laut di Cilacap tidak mengandung usikan khas tsunami (kecil) sebagaimana di Padang. Sumber: IOC, 2017.

Saat sistem InaTEWS menyatakan status Waspada untuk suatu daerah, penduduk yang tinggal di kawasan pesisir daerah itu sesungguhnya tak perlu mengungsi. Cukup menjauhi garis pantai dan tepi sungai. Evakuasi baru dilaksanakan bilamana sistem InaTEWS menyatakan status Siaga, terutama untuk penduduk yang bertempat tinggal di dalam zona merah dalam peta bahaya tsunami sebuah kabupaten/kota. Akan tetapi dalam kejadian Gempa Tasikmalaya 25 Desember 2017, penduduk yang ada di pesisir berstatus Waspada pun mengungsi. Misalnya seperti di Cilacap. Hal ini terjadi karena dua hal. Pertama, sosialiasi kewaspadaan tsunami mungkin belum intensif terutama ke para pengambil keputusan. Sehingga informasi tentang tingkatan-tingkatan status InaTEWS dan implikasi setiap tingkat status bagi proses evakuasi penduduk setempat belum diterima dengan baik. Dan yang kedua, perasaan traumatik mungkin lebih mengemuka dalam benak publik setempat, mengingat kosakata tsunami senantiasa terhubung dengan kejadian bencana Gempa akbar Sumatra Andaman 26 Desember 2004 (magnitudo 9,3) yang melumat Aceh serta bencana Gempa Pangandaran 17 Juli 2006.

Hingga dua jam pascagempa tidak terdeteksi usikan khas tsunami pada paras air laut di stasiun-stasiun pasang surut pesisir selatan pulau Jawa. Sehingga disimpulkan Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 tidak memproduksi tsunami. Karena itu peringatan dini tsunami pun dicabut sesuai prosedur. Ketiadaan tsunami dalam gempa ini tidak mengejutkan mengingat sumbernya yang cukup dalam. Meski demikian peringatan dini tsunami tetap dibutuhkan dalam kejadian seperti ini, karena berdasarkan pengalaman, tsunami di pesisir selatan pulau Jawa tak hanya murni bersumber dari kejadian gempanya sendiri (dalam bentuk deformasi dasar laut setempat). Namun juga bisa disebabkan oleh dampak ikutan dalam bentuk longsoran besar dasar laut sekitar sumber gempa (yang amat sulit diprediksi).

Gambar 4. Bagaimana tsunami menerjang kolam PLTU Bunton (Cilacap) seperti terekam kamera sirkuit tertutup (CCTV) menyusul peristiwa Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7). Gempa ini bertipe gempa-senyap sehingga memproduksi tsunami yang kelewat besar dibanding seharusnya. Sistem peringatan dini tsunami salah satunya untuk mengantisipasi kejadian semacam ini. Sumber: PLTU Bunton, 2006 dalam Lavigne dkk, 2007.

Ilmu kegempaan mengenal apa yang disebut gempa-senyap (slow earthquake atau tsunami earthquake), yakni gempa dengan getaran yang tak terasa ringan namun kemudian disusul terjangan tsunami cukup merusak. Atau dalam istilah formalnya gempa yang memproduksi tsunami dengan magnitudo tsunami jauh lebih besar ketimbang magnitudo gempanya sendiri. Dan pesisir selatan pulau Jawa telah mengalami kejadian gempa-senyap semacam ini hingga dua kali. Masing-masing dalam kejadian Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 dan gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Sementara pada saat ini belum ada satu institusi geofisika pun yang bisa memodelkan sifat-sifat tsunami yang diproduksi sebuah kejadian gempa-senyap. Sehingga membangkitkan kewaspadaan terhadap tsunami (melalui kabar peringatan dini tsunami) dalam kejadian gempa besar yang episentrumnya di dasar laut adalah dipandang lebih baik.

Intralempeng

Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017 bersumber dari pematahan anjak miring (oblique thrust) pada kedalaman sekitar 100 kilometer. Sumber gempanya, berdasarkan analisis back-projection oleh IRIS (Incorporated Research Institutions for Seismology) adalah segmen batuan sepanjang sekitar 50 kilometer dengan lebar sekitar 25 kilometer yang melenting sejauh (rata-rata) 0,8 meter. Tebal kerak bumi yang menjadi landasan pulau Jawa adalah 30 kilometer. Sehingga hampir pasti sumber gempa tersebut bukanlah di zona subduksi. Melainkan hanya dari bagian lempeng Australia saja yang telah menelusup di bawah pulau Jawa. Gempa yang semacam ini disebut gempa intralempeng (intraslab earthquake).

Gambar 5. Penampang pulau Jawa yang disederhanakan dengan lempeng Australia mendesak dari selatan (panah kuning). Nampak posisi suatu sumber gempa intralempeng (tanda bintang) dalam lempeng Australia yang melekuk ke lapisan mantel. Gelombang gempa intralempeng ini merambat lewat medium padat (panah merah) dan medium plastis (panah putih). Sumber: Sudibyo, 2016.

Kita telah mengenal gempa yang bersumber dari zona subduksi yang kadang disebut pula gempa antarlempeng, meski kosakata ini tidak begitu populer. Pada zona subduksi, dua lempeng tektonik yang berinteraksi saling bersentuhan, menghasilkan bidang kontak yang pada dasarnya adalah sebuah zona sesar anjak nan panjang dan besar (megathrust). Di pulau Jawa, zona subduksi dibentuk oleh interaksi mikrolempeng Sunda (bagian dari lempeng Eurasia) dan lempeng Australia. Banyak gempa legendaris lahir dari zona ini, yang kerap memproduksi tsunami manakala magnitudonya cukup besar. Termasuk Gempa Banyuwangi 3 Juni 1994 (magnitudo 7,8) dan Gempa Pangandaran 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7). Selain itu kita juga mengenal gempa di daratan, yang tidak bersumber dari zona subduksi dan mempunyai sumber sangat dangkal. Misalnya Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 di pulau Jawa, maupun Gempa Pidie Jaya 7 Desember 2016 (magnitudo 6,5) di pulau Sumatra.

Dalam kedua jenis gempa tersebut sejumlah ciri khasnya telah kita ketahui. Misalnya deformasi kerak buminya, yang di era modern diukur melalui radas GPS (Global Positioning Systems) berketelitian tinggi. Dengan demikian bagaimana pergerakan titik-titik paras bumi di zona subduksi maupun di sekitar suatu sesar aktif dapat diketahui. Termasuk apakah zona subduksi/sesar aktif tersebut sedang menumpuk energi yang siap dilepaskan dalam peristiwa gempa mendatang. Sejarah kegempaannya pada suatu rentang waktu tertentu (misalnya selama 1.000 tahun) juga dapat diketahui, misalnya berdasarkan jejak-jejak yang tertinggal dalam tanah sekitar sesar tersebut maupun pada pola pertumbuhan khas mikroatol di pantai/pulau-pulau kecl zona subduksi. Meski prediksi kejadian gempa bumi berketilian tinffi masih jauh dari harapan ilmu pengetahuan masa kini, namun berbekal informasi-informasi tersebut maka bagaimana potensi kejadian gempa bumi berikut dengan magnitudo maksimum tertentu pada suatu daerah bisa dideduksi.

Gambar 6. Diagram sederhana mekanisme pembentukan gempa pada zona subduksi, khususnya gempa besar/akbar. Bagian lempeng yang terdesak sebelum gempa dan lantas melenting begitu gempa terjadi bisa diukur melalui radas GPS maupun karang mikroatol, ‘kemewahan’ yang tak dimiliki gempa intralempeng. Sumber: Sudibyo, 2014.

