Mengenal Gerhana Bulan, Melihat Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H

Akan terjadi sebuah peristiwa Gerhana Bulan (al-kusuf al-qamar) pada Rabu dinihari 14 Zulqaidah 1440 H yang bertepatan dengan 17 Juli 2019 TU (Tarikh Umum). Gerhana Bulan ini merupakan Gerhana Bulan Sebagian, yang mendapatkan namanya karena pada saat puncak gerhana tercapai hanya sebagian dari cakram Bulan yang tergelapkan oleh gerhana. Dalam Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan hanya 65 % cakram Bulan yang akan berubah menjadi gelap. Sehingga Bulan purnama sempurna pada saat itu akan berubah menjadi laksana Bulan sabit tebal.

Gambar 1. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Periode Bulan

Gerhana Bulan adalah sebuah peristiwa langit dimana Bumi, Bulan dan Matahari menempati sebuah garis lurus dalam perspektif tiga dimensi (syzygy) sehingga berkas cahaya Matahari yang seharusnya jatuh di paras Bulan sebagai Bulan purnama menjadi terhalangi. Dalam Gerhana Bulan, Bumi berkedudukan di tengah diapit oleh Bulan dan Matahari. Gerhana Bulan adalah implikasi dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Bulan adalah satu-satunya satelit alamiah Bumi kita. Dimensinya cukup besar, yakni seperempat ukuran Bumi dan tergolong cukup besar diantara satelit-satelit alamiah lainnya di seantero tata surya. Di antara benda-benda langit yang berstatus satelit alamiah planet dalam tata surya, Bulan adalah yang terbesar kelima setelah Ganymede (satelit alamiah Jupiter), Titan (satelit alamiah Saturnus), Callisto dan Io (keduanya satelit alamiah Jupiter).

Gambar 2. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana penumbral. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/500 detik. Nampak bagian Bulan yang sedikit gelap sebagai pengaruh penumbra. Sumber: Sudibyo, 2018.

Sebagai satu-satunya satelit alamiah di satu-satunya planet yang dihuni umat manusia, maka Bulan sudah dikenal sejak awal peradaban. Termasuk siklus fasenya mulai dari berbentuk sabit, sabit tebal, separo, perbani (benjol) hingga purnama dan seterusnya. Dari perubahan demi perubahan fase Bulan ini yang diamati dalam jangka panjang, umat manusia mengetahui fase-fase Bulan memiliki siklus sepanjang 29,5 hari (rata-rata). Ini disebut periode sinodis (al-fatrah as-sayanudsi), yang merupakan selang waktu diantara dua kejadian berkumpulnya Matahari dan Bulan (konjungsi atau ijtima’) yang berurutan (sinodis : berkumpul). Periode sinodis Bulan berperan penting dalam aneka peradaban, sebab menjadi dasar bagi sistem penanggalan. Baik yang berupa kalender lunar murni (setahun terdiri atas 12 bulan kalender) maupun kalender luni-solar (setahun biasa terdiri atas 12 bulan kalender dan setahun kabisat terdiri atas 13 bulan kalender).

Di sisi lain, besaran periode sinodis Bulan sempat menimbulkan masalah tersendiri pada abad ke-16 TU. Kala Isaac Newton merumuskan hukum gravitasiya yang kesohor dan menerapkannya pada pergerakan benda-benda langit, ia sempat dibuat pusing oleh tidak konsistennya hukum tersebut terhadap Bulan. Dengan memasukkan periode sinodis Bulan ke dalam hukum gravitasi dan berdasar pengetahuan massa Bumi yang diketahui pada zamannya (yakni sepertiga lebih rendah ketimbang nilai sesungguhnya), diperoleh nilai jarak rata-rata Bumi Bulan hanyalah 359.000 km. Padahal hasil pengukuran astronomi berdasarkan fenomena Gerhana Bulan yang telah dilakukan berulang-ulang semenjak zaman Ptolomeus menunjukkan jarak terjauh Bumi Bulan adalah 410.000 km.

Masalah ini terselesaikan detelah disadari bahwa terdapat dua macam periode revolusi benda langit, yakni periode sinodis dan periode sideris. Periode revolusi benda langit yang sesungguhnya adalah periode sideris (al-fatrah al-falakiy), yakni yang mengacu kepada posisi bintang-bintang sangat jauh (sidereal : bintang). Terdapat hubungan antara periode sideris dengan periode sinodis sebagai berikut :

Dalam hal Bulan, maka P1 adalah periode sideris Bulan yang dicari dan P2 adalah periode revolusi Bumi yang besarnya 365,25 hari. Diperoleh besarnya periode sideris Bulan adalah 27,3 hari. Massa Bumi yang lebih akurat baru diketahui satu setengah abad pasca Newton lewat eksperimen Cavendish dan kala hasilnya dimasukkan ke dalam hukum gravitasi beserta dengan nilai periode sideris Bulan, diketahui bahwa jarak rata-rata Bumi Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Pengukuran modern berdasarkan femomena kulminasi atas Bulan oleh Crommelin (1905-1910 TU) disusul okultasi Bulan oleh O’Keefe (1952 TU) dan radar oleh Laboratorium Angkatan Laut AS (1957 TU) serta laser selama misi penerbangan antariksa Apollo (1969 TU hingga sekarang) mengesahkan nilai jarak rata-rata Bumi Bulan tersebut.

Gambar 3. Panorama klasik Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana sebagian. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 1/100 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan betul-betul berwarna gelap seiring teknik pemotretan standar untuk observasi gerhana. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana

Hanya periode sinodis Bulan saja yang berperan dalam peristiwa Gerhana Bulan. Secara umum pada setiap pertengahan bulan Hijriyyah, yakni saat Bulan purnama, sejatinya Bulan berkedudukan di antara Bumi dan Matahari. Akan tetapi tidak pada setiap saat tersebut terjadi Gerhana Bulan. Sebab lintasan (orbit) Bulan dalam mengelilingi Bumi tidak sama dengan bidang orbit Bumi dalam mengelilingi Matahari yang disebut ekliptika (masar al-syams). Melainkan membentuk sudut 5 derajat. Hanya pada saat Bulan purnama berkedudukan di ekliptikalah maka Gerhana Bulan bisa terjadi. Sehingga dalam setahun Hijriyyah hanya berkemungkinan terjadi dua hingga tiga peristiwa Gerhana Bulan saja.

Gerhana Bulan terjadi manakala cahaya Matahari yang seharusnya tiba di permukaan cakram Bulan terhalangi Bumi akibat konfigurasi syzygy. Penghalangan Bumi menciptakan dua jenis bayangan, yaitu bayangan inti atau umbra dan bayangan tambahan atau penumbra. Umbra dan penumbra terjadi akibat ukuran Matahari yang jauh lebih besar ketimbang Bumi. Saat Bulan melintasi umbra, secara teoritik takkan ada berkas cahaya Matahari yang bisa jatuh ke permukaan Bulan. Itulah yang menjadikan Bulan gelap sepenuhnya di puncak Gerhana Bulan Total, atau gelap sebagian di puncak Gerhana Bulan Sebagian.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 4. Diagram sederhana sebuah Gerhana Bulan. Bilamana Bulan bergerak dalam lintasan 1 maka yang terjadi adalah Gerhana Bulan Total atau Gerhana Bulan Parsial. Sementara bila Bulan bergerak dalam lintasan 2, akan terjadi Gerhana Bulan Parsial atau Gerhana Bulan Penumbral. Sumber: Sudibyo, 2014.

Sebaliknya bilamana Bulan hanya melintasi penumbra, masih cukup banyak berkas cahaya Matahari yang tiba di permukaan Bulan. Maka dalam peristiwa Gerhana Bulan unik yang disebut Gerhana Bulan Penumbral (Samar), Bulan akan nampak seperti biasa saja laksana purnama sempurna meski sedang terjadi gerhana. Hanya perukyat yang berpengalaman, atau bilamana pengamatan Gerhana Bulan dilaksanakan dengan menggunakan teleskop atau kamera tertentu sajalah maka gerhana dapat diidentifikasi.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H diperhitungkan akan dimulai pada Rabu dinihari pukul 01:44 WIB. Pada saat itu Bulan tepat mulai bersentuhan dengan penumbra lewat peristiwa kontak awal penumbra (P1). Di menit-menit berikutnya Bulan kian jauh memasuki penumbra, namun secara sangat sulit untuk diidentifikasi. Barulah pada pukul 03:02 WIB berdasarkan hasil perhitungan, Bulan akan tepat bersentuhan dengan umbra lewat peristiwa kontak awal umbra (U1). Mulai saat itulah Gerhana Bulan menjadi kasatmata, ditandai dengan mulai menggelapnya bagian cakram Bulan yang lama kelamaan kian meluas.

Puncak gerhana diperhitungkan akan tercapai pada pukul 04:31 WIB. Pada saat puncak gerhana terjadi, diperhitungkan 65 % cakram Bulan akan menjadi gelap. Begitu puncak gerhana telah berlalu maka luas bagian gelap di cakram Bulan secara berangsur-angsur mulai berkurang dan diperhitungkan akan menghilang sepenuhnya pada pukul 06:00 WIB saat kotak akhir umbra (U4) terjadi. Selanjutnya Bulan kembali memasuki penumbra hingga tepat meninggalkan penumbra dalam kontak akhir penumbra (P4) yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 07:18 WIB.

Gambar 5. Bulan dalam peristiwa Gerhana Bulan fase gerhana total. Diabadikan dengan kamera DSLR pada bukaan rana 70 mm, ISO 200 dan waktu paparan 2 detik. Nampak bagian Bulan yang tergelapkan berwarna kemerahan, imbas pembiasan berkas cahaya Matahari kala menembus atmosfer Bumi. Bagian berwarna kebiruan adalah produk pembiasan cahaya Matahari melalui lapisan Ozon. Bagian berwarna kemerahan dan kebiruan hanya muncul melalui teknik pemotretan yang tepat. Sumber: Sudibyo, 2018.

Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H akan memiliki durasi gerhana 5 jam 34 menit, dihitung dari saat kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra. Sementara durasi kasatmatanya hanya 2 jam 58 menit, yakni dihitung dari saat kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra. Selain durasi gerhana dan durasi kasatmata, ilmu falak juga mengenal adanya istilah durasi nampak gerhana, yang hanya terjadi bilamana Bulan dalam kondisi terbit atau terbenam manakala gerhana terjadi. Durasi nampak akan selalu lebih kecil ketimbang durasi kasatmata.

Hal tersebut akan teramati pada Gerhana Bulan Sebagian 14 Zulqaidah 1440 H. Gerhana bisa disaksikan dari Asia, Afrika dan Eropa. Di Indonesia juga bisa disaksikan namun dalam kondisi yang tak sempurna. Sebab di Indonesia gerhana berlangsung saat Matahari dalam proses terbit. Bagi Jakarta yang akan mengalami kondisi Matahari terbit pada pukul 06:05 WIB, maka berkesempatan menikmati gerhana kasatmata dengan durasi kasatmata-nya. Namun tidak dengan wilayah-wilayah di sebelah timurnya. Di kota Makassar misalnya, dengan Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 06:10 WITA (05:10 WIB) maka mengalami gerhana dengan durasi nampak 2 jam 8 menit. Di kota Jayapura, dimana Matahari terbit diperhitungkan akan terjadi pada pukul 05:41 WIT (03:41 WIB) maka durasi nampak gerhana hanyalah 39 menit.

Elegi Tebing Breksi, Letusan Sedahsyat Toba dan Gerhana Bulan Apogean

Salah satu lokasi pengamatan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Taman Tebing Breksi, yang diselenggarakan oleh Jogja Astro Club (JAC), klub astronomi tertua di kota Yogyakarta. Taman Tebing Breksi bertempat di desa Sambirejo, kec. Prambanan, Kab. Sleman (DIY). Ini adalah sebuah obyek wisata baru nan khas, bekas area penambangan bahan galian C yang ditutup pada 2014 TU (Tarikh Umum) silam. Lantas dinding-dinding batu tegak yang masih tersisa didekorasi dengan aneka pahatan berseni. Kedekatan lokasinya dengan obyek wisata yang telah lebih dulu ada dan populer seperti kompleks Candi Prambanan dan kompleks Candi Ratu Boko menjadikan Taman Tebing Breksi cepat populer. Terlebih setelah pesohor seperti mantan Presiden Barrack Obama mengunjunginya tepat setahun lalu.

Gambar 1. Panorama Taman Tebing Breksi, obyek wisata baru yang berlokasi tak jauh dari Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko yang tersohor. Meski menyandang nama breksi, sejatinya tak dijumpai batuan breksi di sini. Melainkan tuf, debu vulkanik produk letusan gunung berapi masa silam yang telah terpadatkan demikian rupa hingga mengeras dan membatu. Sumber: Detik.com/Bagus Kurniawan, 2016.

Nama Tebing Breksi yang melekat pada obyek wisata baru ini sesungguhnya tidaklah tepat menurut perspektif ilmu kebumian. Breksi adalah batuan sedimen yang mengandung fragmen/bongkah yang kasar dan sisinya relatif tajam/menyudut. Jika fragmen/bongkahnya relatif membulat, maka namanya berubah menjadi lebih megah dan populer. Yakni Konglomerat. Kata yang sering dinisbatkan kepada sosok-sosok yang dalam istilah milenial disebut horang-horang kayah rayah.

Breksi bisa dijumpai sebagai hasil aktivitas pengendapan di dasar laut. Bisa juga breksi tersebar di sekeliling sebuah gunung berapi sebagai produk aktivitasnya. Dapat pula breksi terbentuk akibat aktivitas tumbukan benda langit, yakni saat komet atau asteroid menghantam paras Bumi dengan dahsyatnya dan mengubah banyak hal pada batuan yang ditumbuknya. Breksi produk aktivitas terakhir itu dikenal sebagai suevit atau breksi tumbukan.

