Mari Simak Gerhana Bulan Seperempat 15 Zulqaidah 1438 H

Silahkan tandai waktunya dalam kalender maupun gawai (gadget) anda: Senin-Selasa dinihari, 7-8 Agustus 2017 TU (Tarikh Umum). Atau bertepatan dengan tanggal 15 Zulqaidah 1438 H dalam penanggalan Hijriyyah. Bilamana langit cerah, kita akan menyaksikan Bulan berkedudukan cukup tinggi di langit dengan wajah bundar penuh sebagai purnama. Namun sesuatu akan terjadi sejak pukul 22:50 WIB hingga lima jam kemudian. Sisi selatan Bulan akan ‘robek’ yang berangsur-angsur kian membesar saja hingga mencapai puncaknya sekitar pukul 01:20 WIB. Selepas itu ‘robekan’ yang samasedikit demi sedikit mengecil kembali hingga menghilang. Pada puncaknya, ‘robekan’ tersebut akan memiliki luasan setara dengan seperempat bundaran Bulan. Inilah Gerhana Bulan Seperempat 7-8 Agustus 2017.

Gerhana Bulan Seperempat ini sejatinya adalah peristiwa Gerhana Bulan Sebagian (Parsial). Ia masih menjadi bagian dari musim gerhana tahun 2017 TU ini yang terdiri dari empat gerhana, masing-masing dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Seluruh Gerhana Bulan tersebut dapat disaksikan dari Indonesia, karena negeri ini berada dalam cakupan wilayah kedua gerhana. Sebaliknya seluruh Gerhana Matahari tersebut tak berkesempatan ‘menyentuh’ wilayah Indonesia. Dalam hal Gerhana Bulan, hanya saja gerhana Bulan pertama di musim ini adalah gerhana Bulan yang pemalu karena bersifat Gerhana Bulan Penumbral. Sehingga sangat sulit untuk disaksikan secara kasat mata.

Gambar 1. Wajah Bulan purnama yang tinggal separo dengan separo sisanya telah ‘robek’ dalam sebuah peristiwa Gerhana Bulan. Diabadikan pada Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 di Gombong, Kebumen (Jawa Tengah). Pada puncak Gerhana Bulan Seperempat 7-8 Agustus 2017, wajah Bulan akan seperti ini hanya bagian yang ‘robek’ lebih kecil. Sumber: Sudibyo, 2011.

Dalam Gerhana Bulan Seperempat ini cakram Bulan takkan sepenuhnya menghilang. Ia masih ada, hanya ‘kehilangan’ seperempat bagian wajahnya saja. Bagian yang ‘menghilang’ itu pun sejatinya juga tak sepenuhnya gelap. Karena dalam kondisi yang tepat bagian tersebut akan nampak kemerah-merahan (merah darah). Sebab meski bagian yang ‘menghilang’ itu tak terpapar cahaya Matahari sepenuhnya, ia tetap mendapatkan pencahayaan dari sinar Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Khususnya cahaya dalam spektrum warna merah atau inframerah.

Sebagian

Konfigurasi benda langit yang membentuk peristiwa Gerhana Bulan Seperempat ini identik dengan yang memproduksi Gerhana Bulan pada umumnya. Gerhana Bulan terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus dalam konfigurasi yang menghasilkan fase Bulan purnama. Namun konfigurasi tersebut bersifat syzygy, yakni segaris lurus ditinjau dari segenap arah tiga dimensi. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut bertenggerlah Bumi. Sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal, yakni titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan menjadi terhalangi Bumi.

Mengingat diameter Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi kita, yakni 109 kali lipat lebih besar, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sehingga terbentuk umbra dan penumbra. Umbra adalah kerucut bayangan inti, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi yang sepenuhnya tak mendapat pencahayaan Matahari. Sedangkan penumbra adalah kerucut bayangan samar/tambahan, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi kita yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang umbra dan masih mendapatkan cukup banyak pencahayaan Matahari.

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral (Gerhana Bulan Samar), yang hanya bisa disaksikan secara leluasa dengan menggunakan teleskop. Diabadikan dalam momen Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016. Dalam Gerhana Bulan Seperempat, sebagian tahap gerhana akan lebih mudah disaksikan kasat mata. Sumber: Sudibyo, 2016.

Pada dasarnya tidak setiap kejadian Bulan purnama bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Bagaimana Bulan berperilaku terhadap umbra dan penumbra Bumi menentukan jenis gerhananya. Ada tiga jenis Gerhana Bulan. Pertama ialah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala cakram Bulan sepenuhnya memasuki umbra Bumi tanpa terkecuali. Kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala umbra tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya pada puncak gerhananya Bulan hanya akan lebih redup (ketimbang saat GBT) dan ‘robek’ di salah satu sisinya. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya penumbra Bumi yang menutupi cakram Bulan baik sepenuhnya maupun hanya separuhnya. Tiada umbra Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana Bulan yang terakhir ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga sekilas nampak tak berbeda dibanding Bulan purnama umumnya.

Tahap dan Wilayah

Dalam kasus Gerhana Bulan Seperempat ini, pada puncaknya sebanyak 24,6 % wajah Bulan berada dalam umbra. Sebagai akibatnya Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase purnama pun menjadi temaram dan ‘robek’ seperempat bagiannya. Gerhana Bulan Seperempat ini terdiri dari lima tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana atau kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada 7 Agustus 2017 TU pukul 22:50 WIB. Lalu tahap kedua adalah awal gerhana kasat mata atau kontak awal umbra (U1) yang terjadi pada pukul 00:23 WIB. Berikutnya adalah tahap ketiga yang berupa puncak gerhana, terjadi pada pukul 01:20 WIB. Selanjutnya tahap keempat berupa kontak akhir umbra (U4) atau akhir gerhana kasat mata, yang terjadi pada pukul 02:18 WIB. Dan yang terakhir adalah kontak akhir penumbra (P4) atau akhir gerhana, terjadi pada pukul 03:51 WIB.

Satu aspek istimewa dari Gerhana Bulan adalah bahwa tahap-tahap gerhananya secara umum terjadi pada waktu yang sama di setiap titik yang berada dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama. Durasi Gerhana Bulan Seperempat ini adalah 5 jam 1 menit. Namun durasi gerhana yang kasat mata lebih singkat, yakni hanya 1 jam 55 menit.

Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Wilayah Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017 melingkupi seluruh benua Asia, Australia, Afrika, Eropa dan sebagian kecil Brazil di benua Amerika. Hanya mayoritas benua Amerika yang tak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Wilayah gerhana terbagi menjadi tiga, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit) dan yang terakhir wilayah yang tak mengalami gerhana sama sekali.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Bulan Seperempat 15 Zulqaidah 1438 H dalam lingkup global. Perhatikan bahwa segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh. Sehingga seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2017.

Segenap tanah Indonesia juga tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Kabar baiknya, segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, kecuali kota Jayapura (propinsi Papua). Di Jayapura, Matahari telah terbit dalam waktu 3 menit sebelum gerhana berakhir (tepatnya sebelum tahap P4 berakhir).

Shalat Gerhana

Gerhana Bulan Seperempat ini merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam terdapat anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Hal tersebut juga berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Seperempat ini. Musababnya gerhana Bulan ini dapat diindra dengan mata manusia secara langsung. Sementara dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat peristiwa tersebut dapat disaksikan (kasat mata), seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Mengingat durasi gerhana yang kasatmata adalah dari tahap U1 hingga tahap U4, yakni dari pukul 00:23 WIB hingga pukul 02:18 WIB, maka shalat Gerhana Bulan seyogyanya juga diselenggarakan pada rentang waktu tersebut. Berikut adalah infografis tatacara pelaksanaan shalat gerhana

Tatacara shalat gerhana Bulan. Sumber: RM Khotib Asmuni, 2017

Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena baik Matahari maupun Bulan merupakan dua benda langit yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT. Dan peristiwa gerhana merupakan peristiwa langit yang menakjubkan (sekaligus menerbitkan rasa takut) bagi sebagian kalangan. Namun peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tidak terkait dengan kematian seseorang. Di sisi lain, shalat gerhana mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan-Nya. Terlebih mengingat peristiwa Gerhana pada khususnya (baik Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari) serta fase Bulan baru dan Bulan purnama pada umumnya ternyata mampu memicu salah satu gaya endogen dalam sistem kerja Bumi kita, yakni gempa bumi tektonik.

Iklan

Ngaji Falak Ramadhan: Durasi Puasa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan 1438 H sudah kita jalani hampir separuhnya. Salah satu pertanyaan menarik yang senantiasa muncul manakala Umat Islam memasuki suatu bulan Ramadhan adalah durasi puasa (atau lamanya berpuasa dalam satu hari) di bulan yang suci ini?

Ibadah puasa, baik yang wajib seperti halnya di bulan Ramadhan maupun yang sunat, memiliki batasan awal dan akhir yang tegas. Untuk setiap harinya, puasa dimulai saat awal Shubuh dan berakhir kala awal Maghrib. Awal Shubuh disepakati didefinisikan sebagai saat dimana cahaya fajar yang nyata (fajar shadiq) tepat mulai muncul dan merembang di kaki langit timur, jauh sebelum terbitnya Matahari. Sebaliknya disepakati pula bahwa awal Maghrib adalah saat kala Matahari tepat telah terbenam (ghurub). Ilmu falak kemudian menguraikan batasan tersebut lebih lanjut. Di Indonesia, cahaya fajar yang nyata disepakati mulai muncul manakala Matahari tepat menyentuh ketinggian minus 20º dari kaki langit timur. Sementara terbenamnya Matahari disepakati sebagai situasi saat sisi teratas cakram Matahari tepat mulai meninggalkan kaki langit barat, dimana kedudukan kaki langit barat ini bergantung kepada elevasi lokasi (terhitung dari paras air laut rata-rata).

Dengan definisi demikian, jelas bahwa durasi puasa Ramadhan pun dikendalikan sepenuhnya oleh kedudukan Matahari untuk suatu tempat. Hal ini menjadi lebih menarik lagi bilamana dikaitkan dengan ‘kelakuan’ Matahari. Yakni gerak semu tahunan Matahari, satu kondisi dimana Matahari seakan-akan bergeser ke utara dan ke selatan secara teratur sepanjang waktu dalam tahun Tarikh Umum (TU). Dalam ilmu falak, gerak semu tahunan itu ditandai dengan perubahan deklinasi Matahari dari 0º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Maret) untuk kemudian secara berangsur-angsur meningkat menjadi +23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 21 Juni) lalu berangsung-angsur menurun kembali ke 0º (terjadi pada sekitar tanggal 23 September) dan lalu beranjak terus hingga menjadi -23,5º (terjadi pada sekitar tanggal 22 Desember).

Dikombinasikan dengan fakta bahwa kalender Hijriyyah memiliki umur 354 hari (kalender basitah) dan 355 hari (kalender kabisat), sementara kalender Tarikh Umum memiliki umur 365 hari (basitah) dan 366 hari (kabisat), maka akan dijumpai fenomena unik. Yakni dari tahun ke tahun durasi puasa Ramadhan bagi sebuah lokasi selalu berubah-ubah secara dinamis, .

Dunia

Gambar 1. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 57º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Bulan Ramadhan tahun 1438 H (2017 TU) ini pun demikian. Bulan suci ini menjadi bagian dari situasi yang dialami bulan Ramadhan sejak tahun 1430 H (2009 TU) hingga kelak tahun 1445 H (2024 TU). Yakni terjadi manakala Matahari berkedudukan di atas hemisfer (belahan Bumi) utara. Sebagai konsekuensinya maka durasi puasa Ramadhan di hemisfer utara pun menjadi yang paling panjang. Sebaliknya durasi puasa Ramadhan bagi hemisfer selatan menjadi yang terpendek.

Saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk seluruh permukaan Bumi ini pada dua saat. Yang pertama adalah pada tanggal 27 Mei 2017 TU, yang di Indonesia bertepatan dengan 1 Ramadhan 1438 H. Sementara yang kedua adalah pada tanggal 24 Juni 2017 TU kelak, yang juga bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1438 H bagi Indonesia. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 60º LU hingga 60º LS. Jadi kedua kawasan lingkaran kutub tak tercakup di sini.

Perhitungan dilaksanakan dengan program pemetaan, dalam hal ini saya menggunakan Surfer. Untuk lebih mempermudah, maka tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan ini diberi nilai nol (0) meter dpl.

Gambar 2. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi seluruh permukaan Bumi. Durasi puasa senilai 24 jam terjadi di garis lintang 48º LU hingga 51º LU. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU durasi puasa Ramadhan yang terpanjang ada di hemisfer utara berdekatan dengan garis 60º LU. Tepatnya pada sepanjang garis 57º LU. Disinilah durasi puasa tepat bernilai 24 jam. Sementara pada tanggal 24 Juni 2017 TU, durasi puasa Ramadhan yang terpanjang juga masih ada di hemisfer utara. Namun telah sedikit berpindah, yakni bervariasi di antara garis lintang 48º LU hingga garis lintang 51º LU.

Satu hari di Bumi memiliki durasi tepat 24 jam. Sehingga bilamana ada daerah yang memiliki durasi puasa Ramadhan tepat 24 jam, maka Umat Islam yang bertempat di sana ‘musti’ berpuasa sehari semalam suntuk jika mengacu pada kedudukan Matahari. Hal ini tentu sangat memberatkan. Makanya untuk negara-negara yang berada di batas kawasan subtropis dengan lingkar kutub (demikian halnya kawasan lingkar kutub itu sendiri) terdapat kekhususan dalam hal berpuasa Ramadhan bagi Umat Islam.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia ?

Berbeda dengan negara-negara di dekat batas subtropis-lingkar kutub, Indonesia terletak di kawasan tropis. Bahkan negeri ini dibelah oleh garis khatulistiwa. Maka disini awal waktu Shubuh dan awal waktu Maghrib-nya masih tergolong normal, yakni tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek. Pertanyaannya, apakah kedudukan Matahari berpengaruh terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H di Indonesia

Gambar 3. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 27 Mei 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di dekat titik paling utara (lintang 4º 43′ LU). Sumber: Sudibyo, 2017.

Seperti halnya langkah di atas, saya mencoba memetakan durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk Indonesia pada dua saat. Yang pertama pada tanggal 27 Mei 2017 TU dan yang kedua pada tanggal 24 Juni 2017 TU. Pemetaan dibatasi pada kawasan yang terbentang di antara garis lintang 6º LU hingga 11º LS. Sebagai kuda kerja, juga digunakan program pemetaan berupa Surfer.