‘Kemewahan seismik’ semacam itu tidak dimiliki gempa intralempeng. Misalnya, bagaimana mau mengetahui deformasi kerak jika sumber gempanya saja sedalam 100 kilometer? Juga bagaimana bisa mengetahui sejarah kegempaannya jika si intra ini tak meninggalkan jejak khas di paras Bumi? Celakanya, di sisi lain si intra juga kerap mendatangkan korban manusia dan kerugian materi yang cukup besar. Terutama tatkala ia merupakan gempa besar.

Dalam sejarah masakini, gempa intralempeng yang paling banyak merenggut korban di Indonesia adalah Gempa Padang 30 September 2009 (magnitudo 7,6). Bersumber dari kedalaman 76 kilometer, getaran kerasnya merenggut nyawa lebih dari 1.100 orang. Sementara hampir 3.000 orang dibuat luka-luka dengan ratusan ribu rumah dirusakkannya. Bagi pulau Jawa, nestapa serupa dalam skala dan angka yang lebih kecil terjadi saat meletup Gempa Tasikmalaya 2 September 2009 (magnitudo 7). Episentrumnya berdekatan dengan Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2017, namun sumbernya lebih dangkal (yakni kedalaman 50 kilometer). Sehingga getaran kerasnya menewaskan 79 orang dengan ratusan orang lainnya luka-luka serta merusak belasan ribu rumah. Beruntung bahwa sejumlah gempa intralempeng lainnya di pulau Jawa, misalnya Gempa Laut Jawa 7 Agustus 2007 (magnitudo 7,5 kedalaman sumber 290 kilometer) dan Gempa Kebumen 25 Januari 2014 (magnitudo 6,2 kedalaman 79 kilometer) tidak berdampak berarti.

Gambar 7. Peta prakiraan intensitas getaran Gempa Jakarta 5 Januari 1699 (magnitudo 8) yang merupakan gempa intralempeng (sumber kedalaman 120 kilometer). Lingkaran-lingkaran menunjukkan intensitas getaran di satu tempat, yang diderivasikan dari dampak kerusakan. Nampak pesisir utara Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat menderita getaran terparah (intensitas 7 hingga 9 MMI). Jika gempa serupa terjadi di masakini, korban jiwa bisa mencapai 100.000 orang dengan 76 juta jiwa mengungsi. Sumber: Geoscience Australia, 2015.

Apa yang menggelisahkan dari kisah-kisah gempa intralempeng adalah kejadian seperti ini bukan hanya di masa kini saja. Di masa silam, ada sejumlah indikasi bahwa si intra telah berulang-ulang terjadi di pulau Jawa. Dan memproduksi dampak cukup merusak untuk ukuran zamannya. Misalnya saja Gempa Jakarta 5 Januari 1699. Analisis Geoscience Australia memperlihatkan gempa besar ini mungkin merupakan gempa intralempeng dengan magnitudo 8 yang bersumber dari kedalaman 120 kilometer. Sumber gempanya sendiri membentang mulai dari bawah Bogor hingga Anyer (sepanjang 140 kilometer). Gempa ini menghasilkan getaran sangat keras di sekujur pantai utara Banten, Jakarta dan Jawa Barat dengan prakiraan intensitas getaran 7 hingga 9 MMI. Padahal getaran berintensitas 8 MMI saja sudah cukup kuat untuk menyebabkan kehancuran menyeluruh bangunan-bangunan masakini di sebuah pusat pemukiman di Indonesia.

Demikian halnya Gempa Yogyakarta 10 Juni 1867. Analisis yang sama menunjukkan gempa besar ini mungkin merupakan gempa intralempeng dengan magnitudo 7,7 yang bersumber dari kedalaman 105 kilometer. Sumber gempanya membentang mulai dari bawah Cilacap hingga Kediri (sepanjang 350 kilometer). Gempa ini menghasilkan getaran sangat keras di sekujur pantai selatan Jawa Tengah, DIY dan sebagian Jawa Timur. Prakiraan intensitas getaran di sepanjang daerah itu antara 7 hingga 9 MMI. Korban jiwa yang jatuh di Yogyakarta saja mencapai 500 orang lebih.

Gambar 8. Peta prakiraan intensitas getaran Gempa Yogyakarta 10 Juni 1867 (magnitudo 7,7) yang merupakan gempa intralempeng (sumber kedalaman 105 kilometer). Lingkatan-lingkaran menunjukkan intensitas getaran di satu tempat, yang diderivasikan dari dampak kerusakan. Nampak pesisir selatan Jawa Tengah, DIY dan sebagian Jawa Timur menderita getaran terparah (intensitas 7 hingga 9 MMI). Jika gempa serupa terjadi di masakini, korban jiwa bisa mencapai 60.000 orang dengan 125 juta jiwa mengungsi. Sumber: Geoscience Australia, 2015.

Apa yang akan terjadi bilamana gempa serupa meletup pada masa kini di lokasi yang sama? Analisis lanjutan berbasis perangkat lunak InaSAFE yang dikembangkan BNPB memperlihatkan, jika Gempa Jakarta 5 Januari 1699 terjadi dengan parameter persis sama, potensi korban jiwa yang dapat direnggutnya mencapai 100.000 orang. Sementara tak kurang dari 76 juta jiwa lainnya berpotensi menjadi pengungsi akibat rusak hingga hancurnya rumah-rumah penduduk. Di sisi lain bila gempa serupa Gempa Yogyakarta 10 Juni 1867 yang terjadi, potensi korban jiwanya bisa mencapai 60.000 orang. Sedangkan potensi jumlah pengungsi akibat rusaknya rumah-rumah penduduk jauh lebih besar, yakni bisa mencapai 125 juta jiwa.

Jelas sudah, gempa intralempeng bisa mendatangkan kerusakan dan kerugian yang cukup besar. Dan bila gempa besar dari zona subduksi hanya akan berdampak pada sisi selatan pulau Jawa saja, baik dalam hal getaran maupun tsunaminya, getaran akibat gempa besar dari gempa intralempeng akan berdampak baik di sisi selatan maupun sisi utara pulau Jawa. Sehingga seluruh pulau ini menjadi sama rentannya.

Referensi :

BMKG. 2017. Magnitudo 6.9 SR, 11 km Baratdaya Kab. Tasikmalaya-Jabar 15-Dec-2017 Jam 23:47:58 WIB, diakses 16 Desember 2017 TU.

USGS. 2017. M 6.5 – 0km ESE of Cipatujah, Indonesia, PAGER, diakses 16 Desember 2017 TU.

IRIS. 2017. Back Projections for Mww 6.5 Java, Indonesia, diakses 17 Desember 2017 TU.

Nguyen et.al. 2015. Indonesia’s Historical Earthquakes, Modelled Examples for Improving the National Hazard Map. Record 2015/23. Geoscience Australia, Canberra.

Singgahnya Asteroid A/2017 U1, Sang Alien Pengelana Semesta

Sebuah benda langit baru ditemukan dalam tata surya kita. Ia kecil saja, hanya seukuran antara 150 hingga 500 meter, setara sebuah bukit kecil. Semula ia diidentifikasi sebagai komet, namun belakangan diklasifikasikan ulang menjadi asteroid. Meski kecil mungil, laksana sebutir pasir di tengah keluasan tata surya kita, kini semua mata memelototinya lekat-lekat. Sebab inilah asteroid alien, asteroid yang tak lahir atau berasal dari tata surya kita. Asteroid yang tak terikat pada satu bintang induk pun dalam galaksi ini, alias asteroid yatim. Inilah asteroid pengelana, yang hanya singgah sebentar dalam tata surya kita lantas pergi lagi untuk seterusnya.