Namun breksi tidaklah ada di Taman Tebing Breksi, sejauh mata memandang dan sejauh tangan mampu menggali. Dinding-dinding batuan tegak yang kini berhias aneka rupa itu sejatinya dikenal sebagai Tuf. Ya tuf, tumpukan debu vulkanik yang telah membatu demikian rupa. Berbeda dengan breksi yang bisa berasal dari berbagai sumber, tuf jelas merupakan produk aktivitas gunung berapi.

Tuf yang tersingkap di Taman Tebing Breksi merupakan bagian dari apa yang dalam ilmu kebumian dikenal sebagai formasi Semilir. Ini adalah satuan batuan yang dijumpai membentang dalam area yang sangat luas di bagian selatan pulau Jawa, yakni hingga mencapai luasan 800 km2. Tuf ini tersebar mulai dari Yogyakarta di sebelah barat hingga Pacitan di sebelah timur. Dengan ketebalan antara 250 meter hingga 1.200 meter, maka volume tuf Semilir mencapai sedikitnya 480 km3.

Gambar 2. Sebaran dan ketebalan tuf Semilir di bagian selatan pulau Jawa. Tuf yang diendapkan dalam tempo singkat itu kini tersebar di tiga propinsi yakni DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Berdasarkan ketiadaan jejak-jejak erosi dan aktivitas binatang purba didalamnya, tuf Semilir diindikasikan terbentuk oleh pengendapan material letusan gunung berapi dalam tempo cukup singkat bagi skala waktu geologi. Tidak perlu menunggu ribuan hingga berjuta-juta tahun seperti umumnya batuan endapan dalam sebuah formasi. Maka tuf Semilir merupakan produk letusan tunggal, sebuah letusan yang sangat dahsyat.

Mari bayangkan berkelana ke masa silam, anggaplah kita bisa menumpang mesin waktunya Doraemon. Putar waktu kembali ke zaman 20 juta tahun silam, kembali ke kala Oligo-Miosen dalam skala waktu geologi. Pulau Jawa sudah terbentuk meski wajahnya belumlah seperti sekarang. Jawa bagian selatan masih terbenam di bawah air laut. Di sini terdapat untaian pulau-pulau kecil berbaris, yang sejatinya adalah puncak-puncak gunung berapi aktif yang tumbuh dari dasar laut. Mereka menjadi bagian dari apa yang disebut busur vulkanik Jawa tua, yang tumbuh dan aktif sejak 45 juta tahun silam.

Salah satu pulau itu adalah, sebut saja, pulau Semilir. Pada 20 juta tahun silam itu ia meletus, mengamuk teramat dahsyat. Seberapa dahsyat? Bagi kita di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya, Letusan Merapi 2010 selalu dikenang sebagai letusan terdahsyat saat ini. Gunung Merapi memuntahkan tak kurang dari 150 juta m3 magma saat itu. Ada juga Letusan Kelud 2014 meski tingkat kedahsyatannya sedikit di bawah Gunung Merapi, yakni dengan muntahan magma segar 105 juta m3. Namun dibandingkan letusan Semilir 20 juta tahun silam, Merapi dan Kelud adalah ibarat amuba yang bersanding dengan gajah.

Gambar 3. Jam-jam pertama Letusan Toba Muda 74.000 silam, dalam sebuah ilustrasi. Gas dan debu vulkanik disemburkan dahsyat hingga menjangkau ketinggian 70 kilometer. Gambaran situasi yang mirip juga dijumpai pada Letusan Semilir 20 juta tahun silam. Sumber: Anynobody, 2009 dalam Wikipedia, 2009.

Letusan Semilir 20 juta tahun silam memuntahkan tak kurang dari 480 milyar m3 atau 480 km3 magma padat setara batuan. Jika dianggap komposisinya mirip dengan magma Tambora, kalikan angka tersebut dengan 6. Akan kita dapatkan volume magma Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu mencapai tak kurang dari 2.800 km3 magma! Bila anda pernah mendengar kisah horor dahsyatnya letusan Gunung Toba yang kini menjadi Danau Toba, ya seperti itulah gambarannya. Letusan Gunung Toba terjadi pada 74.000 tahun silam, yang disebut sebagai Letusan Toba Muda. Letusan yang menggelapkan tanah Sumatera dan Semenanjung Malaya serta mencekik dunia. Volume magma yang dierupsikan dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam itu 18.000 kali lipat lebih melimpah ketimbang amukan Gunung Merapi 2010 TU silam.

Seperti halnya kisah yang terjadi dalam letusan-letusan sangat besar gunung berapi, Letusan Semilir 20 juta tahun silam jelas menebarkan dampaknya ke segenap sudut paras Bumi. Tebaran debu vulkaniknya yang teramat banyak mungkin membedaki kawasan sekitarnya hingga radius 2.500 kilometer dari gunung. Namun debu vulkanik yang lebih halus tersembur tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer bersama dengan gas SO2 yang sontak bereaksi dengan uap air membentuk butir-butir sulfat (H2SO4).

Terbentuklah tabir surya vulkanis di ketinggian lapisan stratosfer, yang efektif memblokir sinar Matahari sehingga paras Bumi dibikin remang-remang. Maka reaksi berantai pun terjadilah. Tumbuh-tumbuhan tak bisa menyelenggarakan fotosintesis sehingga mulau bermatian. Hewan-hewan herbivora pun kelaparan dan bertumbangan. Disusul hewan-hewan karnivora hingga ke puncak jaring-jaring makanan. Kematian besar-besaran diduga terjadi pada saat itu, meski seberapa besar tingkatannya masih belum bisa kita ketahui.

Gambar 4. Estimasi dampak sebaran debu vulkanik dalam Letusan Semilir 20 juta tahun silam, dengan mengacu pada dampak Letusan Toba Muda 74.000 tahun silam yang telah lebih diketahui. Bentuk kepulauan Indonesia adalah berdasarkan rekonstruksi untuk 20 juta tahun silam. Sumber: Smyth dkk. 2011.

Pergerakan tektonik menyebabkan bagian selatan pulau Jawa terangkat menjadi daratan. Sementara lempeng tektonik Australia terus mendesak ke utara sembari bersubduksi. Rangkaian proses inilah yang menyebabkan formasi Semilir terbentuk lantas terangkat dan menjadi jajaran perbukitan yang sebagian diantaranya menghiasi sisi timur Yogyakarta. Ilmu kebumian menyebutnya sebagai zona Baturagung. Dimana lokasi gunung berapi purba yang meletus demikian dahsyat itu? Ada beragam pendapat, misalnya yang menyebutkan pusat letusan ada di dalam area zona Baturagung yang terletak di antara Kab. Klaten dan Kab. Gunungkidul. Ada juga yang beropini pusat letusan sangat dahsyat itu kini menjadi cekungan Baturetno, cekungan besar bekas danau purba yang sebagian digenangi air sebagai Waduk Gajahmungkur, Kab. Wonogiri.

Raungan

Untuk apa membicarakan gunung berapi pada saat Gerhana Bulan?

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 merupakan Gerhana Bulan Apogean, karena terjadi hanya berselang 14 jam setelah Bulan mencapai titik apogee-nya. Gerhana Bulan ini akan dimulai pada pukul 00:15 WIB (kontak awal penumbra atau P1) dan berakhir pada pukul 06:28 WIB (kontak akhir penumbra atau P4). Sehingga durasinya 6 jam 14 menit. Akan tetapi bagian gerhana yang kasatmata hanyalah berdurasi 3 jam 55 menit. Yakni mulai dari pukul 01:24 WIB (kontak awal umbra atau U1) hingga pukul 05:19 WIB (kontak akhir umbra atau U4).

Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit dengan puncak gerhana dicapai pada pukul 03:22 WIB. Karena Bulan baru saja meninggalkan titik apogee dengan jarak Bumi – Bulan saat itu masih sebesar 406.100 kilometer, maka kecepatan orbital Bulan masih lambat. Ditunjang dengan lintasan Bulan yang tep@at hampir bersentuhan dengan pusat lingkaran umbra, maka inilah yang menjadikan Gerhana Bulan Total ini sebagai Gerhana Bulan dengan durasi totalitas terpanjang untuk abad ke-21 TU.

Gambar 5. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Manakala gerhana Bulan terjadi, saksikanlah saat-saat sebelum umbra Bumi mulai menyelimuti paras Bulan. Nampak bundaran Bulan nan cemerlang di langit malam. Pada wajahnya ada bagian yang nampak lebih cerah, juga ada yang lebih gelap. Bagian-bagian yang gelap itu disebut mare (jamaknya maria), istilah Bahasa Latin untuk laut. Sebab para astronom jaman dulu, termasuk diantaranya Galileo Galilei, menganggap bagian itu adalah laut di paras Bulan. Namun di kemudian hari anggapan itu terbantahkan. Terlebih setelah eksplorasi Bulan menjadi salah satu bagian dalam khasanah penerbangan antariksa. Bulan ternyata kering kerontang.

Maria merupakan dataran rendah Bulan, khususnya cekungan raksasa (basin) yang terbentuk oleh sebab tertentu bermilyar tahun silam. Di kemudian hari ia digenangi oleh lava Bulan secara berangsur-angsur, produk muntahan magma gunung-gemunung berapi Bulan secara kontinu di masa silam. Magmanya relatif encer, tidak seperti magma Merapi yang lebih kental atau bahkan magma Semilir yang (mungkin) sangat kental. Gunung gemunung berapi Bulan saat itu mungkin seperti gunung berapi di Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat) atau di kawasan Hijaz (Saudi Arabia) pada masa kini. Magmanya cair encer sehingga melebar menutupi area yang sangat luas dalam letusan yang dikenal sebagai erupsi efusif (leleran). Namun tak menutup kemungkinan bahwa gunung-gemunung berapi Bulan untuk meletus eksplosif. Layaknya Letusan Merapi 2010 atau bahkan Letusan Semilir 20 juta tahun silam.

Gambar 6. Wajah Bulan dengan tebaran nama-nama mare yang bertebaran diparasnya. Awalnya dikira laut, eksplorasi Bulan memperlihatkan mare adalah cekungan besar yang terisi material vulkanik produk aktivitas gunung-gemunung berapi Bulan yang aktif jauh di masa silam, bermilyar tahun yang lalu. Sumber : Sudibyo, 2018.

Jadi, kala kita menatap wajah Bulan dari tempat seperti Taman Tebing Breksi, kita bisa belajar bahwa kekuatan yang membentuk Taman Tebing Breksi ini sejatinya juga pernah bekerja di Bulan. Dan juga bagian lain tata surya kita. Vulkanisme atau aktivitas kegunungberapian sejatinya berlandaskan pada prinsip yang sangat sederhana, yakni pelepasan panas. Tatkala kita menyeduh secangkir kopi pada saat ini, kopi perlahan-lahan akan mendingin karena melepaskan panasnya ke lingkungan sekitarnya. Termasuk ke udara. Vulkanisme pun demikian. Manakala benda langit, baik planet maupun satelit alamiahnya, memiliki kandungan panas yang cukup besar dalam interiornya, maka panas itu perlahan-lahan akan dilepaskan ke lingkungan sekitar melalui berbagai cara. Salah satunya adalah vulkanisme.

Maka tak heran jika di Bulan kita menemukan jejak-jejak aktivitas gunung berapi. Demikian halnya di planet Venus dan Mars. Meski di ketiga benda langit tersebut aktivitas vulkanisme masakini nyaris tidak ada karena proses pelepasan panas interior nampaknya sudah kurang intensif. Di lingkungan planet Jupiter, bahkan dijumpai aktivitas vulkanisme aktif yang jauh lebih ganas ketimbang yang kita alami di Bumi. Yakni di Io, salah satu satelit alamiah dari planet gas raksasa itu. Bahkan hingga ke tempat yang demikian jauh, dingin dan ganjil seperti lingkungan planet Neptunus pun dijumpai aktivitas vulkanisme. Yakni di Triton, satelit alamiah terbesar dari planet yang berjarak terjauh terhadap Matahari.

Jadi, tatkala kita berada di Taman Tebing Breksi dan menatap Rembulan, mari bayangkan bahwa raungan vulkanik yang pernah membentuk tempat ini pada 20 juta tahun silam juga pernah bergema di keluasan langit, dalam sudut-sudut tata surya kita. Mulai dari Bulan sang pengawal setia Bumi kita, lalu Venus yang udaranya panas membara hingga ke lingkungan Neptunus yang demikian mengigil membekukan.

Referensi :

Smyth dkk. 2011. A Toba-scale Eruption in the Early Miocene: The Semilir Eruption, East Java, Indonesia. Lithos no. 126(3) October 2011, halaman198-211.  

Gerhana Bulan Total Terlama Abad Ini dan Mars Terdekat ke Bumi

Bagaimana jika dua peristiwa langit yang berbeda terjadi pada waktu yang hampir sama? Inilah yang akan kita jumpai pada akhir Juli 2018 TU (Tarikh Umum). Yakni peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dan Mars terdekat ke Bumi 31 Juli 2018.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud Gerhana Bulan Total terlama abad ini adalah dalam durasi totalitasnya. Yakni rentang waktu manakala Bulan sepenuhnya berada dalam umbra (bayangan inti) Bumi sehingga sepenuhnya terblokir dari paparan langsung cahaya Matahari. Peristiwa Gerhana Bulan Total telah diperhitungkan akan terjadi pada Sabtu 28 Juli 2018 TU, bertepatan dengan 15 Zulqaidah 1439 H jika berdasarkan takwim standar Kementerian Agama RI atau 14 Zulqaidah 1439 H merujuk kalender Nahdlatul ‘Ulama yang telah dikomparasikan dengan hasil rukyat hilaal. Dan dalam peristiwa ini, durasi totalitasnya adalah sebesar 103 menit atau 1 jam 43 menit. Panjangnya durasi totalitas ini menjadikan Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Gerhana Bulan Total (berdurasi totalitas) terlama bagi abad ke-21 TU.