Berbeda dengan sebelumnya, maka di kali ini terdapat dua perhitungan. Pada perhitungan pertama, tinggi setiap titik kordinat yang disertakan dalam perhitungan diberi nilai nol (0) meter dpl untuk kemudian dipetakan. Sementara pada perhitungan kedua, digunakan titik-titik koordinat Masjid Agung di ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang mencapai 520 buah itu. Data koordinat tersebut mencakup posisi lintang, bujur dan elevasi. Data bersumber dari BIG (Badan Informasi Geospasial) yang dipublikasikan terbatas di kalangan ahli falak Indonesia dalam momen Temu Kerja Hisab Rukyat Nasional 2017 kemarin. Hasil perhitungan kedua ini tidak dipetakan.

Gambar 4. Peta durasi puasa Ramadhan 1438 H untuk tanggal 24 Juni 2017 TU bagi Indonesia. Durasi puasa rata-rata adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa terpendek terjadi di titik paling selatan sementara yang terpanjang terjadi di titik paling utara. Sumber: Sudibyo, 2017.

Hasilnya, pada 27 Mei 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 57 menit. Lokasi ini merupakan daerah paling selatan di Indonesia, dengan Masjid al-Ikhwan di ibukota Baa terletak pada lintang 10º 43′ LS, hampir mendekati garis 11º LS. Sebaliknya durasi puasa terpanjang terjadi di Kabupaten Bener Meriah (Aceh) yakni 13 jam 51 menit. Meski bukan daerah paling utara di Indonesia, namun Masjid Babus Salaam di ibukota Simpang Tiga Redelong (lintang 4º 43′ LU) memiliki elevasi 1.392 meter dpl.

Sementara pada 24 Juni 2017 TU secara rata-rata durasi puasa untuk seluruh Indonesia adalah masih tetap bernilai 13 jam 21 menit. Durasi puasa Ramadhan yang terpendek juga tetap terjadi di Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), yakni 12 jam 55 menit. Namun lokasi dengan durasi puasa terpanjang berpindah tempat, yakni di Kota Sabang (Aceh) selama 13 jam 54 menit. Kota ini merupakan lokasi paling utara di Indonesia yang terletak pada garis lintang 5º 53′ LU.

Dapat dilihat, meski Indonesia terletak di kawasan tropis dan dibelah oleh garis khatulistiwa, pengaruh kedudukan Matahari terhadap durasi puasa Ramadhan 1438 H tetap terlihat. Durasi puasa terpendek berada di titik paling selatan, sementra durasi puasa terpanjang menempati titik paling utara. Selisih durasi puasa antara kedua tempat tersebut hampir mendekati sejam.

Kupas-Hoax: Ekuinoks dan Gelombang Panas di Indonesia

‘Kabar’ itu sudah menyeruak kemana-mana melalui aneka rupa media. Terutama media sosial. Kabar itu sudah menyebar liar tak terkendali, laksana api yang membakar ilalang kering kerontang. Bentuknya bermacam-macam, namun semuanya memiliki satu kemiripan. Intinya bakal terjadi bencana gelombang panas (heat wave) di negara-negara Asia Tenggara seiring bakal berlangsungnya peristiwa ekuinoks (equinox). Termasuk di Indonesia.

Lebih jelasnya, ‘kabar’ tersebut mewartakan bahwa selama lima hari berturut-turut, yakni sejak Selasa hingga Sabtu, 21-25 Maret 2017 TU (Tarikh Umum), gelombang panas akan melanda negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura. Suhu udara maksimum di siang hari akan meroket hingga mencapai angka fantastis, 40º Celcius ! Temperatur yang laksana panas membakar ini akan terjadi di hari-hari tersebut khususnya di antara rentang waktu pukul 12:00 hingga pukul 15:00 setempat. Dan semua itu terjadi karena peristiwa ekuinoks.

Tak ayal ‘kabar’ ini menggegerkan publik Indonesia. Horor akan petaka gelombang panas seperti yang meluluhlantakkan sebagian India di tahun 2015 TU pun segera membayang. Bencana gelombang panas India merenggut korban jiwa tak kurang dari 2.500 orang. Foto-foto aspal jalanan yang meleleh hingga membuat garis-garis marka jalan yang seharusnya lurus menjadi kusut masai tak keruan pun menjadi penanda ikonis bagi bencana gelombang panas India.

Gambar 1. Marka jalan di sudut kota New Delhi (India) yang kusut masai seiring melelehnya lapisan aspal jalan akibat paparan suhu tinggi dalam peristiwa gelombang panas India 2015. Bencana tersebut menewaskan tak kurang dari 2.500 orang. Sumber: Mail Online, 27 Mei 2015 TU.

Sayangnya ‘kabar’ tersebut ternyata tak benar. Ekuinoks memang akan terjadi di Indonesia, namun ia tak bakal disusul oleh peristiwa gelombang panas. Berikut penjelasannya.

Ekuinoks Musim Semi dan Musim Gugur

Ekuinoks adalah sebuah peristiwa langit teratur dimana kedudukan Matahari persis berada di atas garis khatulistiwa’. Dalam bahasa astronominya, ekuinoks adalah peristiwa pada saat Matahari ‘menyeberang’ dari hemisfer langit selatan menuju ke hemisfer langit utara atau sebaliknya dengan melintasi garis ekuator langit dalam gerak semu tahunannya. Ekuator langit adalah garis khayali yang lokasinya memang persis ada di atas garis khatulistiwa’. Karena Matahari sedang berkedudukan tepat di atas garis khatulistiwa’ pada saat ekuinoks, maka kita yang berdiri tegak di garis tersebut takkan memiliki bayang-bayang tepat pada saat Matahari mencapai titik kulminasi atasnya.

Astronomi menggolongkan ekuinoks sebagai peristiwa langit yang terjadi secara teratur dengan keistimewaan tersendiri. Karena hanya pada saat ekuinoks-lah hampir segenap paras Bumi, tepatnya yang terletak di antara garis lintang 80º LU hingga 80º LS, memiliki panjang durasi siang yang hampir sama dengan malam. Yakni sama-sama hampir 12 jam. Karena itulah ia mendapatkan nama ekuinoks, berasal dari kata aequinoctium dalam bahasa Latin (aequus = sama, nox = noctis = malam). Di luar peristiwa ekuinoks, panjang durasi siang dan malam bisa jauh berbeda khususnya di daerah yang tergolong kawasan subtropis dan lingkar kutub.

Sebagai peristiwa yang teratur, maka dalam setiap tahun Tarikh Umum selalu tersedia dua kejadian ekuinoks. Yakni ekuinoks pertama (vernal equinox), atau ekuinoks musim semi, yang terjadi di antara tanggal 19, 20 atau 21 Maret. Karena itu dinamakan pula sebagai Ekuinoks Maret. Ekuinoks Maret terjadi manakala Matahari bergerak dari hemisfer langit selatan menuju hemisfer langit utara dalam gerak semu tahunannya. Dan selanjutnya adalah peristiwa ekuinoks kedua (autumnal equinox), atau ekuinoks musim gugur, yang terjadi di antara tanggal 21, 22 atau 23 September. Sehingga disebut juga Ekuinoks September. Berkebalikan dengan Ekuinoks Maret, maka Ekuinoks September hanya terjadi bilamana Matahari bergerak dari hemisfer langit utara menuju hemisfer langit selatan dalam gerak semu tahunannya.

Gambar 2. Saya (menghadap ke selatan) di latar depan Tugu Khatulistiwa Pontianak yang ikonik. Garis khatulistiwa’ yang sesungguhnya adalah yang melintas tepat di tempat saya berdiri, berdasarkan pengukuran berbasis satelit. Pada saat ekuinoks terjadi maka Matahari akan tepat berada di atas garis khatulistiwa’ ini. Sumber: Sudibyo, 2012.

Penyebab terjadinya kedua peristiwa ekuinoks itu adalah kedudukan Bumi kita terhadap Matahari dalam konstelasi tata surya. Sebagai planet, Bumi berputar mengelilingi Matahari melewati orbitnya yang khas, yang disebut revolusi, dengan periode revolusi satu tahun. Bidang datar khayali tempat orbit Bumi mengelilingi Matahari dinamakan bidang ekliptika. Kita yang tinggal di paras Bumi akan melihat bidang ekliptika sebagai tempat berderetnya ketiga belas rasi zodiak. Revolusi Bumi membuat Matahari seakan-akan beringsut perlahan dalam masing-masing dari ketiga belas rasi bintang ini pada rentang tanggal tertentu sepanjang tahun.

Di saat yang sama Bumi juga berputar mengelilingi sumbunya sendiri, yang disebut rotasi, dengan periode rotasi 23 jam 56 menit. Namun sumbu rotasi Bumi tidaklah tegak lurus (membentuk sudut 90º), melainkan menyudut sebesar 66º 33′ terhadap bidang ekliptika. Kombinasi revolusi Bumi dan miringnya sumbu rotasi Bumi inilah yang menyebabkan Matahari seakan-akan berpindah-pindah tempat di antara garis lintang 23º 27′ LU dan 23º 27′ LS secara menerus dan konsisten. Sehingga nilai deklinasi Matahari pun bervariasi secara teratur dari -23º 27′ hingga yang terbesar +23º 27′ (tanda negatif menunjukkan di langit selatan sementara tanda positif di langit utara). Maka dalam istilah lain, ekuinoks adalah peristiwa dimana deklinasi Matahari tepat bernilai 0º.

Lokasi dimana Matahari berada pada saat ekuinoks terjadi pada hakikatnya merupakan titik potong antara bidang ekliptika dengan ekuator langit. Saat pertama kali diidentifikasi pada 20 abad silam, titik tersebut dinamakan titik Aries untuk peristiwa Ekuinoks Maret. Karena pada saat itu terletak di dalam rasi Aries, meski kini telah bergeser jauh ke dalam rasi Pisces seiring gerak presesi sumbu rotasi Bumi. Sementara bagi Ekuinoks September, titik itu diberi nama titik Libra meski sejatinya kini bertempat di di dalam rasi Virgo.

Perubahan Musim dan Gelombang Panas

Peristiwa ekuinoks telah dikenal umat manusia sejak fajar prasejarah dan telah digunakan sebagai penanda sistem penanggalan (kalender) pada sejumlah peradaban. Kini beberapa kalender masih menggunakan ekuinoks sebagai penanda awalnya, khususnya Ekuinoks Maret. Misalnya kalender Persia dan kalender India. Kalender global terpopuler pun, yakni kalender Tarikh Umum, masih mengandung jejak penanda yang terkait peristiwa ekuinoks, tepatnya Ekuinoks Maret.

Gambar 3. Peta penyinaran Matahari pada saat peristiwa Ekuinoks Maret. Area gelap merupakan bagian Bumi yang sepenuhnya telah memasuki malam hari. Sementara tiga area abu-abu yang mengelilinginya masing-masing adalah area dimana fajar/senja sipil (abu-abu terluar, terjadi kala Matahari terbenam hingga 6º di bawah horizon), fajar/senja nautikal (abu-abu tengah, terjadi kala Matahari terbenam hingga 12º di bawah horizon) dan fajar/senja astronomis (abu-abu terdalam, terjadi kala Matahari terbenam hingga 18º di bawah horizon) berlangsung. Sumber: Timeanddate.com, 2017.

Dalam sejarahnya sebelum dekrit Pontifex Maximus oleh kaisar Julius Caesar (tahun 46 STU), kalender Tarikh Umum adalah kalender Romawi. Awalnya kalender Romawi hanya terdiri dari 10 bulan kalender dengan Maret sebagai bulan kalender pertama seiring terjadinya peristiwa Ekuinoks Maret. Reformasi demi reformasi kalender berikutnya hingga dikeluarkannya dekrit Pontifex Maximus memberi dua bulan kalender tambahan (yakni Januari dan Februari) serta mengukuhkan peristiwa Ekuinoks Maret harus terjadi di sekitar tanggal 21 Maret. Inilah sistem penanggalan yang disebut kalender Julian. Dasar dari kalender Julian adalah periode tropis Matahari, yakni selang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk menempati dua titik Aries yang berurutan.

Di kemudian hari muncul kesadaran bahwa perhitungan kalender Julian sedikit berbeda dengan nilai periode tropis Matahari yang sesungguhnya berdasarkan pengukuran yang lebih akurat. Maka menjelang tahun 1582 TU, terjadi situasi dimana peristiwa Ekuinoks Maret sesungguhnya telah terjadi pada tanggal 10 Maret. Bukan pada tanggal 21 Maret seperti yang menjadi patokan. Karena itu berlangsung reformasi Gregorian lewat sebuah dekrit Inter Gravissimas yang dikeluarkan Paus Gregoris XIII pada 24 Februari 1582 TU. Dekrit ini menekankan penghapusan 10 hari, sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 TU maka keesokan harinya akan langsung melompat ke tanggal 15 Oktober 1582 TU. Inilah kalender Tarikh Umum yang kita gunakan hingga saat ini.

Selain sebagai penanda waktu dalam berbagai kalender, peristiwa ekuinoks juga menjadi penanda bagi rutinitas perubahan musim. Di kawasan subtropis khususnya di hemisfer utara (meliputi Eropa barat dan Timur, Asia utara dan Amerika utara), Ekuinoks Maret menjadi penanda bahwa musim semi akan segera tiba. Karena itu ia mendapatkan nama ekuinoks musim semi (sebaliknya kawasan subtropis di hemisfer selatan justru sedang bersiap-siap memasuki musim gugur). Sementara di negara tropis seperti Indonesia, peristiwa Ekuinoks Maret menjadi penanda bahwa musim kemarau akan segera tiba. Walaupun demikian harus digarisbawahi bahwa, meskipun posisi Matahari menjadi faktor utama penggerak cuaca di Indonesia, namun terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan cuaca menjadi dinamis. Seperti fenomena osilasi selatan el-Nino, osilasi dwikutub Samudera Indonesia, osilasi Madden-Julian.

Rutinitas perubahan musim terjadi karena gerak semu tahunan Matahari menyebabkan area yang terpanasi cahaya Matahari pun turut bergeser secara teratur. Di kawasan tropis, pergeseran teratur ini tecermin pada berpindah-pindahnya zona ITCZ (intertropical convergence zone). ITCZ adalah sebuah daerah sempit yang sama panjangnya dengan keliling Bumi dan menjadi tempat bertemunya angin pasat barat daya (dari hemisfer utara) dan angin pasat barat laut (dari hemisfer selatan). ITCZ sekaligus menjadi lokasi dimana udara membumbung ke atas seiring pemanasan Matahari. Gerakan tersebut adalah bagian dari sirkulasi udara dari kawasan khatulistiwa’ ke arah kawasan subtropis (baik utara maupun selatan) yang disebut sel Hadley. Sirkulasi konvektif ini menyebabkan daerah ITCZ menjadi padang subur bagi tumbuh kembangnya awan-awan badai dan hujan deras.