Gambar 1. Asteroid A/2017 U1, nampak sebagai bintik putih kecil di tengah-tengah citra (foto) dengan latar belakang garis-garis putih. Diabadikan dengan teleskop William Herschell (4,2 meter) di Observatorium La Palma, Canary (Spanyol) pada 25 Oktober 2017 TU. Teleskop disetel mengikuti gerak asteroid, sementara gerak asteroid tidak sama dengan gerak semu bintang-bintang di latarbelakang. Sehingga bintang-bintang tersebut terlihat sebagai garis-garis. Sumber: Observatorium La Palma, 2017.

Para Yatim di Langit

Asteroid dan komet adalah benda langit berukuran mini, jauh lebih kecil ketimbang kelompok planet dan planet-kerdil, namun menjadi bagian integral tata surya kita. Seperti halnya penduduk tata surya kita umumnya, asteroid dan komet terbentuk dari awan gas (nebula) raksasa kaya gas Hidrogen (H2). Nebula ini mungkin sebesar Nebula Waluku (Orion) yang legendaris itu. Akibat gangguan eksternal, mungkin hempasan gelombang kejut peristiwa bintang meledak (supernova) didekatnya, nebula mulai mengerut, memadat dan berpilin hingga terpecah-belah menjadi ribuan pecahan. Masing-masing pecahan itu terus berpilin, memadat dan memipih layaknya cakram.

Salah satu pecahan nebula itu, dengan diameter sekitar 200 SA (satuan astronomi, 1 SA = 149,6 juta kilometer), adalah cikal bakal tata surya kita. Pusat cakram yang terus memadat dan memanas lantas berkembang menjadi Matahari pada sekitar 4,6 milyar tahun silam. Sementara sisanya, dengan massa total antara seperseribu hingga sepersepuluh Matahari, berupa butir-butir planetisimal. Sebagian diantaranya bergabung dengan sesamanya hingga terus membesar menjadi protoplanet. Dari protoplanet inilah terbentuk planet dan planet-kerdil dengan sejumlah satelit alamiahnya. Sementara sisanya, yang gagal menjadi protoplanet, tetap terserak sebagai planetisimal dan kometisimal (calon inti komet). Total massa planetisimal dan kometisimal diperkirakan mencapai 35 kali massa Bumi.

Gambar 2. Migrasi planet-planet besar dalam masa bayi tata surya kita, dalam simulasi dengan rentang waktu sejak 20 juta tahun sebelum hingga 30 juta tahun sesudah migrasi. Sebelum migrasi nampak lima planet besar berdesakan di tempat sempit. Urutannya dari yang terdekat ke Matahari: Jupiter purba, Saturnus purba, planet tak dikenal, Neptunus purba dan Uranus purba. Pasca migrasi, planet tak dikenal terlempar keluar sementara Neptunus dan Uranus saling bertukar posisi. Sehingga urutannya menjadi Jupiter purba, Saturnus purba, Uranus purba dan Neptunus purba. Sumber: David Nesvorny/SWRI, 2016.

Saat itu rentang jarak antara 5,5 hingga 17 SA dari Matahari dijejali lima planet purba raksasa. Sementara planetisimal dan kometisimal terserak sejak radius 17 SA hingga 35 SA. Empat dari planet purba ini di kemudian hari menjadi Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus yang kita kenal. Jupiter purba berkedudukan paling dekat ke Matahari, disusul Saturnus purba. Yang paling ganjil adalah Uranus purba dan Neptunus purba, dimana orbit Neptunus purba justru lebih dekat ke Matahari. Hal yang berkebalikan dibanding masakini.

Satu hal penting saat itu adalah Jupiter purba dan Saturnus purba saling berinteraksi gravitasi dengan planetisimal dan kometisimal di sekelilingnya masing-masing. Sehingga Jupiter purba perlahan mulai menjauhi Matahari sementara Saturnus purba sebaliknya, perlahan malah mendekat. Mulailah keduanya menunjukkan tanda-tanda saling tertarik (secara gravitasi). Hingga tibalah kesempatan, sekitar 500 hingga 600 juta tahun pasca lahirnya tata surya kita, Jupiter purba beresonansi orbital dengan Saturnus purba. Saat itu bilamana Jupiter purba tepat dua kali mengelilingi Matahari, maka Saturnus purba pun tepat sekali melakukannya. Hal itu terjadi kala orbit Jupiter purba 5,5 SA dari Matahari sementara orbit Saturnus purba 8,7 SA. Resonansi orbital menghancurkan keseimbangan rapuh yang selama ini menjaga kelima planet besar itu di lokasinya masing-masing. Terjadilah migrasi planet.

Jupiter purba terlempar lebih mendekati Matahari, menempati orbitnya sekarang (5,2 SA). Sebaliknya Saturnus purba terdorong menjauh, kini berada pada orbit 9,6 SA. Gerak berlawanan arah dua planet raksasa ini berdampak dramatis pada Neptunus dan Uranus purba. Keduanya terdorong menjauh. Neptunus purba terdorong dahsyat hingga melampaui orbit Uranus dan menjadi planet terluar (sejauh 30 SA). Sementara Uranus purba terdorong keluar pula namun tidak seberapa jauh dan kini menempati orbit 19 SA. Sebaliknya planet besar kelima terdorong demikian dahsyat hingga menempati orbit yang sangat jauh atau malah bahkan terusir keluar dari tata surya kita.

Migrasi planet-planet raksasa juga membuat planetisimal dan kometisimal ibarat kawanan milyaran lebah yang mendadak digebah. Mereka terdorong lintang pukang, dipaksa mencari posisi baru yang lebih stabil. Sebagian kecil terdorong mendekat ke Marahari hingga ‘bersarang’ di antara orbit Mars dan Jupiter. Inilah Sabuk Asteroid Utama, hunian mayoritas asteroid yang kita kenal. Sebagian kecil lainnya didorong menjauh hingga menempati dua ‘sarang’ baru, yang adalah hunian calon komet di tata surya. Masing-masing Sabuk Kuiper-Edgeworth dan awan komet Opik-Oort. Sabuk Kuiper-Edgeworth mirip cakram Sabuk Asteroid Utama, namun lebih besar dan merentang dari orbit Neptunus hingga sejauh 50 SA dari Matahari. Sedangkan awan komet Opik-Oort berbentuk donat (torus) hingga bulat membola, yang merentang dari 2.000 SA hingga sejauh 50.000 SA. Sedangkan sebagian besar planetisimal dan kometisimal justru terdorong sangat jauh hingga terusir keluar dari lingkungan tata surya kita.

Gambar 3. Orbit asteroid A/2017 U1 pada 25 Oktober 2017 TU terhadap orbit planet-planet inferior. Nampak asteroid berasal dari belahan langit sebelah utara ekliptika dan bergerak secara retrograde atau berlawanan arah dengan arah gerakan planet-planet inferior pada umumnya. Sumber: NASA, 2017.

Planet, planetisimal dan kometisimal yang terusir itu melanglang buana di ruang antar bintang. Mereka tak terikat pada satu bintang induk pun. Planet yang terusir dikenal sebagai planet yatim. Sementara planetisimal dan kometisimal terusir menjadi asteroid yatim dan komet yatim. Bilamana tata surya kita saja pernah mengusir mereka dari dalam sejarahnya, maka tata surya non-Matahari (yang kini bejibun banyaknya yang telah diketahui) pun bisa berperilaku serupa. Dan terbuka peluang tata surya kita dilintasi oleh planet/asteroid/komet yatim yang terusir dari suatu tata surya non-Matahari.