Gambar 1. Bulan dalam tahap parsial saat Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 silam. Diabadikan dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra di cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan ini mengurung narasi yang hampir serupa dengan peristiwa sejenis sebelumnya. Yakni terjadi manakala Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus ditinjau dari segala arah (syzygy) dengan Bulan berada di tengah-tengah. Pada saat itu Bulan memiliki fase purnama. Dan pada saat yang sama pula Bulan berkedudukan dekat atau bahkan tepat menempati salah satu dari dua titik nodal dalam orbitnya, yakni titik potong antara orbit Bulandengan dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari). Sebagai akibatnya pancaran sinar Matahari ke arah Bulan akan terhalangi oleh bundaran Bumi. Bergantung pada besar kecilnya derajat penghalangan cahaya Matahari oleh Bumi, maka terdapat tiga macam Gerhana Bulan. Masing-masing Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau Gerhana Bulan Parsial dan Gerhana Bulan Penumbral(GBP) atau Gerhana Bulan Samar.

Gerhana Bulan Apogean

Gerhana Bulan 28 Juli 2018 merupakan peristiwa Gerhana Bulan Total. Terjadi karena Bulan tepat sepenuhnya melintasi umbra Bumi di kala puncak gerhana terjadi. Perhitungan menunjukkan awal gerhana akan terjadi pada pukul 00:15 WIB, yang ditandai dengan kontak awal penumbra (P1) yang juga pertanda dimulainya tahap penumbral. Dalam kondisi tersebut, meski gerhana telah dimulai namun masih sangat sulit untuk membedakannya dengan Bulan purnama biasa. Kecuali oleh pengamat yang berpengalaman, atau pengamatan dilakukan dengan menggunakan teleskop / binokular.

Gambar 2. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Panorama tahap parsial seperti ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Gerhana Bulan diperhitungkan baru akan nampak secara kasat mata pada pukul 01:24 WIB. Yakni pada saat kontak awal umbra (U1) dimulai yang juga menandakan dimulainya tahap parsial. Pada yakni pada saat umbra tepat mulai bersentuhan dengan cakram Bulan. Mulai saat itu cakram Bulan akan berangsur-angsur menggelap dari sisi timur. Tahap berikutnya, yakni tahap total, diperhitungkan akan terjadi mulai terjadi pada pukul 02:30 WIB dengan terjadinya kontak awal total (U2). Puncak gerhana diperhitungkan terjadi pada pukul 03:22 WIB.

Tahap total ini diperhitungkan akan berakhir pada pukul 04:13 WIB seiring terjadinya kontak akhir total (U3). Secara kasat mata gerhana diperhitungkan akan berakhir pada pukul 05:19 WIB seiring cakram Bulan tepat meninggalkan umbra sebagai pertanda terjadinya kontak akhir umbra (U4). Tahap parsial pun berakhir pada saat itu. Dan akhir gerhana diperhitungkan bakal terjadi pada pukul 06:28 WIB dengan terjadinya kontak akhir penumbra (P4) sekaligus akhir tahap penumbral.

Dari angka-angka tersebut kita bisa mengetahui durasi gerhana ini. Durasi gerhana secara keseluruhan, dimulai dari kontak awal penumbra hingga kontak akhir penumbra, diperhitungkan sebesar 6 jam 14 menit. Namun durasi gerhana kasat mata, yakni sejak kontak awal umbra hingga kontak akhir umbra, diperhitungkan sebesar 3 jam 55 menit. Sementara durasi totalitasnya adalah 1 jam 43 menit.

Durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 cukup panjang. Karena gerhana terjadi pada waktu berdekatan dengan apogee Bulan. Yakni saat Bulan berkedudukan di titik apogee (titik terjauh dalam orbitnya terhadap Bumi). Karena itu merupakan Gerhana Bulan Apogean. Saat puncak gerhana terjadi pada 28 Juli 2018 TU pukul 03:22 WIB, jarak Bumi – Bulan diperhitungkan adalah sebesar 406.100 kilometer (yakni dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sementara apogee Bulan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:45 WIB, atau hanya 14 jam sebelum puncak gerhana. Apogee Bulan saat itu diperhitungkan memiliki jarak 406.220 kilometer.

Jarak rata-rata Bumi – Bulan adalah sebesar 384.400 kilometer. Jika jarak Bumi – Bulan untuk satu saat lebih besar dari nilai tersebut, maka ukuran tampak (apparent) cakram Bulan akan terlihat lebih kecil kala disaksikan dari Bumi. Fenomena ini akan cukup jelas pada saat terjadinya Bulan purnama. Dalam astronomi, Bulan purnama yang terjadi dalam waktu berdekatan dengan apogee Bulan disebut sebagai Bulan purnama apogean. Namun bagi khalayak ramai lebih populer dengan istilah Minimoon, sebuah lawan-kata dari istilah Supermoon. Sejak awal abad ke-21 hingga beberapa tahun ke depan, Minimoon selalu terjadi di setiap bulan Juli hingga Agustus, sementara Supermoon di setiap bulan Desember hingga Januari.

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (Supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan Sebagian 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Kecepatan gerak Bulan dalam mengelilingi Bumi tergantung pada posisinya. Saat berada di perigee (titik terdekat ke Bumi), Bulan bergerak paling cepat. Sebaliknya pada saat berada di apogee ia menjadi yang paling lambat. Maka saat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 terjadi, gerak Bulan sedang dalam keadaan paling lambat. Inilah yang menjadikan durasi totalitasnya cukup besar, selain bahwa pada saat gerhana terjadi lintasan pergerakan Bulan tepat hampir menyentuh pusat bundaran umbra. Kombinasi dua hal tersebut menjadikan durasi totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah yang terpanjang bagi abad ke-21 TU.

Keterlihatan Gerhana Bulan

Salah satu aspek istimewa dalam peristiwa Gerhana Bulan adalah tahap-tahap gerhananya terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan, maka perbedaan tahap-tahap gerhana antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama.

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 memiliki wilayah gerhana cukup luas mencakup lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Yakni melingkupi seluruh benua Eropa, Afrika, Australia serta hampir seluruh Asia (kecuali sudut timur laut Russia) dan sebagian Amerika (khususnya Amerika selatan). Luasan wilayah gerhana terbagi menjadi dua, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh dan wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit).

Gambar 4. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 secara global. Perhatikan bahwa hampir segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara tidak utuh. Yakni Gerhana Bulan terjadi di Indonesia saat Bulan sedang dalam proses terbenam. Sehingga tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Hampir segenap Indonesia tercakup ke dalam wilayah yang mengalami gerhana meski secara tak utuh. Karena Gerhana Bulan terjadi di Indonesia manakala Bulan sedang dalam proses terbenam. Jadi tidak seluruh tahap gerhana bisa disaksikan mengingat Bulan sudah keburu terbenam (dan sebaliknya sudah Matahari terbit). Karena itulah maka propinsi Papua hanya bisa menikmati Gerhana Bulan ini sebelum akhir tahap total (U3) saja. Sementara segenap daerah yang ada di antara pulau Sulawesi hingga sisi barat pulau Irian (yakni propinsi Irian Jaya Barat) beserta sebagian propinsi Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Utara hanya sanggup mengalami gerhana sebelum akhir tahap parsial (U4). Sisanya, kecuali sebagian pulau Sumatra, masih lebih beruntung karena mengalami Gerhana Bulan hingga sebelum tahap akhir gerhana (P4). Hanya propinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau saja yang berkesempatan menyaksikan gerhana secara utuh.

Gerhana Bulan Total merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :


Mars Terdekat ke Bumi

Selain Gerhana Bulan Total, Juli 2018 TU juga ditandai dengan peristiwa langka, yakni saat Mars berkedudukan terdekat dengan Bumi. Terdekat dalam arti yang sesungguhnya, yakni dalam hal jarak. Pada Selasa 31 Juli 2018 TU pukul 14:51 WIB yang bertepatan dengan 18 Zulqaidah 1439 H (dalam takwim Kementerian Agama RI) atau 17 Zulqaidah 1439 H (dalam kalender Nahdlatul ‘Ulama) Mars diperhitungkan akan berjarak 57,59 juta kilometer dari Bumi kita, dihitung dari pusat Bumi ke pusat Mars. Terakhir kali Mars berada pada posisi yang lebih dekat ke Bumi ketimbang saat ini adalah pada 15 silam. Tepatnya pada 27 Agustus 2003 TU dimana saat itu Bumi dan Mars hanya terpisahkan jarak sebesar 55,7 juta kilometer saja.

Gambar 5. Simulasi panorama langit malam pada saat puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dilihat dari Jakarta, Indonesia. Atas = utara, kanan = barat. Nampak Bulan sangat berdekatan dengan Mars, dengan jarak sudut (elongasi) hanya sekitar 10º. Sumber: SkyMapOnline, 2018.

Karena berkedudukan cukup dekat dengan Bumi dibanding biasanya, maka Mars akan bertambah terang. Pada 31 Juli 2018 TU itu Mars bakal menjadi benda langit alami terterang nomor tiga di langit malam setelah Bulan dan Venus. Diperhitungkan Mars akan memiliki magnitudo semu hingga -3, atau 10 kali lebih benderang dibandingkan kondisi biasanya. Perubahan kecemerlangan ini akan mudah dideteksi bahkan tanpa menggunakan alat bantu optik apapun.

Baik Mars maupun Bumi adalah planet-planet yang beredar mengelilingi Matahari dalam lintasannya masing-masing. Mars tergolong dalam kelompok planet superior, yakni planet-planet yang orbitnya lebih jauh terhadap Matahari dibandingkan orbit Bumi. Maka dalam sudut pandang kita di Bumi, ada dua peristiwa unik yang terkait erat dengan posisi Bumi dan Mars dalam orbitnya masing-masing terhadap Matahari. Yakni peristiwa konjungsi (ijtima’) dan oposisi (istikbal).

Konjungsi Mars – Matahari terjadi saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Matahari di tengah-tengah. Sehingga Mars akan terlihat sangat berdekatan atau bahkan menghilang di balik Matahari saat dilihat dari Bumi. Dalam peristiwa ini maka Matahari dan Mars akan terbit dan terbenam pada saat yang hampir sama dilihat dari Bumi. Saat itu terjadi maka Mars akan memiliki jarak terpanjangnya terhadap Bumi, yakni mencapai 400 juta kilometer. Pada saat konjungsi Mars – Matahari terjadi, Mars berada dalam kondisi paling redup dengan magnitudo semu +1,6.

Sedangkan oposisi Mars – Matahari adalah sebaliknya, yakni saat Bumi, Mars dan Matahari terletak dalam satu garis lurus dengan kedudukan Bumi di tengah-tengah. Sehingga Mars akan bertolak belakang terhadap kedudukan Matahari. Dengan kata lain, pada saat oposisi Mars terjadi maka planet itu tepat akan terbit kala Matahari tepat terbenam. Dan demikian pula sebaliknya. Saat oposisi Mars terjadi maka ia akan berada pada kondisi paling terang dan jaraknya ke Bumi pun adalah yang terpendek.

Gambar 6. Ilustrasi perubahan diameter tampak (apparent) Mars dari waktu ke waktu antara sebelum oposisi, pada saat oposisi 2018 dan setelah oposisi. Sumber: ALPO, 2018.

Mars memiliki orbit yang berjarak rata-rata 1,524 SA (satuan astronomi) terhadap Matahari sehingga mempunyai periode revolusi sideris 1,88 tahun. Namun demikian konjungsi maupun oposisi Mars – Matahari tidak terjadi setiap 1,88 tahun sekali. Dengan mempertimbangkan periode revolusi Bumi, maka Mars memiliki periode revolusi sinodis sebesar 2,135 tahun atau setara dengan 780 hari. Maka setiap 2,135 tahun inilah konjungsi Mars – Matahari terjadi. Demikian halnya oposisi Mars – Matahari.

Oposisi Mars 2018 sejatinya akan terjadi pada 27 Juli 2018 TU pukul 12:07 WIB, atau hanya 15 jam sebelum puncak Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018. Sementara jarak terdekat Mars ke Bumi dicapai dalam empat hari kemudian, yang terjadi karena Mars mengalami dua kondisi sekaligus. Yakni oposisi Mars itu sendiri dan Mars yang sedang bergerak menuju titik perihelionnya (akan dicapai pada 15 September 2018 TU mendatang. Kombinasi dua hal ini sering disebut sebagai oposisi perihelion, umumnya terjadi setiap 15 hingga 17 tahun sekali.

Referensi :

SkyMapOnline, 2018.

Beish. 2018. The 2018 Perihelic Apparition of Mars. The Association of Lunar and Planetary Observers (ALPO), diakses 25 Juli 2018 TU.

Espenak & Meeus. 2009. Five Millennium Canon of Lunar Eclipse, – 1999 to +3000 (2000 BCE to 3000 CE). NASA Tech.Pub. 2008-214173, NASA Goddard Space Flight Center, Greenbelt, Maryland.

Biru Gerhana Bulan Perigean 31 Januari 2018

Dua fenomena alam yang berbeda akan terjadi pada saat yang hampir bersamaan pada Rabu 31 Januari 2018 TU (Tarikh Umum). Yang pertama adalah Gerhana Bulan yang selalu mempesona. Dan yang kedua adalah Bulan purnama perigean atau dkenal juga dengan nama supermoon. Ini melahirkan sebuah istilah baru, Gerhana Bulan Total Perigean.

Gambar 1. Wajah Bulan dalam Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, yang berjenis Gerhana Bulan Sebagian. Panorama semacam ini akan bisa disaksikan lagi dalam peristiwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Konfigurasi

Pada dasarnya Gerhana Bulan terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus, konfigurasi yang normalnya menghasilkan fase Bulan purnama. Namun kali ini konfigurasi tersebut bersifat syzygy, yakni segaris lurus ditinjau dari segenap arah tiga dimensi. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut bertenggerlah Bumi. Sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal, yakni titik potong orbit Bulan dengan ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan menjadi terhalangi Bumi.