Kondisi berbeda terjadi di kawasan subtropis. Di hemisfer utara, penyinaran Matahari di antara peristiwa Ekuinoks Maret dan Ekuinoks September menciptakan musim semi dan musim panas. Sementara di sini terdapat daerah sempit mirip ITCZ, namun bedanya udara mengalir turun. Persis di atas puncak aliran udara yang menurun ini terdapat arus jet subtropis, yakni arus udara yang menderu ke arah timur pada ketinggian 9.000 hingga 12.000 meter membentuk lintasan melingkar dengan titik pusat di kawasan kutub utara. Seperti halnya ITCZ, posisi arus jet juga berpindah-pindah secara teratur mengikuti gerak semu tahunan Matahari.

Gambar 4. Gambaran sederhana mekanisme terjadinya peristiwa gelombang panas. Diawali dengan terbentuknya kawasan bertekanan udara tinggi (zona abu-abu) pada ketinggian 3 hingga 7,5 km. Kawasan ini menyebabkan udara mengalir ke bawah sembari menghangat dan mengering secara adiabatis sehingga membentuk kawasan tudung (zona jingga kekuningan) yang menyekap udara di bagian terbawah hingga sangat lembab, hangat dan tak mengalir. Sumber: NOAA, 2017

Kawasan di sisi selatan arus jet ini, tepatnya pada ketinggian 3.000 hingga 7.500 meter, merupakan area bertekanan udara lebih tinggi dibanding tekanan udara paras Bumi. Di bawah pengaruh tekanan tinggi ini, udara setempat bisa mengalir ke bawah menuju paras Bumi sembari menghangat dan mengering secara adiabatis. Aliran udara ke bawah yang menghangat ini lantas mengambil peran sebagai kubah raksasa tak kasat mata, yang berperan menyungkup kolom udara di lapisan terbawah.

Akibatnya kolom udara terbawah tidak bisa mengalami konveksi sehingga kelembaban udaranya meroket tinggi dengan suhu lebih hangat. Kita pun dibikin gerah. Situasinya sangat mirip dengan udara gerah menjelang tibanya hujan lebat. Gelombang panas adalah rasa gerah tersebut yang berlangsung berkepanjangan, dimana dalam definisi umum terjadi selama minimal lima hari berturut-turut dengan suhu udara maksimum harian rata-rata 5º Celcius lebih tinggi dibanding normal (yakni suhu udara rata-rata normal dalam rentang waktu 1961 hingga 1990 TU). Definisi sesungguhnya atas gelombang panas adalah berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya. Di benua Eropa, gelombang panas dinyatakan terjadi jika suhu udara harian melampaui angka 25 hingga 28º Celcius. Sementara di benua Amerika bagian utara, batasnya adalah 32º Celcius. Sebaliknya di benua Australia, batasnya adalah 35º Celcius.

Jelas terlihat bahwa meski dikendalikan oleh gerak semu tahunan Matahari, peristiwa gelombang panas hanya bisa terjadi di kawasan subtropis. Catatan sejarah menegaskan hal tersebut. Belum pernah terjadi peristiwa gelombang panas di kawasan tropis, atau lebih spesifiknya kawasan yang terletak di sekitar garis khatulistiwa’. Sebab sirkulasi udara memang tidak memungkinkan peristiwa semacam itu terjadi di kawasan khatulistiwa’. Termasuk di Indonesia.

Karena itulah ‘kabar’ bahwa ekuinoks akan diikuti dengan peristiwa gelombang panas di Indonesia saya kategorikan sebagai kabar-bohong (hoax). Sebagai catatan, ‘kabar’ semacam ini sudah muncul sejak 2016 TU dan nampaknya akan bermutasi menjadi kabar-bohong tahunan.

Referensi :

NOAA. 2017. Heat Index. National Weather Service NOAA, diakses 20 Maret 2017.

Gerhana Matahari dan Kisah Kenabian: Yusya’ AS dan Rasulullah SAW

Gerhana kerap membawa kisah menarik yang mengiringi kehadirannya. Baik pada peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Baik di masa kini, apalagi masa silam kala kehadiran gerhana kerap dianggap sebagai pertanda dari langit. Termasuk dalam peristiwa sejarah yang menentukan nasib sebuah negeri.

Di masa Yunani Kuno, kota Syracuse dikepung rapat oleh pasukan Athena selama Perang Peloponnesia. Mereka hampir kalah. Namun sebuah titik balik tak terduga datang pada 28 Agustus 413 STU (Sebelum Tarikh Umum) saat Bulan purnama mendadak meredup, ‘robek’ dan bahkan bersalin warna menjadi merah darah sangat redup hanya dalam 2 jam setelah terbit. Pasukan Athena, yang dihinggapi tahayul, menganggap gerhana itu pertanda buruk dan memutuskan menunda serangan ke posisi-posisi pasukan Syracuse. Syracuse pun memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga gantian mereka yang melancarkan serangan dadakan ke pasukan Athena. Athena pun hancur lebur.

Delapan belas abad kemudian kisah yang mirip pun berulang. Selagi pasukan besar Utsmaniy mengepung kota Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), pada 22 Mei 1453 TU Bulan terbit dalam kondisi setengah ‘robek’ sebagai Gerhana Bulan Sebagian di kaki langit timur kota. Saat itu Bulan menampakkan wajahnya dengan sekitar 70 % cakram Bulan tertutupi oleh umbra Bumi. Saat itu Konstantinopel sudah dikepung pasukan Utsmaniy sebulan lamanya. Gerhana ini menerbitkan rasa takut dan merosotkan moral penduduk Konstantinopel. Apalagi tersiar legenda bahwa kejatuhan kekaisaran mereka telah lama diramalkan dan akan ditandai oleh gerhana. Benar, tujuh hari kemudian kota itu takluk dan imperium Byzantium yang pernah perkasa itu pun tinggal sejarah.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam tulisan ini fenomena gerhana di masa silam dibatasi pada peristiwa Gerhana Matahari di masa kenabian, yakni di era Nabi Yusya’ AS dan Rasulullah Muhammad SAW.

Gerhana dan Legenda Berhentinya Matahari

Pertempuran menentukan itu nampaknya terjadi sekitar 32 abad silam. Ringkasnya: pasukan Bani Israil yang sedang berjuang memasuki negeri Kanaan yang dijanjikan harus berhadapan dengan pasukan suku Hivit (bagian dari sukubangsa Amorit) yang berkekuatan besar pada suatu tempat di luar kota al-Jib (Gibeon). Suku Hivit adalah orang-orang yang berbadan besar dan perkasa, yang mendiami dataran luas di sisi barat Laut Mati hingga ke pesisir Laut Tengah. Tak tanggung-tanggung, di hari itu orang-orang Hivit mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar dari lima negara kota sekaligus, kekuatan yang sanggup menggetarkan siapapun .

Pertempuran al-Jib pun meletus hari itu hingga ke rembang petang. Dan tak ada yang mengira kalau pasukan Bani Israil ternyata berhasil mengangkangi keperkasaan pasukan Hivit yang semula dikenal tak terkalahkan. Di bawah pimpinan Yusya’, yang  merupakan seorang nabi, pasukan Bani Israil pun menghancurkan pasukan Hivit dalam pertempuran al-Jib. Jalan bagi Bani Israil untuk menancapkan kakinya di negeri Kanaan yang dijanjikan pun kian terbuka. Pertempuran ini juga mewariskan kisah legendaris, yang menuturkan Yusya’ berseru kepada Matahari dan Bulan untuk berdiam di posisinya masing-masing hingga pertempuran usai. Atau dalam kata-kata lain, inilah nabi yang menahan gerak Matahari (dan juga Bulan).

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya' AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa 'berhentinya Matahari' tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya’ AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa ‘berhentinya Matahari’ tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Kini, kapan Pertempuran al-Jib itu terjadi nampaknya sudah bisa ditetapkan tanggalnya. Riset multidisiplin ilmu oleh tim cendekiawan Universitas Ben Gurion (Israel) yang dipimpin Hezi Yitzhak menyimpulkan Pertempuran al-Jib itu mungkin terjadi pada 30 Oktober 1207 STU (Sebelum Tarikh Umum), bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Dan lokasi dimana pertempuran tersebut berlangsung merupakan bagian dari zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin/anularitas pada puncak gerhana) dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1206 STU tersebut.

Kisah kenabian Yusya’ atau Yosua (Joshua) lebih banyak tersurat dalam alkitab Ibrani dan alkitab Kristiani Perjanjian Lama, bahkan beliau menjadi tokoh sentral Kitab Yosua di kedua alkitab tersebut. Sebaliknya al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama Nabi Yusya’ AS. Beliau hanya disebut sebagai murid Nabi Musa AS khususnya yang menyertai Nabi Musa AS selama dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS seperti ternyata dalam surat al-Kahfi ayat 60-62. Namun sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ubay ibn Ka’ab RA memastikan bahwa murid yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut memang sosok Nabi Yusya’ AS.

Yusya’ AS merupakan sosok kepercayaan Nabi Musa AS. Namanya mulai muncul selepas eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir menuju negeri Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah SWT seperti yang diwahyukan-Nya kepada Musa AS. Begitu lolos dari kejaran Firaun dan pasukannya lewat mukjizat terbelahnya Laut Merah, Bani Israil segera beringsut melangkahkan kakinya menuju negeri Kanaan. Namun lama-kelamaan terbit rasa gentar dalam kalbu mereka seiring tersiarnya kabar bahwa negeri yang hendak mereka tuju dan taklukkan itu ternyata dihuni sukubangsa Amorit, orang-orang yang terkenal bertubuh perkasa tanpa tanding dalam setiap medan pertempuran. Rasa gentar itu kian meluap hingga akhirnya mencapai puncaknya, menjangkiti hampir semua orang. Mereka pun memutuskan untuk berhenti, enggan melanjutkan perjalanan ke negeri Kanaan meski telah dijanjikan kemenangan. Upaya Yusya’ dan Qalib untuk menyemangati mereka tiada henti tidak juga membuahkan hasil.

Akibatnya Bani Israil pun mendapat murka Allah SWT dan dihukum untuk terjebak di gurun pasir di antara negeri Mesir dan Kanaan hingga 40 tahun kemudian. Selama masa hukuman ini Yusya’ menjadi pengawal Nabi Musa AS yang setia. Sehingga menjelang wafatnya, Nabi Musa AS pun mewariskan kepemimpinan Bani Israil ke tangan Yusya’. Segera setelah menerima tampuk kepemimpinan, Yusya’ pun menjadi nabi setelah menerima wahyu Illahi yang memerintahkannya menyeberangi Sungai Yordan untuk memulai penaklukan negeri Kanaan yang telah dijanjikan-Nya. Dari kamp pasukannya di Gilgal, secara berturut-turut Yusya’ AS menggerakkan pasukannya menaklukkan negeri Ariha (Jericho) dan Ai. Selepas itu, setelah menggerakkan pasukannya diam-diam di tengah malam menempuh jarak 30 kilometer hingga tiba di perkemahan pasukan Hivit di dekat kota Yerusalem, maka Pertempuran al-Jib pun berkobar dahsyat mulai keesokan paginya.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Tim cendekiawan Ben Gurion tersebut tiba pada kesimpulan mengenai tanggal Pertempuran al-Jib setelah melalui pendekatan astronomi dan reinterpretasi teks ayat Yoshua 10:12. Terjemah dalam Bahasa Indonesia dari ayat tersebut adalah “…Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Namun tim cendekiawan Ben Gurion berpendapat bahwa kata Ibrani “dom (do.wm)” (yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “berhenti”) juga bisa diterjemahkan sebagai “menjadi gelap.” Sehingga terjemahannya bisa menjadi “…Matahari, menjadi gelap di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Dari terjemah ini muncul kesan bahwa pada saat itu Matahari dan Bulan hadir bersamaan di langit dengan Matahari menjadi gelap.

Dari sisi astronomi ada satu peristiwa langit yang bersesuaian dengan deskripsi tersebut, yakni Gerhana Matahari. Dengan kata lain, Pertempuran al-Jib yang mengambil tempat di dekat kota Yerusalem itu nampaknya bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari dengan Yerusalem dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana, khususnya zona umbra atau antumbra.

Tim cendekiawan Ben Gurion lantas memutuskan menggali data Gerhana Matahari masa silam, khususnya melalui basisdata badan antariksa Amerika Serikat (NASA) yang legendaris di bawah tajuk Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. Basisdata ini memuat segala peristiwa Gerhana Matahari dalam kurun 5.000 tahun mulai dari tahun 2000 STU hingga tahun 3000 TU. Selama rentang waktu tersebut Bumi kita akan mengalami 11.898 peristiwa Gerhana Matahari, yang terdiri dari 4.200 Gerhana Matahari Sebagian, 3.956 Gerhana Matahari Cincin, 3.173 Gerhana Matahari Total dan 569 Gerhana Matahari Hibrid. Tim memutuskan untuk berkonsentrasi pada rentang waktu antara 1500 STU hingga 1000 STU. Mereka mendapati bahwa dalam rentang waktu tersebut, hanya ada tiga peristiwa Gerhana Matahari yang menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya dilintasi zona umbra atau antumbra. Yakni satu kejadian Gerhana Matahari Total dan dua kejadian Gerhana Matahari Cincin.

Dalam rentang waktu tersebut, peristiwa Gerhana Matahari yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Dari kota Yerusalem dan sekitarnya, peristiwa langit ini terjadi pada sore hari dan dapat disaksikan hampir pada seluruh tahapnya. Awal gerhana terjadi pada pukul 15:07 waktu setempat saat Matahari berkedudukan 23,0º di atas horizon barat. Anularitas gerhana, yakni periode ketampakan bentuk cincin, mulai terjadi pada pukul 16:26 waktu setempat dan berlangsung hingga 5 menit kemudian (lebih detilnya 5 menit 13 detik). Puncak gerhana terjadi pada pukul 16:28 waktu setempat dengan tinggi Matahari 7,0º di atas horizon barat. Gerhana masih berlangsung kala Matahari terbenam pada pukul 17:05 waktu setempat, karena akhir gerhana terjadi pada pukul 17:39 waktu setempat. Durasi tampak dari Gerhana Matahari ini di kota Yerusalem dan sekitarnya adalah 1 jam 58 menit.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin ini membuat langit sore 30 Oktober 1207 STU di kota Yerusalem dan sekitarnya meremang lebih awal dibanding hari-hari normal. Langit setempat akan mulai terasa lebih gelap pada, katakanlah, pukul 16:30 waktu setempat. Puncak gerhana ini memang tidak menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Namun dengan intensitas sinar Matahari yang tiba di paras Bumi setempat tinggal 5 % dari normal pada saat puncak gerhana, jelas situasinya cukup remang-remang. Puncak gerhana juga akan menyajikan panorama unik saat Matahari terlihat sebagai cincin bercahaya yang ganjil, bukan sebagai lingkaran sangat terang yang menyilaukan mata. Jelas pemandangan ganjil ini akan menarik perhatian, termasuk pada kedua belah pasukan yang sedang bertempur di medan al-Jib.