Karakteristik

Pada 18 Oktober 2017 TU (Tarikh Umum), sistem teleskop Pan-STARRS (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System) yang berpangkalan di Observatorium Haleakala, Hawaii (Amerika Serikat) merekam sebuah benda langit sangat redup. Magnitudo semunya hanya +21, 630 kali lipat lebih redup ketimbang Pluto. Magnitudo absolutnya + 22,2. Jika diasumsikan kemampuan permukaannya memantulkan kembali sinar Matahari adalah 10 %, maka diameternya 160 meter. Belakangan diameternya diprakirakan sekitar 500 meter. Awalnya ia memperlihatkan ketampakan coma (kepala) khas komet. Maka ia diklasifikasikan sebagai komet dengan kode C/2017 U1 Panstarrs sesuai tatanama yang berlaku (C = comet). Namun begitu bukan diameternya maupun sifat kometnya yang segera menyedot perhatian, melainkan orbitnya. C/2017 U1 Panstarrs ternyata menyusuri orbit hiperbolik dengan nilai kelonjongan (eksentrisitas) cukup besar, yakni di sekitar 1,2. Maka sebersit curiga pun muncul, benda langit ini mungkin bukan penduduk asli tata surya.

Gambar 4. Asteroid A/2017 U1, nampak sebagai bintik putih kecil sangat redup yang ditandai sepasang garis rambut (garis vertikal dan horizontal) di tengah citra (foto). Diabadikan dengan teleskop Schmidt (0,4 meter) di Observatorium Great Shefford (Inggris) pada 27 Oktober 2017 TU. Perhatikan, teleskop disetel mengikuti gerak asteroid dan kamera dibuka selama total waktu 1 jam 45 menit. Sehingga asteroid yang sangat redup bisa dicitra sementara bintang-bintang nampak sebagai garis-garis. Sumber: Observatorium Great Shefford, 2017.

Kita telah melihat ratusan komet dengan orbit hiperbola sepanjang sejarah peradaban. Komet seperti ini selalu memliki kelonjongan lebih dari 1. Ia hanya sekali melintasi titik perihelion (titik terdekat dalam orbitnya ke Matahari) untuk kemudian meluncur keluar dari tata surya kita. Akan tetapi seluruh komet itu memiliki kelonjongan kurang dari 1,06. Analisis lebih lanjut dengan memperhitungkan titik barisenter Matahari dan Jupiter menunjukkan seluruh komet itu pada dasarnya masih terikat dengan tata surya kita. Sehingga ditafsiri sebagai komet yang berasal dari tata surya kita sendiri, khususnya dari awan komet Opik-Oort. Akan tetapi C/2017 U1 Panstarrs ini berbeda.

Observasi demi observasi memproduksi bejibun data yang kian memperjelas karakter benda langit ini. Melalui teleskop VLT/Very Large Telescope (diameter cermin obyektif 8,2 meter) yang dioperasikan ESO (European Southern Observatory) di Gurun Atacama, Chile, pada 25 Oktober 2017 TU diketahui benda langit ini tidak lagi menampakkan coma. Sehingga ia diklasifikasikan ulang sebagai asteroid dan dikodekan sebagai A/2017 U1 (A = asteroid). Secara akumulatif hingga 26 Oktober 2017 TU telah terkumpul 59 data sehingga karakter asteroid unik ini bisa lebih terungkap.

Asteroid A/2017 U1 memiliki orbit dengan kelonjongan 1,19 atau tak jauh berbeda dengan data awal. Inklinasi orbitnya 122,4º, menandakan ia bergerak secara retrograde. Perihelionnya cukup dekat, yakni 0,25 SA (37 juta kilometer) dari Matahari yang dicapainya pada 9 September 2017 TU pukul 18:09 WIB lalu. Terhadap orbit Bumi, orbitnya memiliki jarak terdekat (MOID) sebesar 0,095 SA (14 juta kilometer). Namun demikian titik terdekat asteroid ini ke posisi Bumi direngkuh pada 15 Oktober 2017 TU pukul 00:51 WIB, dalam jarak 24 juta kilometer. Pada saat itu pula asteroid A/2017 U1 telah terdeteksi lewat sistem penyigi langit Catalina Sky Survey. Meski pengelolanya baru menyadarinya dalam 12 hari kemudian.

Ada tiga hal yang menjadi indikasi kuat asteroid A/2017 U1 adalah asteroid yatim. Pertama, nilai kelonjongan orbitnya. Kecuali ada kekeliruan dalam astrometrinya, kelonjongan orbit A/2017 U1 terhadap titik barisenter Matahari dan Jupiter adalah 1,18 baik sebelum maupun sesudah lewat perihelion. Sehingga ia tidaklah terikat dengan tata surya kita. Besarnya kelonjongan orbit berimplikasi pada kecepatan yang cukup besar pula. Saat lewat di titik terdekatnya ke Bumi, asteroid A/2017 U1 melesat dengan kecepatan relatif 60 km/detik. Maka kecepatan-lebih hiperboliknya, yakni kecepatan benda langit di ruang bebas dalam orbit hiperbolik, berkisar 26 km/detik. Bandingkan dengan komet Bowell (C/1980 E1), benda langit dengan kelonjongan terbesar sebelumnya (yakni 1,06), dengan kecepatan-lebih hiperbolik hanya 3 km/detik.

Gambar 5. Spektrum asteroid A/2017 U1 sebagaimana diabadikan Observatorium La Palma pada 25 Oktober 2017 TU dalam kanal inframerah dan cahaya tampak. Tidak terdeteksi satu fitur khas pun di sini. Sementara kemiringannya mirip dengan benda langit anggota Sabuk Kuiper yang berwarna merah normal. Sumber: Observatorium La Palma, 2017.

Yang kedua adalah arah kedatangannya. Asteroid A/2017 U1 datang dari arah yang hanya berselisih 6º terhadap Solar apex. Solar apex adalah titik arah gerak Matahari (beserta segenap tata surya kita) relatif terhadap bintang-bintang tetangganya. Sehingga Solar apex, secara statistik, menjadi titik yang paling memungkinkan bagi planet/asteroid/komet alien untuk masuk berkunjung ke tata surya kita.

Dan yang ketiga adalah warnanya. Pada waktu yang hampir sama dengan observasi teleskop VLT, teleskop WHT/William Herschell Telescope (diameter cermin obyektif 4,2 meter) di Observatorium La Palma di pulau Canary (Spanyol) juga menatap A/2017 U1 lekat-lekat. Spektrum yang ditangkapnya menunjukkan asteroid A/2017 U1 cenderung berwarna merah. Lebih mirip dengan karakter paras benda langit penduduk Sabuk Kuiper-Edgeworth dan sama sekali tak mirip asteroid penduduk cakram Sabuk Asteroid Utama.

Potensi

Gambar 6. Hasil simulasi dimensi kawah produk tumbukan bilamana asteroid A/2017 U1 jatuh ke Jakarta (titik Gedung DPR-MPR) pada kecepatan awal 60 km/detik dan asteroid dianggap sebagai batu berpori dengan diameter 400 meter. Lebar kawah adalah 3,7 kilometer dengan kedalaman 440 meter. Energi tumbukan mencapai 18.100 megaton TNT. Sumber: DowntoEarth, 2017.

Dengan perihelion kurang dari ambang batas 1,3 SA maka asteroid A/2017 U1 diklasifikasikan sebagai asteroid-dekat Bumi. Namun karena jarak terdekatnya ke Bumi masih lebih besar dibanding ambang batas 0,05 SA maka A/2017 U1 tidak tergolong asteroid berpotensi bahaya (bagi Bumi). Sehingga peluangnya untuk bertubrukan dengan Bumi adalah nol.