Mengingat diameter Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi kita, yakni 109 kali lipat lebih besar, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran cahaya Matahari. Sehingga terbentuk umbra dan penumbra. Umbra adalah kerucut bayangan inti, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi yang sepenuhnya tak mendapat pencahayaan Matahari. Sedangkan penumbra adalah kerucut bayangan samar/tambahan, yakni kerucut imajiner di belakang Bumi kita yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang umbra dan masih mendapatkan cukup banyak pencahayaan Matahari.

Gambar 2. Bulan dalam fase umbra Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017 yang lalu, dalam citra overeksposur untuk memperlihatkan bagian umbra pada cakram Bulan yang berwarna kemerah-merahan. Pemandangan yang lebih memukau akan kita saksikan pada Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018. Sumber: Sudibyo, 2017.

Dalam Gerhana Bulan Total, cakram Bulan sepenuhnya berada dalam lingkup umbra Bumi. Namun bukan berarti ia sepenuhnya menghilang. Ia masih ada meski kehilangan pancaran sinar Matahari yang menuju padanya. Ia tidak ‘menghilang’ di gelap malam, melainkan nampak nampak kemerah-merahan (merah darah). Sebab meskipun tak terpapar cahaya Matahari secara langsung, sepanjang saat puncak gerhana terjadi Bulan tetap menerima pencahayaan tak langsung dari sinar Matahari yang dibiaskan atmosfer Bumi. Khususnya cahaya dalam spektrum warna merah atau inframerah.

Sementara Bulan purnama perigean adalah peristiwa dimana fase Bulan purnama terjadi berdekatan dengan saat Bulan menempati titik perigee, yakni titik terdekat ke Bumi dalam orbit Bulan yang ellips. Bulan purnama perigeaan merupakan fenomena tahunan, yang selalu terjadi dalam dua atau tiga purnama di setiap akhir tahun dan berlanjut pada awal tahun Tarikh Umum. Bupan purnama perigeaan kali ini terjadi karena Bulan berada di titik perigee pada Selasa 30 Januari 2018 TU pukul 16:55 WIB, yakni dengan jarak 358.995 kilometer (dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sebaliknya fase Bulan purnama terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 TU pukul 20:30 WIB, atau berselang 27 jam kemudian. Fenomena ini merupakan penutup dari trio Bulan purnama perigeaan yang telah bermula sejak awal Desember 2017 TU lalu.

Musim Gerhana 2018

Gambar 3. Perbandingan ukuran Bulan antara saat Bulan purnama perigean (supermoon) dengan saat purnama jelang Gerhana Bulan 7-8 Agustus 2017. Diabadikan dengan instrumen yang sama. Nampak Bulan saat purnama perigean sedikit lebih besar. Sumber: Sudibyo, 2017.

Tidak setiap kejadian Bulan purnama bersamaan dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti bersamaan waktunya dengan Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari, melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik (ascending) dan titik nodal turun (descending). Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Bagaimana Bulan berperilaku terhadap umbra dan penumbra Bumi menentukan jenis gerhananya. Ada tiga jenis Gerhana Bulan. Pertama Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala cakram Bulan sepenuhnya memasuki umbra Bumi tanpa terkecuali. Kedua Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala umbra tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya pada puncak gerhananya Bulan hanya akan lebih redup (ketimbang saat GBT) dan ‘robek’ di salah satu sisinya. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya penumbra Bumi yang menutupi cakram Bulan baik sepenuhnya maupun hanya separuhnya. Tiada umbra Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana Bulan yang terakhir ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari sehingga sekilas nampak tak berbeda dibanding Bulan purnama umumnya.

Gambar 4. Parameter dua dari lima gerhana yang menjadi bagian dari Musim Gerhana 2018.

Gerhana Bulan 31 Januari 2018 ini adalah peristiwa Gerhana Bulan Total. Ia menjadi babak pembuka dari musim gerhana tahun 2018 TU ini. Musim Gerhana 2018 TU terdiri dari lima peristiwa gerhana, masing-masing tiga Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Semua peristiwa Gerhana Bulan itu dapat disaksikan dari Indonesia mengingat negeri ini berada dalam cakupan wilayah gerhana-gerhana tersebut. Kabar baiknya, kedua gerhana tersebut merupakan Gerhana Bulan Total. Sebaliknya seluruh Gerhana Matahari di musim 2018 ini tak berkesempatan disaksikan manusia Indonesia.

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 merupakan Gerhana Bulan Total pertama yang menyentuh wilayah Indonesia dalam tiga tahun terakhir, pasca Gerhana Bulan Total 4 April 2015. Akan tetapi gerhana ini merupakan Gerhana Bulan Total Perigean pertama kali bagi Indonesia dalam 35 tahun terakhir. Terakhir kali peristiwa langit kombinasi semacam ini terjadi adalah pada Gerhana Bulan Total 30 Desember 1982 silam.

Tahap Gerhana dan Wilayah Gerhana

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 terdiri atas tujuh tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana yang berupa kontak awal penumbra (P1), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 17:51 WIB. Lalu tahap kedua adalah awal gerhana kasat mata yang berupa kontak awal umbra (U1), diperhitungkan akan terjadi pukul 18:48 WIB. Lantas tahap ketiga, yang adalah awal totalitas gerhana yang berupa kontak awal total (U2), diperhitungkan akan terjadi pukul 19:52 WIB.

Sebagai puncaknya adalah puncak gerhana, diperhitungkan akan terjadi pada pukul 20:30 WIB. Usai puncak gerhana berlangsung, maka Bulan berangsur-angsur ‘membuka’ diri dengan berakhirnya totalitas gerhana melalui tahap kelima berupa kontak akhir total (U3), yang diperhitungkan akan terjadi pada pukul 21:08 WIB. Berikutnya disusul dengan tahap keenam berupa akhir gerhana kasat mata, dalam bentuk kontak akhir umbra (U4) pada pukul 22:11 WIB. Dan yang terakhir adalah tahap ketujuh, berupa akhir gerhana yang berupa kontak akhir penumbra (P4), diperhitungkan akan terjadi pada pukul 23:08 WIB.

Bulan Biru Toska

Satu aspek istimewa Gerhana Bulan adalah bahwa tahap-tahap gerhananya secara umum terjadi pada waktu yang sama pada titik-titik manapun yang tercakup dalam wilayah gerhana. Jika ada perbedaan antara satu titik dengan titik lainnya hanyalah dalam orde detik. Dengan demikian durasi gerhana Bulan di setiap titik pun dapat dikatakan adalah sama. Dengan tahap-tahap tersebut maka kita tahu bahwa Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 memiliki durasi gerhana 5 jam 17 menit. Dari durasi sepanjang itu, durasi kasat mata terjadi selama 3 jam 23 menit. Dan dari durasi kasat mata tersebut, durasi totalitas gerhana adalah selama 1 jam 16 menit. Durasi totalitas ini tergolong yang cukup panjang untuk abad ke-21 TU ini.

Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam situasi malam hari. Wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 melingkupi seluruh benua Asia, Australia, sebagian Amerika, sebagian kecil Afrika dan sebagian besar Eropa. Wilayah gerhana terbagi menjadi tiga, yakni wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, wilayah yang mengalami gerhana secara tak utuh (saat Bulan mulai terbenam maupun mulai terbit) dan yang terakhir wilayah yang tak mengalami gerhana sama sekali.

Gambar 5. Peta wilayah Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 dalam lingkup global. Perhatikan bahwa segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh. Sehingga seluruh tahap gerhana bisa disaksikan, sepanjang langit cerah. Sumber: Sudibyo, 2018 dengan basis NASA, 2018.

Segenap tanah Indonesia juga tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Kabar baiknya, segenap Indonesia merupakan bagian dari wilayah yang mengalami gerhana secara utuh, kecuali sebagian pulau Jawa dan segeap pulau Sumatra. Di kedua tempat tersebut, gerhana (tepatnya kontak awal penumbra) telah dimulai selagi Bulan belum terbit setempat (karena Matahari belum terbenam).

Satu hal yang menjadi pembeda antara peristiwa Gerhana Bulan Total dengan Gerhana Bulan yang lainnya adalah (potensi) munculnya Bulan berwarna kebiruan. Bukan, ini bukan blue moon sebagaimana yang acap disematkan sejumlah kalangan menjelang Gerhana Bulan Total ini. Blue moon hanyalah anggapan untuk Bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan Tarikh Umum yang sama. Sementara gejala fisisnya tak ada sama sekali. Bagi Januari 2018 TU ini blue moon terjadi karena purnama pertama telah berlangsung pada 2 Januari 2018 TU pukul 09:00 WIB silam.

Namun Bulan kebiruan ini adalah fenomena fisis. Ia berpotensi terjadi beberapa saat menjelang awal totalitas, ataupun sebaliknya dalam beberapa saat setelah akhir totalitas gerhana. Warna kebiruan pada Bulan di saat itu merupakan hasil pembiasan cahaya Matahari pada lapisan Ozon, sehingga menghasilkan warna biru toska tipis yang khas.

Shalat Gerhana

Gerhana Bulan Total ini bertepatan dengan tanggal 14 Jumadal Ula 1439 H dan merupakan gerhana Bulan yang kasat mata. Sehingga dapat kita amati tanpa bantuan alat optik apapun, sepanjang langit cerah. Namun penggunaan alat bantu optik seperti kamera dan teleskop akan menyajikan hasil yang lebih baik. Sepanjang dilakukan dengan pengaturan (setting) yang tepat sesuai dengan tahap-tahap gerhana. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam terdapat anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Hal tersebut juga berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Total ini. Musababnya Gerhana Bulan ini dapat diindra dengan mata manusia secara langsung. Sementara dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat peristiwa tersebut dapat disaksikan (kasat mata), seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah.

Mengingat durasi gerhana yang kasatmata adalah dari tahap U1 hingga tahap U4, yakni dari pukul 18:48 WIB hingga pukul 22:11 WIB, maka shalat Gerhana Bulan seyogyanya juga diselenggarakan pada rentang waktu tersebut. Dari sudut pandang fikih, pelaksanaan shalat Gerhana Bulan hanya bisa diselenggarakan jika gerhana benar-benar bisa disaksikan secara kasat mata dari lokasi pelaksanaan shalat. Atau, apabila gerhana tak bisa disaksikan, maka terdapat kabar / informasi yang sahih dan berterima bahwa gerhana memang benar-benar disaksikan di tempat lain oleh saksi mata yang tepercaya.

Berikut adalah infografis tatacara pelaksanaan shalat gerhana

Dalam peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena baik Matahari maupun Bulan merupakan dua benda langit yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT. Dan peristiwa gerhana merupakan peristiwa langit yang menakjubkan (sekaligus menerbitkan rasa takut) bagi sebagian kalangan. Namun peristiwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tidak terkait dengan kematian seseorang. Di sisi lain, shalat gerhana mendorong umat Islam untuk lebih dekat dengan-Nya. Terlebih mengingat peristiwa Gerhana pada khususnya (baik Gerhana Bulan maupun gerhana Matahari) serta fase Bulan baru dan Bulan purnama pada umumnya ternyata mampu memicu salah satu gaya endogen dalam sistem kerja Bumi kita, yakni gempa bumi tektonik.

Gerhana Matahari dan Kisah Kenabian: Yusya’ AS dan Rasulullah SAW

Gerhana kerap membawa kisah menarik yang mengiringi kehadirannya. Baik pada peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Baik di masa kini, apalagi masa silam kala kehadiran gerhana kerap dianggap sebagai pertanda dari langit. Termasuk dalam peristiwa sejarah yang menentukan nasib sebuah negeri.

Di masa Yunani Kuno, kota Syracuse dikepung rapat oleh pasukan Athena selama Perang Peloponnesia. Mereka hampir kalah. Namun sebuah titik balik tak terduga datang pada 28 Agustus 413 STU (Sebelum Tarikh Umum) saat Bulan purnama mendadak meredup, ‘robek’ dan bahkan bersalin warna menjadi merah darah sangat redup hanya dalam 2 jam setelah terbit. Pasukan Athena, yang dihinggapi tahayul, menganggap gerhana itu pertanda buruk dan memutuskan menunda serangan ke posisi-posisi pasukan Syracuse. Syracuse pun memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, sehingga gantian mereka yang melancarkan serangan dadakan ke pasukan Athena. Athena pun hancur lebur.

Delapan belas abad kemudian kisah yang mirip pun berulang. Selagi pasukan besar Utsmaniy mengepung kota Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur (Byzantium), pada 22 Mei 1453 TU Bulan terbit dalam kondisi setengah ‘robek’ sebagai Gerhana Bulan Sebagian di kaki langit timur kota. Saat itu Bulan menampakkan wajahnya dengan sekitar 70 % cakram Bulan tertutupi oleh umbra Bumi. Saat itu Konstantinopel sudah dikepung pasukan Utsmaniy sebulan lamanya. Gerhana ini menerbitkan rasa takut dan merosotkan moral penduduk Konstantinopel. Apalagi tersiar legenda bahwa kejatuhan kekaisaran mereka telah lama diramalkan dan akan ditandai oleh gerhana. Benar, tujuh hari kemudian kota itu takluk dan imperium Byzantium yang pernah perkasa itu pun tinggal sejarah.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Beberapa bagian tahap Gerhana Matahari, seperti yang diabadikan dalam peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Sejumlah peristiwa gerhana, termasuk Gerhana Matahari, kerap bersesuaian dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sebuah negeri. Sumber: Sudibyo, 2016.

Dalam tulisan ini fenomena gerhana di masa silam dibatasi pada peristiwa Gerhana Matahari di masa kenabian, yakni di era Nabi Yusya’ AS dan Rasulullah Muhammad SAW.