Bagaimana peristiwa Gerhana Matahari pada Pertempuran al-Jib lantas ditafsirkan sebagai peristiwa ‘berhenti’-nya Matahari di jauh kemudian hari? David Dickinson, jurnalis di Universe Today, menduga persoalannya ada pada paham geosentrisme yang mendominasi dunia hingga abad ke-16 TU. Paham tersebut bertumpu pada Bumi sebagai pusat semesta dan pusat pergerakan segala benda langit. Demikian mendalamnya dominasi paham ini sehingga dua agama besar, yakni Kristen dan Islam, pun mengadopsinya di masa itu. Gereja mengadopsi geosentrisme karena, selain menyajikan tujuh buah langit yang ditempati setiap planet (termasuk Matahari dan Bulan) dengan masing-masing langit berbentuk bola sempurna sebagai refleksi kesempurnaan ilahiah, juga karena menyediakan ruang di luar bola bintang-bintang tetap untuk lokasi surga dan neraka. Maka ‘berhenti’-nya Matahari menjadi salah satu ‘bukti’ yang menyokong paham geosentrisme.

Gerhana Pagi di Kotasuci Madinah

Peristiwa gerhana dalam kisah kenabian juga terjadi pada era lebih kemudian, yakni pada masa Rasulullah Muhammad SAW. Tepatnya hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Gerhana tersebut terjadi pada hari yang sama dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Wafatnya Ibrahim yang bersamaan dengan menggelapnya langit membuat sebagian penduduk kotasuci Madinah menduga-duga bahwa kedua peristiwa itu berhubungan. Ada juga yang menduga bahwa alam raya turut berduka. Mendengar hal itu, usai memakamkan putranya Rasulullah SAW pun menjelaskan peristiwa gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana yang terjadi pada saat wafatnya Ibrahim adalah Gerhana Matahari. Analisis astronomi, juga dengan menelaah Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database memperlihatkan satu-satunya peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tinggal di Madinah hingga wafatnya adalah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Kotasuci Madinah dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana ini, tepatnya bagian dari zona penumbranya. Sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian. Dari kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya, gerhana ini akan dapat dilihat hanya dalam beberapa saat pasca terbitnya Matahari. Basisdata di atas memperlihatkan bahwa awal gerhana di kotasuci Madinah dan sekitarnya terjadi pada pukul 07:16 waktu setempat, saat Matahari hanyalah setinggi 0,9º dari horizon timur. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08:29 waktu setempat, saat Matahari sudah setinggi 16,0º dari horizon timur.Dan gerhana berakhir pada pukul 09:54 waktu setempat kala Matahari sudah berkedudukan cukup tinggi, yakni 31,8º dari horizon timur. Persentase penutupan cakram Matahari di saat puncak gerhana mencapai 76,4 %. Sehingga intensitas sinar Matahari yang tiba di kotasuci Madinah dan sekitarnya tinggal 24 % saja dari normalnya pada saat puncak gerhana. Situasi ini jelas membuat suasana menjadi remang-remang yang mudah diindra oleh orang-orang.

Gambar 6.  Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 6. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Konversi kalender memperlihatkan tanggal 27 Januari 632 TU bertepatan dengan tahun 10 H, yakni tahun terjadinya haji wada’ (haji perpisahan). Dalam haji wada’ itu Rasulullah SAW menerima sejumlah wahyu, salah satunya adalah perintah untuk menjadikan kalender Umat Islam (yang dikemudian hari dinamakan kalender Hijriyyah) sebagai kalender lunar murni, kalender yang sepenuhnya berbasis pergerakan Bulan. Sehingga setahun kalender Hijriyyah selalu terdiri dari 12 bulan tanpa ada lagi interkalasi (bulan kabisat atau bulan sisipan) yang dipraktikkan sebagai Naasi’ seperti sebelumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tahun 10 H terdiri dari 12 bulan saja seperti tahun-tahun berikutnya sehingga 27 Januari 632 TU ekivalen dengan 29 Syawwal 10 H. Tarikh ath-Thabari menyebutkan Ibrahim lahir di sekitar bulan Zulhijjah 8 H, demikian halnya menurut Ibn Katsir dengan mengutip Ibn Saad. Maka pada saat wafatnya, Ibrahim berusia 21 bulan, angka yang sesuai dengan Tarikh ath-Thabari.

jib_tabel-gm-rasulullahsawSepanjang masa kenabiannya, Rasulullah SAW bersua dengan sembilan peristiwa Gerhana Matahari. Yakni empat Gerhana Matahari Total dan lima Gerhana Matahari Cincin. Lima peristiwa Gerhana Matahari terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah, sementara empat lainnya terjadi setelah berhijrah ke kotasuci Madinah.

Dan seluruh peristiwa gerhana tersebut menjadikan kotasuci Makkah dan Madinah hanya sebagai bagian dari zona penumbra saja. Namun dari sembilan Gerhana Matahari tersebut, kemungkinan besar hanya lima diantaranya yang benar-benar bisa diindra oleh orang-orang pada saat itu. Karena hanya kelima Gerhana Matahari inilah yang memiliki nilai persentase tutupan cakram Matahari yang cukup besar pada saat puncak gerhana terjadi. Dari kelimanya hanya satu yang terjadi pada saat Rasulullah SAW sudah tinggal di kotasuci Madinah, yakni Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Sementara empat lainnya, masing-masing Gerhana Matahari Total 23 Juli 413 TU, Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 616 TU, Gerhana Matahari Cincin 4 November 617 TU dan Gerhana Matahari Total 2 September 620 TU terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah.

Referensi :

Fred Espenak & Jean Meeus. 2006. Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. NASA/TP-2006-214141, Oktober 2006.

Dickinson. 2017. Ancient Annular, Dating Joshua’s Eclipse. Universe Today, 6 Feb 2017.

Gerhana Bulan 11 Februari 2017 yang Pemalu

Sabtu 11 Februari 2017 Tarikh Umum (TU) jelang Matahari terbit. Bilamana langit cerah dan anda tinggal di pulau Jawa bagian barat, atau di pulau Kalimantan bagian barat, atau di pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekelilingnya, arahkan pandangan ke langit barat. Bila pandangan tak terhalang, Bulan akan nampak bertengger di atas kaki langit barat sebagai Bulan purnama. Wajahnya sesungguhnya bulat bundar penuh, namun kedudukannya yang rendah di atas kaki langit membuatnya nampak terdistorsi menjadi sedikit lonjong.

 Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.


Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016, diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata penggelapan wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2016.

Mulai pukul 05:34 WIB, suatu peristiwa terjadi pada Bulan. Namun secara kasat mata sangat sulit bagi anda yang tinggal di tiga lokasi tadi untuk mendeteksinya. Inilah peristiwa Gerhana Bulan Penumbral atau disebut juga Gerhana Bulan samar. Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 merupakan gerhana yang paling awal di musim gerhana tahun 2017 TU. Dalam peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini, bundaran cakram Bulan akan memasuki zona bayangan tambahan (penumbra) Bumi akibat konfigurasi posisi Bulan, Bumi dan Matahari yang nyaris hampir segaris lurus dalam segala arah (syzygy) dengan Bulan di antara kedua benda langit lainnya. Meski memiliki konfigurasi yang serupa dengan peristiwa Gerhana Bulan Total maupun Gerhana Bulan Sebagian, namun masuknya cakram Bulan hanya ke dalam bayangan tambahan Bumi membuat Bulan masih tetap akan terlihat layaknya Bulan purnama. Ia masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Seperti halnya peristiwa Gerhana Bulan pada umumnya, tidak setiap saat Bulan purnama terjadi diiringi dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahar), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana/kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada pukul 05:34 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang bakal terjadi pada pukul 07:33 WIB dengan magnitudo saat puncak adalah 0,99. Artinya pada saat itu 99 % cakram Bulan tertutupi oleh bayangan tambahan Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana/kontak akhir penumbra (P4) yang bakal berlangsung pada pukul 09:53 WIB. Dengan demikian durasi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 ini adalah 4 jam 19 menit.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P1 , yakni garis dimana awal gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian hanya sebagian Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Wilayah gerhana bagi Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017 melingkupi hampir segenap paras Bumi, kecuali sebagian kecil benua Asia (yakni Asia timur jauh dan sebagian Asia tenggara) serta segenap benua Australia. Sebagian besar Indonesia tidak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Secara umum Indonesia terbelah menjadi dua oleh garis P1, yakni himpunan titik-titik yang mengalami momen terbenamnya Bulan bersamaan dengan awal gerhana. Garis P1 tersebut melintas melalui pulau Kalimantan dan pulau Jawa. Hanya daerah-daerah yang berada di sebelah barat dari garis P1 inilah yang berkesempatan tercakup ke dalam wilayah Gerhana Bulan Penumbral 11 Februari 2017. Dengan demikian wilayah gerhana ini di Indonesia hanya mencakup sebagian pulau Jawa (propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah), sebagian pulau Kalimantan (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) serta segenap pulau Sumatra dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Di daerah-daerah tersebut, Gerhana Bulan Penumbral ini pun takkan bisa dinikmati secara utuh karena terjadi kala Bulan sedang dalam proses terbenam. Maka dapat dikatakan peristiwa Gerhana Bulan ini merupakan gerhana yang pemalu, karena Bulan tak menampakkan seluruh tahap gerhananya.

Sesuai dengan namanya, Gerhana Bulan Penumbral ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gempa di Swarnadwipa bagian Utara, Bumi Tanah Rencong yang Tercabik (Tektonik)

Getaran itu datang tanpa persiapan, tanpa ada peringatan. Selagi azan Shubuh bersahut-sahutan berkumandang di bumi tanah rencong bagian timur pada Rabu pagi 7 Desember 2016 Tarikh Umum (TU), sebuah getaran sangat keras mengguncang Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya pada pukul 05:04 WIB. Getaran keras tersebut, yang berlangsung selama sekitar 20 detik, adalah getaran terkeras yang pernah dirasakan daratan ujung utara pulau Sumatra itu dalam tiga tahun terakhir. Tepatnya sejak peristiwa Gempa Aceh Tengah 2013 silam. Stasiun-stasiun pengukur gempa di sebagian besar penjuru Bumi pun dengan riuh mencatat getaran dari swarnadwipa tersebut.

Gambar 1. Lokasi episentrum Gempa Pidie Jaya 2016 menurut rilis awal BMKG serta USGS dan GFZ dalam peta struktur pulau Sumatra bagian utara. Sumber: Barber & Crow, 2005 dengan penambahan oleh Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Lokasi episentrum Gempa Pidie Jaya 2016 menurut rilis awal BMKG serta USGS dan GFZ dalam peta struktur pulau Sumatra bagian utara. Sumber: Barber & Crow, 2005 dengan penambahan oleh Sudibyo, 2016.

Berselang beberapa hari kemudian kita mencermati dengan pilu dampak Gempa Pidie Jaya 2016 ini, demikian ia bisa dinamakan. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, tercatat 101 orang tewas. Sementara korban luka-luka tercatat sebanyak 724 orang. Kerugian material tak kepalang banyaknya. Tercatat 105 buah bangunan tempat tinggal atau pertokoan yang ambruk, disamping ada 10.534 buah rumah yang rusak. Tercatat pula sebanyak 55 buah masjid ikut roboh, demikian halnya 1 unit sekolah dan 1 bangunan RSUD Pidie Jaya. Sebanyak 11.142 orang dipaksa mengungsi. Selain itu tak kurang dari 14.000 meter jalan raya dibikin rusak, disamping 50 buah jembatan juga dibikin retak-retak.

Angka-angka tersebut hanyalah sementara, tetap terbuka kemungkinan untuk meningkat lagi. Dengan angka sementara ini pun, Gempa Pidie Jaya 2016 telah menabalkan dirinya sebagai gempa paling mematikan di propinsi Aceh dalam 12 tahun terakhir, tepatnya semenjak malapetaka gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang memilukan.

Parameter

Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada awalnya menempatkan Gempa Pidie Jaya 2016 sebagai gempa kuat dengan magnitudo 6,4 dengan kedalaman sumber sangat dangkal, yakni hanya 10 kilometer. Posisi episentrumnya adalah 121 kilometer di sebelah tenggara kota Banda Aceh. Sementara lembaga sejenis di mancanegara, yakni United States Geological Survey (USGS) National Earthquake Information Center melansir gempa ini juga memiliki magnitudo 6,4  dengan sumber sedalam 17 kilometer dengan episentrum 92 kilometer sebelah tenggara Banda Aceh. Pada dasarnya setiap gempa bumi tektonik dengan kedalaman sumber kurang dari 30 kilometer merupakan gempa dangkal.

Belakangan baik USGS maupun BMKG merevisi besaran magnitudo dan kedalaman sumbernya. Dalam versi BMKG, Gempa Pidie Jaya 2016 memiliki magnitudo 6,5 dengan sumber sedalam 15 kilometer. Posisi episentrumnya juga direvisi menjadi 105 kilometer sebelah tenggara kota Banda Aceh. Sementara dalam versi USGS, magnitudo gempanya juga direvisi menjadi 6,5 dengan kedalaman sumber menjadi tinggal 8 kilometer. Sangat dangkal. Sebaliknya posisi episentrum versi USGS relatif tak berubah banyak.

Gambar 2. Distribusi episentrum gempa-gempa susulan dalam Gempa Pidie Jaya 2016 yang direkam stasiun pengamat gempa Indonesian Tsunami Early Warning Systems BMKG. Dalam 48 jam pasca gempa utama, telah terjadi 69 kali gempa susulan dengan kecenderungan jumlah gempa kian menurun dari hari ke hari. Sumber: BMKG/Daryono, 2016.

Gambar 2. Distribusi episentrum gempa-gempa susulan dalam Gempa Pidie Jaya 2016 yang direkam stasiun pengamat gempa Indonesian Tsunami Early Warning Systems BMKG. Dalam 48 jam pasca gempa utama, telah terjadi 69 kali gempa susulan dengan kecenderungan jumlah gempa kian menurun dari hari ke hari. Sumber: BMKG/Daryono, 2016.

Revisi parameter gempa adalah hal yang biasa dilakukan badan-badan seismologi dimanapun. Informasi awal sebuah gempa pada umumnya merupakan informasi sementara, yang didasarkan pada data terbatas dari stasiun seismometer (pengukur gempa) yang terbatas pula. Informasi awal ini ditujukan sebagai bagian dari peringatan dini, terutama jika sumber gempanya di laut sehingga memiliki potensi tsunami, serta untuk mengestimasi dampak kerusakan yang terkait dengan intensitas getarannya. Seiring waktu, dengan kian banyaknya data yang terkumpul dari stasiun-stasiun seismometer yang semula belum tercakup membuat parameter gempa bisa dipertajam lagi sehingga mengalami revisi.