Kabar ini tentu melegakan. Sebab jika ia tepat menuju ke Bumi, maka dampaknya dahsyat. Simulasi dengan Down2Earth memperlihatkan bila diameternya 400 meter, komposisi berpori-pori (massa jenis 1.500 kg/m3) dan melesat secepat 60 km/detik ke Bumi, tepat sebelum memasuki atmosfer energi kinetiknya sebesar 21.600 megaton TNT. Sepanjang menembus atmosfer, kecepatannya akan berkurang sedikit sehingga kala tiba di paras Bumi masih secepat 54,9 km/detik dengan energi tumbukan setara 18.100 megaton TNT.

Itu hampir menyamai kandungan energi pada segenap hululedak nuklir yang pernah ada di Bumi pada puncak Perang Dingin. Pelepasan energi sebesar itu akan menyebabkan dampak spontan yang bisa dirasakan hingga radius 580 kilometer dari titik tumbuk, berdasarkan simulasi ledakan nuklir. Akan tetapi secara global juga bisa memicu fenomena perubahan iklim yang populer sebagai musim dingin tumbukan (impact winter), analog dari musim dingin nuklir. Yakni turunnya suhu paras Bumi akibat tebaran aerosol sulfat dan jelaga produk tumbukan di lapisan stratosfer.

Gambar 7. Hasil simulasi dampak gelombang kejut dan paparan panas bilamana asteroid A/2017 U1 jatuh di Jakarta dan melepaskan energi tumbukan 18.100 megaton TNT. Seluruh bangunan yang ada dalam lingkaran 5 psi akan runtuh akibat menerima tekanan-lebih yang setara 5 psi atau lebih besar lagi. Sementara seluruh manusia yang ada di dalam lingkaran lukabakar-3 akan mengalami luka bakar tingkat 3, yakni luka bakar yang menembus segenap lapisan kulit hingga merusak syaraf dan berpotensi mematikan. Sumber: Sudibyo, 2017 berdasarkan scaling law dengan Nukemap.com, 2017.

Asteroid A/2017 U1 kini terus melaju dalam lintasannya meninggalkan tata surya kita. Dari sisi astronomi, singgahnya asteroid A/2017 U1 membuktikan bahwa galaksi Bima Sakti kita memang memiliki benda-benda langit yang tak terikat ke satu bintang tertentu. Sejak 1998 TU kita sudah mengenal adanya kelompok planet yatim. Meski hingga saat ini baru dua saja yang telah benar-benar dikonfirmasi. Dan kini kita mengenal adanya asteroid yatim. Singgahnya asteroid yatim ke dalam tata surya kita membuka jendela peluang baru untuk mengeksplorasi benda-benda langit tetangga tata surya kita. Namun di sisi lain, juga membuka peluang resiko baru terhadap tata surya kita pada umumnya dan Bumi pada khususnya. Sebab dalam khasanah tumbukan benda langit (yang berpotensi memusnahkan kehidupan), kini tak hanya asteroid dan komet penduduk tata surya kita saja yang perlu dipertimbangkan. Namun juga asteroid dan komet yatim, yang perilakunya jauh lebih sulit diprediksi.

Referensi :

NASA. 2017. Small Asteroid or Comet Visit from Beyond the Solar System. NASA Jet Propulsion Laboratory News, diakses 26 Oktober 2017.

Beatty. 2017. Astronomers Spot First-Known Interstellar Comet. Sky & Telescope, diakses 26 Oktober 2017.

Gunung Agung dan Letusan Terdahsyat se-Indonesia pasca Krakatau

Layangkan jemari anda di peta, tentu saja di era kekinian berarti peta digital dalam wujud program komputer maupun aplikasi pemetaan populer layaknya Google Earth atau Google Maps. Layangkan di atas sebagian Kepulauan Sunda Kecil, mulai dari pulau Bali di barat hingga pulau Sumbawa di timur. Akan kita saksikan jajaran pulau-pulau dengan rupabumi memukau, kombinasi produk subduksi lempeng Australia dengan mikrolempeng Sunda (bagian dari lempeng Eurasia) dengan pahatan erosi seiring curah hujan yang tinggi.

Aktivitas subduksi juga membuat jajaran pulau ini kaya akan gunung-gemunung berapi aktif dengan sejarah nan letusan dahsyat. Ubah tampilan peta ke moda medan (terrain) maka saat menelusuri pulau Sumbawa, kita akan bersirobok dengan ketampakan Gunung Tambora yang khas dengan kalderanya . Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat sejagat dalam kurun 7,5 abad terakhir. Letusan Tambora 1815 sangat tercatat dalam sejarah karena menjadi salah satu penentu perubahan geopolitik Eropa yang pada akhirnya berimbas pula ke tanah Nusantara, salah satunya lewat meletusnya Perang Jawa (Perang Diponegoro).

Gambar 1. Gunung Agung dalam keremangan Matahari senja menjelang terbenam, diabadikan dari pantai Senggigi, pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat). Gunung Agung demikian tinggi menjulang sehingga bisa disaksikan dari pulau lain. Sumber: Google/Panoramio/Bracker, 2007.

Lalu beranjaklah ke barat, menyusuri pulau Lombok. Disini Gunung Rinjani memukau dengan kalderanya yang berdanau kawah. Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat sejagat untuk kurun waktu 7.000 tahun terakhir. Yakni pada Letusan Samalas 1257 dengan volume rempah letusan mendekati 200 kilometer3, sedikit lebih dahsyat ketimbang Letusan Tambora 1815 yang volume rempah letusannya 160 kilometer3. Kedahsyatan letusan ini baru terungkap pada 2013 TU (Tarikh Umum) silam. Bagaimana dampaknya dalam lingkup global masih diteliti, namun diperkirakan melebihi dampak Letusan Tambora 1815.

Mercusuar Bali

Lebih beranjak ke barat, kita sampai di pulau Bali. Di sini menjulang Gunung Agung, yang juga mudah dikenali. Dan seperti halnya ‘saudara’-nya di sebelah timur, Gunung Agung pun menyimpan sejarah kedahsyatan tersendiri. Inilah gunung berapi dengan letusan terdahsyat se-Indonesia untuk abad ke-20 TU.

Gunung Agung adalah ‘mercusuar’-nya Bali yang demikian mendominasi bentang lahan bagian timur pulau mirip berlian itu. Menjulang sebagai kerucut tunggal hingga setinggi 3.142 meter dpl (dari paras air laut rata-rata), puncak Gunung Agung adalah titik tertinggi seantero Bali. Demikian menjulangnya gunung ini sehingga tubuh gigantisnya mudah dilihat bahkan dari pesisir barat pulau Lombok. Tumbuh di wilayah administratif Kabupaten Karangasem, Gunung Agung berbataskan pada Gunung Batur di sisi barat dan baratlaut, Gunung Seroja nan tua di sisi timur dan sebuah gunung berapi purba disisi selatan. Hanya ke arah timurlaut dan tenggara saja lereng Gunung Agung bisa berkembang bebas sehingga bisa ‘membasuh’ kakinya dengan air asin Laut Flores dan Samudera Indonesia.

Gambar 2. Gunung Agung dan Gunung Batur dalam peta tiga dimensi pulau Bali berdasar NASA Photojournal. Arah pandang ke selatan-baratdaya. Nampak tubuh Gunung Agung masih berbentuk kerucut utuh, tidak seperti Gunung Batur. Di latar belakang terlihat pula semenanjung Blambangan, ujung timur dari pulau Jawa. Sumber: Geiger, 2014.