Gerhana dan Legenda Berhentinya Matahari

Pertempuran menentukan itu nampaknya terjadi sekitar 32 abad silam. Ringkasnya: pasukan Bani Israil yang sedang berjuang memasuki negeri Kanaan yang dijanjikan harus berhadapan dengan pasukan suku Hivit (bagian dari sukubangsa Amorit) yang berkekuatan besar pada suatu tempat di luar kota al-Jib (Gibeon). Suku Hivit adalah orang-orang yang berbadan besar dan perkasa, yang mendiami dataran luas di sisi barat Laut Mati hingga ke pesisir Laut Tengah. Tak tanggung-tanggung, di hari itu orang-orang Hivit mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar dari lima negara kota sekaligus, kekuatan yang sanggup menggetarkan siapapun .

Pertempuran al-Jib pun meletus hari itu hingga ke rembang petang. Dan tak ada yang mengira kalau pasukan Bani Israil ternyata berhasil mengangkangi keperkasaan pasukan Hivit yang semula dikenal tak terkalahkan. Di bawah pimpinan Yusya’, yang  merupakan seorang nabi, pasukan Bani Israil pun menghancurkan pasukan Hivit dalam pertempuran al-Jib. Jalan bagi Bani Israil untuk menancapkan kakinya di negeri Kanaan yang dijanjikan pun kian terbuka. Pertempuran ini juga mewariskan kisah legendaris, yang menuturkan Yusya’ berseru kepada Matahari dan Bulan untuk berdiam di posisinya masing-masing hingga pertempuran usai. Atau dalam kata-kata lain, inilah nabi yang menahan gerak Matahari (dan juga Bulan).

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya' AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa 'berhentinya Matahari' tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Gambar 2. Ilustrasi artistik yang menggambarkan Nabi Yusya’ AS (Joshua) menghentikan Matahari di atas kota al-Jib (Gibeon) pada saat pertempuran berlangsung, menurut lukisan John Martin pada 1816 TU. Riset terbaru memperlihatkan peristiwa ‘berhentinya Matahari’ tersebut sesungguhnya mungkin merupakan Gerhana Matahari Cincin. Sumber: John Martin, 1816 dalam Wikipedia, 2017.

Kini, kapan Pertempuran al-Jib itu terjadi nampaknya sudah bisa ditetapkan tanggalnya. Riset multidisiplin ilmu oleh tim cendekiawan Universitas Ben Gurion (Israel) yang dipimpin Hezi Yitzhak menyimpulkan Pertempuran al-Jib itu mungkin terjadi pada 30 Oktober 1207 STU (Sebelum Tarikh Umum), bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Dan lokasi dimana pertempuran tersebut berlangsung merupakan bagian dari zona antumbra (zona yang mampu melihat bentuk cincin/anularitas pada puncak gerhana) dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1206 STU tersebut.

Kisah kenabian Yusya’ atau Yosua (Joshua) lebih banyak tersurat dalam alkitab Ibrani dan alkitab Kristiani Perjanjian Lama, bahkan beliau menjadi tokoh sentral Kitab Yosua di kedua alkitab tersebut. Sebaliknya al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama Nabi Yusya’ AS. Beliau hanya disebut sebagai murid Nabi Musa AS khususnya yang menyertai Nabi Musa AS selama dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS seperti ternyata dalam surat al-Kahfi ayat 60-62. Namun sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ubay ibn Ka’ab RA memastikan bahwa murid yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut memang sosok Nabi Yusya’ AS.

Yusya’ AS merupakan sosok kepercayaan Nabi Musa AS. Namanya mulai muncul selepas eksodusnya Bani Israil dari negeri Mesir menuju negeri Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah SWT seperti yang diwahyukan-Nya kepada Musa AS. Begitu lolos dari kejaran Firaun dan pasukannya lewat mukjizat terbelahnya Laut Merah, Bani Israil segera beringsut melangkahkan kakinya menuju negeri Kanaan. Namun lama-kelamaan terbit rasa gentar dalam kalbu mereka seiring tersiarnya kabar bahwa negeri yang hendak mereka tuju dan taklukkan itu ternyata dihuni sukubangsa Amorit, orang-orang yang terkenal bertubuh perkasa tanpa tanding dalam setiap medan pertempuran. Rasa gentar itu kian meluap hingga akhirnya mencapai puncaknya, menjangkiti hampir semua orang. Mereka pun memutuskan untuk berhenti, enggan melanjutkan perjalanan ke negeri Kanaan meski telah dijanjikan kemenangan. Upaya Yusya’ dan Qalib untuk menyemangati mereka tiada henti tidak juga membuahkan hasil.

Akibatnya Bani Israil pun mendapat murka Allah SWT dan dihukum untuk terjebak di gurun pasir di antara negeri Mesir dan Kanaan hingga 40 tahun kemudian. Selama masa hukuman ini Yusya’ menjadi pengawal Nabi Musa AS yang setia. Sehingga menjelang wafatnya, Nabi Musa AS pun mewariskan kepemimpinan Bani Israil ke tangan Yusya’. Segera setelah menerima tampuk kepemimpinan, Yusya’ pun menjadi nabi setelah menerima wahyu Illahi yang memerintahkannya menyeberangi Sungai Yordan untuk memulai penaklukan negeri Kanaan yang telah dijanjikan-Nya. Dari kamp pasukannya di Gilgal, secara berturut-turut Yusya’ AS menggerakkan pasukannya menaklukkan negeri Ariha (Jericho) dan Ai. Selepas itu, setelah menggerakkan pasukannya diam-diam di tengah malam menempuh jarak 30 kilometer hingga tiba di perkemahan pasukan Hivit di dekat kota Yerusalem, maka Pertempuran al-Jib pun berkobar dahsyat mulai keesokan paginya.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Gambar 3. Matahari yang berbentuk menyerupai sabit dalam puncak sebuah peristiwa Gerhana Matahari Cincin, yang hanya terlihat sebagai gerhana sebagian di lokasi pemotretan. Meski dalam berawan tebal dan hampir mendung, namun bentuk sabit tersebut mudah dilihat terutama tatkala sinar Matahari berhasil menerobos sela-sela awan. Jika langit cerah, Gerhana Matahari pada puncaknya tentu lebih mudah diidentifikasi dan menarik perhatian khalayak, baik di masa kini maupun silam. Baik di masa damai maupun peperangan. Sumber: Sudibyo, 2009.

Tim cendekiawan Ben Gurion tersebut tiba pada kesimpulan mengenai tanggal Pertempuran al-Jib setelah melalui pendekatan astronomi dan reinterpretasi teks ayat Yoshua 10:12. Terjemah dalam Bahasa Indonesia dari ayat tersebut adalah “…Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Namun tim cendekiawan Ben Gurion berpendapat bahwa kata Ibrani “dom (do.wm)” (yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “berhenti”) juga bisa diterjemahkan sebagai “menjadi gelap.” Sehingga terjemahannya bisa menjadi “…Matahari, menjadi gelap di atas Gibeon dan engkau, Bulan, di atas lembah Ayalon !” Dari terjemah ini muncul kesan bahwa pada saat itu Matahari dan Bulan hadir bersamaan di langit dengan Matahari menjadi gelap.

Dari sisi astronomi ada satu peristiwa langit yang bersesuaian dengan deskripsi tersebut, yakni Gerhana Matahari. Dengan kata lain, Pertempuran al-Jib yang mengambil tempat di dekat kota Yerusalem itu nampaknya bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari dengan Yerusalem dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana, khususnya zona umbra atau antumbra.

Tim cendekiawan Ben Gurion lantas memutuskan menggali data Gerhana Matahari masa silam, khususnya melalui basisdata badan antariksa Amerika Serikat (NASA) yang legendaris di bawah tajuk Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. Basisdata ini memuat segala peristiwa Gerhana Matahari dalam kurun 5.000 tahun mulai dari tahun 2000 STU hingga tahun 3000 TU. Selama rentang waktu tersebut Bumi kita akan mengalami 11.898 peristiwa Gerhana Matahari, yang terdiri dari 4.200 Gerhana Matahari Sebagian, 3.956 Gerhana Matahari Cincin, 3.173 Gerhana Matahari Total dan 569 Gerhana Matahari Hibrid. Tim memutuskan untuk berkonsentrasi pada rentang waktu antara 1500 STU hingga 1000 STU. Mereka mendapati bahwa dalam rentang waktu tersebut, hanya ada tiga peristiwa Gerhana Matahari yang menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya dilintasi zona umbra atau antumbra. Yakni satu kejadian Gerhana Matahari Total dan dua kejadian Gerhana Matahari Cincin.

Dalam rentang waktu tersebut, peristiwa Gerhana Matahari yang paling menarik adalah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Dari kota Yerusalem dan sekitarnya, peristiwa langit ini terjadi pada sore hari dan dapat disaksikan hampir pada seluruh tahapnya. Awal gerhana terjadi pada pukul 15:07 waktu setempat saat Matahari berkedudukan 23,0º di atas horizon barat. Anularitas gerhana, yakni periode ketampakan bentuk cincin, mulai terjadi pada pukul 16:26 waktu setempat dan berlangsung hingga 5 menit kemudian (lebih detilnya 5 menit 13 detik). Puncak gerhana terjadi pada pukul 16:28 waktu setempat dengan tinggi Matahari 7,0º di atas horizon barat. Gerhana masih berlangsung kala Matahari terbenam pada pukul 17:05 waktu setempat, karena akhir gerhana terjadi pada pukul 17:39 waktu setempat. Durasi tampak dari Gerhana Matahari ini di kota Yerusalem dan sekitarnya adalah 1 jam 58 menit.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 4. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 STU. Nampak zona antumbra (lebar 360 kilometer) melintasi kota Yerusalem dan lingkungan sekitarnya, termasuk lokasi pertempuran al-Jib (Gibeon). Atas dasar inilah tim cendekiawan Universitas Ben Gurion menyimpulkan bahwa Pertempuran al-Jib terjadi pada tanggal itu. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Peristiwa Gerhana Matahari Cincin ini membuat langit sore 30 Oktober 1207 STU di kota Yerusalem dan sekitarnya meremang lebih awal dibanding hari-hari normal. Langit setempat akan mulai terasa lebih gelap pada, katakanlah, pukul 16:30 waktu setempat. Puncak gerhana ini memang tidak menjadikan kota Yerusalem dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Namun dengan intensitas sinar Matahari yang tiba di paras Bumi setempat tinggal 5 % dari normal pada saat puncak gerhana, jelas situasinya cukup remang-remang. Puncak gerhana juga akan menyajikan panorama unik saat Matahari terlihat sebagai cincin bercahaya yang ganjil, bukan sebagai lingkaran sangat terang yang menyilaukan mata. Jelas pemandangan ganjil ini akan menarik perhatian, termasuk pada kedua belah pasukan yang sedang bertempur di medan al-Jib.

Bagaimana peristiwa Gerhana Matahari pada Pertempuran al-Jib lantas ditafsirkan sebagai peristiwa ‘berhenti’-nya Matahari di jauh kemudian hari? David Dickinson, jurnalis di Universe Today, menduga persoalannya ada pada paham geosentrisme yang mendominasi dunia hingga abad ke-16 TU. Paham tersebut bertumpu pada Bumi sebagai pusat semesta dan pusat pergerakan segala benda langit. Demikian mendalamnya dominasi paham ini sehingga dua agama besar, yakni Kristen dan Islam, pun mengadopsinya di masa itu. Gereja mengadopsi geosentrisme karena, selain menyajikan tujuh buah langit yang ditempati setiap planet (termasuk Matahari dan Bulan) dengan masing-masing langit berbentuk bola sempurna sebagai refleksi kesempurnaan ilahiah, juga karena menyediakan ruang di luar bola bintang-bintang tetap untuk lokasi surga dan neraka. Maka ‘berhenti’-nya Matahari menjadi salah satu ‘bukti’ yang menyokong paham geosentrisme.

Gerhana Pagi di Kotasuci Madinah

Peristiwa gerhana dalam kisah kenabian juga terjadi pada era lebih kemudian, yakni pada masa Rasulullah Muhammad SAW. Tepatnya hanya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Gerhana tersebut terjadi pada hari yang sama dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Wafatnya Ibrahim yang bersamaan dengan menggelapnya langit membuat sebagian penduduk kotasuci Madinah menduga-duga bahwa kedua peristiwa itu berhubungan. Ada juga yang menduga bahwa alam raya turut berduka. Mendengar hal itu, usai memakamkan putranya Rasulullah SAW pun menjelaskan peristiwa gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 5. Perbandingan situasi lingkungan pada saat tahap awal sebuah gerhana (kiri) dengan pada saat puncak gerhana (kanan). Kejadian ini diabadikan pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, dimana di lokasi pemotretan di Karanganyar (Kebumen) hanya nampak sebagai gerhana sebagian. Situasi langit cerah. Peredupan semacam ini mudah dikenali khalayak ramai dalam gerhana, baik di masa kini maupun silam. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana yang terjadi pada saat wafatnya Ibrahim adalah Gerhana Matahari. Analisis astronomi, juga dengan menelaah Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database memperlihatkan satu-satunya peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tinggal di Madinah hingga wafatnya adalah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Kotasuci Madinah dan sekitarnya menjadi bagian dari wilayah gerhana ini, tepatnya bagian dari zona penumbranya. Sehingga yang terlihat hanyalah gerhana sebagian. Dari kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya, gerhana ini akan dapat dilihat hanya dalam beberapa saat pasca terbitnya Matahari. Basisdata di atas memperlihatkan bahwa awal gerhana di kotasuci Madinah dan sekitarnya terjadi pada pukul 07:16 waktu setempat, saat Matahari hanyalah setinggi 0,9º dari horizon timur. Puncak gerhana terjadi pada pukul 08:29 waktu setempat, saat Matahari sudah setinggi 16,0º dari horizon timur.Dan gerhana berakhir pada pukul 09:54 waktu setempat kala Matahari sudah berkedudukan cukup tinggi, yakni 31,8º dari horizon timur. Persentase penutupan cakram Matahari di saat puncak gerhana mencapai 76,4 %. Sehingga intensitas sinar Matahari yang tiba di kotasuci Madinah dan sekitarnya tinggal 24 % saja dari normalnya pada saat puncak gerhana. Situasi ini jelas membuat suasana menjadi remang-remang yang mudah diindra oleh orang-orang.