Contoh revisi parameter gempa masa silam misalnya pada peristiwa Gempa Yogyakarta 2006. Rilis awal BMKG menempatkan episentrum Gempa Yogyakarta 2006 di dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean), sementara rilis awal USGS memosisikannya di pantai Parangtritis. Kedua lokasi tersebut merupakan bagian dari sesar Opak nan legendaris. Namun setelah sejumlah seismometer tambahan dipasang pascagempa di kawasan Yogyakarta-Bantul-Gunungkidul guna memonitor gempa-gempa susulan dan parameternya, diketahui bahwa episentrum Gempa Yogyakarta 2006 berada di daratan. Yakni di sisi barat Kabupaten Gunung Kidul. Survei pergeseran tanah melalui sistem pemosisian global (GPS/global positioning system) dan teknik interferometri radar berbasis satelit (InSAR/interferometry synthetic apperture radar) di kemudian hari memastikan bahwa episentrum Gempa Yogyakarta 2006 memang ada di daratan, tepatnya di sesar Oya yang paralel namun berada 10 kilometer di sisi timur sesar Opak. Berkaca pada pengalaman tersebut, maka revisi parameter Gempa Pidie Jaya 2016 sejatinya bukanlah hal yang aneh.

Gambar 3. Sumber Gempa Yogyakarta 2006 di lembah sungai Oya, ekspresi paras bumi dari sesar Oya yang sebelumnya tak dikenal. Lokasi ini didasarkan atas analisis distribusi gempa-gempa susulan, pengukuran deformasi permukaan berbasis GPS dan analisis interferometri radar.  Sebelumnya rilis awal lembaga-lembaga seperti BMKG dan USGS menempatkan sumber gempa ini di sesar Opak, 10 km sebelah barat sesar Oya. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Gambar 3. Sumber Gempa Yogyakarta 2006 di lembah sungai Oya, ekspresi paras bumi dari sesar Oya yang sebelumnya tak dikenal. Lokasi ini didasarkan atas analisis distribusi gempa-gempa susulan, pengukuran deformasi permukaan berbasis GPS dan analisis interferometri radar. Sebelumnya rilis awal lembaga-lembaga seperti BMKG dan USGS menempatkan sumber gempa ini di sesar Opak, 10 km sebelah barat sesar Oya. Sumber: Tsuji dkk, 2009 digambar ulang oleh Sudibyo, 2015.

Gempa Pidie Jaya disebabkan oleh patahnya segmen batuan sepanjang sekitar 30 kilometer dengan lebar sekitar 15 kilometer secara mendadak. Begitu patah, ia melenting (bergeser mendadak) sejauh rata-rata 80 sentimeter. Pelentingan tersebut memiliki arah menuju ke salah satu dari dua kemungkinan: barat daya (strike menuju azimuth 243 derajat) atau tenggara (strike menuju azimuth 147 derajat). Lentingan yang melibatkan segmen batuan yang cukup luas itu menyebabkan terlepasnya energi. Yang merambat sebagai gelombang gempa bumi saja diprakirakan mencapai 85 kiloton TNT, atau 4 kali lipat lebih hebat ketimbang letusan bom nuklir Hiroshima.

Mirip Gempa Yogyakarta 2006 ?

Kombinasi sumber gempa yang sangat dangkal dan besarnya pelepasan energi membuat Gempa Pidie Jaya 2016 ini menghasilkan getaran yang sangat merusak. Getaran terkeras memiliki intensitas 8 MMI (modified mercalli intensity), tingkat getaran yang sanggup merubuhkan banyak bangunan di suatu pemukiman di Indonesia. Getaran 8 MMI terutama dirasakan di paras Bumi yang tepat berada di atas sumber gempa dan area sekitarnya. Segenap Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan kota Sigli diguncang oleh getaran berintensitas  7 MMI, yang tergolong getaran sangat keras. Getaran 7 MMI adalah jenis getaran yang sanggup meruntuhkan bangunan khususnya yang bermutu rendah. Kota Banda Aceh diguncang oleh getaran dengan intensitas 5 MMI. Ini adalah jenis getaran yang cukup kuat untuk dirasakan oleh semua orang dan sanggup membuat orang-orang yang  sedang tidur menjadi terbangun, namun belum cukup kuat untuk merusak bangunan. Sementara sisa propinsi Aceh lainnya digoyang oleh getaran berintensitas 4 MMI, yang tergolong getaran ringan.

Gambar 4. Salah satu desa yang terkena dampak Gempa Pidie Jaya 2016, yakni desa Paru Keude kec. Bandar Baru kab. Pidie Jaya. Distribusi kerusakan bangunan telah dipetakan dengan pesawat udara nir awak (PUNA/drone) hasil kerjasama BIG, BNPB dan sejumlah lembaga. Sumber: BIG/Hasanudin Z Abidin, 2016

Gambar 4. Salah satu desa yang terkena dampak Gempa Pidie Jaya 2016, yakni desa Paru Keude kec. Bandar Baru kab. Pidie Jaya. Distribusi kerusakan bangunan telah dipetakan dengan pesawat udara nir awak (PUNA/drone) hasil kerjasama BIG, BNPB dan sejumlah lembaga. Sumber: BIG/Hasanudin Z Abidin, 2016

USGS melalui PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquake for Response) memprakirakan sekitar 4,78 juta jiwa tinggal di daerah yang merasakan dampak getaran dari Gempa Pidie Jaya 2016 ini mulai dari getaran berintensitas 4 MMI ke atas. Diantara jumlah tersebut, 371 ribu jiwa diantaranya tinggal di daerah yang merasakan getaran sangat keras dengan intensitas 7 MMI. Dan pemuncaknya, 179 ribu jiwa merasakan getaran berintensitas 8 MMI yang menghancurkan. Kota-kota seperti Sigli dan Meureudu dihajar dengan getaran 7 MMI, sementara kota-kota seperti Bireun, Lhokseumawe dan Banda Aceh merasakan getaran setingkat lebih rendah yakni 6 MMI. Dengan karakteristik semacam ini maka  peluang ambruknya bangunan-bangunan yang menelan korban jiwa dan kerugian material pun terbuka lebar. USGS memprakirakan terdapat peluang 44 % jatuhnya korban jiwa hingga 10 orang dan peluang 38 % untuk jorban jiwa hingga 100 orang. Sementara untuk kerugian material, peluangnya adalah 52 % untuk kerugian hingga Rp 130 milyar.

Gambar 5. Peta intensitas guncangan dan distribusi populasi penduduk setempat (berdasar USGS Landscan 2005) serta daftar kota-kota tertentu yang mengalami getaran (pada intensitas tertent) akibat Gempa Pidie Jaya 2016. Disajikan oleh USGS PAGER. Sumber: USGS, 2016.

Gambar 5. Peta intensitas guncangan dan distribusi populasi penduduk setempat (berdasar USGS Landscan 2005) serta daftar kota-kota tertentu yang mengalami getaran (pada intensitas tertent) akibat Gempa Pidie Jaya 2016. Disajikan oleh USGS PAGER. Sumber: USGS, 2016.

Dalam beberapa hal Gempa Pidie Jaya 2016 mirip dengan peristiwa Gempa Yogyakarta 2006 silam. Diantaranya dalam hal magnitudonya, dimana Gempa Pidie Jaya 2016 memiliki magnitudo momen 6,5 atau hanya sedikit di atas Gempa Yogyakarta 2006 yang bermagnitudo momen 6,4. Juga dalam hal kedalaman sumbernya, dimana kedua gempa sama-sama merupakan gempa dangkal. Kedua gempa juga memiliki sumber yang berdekatan dengan sebuah kota.

Kemiripan lainnya mungkin dalam hal moletrack. Pada gempa bumi tektonik dengan sumber dangkal atau sangat dangkal, pelentingan yang terjadi salam sumber gempanya umumnya akan muncul di paras Bumi tepat di atas sumber gempa sebagai retakan-retakan berpola yang disebut moletrack. Moletrack menjadi indikasi dari surface rupture sebuah gempa bumi tektonik dangkal, sebagai cerminan dari sumber gempa yang ada dibawahnya. Bagaimana dengan Gempa Pidie Jaya 2016 in?  Simulasi yang dikerjakan Aditya Gusman, salah satu peneliti gempa bumi di Indonesia, menunjukkan Gempa Pidie Jaya 2016 mungkin menyebabkan pergeseran permukaan tanah sebesar maksimum 5 sentimeter secara vertikal dan juga 5 sentimeter secara horizontal. Ini pergeseran yang kecil, sehingga mungkin tidak menghasilkan moletrack. Meski untuk memastikan ada tidaknya surface rupture  Gempa Pidie Jaya 2016 masih diselidiki lewat survei lapangan.

Gambar 6. Contoh moletrack yang menandai surface rupture sebuah sumber gempa tektonik dangkal, dalam hal ini adalah kejadian Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 yang magnitudonya hampir sama dengan Gempa Pidie Jaya 2016. Moletrack ini terletak di lintasan sesar besar Sumatra pada segmen Sumani yang berada di Kasiak (Sumatra Barat). Dari moletrack ini diketahui bahwa lokasi di latar depan (ditandai dengan panah ke kiri) telah mengalami pergeseran mendatar 30 cm bersamaan dengan penurunan (subsidens) 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Gambar 6. Contoh moletrack yang menandai surface rupture sebuah sumber gempa tektonik dangkal, dalam hal ini adalah kejadian Gempa ganda Sumatra 6 Maret 2007 yang magnitudonya hampir sama dengan Gempa Pidie Jaya 2016. Moletrack ini terletak di lintasan sesar besar Sumatra pada segmen Sumani yang berada di Kasiak (Sumatra Barat). Dari moletrack ini diketahui bahwa lokasi di latar depan (ditandai dengan panah ke kiri) telah mengalami pergeseran mendatar 30 cm bersamaan dengan penurunan (subsidens) 20 cm. Sumber: Daryono dkk, 2012.

Pertanyaan awamnya, bagaimana gempa ini bisa terjadi? Dan pelajaran apa yang bisa diambil Indonesia darinya?

Teriris

Bukalah aplikasi ataupun program komputer geografis yang populer dari apapun gawai (gadget) anda, seperti Google Maps maupun Google Earth. Bukalah peta pulau Sumatra dan perbesar di bagian ujung utara swarnadwipa ini. Pilih moda peta berupa satellite, kemudian lanjutkan dengan medan. Akan dapat kita lihat betapa kompleksnya tatanan tektonik di sini. Andaikata bumi tanah rencong dapat berkata-kata dan bermain media sosial, ia akan memasang status  “rumit.”

Gambar 7. Estimasi deformasi pada paras bumi di lokasi dan sekitar sumber Gempa Pidie Jaya 2016 secara mendatar/horizontal (kiri) maupun vertikal (kanan). Nampak jika model sumber gempanya berorientasi tenggara-barat laut, maka di kota Sigli dan sekitarnya terjadi pergeseran mendatar hingga 5 cm dan pada saat yang sama juga mengalami pengangkatan sebesar 5 cm pula. Disimulasikan oleh Aditya Gusman. Sumber: Gusman, 2016.

Gambar 7. Estimasi deformasi pada paras bumi di lokasi dan sekitar sumber Gempa Pidie Jaya 2016 secara mendatar/horizontal (kiri) maupun vertikal (kanan). Nampak jika model sumber gempanya berorientasi tenggara-barat laut, maka di kota Sigli dan sekitarnya terjadi pergeseran mendatar hingga 5 cm dan pada saat yang sama juga mengalami pengangkatan sebesar 5 cm pula. Disimulasikan oleh Aditya Gusman. Sumber: Gusman, 2016.

Ujung utara Swarnadwipa dibentuk oleh aktivitas tiga lempeng tektonik yang berbeda. Di sebelah barat ada lempeng India yang merupakan lempeng laut (oseanik) sehingga berat jenisnya lebih tinggi. Lempeng India mengalasi sebagian dasar Samudera Indonesia (Indian Ocean) dan dulu sempat dikira sebagai satu kesatuan dengan lempeng Australia (yang mengalasi sebagian dasar Samudera Indonesia dan membentuk benua Australia). Belakangan disadari bahwa lempeng India dan lempeng Australia adalah dua lempeng yang berbeda dan saling terpisah, yang salah satunya tecermin dari peristiwa gempa ganda Samudera Indonesia 11 April 2012 (magnitudo 8,6 dan 8,2). Sementara di sisi timur bertengger lempeng Sunda, bagian dari lempeng Eurasia. Lempeng Sunda adalah lempeng yang mengalasi kepulauan Indonesia bagian barat.

Terjepit di tengah-tengah lempeng India dan lempeng Sunda di ujung swarnadwipa adalah lempeng Burma, yang mendapat popularitasnya karena bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (magnitudo 9,3) silam. Lempeng Burma  merupakan lempeng mikro karena ukurannya yang kecil, hanya mencakup segenap Kepulauan Andaman, Kepulauan Nicobar, sebagian Laut Andaman dan bagian barat propinsi Aceh. Lempeng mikro Burma semula adalah bagian dari lempeng Eurasia. Namun subduksi lempeng India terhadap lempeng Eurasia di tempat yang sekarang menjadi busur kepulauan Andaman dan Nicobar menyebabkan terbitnya salah satu gejala khas tektonik lempeng, yakni pembentukan cekungan busur belakang (back-arc). Subduksi membuat kerak bumi di bagian belakang busur kepulauan Andaman dan Nicobar, yakni di sisi timurnya, menipis sehingga membentuk cekungan yang tergenangi air laut.

Gambar 8. Peta struktur ujung utara pulau Sumatra yang kompleks, sebagai hasil interaksi nan rumit antara lempeng India, lempeng Sunda dan lempeng mikro Burma. Interaksi ini menyebabkan terbentuknya sejumlah sesar aktif di daratan, yang bakal menjai sumber gempa potensial mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2006.

Gambar 8. Peta struktur ujung utara pulau Sumatra yang kompleks, sebagai hasil interaksi nan rumit antara lempeng India, lempeng Sunda dan lempeng mikro Burma. Interaksi ini menyebabkan terbentuknya sejumlah sesar aktif di daratan, yang bakal menjai sumber gempa potensial mendatang. Sumber: Natawidjaja, 2006.

Lama-kelamaan di tengah cekungan ini terbentuk sesar-sesar turun sebagai retakan panjang, tempat meluapnya cairan panas sangat kental dari lapisan selubung yang membentuk lempeng baru di kedua sisinya. Inilah pusat pemekaran lantai samudera.  Sehingga Laut Andaman pada hakikatnya adalah bayi samudera baru yang masih sangat muda, serupa dengan misalnya Laut Merah di Timur Tengah. Jika proses pemekaran ini berlanjut terus, maka dalam berjuta-juta tahun mendatang Laut Andaman akan bertransformasi menjadi samudera yang baru. Terbentuknya retakan dasar laut Andaman sekaligus memproduksi lempeng mikro Burma, yang mulai terpisah dari lempeng Eurasia sekitar 3 hingga 4 juta tahun silam.