Gunung Agung adalah satu dari empat gunung berapi muda yang tumbuh berkembang di pulau Bali. Tiga yang lainnya adalah Gunung Batukau, Bratan dan Batur. Dua yang terakhir dikenal sebagai dua gunung berapi berkaldera. Namun hanya Gunung Agung dan Gunung Batur yang memiliki catatan aktivitas pada masa sejarah. Gunung Batur jauh lebih rajin meletus. Sejak 1804 TU hingga 2000 TU, ia sudah memuntahkan debu vulkaniknya hingga 27 kali. Meski skala letusannya tergolong kecil.

Namun di masa silam ia pernah jauh lebih lasak. Sekitar 29.300 tahun silam, Gunung Batur purba meletus demikian dahsyat. Tak kurang dari 84 kilometer3 rempah letusan disemburkannya ke langit, membuat sebagian besar tubuhnya terpangkas menjadi kaldera lonjong sepanjang 14 kilometer dan lebar 10 kilometer. Pentas drama Gunung Batur tak hanya di situ saja. Berbelas ribu tahun kemudian, tepatnya sekitar 10.000 tahun yang lalu, gunung ini kembali meletus dahsyat. Meski kali ini skala kedahsyatannya sedikit berkurang karena ‘hanya’ memuntahkan 19 kilometer3 rempah letusan. Letusan dahsyat ini membentuk kaldera baru seukuran 7,5 kilometer di dalam kaldera lama Batur. Di dalam kaldera baru inilah Gunung Batur modern seperti yang kita lihat tumbuh. Sisi timur kaldera lama kini digenangi air sebagai Danau Batur.

Jika Gunung Batur (pernah) mendemonstrasikan kedahsyatannya, lantas bagaimana dengan Gunung Agung?

Letusan 1963

Gambar 3. Saat-saat erupsi Plinian yang pertama di Gunung Agung berlangsung pada 17 Maret 1963 TU. Kolom letusan nampak membumbung tinggi ke udara. Diabadikan dari desa Rendang sebelah selatan Gunung Agung dalam koleksi keluarga Denis Mathews. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Tabuh sedang berada pada hari Senin 18 Februari 1863 TU kala penduduk Karangasem dikagetkan oleh dentuman suara menggelegar dari arah Gunung Agung. Sejurus kemudian mereka menyaksikan kepulan asap menyembur dari puncak gunung. Segera terjadi hujan debu. Tak ada keraguan lagi, Gunung Agung telah meletus setelah terdiam lelap selama 120 tahun (diselingi hembusan-hembusan asap tipis dalam tahun 1908, 1915 dan 1917 TU). Letusan ini adalah jawaban dari getaran dan guncangan yang dirasakan orang-orang di sekeliling gunung besar itu selama beberapa minggu terakhir. Namun tak satupun yang mengira bahwa letusan ini akan bencana yang tak pernah terbayangkan penduduk Bali.

Enam hari setelah awal letusan, Gunung Agung mulai melelerkan lava panas ke utara. Selama 20 hari kemudian lava bergerak perlahan hingga menjangkau 7,5 kilometer dari kawah. Tersaji panorama mirip lidah sehingga dikenal sebagai lidah lava. Lidah lava Agung memiliki lebar 500 hingga 800 meter, ketebalan 30 hingga 40 meter dan volume sekitar 100 juta meter3. Terbentuknya lidah lava umumnya menandakan erupsi yang terjadi adalah erupsi efusif (leleran). Jenis erupsi yang tak semerusak erupsi eksplosif (ledakan). Namun tidak demikian dengan Gunung Agung.

Gambar 4. Sisa lidah lava letusan Gunung Agung pada 54 tahun silam, nampak membukit dan gersang dengan bongkahan batuan beku di sana-sini. Pasca melelerkan lava ini, Gunung Agung lalu meletus dahsyat. Sumber: Geiger, 2014.

Karakter letusan berubah total pada Minggu 17 Maret 1963 TU. Selama 3,5 jam penuh gunung ini menampakkan wajah angkernya dengan erupsi eksplosif nan dahsyat. Tak kurang dari 40.000 ton rempah letusan dimuntahkan dari kawahnya dalam setiap detik. Mereka disemburkan dahsyat hingga mencapai ketinggian 26 kilometer dpl. Selama beberapa saat tampak pemandangan awan cendawan/bunga kol yang indah namun mengerikan. Awan cendawan ini merupakan ciri khas erupsi tipe Plinian, yang terjadi tatkala dorongan sangat tinggi yang membawa rempah letusan bergerak vertikal sebagai kolom letusan mulai melambat. Sehingga ujung kolom mulai melebar di ketinggian udara. Lalu berjatuhan kembali ke tubuh gunung. Erupsi sedahsyat ini kembali terulang pada Kamis 16 Mei 1963 TU. Kali ini Gunung Agung memuntahkan 23.000 ton rempah letusan per detik selama 4 jam penuh. Kolom letusan menyembur hingga setinggi 20 kilometer dpl. Pasca 16 Mei 1963 TU letusan Agung kembali berubah menjadi letusan demi letusan kecil yang terus meluruh hingga akhirnya berhenti sepenuhnya pada 24 Januari 1964 TU.

Baik pada erupsi Plinian pertama maupun yang kedua, debu dan batu yang berjatuhan kembali ke tubuh gunung hingga menghasilkan awan panas letusan. Ia menderu secepat 60 kilometer per jam ke arah utara, tenggara dan baratdaya, melalui lembah-lembah sungai hingga sejauh 15 kilometer dari kawah. Selain diterjang awan panas letusan dan dibedaki debu vulkanik tebal, nestapa di pulau Bali bagian timur bertambah seiring letusan berlangsung dalam musim hujan. Hujan membuat sejumlah endapan lava dan debu vulkanik terlarut menjadi lahar, yang mengaliri sungai-sungai di lereng utara dan tenggara dengan demikian deras hingga berujung ke laut.

Dapur dan Kantung Magma

Gambar 5. Sebaran debu vulkanik letusan Gunung Agung khususnya pada erupsi Plinian pertama 17 Maret 1963 TU. Atas: distribusi debu dalam lingkup regional yang menjangkau hampir segenap pulau Jawa menurut Zen & Hadikusumo (1964) serta Soerjo (1981). Bawah: tebal endapan debu vulkanik dalam lingkup lokal pulau Bali, dinyatakan dalam sentimeter, menurut Soerjo (1981). S = Singaraja, K = Klungkung, Ka = Karangasem, R = pos PGA Agung di Rendang. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Indonesia menyaksikan Letusan Agung 1963-1964 sebagai letusan gunung berapi terdahsyat di negeri ini pasca amukan Krakatau 1883). Di kemudian hari letusan ini juga adalah letusan terdahsyat se-Indonesia sepanjang abad ke-20 TU. Selama letusannya itu Gunung Agung memuntahkan sekitar 0,95 kilometer3 magma padat setara batuan. Bila sifat magmanya dianggap sama dengan magma Letusan Tambora 1815, maka Letusan Agung 1963-1964 memuntahkan sekitar 4 kilometer3 (4 milyar meter3) rempah letusan. Inilah yang membuatnya memiliki skala letusan 5 VEI (Volcanic Explosivity Index). Bandingkan dengan Letusan Merapi 2010, yang ‘hanya’ memuntahkan 150 juta meter3. Bahkan apabila seluruh volume letusan Gunung Kelud, salah satu gunung berapi terlasak Indonesia selain Merapi, sejak abad ke-20 TU (yakni letusan 1919, 1966, 1990 dan 2014) digabungkan, ia masih kalah jauh dibanding Gunung Agung.