Gambar 6.  Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Gambar 6. Peta zona antumbra dalam wilayah Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Nampak zona antumbra (lebar 70 kilometer) melintas jauh di selatan dari lokasi kotasuci Madinah. Garis kuning menandakan garis yang menghubungkan titik-titik yang mengalami Matahari terbit tepat pada saat awal gerhana. Kotasuci Madinah dan lingkungan sekitarnya hanya melihat gerhana sebagian yang dimulai hanya beberapa saat dari terbitnya Matahari. Sumber: Xavier Jubier, 2017 dengan basis NASA, 2006.

Konversi kalender memperlihatkan tanggal 27 Januari 632 TU bertepatan dengan tahun 10 H, yakni tahun terjadinya haji wada’ (haji perpisahan). Dalam haji wada’ itu Rasulullah SAW menerima sejumlah wahyu, salah satunya adalah perintah untuk menjadikan kalender Umat Islam (yang dikemudian hari dinamakan kalender Hijriyyah) sebagai kalender lunar murni, kalender yang sepenuhnya berbasis pergerakan Bulan. Sehingga setahun kalender Hijriyyah selalu terdiri dari 12 bulan tanpa ada lagi interkalasi (bulan kabisat atau bulan sisipan) yang dipraktikkan sebagai Naasi’ seperti sebelumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tahun 10 H terdiri dari 12 bulan saja seperti tahun-tahun berikutnya sehingga 27 Januari 632 TU ekivalen dengan 29 Syawwal 10 H. Tarikh ath-Thabari menyebutkan Ibrahim lahir di sekitar bulan Zulhijjah 8 H, demikian halnya menurut Ibn Katsir dengan mengutip Ibn Saad. Maka pada saat wafatnya, Ibrahim berusia 21 bulan, angka yang sesuai dengan Tarikh ath-Thabari.

jib_tabel-gm-rasulullahsawSepanjang masa kenabiannya, Rasulullah SAW bersua dengan sembilan peristiwa Gerhana Matahari. Yakni empat Gerhana Matahari Total dan lima Gerhana Matahari Cincin. Lima peristiwa Gerhana Matahari terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah, sementara empat lainnya terjadi setelah berhijrah ke kotasuci Madinah.

Dan seluruh peristiwa gerhana tersebut menjadikan kotasuci Makkah dan Madinah hanya sebagai bagian dari zona penumbra saja. Namun dari sembilan Gerhana Matahari tersebut, kemungkinan besar hanya lima diantaranya yang benar-benar bisa diindra oleh orang-orang pada saat itu. Karena hanya kelima Gerhana Matahari inilah yang memiliki nilai persentase tutupan cakram Matahari yang cukup besar pada saat puncak gerhana terjadi. Dari kelimanya hanya satu yang terjadi pada saat Rasulullah SAW sudah tinggal di kotasuci Madinah, yakni Gerhana Matahari Cincin 27 Januari 632 TU. Sementara empat lainnya, masing-masing Gerhana Matahari Total 23 Juli 413 TU, Gerhana Matahari Cincin 21 Mei 616 TU, Gerhana Matahari Cincin 4 November 617 TU dan Gerhana Matahari Total 2 September 620 TU terjadi tatkala Rasulullah SAW masih tinggal di kotasuci Makkah.

Referensi :

Fred Espenak & Jean Meeus. 2006. Five Millenium (-1999 to +3000) Canon of Solar Eclipse Database. NASA/TP-2006-214141, Oktober 2006.

Dickinson. 2017. Ancient Annular, Dating Joshua’s Eclipse. Universe Today, 6 Feb 2017.

Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016 dan Sang Candra yang (Bisa) Memicu Gempa

Jumat  16 September  2016  Tarikh Umum (TU) hampir tengah malam, bertepatan dengan 15 Zulhijjah 1437 H. Jika langit cerah, Bulan akan berkedudukan tinggi di langit dengan wajah bundar penuh seperti layaknya Bulan purnama. Arahkan pandangan padanya. Sejak pukul 23:56 WIB hingga hampir empat jam kemudian, ada sesuatu yang akan terjadi. Sekilas pandang Bulan akan tetap terlihat bulat bundar penuh. Namun jika anda bermata jeli dan langit mendukung (tidak berawan, apalagi mendung), akan terlihat satu bagian wajah Bulan yang lebih gelap ketimbang bagian lainnya.  Bagian yang sedikit gelap tersebut akan muncul terutama di sekitar pukul 01:55 WIB. Inilah jejak dari peristiwa langit yang kurang familiar bagi kita: Gerhana Bulan Penumbral atau disebut juga Gerhana Bulan samar. Inilah gerhana yang paling bontot di musim gerhana tahun 2016 TU ini.

Dalam Gerhana Bulan Penumbral, kita memang takkan menyaksikan cakram Bulan yang menghilang sepenuhnya dan digantikan oleh benda sangat redup berwarna kemerah-merahan seperti dalam Gerhana Bulan Total. Kita juga takkan menyaksikan Bulan yang setengah meredup layaknya Gerhana Bulan Sebagian. Namun jangan salah, konfigurasi benda langit yang menghasilkan Gerhana Bulan Penumbral adalah identik dengan yang memproduksi baik Gerhana Bulan Total maupun Gerhana Bulan Sebagian. Mereka terjadi tatkala Matahari, Bulan dan Bumi tepat berada dalam satu garis lurus dalam konfigurasi syzygy. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut adalah Bumi, sementara Bulan menempati salah satu dari dua titik nodal (titik potong orbit Bulan dengan bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari). Akibatnya pancaran sinar Matahari yang seharusnya tiba di paras Bulan terhalangi oleh Bumi. Sehingga membuat Bulan tak memperoleh sinar Matahari mencukupi. Atau bahkan tak mendapatkannya sama sekali untuk periode waktu tertentu.

Gambar 1. Bulan dalam puncak Gerhana Bulan Penumbral (kiri) dan purnama biasa (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata, penggelapa sebagian wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2014.

Gambar 1. Bulan dalam puncak Gerhana Bulan Penumbral (kiri) dan purnama biasa (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera. Secara kasat mata, penggelapan sebagian wajah Bulan dalam Gerhana Bulan Penumbral sangat sulit untuk diamati. Sumber: Sudibyo, 2014.

Akibatnya Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase Bulan purnama pun menjadi temaram atau bahkan sangat redup kemerah-merahan dalam beberapa jam kemudian. Sedikit berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan memiliki wilayah gerhana cukup luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam suasana malam. Karena garis tengah Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi, maka Bumi tak sepenuhnya menghalangi pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bulan. Sehingga bakal masih ada bagian sinar Matahari yang lolos meski intensitasnya berkurang. Ini membuat wilayah gerhana Bulan pun terbagi ke dalam zona penumbra (bayangan tambahan) dan zona umbra (bayangan utama).

Konfigurasi

Bagaimana gerhana samar yang unik ini bisa terjadi? Pada dasarnya ada tiga jenis Gerhana Bulan. Yang pertama adalah Gerhana Bulan Total (GBT), terjadi kala bayangan utama Bumi sepenuhnya menutupi cakram Bulan tanpa terkecuali. Sehingga Bulan akan nyaris menghilang sepenuhnya saat puncak gerhana tiba, menampakkan diri sebagai benda langit sangat redup berwarna kemerah-merahan. Yang kedua adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS), terjadi kala bayangan utama Bumi tak sepenuhnya menutupi cakram Bulan. Akibatnya Bulan hanya akan lebih redup dan terlihat “robek” di salah satu sisinya dengan persentase tertentu kala puncak gerhana. Dan yang terakhir adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP) atau gerhana Bulan samar, yang bisa terjadi kala hanya bayangan tambahan Bumi yang menutupi cakram Bulan, baik menutupi sepenuhnya maupun separo. Tak ada bayangan utama Bumi yang turut menutupi. Dalam gerhana samar ini, Bulan masih tetap mendapatkan sinar Matahari meski intensitasnya sedikit lebih rendah dibanding seharusnya.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P4 di sisi timur, yakni garis dimana akhir gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian seluruh Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gambar 2. Peta wilayah Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016 dalam lingkup global. Perhatikan Indonesia dibelah oleh garis P4 di sisi timur, yakni garis dimana akhir gerhana bertepatan dengan terbenamnya Bulan (terbitnya Matahari). Dengan demikian seluruh Indonesia berkesempatan menyaksikan Gerhana Bulan yang samar ini, sepanjang langit cerah. Sumber: NASA, 2016.

Gerhana Bulan 16-17 September 2016 merupakan gerhana Bulan samar, yang terjadi sebagai konsekuensi dari peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016. Pada dasarnya tidak setiap saat Bulan purnama terjadi diiringi  dengan peristiwa Gerhana Bulan. Sebaliknya suatu peristiwa Gerhana Bulan pasti terjadi bertepatan dengan saat Bulan purnama. Musababnya adalah orbit Bulan yang tak berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), melainkan menyudut sebesar 5o. Hanya ada dua titik dimana Bulan berpeluang tepat segaris lurus syzygy dengan Bumi dan Matahari, yakni di titik nodal naik dan titik nodal turun. Dan dalam kejadian Bulan purnama, mayoritas terjadi tatkala Bulan tak berdekatan ataupun berada dalam salah satu dari dua titik nodal tersebut. Inilah sebabnya mengapa tak setiap saat Bulan purnama kita bersua dengan Gerhana Bulan.

Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016 hanya terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah awal gerhana/kontak awal penumbra (P1) yang akan terjadi pada tanggal 16 September 2016 TU pukul 23:56 WIB. Sementara tahap kedua adalah puncak gerhana, yang bakal terjadi pada tanggal 17 September 2016 TU pukul 01:55 WIB. Magnitudo gerhana saat puncak adalah 0,90, maknanya 90 % cakram Bulan pada saat itu tertutupi oleh bayangan tambahan (penumbra) Bumi. Dan yang terakhir adalah tahap akhir gerhana/kontak akhir penumbra (P4) yang bakal berlangsung pada pukul 03:53 WIB. Dengan demikian durasi Gerhana Bulan Penumbral ini mencapai 3 jam 57 menit.

Wilayah gerhana bagi Gerhana Bulan Penumbral 16-17 September 2016  melingkupi sebagian seluruh benua Asia, Australia, Afrika, Eropa dan sebagian kecil Brazil di benua Amerika. Hanya mayoritas benua Amerika yang tak tercakup ke dalam wilayah gerhana ini. Seluruh Indonesia tercakup ke dalam wilayah gerhana. Secara umum tanah Nusantara ini terbelah menjadi dua oleh garis P4, yakni  himpunan titik-titik yang mengalami terbenamnya Bulan bersamaan dengan akhir gerhana. Garis P4 tersebut melintas melalui sebagian pulau Irian. Dapat dikatakan bahwa segenap Indonesia, kecuali propinsi Papua, adalah mengalami gerhana secara utuh.Sementara di propinsi Papua durasi total gerhananya terpotong oleh terbitnya Matahari (yang hampir bersamaan dengan terbenamnya Bulan).

Sesuai dengan namanya, Gerhana Bulan Penumbral ini nyaris tak dapat dibedakan dengan Bulan purnama biasa. Butuh teleskop dengan kemampuan baik untuk dapat melihatnya. Untuk memotretnya, butuh kamera dengan pengaturan (setting) yang lebih kompleks dan bisa disetel secara manual. Dalam puncak gerhana Bulan samar, jika cara pengaturan kamera kita tepat maka Bulan akan terlihat menggelap di salah satu sudutnya. Detail teknis pemotretan untuk mengabadikan gerhana ini dengan menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflex) tersaji berikut ini :

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi hal tersebut tak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar dapat dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia secara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut dapat dilihat, seperti dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim dan Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat saat gerhana tak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tak dilaksanakan.

Gempa

Gerhana Bulan Penumbral ini akan berlangsung dalam kurun yang hampir bersamaan dengan temuan terkini dalam ranah ilmu kebumian tentang hubungan antara posisi Bulan dan gempa di Bumi. Telah lama umat manusia mencoba menelusuri apakah kejadian kegempaan di Bumi kita, yang kerap merenggut korban jiwa dan luka-luka serta kerugian material yang luar biasa, berhubungan dengan posisi benda-benda langit khususnya Bulan. Bulan mendapat perhatian khusus karena kemampuan gravitasinya dalam mempengaruhi Bumi. Tiap benda langit yang bertetangga dengan Bumi kita sejatinya juga mencoba memaksakan pengaruh gravitasinya, dalam bentuk gaya pasang surut atau gaya tidal. Namun hanya Bulan dan Matahari yang memiliki pengaruh terbesar.

Gaya tidal kedua benda langit tersebut mempengaruhi Bumi demikian rupa sehingga badan air di paras Bumi, yakni air yang terkumpul sebagai samudera, mengalami pasang surut dalam rupa pasang naik dan pasang turun parasnya secara periodik. Fenomena ini akan mencapai titik maksimumnya tatkala kedua benda langit tersebut nampak segaris dengan Bumi. Tepatnya pada saat elongasi Bulan terhadap Matahari bernilai paling kecil, yang terjadi pada saat konjungsi, dan pada saat elongasi Bulan terhadap Matahari bernilai yang paling besar, yang bertepatan dengan saat oposisi. Kita mengenal konjungsi Bulan dan Matahari sebagai Bulan baru atau Bulan mati, sebaliknya oposisi Bulan dan Matahari mendapatkan namanya yang megah sebagai Bulan purnama. Bulan purnama terjadi dalam 14,8 hari pasca Bulan baru, sementara Bulan baru berikutnya terjadi 14,8 hari pasca Bulan purnama.