Eksistensi ketiga lempeng tektonik tersebut membuat bumi tanah rencong tercabik-cabik, ibarat kue yang telah dibelah-belah pisau tektonik. Banyak sesar aktif berkembang di sini. Sesar utama adalah sistem sesar besar Sumatra, yang dahulu disebut sesar Semangko. Sesar besar Sumatra adalah sesar aktif sepanjang 1.900 kilometer yang membentang mulai dari kawasan Selat Sunda di selatan hingga Laut Andaman di utara, ‘membelah’ pulau Sumatra menjadi dua bagian yang asimetris. Di daratan Aceh sesar besar ini bercabang dua mulai dari satu lokasi di dekat kota Takengon. Satu cabang adalah segmen Aceh (panjang 230 kilometer) yang melintas tepat di sebelah barat kota Banda Aceh. Sementara cabang kedua adalah segmen Seulimeum (panjang 120 kilometer), yang melintas di sisi timur kota Sabang dan bertanggung jawab pada terjadinya Gempa Aceh 1964 (magnitudo 7,0). Kedua cabang ini sama-sama menerus ke barat laut untuk kemudian bergabung dengan zona retakan dasar Laut Andaman.

Di luar dua cabang utama itu, dari dekat kota Takengon pula berkembang sesar lain yang berbelok ke arah utara sebagai lengkungan mirip sabit. Di sekitar kota Takengon ia dikenal sebagai sesar Takengon yang bersifat sesar naik (thrust). Sementara bagian utaranya dinamakan sesar Samalanga-Sipopok yang pergerakannya bersifat mendatar (strike slip). Lebih jauh ke selatan di sekitar kota Kutacane berkembang pula sesar yang menerus ke arah kota Lhokseumawe. Di bagian selatan sesar ini dikenal sebagai sesar Lokop-Kutacane. Dan di bagian utara dinamakan sesar Lhokseumawe.  Baik sesar Samalanga-Sipopok maupun sesar Lhokseumawe sama-sama menerus ke dasar Laut Andaman dan bergabung dengan sejumlah sesar aktif disana.  Selain sesar-sesar yang tergolong panjang tersebut, bumi tanah rencong juga masih memiliki sejumlah sesar lainnya yang relatif pendek.

Gambar 9. Citra pendahuluan interferometri radar (inSAR) Gempa Pidie Jaya 2016 dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B lewat radas ARIA automatic interferogram. Meski resolusi citranya jelek karena koherensinya sangat rendah (sehingga pola-pola interferensinya tidak terlalu jelas), namun terkesan bahwa deformasi terbesar akibat gempa ini berada di sekitar lintasan sesar Samalanga-Sipopok di dekat kota Meureudu. Sumber: Fielding, 2016.

Gambar 9. Citra pendahuluan interferometri radar (inSAR) Gempa Pidie Jaya 2016 dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B lewat radas ARIA automatic interferogram. Meski resolusi citranya jelek karena koherensinya sangat rendah (sehingga pola-pola interferensinya tidak terlalu jelas), namun terkesan bahwa deformasi terbesar akibat gempa ini berada di sekitar lintasan sesar Samalanga-Sipopok di dekat kota Meureudu. Sumber: Fielding, 2016.

Dengan bumi yang tercabik-cabik tektonik demikian rupa, maka dapat dikatakan bahwa segenap penjuru daratan tanah rencong merupakan kawasan rawan gempa. Baik pesisir barat maupun pesisir timur.  Inilah yang membedakan Aceh dengan bagian pulau Sumatra lainnya dimana kawasan rawan gempa terlokalisir hanya di pesisir barat dan di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan tempat lintasan sesar besar Sumatra.

Pelajaran

Sumber Gempa Pidie Jaya 2016 berada di dekat lintasan sesar Samalanga-Sipopok, sehingga sejumlah pihak menduga bahwa sesar itulah yang bertanggung jawab atas peristiwa gempa tersebut. Meskipun revisi parameter gempa baik oleh BMKG maupun USGS tidak lagi menempatkan episentrumnya persis di atas lintasan sesar Samalanga-Sipopok. Analisis interferometri radar berbasis citra radar dari satelit Sentinel-1A dan Sentinel-1B yang dikerjakan Eric Fielding, cendekiawan kebumian dari California Institute of Technology (Amerika Serikat) mengindikasikan bahwa lokasi sumber gempa memang berhubungan dengan sesar Samalanga-Sipopok. Namun ini pun masih sementara. Butuh survei lapangan untuk memastikan hal tersebut. Misalnya dengan mengukur pergerakan titik-titik tertentu melalui sistem pemosisian global (GPS).

Gambar 10. Lokasi stasiun-stasiun pemantau GPS dalam jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System). Profile A dan profile B menunjukkan dua baris kelurusan yang sengaja ditentukan dalam pemasangan stasiun pantau tersebut. Lewat pergerakan yang direkam jejaring ini diketahui masih ada potensi gempa besar di daratan propinsi Aceh bagian selatan. Sumber: Ito dkk, 2012.

Gambar 10. Lokasi stasiun-stasiun pemantau GPS dalam jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System). Profile A dan profile B menunjukkan dua baris kelurusan yang sengaja ditentukan dalam pemasangan stasiun pantau tersebut. Lewat pergerakan yang direkam jejaring ini diketahui masih ada potensi gempa besar di daratan propinsi Aceh bagian selatan. Sumber: Ito dkk, 2012.

Pasca 2004 TU, muncul pertanyaan besar di kalangan cendekiawan kebumian tentang apakah tekanan sangat besar yang ditimbulkan peristiwa gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 terhantar ke daratan dan memberikan beban tambahan tekanan kepada sesar-sesar aktif di ujung utara pulau Sumatra ataukah tidak. Untuk menjawabnya maka telah digelar jejaring AGNeSS (Aceh GPS Network for Sumatran fault System) sejak 2005 TU. Jejaring ini ‘menanam’ 7 stasiun pengamatan GPS kontinu dan 20 stasiun pengamatan episodik. ‘Penanaman’ stasiun-stasiun pemantauan yang rapat membuat pergerakan yang disebabkan oleh Gempa Pidie Jaya 2016 bisa diukur dan dianalisis, meski butuh waktu.

Ada dua pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa memilukan ini. Yang pertama, bagi tanah rencong Gempa Pidie Jaya 2016 bukanlah peristiwa terakhir. Potensi gempa tektonik di daratan Aceh masih tetap terbuka. Jejaring AGNeSS menunjukkan bahwa sesar besar Sumatra di bagian selatan propinsi Aceh menunjukkan tanda-tanda potensi untuk memproduksi gempa besar (magnitudo ~7) di masa depan. Belum sesar-sesar yang lain. Sementara bagi Indonesia, gempa ini kembali menjadi pengingat bahwa banyak kawasan yang rawan gempa di negeri ini. Sekurangnya 60 % kota di Indonesia didirikan di atas sesar, sehingga kemungkinan terjadinya peristiwa gempa bumi yang menyerang kota masih tetap terbuka. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap perlu dipertahankan.

Referensi :

Barber & Crow. 2005. Sumatra, Geology Resources and Tectonic Evolution, in Chapter 4: Pre-Tertiary Stratigraphy. Geological Society, London, Memoirs, 31 pp 24-53.

USGS. 2016. M6.5 – 19 km SE of Sigli, Indonesia. USGS National Earthquake Information Center

Ito dkk. 2012. Isolating Along-strike Variations in the Depth Extent of Shallow Creep and Fault Locking on the Northern Great Sumatran Fault. Journal of the Geophysical Research, vol. 117 B06409.

Daryono, 2016, komunikasi pribadi.

Aditya Gusman, 2016, komunikasi pribadi.

Eric Fielding, 2016, komunikasi pribadi.

Kupas-Hoax: Bila Bumi Datar, Maka Arah Kiblat di Indonesia (Hampir) ke Utara

Ada sebuah riakan yang sedang mencoba menggeliat pada  semesta Indonesia dalam setahun terakhir. Riakan tersebut bertajuk Bumi datar. Ya Bumi datar, gagasan yang sejatinya telah demikian lama ditinggalkan peradaban manusia seiring melimpahnya bukti-bukti ilmiah gagasan oposannya (yakni Bumi bulat) dalam rentangan masa. Terlebih di masakini, tatkala penerbangan antariksa sudah menjadi rutinitas khususnya bagi sejumlah bangsa dan ilmu pengetahuan telah melangkah demikian jauh keluar dari Bumi kita dan lingkungannya mengeksplorasi semesta yang seakan tak bertepi. Kini kita tak lagi memahami Bumi sebagai raksasa di jagat raya yang kecil, namun hanyalah setitik debu di sudut alam raya yang demikian luas.

Gagasan Bumi datar sejatinya tak pernah benar-benar hilang meski telah tersisih sepenuhnya dari dunia ilmu pengetahuan semenjak berabad silam. Ia tetap hidup dan mendapat asupan nutrisi memadai dalam sejumlah komunitas kecil yang ultra konservatif dan cenderung antisains. Terutama pada sekte-sekte Kristiani tertentu yang tumbuh subur di daratan Amerika Serikat. Gagasan itu hidup dalam lingkungan yang dipenuhi nada konspirasi akan segala hal, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam lingkungan tersebut, segala perkembangan maju ilmu pengetahuan yang diraih umat manusia pada zaman ini diklaim tak lebih dari pembohongan massif hasil konspirasi para cendekiawan sejagat.

Di tahun 1893 Tarikh Umum (TU), seorang konservatif bernama Orlando Ferguson menggambar peta Bumi datar. Peta inilah yang menjadi pijakan gagasan Bumi datar pada saat ini. Bedanya, Orlando Ferguson mengklaim Bumi datar berbentuk kotak dengan cekungan Bulat di tengahnya. Sementara gagasan Bumi datar masa kini secara diam-diam menghilangkan bentuk kotak itu.

Gambar 1. Peta Bumi datar menurut Orlando Ferguson, berangka tahun 1893 TU. Dalam peta yang bernafas Kristiani ini, seperti tersurat dari kutipan ayat-ayat Injil, Bumi dianggap berbentuk persegi panjang yang masing-masing sudutnya dijaga sesosok malaikat. Namun seluruh daratan dan lautan terletak dalam cekungan berbentuk lingkaran di dalam kotak. Sumber: Ferguson, 1893 dalam arsip Library of Congress, United States.

Gambar 1. Peta Bumi datar menurut Orlando Ferguson, berangka tahun 1893 TU. Dalam peta yang bernafas Kristiani ini, seperti tersurat dari kutipan ayat-ayat Injil, Bumi dianggap berbentuk persegi panjang yang masing-masing sudutnya dijaga sesosok malaikat. Namun seluruh daratan dan lautan terletak dalam cekungan berbentuk lingkaran di dalam kotak. Sumber: Ferguson, 1893 dalam arsip Library of Congress, United States.

Revolusi teknologi informasi dengan hadirnya internet di awal abad ke-21 membuat gagasan tersebut pun mulai tersebar keluar dalam aneka rupa cerita dan multimedia. Ia pun mulai disambut oleh kalangan di luar komunitas klasiknya, termasuk sejumlah pemeluk Islam. Bagi sejumlah kalangan Muslim, gagasan Bumi datar dirasa cocok dengan terjemah literal sejumlah ayat dalam al-Qur’an. Ia juga dianggap bersesuaian dengan pendapat sejumlah penafsir (mufassirin) Qur’an era klasik. Lebih lanjut lagi, gagasan Bumi datar dianggap bisa melengkapi gagasan aneh lainnya, yakni Matahari mengelilingi Bumi, sekaligus memperkukuh sikap ‘anti hegemoni Barat’ yang selama ini digaungkan.

Gagasan Bumi datar zaman ini mendeskripsikan bahwa Bumi adalah datar. Yup datar seperti papan raksasa. Titik pusat papan adalah kutub utara, sementara kutub selatan berupa tembok es yang membatasi bidang Bumi. Tembok es ini diklaim dijaga sangat ketat oleh sejumlah negara. Sementara langit berbentuk kubah dengan ketinggian tertentu. Matahari hanya berjarak 5.000 kilometer di atas paras Bumi datar. Matahari beredar dalam lintasannya yang mengelilingi proyeksi vertikal kutub utara menuju kubah langit. Demikian halnya Bulan dan benda-benda langit lainnya. Baik Bulan maupun Matahari diklaim tidaklah berukuran besar. Bersama bintang dan benda-benda langit lainnya, Matahari dan Bulan diklaim sebagai serakan api di dalam kubah langit.

Penggambaran akan bentuk Bumi yang datar dan dilingkupi (ditutupi) oleh kubah langit itu sekilas mengingatkan kita pada dongeng mitologis rakyat Jermania tentang raksasa Ymir. Ymir sang raksasa yang kemudian tewas dan tubuhnya membentuk daratan (datar). Sedangkan batok kepalanya menjadi kubah raksasa yang menutupi daratan. Sehingga daratan itu gelap sepenuhnya. Demikian halnya deskripsi Matahari, Bulan, bintang dan benda-benda langit sebagai serakan api untuk menghias dan menerangi kubah langit, yang sekali lagi mirip sekali dengan penggambaran mitologi yang sama. Dongeng rakyat Jermania itu menuturkan, agar daratan (Bumi) tidak kegelapan maka para dewa memungut api Muspelheim dan menyebarkannya ke dalam kubah batok kepala Ymir hingga menjadi percikan-percikan.

Gambar 2. Peta Bumi datar modern. Sejatinya ini adalah peta Bumi dalam proyeksi azimuthal sama-jarak (equidistant), namun oleh pemuja model Bumi datar dibajak dan diklaim sebagai gambaran sesungguhnya tentang Bumi. Perhatikan bahwa bentuk peta ini hampir sama persis dengan Peta Ferguson 1893, hanya saja pemuja model Bumi datar modern diam-diam menghilangkan bentuk persegi panjang di luar lingkaran. Sumber: Anonim, 2016.

Gambar 2. Peta Bumi datar modern. Sejatinya ini adalah peta Bumi dalam proyeksi azimuthal sama-jarak (equidistant), namun oleh pemuja model Bumi datar dibajak dan diklaim sebagai gambaran sesungguhnya tentang Bumi. Perhatikan bahwa bentuk peta ini hampir sama persis dengan Peta Ferguson 1893, hanya saja pemuja model Bumi datar modern diam-diam menghilangkan bentuk persegi panjang di luar lingkaran. Sumber: Anonim, 2016.