Erupsi Plinian pertama menyemburkan debu vulkanik sangat berlimpah yang lantas terdorong angin regional ke arah barat-barat laut, menyebar hingga jarak yang cukup jauh. Hujan debu menyirami pulau Jawa hingga menjangkau DKI Jakarta. Lapisan debu (produk pengendapan dari hujan debu) dengan ketebalan hingga 10 sentimeter terdistribusi sampai radius 50 kilometer dari Gunung Agung. Sementara erupsi Plinian kedua sedikit lebih ramah. Debunya tersebar ke arah utara, dengan lapisan debu 10 sentimeter hanya menjangkau 20 kilometer dari Gunung Agung.

Terjangan awan panas dan lahar berdampak luar biasa untuk kehidupan manusia sekitar Gunung Agung. Tak kurang dari 10 desa yang dirusak olehnya. Korban jiwa yang jatuh mencapai hampir 2.000 orang. Sekitar 1.186 jiwa diantaranya meregang nyawa akibat terjangan bara awan panas letusan dalam erupsi Plinian yang pertama.

Bagi dunia, Letusan Agung 1963-1964 selalu dikenang sebagai salah satu letusan dahsyat di abad ke-20 TU yang berdampak pada terganggunya atmosfer global. Letusan ini melepaskan tak kurang dari 7 juta ton gas belerang (SO2) ke atmosfer. Di udara, gas ini bereaksi dengan uap air membentuk sulfat (H2SO4) sehingga terbentuk tak kurang dari 11 juta ton butir-butir aerosol sulfat. Bersamanya terlepas pula tak kurang dari 3 juta ton gas khlor, salah satu substansi yang dikenal sebagai perusak lapisan Ozon.

Gambar 6. Sebagian dari endapan Letusan Agung 1963-1964 di Suter, 12 kilometer sebelah barat kawah Gunung Agung. Panjang papan skala (hitam putih) pada sisi kiri foto adalah 10 sentimeter. Fall Unit 1 = kerikil dan pasir produk letusan sejak 18 Februari hingga 15 Maret 1963 TU. Fall Unit 2 = debu sangat halus produk letusan 16 Maret 1963 TU. Fall Unit 3 = kerikil, debu dan pasir produk erupsi Plinian pertama 17 Maret 1963 TU. Sumber: Self & Rampino, 2012.

Layaknya narasi yang selalu didaras letusan-letusan dahsyat umumnya, Letusan Agung 1963-1964 menyemburkan aerosol sulfatnya demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer, lalu terdistribusi secara global. Di sini aerosol sulfat itu membentuk tabir surya alamiah yang memantulkan kembali sinar Matahari ke antariksa. Sehingga mengurangi intensitas sinar Matahari yang seharusnya menjangkau paras Bumi. Berkurangnya penyinaran menyebabkan paras Bumi sedikit lebih dingin dibanding normal. Belahan Bumi utara mencatat penurunan suhu pasca Letusan Agung 1963-1964 mencapai 0,3º C. Penurunan suhu ini memang relatif kecil, tak semerusak dampak global Letusan Tambora 1815. Gangguan atmosfer akibat Letusan Agung 1963-1964 adalah yang terbesar keempat yang dialami Bumi kita sepanjang abad ke-20 TU setelah Letusan Novarupta 1912 (Alaska, Amerika Serikat), Letusan El Chichon 1982 (Meksiko) dan Letusan Pinatubo 1991 (Filipina).

Mengapa Gunung Agung bisa seperti itu?

Jajaran pulau Bali, Lombok dan Sumbawa dibentuk oleh proses interaksi lempeng Australia dengan mikrolempeng Sunda. Lempeng Australia mendesak relatif ke utara secepat 60 hingga 70 milimeter pertahun. Karena berat jenisnya lebih besar maka interaksinya dengan mikrolempeng Sunda mewujud sebagai subduksi, dimana lempeng Australia melekuk dan menelusup ke bawah mikrolempeng Sunda. Subduksi ini menghasilkan sejumah gejala, termasuk pembengkakan margin mikrolempeng Sunda yang mewujud sebagai pulau-pulau yang menyembul di tepian Samudera Indonesia. Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa tumbuh di atas tepian mikrolempeng Sunda, yang bergerak relatif ke timur dengan kecepatan 11 milimeter per tahun. Di sisi timur mikrolempeng Sunda berbatasan dengan mikrolempeng Timor dan mikrolempeng Laut Banda yang menjadi bagian dari tatanan tektonik Indonesia bagian timur nan rumit.

Kerak bumi yang mengalasi pulau Bali relatif tipis, hanya 18 hingga 20 kilometer tebalnya. Sebagai pembanding, ketebalan kerak bumi di pulau Jawa mencapai 30 kilometer. Selain tipis, kerak bumi pulau Bali juga menunjukkan sifat kerak samudera. Bagian 4 kilometer teratas dari kerak samudera ini adalah lapisan sedimen yang sangat tebal. Pada kedalaman 18 hingga 20 kilometer di bawah pulau Bali terdapat zona Moho, batas antara lapisan kerak di bagian atas dengan lapisan selubung di bagian bawah. Di zona Moho inilah dapur magma Gunung Agung berada, sebagai tempat penampungan untuk magma yang bermigrasi dari sumber lebih dalam (kedalaman sekitar 150 kilometer).

Gambar 7. Penampang vertikal Gunung Agung dan batuan dibawahnya. Nampak dapur magmanya (kedalaman 20 kilometer) dan kantung magmanya (kedalaman 4 kilometer). Migrasi magma segar dari dapur magma ke kantung magma inilah yang menghasilkan gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal. Sumber: Geiger, 2014 dengan teks oleh Sudibyo, 2017.

Sementara di kedalaman 4 kilometer, yakni batas antara lapisan endapan dengan kerak pulau Bali, terdapat kantung magma Gunung Agung. Kantung magma berperan sebagai tenpat penampungan sementara magma yang bermigrasi dari dapur magma di kedalaman, sebelum kemudian mengalir lagi menuju ke moncong saluran magma di puncak gunung. Eksistensi dapur magma dan kantung magma ini terkuat lewat penyelidikan intensif dan komprehensif akan sifat-sifat magma yang dimuntahkan dalam Letusan Agung 1963-1964. Sistem serupa ternyata juga dijumpai pada tetangganya, Gunung Batur.

Meletus 2017?

Sistem magma Gunung Agung inilah yang menyedot perhatian besar pada September 2017 TU ini. Hingga Agustus 2017 TU lalu Gunung Agung masih tenang-tenang saja. Seismometer (radas pengukur gempa) yang ditanam di kaki gunung memang merekam aneka getaran tanah di lingkungan Gunung Agung. Namun semua masih dalam nilai wajar. Memang beberapa kali terdeteksi gempa vulkanik dalam (VT-A). Namun gempa khas ini tidak kontinu setiap hari, hanya muncul pada 5 Juli, 6 Juli, 28 Juli dan 5 Agustus 2017 TU. Geliat magma segar dari dapur magma mulai terdeteksi pada 10 Agustus 2017 TU, saat gempa vulkanik dalam terjadi setiap hari. Magma segar yang sedang mencoba naik ini sekaligus berusaha memecah dan menembus magma sisa letusan 1963 penyumbat saluran magma di antara dapur dan kantung magma Agung. Pemecahan itulah yang menghasilkan gempa vulkanik dalam.