Sejak abad ke-19 TU sudah mulai dipikirkan kemungkinan bahwa gaya tidal Bulan dan Matahari, atau lebih tepatnya kombinasinya, tidak hanya berpengaruh pada badan air Bumi saja. Namun juga pada kerak Bumi (litosfer) secara keseluruhan. Aksi gaya tidal kombinasi dari Bulan dan matahari secara berulang-ulang yang mencapai puncaknya setiap 14,8 hari sekali mungkin menghasilkan gangguan pada litosfer hingga melahirkan peristiwa-peristiwa geologis seperti misalnya gempa bumi tektonik. Pemikiran ini kian menguat setelah ilmu kebumian memasuki babak baru melalui tektonik lempeng pada dekade 1960-an TU, yang mendeskripsikan pembagian kerak bumi ke dalam lempeng-lempeng tektonik makro dan mikro yang saling bergerak dengan sejumlah gejalanya. Pada saat yang hampir bersamaan, ilmu kegempaan (seismologi) mulai melakukan pencatatan terkait magnitudo, episentrum dan hiposentrum gempa-gempa tektonik dalam lingkup global menggunakan jaringan seismometer yang ditanam dimana-mana.

Gambar 3. Rekaman letusan dahsyat Gunung Tvashtar Patera di Io seperti diabadikan wahana antariksa New Horizon saat lewat didekatnya pada 2007 TU silam. Semburan material vulkanik akibat letusan dahsyat ini mencapai ketinggian 330 km dari paras Io. Vulkanisme di Io ditenagai oleh rejaman gaya tidal Jupiter nan dahsyat. Sumber: NASA, 2007.

Gambar 3. Rekaman letusan dahsyat Gunung Tvashtar Patera di Io seperti diabadikan wahana antariksa New Horizon saat lewat didekatnya pada 2007 TU silam. Semburan material vulkanik akibat letusan dahsyat ini mencapai ketinggian 330 km dari paras Io. Vulkanisme di Io ditenagai oleh rejaman gaya tidal Jupiter nan dahsyat. Sumber: NASA, 2007.

Dalam ranah astronomi juga diperoleh temuan mencengangkan tentang bagaimana aksi gaya tidal di lingkungan planet tetangga kita. Io, salah satu satelit alamiah Jupiter, mendapat perhatian lebih karena aktivitasnya yang aneh. Kini kita tahu bahwa Io menjadi benda langit paling aktif secara vulkanik di seantero tata surya akibat aksi gaya tidal Jupiter. Gaya tidal Jupiter mempengaruhi Io demikian rupa sehingga benda langit yang sedikit lebih besar dari Bulan itu dipaksa mengembang dan mengempis secara teratus. Perbedaan elevasi paras Io pada saat mengembang dan mengempis bisa mencapai 100 meter. Bandingkan dengan Bumi yang hanya 1 meter. Rejaman gaya tidal nan dahsyat secara berulang-ulang di Io inilah yang membangkitkan 99,5 %  panas interior Io dan menjadikannya kaya dengan gunung-gemunung berapi yang rajin meletus.

Bagaimana dengan Bumi, khususnya dengan peristiwa gempa bumi? Sekilas pandang kombinasi gaya tidal Bulan dan Matahari sulit untuk bisa membangkitkan gempa bumi khususnya gempa bumi tektonik.  Telah diketahui bahwa sebuah gempa bumi tektonik terjadi pada sebuah sumber gempa dalam sebuah segmen di satu sesar (patahan) tertentu. Sebagai akibat dari pergerakan lempeng tektonik, sebuah sesar aktif pun seyogyanya turut bergerak. Namun gesekan antar segmen batuan yang saling berhadapan di sepanjang sesar dapat menahan pergerakan itu untuk sementara. Namun di sisi lain juga menyebabkan tekanan yang diderita segmen batuan tersebut meningkat dan kian meningkat. Hingga akhirnya tekanan tersebut melampaui ambang batas dayatahan batuan, yang membuat segmen batuan tersebut terpatahkan dan melenting. Inilah yang memproduksi getaran seismik yang kita kenal sebagai gempa bumi tektonik.

Tekanan yang diderita sebuah segmen dalam sebuah patahan tidak hanya berasal dari dirinya sendiri saja. Namun juga bisa berasal dari luar. Telah diketahui bahwa gempa bumi tektonik dapat “menular”, maksudnya dapat merembet dari satu segmen ke segmen sebelahnya dalam satu sesar yang sama. Agar sebuah gempa bumi tektonik yang dipicu oleh gempa bumi tektonik lainnya didekatnya dapat terjadi, maka harus ada tekanan eksternal  (disebut tekanan Coulomb)  dalam rentang 0,1 hingga 1 Mega Pascal (1 Pascal = 1 Newton/meter2).  Sebaliknya kombinasi gaya tidal Bulan dan Matahari hanya menghasilkan tekanan eksternal di sekitar 1 kilo Pascal saja, atau 100 kali lemah ketimbang ambang batas tekanan Coulomb yang dibutuhkan untuk memicu sebuah gempa bumi tektonik.

Gambar 4. Tiga belas kawasan di Kepulauan Jepang yang sensitif terhadap gaya tidal Bulan (dalam Bulan baru maupun Bulan purnama) terkait kemampuannya memicu gempa bumi tektonik di sini. Situasi tersebut dapat terjadi hanya bila tekanan akibat tektonik regional (disimbolkan dengan P-axes) searah dengan tekanan dari gaya tidal Bulan. Sumber: Tanaka, 2004.

Gambar 4. Tiga belas kawasan di Kepulauan Jepang yang sensitif terhadap gaya tidal Bulan (dalam Bulan baru maupun Bulan purnama) terkait kemampuannya memicu gempa bumi tektonik di sini. Situasi tersebut dapat terjadi hanya bila tekanan akibat tektonik regional (disimbolkan dengan P-axes) searah dengan tekanan dari gaya tidal Bulan. Sumber: Tanaka, 2004.

Namun sejatinya tidak sesederhana itu. Penyelidikan Tanaka dkk (2004) memperlihatkan bahwa tekanan Coulomb yang kecil dari kombinasi gaya tidal Bulan dan Matahari pun sejatinya mampu memicu gempa bumi tektonik. Asalkan tekanan Coulomb dari gaya tidal Bulan dan Matahari itu searah dengan tekanan Coulomb dari tektonik regional. Analisanya terhadap distribusi dan pola dari 90.000 gempa bumi tektonik di Kepulauan Jepang sepanjang kurun Oktober 1997 TU hingga Mei 2002 TU memperlihatkan dari 100 kawasan yang dipetakan terdapat 13 kawasan (13 %) yang sensitif terhadap gangguan gaya tidal Bulan dan Matahari.  Penyelidikan lain juga memperlihatkan bahwa zona subduksi menjadi kawasan yang sangat sensitif terhadap gangguan dari gaya tidal Bulan dan Matahari, khususnya dalam hal memicu kejadian gempa-gempa bumi tektonik dalam. Jumlah getaran yang dihasilkan oleh gempa-gempa bumi tektonik dalam meningkat secara eksponensial bersamaan dengan meningkatnya tekanan Coulomb akibat gaya tidal. Peningkatan ini membuat potensi meletupnya gempa bumi tektonik di zona subduksi menjadi meningkat di sekitar fase Bulan baru dan Bulan purnama.

Penyelidikan lebih lanjut oleh Ide dkk (2016) memperlihatkan bahwa tekanan dari gaya tidal Bulan dan Matahari lebih berpotensi untuk memicu gempa bumi tektonik besar (magnitudo di atas 7,0) ketimbang yang lebih kecil, secara statistik. Dengan zona subduksi sebagai kawasan yang sangat sensitif terhadap tekanan Coulomb akibat gaya tidal Bulan dan Matahari, maka gempa besar yang terjadi di sini dapat mencakup gempa akbar (megathrust), gempa yang paling ditakuti. Penyelidikan terhadap tiga gempa akbar dalam kurun 15 tahun terakhir, masing-masing Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (magnitudo 9,3) di Indonesia, gempa akbar Maule 2010 (magnitudo 8,8) di Chile dan gempa akbar Tohoku-Oki 2011 (magnitudo 9,0) di Jepang menegaskan hal itu. Ketiga gempa itu cukup menggetarkan karena skalanya dan kedahsyatan tsunami yang ditimbulkannya hingga renggutan korban jiwa yang diakibatkannya. Gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 dan gempa akbar Maule 2010 terjadi di sekitar waktu Bulan purnama, bertepatan dengan pasang naik tinggi dan juga puncak tekanan Coulomb akibat gaya tidal. Sementara gempa akbar Tohoku-Oki 2011 tidak terjadi pada Bulan baru ataupun Bulan purnama, namun bersamaan dengan saat amplitudo tekanan Coulomb akibat gaya tidal mencapai nilai maksimumnya.

Gambar 5. Tiga peristiwa gempa akbar dalam 15 tahun terakhir bersama dengan perubahan dinamis tekanan akibat gaya tidal Bulan. Masing-masing adalah gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (atas), gempa akbar Tohoku-Oki 2011 (tengah) dan gempa akbar Maule 2010 (bawah). Kiri: lokasi episentrum dan mekanisme fokal sumber gempa, kanan : perubahan dinamis tekanan akibat gaya tidal Bulan pada bidang patahan sumber gempa dalam arah lentingan. Terlihat jelas ketiga gempa tersebut terjadi tatkala amplitudo tekanan akibat gaya tidal mencapai maksimum. Sumber: Ide, 2016.

Gambar 5. Tiga peristiwa gempa akbar dalam 15 tahun terakhir bersama dengan perubahan dinamis tekanan akibat gaya tidal Bulan. Masing-masing adalah gempa akbar Sumatra-Andaman 2004 (atas), gempa akbar Tohoku-Oki 2011 (tengah) dan gempa akbar Maule 2010 (bawah). Kiri: lokasi episentrum dan mekanisme fokal sumber gempa, kanan : perubahan dinamis tekanan akibat gaya tidal Bulan pada bidang patahan sumber gempa dalam arah lentingan. Terlihat jelas ketiga gempa tersebut terjadi tatkala amplitudo tekanan akibat gaya tidal mencapai maksimum. Sumber: Ide, 2016.

Baiklah, dari data-data yang sifatnya sangat teknis tersebut, apa yang dapat kita simpulkan? Ternyata memang ada hubungan antara saat Bulan baru maupun Bulan purnama dengan kejadian gempa bumi tektonik di Bumi kita, khususnya gempa bumi besar (magnitudo 7,0 atau lebih). Penemuan ini memang tidak mengubah kedudukan gempa bumi tektonik saat ini sebagai peristiwa alam yang sangat sulit diprediksi waktu kejadiannya secara spesifik. Ia juga tidak mengurangi apa yang selama ini selalu diserukan para ahli kebumian dan kebencanaan dalam berhadapan dengan ancaman gempa, untuk selalu waspada. Namun temuan ini membuka jendela pengetahuan baru, bahwa saat-saat Bulan baru dan Bulan purnama adalah saat-saat yang lebih rawan bagi Bumi kita, khususnya di zona subduksi. Dan Gerhana Matahari terjadi pada saat Bulan baru, sementara Gerhana Bulan pada saat Bulan purnama.

Referensi :

Tanaka dkk. 2004. Tidal Triggering of Earthquakes in Japan Related to the Regional Tectonic Stress. Earth Planets Space, vol 56 (2004) pp 511-515.

Ide dkk. 2016. Earthquake Potential Revealed by Tidal Influence on Earthquake Size-Frequency Statistics. Nature Geoscience (2016), online 12 September 2016.

Gerhana Matahari 1 September 2016, Secuil Gerhana di Sepotong Tanah Nusantara

Kamis 1 September 2016 Tarikh Umum (TU). Waktunya sore hari, hanya beberapa saat sebelum Matahari terbenam. Arahkan pandangan ke kaki langit barat, tepatnya ke arah kedudukan Matahari. Jika langit cerah dan anda beruntung berada di daerah yang tepat, maka akan kita saksikan satu keajaiban panorama langit: peristiwa Gerhana Matahari. Inilah gerhana ketiga yang menghampiri Indonesia dalam musim gerhana 2016.

Gerhana, dalam bentuk Gerhana Matahari yang kemudian disusul dengan Gerhana Bulan dalam 14 hari berikutnya,  ataupun sebaliknya (Gerhana Bulan terlebih dahulu baru kemudian Gerhana Matahari) adalah sunnatullah. Sebab tatkala Bulan menempati sebuah titik nodal pada saat fase konjungsi/Bulan baru (yang menimbulkan peristiwa Gerhana Matahari), maka dalam 14 hari kemudian Bulan akan menempati titik nodal kedua dalam fase oposisi/purnama (yang menghasilkan Gerhana Bulan). Atau dapat pula sebaliknya. Titik nodal adalah  titik potong antara orbit Bulan dengan ekliptika (bidang edar Bumi dalam mengelilingi Matahari), yang terdiri dari dua titik yakni titik nodal naik (ascending node) dan titik nodal turun (descending node). Dalam momen tertentu tiap beberapa tahun sekali, berkemungkinan terjadi Bulan secara berturut-turut menempati titik-titik nodalnya di saat purnama, Bulan baru dan purnama berikutnya. Sehingga terjadi tiga gerhana secara berturut-turut dalam tempo hanya 28 hari, fenomena yang secara tak resmi saya sebut sebagai parade gerhana.