Baiklah, tulisan ini hanya ingin menekankan pada satu aspek semata. Yakni bagaimana arah kiblat Umat Islam khususnya di Indonesia dan Asia tenggara pada umumnya terkait gagasan Bumi datar. Riset yang saya lakukan, yang akan dipaparkan secara ringkas di bawah ini, menyimpulkan dengan gamblang betapa Umat Islam di Indonesia harus dipaksa menghadapkan wajah lebih ke utara pada saat menunaikan ibadah shalat jika mempercayai gagasan Bumi datar. Konsekuensinya sangat serius, sebab dengan demikian maka arah kiblat di Indonesia akan dipaksa melenceng mulai dari sebesar +14° di Banda Aceh hingga sebesar +38° di Merauke. Dalam kata-kata lain, jika kita mempercayai gagasan Bumi datar maka kita harus memaksa arah kiblat untuk melenceng sejauh antara 1.800 kilometer (Banda Aceh) hingga 4.300 kilometer (Merauke) dari lokasi Ka’bah yang sesungguhnya.

Konsep Arah Kiblat Bumi Datar

Menghadap kiblat merupakan satu hal yang esensial bagi Umat Islam sejagat. Sebab merupakan bagian dari syarat sahnya shalat. Dan menghadap kiblat sangat erat hubungannya dengan arah kiblat. Dalam situasi darurat yakni tatkala seorang Muslim mengalami kondisi buta arah, terdapat keringanan untuk menentukan arah kiblat sendiri ke arah manapun yang diyakini. Namun tidak demikian halnya bila ia tahu kedudukan dan arah mataangin yang tepat di lokasinya. Teladan dan tutur dari Rasulullah SAW menjadi pegangan betapa pentingnya menentukan arah kiblat secara tepat hingga ke tingkatan tertentu.

Gambar 3. Ilustrasi peristiwa pemindahan kiblat pada saat perintah berkiblat ke Ka'bah diturunkan, dengan latar belakang citra satelit Masjid Qiblatain masakini di kotasuci Madinah (Saudi Arabia). Sebelum surat al-Baqarah ayat 144 diturunkan, Rasulullah SAW dan para sahabat menunaikan shalat Dhuhur berjamaah dengan menghadap ke Masjidil Aqsha (utara). Namun begitu ayat tersebut diturunkan, mereka beralih dengan menghadap ke Ka'bah/Masjidil Haram (selatan) tanpa membatalkan shalat. Sumber: Sudibyo, 2012.

Gambar 3. Ilustrasi peristiwa pemindahan kiblat pada saat perintah berkiblat ke Ka’bah diturunkan, dengan latar belakang citra satelit Masjid Qiblatain masakini di kotasuci Madinah (Saudi Arabia). Sebelum surat al-Baqarah ayat 144 diturunkan, Rasulullah SAW dan para sahabat menunaikan shalat Dhuhur berjamaah dengan menghadap ke Masjidil Aqsha (utara). Namun begitu ayat tersebut diturunkan, mereka beralih dengan menghadap ke Ka’bah/Masjidil Haram (selatan) tanpa membatalkan shalat. Sumber: Sudibyo, 2012.

Hal itu dapat dilihat misalnya dalam peristiwa berbaliknya Rasulullah SAW dan para sahabat di Madinah dari semula menghadap ke utara menjadi menghadap ke selatan tatkala menunaikan ibadah shalat Dhuhur bersamaan dengan turunnya ketetapan  Ka’bah adalah kiblat Umat Islam. Begitu halnya dengan perintah Rasulullah SAW kepada sahabat Wabir ibn Yuhannas al-Khuza’i RA yang hendak berangkat ke Yaman. Perintah tersebut menekankan bahwa arah kiblat bagi penduduk kota adalah dengan jalan memandang lurus ke arah Gunung Jabal Dayn tatkala mereka berdiri di Bathan, salah satu bagian kota yang saat itu berupa taman. Pengukuran modern di lokasi tersebut melalui fenomena Istiwa’ Azzam memperlihatkan kebenaran sabda Rasulullah SAW, dimana antara taman Bathan dengan Gunung Jabal Dayn dan Ka’bah tepat berada dalam satu garis lurus.

Gambar 4. Citra satelit yang menggambarkan bagaimana jika penduduk kota San'a berdiri di taman Bathan (kini Masjid Jami' al-Kabir) dengan menghadap ke arah Gunung Jabal Dayn (atas), maka pada hakikatnya mereka tepat menghadap ke Ka'bah (bawah). Garis lurus merupakan garis sepanjang 815 kilometer yang menghubungkan taman Bathan dengan Ka'bah, dimana garis tersebut tepat melintas di lokasi Gunung Jabal Dayn. Sumber: Sudibyo, 2012.

Gambar 4. Citra satelit yang menggambarkan bagaimana jika penduduk kota San’a berdiri di taman Bathan (kini Masjid Jami’ al-Kabir) dengan menghadap ke arah Gunung Jabal Dayn (atas), maka pada hakikatnya mereka tepat menghadap ke Ka’bah (bawah). Garis lurus merupakan garis sepanjang 815 kilometer yang menghubungkan taman Bathan dengan Ka’bah, dimana garis tersebut tepat melintas di lokasi Gunung Jabal Dayn. Sumber: Sudibyo, 2012.

Arah kiblat pada dasarnya merupakan arah menuju ke kiblat yang mengikuti jarak terpendek antara sebuah tempat terhadap kiblat. Pengertian arah disini sejatinya merupakan pengertian umum. Misalnya seseorang yang sedang berada di kota Bandung hendak mencari arah Jakarta. Maka arah yang logis ditempuhnya adalah ke barat laut, sebab itulah jarak terpendek antara Bandung dengan Jakarta  secara geometris. Jika ia mengambil arah yang berlawanan, yakni ke tenggara, maka ia justru mengambil jarak yang terjauh. Apabila tetap memaksakan diri ke tenggara, ia tetap akan tiba di Jakarta namun dalam waktu tempuh yang amat sangat lama. Sebaliknya jika ia mengambil arah ke utara atau ke selatan maka sampai kapanpun ia mustahil tiba di Jakarta. Karena arahnya keliru.

Dalam perspektif geometri, cara menentukan arah dari suatu titik menuju ke suatu tempat adalah dengan menggunakan segitiga. Baik di permukaan datar (seperti halnya gagasan Bumi datar) maupun di permukaan lengkung. Dari segitiga tersebut, maka arah dapat ditentukan sebagai sebuah sudut yang dihitung dari garis referensi universal (misalnya arah Utara sejati). Nilai arah diturunkan dari persamaan-persamaan trigonometri, dimana untuk permukaan datar berlaku trigonometri segitiga planar (datar) sementara pada permukaan melengkung seperti bola berlaku trigonometri segitiga bola. Cendekiawan Muslim di era keemasannya memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam pembentukan pengetahuan trigonometri yang kini kita pahami dalam geometri.

Gambar 5. Ilustrasi arah ke Jakarta jika hendak berangkat dari Bandung dalam peta. Panah kuning utuh menunjukkan jarak terdekat Bandung-Jakarta yang menjadikannya arah ke Jakarta paling rasional, yakni ke barat laut. Panah kuning putus-putus menunjukkan jarak terjauh Bandung-Jakarta, rute yang tidak rasional namun masih akan tiba di Jakarta dalam waktu yang sangat lama (ke tenggara). Sebaliknya kedua panah merah utuh menunjukkan arah ke Jakarta yang mustahil, karena sampai kapanpun bila mengikuti kedua arah tersebut maka takkan tiba di tempat tujuan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps.

Gambar 5. Ilustrasi arah ke Jakarta jika hendak berangkat dari Bandung dalam peta. Panah kuning utuh menunjukkan jarak terdekat Bandung-Jakarta yang menjadikannya arah ke Jakarta paling rasional, yakni ke barat laut. Panah kuning putus-putus menunjukkan jarak terjauh Bandung-Jakarta, rute yang tidak rasional namun masih akan tiba di Jakarta dalam waktu yang sangat lama (ke tenggara). Sebaliknya kedua panah merah utuh menunjukkan arah ke Jakarta yang mustahil, karena sampai kapanpun bila mengikuti kedua arah tersebut maka takkan tiba di tempat tujuan. Sumber: Sudibyo, 2016 dengan basis Google Maps.

Dalam hal arah kiblat, baik di permukaan datar maupun melengkung, kita membutuhkan informasi tentang tiga titik. Yakni titik lokasi yang hendak kita tentukan arah kiblatnya, lalu titik Kutub Utara dan selanjutnya titik Makkah (dimana Ka’bah berada). Informasi terkait titik-titik tersebut dicerminkan oleh koordinat geografisnya. Dalam gagasan Bumi datar, masalah koordinat geografis ini lumayan ribet mengingat koordinat garis lintang dan garis bujur yang tersaji pada saat ini adalah yang bertumpu pada konsep Bumi bulat. Karena itu saya mengembangkan sistem koordinat tersendiri dengan bertumpu pada koordinat Cartesian, yang lantas dikorelasikan (disetarakan) dengan koordinat garis lintang dan garis bujur.

Dengan telah diketahuinya koordinat titik-titik Kutub Utara dan Makkah, maka tinggal berkonsentrasi pada penentuan nilai sudut arah. Dalam gagasan Bumi datar (atau secara matematis disebut model Bumi datar), karena berbasis trigonometri segitiga planar maka digunakan aturan cosinus sebagai berikut :

Gambar 6. Geometri segitiga planar, koordinat dan persamaan aturan cosinus untuk menghitung arah kiblat model Bumi datar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 6. Geometri segitiga planar, koordinat dan persamaan aturan cosinus untuk menghitung arah kiblat model Bumi datar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Sedangkan pada konsep Bumi bulat (atau secara matematis disebut model Bumi bulat), maka basisnya adalah trigonometri segitiga bola dengan salah satu rumus yang digunakan sebagai berikut :

Gambar 7. Geometri segitiga bola, koordinat dan persamaan untuk menghitung arah kiblat model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 016 dengan basis Google Earth.

Gambar 7. Geometri segitiga bola, koordinat dan persamaan untuk menghitung arah kiblat model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 016 dengan basis Google Earth.

Penelitian

Area penelitian dibatasi pada  bagian Bumi yang terletak di antara garis lintang 15° LU hingga 15° LS dan di antara garis bujur 90° BT hingga 150° BT. Area tersebut mencakup segenap Indonesia dan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, sebagian Papua Nugini, sebagian Thailand, sebagian Myanmar, sebagian Vietnam, sebagian India (khususnya kepulauan Andaman dan Nicobar) dan sedikit Australia bagian utara.

Nilai arah kiblat dalam penelitian ini adalah nilai sudut antara arah Utara sejati dengan arah menuju kiblat di lokasi tersebut. Nilai itu lantas dinyatakan sesuai standar astronomi sebagai nilai azimuth. Azimuth adalah busur yang ditarik dari arah Utara sejati menuju ke timur hingga tiba di posisi arah kiblat yang dimaksud. Dalam sistem ini, Utara sejati memiliki azimuth 0 (nol) atau 360, sementara Timur berazimuth 90, Selatan berazimuth 180 dan Barat berazimuth 270. Jika misalnya arah kiblat adalah 25° ke sebelah utara dari arah Barat, maka dalam sistem azimuth dinyatakan sebagai azimuth kiblat 295.

Hasil perhitungan azimuth kiblat model Bumi datar dan perbandingannya dengan azimuth kiblat model Bumi bulat untuk area penelitian dinyatakan dalam tabel berikut :fe-tabel1_perbandingan-aq

Terlihat jelas ada selisih yang signifikan antara azimuth kiblat model Bumi datar dengan azimuth kiblat dalam konsep Bumi bulat. Dimana seluruh nilai azimuth kiblat Bumi datar adalah lebih besar. Selisihnya berkisar mulai yang terkecil +8,3° di koordinat 15° LU 105° BT hingga yang terbesar  +46,3° di koordinat 15° LS 150° BT (tanda + menunjukkan nilai azimuth kiblat Bumi datar lebih besar ketimbang azimuth kiblat Bumi bulat).

Temuan menarik lainnya adalah pola pada garis-garis isokiblatnya. Garis isokiblat adalah sebuah garis yang menghubungkan titik-titik di paras Bumi yang memiliki nilai azimuth kiblat yang persis sama. Garis-garis isokiblat untuk area penelitian baik dalam model Bumi datar maupun model Bumi bulat disajikan sebagai berikut :

Gambar 8. Perbandingan garis-garis isokiblat untuk area penelitian antara model Bumi datar (atas) dan model Bumi bulat (bawah). Perhatikan kedua model menghasilkan garis-garis isokiblat dengan orientasi yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut menjadi indikasi bahwa arah kiblat dalam model Bumi datar memiliki perbedaan dengan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 8. Perbandingan garis-garis isokiblat untuk area penelitian antara model Bumi datar (atas) dan model Bumi bulat (bawah). Perhatikan kedua model menghasilkan garis-garis isokiblat dengan orientasi yang sangat berbeda. Perbedaan tersebut menjadi indikasi bahwa arah kiblat dalam model Bumi datar memiliki perbedaan dengan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sumber: Sudibyo, 2016.

Terlihat jelas bahwa pola garis-garis isokiblat model Bumi datar jauh berbeda dengan garis isokiblat model Bumi bulat. Dalam model Bumi datar, orientasi garis isokiblatnya adalah seragam dari barat daya menuju timur laut. Sementara dalam model Bumi bulat, orientasi garis isokiblatnya bervariasi dan unik. Sebagian berorientasi dari selatan dan tenggara menuju barat laut. Sebagian lagi dari utara dan timur laut menuju barat laut. Bahkan ada yang berorientasi dari selatan menuju tenggara dan juga dari utara menuju tenggara. Keunikan ini terjadi karena Indonesia menjadi salah satu dari hanya dua tempat unik di Bumi terkait arah kiblat. Yakni karena memiliki lokasi di garis khatulistiwa yang tepat berjarak 90° (seperempat belahan bola Bumi) dari Ka’bah. Lokasi tersebut berada di Indonesia bagian timur , tepatnya di garis bujur 130° BT yang terletak di dekat pulau Waigeo dan termasuk ke dalam kawasan kabupaten Raja Ampat (Papua Barat). Satu titik istimewa lainnya terletak di muara Sungai Amazon (Brazil) di benua Amerika bagian selatan.

Selisih angka yang signifikan dalam nilai azimuth kiblat dan perbedaan mendasar orientasi garis-garis isokiblatnya memperlihatkan bahwa arah kiblat model Bumi datar adalah berbeda dibandingkan dengan arah kiblat model Bumi bulat. Dengan kata lain, meski sama-sama berkiblat ke titik yang satu dalam hal ini Ka’bah atau Masjidil Haram atau wilayah tanah haram Makkah al-Mukarramah jika mengacu pada klasifikasi kiblat (lihat Sudibyo, 2012), namun arah kiblat model Bumi datar ternyata berbeda dibanding arah kiblat model Bumi bulat. Perbedaan antara keduanya berimplikasi pada satu konsekuensi pahit: tentu ada model yang benar sementara model lainnya keliru.

Maka, mana yang benar? Apakah arah kiblat model Bumi datar? Ataukah arah kiblat model Bumi bulat?