Gempa khas yang lain, yakni gempa vulkanik dangkal (VT-B) mulai terdeteksi pada 24 Agustus 2017 TU. Awalnya juga tidak terjadi setiap hari, hanya muncul pada 24 Agustus, 25 Agustus, 29 Agustus dan 4 September 2017 TU. Namun mulai 8 September 2017 TU ia terjadi setiap hari. Gempa vulkanik dangkal ini adalah indikasi terjadi gerakan fluida pada kantung magma Agung. Dikombinasikan dengan kejadian gempa-gempa vulkanik dalam yang kian meningkat, maka secara keseluruhan Gunung Agung memperlihatkan peningkatan kegempaan secara konsisten. Inilah yang menjadi dasar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI untuk menaikkan status aktivitas Gunung Agung menjadi Waspada (Level II) pada 14 September 2017 TU.

Gambar 8. Indikasi mulai menggelembungnya tubuh Gunung Agung berdasar analisis InSAR dengan satelit Sentinel-1. Nampak pada lokasi Gunung Agung terdapat pola warna berulang (fringe), indikasinya terjadinya kenaikan paras tanah setempat dibanding observasi satelit yang sama pada periode sebelumnya. Hal tersebut tak dijumpai pada posisi Gunung Batur. Sumber: PVMBG, 2017.

Hatta kegempaan Gunung Agung kian riuh dan mengarah ke krisis seismik, baik pada gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal maupun tektonik lokal. Hanya dalam empat hari saja telah terjadi 602 gempa vulkanik dalam, 21 gempa vulkanik dangkal dan 12 gempa tektonik lokal. Dalam delapan hari kemudian gempa vulkanik dalamnya meroket menjadi 2.547 kejadian, sementara gempa vulkanik dangkal juga membumbung tinggi ke 134 kejadian dan gempa tektonik lokal melonjak hebat ke angka 97 kejadian. Krisis seismik yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pemantauan Gunung Agung ini menjadi pertanda kian intensifnya aliran magma segar dari dapur magma ke kantung magma. Juga menandakan mulai terjadinya peretakan batuan dasar gunung akibat terus mendesaknya magma segar memasuki kantung magma bersamaan dengan upaya magma segar keluar dari kantung magma menuju ke atas, seperti diperlihatkan gempa-gempa tektonik lokal.

Mulai masuknya magma segar ke dasar gunung juga diperlihatkan oleh mulai membengkaknya tubuh Gunung Agung, berdasarkan analisis data radar dari satelit Sentinel-1 dengan teknik InSAR sejak Agustus 2017 TU. Tubuh gunung yang mulai menggelembung menunjukkan magma segar sudah mencapai dasar gunung. Satelit lain, yakni ASTER dalam kanal inframerah, memperlihatkan berkembangnya titik-panas di kawah (puncak) Gunung Agung sejak Juli 2017 TU. Titik-panas itu semakin meluas memasuki Agustus dan September 2017 TU. Perluasan titik-panas disebabkan oleh lebih banyak panas yang memancar dari kawah, indikasi tak langsung bahwa magma segar sudah memasuki dasar gunung. Pengamatan dari pos PGA (Pengamatan Gunung Api) Agung di Rendang (13 kilometer dari kawah) juga mendeteksi hembusan asap solfatara. Awalnya setinggi 50 meter dari kawah, lalu berkembang menjadi 200 meter.

Krisis seismik dan sejumlah perkembangan itu memaksa PVMBG meningkatkan status Gunung Agung menjadi Siaga (Level III) yang disusul status tertinggi: Awas (Level IV), masing-masing pada 18 dan 22 September 2017 TU. Keputusan ini disertai pembentukan Daerah Bahaya (Zona Merah) hingga jarak mendatar 9 kilometer dari kawah. Berikut adalah peta Daerah Bahaya Gunung Agung yang dipublikasikan PVMBG :

Khusus untuk lereng sektor utara-timur laut dan sektor tenggara-selatan-baratdaya, Daerah Bahaya Gunung Agung sedikit lebih jauh, yakni hingga jarak mendatar 12 kilometer dari kawah. Kawasan yang diperkirakan dhuni oleh tak kurang dari 100 ribu jiwa ini diputuskan musti kosong dari kegiatan penduduk. Konsekuensinya penduduk pun mulai dievakuasi. Hingga 24 September 2017 TU sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi telah mencapai tak kurang dari 42.000 jiwa yang tersebar di lebih dari 300 pusat pengungsian. Pengungsian sudah terjadi sebelum sang gunung meletus, sebagai langkah antisipasi dengan bersandar pada kejadian letusan 54 tahun silam.

Bagaimana jika Gunung Agung benar-benar meletus?

Gambar 9. Prakiraan ketebalan debu vulkanik di sekitar Gunung Agung apabila terjadi letusan dengan skala 3 VEI. Hingga 30 kilometer ke arah barat daya dari kawah, debu vulkaniknya setebal 40 sentimeter. Sumber: PVMBG, 2017.

PVMBG telah membentuk model hipotetik Gunung Agung untuk memerikan potensi dampak ke lingkungan. Model ini berlandaskan pada skenario optimistik (bukan worst-case scenario), jadi tak sepenuhnya mengacu sejarah letusan Gunung Agung 54 tahun silam. Volume rempah letusan yang dimuntahkan dihipotesiskan lebih kecil dari Letusan Agung 1963-1964, yakni pada skala letusan 3 VEI (volume antara 10 hingga 100 juta meter3). Pada skala tersebut dan dengan vektor angin regional saat ini, maka hujan debu akan berpotensi mengarah ke baratlaut serta barat dan utara. Dalam jarak 15 kilometer dari kawah, hujan debu lebat akan menghasilkan lapisan debu setebal 160 sentimeter, sementara dalam jarak 30 kilometer masih setebal 40 sentimeter.

Berbeda halnya dengan potensi awan panas letusan. Awan panas lebih berat dibanding debu sehingga arah geraknya tidak dipengaruhi oleh angin, hanya dikontrol gravitasi. Bila letusan pendahuluan memuntahkan 10 juta meter3 rempah letusan, maka awan panas akan meluncur ke lembah-lembah sungai di lereng utara-timurlaut, tenggara dan selatan-baratdaya. Daya jangkau maksimum sekitar 10 kilometer dari kawah. Namun jika volumenya lebih besar dari 10 juta meter3, maka jangkauan awan panas letusan juga akan lebih jauh. Sedangkan potensi hujan batu dengan ukuran 6 sentimeter akan terjadi pada radius hingga 9 kilometer dari kawah ke segala arah.

Gambar 10. Prakiraan ketebalan dan arah hempasan awan panas letusan di lereng Gunung Agung apabila terjadi letusan dengan skala 3 VEI dan dengan volume letusan pembuka sebesar 10 juta meter3 . Awan panas letusan akan menjangkau radius 10 kilometer dari kawah. Sumber: PVMBG, 2017.

Sepanjang sejarah pencatatan gunung berapi di Indonesia, Gunung Agung telah tiga kali meletus. Dan dua letusan terakhirnya, masing-masing Letusan Agung 1843 dan Letusan Agung 1963-1964, demikian besar dengan skala letusan 5 VEI. Karena itu tak berlebihan jika dikatakan Gunung Agung tak pernah meletus kecil. Memahami karakter Gunung Agung yang demikian menjadi kunci agar nestapa 54 tahun silam tak lagi terulang.

Referensi :

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2017. Peningkatan Status G. Agung Dari Siaga (Level III) Ke Awas (Level IV) 22 September 2017 Pkl. 20.30 WITA. Diakses 22 September 2017.

Self & Rampino. 2012. The 1963-1964 Eruption of Agung Volcano (Bali, Indonesia). Bulletin of Volcanology, vol. 74 (2012), p 1521-1536.

Geiger. 2014. Characterising the Magma Supply System of Agung and Batur Volcanoes on Bali, Indonesia. Department of Earth Sciences, Uppsala University, Sweden.