Gambar 1. Wajah Matahari yang tercuil kecil akibat tutupan Bulan dalam tahap akhir Gerhana Matahari 9 Maret 2016 silam, diabadikan dari Kebumen (Jawa Tengah). Panorama seperti ini pula yang akan kembali disaksikan pada Gerhana Matahari 1 September 2016 dari sebagian kecil wilayah Indonesia. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gambar 1. Wajah Matahari yang tercuil kecil akibat tutupan Bulan dalam tahap akhir Gerhana Matahari 9 Maret 2016 silam, diabadikan dari Kebumen (Jawa Tengah). Panorama seperti ini pula yang akan kembali disaksikan pada Gerhana Matahari 1 September 2016 dari sebagian kecil wilayah Indonesia. Sumber: Sudibyo, 2016.

Gerhana Matahari 1 September 2016 merupakan Gerhana Matahari Cincin. Secara sederhana gerhana ini terjadi kala Bumi, Bulan dan Matahari benar-benar berjajar dalam satu garis lurus ditinjau dari segenap perspektif dengan Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Sebagai akibatnya maka pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bumi sedikit terblokir oleh Bulan. Maka dari itu gerhana Matahari selalu terjadi di kala siang hari. Karena ukuran Bulan jauh lebih kecil ketimbang Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak merata di sekujur bagian permukaan Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari pada saat itu (atau dalam kondisi siang), melainkan hanya di sektor-sektor tertentu bergantung pada geometri orbit Bulan saat itu. Dan pemblokiran tersebut tak berlangsung efektif sehingga Bulan seakan-akan terlihat kekecilan di kala puncak gerhana. Maka saat puncak gerhana terjadi, Bumi masih akan menyaksikan secuil cakram Matahari menyembul di sekeliling bundaran Bulan yang gelap yang mengesankan sebagai lingkaran bercahaya mirip cincin. Karena itu gerhana Matahari ini disebut sebagai Gerhana Matahari Cincin (anular).

Tempat-tempat dimana kita bisa menyaksikan gerhana ini dinamakan wilayah gerhana. Di dalam wilayah gerhana ada zona antumbra, yakni titik-titik dimana ini  bentuk cincin pada saat puncak gerhana dapat disaksikan. Di sekelilingnya terdapat zona penumbra, yakni titik-titik yang harus berpuas diri menyaksikan Matahari hanya secuil atau hanya tertutupi sebagian (sebagai gerhana sebagian) kala puncak gerhana.  Wilayah Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 mencakup hampir seluruh benua Afrika (kecuali secuil wilayah Afrika bagian utara di pesisir Laut Tengah), separuh Semenanjung Arabia dan sepotong kecil tanah Indonesia. Tetapi zona antumbra hanya melewati negara-negara di benua Afrika bagian tengah, tepatnya di bagian negara Gabon, Khatulistiwa Guinea, Kongo, Tanzania dan Madagaskar. Sementara sisa wilayah gerhana lainnya harus berpuas diri menjadi zona penumbra saja

Gambar 2. Peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan dalam musim gerhana 2016 berdasarkan titik acu kota Kebumen, Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Terlihat seluruh gerhana tersebut memiliki wilayah yang melintas di Indonesia. Sumber: Sudibyo, 2016.

Indonesia

Indonesia menempati posisi unik dalam Gerhana Matahari 1 September 2016 ini. Sebab Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia tenggara yang berkesempatan berada dalam wilayah gerhana. Secara akumulatif di seluruh benua Asia hanya ada lima negara yang masuk kedalam wilayah gerhana, masing-masing Saudi Arabia (sebagian), Yaman, Oman (sebagian kecil), Maladewa dan Indonesia (sebagian kecil).

Seperti halnya keempat negara Asia lainnya, wilayah gerhana di Indonesia berupa zona penumbra. Sehingga di Indonesia Gerhana Matahari 1 September 2016 hanya akan nampak sebagai gerhana sebagian. Itupun dengan magnitudo (persentase penutupan cakram Matahari oleh Bulan) yang kecil, seluruhnya kurang dari 10 %. Sehingga hanya secuil wajah Matahari yang menghilang dalam puncak gerhana. Karena itu durasi gerhana Matahari di Indonesia pun relatif singkat, terlebih di banyak titik di wilayah gerhana Indonesia sudah mengalami terbenamnya Matahari sebelum gerhana usai.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 dalam lingkup Indonesia. Di Indonesia gerhana Matahari ini akan berbentuk Gerhana Matahari Sebagian, dengan wilayah gerhana ditandai oleh daerah yang yang dibatasi oleh garis lurus/lengkung. Sumber: Xavier Jubier, 2016.

Gambar 3. Peta wilayah Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 dalam lingkup Indonesia. Di Indonesia gerhana Matahari ini akan berbentuk Gerhana Matahari Sebagian, dengan wilayah gerhana ditandai oleh daerah yang yang dibatasi oleh garis lurus/lengkung. Sumber: Xavier Jubier, 2016.

Tanah Nusantara yang tercakup ke dalam wilayah gerhana hanyalah (ujung selatan) pulau Sumatra dan (sebagian besar) pulau Jawa. Secara administratif terdapat 123 kabupaten/kota yang berada dalam wilayah gerhana, yang tersebar di delapan propinsi. Masing-masing Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Magnitudo gerhana di Indonesia bervariasi mulai dari yang terkecil bernilai mendekati 0 % di kota Tuban (Kabupaten Tuban, Jawa Timur) hingga yang terbesar bernilai 9,6 % di kota Sukabumi (Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat). Durasi gerhana pun bervariasi mulai kurang dari 1 menit di kota Tuban hingga sepanjang 34 menit di kota Tais (kabupaten Seluma, Bengkulu).

Berikut adalah tabel waktu, durasi dan magnitudo gerhana di masing-masing dari 123 kabupaten/kota tersebut. Dengan catatan :

  1. Tabel disusun lewat perhitungan yang dibantu software Emapwin 1.21 karya Shinobu Takesako.
  2. Perhitungan dilakukan hanya di ibukota kabupaten/kota tersebut dan tidak mencakup titik-titik lain dalam kabupaten/kota itu.
  3. Perhitungan dilakukan di elevasi 0 meter dpl (dari paras laut rata-rata). Dalam realitasnya akan ada sedikit perbedaan bila ibukota kabupaten/kota tersebut memiliki elevasi cukup tinggi.
  4. Untuk kabupaten yang ibukotanya memiliki magnitudo kurang dari 0,5 % maka dimungkinkan terjadi adanya titik-titik dalam kabupaten tersebut yang tak tercakup dalam wilayah gerhana.

gms-gb3_bengkulugms-gb3_lampunggms-gb3_dkigms-gb3_bantengms-gb3_jabar1gms-gb3_jabar2gms-gb3_jateng1gms-gb3_jateng2gms-gb3_diygms-gb3_jatim1gms-gb3_jatim2Shalat Gerhana

Bagi Umat Islam, sangat dianjurkan untuk menyelenggarakan shalat gerhana tatkala peristiwa gerhana terjadi, baik Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Nah tulisan ini tak hendak menyentuh tata cara pelaksanaan shalat gerhana atau khutbah yang dianjurkan. Namun hanya mengupas kapan waktunya.

Berbeda dengan Gerhana Matahari 9 Maret 2016 lalu, Gerhana Matahari 1 September 2016 memiliki durasi yang cukup singkat, yakni maksimum 34 menit. Sementara shalat gerhana Matahari, yang terdiri dari shalat dua rakaat dan khutbah gerhana, membutuhkan waktu tersendiri. Jika dianggap bahwa keseluruhan rangkaian shalat Gerhana Matahari bisa dilaksanakan dalam 20 menit, maka hanya di kabupaten/kota yang mengalami durasi gerhana 20 menit atau lebih saja yang berkesempatan mendirikan shalat gerhana. Apabila batasan ini digunakan, maka hanya ada 45 kabupaten/kota di wilayah gerhana (setara 36 % dari total kabupaten/kota di wilayah gerhana) yang memiliki kesempatan ini. Seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur (yang masuk ke wilayah gerhana) tak berkesempatan mendirikan shalat gerhana. Demikian halnya sebagian kabupaten/kota di Jawa Barat.

Pembaharuan: Galeri Gerhana

Upaya untuk mendeteksi dan mengabadikan peristiwa Gerhana Matahari ini di Indonesia dilakukan di berbagai titik di pulau Jawa dan Sumatra. Upaya ini dipadukan dengan pelaksanaan rukyatul hilaal sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1437 H di Indonesia. Cukup mengesankan bahwa peristiwa Gerhana Matahari 1 September 2016 ini bertepatan dengan tanggal 29 Zulqaidah 1437 H dalam takwim standar Indonesia. Sehingga hari itu juga menjadi saat penentuan apakah bulan Zulqaidah akan berumur 29 hari ataukah mengalami penggenapan (istikmal) menjadi 30 hari. Meski banyak dari titik-titik tersebut yang berujung dengan kegagalan akibat tutupan mendung atau bahkan hujan deras yang mewarnai langit setempat.

Hanya ada beberapa tempat saja yang berhasil mengabadikan Gerhana Matahari ini, itupun dengan kondisi langit yang kurang menguntungkan sehingga tutupan awan selalu mewarnai. Dalam catatan saya ada tujuh titik yang berhasil mengabadikan gerhana ini. Namun dalam galeri ini hanya disajikan lima titik diantaranya saja.

Gambar 5 a. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:33 WIB, diabadikan dari pulau Karya Kep. Seribu hanya beberapa menit sebelum Matahari menghilang di balik awan. Sumber: POB JIC P. Karya/Fajar Fathurahman, 2016.

Gambar 5 a. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:33 WIB, diabadikan dari pulau Karya Kep. Seribu hanya beberapa menit sebelum Matahari menghilang di balik awan. Sumber: POB JIC P. Karya/Fajar Fathurahman, 2016.

Dua titik pertama terletak di propinsi DKI Jakarta, masing-masing di pulau Karya (Kepulauan Seribu) dan Kemayoran. Pengamatan dari pulau Karya dilakukan oleh tim perukyat hilaal yang adalah gabungan Kementerian Agama Kanwil DKI Jakarta, Kementerian Agama Kep. Seribu, Jakarta Islamic Centre dan Pengurus Wilayah Nahdlatul ‘Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Tim ini mengambil titik yang disebut sebagai Pos Observasi Bulan (POB) Jakarta Islamic Centre. Pengamatan berlangsung tak optimal, hanya pada menit-menit pertama saja Matahari teramati sebelum kemudian mendung menutupi. Meski begitu bagaimana Matahari yang ‘tercuil’ kecil akibat gerhana ini dapat diidentifikasi dengan jelas lewat teleskop. Sementara pengamatan dari Kemayoran dilakukan oleh tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang juga melaksanakan tugas rukyatul hilaal. Dibanding Kep. Seribu, gangguan awan di Kemayoran lebih brutal. Sehingga Matahari nyaris tertutupi sepenuhnya. Namun bagaimana gerhana terjadi masih dapat dikenali, melalui teleskop.

Gambar 5 b. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada sekitar pukul 17:34 WIB, diabadikan dari Kemayoran di tengah-tengah tutupan awan nan brutal. Sumber: BMKG/Rukman Nugraha, 2016.

Gambar 5 b. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada sekitar pukul 17:34 WIB, diabadikan dari Kemayoran di tengah-tengah tutupan awan nan brutal. Sumber: BMKG/Rukman Nugraha, 2016.

Gangguan awan yang cukup brutal juga dialami titik berikutnya yang terletak di propinsi Banten, yakni di pantai Anyer. Di sini pengamatan dilakukan oleh tim dari Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ). Dalam momen yang pas nan singkat saat awal gerhana sudah terjadi, Matahari seakan memasuki celah di antara awan-awan tebal dan memungkinkan untuk diabadikan, dengan teleskop.

Gambar 5 c. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:34 WIB, diabadikan dari pantai Anyer di tengah-tengah tutupan awan nan brutal. Persentase penutupan Matahari oleh Bulan pada saat itu sekitar 4,4 %. Sumber: POJ/Ronny Syamara, 2016.

Gambar 5 c. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:34 WIB, diabadikan dari pantai Anyer di tengah-tengah tutupan awan nan brutal. Persentase penutupan Matahari oleh Bulan pada saat itu sekitar 4,4 %. Sumber: POJ/Ronny Syamara, 2016.

Gangguan awan juga dialami oleh dua titik berikutnya yang terletak di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kab. Bantul. Yang pertama terletak di puncak bukit Becici yang berhutan pinus, dilakukan oleh Zulkarnaen Syri L seorang fotografer profesional.

Gambar 5 d. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:26 WIB, diabadikan dari puncak bukit Becici dalam kondisi langit yang relatif lebih bersahabat. Diabadikan dengan kamera DSLR, tanpa dirangkai teleskop. Sumber: Zulkarnaen Syri Lokesywara, 2016.

Gambar 5 d. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada pukul 17:26 WIB, diabadikan dari puncak bukit Becici dalam kondisi langit yang relatif lebih bersahabat. Diabadikan dengan kamera DSLR, tanpa dirangkai teleskop. Sumber: Zulkarnaen Syri Lokesywara, 2016.

Sementara titik berikutnya terletak di Pos Observasi Bulan Bela Belu Parangkusumo, yang dilakukan oleh tim gabungan Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Yogyakarta, Kementerian Agama Kanwil Yogyakarta, PWNU Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebagian tim tersebut juga menunaikan tugas pelaksanaan rukyatul hilaal.

Gambar 5 d. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada jam yang tak disertakan, diabadikan dari bukit Bela belu, Parangkusumo, dengan kondisi langit dipenuhi awan. Diabadikan dengan kamera DSLR, tanpa dirangkai teleskop. Sumber: UAD/Muchlas Arkanuddin, 2016.

Gambar 5 d. Citra Gerhana Matahari 1 September 2016 pada jam yang tak disertakan, diabadikan dari bukit Bela belu, Parangkusumo, dengan kondisi langit dipenuhi awan. Diabadikan dengan kamera DSLR, tanpa dirangkai teleskop. Sumber: UAD/Muchlas Arkanuddin, 2016.