Bumi Datar Keliru

Astronomi atau ilmu falak tak hanya sekedar berkemampuan menghasilkan model dan menyajikan perhitungan matematis terkait azimuth kiblat, baik dalam model Bumi datar maupun model Bumi bulat. Melainkan juga berkemampuan mengujinya secara empiris, berdasarkan pengukuran langsung di lapangan. Ada beragam cara guna mengukur arah kiblat bagi suatu tempat. Pada prinsipnya cara pengukuran arah kiblat adalah dengan mengukur kedudukan arah-arah mataangin tertentu di lokasi tersebut, pengukuran yang bisa dilakukan misalnya dengan bantuan kompas magnetik ataupun dengan posisi benda langit.

Pengukuran dengan kompas magnetik memungkinkan kita untuk mengetahui kedudukan arah Utara sejati, tentunya setelah faktor-faktor pengganggu dieliminasi mulai dari deklinasi magnetik hingga badai Matahari. Hal serupa juga dapat dilakukan dengan pengukuran terhadap posisi benda-benda langit. Namun dalam hal benda langit, terdapat satu keistimewaan. Yakni kita bisa memperoleh langsung nilai azimuth kiblat suatu tempat manakala benda langit tersebut tepat berada di titik zenith kiblat. Atau dalam bahasa ilmu falak, saat benda langit tersebut mengalami Istiwa’ Azzam di kiblat.

Gambar 9. Citra fenomena Istiwa' Azzam di kota Surakarta (Jawa Tengah) pada 13 Oktober 2010 TU pada radas jam Matahari bencet) di Masjid Tegalsari. Jam Matahari ini memungkinkan berkas sinar Matahari masuk ke dalam masjid sehingga proyeksinya bisa disaksikan secara langsung di lantai masjid. Nampak proyeksi cakram Matahari tepat sedang menyentuh titik proyeksi zenith Surakarta, fenomena yang hanya terjadi dua kali setahun di tempat itu. Sumber: Sugeng Riyadi, 2010.

Gambar 9. Citra fenomena Istiwa’ Azzam di kota Surakarta (Jawa Tengah) pada 13 Oktober 2010 TU pada radas jam Matahari bencet) di Masjid Tegalsari. Jam Matahari ini memungkinkan berkas sinar Matahari masuk ke dalam masjid sehingga proyeksinya bisa disaksikan secara langsung di lantai masjid. Nampak proyeksi cakram Matahari tepat sedang menyentuh titik proyeksi zenith Surakarta, fenomena yang hanya terjadi dua kali setahun di tempat itu. Sumber: Sugeng Riyadi, 2010.

Salah satu benda langit yang berkemampuan seperti itu adalah Matahari. Setiap tahun Tarikh Umum, yakni pada tanggal 28 Mei pukul 12:16 waktu Arab Saudi dan tanggal 16 Juli pukul pukul 12:26 waktu Arab Saudi, Matahari akan berkedudukan di titik zenith kotasuci Makkah. Hal itu berlaku untuk tahun basitas (tahun biasa), sementara untuk tahun kabisat tanggalnya maju sehari lebih awal. Pada saat itu sebuah benda panjang (misal tiang) yang didirikan demikian rupa di kotasuci Makkah sehingga berkedudukan tegak lurus paras air rata-rata setempat akan kehilangan bayang-bayangnya tepat pada saat Matahari berada di titik zenith Makkah.

Inilah hari tanpa bayang Matahari atau Istiwa’ Azzam di kotasuci Makkah. Fenomena menghilangnya bayang-bayang akibat Istiwa’ Azzam sejatinya tidak hanya terjadi di kotasuci Makkah saja. Namun juga dialami setiap tempat dimanapun di Bumi sepanjang terletak di antara garis lintang 23° 27′ LU hingga 23° 27′ LS. Misalnya kota Kebumen (propinsi Jawa Tengah), dengan posisinya di garis bujur 7° 40′ LS maka ia juga mengalami situasi hari tanpa bayang Matahari yang terjadi setiap tanggal 1 Maret dan 13 Oktober. Jadi tak hanya titik-titik lokasi di sepanjang garis khatulistiwa’ saja yang bisa mengalaminya seperti  tuturan urban legend.

Gambar 10. Ilustrasi fenomena Hari Kiblat, yakni Istiwa' Azzam di Ka'bah. Tatkala Matahari dalam kondisi demikian, yang terjadi dua kali setiap tahunnya, maka bayang-bayang obyek yang terpasang tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan azimuth kiblat setempat. Fenomena ini juga menyajikan peluang pengukuran arah kiblat dengan ketelitian sangat tinggi. Sumber: Mutoha Arkanuddin, 2006.

Gambar 10. Ilustrasi fenomena Hari Kiblat, yakni Istiwa’ Azzam di Ka’bah. Tatkala Matahari dalam kondisi demikian, yang terjadi dua kali setiap tahunnya, maka bayang-bayang obyek yang terpasang tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan azimuth kiblat setempat. Fenomena ini juga menyajikan peluang pengukuran arah kiblat dengan ketelitian sangat tinggi. Sumber: Mutoha Arkanuddin, 2006.

Pada saat kotasuci Makkah mengalami Istiwa’  Azzam, maka pada dimanapun tempatnya di Bumi sepanjang tersinari cahaya Matahari pada saat itu akan mengalami situasi unik. Yakni bayang-bayang benda yang didirikan tegaklurus paras air rata-rata setempat akan tepat berimpit dengan arah kiblat setempat. Inilah yang kemudian menjadi populer sebagai Hari Kiblat. Hari Kiblat adalah waktu yang istimewa karena hanya pada saat itu pengukuran kiblat dapat dilaksanakan dengan akurasi sangat tinggi dengan cara yang paling sederhana. Dengan membandingkan nilai hasil pengukuran azimuth kiblat pada saat Hari Kiblat terhadap hasil perhitungan azimuth kiblat, maka akan dapat diuji mana yang lebih tepat apakah model Bumi datar ataukah model Bumi bulat.

Berdasarkan pengukuran di dua lokasi berbeda dalam waktu yang berbeda pula, diketahui bahwa arah kiblat model Bumi bulat adalah konsisten. Untuk kota Kebumen (Jawa Tengah) misalnya, hasil perhitungan menunjukkan azimuth kiblatnya 295. Pengukuran dengan menggunakan bayang Matahari pada saat Hari Kiblat juga menghasilkan azimuth kiblat 295, dalam batas ketelitian pengukuran setelah dikomparasikan dengan kompas magnetik. Demikian halnya di Jakarta. Perhitungan menunjukkan azimuth kiblatnya juga 295. Sementara pengukuran pengukuran bayang Matahari saat Hari Kiblat juga menghasilkan azimuth kiblat 295.

Sebaliknya arah kiblat model Bumi datar sangat tidak konsisten. Perhitungan di kota Kebumen menghasilkan nilai azimuth kiblat model Bumi datar sebesar 320. Namun saat diukur dengan bayang Matahari pada saat Hari Kiblat, ternyata bayang-bayang tersebut (yang berimpit dengan arah kiblat Kebumen) jatuh pada azimuth 295. Demikian halnya di Jakarta. Perhitungan menghasilkan nilai azimuth kiblat sebesar 318, namun pengukuran bayang Matahari saat Hari Kiblat menghasilkan bayang-bayang (yang adalah arah kiblat Jakarta) yang jatuh pada azimuth 295.

Gambar 11. Diagram azimuth kiblat model Bumi datar (warna biru) dan model Bumi bulat (warna merah) untuk lokasi Kebumen (propinsi Jawa Tengah) dan Jakarta (propinsi DKI Jakarta) beserta hasil perhitungan dan pengukuran pada saat Hari Kiblat. Terlihat jelas bahwa hasil pengukuran hanya bersesuaian dengan perhitungan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sementara perhitungan dengan model Bumi datar memiliki selisih cukup besar dibanding hasil pengukurannya. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 11. Diagram azimuth kiblat model Bumi datar (warna biru) dan model Bumi bulat (warna merah) untuk lokasi Kebumen (propinsi Jawa Tengah) dan Jakarta (propinsi DKI Jakarta) beserta hasil perhitungan dan pengukuran pada saat Hari Kiblat. Terlihat jelas bahwa hasil pengukuran hanya bersesuaian dengan perhitungan arah kiblat dalam model Bumi bulat. Sementara perhitungan dengan model Bumi datar memiliki selisih cukup besar dibanding hasil pengukurannya. Sumber: Sudibyo, 2016.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa untuk kota Kebumen, bayang Matahari saat Istiwa’ Azzam akan berada di azimuth 320 hanya jika posisi kotasuci Makkah jauh lebih ke utara dibanding sekarang. Demikian halnya untuk kota Jakarta. Ekstrapolasi dari azimuth 320 (Kebumen) dan azimuth 318 (Jakarta) menghasilkan titik koordinat di sekitar Laut Kaspia, berdekatan dengan negara bagian  Chechnya (Rusia). Dengan kata lain, agar hasil pengukuran bayang Matahari saat Istiwa’ Azzam bersesuaian dengan hasil perhitungan azimuth kiblat model Bumi datar untuk Jakarta dan Kebumen, maka posisi Ka’bah harus berada di sekitar Laut Kaspia. Tentu ini mustahil.  Di sisi yang lain, Matahari juga tidak mungkin mengalami Istiwa’ Azzam di atas Laut Kaspia, mengingat gerak semu tahunan Matahari membatasinya hanya bisa mengalami Istiwa’ Azzam di  antara Garis Balik Utara atau Tropic of Cancer (yakni garis lintang 23° 27′ LU) hingga Garis Balik Selatan atau Tropic of Capricorn (yakni garis lintang 23° 27′ LS) saja.

Ketidakkonsistenan ini menunjukkan bahwa ada yang keliru dalam model Bumi datar. Penelitian lanjutan, yang akan dipaparkan dalam tulisan berikutnya (tidak dalam artikel ini), juga memperlihatkan besarnya inkonsistensi model Bumi datar antara perhitungan dengan hasil pengamatan/pengukuran dalam aspek-aspek ibadah Umat Islam lainnya. Yakni dalam hal waktu shalat, hilaal dan gerhana.

Implikasi dan Kesimpulan

Kelirunya model Bumi datar dalam hal arah kiblat membawa implikasi yang jauh lebih serius. Seorang Muslim yang meyakini bahwa model Bumi datar adalah benar seharusnya juga konsisten untuk mengubah arah kiblat shalatnya menjadi lebih ke utara dibanding yang dipedomani di Indonesia saat ini.

Misalnya di Kebumen, seharusnya ia mengarah ke azimuth 320 yang berarti lebih miring atau bergeser 25° ke utara dibanding arah kiblat yang tepat. Demikian halnya di Jakarta, seharusnya ia juga mengarah ke azimuth 318 atau bergeser 23° lebih ke utara.  Namun pergeseran ini  akan berimplikasi serius. Mengingat model Bumi datar adalah keliru kala ditinjau dari persoalan arah kiblat seperti diulas di atas, maka menyengaja menghadap ke azimuth 320 (Kebumen) atau azimuth 318 (Jakarta) sama halnya dengan menyengaja menyimpang dari arah kiblat sesungguhnya. Perbuatan menyengaja untuk menyimpang dari arah kiblat tentu memiliki konsekuensi syar’i tersendiri.

Seperti apa besarnya penyimpangan atau pergeseran arah terhadap azimuth kiblat yang sebenarnya sebagai akibat penerapan model Bumi datar?  Untuk area penelitian, hal tersebut dapat dilihat dalam peta berikut :

Gambar 12. Garis-garis yang menunjukkan besarnya penyimpangan arah dari arah kiblat yang sebenarnya (dalam satuan derajat) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +14° yang terjadi di Banda Aceh (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, penyimpangan arahnya kian besar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 12. Garis-garis yang menunjukkan besarnya penyimpangan arah dari arah kiblat yang sebenarnya (dalam satuan derajat) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +14° yang terjadi di Banda Aceh (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, penyimpangan arahnya kian besar. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dapat dilihat dalam peta bahwa untuk Indonesia, besarnya penyimpangan arah terhadap arah kiblat yang tepat akibat aplikasi model Bumi datar  adalah bervariasi. Yang terkecil adalah +14° di Banda Aceh (propinsi Aceh). Sementara yang terbesar adalah  +39° di Merauke (propinsi Papua). Khusus di pulau Jawa, besar penyimpangan arahnya bervariasi antara +26° hingga +29°.

Saat seorang Muslim menyimpang dari arah kiblat, maka pada hakikatnya ia telah bergeser dari Ka’bah hingga jarak tertentu yang bergantung kepada besarnya nilai sudut simpangannya. Semakin besar sudut penyimpangan arahnya maka semakin jauh ia bergeser dari Ka’bah. Dalam kasus kota Jakarta, dengan sudut penyimpangan arah sebesar +23° maka titik proyeksi model Bumi datar adalah bergeser sejauh 2.500 kilometer dari Ka’bah. Untuk area penelitian, besarnya jarak antara titik proyeksi model Bumi datar dengan Ka’bah dapat dilihat dalam peta berikut :

Gambar 13. Garis-garis yang menunjukkan besarnya jarak pergeseran dari Ka'bah (dalam satuan kilometer) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, jarak pergeserannya pun kian membengkak. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 13. Garis-garis yang menunjukkan besarnya jarak pergeseran dari Ka’bah (dalam satuan kilometer) akibat model Bumi datar bagi area penelitian. Nilai terkecil adalah +1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh), ujung barat Indonesia. Nampak bahwa semakin ke Indonesia timur, jarak pergeserannya pun kian membengkak. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dapat dilihat dalam peta bahwa untuk Indonesia, jarak antara titik proyeksi model Bumi datar dengan Ka’bah juga bervariasi. Yang terkecil senilai 1.800 kilometer di Sabang (propinsi Aceh). Sementara yang terbesar adalah senilai 4.300 kilometer di Merauke (propinsi Papua). Di pulau Jawa, jarak antara titik proyeksi arah kiblat Bumi datar dengan Ka’bah bervariasi antara 2.450 kilometer hingga 3.000 kilometer. Jarak penyimpangan ini sangat besar, jauh lebih besar ketimbang jarak maksimum yang dapat ditoleransi yakni maksimum 45 kilometer dari Ka’bah (lihat Sudibyo, 2012).

Jadi, berdasarkan penelitian ini, saya mengkategorikan model Bumi datar sebagai kabar-bohong atau hoax. Model tersebut sama sekali tidak konsisten dengan aspek-aspek ibadah Umat Islam yang bertumpu pada ruang dan waktu, dalam hal ini arah kiblat.

Referensi :

Sudibyo. 2012. Sang Nabi Pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta : Tinta Medina Tiga Serangkai.

Sugeng Riyadi. 2010. Dauroh I Ilmu Falak RHI Surakarta. Blog Pak AR Guru Fisika, 23 Oktober 2010.